1
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT karena Laporan Analisis Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat Kabupaten Mojokerto 2017 dapat terselesaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai baseline dari IPKM di Kabupaten Mojokert dimana dalam buku ini ditampilkan perkembangan status kesehatan masyarakat kabupaten Mojokerto berdasarkan beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui keadaan pembangunan kesehatan masyarakat di Kabupaten Mojokerto. Laporan ini merupakan hasil penelitian kerja sama antara Departemen Statistika, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dengan Pemerintah Kabupaten Mojokerto.
Dengan laporan ini, maka diharapkan Pemerintah Kabupaten Mojokerto dapat mengambil kebijakan atau langkah lebih lanjut terkait pembangunan kesehatan di Kabupaten Mojokerto. Akhir kata, kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan hingga terselesaikannya Laporan ini. Kami menyadari bahwa meskipun telah berupaya maksimal, namun masih banyak kekurangan yang dijumpai. Oleh karena itu kami menyampaikan permohonan maaf.
Masukan dan saran akan kami terima dengan tangan terbuka. Semoga inisiasi kerjasama di tahun 2018 ini dapat berlanjut ke depannya.
Surabaya, November 2018 Hormat kami,
Tim Penyusun
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... 1
DAFTAR ISI ... 2
DAFTAR GAMBAR ... 3
DAFTAR TABEL ... 4
DAFTAR LAMPIRAN ... 5
BAB I. PENDAHULUAN ... 6
1.1 Latar Belakang ... 6
1.2 Tujuan ... 8
1.3 Manfaat ... 8
BAB II. LANDASAN TEORI ... 9
2.1 Kerangka Konsep Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat 9 2.2 Penentuan Indikator IPKM ... 10
2.3 Definisi Operasional Indikator IPKM Kabupaten Mojokerto ... 10
2.4 Bobot Indikator IPKM ... 15
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN... 19
3.1 Sumber Data ... 19
3.2 Langkah Pengelolaan dan Analisa Data ... 19
3.3 Perhitungan IPKM Kabupaten Mojokerto ... 21
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23
4.1 Analisis Kelompok Indikator ... 23
4.2 Kelompok Indikator Kesehatan Balita ... 24
4.3 Kesehatan Reproduksi... 24
4.4 Pelayanan Kesehatan ... 25
4.5 Perilaku Kesehatan ... 27
4.6 Penyakit Tidak Menular ... 28
4.7 Penyakit Menular ... 29
4.8 Kesehatan Lingkungan ... 30
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 31
5.1 Kesimpulan ... 31
5.2 Saran ... 32
3
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1Indeks Kelompok Indikator ... 23
Gambar 4.2 Kelompok Indikator Kesehatan Balita ... 24
Gambar 4.3 Kelompok Indikator Kesehatan Reproduksi ... 25
Gambar 4.4 Kelompok Indikator Pelayanan Kesehatan ... 26
Gambar 4.5 Kelompok Indikator Perilaku Kesehatan ... 27
Gambar 4.6 Kelompok Indikator Penyakit Tidak Menular ... 28
Gambar 4.7 Kelompok Indikator Penyakit Menular ... 29
Gambar 4.8 Kelompok Indikator Kesehatan Lingkungan ... 30
4
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Kelompok Indikator IPKM ... 10
Tabel 2.2Bobot Masing-masing Indikator IPKM... 16
Tabel 3.1 Perhitungan Indikator IPKM Kabupaten Mojokerto 2017 ... 19
Tabel 3.2 Perhitungan IPKM Kabupetan Mojokerto Tahun 2017 ... 21
5
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Prevalensi Balita Gizi Buruk dan Kurang ... 37
Lampiran 2 Cakupan Penimbangan Balita ... 38
Lampiran 3 Cakupan Kunjungan Neonatal ... 39
Lampiran 4 Cakupan Imunisasi Lengkap ... 40
Lampiran 5 Proporsi KB (MKJP) ... 41
Lampiran 6 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K4)... 42
Lampiran 7 Persalinan Oleh Tenaga Medis ... 43
Lampiran 8 Kecukupan Jumlah Dokter ... 44
Lampiran 9 Kecukupan Jumlah Posyandu ... 45
Lampiran 10 Kecukupan Jumlah Bidan ... 46
Lampiran 11 Prevalensi Hipertensi ... 47
Lampiran 12 Proporsi Obesitas Sentral ... 48
Lampiran 13 Prevalensi Sakit Gigi dan Mulut ... 49
Lampiran 14 Prevalensi Pneumonia Balita ... 50
Lampiran 15 Prevalensi Diare... 51
Lampiran 16 Proporsi Akses Sanitasi ... 52
Lampiran 17 Proporsi Kecukupan Air Bersih ... 53
6 BAB I.
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Arah pembangunan kesehatan jangka panjang dicantumkan secara ringkas dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Pembangunan bidang kesehatan tersebut merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, sesuai dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan yang menetapkan bahwa setiap orang berhak atas kesehatan. Kebijakan pembangunan kesehatan, terutama diarahkan pada: (1) peningkatan jumlah jaringan dan kualitas sarana dan prasarana kesehatan; (2) peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan; (3) pengembangan sistem jaminan kesehatan terutama bagi penduduk miskin; (4) peningkatan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat; (5) peningkatan pendidikan kesehatan pada masyarakat sejak usia dini; (6) pemerataan dan peningkatan kualitas fasilitas kesehatan dasar dan sebaran tenaga kesehatan. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Menurut UU Kesehatan, bahwa setiap hal yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada masyarakat Indonesia akan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi negara. Derajat kesehatan merupakan investasi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang RPJPN Tahun 2005-2025 dinyatakan bahwa dalam rangka mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing, maka kesehatan bersama-sama dengan pendidikan dan peningkatan daya beli masyarakat adalah tiga pilar utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Komposit dari tiga pilar utama ini selanjutnya dikenal dengan nama Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Salah satu ukuran yang sering digunakan untuk membandingkan keberhasilan pembangunan sumber daya manusia antar negara adalah Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia
7
(IPM). Indeks tersebut merupakan indikator komposit yang terdiri dari:
indikator kesehatan (umur harapan hidup waktu lahir), pendidikan (angka melek huruf dan sekolah) serta ekonomi (pengeluaran riil per kapita). IPM sekarang sudah dipakai sebagai acuan untuk menilai keberhasilan pembangunan. Oleh karena itu prioritas pembangunan selalu diarahkan pada upaya peningkatan IPM di wilayahnya.
IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat) adalah indikator komposit yang menggambarkan kemajuan pembangunan kesehatan, dirumuskan dari data kesehatan berbasis komunitas yaitu:
Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar)
Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional)
Survei Podes (Potensi Desa)
IPKM merupakan indeks komposit yang dirumuskan dari 24 indikator kesehatan (tahun 2007) dan 30 indikator kesehatan (tahun 2017). IPKM pertama (tahun 2007) yang dikembangkan oleh Balitbangkes didasarkan pada data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2007 dan Survei Potensi Desa (Podes) 2008. IPKM jilid pertama telah menjadi dasar pengambil kebijakan di pusat maupun di tingkat pemerintahan kabupaten/kota. IPKM 2007 yang terdiri dari 24 indikator terpilih dikembangkan menjadi 30 indikator pada IPKM 2013 dengan tujuan memperkaya informasi indikator yang mendukung dasar pengambil kebijakan pembangunan bidang kesehatan.
IPKM menggambarkan kemajuan pembangunan kesehatan dan menentukan peringkat suatu daerah dalam keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat. Dengan pengembangan IPKM diharapkan dapat dirumuskan indikator komposit dari berbagai indikator kesehatan berbasis komunitas yang menggambarkan keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat. Laporan IPKM Kabupaten Mojokerto menggunakan perhitungan IPKM tahun 2013.
8 1.2 Tujuan
Dengan pengembangan IPKM diharapkan dapat memperkaya informasi indikator kesehatan yang dapat menggambarkan keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat.
1.3 Manfaat
Berikut adalah manfaat dari perhitungan IPKM:
1. Sebagai Indikator untuk menentukan peringkat Kabupaten/ Kota dalam keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat.
2. Sebagai Dasar perencanaan program pembangunan kesehatan di kabupaten/kota
3. Sebagai bahan advokasi ke Pemerintah Daerah (Kabupaten/ Kota) agar terpacu menaikkan peringkatnya, sehingga sumber daya dan program kesehatan diprioritaskan.
4. Sebagai salah satu kriteria penentuan alokasi dana bantuan kesehatan dari pusat ke daerah dan dari Provinsi ke Kabupaten/
Kota
9
BAB II.
LANDASAN TEORI
2.1 Kerangka KonsepIndeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat yang dikemabangkan di Indonesia mengacu pada prioritas pembangunan kesehatan dan informasi masalah yang diperoleh dari survey nasional. indikator utama pembangunan kesehatan mempunyai beberapa faktor determinan yang berkaitan satu sama lain dan dapat bersifat determinan dari indikator kunci kesehatan. Secara umum, faktor determinan kesehatan mencakup aspek perilaku dan lingkungan yang mendukung. Faktor perilaku dipengaruhi oleh aspek sosial, ekonomi, budaya dan demografi. Program kesehatan pada dasarnya prioritanya a mengarah pada penyelesaian besaran masalahyang berkaitan dengan populasi, tingkat keparahan dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat yanglebih baik.
Salah satu model pendekatan kesehatan yang digunakan adalah model determinan sosial kesehatan yang mencakup berbagai tingkatan ekologi seperti kesehatan usia dini, peran kelaurga, masyarakat serta system pelayanan. Kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan satu sama lain, sehingga untuk meningkatkan kesehatan masyarakat berarti mempertimbangkan juga determinan yang mempengaruhi baik dari aspek sosial, budaya, ekonomi, biologi dan psikologi.
Berdasarkan model determinan sosial kesehatan, dikembangkan lebih lanjut menjadi kerangka konsep pengembangan IPKM. Indikator utama pembangunan kesehatan yang digunakan mencakup kesehatan balita, kesehatan reproduksi, pelayanan kesehatan, perilaku, penyakit tidak menulat, penyakit menular dan kesehatan lingkungan. Indikator- indikator tersebut dihubungkan dengan faktor determinan kesehatan seperti determinan sosial, ekonomi dan demografi.
10 2.2 Penentuan Indikator IPKM
Penentuan indikator yang digunakan untuk menghitung IPKM Kabupaten Mojokerto sesuai dengan indikator yang digunakan untuk menghitung IPKM diterbitkan oleh badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI tahun 2014. Dimana pada perhitungan IPKM Nasional tersebut indikator yang digunakan mengalami perubahan dengan indikator yang digunakan untuk menghitung IPKM tahun 2007. Pada perhitungan IPKM Kabupaten Mojokerto indikator yang digunakan disesuaikan dengan perkembangan yaitu mengikuti IPKM tahun 2013, yaitu jumlah indikator yang digunakan ada 30 indikator yang dikelompokkan menjadi 7 kelompok indikator. Setiap kelompok indikator akan dihitung nilai sub indeks, hasil sub indeks ini dapat memberikan baik buruknya kondisi kesehatan di Kabupaten Mojokerto tahun 2017. Nilai indeks yang mendekati 1 menunjukkan kondisi kesehatan yang baik. Berikut adalah kelompok indaktor IPKM
Tabel 2.1 Kelompok Indikator IPKM
No. Kelompok Indikator Jumlah Indikator
1 Kesehatan balita 6
2 Kesehatan Reproduksi 3 3 Pelayanan Kesehatan 5
4 Perilaku Kesehatan 5
5 Penyakit Tidak Menular 6
6 Penyakit Menular 3
7 Kesehatan Lingkungan 2
Total 30
2.3 Definisi Operasional Indikator IPKM Kabupaten Mojokerto a. Kelompok Indikator kesehatan Balita
1. Balita gizi buruk dan kurang
Perbandingan berat badan dan umur. Buruk dan kurang jika mempunyai nilai Z score kurang dari -2 SD (WHO,2005)
2. Balita sangat pendek dan pendek
Perbandingan tinggi badan dan umur. Sangat pendek dan pendek jika mempunyai nilai Z score kurang dari -2 SD (WHO, 2005)
11 3. Balita gemuk
Perbandingan berat badan dan tinggi badan. Gemuk jika mempunyai nilai Z score di atas 2 SD (WH0,2005)
4. Penimbangan balita
Balita yang pernah ditimbang dalam 6 bulan terakhir (Depkes,2008a & Kemenkes, 2010b)
5. Kunjungan neonatal (KN) 1
Balita yang pernah mendapat pelayanan kesehatan pada 6 jam – 48 jam pertama setelah lahir (Depkes, 2008b; Kemenkes, 2010b ; & Kemenkes, 2010c)
6. Imunisasi lengkap
Jenis dan frekuensi imunisasi yang telah diperoleh anak umur 12-59 bulan. Lengkap jika anak tersebut telah diimunisasi 1 kali BCG dan minimal 3 kali DPT dan minimal 2 kali Polio dan 1 kali Campak (Depkes, 2005; Kemenkes, 2010b & Kemenkes, 2010d)
b. Kelompok Indikator Kesehatan Reproduksi 1. Penggunaan alat kotrasepsi (MJKP)
Penggunaan alat kontrasepsi dengan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yaitu sterilisasi pria, sterilisasi wanita, IUD/AKDR/Spiral, diafragma, susuk/implant pada pasangan usia subur umur 15-49 tahun (Kemenkes, 2013).
2. Pemeriksaan kehamilan (K4:1-1-2)
Frekuensi pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan minimal dilakukan 1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester kedua, dan 2 kali pada trimester ketiga (Depkes, 2008c; Kemenkes, 2010b; & Kemenkes, 2010e).
3. Kurang Energy Kronis (KEK) pada WUS
Kurang Energi Kronis (KEK) pada wanita usia subur umur 15- 49 tahun (hamil dan tidak hamil), jika lingkar lengan atas yang diukur pada saat penelitian di bawah 23,5 cm (Depkes, 1994 &
Depkes, 1996).
12
c. Kelompok Indikator Pelayanan Kesehatan
1. Persalinan oleh tenaga medis kesehatan di fasilitas kesehatan Proses persalinan dibantu tenaga kesehatan dan dilaksanakan di fasilitas kesehatan dengan unit analisis balita. Tenaga kesehatan yang dimaksud adalah dokter kandungan, dokter umum, dan bidan. Fasilitas kesehatan yang dimaksud adalah RS pemerintah, RS swasta, Rumah Bersalin, Klinik, Praktek Nakes, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, dan Polindes/
Poskesdes (Depkes, 2008c).
2. Proporsi kecamatan dengan kecukupan jumlah dokter per penduduk
Proporsi kecamatan dalam satu kabupaten yang memiliki kecukupan rasio dokter per jumlah penduduk kecamatan.
Rasio dokter cukup jika dalam 1 kecamatan memiliki minimal 1 dokter per 2.500 penduduk (Kemenkes, 2010e).
3. Proporsi desa dengan kecukupan jumlah posyandu per desa Proporsi desa dalam satu kabupaten yang memiliki kecukupan rasio posyandu per desa. Rasio posyandu cukup jika dalam 1 desa memiliki jumlah posyandu minimal 4 posyandu (Kemenkes, 2010e).
4. Proporsi desa dengan kecukupan jumlah bidan per penduduk Proporsi desa dalam satu kabupaten yang memiliki kecukupan rasio jumlah bidan per jumlah penduduk desa. Rasio jumlah bidan cukup jika dalam 1 desa memiliki minimal 1 bidan per 1.000 penduduk (Kemenkes, 2010f)
5. Kepemilikan Jaminan Pelayanan Kesehatan
Penduduk yang memiliki minimal satu jenis jaminan pelayanan kesehatan. Jenis jaminan yang dimaksud adalah Askes/JPK PNS/Veteran/Pensiun, JPK Jamsostek, Asuransi Kesehatan Swasta, Tunjangan Kesehatan Perusahaan, Jamkesmas, Jamkesda (Kemenkes, 2010d).
13
d. Kelompok Indikator Perilaku kesehatan 1. Merokok
Kebiasaan merokok pada penduduk umur 10 tahun ke atas selama 1 bulan terakhir. Kebiasaan merokok adalah apabila merokok dilakukan setiap hari atau kadang-kadang (WHO, 2012a).
2. Kebiasaan mencuci tangan
Kebiasaan cuci tangan benar pada penduduk umur 10 tahun ke atas, yaitu mencuci tangan menggunakan sabun pada saat sebelum menyiapkan makanan dan setiap kali tangan kotor (memegang uang, binatang, berkebun) dan setelah buang air besar dan setelah menceboki bayi dan setelah menggunakan pestisida/insektisida dan sebelum menyusui bayi (Kementerian Kesehatan, 2011a).
3. Buang Air Besar (BAB) di jamban
Kebiasaan buang air besar pada penduduk umur 10 tahun ke atas. BAB benar jika mempunyai kebiasaan buang air besar di jamban (Depkes, 2009).
4. Aktifitas Fisik
Kebiasaan aktifitas fisik pada penduduk umur 10 tahun ke atas.
Aktivitas fisik cukup adalah individu yang melakukan aktivitas fisik berat atau sedang atau keduanya dalam seminggu berdasarkan kriteria WHO GPAQ (Global Physical Activity Questionaire). Aktivitas fisik berat adalah aktivitas yang dilakukan secara terus menerus minimal sepuluh menit selama minimal tiga hari dalam satu minggu dengan total waktu beraktivitas >= 1500 MET minute.MET minute aktivitas fisik berat adalah lamanya waktu (menit) melakukan aktivitas dalam satu minggu dikalikan bobot sebesar 8 kalori. Aktivitas fisik sedang apabila melakukan aktivitas fisik sedang (menyapu,
14
mengepel, dll) minimal lima hari dengan total lamanya beraktivitas 150 menit dalam satu minggu (WHO, 2012b).
5. Menggosok gigi
Kebiasaan menggosok gigi setiap hari pada penduduk umur 10 tahun ke atas. Kebiasaan menggosok gigi dengan benar jika dilakukan sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam (Depkes, 2002).
e. Kelompok Indikator Penyakit Tidak Menular 1. Hipertensi
Penduduk umur 15 tahun yang diukur sistol dan diastolnya pada saat penelitian. Hipertensi adalah jika tekanan darah sistol lebih besar sama dengan 140 mmHg atau tekanan darah diastol lebih besar sama dengan 90 mmHg (National Institute of Health, 2004).
2. Cedera
Penduduk semua umur yang pernah mengalami cedera dalam 12 bulan terakhir sehingga kegiatan sehari-hari terganggu (WHO, 1992).
3. Diabetes Mellitus
Penduduk umur 15 tahun ke atas yang pernah didiagnosis menderita kencing manis oleh dokter (ADA, 2011).
4. Gangguan Mental (Kesehatan Jiwa)
Penduduk umur 15 tahun ke atas yang pernah mengalami gangguan kesehatan jiwa. Gangguan kesehatan jiwa ditetapkan menggunakan metode SQR-20. Kesehatan jiwa terganggu jika mempunyai skor 6 ke atas (Lewis, G.H., Thomas, H.V., Cannon, M. & Jones. P.B., 2001)
5. Obesitas Sentral
Penduduk umur 15 tahun ke atas (kecuali ibu hamil) yang diukur lingkar perut pada saat penelitian. Batasan obesitas sentral yang digunakan adalah lingkar perut pada perempuan 80 cm ke atas dan pada laki-laki 90 cm ke atas (WHO, 2000)
15 6. Kesehatan gigi dan mulut
Penduduk semua umur yang mempunyai masalah dengan gigi dan / atau mulut dalam 12 bulan terakir (Kemenkes, 2011a) f. Kelompok Indikator penyakit Menular
1. Pneomonia Balita
Balita yang didiagnosis pneumonia atau mengalami gejala pneumonia dalam 1 bulan terakhir.
2. Diare
Penduduk semua umur yang didiagnosis diare atau mengalami gejala diare oleh tenaga kesehatan dalam 2 bulan terakhir 3. Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) Balita
Balita yang pernah didiagnosis menderita ISPA oleh tenaga kesehatan atau mengalami gejala sakit ISPA dalam 1 bulan terakhir (Kemenkes, 2012b)
g. Kelompok Indikator Kesehatan Lingkungan 1. Akses Sanitasi
Akses sanitasi diukur berdasarkan kepemilikan dan jenis fasilitas buang air besar. Akses sanitasi baik apabila rumah tangga menggunakan fasilitas tempat buang air besar milik sendiri dan jenis kloset leher angsa (WHO, UNICEF, 2013) 2. Akses Air Bersih
Penggunaan air bersih perkapita dalam rumah tangga. Akses air bersih baik jika rumah tangga menimal menggunakan 20 liter per orang per hari dan berasal dari air ledeng / PDAM atau air ledeng eceran/membeli atau sumur bor/pompa atau sumur gali terlindung atau mata air terlindung (WHO,2014).
2.4 Bobot Indikator IPKM
Penentuan bobot setiap indikator berdasarkan 4 (empat) unsur yaitu : 1. Keterpaparan (besar dan luas masalah yang ada di masyarakat) 2. Dampak ( dampak terhadapa status kesehatan)
3. Urgensi (perlu kecepatan untuk dilakukan penanganan)
4. Sulit diatasi (masalah kesehatan yang tidak mudah diselesaikan).
16
Pemberian bobot diawali dengan memberi bobot satu untuk setiap indiaktor. Selanjutnya, tiap indikator mendapatkan tambahan bobot sesuai dengan penilaian empat unsur diatas.
Sehingga, jika keempat unsur diatas terpenuhi maka indikator tersebut akan mempunyai bobot sebesar lima (bobot tertinggi).
Berikut adalah bobot untuk setiap indiaktor berdasarkan IPKM 2013.
Tabel 2.2Bobot Masing-masing Indikator IPKM
No. Indikator Bobot Kategori
Bobot 1. Kesehatan Balita
1 Balita gizi buruk dan kurang 5 Mutlak 2 Balita sangat pendek dan pendek 5 Mutlak
3 Balita gemuk 4 Penting
4 Penimbang balita 4 Penting
5 Kunjungan neonatal 4 Penting
6 Imunisasi lengkap 4 Penting
2. Kesehatan Reproduksi
7 Penggunaan alat kontrasepsi (MJKP) 5 Mutlak 8 Pemeriksaan kehamilan (K4:1-1-2) 5 Mutlak 9 Kurang Energi Kronik (KEK) pada WUS 5 Mutlak
3. Pelayanan Kesehatan
10 Persalinan oleh nakes di Faskes 4 Penting 11 Proporsi kecamatan dengan kecukupan
jumlah dokter per penduduk 5 Mutlak 12 Proporsi desa dengan kecukupan
jumlah
Posyandu per desa
4 Penting 13 Proporsi desa dengan kecukupan
jumlah
bidan per penduduk
3 Perlu 14 Kepemilikan Jaminan Pelayanan
Kesehatan 4 Penting
4. Perilaku Kesehatan
15 Merokok 4 Penting
16 Cuci tangan dengan benar 3 Perlu 17 Buang air besar di jamban 3 Perlu
18 Aktivitas fisik cukup 3 Perlu
19 Menggosok gigi dengan benar 3 Perlu 5. Penyakit Tidak Menular
20 Hipertensi 5 Mutlak
17
No. Indikator Bobot Kategori
Bobot
21 Cedera 5 Mutlak
22 Diabetes Mellitus 5 Mutlak
23 Gangguan Mental 4 Penting
24 Obesitas Sentral 4 Penting
25 Sakit Gigi dan Mulut 4 Penting
6. Penyakit Menular
26 Pneumonia balita 5 Mutlak
27 Diare 4 Penting
28 ISPA balita 4 Penting
7. Kesehatan Lingkungan
29 Akses Sanitasi 3 Perlu
30 Akses Air Bersih 3 Perlu
2.5 Tinjauan Statistika
Statistika deskriptif adalah statistika yang berkaitan dengan meringkas informasi dari datat atau sampel yang dikumpulkan. Cara-cara sederhana untuk mengolah data yang terdiri atas pembuatan grafik dan perhitungan mengenai ukuran pemusatan dan sebaran data. Dengan cara-cara ini dapat diperoleh informasi mengenai data anata lain pola atau bentuk, pemusatan dan sebaran data serta hubungan antar data. Namun dalam statistika diskriptif data yang diperoleh tidak dapat diambil kesimpulan. Dalam statistika deskriptif dikenal istilah ukuran pemusatan data dan ukuran penyebaran data.
Ukuran pemusatan data yang paling sering digunakan adalah nilai Mean, Median dan Modus. Mean adalah rata-rata dari beberapa buah data, nilai mean dapat ditentukan dengan membagi jumlah data dengan banyaknya data (Walpole, 1995). Mean didenotasikan dengan x.Median adalah nilai tengah sehingga 50% data dibawah median dan 50% diatas median. Untuk menghitungnya data disusun terlebih dahulu. Median merupakan nilai sentral dari sebuah distribusi frekuensi sampel. nilai sedemikian merupakan nilai sentral berhubung dengan posisi sentral yang dimilikinnya dalam distribusi sampel tersebut. Tidak mengherankan jika median juga dinamakan rata-rata posisi (positional average). Secara teoritis, median membagi seluruh jumlah observasi atau pengukuran
18
sampel ke dalam dua bagian yang sama. Penentuan median disusun mulai dari data terkecil sampai data terbesar. Median gugus data yang telah diurutkan dari yang terkecil sampai terbesar atau sebaliknya adalah pengamatan yang tepat ditengah-tengah bila banyaknya pengamatan itu ganjil atau rata-rata kedua pengamatan yang tengah bila yang tengah bila banyaknya genap (Walpole,1995). Modus segugus pengamatan adalah nilai yang sering terjadi paling sering muncul atau yang mempunyai frekuensi paling tinggi (Walpole, 1995).
Berikut adalah rumus untuk mencari mean, median dan modus dari data secara berturut-turut.
𝒙 = 𝒏𝒊=𝟏𝒙𝒊 𝒏
𝑴𝒆 = 𝑸𝟐=
𝒙𝒊+𝟏 𝟐
𝒋𝒊𝒌𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏𝒋𝒊𝒍 𝒙𝒊
𝟐
+ 𝒙𝒊 𝟐+𝟏
𝟐 𝒋𝒊𝒌𝒂𝒏𝒈𝒆𝒏𝒂𝒑
𝑴𝒐 = 𝐋 + 𝐢 𝐛𝟏 𝐛𝟏+ 𝐛𝟐 Keterangan :
𝒙 = Mean 𝑴𝒆 = Median 𝑴𝒐 = Modus 𝒙𝒊 = Data ke-i
𝒏 = Banyaknya data
𝐋 = Tepi bawah kelas yang memiliki frekuensi terbesar 𝐛𝟏 = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval
terdekat sebelumnya
𝐛𝟐 = Frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval terdekat sesudahnya
19 BAB III.
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Sumber Data
Data yang digunakan untuk menyusun IPKM kabupaten Mojokerto tahun 2017 merupakan data dari Profil Kesehatan Kabupaten Mojokerto tahun 2017, dan DP2KB2P.
3.2 Langkah Pengelolaan dan Analisa Data
Pembentukan IPKM menggunakan tiga data survei nasional yaitu Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), dan Survei Potensi Desa (PODES). Susenas dan Riskesdas merupakan survei berbasis pada masyarakat, sedangkan Podes berbasis pada desa. Susenas dan Podes dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik, sedangkan Riskesdas dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan. Data-data tersebut dapat digunakan oleh para perencana pembangunan untuk melihat keadaan, memonitor, dan mengevaluasi keberhasilan pembangunan yang telah dilakukan.
Tabel 3.1 Perhitungan Indikator IPKM Kabupaten Mojokerto 2017
No Indikator Perhitungan
Kesehatan Balita
1
Prevalensi balita gizi buruk dan kurang (%)
jumlah balita gizi buruk jumlah balita *100
2
Cakupan penimbangan balita
jumlah penimbangan balita jumlah balita *100
3
Cakupan kunjungan neonatal (KN 1)
jumlah kunjungan neonatal jumlah bayi lahir hidup *100
4 Cakupan imunisasi lengkap
jumlah bayi imunisasi lengkap jumlah bayi *100
Kesehatan Reproduksi
5 Proporsi KB (MJKB)
jumlah Pengguna MJKP Jumlah PUS *100
20
No Indikator Perhitungan
6
Cakupan kunjungan Ibu Hamil (K4)
jumlah pemeriksaan kehamilan Jumlah ibu hamil *100
Pelayanan Kesehatan
7
Proporsi
persalinan oleh tenga medis
jumlah persalinan oleh tenaga medis Jumlah persalinan *100
8
Proporsi
kecukupan jumlah dokter
jumlah dokter per kecamatan Jumlah penduduk per kecamatan*100
9
Proporsi
kecukupan jumlah posyandu
jumlah posyandu per kabupaten Jumlah desa *100
10
Proporsi
kecukupan jumlah bidan
jumlah bidan per kabupaten Jumlah penduduk *100
11
Proporsi kepemilikan
jaminan pelayanan kesehatan
jumlah kepemilikan jaminan pelayanan kesehatan Jumlah penduduk *100
Perilaku Kesehatan
12 Proporsi merokok jumlah penduduk yang merokok Jumlah penduduk usia > 10 tahun*100
13
Proporsi cuci tangan dengan benar
jumlah rumah tangga cuci tangan dengan benar Jumlah rumah tangga *100
14 Proporsi buang air besar di jamban
jumlah penduduk buang air besar dijamban Jumlah penduduk *100
15
Proporsi
menggosok gigi dengan benar
jumlah anak menggosok gigi dengan benar Jumlah anak SD *100
Penyakit Tidak Menular 16 Prevalensi
hipertensi
jumlah hipertensi
Jumlah penduduk usia > 15 thn*100 17 Prevalensi
diabetes melitus
jumlah diabetes militus Jumlah penduduk usia > 15 thn*100 18 Prevalensi
gangguan mental
jumlah penderita gangguan mental Jumlah penduduk usia > 15 tahun *100
21
No Indikator Perhitungan
19 Prevalensi obesitas sentral
jumlah penderita obesitas sentral Jumlah penduduk usia > 15 thn *100 20 Prevelensi sakit
gigi dan mulut
jumlah penderita sakit gigi dan mulut Jumlah penduduk *100
Penyakit Menular 21 Prevalensi
pneumonia balita
jumlah penderita pneumonia Jumlah balita *100
22 Prevalensi diare jumlah penderita diare Jumlah penduduk *100 23 Prevalensi ISPA
balita
jumlah penderita ISPA balita Jumlah balita *100
Kesehatan Lingkungan 24 Proporsi akses
sanitasi
jumlah pengguna akses sanitasi Jumlah penduduk *100
25 Proporsi akses air bersih
jumlah pengguna akses air bersih Jumlah penduduk *100
3.3 Perhitungan IPKM Kabupaten Mojokerto
Berikut perhitungan IPKM Kabupaten Mojokerto Tahun 2017 menggunakan perhitungan IPKM tahun 2013,
Tabel 3.2 Perhitungan IPKM Kabupetan Mojokerto Tahun 2017
No INDIKATOR Bobot propor
si bobot
Jumlah Nilai Indikator
penyetara an Positif
Standart
g-h i-h
indeks indikator l*d
indeks kelom
pok indika
tor Skor IPKM
min maks j/k
a b c d e f g h i j k l m n o
Kesehatan Balita 0.936 0.747
1
Prevalensi balita gizi
buruk dan kurang 5 0.294 219 0.260 99.740 0.022 100 99.71 8
99.97
8 0.997 0.293 2
Cakupan
penimbangan balita 4 0.235 69,866 83.020 83.020 0 100 83.02
0 100 0.830 0.195 3
Cakupan kunjungan
neonatal (KN 1) 4 0.235 16,699 98.975 98.975 0 100 98.97
5 100 0.990 0.233 4
Cakupan imunisasi
lengkap 4 0.235 16777 98.312 98.312 80.705 100 17.60
7 19.29
5 0.913 0.215
kesehatan reproduksi 0.562
5 Proporsi KB (MJKB) 5 0.500 54,243 23.648 23.648 0 100 23.64
8 100 0.236 0.118 6
Cakupan kunjungan
Ibu Hamil (K4) 5 0.500 16468 88.733 88.733 0 100 88.73
3 100 0.887 0.444
pelayanan kesehatan 0.418
7
Proporsi persalinan
oleh tenga medis 4 0.200 16686 94.191 94.191 0 100 94.19
1 100 0.942 0.188
22
No INDIKATOR Bobot propor
si bobot
Jumlah Nilai Indikator
penyetara an Positif
Standart
g-h i-h
indeks indikator l*d
indeks kelom
pok indika
tor Skor IPKM
min maks j/k
8
Proporsi kecukupan
jumlah dokter 5 0.250 14.46 14.460 14.460 0 100 14.46
0 100 0.145 0.036
9
Proporsi kecukupan
jumlah posyandu 4 0.200 1.44 1.440 1.440 0 100 1.440 100 0.014 0.003
10
Proporsi kecukupan
jumlah bidan 3 0.150 49.48 49.480 49.480 0 100 49.48
0 100 0.495 0.074
11
Proporsi kepemilikan jaminan pelayanan kesehatan
4 0.200 641235 58.320 58.320 0 100 58.32
0 100 0.583 0.117
perilaku kesehatan 0.566
12 Proporsi merokok 4 0.308 47.18 47.180 52.820 0 100 52.82
0 100 0.528 0.163
13
Proporsi cuci tangan
dengan benar 3 0.231 37869 13.845 13.845 0 100 13.84
5 100 0.138 0.032
14
Proporsi buang air
besar di jamban 3 0.231 884504 80.446 80.446 6.740 100 73.70 6
93.26
0 0.790 0.182
15
Proporsi menggosok
gigi dengan benar 3 0.231 81590 82.093 82.093 0 100 82.09
3 100 0.821 0.189
penyakit tidak menular 0.895
16 Prevalensi hipertensi 5 0.227 43064 4.972 95.028 0.240 100 94.78 8
99.76
0 0.950 0.216 17
Prevalensi diabetes
melitus 5 0.227 16113 1.860 98.140 95.170 100 2.970 4.830 0.615 0.140
18
Prevalensi gangguan
mental 4 0.182 43 0.005 99.995 51.570 100 48.42
5 48.43
0 1.000 0.182
19
Prevalensi obesitas
sentral 4 0.182 22896 2.644 97.356 0.109 100 97.24
8 99.89
1 0.974 0.177
20
Prevelensi sakit gigi
dan mulut 4 0.182 10294 0.936 99.064 0.943 100 98.12
1 99.05
7 0.991 0.180
penyakit menular 0.995
21
Prevalensi
pneumonia balita 5 0.556 4736 0.431 99.569 0 100 99.56
9 100 0.996 0.553
22 Prevalensi diare 4 0.444 47846 0.569 99.431 2.428 100 97.00
4 97.57
2 0.994 0.442
23
Prevalensi ISPA
balita
Kesehatan lingkungan 0.856
24
Proporsi akses
sanitasi 3 0.500 880840.
64 80.113 80.113 0 100 80.11
3 100 0.801 0.401
25
Proporsi akses air
bersih 3 0.500 100243
4.00 91.171 91.171 0 100 91.17
1 100 0.912 0.456
23 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Kelompok Indikator
Pada IPKM terbagi menjadi 3 kategori, yaitu nilai Indeks yang lebih dari 0.8 atau 80% masuk dalam kategori IPKM baik, nilai indeks antara 0.6 sampai 0.8 atau 60% sampai 80% masuk kategori sedang, dan nilai indeks kurang dari 0.6 atau 60% masuk dalam kategori kurang. Pada diagram batang, diagram yang berwarna hijau menunjukkan kategori tinggi, kuning untuk menunjukkan kategori sedang dan warna merah menunjukkan kategori rendah. Berikut analisis kelompok indikator IPKM kabupetan Mojokerto tahun 2017,
Gambar 4.1Indeks Kelompok Indikator
Gambar 4.1 Menunjukkan bahwa dari 7 kelompok indikator IPKM, terdapat 4 indeks kelompok indikator masuk kategori baik dan 3 kelompok indikator IPKM masuk dalam kelompok kurang. Kelompok indikator kategori baik adalah kelompok indikator penyakit menular, kelompok indikator kesehatan balita, kelompok indikator penyakit tidak menular, kelompok indikator kesehatan lingkungan, dan kelompok indikator perilaku kesehatan. Sedangkan kelompok indikator yang masuk kategori kurang
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
0.99 0.94
0.89 0.86
0.57 0.56
0.42
Indeks Kelompok Indikator
24
adalah kelompok indikator perilaku kesehatan, indeks kelompok kesehatan reproduksi dan kelompok indikator pelayanan kesehatan.
4.2 Kelompok Indikator Kesehatan Balita
Pada kelompok indikator kesehatan balita terdapat 6 indikator, namun ada 2 indikator yang tidak masuk dalam perhitungan IPKM kabupaten Mojokerto tahun 2017. Indikator yang tidak masuk dalam perhitungan adalah prevalensi balita sangat pendek dan pendek serta indikator prevalensi balita gemuk. Nilai indeks indikator kesehatan balita kabupaten Mojokerto tahun 2017 adalah,
Gambar 4.2 Kelompok Indikator Kesehatan Balita
Pada kelompok indikator kesehatan balita terdapat semua indikator sudah masuk kategori baik karena nilai indeks diatas 80% semua untuk indikator prevalesni balita gizi buruk dan kurang, indikator cakupan kunjungan neonatal, indikator cakupan imunisasi lengkap, dan indikator penimbangan balita.
4.3 Kesehatan Reproduksi
Indikator kesehatan reproduksi meliputi cakupan kunjungan ibu hamil (K4), proporsi KB (MJKB) dan prevalensi kurang energi kronik (KEK).
Namun pada perhitungan IPKM Kabupaten Mojokerto prevalensi KEK
0.000 0.100 0.200 0.300 0.400 0.500 0.600 0.700 0.800 0.900 1.000
Prevalensi balita gizi buruk dan
kurang
Cakupan kunjungan neonatal (KN 1)
Cakupan imunisasi lengkap
Cakupan penimbangan
balita
Indeks 0.997 0.990 0.913 0.830
25
tidak ada sehingga untuk indikator kelompok reproduksi hanya meliputi 2 indikator saja.
Gambar 4.3 Kelompok Indikator Kesehatan Reproduksi
Kelompok indikator kesehatan lengkap terdiri dari indikator cakupan kunjungan ibu hamil yang masuk kategori baik dengan nilai indeks sebesar 88.7% dan indikator proporsi KB (MJKB) yang masuk kategori kurang dengan nilai indeks sebesar 23.6%. hal ini menunjukkan bahwa ada indikasi Pasangan Usia Subur di Kabupaten Mojokerto masih banyak yang belum menggunakan KB (MJKB). sehingga indikator KB (MJKB) masih sangat perlu untuk ditingkatkan agar nilainya naik.
4.4 Pelayanan Kesehatan
Kelompok indikator pelayanan kesehatan terdiri atas proporsi persalinan oleh tenaga medis, proporsi kepemilikan jaminan pelayanan kesehatan, proporsi kecukupan jumlah bidan, proporsi kecukupan jumlah dokter dan proporsi kecukupan jumlah posyandu. Nilai indeks indikator kelompok pelayanan kesehatan disajikan pada gambar 4.4 berikut,
0.000 0.100 0.200 0.300 0.400 0.500 0.600 0.700 0.800 0.900
Cakupan kunjungan Ibu Hamil (K4)
Proporsi KB (MJKB)
Indeks 0.887 0.236
26
Gambar 4.4 Kelompok Indikator Pelayanan Kesehatan
Gambar 4.4 Menunjukkan bahwa dari 5 indikator kelompok pelayanan kesehatan, hanya terdapat 1 indikator yang masuk kategori baik, yaitu indikator proporsi persalinan oleh tenaga medis dengan indeks sebesar 94.2%. Indikator proporsi kepemilikan jaminan pelayanan kesehatan, indikator proporsi kecukupan jumlah bidan, indikator proporsi kecukupan jumlah dokter dan indikator proporsi kecukupan jumlah posyandu masuk kedalam kategori kurang karena memiliki nilai indeks kurang dari 60%.
Nilai indikator kecakupan jumlah posyandu di Kabupaten Mojokerto yang kecil menunjukkan bahwa jumlah posyandu di setiap desa masih kurang. Jumlah dokter di Kabupaten Mojokerto juga masih sangat kurang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di Kabputan Mojokerto. Hal ini dapat dilihat dari nilai indikator proposi kecukupan jumlah dokter hanya 1.4%. proporsi kepemilikan jaminan pelayanan kesehatan di masih relative baik meski nilainya dibawah 60%. Hal ini mengindikasikan bahwa sekitar setengah dari penduduk Kabupaten Mojokerto sudah memiliki jaminan pelayanan kesehatan. Sedagkan kecakupan bidan di Kabupaten mojokerto masih kurang hal ini mengindikasikan jumlah bidan masih lebih kecil dari pada jumlah penduduk.
0.000 0.100 0.200 0.300 0.400 0.500 0.600 0.700 0.800 0.900 1.000
Proporsi persalinan oleh tenga
medis
Proporsi kepemilikan
jaminan pelayanan kesehatan
Proporsi kecukupan jumlah bidan
Proporsi kecukupan
jumlah dokter
Proporsi kecukupan
jumlah posyandu
Indeks 0.942 0.583 0.495 0.145 0.014
27
Dari keempat indikator yang nilainya sangat rendah adalah indikator kecukupan jumlah posyandu dan kecukupan dokter sehingga sangat perlu diperhatikan agar nilainya meningkat.
4.5 Perilaku Kesehatan
Indikator proporsi aktivitas fisik cukup merupakan salah satu indikator yang masuk dalam kelompok indikator perilaku kesehatan. Namun pada perhitungan IPKM kabupaten Mojokerto tahun 2017, indikator ini tidak masuk kedalam perhitungan dikarenakan keterbatasan data. Sehingga indikator yang masuk dalam perhitungan IPKM untuk kelompok indikator perilaku kesehatan adalah proporsi menggosok gigi dengan benar, proporsi buang air besar di jamban, proporsi merokok, dan proporsi cuci tangan dengan benar. Nilai indeks indikator kelompok perilaku kesehatan Kabupaten Mojokerto disajikan dalam tabel 4.5 berikut,
Gambar 4.5 Kelompok Indikator Perilaku Kesehatan
Pada Kelompok indikator perilaku kesehatan terdapat indikator yang masuk kelompok baik, sedang, dan kurang, Indikator yang masuk kelompok baik adalah indikator proporsi menggosok gigi dengan benar dengan nilai indeks sebesar 82.1%, indikator yang masuk kedalam kategori sedang adalah indikator proporsi buang air besar di jamban dengan nilai indeks sebesar 79%. Indeks yang masuk kategori rendah
0.000 0.100 0.200 0.300 0.400 0.500 0.600 0.700 0.800 0.900
Proporsi menggosok gigi dengan
benar
Proporsi buang air besar di
jamban
Proporsi merokok
Proporsi cuci tangan dengan
benar
Indeks 0.821 0.790 0.528 0.138
28
adalah indikator proporsi merokok dan proporsi cuci tangan dengan benar.
Indikator proporsi merokok mempunyai nilai sebesar sebesar 52.8%, ini menunjukkan bahwa jumlah masyarakat yang merokok relatif tinggi dari pada penduduk yang tidak merokok. Nilai indikator proporsi cuci tangan dengan benar sebesar 13.8% hal ini mengindikasikan bahwa anak yang berusia lebih dari 10 tahun masih belum bisa mencuci tangan dengan benar.
4.6 Penyakit Tidak Menular
Pada kelompok indikator penyakit tidak menular terdapat 6 indikator yaitu prevalensi gangguan mental, prevalensi sakit gigi dan mulut, prevalensi obesitas sentral, prevalensi hipertensi, prevalensi diabetes melitus, dan prevalensi cedera. Namun pada perhitungan IPKM Kabupaten Mojokerto tahun 2017, indikator prevalensi cedera tidak ada sehingga perhitungan indeks kelompok indikator penyakit tidak menular disajikan pada tabel 4.6 berikut,
Gambar 4.6 Kelompok Indikator Penyakit Tidak Menular
Gambar 4.6 Menunjukkan bahwa untuk kelompok indikator penyakit tidak menular hanya 1 yang masuk kedalam ketagori sedang sedangkan indikator lainnya masuk kedalam kategori baik. Indikator prevalensi diabetes melitus memiliki nilai indeks sebesar 61.5% , hal ini menunjukkan
0.000 0.100 0.200 0.300 0.400 0.500 0.600 0.700 0.800 0.900 1.000
Prevalensi gangguan
mental
Prevelensi sakit gigi dan
mulut
Prevalensi obesitas
sentral
Prevalensi hipertensi
Prevalensi diabetes
melitus
Indeks 1.000 0.991 0.974 0.950 0.615
29
bahwa jumlah penduduk yang menderita diabetes militus relative tinggi.
Sehingga indikator yang masuk kedalam kategori sedan adalah indikator prevalensi gangguan mental, indikator prevalensi sakit gigi dan mulut, indikator prevalensi obesitas sentral dan indikator prevalensi hipertensi memiliki nilai indeks lebih dari 80% sehingga masuk kedalam ketagori baik.
4.7 Penyakit Menular
Indikator prevalensi ISPA balita tidak masuk kedalam perhitungan IPKM Kabupaten Mojokerto Tahun 2017 indikator kelompok penyakit menular karena keterbatan data. Nilai indeks kelompok indikator penyakit menular dalam IPKM Kabupaten Mojokerto tahun 2017 adalah sebagai berikut,
Gambar 4.7 Kelompok Indikator Penyakit Menular
Kelompok indikator penyakit menular baik untuk indikator prevalensi pneumonia balita dan indikator prevalensi diare masuk dalam kategori baik karena memiliki nilai indeks lebih dari 80%. Indikator prevalensi pneumonia balita mempunyai nilai sebesar 99.6%. Hal ini mengindikasikan bahwa balita yang menderita pneumonia relatif kecil.
Sedangkan indikator prevalensi diare nilainya sebesar 99.4%, ini mengindikasikan penduduk yang menderita diare relatif kecil.
0.993 0.994 0.994 0.995 0.995 0.996 0.996
Prevalensi pneumonia balita
Prevalensi diare
Indeks 0.996 0.994
30 4.8 Kesehatan Lingkungan
Berikut dalah nilai indeks pada kelompok indikator kesehatan lingkungan IPKM Kabupaten Mojokerto Tahun 2017,
Gambar 4.8 Kelompok Indikator Kesehatan Lingkungan
Gambar 4.8 Menunjukkan bahwa kelompok indikator kesehatan lingkungan masuk kedalam kategori kurang baik untuk indikator proporsi akses air bersih dan indikator akses sanitasi. Indikator proporsi akses air bersih memiliki nilai indeks sebesar 45.6% . Hal ini menunjukkan bahwa akses air bersih di Kabupaten Mojokerto relatif sulit. Indikator proporsi akses sanitasi memiliki nilai indeks sebesar 40.1%. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk yang buang air besar di jamban masih relative kecil.
0.370 0.380 0.390 0.400 0.410 0.420 0.430 0.440 0.450 0.460
Proporsi akses air bersih Proporsi akses sanitasi
Indeks 0.456 0.401
31 BABV.
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan perhitungan IPKM kabupaten Mojokerto tahun 2017 yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa,
1. Metode yang dipakai dalam perhitungan ini adalah metode IPKM tahun 2013. Karena keterbatasan ketersediaan data maka ada beberapa perbedaan perhitungan indikator yaitu :
a. Pneumonia
Pada metode IPKM 2013, Pneumonia yang dihitung adalah penduduk yang didiagnosis pneumonia atau mengalami gejala pneumonia dalam 1 bulan terakhir.
Sedangkan pada perhitungan tahun 2017 Pneumonia yang dihitung adalah Pneumonia balita, yaitu balita yang didiagnosis pneumonia atau mengalami gejala pneumonia dalam 1 bulan terakhir
b. Diare
Pada metode IPKM 2013, Diare yang dihitung adalah balita yang didiagnosis diare atau mengalami gejala diare oleh tenaga kesehatan dalam 2 bulan terakhir
Sedangkan pada perhitungan tahun 2017 Diare yang dihitung adalah penduduk yang didiagnosis diare atau mengalami gejala diare oleh tenaga kesehatan dalam 2 bulan terakhir
c. Perilaku cuci tangan
Pada metode IPKM 2013, Kebiasaan cuci tangan benar pada penduduk umur 10 tahun ke atas. Sedangkan pada perhitungan tahun 2017 kebiasaan cuci tangan benar padaanak SD.
d. Akses Sanitasi
Pada metode IPKM 2013, Akses sanitasi diukur berdasarkan kepemilikan dan jenis fasilitas buang air besar. Akses sanitasi baik apabila rumah tangga menggunakan fasilitas tempat buang air besar milik sendiri dan jenis kloset leher angsa. Sedangkan pada perhitungan tahun 2017 Akses sanitasi baik apabila
32
pendudukmenggunakan fasilitas tempat buang air besar milik sendiri dan jenis kloset leher angsa
e. Akses Air Bersih
Pada metode IPKM 2013, penggunaan air bersih perkapita dalam rumah tangga. Sedangkan pada perhitungan IPKM tahun 2017 dihitung dalam penduduk.
2. Indikator yang belum masuk dalam perhitungan IPKM kabupaten Mojokerto karena tidak tersedia data antara lain adalah prevalensi balita sangat pendek dan pendek, prevalensi balita gemuk, prevalensi KEK, proporsi aktivitas fisik cukup, prevalensi cedera, dan prevalensi ISPA balita.
3. Nilai IPKM kabupaten Mojokerto tahun 2017 adalah 74.3%. Jika dibandingkan dengn tahun sebelumnya yaitu tahun 2014 sebesar 72.46% maka terjadi kenaikan.
4. Nilai kelompok indikator masing-masing adalah 93.63% untuk kelompok indikator kesehatan balita, 56.19% untuk kelompok indikator kesehatan reproduksi, 41.83% untuk kelompok indkator pelayanan kesehatan, 56.63% untuk kelompok indikator perilaku kesehatan, 89.46% untuk kelompok indikator penyakit tidak menular, 96.85% untuk kelompok indikator penyakit menular, dan 85.64% untuk kelompok indikator kesehatan lingkungan.
5. Indeks kelompok indikator tertinggi adalah indikator penyakit menular dan terendah adalah indikator pelayanan kesehatan.
5.2 Saran
1. Indeks kelompok indikator yang rendah (<60%) adalah indikator pelayanan kesehatan, kesehatan reproduksi, dan perilaku kesehatan.
Kelompok indikator tersebut perlu ditingkatkan.
2. Indikator yang termasuk dalam kategori rendah (<60%) adalah indikator proporsi KB (MJKB) yaitu 23.6%,indikator proporsi kepemilikan jaminan pelayanan kesehatan (58.3%), indikator proporsi kecukupan jumlah bidan (49.5%),indikator proporsi kecukupan jumlah dokter (14.5%),
33
indikator proporsi kecukupan jumlah posyandu (1.4%), indikator proporsi merokok (52.8%), indikator proporsi cuci tangan dengan benar (13.8%), indikator proporsi akses air bersih (45.6%), dan indikator proporsi akses sanitasi (40.1%).
3. Nilai indikator pelayanan kesehatan adalah kelompok indikator yang terendah sehingga pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan pelayanan kesehatan yang ada di Kabupaten Mojokerto.
34
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association. (2011). Diagnosis and classification of diabetes. Diabetes Care, vol.34, Suppl 1.
Departemen Kesehatan. (1994). Pedoman penggunaan alat ukur lingkaran lengan atas (LILA) pada wanita usia subur. Ditjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Jakarta.
Departemen Kesehatan. (1996). Pedoman Penanggulangan Ibu Hamil Kurang Energi Kronis. Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak.
Jakarta
Departemen Kesehatan RI. (2002). Status Kesehatan Gigi dan Mulut di Indonesia 2001. Analisis Data Survei Kesehatan Rumah Tangga.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta
Departemen Kesehatan RI. (2009). Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat.Pusat Promosi Kesehatan.
Departemen Kesehatan. (2008a). Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta.
Departemen Kesehatan. (2008c). Peraturan Menteri Kesehatan RI No 741 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupatan/Kota. Jakarta.
Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat . (2014). Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat. (2010). Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan. (2010b). Pedoman Pemantauan Wilayah Seteempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA). Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Ibu .
Kementerian Kesehatan. (2010c). Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014. Jakarta.
Kementerian Kesehatan. (2010d). Petunjuk Pelaksanaan Program Imunisasi di Indonesia. jakarta.
Kementerian Kesehatan. (2010e). Petunjuk Pelayanan Antenatal Terpadu.
Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
35
Kementerian Kesehatan. (2010f). Indonesia Sehat 2010. Jakarta.
Kementerian Kesehatan. (2011a). Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI. (2012b). Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran Pernafasan Akut Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman
Kementerian Kesehatan. (2013). Rencana Aksi Nasional Pelayanan Keluarga Berencana 2014-2015. Jakarta: Direktorat Jendral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak.
Lewis, G. H., Thomas, H. V., Cannon, M. & Jones, P. B. (2001).
Epidemiological methods. In: Thornicroft, G. & Szmukler, G. (eds.) Textbook of community psychiatry. New York: Oxford University Press
National Heart, Lung, and Blood Institute, National Institute of Health, US.
(2004). The seventh report of the Joint Committee on prevention, detection, evaluation, and treatment of high blood pressure. NIH Publication No. 04-5230, August 2004. (cited 2007 Nov 2).
Available from:
http://www.nhlbi.nih.gov/guidelines/hypertension/jnc7full.pdf
WHO. (1992). International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems. 1992. Tenth Revision (ICD-10). Geneva, vol 1, p: 891 – 1010
WHO. (2000). The Asia-Pacific Perspective Redefining Obesity and Its Tratment. February.
WHO- Western Pacific Region
WHO. (2005). WHO Child Gold Standards. Geneva: WHO.
WHO.(2012a). Global Adult Tobacco Survey: Indonesia Report2011.Regional Office for South East Asia
WHO. (2012b). Global Physical Activity Questionnaire (GPAC) Analysis Guide. Surveillance and Population-based Prevention. Department
36
of Chronic Diseases and Health Promotion, Geneva.
www.who.int/chp/steps
WHO,UNICEF. (2013). Progress on Sanitation and Drinking Water – 2013 Update . WHO Press. Geneva. Hal 1-38
WHO. (2014).UN-water global analysis and assessment of sanitation and drinking-water (GLAAS) 2014 report: investing in water and sanitation: increasing access, reducing inequalities. WHO Document Production Services, Geneva, Switzerland.