RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Daring/Luring Mata pelajaran : Bahasa Indonesia
Sekolah : SMAS Advent Nusra Kelas/Semester : XI / Ganjil
A. Kompetensi Inti
KI-1 dan KI-2: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan pro-aktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara,
kawasan regional, dan kawasan internasional”.
KI 3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah
keilmuan Kompetensi Dasar
3.8. Mengidentifikasi nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam kumpulan cerita pendek yang dibaca
4.8. Mendemonstrasikan salah satu nilai kehidupan yang dipelajari dalam cerita pendek Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan belajar selesai, peserta didik dapat menguasai materi cerpen dengan
menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong), kerja sama,
toleran, damai), memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni
budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusia, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian materi cerpen yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah
kongkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari materi cerpen yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah
keilmuan. Menghayati dan mengamalkan materi cerpen sebagai bentuk penghayatan dan pengamalan ajaran agama yang dianutnya.
Indikator Hasil Pembelajaran
Peserta didik diharapkan mampu menentukan unsur intrinsik, ekstrinsik, dan nilai-nilai dalam cerpen serta menerapkan nilai-nilai dalam cerpen ke dalam kehidupan sehari-hari.
Mempresentasikan (video, powerpoint, Whatssup grup, menempel di madding kelas, atau presentasi langsung) dan memperbaiki hasil kerja dalam diskusi kelas.
Metode Pembelajaran Metode Pembelajaran
Pendekatan : Scientific Learning
Model Pembelajaran : Discovery Learning (Pembelajaran Penemuan) dan Problem Based Learning (Pembelajaran Berbasis
Masalah)/proyek Penilaian
- Sikap
- Pengetahuan - Keterampilan - Proyek
Mengetahui, Noelbaki, 11 September 2022
Kepala SMA Swasta Advent Nusra Guru Mata Pelajaran
Nelly Thene, S.Pd., MA.Ed Walkhot Silalahi, S.Pd., MM
Tentukanlah Nilai-nilai yang terkandung dalam 2 teks cepren berikut!
DI IKAT BUNA
Kecintaanku terhadap karya cipta Atonimnasi serta kerjasama dengan Femnasi menghasilkan buah cinta yang dapat dirasakan oleh mereka yang membelaiku. Perpaduan corak warna Mutis diimpit celah karang yang terjal. Celah-celah gunung yang di daki untuk mencari pewarna alami dari dedaunan dan pohon-pohon besar. Keringat yang meleleh membasahi sekujur tubuh Atonimnasi tak menyurutkan niatnya untuk melengkapi warna guna membuat tenun ikat khas daerah. Tiada hari yang terlewatkan tanpa mencari bahan pewarna sedangkan Femnasi disibukkan mengolah pewarna dan mencelupkan benang sesuai dengan warna yang diinginkan. Pekerjaan memintal benang, mengurai benang dan menjadikannya satu kepaduan warna bukanlah pekerjaan yang mudah. Membutuhkan ketekunan dan kejelian dalam merangkainya.
Kecintaan Femnasi ibarat cinta yang tulus seorang ibu kepada anak kandungnya, memberikan yang terbaik walau lupa makan yang penting anak bisa makan dan bangga memiliki ibu yang memperhatikan kebutuhannya.
Buna adalah sapaanku, setiap kali pendatang selalu menanyakan akan kelebihanku. Yah, banyak yang merindukanku, dan rindu membelaiku bahkan tak sengan-sengan untuk merangkulku sekuat tenaga seolah-olah melepas rindu yang dalam. Femnasi tak bisa berbuat banyak, mau ditahan sampai harga cocok kebutuhan dapur berteriak, mau menahan takut tak bisa bekerja sebagaimana biasa maklumlah hanya bisa mengharapkan hal kecil untuk dapur mengebul. Himpitan ekonomi lemah yang menyebabkanku tak berdaya, tak mampu bersaing secara nasional maupun internasional karena dayaku ibarat lampu 5 watt.
Jelas-jelas tak mampu bersaing dengan lampu 45 watt, bukan dari segi terangnya tapi dari segi kemampuan untuk menunjukkan diri ke dunia luar terhalang oleh himpitan ekonomi rendah.
Bayangkan, hanya membuat warnaku supaya jangan cepat pudar itu membutuhkan berhari-hari mulai dari perpaduan jenis rempah, kayu-kayuan dan dedaunan. Celup jemur kemudian celup lagi, jemur lagi celup lagi dan jemur lagi berulang-ulang sampai warnanya paten. Cinta yang tulus dari seorang Femnasi yang memperhatikan keeratan ikatan kasih sayang dalam memadu pewarnaan juga rumah tangga. Sejurus kemudian aku diikatkan pada cetakan oleh Femnasi, ditarik dipintal dan tarik lagi menjadi satu kesatuan perpaduan warna itu membutuhkan satu bulan lebih dan aku baru jadi dengan lembaran kain kurang dari satu meter. Ikatan yang begitu erat sampai maut memisahkan, jika sudah jadi helai tubuhku Femnasi tersenyum, lelahnya terbayarkan ketika dapat pujian dari Atonimnasi, senyum kebahagiaan terpancar dari raut wajah mereka berdua. Femnasi dan Atonimnasi belum juga dikaruniai penerus keluarga mungkin karena ketekunan mereka memperkenalkan diriku kepada dunia luar. Walau tak sebanding hargaku dengan tenaga Femnasi yang memintalku jadi berharga. Satu helai tubuhku di bayar hanya dua ratus sampai tiga ratus ribu, jika helai tubuhku mencapai satu meter paling tinggi dibayar lima ratus ribu rupiah. Aku dibungkus dan dibawa ke negeri yang tak ku kenal, aku dipajang dan kembali diperjualbelikan. Aku disejajarkan dengan
helai kain yang berbeda corak dan ragamnya, dalam himpitan itu terkadang tubuhku disentuh dan ditawarkan dengan harga yang cukup menantang. Seratus dolar, mungkin karena ongkos kirimnya mungkin sudah diperhitungkan oleh Tuanku yang baru. “Au nan on me?” walau ku tak tahu arti dari ucapan Femnasi, namun itu terus melekat dalam diriku. Ingatanku selalu kepada Femnasi dan Atonimnasi, aku rindu belaian tangannya sewaktu diriku diwarnai, dan dipadukan menjadi helai tubuh yang berarti. Aku rindu terhadap tangan yang kuat, mencengkram bagian tubuhku dalam perpaduan warna dari Femnasi.
Jauh dari negeri asalku terasing dalam dekapan tangan lembut dan ruang yang tertata dalam khas negeri asing. Walau terasing, namun ku tetap mampu meraih perhatian setiap orang kaya aku dikalungkan pada bagian tubuh majikanku. “I like your dress” walau ku tak mengerti bahasa itu namun ketika ku lihat bahwa majikanku tersenyum dan menjawab, “Thank You. This form East Nusa Tenggara. The name is Buna.
The hand made creation natural color and all this made hand” lagi-lagi ku tak mengerti apa yang disampaikan namun jika ku amati apa yang disampaikan oleh majikanku. Senyum kemenangan, walau Atonimnasi dan Femnasi tak bisa selepas senyum majikanku yang baru ini, kasihan mereka yang ada di negeri kelahiranku. Buna diikat oleh rasa, dioles oleh kasih, dan dibelai dengan penuh kasih sayang. Buna terlahir dari kaki-kaki gunung Mutis dikerjakan dengan penuh keriangan walau Buna di hargai dengan harga murah Femnasi dan Atonimnasi tetap berkomitmen untuk mengenalkanku ke negeri yang jauh lewat Bos yang datang dengan kemengahan berbalut kemurahan, aku tetap Buna yang terlahir untuk ciri khas daerahku dilingkaran gunung Mutis. Ijinkan ku mengikatmu dengan ikatan Buna.
Femnasi sapaan hormat kepada Kaum Ibu.
Atonimnasi sapaan hormat kepada Kaum Bapa.
Au artinya saya
nan artinya jadi
on me artinya bagaimana?
Medio 7 Maret 2021 Walkhot Silalahi Jalanan Sejati
Beralih status dari berbagai kasus bukan menambah status pengangguran, keluyuran, jalan-jalan, penuhi kepuasan diri. Tidak pernah berpikir untuk beralih status, merasa nyaman dengan membuat berbagai kasus.
Malam dibuat siang, siang dibuat malam. Merayap di tepi jalan seolah-olah jalanan jadi istana kemewahan bahagia hingga tak mau beranjak dari status pengangguran jalanan. Wita tak lagi muda, berputar searah jam kehidupan. Wita gemar dengan jalanan yang mana status diri sebagai penguasa jalan. Kota Kembang kota seribu bunga, menebar keharuman menusuk kepribadian yang kurang dipedulikan. Wita bagai bunga mawar tumbuh mengeluarkan bunga mawar walau ada di antara duri kehidupan. Pribadi Wita senyum tulus di raut wajah, menangis dalam hati. “Kenapa status jalanan ini ku sandang?” tak pernah ada yang tahu apa kerinduan Wita, apa impian Wita, apa yang menjadi target untuk mengubah stastus kehidupan.
“Hai gadis bersenyum manis walau lebih sering sadis.” Juan menyapa.
“Ah, ngak asik tu ngelar yang kau beri.” Jawab Wita.
“Gelar yang mana?” sanggah Juan.
“Bersenyum manis walau lebih sering sadis. Lihat ni, wajah ku manis tanpa meringis.” Wita berupaya menenangkan diri walau ada benarnya apa yang dikatakan oleh Juan.
“Wita teman sependeritaan, walau belum pernah tidur berduaan.” Juan mulai dengan kalimat-kalimat pujangga pamungkas. Biasanya jika Juan mengucapkan kalimat ini berarti ada kegalauan atau resah yang mendalam dalam dirinya.
“Wei, pujangga kesiangan. Ada angin apa gerangan di benakmu sehingga dirimu mengucapkan kalimat itu?”
dahi Wita berkerut ingin tahunya tulus sebagai seorang sahabat yang mengerti kelemahan Juan.
“Tadi malam sewaktu ngamen di dalam bus Parahyangan ada bisikan halus yang menggugah jiwaku.” Juan menundukkan kepala seraya mencoba menghitung debu yang dia taburkan. “Juan, gelisah sih gelisah tapi tidak harus menghirup debu kali di siang hari gini.” Wita mencoba menghindar dari debu yang diterbangkan angin. “Bisikan ? aneh kamu Juan.” Wita melanjutkan pernyataannya. “Ganteng-ganteng dan cantik masa cari hidup di jalanan gini? Suara lirih salah seorang penumpang mungil malam tadi.” Juan menerangkan.
“Penumpang mungil?” Wita mencoba mengingat penumpang mungil di dalam bus parahyangan. “Sudahlah memang kita dihidupi jalanan. Mau tidak mau harus terima setiap cibiran pengguna jalanan. Dewasa dong, Juan.” Wita mencoba menenangkan pikiran Juan. Juan menjelaskan kegelisahannya, “Yang membuatku gelisah adalah kapan berhenti mendengar pernyataan seperti itu?” secara spontan Wita menjawab,”Disaat kamu memilih keluar dari jalanan. Pada saat itulah kamu keluar dari cibiran atau ejekan yang memilukan.”
Pernyataan Wita bagai sebilah pisau yang menusuk jantung Juan. Terdiam dalam pikiran masing-masing, musik jalanan terdengar menemani alur pikiran Wita dan Juan. Mobil lalu lalang, motor berkejaran di terik mentari jadi tontonan gratis buat Wita dan Juan. “Andaikan aku dulu rajin sekolah, menghargai nasihat Mama mungkin aku bukan anak jalanan sekarang ini. Mungkin statusku guru, atau insinyur.” Sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak ada guna. “Hai langit, bumi kenapa aku terlahir tidak sesempurna dirimu?”
hati kecilku menyusun frase mengungkit makna yang seorang pun tak mendengar. Wita memandangku, sahabat jalanan yang kukenal beberapa tahun lalu. Anak jalanan yang tidak merokok, ngelem, bahkan minum-minuman berarkohol. Datang pagi sekitar pukul 9 pulang paling lama pukul 9 malam. Dua belas jam selalu bersama, kadang lagu rindu, kadang lagu sendu. Dari lagu-lagi yang dinyanyikan tidak menunjukkan ada yang disembunyikan dalam kepribadian masing-masing. Berteduh di kios kecil diperempatan Pasir Koja, kadang naik bus menuju terminal Pasir Panjang, lebih seringnya bus AC menuju Sukabumi, Bogor, Jakarta, dan Merak. Untuk menghindari rebutan dengan teman jalanan lainnya aku dan Juan lebih sering mengalah karena prinsip kami berdua adalah rezeki itu sudah di atur oleh Allah.
“Juan, ada bus Arimbi.” Tanpa dikomando, kami berlari menuju bus yang berhenti dengan gitar okulele menemani kami. “Ya selamat siang buat om, tante, kakak, adik juga bapa mama. Kenalkan kami pengamen jalanan menemani perjalanan anda menuju terminal.” Alunan melodi okulele menemani salam pembukaku, sejurus kemudian Juan menyanyikan lagu, Salam Rindu buat Mama. Penumpang terbawa emosi dengan mengikuti lirik lagu bernyanyi bersama Juan. Lagu ke dua Ayah, pas masuk refrain penumpang turut bersenandung. Memang Juan punya ciri khas tersendiri dalam memilih lagu. “Nak, kenapa tidak suruh itu nyong ikut lomba artis dadakan yang di TV.” Celetuk Bapak berambut keriting dengan dialek seperti orang Ambon. Aku hanya bisa tersenyum simpul mendengar usulan Bapa berambut keriting. Yah, turun dengan penuh senyuman karena kantong yang kujalankan sebagai bayaran dari lagu yang dinyanyikan dari deretan bangku depan ke belakang hampir semua deretan memberikan uang kertas tidak ada uang koin.
Penggalan cepen Jalanan Sejati ditulis oleh Walkhot Silalahi