• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. sesuatu yang perlu dialami namun tidak bisa disentuh/

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. sesuatu yang perlu dialami namun tidak bisa disentuh/"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

2.1. Kemasan Produk

Menurut Onkvisit dan Shaw (1997:452), kemasan produk menyajikan 2 tujuan khusus yaitu secara Functional dan Promotional. Secara functional sebuah kemasan harus dapat melindungi produk dengan biaya yang minimum. Sedang secara promotional kemasan harus mampu menyajikan hal-hal sebagai berikut:

1. Sebagai tempat yang menarik.

2. Dapat melindungi.

3. Praktis.

4. Menimbulkan sebuah prestige.

5. Ketepatan ukuran.

2.1.1. Definisi Produk

Menurut Kotler (1997:53), produk adalah output inti (baik jasa atau barang) yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan/ organisasi yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan.

Produk- produk yang dipasarkan meliputi:

1. Barang fisik, contohnya : mobil, buku.

2. Barang jasa, contohnya : konser, cukur.

3. Orang, contohnya : Michael Jakson, Barbra Streisand.

4. Tempat, contohnya : Hawaii, Venesia.

5. Organisasi, contohnya : Yayasan Jantung Amerika, Pramuka.

7. Gagasan, contohnya : Keluarga Berencana, Mengemudi dengan aman.

2.1.1.1 Klasifikasi Produk

Menurut Lovelack dan Wright (1999:35), ada dua macam produk, yaitu :

1. Goods (barang) : objek fisik atau alat yang mampu memberi manfaat kepada pelanggan melalui kepemilikan atau pemakaian.

2. Service (Jasa) : sesuatu yang perlu dialami namun tidak bisa disentuh/

disimpan.

S

(2)

Menurut Eddy M.S (1993:87-90), pemasar biasanya meugklasifikasikan produk berdasarkan bermacam-macam karakteristik produk:

1. Daya tahan dan wujud, produk dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok menurut daya tahan dan wujudnya :

a. Barang yang terpakai habis (non durable goods) : barang yang terpakai habis adalah barang berwujud yang biasanya dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali penggunaan. Contohnya adalah sabun dan garam.

Karena barang-barang ini cepat terkonsumsi dan sering dibeli, strategi yang tepat adalah membuatnya tersedia di banyak lokasi, mengenakan margin yang kecil dan beriklan besar-besaran untuk memancing orang untuk mencoba serta membangun referensi.

b. Barang tahan lama (durable goods) : Barang tahan lama adalah barang berwujud yang biasanya dapat digunakan banyak kali. Contohnya meliputi lemari es, peralatan mesin, dan pakaian. Produk tahan lama adalah barang berwujud yang biasanya memerlukan penjualan dan pelayanan yang lebih pribadi, margin yang lebih tinggi, dan memerlukan lebih banyak garansi dari penjual.

c. Jasa (service) : Jasa bersifat tidak berwujud, tidak dapat dipisahkan, dan mudah habis. Akibatnya, jasa biasanya memerlukan lebih banyak pengendalian kualitas, kredibilitas pemasok, dan kemampuan penyesuaian. Contohnya mencakup potong rambut dan reparasi.

2. Klasifikasi Barang konsumsi, konsumen membeli sangat banyak macam barang. Barang-barang ini dapat diklasifikasikan berdasarkan kebiasaan berbelanja konsumen. Produsen dapat membedakan antara convenience, shopping, specialty, dan unsought goods.

Convenience Goods adalah barang-barang yang biasanya sering dibeli konsumen, segera dan dengan usaha minimum. Contohnya: Produk sabun, dan surat kabar.

Shopping Goods adalah barang-barang yang karakteristiknya dibandingkan berdasarkan kesesuaian, kualitas, harga dan gaya dalam proses pemilihan dan pembeliannya. Contohnya meliputi furniture, pakaian, mobil bekas, dan peralatan rumah tangga besar.

(3)

Specialty Goods adalah barang-barang dengan karakteristik unik atau identifikasi merek yang untuknya sekelompok pembeli yang cukup besar bersedia senantiasa melakukan usaha khusus untuk membelinya. Contohnya meliputi merek dan jenis barang mewah tertentu, mobil, komponen stereo.

Unsought Goods adalah barang-barang yang tidak diketahui konsumen atau diketahui namun secara normal konsumen tidak berpikir untuk membelinya.

Produk baru seperti detektor asap dan pengolah makanan, adalah unsought goods hingga konsumen dibuat mengetahuinya melalui iklan. Contoh klasik dari barang yang dikenal tetapi tidak dicari adalah asuransi jiwa, tanah kuburan, batu nisan.

3. Klasifikasi barang industri. Organisasi membeli berbagai barang dan jasa, barang industri dapat dikualifikasikan berdasarkan cara mereka memasuki proses produksi, dan harga relatifnya. Perbedaan tiga kelompok barang industri adalah bahan baku, barang modal, sret perlengkapan dan jasa bisnis.

Penelitian ini akan meneliti aspek kemasan dari produk convenience.

2.1.2. Definisi Kemasan

Evan dan Barman (1990:334) menyebutkan bahwa :

" A package is a product's physical container, label, and inserts. "

Dari definisi tersebut, maka sebuah kemasan adalah bungkus fisik meliputi kotak kardus, kertas kaca, aluminium, botol plastik, kaleng, kantung kertas ataupun kombinasi dari salah satu bahan tersebut. Sedangkan label berisi mengenai nama merk produk, logo perusahaan, bahan-bahan/unsur-unsur produk, pesan promosi, kode dagang dan cara-cara penggunaan produk. Insert dapat berupa penjelasan secara terperinci mengenai penggunaan produk dan informasi yang lengkap tentang manfaat atau bahaya produk terhadap kesehatan.

2.1.3. Aspek-aspek dalam Kemasan.

Wadah Kemas atau pembungkus dinamakan sebagai kemasan, kemasan dapat mencakup tiga tingkatan bahan, meliputi:

1. Kemasan primer {primary package) : merupakan wadah kemas yang langsung menyentuh produk yang bersangkutan. Misalnya botol minyak wangi.

(4)

2. Kemasan Sekunder (Secondary package), mengacu pada bahan yang melindungi kemasan primer.

3. Kemasan pengiriman (Shipping package), mengacu pada pengemasan yang diperlukan untuk penyimpanan, identifikasi atau transportasi untuk melindungi produk secara keseluruhan.

4. Label (labeling) : bagian dari kemasan dan merupakan informasi yang memuat keterangan mengenai produk yang bersangkutan yang tampak pada atau bersatu dengan kemasan.

Dalam penelitian ini ingih membahas lebih lanjut kemasan primer yang langsung berhubungan dengan produk secara langsung.

2.2. Bahasa

Bisa dikatakan bahwa bahasa adalah sama dengan suatu sumber daripada suatu penyesuaian atau suatu adaptasi, biasanya difokuskan pada pengemasan dan pelebelan yang digunakan untuk sebuah instruksi dan cara penggunaan suatu produk.

Bahasa haruslah dipersiapkan di suatu negara bukan hanya karena alasan secara hukum tapi juga sebagai alasan komersial dalam hal untuk menghindari kekuatan pembelian oleh pelanggan lokal. Menurut (www.eur- exrx)rt(x>m.andains/apptheo/markettin&.product/culture.htm). semakin lama industri manufaktur menciptakan berbagai macam bahasa dalam pengemasan yang fungsinya untuk menghindari kesulitan bagi tiap konsumennya

2.2.1 Definisi Bahasa

Menurut (www, causar. ucdavis. edu/nas/facultv/macrl/av. ol. html) "Language is a purely human and non-instinctive method of communicatins ideas, emotion and

desires by means of voluntarily produced symbols".

Bahasa adalah murni berasal daripada manusia dan tidak datang dengan sendirinya melalui metode komunikasi tetapi berdasarkan ide, emosi, dan keinginan dari manusia yang berarti timbul secara otomatis kemudian yang pada akhirnya menghasilkan suatu tanda.

(5)

Menurut Onkvisit dan Shaw (1997: 211), bahasa adalah bagian yang signifikan atau yang penting dalam suatu budaya dan komunikasi tidak akan mungkin terjadi apabila tidak ada bahasa.

Berdasarkan definisi diatas yang dimaksud dengan bahasa adalah suatu karunia yang dimiliki oleh manusia dari Tuhan sejak manusia lahir dan terjadi dengan sendirinya dimana bahasa adalah bagian terpenting yang perlu diperhatikan oleh pemasar apabila melintasi budaya yang berbeda-beda, dan pemasaran tidak mungkin terjadi apabila tidak ada bahasa.

2.2.2. Jenis-Jenis Bahasa

Menurut Onkvisit dan Shaw (1997:211- 231), bahasa ada dua macam : 1 Bahasa Verbal adalah Bahasa Lisan.

Seorang pemasar haruslah mengerti mengenai informasi bagaimana konsumen melakukan proses linguistik. Seorang pemasar haruslah berhati-hati ketika bahasa yang sama digunakan di dua pasar yang berbeda. Terkadang orang kota menggunakan bahasa sama ketika mereka mengartikan dua hal yang berbeda.

Meskipun kadang penulisan kata dan arti yang sama tapi cara pelafalan bisa berbeda. Bahasa yang berbeda sering sebagai alat untuk memodifikasi suatu strategi pemasaran. Contohnya : Pemasar dibidang komputer harus mengubah software dan hardware dimana prosesnya dalam berbagai bahasa. Bila seseorang ingin mempelajari bahasa orang lain ia harus mampu berpikir seperti orang lain tersebut dalam arti tanpa proses penerjemahan terlebih dahulu melainkan harus dilakukan dengan spontanitas. Dalam menerjemahkan pemasar harus berhati-hati, penerjemahan tidak dilakukan tiap kata, karena bahasa yang berbeda dimulai dari perbedaan suatu kata-kata, dan terkadang kamus dapat digunakan sebagai alat bantu seseorang dalam menerjemahkan tapi ada kelemahannya apabila kita menggunakan suatu kamus karena dikamus tidak ada penjelasan perbedaan syntax, grammar, pitch dan pronounciation.

2. Bahasa Non Verbal adalah Bahasa yang menggunakan suatu isyarat, terbagi menjadi lima bagian yaitu :

A. Language of time B. Language of space C. Language of things

(6)

D. Language of friendship pattern E. Language of agreement

2.2.3. Ciri - Ciri Hakekat dan Fungsi Bahasa 2.2.3.1 Ciri-ciri Hakekat Kebahasaan

Menurut Anderson (Setiyanto,Edi:1972), setiap bahasa memperlihatkan delapan ciri hakikat kebahasaan. Kedelapan ciri itu meliputi:

1. Sebagai suatu sistem : menandakan bahwa bahasa tersusun dari berbagai unsur yang saling berhubungan melalui aturan-aturan tertentu.

2. Bersifat Vokal: menandai bahwa bahasa harus dapat diujarkan.

3. Bersifat arbitrer : menandai bahwa hubungan antara bahasa sebagai

"penanda" dan realita sebagai acuan bersifat acak.

4. Bersifat unik : menandai bahwa setiap bahasa di samping ciri universalnya, memperlihatkan kekhasan.

5. Dibangun berdasar kebiasaan-kebiasaan : menandakan bahwa pembelajaran bahasa, khususnya bahasa ibu ragam keseharian, berlangsung secara alamiah.

6. Merupakan alat komunikasi : mensyaratkan bahwa bahasa harus dapat untuk berinteraksi.

7. Unsur erat dengan budaya masyarakat penuturnya : menandakan bahwa fenomena kebahasaan bersifat paralel dengan budaya masyarakat penuturnya.

8. Terus menerus mengalami perubahan : menandakan bahwa bahasa selalu

"memperbaharui" diri untuk menyelaraskan dengan perubahan budaya masyarakatnya.

2.2.3.2. Fungsi Bahasa

Menurut salah satu ahli bahasa Halliday (Setiyanto,Edi:1973), bahasa mengemban tujuh fungsi, yang meliputi:

1. Fungsi Instrumental : memungkinkan penutur mewujudkan kondisi atau peristiwa-peristiwa tertentu, seperti tercermin pada pemakaian kalimat perintah.

2. Fungsi Regulasi : memungkinkan penutur merumuskan aturan-aturan seperti dalam kitab perundang-undangan.

(7)

3. Fungsi Representasional : memungkinkan penutur menggambarkan atau mendeskripsikan suatu keadaan, seperti tercermin pada kalimat deklaratif.

4. Fungsi Interaksional: memungkinkan penutur mewujudkan, mempertaliankan, dan memantapkan komunikasi sosial. Fungsi ini tercermin pada pemakaian bentuk fatis atau variasi-variasi bahasa, baik yang berupa jargon, atau yang lain.

5. Fungsi Personal : memungkinkan penutur mengembangkan kemampuan dan kecerdasan. Fungsi ini terwujud dalam kalimat-kalimat tanya yang harus dijawab.

6. Fungsi Imajinatif : fungsi ini memungkinkan penutur mengungkapkan imajinasinya seperti tercermin didalam cerpen, novel, dan sebagainya.

Penelitian ini akan meneliti bahasa dalam fungsi Interaksionalnya.

2.3. Warna

Warna mempunyai suatu nilai simbolik dan merupakan tanda dalam sebuah penelitian, dimana mempengaruhi prilaku pembelian dari seorang konsumen selain itu juga mempengaruhi persepsi mereka terhadap suatu produk. Jadi suatu kumpulan dari nilai simbolik yang terdapat pada suatu warna tidak selalu mendasari suatu penjualan oleh suatu budaya (misalnya warna putih dianggap simbol dari hidup dan kesucian oleh negara Eropa tapi oleh negara lain dianggap sebagai simbol kematian), Menurut

(www.eur-export.com/anglains/appLheo/marketting/product/culture.htm.') untuk mengatasi perubahan dalam suatu pasar itu tidak mudah.

2.3.1. Definisi Warna

Menurut (www.ricklineback.com/definit.htmn. warna secara dasar adalah suatu cahaya. Warna merah ternyata memiliki suatu tanda warna yang terlihat sekilas karena zat warna pada reaksi pengecatan dimana disaat itu partikel warna mengalami suatu pemberhentian dimana suatu spektrum akan diserap. Warna putih terdiri dari semua warna. Kenyataan ini membuktikan pada suatu penelitian ketika memegang prisma diatas cahaya matahari dan akan melihat warna-warna yang berbeda yang tersebar dalam suatu spektrum warna. Prisma tersebut sebenarnya akan membengkokkan setiap pancaran dari berbagai warna cahaya.

(8)

2.3.2. Dimensi Warna

Menurut (www.carnrightdesign.com/color4business/color), Warna mempunyai tiga dimensi, yaitu:

1. Brightness/Kecemer\angan, berarti menandakan suatu kehebatan/intensitas dari cahaya yang datang yang berasal dari stimulus warna.

2. //we/warna-warni, tampil corak : menunjuk pada warna dimana fungsinya dari gelombang warna dari cahaya yang dipancarkan pada warna stimulus.

3. Saturationfkejenuhan : menunjuk pada sejumlah warna putih

Menurut Acking dan Kuller (www.camrightdesign.com/color4business/color), variasi warna dalam suatu ruangan mempengaruhi keadaan psikologi seseorang ada saat dia bereaksi seperti pada aliran darah dan kecepatan pernafasan. Sedangkan, warna dalam sebuah produk merupakan salah satu daya tarik estetika dan dapat menimbulkan banyak ide serta inspirasi dimana dapat diterjemahkan dalam sebuah simbol kecantikan dan selera yang tinggi.

2.3.3 Fungsi-fungsi warna dalam Bisnis (www.carnrightdesign.com/color4business/color).

Warna merupakan salah satu hal yang dapat membantu produsen untuk berkomunikasi dengan konsumen, jadi penempatan warna dalam kemasan sangat penting. Warna memiliki persepsi yang berbeda-beda di benak konsumen.

Fungsi-fungsi dari warna adalah :

1. Secara serentak membangkitkan suatu semarak dan bekerja dalam suatu keselarasan. Konsep simbolis abstrak suatu warna dan gagasannya mengekspresikan suatu fantasy dan harapan-harapannya, dimana menimbulkan suatu ingatan pada waktu dan tempat yang berbeda dan memunculkan suatu perasaan emosional dan visual respon.

2. Suatu struktur elemen mendasar dari suatu identitas perusahaan dan suatu merek. Warna menciptakan batasan hubungan yang tepat yang berhubungan yang mempengaruhi seluruh peraturan-peraturan yang ada yang telah didesain. Sebagai peralatan estetika yang mendasar, warna menciptakan perasaan dari visual harmony dimana menyokong dan mempertinggi ketertarikan dari setiap konsumen-konsumen.

(9)

2.3.4 Tabel Pengaruh emosi dan psikologi dari warna Tabcl 2.1

PENGARUH EMOSI DAN PSIKOLOGI DARI WARNA WARNA PENGARUH EMOSI DAN PSIKOLOGI DARI WARNA

1. Merah Merah secara pribadi menimbulkan kesan menyenangkan, suatu hasrat, provakatif dan dinamis. Merah adalah wama terseksi dari seluruh warna dan menggairahkan apabila ditempatkan pada suatu pasar.

Masyarakat melihat warna merah sebagai suatu hal yang kaya, mahal, seperti suatu kewenangan, kedewasaan, dan keeleganan dari warna yang dipancarkan.

Kuning Warna yang semarak. Bersifat optimis, kreatif perlindungan, imajinasi,dan memberikan perasaan yang nyaman.

Kuning adalah warna yang terlihat bercahaya dalam suatu spectrum dan merupakan proses warna pertama yang ditangkap oleh mata. Didalam cahaya itu pelanggan akan melihat warna ini sebagai suatu kegembiraan dan kelembutan. Apabila suatu industri menggunakan warna ini di jalanan akan terlihat sebagai tanda yang penuh kuasa dan perintah.

Biru Warna ini dapat membangkitkan kepercayaan diri dan merupakan warna yang cukup ideal untuk identitas perusahaan website, kemasan,dan produk dimana didalamnya terdapat pesan yang sangat penting. Biru memberikan suatu kuasa dan wibawa yang serius dan menyangkut kredibilitas pada suatu bisnis.

Sumber : (www.carnrightdesign.com/color4business/emotional impact.htm )

2.3.4 Simbol Warna

Wama adalah komunikasi yang non verbal yang memiliki banyak arti dan simbol. Ketika produsen akan mendesain sebuah unsur intrinsik sebuah produk, hal ini yang harus pertama kali dipikirkan. Kadang warna memancarkan hal yang menimbulkan tekanan darah merasskan kenyamanan atau berbagai reaksi dari suatu budaya. Menurut (www.carnrightdesign.com/color4business/color svmbolism.htmO.

mempelajari dari simbol perbedaan wama dari segi positif dan negatifnya serta dari budayanya, demikian dijabarkan berikut:

(10)

1. Mcrah

Simbol Positif : berenergi, hangat, kuat, berpengaruh, dinamis, aktif, keberanian, menikmati, cinta, hasrat, nafsu, kecepatan, kekuatan, panas, darah, bunga-bunga, hari kasih sayang, tantangan, semua hal yang hebat dan keinginan untuk maju.

Simbol Negatif : dominan, pemberontakan, agresif, perang, pertempuran, kekejaman, iblis, pasrah, bahaya, api, komunis, kelas rendah, tidak berpendidikan, kalah.

Berdasar budaya:

*!« China : perayaan, keberhasilan, dipakai pada berbagai upacara-upacara adat.

Ki India : kesucian pada perayaan pernikahan.

*I* Budaya Barat : hari natal yang dikombinasikan dengan warna hijau, hari kasih sayang yang dikombinasikan dengan merah muda, identik dengan berhenti pada lampu lalu lintas.

• Budaya Timur : kesenangan apabila dikombinasikan dengan warna putih.

2. Kuning :

Simbol Positif : kesenangan, kebahagiaan, idealis, imajinasi, musim panas, harapan, vitalitas, bercahaya, komunikasi, optimis, philosophy, cahaya matahari, musim gugur, buah dan sayuran, emas.

Simbol Negatif : egois, cemburu, sakit, bahaya, tidak jujur, pengkhianatan, perasaan pengecut, penuh prasangka, karantina, jahat, sensasi.

Berdasar budaya:

• Asia : suci, kekaisaran

• 'Budaya Barat: kesenangan dan kegembiraan.

3. Biru :

Simbol Positif : damai, tenang, stabil, keserasian, kesatuan, kepercayaan, kebenaran, kebersihan, percaya diri, loyal, pasif, pengertian, konservatif, keamanan, teknologi, maskulin, langit, air, keabadian, kesucian, keuntungan, tenaga kerja, penghargaan, aristokrasi, kecepatan, selera makan.

Simbol Negatif : cuek, melankolis, depresi, kesedihan, berdasar pada aturan, yang tidak diharapkan.

(11)

Berdasar budaya :

*!< China : keabadian, hidup kekal.

•"fi Colombia : sabun

* Hindu : Krishna

# Orang Yahudi: Kesucian

*!* Timur Tengah : perlindungan.

2.4 Perceived Quality

Menurut Aaker (1997:124), kesan kualitas dapat didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap seluruh kualitas/keunggulan suatu produk/jasa layanan sehubungan dengan maksud yang diharapkan.

Menurut Zeithaml (1990:4), Perceived Quality adalah model yang digunakan untuk mengukur tentang kesempurnaan sebuah produk.

Kesan kualitas tidak dapat ditetapkan secara objektif sesungguhnya karena lebih merupakan persepsi dan kepentingan pelanggan. Berbagai kriteria perlu mendasari dalam penilaian suatu kesan kualitas, serangkaian kriteria yang berbeda perlu mendasari dalam penilaian suatu kesan kualitas dan terpenting adalah kepuasan yang diperoleh oleh pelanggan tidak sama dengan kesan kualitas . Menurut Zeithaml, A. Valerie (1990:4), seorang pelanggan dapat dipuaskan hanya karena mempunyai harapan yang rendah terhadap kinerja suatu produk, sebenarnya bahwa harapan rendah tidaklah identik dengan kesan kualitas tinggi. Dalam mendapatkan kesan kualitas yang tinggi dengan memberikan kualitas produk kepada pelanggan tinggi, memahami tanda-tanda kualitas pembeli, mengkomunikasikan pesan kualitas tersebut dengan meyakinkan, serta mengindentifikasikan dimensi penting dari kualitas.

2.4.1. Dimensi Perceived Quality

Dalam Aaker (1997:133), kesan kualitas produk dipengaruhi oleh beberapa faktor/dimensi yaitu :

1. Konteks kualitas produk yang terbagi menjadi:

a. Kinerja yang melibatkan berbagai karakteristik operasional produk yang utama.

b. Karakteristik produk, yaitu elemen sekunder dari produk/bagian-bagian tambahan dari produk, sehingga pembeda penting ketika dua produk

(12)

tampak identik, karakteristik produk akan menunjukkan bahwa perusahaan memahami kebutuhan para pengguna produk tersebut.

c. Kesesuaian dengan spesifikasi, artinya tidak ada produk yang cacat, sehingga merupakan penilaian mengenai kualitas proses manufaktur.

d. Keandalan, adalah konsistensi kinerja produk dari satu pembelian hingga pembelian berikutnya dan presentasi waktu yang dimiliki produk untuk berfungsi sebagaimana mestinya.

e. Ketahanan, yang mencerminkan kehidupan ekonomis dari produk tertentu.

f. Pelayanan, yang mencerminkan kemampuan perusahaan memberikan pelayanan sehubungan dengan produk tersebut.

g. Hasil akhir (Fit & Finish), yang menunjukkan saat munculnya atau dirasakannya kualitas produk. Asumsinya adalah jika perusahaan tidak bisa menghasilkan produk dengan hasil akhir yang baik maka produk- produk tersebut mungkin tidak akan mempunyai atribut kualitas lain yang lebih penting.

2. Menurut Aaker (1997:126) konteks kualitas jasa, kesan kualitas akan memberikan nilai sebagai bagian dari ekuitas merek) yaitu :

a. Alasan untuk membeli.

Dalam banyak situasi kesan kualitas suatu merek akan memberikan alasan yang penting bagi pelanggan untuk membeli merek tersebut. Oleh karena ketertarikannya dengan keputusan pembelian, kesan kualitas mampu mengefektifkan semua elemen pada program pemasaran. Apabila kesan kualitas suatu merek tinggi, kemungkinan besar upaya periklanan dan promosi yang dilancarkan akan efektif.

b. Diferensiasi/posisi.

Karakteristik penting dari merek adalah posisinya dalam dimensi kesan kualitas, yaitu apakah merek tersebut berharga, optimum/ekonomis dan apakah merek tersebut merupakan yang terbaik/hanya sekedar kompetitif terhadap merek-merek lain.

c. Harga Optimum

Kesan kualitas memberikan pertimbangan bagi perusahaan dalam menetapkan harga optimum (price premium) yang dapat meningkatkan laba

(13)

dan memberikan sumber daya untuk melakukan reinvestasi atas merek tersebut Selain harga optimum juga dapat menguatkan kesan kualitas dengan adanya asumsi anda mendapatkan apa yang anda bayar akan mempengaruhi pembelian dalam kondisi dimana informasi obyektif mengenai suatu produk tertentu tidak tersedia.

d. Minat Saluran Distribusi.

Kesan kualitas juga mempunyai arti penting bagi para pengecer, distributor, dan berbagai saluran lainnya sehingga dapat membantu memperluas jangkauan distribusi. Pencitraan sebuah saluran distribusi akan dipengaruhi

oleh produk-produk yang masuk dalam saluran distribusi tersebut. Selain itu, sebuah saluran distribusi dapat menawarkan produk-produk dengan kualitas tinggi dengan harga yang menarik untuk menguasai lalu lintas distribusi tersebut. Beberapa saluran distribusi mungkin termotivasi untuk menyalurkan merek-merek yang sangat diminati oleh para pelanggan.

e. Perluasan merek.

Kesan kualitas dapat dieksploitasi dengan cara memperkenalkan berbagai perluasan merek yaitu dengan menggunakan merek tertentu untuk masuk ke dalam berbagai kategori produk baru. Sebuah merek yang kuat dalam hal kesan kualitas akan sanggup untuk meluaskan diri dan akan mempunyai kemungkinan sukses yang lebih besar dibanding merek yang memiliki kesan kualitas lebih rendah.

Kualitas merupakan hal penting dalam sebuah produk karena konsumen ketika mengeluarkan biaya untuk membeli produk yang dibeli adalah hasil atau kualitas dari produk tersebut. Ketika produsen herbicara kualitas maka yang dianggap penting adalah sesuatu hal yang diterima oleh konsumen tanpa protes atau komplain setelah proses pembelian bahkan menjadi loyal terhadap produk tersebut.

2.4.2 Hal- hal yang mempengaruhi Perceived Quality.

Perceived Quality sangat berbeda dengan objective dan actual quality tetapi sesuatu hal yang memiliki level sangat tinggi dibanding dengan atribut spesifik dari produk.

(14)

Menurut Zeithaml,A Valerie (1990:7), banyak hal yang mempengaruhi sebuah Perceived Quality diantaranya adalah:

1. Atribut Intrinsik yang dimaksud dengan hal ini adalah hal-hal yang secara langsung dapat terlihat oleh konsumen misalnya : warna, bahasa, komposisi produk, wadah. Atribut intrinsik dari sebuah produk dapat membantu konsumen untuk mengindikasikan kualitas barang tersebut jadi memudahkan konsumen untuk mengevaluasi.

2. Harga produk yang dimaksud dengan hal ini adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen ketika konsumen membeli produk untuk memenuhi kebutuhannya.

3. Reputasi yang dimaksud disini adalah suatu tingkatan rasa percaya masyarakat terhadap suatu produk.

4. Merek produk.

Penelitian ini menggunakan dimensi atribut intrinsik dari segi bahasa dan warna dasar sebuah kemasan.

2.5. Hubungan antar Konsep

Menurut penelitian ini bahasa merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan orang lain atau seseorang pelanggan, Jadi bahasa harus dibuat sedemikian rupa agar informasi yang akan disampaikan oleh produsen terhadap konsumen dapat diterima dengan baik (pengungkapannya harus ringkas dan jelas).

Sedangkan warna menurut (www.carnrightdesign.com/color4business/color communication.html') adalah merupakan alat komunikasi secara psikologis, warna dapat menarik memikat dan menyampaikan pesan kepada konsumen. Karena kelebihan yang dimiliki oleh warna tersebut maka dapat disimpulkan bahwa warna dapat bekerja dalam sebuah bisnis melalui :

• Suatu penegasan dalam suatu acara penting, dan memimpin pada poin yang penting.

si* Mengidentifikasi suatu tema berulang.

si* Membedakan bisnis anda dan teman anda atau elemen- elemen dalam bisnis anda.

si* Suatu simbol dan pergerakan emosi dan asosiasi.

Tetapi selain keunggulan diatas sebuah warna dapat pula berakibat fatal bagi sebuah bisnis jika produsen tidak menempatkannya pada suatu posisi yang benar, contohnya: di Amerika warna ungu adalah simbol dari spiritual, kematian, misteri,

(15)

kemuakan, kesombongan,dan kemegahan, sedangkan di Katolik Eropa, warna ungu merupakan simbol dari kematian dan penyaliban Kristus. Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian khusus ketika produsen akan memasarkan produknya dalam suatu daerah tertentu, karena ketika produsen membuat kesalahan fatal dari segi wama maka akan berakibat fatal bagi bisnis tersebut. Sebuah wama memberikan suatu kekuatan dalam komunikasi bisnis, jadi jangan memilih pola-pola wama hanya karena semata-mata keinginan kita sendiri.

Wama merupakan suatu bentuk bahasa yang universal dan tidak terbatas pada ruang dan waktu, sebuah wama dapat menyakinkan dan membujuk pelanggan untuk meresponi sesuatu yang positif dari pesan yang terkandung dalam konsep pemasaran seorang pemasar/produsen (www.couponing.about.corn/librarv/weeklv/aa060501 a.html \

Wama adalah salah satu variable dari atribut intrinsik yang digunakan sebagai tolak ukur dalam Perceived Quality, selain bahasa. Bahasa adalah sebuah cara yang akan digunakan oleh produsen untuk menyampaikan pesan kepada konsumen, oleh karena itu peran bahasa dalam sebuah kemasan dapat menunjang segi intrinsik sebuah kemasan. Menurut Zeithaml, A.Valerie (1990:7), kedua atribut tersebut dapat membantu produsen untuk menciptakan suatu hal yang baru bagi konsumen

2.6. Kerangka Pemikiran

Pengaruh Penggunaan Bahasa dan Warna Dasar Dalam Produk Kecantikan Terhadap Perceived Quality

Indonesia (Merah)

Aspek Kemasan Produk

Bahasa dan Wama

Indonesia (Biru)

Indonesia (Kuning)

Inggris (Merah)

Inggris (Biru)

Inggris (Kuning)

Apakah ada pengaruh penggunaan bahasa dan wama dasar dalam kemasan produk kecantikan terhadap perceived quality.

Sumber : Olahan Penulis (Christensen, Larry (1992:237)) Gambar2.1

(16)

2.7 Hipotesa

Dalam penelitian ini hipotesa yang digunakan yaitu : Tidak ada pengaruh penggunaan bahasa (Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris) dan Warna Dasar dalam kemasan produk kecantikan terhadap Perceived Quality (Ho) dan ada pengaruh penggunaan Bahasa (Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris) dan Warna Dasar dalam kemasan produk kecantikan terhadap Perceived Quality (HI).

Referensi

Dokumen terkait

 Sel mikroba secara kontinyu berpropagasi menggunakan media segar yang masuk, dan pada saat yang bersamaan produk, produk samping metabolisme dan sel dikeluarkan dari

Analisis besar risiko menunjukkan bahwa status sosial ekonomi miskin merupakan faktor risiko terhadap kejadian demam neutropenia dengan nilai OR sebesar 4,591 kali dibandingkan

Jaringan distribusi tegangan menengah adalah jaringan tenaga listrik yang menyalurkan daya listrik dari gardu induk sub transmisi ke gardu distribusi.. Jaringan Distribusi

Ketika kita bersatu dengan Kristus, Roti Hidup yang dipecah-pecahkan bagi dunia ini, kitapun dipersatukan dalam kematian dan kebangkitan Kristus.. Dipersatukan

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penilaian konsumen terhadap pelaksanaan bauran pemasaran dan implikasi strateginya pada masa yang akan datang di Bali

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kepuasan kerja dan persepsi dukungan organisasi dengan komitmen organisasi, hubungan antara kepuasan kerja

Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka dapat dikatakan bahwa walaupun semakin lengkap fasilitas/ sarana kesehatan yang digunakan di puskesmas Teppo dalam memberikan

Abstrak Pada kasus-kasus aktual di lapangan, penelitian mengenai kondisi air tanah adalah sulit untuk dilakukan, sehingga untuk mempelajari lebih lanjut mengenai tinggi muka air