Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 1 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
P U T U S A N
Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G
memeriksa perkara perdata khusus hak kekayaan intelektual hak cipta pada tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara antara:
PT. METRO HOTEL INTERNASIONAL SEMARANG, berkedudukan di Jalan H. Agus Salim Nomor 2-4, Semarang, Jawa Tengah, dalam hal ini memberi kuasa kepada Luhut Sagala, S.H., M.H., Advokat, berkantor di Ruko Mega Peterongan, Jalan Kanal Nomor 5C, Semarang, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 19 Juni 2015;
Pemohon Kasasi I juga Termohon Kasasi II dahulu Tergugat;
L a w a n
PT. INTER SPORT MARKETING, Perseroan Terbatas yang didirikan berdasarkan dan tunduk pada hukum Negara Republik Indonesia, berkedudukan di Jakarta Pusat, berkantor di Boutique Office Republik Indonesia Park Nomor B/2 Jalan H. Benyamin Suaeb, Blok A6 Kemayoran, Jakarta 10630, yang diwakili oleh Drs. Imansyah Budianto, Direktur, dalam hal ini memberi kuasa kepada Wahyu Priyanka Nata Permana, S.H., M.H., dan kawan- kawan, para Advokat, beralamat di Jalan Wates Km 3.5 Nomor 179, Kasihan, Bantul, D.I. Yogyakarta 55182, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 15 Juni 2015;
Termohon Kasasi I juga Pemohon Kasasi II dahulu Penggugat;
Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Termohon Kasasi I juga Pemohon Kasasi II dahulu sebagai Penggugat telah mengajukan gugatan terhadap Pemohon Kasasi I juga Termohon Kasasi II dahulu sebagai Tergugat di depan persidangan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang, pada pokoknya sebagai berikut:
1. Bahwa Penggugat adalah suatu badan hukum yang didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas dengan nama PT Inter Sport Marketing (PTASM), dengan Nomor Akta 02 tertanggal 05 Oktober 2010, yang dibuat dihadapan Notaris Zacharias Omawele, S.H., Notaris di Jakarta, yang telah mendapatkan pengesahan sesuai dengan Keputusan Menteri Hukum dan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 2 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Republik Indonesia, Nomor AHU- 09377.AH.01.01.Tahun 2011 Tentang Pengesahan Badan Hukum Perseroan Terbatas, tertanggal 23 Februari 2011 dan selanjutnya telah dilakukan perubahan berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS) PT. Inter Sport Marketing Nomor 05, tertanggal 05 Mei 2014, yang dibuat dihadapan Notaris Irma Bonita, S.H., Notaris di Jakarta, yang mana terhadap perubahan tersebut telah dicatatkan perubahan Data Perseroan PT Inter Sport Marketing pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU.08835.40.22.2014, tertanggal 19 Mei 2014;
2. Bahwa Penggugat dalam menjalankan kegiatan usahanya sejak tahun 2010 hingga sekarang, Penggugat telah menggunakan nama badan hukum tersebut yang bergerak pada kegiatan-kegiatan di bidang keolahragaan, baik yang dilakukan atau ada di wilayah Republik Indonesia maupun bekerjasama dengan badan-badan, organisasi-organisasi atau perusahaan- perusahaan lain yang ada di luar negeri;
3. Bahwa dalam rangka kegiatan keolahragaan berskala internasional yakni FIFA World Cup Brazil 2014 (Piala Dunia Brazil 2014), Penggugat adalah penerima lisensi (“Licensee”) dari Federation International De Football Association (“FIFA”) yang merupakan sebuah organisasi sepak bola Internasional yang berkedudukan di FIFA-Strasse 20 PO.Box. 8044, Zurich, Swiss untuk Tayangan (siaran) Piala Dunia di Seluruh Wilayah Republik Indonesia;
4. Bahwa selanjutnya antara Penggugat dengan “FIFA” telah pula dibuat dan ditandatangani License Agreement dengan The Federation Internationale De Football Association (FIFA) Zurich. Dimana Penggugat adalah selaku
“Master Right Holder” atas Media Rights Of 2014 FIFA World Cup Brazil untuk seluruh wilayah Republik Indonesia berdasarkan License Agreement yang telah ditandatangani antara PT Inter Sport Marketing dengan The Federation International De Football Association (FIFA) Zurich tertanggal 5 Mei 2011, berkaitan dan/atau berkenaan dengan pelimpahan, dari hak-hak media tertentu yang ditimbulkan dalam kaitan dengan edisi XX dari Turnamen Sepak bola dan even-even FIFA lainnya;
5. Bahwa sebagai penerima lisensi (license) Penggugat dengan penuh itikad baik telah menjalankan kewajiban hukumnya sesuai dengan ketentuan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta, yang berbunyi “perjanjian Asensi tersebut wajib dicatatkan pada Direktorat
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 3 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Direktorat Hak Cipta, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia”. Penggugat melalui Kuasa dan Konsultan HKI Turman M. Panggabean, S.H., M.H., pada Kantor Absolut Patent & Trade Mark, telah mengajukan Permohonan Pencatatan Lisensi kepada Direktur Hak Cipta Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I, Jalan H.R.
Rasuna Said Kav. 8-9, Jakarta Selatan, pada tanggal 23 Mei 2014, serta telah diterima dan dicatatkan pada tanggal tersebut 23 Mei 2014;
6. Bahwa di dalam License Agreement tertanggal 05 Mei 2014 antara Penggugat dengan “FIFA”, Penggugat selaku Penerima Lisensi sebagai Master Right Holder di seluruh Wilayah Republik Indonesia telah diberikan hak-hak media, antara lain:
a. Hak-hak Televisi, termasuk didalamnya :
1) Basic Feed, Multi Feeds, Additional Feeds dan Liputan Unilateral atas dasar live, deleyed atau repeat;
2) Audio Feed atas dasar live, delayed atau repeat;
3) Highlights atas dasar delayed atau repeat;
b. Hak-Hak Mobil termasuk didalamnya :
1) Basic Feed, Multi Feeds, Additional Feeds dan Liputan Unilateral atas dasar live, delayed atau repeat.
2) Audio Feed atas dasar live, delayed atau repeat;
3) Highlights atas dasar delayed atau repeat c. Hak-Hak Radio
1) Audio Feed atas dasar live, delayed atau repeat;
2) Highlights atas dasar delayed atau repeat;
d. Internet
1) Audio Feed atas dasar live, delayed atau repeat;
2) Highlights atas dasar delayed atau repeat;
e. Periklanan dan Promosi;
f. Branding FIFA dan Perlindungan Merek Dagang;
g. Properti Intelektual;
h. Sub Lisensi;
i. Hak-hak Eksibisi Publik (Hak-Hak Areal Komersial);
7. Bahwa Hak Media untuk Penayangan Siaran Piala Dunia Brazil 2014 di Wilayah Republik Indonesia dalam pelaksanaannya Penggugat telah memberikan Sub Lisensi kepada TV.ONE dan ANTV secara eksklusif untuk menyiarkan acara/program 2014 FIFA World Cup Brazil dengan system
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 4 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
Free to Air Broadcaster. Kemudian diantaranya kepada K-VISION dan VIVA+ secara eksklusif untuk menyiarkan/program 2014 FIFA World Cup Brazil dengan system Pay TV Broadcaster serta untuk internet mobile rights kepada Domikado;
8. Bahwa terhadap hak-hak ekshibisi publik atau hak-hak areal komersial atau untuk kepentingan komersial selanjutnya Penggugat telah menunjuk PT Nonbar secara eksklusif di wilayah Republik Indonesia sebagai koordinator tunggal untuk aktifitas nonton bareng sebagaimana Surat Penunjukan PT.
ISM kepada PT. Nonbar Nomor 008/ISM/Srt.P/XI/2013, tertanggal 12 November 2013 dan Pembaharuan Surat Penunjukan PT Inter Sport Marketing Kepada PT Nonbar Nomor 010/ISM/Srt.P/V/2014, tertanggal 10 Mei 2014. Bahwa berdasarkan ekslusifitas ini, tidak ada pihak lain, termasuk tetapi tidak terbatas pada para broadcaster, yang berhak untuk (namun tidak pada terbatas pada) melakukan sosialisasi, pemasaran dan pengawasan ijin penggunaan siaran FIFA World Cup Brazil 2014 secara komersial di tempat-tempat komersial (hotel, mall, gedung pertemuan, Restaurant, Cafe, Lounge dan atau tempat-tempat berkumpulnya masyarakat lainnya) yang mana penyelenggara dan atau dikomersialkan dan atau pemilik tempatnya akan dan atau mendapatkan keuntungan secara komersial dengan adanya siaran 2014 FIFA World Cup Brazil;
9. Bahwa kegiatan nonton bareng dan atau penggunaan atau penayangan Siaran Piala Dunia Brazil 2014 ditempat-tempat komersial dan atau untuk kepentingan komersial merupakan kegiatan komersial yang menggunakan siaran FIFA World Cup Brazil 2014, sebagai bagian dari Hak Penggugat untuk mempromosikan dan melindungi, Hak Siar 2014 FIFA World Cup Brazil di wilayah hukum Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan FIFA World Cup Brazil 2014;
10. Bahwa Penggugat juga telah melakukan sosialiasi, pengumuman maupun teguran terkait Hak atas Siaran FIFA World Cup Brazil 2014 secara nasional melalui Media Cetak Nasional, antara lain:
a. Surat Kabar Nasional Harian Kompas, hari Selasa, tertanggal 21 Januari 2014, halaman 14;
b. Surat Kabar Nasional Superball, hari Sabtu, tertanggal 14 Juni 2014, halaman 4;
c. Surat Kabar Nasional Harian Bola hari Selasa, tertanggal 17 Juni 2014, halaman 9;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 5 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
11. Bahwa selanjutnya Tergugat adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa perhotelan yang meliputi jasa penginapan dan pengadaan makanan serta minuman secara komersial dengan brand nama “New Metro Hotel”, yang beralamat di Jalan H. Agus Salim Nomor 2-4, Semarang, Jawa Tengah;
12. Bahwa berdasarkan hasil temuan dan monitoring di wilayah Jawa Tengah, telah ditemukan fakta sebagai berikut:
a. Bahwa Tergugat telah mempromosikan, mengumumkan, menginformasikan, kepada khalayak umum, termasuk namun tidak terbatas kepada pengunjung New Metro Hotel (Konsumen Tergugat), apabila di tempat Tergugat (New Metro Hotel) menayangkan dan mengadakan kegiatan acara Nonton Bareng Final Piala Dunia 2014 pada tanggal 14 Juli 2014 secara komersial;
b. Bahwa dalam kegiatan acara nonton bareng Piala Dunia Brazil 2014, Tergugat telah pula menarik sejumlah uang sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah)/untuk tiket masuk, bagi setiap orang yang ingin melihat/menyaksikan Siaran Final Fifa World Cup Brazil 2014 di Tempat Tergugat (New Metro Hotel);
c. Bahwa disamping Perbuatan Tergugat yang mengadakan kegiatan nonton bareng Final Piala Dunia Brazil 2014, Tergugat secara tanpa hak telah pula mendistribusikan atau menyalurkan Siaran Piala Dunia Brazil 2014 di KamarKamar Hotel milik Tergugat;
13. Bahwa perbuatan Tergugat secara tanpa hak yang menyiarkan atau menayangkan atau mengadakan kegiatan Nonton Bareng Final Piala Dunia Brazil 2014 secara komersiil termasuk mendistribusikan atau menyalurkan Siaran Piala Dunia Brazil 2014 di kamar-kamar hotel milik Tergugat ternyata tidak memiliki ijin lisense dari PT Nonbar yang telah ditunjuk oleh Penggugat;
14. Bahwa perbuatan Tergugat yang telah menayangkan siaran piala dunia secara komersial tanpa Ijin dari dari PT Nonbar yang telah ditunjuk oleh Penggugat adalah merupakan perbuatan melawan hukum dan sangat merugikan Penggugat;
15. Bahwa kerugian yang dialami oleh Penggugat baik secara materiil maupun immateriii akibat perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Tergugat tersebut apabila ditotal secara keseluruhan berjumlah Rp33.225.500.000,00 (tiga puluh tiga miliar dua ratus dua puluh lima juta lima ratus ribu rupiah), dengan perincian sebagai berikut:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 6 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
a. Kerugian Materiil:
1. Biaya Tarif Hak Siar Distribusi Siaran ke Kamar dan Nonton Bareng FIFA World Cup Brazil 2014, untuk Kategori Hotel (Venue & Rooms), Hotel Bintang 3, pertanggal 23 Mei 2014, belum termasuk PPN 10 % =
Rp 60.000.000,00
2. Denda atas Penayangan Siaran FIFA World Cup Brazil 2014, tanpa Ijin dari Penggugat sebesar 20 x Lisensi Hotel Bintang 3 =
Rp1.200.000.000,00
3. Keuntungan/Pendapatan Tergugat dari hasil penjualan Tiket Nonton Bareng Pertandingan FIFA World Cup Brazil 2014 sebanyak 64 pertandingan dengan perhitungan, Jumlah Tiket = 200 kursi x 64 pertandingan x @ Rp50.000,00 =
Rp640.000.000,00
4. Pendapatan/Keuntungan yang diperoleh oleh Tergugat dari transaksi Penjualan makan dan minum, yang apabila diperkirakan sebesar = 200 kursi x 64 Pertandingan X @ Rp50.000,00 X 70 %
Rp448.000.000,00
5. Pendapatan/Keuntungan yang diperoleh Tergugat dari penjualan kamar dan room service sebesar 90 kamar x Rp325.000,00 x 30 hari =
Rp877.500.000,00
Total Kerugian Materiil Rp3.225.500.000,00
b. Kerugian Immaterial:
Disamping kerugian material yang dialami oleh Penggugat, Penggugat juga mengalami kerugian immaterial, yang mana Penggugat selaku Penerima Lisensi dari FIFA untuk Wilayah Republik Indonesia merasa tercoreng nama baik, citra maupun kredibilitas Penggugat dimata dunia internasional khususnya FIFA, yang mengakibatkan Penggugat mendapatkan teguran langsung dari FIFA, yang apabila dinilai dengan uang berjumlah sebesar Rp30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah);
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 7 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
16. Bahwa untuk menjamin gugatan Penggugat tidak sia-sia (illusoir), mohon agar diletakan sita jaminan (conservatoir beslag) terhadap harta kekayaan milik Tergugat baik barang bergerak maupun tidak bergerak milik Tergugat yakni terhadap tanah dan bangunan milik Tergugat yang dikenal dan terletak di Jalan H. Agus Salim Nomor 2-4, Semarang, Jawa Tengah;
17. Bahwa dikarenakan gugatan ini diajukan disertai dengan bukti-bukti yang otentik maka sesuai dengan Pasal 180 HIR segala penetapan dan putusan pengadilan dalam perkara ini agar putusan ini dapat dijalankan (dilaksanakan) terlebih dahulu secara serta merta (uitvoebaar bij voorraad), meskipun ada upaya hukum yang dilakukan oleh Tergugat;
18. Bahwa sebelum diajukannya gugatan ini, PT. Nonbar yang telah ditunjuk oleh Penggugat telah pula memberikan peringatan/somasi kepada Tergugat sebagaimana dalam Surat Somasi Nomor 303/SKLB-WP/IX/2014, tertanggal 1 September 2014 dan Surat Somasi Nomor 321/SKLB- WP/IX/2014, Tertanggal 13 September 2014, tetapi sampai gugatan ini diajukan belum ada penyelesaian terkait permasalahan ini;
19. Bahwa oleh karena belum adanya penyelesaian permasalahan ini dengan Tergugat, maka tiada jalan lain kecuali menyerahkan perkara ini kepada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang untuk memeriksa dan memutuskan perkara ini.
Bahwa, berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Penggugat mohon kepada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang agar memberikan putusan sebagai berikut:
Primair:
1. Menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan terhadap tanah dan bangunan milik Tergugat yang dikenal dan terletak di jalan H. Agus Salim Nomor 2-4, Semarang, Jawa Tengah;
3. Menyatakan sahnya License Agreement tertanggal 5 Mei 2011 antara PT Inter Sport Marketing (Penggugat) dengan The Federation Internationale De Football Association (FIFA) Zurich;
4. Menyatakan Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum dan menimbulkan kerugikan pada Penggugat;
5. Menghukum Tergugat untuk membayar kepada Penggugat sejumlah uang sebesar yang totalnya berjumlah Rp33.225.500.000,00 (tiga puluh tiga miliar dua ratus dua puluh lima juta lima ratus ribu rupiah), dengan rincian sebagai berikut:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 8 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
a. Kerugian Materiil:
1. Biaya Tarif Hak Siar Distribusi Siaran ke Kamar dan nonton bareng FIFA World Cup Brazil 2014, untuk kategori hotel (venue &
rooms), hotel bintang 3, pertanggal 23 Mei 2014, belum termasuk PPN 10%
Rp60.000.000,00
2. Denda atas Penayangan Siaran FIFA World Cup Brazil 2014, tanpa ijin dari Penggugat sebesar 20x Lisensi hotel bintang 3
Rp1.200.000.000,00
3. Keuntungan/Pendapatan Tergugat dari hasil penjualan tiket nonton bareng pertandingan FIFA World Cup Brazil 2014 sebesar 64 pertandingan dengan perhitungan jumlah tiket: 200 kursi x 64 x
@Rp50.000,00
Rp640.000.000,00
4. Pendapatan/Keuntungan yang diperoleh oleh Tergugat dari transaksi penjualan makan dan minum yang apabila diperkirakan sebesar; 200 kursi x 64 pertandingan x @Rp50.000,00 x 70%
Rp448.000.000,00
5. Pendapatan/Keuntungan yang diperoleh Tergugat dari penjualan kamar dan room service sebesar : 90 kamar x Rp325.000,00 x 30 hari;
Rp877.500.000,00
Total Kerugian Material Rp3.225.500.000,00
b. Kerugian Immateriil
Disamping kerugian material yang dialami oleh Penggugat, Penggugat juga mengalami kerugian immaterial yang apabila dinilai dengan sejumlah uang sebesar Rp30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah);
6. Menyatakan Putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu (serta merta) uitvoebaar bij voorraad meskipun terdapat upaya hukum dari Tergugat;
7. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara ini;
Subsidair:
Apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon putusan Seadil-adilnya (ex aequo et bono);
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 9 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
Bahwa, terhadap gugatan tersebut di atas, Tergugat mengajukan eksepsi yang pada pokoknya sebagai berikut:
1. Eksepsi kompetensi absolut, Pengadilan Niaga tidak berwenang mengadili;
Bahwa gugatan Penggugat adalah gugatan perbuatan melawan hukum dan ganti kerugian. Gugatan Penggugat tersebut bukan merupakan kompetensi Pengadilan Niaga;
Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 60 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta (undang undang yang berlaku pada saat itu), gugatan yang menjadi kompetensi Pengadilan Niaga adalah gugatan ganti kerugian atas pelanggaran hak cipta. Kemudian di dalam Pasal 56 secara limitatif telah ditentukan bahwa yang berhak mengajukan gugatan ganti kerugian atas pelangaran hak cipta adalah pemegang hak cipta.
Berdasarkan ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa gugatan vang menjadi kompetensi Pengadilan Niaga adalah gugatan pelanggaran hak cipta yang diajukan oleh pemegang hak cipta. Selain itu, yang menjadi kompetensi Pengadilan Niaga dalam bidang hak cipta adalah gugatan yang diajukan oleh pencipta/ahli warisnya dalam hal tanpa persetujuannya: pihak lain meniadakan nama pencipta yang tercantum dalam ciptaan, mencantumkan nama pencipta pada ciptaannya, mengganti atau mengubah judul ciptaan atau mengubah isi ciptaan (vide Pasal 55 Undang Undang Nomor 19 Tahun 2002);
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka gugatan-gugatan lain selain gugatan seperti yang diatur dalam Pasal 55 dan Pasal 56 Undang Undang Hak Cipta, bukan kompetensi Pengadilan Niaga. Oleh karena itu gugatan perbuatan melawan hukum dan ganti rugi bukanlah kompetensi niaga, sehingga sudah seharusnya Pengadilan Niaga menyatakan tidak berwenang mengadili perkara a quo dan menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima;
2. Eksepsi tentang persona standy in judicio;
Bahwa Penggugat dalam perkara ini mendalilkan dirinya sebagai penerima lisensi. Bahwa sebagaimana telah disinggung di atas bahwa penerima lisensi bukanlah pihak yang berhak untuk mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum dan ganti kerugian terkait pelanggaran hak cipta di Pengadilan Niaga;
Lebih jelasnya, Undang Undang Hak Cipta Nomor 19 Tahun 2002 telah menetapkan bahwa hanya ada 2 (dua) pihak yang memiliki kapasitas secara hukum untuk mengajukan gugatan yakni pencipta/ahli warisnya dan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 10 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
gugatan yang diajukan oleh pemegang hak cipta, hal ini secara tegas telah diatur dalam:
- Pasal 55, pengajuan gugatan oleh pencipta/ahli warisnya, dalam hal tanpa persetujuannya: pihak lain meniadakan nama pencipta yang tercantum dalam ciptaan, mencantumkan nama pencipta pada ciptaannya, mengganti atau mengubah judul ciptaan atau mengubah isi ciptaan;
- Pasal 56, pengajuan gugatan oleh pemegang hak cipta, dalam hal terjadinya pelanggaran hak cipta;
Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, maka jelaslah bahwa Undang Undang Nomor 19 tahun 2002 tidak mengenal pengajuan gugatan perbuatan melawan hukum yang diajukan oleh penerima lisensi di Pengadilan Niaga. Perlu Penggugat pahami bahwa Penerima Lisensi bukanlah pemegang hak cipta yang berhak mengajukan gugatan Sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 14, Lisiensi adalah izin yang diberikan oleh pemegang hak cipta atau pemegang hak terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak ciptaannya atau produk hak terkaitnya dengan persyaratan tertentu. Mengacu kepada definisi tersebut maka penerima lisensi hanya berhak untuk memperbanyak day atau mengumumkan suatu ciptaan. Sedangkan hak untuk mengajukan gugatan tetap ada pada pencipta/ahli warisnya atau pada pemegang hak cipta;
Demikian halnya menurut Undang Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, yang berhak mengajukan gugatan ganti rugi atas pelanggaran hak cipta adalah Pencipta, Pemegang Hak atau hak terkait, (vide Pasal 99).
In casu, karena yang menjadi pokok permasalahan dalam perkara ini adalah mengenai siaran, maka pemegang hak terkait yang berhak mengajukan gugatan seharusnya adalah lembaga penyiaran, bukan Penggugat yang kapasitasnya hanya sebagai penerima lisensi;
Dengan demikian Penggugat dalam perkara a quo bukanlah pihak yang mempunyai kapasitas untuk menggugat (tidak memiliki persona standy in judicio). Sehingga gugatan Penggugat haruslah dinyatakan tidak dapat diterima;
3. Eksepsi peremptoria (gugatan prematur);
Bahwa Penggugat mengajukan gugatan dengan alasan bahwa Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum dan Penggugat menuntut ganti rugi atas perbuatan melawan hukum tersebut;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 11 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
Gugatan Penggugat dengan konstruksi demikian sangat prematur mengingat sampai dengan saat ini tidak pernah ada putusan pidana yang menyatakan adanya kesalahan yang telah dilakukan oleh Tergugat yang ada kaitannya dengan pelanggaran hak-hak Penggugat sebagai penerima lisensi;
Dalam ranah hukum hak kekayaan intelektual, gugatan perbuatan melawan hukum yang disertai dengan tuntutan, ganti rugi hanya dapat diajukan apabila perbuatan melawan hukumnya telah terbukti dengan adanya putusan pidana. Artinya bahwa gugatan ganti kerugian terkait dengan hak kekayaan inteiektuai (hak cipta) hanya akan dikabulkan apabila kesalahan Tergugat telah terbukti dengan adanya putusan pidana yang menyatakan Tergugat tersebut bersalah melakukan tindak pidana di bidang hak cipta.
Namun apabila belum atau tidak ada putusan pidana tersebut, maka gugatan perbuatan melawan hukum dan tuntutan ganti rugi tersebut haruslah ditolak oleh Pengadilan Niaga;
Hal ini sejalan dengan doktrin ajaran perbuatan melawan hukum, yang menyatakan bahwa perbuatan melawan hukum terjadi apabila telah terpenuhi 2 (dua) unsur perbuatan melawan hukum yaitu:
- Adanya kesalahan;
- Kesalahan itu menyebabkan orang lain menderita kerugian;
Namun apabila salah satu saja unsur tersebut tidak terpenuhi maka tidak ada perbuatan melawan hukum. Doktrin ini berlaku dalam lapangan hukum hak kekayaan intelektual khususnya hak cipta, mengingat seluruh pelanggaran hak cipta oleh pembuat undang-undang dikualifikasi sebagai tindak pidana. Sehingga keberadaan putusan pidana yang membuktikan kesalahan tergugat merupakan suatu hal yang mutlak dan harus ada.
Mengenai hal ini sejalan dengan pendapat H. OK. Saidin, S.H., M.Hum., Pakar Hukum Hak Kekayaan Intelektual pada Universitas Sumatera Utara, (dalam buku Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual 2004; 122123) yang menyatakan sebagai berikut:
Oleh karena itu, untuk mengajukan gugatan ganti rugi haruslah dipenuhi terlebih dahulu unsur perbuatan melawan hukum yaitu:
- Adanya orang yang melakukan kesalahan;
- Kesalahan itu menyebabkan orang lain menderita kerugian;
Apabila kedua unsur itu telah dipenuhi, barulah peristiwa itu dapat diajukan ke. Pengadilan gugatan ganti rugi, sebagaimana diatur dalam Pasal 56 UHC Indonesia. Memang dapat saja gugatan ganti rugi itu dimajukan secara
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 12 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
serentak dengan tuntutan pidananya saja karena unsur perbuatan melawan hukum itu menentukan harus ada kesalahan (apakah disengaja atau karena kelalaian), maka sebaiknya gugatan ganti rugi itu diajukan setelah ada putusan pidana yang menyatakan yang bersangkutan telah melakukan kesalahan;
Hal ini untuk menjaga sinkronisasi atau keselarasan putusan Hakim dalam perkara pidana dan perkara perdata. Jangan, sampai terjadi sebelum seseorang dinyatakan bersalah gugatan ganti rugi sudah dikabulkan atau ditolak. Seandainya gugatan ganti rugi itu dikabulkan, berselang beberapa hari putusan hakim pidana menyatakan yang bersangkutan tidak bersalah, sudah barang tentu hal ini akan merumitkan dalam proses penegakan hukum selanjutnya;
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, nyata dan tidak terbantah bahwa gugatan perbuatan melawan hukum dan ganti rugi hanya dapat diajukan setelah adanya putusan pidana. Hal ini sebenarnya telah diketahui dan sangat disadari oleh Penggugat, karena Penggugat telah pernah melaporkan Tergugat di Kepolisian Daerah Jawa Tengah pada bulan Oktober 2014. Namun hingga saat ini perkembangan atas laporan polisi ini tidak diketahui oleh Tergugat. Oleh karena itu maka sudah seharusnya Penggugat terlebih dahulu harus menunggu putusan pidana terkait dengan laporan polisi tersebut baru kemudian dapat mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum dan tuntutan ganti rugi;
In casu, karena gugatan Penggugat diajukan tanpa adanya putusan pengadilan dalarn perkara pidana maka gugatan a quo haruslah dinyatakan tidak dapat diterima;
4. Eksepsi error in persona;
Bahwa di dalam surat gugatan, yang ditarik sebagai subjek Tergugat tertulis dalam surat gugatan adalah PT. Metro Hotel Internasional Semarang.
Kemudian di dalam posita gugatan diuraikan bahwa Tergugat tersebut adalah sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa perhotelan dengan brand nama “New Metro Hotel” yang beralamat di Jalan H. Agus Salim Nomor 2-4 Semarang (posita gugatan nomor 11);
Bahwa jika benar yang hendak digugat adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa perhotelan dengan nama “New Metro Hotel” yang beralamat di Jalan H. Agus Salim Nomor 2-4 Semarang, maka Penggugat telah salah dalam menentukan subjek Tergugat. Karena nama perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa perhotelan dengan nama “New Metro
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 13 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
Hotel” yang beralamat di Jalan H. Agus Salim Nomor 2-4 Semarang bukan PT. Metro Hotel Internasional Semarang, dan PT. Metro Hotel Internasional Semarang tidak memiliki keterkaitan apapun dengan New Metro Hotel;
Perlu Tergugat sampaikan bahwa pemilik sekaligus pengelola hotel dengan nama “New Metro Hotel” adalah PT. Metro Hotel International, bukan PT.
Metro Hotel Internasional Semarang. Kedua nama tersebut sangat berbeda sehingga sudah barang tentu keduanya merupakan entitas hukum yang berbeda pula. Oleh karena itu cukup beralasan apabila Majelis Hakim yang mengadili perkara ini menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard) dengan alasan error in persona karena Penggugat salah dalam menentukan pihak yang dijadikan sebagai Tergugat;
Bahwa, terhadap gugatan tersebut Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang telah memberi putusan Nomor 02/Pdt.Sus-HKI/
2015/PN.Niaga.Smg, tanggal 11 Juni 2015 yang amarnya sebagai berikut:
I. Dalam Eksepsi:
- Menolak eksepsi Tergugat untuk seluruhnya;
II. Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan sah, perjanjian lisensi antara PT. Inter Sports Marketing (Penggugat) dengan The Federation International De Football Assosiation (FIFA) zurich tanggal 5 Mei 2011;
3. Menyatakan Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum berupa pelanggaran Hak Cipta;
4. Menghukum Tergugat untuk membayar sejumlah uang kepada Penggugat sejumlah Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah);
5. Membebani Tergugat untuk membayar biaya perkara Rp911.000,00 (sembilan ratus sebelas ribu rupiah);
6. Menolak gugatan Penggugat untuk selebihnya;
Menimbang, bahwa sesudah Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang tersebut diucapkan dengan dihadiri kuasa penggugat dan kuasa Tergugat pada tanggal 11 Juni 2015, terhadap putusan tersebut Tergugat dan Penggugat melalui kuasanya masing-masing berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 19 Juni 2015 dan tanggal 15 Juni 2015 mengajukan permohonan kasasi masing-masing pada tanggal 23 Juni 15 dan tanggal 24 Juni 2015 sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor 02/Pdt.Sus-HKI/2015/PN.Niaga.Smg. jo Nomor 01/Pdt.Sus-
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 14 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
HKI/K/2015/PN.Niaga.Smg. dan Nomor 02/Pdt.Sus-HKI/2015/ PN.Niaga.Smg.
jo Nomor 03/Pdt.Sus-HKI/K/2015/PN.Niaga.Smg. yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri/Niaga Semarang, permohonan tersebut disertai dengan memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri/Niaga Semarang tersebut masing-masing pada tanggal 6 Juli 2015 dan tanggal 7 Juli 2015;
Bahwa memori kasasi telah disampaikan kepada Termohon Kasasi I yang juga Pemohon Kasasi II dan Pemohon Kasasi I yang juga Termohon Kasasi II masing-masing pada tanggal 7 Juli 2015 dan tanggal 13 Juli 2015, kemudian Termohon Kasasi I yang juga Pemohon Kasasi II dan Termohon Kasasi II yang juga Pemohon Kasasi I mengajukan kontra memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri/Niaga Semarang masing-masing pada tanggal 22 Juli 2015 dan tanggal 27 Juli 2015;
Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta keberatan- keberatannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, sehingga permohonan kasasi tersebut secara formal dapat diterima;
Menimbang, bahwa keberatan-keberatan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi I/Tergugat dan Pemohon Kasasi II/Penggugat dalam memori kasasinya adalah:
Alasan kasasi dari Pemohon Kasasi I/Tergugat;
A. Dalam Eksepsi;
Bahwa di dalam jawaban, Pemohon Kasasi telah menyampaikan eksepsi tentang kompetensi absolut, eksepsi persona standi in judicio, eksepsi peremtoria dan eksepsi error in persona. Terhadap eksepsi kompetensi absolut telah dijatuhkan putusan sela yang pada pokoknya menyatakan menolak eksepsi kompetensi absolut tersebut. Terhadap eksepsi yang lain ditolak dengan alasan akan dipertimbangkan dalam pokok perkara. Namun kenyataannya di dalam pokok perkara pertimbangan terhadap eksepsi- eksepsi tersebut bertentangan atau salah menarapkan hukum dan beberapa pertimbangannya sangat tidak memadai, bahkan eksepsi error in persona sama sekali tidak dipertimbangkan. Untuk lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut:
1. Ekespsi persona standi in judicio;
Pemohon Kasasi dalam jawaban telah menyampaikan eksepsi persona standi in judicio atas dasar bahwa Termohon Kasasi sebagai penerima
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 15 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
lisensi tidak memiliki hak untuk mengajukan gugatan berdasarkan 4 (empat) alasan, yaitu:
- Termohon Kasasi sebagai penerima lisensi hanya memiliki hak untuk memperbanyak dan atau mengumumkan ciptaan. Hal ini Sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 14 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (undang-undang yang berlaku pada bulan Juni-Juli tahun 2014), dimana secara tegas disebutkan bahwa lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemegang hak cipta atau pemegang hak terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak ciptaannya atau produk hak terkaitnya dengan persyaratan tertentu. Dengan mengacu kepada definisi tersebut maka penerima lisensi hanya berhak untuk memperbanyak dan atau mengumumkan suatu ciptaan.
Bahwa hak untuk mengajukan gugatan atas adanya pelanggaran hak cipta ada pada pencipta atau ahli warisnya (vide Pasal 55 Undang Undang Nomor 19 Tahun 2002) dan Pemegang Hak Cipta (vide Pasal 56 Undang Undang Nomor 19 Tahun 2002). Dengan demikian jelaslah bahwa pemegang lisensi bukan pihak yang berhak mengajukan gugatan;
- Termohon Kasasi dalam kapasitasnya sebagai penerima lisensi siaran piala dunia Brasil 2014 tidak berhak mengajukan gugatan karena Termohon Kasasi bukan lembaga penyiaran. Objek perjanjian lisensi antara Termohon Kasasi dengan FIFA adalah siaran piala dunia Brasil 2014. Sesuai dengan ketentuan Pasal 49 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 yang berbunyi sebagai berikut:
"Lembaga penyiaran memiliki hak ekslusif untuk memberikan ijin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat, memperbanyak, dan/atau menyiarkan ulang karya siarannya melalui transmisi dengan atau tanpa kabel, atau melalui sistem elektromagnetik lain", maka seharunya yang berhak mengajukan gugatan adalah lembaga penyiaran, bukan Termohon Kasasi;
- Perjanjian Lisensi belum dicatatkan di Dirjen HKI, sebagaimana terbukti berdasarkan bukti T-6, yaitu Surat Dirjen HKI Kementerian Hukum dan HAM RI Nomor: HKl.2-HI.01.06-06 tanggal 7 April 2015, yang secara tegas menerangkan bahwa pencatatan licence agreement antara Pengugat dengan FIFA (bukti P.4) belum dapat
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 16 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
dilaksanakan. Sesuai dengan ketentuan Pasal 47 ayat (2) Undang Undang Nomor 19 Tahun 2012, perjanjian lisensi tersebut hanya mengikat bagi pemberi lisensi dan penerima lisensi dan tidak dapat membawa atau menimbulkan akibat hukum bagi pihak ketiga.
Dengan demikian Termohon Kasasi sebagai penerima lisensi tidak berhak mengajukan gugatan kepada pihak ketiga karena perjanjian lisensinya belum tercatat sehingga tidak mempunyai akibat hukum bagi pihak ketiga;
- Termohon Kasasi belum membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebagai salah satu syarat keabsahan pencatatan perjanjian Iisensi;
Bahwa salah satu syarat agar pencatatan perjanjian lisensi dapat diterima di Dirjen HKI adalah bahwa pemohon pencatatan harus membayar PNBP. Hal ini juga diterangkan oleh Saksi Ahli Budi Agus Riswandi yang menyatakan bahwa untuk melakukan pencatatan pemohon harus membayar PNBP (putusan halman 82). Hal yang sama juga dinyatakan oleh Saksi Ahli Lapon Tukan Leonard yang menerangkan bahwa pemohon wajib untuk membayar PNBP (putusan halaman 71);
In casu Termohon Kasasi belum pemah membayar PNBP hal ini terbukti dengan tidak adanya bukti dari Termohon Kasasi terkait dengan penyetoran PNBP. Dengan tidak adanya pembayaran PNBP oleh Termohon Kasasi maka hal ini cukup untuk membuktikan bahwa perjanjian Iisensi (bukti P.4 jo. P.19) belum tercatat di Dirjen HKI sebagaimana diamanatkan oleh undang undang. Oleh karena belum tercatat maka perjanjian lisensi a quo tidak mempunyai akibat hukum bagi pihak ketiga sehingga Termohon Kasasi sebagai Penerima Lisensi tidak memiliki kapasitas hukum (legal standing) untuk mengajukan tuntutan hukum bagi pihak ketiga termasuk Pemohon Kasasi;
Mengacu kepada dalil-dalil eksepsi di atas, maka seharusnya Judex Facti mempertimbangkan apakah benar yang berhak mengajukan gugatan atas pelanggaran hak cipta hanya pencipta/ahli waris dan pemegang hak cipta saja sebagaimana diatur dalarn Pasal 55 dan Pasal 56 Undang Undang Nomor 19 tahun 2002. Kemudian Judex Facti seharusnya juga mempertimbangkan apakah objek perjanjian lisensi antara Termohon Kasasi dengan FIFA adalah siaran piala dunia Brasil
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 17 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
2014, dan jika benar objek perjanjian lisensi adalah siaran piala dunia maka harus dipertimbangkan pula apakah Termohon Kasasi adalah lembaga penyiaran yang berhak mengajukan gugatan sebagaimana diatur dalam Pasal 49 ayat (3) Undang Undang Nomor 19 Tahun 2002;
Namun eksepsi persona standi in judicio tersebut di atas tidak dipertimbangkan dengan benar oleh Judex Facti. Bahkan pertimbangan Judex Facti terkait dengan eksepsi tersebut sangat berbeda dan tidak memiliki relevansi dengan dalil-dalil eksepsi Pemohon Kasasi . Dalam pertimbangannya Judex Facti menyatakan Termohon Kasasi memiliki legal standing in judicio dengan alasan sebagai berikut (pertimbangan hukum halarnan 80 s/d 81):
- Bahwa berdasarkan perjanjian lisensi (P-4 dan P-19) dalam poin 21.8 disebutkan:
Penerima lisensi mengakui dan sepakat bahwa hak yang dilimpahkan dalam hal ini adalah subjek kepada semua hukum dan regulasi yang berlaku, sebagaimana tanggal yang dicantumkan disini dan yang mungkin kemudian diamandemenkan atau diberlakukan kembali hingga kepada cakupan yang berlaku;
- Bahwa Tergugat tidak mengakui Penggugat memiliki hak gugat karena dalam perjanjian lisensi yang mereka buat (bukti P-4 dan terjemahannya P-19) Penggugat selaku penerima lisensi hanya diberikan hak-hak media tanpa pemberian hak gugat;
- Bahwa bahkan dalam halaman 2 poin 13 perjanjian lisensi (bukti P- 19) secara tegas disebutkan "setiap dan semua hak-hak dan lisensi yang tidak secara tegas diberikan kepada penerima lisensi dalam perjanjian ini (termasuk: hak-hak yang dikecualikan) dengan ini dicadangkan untuk FIFA untuk digunakan sendiri secara luas tanpa batasan;
- Bahwa menurut penilaian Majelis Hakim, Tergugat tidak tepat memaknai ketentuan poin 13 perjanjian lisensi tersebut semestinya kata-kata (. .... termasuk hak-hak yang dikecualikan) dengan ini dicadangkan untuk FIFA untuk digunakan FIFA sendiri artinya tidak semua konten yang berisi beberapa program dari kegiatan diberikan sepenuhnya diberikan kepada pemegang lisensi akan tetapi ada beberapa yang dikecualikan untuk dicadangkan bagi kepentingan FIFA sendiri;
- Bahwa pertimbangan Judex Facti tersebut di atas yang dijadikan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 18 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
alasan untuk menyatakan Termohon Kasasi memiliki legal standing in judicio nyata-nyata bertentangan atau melanggar ketentuan Pasal 49 ayat 3, Pasal 55 dan Pasal 56 Undang Undang Nomor 19 Tahun 2002. Selain itu pertimbangan Judex Facti tersebut juga tidak relevan dan redaksional pertimbangan sebagaimana tersebut di atas juga sangat tidak jelas sehingga sulit untuk dimengerti maksudnya karena penggunaan tata bahasa yang tidak benar bahkan terkesan pertimbangan Judex Facti tersebut asal-asalan.
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas maka pertimbangan Judex Facti a quo tidak layak untuk dipertahankan dan harus dibatalkan.
Untuk itu kami mohon kepada Majelis Hakim Agung yang memeriksa perkara ini untuk mempertimbangkan kembali eksepsi persona standi in judicio tersebut dengan memperhatikan:
- Pasal 55 dan Pasal 56 Undang Undang Nomor 19 Tahun 2002 yang pada pokoknya menyatakan bahwa yang berhak mengajukan gugatan pelanggaran hak cipta adalah pencipta atau ahli warisnya dan pemgenag hak cipta;
- Pasal 49 ayat (3) Undang Undang Nomor 19 Tahun 2002, yang menyatakan bahwa yang memiliki hak eksklusif dan yang berhak melakukan pelarangan atas penayangan sebuah siaran adalah lembaga penyiaran. In casu, karena objek peIjanjian lisensi adalah siaran piala dunia Brasil 2014 (FIFA World Cup Brasil 2014), maka seharusnya yang berhak mengajukan gugatan adalah lembaga penyiaran, bukan Termohon Kasasi;
2. Eksepsi gugatan prematur (peremtoria);
Bahwa dalam jawaban Pemohon Kasasi telah menyampaikan eksepsi gugatan prematur (peremtoria) dengan alasan bahwa gugatan perbuatan melawan hukum yang disertai dengan tuntutan ganti rugi hanya dapat diajukan apabila perbuatan melawan hukumnya telah terbukti dengan adanya putusan pidana. Artinya bahwa gugatan ganti kerugian terkait dengan hak kekayaan intelektual (hak cipta) hanya akan dikabulkan apabila kesalahan Tergugat telah terbukti dengan adanya putusan pidana yang menyatakan Tergugat tersebut bersalah melakukan tindak pidana di bidang hak cipta;
Namun apabila belum atau tidak ada putusan pidana tersebut, maka gugatan perbuatan melawan hukum dan tuntutan ganti rugi tersebut haruslah ditolak oleh Pengadilan Niaga;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 19 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
Bahwa terhadap eksepsi tersebut Judex Facti menyatakan eksepsi gugatan prematur ditolak karena tidak beralasan. Hal ini dapat dilihat dalam halaman 91 paragraf pertama putusan Judex Facti, yang membuat kesimpulan berbunyi sebagai berikut:
"Menimbang, bahwa pertimbangan tersebut di atas sekaligus dapat mematahkan eksepsi Tergugat mengenai gugatan prematur: bahwa tuntutan ganti rugi pelanggaran hak cipta tidak harus dibuktikan terlebih dulu perbuatan pidananya";
Akan tetapi nyatanya kesimpulan tersebut di atas tidak didahului dengan pertimbangan apapun sebelumnya. Karena setelah dicermati ternyata tidak ada satupun pertimbangan dari Majelis Hakim yang membahas mengenai eksepsi gugatan prematur;
Pertimbangan-pertimbangan sebelumnya (halaman 81- 90) adalah pertimbangan terkait dengan keabsahan perjanjian lisensi, sublisensi, sosialisasi perjanjian lisensi, kordinator pengawasan/penindakan, dan mengenai perbuatan melawan hukum pelanggaran hak cipta.
Kesimpulan Judex Facti sebagaimana dikutip di atas, serta merta muncul tanpa adanya pertimbangan apapun. Sehingga dengan demikian putusan Judex Facti yang menolak eksepsi gugatan prematur, tanpa adanya pertimbangan apapun adalah putusan yang tidak memuat dasar dan alasan. Putusan demikian merupakan pelanggaran terhadap Pasal 50 ayat (1) Undang Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang mensyaratkan setiap putusan harus dilandasi dengan dasar hukum dan alasan. Sehingga berdasarkan hal ini cukup alasan bagi Mahkamah Agung untuk membatalkan putusan Judex Facti;
Bahwa melalui memori kasasi ini kami mohon kepada Mahkamah Agung agar memeriksa kembali dan mengadili sendiri terkait dengan eksepsi gugatan prematur ini;
Di dalam jawaban dan duplik sudah secara tegas Pemohon Kasasi sampaikan bahwa Undang Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta secara implisit menyatakan bahwa setiap pelanggaran hak cipta dikualifikasi sebagai tindak pidana hak cipta. Hal ini diatur dalam Pasal 72 ayat (1) s/d ayat (9). In casu Termohon Kasasi telah mendalilkan bahwa Pemohon Kasasi telah menyiarkan siaran piala dunai Brasil 2014 tanpa ijin Termohon Kasasi . Sehingga semestinya Termohon Kasasi terlebih dahulu harus melakukan atau membuat
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 20 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
laporan kepada kepolisian atas dugaan terjadinya tindak pidana hak cipta sebagaimana diatur Pasal 72 ayat (2) Undang Undang Nomor 19 Tahun 2002. Hal ini mutlak harus dilakukan guna membuktikan adanya sebuah perbuatan pelanggaran hak cipta. Karena putusan pengadilan dalam perkara pidanaIah satu-satunya alat bukti untuk membuktikan adanya tindak pidana. Sehingga dalam perkara ini harus dibuktikan terlebih dahulu adanya perbuatan pidana berupa pelanggaaran hak cipta yang dilakukan oleh Pemohon Kasasi. Tanpa adanya putusan pidana maka gugatan pelanggaran hak cipta yang diajukan oleh Termohon Kasasi adalah gugatan yang prematur dan tidak berdasar hukum. Hal ini juga secara tegas telah diatur dalam Pasal 1918 KUHPerdata yang pada pokoknya menyatakan bahwa suatu putusan pidana yang menyatakan seseorang bersalah diterima sebagai bukti dalam perkara perdata guna membuktikan adanya perbuatan yang telah dilakukan. Apabila dimaknai secara a contraria, maka apabila putusan pidana tentang pelanggaran hak cipta belum ada maka gugatan pelanggaran hak cipta tidak dapat dikabulkan mengingat perbuatan pelanggaran hak cipta belum terbukti;
Oleh karena itu pertimbangan-pertimbangan Judex Facti yang menyatakan ada acara nonton bareng final Piala Duma Brasil 2014 di hotel Termobon Kasasi cukup membuktikan adanya pelanggaran hak cipta, adalah pertimbangan yang tidak dapat dibenarkan. Karena adanya perbuatan pelanggaran hak cipta harus benar-benar dibuktikan secara meteriil dan hal tersebut hanya dapat dibuktikan melalui putusan pidana;
3. Eksepsi error in persona;
Bahwa Pemohon Kasasi di dalam jawaban dan duplik telah menyampaikan eksepsi error in persona. Eksepsi ini diajukan atas alasan bahwa di dalam surat gugatan Penggugat/Termohon Kasasi secara jelas menyebutkan subjek Tergugat adalah PT. Metro Hotel Internasional Semarang. Adapun nama badan hukum Pemohon Kasasi (Tergugat) adalah PT. Metro Hotel International bukan PT. Metro Hotel Internasional Semarang;
Bahwa eksepsi Pemohon Kasasi tersebut tidak pernah dipertimbangkan oleh Judex Facti.Tidak ada satu kalimatpun dalam putusan Judex Facti yang membahas mengenai eksepsi tersebut. Sehingga menjadi sangat aneh putusan Judex Facti yang menyatakan eksepsi Pemohon Kasasi
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 21 dari 42 hal Put. Nomor 518 K/Pdt.Sus-HKI/2015
ditolak seluruhnya, padahal eksepsi error in persona tidak atau belum pemah dipertimbangkan;
Putusan Judex Facti tersebut termasuk dalam kategori putusan yang tidak cukup pertimbangan (onvoldoende gemotiveerd) dan tidak tertib dan menjalankan hukum acara. Hal ini cukup untuk membuktikan bahwa tidak ada alasan untuk mempertahankan putusan Judex Facti tersebut.
Karenanya Mahkamah Agung sebagai lembaga peradilan tertinggi berkewajiban untuk melakukan koreksi dengan membatalkan putusan Judex Facti tersebut. Hal ini sejalan dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor 672 K/Sip/1972 tanggal 18 Oktober 1972 yang menyatakan putusan yang kurang cukup pertimbangan dan terdapat ketidaktertiban beracara harus dibatalkan;
Untuk itu kiranya Majelis Hakim Agung yang memeriksa perkara ini berkenan untuk mengabulkan eksepsi error in persona dengan alasan bahwa Termohon Kasasi telah salah dalam menentukan pihak yang dijadikan sebagai Tergugat. Selain itu, perbedaan penulisan nama pihak yang dijadikan sebagai Tergugat tentu saja akan membawa akibat hukum yang rumit sebab nantinya putusan dalam perkara tidak akan dapat dilaksanakan (non executable). Seandainya putusan ini dipertahankan, maka yang dihukum untuk membayar ganti rugi adalah PT. Metro Hotel Internasional Semarang dan tentu saja Pemohon Kasasi tidak akan mau melakukan pembayaran ganti rugi tersebut karena yang dihukum untuk membayar bukan PT. Metro Hotel International (Pemohon Kasasi ), yang dihukum membayar ganti rugi adalah perseroan lain yang bernama PT.
Metro Hotel Internasional Semarang;
Berdasarkan seluruh penjelasan tersebut di atas maka terbukti dan tidak dapat dibantah bahwa eksepsi-eksepsi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi sangat beralasan dan berdasar hukum. Oleh karena itu Pemohon Kasasi mohon agar Mahkamah Agung menyatakan agar eksepsi Pemohon Kasasi dapat diterima dan karenanya gugatan Termohon Kasasi (dahulu Penggugat) dinyatakan tidak dapat diterima;
B. Dalam Pokok Perkara;
Pemohon Kasasi mohon agar alasan-alasan kasasi yang telah dikemukakan pada bagian eksepsi secara mutatis mutandis dianggap disampaikan kembali daIam bagian pokok perkara sehingga menjadi satu-kesatuan dengan alasan-alasan kasasi yang disampaikan dalam pokok perkara di bawah ini;
1. Pertimbangan Judex Facti terkait keabsahan perjanjian lisensi (bukti P-4
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 21