3. METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini ditujukan untuk menguji pengaruh perceived benefit, perceived sacrifice, dan free mentality terhadap attitude toward paying para pengguna aplikasi musik Joox Reguler di Indonesia serta kemudian menguji pengaruh attitude toward paying bersama-sama dengan subjective norm dan perceived behavioral control pada customer willingness to pay para pengguna aplikasi musik Joox Reguler di Indonesia. Maka dari itu, jenis penelitian yang dipakai adalah jenis penelitian kuantitatif, karena metode penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya.
Selain itu, metode penelitian kuantitatif dapat digunakan untuk mengukur dan melihat hubungan antara dua atau lebih variabel (Sugiyono 2014:9). Jenis penelitian kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif survei, dimana menggunakan metode mengumpulkan informasi-informasi yang dibutuhkan dari beberapa sampel berupa orang melalui pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk angket atau kuesioner.
3.2 Gambaran Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 3.2.1 Populasi
Menurut Sugiyono (2014:18), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas, obyek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi dalam penelitian ini adalah para pengguna aplikasi musik Joox Reguler di seluruh Indonesia.
3.2.2 Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang terdiri dari beberapa anggota populasi yang kemudian dibentuk menjadi sebuah perwakilan populasi (Ferdinand, 2014 : 171). Penelitian ini menggunakan metode penghitungan jumlah populasi yang tidak diketahui. Hal ini disebabkan karena tidak adanya data yang valid mengenai jumlah pengguna aplikasi musik Joox di Indonesia. Selain itu, jumlah
pengguna aplikasi musik Joox di Indonesia yang terus bertambah setiap harinya.
Penghitungan jumlah sampel dengan populasi tidak diketahui dalam penelitian ini menggunakan rumus Lemeshow (Lemeshow, Hosmer, Klar, & Lwanga, 1990) sebagai berikut:
n =Z1−∝/2
2 P(1−P)
d2 (3.1)
Keterangan:
n = Jumlah sampel minimal yang dibutuhkan
Z1-α = skor Z1-α pada tingkat kepercayaan 95% adalah 1,96
p = Prevalensi outcome, karena belum ditemukan data, maka memakai p sebesar 0,5 atau 50%
d = toleransi kesalahan, sebesar 5% atau 0,05
Berdasarkan keterangan diatas, didapatkan jumlah sampel minimal yang dibutuhkan sebagai berikut:
n = (1,96)2×0.5×0.5
0,052 = 384,16
Dari hasil penghitungan jumlah populasi diatas, dapat dilihat bahwa sampel minimal yang harus digunakan adalah sebanyak 384,16 sampel yang kemudian dibulatkan menjadi 385 sampel atau responden. Dengan demikian, penelitian ini menggunakan jumlah sampel minimal sebanyak 385 responden para pengguna aplikasi musik Joox Reguler di Indonesia. Setelah dilakukan penyebaran angket, didapatkan sampel dalam penelitian ini sebanyak 394 responden para pengguna aplikasi musik Joox Reguler di Indonesia.
3.2.3 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik yang digunakan untuk mengambil sampel pada penelitian ini adalah menggunakan cara nonprobability sampling. Menurut Ferdinand (2014 : 176), nonprobability sampling merupakan elemen populasi yang dipilih berdasarkan kemauan dari responden itu sendiri atau karena adanya pertimbangan dari peneliti bahwa para responden itu dapat mewakili populasi. Hal ini sesuai dengan sampel penelitian ini yang mendeskripsikan suatu kelompok khusus yaitu para pengguna aplikasi musik Joox Reguler sehingga tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Menurut Ferdinand (2014 : 179), metode purposive sampling
merupakan metode dimana peneliti telah memilih anggota populasi berdasarkan penilaian sesuai dengan syarat tertentu. Pada penelitian ini, peneliti membatasi usia dari responden yaitu mulai dari usia 17 tahun keatas. Hal ini disebabkan karena responden yang sudah menginjak usia 17 tahun diasumsikan sudah mampu berpikir secara rasional sehingga memungkinkan mereka untuk mengambil keputusan dengan baik.
3.3 Jenis Data dan Sumber Data 3.3.1 Data Primer
Menurut Sanusi (2014), data primer merupakan sumber data yang pertama kali dicatat dan dikumpulkan secara langsung oleh peneliti tersebut. Sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh dari penyebaran angket kepada 385 orang yang menggunakan aplikasi musik Joox Reguler di seluruh Indonesia. Angket yang disebarkan disusun berdasarkan setiap variabel penelitian dan diberikan alternatif jawaban untuk responden. Hasil jawaban dari responden ini yang kemudian menjadi data primer dalam penelitian ini
3.3.2 Data Sekunder
Menurut Sugiyono (2014), data sekunder adalah sumber data penelitian yang didapatkan oleh peneliti melalui pihak ketiga atau media perantara secara tidak langsung. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data-data yang didapatkan melalui sumber-sumber yang telah ada, seperti, literatur, artikel, jurnal, dan buku serta situs-situs internet yang berkaitan dengan topik penelitian yang dilakukan.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan metode pengumpulan data angket atau kuesioner melalui Google Form dengan cara menyebarkan angket tersebut kepada 385 orang yang menggunakan aplikasi musik Joox Reguler di seluruh Indonesia. Angket ini akan disebar dengan link dari Google Form melalui media sosial Line, WhatsApp (WA), dan Instagram. Jenis kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Kuesioner tertutup merupakan kuesioner yang sudah disediakan pilihan jawabannya sehingga dapat dipilih oleh responden. Pertanyaan atau pernyataan tertulis ini disusun berdasarkan
indikator dari masing-masing variabel. Dalam penelitian ini, responden akan difokuskan untuk menilai Joox VIP dari pandangan responden yang merupakan pengguna Joox Reguler. Selain itu, juga melihat kesediaan responden dalam berlangganan Joox VIP.
Skala pengukuran yang digunakan pada penelitian ini adalah skala likert yang memiliki lima tingkat penilaian, yang bertujuan untuk mengukur setiap indikator dari variabel dalam suatu penelitian (Sugiyono, 2014). Lima skala tersebut adalah :
1 : Sangat Tidak Setuju (STS) 2 : Tidak Setuju (TS)
3 : Netral (N) 4 : Setuju (S)
5 : Sangat Setuju (SS)
3.5 Definisi Operasional Variabel
Sugiyono (2014:59) memaparkan pengertian dari variabel penelitian adalah sebuah atribut atau nilai dari orang dan obyek yang memiliki karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh para peneliti untuk dipelajari dan diambil kesimpulannya.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi tiga variabel, yaitu variabel eksogen, variabel endogen, dan variabel intervening.
3.5.1 Variabel Eksogen (Bebas)
Menurut Sugiyono (2014), variabel bebas atau independen merupakan variabel yang mempengaruhi variabel terikat atau dependen. Variabel bebas ini yang memicu munculnya variabel terikat atau dependen. Dalam SEM, variabel bebas disebut sebagai variabel eksogen. Variabel eksogen dalam penelitian ini adalah perceived benefit, perceived sacrifice, free mentality, subjective norm dan perceived behavioral control.
1. Perceived Benefit
Perceived benefit pada penelitian ini mengacu pada definisi dari Al-Debei et al. (2015). Sehingga definisi operasional perceived benefit dalam penelitian ini adalah persepsi pengguna Joox Reguler mengenai keuntungan dari berlangganan Joox VIP sehingga dapat memenuhi kebutuhan atau keinginan mereka. Indikator
dari perceived benefit dalam penelitian ini mengacu pada item pernyataan kuesioner yang dinyatakan dalam penelitian Lin et al. (2013). Maka dari itu, indikator perceived benefit dalam penelitian ini adalah:
1. Keterjangkauan harga yang ditawarkan aplikasi music streaming
Indikator ini mengacu pada sejauh mana persepsi pengguna Joox Reguler tentang biaya berlangganan Joox VIP setiap bulannya. Para pengguna Joox Reguler dapat menemukan jumlah biaya berlangganan yang harus dibayarkan pada aplikasi musik Joox.
2. Kenyamanan dan kecepatan aplikasi music streaming
Indikator ini mengacu pada sejauh mana persepsi pengguna Joox Reguler tentang kenyamanan dan kecepatan dari Joox VIP. Kenyamanan yang dimaksud meliputi kemudahan dalam menggunakan Joox VIP dan kemudahan dalam mengoperasikan tampilan antar muka dari Joox VIP.
Sedangkan kecepatan yang dimaksud adalah kecepatan yang diberikan Joox VIP dalam mengakses musik yang dibutuhkan.
3. Ketersediaan jenis musik
Indikator ini mengacu pada sejauh mana persepsi pengguna Joox Reguler tentang ketersediaan jenis musik yang ada di Joox VIP ketika berlangganan. Ketersediaan yang dimaksud adalah sejauh mana Joox VIP memiliki banyak varian dan jenis musik yang disediakan sehingga dapat memenuhi kebutuhan pengguna.
4. Fitur tambahan dari aplikasi music streaming
Indikator ini mengacu pada sejauh mana persepsi pengguna Joox Reguler mengetahui tentang fitur-fitur tambahan yang diperoleh dari Joox VIP ketika berlangganan. Joox VIP sendiri memberikan fitur-fitur tambahan dan khusus bagi pengguna yang memutuskan untuk berlangganan. Fitur- fitur tambahan tersebut adalah bebas iklan, dapat memainkan musik kapanpun dan dimanapun, dapat mengunduh musik secara tidak terbatas, dan kualitas suara musik yang lebih bagus.
2. Perceived Sacrifice
Perceived sacrifice dalam penelitian ini mengacu pada definisi dari Huang (2010). Sehingga definisi operasional perceived sacrifice dalam penelitian ini
adalah persepsi pengguna Joox Reguler mengenai harga moneter dan harga non moneter yang rela dikorbankan ketika berlangganan Joox VIP. Indikator perceived sacrifice dalam penelitian ini mengacu pada item pernyataan kuesioner yang dinyatakan oleh Lin et al. (2013). Maka dari itu, indikator dari perceived sacrifice dalam penelitian ini adalah:
1. Besarnya biaya berlangganan aplikasi music streaming setiap bulan
Indikator ini mengacu pada persepsi pengguna Joox Reguler tentang biaya berlangganan yang meliputi murah atau mahalnya biaya berlangganan setiap bulan dan kesesuaian antara biaya berlangganan dengan layanan yang diberikan oleh Joox VIP. Selain itu, indikator ini juga digunakan untuk melihat pandangan seorang individu tentang sejauh mana besar dari biaya berlangganan ini memberatkan individu tersebut.
2. Keterandalan aplikasi music streaming
Indikator ini untuk mengukur persepsi pengguna Joox Reguler mengenai sejauh mana Joox VIP dapat diandalkan ketika digunakan secara terus-menerus.
3. Resiko yang akan muncul dari aplikasi music streaming
Indikator ini mengacu pada persepsi pengguna Joox Reguler tentang resiko-resiko yang mungkin dapat terjadi jika berlangganan Joox VIP.
Resiko-resiko yang dapat terjadi seperti kebocoran informasi pribadi yang dapat disalahgunakan dan kegagalan dalam mengunduh musik-musik yang dibutuhkan dan diinginkan.
3. Free Mentality
Free mentality dalam penelitian ini mengacu pada definisi dari Yan dan Wakefield (2018). Sehingga definisi operasional free mentality dalam penelitian ini adalah sebuah kepercayaan dari pengguna Joox Reguler bahwa musik-musik dan layanan-layanan tambahan pada Joox VIP sudah seharusnya gratis. Indikator free mentality dalam penelitian ini mengacu pada item pernyataan kuesioner yang digunakan oleh Dou (2004). Maka dari itu, indikator free mentality pada penelitian ini adalah:
1. Tingkat keyakinan individu tentang layanan aplikasi music streaming berbayar yang seharusnya gratis
Indikator ini digunakan untuk mengukur apakah pengguna Joox Reguler memiliki keyakinan tentang seluruh layanan yang ada di Joox VIP yang seharusnya dapat diakses dengan gratis pada Joox Reguler. Jika pengguna memiliki tingkat keyakinan yang tinggi akan hal diatas, maka tingkat free mentality pengguna tersebut juga tinggi.
2. Tingkat keyakinan individu bahwa para pengiklan (advertisers) yang seharusnya membayar layanan aplikasi music streaming berbayar
Indikator ini digunakan untuk mengukur keyakinan pengguna Joox Reguler bahwa mereka tidak perlu berlangganan Joox VIP, karena sudah terdapat para pengiklan yang memasang iklan mereka pada aplikasi Joox.
Jika pengguna memiliki tingkat keyakinan yang tinggi akan hal diatas, maka pengguna tersebut memiliki tingkat free mentality yang tinggi.
4. Subjective Norm
Definisi subjective norm dalam penelitian ini mengacu pada definisi yang dipaparkan oleh Ajzen (1991) dan Javadi et al. (2012). Sehingga definisi operasional subjective norm dalam penelitian ini adalah tekanan dan pengaruh sosial yang dirasakan oleh pengguna Joox Reguler, dimana tekanan dan pengaruh sosial tersebut diberikan oleh orang-orang penting atau kelompok-kelompok lain disekitar mereka untuk berlangganan Joox VIP. Indikator subjective norm dalam penelitian ini adalah:
1. Tekanan yang dirasakan dari anggota keluarga untuk berlangganan aplikasi music streaming
Indikator ini untuk mengukur seberapa besar pandangan yang diberikan oleh anggota keluarga tentang berlangganan Joox VIP yang dirasakan oleh pengguna Joox Reguler.
2. Tekanan yang dirasakan dari orang-orang penting untuk berlangganan aplikasi music streaming
Indikator ini untuk mengukur seberapa besar pandangan yang diberikan oleh orang-orang penting seperti teman dan kolega tentang berlangganan Joox VIP yang dirasakan oleh pengguna Joox Reguler.
3. Pengaruh yang diberikan oleh pihak eksternal untuk berlangganan aplikasi music streaming
Indikator ini untuk mengukur seberapa besar pengaruh yang diberikan dari pihak-pihak eksternal seperti iklan di TV dan media sosial yang sering diakses oleh pengguna Joox Reguler untuk berlangganan Joox VIP. Selain itu, pengaruh yang diberikan juga bisa berupa iklan dalam bentuk tawaran yang diberikan oleh aplikasi musik Joox sendiri ketika pengguna Joox Reguler mengakses aplikasi musik Joox.
5. Perceived Behavioral Control
Definisi perceived behavioral control pada penelitian ini mengacu pada definisi Fishbein dan Ajzen (2010). Sehingga definisi operasional perceived behavioral control pada penelitian ini adalah persepsi yang dimiliki pengguna Joox Reguler tentang sejauh mana mereka memiliki kemampuan dan kontrol untuk berlangganan Joox VIP. Indikator perceived behavioral control dalam penelitian ini mengacu pada item pernyataan kuesioner yang dipaparkan oleh Shin dan Hancer (2016). Maka dari itu, indikator perceived behavioral control dalam penelitian ini adalah:
1. Tingkat keyakinan pengguna untuk melakukan suatu perilaku
Indikator ini digunakan untuk mengukur seberapa besar keyakinan yang dimiliki pengguna Joox Reguler dalam memutuskan untuk berlangganan Joox VIP.
2. Tingkat kemampuan individu untuk melakukan suatu perilaku
Indikator ini digunakan untuk mengukur seberapa banyak kemampuan yang dimiliki pengguna Joox Reguler yang dapat mendukung untuk berlangganan Joox VIP. Kemampuan yang dimaksud yaitu segi keuangan yang dimiliki oleh pengguna Joox Reguler.
3. Kontrol diri individu untuk melakukan suatu perilaku
Indikator ini digunakan untuk melihat keputusan pengguna Joox Reguler untuk berlangganan Joox VIP didasarkan pada kontrol atau kendali mereka tersebut atas dirinya.
3.5.2 Variabel Endogen (Terikat)
Menurut Sugiyono (2014), variabel terikat atau variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi dan selalu terikat oleh adanya variabel bebas atau independen. Variabel ini dapat muncul karena akibat dari variabel bebas atau independen. Dalam PLS, variabel terikat disebut sebagai variabel endogen.
Variabel endogen dalam penelitian ini adalah customer willingness to pay.
1. Customer Willingness to Pay
Definisi customer willingness to pay dalam penelitian ini mengacu pada definisi oleh Wang et al. (2013). Sehingga definisi operasional customer willingness to pay pada penelitian ini adalah tingkat kesediaan pengguna Joox Reguler untuk berlangganan Joox VIP baik sekarang maupun di waktu yang akan datang. Indikator customer willingness to pay dalam penelitian ini mengacu pada item pernyataan kuesioner dari Lin et al. (2013). Maka dari itu, indikator customer willingness to pay pada penelitian ini adalah:
1. Tingkat intensi atau niat individu untuk berlangganan aplikasi music streaming
Indikator ini digunakan untuk mengukur seberapa besar tingkat niat pengguna Joox Reguler untuk berlangganan Joox VIP dikemudian hari.
2. Tingkat kesediaan individu untuk berlangganan aplikasi music streaming Indikator ini digunakan untuk mengukur seberapa besar tingkat kemauan atau kesediaan pengguna Joox Reguler untuk berlangganan Joox VIP setiap bulannya.
3.5.3 Variabel Intervening
Variabel intervening dalam penelitian ini adalah variabel attitude toward paying.
1. Attitude toward Paying
Definisi attitude toward paying dalam mengacu pada definisi dari Ajzen (1991). Sehingga definisi operasional attitude toward paying dalam penelitian ini adalah sejauh mana pengguna Joox Reguler memiliki evaluasi dan pandangan ketika akan berlangganan Joox VIP. Indikator attitude toward paying dalam
penelitian ini mengacu pada item pernyataan kuesioner dari penelitian Shin dan Hancer (2016). Indikator attitude toward paying dalam penelitian ini adalah:
1. Pandangan kegunaan dari berlangganan aplikasi music streaming
Indikator ini untuk mengukur pandangan pengguna Joox Reguler mengenai manfaat dan keuntungan yang ditawarkan oleh Joox VIP sehingga dapat berguna bagi mereka yang akan berlangganan Joox VIP.
2. Pandangan emosi terhadap berlangganan music streaming
Indikator ini untuk mengukur bagaimana pandangan emosi dari penguna Joox Reguer baik itu perasaan menyenangkan maupun tidak menyenangkan yang timbul jika berlangganan Joox VIP.
3. Pandangan kebutuhan terhadap berlangganan aplikasi music streaming Indikator ini untuk mengukur seberapa perlunya berlangganan Joox VIP sehingga dapat memenuhi kebutuhan pengguna Joox Reguler, yaitu mendengarkan musik.
3.6 Analisis Deskriptif Variabel Penelitian
Statistik deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk melihat jawaban responden dalam mengisi angket yang sudah disebarkan (Sugiyono, 2014).
Jawaban responden ini dapat dilihat dalam bentuk tabel deksripsi dari masing- masing variabel dalam penelitian ini. Jawaban para responden kemudian akan dikategorikan berdasarkan skala tingkatan, yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Menurut Sugiyono (2014), untuk menentukan nilai rentang skala dari masing-masing tingkatan, digunakan rumus sebagai berikut:
RS = m−n
b (3.2)
Keterangan :
RS : Rentang Skala
m : jumlah skor tertinggi pada skala Likert yang dipakai n : jumlah skor terendah pada skala Likert yang dipakai b : jumlah kategori
Perhitungan yang didapatkan dalam penelitian ini adalah:
RS = 5 − 1
5 = 0,8
Rentang skala yang dipakai dalam penelitian ini adalah 0,8. Dengan demikian kategori skala yang dipakai untuk mengkategori jawaban dari responden adalah sebagai berikut:
1,00 - 1,80 : Sangat Rendah 1,81 - 2,60 : Rendah
2,61 - 3,40 : Sedang 3,41 - 4,20 : Tinggi
4,20 - 5,00 : Sangat Tinggi.
3.7 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Partial Least Square (PLS). Menurut Ghozali dan Latan (2015), Partial Least Square adalah pendekatan alternatif yang bergeser dari pendekatan SEM yang berbasis kovarian dan menjadi berbasis kovarian. Tujuannya dari PLS ini adalah untuk dapat membantu para peneliti dalam mengerjakan penelitian prediksi. Data akan dianalisis menggunakan aplikasi SmartPLS 3.0 (v.
3.2.8). Teknik PLS dalam penelitian ini dilakukan dengan dua tahap, yaitu:
1. Tahap pertama adalah melakukan uji measurement model atau evaluasi outer model, yaitu digunakan untuk menguji validitas dan reliabilitas konstruk dari masing-masing indikator
2. Tahap kedua adalah melakukan uji structural model atau evaluasi inner model yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antar variabel atau korelasi antara konstruk-konstruk yang diukur dengan menggunakan uji t dari PLS itu sendiri.
3.7.1 Evaluasi Outer Model
Penelitian ini menggunakan variabel laten dengan indikator reflektif.
Indikator-indikator yang sifatnya reflektif tersebut perlu untuk diuji validitas dan reliabilitasnya. Terdapat tiga cara untuk menguji validitas dan reliabilitas indikator reflektif yaitu:
a. Uji Validitas Konvergen
Ghozali dan Latan (2015) memaparkan bahwa validitas konvergen ditentukan berdasarkan dari prinsip bahwa pengukur-pengukur suatu
konstruk sudah seharusnya berkolerasi tinggi. Uji validitas konvergen ini dievaluasi menggunakan Average Variance Extracted (AVE). Untuk mendapatkan validitas konvergen yang baik, nilai AVE yang ditunjukkan harus sama dengan 0,5 atau lebih.
b. Uji Validitas Diskriminan
Abdillah dan Hartono (2015) mengatakan bahwa uji validitas diskriminan dilakukan dengan melihat nilai dari cross loadings dari masing- masing indikator atau item pengukuran. Jika ditemukan bahwa hubungan atau korelasi antara item pengukuran dengan konstruk memiliki nilai cross loadings yang lebih besar, maka item pengukuran tersebut menunjukkan validitas diskriminan yang baik.
c. Uji Internal Consistency Reliability
Memon, Ting, Ramayah, Chuah, dan Cheah (2017) menyatakan bahwa uji internal consistency reliabilty bertujuan untuk mengukur kemampuan indikator dalam mengukur variabel latennya. Untuk menguji internal consistency reliabilty masing-masing indikator digunakan alat yang dinamakan composite reliability dan cronbach’s alpha. Nilai reliabilitas masing-masing indikator dikatakan baik jika nilai composite reliabilty nya berkisar antara 0,6 - 0,7 (Sarstedt, Ringle, & Hair, 2017) dan nilai cronbach alpha diatas 0,7 (Ghozali & Latan, 2015).
3.7.2 Evaluasi Inner Model
Menurut Sarstedt, et al. (2017), terdapat dua langkah yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi inner model suatu model penelitian. Langkah pertama yaitu dengan melakukan pengecekan apakah terdapat kolinearitas antara variabel dan kemampuan prediktif model. Kemudian langkah kedua yaitu dengan melakukan pengukuran mengenai kemampuan prediksi model dengan menggunakan empat kriteria dibawah ini:
1. Variance Inflation Factor (VIF)
Metode VIF digunakan untuk mengevaluasi apakah terdapat kolinearitas atau tidak, karena multikolinearitas sering ditemui dalam statistik. Jika nilai VIF lebih dari 10, maka itu artinya terdapat kolinearitas antar variabel.
2. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi adalah metode yang bertujuan untuk menilai besarnya variabel endogen yang dapat dijelaskan oleh variabel eksogen.
Nilai koefisien determinasi (R2) yang baik adalah antara 0 dan 1. Ghozali dan Latan (2015) memaparkan bahwa nilai R2 sebesar 0,67, 0,33, dan 0,19 berturut-turut menunjukkan bahwa model tersebut kuat, moderat, dan lemah.
3. Path Coefficients atau Koefisien Jalur
Path coefficients merupakan metode yang bertujuan untuk melihat adanya signifikansi dan kekuatan hubungan dan juga sebagai metode untuk menguji hipotesis. Biasanya nilai path coefficients berada diantara angka -1 sampai +1. Jika nilainya mendekati +1, maka hubungan antara dua variabel akan semakin kuat dan sebaliknya.
3.7.3 Uji Hipotesis
Uji Hipotesis dalam PLS menggunakan metode bootsrapping. Metode bootstapping ini bertujuan untuk menghasilkan nilai t-statistik yang digunakan pada setiap jalur hubungan untuk menguji masing-masing hipotesis. Nilai t-statistik ini kemudian akan dibandingkan dengan nilai t-tabel. Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis satu arah atau one tailed dengan tingkat kepercayaan 95% yang artinya nilai t-tabel one tailed dalam penelitian ini adalah 1,645 (Abdillah &
Hartono, 2015). Abdillah dan Hartono (2015) menyatakan bahwa jika nilai t- statistik yang dihasilkan < nilai t-tabel one tailed, 1,645 dan nilai P values > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. Sedangkan jika nilai t-statistik yang dihasilkan >
nilai t-tabel one tailed, yaitu 1,645 dan nilai P values < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima.