• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II SYIFA DALAM AL-QUR AN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II SYIFA DALAM AL-QUR AN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB II

SYIFA’ DALAM AL-QUR’AN

A. Pengertian dan Istilah-Istilah yang Identik dengan Syifa’

1. Pengertian Syifa’

Syifa‟ menurut etimologi berakar dari susunan huruf yang terdiri dari syin-fa‟

dan huruf mu‟tal ( لتعملا فرحلاو – ف – ش) yang pada dasarnya berarti mengungguli sesuatu. Kata ini di sebut syifa‟, karena ia telah mengalahkan penyakit dan mengunggulinya.1 Huruf mu‟tal pada akar kata tersebut dalam penggunaannya adalah sangat berpengaruh pada cakupan maknanya. Oleh karena itu, Ibnu Manzur membedakannya menjadi dua pola. Pertama, kata itu tersusun dari huruf-huruf – ش

ف –

ى dengan pola perubahannya افش – يفشيي – يفش dalam pengertian obat yang terkenal, yaitu obat yang dapat menyembuhkan penyakit ( نم ئرثي ام وهو فورعم ءاود مسقلا). Kedua, kata itu tersusun dari huruf-huruf و – ف – ش yang terpola menjadi bentuk kata افش ( syafā ) yang berarti pinggir, tepi, melebihi batas atau sesuatu yang berada di ambang kehancuran.2

Dalam kamus Al-Munawwir, syifa‟ itu diartikan sebagai pengobatan, kesembuhan, atau obat.3 Syifa‟ dalam kamus al-Munjid fi al-Lughah wa al-A‟lam antara lain diartikan sebagai obat dan kesembuhan.4 Untuk mengetahui pemaknaan syifa‟ lebih jauh maka sangat diperlukan tinjauan dari berbagai kitab tafsir. Dalam hal ini, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa kata syifa‟ biasa diartikan kesembuhan atau obat, dan digunakan juga dalam arti keterbebesan dari kekurangan, atau ketiadaan aral dalam memperoleh manfaat.5 Syifa‟ dengan berbagai pengertian di atas, terutama yang melalui term syifa‟ yang terdapat dalam al-Qur‟an berikut dengan kandungan maknanya, maka secara definitif dapat dikatakan bahwa syifa‟ adalah

1 Aswadi, Konsep syifa dalam al-Qur‟an, op. cit., hlm 6

2Jamal al-Din Muhammad ibn Manzur al-Ansariy, Lisan al-„Arab, (al-Dar al-Misriah, tth), Jus 19, hlm. 167

3 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir : Kamus Arab Indonesia (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), hlm. 731

4 Lois Ma‟luf, Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A‟lam (Beirut: Dar al-Masyriq, 1986), hlm 395

5 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur‟an ( Jakarta:

Lentera Hati, 2002), hlm 532

(2)

2

segala sesuatu yang diupayakan oleh seseorang dalam penyembuhan manusia dari penyakitnya, sehingga ia menjadi normal, benar keimanan, pemikiran dan akidahnya dalam memperoleh kebahagian di hadapan Allah.6

Maka dapat disimpulkan bahwa definisi syifa‟ itu penyembuhan dari penyakit.

Penyembuhan yang menjadi usaha bagi manusia ketika membersihkan dirinya dari berbagai gangguan dan kesulitan lahiriah maupun batiniah.

2. Istilah-Istilah yang Identik dengan Syifa’

Istilah-istilah yang ada di dalam al-Qur‟an yang dapat diidentikkan dengan syifa‟ di antaranya ialah bur‟ah (جأرت) dan salamah (حملاس) dengan berbagai kata jadiannya. Dua kata tersebut selain mengandung arti kesembuhan lahir batin, juga mencakup makna terbebas dari penyakit dan tercapainya suatu kesehatan maupun keselamatan. Untuk penjelasan lebih jauh terhadap kedua kata syifa‟ tersebut, maka akan diuraikan dibawah ini.

a. Bur‟ah

Bur‟ah merupakan bentuk masdar dari pola kata bari‟a – yabra‟u – bur‟an – bur‟ah (جأرت – أرت – أرثي – ئ رت). Term ini berakar dari susunan huruf-huruf ba‟ – ra‟ – hamzah ( جزمه – ر – ب) yang makna dasarnya berpangkal pada dua sember. Pertama berpangkal pada makna penciptaan maupun kejadian.7 Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah : 54









Artinya : Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu.8

Atau dalam sebuah perkataan قلخلا للها أرت - Allah telah menciptakan makhluk.

Kedua berpangkal pada makna terbebas atau terhindar dari sesuatu, termasuk di dalamnya adalah sembuh, selamat dari penyakit مسقلا نم حملاسلا , terhindar dari aib dan kekerasan atau dengan kata lain ضرملا نم جأرت (aku sembuh dari penyakit).

Penggunaan makna kedua tersebut tampaknya dapat diidentikkan dengan term syifa‟,

6 Aswadi, Konsep syifa dalam al-Qur‟an, op. cit., hlm. 80

7Ibid, hlm 80

8 Hamka, Tafsir al-Azhar, jilid 1, hlm 190

(3)

3

karena kedua term ini sama-sama terfokus pada pembahasan maupun penyembuhan.9 Term bur‟ah dengan berbagai kata jadinya dalam al-Qur‟an diulang sebanyak 31 kali.

11 di antaranya termasuk ayat makiah dan 20 ayat lainnya termasuk kategori madaniah. (Secara kronologis, 11 ayat makiah yang dimaksud ialah Q.S al-Qamar [54/37]: 43; 2) Q.S al-Syu‟ara‟ [26/47]: 216; 3) Q.S al-Qasas [28/49]: 63; 4) Q.S Yunus [10/51]: 41 (diulang 2 kali ); 5) Q.S Hud [11/52]: 35 dan 54; 6) Q.S Yusuf [12/53]: 53; 7) Q.S al-An‟am [6/55]: 19 dan 78; 8) Q.S al-Zukhruf [43/63]: 26.

Sedangkan 20 ayat madaniah ialah: Q.S al-Baqarah [2/87]: 54 (disebut 2 kali); 166, 167 (disebut 2 kali); 2) Q.S al-Anfal [8/88]: 48; 3) Q.S Ali-Imran [3/89]: 49; 4) Q.S al-Ahzab [32/90]: 69; 5) Q.S al-Mumtahinah [60/91]: 4; 6) Q.S an-Nisa [4/92]: 112;

7) Q.S al-Hadid [57/94]: 22; 8) Q.S al-Bayyinah [98/100]: 6; 9) Q.S al-Hasyr [59/1001]: 16 dan 24; 10) Q.S an-Nur [24/102]: 26;11) Q.S al-Maidah [5/112]: 110;

12) Q.S at-Taubah [9/113]: 1,3 dan 114.)10Penggunaan makna bur‟ah yang dapat diidentikkan dengan term syifa‟ ialah sebagaimana yang tersebut dalam Q.S Ali- Imran [3/89]: 49 dan al-Maidah [5/112]:110 sebagai berikut:





























































































Artinya: “dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, Yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, Maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu Makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian

9 Aswadi, Konsep syifa dalam al-Qur‟an, op. cit., hlm. 80

10 Muhammad Fu‟ad „Abd al-Baqi‟, Op. Cit., hlm. 148-149

(4)

4

itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh- sungguh beriman.11( QS. Ali Imran: 49 )

































































































































Artinya:” (ingatlah), ketika Allah mengatakan: "Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu aku menguatkan kamu dengan Ruhul qudus. kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin- Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: "Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata".12( QS. al-Maidah: 110 )

Dari beberapa uraian tentang makna bur‟ah dan penunjukan beberapa ayat yang terkait dengannya, maka dapat ditegaskan bahwa kata bur‟ah tersebut bisa diartikan sebagai penyembuhan terhadap suatu penyakit, baik fisik maupun psikis. Apabila dua ayat di atas itu dicermati dengan baik, maka dua ayat tersebut akan menunjukan

11 Hamka, Tafsir al-Azhar, jilid 2, hlm. 772

12 Hamka, Tafsir al-Azhar, jilid 3, hlm. 1915

(5)

5

bahwa tingkat penyembuhannya itu tergolong istimewa, luar biasa dan sangat menakjubkan.13

b. Salamah

Term syifa‟ selain menunjuk pada proses dan perangkat tekniknya juga merujuk pada hasil yang diperolehnya, yaitu terhindar dari suatu penyakit – مقسلا نم حملاسلا . Esensi term salamah maupun keselamatan yang dimaksud sangat terkait dengan eksistensi dari Nabi Ibrahim dan wujud permohonannya kepada Allah swt dari kehidupannya hingga di hari kebangkitan. Kata tersebut terkait dengan Q.S al-Saffat [37]: 83- 84 dan Q.S as- Syu‟ara‟ ayat 87- 90 sebagai berikut:























Artinya:” dan Sesungguhnya Ibrahim benar-benar Termasuk golongannya (Nuh). (lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.”14 (QS. al-Saffat: 83-84)

Kata salim ( ميلس ) yang mensifati qalb ( ةلق ) pada mulanya menunjukan arti selamat yakni terhindar dari kekurangan dan bencana, baik lahir maupun batin.

Sedangkan kata qalb / hati dapat dipahami dalam arti wadah atau alat untuk meraih pengetahuan. Qalbu yang bersifat salim adalah yang terpelihara kesucian fitrahnya, yakni yang pemiliknya mempertahankan keyakinan tauhid, serta selalu cenderung kepada kebenaran dan kebajikan. Qalbu yang salim adalah qalbu yang tidak sakit, sehingga pemiliknya senantiasa merasa tenang, terhindar dari keraguan dan kebimbingan, tidak juga dipenuhi sikap angkuh, benci, dendam, fanatisme buta, loba, kikir dan sifat-sifat buruk yang lain. Mengenai penyakit ini, Allah swt menegaskan:

“Apakah dalam hati mereka ada penyakit atau mereka ragu-ragu ataukah takut kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku dhalim kepada mereka ? Sebenarnya mereka itulah orang-orang yang dhalim. (Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati

13 Aswadi, Konsep Syifa Dalam al-Qur‟an, op. cit., hlm. 82- 83

14 Hamka, Tafsir al-azhar, jilid 8, hlm.6089

(6)

6

mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau- kalau Allah dan Rasul-Nya Berlaku zalim kepada mereka? sebenarnya, mereka Itulah orang-orang yang zalim.)15



































Artinya: Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya Berlaku zalim kepada mereka? sebenarnya, mereka Itulah orang-orang yang zalim16. ( QS. An Nuur: 50 )

Sedangkan, term salim ( ميلس ) yang lainnya disebutkan dalam Q.S al-Syu‟ara‟

[26/47]: 87-91 sebagai berikut:







































































































Artinya:“dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang- orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang- orang yang sesat".17( QS. Asy syuara‟: 87-91 )

Dari dua ayat di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa kata salim tersebut, bisa dijadikan rujukan bahwa arti dari kesehatan حملاس itu menunjukkan arti kebersihan

15 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, vol. 10, op. cit., hlm. 81-82.

16 Hamka, Tafsir al-Azhar, jilid 7, hlm. 4955

17 Ibid, hlm . 5113

(7)

7

dan kesucian dalam diri manusia sejak awal kehidupan hingga di hari kebangkitan.

Maka dari itu term salamah dapat diidentikkan dengan syifa‟.

B. Macam-Macam Penyakit

Sasaran atau yang menjadi obyek fokus penyembuhan, perawatan, dan pengobatan dari syifa‟ ini adalah seorang manusia secara utuh, yakni yang berkaitan atau menyangkut dengan gangguan pada:

1. Mental

Mental yaitu yang behubungan dengan pikiran, akal, ingatan, atau proses yang berasosiasi dengan pikiran, akal dan ingatan seperti mudah lupa, malas berfikir, tidak mampu berkonsentrasi, picik, tidak dapat mengambil suatu keputusan dengan baik dan benar, bahkan tidak memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang halal dan haram, yang bermanfaat dan yang bermudharat serta antara yang hak dan yang bathil.18 Sebagaiman firman Allah swt dalam surat QS. Al-Baqarah: 44























Artinya: “ mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”19( QS. al-Baqarah: 44)

Gangguan kesehatan mental dapat mempengaruhi:

a. Perasaan; misalnya cemas, takut, iri, dengki, sedih tak beralasan, marah oleh hal-hal remeh, bimbang, merasa diri rendah, sombong, tertekan (frustasi), pesimis, putus asa dan sebagainya.

b. Pikiran; misalnya kemampuan berfikir berkurang, sukar memusatkan perhatian, mudah lupa, tidak dapat melanjutkan rencana yang telah dibuat.

18 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur‟an, ( Bandung: Mizan, 1996 ), hlm. 189

19 Hamka, Tafsir al-Azhar, jilid 1, hlm. 178

(8)

8

c. Kelakuan; misalnya nakal, pendusta, menganiaya diri sendiri atau orang lain, menyakiti badan orang atau hatinya, dan berbagai kelakuan menyimpang lainnya.

d. Kesehatan; misalnya penyakit jasmani yang tidak disebabkan oleh gangguan pada jasmani.20

Di dalam ajaran islam itu mendorong manusia agar memiliki qalbu yang sehat dari berbagai macam penyakit dengan jalan bertobat, dan mendekatkan diri kepada Allah21. Seperti dalam firmanNya:

























Artinya: Sesungguhnya dengan mengingat Allah, jiwa akan memperoleh ketenangan.22(QS. Ar-Ra‟d: 28)

2. Spiritual

Spiritual yaitu yang berhubungan dengan masalah ruh, semangat atau jiwa, religus, yang berhubungan dengan agama, keimanan, kesalehan dan menyangkut nilai-nilai Transendental: seperti syirik, nifaq, fasiq dan kufur, lemah keyakinan dan tertutup atau terhijabnya alam ruh, alam malaikat dan alam ghaib, semua itu akibat dari kedurhakaan dan pengingkaran kepada Allah, sebagaimana dalam firmanNya:











































Artinya: “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.23( QS. An-Nisa: 48 )

20 Lihat skripsi Nurul Hikmah “ Syifa Dalam Persepektif al-Qur‟an “ ( Kajian surat al-Isra (17) : 82, Q.S.Yunus (10) : 57, dan Q.S. an-Nahl (16) : 69 Dalam Tafsir al-Misbah )”. UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

21 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur‟an, op. cit., hlm. 189

22 Hamka, Tafsir al-Azhar, jilid 5, hlm. 3759

23 Ibid, hlm. 1244

(9)

9

Penyakit bathiniyah atau spiritual ini sangat sulit untuk disembuhkan atau diobati, karena penyakit tersebut sangat tersembunyi di dalam diri setiap orang. Oleh karena itu, tanpa ada pertolongan dan petunjuk serta bimbingan dari Allah swt, Rasul, Malaikat dan hamba-hambanya yang hak, maka penyakit itu tidak akan pernah dapat disembuhkan dengan mudah.

3. Moral

Moral (akhlak), yaitu suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian; atau watak yang terjabarkan dalam bentuk: berfikir, berbicara, bertingkah laku dan sebagainya sebagai ekspresi jiwa.

Untuk menyembuhkan penyakit-penyakit itulah Rasul segera diutus oleh Allah swt untuk kedunia ini. Perkataan, perbuatan, sikap dan gerak-geriknya merupakan sebagai suatu keteladanan dan contoh yang baik dan benar bagi diri seorang manusia. Oleh karena itulah Allah berfirman:





































Artinya: “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.24( QS. al-Ahzab:

21) 4. Fisik

Fisik (Jasmaniyah). Penyakit ini bisa dilihat secara fisik atau non fisik yaitu:

Pertama: Sakit secara fisik, dapat disebabkan oleh suatu hal yang sifatnya kronologis, seperti sakit flu dan pilek disebabkan oleh udara dan cuaca yang buruk serta makanan.

24Ibid, hlm. 5659

(10)

10

Kedua: Sakit secara non fisik, yang disebabkan karena accident atau suatu kejadian bisa dilihat dari kecelakaan atau bencana alam. Atau dapat disebabkan seperti halnya kecemasan, depresi, atau sterss. Kecemasan muncul dari rasa khawatir, takut, gelisah, cemas dan tidak bisa tidur. Rasa cemas itu selalu berorientasi pada masa depan. Adapun depresi menyangkut pada keluhan dan penyesalan. Tetapi sakit pada umumnya disebabkan oleh gangguan fisik. Kondisi-kondisi fisik yang tidak sehat, seperti terkena stroke, sakit jantung, dan liver juga bisa dapat mempengaruhi kejiwaan seseorang. Namun, kondisi kejiwaan juga bisa mempengaruhi kondisi badan. Badan dan jiwa itu saling mempengaruhi, perilaku manusia cerminan dari pikiran dan perasaan. Jiwa terdiri dari tiga unsur yaitu alam pikiran, alam perasaan, dan perilaku. Hal inilah yang mengantarkan pada kesadaran religius. Agama diturunkan oleh para Nabi untuk memperbaiki akhlak manusia, itu meliputi perilaku, perbuatan dan tingkah laku yang merupakan cerminan dari pikiran dan perasaan.25 Oleh karena itu, dalam konteks kesehatan banyak ditemukan petunjuk yang pada dasarnya mengarah pada upaya pencegahan terhadap penyakit atau kesehatan.26 C. Pandangan Ulama Tafsir Tentang Syifa’

Aswadi yang mengutip pendapatnya al-Zarkasyi, syifa‟ itu digolongkan sebagai nama lain dari al-Qur‟an yang diuraikan melalui penjelasan bahwa al-Qur‟an itu dapat berfungsi sebagai syifa‟ bagi orang-orang yang beriman dari penyakit kekafiran, dan untuk orang-orang yang mengetahui dan mengamalkannya, maka syifa‟ itu dapat berfungsi sebagai obat dari penyakit kebodohan.27 Aswadi mengutip pendapatnya al-Qurtubi dalam karyanya Al-Jami‟li Ahkam al-Qur‟an dan al- Zamakhsyari dalam karyanya al-Kasyaf justru memasukan syifa‟ sebagai nama lain dari surah al-Fatihah dengan merujuk pada hadist Nabi yang antara lain mengandung makna, bahwa surah al-Fatihah itu dapat menyembuhkan segala penyakit. Al-Qurtubi bahkan menyatakan bahwa inti dari surah al-Fatihah adalah Basmalah. Oleh karena

25 Lihat skripsi Nurul Hikmah “ Syifa Dalam Persepektif al-Qur‟an “ ( Kajian surat al-Isra (17) : 82, Q.S.Yunus (10) : 57, dan Q.S. an-Nahl (16) : 69 Dalam Tafsir al-Misbah )”. UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

26 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur‟an, op. cit., hlm. 183

27 Aswadi, Konsep Syifa Dalam al-Qur‟an, op. cit., hlm. 1

(11)

11

itu, ia mengatakan: jika engkau sakit, obatilah dengan surah al-Fatihah, maka penyakit itu dapat disembuhkan dengannya.28Di samping itu, al-Qur‟an juga menginformasikan bahwa syifa‟ itu erat kaitannya dengan minuman sejenis madu, yang berfungsi sebagai obat bagi sekelompok orang yang mau berfikir dari beberapa penyakitnya.29 Dari beberapa pendapat di atas maka dapat dipahami bahwa eksistensi syifa‟ itu bisa jadi terkait langsung dengan al-Qur‟an maupun terkait dengan minuman sejenis madu. Hal ini sejalan dengan penggunaan trem syifa‟ dalam bentuk umum yang oleh banyak kalangan dinilai sebagai keluasan kandungan makna syifa‟

itu sendiri, namun dalam hal-hal tertentu ia juga menunjuk pada makna sebagian.30 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa banyak perbedaan pendapat tentang makna, karakteristik, sasaran dan fungsi syifa‟, baik yang berbentuk al- Qur‟an, ayat-ayatnya maupun madu dan sejenisnya bagi kehidupan umat manusia.

Karena setiap orang itu mempunyai pendapat masing-masing, dan dari pendapat tersebut pasti berbeda.

D. Tata Cara Melakukan Pengobatan atau Penyembuhan

Sebelum mengobati segala penyakit apapun, maka terdapat beberapa langkah- langkah yang harus dimanfaatkan, yaitu:

1. Al-Qur‟an

Pada dasarnya, setiap pengobatan itu harus menggunakan al-Qur'an, apabila dengan al-Qur‟an tersebut didapat disembuhkanmaka menggunakan obat-obatan sekalipun pada penyakit jasmani. Tidak seperti yang diyakini oleh para pembaca ruqyah yang bodoh, bagi orang yang mempunyai penyakit jasmani maka ia diharuskan dibawa ke rumah sakit, dan orang yang mempunyai sakit jiwa maka ia diwajibkan pergi ke rumah sakit jiwa dan apabila penyakitnya bersifat rohani, maka cara pengobatannya dengan menggunakan bacaan ruqyah. Al-Qur'an merupakan

28Ibid, hlm 2

29 Ibid, hlm. 2

30Ibid, hlm 1-2

(12)

12

penawar dan obat bagi hati, penyehat badan dan penyembuh baginya.31Al-Qur‟an menyebut dirinya sebagai “ penyembuh penyakit” .32Allah berfirman:













Artinya: “dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar .33“(QS. al-Israa: 82)

Pada kalimat ءافش (yang berarti penawar dalam bahasa Indonesia) dan tidak dengan menggunakan kata ءاود (yang berarti obat) karena hasilnya nyata, sementara obat, dengan sebab obat tersebut orang bisa sembuh atau terkadang tidak mempunyai pengaruh apapun.34 Bacaan dari al-Qur‟an itu mampu menyembuhkan penyakit dan menghilangkannya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Misalkan surat al-Fatihah, surat al-Fatihah itu merupakan bacaan yang paling mudah, apabila orang yang menggunakannya untuk pengobatan secara baik, maka orang tersebut akan melihat hasil dari surat al-Fatihah tersebut dengan menakjubkan.35 Ketika kita melakukan pengobatan maka harus diberengi dengan keyakinan dan berbaik sangka kepada Allah: (sebab di antara syarat agar obat bermanfaat bagi seorang yang sakit adalah sikapnya yang menerima obat tersebut dan meyakini manfaatnya bagi kesembuhan dirinya) dan firman Allah tidak boleh dijadikan sebagai obyek experiment sebab tindakan tersebut adalah cermin kerancuan di dalam keyakinan, namun sendainya seseorang mencoba air zam-zam dan hal tersebut bermanfaat bagi kesembuhannya, maka hendaklah diyakini dan dipercayai bahwa manfaat tersebut datang dengan izin Allah. Dengan demikian apabila kita bersandar pada keyakinan akan terkabulnya do‟a

31 Abdullah Al-Sadhan, Cara Pengobatan Dengan Al Quran, terj Muzaffar Sahidu (Islamhouse.com: 2009), hlm. 23

32 Fazlur Rahman, Etika Pengobatan Islam, terj. Jaziar Radianti (Bandung: Mizan, 1999), hlm. 41

33 Hamka, Tafsir al-Azhar, jilid 6, hlm. 4106

34 Abdullah Al-Sadhan, Cara Pengobatan Dengan Al Quran, hlm. 24-25

35 Ibnul Qoyyim al-Jauzi, Terapi Penyakit Hati, terj. Salim Bazemool, (Jakarta: Qisthi Press, 2005), hlm. 4

(13)

13

tersebut, maka orang tersebut harus bersungguh-sungguh dalam berdo‟a dan juga Allah akan mengabulkan do‟a tersebut.36

Pembahasan tentang penyembuhan dengan cara mengunakan al-Qur'an untuk penyakit jasmani adalah pembahasan yang panjang, contoh: Terdapat beberapa penyakit baik jasmani atau kejiwaan, dimana setan berperan besar dalam perkembangan penyakit tersebut. Dari penjelasan di atas bukan berarti seseorang dapat meninggalkan pengobatan secara medis. Seperti pergi ke rumah sakit untuk mendiagnosa jenis penyakit, akan tetapi pengobatan suatu penyakit pada dasarnya menggunakan terapi al-Qur'an, do'a-do'a, dan wirid dari Rasulullah, di tembah lagi dengan melakukan pengobatan secara medis, yang dibarengi dengan suatu keyakinan bahwasanya kesembuhan itu datangnya dari Allah, maka apabila Allah menurunkan kesembuhan bagi seseorang, maka obat tersebut akan bermanfaat bukan sebaliknya.

Sebab Allah Ta'ala berfirman:











Artinya:" Apabila aku sakit maka Dialah yang menyembuhkan aku"37(QS.

Asy Syu‟ara‟: 80)

Oleh karena itu, menggunakan obat medis adalah salah satu bentuk terapi, dan Nabi dalam sebagian haditsnya telah mengisyaratkan pada tuntunan ini, seperti apa yang disebutkan dalam sebuah hadits:

Artinya :"Setiap penyakit mempunyai obat, maka apabila suatu obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan izin Allah Azza Wa Jalla".38

Secara lebih umum, al-Qur‟an itu melarang seseorang menjerumuskan dirinya kedalam kebinasaan seperti dalam surat

36Ibid, hlm. 5

37 Hamka, Tafsir al-Azhar, jilid 7, hlm. 5112

38 HR. Muslim, dalam buku Abdullah Al-Shadan, cara pengobatan dengan Al-Qur‟an, op.

cit., hlm 33

(14)

14































Artinya: “ dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.39( QS.

Al- Baqarah: 195 )

Di dalam larangan tersebut tentu saja termasuk mengonsumsi makanan atau obat-obatan terlarang yang membahayakan kesehatan. Di dalamnya juga terkandung perintah kepada kita untuk berobat dengan memanfaatkan penemuan-penemuan kedokteran modern. Walaupun tujuan terbesar dan utama dari semua amal yang disebutkan al-Qur‟an adalah mencari keridhaan dan mendekatkan diri kepadaNya, juga terkandung pula unsur-unsur yang menyehatkan badan. Seperti jihad, shalat, puasa, haji, dan berbuat baik kepada sesama makhluk. Karena amal-amal tersebut itu merupakan olah raga, penyegar bagi jiwa, menyenangkan hati, dan memberikan kebahagian tersendiri. Semua itu dapat memelihara dan meningkatkan kesehatan serta menghilangkan berbagai penyakit, baik yang bersifat fisik maupun psikis.40 Al Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan adanya dua pendapat ulama tentang penyakit yang bisa disembuhkan oleh al-Qur‟an.

Pendapat pertama, bahwa al-Qur‟an itu menyembuhkan hati (بولقلا) dari penyakit kebodohan dan keraguan. Pendapat kedua, menyembuhkan penyakit- penyakit jasmani dengan cara ruqyah, ta‟awwudz dan sejenisnya.41 Pendapat ini didasarkan pada Hadits Rasulullah saw yang berasal dari Abu Sa‟id Al Khudri ra, bahwa pada suatu saat Rasulullah saw mengutus dia bersama 30 pasukan ke sebuah peperangan. Ketika sampai di pemukiman salah satu suku Arab mereka meminta dijamu, akan tetapi suku tersebut enggan. Tiba-tiba ketua suku tersebut disengat

39 Hamka, Tafsir al-Azhar, jilid 1, hlm 449

40 Abd. Rahman Dahlan, Kaidah-kaidah Penafsiran al-Qur‟an, (Pustaka Mizan: 1997), hlm.

333

41 Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al Anshari Al Qurthubi, Al Jami‟ Li Ahkam Al Qur‟an. (Kairo: tp 1940), juz 10, hlm. 316

(15)

15

kalajengking. Lalu datanglah utusan mereka menemui para sahabat dan bertanya:

“Apakah di antara kalian ada yang bisa mengobati sengatan kalajengking?”

Kata sahabat: “Ya. Akan tetapi kalian harus memberi kami imbalan.”

Mereka berkata: “Kami akan memberi kalian 30 ekor kambing.”

Abu Sa‟id pun meruqyahnya dengan surah al-Fatihah sebanyak tujuh kali, dan sembuh. Lalu mereka mengambil imbalan 30 ekor kambing dan membawanya kepada Rasulullah saw. Kepada mereka beliau bersabda: “Makanlah dan berilah kami makan dari kambing itu”.42 Menanggapi kedua perbedaan pendapat yang dikemukakan oleh al Qurthubi di atas, maka Muhammad Sayyid Thanthawi menengahi dengan mengatakan: yang menenangkan jiwa itu dengan cara membaca al-Qur‟an dan mengamalkan petunjuk dan syari‟at yang ada di dalam al-Qur‟an tersebut, maka dengan izin Allah SWT , penyakit hati dan jasmani itu dapat disembuhkan. Adapun arti dari firman Allah SWT: ( نينمؤملل حمحرو), Al Maragi mengatakan: mereka akan masuk surga dan bebas dari azab.43Sedangkan menurut Al Qurthubi makna dari (نينمؤملل حمحرو) adalah terlepas dari kesusahan, dibersihkan dari aib, penghapusan dosa dan pemberian pahala oleh Allah SWT kepada pembacanya.44

2. Bacaan Secara Imajinatif

Tidak cukup dengan dibacakan ruqyah saja, akan tetapi harus mengimijinasikan makana-makna ayat tersebut dan terlarut padanya, apabila mengiginkan pengaruh dari bacaan ruqyah tersebut, maka kita harus bersungguh-sungguh dalam membacanya, dan mengimijinasikan makna yang terkandung di dalam ayat tersebut.

(Yaitu meruqyah seorang pasien dengan niat kesembuhan pasien tersebut dan berdakwah bagi jin yang merasukinya, maka jin tersebut akan cepat terpengaruh dengan baacaan tersebut dengan kecepatan yang sangat mengagumkan, dia akan menerima tanpa harus berbicara dengannya. Tandanya adalah ketenangan seoarang pasien setelah dibacakan ruqyah tidak merasakan letih, sebagaimana yang sering

42 Al Bukhari, Shahih Al Bukhari. Kairo (Maktabah AL Shafa, 2003), jilid 3, hlm. 87, vol.

5749.

43 Ahmad Musthafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, (Kairo: Maktabah Musthafa Al Babi), juz 15, 1946, hlm. 86.

44 Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al Anshari Al Qurthubi, Al Jami‟ Li Ahkam Al Qur‟an, op. cit. hlm. 320

(16)

16

terjadi pada banyak roqi, hal ini disebabkan karena imajinasi yang salah, baik untuk membakarnya atau menyakitinya tanpa berfikir untuk memberikan hidayah kepada jin yang merasuki tersebut dan keluar tanpa harus berbicara dengannya.)45Pada anggota tubuh yang dibacakan, maka tubuh tersebut akan sembuh atas ijin Allah.

Seperti contoh yang diterapkan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bagimana dia mengimajinasikan bacaan tersebut dengan imijinasi yang bersifat terapi untuk penyakit pendarahan, dimana beliau menyerupakan bumi dengan manusia, dan pendarahan tersebut ditelan bumi, sumber pendarahan mengering, pendarahan menghilang, dan perkaranya telah diputuskan serta berakhir. Akhirnya, penyakit tersebut sembuh.46

Jika engkau ingin agar khusyu' di dalam shalat, dalam membaca al-Qur'an dan ruqyah maka bacalah sebagaimana para shahabat membaca: Salah seorang di antara mereka menggambarkan adanya surga di samping dirinya, maka dia tersentuh dengan kenikmatan surga tersebut, dan disebelah kirinya tergambar neraka dengan panas apinya yang membakar dan kepedihannya, maka mereka tersentuh dengan pengaruh kepedihannya yang mendorong diri mereka berlindung darinya, juga mengimajinasikan arsy ar-Rahman di hadapan mereka dan diri mereka tenggelam padanya, terdengar di dalam diri mereka suara isak tangisan seakan suara air yang mendidih di dalam periuk karena khusyu', hilanglah rasa diri mereka dari dunia ini, seandainya tembok mesjid terjatuh niscaya mereka tidak akan merasakan hal tersebut.

Kita menginginkan imijinasi dan keyakinan yang seperti ini, niscaya semua penyakit kita akan bisa disembuh, dan al-Qur'an ini jika diturunkan kepada gunung-gunung niscaya akan meluluhkan gunung tersebut, apakah dia tidak cocok untuk tubuh yang hanya terdiri dari gumpalan daging dan darah.47

3. Kesembuhan di Tangan Allah

Kesembuhan bukanlah hal yang pasti turun. Sebab, setelah melaksanakan terapi tersebut ada kehendak Allah sebagai penentu kesembuhan. Hal ini jelas, sama seperti

45Abdullah Al-Sadhan, Cara Pengobatan Dengan Al-Qur‟an, hlm. 32

46 Ibid, hlm. 33

47Ibid, hlm. 34

(17)

17

terjadinya gempa pada suatu daerah, dan Allah menghendaki hancurnya suatu gedung yang mengakibatkan korban kematian bagi orang-orang tertentu, sementara yang lain hidup padahal bersama dalam menghadapi bencana yang menimpa orang yang telah meninggal tersebut, begitu juga halnya dengan sesorang yang telah menyempurnakan sebab-sebab yang lazim untuk menyihir orang lain, namun bersamaan dengannya, sihir tidak berpengaruh pada orang yang dimaksud, sebab Allah Ta'ala telah mengaskan:



















Artinya:“Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah”.48(QS. Al- Baqarah: 102)

Terkadang Allah menghendaki bertahannya suatu penyakit pada seseorang bersamaan dengan sempurnanya tindakan medis yang pernah dijalankan, karena suatu hikmah yang dikehendaki oleh Allah, yaitu agar orang tersebut menyerahkan urusannya kepada Allah, mencuci dosa-dosa, atau suatu ujian baginya karena Allah mencintainya, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS dan pada Nabi kita Muhammad SAW, yaitu ketika Nabi Ibrahim AS dicampakkan ke dalam api neraka dan terlempar ke dalamnya, maka api tersebut menyentuh Nabi Ibrahim dengan kepanasan yang membakar dirinya.49 Maka dapat disimpulkan bahwa segala macam penyakit itu bisa disembuhkan kalau Allah sudah menghendaki untuk sembuh, akan tetapi kalau Allah tidak menghendaki untuk bisa disembuhkan maka penyakit itu tidak akan bisa sembuh. Manusia hanya bisa berusaha untuk mengobati penyakit tersebut agar bisa sembuh, tetapi yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah.

48 Hamka, Tafsir al-Azhar, jilid 1, hlm. 251

49Abdullah Al-Sadhan, Cara Pengobatan Dengan Al-Qur‟an, op. cit., hlm. 34-35

Referensi

Dokumen terkait

Berkaitan dengan masalah di atas untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur‟an dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan memilih dan menerapkan metode

Teknik ini digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab aspek mahārah al-istimā’ di SMA Takhassus Al-Qur‟an. Teknik tes ini dilaksanakan dengan cara siswa mendengarkan

Sesuatu fenomena yang menarik dalam Al-Qur‟an berkaitan dengan operasi bilangan adalah bahwa berdasarkan urutan surat, ternyata Al-Qur‟an mengajarkan terlebih dahulu

Dari definisi al-Qur‟an yang telah disebutkan di atas menunjukkan bahwa al-Qur‟an itu adalah merupakan salah satu mukjizat di antara mukjizat-mukjizat yang diberikan

a) Sebagian ulama berpendapat bahwa segi kemukjizatan al-Qur`an adalah sesuatu yang terkandung dalam al- Qur`an itu sendiri yaitu susunan prosanya yang asing dan

Allah menurunkan wahyu al Qur‟an kepada nabi Muhammad saw dengan cara sedikit demi sedikit (Qs. 76:23), maka Allah memberikan peringatan agar manusia jangan

Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kualitas tidur sebelum dan sesudah pemberian terapi murottal Al Qur ’an (p value 0,000; α = 5%)..

Hal ini karena metode Ummi berbeda dengan metode belajar al- Qur’an yang lain yang sekedar di ajarkan bagaimana cara baca al-Quran. yang baik dan benar, di