• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

41 BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pemenuhan Asas-Asas Perjanjian dalam Kontrak/Perjanjian Elektronik Melalui Situs Belanja Online (Online Shop)

Sebelum membahas mengenai pemenuhan asas-asas perjanjian dalam kontrak/perjanjian elektronik melalui situs belanja online (online shop), akan dibahas terlebih dahulu pemenuhan kontrak/perjanjian elektronik terhadap syarat sahnya suatu perjanjian.

Syarat sahnya suatu perjanjian yang tercantum dalam pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu:

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;

2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;

3. Suatu hal tertentu;

4. Suatu sebab yang halal.

Terhadap syarat yang pertama, maka segala perjanjian haruslah merupakan suatu hasil kesepakatan antara kedua belah pihak, dimana sepakat itu dilakukan tanpa ada unsur pakasaan, kekhilapan, dan penipuan (dwang, dwaling, bedrog). Kata sepakat di dalam perjanjian pada dasarnya adalah persesuaian kehendak antara para pihak yang melakukan suatu perjanjian.

Seseorang dikatakan memberikan persetujuannya dan kesepakatannya jika ia memang menghendaki apa yang disepakati. Hal ini sesuai dengan asas konsensualisme dalam suatu perjanjian bahwa suatu kontrak yang telah dibuat maka telah sah dan mengikat secara penuh bagi para pihak yang membuatnya.

Perjanjian yang ada dalam transaksi e-commerce muncul karena adanya kesadaran dari para pihak untuk saling mengikatkan diri. Pihak pembeli menyetujui atau menyepakati klausul kontrak yang telah disediakan oleh penjual. Klausul kontrak ini biasanya telah disediakan dan pembeli tinggal menyetujuinya dengan cara menconterng pada kotak yang disediakan atau menekan tombol accept sebagai tanda persetujuan.

(2)

commit to user

Perjanjian dalam kontrak e-commerce merupakan suatu perjanjian take it or leave it. Sehingga jika pembeli setuju maka ia akan menyetujui perjanjian tersebut, jika tidak maka pembeli tidak perlu melakukan persetujuan dan proses transaksi pun batal atau tidak terjadi. Jadi dapat disimpulkan bahwa perjanjian/kontrak yang terjadi dalam e-commerce terjadi karena adanya kesepakatan.

Syarat yang kedua adalah kecakapan untuk membuat suatu perikatan.

Pada dasarnya, setiap orang yang telah dewasa atau akilbaliq dan sehat pikirannnya adalah cakap untuk membuat perikatan, dimana hal ini disebutkan dalam Pasal 1329 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu:

-perikatan, jika oleh

undang- .

Syarat atau tolok ukur untuk menentukan cakap tidaknya seseorang untuk mengadakan suatu perjanjian dapat dilihat dalam Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu mereka yang tidak cakap dalam melakukan perjanjian adalah:

1. Orang-orang yang belum dewasa;

2. Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan;

3. Orang-orang perempuan (yang kemudian dicabut dan dinyatakan tidak berlaku menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan).

Syarat seseorang dikatakan belum dewasa menurut Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah belum mencapai umur genap 21 tahun dan tidak lebih dahulu telah kawin atau menikah. Akan tetapi setiap orang yang telah dewasa belum tentu ia sehat pikirannya. Sehingga perlu juga dilihat syarat berdasarkan pasal 433 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan bahwa setiap orang dewasa yang selalu berada dalam keadaan dungu, sakit otak, atau mata gelap harus dibawah pengampuan, begitu juga jika ia kadang-kadang cakap menggunakan

(3)

commit to user

pikirannya. Selain itu seorang dewasa boleh ditaruh dibawah pengampuan karena keborosannya.

Kemudian untuk syarat ketiga berdasarkan perkembangan jaman dan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dianggap sudah tidak berlaku dimana wewenang seorang istri untuk melakukan perbuatan hukum dan untuk menghadap di depan pengadilan tanpa izin atau bantuan suaminya yang diatur dalam Pasal 108 dan 110 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sudah tidak berlaku lagi menurut Undang-Undang tersebut.

Sehingga, syarat seseorang cakap untuk mengadakan suatu perjanjian atau perikatan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah seseorang yang telah dewasa baik pria maupun wanita yang telah berumur 21 tahun atau telah menikah dan sehat pikirannya serta tidak berada dibawah pengampuan.

Perjanjian atau kontrak dalam e-commerce juga mensyaratkan syarat tertentu bagi pihak yang akan mengadakan kesepakatan, dimana menurut hasil penelitian terhadap beberapa situs yang bergerak dalam e-commerce (webstore atau toko maya) yang telah dilakukan oleh penulis, sebagian besar ditemukan suatu syarat bagi customer untuk melakukan transaksi haruslah telah berumur minimal 18 tahun. Syarat ini dapat ditemukan pada saat customer mengisi form pendaftaran yang berisi mengenai data diri dari customer, dimana terdapat suatu kolom yang berisi mengenai tanggal lahir, serta adanya suatu box yang harus di check yang menyatakan bahwa si customer telah berusia 18 tahun.

Sehingga kecakapan customer dapat terlihat pada saat ia melakukan pengisian form.

Hal ini tertuang dalam salah satu bagian Your User Aggrement eBay http://www.ebay.com dimana dituliskan the Sites if you are not able to form legally binding contracts, are under the age of 18, or are temporarily or . Yang dapat diartikan bahwa seseorang tidak berhak menggunakan web eBay tersebut jika tidak mampu atau cakap untuk membuat kontrak menurut hukum, berusia dibawah 18 tahun, atau pihak

(4)

commit to user

eBay untuk sementara waktu atau dengan waktu tak terbatas melarang seseorang tersebut untuk mengakses atau menggunakan situs tersebut.

Selain itu dalam Conditions Of Use website Amazon pada bagian Your

Account If you are under 18, you may use

Amazon.com only with involvement of a parent or guardian . Yang dapat

menggunakan Amazon.com dengan keterlibatan orang tua atau wali. Hal ini menunjukan bahwa untuk dapat bertransaksi dengan layanan Amazon maka seseorang haruslah berusia 18 tahun ke atas, jika berusia dibawah 18 tahun haruslah diwakilkan kepada orang tua atau walinya.

Adanya persamaan antara eBay dengan Amazon tentang persyaratan umur seseorang yang berhak mengadakan kontrak dan bertransaksi dalam e- commerce secara tidak langsung menunjukan bahwa syarat kecakapan seseorang dalam e-commerce yang pada umumnya dilakukan adalah telah berusia 18 tahun. Hal ini tentu saja berbeda dengan apa yang diharapkan atau diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang mensyaratkan telah genap berusia 21 tahun, sehingga kontrak dalam e-commerce tetap dapat terjadi atau berlaku meskipun pemenuhan terhadap syarat ini sulit untuk dibuktikan, yaitu dengan adanya kepercayaan antar para pihak mengenai apa yang dinyatakan dalam proses transaksi.

Hal ini menunjukan adanya asas kepercayaan dalam kontrak e- commerce serta sejalan dengan teori pernyataan yang menyebutkan bahwa apa yang dinyatakan berlaku sebagai dasar atau pegangan, yang pada akhirnya ketika apa yang dinyatakan dipercayai, maka kontrak telah terjadi atau ada meskipun dapat dimungkinkan ternyata apa yang dinyatakan dikemudian hari diketahui berbeda dengan keadaan sebenarnya. Sehingga kontrak tersebut tetap sah meskipun syarat kedewasaan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak dapat dipenuhi dalam kontrak e-commerce.

Melihat penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa syarat kecakapan yang diatur dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak dapat terpenuhi dalam kontrak e-commercedikarenakan Pasal 1320 yang

(5)

commit to user

mengatur mengenai syarat sahnya perjanjian mempunyai sifat memaksa sehingga tidak dapat dikesampingkan meskipun Buku III Kitab Undang- Undang Hukum Perdata mempunyai sifat aanvulend recht atau hanya sebagai pelengkap saja.

Meskipun syarat kedewasaan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak dapat terpenuhi dalam kontrak e-commerce, hal ini tidak menyebabkan kontrak tersebut menjadi tidak sah, tetapi hanya memberikan akibat terhadap perjanjian atau kontrak tersebut dapat dimintakan pembatalan oleh salah satu pihak, dikarenakan kecakapan untuk membuat suatu perikatan termasuk ke dalam syarat subjektif. Sehingga berdasarkan uraian tersebut maka dapat ditarik disimpulkan bahwa kontrak dalam perdagangan melalui internet (e-commerce) tetap sah sehingga mengikat dan menjadi undang-undang bagi para pihak yang membuatnya sepanjang para pihak tersebut tidak mempermasalahkan mengenai tidak terpenuhinya salah satu syarat sahnya perjanjian menurut pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata serta para pihak tetap melaksanakan perjanjian yang telah dibuatnya.

Syarat sahnya perjanjian yang ketiga, yaitu suatu hal tertentu berhubungan dengan objek perjanjian, maksudnya bahwa objek perjanjian itu harus jelas, dapat ditentukan dan diperhitungkan jenis dan jumlahnya, diperkenankan oleh undang-undang serta mungkin untuk dilakukan para pihak.

Transaksi dalam e-commerce meskipun berbeda dengan transaksi konvensional yang mengandalkan suatu wujud yang nyata yang bisa disentuh, adanya distribusi fisik dan terdapat tempat transaksi pada dasarnya tidaklah berbeda sangat jauh.

Dalam e-commerce juga terjadi hal tersebut tetapi produk yang akan diperjualbelikan tidak nampak secara fisik tetapi berupa informasi mengenai produk tersebut, selain itu dalam e-commerce terjadi suatu pendistribusian bahasa atau kode-kode instruksi yang pada akhirnya akan memunculkan suatu informasi atas produk yang akan ditawarakan dan bagaimana cara untuk melakukan transaksi. Sehingga keduanya mempunyai persamaan bahwa untuk syarat sahnya perjanjian atatu kontrak yang ditimbulkan dari kegiatan e-

(6)

commit to user

commerce haruslah memenuhi syarat adanya suatu hal tertentu sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Pasal 1333 juga menyebutkan bahwa:

mempunyai sebagai pokok suatu barang yang paling sedikit ditentukan

asal saja jumlah itu terkemudian d Sehingga apa

yang diperjanjikan harus mempunyai barang beserta jumlah maupun jenisnya sebagi pokok dari perjanjian yang telah dibuat.

Suatu hal tertentu dalam perjanjian adalah objek prestasi perjanjian. Isi prestasi tersebut harus tertentu atau paling sedikit dapat ditentukan, sehingga berdasar definisi tersebut maka, suatu kontrak e-commerce haruslah menyebutkan mengenai objek dari kontrak tersebut baik. Setelah melakukan penelitian terhadap webstore diketahui bahwa dalam webstore tersebut menawarkan berbagai macam produk, dimana produk yang ditawarkan diantaranya yaitu buku, barang elektronik, software, serta ada juga yang menawarkan jasa dibidang pembuatan suatu webstore.

Selain menampilkan produk tersebut dalam bentuk gambar, juga ada deskripsi penjelasan terhadap produk yang ditawarkan mengenai informasi, spesifikasi, harga dari produk tersebut. Sebagai contoh sebuah pasar online yang bergerak dibidang e-commerce yang tidak hanya melakukan penawaran produk tetapi juga sebagai tempat pelelangan suatu barang yaitu eBay. Untuk webstore dalam negeri yaitu Gramedia Toko Buku Online yang bergerak di bidang perdagangan buku secara online.

1. eBay

EBay yang dapat diakses di http://www.ebay.com merupakan pasar online dunia, yang memungkinkan perdagangan lokal, nasional dan internasional. Memiliki komunitas yang bervariasi baik perseorangan dan usaha kecil, eBay menawarkan sebuah sistem perdagangan online, yang memungkinkan jutaan jenis barang diperjualbelikan setiap hari, didalamnya selain menampilkan gambar dari produk yang ditawarkan juga terdapat

(7)

commit to user

informasi mengenai harga barang tersebut, bahkan kita juga dapat melakukan penawaran sebagaimana lelang pada umumnya.

2. Amazon

Amazon merupakan salah satu perusahaan dengan toko maya (virtual shop) yang dapat diakses di http://www.amazon.com yang menjual buku-buku, perlengkapan kantor, lagu (musik), DVD, dsb. Amazon menyediakan sebuah sistem perdagangan secara online selama 24 jam, 7 hari seminggu. Selain itu, Amazon tidak mempunyai toko secara fisik namun mempunyai kantor yang berkedudukan di Seattle, Washington, Amerika Serikat. Dalam situs Amazon selain menampilkan produk juga dilampirkan mengenai harga produk tersebut serta kesediaan produk.

3. Gramedia Toko Buku Online

Gramedia Toko Buku Online yang dapat diakses di alamat http://www.gramediaonline.com merupakan sebuah webstore yang menawarkan buku sebagai produknya, serta terdapat informasi mengenai buku beserta harganya, serta suatu software shopingchart yang mempunyai fungsi untuk menjumlahkan harga barang yang yang dibeli ditambah biaya lainnya seperti ongkos kirim dsb.

Selain ketiga toko online tersebut, masih ada banyak toko-toko online yang cukup terkenal di Indonesia, misalnya Lazada.co.id, Blibli.com, olx.com, bukabuku.com, bukukita.com, dan lain sebagainya. Sesuatu hal tertentu dalam hal ini yaitu adanya suatu benda yang dijadikan obyek dalam suatu perjanjian, jika dihubungkan dengan apa yang ada dalam e-commerce yang menyediakan berbagai macam benda atau produk yang ditawarkan dan costomer bebas memilih terhadap salah satu atau beberapa jenis benda atau produk yang dinginkannya, berdasar hasil penelitian ditemukan bahwa setelah customer melakukan pemilihan produk, diakhir proses transaksi merchant akan menampilkan informasi mengenai barang beserta harganya atas apa yang dipilih apakah benar atau tidak. Sehingga apa yang dipilih customer menjadi obyek dalam perjanjian tersebut.

(8)

commit to user

Berdasar uraian diatas maka di dalam e-commerce juga ada suatu hal tertentu yang menjadi obyek dalam perjanjian atau kontrak sebagaimana yang disyaratkan dalam Pasal 1320 jo 1333 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata terhadap perjanjian pada umumnya.

Syarat sahnya suatu perjanjian yang terakhir yaitu suatu sebab yang halal. Perjanjian/kontrak dalam e-commerce yang disodorkan oleh merchant haruslah memenuhi syarat suatu sebab yang halal agar sesuai dengan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, sehingga ketika costumer yang akan melakukan kesepakatan dapat membaca dan memahami isi dari kontrak atau perjanjian tersebut apakah benar dan tidak menyimpang dari kaedah yang ada atau tidak. Suatu sebab yang halal, berarti perjanjian termaksud harus dilakukan berdasarkan itikad baik dari pihak merchant terhadap barang yang diperjanjikan tidak bertentangan atau tidak menyimpang dari kaedah-kaedah yang ada.

Pasal 1335 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang berbunyi:

sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan

Sebab dalam hal ini adalah tujuan dibuatnya sebuah perjanjian. Tujuan dari perjanjian berarti isi perjanjian itu sendiri yang dibuat oleh kedua belah pihak, sedangkan isi perjanjian adalah yang dinyatakan tegas oleh kedua belah pihak mengenai hak dan kewajiban yang ditimbulkan dari hubungan hukum (perjanjian) yang dibuat oleh kedua belah pihak tersebut.

Kemudian ditambahkan dalam Pasal 1336 KUHPerdata yang berbunyi:

ika tidak dinyatakan sesuatu sebab, tetapi ada sesuatu sebab yang halal ataupun jika suatu sebab yang lain, daripada yang dinyatakan persetujuan

Pasal 1336 KUHPerdata menegaskan bahwa adanya kausa itu menunjukkan adanya kejadian yang menyebabkan terjadinya suatu utang, begitu pula walaupun tidak dinyatakan suatu sebab, maka perjanjian itu adalah sah.

(9)

commit to user

Sebab yang halal adalah mutlak untuk dipenuhi dalam mengadakan suatu perjanjian, pembuatan perjanjian tersebut haruslah didasari dengan itikad baik untuk mengadakan suatu pejanjian atau kontrak, dalam Pasal 1337 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan bahwa:

uatu sebab adalah terlarang apabila dilarang oleh undangundang,

Penjelasan dari suatu perbuatan yang dilarang oleh undang-undang dalam hukum positif adalah jika dalam undang-undang tidak memperbolehkan adanya perbuatan itu dan apabila dilanggar maka perbuatan itu akan mendapatkan sanksi yang tegas, sebagai contoh adalah tindak kejahatan seperti jual-beli narkoba, jual-beli barang curian, dan lain sebagainya.

Kesusilaan merupakan norma yang hidup dalam lingkungan masyarakat. Norma termasuk hukum tidak tertulis yang didalamnya berisi perbuatan-perbuatan yang patut dilakukan dan perbuatan yang tidak patut dilakukan. Sehingga segala perjanjian atau kontrak yang dibuat haruslah memenuhi norma kesusilaan, pelanggaran atas norma ini adalah sanksi sosial dari masyarakat mengingat kesusilaan adalah hukum tidak tertulis dalam kehidupan masyarakat. Kontrak e-commerce yang dibuat haruslah memenuhi norma-norma yang hidup dalam masyarakat, bedasar hasil penelitian maka ditemukan bahwa di dalam persyaratan mengadakan pendaftaran anggota sebagai syarat untuk melakukan transaksi pihak merchant (eBay) menegaskan dan mengharuskan customer untuk membaca dan memperhatikan bagian Prohibited and Restricted Items yang mana bagian tersebut berisi mengenai apa saja produk yang tidak boleh diperdagangkan.

Adanya aturan yang jelas mengenai hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan beserta sanksinya yang disebutkan oleh eBay memberikan pengertian bahwa kontrak yang terjadi dalam e-commerce secara tidak langsung telah memenuhi syarat suatu sebab yang halal, bahwa kontrak atau perjanjian yang dilakukan antar para pihaknya mempunyai sebab yang halal sebagai dasar perjanjian.

(10)

commit to user

Pemenuhan Asas-Asas Perjanjian dalam Kontrak/Perjanjian Elektronik Melalui Situs Belanja Online (Online Shop)

Setelah memahami mengenai syarat sahnya perjanjian di dalam kontrak/perjanjian elektronik, kini saatnya membahas hal yang menjadi salah satu rumusan masalah dalam skripsi ini yaitupemenuhan asas-asas perjanjian dalam kontrak/perjanjian elektronik melalui situs belanja online (online shop).

Sebagaimana halnya perjanjian pada umumnya (konvensional), perjanjian dalam e-commerce,dalam hal ini melalui situs belanja online (online shop),secara tidak langsung haruslah juga memenuhi asas-asas perjanjian dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pertanyaan mengenai apakah perjanjian elektronik yang terjadi memenuhi asas-asas perjanjian atau tidak dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Pemenuhan Terhadap Asas Kebebasan Berkontrak

Perkembangan internet menyebabkan terbentuknya suatu arena baru yang lazim disebut dengan dunia maya (cyberspace), dimana setiap individu mempunyai hak dan kemampuan untuk berhubungan dengan individu lain tanpa batasan apapun yang menghalanginya. Dengan adanya kebebasan untuk melakukan hubungan atau melakukan sesuatu maka tidak menutup kemungkinan bahwa setiap individu juga mempunyai kebebasan untuk mengadakan suatu kesepakatan atau perjanjian dengan individu lainnya. Demikian juga dalam e-commerce, setiap orang pun berhak mengadakan suatu perikatan.

Hukum Perdata yang berlaku di Indonesia mengakui adanya kebebasan berkontrak, hal ini dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang menyatakan bahwa

perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya .

Sumber dari kebebasan berkontrak adalah kebebasan individu, sehingga yang merupakan titik tolaknya adalah kepentingan individu pula.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kebebasan individu memberikan kepadanya kebebasan untuk berkontrak.

(11)

commit to user

Sifat Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang bersifat terbukamempunyai arti bahwa Kitab Undang-Undang Hukum Perdata memungkinkan adanya perjanjian yang belum diatur dalam Kitab Undang- Undang Hukum Perdata, jadi para pihak dapat membuat perjanjian yang belum diatur secara konkrit, namun tetap sesuai dengan asas dan syarat dari perjanjian yang sah dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dengan kata lain dibolehkan mengesampingkan peraturan-peraturan yang termuat dalam buku ketiga. Buku ketiga hanya bersifat pelengkap (aanvullend recht), bukan hukum keras atau hukum yang memaksa.

Kontrak/perjanjian elektronik dalam e-commerce merupakan suatu bentuk kesepakatan antara kedua belah pihak terhadap suatu perjanjian yang telah ada, dimana kesepakatan terhadap kontrak tersebut menimbulkan keterikatan antar para pihaknya yang dalam hal ini antara merchant dan customer. Sehingga dengan hal tersebut, maka asas kebebasan berkontrak sangat tampak dalam kontrak/perjanjiane-commerce.

Kontrak/perjanjian dalam e-commerce merupakan suatu hasil dari kesepakatan antara para pihak yang terlibat didalamnya, meskipun dalam kenyataannya kontrak tersebut bukanlah merupakan hasil negosiasi yang berimbang antara kedua belah pihak, namun suatu bentuk kontrak yang dapat dikategorikan sebagai kontrak baku dimana kontrak telah ada sebelum ada suatu kesepakatan, yang mana salah satu pihak menyodorkan kepada pihak yang lainnya, yang kemudian pihak yang lain cukup menyetujui kontrak tersebut, sehingga berlakunya asas konsensualisme menurut hukum perjanjian Indonesia memantapkan adanya asas kebebasan berkontrak. Tanpa sepakat dari salah satu pihak yang membuat perjanjian maka perjanjian yang dibuat dapat dibatalkan.

Seseorang tidak dapat dipaksa untuk memberikan sepakatnya.

Sepakat yang diberikan dengan paksa adalah Contradictio interminis.

Adanya paksaan menunjukkan tidak adanya sepakat yang mungkin dilakukan oleh pihak lain adalah untuk memberikan pilihan kepadanya, yaitu untuk setuju mengikatkan diri pada perjanjian yang dimaksud, atau

(12)

commit to user

menolak mengikatkan diri pada perjanjian dengan akibat transaksi yang diinginkan tidak terlaksana (take it or leave it).

Asas kebebasan berkontrak (contractvrijheid) berhubungan dengan

perjanjian itu diadakan. Perjanjian yang diperbuat sesuai dengan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdatamempunyai kekuatan mengikat, sehingga dengan adanya asas kebebasan berkontrak serta sifat terbuka dari Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, maka para pihak dalam e- commerce bebas untuk menentukan isi dari kontrak yang disepakati yang pada akhirnya akan mengikat bagi kedua belah pihak.

Berdasarkan uraian diatas maka pemenuhan asas kebebasan berkontrak dalam membuat perjanjian/kontrak dalam e-commerce terpenuhi.

2. Pemenuhan Terhadap Asas Konsensualisme

Asas ini sejalan dengan salah satu syarat sah perjanjian, yaitu adanya persetujuan kehendak antara pihak-pihak yang membuat perjanjian (konsensus). Konsensual artinya perjanjian itu terjadi atau ada sejak terjadinya kata sepakat antara para pihak, dapat diartikan bahwa perjanjian tersebut sah dan mempunyai akibat hukum sejak terjadinya kesepakatan antara para pihak mengenai isi dari perjanjian yang dimaksudkan. Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan kata sepakat merupakan salah satu syarat sahnya suatu perjanjian, sehingga antara para pihak haruslah sepakat melakukan suatu perjanjian.

Kesepakatan dalam suatu perjanjian akan menimbulkan adanya akibat hukum berupa hak dan kewajiban antara para pihak, kata sepakat ini dapat terjadi secara lisan saja, sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan kesepakatan secara lisan maka perbuatan tersebut diakui oleh Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan dapat dituangkan dalam bentuk tulisan, baik berupa akta atau perjanjian tertulis sesuai yang dikehendaki oleh para pihak yang dapat dijadikan sebagai alat bukti.

(13)

commit to user

Dalam e-commerce kontrak yang terjadi antara merchant dengan customer bukan hanya sekedar kontrak yang diucapkan secara lisan, namun suatu kontrak yang tertulis, dimana kontrak tertulis dalam e-commercetidak seperti kontrak konvensional yang menggunakan kertas, melainkan suatu bentuk tertulis yang menggunakan data digital atau digital message atau kontrak paperless, yang mana kehendak untuk mengikatkan diri dari para pihak ditimbulkan karena adanya persamaan kehendak, kontrak dalam e- commerce terjadi ketika merchant menyodorkan form yang berisi mengenai kontrak dan customer melakukan persetujuan terhadap isi kontrak tersebut accept sebagai tanda persetujuan. Sehingga hal tersebut menunjukan adanya persamaan kehendak antara merchant dengan customer.

Perjanjian dalam kontrak e-commerce merupakan suatu perjanjian take it or leave it yang artinya jika pembeli setuju maka ia akan menyetujui perjanjian tersebut, jika tidak maka pembeli tidak perlu melakukan persetujuan dan proses transaksi pun batal atau tidak terjadi.

Menurut Munir Fuady, seperti yang telah disebutkan dalam bab sebelumnya, terdapat beberapa teori mengenai kapan suatu kesepakatan kehendak terjadi (Munir Fuady, 2004: 45), teori tersebut yaitu:

a. Teori Penawaran dan Penerimaan (Offer and Acceptance)

Kesepakatan kehendak pada prinsipnya baru terjadi setelah adanya penawaran (offer) dari salah satu pihak yang kemudian diikuti dengan penerimaan tawaran (acceptance) oleh pihak lain dalam perjanjian tersebut. Sehingga menurut teori ini kesepakatan antar pihak terjadi pada saat penjual (merchant) mengajukan penawaran dengan menyediakan daftar atau katalog barang (pruduct table) yang disertai dengan deskripsi produk yang dijual dan kemudian customer yang memilih produk yang ditawarkan dengan mengklik kotak yang disediakan.

b. Teori Pernyataan (Verklarings Theorie)

(14)

commit to user

Menurut teori pernyataan, apabila ada kontroversi antara apa yang dikehendaki dengan apa yang dinyatakan, maka apa yang dinyatakan tersebutlah yang berlaku, karena masyarakat pada umumnya menghendaki bahwa apa yang dinyatakan dapat dipegang.

Berdasarkan teori ini, apa yang dinyatakan oleh customer dengan cara mengisi order form, maka itulah yang dianggap berlaku, bukan lagi apa yang dikehendakinya. Demikian juga dengan apa yang dinyatakan oleh merchant yang berkaitan dengan persetujuan proses transaksi yang berlaku itulah yang berlaku meskipun dalam proses tersebut masih ada kemungkinan customer memberikan data yang tidak benar, sedangkan merchant melalui perangkat software yang digunakan telah menyetujui transaksi tersebut. Sehingga suatu kesepakatan kehendak antar para pihak telah terjadi ketika customer melakukan pengisian order form, dan merchant dengan menggunakan perangkat software menyetujui transaksi tersebut.

c. Teori Konfirmasi

Teori ini menjelaskan bahwa suatu kata sepakat telah ada atau dianggap telah terjadi ketika pihak yang melakukan penawaran mendapat jawaban atau konfirmasi jawaban dari pihak yang menerima tawaran. Sehingga kata sepakat dalam transaksi e-commerce terjadi ketika merchant mendapat jawaban dari customer atas berita konfirmasi jawaban dari pihak yang melakukan penawaran termasuk juga informasi yang dikirimkan oleh customer yang telah memenuhi persyaratan atau dinyatakan valid.

d. Teori Kehendak (Wilstheorie)

Teori yang berusaha untuk menjelaskan jika terjadi kontroversi antara apa yang dikehendaki dengan apa yang dinyatakan dalam perjanjian, maka apa yang dinyatakan tersebut dianggap tidak berlaku.

Akan tetapi teori tersebut tidak dapat digunakan untuk menentukan kapan terjadi suatu kesepakatan dalam perjanjian e-commerce karena tidak memberikan kepastian hukum bagi para pihaknya.

(15)

commit to user

Kesepakatan perjanjian atau kontrak e-commerce terjadi ketika customer menyepakati terhadap ketentuan atau syarat yang disodorkan oleh merchant. Hal tersebut terbukti ketika customer memberikan tanda check pada kolom yang isinya bahwa ia sepakat dengan apa yang telah disyaratkan, serta pada saat customer mengisi form yang berisi mengenai data diri.

Jika dikaitkan dengan proses terjadinya, kontrak e-commerce menurut Santiago Cavanilas dan A. Martines Nadal yang dikutip Ridwan Khairandy (Ridwan Khairandy, 2004: 49), kesepakatan para pihak dapat terjadi melalui cara:

a. Kontrak melalui chatting dan video conference

Chatting dan video conferece merupakan alat komunikasi yang disediakan internet yang biasa digunakan untuk dialog interaktif secara langsung, kontrak melalui media ini pada dasarnya sama dengan pembuatan kontrak konvensional hal yang membedakannnya hanyalah pada posisi dan lokasi para pihak yang dihubunginya. Sehingga kesepakatan para pihak terjadi ketika customer dan merchant menyepakati terhadap apa yang diperjanjikan, dengan model ini para pihak mempunyai posisi tawar yang seimbang sehingga dapat merundingkan mengenai isi dari kontrak tersebut. Selain itu dengan model ini khususnya video conference maka dapat dibuktikan apakah para pihak cakap untuk membuat suatu perikatan atau tidak.

b. Kontrak melalui e-mail

Kontrak melaui e-mail dapat berupa kontrak e-mail murni, di mana penawaran yang dikirim kepada seseorang atau kepada banyak orang yang tergabung dalam mailing list, penerimaan dan pemberitahuan seluruhnya dikirimkan melalui e-mail. Selain itu, kontrak melalui e-mail dapat berupa gabungan beberapa formula yang ketika penawaran barangnya diberikan di situs web yang mengirimkan penawarannya, dan penerimaannya dikirimkan melalui e-mail.

(16)

commit to user

Selain itu kontrak melalui e-mail jika dikaitkan dengan kontrak konvensionl tidak menimbulkan persoalan, karena peraturan yang berkaitan dengan surat dapat diterapkan dalam kontrak melalui e-mail.

Dengan model ini kesepakatan terjadi ketika seseorang yang menerima e-mail penawaran mengirimkan e-mail balasan bahwa ia menerima penawaran tersebut.

c. Kontrak melalui web (situs)

Kontrak memalui web biasanya kompleks, karena melibatkan pihak-pihak di luar yang mengadakan kontrak. Pihak-pihak yang terkait diantaranya adalah pihak-pihak otentifikiasi (penyedia sertifikat digital), lembaga keuangan yang memfasilitasi pembayaran melalui web, pemberi label yang mensertifikasi yang menyatakan bahwa halaman web tersebut adalah aman.

Dalam model ini, kesepakatan terjadi ketika customer setuju dengan apa yang disebut user agreement yang berisi mengenai hak dan kewajiban customer, pada saat ia mendaftar sebagai anggota web tersebut.

Berdasarkan uraian diatas maka pemenuhan asas kesepakatan para pihak (konsensualisme) dalam membuat perjanjian/kontrak dalam e- commerce terpenuhi.

3. Pemenuhan Terhadap Asas Pacta Sunt Servanda

Terikatnya para pihak pada perjanjian itu tidak semata-mata terbatas pada apa yang diperjanjikan, akan tetapi juga beberapa unsur lain sepanjang dikehendaki oleh kebiasaan dan kepatutan serta moral. Asas Pacta Sunt Servanda dapat ditemukan di dalam Pasal 1338 Kitab Undang-

Undang Hukum Perdata, yaitu: h

berlaku sebagai undang-

Isi pasal tersebut dapat menjelaskan bahwa perjanjian yang dibuat mengikat para pihak yang membuat perjanjian saja bukan pihak lain yang tidak terkait dalam perjanjian tersebut. Dengan adanya perjanjian yang telah disepakati maka tidak ada alasan para pihak untuk tidak melakukan

(17)

commit to user

prestasi. Jika salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak melakukan kewajibannya, maka dapat menimbulkan kerugian di pihak lain dan hal tersebut disebut wanprestasi. Pihak yang dirugikan dalam wanprestasi dapat menuntut ganti kerugian atas tidak terlaksana prestasi.

Kontrak/perjanjiane-commerce terjadi karena adanya kesepakatan antara merchant dengan customer mengenai apa yang disepakati, yang berarti bahwakesepakatan tersebut akan menimbulkan kewajiban hukum yang tidak bisa dielakkan oleh para pihak. Kewajiban tersebut mengikat para pihak untuk melakukan prestasinya. Dengan adanya kontrak yang telah disepakati oleh pihak customer dengan pihak merchant maka kontrak tersebut mengikat bagi kedua belah pihak, dan berlaku sebagai undang- undang bagi keduanya.

Berdasarkan uraian di atas maka pemenuhan asas kekuatan mengikat (pacta sunt servanda) dalam membuat perjanjian/kontrak dalam e-commerce terpenuhi.

4. Pemenuhan Terhadap Asas Itikad Baik

Pasal 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi

baik berarti asas yang digunakan para pihak dalam melakukan Transaksi Elektronik tidak bertujuan untuk secara sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakibatkan kerugian bagi pihak lain tanpa sepengetahuan pihak lain tersebut.

Asas itikad baik juga diatur dalam Pasal 1338 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata. Asas itikad baik adalah bertindak sebagai pribadi yang baik. Itikad yang baik dalam pengertian yang sangat subjektif dapat diartikan sebagai kejujuran seseorang yang ada pada waktu diadakannya perbuatan hukum. Sedangkan itikad baik dalam pengertian objektif yaitu bahwa pelaksanaan suatu perjanjian itu harus didasarkan pada norma kepatutan atau apa yang dirasa sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat.

Menurut Munir Fuady, rumusan Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tersebut mengidentifikasikan bahwa sebenarnya itikad baik

(18)

commit to user

bukan merupakan syarat sahnya suatu kontrak sebagaimana syarat yang terdapat dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Unsur

pembuatan suatu kontrak sudah dapat dicakup oleh unsur klausa yang legal dari Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tersebut (www.damandiri.or.id/arirahmathakimundipbab2c.pdf, diakses tanggal 12 April 2015).

Itikad baik tidak sama dengan niat, akan tetapi itikad baik merupakan pelaksanaan perjanjian secara adil, patut, dan layak. Kontrak dalam e-commerce terjadi ketika salah satu pihak setuju dengan apa yang ditawarkan pihak lainnya. Sebelum customer setuju untuk melakukan transaksi perdagangan, mereka diharuskan untuk membaca mengenai persyaratan atau yang biasa dikenal dengan user agreement atau conditions of use, sehingga ketika customer telah membaca dan memahami apa yang dipersyaratkan, maka dibutuhkan suatu itikad baik dan kejujuran untuk memenuhi apa yang disyaratkan, seperti mengenai batasan umur. Begitu pula dengan merchant, setelah adanya perjanjian yang disepakati harus segera melaksanakan kewajibannya untuk melakukan pengiriman barang yang telah dibeli sesuai dengan kondisi yang dimaksud oleh costumer, tentunya dengan ketentuan telah ada pembayaran lunas dari costumer.

Ketika hal ini telah terpenuhi, maka dapat dilihat adanya pemenuhan terhadap asas itikad baik.

B. Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen dalam Transaksi Elektronik

Konsumen dalam transaksi e-commerce memiliki resiko yang lebih besar daripada penjual atau merchant-nya, atau dengan kata lain hak-hak konsumen dalam transaksi e-commerce lebih rentan untuk dilanggar. Hal ini disebabkan karena karakteristik dari transaksi e-commerce itu sendiri, yakni dalam transaksi e-commerce tidak terjadi pertemuan secara fisik antara

(19)

commit to user

konsumen dengan penjualnya yang kemudian dapat menimbulkan berbagai permasalahan.

Berikut akan dijelaskan berbagai permasalahan yang penting seputar transaksi e-commerce dan pengaturan permasalahannya. Permasalahan tersebut antara lain:

1. Privasi

Permasalahan yang muncul dalam transaksi e-commerce adalah pelanggaran terhadap privasi dari data tentang seseorang atau dengan kata lain disebut data pribadi, pelanggaran ini biasanya dalam bentuk penyalahgunaan informasi-informasi yang dikumpulkan atas anggota- anggota suatu organisasi/lembaga atau atas pelanggan-pelanggan dari suatu perusahaan.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sudah memberikan perlindungan terhadap data pribadi seseorang, hal ini diatur dalam Pasal 26, yang berbunyi:

(1) Kecuali ditentukan lain oleh Peraturan Perundang-undangan, penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan Orang yang bersangkutan.

(2) Setiap Orang yang dilanggar haknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan berdasarkan Undang-Undang ini.

Cakupan dari pengertian data pribadi yang dianut oleh Pasal 26 ayat (1) dapat ditemui dalam penjelasannya, yakni:

Dalam pemanfaatan Teknologi Informasi, perlindungan data pribadi merupakan salah satu bagian dari hak pribadi (privacy rights). Hak pribadi mengandung pengertian sebagai berikut:

a. Hak pribadi merupakan hak untuk menikmati kehidupan pribadi dan bebas dari segala macam gangguan.

b. Hak pribadi merupakan hak untuk dapat berkomunikasi dengan Orang lain tanpa tindakan memata-matai.

c. Hak pribadi merupakan hak untuk mengawasi akses informasi tentang kehidupan pribadi dan data seseorang.

Perlindungan hukum terhadap data pribadi oleh Pasal 26 Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi

(20)

commit to user

Elektronik sudah cukup memadai, selain karena cakupan pengertian data pribadi yang dianut cukup luas, juga memberikan hak mengajukan gugatan kepada orang yang dirugikan atas penggunaan data pribadi orang yang bersangkutan. Sedangkan di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen penulis belum menemukan adanya ketentuan yang mengatur mengenai perlindungan terhadap privasi/data pribadi dari konsumen.

2. Otensitas Subjek Hukum

Otensitas sama artinya dengan autentik, autentik menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia artinya dapat dipercaya, asli atau sah. Masalah otensitas para subjek hukum dalam transaksi e-commerce sangat penting karena menyangkut keabsahan perjanjian yang dibuat melalui e- commerce.Yang menyangkut otensitas adalah:

a. Kecakapan para pihak

Dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata terdapat 4 syarat untuk sahnya suatu perjanjian yakni:

1) Kesepakatan para pihak 2) Kecakapan

3) Suatu hal tertentu 4) Suatu sebab yang halal

Syarat 1 dan 2 disebut syarat subjektif karena menyangkut individu yang membuat perjanjian, sedangkan syarat 3 dan 4 merupakan syarat objektif. Tidak terpenuhinya salah satu syarat diatas dalam suatu perjanjian akan menimbulkan dampak hukum yang berbeda tergantung syarat mana yang tidak dipenuhi.

Apabila syarat 1 dan 2 tidak dipenuhi maka akibat hukumnya adalah perjanjian tersebut dapat dibatalkan, sedangkan apabila syarat 3 dan 4 yang tidak dipenuhi maka akibat hukumnya adalah perjanjian tersebut batal demi hukum. Pada asasnya semua orang cakap untuk membuat perikatan/perjanjian, kecuali jika ia oleh undang-undang

(21)

commit to user

dinyatakan tidak cakap. Menurut undang-undang, orang yang tak cakap adalah mereka yang belum dewasa (genap berusia 21 tahun atau mereka yang belum berusia 21 tahun tetapi sudah menikah) dan mereka yang di bawah pengampuan (gila, dungu, mata gelap, lemah akal). Namun dalam transaksi e-commerce sangat sulit untuk menentukan seseorang yang melakukan transaksi telah dewasa atau tidak berada di bawah pengampuan karena proses penawaran dan penerimaan tidak dilakukan secara fisik melainkan melalui suatu media elektronik.

Dengan adanya pengaturan sebagaimana disebutkan diatas, maka jelas bahwa untuk melakukan transaksi elektronik harus memenuhi syarat kecakapan sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

b. Validitas Subjek Hukum

Validitas dalam e-commerce adalah hal yang sangat penting, pengertian validitas ini adalah sejauh mana kebenaran akan keberadaan suatu subjek hukum. Konsep validitas dalam e-commerce menjadi penting karena dapat mencegah terjadinya penipuan, untuk mengetahui kemana ganti rugi harus diajukan dan menambah kepercayaan konsumen untuk berbelanja. Dalam e-commerce banyak cara yang dilakukan oleh pelaku usaha untuk menunjukkan validitasnya misalnya:

1) Dengan pencantuman alamat

Biasanya website e-commerce mencantumkan alamatnya di website mereka dengan tujuan untuk memberitahu kepada calon konsumen mereka bahwa mereka betul-betul ada, sehingga konsumen merasa aman untuk berbelanja di website tersebut. Selain itu, dengan dicantumkannya alamat penjual maka pembeli mengetahui kemana harus mengajukan ganti rugi apabila terjadi kerusakan terhadap barang yang dibeli atau apabila barang tidak sampai ke tangan konsumen.

2) Mencantumkan logo perusahaan

(22)

commit to user

Pencantuman logo perusahaan dalam suatu website, menandakan bahwa website tersebut benar-benar ada, karena sudah diotorisasi oleh CA (Certification Authority).

3) Feedback dari pelanggan

Ini adalah salah satu bentuk validitas yang paling sederhana namun tingkat validitasnya hampir sempurna. Feedback ini diberikan oleh pelanggan yang merasa puas dengan pelayanan, kecepatan pengiriman barang yang dipesan dan kualitas barang yang dibeli dari suatu website. Feedback yang menyatakan kepuasaan pelanggan terhadap suatu website dalam dunia internet dikenal dengan istilah positive feedback. Semakin banyak konsumen yang puas terhadap suatu website e-commerce, semakin tinggi reputasi dan validitas website tersebut, sehingga calon pelanggan akan semakin yakin akan pelayanan website tersebut. Sistem ini sangat bagus, karena pelaku usaha dituntut untuk memberikan pelayanan yang sebaik- baiknya. Dalam transaksi e-commerce, apabila suatu website menerima feedback yang buruk/negatif dari pelanggannya maka dapat dipastikan bahwa website tersebut akan sepi oleh pembeli.

Validitas erat kaitannya dengan CA (Certification Authority), namun dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik tidak menggunakan istilah CA namun

dimana dalam Pasal 1 angka 11 diartikan sebagai embaga independen yang dibentuk oleh profesional yang diakui, disahkan dan diawasi oleh pemerintah dengan kewenangan mengaudit dan mengeluarkan sertifikat keand

Salah satu tugas CA adalah melakukan verifikasi, pemeriksaan dan pembuktian identitas pengguna dan pelanggan atau dengan kata lain CA bertugas untuk memastikan dan menjamin kebenaran keberadaan pengguna dan pelanggan sehingga terjamin

(23)

commit to user

otentisitasnya. Yang dimaksud dengan pengguna dan pelanggan adalah para pihak yang terlibat dalam transaksi e-commerce.

Peranan CA (Certification Authority) untuk menjamin otentisitas para pihak yang terlibat dalam transaksi e-commerce adalah untuk mencegah penipuan-penipuan yang sering terjadi dalam transaksi e-commerce seperti phising. Phising sering diartikan sebagai suatu cara untuk memancing seseorang ke halaman tertentu.

phising tidak jarang digunakan oleh para pelaku kriminal untuk memancing seseorang agar mendatangi alamat web melalui e-mail, salah satu tujuannya adalah untuk menjebol informasi yang sangat pribadi dari sang penerima email, seperti password, nomor kartu kredit, dan lain-lain dengan cara mengirimkan informasi yang seakan-akan dari penerima e-mail mendapatkan pesan dari sebuah situs, lalu mengundangnya untuk mendatangi sebuah situs palsu.

Situs palsu dibuat sedemikian rupa yang penampilannya mirip dengan situs aslinya, lalu ketika korban mengisikan password maka pada saat itulah penjahat ini mengetahui password korban.

Penggunaan situs palsu ini disebut juga dengan istilah pharming.

Bila suatu situs e-commerce menggunakan jasa CA, maka otentisitas dari situs tersebut akan terjamin, sehingga konsumen dapat bertransaksi dengan lebih aman.

Selain mengatur tentang CA (Certification Authority), Undang-Undang Informasi dan Transakai Elektronik (UUITE) secara implisit mengatur kejahatan mengenai phising yakni tercantum dalam Pasal 35 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dimana disebutkan bahwa :

melawan hukum melakukan manipulasi, penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dengan tujuan agar informasi elektronik tersebut dianggap seolah-

(24)

commit to user

Pelanggaran terhadap Pasal 35 ini akan dikenakan sanksi sebagaimana yang tertulis dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp12.000.000.000,00

Namun Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektroniktidak mewajibkan suatu situs e- commerce untuk menggunakan jasa CA, ini terlihat dalam Pasal 10 ayat (1) dimana disebutkan:

menyelenggarakan Transaksi Elektronik dapat disertifikasi oleh .

Dari rumusan pasal tersebut dapat ditafsirkan bahwa pelaku usaha tidak diwajibkan untuk menggunakan jasa CA, sehingga tidak semua situs e-commerce dijamin otentisitasnya oleh CA. Seharusnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronikmewajibkan sertifikasi setiap situs e-commerce untuk memberikan perlindungan bagi konsumen dari penipuan.

Mengenai otensitas subjek hukum, di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 5 butir b disebutkan bahwa salah satu kewajiban dari konsumen adalah:

dalam Pasal 7 butir a disebutkan bahwa

melakukan usahanya. Namun patut disayangkan karena di dalam Undang-Undang ini tidak ada sanksi yang jelas apabila ada pelaku usaha yang beritikad tidak baik kaitannya dengan otensitas subjek hukum.

(25)

commit to user

3. Objek Transaksi E-commerce

Yang menjadi objek transaksi e-commerce adalah barang atau jasa yang diperjual belikan oleh pelaku usaha kepada setiap orang yang membeli barang dan jasa melalui e-commerce. Namun tidak semua barang atau jasa dapat diperjualbelikan dalam transaksi e-commerce. Dengan melihat ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, terdapat ketentuan yang mengatur mengenai barang-barang yang boleh untuk diperdagangkan, yakni :

a. Barang itu adalah barang yang dapat diperdagangkan, baik yang ada sekarang maupun yang akan ada.

b. Tidak bertentangan dengan undang-undang dan ketertiban umum.

Apabila kedua hal tersebut diatas dilanggar, maka perjanjian jual beli dalam transaksi barang dinyatakan batal demi hukum.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen tidak mengatur mengenai persyaratan tentang barang atau jasa yang boleh diperdagangkan, melainkan hanya mengatur mengenai perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam memasarkan barang atau jasa. Dalam Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, disebutkan bahwa pelaku usaha dilarang untuk mengedarkan barang atau jasa yang:

a. Tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan;

b. Tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah dalam hitungan sebagaimana yang diyatakan dalam label atau etiket barang;

c. Tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan, dan jumlah dalam hitungan menurut ukuran yang sebenarnya;

d. Tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan, atau kemanjuran sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut;

e. Tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses, pengolahan, gaya, mode, atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut;

(26)

commit to user

f. Tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label , etiket, keterangan, iklan atau promosi penjualan barang/jasa tersebut;

g. Tidak mencantumkan tanggal kadaluarsa atau jangka waktu penggunaan/pemanfaatan yang paling baik atas barang tersebut;

h. Tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, g dicantumkan dalam label;

i. Tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto, komposisi, aturan pakai, tanggal pembuatan, akibat sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus dipasang/dibuat;

j. Tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Sedangkan dalam ayat (2) disebutkan bahwa pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat atau bekas, dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang yang dimaksud .

Dalam ayat (3) disebutkan bahwa pelaku usaha dilarang memperdagangkan persediaan farmasi dan pangan yang rusak, cacat atau bekas, dan tercemar, dengan atau tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar

Walaupun Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik tidak mengatur mengenai kriteria barang yang boleh diperdagangkan dalam transaksi e-commerce, namun Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik mewajibkan pelaku usaha untuk menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan produk yang ditawarkan, sebagaimana Pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juga melarang penyebaran berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi

elektronik Setiap Orang

(27)

commit to user

dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik . 4. Tanggung Jawab Para Pihak

Transaksi e-commerce dilakukan oleh pihak yang terkait, walaupun pihak-pihaknya tidak bertemu secara langsung satu sama lain melainkan berhubungan melalui media internet. Dalam e-commerce, pihak-pihak yang terkait tersebut antara lain:

a. Penjual atau merchant yang menawarkan sebuah produk melalui Internet sebagai pelaku usaha;

b. Pembeli atau konsumen/customeryaitu setiap orang tidak dilarang oleh undang-undang, yang menerima penawaran dari penjual atau pelaku usaha dan berkeinginan melakukan transaksi jual beli produk yang ditawarkan oleh penjual;

c. Bank sebagai pihak penyalur dana dari pembeli atau konsumen kepada penjual atau pelaku usaha/merchant, karena transaksi jual beli dilakukan secara elektronik, penjual dan pembeli tidak berhadapan langsung, sebab mereka berada pada lokasi yang berbeda sehingga pembayaran dapat dilakukan melalui perantara dalam hal ini yaitu Bank;

d. Provider sebagai penyedia jasa layanan akses Internet.

Pada dasarnya pihak-pihak dalam jual beli secara elektronik tersebut di atas, masing-masing memiliki hak dan kewajiban. Penjual atau pelaku usaha/merchant merupakan pihak yang menawarkan produk melalui internet, oleh karena itu penjual bertanggung jawab memberikan informasi secara benar dan jujur atas produk yang ditawarkan kepada pembeli atau konsumen, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 9 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Di samping itu, penjual juga harus menawarkan produk yang diperkenankan oleh undang- undang maksudnya barang yang ditawarkan tersebut bukan barang yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, tidak rusak atau

(28)

commit to user

mengandung cacat tersembunyi, sehingga barang yang ditawarkan adalah barang yang layak untuk diperjualbelikan. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, penjual juga bertanggung jawab atas pengiriman produk atau jasa yang telah dibeli oleh seorang konsumen. Dengan demikian, transaksi jual beli termaksud tidak menimbulkan kerugian bagi siapa pun yang membelinya.

Di sisi lain, seorang penjual atau pelaku usaha memiliki hak untuk mendapatkan pembayaran dari pembeli/konsumen atas harga barang yang dijualnya dan juga berhak untuk mendapatkan perlindungan atas tindakan pembeli/konsumen yang beritikad tidak baik dalam melaksanakan transaksi jual beli elektronik ini. Jadi, pembeli berkewajiban untuk membayar sejumlah harga atas produk atau jasa yang telah dipesannya pada penjual tersebut.

Seorang pembeli memiliki kewajiban untuk membayar harga barang yang telah dibelinya dari penjual sesuai jenis barang dan harga yang telah disampaikan antara penjual dan pembeli tersebut, selain itu mengisi data identitas diri yang sebenar-benarnya dalam formulir penerimaan. Di sisi lain, pembeli/konsumen berhak mendapatkan informasi secara lengkap atas barang yang akan dibelinya itu. Pembeli juga berhak mendapat perlindungan hukum atas perbuatan penjual/pelaku usaha yang beritikad tidak baik.

Bank sebagai perantara dalam transaksi jual beli secara elektronik, berkewajiban dan bertanggung jawab sebagai penyalur dana atas pembayaran suatu produk dari pembeli kepada penjual produk itu karena mungkin saja pembeli/konsumen yang berkeinginan membeli produk dari penjual melalui internet yang letaknya berada saling berjauhan sehingga pembeli termaksud harus mengunakan fasilitas bank untuk melakukan pembayaran atas harga produk yang telah dibelinya dari penjual, misalnya dengan proses pentransferan dari rekening pembeli kepada rekening penjual (acount to acount).

(29)

commit to user

Provider merupakan pihak lain dalam transaksi jual beli secara elektronik, dalam hal ini, provider memiliki kewajiban atau tanggung jawab untuk menyediakan layanan akses 24 jam kepada calon pembeli untuk dapat melakukan transaksi jual beli secara elektronik melalui media internet dengan penjualan yang menawarkan produk lewat internet tersebut, dalam hal ini terdapat kerja sama antara penjual/pelaku usaha dengan provider dalam menjalankan usaha melalui internet ini.

Transaksi jual beli secara elektronik merupakan hubungan hukum yang dilakukan dengan memadukan jaringan (network) dari sistem yang informasi berbasis komputer dengan sistem komunikasi yang berdasarkan jaringan dan jasa telekomunikasi. Hubungan hukum yang terjadi dalam transaksi jual beli secara elektronik tidak hanya terjadi antara pengusaha dengan konsumen saja. Seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, transaksi bisa terjadi antara Busines to business, business to consumer, atauConsumer to consumer. Dengan demikian, pihak-pihak yang dapat terlibat dalam satu transaksi jual beli secara elektronik, tidak hanya antara individu dengan individu tetapi juga dengan sebuah perusahaan, perusahaan dengan perusahaan atau bahkan antara individu dengan pemerintah, dengan syarat bahwa para pihak termasuk secara perdata telah memenuhi persyaratan untuk dapat melakukan suatu perbuatan hukum dalam hal ini hubungan hukum jual beli.

Pada dasarnya proses transaksi jual beli secara elektronik tidak jauh berbeda dengan jual beli biasa, sebagai berikut:

a. Penawaran, yang dilakukan oleh penjual atau pelaku usaha melalui website pada internet. Penjual atau pelaku usaha menyediakanstrorefront yang berisi catalog produk dan pelayanan yang akan diberikan. Masyarakat yang memasuki website pelaku usaha tersebut dapat melihat barang yang ditawarkan oleh penjual. Salah satu keuntungan jual beli melalui took online ini adalah bahwa pembeli dapat berbelanja kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Penawaran dalam sebuahwebsite biasanya menampikan barang-barang

(30)

commit to user

yang ditawarkan, harga, nilairating ataupoll otomatis tentang barang yang diisi oleh pembeli sebelumnya, spesifikasi barang termasuk menu produk lain yang berhubungan. Penawaran melalui internet terjadi apabila pihak lain yang mengunakan media internet memasuki situs milik penjual atau pelaku usaha yang melakukan penawaran, oleh karena itu apabila seseorang tidak menggunakan media internet dan memasuki situs milik pelaku usaha yang menawarkan sebuah produk maka tidak dapat dikatakan ada penawaran. Dengan demikian, penawaran melalui media Internet hanya dapat terjadi apabila seseorang membuka situs yang menampikan sebuah tawaran melalui internet tersebut.

b. Penerimaan, dapat dilakukan tergantung penawaran yang terjadi.

Apabila penawaran dilakukan melalui e-mail address, maka penerima dilakukan melaluie-mail, karena penawaran hanya ditujukan sebuahe- mail tersebut yang ditujukan untuk seluruh rakyat yang membukawebsite yang berisikan penawaran atas suatu barang yang ditawarkan oleh penjual atau pelaku usaha. Setiap orang yang berminat untuk membeli barang yang ditawarkan itu dapat membuat kesepakatan dengan penjual atau pelaku usaha yang menawarkan barang tersebut.

Pada transaksi jual beli secara elektronik khususnya melaluiwebsite, biasanya calon pembeli akan memilih barang tertentu yang ditawarkan oleh penjual atau pelaku usaha dan jika calon pembeli atau konsumen itu tertarik untuk membeli salah satu barang yang ditawarkan, maka barang itu akan disimpan terlebih dahulu sampai calon pembeli/konsumen merasa yakin akan pilihannya, selanjutnya pembeli/konsumen akan memasuki tahap pembayaran.

c. Pembayaran, dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya melalui fasilitas internet namun tetap bertumpu pada sistem keuangan nasional, yang mengacu pada sistem keuangan lokal.

Klasifikasi cara pembayaran adalah sebagai berikut:

(31)

commit to user

1) Transaksi model ATM, sebagai transaksi yang hanya melibatkan intitusi finansial dan pemegang account yang akan melakukan pengambilan atau deposit uangnya dari account masing-masing;

2) Pembayaran dua pihak tanpa perantara, yang dapat dilakukan langsung antar kedua pihak tanpa perantaraan mengunakan uang nasionalnya.

3) Pembayaran dengan perantaraan pihak ketiga, umumnya merupakan proses pembayaran yang menyangkut debet, kredit ataupun cek masuk. Metode pembayaran yang dapat digunakan antara lain:

sistem pembayaran melalui kartu kreditonline serta sistem pembayaran check in line. Apabila kedudukan penjual dengan pembeli berbeda, maka pembayaran dapat dilakukan melalui cash account to account atau pengalihan dari rekening pembeli pada rekening penjual.

Berdasarkan kemajuan teknologi, pembayaran dapat dilakukan melalui kartu kredit pada formulir yang disediakan oleh penjual dalam penawarannya. Pembayaran dalam transaksi jual beli secara elektronik ini sulit untuk dilakukan secara langsung, karena adanya perbedaan lokasi antar penjual dengan pembeli, dimungkinkan untuk dilakukan.

d. Pengiriman, merupakan suatu proses yang dilakukan setelah pembayaran atas barang yang telah ditawarkan oleh penjual kepada pembeli, dalam hal ini pembeli berhak atas penerimaan barang termaksud. Pada kenyataannya barang yang dijadikan objek perjanjian dikirimkan oleh penjual kepada pembeli dengan biaya pengiriman sebagaimana telah diperjanjikan antar penjual dan pembeli.

Berdasarkan proses transaksi secara elektronik yang telah diuraikan di atas yang telah menggambarkan bahwa ternyata jual beli tidak hanya dapat dilakukan secara konvensional, dimana antara penjual dengan pembeli saling bertemu secara lansung, namun dapat juga hanya melalui media internet, sehingga orang yang saling berjauhan atau berada pada lokasi yang

(32)

commit to user

berbeda tetap dapat melakukan transaksi jual beli tanpa harus bersusah payah untuk saling bertemu secara langsung, sehingga meningkatkan efektifitas dan efisiensi waktu serta biaya baik bagi pihak penjual maupun pembeli.

Pasal 15 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyebutkan bahwa:

(1) Setiap Penyelenggara Sistem Elektronik harus menyelenggarakan Sistem Elektronik secara andal dan aman serta bertanggung jawab terhadap beroperasinya Sistem Elektronik sebagaimana mestinya.

(2) Penyelenggara Sistem Elektronik bertanggung jawab terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektroniknya.

Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyebutkan bahwa:

Sepanjang tidak ditentukan lain oleh undang-undang tersendiri, setiap Penyelenggara Sistem Elektronik wajib mengoperasikan Sistem Elektronik yang memenuhi persyaratan minimum sebagai berikut:

a. dapat menampilkan kembali Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik secara utuh sesuai dengan masa retensi yang ditetapkan dengan Peraturan Perundang-undangan;

b. dapat melindungi ketersediaan, keutuhan, keotentikan, kerahasiaan, dan keteraksesan Informasi Elektronik dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik tersebut;

c. dapat beroperasi sesuai dengan prosedur atau petunjuk dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik tersebut;

d. dilengkapi dengan prosedur atau petunjuk yang diumumkan dengan bahasa, informasi, atau simbol yang dapat dipahami oleh pihak yang bersangkutan dengan Penyelenggaraan Sistem Elektronik tersebut; dan

e. memiliki mekanisme yang berkelanjutan untuk menjaga kebaruan, kejelasan, dan kebertanggungjawaban prosedur atau petunjuk.

Dalam Pasal 9 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik disebutkan bahwa pelaku usaha yang menawarkan produk melalui sistem elekronik harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan .

(33)

commit to user

Dalam Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik disebutkan bahwa setiap pelaku usaha yang menyelenggarakan transaksi elektronik dapat disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Keandalan .

Dalam Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyebutkan:

mengenai pembentukan Lembaga Sertifikasi keandalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan pemerintah .

Terkait dengan tanggung jawab seseorang mengenai tanda tangan elektronik maka dalam Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik disebutkan bahwa: p orang yang terlibat dalam tanda tangan elektronik berkewajiban

Dalam Pasal 12 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronikdisebutkan bahwa:

Pengamanan tanda tangan elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi:

a. Sistem tidak dapat diakses oleh orang lain yang tidak berhak;

b. Penanda tangan harus menerapkan prinsip kehati-hatian untuk menghindari penggunaan secara tidak sah terhadap data terkait pembuatan tanda tangan elektronik;

c. Penanda tangan harus tanpa menunda-nunda, menggunakan cara yang dianjurkan oleh penyelenggara tanda tangan elektronik jika:

1) Penanda tangan mengetahui bahwa data pembuatan tanda tangan elektronik telah di bobol; atau

2) Keadaan yang diketahui oleh penandatangan dapat menimbulkan resiko yang berarti, kemungkinan akibat bobolnya data pembentukan tanda tangan elektronik.

d. Dalam hal sertifikasi digunakan untuk mendukung tanda tangan elektronik, penanda tangan harus memastikan kebenaran dan keutuhan semua informasi yang terkait dengan sertifikasi elektronik tersebut .

Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juga menyebutkan bahwa:

orang yang melakukan pelanggaran ketentuan sebagaimana dimaksud pada

(34)

commit to user

ayat (1), bertanggung jawab atas segala kerugian dan konsekuensi hukum yang timbul .Artinya setiap orang bertanggung jawab atas segala kerugian yang timbul akibat pelanggaran yang dilakukan terhadap pemberian pengamanan atas tanda tangan elektronik tersebut.

Mengenai tanggungjawab para pihak itu sendiri disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dalam Pasal 5 dan Pasal 7, yaitu mengenai kewajiban masing-masing pihak. Dalam Pasal 5 disebutkan:

konsumen adalah:

a. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;

b. beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;

c. membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;

d. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.

Sedangkan dalam Pasal 7 disebutkan:

pelaku usaha adalah:

a. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;

b. memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberikan penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;

c. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;

d. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;

e. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang yang dibuat dan/atau diperdagangkan;

f. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;

g. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak

(35)

commit to user

75 BAB IV PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan penulis di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Baik dalam kontrak/perjanjian konvensional atau dalam kontrak/perjanjian e- commerce, kebebasan individu memberikan kepadanya kebebasan untuk berkontrak. Kontrak/perjanjian e-commerce merupakan suatu perjanjian take it or leave it yang artinya jika pembeli setuju maka ia akan menyetujui perjanjian tersebut, jika tidak maka pembeli tidak perlu melakukan persetujuan dan proses transaksi pun batal atau tidak terjadi.

Kontrak/perjanjian e-commerce terjadi karena adanya kesepakatan antara merchant dengan customer mengenai apa yang disepakati, yang berarti bahwa kesepakatan tersebut akan menimbulkan kewajiban hukum yang tidak bisa dielakkan oleh para pihak. Dalam kontrak/perjanjian e-commerce apabila kedua belah pihak telah memenuhi prestasi masing-masing, maka di situ telah ada itikad baik dari kedua belah pihak. Dengan ini, maka kontrak/perjanjian elektronik dalam transaksi elektronik e-commerce melalui situs belanja online (online shop) telah memenuhi asas kebebasan berkontrak, konsensualisme, kekuatan mengikat, dan itikad baik sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 dan 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik telah mampu memberikan perlindungan hukum yang memadai bagi konsumen dalam melakukan transaksi melalui e-commerce. Bentuk Perlindungan hukum tersebut terlihat dalam ketentuan-ketentuan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen maupun Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang mengatur mengenai penggunaan data pribadi konsumen,

Referensi

Dokumen terkait

Barang Produk Online Store pada katalog penawaran pelaku usaha bahwa jika barang yang dipesan tidak sesuai pesanan, konsumen dapat melakukan. komplain, dan pihak pelaku

1) Desainer produk berfungsi sebagai perancang produk dalam bentuk visual dan dicetak dalam bentuk katalog yang akan ditawarkan kepada konsumen, selain itu

Id Paket (otomatis), nama paketl, detail paket, harga,dan gambar, salah satu tidak tidak diisi kemudian klik simpan Id Paket :- (otomatis) Nama Paket- potooboth Detail

Jika memilih menu Master maka otomatis akan muncul sub menu yang terdiri dari data barang, data admin, data departemen, dan data suplier. Jika memilih menu Transaksi maka

Nama barang diisi, kemudian Harga, Stok,Gambar, Keterangan, Kategori tidak diisi lalu klik tombol simpan Nama barang: (terisi) Harga: (kosong) Stok: (kosong) Gambar:

Cara Informan 1 memasarkan produknya melalui Instagram adalah dengan memposting foto barang dengan rincian: nama barang, spesifikasi, harga, format order dan

3 Semua field diisi, tetapi belum ada daftar barang yang dipilih, kemudian klik tombol [Simpan] No Penjualan: (otomatis) Tanggal Penjualan: (otomatis) Nama Pelanggan:

Berdasarkan penggalan dialog data 10 di atas, pola interaksi antara penjual dan pembeli yang berlangsung, penjual menunjukkan barang dagangannya kepada pembeli bahwa baju yang terdapat