MERETAS KESARJANAAN HADIS DI INDONESIA
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)
Oleh:
Nurhidayah NIM: 1112034000070
PROGRAM STUDI TAFSIR-HADIS FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1437 H./2016 M.
ii
ABSTRAK
Rifqi Muhammad Fatkhi mengatakan bahwa kajian hadis di Indonesia itu berkembang, berbeda dengan Azyumardi Azra yang mengatakan bahwa kajian hadis di Indonesia sudah mati, skripsi ini mendukung pendapat Rifqi Muhammad Fatkhi bahwa kajian hadis di Indonesia itu masih berkembang temuan tersebut diperoleh dari hasil penelitian skripsi dari 85 skripsi mahasiswa UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta.
Dalam penelitian ini karena saya ingin mengetahui seua isi skripsi mahasiswa dalam perkembangan kajian hadis saat ini, maka jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenispenelitian yang bersifat naskah mendapatkan penyajian data secara terstruktur memberikan gambaran, mendeskripsikan karakteristik pesan yang ada dalam ranah ranah publik dengan perantara teks disampaikan dalam bentuk lambang dan dituangkan dalam bentuk data-data.
Skripsi ini menunjukkan bahwa kajian hadis di Indonesia pada saat ini masih berkembang, dilihat dari skripsi mahasiswa Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta rentan waktu 2011-2015 antara 37% dari 60 skripsi pada UIN Yogyakarta, dan 48% dari 25 skripsi pada mahasiswa UIN Jakarta.
iii
Kata Pengantar
Alhamdulillah, Puji dan Syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah Swt.
Yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan judul “Meretas Sarjana Hadis di Indonesia”.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw.
juga kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Saya menyadari tentunya skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Hal tersebut adalah bukti keterbatasan saya dalam melakukan penelitian ini, penelitian ini pun tak luput dari keterlibatan beberapa pihak yang memberikan kontribusi dalam penyusunan penelitian ini, baik berupa motivasi, bantuan fikiran, material dan moral serta spiritual. Untuk itu, saya ucapkan terimakasih sedalam- dalamnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Prof. Dr. Masri Mansoer, MA selaku Dekan Fakultas Ushuluddin.
3. Ibu Dr. Lilik Umi Kalsum, MA. Selaku Ketua Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dan Ibu Dra. Banun Binaningrum M. Pd selaku Sekretaris Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
4. Rifqi Muhammad Fatkhi, M.A. selaku dosen pembimbing penulis yang telah banyak membantu, membimbing dan mengarahkan skripsi ini.
5. Para Dosen Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, terima kasih atas ilmu yang diajarkan selama perkuliahan yang saya jalani.
iv
6. Staff perpustakaan utama, perpustakaan fakultas, perpustakaan utama UIN Yogyakarta, dan perpustakaan Iman Jama, selaku penyedia referensi- referensi yang penulis butuhkan.
7. Orangtua penulis tercinta, kakak, ponakan seluruh keluarga penulis, terima kasih atas dukungan dan nasehat kalian dalam menyemangati penulis.
8. Dayu Aqraminnas terima kasih banyak yang selalu nemenin dan selalu nganter kemana-mana disaat penulis butuhkan dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Teman-teman mahasiswa Tafsir Hadis angkatan 2012, khususnya TH B, terima kasih untuk kebersamaan kita dalam beberapa tahun ini.
10. KKN Perkasa terimakasih keluarga baruku yang singkat namun berkesan.
11. Keluarga Besar pondok pesantren Daar el-Hikam terimakasih sudah memberikan ilmunya, serta angkatan 2012 yang selalu memberi warna dalam menyusun skripsi.
12. Keluarga Besar IRMAFA (Ikatan Remaja Mesjid Fathullah) terimakasih sudah memberikan wawasan dalam berorganisasi.
13. Keluarga Besar UKM Hiqma (Himpunan Qari dan Qari’ah Mahasiswa Uin Syarif Hidayatullah Jakarta) terimakasih atas pengalaman berharganya selama berorganisasi.
Jakarta, 08 November 2016
Nurhidayah
v
PEDOMAN TRANSLITRASI
Translitrasi yang dipakai dalam penyusunan skripsi ini berpedomana pada Romanisasi Standar Bahasa Arab (Romanization of Arabic) yang pertama kali diterbitkan tahun 1991 dari America Labrary Association (ALA)dan LibraryCongress (LC).
A. Konsonan Tuggal dan Vokal
Arab Indonesia Inggris Arab Indonesia Inggris
ا A A ط T T
ب B B ظ Z Z
ت T T ع ‘ ‘
ث Ts Th غ Gh Gh
ج J J ف F F
ح Ḥ Ḥ ق Q Q
خ Kh Kh ك K K
د D D ل L L
ذ Dz Dh م M M
ر R R ن N N
ز Z Z و W W
س S S ه H H
ش Sy Sh ء ’ ’
ص Ṣ Ṣ ي Y Y
ض Ḍ Ḍ ة H H
Vokal
َ ا Ā Ā َ وُا Ū Ū
َ يِا Ī Ī َ و ا Aw Aw
َ ي ا Ay Ay َ ــَى À À
vi B. Konsonan Rangkap Kata Syaddah
ة سّس ؤُم Mu'assasah
ة دِّد ع تُم Muta'addidah
C. Tā Marbūṭah
ةلاص Ṣalāt
نامزلاَةارم Mar’atu al-Zamān
D. Singkatan
Swt : Subhānahu wa Ta‘āla
Saw : Ṣalla Allāhu ‘Alaihi wa al-Sallam Ra : Raḍiya Allāhu ‘Anhu
M : Masehi H : Hijriyah
Qs : Al-Qur’ān Surat HR : Hadis Riwayat
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
PEDOMAN TRANSITERASI ... v
DAFTAR ISI ... vii
BAB I : Pendahuluan ... 1
A. Latar belakang ... 6
B. Permasalahan... 6
1. Identifikasi Permasalahan ... 6
2. Pembatasan Masalah ... 7
3. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
D. Kajian Pustaka ... 8
E. Metodologi Penelitian ... 11
1. Pengumpulan Data ... 12
2. Teknik Analisis Data ... 13
F. Sistematika Penulisan ... 13
BAB II: Peta Kesarjanaan Hadis di Indonesia ... 15
A. Sejarah Perkembangan Hadis di Indonesia ... 15
B. Karya-karya Hadis di Indonesia ... 18
C. Kajian Hadis di Indonesia Saat ini ... 24
viii
BAB III: Kajian Hadis Sarjana Muslim Indonesia ... 33
A. Wilayah Kajian Hadis ... 34
1. Sanad ... 34
2. Matan... 34
3. Tokoh ... 34
4. Kritik ... 34
B. Tema Kajian Hadis ... 41
1) Sosial ... 41
2) Politik ... 48
3) Budaya... 53
C. Tingkat Referensi ... 58
D. Popularitas Referensi Hadis ... 61
E. Metode ... 65
BAB IV: Penutup ... 68
A. Kesimpulan ... 68
B. Saran-saran ... 69
DAFTAR PUSTAKA ... 70
Lampiran ... 74
1
IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, sesungguhnya merupakan lembaga perguruan tinggi Islam (LPTI) yang dipastikan dalam kurikulumnya terdapat pembelajaran mengenai hadis dan atau ilmu-ilmu hadis (‘Ulūm al-Hadīs).
Hampir di setiap jurusan yang ada di berbagai fakultas IAIN/UIN Sunan Kalijaga sedini mungkin telah diajarkan tentang hadis dan problematika sanad, matan dan rawi yang ada di ilmu-ilmu hadis (‘Ulūm al-Hadīs)sebagai materi pijakan dasar mempelajari redaksi hadis Nabi. 1 Apakah sebuah hadis tertentu adalah sahih atau dhaif yang kemudian dijadikan sebagai hujjah atau dalil hukum, 2 sudah pasti telah dipelajari di IAIN atau UIN Sunan Kalijaga baik ditingkatan strata satu (S1) maupun strata dua (pasca sarjana, S2). Di samping itu, metode untuk menentukan kualitas sebuah hadispun berkembang dinamis. 3
UIN yang dulu bernama IAIN dikenal banyak kalangan sebagai kampus pembaharu pemikiran Islam. Sebagai universitas unggulan, mahasiswa UIN berasal dari berbagai daerah, dari ujung Barat sampai ujung Timur wilayah Indonesia, dari Aceh hingga Irian Jaya. 4 Mahasiswa UIN berasal hampir dari setiap propinsi di Indonesia. Mahasiswa UIN bahkan ada yang berasal dari luar
1 Salam Syamsir, Antologi Kajian Pemikiran Islam (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2007), 15.
2 Jaiz Ahmad Hartono, Ada Pemurtadan di IAIN (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), 21.
3 Pandangan seperti ini sudah cukup sering dikemukakan banyak kalangan. Namun, dalam hal ini, kami mengutip penjelasan Richard G. Kraince, seorang kandidat Phd dari Ohio University yang tengah mengadakan penelitian tentang IAIN dan modernisasi pendidikan di Indonesia. Richard G.
Kraince, wawancara, Jakarta, 23 Februari 2000.
4 Ali Munhanif, Prof. Dr. A. Mukti Ali, Moderniassi Politik-Keagamaan Orde Baru, dalam Azyumardi Azra dan Saiful Umam,, eds., Menteri-menteri Agama RI: Biografi Sosial Politik (Jakarta: PPIM IAIN Jakarta dan Litbang Depag, 1998).
2
negeri seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan bahkan dari kawasan Afrika seperti Nigeria. 5 UIN juga mempunyai program pendidikan yang bervariasi baik jenis program studi maupun tingkat pendidikan, dari S1, S2, dan bahkan S3.
Sebagai suatu universitas, UIN sangat terbuka dalam berbagai aliran pemikiran, dari yang paling moderat sampai yang paling konservatif, dari liberalisme sampai tradisionalisme. Untuk menyelesaikan suatu program studi di UIN, baik pada tingkat sarjana (S1), Magister (S2), dan doktor (S3), mahasiswa diwajibkan menulis suatu karya ilmiah yang berupa skripsi untuk program S1, tesis untuk program S2, dan disertasi untuk program S3.6
Dalam tradisi ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi merupakan karya ilmiah sebagai suatu hasil penelitian dan analisa berfikir seorang mahasiswa sehingga dalam batasan-batasan tertentu.7 Skripsi dapat dikatakan merupakan awal pencapaian pemikiran seseorang secara akademis dalam bidang yang diminatinya. Di samping itu, di dalam penulisan skripsi juga menggambarkan hubungan antara pemikiran. 8Dalam menyusun skripsi, mahasiswa tidak hanya membahas suatu masalah berdasarkan kerangka pemikirannya sendiri, akan tetapi juga mengutip banyak sumber untuk menjelaskan masalah yang diteliti.
Kutipan-kutipan yang dilakukan dalam menyusun karya ilmiah tersebut dapat merupakan bentuk komunikasi ilmiah, dan juga dapat mengidentifikasikan adanya pengaruh dari sumber yang dikutip. Dengan demikian dari skripsi akan terlihat bagaimana pemikiran tertentu mempengaruhi seseorang yang dapat
5 Jaiz Ahmad Hartono, Ada Pemurtadan di IAIN (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), 45.
6 Rifqi Muhammad Fatkhi, Popularitas Tafsir Indonesia (Jakarta: HIPIUS, 2012), 3.
7 Azumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru (Jakarta: Logos, 2002), 43.
8 Ahmad Syafii Maarif, Membumikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), 9.
dianalisa dari penunjukkan kutipan yang digunakan dalam menyusun karya akhir atau skripsi tersebut. Dalam kerangka ini maka dalam penulisan skripsi pasti akan dipengaruhi oleh pemikiran tertentu, baik yang bersifat modern dan liberal maupun yang konservatif dan tradisional.9
Menurut Maman kajian keagamaan yang dikembangkan di UIN/IAIN/STAIN umumnya masih meliputi : Al-Qur’an dan Hadis, pranata sosial (fiqih Islam), pemikiran dalam Islam (kalam/teologi, filsafat, dan tasawuf), ilmu politik/tata negara (fiqih siyasah), perkembangan modern dalam Islam, bahasa dan Sastra Arab, tarbiyah (Pendidikan), dan dakwah. Inilah yang dikembangkan untuk program sarjana (S1) dan pascasarjana (S2 dan S3).10 adanya ilmu ushul fiqih sebagai metode untuk mengistinbathkan hukum dalam agama Islam, dan ilmu musthalah hadits sebagai metode untuk menilai akurasi dan kekuatan sabda-sabda Nabi Muhammad Saw. (hadis), merupakan bukti adanya keinginan untuk mengembangkan metodologi penelitian tersendiri, meskipun masih ada perdebatan di kalangan para ahli tentang setuju atau tidaknya terhadap materi kedua ilmu tersebut.
Sedangkan Rifqi Muhammad Fathi mengatakan bahwa komposisi peta kajian Tafsir dan Hadis pada skripsi mahasiswa Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta rentang waktu 2006-2011 masih berimbang di antara kajian Tafsir dan Hadis. Namun demikian, kajian hadis tampak lebih diminati oleh mahasiswa dengan prosentase 50,7% skripsi disusun dalam wilayah kajian hadis.
9 Kusmana, Proses Perubahan IAIN menjadi UIN : Rekaman Media Massa (Jakarta: IAIN Jakarta Press, 2001), 35.
10 Maman ddk, Metodologi Penelitian Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), 8.
4
Sedangkan tema-tema yang diangkat dalam skripsi didominasi oleh kajian Tafsir Tematik 21,1%, Hadis Tematik 20,9%, Pemikiran Tafsir 17,2%, dan Kritik Hadis 14,7%.11 Sedangkan jenis literatur hadis dengan model juz‘īyāt. Karya-karya jenis ini berjumlah 85 karya, lebih banyak dibandingkan dengan karya-karya hadis dalam bentuk Jāmi’, syarh, musnād, atau sunān. Al-Jāmi’ al-Sahīh karya al-Bukhārī, Tafsir Al-Misbāh, al-Jāmi’ al-Sahīh karya Muslim, Sunan al-Tirmizhī, Musnad Ahmad, Sunan Ibn Mājah, Sunan Abī Dāwūd, Tafsir Al-Azhar karya Hamka.12
Perkembangan suatu ilmu dapat didekati dengan berbagai sisi. Salah satu cara yang dilakukan untuk mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan terutama menyangkut domain atau wilayah kajian adalah dengan melakukan visualisasi pengetahuan atau lazim disebut pemetaan pengetahuan (knowledge mapping), pemetaan ini dilakukan sebagai pengungkapan suatu gagasan atau perasaan dengan menggunakan gambar, tulisan, grafik. Peta ilmu pengetahuan merupakan alat relasi yang menyediakan informasi antar hubungan entitas yang dipetakan. Di samping metode analisis seperti dijelaskan di atas, metode lain yang dapat digunakan untuk memetakan suatu bidang kajian adalah dengan menggunakan metode analisis sitiran.13 Metode ini digunakan untuk menganalisis secara deskriptif suatu karya menurut jenis literatur dan kontribusi yang diberikan oleh peneliti dalam perkembangan ilmu pengetahuan.14
11 Kusmana, Proses Perubahan IAIN menjadi UIN : Rekaman Media Massa (Jakarta: IAIN Jakarta Press, 2001), Cet 1.
12 Saiful Mujani, Mu’tazilah and the Modernization of the Indonesian Muslim Comunnity:
Intellectual Portrait of Harun Nasution,(Jakarta: Studia Islamika 1994), 104.
13 Spasser (1997:78)
14 Sulistyo Basuki 2001: 11
Penelitian ini berusaha melakukan kajian terhadap pemikiran hadis di Indonesia, akan tetapi Saya hanya membatasi pada mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode lima tahun terakhir, yaitu tahun 2011-2015. Saya memilih UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta karena UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta sebagai kampus pembaharu dan kampus unggulan dibandingkan kampus yang lain.
Azyumardi Azra dalam penelitiannya bahwa kajian hadis di Indonesia sudah mati kenyataannya bahwa terdapat hanya tujuh disertasi (6,42%) dari keseluruhan 109 disertasi mungkin mengundang pertanyaan. Jumlah ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan disertasi-disertasi dalam bidang tafsir atau ‘Ulūm al-Qur’an yang berjumlah 12 judul, padahal baik hadis maupun al-Qur’an hampir sama pentingnya sebagai dua sumber pokok Islam yang tidak terpisahkan satu sama lain.
Bahkan dilihat dari konteks bahwa ilmu hadis merupakan salah satu matakuliah pokok seperti juga ilmu tafsir pada IAIN sejak dari S1, maka jumlah kajian dalam bidang hadis ini sangat jauh dari kebutuhan. Sebab itulah kemudian,pengajar ilmu hadis seperti juga ilmu tafsir bukanlah mereka yang ahli dalam bidangnya.15 Untuk lengkapnya penelitian saya membuktikan kalau kajian hadis di Indonesia masih berkembang dilihat dari skripsi-skripsi mahasiswa UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta masih banyak mahasiswa yang mengambil skripsi tentang hadis.
B. Permasalahan
1. Identifikasi Masalahan
15 Azyumardi Azra, Kecenderungan Kajian Islam di Indonesia Studi Tentang Disertasi Doktor Program Pascasarjana UIN Jakarta, Journal, 1997.
6
Dari pembahasan latar belakang diatas, penulis mempunyai beberapa akar permasalahan yang diidentifikasi dalam penelitian ini, yaitu:
a). perkembangan kajian hadis di Indonesia saat ini belum tahu berkembang atau tidaknya?
b). Dari aliran modern dan liberal maupun yang konservatif dan tradisional pemikiran yang paling banyak berpengaruh bagi para mahasiswa UIN Jakarta atau UIN Yogyakarta?
c). Kitab hadis yang sering dikutip oleh mahasiswa UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta?
d). Tokoh yang berperan dalam kajian hadis di Indonesia?
e). Universitas mana yang menitip beratkan kajian hadis di Indonesia?
2. Pembatasan Masalah
Dari beberapa masalah yang telah dikemukakan di atas, maka pembatasan masalah ini akan dibatasi hanya pada poin a yaitu perkembangan kajian hadis di Indonesia saat ini.
3. Rumusan Masalah
Berkenaan dengan masalah di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah berapa persen perkembangan wilayah kajian hadis di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2011-2015?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapat pengetahuan yang utuh dan komprehensif tentang perkembangan kajian hadis di Indonesia pada saat ini.
Dan untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan program Strata Satu (S1) dari Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Manfaat Penelitian
Kiranya hasil penelitian ini akan berguna untuk memberi pengetahuan yang utuh dan komprehensif tentang perkembangan kajian hadis di Indonesia pada saat ini. . D. Kajian Pustaka
Karena skripsi ini berada dalam penelitian kajian hadis di Indonsia pada saat ini, maka beberapa literatur yang saya temukan itu berada dalam kajian hadis di Indonesia. Ada beberapa tulisan yang berkaitan tentang tema saya bahas, yaitu:
Pertama, yang ditulis oleh Dzikri Nirwana, dan Bashori yang menyoroti bagaimana perkembangan hadis oleh ulama Banjar.16 Kedua, tulisan oleh Baso Ahmad Gazali menjelaskan bahwa mengetahui perkembangan hadis dilihat dari sejarah.17
Ketiga, tulisan oleh Munandar menjelaskan bahwa kajian-kajian yang berhasil ditelusuri, terutama tentang perkembangan studi hadis di Indonesia, memberikan gambaran bahwa hadis ketika itu belum berkembang menjadi disiplin tersendiri, karena kajian hadis baru pada dataran praktis, belum tersusun secara teoritis.
Meskipun telah ada karya Al-Sinkili mengenai hadis, namun penulis merasa kesulitan untuk mendapatkan data primer yaitu al-Mawā’iz al-Badī’ah.18
16 Saifuddin, Dzikri Nirwanna, dan Bashori, Peta Kajian Hadis Ulama Banjar, 2013.45.
17 Baso Ahmad Gazali, Perkembangan dan Pemeliharaan Hadis (Suatu Kajian Dengan Pendekatan Sejarah), journal, 25.
18 Munandar, Perkembangan Hadis di Indonesia (Studi Analisis Pemikiran ‘Abd Rauf as-Sinkili) 2009.51.
8
Keempat, Skripsi oleh Munirah hanya menjelaskan syarah hadis menurut ulama-ulama hadis.19 Skripsi oleh Irawan Muhibudin menyatakan bahwa dalam kitabnya Al-Manhal al-Latīf fī Ushūl al-Hadīts al-Syarīf dan Al-Qowī‘id al-Asāsiyyah fī ‘Ilmi Mustalāh al-Hadīts. Dengan demikian Sayyid Muhammad al-Maliki telah memberikan kontribusi yang besar dan bermanfaat dalam melestarikan, mewariskan, mengembangkan kajian hadis untuk dipelajari oleh generasi selanjutnya dan juga dengan menghadirkan karya-karya Sayyid Muhammad al-Maliki, tentu akan menambah dan meramaikan kepustakaan hadis Indonesia. Selanjutnya Skripsi oleh Andriansyah di dalam tulisannya ini, Andriansyah membahas tiga karya Ali Mustafa Yaqub, yaitu Peran Ilmu Hadis Dalam Pembinaan Hukum Islam, Kritik Hadis, serta Imam Bukhārī dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis sebagai karya yang patut diperhitungkan dalam deretan literatur hadis di Indonesia.
Kelima, penelitian dosen Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yaitu M Isa HA Salam dan Rifqi Muhammad Fatkhi dengan judul Pemetaan Kajian Tafsir Al-Qur’an pada Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta : Analisis Sitiran Pengarang yang Disitir Disertasi Mahasiswa Tahun 2005-2010. Dalam disertasi ini menjelaskan perbandingan antara UIN Jakarta memiliki prosentase sitiran lebih tinggi kepada karya tafsir modern dan kontemporer. Sebaliknya, UIN Yogyakarta lebih banyak menyitir karya-karya tafsir klasik dan pertengahan. Temuan ini mengidintifikasikan
19 Muniroh, Metodologi Syarah Hadis Indonesia Awal Abad ke-20, Thesis Jurusan Agama dan Filsafat, Fakultas Ilmu dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2015.
kecendrungan pemikiran tafsir UIN Jakarta ke arah modernism dan kontemporer, sedangkan pemikiran tafsir UIN Yogyakarta tetap berpegang pada tradisi salaf.20
Keenam penelitian dosen Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yaitu Rifqi Muhammad Fatkhi Popularitas Tafsir Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam penelitiannya mengatakan bahwa peta kajian tafsir dan hadis pada skripsi mahasiswa Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta rentang waktu 2006-2011 masih berimbang di antara kajian tafsir dan hadis. Namun demikian, kajian hadis tampak lebih diminati oleh mahasiswa.
E. Metodologi Penelitian
Dalam skripsi ini ada dua aspek metodologi penelitian:
1. Sumber Data
Kajian skripsi ini dilakukan melalui penelitian metode kuantitatif yaitu karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik.21
Sedangkan data-data yang diperlukan dan dicari itu dari sumber-sumber kepustakaan yang bersifat primer, yaitu data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data pertama, disebut dengan sumber pertama. Dalam hal ini, yang menjadi sumber utama penulisan yaitu skripsi-skripsi yang ditulis oleh mahasiswa Tafsir Hadis pada tahun 2011-2015 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN
20 Rifqi Muhammad Fatkhi dan M Isa HA Salam, Pemetaan Kajian Tafsir Al-Qur’an pada Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta : Analisis Sitiran Pengarang yang Disitir Disertasi Mahasiswa Tahun 2005-2010, penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2011.
21 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung : Alfabeta, 2009), 7.
10
Sunan Kalijaga Yogyakarta sebanyak 85 Skripsi. Sumber sekunder yang saya gunakan yaitu bukunya Dede Rodiyana yang berjudul Kajian Ulumul Hadis di Indonesia, selanjutnya bukunya Rifqi Muhammad Fatkhi Popularitas Tafsir di Indonesia.
2. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini dikarenakan peneliti ingin mengetahui isi skripsi, jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian yang bersifat naskah dituangkan dalam bentuk data-data atau disebut analisis isi.
Metode analisis isi (Content Analysis) digunakan dalam skripsi ini yaitu sebagai pengungkapan suatu gagasan atau perasaan dengan menggunakan gambar, tulisan, grafik. Analisis isi juga merupakan teknik penelitian alternatif bagi kajian wacana yang cenderung lebih banyak mengarah pada sumber (source) maupun penerima pesan (receiver). Pendekatan penelitian ini mengedepankan penyajian data secara terstruktur serta memberikan gambaran terinci tentang objek penelitian berupa pesan komunikasi. Menurut pendapat Frey, dkk. (1991), tujuan utama dari penelitian dengan teknik analisis isi adalah mendeskripsikan karakteristik pesan yang ada dalam ranah publik dengan perantara teks.22 analisis isi merupakan suatu langkah yang ditempuh untuk memperoleh keterangan dari isi komunikasi yang disampaikan dalam bentuk lambang. Disamping itu, pendekatan analisis isi dapat digunakan, misalnya untuk mengetahui apakah lagu-lagu indonesia sekarang ini lebih berorientasi pada cinta dari kritik sosial, atau apakah drama yang sering kali
22 Antonius Birowo Metode Penelitian Komunikasi (Yogyakarta: GITANYALI, 2004), 46.
muncul di layar televisi akhir-akhir ini lebih mengungkapkan kehidupan
“cengeng” daripada realitis, dan berbagai bentuk isi komunikasi lainnya.23 Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi.
Baik surat kabar, berita radio, iklan televisi maupun semua bahan-bahan dokumentasi yang lain. Hampir semua ilmu sosial dapat menggunakan analisis isi sebagai teknik-metode penelitian.
Kemudian dikemukakan pula bahwa deskripsi yang diberikan para ahli tentang content analysis menyampaikan tiga syarat, yaitu: obyektivitas, pendekatan sistematis, dan generalisasi. Analisis harus berlandaskan aturan yang dirumuskan secara eksplisit. Untuk memenuhi syarat sistematis, untuk kategori isi harus menggunakan kategori tertentu. Hasil analisis haruslah menyajikan generalisasi, artinya temuannya harus mempunyai sumbangan teoritis, temuan yang hanya deskriptif rendah nilainya.24
Dalam penelitian ini karena saya ingin mengetahui semua skripsi mahasiswa Tafsir Hadis fakultas Ushuluddin UIN Jakarta dan UIN Yogyakarta dalam bidang perkembangan kajian hadis saat ini, maka jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian yang bersifat naskah mendapatkan penyajian data secara terstruktur memberikan gambaran, mendeskripsikan karakteristik pesan yang ada dalam ranah publik dengan perantara teks disampaikan dalam bentuk lambang dan dituangkan dalam bentuk data-data.
23 Jalaluddin Rahmad, Metode Penelitian Komunikasi: Dilengkapi Contoh Analisis Statis, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001, 89.
24 Sujono dan H. Abdurrahman, Metode Penelitian (Suatu Pemikiran dan Penerapan), Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005, 38.
12
Adapun teknis penulisan skripsi ini , penulis mengacu pada buku “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2012”.
F. Sistematika Penulisan
Skripsi ini terdiri dari empat bab, yang masing-masing diikuti dengan beberapa sub bab dengan tujuan lebih mempermudah dalam membahas suatu permasalahan. Adapun sistematika bab-bab tersebut adalah sebagai berikut:
Bab Pertama, merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari sub bab yang merupakan kerangka dasar dalam pembahasan bab-bab selanjutnya, sekaligus mencantumkan isi skripsi ini secara global yang cakupannya terdapat latar belakang masalah munculnya penelitian ini beserta perdebatan akademik seputar perkembangan hadis, setelah itu permasalahan diidentifikasikan, dibatasi serta dirumuskan, kemudian disertakan pula tujuan dan manfaat dari penelitian ini.
Selain itu tinjauan pustaka dilakukan dengan tujuan mengetahui posisi penelitian ini diantara studi-studi lainnya, begitupun dengan penjelasan mengenai metode penelitian yang dipakai untuk menyelesaikan penelitian ini. Dan pembahasan terakhir yaitu penjelasan mengenai sistemaika pembahasannya.
Bab kedua, Merupakan pembahasan mengenai peta kesarjanaan hadis di Indonesia yaitu membahas tentang sejarah perkembangan hadis di Indonesia, selanjutnya ada karya-karya hadis di Indonesia dan kajian hadis di Indonesia saat ini.
Bab ketiga, saya menampilkan kajian hadis sarjana muslim Indonesia, terdapat wilayah kajian dan didalamnya saya klasifikasikan pada tiga wilayah yaitu ada
sanad, matan, dan kritik. Dan selain itu dalam bab ini saya menjelaskan tema kajian hadis yaitu ada sosial, politik dan budaya. Selanjutnya ada tingkat referensi dan popularitas referensi hadis, serta terdapat metode penulisan skripsi yang digunakan oleh mahasiswa.
Bab keempat, saya menyimpulkan dari hasil kajian secara keseluruhan skripsi ini sebagai jawaban dari pertanyaan mendasar yang dikemukakan rumusan masalah, pada bab satu. Adapun saran adalah;beberapa rekomendasi dari penulis bagi peneliti berikutnya atau bagi pembaca mengenai sisi kosong yang belum diteliti dari kajian ini ataupun hal-hal yang berkaitan dengan penelitian selanjutnya. Dengan segala kerendahan hati penulis membuka kritik, komentar atau saran demi perbaikan penelitian skripsi ini.
14
BAB II
PETA KESARJANAAN HADIS DI INDONESIA A. Sejarah Perkembangan Hadis di Indonesia
Perkembangan hadis di Indonesia dimulai sejak abad ke-17 masehi yang dipelopori oleh dua orang ulama Aceh terkenal yaitu Syaikh Nuruddin al-Rāniry dengan karyanya Hidāyat al-Habīb fī Targhīb wa Tarhīb yang menginterprestasikan hadis dengan ayat-ayat Al-Qur’an untuk mendukung argumen yang ada dalam kitab tersebut. Sedangkan yang kedua adalah Syaikh Abd al-Rāuf al-Singkilī yang berasal dari Singkil NAD. Adapun dua karyanya dalam bidang hadis adalah Syarah Laṭīf ‘Ala Arba‘īn Hādisan Lil Imām al-Nawawī dan yang kedua adalah al-Mawā‘idz al-Badi‘ah yang berisi kumpulan hadis-hadis qudsi. Walaupun perkembangan studi hadis di Indonesia sudah dimulai sejak abad ke-17, namun studi ini belum terkenal. Hal ini disebabkan oleh kecerendungan masyarakat pada tasawuf ketika itu.1
Masuk pada masa awal abad ke 20, kitab-kitab hadis masih belum dijadikan sebagai sumber rujukan karena kajian ini masih bersifat baru dijadikan sebagai sumber rujukan karena kajian ini masih bersifat baru di kalangan pendidikan di Indonesia khususnya pesantren. Pada saat inilah ulama-ulama hadis mulai memberikan perhatian lebih pada bidang kajian hadis dengan mengumpulkan kitab-kitab hadis kemudian menterjemahkannya dan menjadikannya sebagai materi yang diajarkan di lembaga pendidikan madrasah dan pesantren. Masih tidak adanya kitab-kitab hadis karya ulama Indonesia sendiri pada awal abad 20
1 Muhammad Dede Rudliyana, Perkembangan Pemikiran Ulum al-Hadis dari Klasik sampai Modern (Bandung: Pustaka Setia, 2004), 134.
sebagai kajian dasar hadis di pesantren dijadikan sebagai bukti bahwa pada masa ini kajian hadis di Indonesia masih dalam ranah pengantar. 2
Mahmud Yunus dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia menyebutkan bahwa pada masa perubahan (tahun 1900-1908) kitab-kitab hadis sudah mulai diajarkan di surau-surau yang kemudian akan menjadi cikal bakal lahirnya madrasah di Sumatera. Adapun kitab-kitab hadis yang mulai diajarkan pada masa ini adalah kitab Hadis Arba‘īn karya al-Nawāwī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Șaḥīh Muslim di bidang materi hadis. Sedangkan di bidang muṣṭalah al-hadīs, digunakanlah kitab Baiqūniyah dan syarahnya. Kemudian pada masa-masa selanjutnya, kitab-kitab hadis dijadikan buku pelajaran di madrasah-madrasah dan pesantren.3
Jika dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh Martin Van Bruinessen, di dalam bukunya dituliskan bahwa pada masa ini hadis merupakan mata pelajaran yang relatif baru di pesantren. Sebelumnya memang sudah banyak dipelajari karya atau kitab fiqih yang di dalamnya menggunakan dalil-dalil hadis sebagai penguat argumen, namun di sini sudah mulai terdapat proses, penyeleksian dan mengutip hadis yang sesuai dengan keperluan pengarangnya. Dijelaskan bahwa pada masa ini minat terhadap kajian hadis lebih besar daripada sebelumnya, dapat dilihat bahwa telah banyak pesantren yang menjadikan hadis sebagai
2 Dikutip dari http:/naulisiregar.blogspot,com/2013/04/sejarah-madrasah-di-Indonesia.html, pada 8 September 2016.
3 Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1995), 53-61.
16
materi atau mata pelajaran wajib bagi murid. 4
Sedikitnya karya ulama Indonesia dalam bidang hadis dan ‘Ulūm al-Hadīts, menjadikan semakin sulitnya melacak informasi kekuatan dari pemikiran ‘Ulum al-Hadīts di Indonesia. Bahkan, dalam penelitian Martin, dijelaskan bahwa perhatian ulama Indonesia pada pelajaran hadis dan ‘Ulum al-Hadīts sama sekali baru. Satu hal yang cukup menarik dari perkembangan ini adalah bahwa para pelajar dari berbagai daerah di Nusantara yang melanjutkan pelajaran di Makkah biasanya baru dapat menyempurnakan pelajaran mereka setelah memperoleh bimbingan terakhir dari ulama kenamaan kelahiran Jawa.5
Studi ilmu hadis baru dikenal pada awal abad ke-20 yang merupakan pembaharuan terhadap perkembangan studi ilmu ini. Pada masa ini ilmu-ilmu hadis mulai diajarkan di surau-surau, pesantren-pesantren, mesjid, bahkan di sekolah-sekolah.6 Pada dasarnya, hampir semua kajian ke-Islam-an sentral yang ada saat ini, telah ada pada masa Nabi Muhammad saw. Hanya saja bentuknya masih sangat sederhana dan tidak tersusun secara sistematis seperti masa sekarang ini. Begitu pula halnya dengan hadis sebagai suatu cabang ilmu. 7
B. Karya-karya Hadis di Indonesia
Dalam perkembangan hadis di Indonesia, tidak luput oleh ulama hadis yang berperan di dalamnya, karena berkembang kajian hadis dilihat dari kontribusi para
4 Muhammad Dede Rudliyana, Perkembangan Pemikiran Ulum al-Hadis dari Klasik sampai Modern (Bandung: Pustaka Setia, 2004), 134.
5 Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat Tradisi-tradisi Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1995), 161-162.
6 Khairul Rafiqi, Perkembangan Ilmu Hadis dari Masa ke Masa (Jakarta: Press, 2010), 42.
7 Muhammad Dede Rudliyana, Perkembangan Pemikiran Ulum al-Hadis dari Klasik sampai Modern (Bandung: Pustaka Setia, 2004), 134.
ulama-ulama khususnya dalam bidang hadis dalam menyebarkan kajian hadis di Indonesia. Kajian hadis akan timbul dan dikenal oleh masyarakat ketika di sebuah daerah pusat kajian hadis atau lembaga pendidikan kurikulumnya berbasis ilmu hadis yang diajarkan tentang kajian-kajian hadis.8 Serta agar lebih menyebar luas kajian Islam tersebut maka tak luput pula ulama atau tokoh hadis menulis serta menyebarkan karya-karya hadis dan aplikasi pembelajaran dan memahami hadis itu sendiri.
Berbicara perkembangan hadis di Indonesia, adanya sebuah lembaga pendidikan dan tokoh ulama yang berperan didalamnya.9 Setiap lembaga pendidikan di dalamnya berperan seorang Muhaddīts10 dan sudah dikenal oleh masyarakat sekitar atau bahkan keberadaannya sudah dikenal di Indonesia tentunya banyak melahirkan sebuah karya dalam bidang keilmuan khususnya dalam bidang hadis, dengan karya-karya tersebut tentunya orang lebih bisa mengenal lebih jauh lagi tentang jati dirinya dan tentang berbagai macam keilmuan-keilmuan yang dihasilkan seorang ulama dalam perkembangan hadis.
Dalam wacana kajian hadis Indonesia dikenal beberapa ulama hadis, sejak abad ke-17 kajian hadis di Indonesia dapat ditemukan dengan tulisannya karya-karya hadis yaitu Hidāyah al-Habīb Fī al-Targhīb wa al-Tarhīb kitab ini ditulis oleh Nuruddin al-Raniri seorang ulama aceh keturunan Arab Quraisy
8 Kajian-kajian hadis sudah tersebar diseluruh Indonesia, terutama di beberapa pondok pesantren yang kurikulumnya berbasis dengan ilmu hadis serta di dalam berperan seorang ulama dalam bidang hadis, lihat (Ponpes Darus Sunnah, Pisangan Ciputat), tidak hanya di Pondok Pesantren saja akan tetapi dakwah pengajaran Kajian Hadis sudah menyebar dibeberapa majelis Indonesia. Lihat. PKH (Pusat Kajian Hadis) el-Mugni Jakarta.
9 Zamakhsari Doilfer, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiyai (Jakarta:
LP3M, 1987), 232.
10 Muhaddis dalam arti terminologis adalah seorang yang bergelut dalam bidang ilmu hadis, baik segi riwayat maupu Dirayah. Mengetahui banyak riwayat dan kondisi para perawinya. Lihat Mahmud Than dalam bukunya Ilmu Hadis Praktis Pustaka Tariku Izzah.
18
Hadramaut. Sejumlah hadis yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Melayu.11 Dalam karyanya ini ia menginterpretasikan hadis-hadis dengan ayat al-Qur’an untuk mendukung argumen yang melekat pada hadis tersebut.12 selanjutnya Syarah Hadītss Arba‘in dan al-Mawā‘izh al-Badī‘ah kedua kitab ini adalah karya Abd al-Rauf al-Singkili dalam bidang hadis.13Kitab penafsiran mengenai kitab Hadis Arba‘in ini ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyat al-Din.
Isi kitab ini adalah koleksi hadis-hadis menyangkut kewajiban-kewajiban dasar dan praktis kaum muslimin secara umum, bukan pembelajaran yang mendalam.
Sedangkan al-Mawā‘izh al-Badī‘ah adalah koleksi hadis qudsi 14 yang dimaksudkan untuk mengemukakan ajaran mengenai Tuhan dan hubungannya dengan ciptaan-Nya, neraka, surga, dan cara-cara mendapatkan ridha Tuhan.
Al-Mawā‘izh al-Badī‘ah diterbitkan di Makkah tahun 1310-1892.15
Manhāj Dzawin Nadzhar kitab ini adalah karya kiai Mahfuzh Termas (w.
1919-1920). Nama lengkapnya Muhammad Mahfidz b. Abdullah Al-Tarmasi.
Populer disebut Syekh Mahfudz Termas.16Dialah ulama jawa paling berpengaruh pada zamannya. Syaikh Muhammad Mahfudz Termas lahir di Termas, Pacitan, Jawa Timur, pada 12 Jumadil Ula 1285 H/31 Agustus 1868 M, dan bermukim di
11 Kitab ini adalah kitab yang membicarakan mengenai hadis untuk pertama kalinya dalam bahasa Melayu. Karena karya ini merupakan rintisan dalam bidang hadis di nusantara yang menunjukan pentingnya hadis dalam kehidupan kaum muslimin
12 Azumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII (Bandung: Penerbit Mizan, 1995),186-187.
13 Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, 299-300.
14 Hadis qudsi adalah hadis yang diriwayatkan Nabi secara āhādi tidak mutawatir, sandarannya kepada Allah. Pada umumnya disandarkan kepada Allah karena Allah yang berfirman atau memunculkan berita atau terkadang disandarkan kepada Nabi karena beliaulah yang memberitakan dari Allah, berbeda dengan al-Qur’an yang hanya disandarkan kepada Allah.
15 Dikemudian hari karya itu diterbitkan juga di Penang pada tahun 1369-1949, yang berarti masih digunakan di sebagian kaum muslim di Nusantara.
16 Diakses pada tgl 16 September 2016 di http://www.As-Salafiyah.com/2010/08/syekh -Muhammad-Mahfudz-Al-Termas.html
Mekah sampai beliau wafat pada 1 Rajab 1338 H/ 20 Mei 1920 M. Mahfudz amat berjasa dalam memperluas cakupan ilmu-ilmu yang dipelajari di pesantren-pesantren di Jawa, termasuk hadis. Kitab ini diselesaikan pada tahun 1329 H/ 1911 M. Kandungannya membicarakan Ilmu Mushthalah Hadits yang merupakan Syarh Manzhūmah ‘Ilmi al-Atsar karangan Imam Jalaluddin al-Suyūthi.17
Hadis Arba‘īn al-Risālah al-Jamī‘ah al-Nūr al-Mubīn fī Mahabbati Sayyīd al-Mursalīn kitab-kitab hadis ini adalah karya kiai Hasyim Asy‘ari, seorang kiai dari Jawa yang kemudian menjadi seorang kiai dari Jawa yang kemudian menjadi seorang pendiri Nahdatul ‘Ulama di tanah air. Salah satu organisasi Muslim terbesar dalam bingkai ahlussunah waljamaah, membawa tradisi mengajar hadis Shahīh Bukhārī di Indonesia, sehingga pesantrennya Tebu Ireng di Jombang menjadi pondok hadis terkenal di Jawa.18
Tanqīh al-Qaul (al-Hadīts fī Syarah Lubāb al-Hadīts) adalah karya Imam Nawawi al-Bantani yang membahas empat puluh hadis tentang perilaku utama ini merupakan ulasan terhadap karya Imam Jalaluddin al-Suyuthi.19Arba‘āna Haditsan min Arba‘īna Kitaban ‘an Arba‘īna Syaikhan (Al-Arba‘ina Haditsan) karya Muhammad Yasin Al-Fadani, Nama lengkap Beliau adalah Abu al-Faid Muhammad Yasin Bin Isa al-Fadani (1335H/1916M- 1420 h/ 1990 M), dilahirkan di daerah Padang Indonesia dan wafat di Makkah pada hari kamis malam jumat.
17 Kitab ini merupakan bukti bahwa ulama Nusantara mampu menulis ilmu hadis yang demikian tinggi nilainya. Kitab ini menjadi rujukan para ulama di belahan dunia terutama ulama-ulama hadis. Dicetak oleh Mathba’ah Musththafa al-Baby al-Halaby wa Auladuhu, Mesir , 1352 H/ 1934 M. Cetakannya dibiayai oleh Syeikh Salimbin Sa’ad bin Nabhan wa Akhihi Ahmad, pemilik Al-Maktabah An-Nabhaniyah Al-Kubra, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
18 Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, 300.
19 Samsul Munir Amin, Sayyid Ulama Hijaz (Yogyakarta: Printing Cemerlang, 2009), cet. 1, 60.
20
Beliau ramai dikunjungi oleh penuntut dari dalam dan luar Mekkah, untuk mendengar kuliah hadis yang disampaikan oleh Syekh Yasin serta memperoleh sanad hadis yang istimewa penuntut-penuntut dari Malaysia juga tidak ketinggalan untuk turut bersaing dalam halaqah.20
Muhammad Yasin menyususn empat buah kitab Arba’un. Yang diberi judul al-Arba‘ina Kitaban ‘An Arba‘īna Syaikhan yang diselesaikan pada tahun 1363 H.
Kedua, al-Arba‘ūna Kitaban Min Kutub al-Hadīts, yang merupakan bagian dari kitab al-Wafī Banzil Tidzkar al-Mashafi, yang diselesaikan pada tahun 1364 H.
Ketiga dan keempat diberi judul sama yaitu al-Arba‘ūna Haditsan ‘an Arba‘īna Syaikhan min Arba‘īna Baladan, yang keduanya diselesaikan pada tahun 1364 H.
Kitab al-Arba‘ūsn.21Haditsan pertama kali dicetak oleh Mathba’ah Al-Thahiriyyah Jakarta pada tahun 1403/1983 dan mengalami cetak ulang oleh Dar al-Basya’ir al-Islamiyah Beirut Lebanon pada tahun 1407/1987.22
Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual : Telaah Ma‘ani al-Hadis tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal buku ini adalah karya Prof.
Dr.H.M. Muhammad Syuhudi Ismail. Beliau dilahirkan di Lumajang, Jawa Timur, pada tanggal 23 April 1943.23Syuhudi Ismail adalah seorang ulama dan intelektual yang cukup besar pengaruhnya di Indonesia di bidang Hadis dan Ulumul Hadis.
Karya beliau ini merupakan salah satu pemikirannya tentang metode pemahaman
20 http:/warkopmbahlalar.com/2973/Syekh-Yasin-Isa-al-Fadani-ulama-ensiklopedia/
21 Stainpress-11111-mochamadsy-382-2-babi-pdf
22 Kitab ini ditulis untuk mengamalkan hadis nabi saw tentang keutamaan orang yang menjaga 40 hadis. Selain itu juga untuk mengikuti para imam dan ulama sebelumnya yang telah menulis kitab Arba’un. Hal ini diungkapkan oleh Syaikh Yasin bahwa orang yang menyerupai suatu kelompok kaum, maka ia akan menjadi bagian dari mereka, maka berserupalah dengan mereka jika tidak bisa seperti mereka, karena berserupa dengan orang-orang yang mulia itu keberuntungan.
23 Diakses pada tgl 16-09-16 di http://ushuluddin-uinsuka.blogspot.com/2011/11/pemikiran -hadis--prof-dr-hm-syuhudi.html
terhadap matan hadis. Menurut beliau bahwa ada matan hadis yang harus dipahami secara tekstual, kontekstual dan ada pula yang harus dipahami secara tekstual dan kontekstual sekaligus.24
Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis karya Prof. Dr. Tubagus Muhammas Hasby Ash-Shiddieqy, beliau lahir di Lhouksemawe, Aceh, pada tanggal 10 Maret 1904. Karya beliau ini berisi 179 pembahasan yang dibagi 6 bagian, menjelaskan tentang banyak sejarah perkembangan hadis dan juga buku ilmu dirayah yang menjelaskan istilah-istilah ulum hadis. Selain menulis karya dalam bidang hadis, beliau pun telah mengarang buku dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari tafsir, fiqih dan ushul.25
Ilmu Mushthalah al-Hadis buku ini adalah karya Prof.Dr.H. Mahmud Yunus, dilahirkan di Sungayan Batusangkar, Sumatera Barat, pada tanggal 10 Februari 1899. Karya beliau ini merupakan karyanya yang ditulis menggunakan bahasa Arab. Di dalam buku ini, beliau membuat sistematika pembahasan ulumul hadis dengan 69 pembahasan.26 Ikhtisar Musthalah al-Hadits penulis buku ini adalah Fathur Rahman. Beliau adalah alumnus IAIN Yogyakarta Fakultas Syari’ah, beliau lebih konsentrasi pada hadis saja. 27Karyanya ini menggambarkan
24 Ini menunjukan bahwa kandungan hadis Nabi itu ada yang bersifat universal, temporal dan lokal. Adanya pemahaman hadis yang tekstual dan kontekstual menurut M. Syuhudi memungkinkan suatu hadis yang sanadnya sahih atau hasan tidak dapat serta merta matannya dinyatakan dhaif atau palsu hanya karena teks hadis tersebut tampak bertentangan. Metode yang ditawarkan oleh M
25 Diakses pada tanggal 16-09-16 di http://ushuluddin-farida.blogspot.
26 Tiga pembahasan pertama menjelaskan pembagian hadis dan kedudukan sunnah dalam al-Qur’an, pembahasan ke 4-9 tentang sejarah periwayatan dan pembukuan sunnah, pembahasan ke 10 tentang al-jarh wa al-ta’dil, ke 11 tentang sifat hadis yang di terima dan ditolak dan pembahasan ke 15-69 tentang istilah-istilah khusus yang berkaitan dengan penelitian terhadap hadis, baik dari segi kuanlitas ataupun kualitas.
27 Dalam bukunya dia membagi menjadi beberapa bagian yang masing-masing memiliki pembahasan dalam bentuk bab dan sub bab yang memuat penjelasan sederhana, mudah dipahami serta memberikan contoh-contoh yang jelas dan rinci.
22
kecenderungannya mendalami ilmu hadis. Sepeninggalan mereka bermunculan pula lah para peneliti hadis pada abad 21 yang secara konsentrasi Ali Mustafa Yaqub karya tulisannya meliputi: Imam Bukhārī Dan Metodologi Kritik Dalam Ilmu Hadis (1991); Kritik Hadis (1995); Peran Ilmu Hadis Dalam Pembinaan Hukum Islam (1999); MM A’zami Pembela Eksistensi Hadis (2002); Hadis-hadis Bermasalah (2003); dan Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan (2003). Dalam buku-bukunya Ali Mustafa tampak dengan jelas kalau beliau adalah seorang ahli hadis. Mentakhrij hadis adalah salah satu aktifitasnya yang paling menonjol.
Langkah-langkah “takhrij” yang ia tempuh merujuk kepada kitab Uṣūl al-Takhrīj wa Dirāsah al-Asānīd karya Mahmȗd al-Ṭhahhān.28 Selanjutnya Aḥmad Lūthfi Fathullah karya-karyanya yaitu: 40 Hadis Riwayat Imam Bukhārī, 40 Hadis Riwayat Imam Muslim, 40 Hadis Keutamaan Zikir & Berzikir dalam menghasilkan karya-karyanya dibidang hadis dan ilmu hadis Aḥmad Lūthfi Fathullah memiliki karakter yang sangat baik, karena karya tulis yang dihasilkannya tidak semua hasil pemikiran sendiri, akan tetapi banyak juga mengutip pendapat orang lain dan juga kitab-kitab dan rujukan-rujukan yang diambil dari karya tulis ulama terdahulu, modern dan kontemporer.29
28 Dalam kajiannya Ali Mustafa mengkombinasikan antara kritik sanad (kritik ekstren) dan kritik matan (kritik intern) dengan menggunakan kaedah umum takhrij hadis sebagaimana yang telah disebutkan oleh al-Ţhahhân dan ulama-ulama lainnya.
29 Yang mana dengan adanya rujukan tersebut untuk memperkuat hasil karya-karya Ahmad Luthfi dan juga bisa dijadikan landasan hukum dalam beramal serta dipelajari kembali oleh mahasiswa sebagai wawasan dalam keilmuan dalam bidang hadis.
C. Kajian Hadis di Indonesia Saat ini
Secara konseptual, kajian diartikan sebagai upaya penyelidikan dan penelaahan secara mendalam terhadap sesuatu.30 Kemudian terminologi hadis biasanya mengacu kepada segala sesuatu (baca: riwayat) yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Berupa sabda, perbuatan, persetujuan, dan sifat (fisik maupun psikis), baik yang terjadi sebelum maupun setelah kenabian.31 Dengan demikian, kajian hadis berarti penelaahan secara mendalam terhadap riwayat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Dalam segala bentuknya.
Dalam konteks Indonesia, kajian hadis memang belum menjadi salah satu tumpuan kajian Islam sejak awal masuknya Islam di Indonesia yang diperkirakan awal abad ke 13 hingga penghujung abad 19.32 Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kurangnya literatur dalam bidang hadis pada awal masuknya Islam ke Indonesia.33 Kajian keIslaman yang domain pada masa itu adalah yang berorientasi kepada syari‘ah, mistisme, sufisme dan neofisme, membuat kajian dan perkembangan disiplin ilmu hadis kurang mendapat tempat di dunia
30 Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012), ed.
12, 604.
31 Lihat misalnya term hadis yang dikemukakan Muhammad ibn Muhammad Abu Syahbah, al-Wasih fi ‘Ulum wa Mushthalah al-Hadis (Kaioro: Dar al-Fikr al-‘Arabi, t.th), 15; Muhammad
‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadis; ‘Ulumuh wa Mushthahuh (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), 27.
32 Kesimpulan Karel A. Steenbrink dari survey yang dilakukan oleh L.W.C Van Den Berg terhadap kitab-kitab yang digunakan di pesantren pada 1880 menyatakan bahwa, meski dimasa ini al-Qur’an dan hadis telah dipelajari, namun studi yang memfokuskan pada bidang tersebut belum dilakukan; kitab-kitab semacam itupun lebih banyak dari masa pertengahan Islam; yang sama-sama digunakan, sama ada di Jawa maupun Sumatera dan wilayah Indonesia lainnya. Lihat Karel A.
Steenbrink, beberapa aspek tentang Islam di Indonesia ke 19 (Jakarta: B ulan Bintang, 1984) h.
156-158
33 Nurol Aen, Perkembangan Literatur Hadis (Majalah Istiqra No. 6/vi/1992)
33 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Literatur Hadis (Majalah Istiqra No. 6/vi/1992)
24
intelektual umat Islam Indonesia ketika itu. Pada masa-masa tersebut, ulama yang membuat karya hadis masih dapat dihitung.34
Ketertarikan pada kajian hadis barulah intensif pada abad ke-20. Hal itu banyak dikaitkan dengan perkembangan intelektual di dunia keIslaman pada penghujung abad 19 yang melahirkan istilah kembali kepada al-Qur’an dan sunnah, sebuah reaksi keagamaan atas keresahan dan keprihatinan dimana sebagian umat Islam tengah berada dalam situasi kemunduran, bahkan banyak yang mengalami nasib yang mengenaskan sebagai pihak terjajah.35
Bahkan, banyak di antara mereka yang menjadi ulama yang terkenal dan mengajar di Makkah atau di Madinah. Karena para ulama dari Jawa ini turut aktif dalam intelektualisme dan spiritualisme Islam yang berpusat di Makkah, mereka juga mempengaruhi perubahan watak Islam Nusantara. Semakin kuatnya keterlibatan mereka dalam kehidupan intelektual dan spiritual Timur Tengah, Islam di Nusantara, dan semakin jelas di Jawa menyebabkan hilangnya sifat-sifat lokal dan titik beratnya pada aspek tarekat semakin berkurang (walaupun tidak berarti hilang sama sekali).36
Sedikitnya karya ulama Indonesia dalam bidang hadis dan Ulum al-Hadis, menjadikan semakin sulitnya melacak informasi kekuatan dari pemikiran ‘ulum al-Hadis di Indonesia. Bahkan, dalam penelitian Martin, dijelaskan bahwa perhatian ulama Indonesia pada pelajaran ulama Indonesia pada pelajaran hadis
34 Azumardi Azra, Jaringan Timur Tengah dan kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII : melacak akar pembaruan pemikiran Islam Indonesia (Bandung: Mizan, 1998), IV, 15-18.
35 Muhammad Dede Rudiyana, Perkembangan Pemikiran Ulum al-Hadis Dari Klasik Sampai Modern (Bandung: Pustaka Setia, 2004), 133.
36 Muhammad Dede Rudiyana, Perkembangan Pemikiran Ulum al-Hadis Dari Klasik Sampai Modern (Bandung: Pustaka Setia, 2004), 134.
dan ulum al-Hadis sama sekali baru. Satu hal yang cukup menarik dari perkembangan ini ialah bahwa para pelajar dari berbagai daerah di Nusantara yang melanjutkan pelajaran di Makkah biasanya baru dapat menyempurnakan pelajaran mereka setelah memperoleh bimbingan terakhir dari ulama kenamaan kelahiran Jawa.37
Setelah kemerdekaan Indonesia, yaitu pada tahun 1945 kajian hadis di Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang pesat dan mulai dikaji di Perguruan Tinggi. Islamic College di Padang pertama kali dibuka dan dipimpin oleh Mahmud Yunus telah menggunakan kurikulum Universitas Al-Azhar Kairo. Kemudian ditutup sementara karena Jakarta diduduki oleh Sekutu dan dibuka kembali di Yogyakarta dan telah diubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) pada tahun 1948.38 Dan setelah mulai banyak berdiri Perguruan Tinggi Islam lainnya di Indonesia.
Terdapat perkembangan kajian hadis dalam masa kekinian sebagaimana dikaji oleh para ahli hadis kekinian. Maka dapat diklasifikasikan kajian hadis sebagai berikut: pertama mengkaji tentang hadis kaitannya dengan hermeneutik kajian dalam studi hadis, kedua kajian hadis melalui maktābah syamīlah, dan ketiga kajian hadis didalam jurnal akademik.
Adapun pembahasannya yaitu perkembangan hadis sebagaimana ditulis oleh Yunus Yusuff, Roslan Ismail dan Zainuddin Hassan, Adopting Hadith Verification
37 Muhammad Dede Rudiyana, Perkembangan Pemikiran Ulum al-Hadis Dari Klasik Sampai Modern (Bandung: Pustaka Setia, 2004), 134.
38 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan, 2002),198.
26
Techniques to Digital Evidence Autentification.39 Hasil ulama mutaqaddimin dapat diakses melalaui teknologi, yaitu ketika menilai sesuatu hadis. Selain itu dalam journal Israr Ahmad Khan, ahli hadis kekinian dari Malaysia mengkaji The Auttentification of Hadith: Redefining Criteria.40 Hal yang dilakukan adalah memberikan kriteria dalam otentifikasi hadis. Masih dalam konteks yang sama, kajian dalam persppektif hermeneutika, sebagaimana diungkap dalam the American Journal of Islamic Social Sciences 24:4. Kajian yang dilakukan oleh Hakkit BOZ, Ataatrik University41 mengkaji tentang hadis kaitannya dengan hermeneutika.
Dari kajian hadis diatas nampak adanya perkembangan kajian dalam Studi Hadis. Perkembangan tersebut seiring dengan adanya peradaban manusia telah berkembang dari masa ke masa. Hal ini menandakan akan kebangkitan yang ada dalam literatur studi hadis adalah adanya kajian yang mengintegrasikan dengan kajian barat dan kehadiran kajian-kajian yang menyegarkan. Hal inilah sesuatu yang menarik untuk dikaji, seperti adanya kajian Kitab Ṣaḥiḥ al-Bukhārī di mana di era klasik hanya diajarkan di pesantren dengan santri khas.42 Sebaliknya sekarang bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat melalui kajian sahih bukhari di TVRI yang dikomandani oleh Luthfi Fathullah.43
39 Lihat Yunus Yusuff, Roslan Ismail dan Zainuddin Hassan, Adopting Hadith Verification Techniques to Digital Evidence Autentification, dalam Journal of Computer Science 6 (5): 484-489, 2010.
40 Lihat Israr Ahmad Khan, The Autenttification of Hadith: Redefining Criteria, the American Juornal of Islamic Social Sciences, 24:4.
41 Lihat Hakit BOZ, Hadith Autenticity of the Science of Hermeneutics, International Journal of Humnities and Social Sciences, Vol. 3 Nno. 2 Januari 2013, 187-191.
42 Muhammad Tasrif, Jurnal Pengembangan Model Studi Hadits (Telaah Epistemologis Terhadap Studi Haditsdi IAIN Sunan Ampel Surabaya), Edisi 7, Vol. 4, 2008, 3.
43 Radjab, Membangun Tradisi Baru Penelitian Hadis dalam al-Fikr Vol. 15 No. 2 tahun 2011
Seiring perkembangan manusia, yang di era sekarang merupakan era global yang didukung dengan kemajuan teknologi informasi memunculkan berbagai produk baru hadis di media global, seperti buku dalam bentuk pdf atau sofwer tertentu yang digagas oleh individu maupun pemerhati hadis lainnya. Seperti maktabah syamīlāh, maktabah alfīyāh li al-Sūnnah al-Nabawīyyāh.44
Kajian hadis di dalam jurnal akademik yang amat sangat berisikan sesuatu yang baru dan berbeda dengan kajian sebelumnya.seperti kajian yang dilakukan oleh Yunus Yusuff dkk. Tentang keterkaitan perkembangan teknologi informasi dengan autintifikasi hadis seperti pengembangan kajian dari ulum hadis seperti dikaji oleh Prof. Israr Khan, akademisi Malaysia kelahiran India uini mengkaji tentang kriteria kajian kualitas suatu hadis, sebagaimana dalam artikel The Authentication of Hadith: Redefining Criteria atau dalam artikel bahasa Arab yang mengkaji sesuatu yang berada dengan kajian ulum al-hadis yang selama ini ada dalam tradisi ulum hadis, seperti artikel di jurnal Stealth of hadeeth and Effects on Jarh and Taedeel.45
Kajian akademisi yang dari kampus, memunculkan keunggulan kajian hadis seperti yang dilakukan oleh Syeh Ahmad Mahdali dari UNISSA Brunei Darussalam dan Lutfi Fathullah dari UIN Bandung. Kajian syarah hadis juga ditemukan tidak saja ditemukan dalam kitab syarah hadis, melainkan sudah melalui audio visual yang memungkinkan dapat diakses oleh semua kalangan dan dimanapun sebagaimana dilakukan oleh Lutfi Fathullah setiap hari Ahad pagi jam 05.00-06.00 setiap minggunya. Kajian lain misalnya kitab riyad al-shalihin oleh Dr.
44 Israr Khan, The Autentification of Hadith Redefining Criteria, the American Journal of Islamic Science 24:4.
45 Muhammad Alfatih Suryadilaga, ESENSIA Vol 15, No. 2 2014, 5.
28
Syed Mahdali MA dalam http://www.majlisuzzikr.com/pengajian kitab riyadhusshalihin.html. Kajian lain juga ditemukan di beberapa jurnal di lingkungan PTAI. Seperti jaringan ulama hadis di Indonesia dikaji oleh Hasan Su’aidi dosen STAIN Pekalongan, dalam artikel disebutkan peran ulama Indonesia dalam bidang hadis dan ilmu hadis yang dimulai Syaikh Mahfud al-Termasi dan kemudian berkembang pesat pada abad sesudahnya. Selanjutnya Syamsul Huda dalam karyanya yang berjudul Perkembangan penulisannya Hadis pada Pusat Kajian Hadis Nusantara Abad XVIII. Dalam karya ini lebih ditekankan pada kajian kitab hadis yang ditulis ulama nusantara. Tulisan ini dimuat dalam jurnal Penelitian UNIB Vol. VII No. 2 Juli 2001. Halaman 110-116. Dalam kajiannya ini peneliti ingin menjelaskan dan membuktikan adanya keterkaitan antara silsilah keilmuan nusantara dan Makkah.46
Kajian yang dilakukan adalah melalui metode filologi dengan kitab Mawa’id al-Badriyah. Kajian lain kitab hadis yang dilakukan ulama adalah pemikiran ulama kenamaan Mahmud Abu Rayyah dalam hadis. Sebagaimana dilakukan oleh Shochimin. Hunafa Jurnal Studi Islamika Vol 9 No. 2 2012, halaman 271-300.
Kajian hadis dalam rangka penelitian hadis atau ulum al-hadis sebagaimana dalam al-Fikr, Vol 15, No. 1 tahun 2011. Sebagai kajian ilmiah dan hadis merupakan suatu tradisi ilmiah dan sistem periwayatan yang dapat dipertahankan dan dipertanggungjawabkan. Selain itu, unsur-unsur sanad dalam periwayatan hadis adalah bagian yang sangat penting baik dalam menentukan kualitas hadis maupun dari segi kuantitasnya. Adapun dalam tinjauan sejarah, sebelum Islam asal usul
46 Abd Madjid, Hermeneutika Hadis Gender Jurnal al-Ulum Vol. 13 2013, 7.
sanad telah digunakan oleh agama Yahudi atau terdapat dalam kitab Yahudi, Mishnah, termasuk masyarakat Jāhiliyah dalam menuturkan silsila dan syair-syair mereka juga menggunakan metode sanad meskipun tidak jelas sejauh mana metode itu diperlukan. Namun setelah Islam datang sanad dalam hadis jauh lebih metodologis dalam penggunaan periwayatan hadis. Pernyataan ini telah di tahqiq oleh para ulama hadis “ sanad hadis merupakan bagian dari agama”. Dalam konteks kajian orientalis ditemukan tulisan Idri, dalam al-Tahrir Vol. 11 No. 1 Mei 2011.47
Pandangan yang sangat berbeda antara para orientalis dengan ulama hadis tentang Islam dan hadis. Perbedaan tersebut pada dasarnya bermula dari pandangan mendasar tentang sumber ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan hadis itu sendiri.
Karena mereka berpendapat bahwa al-Qur’an adalah buatan Nabi Muhammad dan hadis merupakan perkataan sahabat Nabi atau umat Islam abad pertama dan kedua hijriyah, maka ajaran Islam bukan wahyu Allah melainkan buah pikiran Muhammad yang diperoleh dari berbagai sumber seperti Taurat, Injil, dan sebagainya dan hadis berasal dari tradisi di kalangan umat Islam abad pertama dan kedua hijriyah sebagai akibat dari perkembangan Islam. Pandangan negatif tentang al-Qur’an dan hadis juga merambah pada pemahaman tentang Islam, hadis Nabi, eksistensinya sanad dan matan hadis, termasuk di dalamnya pencitraan terhadap pribadi Nabi Muhammad yang membawa ajaran Islam itu.
Pandangan-pandangan tersebut telah dijawab oleh para ulama hadis yang menyatakan tentang kebenaran Islam dan al-Qur’an sebagai wahyu Allah serta hadis sebagai sabda Nabi. Pembelaan mereka di samping berdasarkan data sejarah
47 Shochimin, Mahmud Abu Rayyah dalam Hadisdalam Hunafa Jurnal Studi Islamika Vol. 9 No. 2 2012, 271-300.
30
juga argumentasi logis. Kajian lain, adalah kajian kitab hadis. Dimana tema tertentu bisa dijadikan sebagai sebuah tema penelitian, seperti yang dilakukan oleh M. Zaky Mubarok dalam Jurnal Studi Agama dan Masyarakat Vol. 4 No. 2. Kajian pemaknaan hadis yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekarang juga sering dikaji, seperti oleh Ahmad Suhendra dalam jurnal Hermeneutik STAIN Kudus, Vol. 8 No., 2 Juli 2012, ideal moral dari hadis ini dapat dijadikan landasan moral teologis dalam menggalangkan reboisasi, dan kritik kepada mereka yang melakukan perusakan lingkungan, terutama konspirasi penebangan lilar.48 Atau dalam bentuk kajian yang masa lampau dengan memberikan sentuhan yang baru sebagaimana dilakukan oleh Jurnal al-Hikmah, Vol. XIV, No. 2 tahun 2013.
Kajian hadis semakin marak jika dikaitkan dengan problem kesetaraan gender, sebagaimana ditulis oleh Umi Aflahah dalam Tesis magisternya di mana mengkaji di Ormas Islam NU dan Muhammadiyah terkait hadis-hadis misioginis. Ia membagi dalam tiga kelompok, tekstual tradisionalis, kontekstual moderat, dan liberal progresif. Dalam konteks yang sama, kajian gender juga bisa dilakukan dalam konteks kitab tertentu. Seperti kajian yang dilakukan Abd. Madjid di Jurnal al-Ulum Vol. 13 No. 2 Desember 2013. Bentuk hadis di dunia global dan perkembangan ilmu pengetahuan mengisyaratkan adanya perkembangan studi hadis. Studi hadis di era sekarang telah berkembang tidak saja fokus pada kajian teks semata melainkan menjadi kajian non teks. Kajian ini memfokuskan pada
48 Ahmad Suhendra, Menilik Reboisasi dalam Hadis Jurnal Hermeneutik STAIN Kudus Vol.
8 No. 2, Juli 2013.
kajian di masyarakat yang dikenal dengan living hadis. Sebagaimana kajian yang dilakukan seperti dalam al-Risalah, Vol. 13 No. 1 Mei 2013.49
Dari kajian-kajian hadis yang ada di Indonesia pada saat ini berkembang dengan pesat, pengembangan kajian hadis tersebut sesuai dengan kebutuhan manusia pada zaman sekarang. Studi hadis yang berkembang pada saat ini memungkinkan manusia mempermudah dalam memahami studi hadis.
Sebagaimana dengan munculnya maka kajian hadis sangat beragam. Seperti kajian ilmu hadis, dengan teknologi yang canggih untuk memudahkan dalam mengkaji ilmu hadis. Hal ini juga berlaku dalam kajian kitab hadis, dalam kajian yang ada melalui studi hadis terdapat perkembangan yang pesat terutama di era kekinian dengan adanya globalisasi dan integrasi IT di dalam kajian hadis.50
49 Umi Aflaha, Kajian Hadis di Kalangan Ormas Islam Tesis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2012, 23.
50 Muhammad Alfatih Suryadilaga, Tradisi Sekar Makam dalam Jurna al-Risalah, Vol. 13No.
1 2013.