• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAMPUS DAN RENUNGAN UNTUK ACEH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KAMPUS DAN RENUNGAN UNTUK ACEH"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Prof. Dr. Ir. Yuswar Yunus, MP

____________________________________________

KAMPUS DAN RENUNGAN UNTUK ACEH

(Fenomena, Renungan, Tantangan dan Perubahan)

____________________________________________

SYIAH KUALA UNIVERSITY PRESS

(3)

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang keras memperbanyak, memfotocopy sebagian atau seluruh isi buku ini, serta memperjualbelikannya tanpa mendapat izin tertulis dari Penerbit.

Diterbitkan oleh Syiah Kuala University Press Darussalam – Banda Aceh, 23111

©2015, Penerbit Syiah Kuala University Press, Banda Aceh xxxii 714 hlm. 16 cm x 23 cm

Judul Buku : Kampus dan Renungan untuk Aceh Penulis : Prof. Dr. Ir. Yuswar Yunus, MP Editor : Haris Mustaqin, S. IP

Muhammad Irfan, A.Md Quratu Aini, S.Si, M.Pd Desain Cover : Haris Mustaqin, S. IP

Penerbit : Syiah Kuala University Press Telp (0651) 801222.

Email : [email protected] Cetakan kesatu : Desember 2015

ISBN : 978-602-1270-28-8

Anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI)

(4)

i

Tekat bulan melahirkan perbuatan yang nyata, Darussalam menuju kepada pelaksanaan cita-cita

Soekarno, 2 September 1959

(5)

ii

(6)

iii

UNSYIAH JANTOENG HATEE RAKYAT ACEH

(Agreditasi A – Nasional)

(7)

iv

(8)

v

Pintoe Aceh :

Dhiet hudep koen kareuna leue Ureung

Turie Teueh, Tapi Padum Leue Ureung Bahagia, kareuna

Meuturie dengon Geutanyoe…

(9)

vi

(10)

vii

SALAM PENERBIT

Pembangunan Aceh adalah salah satu amanah yang harus diimplementasikan oleh penguasa, sesuai dengan tuntutan zaman dan harapan rakyat. Buku Kampus dan Renungan untuk Aceh (Fenomena, Renungan, Tantangan dan Perubahan) adalah salah satu wujud kebersamaan agar Aceh harus memacu dirinya untuk percepatan pembangunan, sesuai tahapan-tahapannya.

Unsyiah Sebagai Jantong Hatee Rakyat Aceh, berkorelasi erat dengan pembangunan di Serambi Mekah, dimana percepatan pembangunan ingin dilihat dalam wujud nyata.

Aceh bukan milik kelompok atau bukan milik salah satu partai yang berkuasa, tetapi Aceh adalah peninggalan sejarah yang sangat panjang yang dititipkan oleh para indatu (leluhur) kita dan diamanahkan lewat mandat demokrasi, karena pemimpin dipilih oleh rakyat. Kerajaan Aceh Darussalam adalah salah satu kerajaan demokrasi, dimana lembaga legislatif juga dimiliki, terutama saat Sultanah Sri Ratu Safiatudin berkuasa selama 34 tahun (1641 – 1675).

Prof. Dr. Ir. Yuswar Yunus, MP telah mencoba menampilkan kembali sebagian tulisannya yang pernah dipublikasikan lewat opini harian Serambi Indonesia, maupun yang belum sempat dipublikasikan, namun ditemui di dalam buku ini. Judul dan isi buku ini sangat menarik untuk didiskusikan, karena menyangkut diri kita semua yang berteduh di bumi Serambi Mekah, tanah rencong yang dicintai.

Bagaimana nasib Aceh ke depan, patut direnungkan oleh anak bangsa

yang bermukim di Aceh maupun di luar Aceh. Sistem Politisasi Aceh hingga

budaya Aceh yang bakal compang camping ke depan serta pendangkalan akidah

yang tidak pernah mundur dan tidak pernah lepas dari program misionaris yang

terus menyerang Aceh. Pertahanan apa yang harus kita siapkan dari sekarang, agar

putra-putri Aceh tetap menganut agama nenek moyangnya, Islam sebagai agama

yang penuh dengan kebenaran. Itulah yang perlu kita titip kepada anak cucu kita,

agar mereka 50 tahun ke depan tetap berkiplat ke Masjidil Haram dan Aceh tetap

sebagai Serambinya.

(11)

viii

Globalisasi terus bergulir seirama dengan perjalanan waktu dan berbarengan pula dengan derap langkah untuk ingin menghancurkan agama Allah di bumi Serambi Mekah yang menyusup lewat pengembangan teknologi yang begitu cepat, pernahkah kita berpikir bagaimana untuk mengantisipasinya sejak dini ? Selain itu kekuasaan dan percepatan pembangunan selalu berkolerasi erat.

Sistem Politisasi di Aceh membutuhkan pendampingan agar ketidakpastian dalam realisasinya tidak terkesan lamban dan membutuhkan energi ekstra dari pihak kampus agar wujud pembangunan Aceh dapat dipercepat dalam prioritas.

Menariknya lagi, dalam buku ini diuraikan bagaimana korelasi yang erat antara kampus hijau yang dipatri lewat Fakultas Pertanian Unsyiah yang baru saja merayakan ulang tahun emasnya (50 tahun) dan kini usia tersebut sudah beranjak 51 tahun (2015) dan dengan kekompakan para alumninya untuk kembali ke kampus dan bersilaturrahmi dengan penisepuhnya, yaitu guru-guru mereka yang saling melepaskan kekangenan kepada para mahasiswanya yang berkunjung.

Karenanya, kepemimpinan Dr. Ir. Agussabti, M.Si sebagai dekan dua periode, perlu diakui karena sang Dekan ekstra mampu mengikat bathin para alumnus dan alumnanya untuk selalu berkumpul di kampus hijau untuk berreuni tiap ulang tahun ke almamaternya.

Kolaborasi antara kampus, pengusaha dan para petani serta nelayan ingin dimitrakan oleh Prof. Yuswar agar semua berada dalam satu kesatuan jihat untuk membangun sektor pertanian secara keseluruhan yang dilindungi oleh sektor kehutanan sebagai payung utama dan sektor lainnya sebagai pendukung serta mengawal kebijakan yang diprioritaskan, bersama LSM dan pemerintah harus berada dalam format Multi Stakeholder agar konsen serta mampu mewujudkan program Badan Otorita Pertanian Aceh (BOPA) yang sudah lama dicita-cita oleh Prof Yuswar Yunus, hingga Aceh perlu menyelamatkan biodiversitynya dalam wajud “Kebun Raya Leuser” (sudah lama diprogramkan), karena adanya perambahan hutan selalu terjadi tiap tahun dan ancaman banjir tahunan, sekaligus sebagai ancaman terhadap keanekaragaman hayati Aceh yang diprediksi bakal punah dan berada lengkap di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Semuanya dapat ditemui dalam kupasan buku ini.

Itulah harapan Prof. Yuswar Yunus lewat tulisannya di buku ini yang

telah menggugah kita untuk berpikir dan merenungkan secara mendalam tentang

nasib Aceh ke depan. Untuk ini peran kampus sangat berkompeten dan perlu

(12)

ix

berkolaborasi dengan pemerintah Aceh agar segera mencari solusinya. Kiranya buku ini bermanfaat untuk penguasa dan insan kampus dan kita semua, khususnya penyelamatan anak cucu kita sekarang dan ke depan. Salam hormat ….

Penerbit

(13)

x

(14)

xi

KATA PENGANTAR

Buku Kampus dan Renungan untuk Aceh (Fenomena, Renungan, Tantangan dan Perubahan) tidak bisa lepas dari motto : “ Unsyiah Jantoeng Hatee Rakyat Aceh ” . Adalah A. Hasjmy sang Gubernur, sebagai pencetus motto tersebut dan sekaligus sebagai pendiri Kopelma (Kota pelajar Mahasiswa) Darussalam bersama Brigjen Syamaun Gaharu (Pangdam I/Iskandar Muda yang pertama). Duet Hasjmy - Gaharu telah melahirkan pendidikan modern (1959) di Tanah Rencong – Bumi Serambi Mekah - plus bumi Iskandar Muda, raja di raja yang terkenal dengan ekspansinya untuk mengusir Portugis di Malaka (Malaysia) dan kekuasaaannya hingga ke Bengkulen (Bengkulu) dibawah Federasi Kerajaan Aceh Darussalam.

Kondisi perang antara kerajaan Aceh Darussalam vs Kerajaan Belanda (1873 – 1942) selama 69 tahun, dimana perang tidak berkesudahan dan tidak pernah berhenti serta terus berkecambuk, telah mengantar 4 (empat) perwira tinggi Belanda bersimbah darah, menemui ajalnya di Tanah Rencong dan menggemparkan dunia ketika itu. Dimulai dari Jenderal Mayor Kohler- Panglima Perang - pada ekspedisi pertama tersebut yang roboh dan gugur bersimbah darah (1873) di depan Masjid Raya Baiturrahman – Banda Aceh dan sangat memalukan, bahkan dalam perang dunia pertama (1914 – 1918) dan perang dunia kedua (1942 – 1945) tidak satupun jenderal yang gugur dalam pertempuran.

Masjid Raya Baiturahman yang indah dan megah serta banyak menyimpan sejarah panjang tersebut, dimana waktupun terus bergelinding, hingga sekarang (2015) Aceh sebagai Serambi Mekah, mulai membangun payung kembang kuncup sebagaimana di masjid Nabawi Madinah Al-Munawarah, dimana dalam pembangunan payung besar tersebut, telah menghilangkan pohon keutapang yang dikenal dengan batang Kohler (Kohler Bon) adalah sebagai jejak sejarah yang dibangun kembali duplikatnya (pohon tersebut ditanam kembali (1990) oleh Prof.

Dr. Ibrahim Hasan, MBA saat beliau menjadi Gubernur Aceh), disarankan agar

dublikat batang Keutapang yang telah dirobohkan tersebut, perlu ditanam kembali

untuk tidak melupakan/menghilangkan sejarah besar peperangan Aceh - Belanda

kepada anak cucu kita, bahwa Jenderal Mayor Kohler gugur bersimbah darah

dibawah pohon tersebut, akibat tembakan senjata serdadu kerajaan Aceh

(15)

xii

Darussalam yang gagah berani. Menyebabkan pasukan Belanda kembali ke Batavia pada agresi pertama yang gagal tersebut (1873).

Perang Aceh - Belanda yang tercatat dalam sejarah dunia, sebagai perang terpanjang dan telah banyak melahirkan para Pahlawan Nasional, seperti : Tengku Chik Di Tiro, Teuku Umar, Panglima Teuku Nyak Makam, Panglima Polem, Teuku Cut Ali, Teuku Angkasah, Cut Nyak Dhin, Cut Meutia, Cut Meurah Intan (dibuang ke Blora – Jawa Tengah), Poucut Baren, Tengku Fakinah, Tengku Fatimah, Pang Nanggroe dan Teuku Nyak Arief serta banyak para syuhada lainnya yang syahid sebagai kesuma bangsa.

Perang di Aceh tidak pernah berhenti, selain para pejuang yang gigih menyerang Belanda dan Jepang untuk kemerdekaan, hingga 1946 muncul revolusi sosial di Aceh yang banyak memakan korban jiwa dan 1953 meletus pula peristiwa Aceh (DI/TII) hingga 1962. Pada tahun 1965 banyak korban dari ekses pemberontakan G 30 S/PKI. Hingga pada tahun 1976 diproklamirkan Aceh Merdeka oleh Dr. Hasan Muhammad Tiro (cucu Pahlawan Nasional Tgk. Chik Di Tiro), bahwa Aceh ingin lepas dari Jakarta. NKRI yang mulanya diikat kuat oleh Kebhinnekaan, mulai goyah dengan datangnya perang antara TNI dan GAM yang berakhir dikursi politis dan meja perundingan di Helsinki - Swedia tahun 2005.

Aceh akhirnya diberikan otonomi khusus, mirip-mirip setengah federal. Namun setelah 10 tahun kemudian (2015) rakyat mulai bertanya, apa hasilnya ? Bisakah diukur dengan rumus pat gulipat ?

Kini Aceh, sejak 2007 dikuasai oleh mantan kombatan GAM.

Kepemimpinan dimulai dari Irwandi Yusuf sebagai gubernur (Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah) hingga sekarang Aceh dipimpin oleh Dokter Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf. Kepemimpinan yang dinilai “patut” dari sisi perjuangan GAM, maka keberadaan dan peran mereka tentu dilandasi oleh gaya yang fenomenal, beberapa program diantaranya perlu diberikan acungan jempol, terutama saat Irwandi Yusuf memimpin bersama Muhammad Nazar dan masa Zikir juga mulai membangun tahap demi tahap, walau terkesan lamban dan sering gonta ganti pejabat (Kepala Dinas/badan).

Namun semuanya tidak lepas adanya kebijakan Jakarta yang terkesan

kurang Ikhlas dengan UUPA/2006, orang-orang mengatakan ibarat kepala

dilepaskan - tetapi ekor masih dipegang erat-erat sehingga kebijakan apapun tetap

jalannya Senin – Kamis, sehingga pembangunan Aceh tetap tersendat. Dari

(16)

xiii

Kebijakan tentang kawasan hutan lindung, Pelabuhan Bebas Sabang hingga pembangunan Kereta Api Aceh serta lainnya, semuanya dinilai penuh dengan kepura-puraan.

Sebaliknya Pemerintah Aceh yang dipimpin oleh kombatan GAM, terutama Legislatifnya – eksekutif kelihatan kurang akur dan diantara mereka terlihat masih tetap membangkang dengan kebijakan-kebijakan yang tidak substantif, seperti MAT ALEE PUNTONG (terutama Tentang Bendera Aceh).

Padahal rakyat Aceh, berharap mengapa tidak dihidupkan kembali bendera kerajaan Aceh tempo doeloe yang lebih historika dari pada bendera yang masih tetap diusulkan dan mirip dengan bendera GAM tersebut ? Seharusnya para politisi Aceh tidak perlu bersitegang tentang politisasi dan format bendera, karena banyak agenda lainnya yang masih tercecer dan belum dikerjakan, terutama program kemiskinan yang menyengat hidung dan perlu diwujudkan segera, karena rakyat terus menunggu. Bendera kerajaan Aceh Darussalam tampaknya lebih diminati dan diterima oleh berbagai kalangan dan sebagai petuah untuk Pemersatu dalam falsafah keacehan yang sesungguhnya. Sultanpun dipastikan akan sangat setuju, jika bendera kerajaan dikibarkan kembali dan berdampingan dengan merah putih, yang memiliki korelasi erat antara keduanya.

Disisi lain, saat kondisi Aceh belum kondusif karena perang antara TNI – GAM terus berlangsung (1976 – 2005) hingga APBN menjadi bangkrut, konon menghabiskan anggaran pemerintah hingga Rp. 6,1 Trilyun saat Darurat Militer diberlakukan, Darurat Sipil dan Tertip Sipil serta tidak berbeda seperti bangkrutnya V.O.C karena perang Aceh – Belanda, terus berlangsung. Saat kondisi yang penuh ketegangan tersebut, tidak ada satupun rakyat yang berjuang untuk Aceh mengaku dirinya sebagai GAM, karena memang dicari oleh TNI.

Kecuali para pemimpin GAM di lapangan mereka sangat berani untuk terus mengecam musuhnya, baik lewat media cetak maupun lewat media elektronik.

Namun, setelah perdamaian antara RI dan GAM, maka banyak muncul

personal yang dahulunya bukan GAM, tetapi bersikap sebagai GAM (Gam-

Gaman). Model dengan sikap demikian dinilai sebagai AWAK LAP DARAH

(orang lain yang berperang, maka ia yang tampil, seolah-olah dialah sebagai

pejuang dan pembela GAM plus pembela Aceh). Salah satunya politisi di DPRA,

ia bukan mantan kombatan GAM, tetapi bersikap arogan dan jika berbicara

melebihi GAM yang sesungguhnya, dari pada mantan kombatan GAM (asli) yang

mungkin tersenyum simpul melihat tingkah polah anak manusia yang tentu sangat

(17)

xiv

over acting karena sikapnya yang penuh sensasi dan kepahlawanan di siang bolong (maaf agak sentimental).

Kondisi Aceh, dimana mantan kombatan GAM sebagai penguasa di Aceh yang dimulai sejak tahun 2007 hingga sekarang. Maka tidak salah, jika elite kombatan tersebut menguasai kepemimpinan di Aceh (sebagai penguasa), namun para pakar dari berbagai kampus di Aceh harus lebih pro aktif untuk tidak tinggal diam. Aceh memiliki ratusan pakar dari berbagai disiplin ilmu, harus dimanfaatkan oleh pemerintah Aceh untuk potong kompas dalam membangun, terutama Unsyiah, Unimal, UTU, Unsam dan UIN – Ar Ranirry, banyak pakar yang masih muda-muda dan umumnya alumnus luar negeri, tetapi berapa persen yang dipakai oleh pemerintah Aceh plus kabupaten sesuai kepakarannya ? atau berapa persen diantara pakar yang memiliki interes untuk membangun Aceh sebagai tumpah darah yang dicintainya ? Muncul lagi Unsam dan UTU sekarang berstatus sebagai PTN, fokus berkiprah untuk membangun Aceh dalam sinergisitas yang tidak berbeda.

Karenanya, perlu disimak buku Kampus dan Renungan Aceh (Fenomena, Renungan, Tantangan dan Perubahan) ini, agar kita semua perlu kembali mengintropeksi diri tentang keacehan kita, agar semua menjadi sadar bahwa pola pikir (mindset) kita perlu diubah, tidak perlu gagahan dengan kekuasaan di pemerintahan (jabatan) dan tidak perlu gagahan dengan titel yang besar di kampus, jika rakyat disekeliling kita masih hidup dibawah garis kemiskinan.

Seharusnya kita menjadi malu dengan kemiskinan. Boleh jadi Good Will atau Political Will pemerintah Aceh, kurang memperhatikan kemudahan SDA - SDM – SDF (Finansial) dan SDI (Sumberdaya Insani) Aceh, boleh jadi para pakar enggan untuk pro aktif. Belum lagi menjadi tontonan, ambisi beberapa personal yang belum tentu kredibel memperebutkan jabatan gubernur dan jabatan Kepala Dinas (SKPA), yang dipikirkan dalam ajang politisasi keacehan sekarang, adalah kepentingan kelompok untuk mengejar jabatan yang diambisiuskan, sehingga konsep ekonomi kerakyatan, kemiskinan dan infrastruktur serta infestasi menjadi tercecer dan terlupakan. Aceh masa depan tidak terpatroen dengan baik dalam sistematika pembangunan seutuhnya.

Sedangkan media cetak dan media elektronik terus melaporkan tentang

kemiskinan di pedesaan dan banjir tahunan yang terkesan tidak ada solusinya dari

tahun ke tahun. Karenanya mari kita renungkan bersama, agar pembangunan Aceh

tidak jalan ditempat. Banyak orang pintar dan cerdas di Aceh, tetapi terkesan tidak

(18)

xv

konsen dalam kebersamaan program untuk mewujudkan pembangunan yang nyata. Solusinya Musyawarah Perdamaian Aceh perlu diwujudkan untuk dijabarkan lebih rinci dan disosialisasikan, agar visi dan misinya serta realisasi program kerja, seharusnya jelas dan bermanfaat untuk rakyat, perlu diwujudkan untuk menyadarkan anak bangsa agar pembangunan Aceh perlu diprioritaskan untuk percepatan dalam prioritas, karena selama ini dinilai sangat lamban dan berleha-leha. Sehingga riak-riak kecilpun tidak muncul lagi, seperti manuver Din Minimi yang angkat senjata lagi, untuk menuntut janji-janji yang belum ditepati.

Lalu kitapun tidak bijak, trik-trik kecil yang mucul pada masa-masa perdamaian sekarang ini, tidak harus diselesaikan dengan pendekatan senjata. Persoalan Din Minimi adalah bahagian kecil dari ketidakpuasan yang dipertontonkan kepada khalayak, seharusnya bisa dinegosiasikan dengan baik.

Kadang-kadang kita jadi ingat, bagaimana pola kepemimpinan Orde baru di negeri ini. Walau Soeharto banyak dosanya di Serambi Mekah atas kebijakannya pada masa lalu, namun Soeharto sebagai presiden, beliau dinilai cerdas dalam memimpin negara walau menimbulkan rezim yang telah dicatat oleh sejarah bangsa. Beliau memanfaatkan para pakar dari Universitas Indonesia (UI) untuk berkolaborasi dalam pemerintahan. Hasilnya adalah konsep Era pembangunan 25 tahun dalam Repelita dapat direalisasikan. Tahapan-tahapan pembangunan dilakukan walau sifatnya Top Down dan bukan button up, namun cukup memberi arti dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Dibandingkan dengan Politik Mercuar Bung Karno, maka pembangunan yang terencana dan terukur lebih baik. Walau akhirnya berimbas kepada lahirnya para konglomerat yang juga berdampak positif dalam pembangunan bangsa, karena industri yang dimiliki banyak menampung tenaga kerja, akhirnya berdampak kepada kroni- kroninya yang tidak disukai.

Lalu bagaimana dengan Aceh ? Salah satu kesilapan yang diperbuat oleh

pemerintah Aceh selama ini, waktu penyusunan kabinet terlalu bertoleransi

kepada pemerataan pejabat yang dipertimbangkan keprimordialannya untuk diberi

kesempatan, padahal sang pejabat (SKPA) kurang memiliki leader yang

koperehensif dan kurang mampu untuk mewujudkan realisasi pembangunan,

seharusnya ukuran kemampuan dan pengalaman (kompetensi) harus menjadi

barometer sebagai syarat prioritas untuk dilantik, bahkan disinyalemenkan dalam

isu, untuk mendapatkan jabatan (SKPA) konon harus dengan membeli lewat

pelelangan jabatan yang tidak resmi atau ditender serta diproyeksi lewat aroma

(19)

xvi

politis. Mudah-mudahan sinyalemen tersebut tidak benar adanya (mungkin hanya isu saja).

Akhirnya, kepada Allah Swt jualah kita berserah diri. Janganlah Aceh masih terus lamban untuk membangun, jika mindset kita masih dikungkung oleh sifat keegoisan dan kedengkian (ku-eh) dan sifat primordial (awak geutanyoe) yang masih terus dipertahankan, maka pembangunan Aceh diyakini akan lamban jalannya. Tuntutan perubahan pasti akan terwujud dengan baik, sejauh kita selalu sadar untuk melihat ke belakang siapa diri kita yang sesungguhnya, sifat keacehan yang selalu menjunjung tinggi harga dirinya sangat baik, namun tidak perlu mengekslusifkan diri dengan melupakan tuntutan pembangunan untuk rakyat yang sudah lama menderita akibat perang.

Sebaliknya, Jakarta juga harus lebih bijak dalam menangani Aceh. Berapa besar dana yang pernah dikeluarkan untuk meredam pemberontakan GAM yang menuntut keadilan dan berapa besar nyawa anak bangsa yang telah dikorbankan untuk menyelesaikan persoalan Aceh agar cepat kondusif. Kita semua berharap agar peristiwa besar yang banyak menelan korban tersebut, agar tidak terulang lagi dan perdamaian di Aceh, kiranya tidak hanya menjadi slogan belaka, tetapi perlu menjaga keseimbangan dalam kotrat otonomi khusus yang sebenarnya. Kita berharap, kiranya Jakarta, tidak ego untuk melihat Aceh dengan hanya sebelah mata. Peristiwa demi peristiwa masa lalu, kiranya tidak akan berulang lagi dan kita semua wajib bersyukur bahwa Tsunami yang telah berlalu 11 tahun tersebut, hendaknya menjadi cemeti bagi kita semua, bahwa Allah Swt selalu mengontrol nasib kita, agar kita selalu tawadhuk untuk ingat kepada-Nya. Aceh harus lebih maju dari pada sebelumnya. Salam hormat…Terima kasih.-

Prof. Dr. Ir. Yuswar Yunus, MP

(20)

xvii

SAMBUTAN REKTOR UNIVERSITAS SYIAH KUALA

Apresiasi kami kepada Prof. Dr. Ir. Yuswar Yunus, MP , dimana buku “ Kampus dan Renungan untuk Aceh (Fenomena, Renungan, Tantangan dan Perubahan) “ tidak boleh lepas dari motto : “ Unsyiah Jantoeng Hatee Rakyat Aceh ”. Benar, sebagaimana harapan kita semua, bahwa keberadaan Unsyiah selayaknya harus menjadi motor penggerak pembangunan untuk Aceh, karena kampus adalah gudangnya para ilmuan.

Kami berharap, kiranya buku yang fenomenal isinya ini, mengulas tentang kondisi Unsyiah dan kondisi Aceh memiliki korelasi yang erat dalam mewujudkan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Tidak dapat dipisahkan antara kampus dan lingkungannya.

Harapan Prof. Yuswar Yunus, agar para cendekia kampus harus lebih banyak memberi kontribusi langsung untuk masyarakat, namun kita juga tidak boleh lupa, bahwa keberadaan Universitas adalah bagian dari realitas masyarakat itu sendiri. Integritas para pakar juga tidak bisa dipisahkan dengan lingkungan keilmuannya yang berkomunal dengan masyarakat.

Sebab sasaran etos kerja keilmuan bukanlah gelar Profesor atau gelar Doktor (pakar/ahli) yang disandangnya, melainkan seberapa jauh aktifitas keilmuan yang mampu diaplikasikan. Itu bedanya “Memasyarakatkan Pendidikan

& Mendidik Masyarakat”. Begitu penting untuk mengapresiasi betapa agung kebutuhan akan disiplin keilmuan, untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dari berbagai sisi : Pendidikan, kesehatan, agama, lingkungan, Pertanian, Prekonomian dan lain-lainnya, sehingga masyarakat hidup layak dan tidak berada dibawah garis kemiskinan. Tidak berbeda dengan pembangunan Aceh, harus menjadi prioritas dalam tahapan-tahapan taktis dan strategis untuk pembangunan jangka menengah maupun jangka panjang.

Cendekiawan dan teknokrat yang kreatif, tentu tidak dapat melepaskan

dirinya dari berbagai dimensi lingkungannya. Keberadaan para pakar di kampus,

tidak pernah memposisikan dirinya dalam struktur kasta sosial budaya masyarakat

dengan tradisi ketimurannya, melainkan harus melakukan terobosan-terobosan

untuk perubahan dan wujud pembangunan dalam realitasnya, sebagaimana

(21)

xviii

harapan Prof. Yuswar Yunus dalam buku “ Kampus dan Renungan untuk Aceh “ ini yang perlu dibaca oleh semua kita, terutama oleh para mahasiswa.

Para mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai disiplin ilmunya, namun perlu membaca berbagai artikel atau tulisan yang bermanfaat untuk menambah wawasan, karena berbagai bacaan tersebut, akan memotifasi para calon sarjana dan Pascasarjana untuk lebih fleksibel dalam hidup bermasyarakat dan akan lebih menimbulkan minat untuk mengabdi kepada perubahan dari berbagai fenomena kehidupan yang terjadi, perlu direnungkan bersama sebagai tantangan dalam mencari solusinya sebagai perubahan dan target yang diinginkan untuk mengisi pembangunan.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Prof. Yuswar Yunus yang telah banyak mewujudkan karya tulisnya, terutama di media cetak dan penulisan buku ajar untuk pengembangan ilmu, dimana Prof Yuswar selalu mengingatkan kita, terutama mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa agar mampu mengenal dirinya, lewat kultur Aceh atau budaya ketimurannya yang Islami. Mari membangun Unsyiah dan membangun Aceh dengan keikhlasan, kejujuran dan kebersamaan. Terima kasih.-

Banda Aceh, 29 Oktober 2015 UNIVERSITAS SYIAH KUALA, Rektor,

Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M. Eng

NIP : 19620808 198803 1 003

(22)

xix

SAMBUTAN KETUA ALUMNI UNIVERSITAS SYIAH KUALA

Hormat dan salut kami kepada kanda, Prof. Dr. Ir. Yuswar Yunus, MP kini telah melahirkan lagi buku baru yang aktual, berjudul “Kampus dan Renungan untuk Aceh (Fenomena, Renungan, Tantangan dan Perubahan)“ isi buku ini, telah menggugah kita untuk melihat diri kita yang sesungguhnya, diri keacehan kita dari sejarah yang sangat panjang sebagai bangsa besar yang berdiam di bumi Iskandar Muda yang mencintai perdamaian.

Penghormatan kami kepada para ilmuan dan guru-guru kami di kampus, dimana buku “ Kampus dan Renungan untuk Aceh “ ini, merupakan salah satu kecintaan para intelektual kampus untuk pembangunan Aceh yang konon harus dipacu dalam implementasinya dan yang patut disadari benar oleh putra terbaik bangsa dan abdi negera lainnya, bahwa Damai Aceh yang didengungkan, adalah benar-benar Indah dalam kehidupan bernegara dan berbangsa .

Karenanya, buku karya kanda Prof. Dr.Ir. Yuswar Yunus, MP ini, (mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian Unsyiah) dan Dewan Pakar Korps Menwa Indonesia – Propinsi Aceh, dimulai dengan Sikapur Sirih sebagai pembuka wawasan dan penghayatan, semua kita perlu bertafakur karena adanya musibah Tsunami yang telah berlalu dalam usia 11 tahun lalu, Fenomena kampus Jantoeng Hatee sebagai kampus perjuangan, Martabat Aceh yang dahulunya kian terpuruk, kini terangkat kembali setelah perdamaian, kondisi Pertanian dalam aspek ekonomi yang perlu terus dipacu dan ditingkatkan untuk mencegah kemiskinan Aceh dan hutan Aceh yang mendatangkan banjir tahunan serta Keheroikkan Aceh dalam perjuangan, hingga ke asal usul Prof Yuswar Yunus yang menarik untuk disimak dalam tatanan kehidupan keacehannya. Semuanya dilukis dalam buku ini yang menyadarkan kita semua bahwa hidup ini penuh dengan fenomenal dalam dinamika kehidupan.

Isi buku yang dipaparkan, bukanlah kamuflase, tetapi benar-benar sebagai kecintaan antar sesama, khususnya mereka yang dahulu sama-sama berada dalam desingan peluru perjuangan, kini semua berada dalam nuansa dan alunan martabat perdamaian dengan lambang falsafah Kecintaan kepada tanah tumpah persada.

Perhormatan kepada sesama adalah kedamaian yang harus dimulai, karena

(23)

xx

kesadaran kita sesama, melangkah untuk berpikir (bernalar) untuk menghentikan perpecahan, hingga akhirnya untuk mengisi pembangunan Aceh, harus dimulai kembali dengan Ilmu Pengetahuan dengan pakarnya, dimana gudangnya ada di kampus-kampus di seluruh Aceh dan di seluruh persada tanah air tercinta.

Kami berharap buku Kampus dan Renungan untuk Aceh, perlu dibaca oleh para Alumnus dan Alumna Unsyiah serta oleh para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu, terutama untuk menambah wawasan dan penyadaran kita semua bagaimana perjalanan Aceh yang heroik sebagaimana telah digambarkan oleh Prof Yuswar Yunus, karena perjalanan kita masih jauh dalam mengisi pembangunan, terutama para generasi muda harus berjuang keras untuk mewujudkan cita-cita pembangunan, karena generasi muda adalah pemimpin masa depan.

Akhirnya, apresiasi kami kepada Unsyiah yang berakreditasi A dan kepada kanda Prof. Yuswar Yunus, kiranya buku ini bermanfaat untuk pengembangan kampus di seluruh Aceh dan nusantara yang maha luas serta berdayaguna dalam pembangunan Aceh yang dicintai plus pembangunan Indonesia seutuhnya…Terima Kasih dan Salam hormat.-

Banda Aceh, 30 Oktober 2015 KETUA ALUMNI

UNIVERSITAS SYIAH KUALA,

Drs. Sulaiman Abda, M. Si

Wakil Ketua DPR Aceh

(24)

xxi

SAMBUTAN DEKAN

FAKULTAS PERTANIAN UNSYIAH

Buku “Kampus dan Renungan untuk Aceh” adalah salah satu wujud kecintaan Prof. Dr. Ir. Yuswar Yunus, MP kepada almamaternya dan kecintaan beliau kepada tanah kelahirannya, Aceh ; yang diramu begitu bagus lewat keberadaan kampus Syiah Kuala. Momentum keluarnya buku ini kami nilai sangat tepat, bersamaan dengan - 10 Tahun Peringatan Damai Aceh – dan – 11 Tahun Usia Tsunami yang telah memberi hikmah kepada kita semua.

Buku ini menarik untuk dibaca, karena Prof. Yuswar Yunus, telah melihat Aceh secara menyeluruh, terutama beliau ikut mengupas tentang kondisi Aceh yang berhubungan erat dengan kehidupan masyarakat Aceh yang hidup dibawah garis kemiskinan (18,05 %), semuanya tidak dapat dipisahkan dengan kondisi perekonomian kita, dimana sektor pertanian sebagai salah satu aspek ekonomi dan menjadi tumpuan harapan untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat di pedesaaan. Lebih jauh Prof Yuswar juga mengkorelasikan antara kehidupan kampus dengan kondisi lingkungannya yang memiliki hubungan erat untuk tidak boleh dipisahkan dengan kondisi Aceh yang butuh uluran tangan para pakar kampus untuk membangun Aceh Pasca Tsunami dan Pasca Perdamaian dan bagaimana mengisinya untuk mempercepat pembangunan.

Prof Yuswar mengajak kita untuk bertafakur dalam wujud 10 tahun perdamaian Aceh dan 11 tahun usia Tsunami, bagaimana perjalanan yang telah kita tempuh sebagai fenomena untuk mengisi pembangunan dan hubungannya dengan kondisi kebijakan dan kepemimpinan Aceh yang membutuhkan sinergisitas tinggi untuk melihat masa lalu, masa sekarang dan prediksi jauh ke depan, agar Aceh berkembang cepat dalam realitas pembangunan yang nyata.

Para mahasiswa kami harapkan, bahwa kehidupan di kampus tidak hanya

mengkonsentrasikan diri kepada ilmu yang diperoleh, namun perlu juga selalu

responsive terhadap lingkungan sekitarnya yang dapat mempengaruhi pola pikir

(mindset) kita semua. Pola hidup yang bersih sangat diharapkan dengan hanya

mengharapkan ridha-Nya, sehingga apa yang kita cita-citakan akan mendapat

rahmad dari Allah Swt.

(25)

xxii

Kami sarankan, agar para mahasiswa perlu mengikuti jejak Prof Yuswar Yunus, karena sejak muda beliau gemar membaca dan gemar untuk menulis serta dalam dokumentasi di Fakultas Pertanian Unsyiah, beliau pernah meraih penghargaan sebagai Mahasiswa Teladan Unsyiah selama dua tahun berturut-turut (1977 dan 1978) dan mendapat apresiasi langsung dari menteri P dan K (Prof Syarief Thaib dan Dr. Daud Josoef) saat wisuda dan Dies Natalis Unsyiah.

Bahkan Prof Yuswar dahulunya, aktif di kampus sebagai aktifis dan pernah menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa dan kasi Pendidikan di Resimen Mahadasa (Menwa) serta tepat waktu menyelesaikan pendidikan dengan baik di S1, S2 maupun di S3, lebih dari itu, sepengetahuan kami beliau pernah aktif membina perusahaannya di Banda Aceh maupun di kota Medan dan pernah menjadi manager Puskud Aceh (1983 – 1995) serta pernah menjadi Direktur Program pada Leuser International Foundation (2007 – 2011). Luar biasa dedikasi beliau yang perlu diapresiasi dengan usianya sekarang 63 tahun.

Pada tahun 2011, Prof Yuswar juga mendapat Penghargaan IKATETA AWARD, Katagori Akademisi, atas dedikasi beliau terhadap Pengembangan Ilmu Mekanisasi Pertanian di Propinsi Aceh serta beliau pada tahun 2012 mendapatkan Tanda Kehormatan : SATYALANCANA KARYA SATYA XXX Tahun dari Presiden R.I (Kepres No. 62/TK/Tahun 2012 tanggal 6 Agustus 2012 (Presiden Dr. Susilo Bambang Yudoyono). Pada Tahun 2012 beliau juga sebagai pemrakarsa berdirinya dan sekaligus dipercaya oleh Rektor Unsyiah sebagai Ketua Pusat Studi Mekanisasi dan Perbengkelan Pertanian serta pada tahun 2013 dipercaya oleh Rektor sebagai Direktur Syiah Kuala University Press dan Kepala Percetakan Unsyiah yang aktif setiap tahun mencetak Naskah Soal Ujian SBMPTN dan SPMBN yang patut diapresiasi, karena soal-soal untuk ujian nasional tersebut terlindungi dengan kerahasiannya dan berjalan lancar.

Akhirnya, keberadaan Fakultas Pertanian Unsyiah dengan usianya 51

tahun sekarang, tidak bisa lepas dengan peran para alumninya yang sukses di

masyarakat. Prof Yuswar Yunus memiliki banyak ide dan terobosan, beliau

inginkan agar kampus perlu selalu berkolaborasi dengan sub sektor pangan, sub

sektor perkebunan, sub sektor peternakan, sub sektor perikanan dan fokus

merevitalisasi Hutan serta ide “Revolusi Hijau” Aceh dan Perdagangan Karbon ;

tentu berguna untuk Aceh dalam menyelamatkan biodiversity Leuser yang dikenal

(26)

xxiii

dunia, ikut disinggung dalam kupasan buku ini. Semoga buku ini bermanfaat untuk kita semua. Terima kasih.-

Banda Aceh, 02 November 2015 UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS PERTANIAN

Dr. Ir. Agussabti, M. Si

NIP. 19680408 199303 1 004

(27)

xxiv

(28)

xxv

SAMBUTAN KETUA ALUMNI FAKULTAS PERTANIAN UNSYIAH

Kami mengenal dekat dengan Kanda Yuswar Yunus, semenjak sama-sama menuntut ilmu di kampus, beliau adalah senior kami dan aktif mengajar di angkatan 1976 dimana kami sebagai adik kelasnya, ikut menikmati mata kuliah asuhan beliau, yaitu Mekanisasi Pertanian. Pantas kalau sekarang beliau menjadi Guru Besar Mekanisasi Pertanian.

Adalah Kanda Yuswar, kami merasakan kiprah beliau semenjak mahasiswa, dimana beliau aktif sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian Unsyiah bersama sahabat kami Pak Tarmizi Karim sebagai Sekretaris Umum (sekarang Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri dan Penjabat Gubernur Kalimantan Selatan) dan seingat kami, dahulu Prof Yuswar juga aktif di Resimen Mahadasa (Menwa) serta sebagai aktifis kampus, beliau dahulunya pernah beberapa kali memimpin demo dan sering menulis di harian Waspada - Medan dan di Harian Serambi Indonesia – Banda Aceh.

Sebagai sesama alumnus, tentu buah pikir Prof Yuswar Yunus dengan berbagai idenya sangat menarik untuk disimak dan dipelajari serta direnungkan dalam dekade 10 tahun perdamaian Aceh dan 11 tahun usia Tsunami yang telah banyak memberi perubahan dan tantangan terhadap pembangunan Aceh yang kita cintai.

Kami beberapa kali pernah menyambut kedatangan Prof Yuswar Yunus dan Pimpinan Leuser International Foundation (LIF) lainnya, datang bersama Pimpinan Bank Dunia untuk Indonesia (Mr. Joe Leitman) di Pendopo Bupati Aceh Tengah dalam jamuan makan malam, saat itu beliau sebagai Direktur Program LIF, dimana sebahagian besar wilayah hutan di Kabupaten Aceh Tengah, masuk dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dan prioritas utama untuk dilestarikan, karena di Aceh Tengah terdapat juga kawasan hutan konservasi yaitu Taman Buru Linge.

Saat masih kuliah di Darussalam, kami sering membaca kata bijak yang

pernah digoreskan Presiden Soekarno pada sebuah prasasti. Kata bijak itu

(29)

xxvi

digoreskan pada tanggal 2 September 1959, bunyinya “Tekad bulat melahirkan perbuatan nyata”, Darussalam menuju kepada pelaksanaan cita-cita. Sekarang, Kopelma Darussalam sudah berkiprah untuk mewujudkan cita-cita itu. Banyak alumni yang telah dilahirkan, salah satunya adalah Kanda Yuswar Yunus, kini hadir dengan sebuah buku yang akan menggugah semangat kita.

Kami berharap, kiranya banyak para alumnus dan alumna Fakultas Pertanian Unsyiah lainnya, untuk sering menulis sesuai kiprahnya di masyarakat, karena bagaimanapun uluran tangan kita dinanti sebagai tekat untuk perubahan dalam wujud perbuatan yang nyata, sesuai harapan Presiden Soekarno (1959) saat meresmikan kampus Darussalam – Unsyiah – sebagai almamater yang telah banyak memproduksi sarjana dari berbagai disiplin ilmu dan strata dan kini nama Unsyiahpun, semakin harum mendapat peringkat Agreditasi A Nasional sebagaimana Perguruan Tinggi lainnya di Pulau Jawa serta Unsyiah perlu membina Perguruan Tinggi lainnya di Propinsi Aceh yang sedang membenah diri.

Para alumni Fakultas Pertanian Unsyiah tentu menyambut baik, keluarnya buku “Kampus dan Renungan untuk Aceh”, karena bagaimanapun juga Prof Yuswar Yunus dahulunya adalah aktifis kampus yang sangat mencintai almamaternya dan mencintai Aceh, sehingga wajar saja kalau beliau sering menulis tentang fenomena kampus dan dinamika pembangunan Aceh. Kami juga mengapresiasi buku-buku lainnya karya Prof Yuswar Yunus yang sangat bermanfaat untuk kita semua, berguna untuk masa depan Aceh yang kita cintai.

Salam dari para alumnus dan alumna. Terima kasih.

Banda Aceh, 02 November 2015 FAKULTAS PERTANIAN UNSYIAH,

Ketua Alumni,

Ir. H. Nasaruddin, MM

Bupati Aceh Tengah

(30)

xxvii

Kami mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.

Eng - Rektor Universitas Syiah Kuala yang telah mensupport penerbitan buku ini, kiranya buku ini bermanfaat guna untuk kita semua dalam pengembangan Unsyiah dan pembangunan Aceh yang kita cintai serta apresiasi kita semua kepada Unsyiah yang telah meraih peringkat tertinggi Agreditasi A, sebagai lambang kemegahan sejarah pendidikan nasional.

Kami mohon maaf kepada berbagai pihak, dimana dalam penulisan buku ini, mungkin kurang pada sasaran yang diinginkan, karena dapat dimaklumi bahwa pemaparan dan penulisannya (sebahagian besar) adalah sebagai rangkuman artikel ilmiah popular di harian Serambi Indonesia yang pernah dipublikasikan dalam rubrik opini dan sebahagian lagi belum sempat dipublikasikan, namun dipaparkan dalam buku ini, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam paket publikasi dan telah diedit dengan bijak dan arief oleh teman-teman di kampus untuk diterbitkan oleh Syiah Kuala University Press.

Kepada adinda Drs. Sulaiman Abda, M.Si – Ketua Alumni Universitas Syiah Kuala, sekaligus sebagai Wakil Ketua DPR – Aceh, kami juga mengucapkan terima kasih yang tiada tara, karena telah mendorong penulis untuk terus berkarya dalam berbagai penulisan, dimana menurut beliau berbagai judul artikel yang telah dipublikasikan di harian Serambi Indonesia sungguh bermanfaat untuk pembangunan Aceh, terutama pada masa-masa 10 tahun usia perdamaian sekarang ini yang kita nikmati bersama untuk kemaslahatan umat serta usia 11 tahun musibah tsunami yang harus menyadarkan kita semua untuk selalu bertafakur dan ingat kepada-Nya.

Kepada kolega kami, Dr. Ir. Agussabti, M.Si – Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala dan kepada adinda Ir. H. Nasaruddin, MM - Ketua Alumni Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, kini sebagai Bupati Kabupaten Aceh Tengah, kami juga mengucapkan terima kasih atas kebersamaan dan dorongannya, sehingga penulis dapat mewujudkan buku ini sebagai buah pikir ala kampus, kiranya bermanfaat untuk kita semua yang bermukim di bumi yang penuh dengan martabat syariat, adat dan budaya serta kecintaan antar sesama untuk kemajuan Aceh, bangsa dan negara.

UCAPAN TERIMA KASIH

(31)

xxviii

Akhirnya, kami mengucapkan Selamat kepada bapak Rektor, dimana Unsyiah kian berkembang dan semua itu tidak bisa lepas dari peran alumninya yang selalu mencintai almamaternya…Salam hormat…

-Penulis -

(32)

xxix

Halaman SALAM PENERBIT

PENGANTAR

SAMBUTAN RENTOR UNSYIAH

SAMBUTAN : KETUA ALUMNI UNSYIAH, DEKAN DAN KETUA ALUMNI FP UNSYIAH

I. SIKAPUR SIRIH

1. Kampus dan Renungan untuk Aceh ... 1 2. Kaderisasi Unsyiah dan Kepemimpinasn Aceh hingga Kepemimpinan

Nasional ... 22 3. Unsyiah, bukan Gading diatas Menara ... 28 4. Rilijiotas Syiah Kuala ... 34 5. Prestasi Akademik yang Menyenangkan dan Demo Akbar Mahasiswa 39 II. BERTAFAKUR : 10 TAHUN DAMAI ACEH DAN 11 TAHUN USIA

TSUNAMI

1. Wujud 10 Tahun Perdamaian Aceh ... 59 2. SBY, Aceh dan Honoris Causa ... 64 3. Aceh Belum sadar ... 70 4. Membuka “ Aurat “ Tsunami ... 77 5. Mas Kunturo, Idul Fitri kami di Kuburan Massal ... 82 6. Kampus Tsunami ... 86 7. Hijrah ke KOPELMA Karena Tsunami ... 97 8. Ciuman yang Terakhir dengan Istri dan Anakku ... 110 9. Puisi : Tsunami Kembang Syurgawi ... 129 10. Tritura Tsunami ... 132 11. Pilkada Tsunami ... 138

III. FENOMENA KAMPUS “JANTOENG HATEE”

1. Dayan Simbul Kebangkitan Aspirasi ... 145 2. Koruptor Unsyiah, Abrakadarbra !!! ... 149

DAFTAR ISI

(33)

xxx

3. “Jati Diri” Unsyiah ... 155 4. Lokomotif Unsyiah dan Gerbong Primordial ... 162 5. Unsyiah dan Jejak Senator Kampus ... 168 6. Mungkinkah Rektor Unsyiah Menjadi Gubernur ? ... 174 7. Tanda-tanda Zaman Kian Luntur ... 180 8. Unsyiah dalam “Akar Primordial Agraris” ... 185 9. Unsyiah : Antara Recovery dan Tridarma ? ... 189 10. Menginterupsi Profesor Linglung ... 193 11. “Kacamata Kuda” Profesor ... 198 12. Calon Rektor Unsyiah, Mana Figurnya ? ... 204 13. Gelar DHC Tun Mahatir, Kisruh : Ada Apa di Unsyiah? ... 210 IV. MARTABAT ACEH

1. Sufi Aceh Terkenal ... 215

220

3. Kita Butuh Pemimpin yang Tepat Guna ... 225

4. Dicari : Pemimpin yang Berkarisma ... 232

5. “Aurat” Para Kandidat ... 236

6. Gubernur Monumental ... 240

7. Dari Eufeumisme ke Artificial ... 245

8. Dari Subjektifisme Ke Inkonfiden ... 248

9. Salam Dari “Salemba” ... 252

10. Kabinet Adam ... 256

11. Bukan Sembarang Gubernur ... 262

12. PKI-MUSO dan Perdamaian Aceh ... 268

13. Saudagar Aceh Bangkitlah ... 273

14. Honoris Causa Buat Irwandi... 279

15. Dicari : Pembisik Pejabat ... 284

16. Aceh dan Estafet Menteri ... 289

17. Puisi untuk Dr. Ir. Azwar Abubakar, MM ... 294

18. Tes Mengaji : Jika Situasional Perlu Diumumkan ... 295

19. Mencermati Calon Walikota ... 299

20. Presiden dan Tritura Aceh ... 303

21. “Gulai Pliek” dalam Pilkada ... 308

22. Beternak lebah di Gedung Dewan ... 313

23. Hardikda : Aceh Harus Seperti Jepang ... 318

2. Aceh dan Aceh-Acehan ...

(34)

xxxi

24. Lonceng Taman Sari ?!! ... 328 25. Pintoe Aceh Berpalang Salip …? ... 332 26. Helikopter Bermesin Genset ... 337 27. Salam dari “Salemba” ... 343 28. “Melodi” Kapal Apung ... 347 29. Mega dan Tajul Alam ... 351 30. Menunggu Kedatangan Sang Wali ... 356 31. Badan Otorita Pertanian Aceh (BOPA) ... 360 32. Aceh : Prabowo atau Jokowi ... 364 33. Embargo atau Swasembada Listrik…? ... 369 34. PLN : Gelap Itu Kian Benderang ... 375 35. Setelah Indonesia Merdeka Aceh Dipimpin ... 378 V. PERTANIAN DAN KEHUTANAN

1. 50 Tahun Fakultas Pertanian Unsyiah ... 387 2. Gubernur dan Gagasan “Aceh Green” ... 396 3. Kondisi Aceh Green, Hanya Kamuflase Program ... 401 4. Gagasan Revolusi Pertanian Aceh ... 405 5. Aceh Perlu Lahirkan : Badan OtoritasPertanian Aceh (BOPA) ... 410 6. Menunggu Kelahiran : “Kebun Raya Leuser” ... 414 7. Kekeringan dan Fenomenal Seulawah : Hutan Aceh Kian Kritis, Perlu

Program Reboisasi ... 419 8. Leuser Antara Kepentingan dan Provokasi ... 427 9. Revitalisasi Hutan dan “Revolusi Hijau” Aceh ... 431 10. Perdagangan Karbon dan Manfaat Untuk Aceh ... 434 11. Dampak Terhadap Produksi Pangan ... 437 12. Seandainya Aceh Diserang “Ulat Bulu” ... 442 13. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Produksi dan

Ketahanan Pangan di Aceh ... 447

14. Rawa Singkil Harus Diselamatkan ... 459

15. Pemerintah Diminta Berhati-hati Membangun jalan di KEL ... 461

16. Garuda Lakukan Reforestasi di Aceh ... 464

17. YLI Janji Berdayakan Ekonomi Rakyat Sekitar TNGL ... 466

(35)

xxxii VI. ACEH YANG HEROIK

1. Hentikan Tembak Menembak di Aceh (Wawancara Imajiner dengan Bung Karno) ... 469 2. Perlukah Daud Beureuh Menjadi Pahlawan Nasional ... 477 3. Polisi, Pahlawankah ? ... 483 4. Puisi Untuk Letkol Hasan Saleh ... 487 VII. ASAL USULKU

1. Sepintas Keturunanku ... 491

2. Daftar Riwayat Hidup ... 506

LAMPIRAN : Foto Illustrasi ... 525

(36)

Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M. Eng

Rektor Unsyiah

(37)
(38)

Rektor Unsyiah

Bersama SBY (Presiden R.I) Saat Penganugerahan Dr (Hc) Sebagai Penghormatan Perdamaian Aceh

(2013)

(39)
(40)

Rektor Unsyiah

Bersama JK (Wapres R.I) Saat Penganugerahan Dr (Hc) Sebagai Penghormatan Perdamaian Aceh

(2015)

(41)
(42)

Drs. Sulaiman Abda, M.Si

Ketua Alumni Unsyiah

(43)
(44)

Tongak Sejarah

(45)
(46)

Prof. Dr.Ir. YuswarYunus, MP

Satya Lencana 30 tahun Pengabdianku di Usia Senja (2012)

NIP. 19530816 197803 1 002

(47)
(48)

Dr.Ir. YuswarYunus, MP

(2005)

(49)
(50)

Ir. Yuswar Yunus, MP

(2001)

(51)
(52)

Syekh Abdulrauf Al Singkily

(Tgk.Syiah Kuala)

Guru Filsafatku, Panutanku

(53)
(54)

Syekh Nuruddin Ar Ranirry Ulama yang tegas dan bersikap

Aku mengaguminya

(55)
(56)

Ibadah Di atas Segalanya (2010)

(57)
(58)

Yuswar Yunus bersama Prof. Dr. Mustanir Yahya, M.Sc Melantunkan Takbir pada Shalat Id – IdulFitri 1436 H

di Masjid Jamik – Masjid Raya Kampus(2015)

(59)
(60)

SIKAPUR SIRIH

(61)
(62)

B A B 1 S i k a p u r S i r i h | 1

KAMPUS DAN RENUNGAN UNTUK ACEH

(Fenomena, Renungan, Tantangan dan Perubahan ) __________________________________________________________________

Kampus Unsyiah lahir pada tahun 1959, dengan sebutan Kopelma (Kota Pelajar Mahasiswa) Darussalam, telah menjadi tonggak sejarah yang monumental di Aceh. Kampus yang dirancang dan lahir dari buah tangan, karya Ali Hasjmy sebagai Gubernur Aceh dan di dukung dengan gegap gempita oleh Syamaun Gaharu sebagai Pangdam I/Iskandarmuda ketika itu, sertamerta didukung pula oleh para pengusaha dan para tokoh dan masyarakat, telah memberi nuansa baru bagi Aceh dan sekaligus sebagai wujud inplementasi dari sebuah paradikma baru, menuju Aceh yang modern, makmur dan sejahtera yang diidamkan oleh seluruh masyarakat Serambi Mekah ketika itu. Duet Hasjmy dan Gaharu telah melahirkan Unsyiah dan I.A.I.N Ar-Ranirry (kini U.I.N Ar-Ranirry) yang dinilai potensial, sekaligus untuk memproduk asset keilmuan Aceh untuk melihat jauh ke depan.

Lahirnya dua perguruan tinggi ternama di Aceh tersebut, telah memberi motifasi kepada seluruh masyarakat di Aceh untuk mampu mandiri dengan berbagai kepakaran yang diproduk oleh kampus untuk mensuplai sarjana dari berbagai kebutuhan dengan disiplin ilmu yang beragam, sebagai tuntutan kondisi yang harus disiapkan agar satu saat Aceh mandiri dengan berbagai kepakaran dan keahlian. Perguruan tinggi yang dibangun secara kembar di satu kampus (Kopelma), telah memberi kemudahan, dimana perguruan tinggi yang satu mengurus SUMBERDAYA MANUSIA (SDM) lewat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan yang satu lagi untuk mengurus SUMBERDAYA INSANI (SDI) lewat Iman dan Taqwa (IMTAQ).

Fenomena

Kehadiran sebuah kampus ketika itu, memang sangat diidamkan oleh

seluruh masyarakat Aceh. Bahkan saat kelahirannya (02 September 1959),

Presiden Soekarno melakukan peletakan batu pertama dan menulis di batu prasasti

kampus yang kemudian ditempel di Tugu Darussalam sebagai tanda dimulainya

pembangunan dan bukti kelahiran Kopelma dengan kata-kata yang sangat filosofis

(63)

18| Prof. Dr.Ir.Yuswar Yunus, MP

harus sigap menguasai program pembangunan Aceh agar mampu mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat ?. Sepantasnya kita semua malu, begitu banyaknya pakar yang bergelar “Profesor Doktor” dari berbagai disiplin ilmu yang dimiliki oleh Unsyiah, tetapi mengapa kemiskinan rakyat masih merajalela di Aceh ? Konon kemiskinan tersebut mendekati angka 20 % ? sederhana saja, lalu timbul pertanyaan ; mengapa banyak pakar di Unsyiah tetapi proyek APBN dan APBD selalu tiap tahun jalannya tidak mulus dan menjadi mandek ?

Apakah kita tidak mampu meyakinkan Gubernur Aceh, sebagaimana Ibrahim Hasan begitu dekat dengan A. Muzakkir Walad yang jatuh cinta ke kampus Unsyiah dan begitu dekat Ibrahim Hasan dengan Bustanil Arifin (Menkop/Ka. Bulog) yang dahulunya dalam perjuangan fisik dibesarkan di Aceh dan setelah menjadi pejabat iapun fokus untuk membangun Aceh ? Sehingga Bustanil Arifin mampu menyatakan dirinya sebagai orang Aceh dan getol membangun Aceh, walau secara politis punya kepentingan dengan Aceh, untuk memenangkan Golkar ketika itu, namun harus diakui apapun untuk kepentingan Aceh, selalu beliau bantu. Lebih-lebih untuk pengembangan koperasi (karena beliau Menkop) sehingga bendera Puskud Aceh ketika itu terus berkibar (bisnis Puskud Aceh adalah lima besar secara nasional), layaknya seperti perusahaan daerah dan mampu mengekspor biji kopi, minyak ikan Hiu, Lokan, tripang, kulit pinang, alpokat, sirip ikan Hiu dan pemasaran kedelai ke Pulau Jawa serta memenuhi kebutuhan gula untuk masyarakat, pupuk untuk petani dan ke PTP hingga ke pengadaan gabah padi, kedelai dan kemiri serta pelelangan cengkeh.

Kilang padi dibangun untuk KUD di seluruh Aceh dan untuk Puskud Aceh : Pabrik Kopi besar di Bener Meriah, Seed Processing di Batee Gelungku, Traktor besar 25 Unit (80 PK) hingga 4 unit Kilang Padi kapasitas 4 ton per jam di bangun di tiap gudang Bulog (ketika itu penulis adalah mantan manager Puskud Aceh dari 1983 – 1995).

Perubahan signifikan di Unsyiah adalah cikal bakal untuk perubahan Aceh

ke depan, karenanya belum terlambat agar rektor Unsyiah dan pemimpin kampus

lainnya (UIN, Unimal, UTU, Unsam dll) harus segera menyadari fenomena dan

merenungkan fakta yang terjadi dan tantangan yang harus dihadapi serta

perubahan yang harus diwujudkan. Kita semua tidak boleh jalan ditempat,

membangun kampus, tidak perlu pakai kroni-kroni dibelakang layar, justru

panggung tampilan sekarang sedang diuji untuk tuntutan kinerja dan prestasi.

(64)

B A B 1 S i k a p u r S i r i h | 19 Kepentingan pribadi jangan disembunyikan, justru seluruh masyarakat kampus mengetahui, apa yang sedang terjadi hingga perlu memikirkan estefet kepemimpinan Aceh yang harus ditempa semenjak dini di kampus, terutama untuk dosen muda yang berkinerja baik dan para mahasiswa yang aktifis. Mereka perlu dibina dan dibesarkan oleh kampus untuk kepentingan kampus dan kepentinganAceh jauh ke depan.

Perubahan Unsyiah, UIN Ar-Ranirry, Unimal, UTU dan Unsam serta Perguruan Tinggi lainnya di Aceh,sangat strategis untuk penempaan kader kepemimpinan masa depan, agar menjadi pemimpin bangsa yang memiliki Sumberdaya Insani (SDI) yang kapabel. Sejarah telah membuktikan bahwa para aktifis seperti, katakanSoekarno sejak muda berkuliah di ITB dan berjuang di Bandung serta Brack Obama yang juga aktifis kampusberhasil menjadi Presiden AS serta banyak aktifis kampus lainnya yang menjadi pemimpin nasional maupun regional..

Patriotisme Aceh dan nasionalisme, cakrawala ilmu dan intelektualisme kampus serta kematangan berorganisasi dan berbagai dimensi lokal global lainnya, perlu dihayati oleh generasi muda Aceh, direnungi untuk menumbuhkan adrenanin revolusioner ke-Aceh-an untuk tidak berputus asa melihat dan mengalami dekade perdekade, bagaimana kondisi Aceh masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang….?

Tidak salamanya kombatan GAM akan memimpin Aceh, saatnya nanti mereka juga akan terus bertambah usia dan akan merasakan nuansa persaingan yang menyebabkan, satu saat mereka putra-putra Aceh yang cerdas ini dan punya pengalaman tempur di hutan belantara Aceh serta punya pengalaman diplomatis dari Komando Swedia, akan mengkaderkan juga putra-putra Aceh terbaik lainnya dan memiliki kompetensi yang hebat (Ilmu dan pengalaman) akan menerima estafet kepemimpinan Aceh ke depan.

Kombatan GAM yang memimpin Aceh sekarangpun, juga tidak salahdan

sebagai panen yang harus dipetik serta dirasakan sebagai hasil dari sebuah

perjuangan. Mereka sangat patut setelah berjuang dan harus memimpin, bahkan

bila perlu memimpin NKRI dari berbagai level institusi dalam dharma bakti

perjuangan yang global. Namun kepemimpinan yang baik, harus selalu dilengkapi

dengan staf yang kuat, terdiri dari berbagai disiplin ilmu dan kepakaran. Sering

(65)

20| Prof. Dr.Ir.Yuswar Yunus, MP

bongkar pasang staf dalam kabinet juga kurang baik, membutuhkan ketelitian pasti sebelum staf dilantik (peran Baperjakat sangat menentukan dan harus berani menolak, jika calon staf tidak memiliki kompetensi yang baik). Gudang staf yang kuat tersebut, banyak ditemukan di kampus-kampus dan juga tidak semua para pakar, mampu untuk memimpin sebagai akibat kurang ditempa di organisasi intra maupun ekstra kurikuler, kecuali mereka yang memiliki jam terbang yang tinggi serta memiliki track recoard yang baik sebagai organisatoris (bahkan banyak pakar di kampus yang hanya mampu berbicara, tetapi tidak mampu untuk implementasi).

Untuk jaminan dan kemajunan Aceh ke depan, maka kita perlu berkiblat ke Jerman dan ke Jepang. Kehancuran mental orang Jepang tidak berbeda dengan kehancuran mental orang Aceh. Pemboman Herosima dan Nagasaki, telah meruntuhkan martabat dan trauma bangsa Jepang yang berkepanjangan, identik dengan kehancuran Aceh, akibat perang (baca: Komflik), namun Jepang memulai kehancuran negerinya untuk segera membangun kembali dengan prioritas utama berada di sektor “ Pendidikan “ yaitu dengan menyekolahkan anak-anak negeri untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dalam rangka mengembalikan martabat yang telah hancur atau mengembalikan “ harga diri “ yang telah punah dan hilang.

Terbukti, karena prioritas sektor pendidikan, telah menempatkan Jepang sebagai bangsa yang dihormati dunia. Terlihat 20 tahun kemudian setelah dibom bardir negerinya oleh Amerika saat perang dunia ke II, tidak berbeda dengan Jerman demikian juga pada perang dunia I. Jepang mampu membangun kembali berbagai supra dan infra struktur yang dimulai lewat penempaan anak negeri lewat SDM, hingga mampu menjadi negara berpilar Industri besar dunia, bahkan ikut menentukan strategi perdagangan dunia. Diawali lewat pemberdayaan ekonomi rakyat, lewat pembangunan pertanian, sebagai potensi alam yang telah membawa berkah untuk memacu sektor industri, dipacu lewat berbagai teknologi yang diterapkan.

Sekarang Aceh memiliki sekitar 400 pakar di Unsyiah yang bertitel

Doktor, sesuai disiplin ilmunya yang menyebar di seluruh Fakultas. Bayangkan

pada tahun 2020 Unsyiah diprediksi akan banyak melahirkan para Profesor yang

semuanya akan bermanfaat besar untuk pembangunan Aceh. Namun harus

disadari benar oleh penguasa Aceh, jika para pakar yang bertengger di Unsyiah

(66)

B A B 1 S i k a p u r S i r i h | 21 tersebut, tidak dimanfaatkan secara maksimal, maka jangan harapkan Aceh akan potong kompas untuk membangun cepat dalami prioritas. Jepang pada pasca perang dunia ke 2 mengirimkan ratusan anak negerinya untuk menuntut ilmu ke Eropah dan apa jadinya setelah 20 tahun kemudian…?, Jepang menjadi negara industry besar dunia, sungguh luar biasa. Karenaya Aceh harus mengikuti jejak Jepang dan tidak berbeda dengan Jerman setelah perang dunia pertama (1914 - 1918), mereka juga membangun lewat sektor pendidikan dan Jermanpun menjadi negara industry besar dunia. Aceh memiliki potensi besar sebagaimana halnya Jerman dan Jepang, apalagi SDA Aceh yang melimpah (konon cadangan gas besar telah ditemukan lagi dekat Simeulue dan di Pulau Banyak, sungguh Allah Swt, persis menjadikan Aceh mirip dan sebegaimana Arab yang kaya dan melimpah dengan minyak buminya.

Aceh memiliki SDA yang berlimpah dan berkorelasi erat dengan SDM di

Unsyiah, UIN, Unimal, Unsam dan UTU nanti juga akan berlimpah para

pakarnya. Karenanya Mindset dalam Politikal Will dan Good Will pemerintah

Aceh harus diubah, tidak hanya memilikirkan hari esok hanya untuk hari esok

serta hanya memikirkan kepentingan kelompok dan kedaerahan, namun harus

memikirkan jangka panjang untuk kemajuan Aceh secara Global. Berpikir

primordial dengan isme kedaerahan akan memperlambat pembangunan dan

menghancurkan Aceh. Untuk membangun Aceh, harus dimulai dengan

Kompetensi (pengalaman dan Ilmu Pengetahuan) yang baik, sesuai dengan bidang

keahliannya atau kepakarannya. Siapapun boleh memimpin Aceh, GAM atau

bukan GAM, politisi atau bukan politisi, pengusaha atau bukan pengusaha, namun

kepemimpinan tersebut harus memiliki staf yang kuat (sesuai keahliannya) dan

energik untuk mampu merealisasikan tahapan-tahapan pembangunan sesuai

prioritasnya, baik program taktis maupun program strategis.

(67)

22| Prof. Dr.Ir.Yuswar Yunus, MP

Kaderisasi Unsyiah dan kepemimpinan Aceh hingga Kepemimpinan Nasional

___________________________________________________________________________________________________

Pengkaderan diperlukan untuk estafet kepemimpinan Aceh. Untuk mencari pemimpin tidaklah susah, penting bagaimana kita dapat mewujudkan estafet anak tangga yang harus dimulai dari bawah hingga mengantarkannya ke anak tangga yang tertinggi.

Sistem pengkaderan militer sangat bagus, karena dimulai dari kepemimpinan bawah : regu, kompi hingga terus melangkah ke batalion, devisi hingga menjadi Panglima untuk memegang komando teratas.

Kaderisasi Unsyiah diperlukan, bukan hanya untuk memegang tampuk pemerintahan (birokrasi), lebih dari itu perlu mempersiapkan kaderisasi sesuai dengan disiplin ilmunya. Bahkan mereka yang tertempa dengan organisasi intra kurikuler, ekstra kurikuler hingga ke organisasi profesi, butuh pengkaderan untuk wujud pembangunan Aceh lewat kepemimpinan yang benar-benar solit karena bakat alami yang telah dimiliki, tertempa semenjak di Sekolah Menengah, semenjak di bangku kuliah, karena ia menjadi aktifis kampus, suka mengkritisi untuk mencari kebenaran dan bukan sebagai oposan……, dari pada menjadi pemimpin hanya bermodalkan minat dan tidak didukung oleh kapabilitasnya maupun kredibilitasnya untuk menjadi leader yang baik dan terpercaya.

Umumnya mereka yang hanya menonjol minat, tetapi sama sekali tidak tidak didukung oleh bakat saat memimpin….

Dahulu, genderang motto telah digaungkan oleh A.Hasjmy, sebagai

Gubernur Daerah Istimewa Aceh, saat meresmikan kampus Unsyiah (1959)

sebagai “Kota Pelajar dan Mahasiswa” (KOPELMA) Darussalam bersama dengan

Syamaun Gaharu (bapak TNI Aceh) sebagai Pangdam Iskandar Muda. Gaung

filsafati tersebut adalah : UNSYIAH SEBAGAI JANTONG HATEE RAKYAT

ACEH, kini telah membawa Unsyiah ke peringkat sebagai salah satu Perguruan

(68)

B A B 1 S i k a p u r S i r i h | 23 Tinggi yang ternama di Sumatera, bahkan alumninya tersebar di seluruh nusantara.

Presiden Soekarno, menukilkan sebuah pesan di batu PrasastI – Tugu Kampus : TEKAT BULAT MELAHIRKAN PERBUATAN YANG NYATA, DARUSSALAM MENUJU KEPADA PELAKSANAAN CITA-CITA.

Gema sebagai harapan presiden pertama R.I tersebut, kini terwujud dengan baik sebagai bumbu masakan “ Tekat Bulat “ mengandung falsafah yang tinggi, dimana Unsyiah sebagai jantong hatee rakyat Aceh, alumninya telah mengisi semua strata di pemerintahan Aceh. Tidak sia-sia dari semenjak di bangku sekolah dasar telah ditanam motifasi, dimana kemegahan kampus ini untuk perubahan yang siknifikan sebagai terobosan untuk membangun Aceh.

Diantara bait-bait Lagu, terdengar “Cahaya Darussalam…. Lambang Kemegahan Sejarah” dan lagu “Dipersada Tanah Iskandar Muda, dibina kota Pelajar megah…..” telah menghentak-hentakkan bathin para alumnusnya untuk mengingatkan kita bagaimana gemuruhnya pembangunan pendidikan di Aceh yang terus berkembang dan kini telah lahir Perguruan Tinggi Negeri yang terus mengepak sayapnya untuk memanggil : Mari Putri – Mari Putra membangun kota Mahasiswa. Gemuruh tersebut kini bergaung di : UNIVERSITAS MALIKUL SHALEH, UNIVERSITAS SAMUDERA DAN UNIVERSITAS TEUKU UMAR serta diharapkan tidak hanya kampus tersebut menggema diposisinya yang berada di Pesisir Timur dan Pesisir barat Aceh, namun amat mendesak juga untuk penegerian UNIVERSITAS GAJAH PUTEH dan UNIVERSITAS GUNUNG LEUSER di Pedalaman Aceh serta UNIVERSITAS JABAL GAFUR, Perguruan Tinggi tertua setelah UNSYIAH, kelihatan masih terus tertidur untuk terus bermimpi tentang kebesarannya dan perlu prioritas penegeriannya.

UNIMAL yang berkiprah di Lhokseumawe, UNSAM di Langsa, UTU di

Meulaboh untuk pesisir barat - selatan, UGP di Takengon dan UGL di Kutacane

adalah tidak berbeda ibarat tubuh (badan) Aceh yang selalu menggeliat,

sedangkan UNSYIAH dan UIN Ar-Ranirry adalah otak besar dan otak kecil yang

memorinya dipenuhi dengan IPTEK dan IMTAQ yang dikendalikan oleh Qalbu

(rasa) untuk melahirkan kemitraan dan pengayoman kepada kolega kampusnya di

sentero Aceh. Hal ini penting untuk transfer Ilmu dan teknologi dengan SDM

(Sumberdaya Manusia) yang handal serta SDI (Sumberdaya Insani) yang terpuji.

(69)

24| Prof. Dr.Ir.Yuswar Yunus, MP

Pesan Rasulullah SAW, berilah segala sesuatunya kepada Ahlinya. Pakar Ilmu pengetahuan dan teknologi terus bertambah di Aceh sebagai akibat kemajuan dan perkembangan dunia, namun disisi lain Aceh masih terus diiming-iming dengan kemiskinan yang konon 18,05 persen. Profesor dan Doktor bertabur dimana-mana disetiap pelosok Aceh, mampukah kita keluar dari persoalan kemiskinan sebagai tantangan para pengambil keputusan (kekuasaan) yang terkesan tidak ada solusinya, bahkan banjir tahunan selalu terjadwal dengan baik, hingga banjir bandang yang datang tiba-tiba dan entahpun Tsunami pasti datang untuk menerjang lagi.

Kepemimpinan Aceh, pernah terpatroen dengan baik di zaman rezim Soeharto yang harus diakui, satu sisi positif karena segala sesuatunya terencana dan terukur dengan baik serta pelaksanaan pemerintahan memiliki sistematika dengan baik pula. Kita melihat genderang kampus “Jantoeng Hatee” mulai berperan semenjak Prof. A. Majid Ibrahim menjadi Gubernur Daerah Istimewa Aceh, lalu estafet kepemimpinan Aceh dilanjutnya oleh Prof. Dr. Ibrahim Hasan, MBA hingga ke Prof. Dr. Syamsuddin Mahmud dan Dr. Drh. Irwandi Yusuf, M.Sc dizaman transisi (2007 – 2012) sebagai awal kekuasaan mantan kombatan GAM untuk memulai.

Kepemimpinan sebagai figur dari kampus, dirasakan oleh masyarakat Aceh, namun setelah itu juga dirasakan dengan banyaknya proyek pembangunan yang tidak terkejar realialisasinya sesuai jadwal yang telah diprogramkan, untuk estafet kepemimpinan Aceh ke depan harus diperhatikan :

Pertama : Jikapun tidak dari kampus, namun kepemimpinan Aceh yang diharapkan adalah memiliki kapabilitas yang tinggi dengan kredibilitas yang dapat dibanggakan serta pengalaman kepemimpinan (leader) dengan kompetensi yang baik pula. Tendensi “Bakat” sebagai pemimpin harus lebih diutamakan dari pada hanya mengandalkan “minat” untuk menjadi pemimpin yang pada ujung- ujungnya, dipatri oleh masyarakat tidak mampu untuk memimpin dengan baik serta terlalu berorientasi ke materi…?!!

Kedua : Untuk kederisasi kepemimpinan Unsyiah, perlu dibina sejak

dibangku kuliah. Prestasi akademik yang menonjol sejak mahasiswa dengan

pengalaman organisasi yang baik hingga ia terkenal sebagai aktifis kampus

(sebagai benih unggul), dimana figur seperti inilah yang perlu dibina oleh rektor

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian di atas, peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian berupa penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul : “Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 3 ayat (3) Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 5 Tahun 2019 tentang Ketentuan

Selanjutnya berdasarkan MoU Helsinski telah melahirkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Pemerintah Aceh adalah pemerintahan daerah provinsi dalam

A key outcome is to put in place participatory fisheries management plans for priority stocks using Local Councils for Artisanal Fisheries (CLPA) as the institutional entry

Memberikan kontribusi terhadap ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia yang sesuai dengan judul Pengaruh kepemimpinan, motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti berinisiatif untuk memberikan judul penelitian ini dengan judul “Pengaruh model pembelajaran Contextual Teaching and

Part 302 and, to the best of my knowledge and belief, the importing country has instituted and maintains a system for the control of these substances; the drugs

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis rendah yaitu 1 g/kgBB sudah dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus, sedangkan pada dosis seduhan jahe 3 g/kgBB juga