DI KOTA MALANG RUTE AL DAN HA
Reza Eka Handiansyah, Imma Widyawati Agustin, Nailah Firdausiyah Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
Jl. Mayjend Haryono 167 Malang 65141 – Telp (0341)567886 e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Kota Malang menggunakan angkutan kota sebagai salah satu sarana transportasi umum selain taxi. Jasa transportasi angkutan kota di Kota Malang digunakan oleh masyarakat sejak lama untuk melakukan kegiatan atau aktivitas sehari-hari. Sebanyak 1.300 armada jasa angkutan kota dan 25 trayek, namun dipilih rute Arjosari – Landungsari dan Hamid rusdi – Arjosari karena kinerja operasionalnya belum memenuhi standar menurut studi terdahulu. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun arahan kinerja operasional dan arahan peningkatan kinerja pelayanan Agkutan Umum Kota rute Al dan HA. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kinerja operasional dan Important-Performance Analysis (IPA) untuk mengetahui fakta dan harapan pada layanan Angkutan kota Malang, terdapat 6 indikator aspek yang masuk dalam kuadran 1 pada rute AL dan 10 indikator aspek yang masuk dalam kuadran 1 pada rute HA, yang kemudian dianalisis menggunakan QFD untuk mencari alternatif arahan peningkatan kinerja pelayanan perjalanan. Hasil yang didapatkan untuk meningkatkan pelayanan angkutan kota pada rute AL adalah papan informasi halte pada armada dan titik pemberhentian yang memiliki nilai (67,3), sedangkan pada angkutan kota rute HA diperlukan perbaikan sarana dan prasarana angkutan kota yang memiliki nilai (94,3).
Kata Kunci : Angkutan-Umum-Kota, Kinerja-Operasional, Kinerja-Pelayanan, Important-Performance-Analysis, Quality-Function-Development-Analysis
ABSTRACT
Malang City is one of the cities that continues to develop in various sectors due to center of activities that keeps increasing such as trading, education, offices, industry and any other sectors. Public transportation in Malang City widely use city transport other than taxi. The transportation system is a bacis element of infrastructure that influences urban development patterns. City transportation services in Malang City have been used by the community for a long time to carry out activities or daily activities. There are total 1.300 city transportation service fleets serve 25 routes that have been determined by Department of Transportation in Malang City. Arjosari – Landungsari and Hamid Rusdi – Arjosari route was chosen because this route has operational performance that still does not reach the standards according to previous studies. The methods used in this research are operational performance analysis and Important Performance Analysis (IPA) to find out the facts and expectations of the City Public Transport services. The results of this research are that there are still many operational performance variables that exceed the standard, and a total of 6 indicators on AL city transport and 10 indicators on HA city transport services considered unsatisfactory but have high level of importance according to users, both in services and in travel. QFD analysis is used to find alternative directions for improving the performance of travel services.
Indicator to add information boards about halts in the vehicle is the highest priority in order to improving AL city public transport services which has value of (67.3), while the HA route city transportation requires repair of city transportation facilities and infrastructure which has a value of (94.3).
Keywords : City-Transportation, Operational-Performence, Service-Performence, Important-Performance- Analysis Quality-Function-Development-Analysis
PENDAHULUAN
Transportasi (angkutan) adalah perpindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan di ruang lalu lintas, (PP Menteri Perhubungan, 2016). Pada umumnya sektor transportasi dan
jasa angkutan kota merupakan suatu kebutuhan yang penting bagi masyarakat untuk bepergian selain menggunakan kendaraan pribadi. Kota Malang merupakan salah satu kota yang terus mengalami perkembangan, yaitu bertambahnya pusat-pusat kegiatan baru, seperti sektor perdagangan, sektor pendidikan, sektor perkantoran, sektor industri dan sebagainya.
DI KOTA MALANG RUTE AL DAN HA
Sistem transportasi merupakan elemen dasar infrastruktur yang berpengaruh pada pola pengembangan perkotaan. Pengembangan transportasi dan tata guna lahan memainkan peranan penting dalam kebijakan dan program pemerintah. Pengembangan infrastruktur dalam sektor transportasi pada akhirnya menimbulkan biaya tinggi.
Menurut Anang (2018), kinerja operasional pelayanan angkutan kota rute AL dan di Kota Malang masih belum berjalan dengan baik yaitu dengan load factor sebesar 50%. Dan berdasarkan studi Aziz (2017) menunjukkan bahwa load factor pada angkutan kota rute HA memiliki nilai load factor sebesar 52%. Sedangkan menurut Adityasari, Dkk. (2018) bahwa standar operasional transportasi angkutan kota harus memiliki load factor minimal sebesar 70%.
Dalam buku Profil Dinas Perhubungan Kota Malang tahun 2016 menyatakan bahwa jumlah angkutan kota di Kota Malang yang masih beroperasi sebanyak 1.300 unit mikrolet yang masih beroperasi. Kondisi ini terjadi akibat semakin menurun jumlah pengguna angkutan kota di Kota Malang. Dari permasalahan- permasalahan tersebut, maka diperlukan evaluasi kinerja operasional dan kinerja pelayanan yang dilakukan pada angkutan kota di Kota Malang yang dilewati di rute AL dan HA untuk memperbaiki aspek - aspek yang masih dinilai belum memuaskan dan meningkatkan kinerja operasional dan pelayanan sehingga kebutuhan masyarakat akan transportasi umum dapat terpenuhi serta meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan transportasi umum berupa angkutan kota.
METODE PENELITIAN
Menurut Subana dan Sudrajat (2005) penelitian kuantitatif dilihat dari segi tujuan, penelitian ini dipakai untuk menguji suatu teori, menyajikan suatu fakta atau mendeskripsikan statistik, dan untuk menunjukkan hubungan antar variabel dan adapula yang sifatnya mengembangkan konsep, mengembangkan pemahaman atau mendiskripsikan banyak hal.
Penelitian kuantitatif dalam penelitian ini adalah kinerja operasional Angkutan kota Kota Malang yang terdiri dari Headway, Load Factor, Waktu Tunggu dan Travel time. Dan penelitian kualitatif pada penelitian ini adalah menggunakan variabel keselamatan, keamanan, kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan dan keteraturan.
Gambar 1. Kerangka Metode Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada teori terkait.
Variabel yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Variabel Penelitian
Tujuan Variabel Sumber
Mengidentifikasi kinerja operasional Angkutan kota di Kota Malang (rute AL dan HA)
1. Load Factor 2. Headways 3. Travel Time 4. Waktu Tunggu
- Asikin (2001) - Keputusan
Direktur Jenderal Perhubungan Darat (2002) - Safe dkk, 2015 - Medi, 2017 Menganalisis
nilai kepuasan dan kepentingan dari indikator- indikator pelayanan Angkutan kota di Kota Malang (rute AL dan HA)
1. Keselamatan 2. Keamanan 3. Kenyamanan 4. Keterjangkauan 5. Kesetaraan 6. Keteraturan
- Permenhub No.98 Tahun 2013
Menyusun arahan peningkatan kinerja
operasional dan pelayanan Angkutan kota di Kota Malang (rute AL dan HA)
1.Hasil dari perhitungan kinerja operasional Angkutan kota yang belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku 2.Indikator- Indikator yang masuk ke dalam kuadran I Diagram Kartesius
- Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat, 2002 - PM No. 98
Tahun 2013 tentang Standar pelayanan Minimal Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Dalam Trayek
Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam Penelitian Berjudul Evaluasi Kinerja Operasional dan Pelayanan Angkutan kota Rute AL dan HA yaitu dengan survei primer dan sekunder. Data
primer yang dibutuhkan dilakukan dengan survei dan observasi lapangan. dan mengetahui penilaian pelayanan di perjalanan menggunakan alat berupa kuesioner yang disebarkan secara langsung pada Pengguna Angkutan kota.
sedangkan observasi lapangan digunakan untuk mengetahui kinerja operasional dari Angkutan kota.
Populasi dan Sampel Populasi
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi penelitian adalah seluruh pengguna Angkutan kota rute AL dan HA, dimana besarnya populasi adalah yaitu seluruh pengguna Angkutan kota sebanyak masing - masing 100 responden pada Bulan Januari - Februari, 2020.
Sampel
Penentuan Sampel Armada Angkutan kota Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Kota Malang tahun 2016 diketahui bahwa jumlah armada angkutan kota yang beroperasi pada rute Arjosari - Landungdari dan sebaliknya adalah 98 armada. Sedangkan jumlah angkutan kota pada rute Hamid Rusdi - Arjosari dan sebaliknya berjumlah sebanyak 101 armada.
Penentuan sampel armada angkutan kota ditentukan dengan menggunakan rumus slovin dengan rumus berikut :
𝑛 = 𝑁
1 +𝑁 .𝑒2……….………(1) Keterangan :
N : Jumlah sampel N : Jumlah Populasi : 102
𝑒2 : tingkat error (ditentukan 10%)
Berikut adalah contoh perhitungan jumlah sampel minimum armada pada angkutan kota rute HA yang dibutuhkan dalam pada penelitian ini adalah:
𝑛 = 102
102. (0.01)2+ 1 𝑛 =102
2,02 𝑛 = 50,49
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka sampel armada pada angkutan kota rute HA adalah sebanyak 50 armada, sedangkan untuk rute AL memiliki sampel armada sebanyak 46,23 yang disesuaikan oleh peneliti menjadi 50 sampel armada. Jumlah sampel armada keseluruhan pada penelitian ini adalah 100 sampel kendaraan.
Penentuan Sampel Pengguna Angkutan kota AL Penentuan sampel pengguna angkutan kota AL didapatkan dari jumlah penumpang angkutan kota rute Terminal Arjosari menuju Terminal Landungsari. Perhitungan sampel responden yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari rumus slovin dengan perhitungan sebagai berikut.
𝑛 = 𝑁
𝑁.𝑒2+1……….………(2) Keterangan:
n : Jumlah sampel
N : Jumlah Populasi rute AL : 598
𝑒2 : tingkat error (ditentukan 10%)
Rumus 2 digunakan untuk menemukan jumlah sampel angkutan kota rute AL, dengan tingkat error yang ditentukan sama dengan untuk menghitung sampel rute HA yakni 10%. Jumlah sampel minimum yang dibutuhkan dalam pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
𝑛 = 598
598. (0.1)2+ 1 𝑛 =598
6,98 𝑛 = 85.67
Berdasarkan hasil perhitungan, jumlah sampel minimum yang digunakan dalam penelitian ini adalah 86 𝑝𝑒𝑛𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛𝑔 yang disesuaikan oleh peneliti menjadi 100 sampel.
Sedangkan untuk rute HA berjumlah 87 penumpang yang disesuaikan oleh peneliti menjadi 100 sampel penumpang. Jumlah tersebut adalah jumlah responden yang dibutuhkan dalam pengisian kuesioner dari penumpang untuk mengevaluasi kinerja pelayanan Angkutan kota Rute AL dan HA.
Teknik Analisis
Analisis Kinerja Operasional Angkutan kota A. Load Factor
Faktor muat adalah suatu angka yang menunjukan besarnya penggunaan tempat yang tersedia dalam suatu moda terhadap kapasitas angkut moda tersebut atau perbandingan antara jumlah penumpang yang diangkut dalam moda terhadap suatu kapasitas tempat duduk penumpang yang tersedia dalam moda tersebut (SK Dirjen Perhubungan Darat No. 687, 2002).
Faktor muatan Penumpang untuk perhitungan tarif umumnya adalah 70%. dirumuskan sebagai berikut (Medi, 2017).
DI KOTA MALANG RUTE AL DAN HA
𝐹 =𝑀
𝑠 𝑥 100%……….………..……(3) Keterangan:
F : Faktor muatan penumpang M : Jumlah penumpang kendaraan
S : Total kapasitas angkut maksimum kendaraan
B. Headway
Headway adalah analisis yang memiliki tujuan untuk mengetahui seberapa lama penumpang menunggu satu angkutan kota dengan angkutan kota lainnya yang berurutan dibelakangnya pada satu rute yang sama pada titik tertentu seperti terminal ataupun halte (Safe dkk, 2015). Standar yang ditentukan oleh SK Dirjen No.687/AJ.206/DRJD/2002)Headway dirumuskan sebagai berikut (Aziz, 2017):
𝐻 =60
𝐹……….…..……(4) Keterangan:
H : Waktu antara (menit) F : Frekuensi Pelayanan C. Travel time
Travel time terdiri dari analisis travel time berdasarkan waktu tempuh angkutan dan kecepatan angkutan. Analisis travel time berdasarkan waktu tempuh angkutan membahas mengenai jarak yang ditempuh suatu angkutan dari terminal keberangkatan sampai terminal tujuan. Berikut adalah rumus untuk travel time (Adityasari, 2018):
𝑊 =𝑇
𝐽……….…..……(5) Keterangan:
W : Waktu perjalanan (menit) T : Jarak Antar Segmen (Km) J : Waktu Tempuh Angkutan kota D. Waktu Tunggu
Waktu tunggu adalah waktu yang dibutuhkan bagi penumpang atau pengguna jasa untuk menaiki kendaraan/angkutan kota yang akan melakukan perjalanan. Waktu tunggu untuk kendaraan umum maksimal 20 menit untuk semua moda transportasi, termasuk angkutan kota (SK Drijen Perhubungan darat No. 687/2002.
Analisis Kinerja Pelayanan Angkutan kota Menurut Peraturan Menteri Perhubunganh No. 98 tahun 2013 tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Dalam Trayek, terdapat 6 aspek utama yang menjadi tolak ukur dalam pelayanan di perjalanan. Berikut adalah tabel tentang standar pelayanan minimun Kendaraan Bermotor dalam Trayek Perkotaan:
Tabel 2. Indikator Pelayanan Angkutan kota
Keamanan
1. Identitas Awak Kendaraan Angkutan kota 2. Sticker Trayek Pada Angkutan kota 3. Lampu Penerangan Angkutan kota 4. Tebal Kaca Film pada Angkutan kota Keselamatan
5. Informasi Fasilitas Keselamatan Angkutan kota 6. Tersedia Fasilitas Kesehatan
7. Pintu Keluar Masuk Penumpang Angkutan kota Kenyamanan
8. Kapasitas Tempat Duduk Angkutan kota 9. Ventilasi Udara Angkutan kota 10. Fasilitas Kebersihan Angkutan kota 11. Larangan Merokok pada Angkutan kota Keterjangkauan
12. Informasi Halte Angkutan kota 13. Ketersediaan Angkutan kota 14. Tarif Angkutan kota Keseteraan
15. Fasilitas Tempat Duduk Priorotas untuk Difabel dan Ibu Hamil pada Angkutan kota
Keteraturan
16. Waktu Tunggu Angkutan kota 17. Keter;ambatan Angkutan kota 18. Informasi Pelayanan Angkutan kota 19. Waktu Antara Angkutan kota 20. Waktu Perjalanan Angkutan kota 21. Kesesuaian Rute Angkutan kota Sumber: Hasil Analisis,2020
Indikator - indikator tersebut diberikan kepada responden penumpang angkutan kota untuk diberikan penilaian. Penilaian setiap aspek perjalanan dan prasarananya pada kuesioner dilakukan dengan menggunakan skala Likert yang terdiri dari lima penilaian dengan maksud untuk mengukur tingkat kepuasan dan kepentingan pengguna Angkutan kota.
Analisis Important-Performence Analysis
Analisis Kepuasan dan Kepentingan (importance-performance analysis) dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kepuasan penumpang Angkutan kota terhadap kinerja pelayanan dari Angkutan kota Malang, serta seberapa besar pihak penyedia jasa memahami apa yang diinginkan penumpang terhadap jasa yang mereka berikan. Pada analisis IPA, dilakukan pembagian kuadran menjadi 4 kuadran untuk seluruh variabel yang mempengaruhi kualitas pelayanan.
Analisis QFD (Quality Function Development) Metode quality function deployment (QFD) merupakan konversi kebutuhan pelanggan yang dilihat secara teknis ke dalam suatu produk/jasa untuk merealisasikan hubungan kebutuhan pelanggan secara sistematis dan berkualitas (Yamamoto, 2005). Langkah pertama yang harus dilakukan dalam analisis QFD adalah mengetahui Voice Of Custumer (VOC) atau
persepsi dari pelanggan angkutan kota. Setelah mengetahui persepsi pelanggan angkutan kota, maka dilanjutkan dengan pemuatan House Of Quality (HOQ) atau rumah kualitas.
Gambar 3. House of Quality
Langkah-langkah untuk membuat house of quality adalah sebagai berikut:
1. Voice Of Customer
Voice Of Customer didapatkan dari pengumpulan wawancara dan kuisoner dari penumpang Angkutan kota bedasarkan hasil analisis IPA pada Perjalanan Angkutan kota.
2. Planning Matrix
Terdapat beberapa langkah yang dilakukan dalam matriks perencanaan yaitu
• Importance to customer yang digunakan untuk mengukur tingkat kepentingan dari Penumpang Angkutan kota.
• Customer satisfation performance (CSP) yang digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan Penumpang Angkutan kota Perhitungan yang didapatkan dari tingkat pelayanan.
3. User Satisfaction Performance (KPA)
User Satisfaction Performance atau Kepuasan Pengguna Aktual (KPA) adalah nilai dari hasil pembobotan tingkat kepuasan responden angkutan kota, yang memiliki persamaan sebagai berikut:
𝑊𝐴𝑃 =𝛴𝑃𝑊
𝑁 = 𝛴(𝑇𝑃) 𝑥 𝑁
𝑁 ...(6) 4. User Expected Performance (KPH)
User Expected Performance atau Kepuasan Pengguna Harapan (KPH) adalah nilai dari hasil pembobotan tingkat kepentingan responden angkutan kota, yang memiliki persamaan sebagai berikut:
𝑊𝐴𝑃 =𝛴𝑃𝑊
𝑁 = 𝛴(𝑇𝐻) 𝑥 𝑁
𝑁 ...(7)
5. Goal
Nilai goal menunjukkan seberapa besar keinginan dan sasaran yang ingin dicapai dalam memenuhi kebutuhan Penumpang Angkutan kota, yang didapatkan dari Angka Tingkat kepentingan berdasarkan Hasil Analisis IPA.
6. Improvement Ratio (Ir)
Improvement Ratio (Ir) adalah hasil yang akan digunakan untuk mengetahui seberapa besar usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan agar sesuai harapan dan keinginan dari Penumpang Angkutan kota.
𝐼𝑅 =𝐺𝑜𝑎𝑙𝐶𝑆𝑃 ………...……(8)
7. Raw Weight and Normalized Raw Weight Raw Weight merupakan model yang didapatkan dari kepentingan pengelola terhadap setiap kebutuhan Penumpang Angkutan kota yang didasarkan pada nilai dari ITC, IR yang harus dilakukan dan sales point yang telah ditentukan.
𝑅W = Goal x IR x …..…...(9)
Normalized Raw Weight didapatkan dari konversi nilai Raw weight ke dalam presentase dimana nilai Normalized Raw Weight sama dengan satu.
𝑁𝑅𝑊 = 𝑅𝑎𝑤 𝑊𝑒𝑖𝑔ℎ𝑡
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑅𝑎𝑤 𝑊𝑒𝑖𝑔ℎ𝑡 ………..……(10) 8. Respon Teknis
Respon Teknis adalah langkah untuk menentukan alternatif-alternatif yang akan digunakan untuk memperbaiki kinerja Pelayanan agar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh penumpang angkutan kota.
9. Relationship Matrix
Relationship Matrix untuk mengetahui hubungan antara respon teknis dengan indikator-indikator yang belum memenuhi kebutuhan pengguna jasa. Hubungan tersebut digambarkan dengan simbol dibawah ini.
Tabel 3. Nilai Relationship Matrix
Simbol Nilai Keterangan
Kosong 0 Tidak ada hubungan
1 Hubungan lemah
o 2 Hubungan sedang
O 3 Sangat kuat hubungannya
Sumber: Rauf, 2002
10. Technical Corelation
Technical coleration digunakan untuk memetakan hubungan dan ketergantungan antar tim respon teknis. Hubungan tersebut digambarkan pada tabel dibawah ini.
DI KOTA MALANG RUTE AL DAN HA
Tabel 4. Nilai Technical Relationship
Simbol Keterangan
Pengaruh positif sangat kuat + Pengaruh positif cukup kuat
<kosong> Tidak ada pengaruh - Pengaruh negatif cukup kuat X Pengaruh negatif sangat kuat Sumber: Silva, 2015
11. Benchmarking dan Penetapan Target Nilai dalam benchmarking ini merupakan nilai-nilai performansi respon teknis untuk meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan, kemudian merencanakan dengan tepat target yang ingin dicapai untuk memenuhi kebutuhan responden penumpang angkutan kota AL dan HA. Nilai-Nilai tersebut antara lain :
𝐴𝐼 = Ʃ (𝑔𝑜𝑎𝑙𝑥 𝑁𝑉)...(11) HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Angkutan kota
Kota Malang memiliki alat transportasi umum yang sering digunakan oleh masyarakat berupa angkutan kota. Jumlah keseluruhan dari angkutan kota di Kota Malang yaitu sebanyak 1300 armada yang terbagi menjadi 25 trayek angkutan kota (Dinas Perhubungan, 2014).
Angkutan kota ini tersebar untuk melayani pelayanan aktivitas kegiatan di Kota Malang yang memiliki tempat pemberhentian di Terminal Regional Kota Malang yakni Terminal Arjosari, Terminal Landungsari, dan Terminal Hamid Rusdi.
Adapun jenis trayek angkutan kota pada penelitian ini yang beroperasi di Kota Malang antara lain meliputi jalur HA (Hamid Rusdi – Arjosari), AL (Arjosari – Landungsari).
Trayek AL merupakan salah satu angkutan kota Malang yang memiliki rute trayek sepanjang 17,6 km dengan jumlah armada keseluruhan yaitu sebanyak 86 armada. Trayek HA merupakan salah satu angkutan kota Malang yang memiliki rute trayek sepanjang 14,6 km dengan jumlah armada keseluruhan yaitu sebanyak 102 armada.
Kinerja Operasional Angkutan kota Rute Arjosari – Landungsari dan Hamid Rusdi - Arjosari Load Factor
1. Rute Arjosari - Landungsari
LF rata rata yang didapatkan dari rute Arjosari-Landungsari ketika hari kerja adalah sebesar 23,07% dan sebesar 22,19% pada hari libur. Berikut adalah perbandingan antara Load
Factor hari kerja dan hari libur Rute Arjosari - Landungsari yang dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3 Load Factor Penumpang Angkutan kota rute Arjosari - Landungsari
Angka Load Factor (LF) puncak terjadi pada jalan karya timur menuju jalan mahakan dengan nilai load factor sebesar 76,92%, sedangkan nilai LF terendah berada pada Jalan WR. Supratman menuju Jalan Panglima Sudirman yang memiliki nilai LF sebesar 0% atau tanpa penumpang.
2. Rute Hamid Rusdi - Arjosari
LF rata rata di rute Hamid Rusdi-Arjosari pada hari kerja sebesar 29,09% dan 24,07% ketika hari libur. Berikut ini adalah perbandingan antara Load Factor hari kerja dan hari libur Rute Hamid Rusdi-Arjosari yang dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4 Load Factor Penumpang Angkutan kota rute Hamid Rusdi - Arjosari
Pada Gambar 4 dapat dilihat bahwa angka nilai Load Factor puncak terjadi pada Jalan Kauman menuju Jalan Mojopahit dengan memiliki nilai Load Factor sebesar 76,92%, sedangkan nilai Load Factor terendah terjadi pada Terminal Hamid Rusdi menuju Jalan S.Supriyadi yang memiliki nilai Load Factor sebesar 0% atau tanpa penumpang.
Headway
1. Rute Arjosari - Landungsari
Rute Arjosari - Landungsari memiliki nilai Rata-rata headway pada jam puncak dihari kerja yaitu pagi dan sore hari adalah 4,5 menit serta memiliki rata-rata headway pada jam puncak siang hari sebesar 5,5 menit. Sedangkan pada hari libur, headway pada pagi dan sore hari adalah 3,5
dan 3,4 menit serta memiliki rata-rata headway pada siang hari headway angkutan kota AL adalah 5,5 menit.
2. Rute Hamid Rusdi - Arjosari
Rute Hamid Rusdi - Arjosari memiliki nilai Rata-rata headway pada jam puncak di hari kerja yaitu pagi dan sore hari adalah 3,72 dan 3,52 menit serta memiliki rata-rata headway pada jam puncak yaitu 5,76 menit. Sedangkan pada hari libur, headway pada pagi dan sore hari adalah 4,28 dan 4,04 menit serta memiliki rata-rata headway pada siang hari headway angkutan kota AL adalah 5,92 menit.
Travel Time
1. Rute Arjosari - Landungsari
Travel Time pada jam puncak rute terminal arjosari menuju terminal landungsari atau AL pada weekdays adalah 59 menit pada pagi hari, 62 menit pada siang hari dan 59 menit pada sore hari. Sedangkan pada weekends memiliki nilai waktu perjalanan 56 menit pada pagi hari, 75 menit pada siang hari dan 71 menit pada sore hari. Hal ini menunjukkan bahwa travel time pada masing masing angkutan kota baik AL masih sesuai standar menurut oleh SK Dirjen No.687/AJ.206/DRJD/2002.
2. Rute Hamid Rusdi - Arjosari
Travel Time pada jam puncak rute terminal Hamid Rusdi menuju terminal Arjosari atau HA pada weekdays adalah 69 menit pada pagi hari, 75 menit pada siang hari dan 66 menit pada sore hari. Sedangkan pada weekends memiliki nilai waktu perjalanan 58 menit pada pagi hari, 62 menit pada siang hari dan 70 menit pada sore hari. Hal ini menunjukkan bahwa travel time pada masing masing angkutan kota baik HA masih sesuai standar menurut oleh SK Dirjen No.687/AJ.206/DRJD/2002.
Waktu Tunggu
Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner, didapatkan bahwa pada angkutan kota rute Terminal Arjosari menuju Terminal Landungsari 14% penumpang menunggu angkutan kota <5 menit, 37% penumpang menunggu angkutan kota antara 5-10 menit, 28%
penumpang menunggu angkutan kota antara 10- 20 menit dan 21% penumpang menunggu angkutan kota 20 - 30 menit. Hal ini menunjukkan bahwa waktu tunggu angkutan kota Terminal Arjosari menuju Terminal Landungsari masih belum sesuai standar dikernakan masih adanya
21% penumpang yang menunggu angkutan kota rute AL pada waktu antara 20 – 30 menit, sedangkan pada angkutan kota rute HA juga masih memiliki 23% penumpang yang menunggu angkutan rute HA pada waktu 20-30 menit.
Kinerja Pelayanan Angkutan kota rute AL Bedasarhan hasil dari perhitungan yang dilakukan dalam analisis IPA menurut presepsi penumpang terhadap pelayanan di Perjalanan Rute Terminal Arjosari menuju Terminal Landungsari, maka dihasilkan diagram kartesisus sebagai berikut.
Gambar 5 Diagram Kartesius Kinerja dalam Perjalanan Angkutan kota Rute Arjosari – Landungsari Tabel 5. Rekapiulasi Hasil IPA Kinerja Pelayanan Angkutan kota AL
Kuadran Nomor Indikator
Kuadran I (Prioritas Penanganan)
1 Identitas Awak Kendaraan 5 Informasi Fasilitas Keselamatan 12 Informasi Halte
13 Ketersediaan Angkutan kota 15 Fasilitas Tempat duduk prioritas
untuk Difabel dan Ibu Hamil 18 Informasi Pelayanan
Kuadran II (Prestasi)
2 Sticker Trayek Angkutan kota 3 Lampu Penerangan 6 Tersedia Fasilitas Kesehatan 8 Kapasitas tempat duduk 10 Fasilitas Kebersihan 11 Larangan Merokok 14 Tarif Angkutan
Kuadran III (Prioritas
Rendah)
4 Tebal Kaca film 9 Ventilasi Udara
17 Keterlambatan Angkutan kota 20 Travel Time
21 Kesesuaian rute Kuadran IV
(Berlebihan)
7 Pintu Keluar Masuk Penumpang 16 Waktu Tunggu
19 Waktu Antara Sumber: Hasil Analisis,2020
Berdasarkan hasil analisis IPA, terdapat 6 aspek atau attribut yang masuk ke dalam kuadran 1. Berikut adalah hasil analisis ipa Indikator yang masuk ke Kuadran I yang akan ditunjukan pada Tabel 6 dibawah ini:
DI KOTA MALANG RUTE AL DAN HA
Tabel 6. Hasil Analisis Kinerja Pelayanan Angkutan kota rute AL
Variabel
Hasil Analsis Kinerja Pelayanan di Stasiun
Indikator Keselamatan Informasi Fasilitas Keselamatan
Keamanan Idenitas Awak Kendaraan Keterjangkauan Informasi Halte
Kesetaraan Fasilitas Penumpang Difabel dan Ibu hamil
Keteraturan Informasi Pelayanan Ketersediaan Angkutan kota Sumber: Hasil Analisis,2020
Kinerja Pelayanan Angkutan kota rute HA Berdasarkan hasil dari perhitungan yang dilakukan dalam analisis IPA menurut presepsi penumpang terhadap pelayanan di Perjalanan Rute Terminal Hamid Rusdi menuju Terminal Arjosari, maka dihasilkan diagram kartesisus sebagai berikut.
Gambar 6 Diagram Kartesius Kinerja dalam Perjalanan Angkutan kota Rute Hamid Rusdi –
Arjosari
Tabel 7 Rekapitulasi Hasil IPA Kinerja Pelayanan Angkutan kota rute HA
Kuadran Nomor Indikator
Kuadran I (Prioritas Penanganan)
1 Identitas Awak Kendaraan 5 Informasi Fasilitas Keselamatan 6 Tersedia Fasilitas Kesehatan 8 Kapasitas Tempat Duduk 9 Ventilasi Udara 12 Informasi Halte
13 Ketersediaan Angkutan kota 15 Fasilitas Tempat duduk untuk
Difabel dan Ibu Hamil 18 Informasi Pelayanan 21 Kesesuaian Rute
Kuadran II (Prestasi)
2 Sticker Trayek Angkutan kota 3 Lampu Penerangan 11 Larangan Merokok 14 Tarif Angkutan
17 Keterlambatan Angkutan kota Kuadran III
(Prioritas Rendah)
4 Tebal Kaca Film
7 Pintu Keluar Masuk Penumpang
Kuadran Nomor Indikator
16 Waktu Tunggu
Kuadran Nomor Indikator
Kuadran IV (Berlebihan)
10 Fasilitas Kebersihan 19 Waktu Antara 20 Travel Time Sumber: Hasil Analisis,2020
Berdasarkan hasil analisis IPA, terdapat 10 aspek yang masuk kedalam kuadran 1. Berikut adalah hasil analisis Indikator yang masuk ke Kuadran I yang akan ditunjukkan pada Tabel 8.
Tabel 8 Hasil Analisis Kinerja Pelayanan Angkutan kota rute HA
Variabel
Hasil Analisis Kinerja Pelayanan di Stasiun
Indikator Keselamatan Informasi Fasilitas Keselamatan
Keamanan Tersedia Fasilitas Kesehatan Idenitas Awak Kendaraan Keterjangkauan Informasi Halte
Kesetaraan Fasilitas Penumpang Difabel dan Ibu hamil
Keteraturan
Informasi Pelayanan Ketersediaan Angkutan kota Kesesuaian Rute
Kenyamanan Kapasitas Tempat Duduk (Load Factor) Ventilasi Udara
Sumber: Hasil Analisis,2020
Selanjutnya data pada tabel diatas akan digunakan dalam analisis QFD atau Quality Function Deployment, yang dimana analisis QFD pada penelitian ini digunakan untuk menentukan arahan prioritas penanganan variabel.
Menyusun Arahan Prioritas Rekomendasi Kinerja Operasional dan Kinerja Pelayanan Angkutan kota rute AL dan HA
Tahap dari analisis QFD yang pertama yaitu menentukan urutan selisih dari atribut yang ada atau (Gap). Gap didapatkan melalui perhitungan selisih antara tingkat kepuasan aktual dengan nilai tingkat harapan penumpang angkutan kota. Langkah selanjutnya pada analisis QFD adalah pembuatan House of Quality (HoQ).
Bagian – bagian HoQ meliputi Voice of customer, matriks perencanaan dan respon teknis.
Voice of Customer
Berdasarkan hasil selisih antara tingkat harapan tingkat kepuasan pengguna atau penumpang angkutan kota rute AL dan HA dengan tingkat harapan pengguna atau penumpang, maka didapatkan atribut pelayanan dengan nilai selisih tertinggi adalah atribut Informasi Halte dengan nilai gap -2,97 pada Kinerja Pelayanan rute angkutan kota AL, dan Informasi Fasilitas Keselamatan serta ventilasi udara memiliki nilai gap tertinggi pada Kinerja Pelayanan angkutan kota rute HA yaitu memiliki nilai -3,07.
Matriks Perencanaan
Matriks perencanaan teridiri dari Goal, importance of customer, customer satisfication perfomance, goal, improvement ratio, raw weight, normalized raw weight.
Goal
Goal adalah nilai harapan penumpang terhadap kinerja pelayanan angkutan kota rute AL dan HA untuk memenuhi kebutuhan penumpang. Goal didapatkan dari rata – rata dari nilai harapan atau tingkat kepentingan.
Importance of customer (IoC)
Berdasarkan hasil perhitungan Importance of Customer Kinerja Pelayanan Angkutan kota rute Al dan HA, didapatkan bahwa atribut ketersediaan fasilitas keteraturan pada rute AL berupa informasi pelayanan memiliki nilai IoC tertinggi sebesar 0,19 dan atribut fasilitas informasi pelayanan, kesesuaian rute dan kapasitas tempat duduk dalam kinerja pelayanan angkutan kota rute HA memiliki nilai IoC tertinggi di kinerja dalam perjalanan dengan nilai sebesar 0,101.
Customer satisfication perfomance
Customer satisfication perfomance adalah nilai persepsi kepuasan penumpang angkutan kota rute AL dan HA terhadap kinerja pelayanan angkutan kota untuk memenuhi kebutuhan pengguna Angkutan Kota. Customer satisfaction perfomance ini didapatkan melalui atribut - atribut pelayanan kepuasan dalam analisis IPA.
Improvement Ratio
Improvement ratio adalah ukuran dari usaha yang dibutuhkan untuk mengubah tingkat kepuasan penumpang angkutan kota di Rute Arjosari - Landungsari dan Rute Hamid Rusdi – Arjosari pada kondisi eksisting terhadap atribut – atribut pelayanan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Improvement ratio didapatkan dari nilai Goal dibagi dengan customer satisfication perfomance.
Raw weight
Berdasarkan hasil perhitungan raw weight pada angkutan kota rute AL dapat diketahui atribut ketersediaan fasilitas kesetaraan berupa fasilitas tempat duduk prioritas untuk penumpang difabel dan ibu hamil memiliki nilai raw weight tertinggi dengan nilai
0,43, sedangkan pada angkutan kota rute HA atribut tersedianya fasilitas kesehatan dan fasilitas tempat duduk prioritas untuk penumpang difabel dan ibu hamil memiliki nilai raw weight tertinggi dengan nilai 0,32. hal tersebut menunjukan atribut tersebut memiliki nilai kepentingan secara keseluruhan yang tinggi dibanding atribut pelayanan lainnya.
Normalized Raw weight
Normalized raw weight adalah raw weight yang dinyatakan dalam bentuk persentase atau pecahan anatara 0 sampai dengan 1. Nilai normalized raw weight nantinya digunakan untuk mengukur kontribusi respon teknis kinerja pelayanan angkutan kota rute AL dan HA.
Penentuan Technical Response
Technical Response adalah bagian pada House of Quality yang berisi mengenai jawaban dari Voice of customer. Technical Response didapatkan melalui diskusi antara peneliti dan saran yang didapatkan dari Dinas Perhubungan Kota Malang.
Tabel 9. Tecnical Response Kinerja Pelayanan Angkutan kota rute AL
Nomor Respon Teknis
1 Penambahan data diri supir awak kendaraan dalam kendaraan angkutan kota
2 Penyediaan papan informasi pemberitahuan fasilitas keselamatan
3
Penyediaan fasilitas berupa alat pemadam ringan, palu pemecah kaca, fasilitas penyimpanan, dan pemeliharaan kendaraan
4
Penambahan papan informasi letak halte dan titik pemberhentian yang tersedia didalam armada maupun di titik pemberhentian
5 Optimalisasi headway berupa adanya jadwal keberangkatan dan kedatangan angkutan kota 6 Penambahan armada angkutan kota
7 Penambahan kursi untuk penumpang difabel dan ibu hamil
8 Penambahan informasi pelayanan setiap ruas jalan yang dilewati oleh angkutan kota
Sumber: Hasil Analisis,2020
Tabel 10 Technical Response Kinerja Pelayanan Angkutan kota rute HA
Nomor Respon Teknis
1 Penambahan data diri supir awak kendaraan dalam kendaraan angkutan kota
2
Penyediaan fasilitas berupa alat pemadam ringan, palu pemecah kaca, fasilitas penyimpanan, dan pemeliharaan kendaraan
3 Penyediaan fasilitas kesehatan berupa kotak P3K dalam armada angkutan kota
4 Perbaikan sarana dan prasarana angkutan kota 5 Perbaikan atau pergantian ventilasi udara
6
Penambahan papan informasi letak halte dan titik pemberhentian yang tersedia didalam armada maupun di titik pemberhentian
7 Penambahan armada angkutan kota
DI KOTA MALANG RUTE AL DAN HA
Nomor Respon Teknis
8 Penambahan kursi untuk penumpang difabel dan ibu hamil
9 Penambahan informasi pelayanan setiap ruas jalan yang dilewati oleh angkutan kota
10 Optimalisasi Kesesuaian Rute angkutan kota Sumber: Hasil Analisis,2020
Technical Matrix
Technical matriks pada house of quality berisi nilai – nilai mengenai matriks untuk menetapkan target peningkatan kinerja pelayanan angkutan kota rute AL dan HA.
Technical matriks sendiri dapat berupa angka maupun simbol yang akan digunakan untuk masuk kedalam house of quality.
Contribution
Nilai kontribusi adalah tahap perhitungan untuk mendapatkan nilai normalized contribution nilai kontribusi sendiri menggambarkan kontribusi respon teknis terhadap pemenuhan keinginan konsumen atau penggunan angkutan kota rute AL dan HA. Semakin besar nilai kontribusi respon teknis, maka semakin besar kontribusi respon teknis terhadap attribut peningkatan kinerja Pelayanan pada angkutan kota rute AL dan HA.
Normalized Contribution
Normalized contribution digunakan untuk melihat secara persentase nilai kontribusi respon teknis terhadap atibut pelayanan. Atribut pelayanan yang akan digunakan didapatkan melalui Voice of Customer peneltian.
Absolute Importance (AI)
Absolut importance atau kepentingan absolut adalah nilai kepentingan respon teknis pada angkutan kota rute AL pada respon teknis Penambahan papan informasi letak halte pada armada dan titik pemberhentian memiliki nilai kepentingan absolut paling tinggi yaitu sebesar 67,3 dan pada angkutan kota rute HA respon teknis Perbaikan sarana dan prasarana angkutan kota memiliki nilai kepentingan absolut paling tinggi yaitu sebesar 94,3. Nilai tersebut menunjukan kepentingan respon teknis berdasarkan penilaian penumpang serta pengaruh respon teknis terkait dengan voice of customer, maka semakin besar nilai kepentingan absolut respon teknis maka hal terebut menunjukan tingkat kepentingan respon teknis semakin besar.
Gambar 7. House of Quality Kinerja Pelayanan Rute Arjsoari – Landungsari
Customer
Requirements Importance of criteria Penambahan data diri supir awak kendaraan pada angkutan umum kota tersedia papan pemberitahuan fasilitas keselamatan Tersedia fasilitas keselamatan berupa alat damkar, palu pemecah kaca, dan fasilitas penyimpanan penambahan papan informasi letak halte yang tersedia pada trayek dan tempat pemberhentian optimalisasi headway angkutan umum kota Penambahan armada angkutan umum kota penambahan kursi untuk difabel dan ibu hamil agar tidak terganggu dengan penumpang lain penambahan infromasi pelayanan setiap ruas jalan yang dilewati oleh angkutan umum kota
1 2 3 4 5 6 7 8
Identitas Awak Kendaraan 1
4,51 9 3 1 0 0 0 1 0 2,26 199,00 451,00 0,38 0,14 0,38 4,51 2,00 0,17
Informasi Fasilitas Keselamatan 2
4,53 3 9 9 3 0 0 1 0 2,89 157,00 453,00 0,48 0,18 0,86 4,53 1,57 0,17
Informasi Halte 3 4,55 0 1 3 9 9 0 0 3 2,88 158,00 456,00 0,48 0,19 1,34 4,55 1,58 0,17
Ketersediaan Angkutan Umum 4 4,52 0 0 0 9 9 9 0 0 2,39 187,00 452,00 0,40 0,15 1,74 4,52 1,89 0,17
Fasilitas Penumpang Difabel dan Ibu
Hamil 5
4,50 0 1 1 0 0 0 9 0 2,92 154,00 450,00 0,49 0,19 2,23 4,50 1,54 0,17
Informasi Pelayanan 6
4,48 0 3 0 3 0 0 0 9 2,32 193,00 448,00 0,38 0,15 2,61 4,48 1,93 0,17
Total score 27,09 12 17 14 24 18 9 11 12 15,65 1048,00 2710,00 2,61 1,00 9,15 27,09 10,51 1,00
Contribution 1,811 2,7 2,088 3,01 1,27 1,27 1,64 2,44
Normalized contribution 0,11 0,17 0,13 0,19 0,08 0,08 0,10 0,15
Absolute importance 42,12 61,4 49,29 67,3 31,3 31,3 34,4 49,2
Percent importance 11,5 16,8 13,5 18,4 8,5 8,5 9,4 13,4
Priority 5 2 4 1 8 7 6 3
House of Quality rute AL
Technical responses
Direction of Improvement Planning matriks
Importance to Customer (IoC)
Customer Satisfaction Performance
Goal
Cummulative Normalized Weight
Normalized raw weight
Raw Weight
Improvement Ratio KPH
KPA
Technical benchmarking
Standart
Strong 9.0
Moderate 3.0
Weak 1.0
None 0.0