• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nurimani 1, Suyud 2. Indonesia.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Nurimani 1, Suyud 2. Indonesia."

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADA PENDUDUK KECAMATAN

JAGAKARSA JAKARTA SELATAN TAHUN 2016 Nurimani1, Suyud2

1Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok, 16424, Indonesia.

Email : [email protected]

2Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok, 16424, Indonesia & Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan Lingkungan, Program Pascasarjana, Universitas

Indonesia, Salemba.

Email : [email protected]

Abstrak

Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan unsur pengembang tata ruang kota yang diyakini mampu berfungsi memperbaiki kualitas lingkungan, khususnya kualitas udara.

Keberadaan RTH memiliki pengaruh untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan dalam suatu wilayah apabila masyarakat memanfaatkannya dengan baik. Keberadaan dan pemanfaatan RTH dalam suatu wilayah diharapkan dapat menjadi upaya pencegahan kesehatan masyarakat terhadap penyakit-penyakit saluran pernapasan.

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) disebabkan oleh multifaktor sehingga dibutuhkan penanganan dan pencegahan yang tepat dengan pendekatan multidisiplin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Ruang Terbuka Hijau Publik dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Penduduk Kecamatan Jagakarsa Tahun 2016. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cross Sectional pada 230 responden yang merupakan penduduk Kecamatan Jagakarsa yang bermukim lebih dari satu tahun, bersedia mengikuti wawancara, dan berusia 2 – 65 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jarak rumah ke RTH berhubungan dengan kejadian ISPA dengan nilai OR=1,949.

Selain itu tingkat pengetahuan penduduk mengenai fungsi dan manfaat RTH, frekuensi kunjungan, durasi kunjungan, dan jenis kegiatan yang dilakukan selama berada di RTH memiliki hubungan dengan kejadian ISPA masing-masing dengan nilai OR=4,674 , OR=4,664 , dan OR=3,503. Semakin terawat kondisi RTH akan menambah motivasi masyarakat untuk memanfaatkan RTH sebagai bentuk upaya pencegahan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau Publik, Infeksi Saluran Pernapasan Akut

(2)

PUBLIC GREEN OPEN SPACES AND ACUTE RESPIRATORY INFECTION IN POPULATION AT JAGAKARSA DISTRIC 2016

Nurimani1, Suyud2

1Departemen of Environmental Health, Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, Depok, 16424, Indonesia

Email : [email protected]

2Departemen of Environmental Health, Faculty of Public Health, Universitas Indonesia, Depok, 16424, Indonesia & Centre of Human Resource and Environment Research, Magister Program, Universitas Indonesia,

Salemba.

Email : [email protected]

Abstract

Green Open Spaces is an element of urban spatial development that are believed to be able to improve the quality of environment, especially air quality. The existence of green open space can influence the improving of public health quality and environmental health in some area when the peoples use it well. The utility of green open space in some area can be an action for public health prevention against respiratory diseases. Acute Respiratory Infection caused by multifactor, it takes the handling of appropriate and precautionary with a multidisiplin approaching. This study aims to determine the relationship of green open space with acute respiratory infection in the population of Jagakarsa Jakarta Selatan 2016. Design of this study is cross sectional with total samples 230 respondents who lived and stayed there for more than a year, accept to follow this study, and had an age from 2 – 65 years old. These results the variable of the distance of the house and open green spaces has an association with acute respiratory infection with an OR=1,949 . In addition the knowledge about the benefits of the open green spaces, frequencies and duration of visits, and also the activities carried while in open green space has an association with acute respiratory infection with an OR=4,674 , OR=4,664 , and OR=3,503 each. Well, preserved condition of the open green spaces will increase the community motivation to visit and utilize the green open spaces as an Acute Repiratory Infection prevention efforts

Keywords : public green open space, acute respiratory infection,

(3)

Pendahuluan

Meningkatnya pertumbuhan penduduk dewasa ini membawa sejumlah dampak bagi beberapa aspek diantaranya adalah aspek lingkungan. Pertumbuhan penduduk menyebabkan meningkatnya kebutuhan lahan untuk pemukiman dan bertambahnya aktivitas industri. Hal ini mengancam kelestarian lingkungan khususnya di wilayah perkotaan seperti pencemaran udara dan penurunan fungsi lahan untuk ruang terbuka hijau. Kondisi seperti ini tentunya dapat mengancam kondisi kehidupan manusia salah satu bentuknya ialah timbul berbagai penyakit yang disebabkan oleh pencemaran udara, diantaranya adalah ISPA. Tingginya pencemaran udara sesungguhnya dapat tereduksi dengan banyaknya ruang terbuka hijau yang ada di wilayah perkotaan, hal ini disebabkan karena terdapat banyak dari jenis vegetasi tanaman dapat menyerap polutan-polutan pencemar udara.

Ruang Terbuka adalah ruang-ruang dalam satu wilayah (perkotaan) yang berbentuk area/kawasan atau area memanjang dimana penggunaannya lebih bersifat terbuka tanpa bangunan. Sedangkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah bagian dari ruang terbuka yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi, dan estetika. Berdasarkan Permendagri No.1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan fungsi ruang terbuka hijau adalah untuk pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan, sebagai pengendali pencemaran dan kerusakan lingkungan, tempat berlindung plasma nutfah dan keanekaragaman hayati, pengendali tata air, serta sebagai sarana estetika. Menurut Undang-Undang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dijelaskan pada pasal 29 bahwa jumlah luasan RTH minimal adalah 30% dari luas total wilayah dengan porsi 20% merupakan RTH publik dan 10% adalah RTH privat.

Badan PBB urusan Pemukian UN Habitat dalam VOA Indonesia menyatakan kota- kota di Asia, Timur Tengah, hingga ke Amerika Latin tetap berupaya untuk memenuhi standar minimal ruang terbuka hijau. Singapura dan New York adalah contoh kota yang telah memenuhi kebutuhan RTH wilayahnya yakni sudah mencapai 50% dan 51,3%. Sedangkan negara lain seperti Vienna memiliki proporsi jumlah RTH sebesar 42% dari luas wilayahnya, masih melebihi batas standar Indonesia. Menurut James Siahaan (2010) dalam Dwihatmojo, 2014 terjadi penurunan kuantitas ruang terbuka hijau secara signifikan yang terlihat di kota- kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung. Di kota-kota besar tersebut, luas RTH mengalami penurunan hingga mencapai kurang dari 10% pada saat ini sejak tahun 1970- an (35%). Berdasarkan data dari Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta luasan RTH yang ada di DKI Jakarta baru mencapai 9,97% dari total luas wilayah DKI Jakarta.

(4)

luas ruang terbuka hijau 357,45 Ha dalam bentuk hutan kota dan merupakan yang terbesar di DKI Jakarta. Menurut data dari Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta ada 645 taman di wilayah Jakarta Selatan. Jumlah itu terdiri atas 589 taman lingkungan, 20 taman interaktif, 18 taman pemakaman umum, 7 taman eksekusi refungsi SPBU, 6 taman rekreasi, 4 taman bangunan umum, dan 1 taman kota. Total luas taman dan jalur sebagai ruang terbuka hijau di Jakarta Selatan mencapai 6,2 Km2 dan merupakan yang paling luas di Jakarta.

Ruang terbuka hijau merupakan unsur pengembang tata ruang kota dimana keberadaannya diyakini mampu memperbaiki kualitas lingkungan khususnya dalam mengurangi pencemaran udara. Pencemaran udara yang sering terjadi di wilayah perkotaan adalah yang berasal dari alat transportasi yang mengeluarkan polutan-polutan berbahaya seperti SO2, CO, NO2, O3, TSP (Debu), HC, Pb, PM2,5 dan PM10. Polutan-polutan tersebut apabila berinteraksi dengan manusia dapat menimbulkan gangguan kesehatan, salah satunya adalah ISPA.

Infeksi Saluran Napas Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan akut yang meliputi saluran napas bagian atas yang dapat berlangsung selama 14 hari (Depkes RI, 2008).

ISPA merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia. Terdapat 922.000 orang meninggal (15% dari seluruh kematian yang ada) akibat ISPA pada tahun 2015 (WHO, 2015) dengan tingkat mortalitas yang sangat tinggi pada bayi, anak- anak, dan lanjut usia, serta terjadi paling banyak di negara-negara dengan pendapatan per- kapita rendah dan menengah. Prevalensi terbanyak berasal dari Asia Tenggara dan Sub- Saharan Africa (WHO, 2007). Prevalensi ISPA di Indonesia adalah 4,5% dengan DKI Jakarta menduduki peringkat ke-11 dengan nilai prevalensi 12,5% untuk ISPA yang telah terdiagnosis. Adapun total prevalensi ISPA di DKI Jakarta baik yang telah terdiagnosis maupun yang hanya menunjukkan gejala adalah sebesar 25,5%. Berdasarkan pokok-pokok Riskesdas DKI Jakarta tahun 2013, disebutkan bahwa ISPA merupakan masalah penyakit menular yang menduduki peringkat pertama di DKI Jakarta dan membutuhkan fokus penanganan yang tinggi. Prevalensi ISPA di wilayah kotamadya Jakarta Selatan merupakan yang tertinggi (31,3%) dibandingkan wilayah kotamadya yang lain. ISPA banyak terjadi pada anak usia 1-4 tahun dengan prevalensi 25,8% (Riskesdas, 2013). Sebuah studi penelitian menununjukkan ada hubungan antara kejadian ISPA pada balita dengan kadar PM10 di dalam rumah, dimana balita yang tinggal di dalam rumah dengan kadar PM10 tidak memenuhi syarat mempunyai risiko 6,22 kali terkena ISPA dibandingkan dengan balita yang tinggal di rumah dengan kadar PM10 yang memenuhi syarat.

(5)

Sedangkan terdapat beberapa penelitian bahwa keberadaan ruang terbuka hijau mampu mereduksi jumlah polutan berbahaya tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Ruyani menunjukkan bahwa hasil pengukuran kandungan Pb total di dalam tanah berkisar antara 2,0 pppm hingga 44,9 ppm dan kandungan Pb di dalam organ berbaai jenis pohon masih berkisar

<0,7 mg/kg di Provinsi DKI Jakarta. Hasil pengukuran yang menunjukkan kandungan Pb lebih banyak di tanah sesuai dengan hasil penelitian lain yang menyebutkan terdapat 80%

timbal dilepas dari kedaraan, dimana 22% lepas ke udara dan 77,5% terserap ke tanah.

Berdasarkan penelitian Istiqamah mengenai estimasi risiko pajanan PM10 berdasarkan keberadaan ruang terbuka hijau pada tahun 2014, menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau memiliki pengaruh menurunkan konsentrasi PM10 lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah yang tidak memiliki ruang terbuka hijau. Menurut Prasetyo et al. (2002) terdapat beberapa tipe penutupan lahan yang mampu menyerap Gas CO2 di udara. Tipe penutupan lahan yang berupa pepohonan memiliki daya serap terhadap CO2 ialah sebesar 1.559,10 kg/ha.hari atau setara 569,07 ton/ha.tahun, sedangkan semak belukar dan padang rumput memiliki daya serap gas CO2 di udara mencapai 150,68 kg/ha.hari dan 32,88 kg/ha.hari atau setara dengan 55 ton/ha.tahun dan 12 ton/ha.tahun. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Pradiptiyas et al.

(2009), menjelaskan bahwa daya serap CO2 oleh RTH eksisting di Surabaya Utara mampu menyerap 2.456,04 ton/tahun atau sekitar 0,05% dari emisi total CO2 yang dihasilkan Surabaya Utara yakni 490.859,21 ton/tahun. Sedangkan yang terjadi di wilayah Surabaya Timur ialah RTH Eksisting di wilayah tersebut mampu menyerap CO2 di udara sebesar 9.885,48 ton/tahun atau sekitar 0,83% dari emisi total CO2 di wilayah tersebut yakni 1.187.392,08 ton/tahun.

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa jumlah dan jenis tanaman di ruang terbuka hijau, yang kemudian di satukan dengan model perhitungan lansekap menjadi derajat ketetapan RTH berhubungan dengan jumlah balita penderita ISPA. Nilai korelasi diantara keduanya menunjukkan hasil yang kuat yaitu +0,7619 dan dibuktikan dalam penelitian tersebut bahwa lokasi dengan derajat ketetapan tanaman di RTH yang dimiliki lokasi tersebut sangat baik (4), jumlah balita penderita ISPA-nya rendah yakni 37,50% . Sedangkan di lokasi lain dengan derajat ketetapan tanaman pada RTH yang dimiliki lokasi tersebut rendah (2), jumlah balita penderita ISPA-nya tinggi yakni mencapai 71,43% . Pada penelitian yang sama ditemukan pula hubungan antara luas RTH dengan jumlah balita penderita ISPA menunjukkan adanya korelasi negative yaitu -0,7903, yang berarti semakin luas RTH semakin kecil jumlah balita penderita ISPA di lokasi tersebut (Suryanti, 1993)

(6)

Berdasarkan Data Terbaru dari Indeks Standar Pencemaran Udara (update terakhir tanggal 25 April 2016), Jakarta Selatan termasuk ke dalam kategori kota yang memiliki tingkat pencemaran udara dengan baik. Nilai yang ditunjukkan dalam ISPU untuk parameter PM10

ialah 0 yang dapat diartikan pencemaran udara akibat PM10 tidak ada di wilayah Jakarta Selatan (Menlhk, 2016). Selain itu penggunaan lahan di wilayah Jakarta Selatan lebih besar digunakan untuk pemukiman penduduk dibandingkan dengan kegiatan industri yang dapat menimbulkan pencemaran, salah satunya melalui udara. Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan memiliki luas wilayah 25,01 Km2 yakni sekitar 50,41% dari total luas wilayah DKI Jakarta. Jumlah penduduk di Kecamatan Jagakarsa adalah sebanyak 356.271 orang dan memiliki kepadatan penduduk 14.245 orang/Km2 (BPS Jaksel, 2015). Kecamatan Jagakarsa memiliki RTH seluas 57,07 Ha dan merupakan RTH paling besar di wilayah Kota Jakarta Selatan. Salah satu RTH yang berada di wilayah Kecamatan Jagakarsa ialah Hutan Kota UI dengan luas sebesar 55,40 Ha yang telah ditetapkan sebagai hutan kota berdasarkan SK.

Rektor UI No.84/SK/12/1988 tanggal 31 Oktober 1988 lalu diperbaharui dengan SK Gubernur No. 3487/1999 dengan nama Mahkota Hijau. Adapun studi pendahuluan di Puskesmas Kecamatan Jagakarsa didapat data 10 penyakit terbesar di wilayah Puskesmas Kecamatan Jagakarsa periode Januari – Desember 2014. Dalam data tersebut menyatakan bahwa ISPA merupakan penyakit terbesar di wilayah Kecamatan Jagakarsa dengan jumlah kasus sebanyak 30.453 (34,22%) (Profil Puskesmas Jagakarsa, 2015). Hal ini kemudian menjadikan peneliti melakukan penelitian untuk melihat hubungan antara ruang terbuka hijau dengan kejadian ISPA di wilayah Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan

Tinjauan Teoritis

Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan area memanjang atau jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, serta merupakan tempat tumbuh tanaman baik yang tumbuh secara alamiah maupun sengaja ditanam (UU No.26 Tahun 2007).

Berdasarkan kepemilikannya dalam UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, ruang terbuka hijau dibagi menjadi dua meliputi RuangTerbuka Publik dan Ruang Terbuka Hijau Privat. RTH Publik ialah RTH yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota/Kabupaten dalam penyediaan dan pemeliharaannya. Sedangkan RTH privat adalah RTH yang penyediaan dan pemeliharaannya menjadi tanggung jawab pihak/lembaga swasta, perseorangan, dan masyarakat yang dikendalikan melalui izin pemanfaatan ruang oleh Pemerintah Kota/Kabupaten, kecuali Provinsi DKI Jakarta yakni oleh Pemerintah Provinsi.

(7)

Adapun menurut EFS (2013), Sinnett (2006), dan Forestry Research United Kingdom terdapat beberapa manfaat lain dari adanya ruang terbuka hijau dalam satu wilayah diantaranya adalah ; RTH berfungsi sebagai kontrol iklim, dimana dapat meregulasi kualitas udara dan iklim, mengurangi konsumsi energi dengan melawan efek pemanasan global.; RTH bermanfaat sebagai melindungsi kualitas air, dengan mengurangi nitrat dalam tanah yang dalam cadangan air, mengurangi limpasan air permukaan, dan menjaga fosfor dan polutan lain berada di cadangan air tanah, serta mencegah adanya sistem septik yang berlebihan. ; RTH bermanfaat secara orologis sebagai pencegah erosi tanah, dengan keberadaan vegetasi penutup lahan dapat menjaga sedimen tanah dari aliran air sehingga dapat terhindar dari banjir dan longsor. ; RTH bermanfaat sebagai fungsi ekologi, dengan meningkatkan keanekaragaman hayati dari populasi spesies tanaman ataupun hewan dengan meningkatkan berbagai aspek yang berkaitan dengan habitat seperti, lokasi habitat, ukuran habitat, jenis habitat, manajemen habitat, serta bentuk dari habitat tersebut.; RTH bermanfaat sebagai penambah nilai estetis, dengan penataan terhadap tanaman dan sarana penunjang yang tertata ; RTH bermanfaat secara hidrologis yaitu dapat menyerap air dengan baik sehingga menghasilkan persedian air tanah yang cukup. ; RTH bermanfaat sebagai sarana protektif, dengan adanya perlindungan dan kenyamanan dengan adanya pepohonan yang dapat melindungi dari terik matahari, terpaan angin kencang dan kebisingan. ; RTH bermanfaat sebagai sarana edukasi dan belajar, menurut Dillon et al., (2005), pembelajaran yang dilakukan di luar ruangan dapat memberi pengaruh dalam meningkatkan kemampuan kognitif, affektif, interaksi sosial/interpersonal, dan fisik dan perilaku. ; RTH bermanfaat sebagai nilai ekonomi, dimana keberadaan RTH dapat memperbaiki kinerja seseorang sehingga dapat mempengaruhi produktivitas, selain itu RTH juga berperan dalam meningkatkan nilai estetika sehingga memberi pengaruh pada income yang berasal dari kunjungan turis unu berpariwisata (NENW, 2005)

Infeksi ialah adanya kuman atau mikroorganisme yang masuk dan berkembang biak di dalam tubuh manusia sehingga menimbulkan gejala penyakit. Saluran pernafasan ialah organ yang berfungsi untuk menjalankan sistem pernafasan manusia yang secara anatomi terbagi menjadi saluran pernafasan bagian atas (hidung, pharynx, larynx, trachea, bronkus), bagian bawah (jaringan paru), dan organ adneksa saluran pernafasan (sinus-sinus, rongga telinga tengah, dan pleura). Infeksi akut ialah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA dapat berlangsung lebih dari 14 hari. (Riskesdas, 2013). Gejala

(8)

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ditandai dengan ditemukannya satu atau lebih dari gejala-gejala berikut ini; batuk, suara serak, pilek atau mengeluarkan lender/ingus dari hidung, panas atau demam yakni suhu badan lebih dari 37°C atau jika dahi terasa panas ketika diraba menggunakan punggung tangan, sesak nafas, nafas yang bunyi, nyeri sakit kepala, nyeri saat menelan, dan sakit tenggorokan.

Metode

Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain studi potong lintang dengan menggunakan data primer dari observasi dan wawancara penduduk dengan kuesioner. Observasi dan wawancara dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2016. Sample berjumlah 230 orang yang tinggal di wilayah Kecamatan Jagakarsa lebih dari satu tahun dan berusia diantara 2 – 65 tahun. Diagnosa terhadap sakit ISPA dilakukan dengan mengandalkan subyektifitas responden dalam menjawab keluhan gejala ISPA dalam rentang waktu satu bulan terakhir.

Sedangkan RTH Publik yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh RTH Publik di wilayah Kecamatan Jagakarsa dan RTH Publik di luar wilayah Kecamatan Jagakarsa yang dimanfaatkan oleh responden.

Hasil Penelitian

Gambaran distribusi frekuensi kejadian ISPA pada penduduk Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan dari total 230 responden, didapat sebanyak 114 (49,6%) responden yang mengalami ISPA dan sebanyak 116 (50,4%) responden yang tidak mengalami ISPA (Tabel 1.). Gambaran ketersediaan RTH Publik di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan adalah 24.880.000 m2 dengan proporsinya 5,15% dari luas total wilayah Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. RTH Publik yang digunakan dalam penelitian ini ialah RTH Publik yang berada di bawah pengelolaan Dinas dan Suku Dinas Pertamanan dan Pemakaman Umum DKI Jakarta dan Jakarta Selatan (Gambar 1.).

Tabel 1. Distribusi Kejadian ISPA di Kecamatan Jagakarsa Tahun 2016

No Kategori Jumlah

(n=230)

Persen (%)

1 ISPA 114 49,6

2 Tidak ISPA 116 50,4

(9)

Sumber : Laporan Dinas Pertamanan dan Pemakaman Umum Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015

Gambar 1. Luas RTH Publik yang Dikelola oleh Dinas Berdasarkan Jenisnya di Kecamatan Jagakarsa Tahun 2015 (m2)

Tingkat pemanfaatan RTH Publik oleh responden didapatkan bahwa responden yang sering mengunjungi RTH Publik dan lama setelah berada di RTH Publik terdiri dari 103 (44,8%) responden dan 138 (60%) responden. Sedangkan responden yang tidak pernah sama sekali berkunjung ke RTH Publik sebanyak 45 (19,6%) responden.

Tingkat pengetahuan yang buruk memperbesar peluang bagi responden untuk mengalami ISPA dibandingkan dengan responden dengan tingkat pengetahuan yang baik (OR

= 1,143). Responden yang memiliki jarak rumah ke RTH yang jauh berisiko untuk mengalami ISPA daripada responden dengan jarak rumah ke RTH dekat (OR = 1,949). Frekuensi dan durasi kunjungan responden ke RTH memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian ISPA. Semakin sering dan lama responden berkunjung ke RTH, semakin besar peluang untuk tidak mengalami ISPA (OR = 1,372) dan (OR = 1,715). Jenis aktivitas fisik yang dilakukan responden di RTH Publik juga memberikan peluang risiko untuk tidak mengalami ISPA dibandingkan dengan responden yang tidak beraktifitas sama sekali (OR = 3,503). (Tabel 2.)

16858   52539.8   48670  

554000  

356857  

208240  

36150   9900   0  

100000   200000   300000   400000   500000   600000  

1  

LUAS RTH PUBLIK YANG DIKELOLA OLEH DINAS BERDASARKAN JENISNYA DI KECAMATAN JAGAKARSA

TAHUN 2015 (m2)

Taman  Interak6f   Taman  Lingkungan   Taman  Rekreasi  

Hutan  Kota   TPU   Jalur  Hijau  

Tepian  Sungai   Taman  Bangunan  Umum  

(10)

Tabel 2. Hubungan Karakteristik Individu, Jarak RTH Publik ke Rumah, dan Tingkat Pemanfaatan RTH Publik dengan Kejadian ISPA di Kecamatan Jagakarsa Tahun 2016

Variabel

ISPA

Jumlah

OR Nilai P

Ya Tidak

N % N % N %

Jenis Kelamin

Laki-laki 29 46 34 54 63 100 0,823

(0,460 – 1,471) 0,610

Perempuan 85 50,9 82 49,1 167 100

Usia

0-10 tahun 17 29,3 41 70,7 58 100

0,004

11-32 tahun 33 55 27 45 60 100 3,316

(1,532 – 7,177)

33-41 tahun 31 56,4 24 43,6 55 100 1,125

(0,541 – 2,338) 42 tahun keatas 33 57,9 24 42,1 57 100 1,065

(0,504 – 2,250)

Status Merokok

Merokok 23 60,5 15 39,5 38 100 1,702

(0,837 – 3,460) 0,193 Tidak Merokok 91 47,4 101 52,6 192 100

Tingkat Pengetahuan

Kurang Baik 10 52,6 9 47,4 19 100 1,143

(0,447 – 2,927) 0,968

Baik 104 49,3 107 50,7 211 100

Jarak Rumah ke RTH

Jauh 63 58,3 45 41,7 108 100 1,949

(1,153 – 3,295) 0,18

Dekat 51 41,8 71 58,2 122 100

Frekuensi Kunjungan

Tidak Pernah 34 75,6 11 24,4 45 100

0,000

Jarang 39 47,6 43 52,4 82 100 4,674

(2,130 – 10,258)

Sering 41 39,8 62 60,2 103 100 1,372

(0,763 – 2,465)

Durasi Kunjungan

Tidak Pernah 34 75,6 11 24,4 45 100

0,000

Sebentar 25 53,2 22 46,8 47 100 4,664

(2,180 – 9,979)

Lama 55 39,9 83 60,1 138 100 1,715

(0,880 – 3,340)

Kegiatan saat berada di RTH Publik

Tidak Ada 34 75,6 11 24,4 45 100

0,001 Rekreasi Pasif 45 39,8 68 60,2 113 100 3,503

(1,326 – 9,257) Olahraga

Ringan

20 50 20 50 40 100 0,773

(0,350 – 1,704)

Olahraga Berat 15 46,9 17 53,1 32 100 1,133

(0,447 – 2,874)

(11)

Karakteristik Individu Jenis Kelamin

Hasil penelitian ini didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel jenis kelamin dengan kejadian ISPA (p>0,05). Hal ini disebabkan bahwa struktur anatomi perempuan dan laki-laki berbeda. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya yaitu daya tahan fisik, kapasitas pernapasan, beban kerja, maupun pengaruh hormon. Jenis kelamin mempengaruhi hormon pada mukosa saluran pernapasan sehingga mampu meningkatkan efektifitas kinerja organ pernapasan. Gejala ISPA seperti flu sering terjadi pada wanita terutama yang berusia 20-30 tahun. Hal ini disebabkan karena ada perubahan hormone yang terjadi pada wanita selama masa menstruasi sehingga dapat meningkatkan sekresi mukosa di hidung (Meneghetti, 2012).

Usia

Ada hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian ISPA pada responden penduduk Kecamatan Jagakarsa (p<0,05). Dari empat kategori usia, kategori usia 11-32 tahun merupakan kategori usia yang lebih protektif terhadap ISPA dibanding kategori usia yang lain. Sedangkan responden dengan kategori usia 0-10 tahun dan usia diatas 42 tahun lebih peluang protektifnya cukup kecil dengan kejadian ISPA. Hal ini dikarenakan usia dapat mempengaruhi kondisi kerentanan seseorang untuk terpapar agen-agen penyebab ISPA.

Subyek yang berisiko tinggi terhadap paparan agen-agen penyebab ISPA adalah individu yang terlalu muda (balita dan anak-anak) atau sangat tua (dewasa dan lansia) (Fraser, 1990 dalam Mukono, 2003). Hampir semua jenis penyakit pernapasan diawali dengan gejala ISPA.

Selain itu hasil penelitian ini sesuai dengan EPA (2004) bahwa kelompok individu dengan usia kurang dari 5 tahun dan kelompok individu dengan usia diatas 65 tahun lebih rentan untuk mengalami gejala ISPA.

Status Merokok

Terdapat banyak penelitian yang memperlihatkan bahwa faktor merokok mempengaruhi terjadinya suatu penyakit khususnya penyakit pernapasan. Paparan asap rokok baik bagi perokok aktif maupun pasif dapat memicu infeksi mikroorganisme yang dapat menimbulkan gejala ISPA. Hasil uji statistik dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara status merokok dengan ISPA (p>0,05). Hal ini disebabkan jumlah responden sebagian besar perempuan yang tidak memiliki kebiasaan merokok atau dengan kata lain, dari keseluruhan responden jumlah perokok tidak terlalu banyak (Lee and Hee, 2011). Namun dalam uji statistik pada penelitian ini didapat bahwa

(12)

artikel-artikel yang terangkum dalam WHO Tobacco and Health Impact bahwa rokok dapat menyebabkan penyakit paru obstruktif kronik, tuberculosis paru, asthma, radang paru, emfisema, dan penyakit pernapasan lainnya (WHO, 2007).

Tingkat Pengetahuan Penduduk tentang RTH

Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan responden tentang RTH dengan kejadian ISPA (p>0,05). Namun tingkat pengetahuan responden tentang RTH yang buruk berpeluang untuk risiko terkena ISPA. Hal ini sesuai dengan NECR (2011) yang menyatakan bahwa tingkat pengetahuan individu tentang fungsi dan manfaat RTH yang baik akan meningkatkan peluang frekuensi kunjungan individu tersebut ke RTH. Individu yang berkunjung dan melakukan aktivitas fisik ke RTH dapat mempengaruhi tingkat oksigen yang dihirup sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan organ saluran pernapasan.

Jarak RTH Publik ke rumah

Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jarak rumah responden ke RTH dengan kejadian ISPA (p>0,05). Namun, dari uji statistik menyatakan bahwa responden yang memiliki jarak rumah ke RTH jauh atau lebih dari 1000 meter lebih berisiko mengalami ISPA daripada responden yang memiliki jarak rumah ke RTH dekat atau kurang dari 1000 meter.

Jarak RTH yang dekat dengan pemukiman dapat mempengaruhi kualitas udara di sekitar pemukiman tersebut. Beberapa studi menurut Departement of Health, London, hubungan RTH dan kesehatan memberikan dampak positif, salah satunya rata-rata masyarakat yang tinggal dekat dengan area RTH memiliki kualitas kesehatan yang lebih baik (CABE, 2009). Banyaknya tanaman dan pepohonan membantu mereduksi polusi udara yang dapat mengakibatkan ISPA pada penduduk dan dapat menciptakan kualitas iklim mikro yang baik.

Sesuai dengan penelitian Prasetyo (2012) di Kota Pasuruan, suhu dan kelembapan udara berkorelasi dengan dengan keberadaan RTH yaitu (-0,274) dan (0,357). Jarak RTH yang dekat juga berhubungan dengan tingkat motivasi masyarakat untuk ikut memanfaatkan RTH, karena jarak yang jauh mengurangi keinginan masyarakat untuk berkunjung ke RTH.

Semakin dekat RTH dengan pemukiman, semakin bisa dimanfaatkan secara tetap atau kontinu oleh masyarakat (Greenspace Scotland, 2008). Hal ini sesuai dengan kondisi di Inggris, dimana 95% warganya berpendapat bahwa penting memiliki RTH yang dekat dengan tempat tinggal mereka dan sebanyak 22% populasi di Inggris mengunjungi RTH minimal tiga kali atau lebih dalam seminggu (DEFRA, 2009).

(13)

Frekuensi Kunjungan ke RTH Publik

Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara frekuensi berkunjung ke RTH dengan kejadian ISPA (p<0,05). Dari hasil uji statistik juga didapatkan bahwa responden yang berkunjung ke RTH memiliki peluang untuk tidak mengalami ISPA lebih besar dibandingkan dengan responden yang tidak berkunjung sama sekali ke RTH.

Penelitian di United States menyatakan bahwa 50% penduduk dewasa yang asthma disana melakukan kunjungan ke RTH dan melakukan 30 menit minimal beraktivitas ringan, seperti jalan kaki secara rutin yakni 5 hari dalam seminggu. Hal ini menjadi salah satu pilihan cara untuk terapi asthma mereka. Selain itu masyarakat yang memanfaatkan RTH dengan melakukan kunjungan seminggu tiga kali menurunkan risiko mengalami stress, tekanan darah tinggi, dan TB Paru. (US Urban Forestry and Urban Greening Research, 2012). Di England, penduduk yang berkunjung setiap hari ke RTH di sekitar rumahnya memiliki peluang lebih rendah mengalami penyakit cardiovaskuler dan saluran pernapasan (Mitchell and Popham, 2008). Kunjungan ke RTH pada populasi di Scotland dapat mereduksi tingkat kematian dan kesakitan akibat penyakit saluran pernapasan dan paru, penyakit kardiovaskuler, dan obesitas.

(EHH, 2012).

Durasi Kunjungan ke RTH Publik

Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara durasi responden berada di RTH saat melakukan kunjungan dengan kejadian ISPA (p<0,05). Dari hasil uji statistik juga didapatkan bahwa responden yang menghabiskan waktu lama atau lebih dari 1 jam saat berada di RTH memiliki peluang untuk tidak mengalami ISPA lebih besar dibandingkan dengan responden yang tidak berkunjung sama sekali ke RTH.

Masyarakat yang menghabiskan waktu di kawasan hijau penuh pepohonan akan meningkatkan kualitas kesehatan saluran pernapasan. Hal ini dikarenakan kualitas udara di kawasan hijau yang minim akan polusi udara memberikan pasokan oksigen yang banyak bagi paru-paru. Populasi yang berada di kawasan hijau dalam waktu yang lama dapat menurunkan risiko mengalami stress, obesitas, asthma, dan penyakit saluran pernapasan lainnya.

(Dannenberg et al. 2003). Penelitian di United States menyatakan bahwa 50% penduduk dewasa yang asthma disana melakukan kunjungan ke RTH dan melakukan 30 menit minimal beraktivitas ringan, seperti jalan kaki secara rutin yakni 5 hari dalam seminggu. Hal ini menjadi salah satu pilihan cara untuk terapi asthma mereka. Selain itu masyarakat yang memanfaatkan RTH dengan melakukan kunjungan seminggu tiga kali menurunkan risiko

(14)

mengalami stress, tekanan darah tinggi, dan TB Paru. (US Urban Forestry and Urban Greening Research, 2012).

Kegiatan di RTH Publik

Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara kegiatan responden saat berada di RTH dengan kejadian ISPA (p<0,05). Dari hasil uji statistik juga didapatkan bahwa responden yang melakukan kegiatan rekreasi pasif atau bersantai saat berada di RTH berpeluang lebih besar untuk tidak mengalami ISPA dibandingkan dengan responden yang tidak memanfaatkan RTH sama sekali. Adapun responden yang melakukan olahraga ringan atau pun berat memiliki peluang protektif yang lebih besar untuk tidak mengalami ISPA dibandingkan orang yang bersantai atau bahkan responden yang tidak memanfaatkan RTH sama sekali.

RTH mempengaruhi kualitas hidup manusia sebagai tempat untuk beraktivitas, relaksasi, dan berinteraksi satu sama lain. RTH dapat menjadi sebuah sarana untuk bersosialisasi dengan masyarakat lain, mengadakan suatu kegiatan, dan juga berolahraga.

Aktivitas fisik memberikan manfaat yang sangat besar bagi kualitas kesehatan diantaranya untuk membakar kalori, mengurangi lemak, meningkatkan masa otot tubuh, menjaga kesehatan kardiovaskuler, meningkatkan asupan oksigen ke dalam tubuh, dan menjaga kesehatan saluran pernapasan. (Nowak, 2007). Selain itu beraktivitas di luar ruangan dapat menjaga ketersediaan vitamin D yang cukup, sehingga membuat tubuh lebih sehat karena membantu menurunkan tekanan darah, menurunkan kolesterol, meningkatkan kepadatan dan kerapatan tulang, mengurangi risiko obesitas, mengurangi risiko penyakit jantung karena meningkatkan oksigen yang diterima jantung, serta melatih organ saluran pernapasan sehingga meningkatkan kualitas pernapasan (Kuo, 2010). Kualitas pernapasan yang baik dan organ saluran pernapasan memungkinkan untuk mengurangi risiko terjadinya ISPA. RTH berfungsi untuk menjaga kelangsungan keanekaragaman hayati dan vegetasi makhluk hidup sehingga dapat memicu tertariksnya minat masyarakat terhadap isu-isu lingkungan sehingga bermanfaat bagi manusia sebagai sarana berkegiatan di luar ruangan (Zitkovic, 2008).

Penutup Kesimpulan

Ruang Terbuka Hijau Publik di wilayah Kecamatan Jagakarsa ialah sebesar 1.283.214,8 m2 dan 5,15% dari luas wilayah Kecamatan Jagakarsa (24.880.000 m2) dan masih belum memenuhi standar proporsi yakni 20% dari luas wilayah. RTH Publik di wilayah Kecamatan Jagakarsa terbagi menjadi 8 jenis. Jenis-jenis RTH Publik yang dikelola Dinas di wilayah

(15)

Kecamatan Jagakarsa diantaranya adalah Taman Interaktif sebanyak 3 lokasi, Taman Lingkungan sebanyak 19 lokasi, 1 jenis Taman Rekreasi, 1 jenis Hutan Kota, 4 lokasi dengan jenis Pemakaman, Jalur Hijau Jalan sebanyak 56 lokasi, Taman Bangunan Umum sebanyak 6 lokasi, dan Tepian Air sebanyak 10 lokasi. Berdasarkan data Laporan Tahunan Puskesmas Kecamatan Jagakarsa Tahun 2015, ISPA merupakan jenis penyakit terbanyak yang diderita oleh penduduk Kecamatan Jagakarsa. ISPA menempati posisi pertama dari 10 penyakit terbanyak di wilayah Puskesmas Kecamatan Jagakarsa dengan jumlah kasus sebanyak 23.745 orang (42%). Maka dari itu ISPA masih menjadi masalah kesehatan yang perlu diselesaikan di Kecamatan Jagakarsa. Data mengenai 10 Penyakit Terbanyak di Wilayah Puskesmas Kecamatan Jagakarsa dapat dilihat dalam grafik berikut ini.

Tingkat pengetahuan yang buruk memperbesar peluang bagi responden untuk mengalami ISPA dibandingkan dengan responden dengan tingkat pengetahuan yang baik (OR

= 1,143). Responden yang memiliki jarak rumah ke RTH yang jauh berisiko untuk mengalami ISPA daripada responden dengan jarak rumah ke RTH dekat (OR = 1,949). Frekuensi dan durasi kunjungan responden ke RTH memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian ISPA. Semakin sering dan lama responden berkunjung ke RTH, semakin besar peluang untuk tidak mengalami ISPA (OR = 1,372) dan (OR = 1,715). Jenis aktivitas fisik yang dilakukan responden di RTH Publik juga memberikan peluang risiko untuk tidak mengalami ISPA dibandingkan dengan responden yang tidak beraktifitas sama sekali (OR = 3,503).

Saran

Bagi pemerintah daerah kota Jakarta Selatan dan Kecamatan Jagakarsa dapat Membuat program pemberdayaan masyarakat untuk mengajak masyarakat turut serta memanfaatkan dan menjaga area RTH Publik yang ada supaya tetap bersih dan nyaman.

Selain itu dengan memberlakukan sanksi moral bagi para perusak fasilitas dan sarana umum yang ada di RTH Publik. Sedangkan bagi suku dinas pertamanan dan pemakaman umum Jakarta Selatan dapat Mengelola RTH Publik yang ada di wilayah Jakarta Selatan dan Kecamatan Jagakarsa serta menambah area potensi untuk menambah proporsi RTH Publik Selain itu juga dengan menambah vegetasi yang ada di RTH-RTH Publik dengan jenis vegetasi yang dapat berfungsi untuk mereduksi polusi udara yang menyebabkan penyakit ISPA. Bagi Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan dapat melakukan upaya promotif di area RTH kepada masyarakat untuk memanfaatkan RTH Publik secara rutin sebagai bentuk upaya pencegahan penyakit ISPA dan meningkatkan upaya promotif mengenai kesehatan

(16)

lingkungan yang berkaitan dengan area RTH, vegetasi, dan kualitas udara sebagai upaya pencegahan penyakit saluran pernapasan seperti ISPA

Sedangkan untuk masyarakat Kecamatan Jagakarsa dapat turut serta menjaga dan memelihara RTH Publik yang ada di sekitar pemukiman dengan sebaik-baiknya dan tidak mengalihfungsikan RTH menjadi tempat usaha atau bangunan. Selain itu juga turut serta menambah RTH dengan menanam berbagai jenis vegetasi yang berfungsi sebagai peredam bising, penyerap polusi udara, dan penambah estetika di lahan sekitar rumah (RTH Privat).

Adapun untuk penelitian selanjutnya dapat menambah variabel dalam penelitian terkait Ruang Terbuka Hijau dengan menggunakan studi ekologi atau analisis spasial dan juga spesifik dengan studi kualitatif mengenai pemanfaatan dan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau.

Daftar Referensi

________. (2015). Data Terbesar 10 Penyakit Terbanyak Puskesmas Kecamatan Jagakarsa Periode Januari-Oktober 2014 di dalam Laporan Profil Puskesmas Jagakarsa Tahun 2015. Puskesmas Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan. DKI Jakarta

________. (2013) Environmental Fact Sheet (EFS) The Environmental Benefits of Green Spaces. Project Evergreen – Because Green Matters. United States. [online] Available

at : https://projectevergreen.org/wp-

content/uploads/2013/07/EnvironmentalBenefitsofGreenSpace.pdf

Aryanti, Aan. (2015). Konsentrasi Particculate Matter (PM10) Udara Dalam Rumah dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Kelurahan Kamal Jakarta Barat Tahun 2015. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Depok.

Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta. (2014). Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2014. DKI Jakarta

Badan Pusat Statistik Kota Administrasi Jakarta Selatan. (2015). Statistik Daerah Kecamatan Jagakarsa 2015. Jakarta Selatan

Commission for Architecture and the Build Environment (CABE). (2009). Open Space Strategies – Best Practice Guidance. Government’s advisor on architecture, urban design, and public areas. Mayor of London. London. United Kingdom.

Dannenberg, A.L., Jackson, R.J., Frumkin, H., Schieber, R.A., Pratt, M., Kochtitzky, C., and Tilson, H.H. (2003). The Impact of Community Design and Land-Use Choises on

(17)

Public Health : A Scientific Research Agenda. American Journal of Public Health, 93 (9), page 1500-1508. United States of America.

DEFRA. (2009). Sustainability development indicators in your pocket 2009. London.

Departement for Environment, Food and Rural Affairs. United Kingdom.

Departemen Dalam Negeri. (2007). Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan. Kementrian Dalam Negeri. Jakarta

Dillon, J., Morris, M., O’Donnell, L. Reid, A., Rickinson, M. and Scott, W. (2005). Engaging and Learning with the Outdoors – The Final Report of the Outdoor Classroom in a Rural Context Action Research Project. National Foundation for Educational

Research. Slough [online] Avaliable at :

http://www.bath.ac.uk/cree/resources/OCR.pdf

Direktorat Jenderal Penataan Ruang. (2007). Undang-undang Republik Indonesia No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Kementrian Pekerjaan Umum RI. Jakarta Direktorat Jenderal Penataan Ruang. (2008). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor.

05/PRT/M/2008 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan. Kementrian Pekerjaan Umum RI. Jakarta

Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. (1990). Undang-undang Republik Indonesia No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Jakarta

Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. (2012). Peraturan Menteri Kehutanan RI No. P.31/Menhut-II/2012 tentang Lembaga Konservasi.

Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Jakarta

Departemen Kesehatan RI. (2002). Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Ditjen P2PL.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. (2013). Pokok-pokok Hasil Riskesdas DKI Jakarta Tahun 2013.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Kementrian Kesehatan. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar : DKI Jakarta Dalam Angka Tahun 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Kementrian Kesehatan.

Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar Republik Indonesia Tahun 2013.

Kementrian Kesehatan. Jakarta.

(18)

Environment and Human Health (EHH). (2012). The Contribution of Green and Open Space in Public Health and Wellbeing. The James Hutton Institute. University of Edinburg.

University of Glasgow. Herriot Watt University. Biomathematics and Statistic.

Scotland.

Environmental Protection Agency (EPA). (2012). What is Open Space/Green Space?. Article.

[online] Available at : http://www.epa.gov/region1/eco/uep/openspace.html.

Ellizhonafajrin, Nurafni. (2014). Hubungan Particulate Matter 10 Udara dalam Ruang dengan Keadian Gejala ISPA pada Balita di Desa Sukaraja Kulon dan Desa Sukaraja Wetan Kabupaten Majalengka Tahun 2013. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Universitas Indonesia. Depok.

Fatmah. (2011). Gizi Kebugaran Olahraga. CV Lubuk Agung. Bandung.

Greenspace Scotland. (2008). Health Impact Assesment of Greenspace. A guide. Scotland.

[online]. Available at : http://www.apho.org.uk/resource/view.aspx?RID=53269.

Istiqamah. (2014). Perbandingan Tingkat Risiko Pajanan PM10 Berdasarkan Keberadaan Ruang Terbuka Hijau di Jalan Raya Jati Kramat dan Jalan Raya Kaliabang Kota Bekasi Tahun 2014. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia.

Depok.

Kuntari, Emi. (2014). Pengaruh Ruang Terbuka Hijau (RTH) Terhadap Tingkat Kebisingan Pada Kawasan Perumahan di Desa Sumber Jaya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi Tahun 2014. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Depok.

Kuo, Frances E. (2010). Parks and other green environments : essentials components of a healthy human habitat. National Recreation and Park Associating. Page 18. NRPA.

[online] Available at :

http//www.nrpa.org/uploadedFiles/Explore_Parks_and_Recreation/Research/Ming- Kuo-Research-Paper-Final-dpi.pdf

Kusumadewi, Candra Alfi. (2014). Hubungan RuangTerbuka Hijau dengan Persepsi Sehat Masyarakat di Kecamatan Jati Asih, Kota Bekasi, Bekasi tahun 2014. Skripsi.

Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Depok.

Labiba, Sofya Umi. (2015). Konservasi Hutan Mangrove sebagai Pengendalian Vektor Dalam Upaya Pencegahan Malaria Berbasis Lingkungan di Pantai Utara Pulau Jawa. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Depok.

Levy. Barry S, et al. (2006). Occupational and Environmental Helath : Recognizing and Preventing Disease and Injury. Lipincott Williams & Wilkins. Philadelpia. USA.

(19)

Maghnetti, Anne. (2012). Upper Respiratory Tract Infection. University School of Medicine.

United States of America. [online] Available at : http://emedicine.medscapek.com/article/302460-overview

Maulana, Rizal. (2011). Pajanan PM10 terhadap gangguan iritasi dan infeksi saluran pernapasan (studi di daerah penambangan kapur desa Padabeunghar Kabupaten Sukabumi tahun 2011). Tesis. Program Pascasarjana. Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Universitas Indonesia. Depok

Mitchell R., Popham F. (2008). Effect of Exposure to Natural Environment on Health Inequalities : An Observational Population Study. The Lancet Journal Vol.72 (9650).

Natural England Commisioned Report (NECR). 2011. Green Space Access, Green Space Use, Physical Activity and Overweight 2011;1-8. [online] Available at : http://publications.naturalengland.org.uk/file/8007

Neighbourhood Cities and Region Analysis Division (NCRA). (2007). Climate Change and Urban Green Spaces. [online] Available at : http://www.communities.gov.uk/research- and-information/research-publications-urban-greenspaces.pdf

New Natural Economy Northwest (NENW). (2008). The Economic of Green Infastructure : The Public and Business Case for Investing in Green Infrastucture and a Review of the Underpinning Evidence. ECOTEC Research and Consulting for Natural Economy

Northwest. UK. [online] Available at :

http://www.forestry.gov.uk/pdf/nweeconomicbenefitsofgiinvestigating.pdf/$FILE/nwe economicbenefitsofgiinvestigating.pdf

Notoatmodjo, Prof. Dr. Soekidjo. (2010). Metodologi Penelitan Kesehatan. PT. Rineka Cipta.

Jakarta.

Nowak, David J., et al. (2007). Assesing Urban Forest Effects and Values. USDA Forest Service. United States of America. [online] Available at : http://www.treesearch.fs.fed.us/pubs/.pdf.

Pemerintah RI. (2002). Peraturan Pemerintah RI No. 63 Tahun 2002 Tentang Hutan Kota.

Negara Republik Indonesia

Pradiptiyas, Driananta. Fadli A, Abdu. Boedisantoso, Rahmat. (2009). Analisis Kecukupan Ruang Terbuka Hijau Sebagai Penyerap Emisi CO2 di Perkotaan Menggunakan Program Stella (Studi Kasus : Surabaya Utara dan Timur). Teknik Lingkungan.

Institut Teknologi Sepuluh November. Surabaya [online] Available at : http://mfile.narotama.ac.id/files/Umum/JURNAL%20ITS/ANALISIS%20KECUKUP

(20)

ISI%20CO2%20DI%20PERKOTAAN%20MENGGUNAKAN%20PROGRAM%20S TELLA.pdf  

Prasetyo, L.B., U. Rosalina, D. Murdiyarso, G. Saito dan H. Tsuruta. (2002). Intergrating Remote Sensing dan GIS for Estimating Aboveground Biomass and Green House Gases Emission. CEGIS Newsletter Vol 1. April 2002

Prasetyo, Teguh Anugrah. 2012. Pengaruh Ruang Terbuka Hijau terhadap Iklim Mikro di Kota Pasuruan. Universitas Negeri Malang. Malang.

Sinnett, D. (2006). Maximising Biodiversity – Best Practice Guidance for Land Regeneration.

Forest Research BPG Note9. Farnham. UK. [online] Available at : http://www.forestry.gov.uk/pdf/LRU_BPG09.pdf/$FILE/LRU_BPG09.pdf

Suryanti, Titien. (1993). Pengaruh Ruang Terbuka Hijau Terhadap Kesehatan Manusia di Pemukiman Kota ; Studi Kasus Balita Penderita ISPA di Kelurahan Duri Pulo. Tesis S2. Universitas Indonesia. Jakarta. [online] Available at : http://lib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=81737&lokasi=lokal

United Nations (UN). (1984). World Development Report. New York. [online] . Available at : https://www.student.uniaugsburg.de/fachschaften/politik/service/downloads/internatio nale_Politik/world_development_reports/1984.pdf

United States Urban Forestry and Urban Greening Research. 2012. Green Cities : Good Health. USDA Forest Service, Urban and Community Forestry Program. University of Washington.

Widowati, Ruri. (2014). Hubungan Antara Tingkat Konsentrasi NO2, SO2, dan PM10 di Udara Ambient dengan Kejadian ISPA pada Penduduk Kecamatan Taman Sari Jakarta Barat tahun 2006-2013. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Depok.

World Health Organization (WHO). (2007). Infection Prevention and Control of Epidemic and Pandemic-Prone Acute Respiratory Diseases in Health Care : WHO Interim

Guidelines. Jenewa. [online] . Available at :

http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/69707/14/WHO_CDS_EPR_2007.6_ind.pdf

Gambar

Tabel 1. Distribusi Kejadian ISPA di Kecamatan Jagakarsa Tahun 2016
Gambar 1. Luas RTH Publik yang Dikelola oleh Dinas Berdasarkan Jenisnya di Kecamatan  Jagakarsa Tahun 2015 (m 2 )
Tabel  2.  Hubungan  Karakteristik  Individu,  Jarak  RTH  Publik  ke  Rumah,  dan  Tingkat  Pemanfaatan RTH Publik dengan Kejadian ISPA di Kecamatan Jagakarsa Tahun 2016

Referensi

Dokumen terkait

Faktor utama yang mempengaruhi produksi telur adalah jumlah pakan yang dikonsumsi dan kandungan zat makanan dalam pakan (Lengkong dkk., 2015).. Menurut Risnajati (2014)

berjumlah 6 siswa, siswa yang mendapat nilai dalam kategori kurang berjumlah 9 siswa, dan kategori sangat kurang berjumlah 1 siswa. Hasil belajar yang dicapai

Universitas Sumatera

For other rows, transform Pivot Column to leaving basic variable column... Divide Right Side value by

KEPALA KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN AGAMA PROVINSI JAWA BARAT, Menimbang : a. bahwa sehubungan dengan telah terbitnya Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri

XORP dapat juga berjalan pada sistem virtual dengan menggunakan perangkat lunak virtualisasi populer seperti Vmware dan Xen, dimana XORP dapat berbagi perangkat keras x86

[r]

H.A Bastari Seberang Ulu I - Palembang, Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Kantor / Pokja ULP Regional VII BKN Palembang Tahun Anggaran 2016, telah diadakan rapat evaluasi penawaran