• Tidak ada hasil yang ditemukan

dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "dan"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 PENGARUH DER,EPS,PBV,DAN ROE TERHADAP HARGA SAHAMPADA PERUSAHAAN OTOMOTIF DAN KOMPONEN YANG TERDAFTAR DI BURSA

EFEK INDONESIA PADA TAHUN 2012-2014 Ilham Dita1, Rika Desiyanti2, Nailal Husna2.

1Department of Management, Faculty of Economic, Bung Hatta University

2Lecturer of Management Department, Faculty of Economic, Bung Hatta University E-mail : [email protected],[email protected] dan [email protected]

Abstract

This study was made to find the effect of Debt to Equity Ratio (DER), Earning per share (EPS), Price to Book Value (PBV), Return on equity (ROE) on stock price. The sample on this research is all Automotive companies and Components Companies that listed on Indonesia Stock Exchange (BEI) during the period of the study (2012-2014). This study using multiple regression analysis and hypothesis test using T-Test to test the partial regression coefficients and F-Test to test the collective effect, and the level of signfisicance is 5%.

The result and conclusion of this study was found that the Earning per share (EPS) and Price to Book Value (PBV) has a significant influence on stock price. While Debt to Equity Ratio (DER), Debt Return on Equity (ROE) has no significant effect on stock price.

While collective variables have a significant effect on stock price.

Keywords: Debt to Equity Ratio (DER), Earning per share (EPS), Price to Book Value (PBV), Return on equity (ROE), Stock Price.

Pendahuluan

Dunia bisnis pada saat sekarang ini mengalami perkembangan pesat, dapat dilihat dari banyaknya perusahaan- perusahaan baru yang bermunculan dengan keunggulan kompetitif. Menimbulkan persaingan bisnis yang sangat ketat sehingga setiap perusahaan harus mampu mengembangkan usahanya agar mampu bertahan dalam persaingan bisnis yang semakin ketat. Dalam mengembangkan usahanya perusahaan memerlukan tambahan modal yang bisa didapatkan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan memutuskan untuk Go-public.

Yang berarti perusahaan menjual sebagian sahamnya ke bursa atau pasar modal untuk mendapatkan tambahan modal dari luar.

Pasar modal banyak dimanfaatkan oleh Perusahaan-perusahaan yang mencari dana dalam jumlah besarserta dimanfaatkan para investor untuk menanamkan dananya. Pasar modal dibentuk oleh berbagai bursa efek yang membentuk tempat transaksi untuk hutang maupun modal sendiri. Di indonesia sendiri kita mengenal Bursa Efek Indonesia atau biasa juga di sebut BEI.

Dalam Bursa Efek Indonesia ada beberapa pilihan investasi yang di tawarkan. Salah satunya adalah saham.

Saham merupakan sekuritas yang memberikan penghasilan yang tidak tetap bagi pemiliknya. Dengan mengetahui hal tersebut maka para investor akan berhati-

(2)

2 hati untuk memilih saham dari perusahaan

yang akan di belinya.

Harga saham sering berubah-ubah menyesuaikan dengan tingkat penawaran dan permintaan saham. Permintaan terhadap saham di pengaruhi oleh berbagai informasi yang dimiliki atau di ketahui para investor mengenai perusahaan Emiten, salah satunya adalah informasi keuangan perusahaan tercermin dari laporan keuangan Perusahaan. dengan melihat laporan keuangan para investor bisa mengetahu secara pasti tentang keadaan perusahaan Emiten.

Dalam Bursa Efek Indonesia terdapat beberapa sektor yang tercatat yaitu, sektor pertanian, sektor pertambangan, sektor industri dasar dan kimia, sektor aneka industri, sektor industri barang konsumsi, sektor property dan real estate, sektor infrastruktur utilitas dan transportasi, sektor keuangan dan jasa, dan sektor perdagangan jasa dan investasi. Dari beberapa sektor ini, penulis memilih fokus terhadap sektor Aneka Industri. Dari sektor aneka industri terdapat lagi beberapa sub sektor.

Tabel 1 merupakan tabel pertumbuhan harga saham aneka industri dari tahun 2012 sampai 2014. Dalam sektor aneka industri terdapat tiga subsektor yaitu otomotif dan komponen, tekstil dan garment, dan kabel. Dari ke tiga subsektor ini, subsektor otomotif dan komponen merupakan subsektor yang mengalami pertumbuhan harga saham yang paling rendah. Pada subsektor otomotif dan komponen ini memiliki nilai rata-rata pertumbuhan harga saham sebesar -21,59%, yang berarti pertumbuhan harga saham pada subsektor ini menurun sebesar 21,59% tiap tahunnya dari 2012 sampai 2014. Sedangkan pada subsektor tekstil dan garment rata-rata mengalami kenaikan harga saham sebesar 3,62% tiap tahun dari 2012 sampai 2014. Dan pada subsektor kabel terjadi peningkatan yang paling tinggi dari ketiga subsektor yang berada dalam sektor aneka industri, yaitu terjadi rata-rata peningkatan dari tahun 2012 sampai 2014 sebesar 23.19%.

Dari penjelasan tabel 1, subsektor yang mengalami pertumbuahan yang paling baik adalah subsektor kabel.

Sedangkan yang mengalami pertumbuhan yang paling buruk terjadi pada subsektor otomotif dan komponen. Dari itu semua maka penulis tertarik untuk memilih subsektor otomotif dan komponen sebagai objek penelitian.

(3)

3 Menurut Desiyanti (2009) ada dua

pendekatan dalam menganalisis pasar, yakni analisis teknikal dan analisis fundamental. analisis fundamental merupakan analisis yang menggunakan laporan keuangan perusahaan sebagai acuan dalam memprediksi harga saham yang akan di beli. Informasi yang tersaji dalam laporan keuangan belum memberikan informasi yang optimal sebelum dilakukan analisis lanjutan, salah satunya dalam bentuk analisis rasio keuangan. Analisis atas rasio keuangan menggambarkan suatu analisis yang membandingkan angka-angka yang tercantum di laporan keuangan perusahaan.

Sebelumnya telah banyak dilakukan penelitian mengenai saham, dengan variabel yang beragam seperti : ROE, ROA, CR, PER, DER, EPS, PBV dan masih banyak variabel lainnya. Dari beberapa variable, peneliti memilih variable DER, EPS, ROE, dan PBV.

Dari tabel 2 dapat dilihat hasil rata- rata pertumbuhan DER, EPS, PBV, dan ROE pada tahun 2012 - 2014. Dari hasil

nilai rata-rata pertumbuahan tabel 2 DER pada tahun 2012 mengalami penurunan sebesar 18,47% namun pada tahun berikutnya mengalami kenaikan sebesar 10,65% dan kembali mengalami penurunan sebesar 0,70% dan apabila dirata-ratakan maka nilai pertumbuhan DER menurun sebesar 2,37% per tahun.

Bila membandingkan tabel 1 dan tabel 2 terdapat pertentangan dengan teori.

Lasni (2010) mengatakan bahwa DER berpengaruh negatif terhadap harga saham.

Dengan kata lain semakin tinggi nilai DER suatu perusahaan maka harga saham akan semakin menurun begitupun sebaliknya.

Dengan menurunnya nilai DER pada suatu perusahaan akan berdampak positif terhadap harga saham, dengan kata lain harga saham akan meningkat. Namun dapat kita lihat dari tabel 1.1 harga saham pada perusahaan otomotif dan komponen mengalami penurunan harga saham yang mencapai angka 21,59% per tahun.

Hijriah (2007) mengatakan bahwa EPS berpengaruh positif terhadap harga saham. Yang berarti apabila EPS meningkat maka harga saham juga

(4)

4 meningkat atau naik, begitupun sebaliknya.

Kalau dilihat dari tabel 1.2 angka pertumbuhan EPS berfluktuasi, namun nilai rata-rata pertumbuhannya masih tergolong meningkat sebesar 7,90% per tahunnya. Namun bila dibandingkan dengan tabel 1.1 harga sahamnya malah menurun sebesar 21,59% per tahunnya.

Dewi (2013) mengatakan PBV berpengaruh positif terhadap harga saham.

Yang berarti apabila PBV meningkat maka harga saham juga meningkat atau naik, begitupun sebaliknya. Kalau dilihat dari tabel 1.2 angka rata-rata pertumbuhan PBV per tahun naik sebesar 2,57%. Namun bila dibandingkan dengan tabel 1.1 rata-rata harga saham tahunan malah menurun sebesar 21,59% per tahun.

Lasni (2010) mengatakan bahwa ROE berpangaruh positif terhadap harga saham. Yang berarti apabila ROE meningkat maka harga saham juga meningkat atau naik, begitupun sebaliknya.

Dan kalau dilihat pada tabel 1.2 maka dapat dilihat angka pertumbuhan rata-rata

ROE per tahun mangalami kenaikan sebesar 24,27%. Namun bila dibandingkan dengan harga saham yang berada pada tabel 1.1, maka dapat dilihat bahwa nilai rata-rata pertubuhan harga saham malah menurun sebesar 21,59% per tahaunnya.

Jadi dari beberapa permasalahan ketidaksesuaian tabel 1.1 dengan tabel 1.2 maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini.

Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengaruh DER

terhadap harga saham pada persahaan otomotif dan komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2. Untuk mengetahui pengaruh EPS terhadap harga saham pada persahaan otomotif dan komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3. Untuk mengetahui pengaruh PBV terhadap harga saham pada persahaan otomotif dan komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

4. Untuk mengetahui pengaruh ROE terhadap harga saham pada persahaan otomotif dan komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

(5)

5

LANDASAN TEORI DAN

PENGEMBANGAN HIPOTESIS Pasar modal

Menurut Desiyanti (2008) pasar modal didefenisikan sebagai tempat bertemu pihak-pihak yang kelebihan dana dan pihak-pihak yang membutuhkan dana.

Oleh sebab itu dalam sebuah pasar modal ditawarkan sekuritas yang dapat di perjual belikan. sekuritas yang ditawarkan di dalam pasr modal adalah saham, obligasi, reksa dana dan sekuritas derivatif. Dari sekian banyak yang ditawarkan saham merupakan sekuritas yang paling diminati.

Sartono (2001) mengatakan pasar modal adalah tempat terjadinya transaksi asset keuangan jagka panjang atau long term asset. Jenis surat berharga yang diperjualbelikan di pasar modal memiliki jangka waktu jatuh tempo lebih dari satu tahun. Pasar modal memungkinkan terpenuhinya kebutuhan jangka panjang untuk investasi jangka panjang.

Saham

Yunilma (2013) mengatakan saham merupakan bukti kepemilikan pada suatu perseroan terbatas yang mana pemegang sahamnya merupakan pemilik perusahaan.

Dengan memiliki perusahaan tentunya pemegang saham mempunyai hak atas yang dimilikinya. Hak-hak pemegang saham diantaranya adalah hak suara, hak pembagian laba, hak pembagian harta jika

perusahaan di likuidasi dan hak untuk mempertahankan proporsi kepemilikan dalam suatu perseroan terbatas.

Harga Saham

Pengertian harga saham

Harga saham merupakan persepsi investor mengenai keberhasilan kinerja perusahaan menggunakan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Dari hal ini perusahaan yang go public akan lebih berhati-hati untuk menjaga kinerjanya tetap bersih atau stabil sehingga harga sahamnya bisa stabil di bursa.

Menurut Sartono (2001) harga saham yang terbentuk di pasar modal ditentukan oleh beberapa faktor seperti laba per lembar atau earning per share, rasio laba terhadap earning ratio, tingkat bunga deposito pemerintah dan tingkat kepastian operasi perusahaan. dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa harga saham akan terbentuk dari adanya transaksi yang terjadi di pasar modal yang di tentukan permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan.

Harga Pasar Saham (Market Price) Market Price merupakan harga pada pasar riil, dan merupakan harga yang paling mudah ditentukan karena merupakan harga dari suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung atau jika pasar sudah tutup, maka harga pasar adalah harga penutupannya atau closing price

(6)

6 (Aronaga dan Pakarti, 2006). Harga ini

terjadi setelah saham tersebut tercatat di bursa, baik bursa utama maupun over the counter market (OTC). Harga pasar ini merupakan harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain, dan di sebut sebagai harga di pasar sekunder.

Harga pasar inilah yang menentukan naik- turunnya suatu saham dan setiap hari diumumkan di surat kabar ataupun media- media lainnya.

Return On Equity (ROE)

Return On Equity merupakan bagian dari total profitabilitas yang dialokasikan ke pemegang saham. Seperti di ketahui pemegang saham mempunyai klaim residual atas keuntungan yang di peroleh perusahaan pertama yang akan di di pakai untuk membayar bunga hutang, kemudian saham preferen, baru kemudian (kalau ada sisa) diberikan kepada pemegang saham biasa (Darmayati, 2008).

Return on equity merupakan indikator yang di gunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba atas sejumlah investasi yang dilakukan investor. Syamsuddin (2009) berpendapat bahwa ROE merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferen) atas modal yang mereka investasikan di dalam perusahaan.

Earning Per Share (EPS)

Menurut Sartono (2001) earning per share adalah rasio yang memperlihatkan besarnya nilai rupiah per lembar saham yang di terima pemegang saham di bandingkan dengan jumlah saham yang beredar. Semakin banyak lembar saham yang dimiliki emiten maka semakin besar hasil yang di dapat.

Semakin besar earning per share memperlihatkan semakin meningkatnya kemampuan perusahaan dalam menjaga kemakmuran pemegang sahamnya.

Dengan makmurnya pemegang saham akan menaikkan harga perlembar saham dari perusahaan dibursa.

Price Book To Value (PBV)

PBV termasuk dalam rasio penialian pasar, Rasio ini bermanfaat untuk mengukur kemampuan menajemen dalam menciptakan nilai pasar yang melampaui pengeluaran investasi. Rasio penilaian merupakan ukuran yang paling lengkap tentang prestasi perusahaan, karena mencerminkan rasio resiko dan rasio pengembalian. Rasio ini sangat penting karna rasio ini berkaitan langsung dengan tujuan memaksimumkan nilai perusahaan dan kekayaan para pemegang saham. Salah satu bagian dari rasio ini adalah Price to Book Value (PBV). PBV merupakan penilaian pasar yang menunjukkan seberapa jauh sebuah perusahaan mampu

(7)

7 menciptakan nilai perusahaan yang relatif

terhadap modal yang di investasikan (Sugiarto, 2011).

Debt to Equity Ratio (DER)

Menurut Sartono (2001) debt to equity ratio adalah perbandingan antara total hutang atau kewajiban perusahaan dengan modal yang berasal dari ekuitas (equity). DER merupakan rasio keuangan yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk membayar kembali hutang yang ada dengan menggunakan modal atau ekuitas yang ada.

Tujuan dari rasio ini adalah untuk mengukur bauran dana dalam neraca dan membuat perbandingan antara dana yang di berikan oleh pemilik (ekuitas) dan dana yang dipinjam (hutang) (Walsh, 2003).Semakin tinggi nilai DER perusahaan semakin tinggi pula resiko yang akan di hadapi oleh perusahaan.

PENGEMBANGAN HIPOTESIS Pengaruh DER terhadap harga saham

Debt to Equity Ratio (DER) digunakan untuk mengukur tingkat leverage (penggunaan hutang) terhadap total ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. rasio ini diukur dengan cara membandingkan antara total hutang dengan ekuitas. Semakin tinggi rasio ini maka akan mempunyai dampak buruk bagi perusahaan karena rasio ini

menggambarkan tingkat hutang perusahaan.

Lasni (2010) menemukan hasil bahwa DER berpengaruh negatif terhadap harga saham. Norohito (2009) membuktika bahwa DER berpengaruh negatif terhadap harga saham. Dewi (2013) membuktikan bahwa DER berpengaruh signifikan negatif terhadap harga saham

Berdasarkan penelitian di atas maka dapat di ajukan hipotesis sebagai berikut :

H1 : Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif terhadap harga saham.

Pengaruh EPS terhadap harga saham Earning Per Share (EPS) merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar keuntungan atau return yang di peroleh investor atau pemegang saham per saham. Hijriah (2007) membuktikanbahwa EPS berpengaruh positif terhadap harga saham. Norohito (2009) membuktikan bahwa EPS berpengaruh positif terhadap harga saham.

Dewi (2013) membuktikan bahwa EPS berpengaruh signifikan positif terhadap harga

Berdasarkan penelitian tersebut maka dapat di ajukan hipotesis, sebagai berikut : H2 : Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif terhadap harga saham.

Pengaruh PBV terhadap harga saham PBV digunakan umtuk mengetahui seberapa besar harga saham yang ada di

(8)

8 pasar dibandingkan dengan nilai buku

sahamnya. Semakin tinggi nilai rasio ini semakin besar tambahan kekayaan yang dinikmati pemilik perusahaan. Dewi (2013) membuktikanbahwa PBV berpengaruh positif terhadap harga saham.

Yuliaty (2008) membuktikanbahwa PBV tidak berpengaruh positif terhadap return saham. Lasni (2010) membuktikanbahwa PBV berpengaruh positif terhadap harga saham. Pasaribu (2008) membuktikan bahwa PBV berpengaruh positif terhadap harga saham.

Berdasarkan penelitian tersebut maka dapat di ajukan hipotesis, sebagai berikut : H3 : Price to Book Value (PBV) berpengaruh positif terhadap harga saham.

Pengaruh ROE terhadap harga saham Return on equity merupakn bagian dari profitabilitas yang di alokasikan ke pemegang saham. Seperti di ketahui pemegang saham mempunyai klaim residual atas keuntungan yang di peroleh oleh perusahaan. Lasni (2010) membuktikan bahwa ROE berpengaruh positif terhadap harga saham. Hijriah (2007) membuktikanbahwa ROE berpengaruh positif terhadap harga saham.

Pasaribu (2008) membuktikanbahwa ROE tidak berpengaruh positif terhadap harga saham.

Berdasarkan penelitian tersebut maka dapat di ajukan hipotesis, sebagai berikut :

H4 : Return On Equity (ROE) berpengaruh positif terhadap harga saham.

METODOLOGI PENELITIAN Populasi Dan Sampel

Menurut Sugiyono (2014) populasi adalah kesimpulan data yang menjadi objek dan mempunyai kualitas, karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua perusahaan yang tergabung dalam subsektor otomotif dan komponen di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2014.

Menurut Arikunto (2013) sampel adalah bagian dari populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti). Dalam penelitian ini yang menjadi sampel seluruh perusahaan subsektor otomotif dan komponen yang berada di Bursa Efek Indonesia. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode sensus

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, yaitu dengan mengadakan pencatatan dan penelaahan terhadap aspek-aspek atau dokumen- dokumen yang berhubungan dengan objek penelitian ini.

(9)

9 Defenisi Operasional dan Pengukuran

Variabel

Variabel Terikat (Y) (Harga Saham) Harga saham merupakan persepsi investor mengenai keberhasilan kinerja perusahaan menggunakan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Dari hal ini perusahaan yang go public akan lebih berhati-hati untuk menjaga kinerjanya tetap bersih atau stabil sehingga harga sahamnya bisa stabil di bursa. Menurut Sartono (2001) harga saham yang terbentuk di pasar modal ditentukan oleh beberaa faktor seperti laba per lembar atau earning per share, rasio laba terhadap earning ratio, tingkat bunga deposito pemerintah dan tingkat kepastian operasi perusahaan. Harga saham dapat di hitung dari harga saham penutupan hari terakhir tahun (closing price) (Setianingrum, 2009).

Variabel Bebas (X)

Debt to Equity Ratio (DER)

Menurut Sartono (2001) debt to equity ratio adalah perbandingan antara total hutang atau kewajiban perusahaan dengan modal yang berasal dari ekuitas (equity). Untuk mengukur debt to equity ratio dapat dicari dengan rumus :

Earning per share (EPS)

Menurut Sartono (2001) earning per share adalah rasio yang

memperlihatkan besarnya nilai rupiah per lembar saham yang di terima pemegang saham dibandingkan dengan jumlah saham yang beredar. Secara umum earning per share dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :

Price Book to Value (PBV)

PBV digunakan umtuk mengetahui seberapa besar harga saham yang ada di pasar dibandingkan dengan nilai buku sahamnya.semakin tinggi nilai rasio ini semakin besar tambahan kekayaan yang dinikmati pemilik perusahaan. PBV merupakan penilaian pasar yang menunjukkan seberapa jauh sebuah perusahaan mampu menciptakan nilai perusahaan yang relatif terhadap modal yang di investasikan (Sugiarto, 2011).

Secara umum PBV dapat di cari dengan rumus sebagai berikut :

Return on equity (ROE)

Return on equity merupakan indikator yang di gunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba atas sejumlah investasi yang di lakukan investor. Syamsuddin (2009) berpendapat bahwa ROE merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik

(10)

10 pemegang saham biasa maupun pemegang

saham preferen) atas modal yang mereka investasikan di dalam perusahaan. Secara umum return on equity dapat di cari dengan menggunakan rumus :

Metode Analisis Data Regresi Linear Berganda

Untuk menguji hipotesis adanya pengaruh DER, EPS, PBV dan ROE terhadap harga saham pada perusahaan otomotif dan komponen yang terdaftar di bursa efek indonesia pada tahun 2011-2014 maka digunakan alat uji statistik yaitu regresi linear berganda yang dapat di rumuskan :

Y= α + b1 X1+ b2 X2+ b3 X3+ b4 X4+ ℮ Keterangan :

Y = harga saham α = konstanta

b1-b4 = koefisien regresi X1 = DER

X2 = EPS X3 = PBV X4 = ROE

℮ = Kesalahan pengganggu HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan tahapan pengolahan data yang telah dilakukan diperolah ringkasan statistik deskriptif dari masing-

masing variabel penelitian yang digunakan seperti pada Tabel 3 dibawah ini:

Pada Tabel 3 terlihat bahwa masing-masing variabel penelitian memiliki nilai maksimum yang terlalu tinggi, nilai minimum yang terlalu rendah yang menunjukkan rentang yang terlalu tinggi, sehingga data antar perusahaan memiliki varian yang lebih tinggi.

Analisis Model Regresi dan Penguji Hipotesis

Setelah seluruh varibel berdistribusi normal dan terbebas dari masing-masing gejala asumsi klasik maka pembentukan model regresi linier berganda dengan menggunakan model pool least square dapat dilakukan. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan dengan menggunakan bantuan program Eviews maka dapat diperoleh hasil terlihat pada Tabel dibawah ini:

(11)

11 Pada Tabel 4 tersebut terlihat

bahwa masing-masing variable penelitian telah memiliki koefisien regresi yang dapat dibentuk kedalam sebuah model regresi berganda sepeti terlihat dibawah ini : Y = 968,2046 - 719,9986 + 5,629796 + 1738,326 - 55,93652

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pertama statistik pada variabel Debt to Equity Ratio (DER )(X1) diperoleh nilai koefisien regresi bertanda negatif sebesar -719,9986 dengan tingkat probability hasil pengujian t-statistik sebesar 0,2524. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai probability sebesar 0,2524>alpha 0.05 maka keputusannya adalah Ho diterima dan Ha ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa Debt to Equity Ratio (DER )tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham pada perusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Pengujian hipotesis kedua dilakukan menggunakan variabel Earning per share (EPS) (X2) diperoleh nilai

koefisien regresi bertanda positif sebesar 5,629796dengan tingkat probability hasil pengujian t-statistik sebesar 0,0001. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai probability sebesar 0,0001<alpha 0.05 maka keputusannya adalah Hoditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa Earning per share (EPS) berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham pada perusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Pengujian hipotesis ketiga dilakukan menggunakan variabel Price Book to Value (PBV) (X3) diperoleh nilai koefisien regresi bertanda positif sebesar 1738,326 dengan tingkat probability hasil pengujian t-statistik sebesar 0,0002. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai probability sebesar 0,0002<alpha 0.05 maka keputusannya adalah Hoditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa Price Book to Value (PBV) berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham pada perusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Pengujian hipotesis keempat dilakukan menggunakan variabel Return on equity (ROE) (X4) diperoleh nilai koefisien regresi bertanda negatif sebesar- 55,93652dengan tingkat probability hasil pengujian t-statistik sebesar 0,1359. Hasil

(12)

12 yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai

probability sebesar 0,1359>alpha 0.05 maka keputusannya adalah Ho diterima dan Ha ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa Return on equity (ROE) tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham pada perusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

PEMBAHASAN

Pengaruh Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER)Terhadap Harga Saham

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pertama ditemukan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di BEI. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mugiasih (2012) DER tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hasil yang diperoleh dalam tahapan pengujian hipotesis pertama tidak konsisten dengan uraian teori maupun hipotesis yang diajukan. Dimana menyatakan bahwa Debt To Equity Ratio (DER) akan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Harga Saham. Dari hasil pengujian hipotesis variabel Debt To Equity Ratio (DER) terbukti tidak signifikan terhadap Harga Saham.

Pengaruh Earning per share (EPS) Terhadap Harga Saham

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis kedua ditemukan bahwa Earning per share (EPS )berpengaruh signifikan terhadap Harga Sahamperusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di BEI. Temuan ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2013) menyimpulkan bahwa EPS berpengaruh signifikan positif terhadap harga saham.

Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspita (2011) menemukan hasil bahwa Earning per share (EPS) berpengaruh signifikan terhadap harga saham.Hasil yang diperoleh dalam tahapan pengujian hipotesis kedua konsisten dengan uraian teori maupun hipotesis yang diajukan dimana menyatakan bahwa Earning per share (EPS) dapat mempengaruhi Harga Saham dengan hubungan positif, namun hasil dari pengujian hipotesis membuktikan bahwa Earning per share (EPS) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Harga Saham.

Pengaruh Price Book to Value (PBV)Terhadap Harga Saham

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis ketiga ditemukan bahwa Price Book to Value (PBV) berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di BEI. Temuan ini sejalan

(13)

13 dengan penelitian yang dilakukan oleh

Dewi (2013) menyimpulkan bahwa PBV berpengaruh signifikan positif terhadap harga saham. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspita (2011) menemukan hasil bahwa Price Book to Value (PBV) berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hasil yang diperoleh dalam tahapan pengujian hipotesis ketiga konsisten dengan uraian teori maupun hipotesis yang diajukan dimana menyatakan bahwa Price Book to Value (PBV) akan berpengaruh pisitif dan signifikan terhadap Harga Saham. Dari hasil pengujian hipotesis variabel Price Book to Value (PBV)terbukti signifikan terhadap Harga Saham.

Pengaruh Return on equity (ROE) Terhadap Harga Saham

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis keempat ditemukan bahwa Return on equity (ROE) tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di BEI. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan olehPasaribu (2008) menyimpulkan bahwa ROE tidak berpengaruh terhadap harga saham. Hasil yang diperoleh dalam tahapan pengujian hipotesis keempat tidak konsisten dengan uraian teori maupun hipotesis yang diajukan dimana

menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai Return on equity (ROE)akan semakin mendorong nilai Harga Saham.

KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan kepada analisis dengan pembahasan hasil pengujian hipotesis maka dapat diajukan beberapa kesimpulan penting yang merupakan inti jawaban dari masalah yang dibahas didalam penelitian ini, yaitu:

1. Berdasarkan pengujian koefisien diterminasi diperoleh nilai sebesar 0,642700. Hal ini membuktikan bahwa variabel independen seperti Debt to Equity Ratio (DER) (X1), Earning per share (EPS) (X2), Price Book to Value (PBV) (X3), Return on equity (ROE) (X4) mampu memberikan kontribusi dalam mempengaruhi nilai Harga Saham sebesar 64% sedangkan sisanya 36% lagi dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak digunakan di dalam penelitian ini seperti Dividend Payout Ratio (DPR), Price Earning Ratio (PER), Earning Growth (EG), Current Ratio (CR) dan berbagai variabel lainnya.

2. Debt to Equity Ratio (DER)tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga

(14)

14 Saham perusahaan Otomotif dan

Komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3. Earning per share (EPS) berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

4. Price Book to Value (PBV) berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

5. Return on equity (ROE) tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan Otomotif dan Komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Keterbatasan dan Saran

Terdapat sejumlah keterbatasan yang peneliti rasakan dalam pembuatan skripsi ini, sehingga berdasarkan keterbatasan tersebut diajukan beberapa saran yang dapat memberikan manfaat positif bagi peneliti selanjutnya:

1. Jumlah tahun atau periode pengambilan sampel yang relatif pendek yaitu 2012-2014, sedangkan untuk tahun 2015 sudah bisa dilakukan penelitian lanjutan.

Sehingga disarankan untuk memperpanjang jumlah tahun atau periode pengambilan sampel

sehingga hasil yang didapatkan lebih akurat dan konsisten.

2. Masih terdapat sejumlah variabel yang mempengaruhi Harga Saham yang tidak digunakan dalam penelitian ini sehingga disarankan untuk menambahkan variabel lain seperti Dividend Payout Ratio (DPR), Price Earning Ratio (PER), Earning Growth (EG), Current Ratio (CR) maupun variabel lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharismi. 2013. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktek. Rineka, Jakarta.

Aronaga, pandji; Pakarti, Piji.2006.

Pengantar Pasar Modal, Cetakan ke lima, Edisi Revisi. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Darmayanti, Yeasy. 2008. Analisis Laporan Keuangan. Padang: Bung Hatta university Press. .

Desiyanti, Rika. 2009. Manajemen Investasi dan Portofolio buku 2.

Padang: Bung Hatta University press.

Dewi, Putu Din Aristya. 2013. Pengaruh

EPS, DER, dan PBV

TerhadapHargaSaham. Bali: E- jurnalAkuntansiUniversitasUdayana.

Hijriah, Almas. 2007. Pengaruh Faktor Fundamental Terhadap Harga Saham Properti dan Real Estate di BEJ.

Tesis, Medan: Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.

(15)

15 Lasni, Ledi. 2010. Analisis Faktor

Fundamental dan Resiko Sistematik Terhadap Harga Saham Pada Industri Dasar Kimia di BEJ. Tesis, Medan:

Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.

Norohito, Vernande. 2009. Analisi Faktor Fundamental dan Resiko Sistematik Terhadap Harga Saham pada Industri Properti dan Real Esatae di BEI.

Artikel, Universitas Gunadarma, Depok.

Pasaribu, Rowland Bismark Fernando.

2008. Pengaruh Variabel Fundamental Terhadap Harga Saham Perusahaan Go Public di BEI. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 2, No. 2 Sartono, Agus. 2001. Manajemen

Keuangan Teori dan Aplikasi.

Yogjakarta: BPFE.

Sugiarto, Agung. 2011. Analisis Pengaruh Beta, Size Perusahaan, DER dan PBV Ratio terhadap Return Saham.

Jurnal Dinamika Akuntasi, 3(1): h: 8- 14.e.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

Syamsuddin, Lukman. 2009. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Yuliaty, Erma. 2008. Pengaruh PER, PBV, NPM, GPM, dan DER Terhadap Return Saham periode Pengamatan 2001-2005. Jurnal Ekonomi danBisnis, 13(2): h: 54-59.

Yunilma. 2013. Akuntansi Keuangan 1.

Padang: Bung Hatta University Press.

http//: www.idx.co.id

http//: www.yahoofinance.com

Referensi

Dokumen terkait

Setelah melampaui tenggang waktu tertentu, terhadap suatu tindak pidana tidak dapat dilakukan penuntutan dengan alasan tindak pidana tersebut telah melewati batas

Perhitungan dan jurnal koreksi yang harus dibuat oleh perusahaan per 31 Desember 2011 Perhitungan dan jurnal koreksi yang harus dibuat oleh perusahaan per 31 Desember 2011.

Daerah yang mempunyai komponen bauran industri yang paling tinggi di Kabupaten Purworejo adalah Kecamatan Purworejo, artinya Kecamatan Purworejo lebih banyak berspesialisasi

Secara keseluruhan capaian kinerja Utama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020 sebesar 100,70% dapat dinyatakan berhasil. Hal ini dikarenakan indikator

Hasil analisis struktur yang diperlihatkan pada Gambar 13 menunjukkan bahwa terjadi konsentrasi tegangan yang sangat besar di beberapa lokasi plat, yang diperkirakan berada

Diskusi kelompok, berikan tanda (I), kegiatan yang dilakukan guru adalah memastikan anggota kelompok terdiri dari anak lambat dan cepat belajar agar yang cepat belajar dapat

Kesimpulan dari hasil temuan data peneliti adalah ada pengaruh dari tingkat pengetahuan label low fat high calcium terhadap tingkat kepercayaan pada produk susu

Leader / Manajer &#34;tidak hanya dapat menjadwalkan tugas ini, tetapi harus mempunyai waktu untuk menetapkan tujuan, Prioritas, mempertimbangkan hambatan, membekali