KARYA TULIS ILMIAH LITERATURE REVIEW
ANALISIS PERBEDAAN TARIF INDONESIA CASE BASE GROUPS (INA-CBGs) DENGAN TARIF RUMAH SAKIT
SRI MELINDA 17.03.043
YAYASAN PERAWAT SULAWESI SELATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANAKKUKANG
PROGRAM STUDI D3 REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN MAKASSAR 2020
KARYA TULIS ILMIAH LITERATURE REVIEW
ANALISIS PERBEDAAN TARIF INDONESIA CASE BASE GROUPS (INA-CBGs) DENGAN TARIF RUMAH SAKIT
Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Program Studi Diploma 3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Disusun dan diajukan oleh
SRI MELINDA NIM. 17.03.043
YAYASAN PERAWAT SULAWESI SELATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PANAKKUKANG
PROGRAM STUDI D3 REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN MAKASSAR 2020
i
KARYA TULIS ILMIAH LITERATURE REVIEW
ANALISIS PERBEDAAN TARIF INDONESIA CASE BASE GROUPS (INA-CBGs) DENGAN TARIF RUMAH SAKIT
Disusun dan diajukan oleh :
SRI MELINDA NIM. 17.03.043
Menyetujui Tim Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. H. Darwis, SPd. M.Kes Dr. Ns. HM. Thabran Talib, SKM,MARS
Ketua Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Syamsuddin, A.Md.PK.SKM.M.Kes
ii
KARYA TULIS ILMIAH LITERATURE REVIEW
ANALISIS PERBEDAAN TARIF INDONESIA CASE BASE GROUPS (INA-CBGs) DENGAN TARIF RUMAH SAKIT
Disusun dan diajukan oleh :
SRI MELINDA NIM. 17.03.043
Telah dipertahankan di depan Tim Penguji pada tanggal ( 19 November 2020) dan dinyatakan telah memenuhi syarat
Menyetujui Tim Pembimbing
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. H. Darwis, SPd. M.Kes Dr. Ns. HM. Thabran Talib, SKM,MARS
Ketua STIKES Panakkukang Ketua Program Studi D3 Rekam Makassar Medis dan Informasi Kesehatan
Dr. Ns. Makkasau, M.Kes. M.EDN Syamsuddin, A.Md.PK.SKM.M.Kes
iii
PENGESAHAN TIM PENGUJI
Karya Tulis Ilmiah ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Ujian Komprehensif Program Studi D3 Perekam Medis dan Informasi Kesehatan STIKES Panakkukang Makassar, pada tanggal 19 November 2020
Makassar, 19 November 2020
Tim Penguji
Penguji I : Dr. H. Darwis,SPd.M.Kes (………..)
Penguji II :Dr.Ns.HM.Thabran Talib,SKM.MARS (………..)
Penguji III :Syamsuddin,A.Md.PK.SKM.M.Kes (………..)
iv
SURAT PERNYATAAN KARYA TULIS ILMIAH
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : SRI MELINDA
NIM : 17.03.043
menyatakan dengan sebenarnya bahwa Judul Laporan Kasus sebagai berikut :
ANALISIS PERBEDAAN TARIF INDONESIA CASE BASE GROUPS (INA-CBGs) DENGAN TARIF RUMAH SAKIT Merupakan Karya Tulis Ilmiah yang saya buat sendiri dan bukan merupakan bagian dari Karya Tulis Ilmiah orang lain. Bilamana ternyata pernyataan ini tidak benar, saya sanggup menerima sanksi akademik yang ditetapkan oleh STIKES Panakkukang Makassar.
Makassar, 20 Oktober 2020 Mengetahui
Ketua Prodi D3 RMIK
Syamsuddin, A.Md.PK.SKM.M.Kes NIK. 093.152.02.04.025
Yang membuat pernyataan
Sri Melinda NIM.17.03.043
v
ABSTRAK
Sri Melinda, “LITERATURE REVIEW ANALISIS PERBEDAAN TARIF INDONESIA CASE BASE GROUPS (INA-CBGs) DENGAN TARIF RUMAH SAKIT”
PEMBIMBING : H. Darwis dan H. Muh Thabran Talib (66 Halaman + 12 Tabel + 1 Gambar)
Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs) merupakan aplikasi yang digunakan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional yang dimulai pada 1 januari 2014. Aplikasi ini sebelumnya juga telah digunakan dalam program jaminan kesehatan yang dicanangkan oleh pemerintah seperti JAMKESMAS pada tahun 2010 dengan revisi sebelumnya. Tarif INA-CBGs merupakan tarif paket yang meliputi seluruh komponen sumber daya rumah sakit yang digunakan dalam pelayanan baik medis maupun non-medis. Tujuan dalam penelitian ini untuk diketahuinya perbedaan tarif INA-CBGs dengan rumah sakit dan mengetahui faktor-faktor perbedaan tarif. Desain penelitian ini adalah literature review atau tinjauan pustaka. Pengumpulan data dengan cara mengumpulkan beberapa artikel terkait kemudian dilakukan inklusi dan ekstraksi data, jumlah artikel yang diteliti sebanyak 9 artikel. Berdasarkan hasil dapat dilihat dari selisih positifnya penelitian A.A Made wijaya kusuma dan Ketut Ariawati 21,7%, Hotma Dumaris 20,4%, Indriyati Oktaviano Rahayuningrum dkk 25,4%, Lestari Handayani dkk 32,5%. adapun selisih negatifnya penelitian Lilissuriani dkk 26,9%, Retno nurhidayati 27,4%, Sartika dewi dkk 15,0%. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa perbedaan tarif INA-CBGs dengan rumah sakit menghasilkan selisih positif dan negatif adapun selisih positif yaitu terdapat 4 artikel sedangkan selisih negatif yaitu terdapat 3 artikel, adapun faktor-faktornya yaitu Diagnosa utama, diagnose sekunder, prosedurm tindakan, episode/lama rawat, tugas dan tanggungjawab, severity level.
Kata kunci : Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs), Perbedaan tarif
vi
ABSTRACT
Sri Melinda, “LITERATURE REVIEW ANALYSIS OF DIFFERENCES IN INDONESIAN RATE BASE GROUPS (INA-CBGs) WITH HOSPITAL RATES”
SUPERVISOR : H. Darwis dan H. Muh Thabran Talib (66 Pages + 12 Tabels + 1 Picture)
Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs) is an application used in the National Health Insurance program which started on January 1, 2014. This application has previously been used in health insurance programs launched by the government such as JAMKESMAS in 2010 with previous revisions. INA-CBGs rates are package rates that cover all components of hospital resources used in both medical and non-medical services. The purpose of this research is to know the difference between INA-CBGs and hospital rates and to know the factors of different rates. The design of this research is a literature review or literature review. Collecting data by collecting several related articles, then data inclusion and extraction, the number of articles studied was 9 articles. Based on the results, it can be seen from the positive differences of research A.A Made wijaya kusuma and Ketut Ariawati 21.7%, Hotma Dumaris 20.4%, Indriyati Oktaviano Rahayuningrum et al 25.4%, Lestari Handayani et al 32.5%. As for the negative difference in the research of Lilissuriani et al.
26.9%, Retno nurhidayati 27.4%, Sartika dewi et al 15.0%. Based on the results it can be concluded that the difference in INA-CBGs rates with the hospital results in a positive and negative difference, there are 4 articles while the negative difference is 3 articles, as for the factors, namely the main diagnosis, secondary diagnosis, procedures, actions, episodes / duration. care, duties and responsibilities, severity level.
Keywords: Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs), Tarif differences
vii
PRAKATA
Dengan mengucapkan Alhamdudillah segala piji syukur penulis panjatkan atas kehaditar Allah SWT, karna berkat rahmat dan hidayah-nya menyusun karya tulis ilmiah yang berjudul “Analisis Perbedaan Tarif Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs) dengan Tarif Rumah Sakit” Ini dapat di selesaikan guna memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan pada program studi D3 rekam medis dan informasi kesehatan.
Pada kesempatan ini, penulis dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda H. ABD RAHMAN dan Ibunda HJ. HACIDA dan seluruh keluarga yang telah memberikan bantuan baik materi, moril maupun doa selama menjalani pendidikan hingga tahap akhir menyelesaikan studi pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panakkukang Makassar Program studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada bapak Dr.H.Darwis,SPd.M.Kes selaku pembimning 1 dan bapak Dr.Ns.HM.Thabran Talib,SKM,MARS selaku pembimbing 2 yang telah meluangkan waktu dan pikiran selama proses penulisan tugas akhir ini, serta semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada penulis yaitu :
1. H. Sumardin Makka, SKM, M.Kes., Selaku Ketua Yayasan Perawat Sulawesi Selatan
viii
2. Dr. Ns. Makkasau Plasay, M.Kes., M.EDM selaku Ketua Stikes Panakkukang Makassar.
3. Syamsuddin,A.Md.PK.SKM.M.Kes Selaku Ketua Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan STIKES Panakkukang Makassar.
4. Dr. H. Darwis,SPd.M.Kes selaku pembimning 1
5. Dr. Ns HM. Thabran Talib,SKM,MARS selaku pembimbing 2
6. Seluruh Staf/Dosen D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Panakkukang Makassar
7. Sahabat-sahabatku tercinta yang senantiasa membantu dan memberikan banyak saran, Nur Adliah AR, Nahdatilasari Nuer, Nurul Azizah Islamiah dan Arnandi Adriansyah yang telah membantu dan menemaniku tanpa kenal lelah dalam menyelesaikan Literature Review ini
saya menyadari penulisan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna. Maka saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat positif untuk mencapai kesempurnaan karya tulis ilmiah ini.Semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya bagi para pembaca.
Makassar, 20 Oktober 2020
SRI MELINDA
ix
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Halaman persetujuan ... ii
Halaman Pengesahan ... iv
Halaman Pernyataan Keaslian ... v
Halaman Abstrak (Bahasa Indonesia) ... vi
Halaman Abstract (Bahasa Inggris) ... vii
Prakata ... viii
Daftar Isi ... x
Daftar Tabel ... xii
Daftar Lampiran... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penulisan ... 5
D. Manfaat Penulisan ... 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Umum Tentang INA-CBGs ... 7
B. Kajian Umum Tentang Tarif INA-CBGs ... 17
C. Faktor Yang Menyebabkan Perbedaan Tarif ... 26
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 30
B. Pencarian Literatur ... 30
1. Kata Kunci (Keywords)... 30
2. Database Pencarian Literature ... 30
3. Strategi Pencarian Literature ... 31
4. Kreteria Inklusi Dan Ekslusi ... 31
5. Sintesis Hasil Literatur ... 32
6. Ekstraksi Data... 34
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil... 39
B. Pembahasan ... 52
BAB V PENUTUIP A. Kesimpulan ... 62
B. Saran ... 63 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
x
xi
DAFTAR TABEL
2.1 Kelebihan dan Kekurangan Metode Pembayaran Prospektif ... 9
2.2 Kelebihan dan Kekurangan Metode Pembayaran Retrospektif ... 9
2.3 Casemix Main Group ... 13
2.4 Group Tipe Kasus dalam INA-CBGs ... 15
2.5 Contoh Kode INA-CBGs ... 16
2.6 Harga Dasar Satuan Obat ... 25
3.1 Strategi Pencarian Literature Review... 31
3.2 Kriteria Inklusi dan Ekslusi ... 31
3.3 Hasil Ekstraksi Data Literature Review ... 34
4.1 Karakteristik Data Literature ... 40
4.2 Perbedaan Tarif INA-CBGs dengan Rumah Sakit ... 45
4.3 Faktor Perbedaan Tarif INA-CBGs dengan Rumah Sakit ... 49
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Lembar konsultasi karya tulis ilmiah Lampiran 2 : Lembar ujian akhir karya tulis ilmiah Lampiran 3 : Artikel-Artikel yang dijadikan referensi
Lampiran 4 : Riwayat Hidup Penulis
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kesehatan ialah suatu hal yang sangat penting dan mahal harganya.
Didalam era globalisasi seperti sekarang, banyak orang yang bersama-sama untuk menjaga dirinya agar tetap sehat. Peningkatan biaya kesehatan menjadi masalah utama bagi masayarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, salah satu cara yang dilakukan pemerintah dalam pembiayaan kesehatan ialah dengan pelaksanaan program Jamkesmas, yang merupakan upaya untuk menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu.(Oktamianiza, 2017).
Indonesia menargetkan pencapaian Cakupan Kesehatan Semesta (Universal Health Coverage) pada tahun 2019, artinya pada tahun tersebut rakyat Indonesia terjamin kesehatannya secara keseluruhan.Pelayanan kesehatan diperoleh dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) di rumah sakit (RS). Rumah Sakit terkena dampak perkembangan kesepakatan dunia dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang universal. Dalam sistem pembiayaan kesehatan di RS, Indonesia mengembangkan sistem Casemix pada Tahun
1
2006 dengan nama INA-DRG (Indonesia-Diagnosis Related Group).
Implementasi pembayaran RS dengan INA-DRG dimulai 1 September 2008 pada 15 rumah sakit vertikal. Pada September 2010 dilakukan perubahan nomenklatur dari INA-DRG menjadi INA-CBGs (Indonesia CaseBased Groups) seiring dengan perubahan grouper dari 3M Grouper ke UNU (United Nation University) Grouper. Tarif Indonesia Case Based Groups (INA- CBGs) bagi rumah sakit diterapkan sesuai Peraturan Menteri Kesehatan No.
59 Tahun 2014 (Lestari handayani,2018).
Penerapan tarif INA-CBGs selama berlakunya sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada 1 januari 2014, membawa pengaruh besar pada cara pembayaran yang diterapkan pada sebagian besar rumah sakit.
Pihak rumah sakit harus memahami pola pembayaran casemix tersebut supaya penetapan tarif dapat disesuaikan dengan unit cost yang lebih efektif dan efisien. (Thabrany, 2014).
Penetapan Tarif INA-CBGs membutuhkan proses panjang, dimulai dengan penghitungan unit cost yang dilakukan oleh Tim Tarif Kementerian Kesehatan. Dilakukan analisis data dasar dan data costing RS yang diperoleh dari sejumlah RS terpilih.Tarif INA-CBGs ialah rata-rata biaya yang diperlukan untuk suatu kelompok diagnosis yang terperinci untuk 5 regional, kelas rumah sakit, kepemilikan rumah sakit (pemerintah atau swasta).
Pengembangan pelayanan rumah sakit dengan pembiayaan atau pembayaran yang terstandar ini akan dapat memberikan banyak keuntungan baik bagi
pasien. penyedia pelayanan kesehatan dan pihak penyandang dana (Kementerian Kesehatan, 2014).
Sejak pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), banyak menghadapi permasalahan.Masyarakat mengeluhkan sulitnya mendapatkan pelayanan yang memadai. Pada saat akan melakukan pemeriksaan penunjang baik pemeriksaan laboratorium maupun radiologi kadang harus datang beberapa kali dikarenakan jatah biaya sudah melampaui paket INA-CBGs.
Tidak jarang terlihat pasien komplain pada saat mengambil obat di apotik yang disebabkan oleh obat yang tidak tersedia (kosong) ataupun jumlah obat yang diterima dirasakan pasien kurang. Di pihak lain, banyak rumah sakit yang mengeluh dengan besaran tarif pembiayaan yang diatur dalam Permenkes No 59 tahun 2014. Besaran tarif dalam peraturan tersebut dianggap terlalu kecil dan tidak sesuai dengan jasa medis, harga obat dan reagen atau bahan habis pakai terkini.Akibatnya dari sudut pandang pasien, timbul kesan bahwa pihak rumah sakit hanya memberikan pelayanan seadanya yang disertaiketidakramahan dari petugas kesehatan.Dari sederet permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan JKN 2014, yang paling banyak menyita perhatian banyak pihak terkait penyelenggaraan JKN adalah tentang tarif INA-CBGs (Hotma Dumaris,2016).
Pada perbedaan tarif riil rumah sakit dengan tarif INA-CBGs di RSUP Dr.M. Djamal Padang, tarif riilnya dihitung perincian jenis pelayanan, dalam hal ini standar tarifnya telah ditentukan dalam Peraturan Daerah. sedangkan
tarif INA-CBGs dihitung berdasarkan akumulasi atau penggabungan kode diagnose dan kode prosedur/tindakan kedalam software CBG, yang satandar tarifnya ditetapkan oleh pemerintah pusat (centre for casemix kemenkes RI).
Perbedaan tarif terlihat begitu jelas, karena standar tarif dalam peraturan daerah Sumbar khususnya untuk kasus PTCA jauh lebih tinggi dari pada tarif INA-CBGs, yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Hal tersebut terjadi karena tarif riil rumah sakit (Perda) disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat setempat.(Oktamianiza,2017).
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan“Literature Review Analisis Perbedaan Tarif Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs) Dengan Tarif Rumah Sakit”. PICO merupakan metode pencarian informasi klinis yang merupakan akronim dari 4 komponen : P (population/problem atau patient atau program, I (intervention prognostic faktor atau exsposure), C (comparison), O (outcome). Dengan menggunakan PICO kita dapat memastikan penelitian yang dicari sesuai dengan pertanyaan klinis. Pertanyaan klinis dalam literature review ini menggunakan format PICO yaitu P :aplikasi INA-CBG, I :-, C :perbedaan tarif, O : mengetahui perbedaan tarif.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam Literature Review ini adalah Apakah faktor yang menyebabkan perbedaan tarif INA-CBGs dengan tarif Rumah Sakit?
C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum
Mampu menguraikan ulasan mengenai perbedaan tarif INA-CBGs dengan tarif Rumah Sakit
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui perbedaan tarif INA-CBGs dengan tarif Rumah Sakit
b. Mengetahui faktor yang menyebabkan perbedaan tarif INA-CBGs dengan tarif Rumah Sakit
D. Manfaat Penulisan 1. Manfaat Teoritis
a. Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan atau sumber didalam mempelajari manajemen informasi kesehatan dan meningkatkan pengetahuan pada umumnya.
b. Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan dalam upaya evaluasi tarif INA-CBGs dengan tarif Rumah Sakit.
2. Manfaat Praktis
a. Dapat meningkatkan mutu pendidikan sehingga tercipta tenaga- tenaga profesi rekam medis dan informasi kesehatan yang professional.
b. Mendapat gambaran berbagai masalah yang ada dan nyata dalam sistem pembayaran INA-CBGs.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Umum Tentang INA-CBGs 1) Pengertian INA-CBGs
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 76 Tahun 2016 Tentang Pedoman Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs) dalam pelaksanaan jaminan kesehatan nasional.
Di Indonesia, metode pembayaran prospektif dikenal dengan case based payment (casemix), dan sudah diterapkan sejak tahun 2008 sebagai metode pembayaran pada program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Aplikasi INA-CBGs merupakan aplikasi yang digunakan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dimulai pada 1 Januari 2014. Aplikasi ini sebelumnya juga telah digunakan dalam program jaminan kesehatan yang dicanangkan oleh pemerintah seperti JAMKESMAS pada tahun 2010 dengan versi sebelumnya. Aplikasi INA-CBGs pertama kali dikembangkan dengan versi 1.5 yang berkembang sampai dengan saat ini menjadi versi 5 dengan pengembangan pada beberapa hal diantaranya :
a. Interface b. Fitur
7
c. Grouper
d. Penambahan variable e. Tarif INA-CBGs
f. Modul protocol integrasi dengan SIMRS serta BPJS
g. Rancang bangun pengumpulan data dari rumah sakit ke BPJS Kesehatan dan Kementrian Kesehatan RI
Pada aplikasi ini yang akan digunakan pada tahun 2016 telah mengalami perubahan yang cukup signifikan baik dari segi interface maupun rancang bangun alur pengiriman data. Aplikasi INA-CBGs sampai saat ini telah digunakan oleh rumah sakit, balai dan klinik yang melayani peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Terdapat dua metode pembayaran rumah sakit yang digunakan yaitu metode pembayaran retrospektif dan metode pembayaran prospektif. Metode pembayaran retrospektif adalah metode pembayaran yang dilakukan atas layanan kesehatan yang diberikan kepada pasien berdasar pada setiap aktifitas layanan yang diberikan,semakin banyak layanan kesehatan yang diberikan semakin besar biaya yang harus dibayarkan. Contoh pola pembayaran retrospektif adalah fee for service (FFS).Metode pembayaran prospektif adalah metode pembayaran yang dilakukan atas layanan kesehatan yang besarannya sudah diketahui sebelum pelayanan kesehatan diberikan.Contoh pembayaran prospektif adalah global budget, perdiem, kapitasi dan case based payment.
Tidak ada satupun sistem pembiayaan yang sempurna, setiap sistem pembiayaan memiliki kelebihan dan kekurangan.Berikut tabel perbandingan kelebihan sistem pembayaran prospektif dan retrospektif.
Tabel 2.1
Kelebihan dan Kekurangan metode pembayaran prospektif
PIHAK KELEBIHAN KEKURANGAN
Provider Pembayaran lebih adil sesuai dengan kompleksitas pelayanan
Kurangnya kualitas koding
akan menyebabkan
ketidaksesuaian proses grouping (pengelompokan kasus)
Proses klaim lebih cepat
Pasien Kualitas pelayanan baik Pengurangan kuantitas pelayanan
Dapat memilih provider dengan pelayanan terbaik
Provider merujuk ke luar/RS lain
Pembayar Terdapat pembagian resiko keuangan dengan provider
Memerlukan pemahaman mengenai konsep prospektif dalam implementasinya Biaya administrasi lebih
rendah
Memerlukan monitoring pasca klaim
Mendorong peningkatan sistem informasi
Tabel 2.2
Kelebihan dan Kekurangan metode pembayaran Retrospektif
PIHAK KELEBIHAN KEKURANGAN
Provider Resiko keuangan sangat kecil
Tidak ada insentif untuk yang memberikan preventif care
Pendapatan rumah sakit tidak terbatas
“Suplier induced-demand”
Pasien Waktu tunggu yang lebih singkat
Jumlah pasien di klinik
sangat banyak
“Overcrowded clinics”
Lebih mudah mendapat pelayanan dengan teknologi terbaru
Kualitas pelayanan kurang
Pembayar Mudah mencapai kesepakatan dengan provider
Biaya administrasi tinggi untuk proses kalim
Meningkatkan resiko keuangan
Sistem casemix adalah pengelompokan diagnosis dan prosedur dengan mengacu pada ciri klinis yang mirip/sama dan penggunaan sumber daya/biaya perawatan yang mirip/sama.Pengelompokan dilakukan dengan menggunakan software grouper.Sistem casemix saat ini banyak digunakan sebagai dasar sistem pembayaran kesehatan di negara-negara maju dan sedang dikembangkan di negara-negara berkembang.
Beberapa pengertian terkait sistem INA-CBGs sebagai metode pembayaran kepada FKRTL dalam pelaksanaan JKN :
a. Jaminan kesehatan adalah jaminan berupaperlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayarkan oleh pemerintah.
b. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan yang selanjutnya disingkat BPJS Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan.
c. Penyelenggara pelayanan kesehatan meliputi semua fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan berupa
fasilitas kesehatan tingkat pertama dan fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan.
d. Fasilitas kesehatan adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan perorangan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat.
e. Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) meliputi klinik utama atau yang setara, rumah sakit umum dan rumah sakit khusus.
f. Pelayanan kesehatan tingkaat lanjutan adalah upaya pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat spesialistik atau sub spesialistik yang meliputi rawat jalan tingkat lanjutan, rawat inap tingkat lanjutan, dan rawat inap diruang perawatan khusus.
g. Pelayanan Kesehatan Darurat Medis adalah pelayanan kesehatan yang harus diberikan secepatnya untuk mencegah kematian, keparahan dan/atau kecacatan sesaui dengan kemampuan fasilitas kesehatan.
h. Pelayanan kesehatan adalah pelayanan kesehatan komprehensif yang meliputi pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitative, pelayanan kesehatan darurat medis, pelayanan penunjang dan/atau pelayanan kefarmasian.
i. Pelayanan rawat inap adalah pelayanan kepada pasien untuk observasi, perawatan, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi, dan/atau pelayanan kesehatan lainnya dengan menempati tempat tidur.
j. Sumber daya adalah segala dukungan berupa material, tenaga, pengetahuan, teknologi dan/atau dukungan lainnya yang digunakan untuk menghasilkan manfaat dalam pelayanan kesehatan.
2) Struktur Kode INA-CBGs
Dasar pengelompokan dalam INA-CBGs menggunakan sistem kodifikasi dari diagnosis akhir dan tindakan/prosedur yang menjadi output pelayanan, dengan acuan ICD-10 Revisi Tahun 2010 untuk diagnosis dan ICD-9-CM Revisi Tahun 2010 untuk tindakan/prosedur. Pengelompokan menggunakan sistem teknologi informasi berupa aplikasi INA-CBGs sehingga dihasilkan 1.075 Group/kelompok Kasus yang terdiri dari 786 kelompok kasus rawat inap dan 289 kelompok kasus rawat jalan. Setiap group dilambangkan dengan kode kombinasi alphabet dan numeric dengan contoh sebagai berikut :
Gambar 1
Struktur Kode INA-CBGs
Kode INA-CBG : K-4-17-I
1 2
3 4
Keterangan:
a. Digit ke-1 (alfabetik) : menggunakan kode CMG (Casemix Main Groups)
b. Digit ke-2 (numeric) : menggambarkan tipe kelompok kasus (Case Groups)
c. Digit ke-3 (numeric) : menggambarkan spesifikasi kelompok kasus
d. Digit ke-4 (romawi) : menggambarkan tingkat keparahan kelompok kasus
Struktur Kode INA-CBGs terdiri atas : a. Casemix Main Groups (CMG)
Adalah klasifikasi tahap pertama yang dilabelkan dengan huruf Alphabet (A sampai Z) yang di sesuaikan dengan ICD 10 untuk setiap organ tubuh manusia. Terdapat 29 CMG dalam INA-CBGs yaitu:
Tabel 2.3 Casemix Main Group
NO Deskripsi Kode CMG Kode CMG 1 Central nervous system groups G
2 Eye and Adnexa Groups H
3 Ear, nose, mouth & throat Groups U
4 Respiratory system Groups J
5 Cardiovascular system Groups I
6 Digestive system Groups K
7 Hepatobiliary & pancreatic system Groups
B 8 Musculoskletal system & connective
tissue Groups
M 9 Skin, subcutaneous tissue & breast
Groups
L 10 Endocrine system, nutrition &
metabolism Groups
E
11 Nepro-urinary system Groups N
12 Male reproductive system Groups V 13 Female reproductive system Groups W
14 Deleiveries Groups O
15 Newborns & Neonates Groups P 16 Haemopoetic & immune system
Groups
D 17 Myeloproliferative system &
neoplasm Groups
C 18 Infectious & parasitic disease
Groups
A 19 Mental Health and Behavioral
Groups
F 20 Substance abuse & dependence
Groups
T 21 Injuries, poisonings & toxic effect of
drugs Groups
S 22 Factors influencing health status &
other contacts with health services Groups
Z
23 Sub-acute Groups SF
24 Special procedures YY
25 Special drugs DD
26 Special investigation II
27 Special prosthesis RR
28 Chronic Groups CF
29 Errors CMGs X
b. Case Group
Adalah sub-group kedua yang menunjukkan spesifikasi atau tipe kelompok kasus, yang dilabelkan dengan angka 1 (satu) samapai dengan 9 (Sembilan)
Tabel 2.4
Group Tipe Kasus dalam INA-CBGs
GROUP TIPE KASUS
1 Prosedur Rawat Inap
2 Prosedur Besar Rawat Jalan 3 Prosedur Signifikan Rawat Jalan 4 Rawat Ianap Bukan Prosedur 5 Rawat Jalan Bukan Prosedur 6 Rawat Ianap Kebidanan 7 Rawat Jalan Kebidanan 8 Rawat Inap Neonatal 9 Rawat Jalan Neonatal 0 Error
c. Case Type
Adalah sub-group yang menunjukkan spesifik CBG yang dilambangkan dengan numeric mulai dari 01 sampai dengan 99.
d. Severity Level
Adalah sub-group keempat yang menggambarkan tingkat keparahan kasus yang dipengaruhi adanya komorbiditas ataupun komplikasi dalam masa perawatan. Keparahan kasus dalam INA-CBGs terbagi menjadi :
1) “0”- untuk rawat jalan
2) “I”- Ringan untuk rawat inap dengan tingkat keparahan 1 (tanpa komplikasi maupun komorbiditi) 3) “II”- Sedang untukrawat inap dengan tingkat
keparahan 2 (dengan mild komplikasi dan komorbiditi)
4) “III”- Berat untuk rawat inap dengan tingkat keparahan 3 (dengan major komplikasi dan komorbiditi)
Tabel 2.5
Contoh kode INA-CBGs Tipe
Layanan
Kode INA-CBGs
Deskripsi Kode INA- CBGs
Rawat Inap
I-4-10-I Infark Miocard
Akut(ringan)
I-4-10-II Infark Miocard
Akut(sedang)
I-4-10-III Infark Miocard Akut(berat) Rawat
Jalan
Q-5-18-0 Konsultasi atau
pemeriksaan lain-lain Q-5-35-0 Infeksi akut
Istilah ringan, sedang dan berat dalam deskripsi dari kode INA-CBGs bukan menggambarkan kondisi klinis pasien maupun diagnosis atau prosedur namun menggambarkan tingkat keparahan (severity level) yang dipengaruhi oleh diagnosis sekunder (komplikasi dan komorbiditi).
B. Kajian Umum Tentang Tarif INA-CBGs
1. Pengertian Tarif INA-CBGs (PERMENKES 76 Tahun 2016)
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 76 Tahun 2016 Tentang Pedoman Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs) dalam pelaksanaan jaminan kesehatan nasional.Tarif INA- CBGs merupakan tarif paket yang meliputi seluruh komponen sumber daya rumah sakit yang digunakan dalam pelayanan baik medis maupun non-medis.
Penghitungan tarif INA-CBGs berbasis pada data costing dan data koding rumah sakit.Data costing merupakan data biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit baik operasional maupun investasi, yang didapatkan dari rumah sakit terpilih yang menjadi representasi rumah sakit.Sedangkan data koding diperoleh dari klaim JKN.
Tarif INA-CBGs yang digunakan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diberlakukan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan, dengan beberapa prinsip sebagai berikut :
a. Pengelompokan Tarif INA-CBGs
Pengelompokan tarif INA-CBGs dilakukan berdasarkan penyesuaian setelah melihat besaran Hospital Base Rate (HBR) yang didapatkan dari perhitungan total biaya dari sejumlah rumah
sakit. Apabila dalam satu kelompok terdapat lebih dari satu rumah sakit, maka digunakan Mean Base Rate
Berikut adalah kelompok Tarif INA-CBGs tahun 2016 :
1) Tarif rumah sakit umum pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo
2) Tarif Rumah Sakit Jantung dan Pembulu Darah Harapan Kita, Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, dan Rumah Sakit Kanker Dharmais.
3) Tarif Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Kelas A 4) Tarif Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Kelas B 5) Tarif Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Kelas C 6) Tarif Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Kelas D
Untuk rumah sakit yang belum memiliki penetapan kelas serta FKRTL selain rumah sakit , maka tarif INA-CBGs yang digunakan setara dengan kelompok tarif rumah sakit kelas D sesuai regionalisasi masing-masing.
b. Rs Khusus
Rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit atau kekhususan lainnya.
Dalam Program JKN berlaku perbedaan pembayaran kepada RS khusus untuk pelayanan yang sesuai kekhususannya dan pelayanan diluar kekhususannya, dimana :
1) Untuk pelayanan diluar kekhususan yang diberikan oleh Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh darah Harapan Kita, Rumah sakit Kanker Dharmais, berlaku kelompok tarif INA- CBGs Rumah Sakit Pemerintah Kelas A.
2) Untuk pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit khusus di luar kekhususannya, berlaku kelompok tarif INA-CBGs satu tingkat lebih rendah dari kelas rumah sakit yang ditetapkan.
Dalam implementasi INA-CBGs, yang dinyatakan sebagai pelayanan sesuai kekhususannya adalah jika kode diagnosis utama sesuai dengan kekhususan rumah sakit. Dalam halkode diagnosis yang sesuai kekhususannya merupakan kode asterisk dan diinput sebagai diagnosis sekunder maka termasuk kedalam pelayanan sesuai kekhususannya.
c. Pembayaran Tambahan (Top Up)
Terdapat pembayaran tambahan (Top Up) dalam sistem INA- CBGs untuk kasus-kasus tertentu yang masuk dalam special CMG, meliputi :
1) Special procedure
2) Special drug
3) Special investigation 4) Special prosthecis 5) Subacute cases 6) Chronic cases
Special CMG atau special group pada tarif INA-CBGs saat ini dibuat untuk mengurangi resiko keuangan rumah sakit. Top Up pada special CMG diberikan untuk beberapa obat, alat, prosedur, pemeriksaan penunjang serta beberapa kasus penyakit subakut dan kronis. Besaran nilai pada tarif special CMG tidak dimaksudkan untuk mengganti biaya yang keluar dari alat, bahan atau kegiatan yang diberikan kepada pasien, namun merupakan tambahan terhadap tarif dasarnya.
2. Pengertian Tarif INA-CBGs (PERMENKES 59 Tahun 2014)
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2014 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. Adapun Ketentuan Umum pada BAB I pasal 1 yang bebunyi :
a. Tarif Kapitasi adalah besaran pembayaran per-bulan yang dibayar dimuka oleh BPJS Kesehatan kepada fasilitas kesehatan tingkat pertama berdasarkan jumlah peserta yang terdaftar tanpa
memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan.
b. Tarif Non Kapitasi adalah besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada fasilitas kesehatan tingkat pertama berdasarkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan yang diberikan.
c. Tarif Indonesia-Case Based Groups yang selanjutnya disebut Tarif INA-CBGs adalah besaran pembayaran klaim oleh BPJS Kesehatan kepada fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan atas paket layanan yang didasarkan kepada pengelompokan diagnosis penyakit dan prosedur.
d. fasilitas kesehatan tingkat pertama yang selanjutnya disingkat FKTP adalah Fasilitas kesehatan yang melakukan pelayanan perorangan yang bersifat non spesialistik untuk keperluan observasi, promotif, preventif, diagnosis, perawatan, pengobatan, dan/atau pelayanan kesehatan lainnya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2014 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan. pada BAB III tentang Tarif pada FKRTL :
a. Pasal 15
1) Tarif pelayanan kesehatan di FKRTL ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara BPJS Kesehatan dengan Asosiasi Fasilitas Kesehatan dengan mengacu pada standar tarif INA-CBGs.
2) Sandar tarif INA-CBGs sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
b. Pasal 16
1) Tarif rawat jalan di FKRTL berupa klinik utama atau yang setara diberlakukan sama dengan tarif sebagaimana tercantum dalam standar Tarif INA-CBGs untuk kelompok rumah sakit kelas D.
2) Tarif rawat inap di FKRTL berupa klinik utama atau yang setara diberlakukan tarif sebesar 70% - 100% (tujuh puluh persen sampai dengan seratus persen) dari standar tarif INA- CBGs untuk kelompok rumah sakit kelas D yang besarannya sesuai kesepakatan antara BPJS Kesehatan dengan Asosiasi Fasilitas Kesehatan terkait.
c. Pasal 17
1) Tarif rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan diberlakukan tarif INA- CBGs berdasarkan kelas rumah sakit.
2) Dalam hal ruamah sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum memiliki penetapan kelas rumah sakit, tarif rawat jalan dan rawat inap disetarakan dengan tarif INA-CBGs rumah sakit kelas D
3) Terhadap pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit khusus sesuai kekhususannya, berlaku tarif sesuai kelas rumah sakit.
4) Dalam hal pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit khusus di luar kekhususannya, berlaku tarif rumah sakit satu kelas di bawah penetapannya.
d. Pasal 18
1) BPJS Kesehatan dapat memberikan pembayaran kepada FKRTL yang tidak bekerjasama yang melakukan pelayanan gawat darurat kepada peserta Jaminan Kesehatan Nasional.
2) Pelayanan gawat darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibayar sesuai tarif INA-CBGs berdasarkan penetapan kelas.
e. Pasal 19
1) Standar tarif untuk pemasangan pertama Continious Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) sesuai dengan tarif INA-CBGs.
2) Penggunaan Consumables dan jasa pada pelayanan CAPD dibayarkan sebesar Rp 5.940.000,00/bulan.
3) Penggunaan Transfer set pada pelayanan CAPD dibayarkan sebesar Rp 250.000,00/set.
f. Pasal 20
1) Obat penyakit kronis di FKRTL diberikan maksimum untuk 1 (satu) bulan sesuai indikasi medis.
2) Obat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk : a) Penyakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2)
yang belum dirujuk balik;
b) Penyakit kronis lain yang menjadi kewenangan FKRTL.
3) Obat sebagaimana dimaksud ayat (2) diberikan dengan cara : a) Sebagai bagian dari paket INA-CBGs, diberikan minimal
7 (tujuh) hari; dan
b) Bila diperlukan tambahan hari pengobatan, obat diberikan terpisah diluar paket INA-CBGs dan harus tercantum pada Formularium Nasional.
4) Obat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, diberikan melalui instalasi farmasi di FKRTL atau apotek yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.
5) Harga obat yang ditagihkan oleh instalasi farmasi di FKRTL atau apotek sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mengacu pada harga sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (6) ditambah faktor pelayanan kefarmasian.
6) Besarnya biaya pelayanan kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) adalah faktor pelayanan kefarmasian dikali harga dasar obat sesuai E-Catalogue atau harga yang ditetapkan oleh Menteri.
7) Faktor pelayanan kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (6)dengan ketentuan sebagai berikut :
Tabel 2.6
Harga Dasar Satuan obat
Harga Dasar Satuan Obat Faktor Pelayanan Kefarmasian
< Rp50.000,00 0,28
Rp50.000,00 sampai dengan Rp250.000,00
0,26
Rp250.000,00 sampai dengan Rp500.000,00
0,21
Rp500.000,00 sampai dengan Rp1.000.000,00
0,16
Rp1.000.000,00 sampai dengan Rp5.000.000,00
0,11
Rp5.000.000,00 sampai dengan Rp10.000.000,00
0,09
>Rp10.000.000,00 0,07
C. Faktor yang Menyebabkan Perbedaan Tarif
1. Diagnosa Utama
Diagnosa Utama adalah diagnosis yang ditegakkan oleh dokter pada akhir episode perawatan yang menyebabkan pasien mendapatkan perawatan atau pemeriksaan lebih lanjut. Untuk menentukan kode diagnosisnya yaitu menggunakan ICD (International Classification Of Diseases and Related Health Problems) 10 Revisi Tahun 2010 terdiri dari 3 volume dan 22 bab dengan rincian sebagai berikut :
a. Volume 1merupakan daftar tabulasi dalam kode alfanumerik tiga atau empat karakter dengan inklusi dan ekslusi, beberapa aturan pengkodean, klasifikasi morfologis neoplasma, daftar tabulasi khusus untuk morbiditas dan mortalitas, definisi tentang penyebab kematian serta peraturan mengenai nomenklatur.
b. Volume 2 merupakan manual instruksi dan pedoman penggunaan ICD-10.
c. Volume 3 merupakan indeks alfabetis, daftar komprehensif semua kondisi yang ada di daftar tabulasi (volume 1), daftar sebab luar gangguan (external cause), tabel neoplasma serta petunjuk memilih kode yang sesuai untuk berbagi kondisi yang tidak ditampilkan dalam Tabular list.
2. Diagnosis Sekunder
Diagnosis Sekunder adalah diagnosis yang meyertai diagnosis utama pada saat pasien masuk atau yang terjadi selama episode perawatan. Diagnosis sekunder merupakan komorbiditas dan/atau komplikasi. Untuk menentukan kode diagnosisnya yaitu menggunakan ICD (International Classification Of Diseases and Related Health Problems) 10 Revisi Tahun 2010 terdiri dari 3 volume dan 22 bab.
3. Prosedur Tindakan
Prosedur Tindakan adalah suatu pelayanan penunjang untuk mengetahui spesifikasi penyakit dari pasien. Untuk mengetahui kodenya yaitu dengan menggunakan ICD-9-CM (International Classification of Disease Revision Clinical Modification) revisi tahun 2010 terdiri dari 3 volume. Namun yang digunakan untuk mengkode tindakan/prosedur adalah volume 3
4. Episode
Episode adalah jangka waktu perawatan pasien mulai dari pasien masuk sampai pasien keluar rumah sakit baik rawat jalan maupun rawat inap, termasuk konsultasi/pemeriksaan dokter dan atau pemeriksaan penunjang maupun pemeriksaan lainnya. Untuk setiap episode hanya dapat dilakukan satu kali klaim.
a. Episode rawat jalan
Satu episode rawat jalan adalah satu rangkaian pertemuan konsultasi antara pasien dan dokter dan atau pemeriksaan penunjang sesuai indikasi medis dan atau tatalaksana yang diberikan pada hari pelayanan yang sama.
b. Episode rawat inap
Satu episode rawat inap adalah satu rangkaian perawatan mulai tanggal masuk sampai keluar rumah sakit termasuk perawatan di ruang rawat inap, ruang intensif, dan ruang operasi.
5. Tugas dan Tanggung Jawab
Untuk mendapatkan hasil grouper yang benar diperlukan kerjasama yang baik antara dokter dan koder. Kelengkapan rekam medis yang ditulis oleh dokter akan sangat membantu koder dalam memberikan kode diagnosis dan tindakan/prosedur yang tepat.
6. Severity Level
Adalah sub-group keempat yang menggambarkan tingkat keparahan kasus yang dipengaruhi adanya komorbiditas ataupun komplikasi dalam masa perawatan. Keparahan kasus dalam INA-CBG terbagi menjadi :
a. “0”- untuk rawat jalan
b. “I”- Ringan untuk rawat inap dengan tingkat keparahan 1 (tanpa komplikasi maupun komorbiditi)
c. “II”- Sedang untukrawat inap dengan tingkat keparahan 2 (dengan mild komplikasi dan komorbiditi)
d. “III”- Berat untuk rawat inap dengan tingkat keparahan 3 (dengan major komplikasi dan komorbiditi)
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah literature Review atau tinjauan pustaka.
Studi literature review adalah cara yang dipakai untuk mengumpulkan data atau sumber yang berhubungan pada sebuah topik tertentu yang biasa ditemukan dari berbagai sumber seperti jurnal, internet, dan pustaka lainnya.
Jenis penelitian yang dilakukan oleh penulis ialah review dengan metode observasi dan deskriptif.
B. Pencarian literature 1. Kata kunci
Kata kunci yang digunakan dalam pencarian jurnal ini adalah Perbedaan tarif INA-CBGs dengan Rumah Sakit. Hal ini telah sesuai dengan judul yang akan diangkat oleh peneliti yakni “Analisis Perbedaan Tarif INA-CBGs Dengan Tarif Rumah Sakit”
2. Database Pencarian
Dalam menemukan jurnal yang terkait dengan judul yang akan diangkat oleh peneliti, maka peneliti menggunakan database pencarian jurnal nasional seperti Google Schoolar dan Garuda.
30
3. Strategi Pencarian
Penelusuran artikel publikasi pada Google Schoolar dan Garuda menggunakan kata kunci yakni “Perbedaan tarif INA-CBGs dengan Rumah Sakit”.Artikel atau jurnal yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi diambil untuk selanjutnya di analisis melalui analisis judul jurnal, tujuan penulisan, metode penulisan dan hasil penulisan. Literature Review ini menggunakan artikel terbitan tahun 2015-2020 yang dapat diakses full text dalam format pdf.
Tabel 3.1
Strategi pencarian Literature Review
Database Pencarian Strategi Pencarian
Google Schoolar Perbedaan tarif INA-CBGs
dengan Rumah Sakit
Garuda Perbedaan tarif INA-CBGs
dengan Rumah Sakit
4. Kriteria Inklusi dan Ekslusi
Kriteria inklusi dan ekslusi yang diambil oleh peneliti sesuai dengan judul yang diangkat oleh peneliti yaitu “Literature Review Analisis Perbedaan Tarif INA-CBGs dengan Tarif Rumah Sakit”.
Tabel 3.2
Kriteria Inklusi dan Ekslusi
INKLUSI EKSLUSI
Artikel tahun 2015-2020 Faktor yang menyebabkan perbedaan tarif INA-CBGs
dengan Rumah Sakit
Jurnal abstrak
Perbedaan tarif INA-CBGs dengan Rumah sakit
5. Sintesis Hasil Literature
a. Hasil pencarian Literature
Berdasarkan hasil pencarian jurnal di database yang akan digunakan pada literature ini didapatkan hasil 15 jurnal dengan rincian yaitu 14 jurnal pada Google Scholar, 1 jurnal pada Garuda. Setelah dilakukan seleksi pada 15 jurnal berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi maka tersisa 12 jurnal yang memenuhi kriteria. Dan dari 12 jurnal hanya 9 jurnal yang full text sedangkan 3 jurnal dalam bentuk abstrak.
b. Daftar Artikel yang Memenuhi Kriteria
1) Unit Cost Rumah Sakit dan Tarif INA-CBGs : sudahkah pembiayaan pelayanan kesehatan rumah sakit dibayar dengan layak? di 84 RSU yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU) dan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)
2) Perbedaan Biaya Riil dan Tarif INA-CBGs untuk Kasus Katastropik dengan Penyakit Jantung Koroner pada Pasien Rawat Inap peserta Jaminan Kesehatan Nasional di RSUZA
3) Analisis Perbedaan Tarif Rumah Sakit dan Tarif INA- CBG Pelayanan Rawat Jalan di RSUD Budhi Asih 4) Analisis Tarif Rumah Sakit Dibandingkan dengan
Tarif Indonesia Case Based Groups Pada Pasien Rawat Inap Peserta Jaminan Kesehatan Nasional di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta.
5) Penyebab Peebedaan Tarif INA-CBGs Pada Kasus Sectio Caesarean Dengan Indikasi Malpresentasi di RSUD Tugurejo Kota Semarang
6) Analisis Perbedaan Traif Klaim Indonesia Case Base Group (INA-CBG) Berdasarkan Kelengkapan Diagnosis dan Prosedur Medis Rawat Bersama Trisemester 1 di RSUD Kota Yogyakarta
7) Perbedaan Tarif Riil dan INA-CBG’S Penyakit Talasemia Diruang Perawatan anak RSUP Sanglah Bali.
8) Faktor-faktor Penyebab Perbedaan Tarif Riil Rumah Sakit dengan Tarif INA-CBGs Pada Kasus Pecutaneous TRansliminal Coronary Anggioplasty (PTCA) di RSUP DR.M. Djamil Padang.
9) Disparitas Tarif INA-CBGs dan TarifRumah Sakit Pasien BPJS Rawat Inap di RSUD Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara
6. Ekstraksi Data
Tabel 3.3
Hasil Ekstraksi data Literature Review No Judul, Nama
Peneliti, Tahun
Desain Penelitian
Perbedaan Tarif Faktor yang menyebabkan perbedaan tarif INA-
CBGs
Rumah Sakit
Selisih
1. Perbedaan tarif riil dan INA- CBGS penyakit Talasemia di ruang perawatan
anak RSUP
sanglah Bali, A.A.Made Wijaya Kusuma
dan ketut
Ariawati, 2017
Deskriptif Rp.
2.453.72 1.030
Rp.
1.918.93 6.440
Rp.
534.78 4.590
Hal ini dapat disebabkan karena pada lama rawat lebih dari 3 hari, terdapat diagnosis sekunder yang menambah derajat keparahan.
Penambahan kode diagnosis dan prosedur dari diagnosis sekunder tersebut dapat menambah tarif INA-CBGs 2. perbedaan biaya
riil rumah sakit dan tarif INA- CBGs untuk kasus
katastropik
Observationa l analitik dengan rancangan penelitiannya yaitu
Rp.
444.715.
600
Rp.
1.977.66 9.924
Rp.
532.95 4.324
Dilatar
belakangi oleh perbedaan standar tarif yang diterapkan, lama dirawat,
dengan penyakit jantung koroner pada pasien rawat inap peserta Jaminan Kesehatan Nasional di RSUZA,
Lilissuriani, Irwan Saputra, dan Mahlil ruby, 2017
retrospektif keberadaan
software, dan ketepatan pengodean diagnosis/prosed ur.
3. Analisis
perbedaan tarif rumah sakit dan tarif INA-CBG pelayanan rawat jalan di RSUD Budhi Asih, Hotma Dumaris, 2015
Deskriptif- analitik, kuantitatif dan kualitatif
Rp.
278.676, 05
Rp.
221.682, 79
Rp.
56.993, 26
Pada beberapa kode ada yang jauh lebih besar daripada tarif RS dimana pada kode INA- CBG’s tersebut s seluruh kasus menghasilkan selisih positif yang besar 4. Analisis tarif
rumah sakit dibandingkan dengan tarif Indonesian Case Based Groups pada pasien rawat inap peserta jaminan kesehatan
nasional
dirumah sakit Pemerintah dan Swasta,
Indriyati Oktaviano Rahayuningrum, Didik Gunawan Tantomo, Arief Suryono, 2017
Observatinal analitik, kuantitatif, dengan pendekatan Cross sectional
Rp.
3.060.00 0
Rp.
2.280.00 0
Rp.
780.00 0
Tarif rumah sakit lebih rendah dari tarif INA-CBGs.
Jenis RS, kelas perawatan, penggunaan icu, lama perawatan meningkatkan tarif RS
5. Penyebab
perbedaan tarif INA-CBGS pada kasus sectio caesarean dengan indikasi malpresentasi di RSUD Tugurejo Kota Semarang, Faik
Agiwahyuanto, Indriati, 2018
Deskriptif dengan metode observasi
- - - Yang
mempengaruhi perbedaan tarif pasien section caesarean adalah kelas
perawatannya dan tingkat keparahannya/se verity level
6. Analisis
perbedaan tarif klaim Indonesia
Case Base
Groups (INA- CBGs)
berdasarkan kelengkapan diagnosis dan prosedur medis pasien rawat bersama
trisemester 1 di
RSUD Kota
Yogyakarta, Retno Nurhidayati, 2015
Observasi, Pre-
eksperimenta l design dengan rancangan One Shot Case Study
Rp.
452.982.
000,00
Rp.
624.304.
363,00
Rp.
171.32 2.363,0 0
Faktor-faktor yang
menimbulkan perbedaan tarif klaim INA- CBGs sebelum dan sesudah dilengkapi yaitu Naik dari severity level 1 ke 2, naik dari severity level 2 ke 3, naik dari severity level1 ke 3, dan ketidaktelitian koder.
7. Unit cost rumah sakit dan tarif INA-CBGs : sudahkah
pembiayaan pelayanan kesehatan rumah sakit dibayar dengan layak ?di 84 RSU yang berstatus Badan Layanan Umum
(BLU) dan
Komparasi yaitu
perbandingan
Rs A Kelas 1:
23.866.8 25 Rs B Kelas 1:
16.518.6 25 Rs C Kelas 1:
23.866.8 25
Rs A Kelas 1:
16.088.7 34 Rs B Kelas 1:
6.056.37 8 Rs C Kelas 1:
16.088.7 34
Kesalahan dalam
pemberian kode diagnosa baik diagnosa primer maupun
diagnosa
sekunder/kompli kasi oleh
petugas
koding (koder) juga akan mempengaruhi
Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Lestari Handayani, Suharmiati, Niniek Lely Pratiwi, 2018
hasil nilai Keakuratan penetapan diagnosa akan berdampak pada ketepatan penetapan kelompok Tarif INA-CBGs4.
Kemungkinan yang lain adalah tentang
pembuatan daftar tarif paket INA-CBGs 3.1 oleh pemerintah yang belum seimbang dengan realita biaya perawatan di rumah sakit 8. Faktor-faktor
penyebab
perbedaan tarif real rumah sakit dengan tarif INA-CBGs pada kasus
Pecutaneous Transluminal Coronary Anggioplasty
(PTCA) di
RSUP Dr.M.
Djamil Padang, Oktamianiza, 2017
Deskriptif, pendekatan penelitian adalah Cross Sectional
- - - Faktor penyebab
perbedaan tarif yaitu
ketidaktepatan penulisan
diagnose 74,0%, tingkat
keparahan penyakit severity level 3 64% dan lama rawat pasien tidak efisien 70,0%
9. Disparitas tarif INA-CBGs dan tarif rumah sakit pasien BPJS rawat inap di RSUD
Deskriptif, Observasi
VIP : 5,865,80 0 Kelas 1:
5,865,80
VIP : 7,131,20 0 Kelas 1:
6,293,94
VIP : 1,265,4 00 Kelas 1:
Rumah sakit dituntut menerapkan clinical pathway agar tidak terjadi variasi dalam
Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara, Sartika Dewi, andresta Meliala dan Anastasia Susty
Ambarriani, 2019
0 Kelas 3:
4,888,20 0
4 Kelas 3:
6,148,05 6
428,14 4 Kelas 3:
1,259,8 56
pelayanan yang dapat
mempengaruhi besaran tarif.
Tarif INA-CBG lebih rendah dari unit cost untuk pelayanan bedah section ceacar pada kelas Vip, kelas 1 dan kelas 3
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Karakteristik Data Literature
Pada bab ini penulis mendeskripsikan beberapa sumber dari literature tentang perbedaan tarif INA-CBGs dengan rumah sakit. Penulis melakukan pencarian dan pengumpulan jurnal ilmiah pada periode tahun 2015-2020.
Berdasarkan hasil pencarian artikel akan dijelaskan dan diuraikan dari setiap artikel yang telah diperoleh. Hasil pencarian disajikan dalam bentuk tabel yang berisi rangkuman dari setiap artikel yang telah didapatkan.
39
Karakteristik Data Literature No
.
Nama penulis (Tahun)
Nama Jurnal (Vol,No)
Judul Metode (Design, Populasi, Variabel)
Hasil Penelitian Sumber Database
1. A.A.Made Wijaya
Kusuma dan ketut Ariawati, (2017)
[1]
Jurnal Penelitian dan
pengemban gan
pelayanan kesehatan, Vol. 2 (2)
Perbedaan tarif riil dan INA-CBGs penyakit Talasemia di ruang perawatan anak RSUP sanglah Bali
Deskriptif, sampling, pasien talasemia
Nilai positif yang diterima rumah sakit, namun bila ditinjau dari kasus perkasus, terdapat 68 kasus (21,7%) yang mengalami nilai negatif atau defisit selama perawatan
Google Scholer
2. Lilissuriani, Irwan Saputra, dan Mahlil ruby, 2017 [2]
Jukema (Jurnal Kesehatan Masyarakat Aceh), Vol.
3 (1)
perbedaan biaya riil rumah sakit dan tarif INA-CBGs untuk kasus katastropik dengan penyakit jantung koroner pada pasien rawat inap peserta Jaminan Kesehatan
Nasional di RSUZA
Observationa l analitik dengan rancangan penelitiannya yaitu
retrospektif, metode suevei dengan pendekatan cross sectional
Total tarif Rs unit pelayanan rawat inap untuk kasus katastropik penyakit jantung koroner bulan pelayanan januari hingga agustus adalah Rp1.977.669.924,-lebih besar dari tarif INA-CBGs. RS juga mengalami kerugian sebesar 27%
dimana total tarif rumah sakit ternyata lebih besar dibandingkan total tarif INA-CBGs. Namun karena rumah sakit menaikkan 50% maka terbukti rumah sakit mendapat keuntungan sebesar
Google Scholer
40
pasien JKN rawat inap penyakit jantung koroner
CBGs
3. Hotma
Dumaris, 2015 [3]
Jurnal Administras i Rumah Sakit
Indonesia,V ol. 3(1)
Analisis perbedaan tarif rumah sakit dan tarif INA- CBGs pelayanan rawat jalan di RSUD Budhi Asih
Kuantitatif dan kualitatif yangbersifat deskriptif- analitik Populasi:
direksi,para kepala bidang dan kepala unit
Dari 2384 kasus pelayanan rawat jalan, terdapat 645 (27,05%) kasus yang total besaran tarif rumah sakitnya lebih besar dari tarif INA-CBGs, yang berarti menghasilkan selisih negatif.
sementara sebanyak 1739 (72,95%)kasus dengan besaran tarif rumah sakitnya lebih kecil atau sama dengan tariff INA- CBGs, yang menghasilkan selisih positif.
Google Scholer
4. Indriyati Oktaviano Rahayuningru m, Didik Gunawan Tantomo, Arief Suryono, 2017
[4]
Prosiding Seminar Nasional &
Internationa l, Vol. 1 (1)
Analisis tarif rumah sakit dibandingkan dengan tarif Indonesian Case Based Groups pada pasien rawat inap peserta jaminan kesehatan nasional dirumah sakit Pemerintah dan
Kuantitatif menggunaka nstudi observational dengan pendekatan cross sectional Populasi : Catatan
Mean tarif INA-CBGs lebih tinggi daripada mean tarif RS. selisih tariff antara INA-CBG dan RS adalah Rp.780.000. Mean lama perawatan 4.08 hari dengan lama perawatan 1-14 hari. pada analisis univariat, selain deskripsi tariff dan lama perawatan juga didapatkan deskripsi variabel kelas perawatan, tingkat keparahan dan penggunaan ICU
Google Scholer
41
yang telah diverifikasi oleh BPJS 5. Faik
Agiwahyuanto, Indriati, 2018 [5]
Jurnal Kesehatan Masyarakat , Vol. 19 (1)
Penyebab
perbedaan tarif INA-CBGS pada kasus sectio caesarean dengan indikasi
malpresentasi di RSUD Tugurejo Kota Semarang
Deskriptif dengan metode observasi,
DRM dan
lembar hasil klaim pasien kasus section caesarean
Berdasarkan kode INA-CBGs pada lembar hasil klaim dari 39 sampel pasien section caesarean, menunjukkan bahwa severity level 1 yaitu ringan sebesar 94,8%
dan severity level II yaitu sedang sebesar 5,1%
Kode INA-CBGs yaitu O-6-10-I sebanyak 94,8% dank ode INA- CBGs O-6-10-II sebanyak 5,1%
Google Scholer
6. Retno Nurhidayati, 2015
[6]
Program Studi Kesehatan Masyarakat universitas Muhammad iyah
Surakarta
Analisis perbedaan tarif klaim Indonesia Case Base Groups (INA- CBGs) berdasarkan kelengkapan
diagnosis dan prosedur medis pasien rawat bersama
trisemester 1 di
RSUD Kota
Yogyakarta
Observasi, eksperimen One Shot Case Study, Simple Random Sampling Populasi : Berkas
Rekam Medis
1. angka kelengkapan diagnosis dan prosedur medis pada formulir resume medis sebesar 53,5%.
2. Terdapat perbedaan 27,5% dari data tarif riil dibandingkan dengan tarif klaim INA-CBGs terdapat selisih negatif anatara tarif klaim INA-CBGs dengan tarif riil total tarif riil yang dikeluarkan rumah sakit menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan tarif klaim INA-CBGs
Google Scholer
7. Lestari Buletin Unit cost rumah Kuantitatif Penghitungan unit cost penelitian Google
42
Suharmiati, Niniek Lely Pratiwi, 2018 [7]
Sistem Kesehatan, Vol. 21(4)
CBGs : sudahkah pembiayaan
pelayanan
kesehatan rumah sakit dibayar dengan layak ? di 84 RSU yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU) dan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)
pendekatan kualitatif, step down
tarif INA-CBGs tahun 2016 sehingga tarif INA-CBGs tahun 2016 sudah merefleksikan biaya actual pelayanan atau sudah cukup adil untuk diterapkan. tarif yang merefleksikan biaya actual pelayanan akan mendorong RS memenuhi kebutuhan medis yang diperlukan pasien serta memberikan reward kepada RS yang telah melakukan pelayanan dengan outcome memuaskan 8. Oktamianiza,
2017 [8]
Menara Ilmu.
Vol.12 (3)
Faktor-faktor penyebab
perbedaan tarif real rumah sakit dengan tarif INA-CBGS
pada kasus
Pecutaneous Transluminal Coronary Anggioplasty (PTCA) di RSUP Dr.M. Djamil Padang
Deskriptif, cross sectional
Populasi:
berkas rekam medis
Secara keseluruhan terjadinya perbedaan tarif riil rumah sakit dengan tarif INA-CBGs pasien JKN dengan kasus PTCA sebesar 50 kasus
Garuda
9. Sartika Dewi, andresta
Meliala dan
Jurnal Kebijakan Kesehatan
Disparitas tarif INA-CBGs dan tarif rumah sakit
Deskriptif, observasi,pas ien section
Setiap bulannya menunjukkan disparitas tarif yang cukup tingg.
sesuai dengan jumlah pasiennya
Google Scholer
43
Susty Ambarriani, 2019
[9]
Vol. 8 (2) inap di RSUD Kolonodale,
Kabupaten Morowali Utara
I terlihat paling tinggi selisih tarifnya antara tarif INA-CBGs dan tarif rumah sakit yaitu sebesar Rp.-61,765,977, severity level II sebesar Rp.-41,176,636 dan severity level III sebesar Rp.- 7,596,731.
44
Berdasarkan pada tabel diatas, tarif INA-CBGs yang lebih kecil dari tarif Rumah sakit terdapat pada hasil penelitian Hotma Dumaris (2015) [3], Retno Nurhidayati (2015) [6] dan Sartika Dewi, Andresta Meliala dan Anastasia Susty Ambarriani (2019) [9]. tarif INA-CBGs yang lebih besar atau setara dari tarif Rumah sakit terdapat pada hasil penelitian A.A.Made Wijaya kusuma dan Ketut Ariawati (2017) [1], Lilissuriani, Irwan Saputra, dan Mahlil Ruby (2017) [2], Indriyati Oktaviano Rahayuningrum, Didik Gunawan Tantomo, Arief Suryono (2017) [4] dan Lestari Handayani, Suharmiati, Niniek Lely Pratiwi (2018) [7]. Adapun yang membahas Faktor Perbedaan Tarif terdapat pada hasil penelitian Faik Agiwahyuanto dan Indriati (2018) [5], Oktamianiza (2017) [8].
2. Perbedaan Tarif INA-CBGs dengan rumah sakit Tabel 4.2
Perbedaan tarif INA-CBGs dengan Rumah Sakit
No Judul Perbedaan Tarif
persentase INA-CBGs RS SELISIH
1 Perbedaan tarif riil dan INA- CBGS penyakit Talasemia di ruang perawatan
anak RSUP
sanglah Bali [1]
Rp.
2.453.721.03 0
Rp.
1.918.936.4 40
Rp.
534.784.590
21,7%
2 perbedaan biaya riil rumah sakit dan tarif INA- CBGs untuk
Rp.444.715.6 00
Rp.1.977.66 9.924
Rp.532.954.
324
26,9%
kasus katastropik dengan penyakit jantung koroner pada pasien rawat inap peserta Jaminan Kesehatan Nasional di RSUZA
[2]
3 Analisis
perbedaan tarif rumah sakit dan tarif INA-CBGs pelayanan rawat jalan di RSUD Budhi Asih [3]
Rp.
278.676,05
Rp.
221.682,79 Rp.
56.993,26
20,4%
4 Analisis tarif rumah sakit dibandingkan dengan tarif Indonesian Case Based Groups pada pasien rawat inap peserta jaminan kesehatan
nasional
dirumah sakit Pemerintah dan Swasta
[4]
Rp.
3.060.000
Rp.
2.280.000
Rp. 780.000 25,4%
5 Penyebab
perbedaan tarif INA-CBGS pada kasus sectio caesarean dengan indikasi malpresentasi di RSUD Tugurejo
- - -
Kota Semarang [5]
6 Analisis
perbedaan tarif klaim Indonesia
Case Base
Groups (INA- CBGs)
berdasarkan kelengkapan diagnosis dan prosedur medis pasien rawat bersama
trisemester 1 di
RSUD Kota
Yogyakarta [6]
Rp.
452.982.000, 00
Rp.
624.304.363 ,00
Rp.
171.322.363 ,00
27,4%
7 Unit cost rumah sakit dan tarif
INA-CBG :
sudahkah pembiayaan pelayanan kesehatan rumah sakit dibayar dengan layak ? di 84 RSU Badan Layanan Umum (BLU)
dan Badan
Layanan Umum Daerah (BLUD) [7]
Rs A Kelas 1:
23.866.825 Rs B Kelas 1:
16.518.625 Rs C Kelas 1:
23.866.825
Rs A Kelas 1:
16.088.734 Rs B Kelas 1:
6.056.378 Rs C Kelas 1:
16.088.734
Rs A Kelas 1:
7.778.091 Rs B Kelas 1:
10.462.247 Rs C Kelas 1:
7.778.091
32,5%
63,3%
32,5%
8 Faktor-faktor penyebab
perbedaan tarif real rumah sakit dengan tarif INA-CBGS pada kasus Pecutaneous
- - -