• Tidak ada hasil yang ditemukan

Syariat Islam sejak semula telah memberikan hak dan peran kepada

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Syariat Islam sejak semula telah memberikan hak dan peran kepada"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Syariat Islam dan Implikasi Penerapannya

Terhadap Perempuan di Aceh

Nurjannah Ismail

Abstrak

S

yariat Islam sejak semula telah memberikan hak dan peran kepada kaum perempuan di wilayah domestik maupun wilayah publik. Dalam artikel ini, penulis menyatakan sesungguhnya semangat dan pesan moral yang dikandung syariat Islam adalah persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan dan berusaha menegakkan keadilan jender di masyarakat. Lebih lanjut penulis berpendapat walaupun pesan universal syariat Islam adalah keadilan jender, banyak penafsir yang memahami teks-teks syariat -- yang terdapat dalam Alquran dan hadits -- hanya secara tekstual, parsial dan dilepaskan dari konteks turunnya, sehingga menghasilkan interpretasi yang bias jender dan melahirkan aturan dan doktrin ketidakadilan jender. Hasil interpretasi seperti inilah kemudian yang banyak dipahami dan dipraktikkan di masyarakat Islam sehingga menimbulkan diskriminasi terhadap perempuan termasuk masyarakat perempuan di Aceh, khususnya pada masa sekarang ini.

Artikel ini juga mengelaborasi lebih lanjut penyebab diskriminasi terhadap perempuan di Aceh yang masih terjadi hingga kini. Penulis berpendapat adalah ironi ketika syariat Islam di era reformasi diterapkan di bumi Serambi Mekah, kedudukan perempuan di Aceh tidak semulia, bermartabat dan tinggi seperti pada masa lalu. Dalam analisisnya penulis menekankan penegakan syariat Islam memang harus didahului dengan pendidikan masyarakat yang memadai serta pemerataan kesejahteraan dan ekonomi yang berkeadilan.

(2)

Abstract

Islamic law from the beginning has given the rights and role of women both in the domestic sphere and the public sphere. In this article, the author states that the true spirit and moral message contained in Islamic law is equality between men and women and trying to enforce gender equality in the society. The author further argues that while Islamic law is the universal message of gender equality, many interpreters only understand the shari’ah texts (form Al-Qur’an and Hadith) textually, partial and not associated with reason of the emergence of the Al-Qur’an Verse and Hadith. This lack of understanding, resulting in a gender- biased interpretation and create rules and doctrines of gender inequality. The resulting interpretation is understood and practiced in many Islamic societies, giving rise to discrimination against women, including women in Acehnese society, especially at the present time.

This article also elaborates the causes of discrimination against women in Aceh which are still going on until now. The author argues that it is irony when Islamic law is applied in the reform era in Serambi Mekah, the position of women in Aceh are not as noble, dignified and great like in the past. In her analyzing, the author stress that the enforcement of Islamic law must be preceded by adequate public education and the distribution of welfare and economic justice.

(3)

Pendahuluan

S

yariat Islam sejak

kemunculannya telah berusaha mewujudkan keadilan jender1121dalam masyarakat Arab yang memiliki budaya dan tradisi patriarkhi yang sangat kuat. Upaya tersebut diwujudkan dengan adanya aturan dan doktrin-doktrin yang berusaha mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan dari posisinya semula. Aturan-aturan syariat tersebut –yang tentu saja disesuaikan dengan konteks ketika itu—antara lain adalah mengecam penguburan bayi-bayi perempuan, membatasi poligami, memberikan hak waris, hak- hak sebagai isteri, hak sebagai saksi, dan hak-hak lainnya bagi perempuan.

Dengan kata lain syariat Islam sejak semula telah memberikan hak dan peran kepada kaum perempuan baik di wilayah domestik maupun wilayah publik. Padahal, sebagaimana diketahui, tradisi Arab ketika itu secara umum menempatkan perempuan hampir sama dengan hamba sahaya yang tidak memiliki hak apapun.

Karena itu dari sini dapat dilihat

1 Jender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan berdasarkan pada faktor biologis, bukan berdasarkan jenis kelamin (sex) sebagai kodrat Tuhan yang secara permanen berbeda, tetapi behavioral differences antara perempuan dan laki-laki yang socially constructed, yaitu perbedaan yang diciptakan melalui proses sosial dan budaya yang panjang.

Lihat Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), Cet. I, hlm. 8-9.

bahwa sesungguhnya semangat dan pesan moral yang dikandung syariat Islam adalah persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan dan berusaha menegakkan keadilan jender dalam masyarakat.2122

Selain Alquran, terdapat pula berpuluh hadits (sunnah) Nabi Muhammad SAW yang membicarakan tentang kedudukan perempuan dalam hukum dan masyarakat.

Pada masyarakat yang mengenal praktik mengubur bayi perempuan hidup-hidup, lalu datang ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW untuk melarang kekejian itu sebagaimana yang tertuang dalam hadits Nabi: “Yang terbaik di antara manusia adalah yang terbaik sikap dan perilakunya terhadap kaum perempuan.” 3123

Namun walaupun pesan universal syariat Islam adalah keadilan jender, banyak penafsir yang memahami teks-teks syariat –yang terdapat dalam Alquran dan Hadits—hanya secara tekstual, parsial dan dilepaskan dari konteks turunnya, sehingga menghasilkan interpretasi yang bias jender dan melahirkan aturan dan doktrin ketidakadilan jender.

Kenyataannya, hasil interpretasi seperti inilah kemudian yang banyak dipahami dan dipraktikkan dalam masyarakat Islam sehingga

2 Hal ini ditunjukkan beberapa ayat Alquran antara lain QS. At-Taubah (9): 71, QS. Al- Hujurat (49): 13 dan QS. An-Nisa` (4): 124.

3 Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, hadits no.

1968; Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad hadits no. 9725.

(4)

menimbulkan diskriminasi terhadap perempuan termasuk masyarakat perempuan di Aceh, khususnya pada masa sekarang ini.4124

Kalau kita melihat ke sejarah Aceh masa lampau dalam budaya Aceh meskipun masih bersifat patriarkhis namun ada satu episode sejarah yang yang menggambarkan peran dan kedudukan kaum perempuan cukup dihargai dalam masyarakat.

Sejak Kerajaan Samudra Pasai (abad ke-15) peran perempuan sudah sangat menonjol. Nahrasiah adalah ratu pertama di Aceh yang memimpin Kerajaan Samudra Pasai atas konsep kesetaraan jender, jauh sebelum Kartini (1879-1904) di Jawa memperjuangkan hak-hak kaumnya. Nahrasiah naik ke tampuk pemerintahan pada tahun 1408 dan meninggal pada 1428 menggantikan ayahnya Sultan Zainal Abidin.5125Ia mendapatkan kekuasaan itu secara terhormat karena seluruh masyarakat -dalam hal ini kerabat kerajaan-- sepakat untuk menyerahkan kekuasaan negara kepada seorang perempuan, tanpa mempersoalkan adanya analogi bahwa perempuan yang tidak bisa jadi imam shalat sekaligus tidak bisa memimpin negara. Di bawah kepemimpinan Putri Nahrasiah inilah kemudian tradisi pemerintahan perempuan

4 Dr. Nurjannah Ismail, Syari’at Islam dan Implikasi Penerapannya Terhadap Perempuan di Aceh (makalah, tahun 2009), hlm. 1

5 Prof. Dr. Farid Wajdi, Aceh Bumi Srikandi, (Yoygkarat: Multi Solusindo Press, 2008), hlm 273

berlanjut di Aceh. Menjelang masa keemasannya, di Kerajaan Aceh tampil seorang perempuan dengan peran sangat penting, yaitu Keumalahayati, yang diangkat menjadi laksamana oleh Sultan Alaiddin Riayatsyah (1589 -1604). Sebuah riwayat menyebutkan, alasan pengangkatan Keumalahayati sebagai laksamana, karena selain layak dan berpengalaman di laut, kala itu Riayatsyah sudah tidak mempercayai lagi kaum lelaki.

Di usianya yang tua (80 tahun), sultan amat risau jika panglima armada dipimpin lelaki karena berpotensi merampas kekuasaan.

Hanya perempuan yang mampu mengamankan dan menyamankan sultan dari bayang-bayang kudeta.

Riayatsyah adalah tokoh pembagi kekuasaan antara lelaki dengan perempuan. Sebab, selain untuk jabatan laksamana, sultan juga mengangkat Po Cut Limpah menjadi Ketua Dewan Rahasia. Tugas Dewan Rahasia -yang mirip dewan penasihat sekaligus badan intelijen negara-- memberi informasi penting kepada sultan. Keputusan-keputusan strategis kerajaan bermula dari dewan yang dipimpin Po Cut Limpah ini. Mitos bahwa pada perempuan tak boleh disimpan rahasia, dengan sendirinya terbantahkan.6126

Sebetulnya teramat panjang daftar perempuan Aceh yang berperan di berbagai sektor, sebagai pertanda bahwa tidak ada persoalan jender dalam budaya Aceh. Tampilnya

6 Ibid, hlm. 274

(5)

Safiatuddin - - putri Iskandar Muda -- memimpin Aceh setelah mangkat Iskandar Thani (suaminya), semakin mempertegas kedudukan dan integritas perempuan - apalagi ketika Riayatsyah -seperti dikatakan tadi- -berkesimpulan: bahwa lelaki tidak bisa dipercaya, sehingga dia memilih Keumalahayati sebagai laksamana.

Safiatuddin yang memerintah dari tahun 1614 sampai 1675, dilukiskan sebagai ratu yang cerdas, malah lebih cerdas dari para pendahulunya -termasuk dari kalangan pria. Di zaman Safiatuddin berkembang ilmu pengetahuan yang ditandai oleh terbitnya buku-buku penting karya para ulama, setelah mereka dikirim ke India dan Timur Tengah. Nuruddin Ar Raniry yang terkenal itu berkarya di masa sang ratu. Yang lebih penting, masa kekuasaan perempuan ini jauh lebih lama dibandingkan dengan para sultan sebelum dan sesudahnya.

Dengan masa berkuasa selama 34 tahun.7127

Fakta-Fakta Diskriminasi Perempuan di Aceh

Akan tetapi ironisnya ketika syariat Islam di era reformasi diterapkan di bumi serambi Mekah ini, kedudukan perempuan di Aceh tidak semulia, bermartabat dan tinggi seperti masa lalu itu. Perlakuan- perlakuan diskriminatif kepada kaum perempuan yang mengatasnamakan

7 Ibid, hlm. 276

penegakan Syariat Islam digambarkan oleh serangkaian insiden di bawah ini.

Di Sabang, pada tanggal 30 September 2005, sekelompok warga yang marah menyerang kantor Dinas Syariat Islam kabupaten dan petugas WH yang berada di dalamnya, setelah seorang petugas WH yang terlalu bersemangat/antusias mendadak menyergap seorang remaja perempuan yang baru saja pulang dari belajar dan sedang berdiri di depan pintu rumahnya sekitar jam 9 malam. Petugas WH ini memegang tangan remaja tersebut dan menanyakan mau ke mana, memberi kesan bahwa si remaja bukan gadis baik-baik, mengambil fotonya, dan baru berhenti ketika ibunya yang sangat marah dan warga lainnya menolongnya. Kelompok warga yang marah ini baru bisa ditenangkan oleh polisi, dan Ketua WH Kabupaten Sabang meminta maaf, mengatakan bahwa institusi ini masih baru dan masih “memerlukan bimbingan”.8128

Pada bulan Januari 2006, petugas WH, bersama dengan polisi, yang tampaknya sering mengawasi operasi razia, menggerebek salon-salon kecantikan yang customer-nya campur laki-laki dan perempuan.9129 Di salon yang pertama seorang laki-laki ke salon langganannya yang kebetulan

8 “WH Salah Sergap, Warga Sabang Mengamuk”, Serambi, 2 Oktober 2005

9 Tulot adalah ketua kantor penertiban daerah Banda Aceh, sebuah kantor setingkat kabupaten yang terpisah dari polisi dan bertanggung jawab menegakkan peraturan administratif pemerintah lokal.

(6)

pegawainya perempuan untuk memotong rambutnya; di salon yang kedua, seorang waria sedang ditata rambutnya oleh seorang pegawai perempuan; di salon yang ketiga, seorang laki-laki sedang memotong rambut teman perempuannya. Di salon yang lain, tiga pria asing yang datang ke salon untuk potong rambut dibawa ke kantor polisi, dan para wartawan diberi tahu bahwa polisi menemukan 40 butir obat-obatan dari pria asing ini (namun ternyata obat-obatan tersebut adalah obat sakit perut).10130Menurut Qanun No.

11, salon campur untuk pria dan wanita tidak diperbolehkan lagi.

Tetapi seorang pemilik salon yang marah yakin bahwa petugas WH melakukan penggerebekan hanya untuk pamer, aksi penggerebekan ini membawa kesan bahwa mereka meragukan moral para pekerja salon khususnya pekerja perempuan.

Pada tanggal 19 Februari 2006, dalam sebuah insiden yang paling diributkan, tiga orang perempuan aktivis LSM yang sedang mengikuti sebuah workshop tentang pendidikan perdamaian yang diselenggarakan oleh UNDP di hotel Sultan, Banda Aceh ditangkap tanpa pemberitahuan oleh tim petugas WH karena tidak memakai jilbab ketika mereka sedang berdiskusi pelan di koridor depan kamar mereka sekitar jam 11.30 malam. Sekitar duapuluh orang petugas WH laki-laki dan perempuan

10 “Puluhan Salon Digerebek”, Serambi, 3 Januari 2006.

menarik tangan mereka, dan membawa turun tangga “seakan-akan mereka penjahat” dan menaikkan mereka ke sebuah mobil bersama dengan enam orang perempuan lain yang sudah ditangkap lebih dulu.

Mereka dibawa ke kantor walikota di mana di situ mereka disuruh untuk menandatangani pernyataan yang isinya mengakui kesalahan mereka. Mereka menolak, tetapi akhirnya tak ada pilihan. Mereka juga harus mendengarkan ceramah sekitar 45 menit tentang pentingnya hidup berdasarkan prinsip-prinsip syariat. Peserta workshop yang lain pergi ke kantor polisi dan membuat pengaduan resmi terhadap petugas WH. Aksi penggerebekan tersebut diawasi oleh Muzakkir Tulot, yang mengeluarkan kata-kata kasar kepada para perempuan dan rekan aktivis mereka.11131

Kalangan perempuan mengeluh bahwa mereka secara tidak sepadan menjadi target operasi razia petugas WH, lebih banyak operasi razia terhadap perempuan yang tidak memakai jilbab daripada terhadap laki-laki yang tidak ikut sholat Jum’at.

Selain itu, tidak ada tradisi di Aceh memakai jilbab, dan seseorang tidak perlu pergi jauh hingga keluar jalan utama di Aceh untuk membuktikan hal ini. Seorang perempuan mengatakan:

“Kalau saya tidak memakai jilbab, itu

11 Catatan mengenai insiden tersebut diterima oleh Crisis Group oleh peserta workshop, dan wawancara Crisis Group, Banda Aceh, Juni 2006.

(7)

adalah antara saya dengan Allah – bukan saya dengan WH”.12132

Pada pertengahan Januari 2010 di kota Langsa terjadi dugaan pemerkosaan terhadap tahanan perempuan oleh oknum WH ketika perempuan ini sedang dalam proses menjalani hukuman dan dalam pengawasan lembaga tersebut.

Dalam menanggapi kasus ini Guru Besar Pascasarjana IAIN Ar-Raniry bidang Fiqh dan Ushul Fiqh, Prof. Dr.

Al-Yasa` Abu Bakar menyarankan perlu adanya peningkatan kualitas terhadap petugas Satpol PP dan WH di Aceh.

Karena itu patut diingat dan digarisbawahi bahwa penegakan syariat Islam memang harus didahului dengan pendidikan masyarakat yang memadai serta pemerataan kesejahteraan dan ekonomi yang berkeadilan. Lebih-lebih lagi perlunya pendidikan dan pembinaan bagi aparat penegak hukum terutama aparat Satpol PP dan WH secara internal baik individual maupun institusional.

Faktor-Faktor Penyebab

Diskriminasi Terhadap Perempuan di Aceh

Cukup lama perempuan melawan stigma yang lama melekat dalam frame masyarakat bahwa fungsi perempuan hanya di sumur, dapur dan kasur. Perempuan juga harus

12 Wawancara Crisis Group, Banda Aceh, 18 Juni 2006.

melepaskan diri dari ‘kutukan’

lingkungan yang melokalisir peran perempuan hanya dalam ranah domestik. Upaya tersebut kadang- kadang mendapat tantangan bahwa perempuan melupakan fitrahnya sebagai sosok pelengkap dan selalu tersubordinasi di bawah lelaki.

Stigma tersebut tak hanya terbentuk dalam pemikiran keagamaan seperti perempuan tercipta dari tulang rusuk lelaki, bahwa lelaki pemimpin bagi perempuan, dan beberapa pemikiran diskriminasi lainnya.

Padahal, sebenarnya, perempuan juga memiliki peran dan tanggung jawab yang sama di mata agama.

Lalu, kenapa hingga kini diskriminasi terhadap perempuan masih terjadi?

Kita bisa mencatat beberapa faktor penyebab diskriminasi terhadap kaum perempuan. Pertama, pengaruh nilai-nilai atau budaya patriarkhi. Dalam masyarakat kita termasuk masyarakat Aceh,13133 yang dikenal kental dengan nilai- nilai ketimuran, nilai-nilai ini begitu kentara, terutama dalam ranah politik yang hendak digeluti perempuan.

Muncul persepsi di masyarakat kita bahwa dunia politik yang identik dengan kekuasaan, terkesan maskulin

13 Hal ini dapat ditunjukkan dalam peristiwa ketika Teuku Umar sedang mengadakan rapat mengatur strategi perang bersama para stafnya lalu masuklah Cut Nya Dhien, Teuku Umar berkata kepada Cut Nya Dhien: “Perempuan tidak boleh ikut rapat bersama kami, kaum laki-laki. Cut Nya Dhien kemudian menjadi tokoh dan pemimpin justru setelah Teuku Umar sudah meninggal dunia.

(8)

atau dianggap sebagai dunia kaum laki-laki. Perempuan jadinya hanya kebagian peran domestik saja. Sedikit sekali ada perempuan yang berani tampil beda untuk terjun ke dunia politik dan juga sebagai pemimpin.

Jika pun ada keberanian perempuan, akan coba dihambat dengan segala cara termasuk menggunakan dalil-dalil agama, seperti perempuan tidak dibolehkan menjadi pemimpin.

Dalam organisasi, termasuk dalam lingkup partai politik, yang meniscayakan demokratisasi, kerap kali dalam hal rekrutmen kental nuansa patriarkhi. Perempuan sama sekali tidak diberikan posisi strategis dan sebagai pengambil kebijakan.

Jika pun ada, masih setengah- setengah, dan tak bisa mengurangi dominasi patriarkhi. Coba perhatikan, perempuan selalu diberi porsi mengurus soal-soal perempuan saja atau bidang yang identik dengan dunia perempuan. Seolah-olah perempuan tidak cakap mengurus hal-hal lain di luar dunia kaum perempuan.

Kedua, rendahnya kapasitas perempuan. Selama ini, perempuan dianggap tidak memiliki kemampuan untuk mengurus hal-hal di luar bidang perempuan saja. Akibatnya seperti disinggung di atas, dalam suatu organisasi perempuan sering mendapatkan posisi di bidang yang identik dengan kaumnya saja. Imej ini terbentuk sudah sangat lama sekali, sehingga sulit dihilangkan.

Tetapi, perkembangan terakhir menunjukkan bahwa perempuan sudah bisa bersaing dengan kaum lelaki, tanpa merasa satu golongan lebih rendah dari golongan lainnya.

Banyaknya perempuan yang tampil dalam gelanggang politik seperti pembenaran, bahwa perempuan juga memiliki kemampuan memimpin tak kalah dari lelaki. Banyak contoh yang bisa dirujuk, seperti ada menteri di kabinet yang ditugasi mengurusi hal- hal rumit, seperti Menteri Keuangan, Menteri Kesehatan, serta ada beberapa perempuan yang duduk di parlemen serta menjadi kepala daerah.

Ketiga, kebijakan hukum. Kiprah perempuan masih dihambat oleh aturan hukum yang lebih banyak memihak lelaki. Hal ini tak terlepas karena produk hukum itu sendiri dibuat oleh kaum lelaki, sehingga kental nuansa maskulin. Baru sekarang sudah ada perubahan, seperti kuota caleg perempuan yang harus 30 persen. Minimal, perempuan sudah diberi ruang untuk berkiprah secara lebih luas, meski tak cukup adil. Karena, keputusan suara terbanyak yang dikeluarkan Mahkamah Konstitusi, memberi kesempatan kepada semua caleg untuk bertarung dan terpilih.

Jadi, kuota 30 persen perempuan menjadi tidak begitu signifikan, meski di sisi lain diuntungkan. Karena yang berlaku adalah kemampuan menarik suara pemilih sebanyak-banyaknya,

(9)

dengan melibatkan kemampuan mengorganisir dan mempengaruhi dengan program-program perubah- an.

Keempat, peraturan dan sistem diskriminatif serta kebijakan-program yang diskriminatif. Sistem seperti ini membuat ruang gerak perempuan sedikit terhambat. Perempuan harus berjuang sekuat tenaga untuk melabrak sistem tersebut yang sudah lama hidup di masyarakat kita. Makanya, kehadiran perempuan dalam gelanggang politik untuk mengubah paradigma seperti ini menjadi penting. Kaum perempuan lebih mengerti dan mengetahui soal perempuan dan kebijakan yang memihak perempuan.

Eksploitasi Perempuan

Selain empat faktor yang disebutkan di atas, ada pemahaman dalam masyarakat kita memosisikan perempuan sebagai aksesoris.

Tak dapat dibantah memang, jika kecantikan fisik menjadi sisi yang sangat menarik dari diri seorang perempuan. Tak pelak, sisi ini kemudian diperdagangkan atau dijadikan umpan untuk mengeruk keuntungan. Coba perhatian beberapa iklan di media, sosok perempuan banyak dimanfaatkan sebagai alat atau iklan sebuah produk, mulai dari pakaian, aksesoris, hingga iklan rokok. Malah, ada perempuan yang dijadikan maskot suatu produk

yang tak ada kaitannya dengan dunia perempuan.

Kontes kecantikan yang saban tahun digelar, juga tak jauh dari upaya eksploitasi terhadap kecantikan fisik perempuan. Perempuan kemudian hanya dinilai dari kecantikan fisiknya saja, tanpa melihat kemampuan.

Selain itu, seperti terlihat dalam musim kampanye ini, banyak perempuan terutama artis yang dirangkul jadi calon legislatif (caleg).

Hal itu tak semata-mata karena faktor kemampuan, melainkan lebih sebagai alat untuk menarik pemilih perempuan dan juga kaum lelaki yang terkesima dengan kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan.

Untuk menarik massa, artis-artis ini dipajang bukan karena kemampuan retoriknya menghipnotis massa agar memilih partai yang didukungnya, melainkan sekedar memanfaatkan suara merdu atau senyuman manis sang artis. Hanya bagian luar perempuan saja yang dimanfaatkan.

Padahal, banyak juga perempuan yang punya potensi, di luar kecantikan fisik, yang tak pernah dilirik dan digali dari seorang perempuan.

Di Aceh, kondisi demikian juga sering terjadi. Perempuan hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk menarik simpati atau dukungan, bukan sebagai sosok yang memiliki kemampuan melakukan perubahan. Ada sebuah bank di Aceh menggunakan figur artis lokal sebagai maskot atau model untuk kegiatan promosi produk bank tersebut.

(10)

Upaya-Upaya Meminimalisasi Diskriminasi Perempuan di Aceh

Diskriminasi serta pemahaman yang keliru terhadap kedudukan perempuan juga akan mempengaruhi pola pikir sebagian kecil masyarakat Aceh. Walaupun demikian, seiring dengan perkembangan arus komu- nikasi dan pembukaan akses yang lebih bagus untuk Aceh, terutama setelah konflik berlalu, isu pemenuhan hak dan peran perempuan pun mulai meningkat dan dibahas secara serius.

Mulai timbul kesadaran dari pihak perempuan akan hak-hak mereka yang selama ini diabaikan, yang pada akhirnya membuat mereka sadar untuk melakukan protes terhadap ketidakadilan yang mereka alami.

Selain itu, juga mulai banyak upaya untuk menyosialisasikan hak-hak perempuan yang semakin intensif dilakukan berbagai LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan. Hal ini juga akan dapat mempengaruhi pola pikir kaum laki- laki yang sebelumnya kurang peduli terhadap keberadaan perempuan.

Konflik juga berakibat pada meningkatnya jumlah perempuan yang harus bisa hidup mandiri setelah suaminya meninggal dunia.

Kehidupan sebagai orang tua tunggal telah menumbuhkan sikap lebih mandiri dan berani pada jiwa seseorang dan membuat mereka mau berjuang untuk melakukan perubahan hidup ke arah yang lebih

baik serta demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bagi perempuan, bekerja di bidang publik tentu akan menjadi salah satu alternatif untuk mewujudkan hal tersebut. Dalam kasus-kasus seperti ini, banyak kaum perempuan yang harus berjuang untuk tetap eksis dalam kehidupan sosial ekonominya, merintis kembali kehidupannya setelah kehilangan segala-galanya.

Ketika perempuan telah bertarung hidup dalam wilayah publik dengan berbagai tantangan yang mungkin dihadapinya, dengan sendirinya dibutuhkan perlindungan hukum agar perempuan yang bekerja dapat terhindari dari berbagai tindak kekerasan. Tidak hanya itu, perempuan juga membutuhkan akses yang tepat untuk mendapatkan informasi tentang hak-hak mereka.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Aceh tahun 2005, wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berpenduduk 4.031.589 jiwa. Angka ini terdiri dari 2.005.763 jiwa laki- laki dan 2.025.826 jiwa perempuan.

Angka statistik tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa secara kuantitas perempuan merupakan sumber daya yang lebih besar. Tetapi sayangnya di Aceh sumber daya kaum perempuan masih terbilang rendah dan belum diberdayakan secara maksimal.

Pasca bencana gempa dan gelombang Tsunami di Aceh, berbagai persoalan terkait hak waris, perwalian dan pertanahan sangat berkaitan

(11)

dengan hak serta keberadaan kaum perempuan. Sedikit sekali kaum perempuan di Aceh yang memiliki pengetahuan tentang hukum.

Kalaupun ada, sebut Khairani Arifin, hanya terbatas pada kaum perempuan di perkotaan. Kondisi ini pun dibatasi lagi oleh akses informasi tentang hukum, yang hanya bisa diperoleh oleh kaum perempuan yang berprofesi sebagai pegawai, pekerja modern, dan aktivis perempuan.

Sementara itu di pedesaan, bisa dipastikan pemahaman kaum perempuan tentang hukum minim sekali. Hal ini tidak lain karena akses pendidikan dan informasi yang tidak luas, sehingga kaum perempuan tidak bisa mendapatkan pendidikan sebagaimana layaknya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Dr. Nurjannah Ismail, staf Pengajar di Fakultas Adab Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar- Raniry Banda Aceh. Menurut Nurjannah, minimnya pengetahuan kaum perempuan tentang hukum dan pendidikan membuat mereka lemah untuk mengetahui hak-hak yang seharusnya dimiliki.

Selain mengusahakan hal-hal di atas dalam upaya meminimalisir diskriminasi perempuan di Aceh adalah dengan memberikan penyadaran kepada kaum perem- puan Aceh di semua lini strata sosial tentang hak asasi perempuan.

Pembicaraan hak asasi perempuan sebagai hak asasi manusia sebetulnya

bukan hal yang relatif baru. Hal yang sangat substantif bagi upaya untuk memperoleh hak adalah pengetahuan dasar tentang hak tersebut dan di mana jaminan pemenuhan hak tersebut. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh dengan berbagai cara, antara lain melalui bacaan, berdiskusi secara intensif dan melalui olahan pengalaman.

Dalam kaitannya dengan proses penyusunan kebijakan, partisipasi dan keterlibatan masyarakat juga sangat minim, terutama perempuan.

Sebagai akibatnya, hukum yang disusun biasanya akan selalu mengatasnamakan kepentingan suatu masyarakat, namun setelah disahkan dan diimplementasikan justru sering tidak mengakomodasi kepentingan seluruh masyarakat, termasuk perempuan.

Partisipasi perempuan dalam proses penyusunan kebijakan sangat minim dan belum diprioritaskan sehingga sedikit sekali kepentingan perempuan yang terakomodasi di dalamnya. Dalam beberapa kebijakan yang ada, substansinya posisi perempuan masih dipinggirkan dan lebih sering berada dalam posisi subordinasi laki-laki bahkan ada pembatasan ruang gerak dan posisi perempuan.

Hal ini terlihat dalam undang- undang nasional, seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), khususnya tentang peng- aniayaan (Pasal 351) yang lebih

(12)

dominan pengaturannya terhadap kekerasan fisik saja dan tidak mengatur hukuman minimal bagi pelaku, sebagai akibatnya ketentuan ini membuka peluang bagi pelaku untuk mendapatkan hukuman ringan bahkan dibebaskan dari hukuman.

Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga telah ada beberapa terobosan baru, terutama perlindungan hak-hak korban yang lebih besar. Walaupun demikian, UU ini tetap saja belum sepenuhnya mengakomodasi ke- pentingan perempuan korban, seperti dengan adanya keharusan bagi korban untuk melapor untuk menjamin kasus kekerasan untuk dapat diproses, keharusan ini tidak mempertimbangkan tekanan dan ancaman dari pelaku terhadap korban agar korban tidak melaporkan kasusnya.

Dalam ketentuan perundangan- undangan lokal di Aceh, salah satu aturan hukum yang minim berkeadilan perempuan adalah Qanun No. 14 tahun 2003 tentang Khalwat. Dalam qanun ini, khalwat didefinisikan sebagai perbuatan bersunyi-sunyi antar dua orang mukallaf atau lebih yang berlainan jenis yang bukan muhrim atau tanpa ikatan perkawinan. Akibat rumusan definisi dan aturan khalwat yang sangat luas dalam qanun tersebut, akan sangat mudah untuk menuduh orang berkhalwat, walaupun misalnya

hanya membicarakan masalah keluarga, atau melaksanakan pekerjaan dalam suatu ruangan atau kantor.

Oleh karena itu, perlu dilakukan revisi terhadap qanun ini, antara lain dengan penyempurnaan definisi khalwat yang lebih jelas unsurnya.

Dari banyaknya permasalahan yang dihadapi perempuan inilah, sebut Khairani, sejumlah aktivis perempuan di Aceh menyimpulkan perlu disusunnya sebuah rumusan atau piagam hak-hak perempuan di Aceh. Dengan adanya kesepakatan tertulis ini, diharapkan nantinya seluruh kebijakan publik bisa mengakomodir hak-hak perempuan.

Saat ini sudah ada Piagam Hak- Hak Perempuan Aceh. Piagam Hak- Hak Perempuan Aceh ini bukanlah untuk memberi perhatian lebih kepada kelompok perempuan karena disadari bahwa masih ada kelompok rentan lainnya yang juga butuh diperhatikan hak-haknya, seperti anak, orang miskin dan lain sebagainya. Sebaliknya, dengan adanya Piagam Hak-Hak Perempuan Aceh, diharapkan perempuan sebagai stakeholder pembangunan daerah bisa memainkan perannya secara maksimal dan berkualitas, bukan hanya pada tataran kuantitas.

Meskipun hak-hak perempuan sudah dirumuskan dalam Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of

(13)

All Forms of Discrimination against Women/ CEDAW) yang bertaraf internasional dan diratifikasi oleh Indonesia pada tahun 1980, penyusunan Piagam Hak-Hak Perempuan Aceh masih perlu lebih membumikan hak-hak perempuan di Aceh yang berkearifan lokal, sebut Khairani. Selain itu, Piagam Hak-Hak Perempuan di Aceh juga akan menjadi satu ikatan sosial yang tertulis bagi semua elemen masyarakat di Aceh untuk terus bisa memperhatikan hak- hak perempuan di Aceh.

Dengan hadirnya Piagam Hak- Hak Perempuan Aceh, diharapkan setiap kebijakan pemerintah bisa berpihak kepada perempuan, dan selalu melibatkan kaum perempuan sebagai stakeholder dalam upaya membangun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang bermartabat.

Penutup

Agar syariat Islam di Aceh mampu menjadi rahmat bagi semua termasuk kaum perempuan maka perlu diadakan perumusan kembali (reformulasi) syariat Islam yang selain mempertimbangkan mashalih (maslahat) dan mafasid (kerusakan) namun juga dengan mengedepankan kaidah-kaidah dasar Fikih Prioritas (fiqhul aulawiyat), Fikih Kekinian (fiqhul waqi’), dan Fikih Perbedaan (fiqhul ikhtilaf) rumusan Dr. Yusuf Qardhawi, ulama intelektual Mesir.

Menurut formula Qardhawi,

Fikih Prioritas (fiqhul aulawiyat) menerapkan bahasan misalnya persoalan mengapa hukum potong tangan tidak bisa diterapkan sebelum kesejahteraan/pendapatan ekonomi masyarakat terjamin dan mencukupi, pendapatan per kapita tinggi, dan angka pengangguran nol persen.

Hukum cambuk maupun rajam tidak bisa diterapkan sebelum institusi negara benar-benar bisa mendukung, memudahkan, meringankan, dan menjamin hak-hak warganya untuk menikah, atau bahkan berpoligami.

Fikih Kekinian (fiqhul waqi’) menyelaraskan tafsir-tafsir referensi Islam klasik dengan kondisi kekinian sekaligus disesuaikan dengan kultur masyarakat setempat karena kedatangan Islam bukan untuk menegasikan yang sudah ada tetapi meluruskan dan mengubah warna budaya. Adapun Fikih Perbedaan (fiqhul ikhtilaf) digunakan sebagai standar etika bahwa ikhtilaf (beda pendapat) dalam urusan agama merupakan keniscayaan sehingga bisa diketahui seberapa banyak benang-benang persamaan yang bisa disambung di antara spektrum luas perbedaan dalam cabang-cabang fikih.

Dengan reformulasi berdasarkan kaidah-kaidah fikih tersebut syariat Islam di Aceh diharapkan mampu menjelma menjadi rumusan baru yang solutif sekaligus menjadi pilot project yang berhasil membuktikan bahwa penerapan syariat Islam bisa

(14)

menjadi sarana peningkatan kualitas seluruh umat bukan hanya dalam hal spiritual, namun juga kualitas material dan finansial, bukan malah menjadi pranata baru yang mengarah ke dalam perangkap konflik baru lagi bagi rakyat Aceh.

(15)

Riwayat Hidup

1. Nama : Dr. Hj. Nurjannah Ismail, M.Ag.

2. Tempat / tgl. Lahir : Krueng Panjoe, 7 Juni 1964 3. Kebangsaan/suku : Indonesia / Aceh

4. NIP : 19640607 199202 2 001

5. Pekerjaan : Dosen Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry 6. Alamat : Perum Tungkop Indah Ds Damai No. 24 Tungkop Darussalam HP:081360014117 Email: [email protected] 7. Riwayat Pendidikan

a. MIN Krueng Panjoe, berijazah tahun 1975 b. MTsN Lhokseumawe, berijazah tahun 1979 c. PGAN Lhokseumawe, berijazah tahun 1982

d. Sarjana (S1) Bahasa Arab Fak. Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, tahun 1987

e. Pascasarjana (S2) IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, berijazah tahun 1995

f. Pascasarjana Program Doktor (S3) IAIN SUKA Yogyakarta, berijazah tahun 2002

Referensi

Dokumen terkait

Konsep perkembangan megacities yang akan diterapkan merupakan kerjasama lintas daerah dari Kota Jakarta, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kabupaten Bekasi,

Registrasi citra dapat diartikan sebagai proses untuk mendapatkan nilai pergeseran diantara citra beresolusi rendah yang melibatkan dua citra atau lebih yang memiliki objek

Dari dua puluh kesalahan yang dikemukakan oleh Darsel diatas maka kesalahan yang masih sering dilakukan oleh kepala dalam melaksanakan supervisi kepada guru

baru mempunyai kewenangan melakukan tindakan-tindakan penyitaansetelah tanggal 17 Juli 2017, sehingga menurut Hakim Praperadilan penyitaan-penyitaan yang dilakukan oleh

Hambatan atau faktor penghambat Ditpolair Polda Lampung dalam melakukan penegakan hukum terhadap nelayan yang menggunakan alat tangkap ikan illegal dalam hal ini

Informasih yang diperoleh dari hasil analisis daya dukung secara umum akan menyangkut masalah kemampuan (daya dukung) yang dimiliki oleh suatu daerah dalam mendukung

Yaitu ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan atau sumpah-sumpah lainnya yang terdapat di dalam

Respon Masyarakat Terhadap Peyandang Penyakit Kusta di Desa.. Natam Baru Kecamatan Badar Kabupaten Aceh