Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE
BUKTI UNGGAH DOKUMEN PENELITIAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GUNADARMA
Nomor Pengunggahan
SURAT KETERANGAN
Nomor: 49/PERPUS/UG/2020
Surat ini menerangkan bahwa:
Nama Penulis : HANNA FITRIYANI
Nomor Penulis : 23315041
Email Penulis : [email protected]
Alamat Penulis : Medang Lestari Blok D2F No.12
dengan penulis lainnya sebagai berikut:
Penulis ke-2/Nomor/Email : Diana Susilowati / 020117 / [email protected]
Telah menyerahkan hasil penelitian/ penulisan untuk disimpan dan dimanfaatkan di Perpustakaan Universitas Gunadarma, dengan rincian sebagai berikut :
Nomor Induk : FTSP/TB/PENELITIAN/49/2020
Judul Penelitian : Kajian Perencanaan Kawasan Pasar Lama Tangerang sebagai Pusat Kuliner Tanggal Penyerahan : 19 / 08 / 2020
Demikian surat ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya dilingkungan Universitas Gunadarma dan Kopertis Wilayah III.
Dicetak pada: 19/08/2020 14:38:56 PM, IP:175.158.55.243 Halaman 1/1
Kajian Perencanaan Kawasan Pasar Lama Tangerang sebagai Pusat Kuliner
Hanna Fitriyani1, Diana Susilowati2, ST., MT
1Jl. Kelapa Dua Raya No.93, Klp. Dua, Kec. Klp. Dua, Tangerang, Banten 15810 e-mail : [email protected]
2Jalan Akses UI, Kelapa Dua, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451 e-mail : [email protected]
Abstrak
Bangunan-bangunan pasar di Pasar Lama Tangerang sebagian besar masih mengadopsi dari bangunan China yang menggambarkan corak Tionghoa pada deretan bangunan-bangunannya.
Dengan budaya yang masih terus dijaga dan dijalankan hingga saat ini, mampu menjadikan Pasar Lama sebagai kawasan yang memiliki daya tarik sebagai kawasan wisata budaya dan kawasan wisata kuliner bagi Kota Tangerang. Permasalahan yang kemudian muncul mengiringi adalah kurangnya penataan serta minimnya sarana dan prasarana di Kawasan Pasar Lama Tangerang sebagai tempat tujuan wisata budaya dan wisata kuliner. Penataan yang kurang optimal telah mengubah kawasan ini, terutama di jalan utama, Jalan Ki Samaun, menjadi berantakan, kotor, jorok, dan kumuh.
Hal tersebut disebabkan berbagai faktor, diantaranya faktor Pedagang Kaki Lima (PKL). PKL dibiarkan berdagangan di sembarang tempat di sepanjang Jalan Ki Samaun. Bukan hanya di atas trotoar, yang seharusnya digunakan sebagai jalur pejalan kaki, tetapi juga mulai mengambil lahan parkir paralel di sepanjang jalan yang telah disediakan bagi pengunjung dan pemilik toko. Bahkan hingga melebar ke tengah jalan sehingga mengganggu sirkulasi lingkungan. Hal-hal diatas secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada kualitas karakter visual dari Kawasan Pasar Lama Tangerang.
Ditambah lagi dengan jumlah PKL yang tidak menentu dan semakin bertambah tanpa diketahui oleh pemerintah, menjadikan kawasan ini membutuhkan penataan bagi PKL, khususnya penataan fisik untuk PKL.
Kata kunci : Kawasan Pasar Lama Tangerang, Pedagang Kaki Lima (PKL)
Abstract
Most of the market buildings in Tangerang Old Market still adopt from Chinese buildings that use Chinese style on the buildings. With a culture that is still maintained and carried out until now, it can make Pasar Lama as a district that has an attraction as a cultural and a culinary tourism area for Tangerang City. Then the problems that appear are the less city planning, facilities and infrastructure in Pasar Lama Tangerang District as a destination for cultural and culinary tourism. The less city planning has transformed this area, especially on the main road, Ki Samaun road, into a mess and dirty. This is due to various factors, including the factor of street vendors. Street vendors are allowed to trade in any place along Ki Samaun road. Not only on the sidewalk, which should be used as a pedestrian, but also began to take up parallel parking along the road that had been provided for visitors and shop owners. Even it widened to the middle of the road so it disturbing the enviromental circulation. The things above directly or indirectly have an impact on the quality of the Pasar Lama Tangerang District’s visual character.
Added to the amount of street vendors who are erratic and growing without being known by the government, making this district requires planning for street vendors, especially physical planning for street vendors.
Keywords : Pasar Lama Tangerang District, Street Vendors
PENDAHULUAN
Salah satu kawasan di Kota Tangerang yang masih menampakan sisa-sisa sejarah adalah Kawasan Pasar Lama Tangerang. Berada di Kecamatan Tangerang, letaknya tidak jauh dari Sungai Cisadane dan Stasiun Tangerang. Merupakan Kawasan Pecinan dan disebut sebagai cikal bakal Kota Tangerang karena dari kawasan inilah Kota Tangerang terbentuk. Di kawasan ini pula, etnis Tionghoa yang dikenal dengan masyarakat Cina Benteng bertempat dan masih menjalankan kebudayaannya.
Masyarakat tionghoa di kawasan ini sudah berkembang sejak tahun 1400 an hingga sekarang. Tak aneh banyak bangunan bersejarah yang terdapat di kawasan ini. Klenteng BoenTek Bio dan Masjid Kali Pasir merupakan klenteng dan masjid tertua di Kota Tangerang.
Selain itu terdapat bangunan bersejarah lainnya seperti Museum Benteng Heritage yang menjadi bukti perkembangan peradaban Tionghoa di Tangerang.
Permasalahan yang kemudian muncul mengiringi adalah kurangnya penataan serta minimnya sarana dan prasarana di Kawasan Pasar Lama Tangerang sebagai tempat tujuan wisata budaya dan wisata kuliner. Penataan yang kurang optimal telah mengubah kawasan ini, terutama di jalan utama, Jalan Ki Samaun, menjadi berantakan, kotor, jorok, dan kumuh. Hal tersebut disebabkan berbagai faktor, diantaranya faktor Pedagang Kaki Lima (PKL).
PKL dibiarkan berdagangan di sembarang tempat di sepanjang Jalan Ki Samaun. Bukan hanya di atas trotoar, yang seharusnya digunakan sebagai jalur pejalan kaki, tetapi juga mulai mengambil lahan parkir paralel di sepanjang jalan yang telah disediakan bagi pengunjung dan pemilik toko. Bahkan hingga melebar ke tengah jalan sehingga mengganggu sirkulasi lingkungan. Selain hal tersebut, permasalahan sampah, higienitas, dan sanitasi yang selama ini melekat pada PKL yang berada di sepanjang Jalan Ki Samaun yang sebagian besar berjualan makanan dan/atau minuman, turut menyumbang terganggunya kebersihan lingkungan kawasan. Hal-hal diatas secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada kualitas karakter visual dari Kawasan Pasar Lama Tangerang.
Ditambah lagi dengan jumlah PKL yang tidak menentu dan semakin bertambah (tercatat ada 105 PKL yang memiliki TDU (Tanda Daftar Usaha) yang ada di Kawasan Pasar Lama Tangerang), menjadikan kawasan ini membutuhkan penataan bagi PKL, khususnya penataan fisik untuk PKL. Masalah diatas harus direspon segera dengan menempatkan dan menyediakan fasilitas yang dapat menunjang aktivitas-aktivitas PKL tersebut kedalam area yang direncanakan. Area tersebut dapat dengan memanfaatkan sekitar jalan utama, Jalan Ki Samaun, yang menjadi lokasi Pasar Lama Tangerang berada.
Alasan yang menjadikan area tersebut menjadi area untuk penataan fisik PKL di Pasar Lama Tangerang adalah para PKL yang mengeluhkan penataan bagi mereka yang mengharuskannya pindah berdagang ketempat lain. Alasan utamanya adalah karena kekhawatiran mereka pada berkurangnya pembeli jika mereka pindah dari lokasi berdagang sebelumnya karena pelanggan yang telah mengenal dan mengetahui lokasi berdagang PKL.
Sehingga alasan untuk tetap memakai lokasi yang sama menjadi pilihan yang tepat.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka tepat rasanya bila adanya penataan fisik Pedagang Kaki Lima di Kawasan Pasar Lama Tangerang yang berlokasi di sekitar jalan utama, Jalan Ki Samaun. Kawasan penataan fisik PKL ini juga akan dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta pengembangan atraksi yang mampu menjadi pendukung Kawasan Pasar Lama Tangerang.
Pada Tugas Akhir ini bertujuan untuk memperoleh landasan suatu program perencanaan dan perancangan arsitektur bagi terciptanya penataan fisik Pedagang Kaki Lima (PKL) yang baik dan benar berupa Wisata Kuliner di Kawasan Pasar Lama Tangerang tanpa mengubah nilai yang ada pada Kawasan Pasar Lama tersebut.
Berdasarkan Latar Belakang Masalah yang ada, maka masalah perancangan yang akan dihadapi pada pengamatan ini adalah permasalahan fungsional, sosial-budaya, dan sejarah yang terdapat pada kawasan.
Pendekatan yang dilakukan dalam pengamatan pada Kawasan Pasar Lama Tangerang ini adalah dengan cara pendekatan Fungsional, Sosial-Budaya, dan Sejarah. Pendekatan Fungsional yang dilakukan adalah untuk mewadahi segala aktivitas yang dilakukan oleh PKL (Pedagang Kaki Lima), pengunjung, dan kendaraan di kawasan ini. Pendekatan Sosial-Budaya dilakukan pada area-area yang membutuhkan penataan khusus seperti sampah, fasilitas publik, serta subyek yang melakukan aktivitas di kawasan ini. Sedangkan Pendekatan Sejarah dilakukan pada nilai- nilai dan budaya yang telah ada sejak dulu di Kawasan Pasar Lama Tangerang.
METODE PENELITIAN
Pengumpulan data laporan tugas akhir ini menggunakan beberapa metode untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan dalam penyusunannya. Adapun metode-metode yang digunakan untuk memperoleh data antara lain adalah :
1. Metode Observasi (Pengamatan)
Dalam metode ini pelaksanaan yang dilakukan adalah dengan melakukan pengamatan langsung area site yang menjadi proyek penelitian.
2. Metode Interview (Wawancara Langsung)
Dalam metode interview ini pelaksanaan yang dilakukan adalah dengan melakukan wawancara secara langsung kepada pihak pihak yang terlibat dalam proses pengembangan Wisata Kuliner Pasar Lama Tangerang. Mulai dari Pemerintah Kota selaku pemilik proyek sampai dengan PKL Pasar Lama Tangerang.
3. Metode Pustaka (Literatur)
Dalam metode pustaka, mencari informasi dengan mengumpulkan data yang terkait proyek pengembangan Wisata Kuliner Pasar Lama Tangerang, berupa deskripsi gambaran umum daerah penelitian, obyek penelitian, dan lokasi obyek penelitian.
4. Metode Instrumen
Dalam metode instrumen pelaksanaan dilakukan dengan menggunakan alat bantu seperti kamera ataupun alat tulis, guna untuk mendapatkan data-data ataupun informasi mengenai visualisasi berupa gambar yang dapat dijadikan sebagai bukti penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Judul Tugas Akhir ini adalah “Wisata Kuliner di Kawasan Pasar Lama Tangerang”, sehingga dapat disimpulkan bahwa pengertian Wisata Kuliner adalah perjalanan yang dilakukan sementara waktu, yang memanfaatkan masakan serta suasana lingkungannya sebagai obyek tujuan wisata.
Seperti yang telah disinggung di atas bahwa masalah utama dari kawasan ini yaitu penataan fisik bagi PKL (Pedagang Kaki Lima), sehingga tepat rasanya bila adanya Penataan Fisik Pedagang Kaki Lima di Kawasan Pasar Lama Tangerang yang berlokasi tidak jauh dari lahan berdagang PKL sebelumnya, yaitu di jalan utama, Jalan Ki Samaun. Lahan yang digunakan dapat dilihat di bawah ini :
Gambar 2. Besaran Luas Lahan
Sumber : Data Pribadi, 2019
Lahan yang digunakan merupakan pasar tradisional yang menjual sayuran, buah, ikan, dan bahan pokok lainnya. Pada lahan ini terdapat bangunan non-permanen seperti meja dan tenda sebagai alas berdagang, dan bangunan permanen berupa tempat makan, Veggie Bistro.
Lahan terbagi menjadi lahan bagian utara dan selatan. Lahan bagian selatan berada di belakang pertokoan dan perkantoran Pasar Lama. Total lahan seluas 6.586 m².
Tema yang dapat diangkat pada penelitian tugas akhir ini adalah “Chinatown Heritage”, dimana suatu penerapan tema yang berarti sebuah kawasan Pecinan atau Kampung Cina yang merajuk kepada sebuah wilayah kota yang mayoritas penghuninya adalah orang Tionghoa.
Sedangkan Heritage yang dimaksud menurut Buku Heritage Management yang ditulis Hall &
McArther (1996 : 5) adalah warisan budaya yang dapat berupa kebendaan (tangible) seperti monument, arsitektur bangunan, tempat peribadatan, peralatan, kerajinan tangan, serta
warisan budaya yang tidak berwujud kebendaan (iritangible). Berdasarkan pengertian tema diatas, dapat diambil tema arsitektur yang sesuai dengan pengertian dan latar belakang tema yaitu Neo-Vernakular. Dimana Arsitektur Neo-Vernakular, tidak hanya menerapkan elemen- elemen fisik yang diterapkan dalam bentuk modern tapi juga elemen non fisik seperti budaya, pola pikir, kepercayaan, tata letak, religi dan lain-lain.
Gambar 3. Konsep Tapak
Sumber : Data Pribadi, 2019
SIRKULASI : Kawasan ini dikelilingi oleh jalan kolektor, yaitu Jalan Ki Samaun dengan tipe jalan satu arah. Jalan lingkungan berpola grid, dan menjadi acuan pengembangan Kawasan Pasar Lama Tangerang.
VEGETASI : Karena kawasan merupakan daerah urban, sangat jarang sekali ditemukan vegetasi. Maka dari itu perlu mencangkokan program revolusi hijau dan green area pada bangunan sebagai penyegar dan pengendalian udara.
LINGKUNGAN : Di sepanjang Jalan Ki Samaun fungsi bangunan adalah retail yaitu Pasar Lama dan dipenuhi PKL (Pedagang Kaki Lima).
TOPOGRAFI : Pola pemukiman yang ada pada Kawasan Pasar Lama Tangerang membentuk pola grid di sepanjang jalan utama, yaitu Jalan Ki Samaun, Sukasari.
LOKASI : Lokasi Merupakan berada di Kawasan Pecinan Tangerang, tepatnya berada di pusat Kota Tangerang yang memiliki nilai historis dan budaya yang kental.
Setelah didata berdasarkan kebutuhan ruang yang diperlukan di Pusat Kuliner Pasar Lama, menghasilkan program ruang sebagai berikut :
Tabel 1. Tabel Program Ruang dan Luas Site Total
Kelompok Kegiatan Luas (m²)
Kegiatan Utama 3.97
Kegiatan Pendukung 322
Kegiatan Pengelola 110
Kegiatan Servis 2 8
Kegiatan Parkir 1.561
Total 6.052 7
Sumber : Data Pribadi, 2019
Konsep courtyard menjadi konsep utama yang merupakan ciri khas arsitektur China. Pada arsitektur china, courtyard terletak di antara massa bangunan, dimana dapat berfungsi sebagai plaza atau penghubung bangunan- bangunan di sekitarnya.
Gambar 4. Konsep Courtyard
Sumber : Data Pribadi, 2019
Konsep axis akan menjadi acuan dalam perancangan. Axis terbentuk dari 2 pusat yaitu dari konsep bentuk courtyard dan respon terhadap site potensial sekitar seperti Museum Benteng Heritage dan Klenteng Boen Tek Bio.
Gambar 5. Konsep Axis
Sumber : Data Pribadi, 2019
Kegiatan Utama Kegiatan Pengelola Kegiatan Pendukung
Gambar 6. Konsep Fungsi Bangunan
Sumber : Data Pribadi, 2019
Gambar 7. Konsep Atap
Sumber : Data Pribadi, 2019
Axis Courtyard
Axis Bangunan Potensial
Perletakan massa bangunan berdasarkan penzonaan dan disesuaikan dengan bentuk site serta konsep courtyard. Dimulai dari kegiatan pendukung berupa bangunan penerima lalu pengunjung diarahkan masuk ke area kegiatan utama seperti area wisata kuliner, demo memasak, dan sitting group. Untuk kegiatan pengelola diletakan berdekatan dengan kegiatan utama karena keduanya memiliki hubungan kegiatan.
Atap yang digunakan merupakan atap yang kontekstual dengan bangunan sekitar yaitu menggunakan atap plana china jenis Wutan dan Hisuan Shan. Atap jenis Wu Tan akan digunakan pada massa bangunan tunggal (tidak memiliki sayap). Sedangkan bentuk atap jenis Hisuan Shan
untuk massa bangunan sayap.
Gambar 8. Konsep Struktur Bangunan
Sumber : Data Pribadi, 2019
Struktur pada bangunan keseluruhan umumnya menggunakan struktur arsitektur china.
Dimana penggunaan jenis kuda-kuda sampai tiang penyangga yang digunakan menggunakan arsitektur china. Sistem kuda-kuda yang digunakan merupakan khas arsitektur China, yaitu kuda-kuda segi empat. Lantai atas umumnya merupakan lantai-lantai papan yang disangga oleh balok. Plat beton ini juga dipakai untuk lisplank serta atap. Sedangkan tiang penyangga yang digunakan adalah Tou Kung, yaitu siku penyangga bagian atap yang ada di depan (teras) merupakan bentuk yang khas dari arsitektur China dan karena keunikannya. Merupakan sistem konsol penyangga kantilever bagian teras sehingga keberadaannya dapat dilihat dari arah luar.
Penghawaan yang terjadi di dalam bangunan wisata kuliner memiliki ventilasi udara silang yang akan membuat site memiliki asupan udara yang cukup. Udara masuk dan menyebar dari area courtyard menuju massa bangunan, kemudian keluar lagi begitu seterusnya.
Gambar 9. Penghawaan
Sumber : Data Pribadi, 2019
Gambar 10. Pencahayaan
Sumber : Data Pribadi, 2019
Sinar matahari yang menyentuh fasade bangunan akan menggunakan secondary skin berupa chinese panel. Penggunaan secondary skin ini akan memblok cahaya matahari langsung menyentuh fasade bangunan tidak langsung
masuk ke dalam ruangan.
Air buangan kegiatan kuliner di dalam site setelah mengalami filtrasi, akan masuk ke riol kota lalu dialiri menuju pembuangan. Sedangkan air hujan yang jatuh ke dalam site akan langsung mengalir dan masuk ke riol kota lalu mengalir ke sungai terdekat.
Gambar 11. Drainase
Sumber : Data Pribadi, 2019
Landscape bangunan juga mendukung penyejukan udara yang ada di dalam site.
Vegetasi dibagi berdasarkan fungsi, yaitu pengarah, peneduh, dan juga penghias bangunan. Serta rumput yang akan membuat site terlihat lebih hijau di area urban ini.
Gambar 12. Vegetasi
Sumber : Data Pribadi, 2019
Gambar 13. Blok Plan
Sumber : Data Pribadi, 2019
Berdasarkan gambar di atas, pengunjung akan masuk melalui Welcoming Area, lalu masuk ke area wisata kuliner, dimana terdapat 3 Blok bangunan yang masing-masing memiliki 2 lantai, di dalamnya berupa kios-kios pedagang dan tempat area makan pengunjung. Di bagian paling utara terdapat Area Demo Memasak, dimana dapat menyalurkan hobi memasaknya di tempat ini. Sedangkan di bagian selatan terdapat Area Sitting Group, yang merupakan area terbuka hijau di kawasan wisata kuliner ini.
Gambar 14. Denah Bangunan Blok A
Sumber : Data Pribadi, 2019
Pada Bangunan Blok A sebagai penerapan dari kegiatan PKL pada umumnya, sehingga ruangan-ruangannya terdiri terdiri dari lobby, kios pedagang, area makan, dan ruang servis berupa kamar mandi.
Gambar 15. Denah Bangunan Blok B
Sumber : Data Pribadi, 2019
Pada Blok B juga memiliki ruang utama berupa ruang untuk kios pedagang dan area makan, yang membedakan adalah sirkulasi vertikal berupa tangga yang membagi satu ruang utama menjadi 2 bagian.
Gambar 16. Denah Bangunan Blok C
Sumber : Data Pribadi, 2019
Pada Blok C juga memiliki ruang utama berupa ruang untuk kios pedagang dan area makan, yang membedakan adalah pada lantai 2 bangunan terdapat area makan outdoor berupa balkon.
Gambar 17. Tampak Bangunan Blok A
Sumber : Data Pribadi, 2019
Gambar 18. Tampak Bangunan Blok B
Sumber : Data Pribadi, 2019
Gambar 19. Tampak Bangunan Blok C
Sumber : Data Pribadi, 2019
Pada Bangunan Blok A memiliki bukaan- bukaan yang di dalam bangunan mempengaruhi desain eksterior. Bukaan-bukaan ini berupa jendela yang berbentuk ornamen-ernamen geometris china. Sedangkan pada dinding dengan bidang masiv diberi geometri sederhana.
Pada Bangunan Blok B eksterior tidak jauh berbeda, yang membedakan hanya pada bagian lantai atas ornamen jendel. Karena fungsi ruang dalamnya yang sebagai kegiatan penunjang berupa Musholah, maka bukaan lebih diperluas dan menjadi vokal point bagi bangunan ini.
Pada Bangunan Blok C eksterior tidak jauh berbeda dengan Blok B, karena bentuknya yang simetris membuat ornamen jendela bagian atas juga sebagai vokal point bangunan ini. Tetapi ada yang berbeda pada bagian sayap. Pada bagian ini terdapat balkon sebagai area makan outdoor pengunjung, sehingga eksterior direncanakan memiliki pagar-pagar pembatas di sekitar balkon.
Gambar 20. Potongan Bangunan Blok A
Sumber : Data Pribadi, 2019
Interior bangunan wisata kuliner yang didominasi oleh kios pedagang dan area makan ini bersifat publik. Selain area makan bagian dalam, area makan di luar ruangan juga didominasi oleh ornamen-ornamen tradisional china yang menghiasi interior bangunan yang terlihat pada balok penyangga, langit-langit, dinding, jendela, serta pintu bangunan. beberapa tanaman juga
diletakan untuk memperindah ruangan.
Gambar 21. Potongan Bangunan Blok B
Sumber : Data Pribadi, 2019
Pada ruangan kios pedagang direncanakan sebagai penerapan dari kegiatan PKL pada umumnya, sehingga ruangan diberi penyekat untuk membedakan jenis kuliner yang dijual.
Tiap sekat memiliki set meja saji, area memasak, dan area penyimpanan. Sekat kios pedagang juga memiliki ukuran yang berbeda tergantung dari jenis kuliner apa yang mereka jual.
Gambar 22. Potongan Bangunan Blok C
Sumber : Data Pribadi, 2019
Selasar merupakan sirkulasi horizontal dalam ruang interior bangunan yang memisahkan antara ruang kios pedagang dan area makan pengunjung. Pada tiap bangunan blok-blok wisata kuliner memiliki ukuran selasar yang berbeda, tergantung dari banyak dan luas nya ruang kios pedagang dan area makan dalam bangunan tersebut.
Gambar 23. Perspektif Bird Eye
Sumber : Data Pribadi, 2019
Gambar 23. Perspektif Eksterior
Sumber : Data Pribadi, 2019
Gambar 24. Perspektif Interior
Sumber : Data Pribadi, 2019
KESIMPULAN
Kawasan Pasar Lama Tangerang merupakan cikal bakal pusat Kota Tangerang karena di kawasan inilah pusat Kota Tangerang terbentuk. Kawasan Pasar Lama Tangerang perlu dilestarikan karena memiliki nilai sejarah, nilai budaya, nilai ilmiah, dan nilai sosial. Pelestarian Pasar Lama Tangerang mendukung pengembangan kawasan ini menjadi kawasan wisata budaya yang nantinya dapat menjadi salah satu daya tarik wisata bagi wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara yang mana jumlah wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara ke Kota Tangerang mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Kawasan Pasar Lama Tangerang memiliki potensi untuk menjadi daya tarik wisata, terutama daya tarik wisata kulinernya. Selain terkenal memiliki bangunan bersejarah, kawasan ini juga terkenal dengan kuliner Pasar Lama dengan PKL yang menjadi salah satu penggerak wisata kuliner di kawasan ini. Tapi permasalahan yang kemudian muncul di kawasan ini adalah kurangnya penataan terhadap PKL yang memenuhi ruang publik. Maka tepat rasanya bila adanya penataan fisik PKL di Kawasan Pasar Lama Tangerang yang berlokasi di sekitar jalan utama, Jalan Ki Samaun. Kawasan penataan fisik PKL ini juga akan dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta pengembangan tempat yang layak berupa pusat “Wisata Kuliner” yang mampu menjadi daya tarik di Kawasan Pasar Lama Tangerang.
DAFTAR PUSTAKA
Andhi S. P, TItin F., Rita. (2017) Perkembangan Kota Lama Tangerang dan Potensinya Sebagai Destinasi Wisata Pusaka. Jurnal Universitas Tarumanegara. Jakarta.
Christa H. (2017) Penataan Pedagang Kaki Lima di Kawasan Pasar Lama Tangerang Dengan Konsep Riverfront. Tugas Akhir Universitas Diponegoro. Semarang.
Danang A. S. Jakarta. Sentra Kerajinan Bambu di Tangerang Selatan. Tugas Akhir Universitas Gunadarma. Jakarta.
Desy K. (2016) Pusat Kuliner dan Oleh-Oleh di Bantul, DI Yogyakarta. Jurnal Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Yogyakarta.
Donny R. A., Nasril S., Jonny W. (2017) Perencanaan Pusat Kuliner Khas Sumatera Barat di Kawasan Rekreasi Pantai Padang Kota Padang. Jurnal Universitas Bung Hatta. Padang.
Kamaludin H. (2018) Cina Benteng Arst and Culture Center Sebagai Upaya Revitalisasi Wisata Budaya Kawasan Lama Tangerang. Tugas Akhir Universitas Gunadarma. Jakarta.
Pemerintah Kota Tangerang. (2017) Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (ILPPD). Pemerintah Kota Tangerang. Tangerang.
Rifka A. U. (2017) Fasilitas Wisata Kuliner di Pura Pakualaman. Studio Perancangan Arsitektur Universitas Gadjah Mada. Yogayakarta.
Udaya P. M. H. (2010) Pelestarian Bangunan Bersejarah Peninggalan Etnis Tionghoa di Indonesia. Tugas Akhir Universitas Indonesia.
Yustisia K., Michael T. S., Samuel R. S. (2018) Eksplorasi Potensi Wisata Kuliner Untuk Pengembangan Pariwisata di Kota Tangerang. Jurnal Universitas Pelita Harapan. Jakarta.
Yustisia K., Vasco A. H., Lintang A. N. T. (2015) Rencana Pengembangan Kawasan Pasar Lama Tangerang. Jurnal Universitas Pelita Harapan. Jakarta.