• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PERUMUSAAN HIPOTESIS. Variabel independen seperti leverage, profitabilitas, dan CSR digunakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PERUMUSAAN HIPOTESIS. Variabel independen seperti leverage, profitabilitas, dan CSR digunakan"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

6

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN PERUMUSAAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Variabel independen seperti leverage, profitabilitas, dan CSR digunakan peneliti lain untuk membuktikan pengaruhnya terhadap tax avoidance dan temuan- temuan riset mengatakan ada yang berpengaruh dan tidak berpengaruh karena proksi variabel dependennya berbeda atau variabel independen tidak berpengaruh terlalu besar terhadap variabel dependen, tapi setelah diteliti beberapa peneliti diantaranya (Wijayanti et al., 2016) menemukan bahwa leverage, komisaris independen, komite audit dan CSR tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan, hanya ukuran perusahaan dan intensitas modal yang berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Populasi perusahaan perbankan go public yang listing di BEI periode 2012 sampai 2014. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling.

Wardani & Purwaningrum (2018) menemukan bahwa profitabilitas dan leverage berpengaruh positif signifikan terhadap penghindaran pajak, sedangkan pertumbuhan penjualan dan CSR tidak berpengaruh signifikan terhadap penghindaran pajak. Populasi perusahaan manufaktur makanan dan minuman yang terdaftar di BEI selama periode 2012-2016. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling.

Mahanani, Titisari, & Nurlaela (2017) menemukan bahwa umur perusahaan

dan komite audit berpengaruh terhadap tax avoidance, sedangkan ukuran

perusahaan, komisaris independen, sales growth dan CSR tidak berpengaruh

(2)

terhadap tax avoidance. Populasi perusahaan manufaktur sektor industri dasar dan kimia yang terdaftar di BEI periode tahun 2013-2015. Sampel penelitian didapat dengan teknik purposive sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda.

Napitupulu & Marintan (2017) menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap tax avoidance, sedangkan, leverage, capital intensity, inventory intensity berpengaruh positif dan signifikan terhadap tax avoidance. Metode penelitian adalah asosiatif. Sampel penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling.

B. Tinjauan Pustaka

1. Teori Keagenan (Agency Theory)

Menurut Jensen & Meckling (1976), agency theory merupakan perspektif yang secara jelas menggambarkan masalah yang timbul dengan adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian terhadap perusahaan, yaitu terdapatnya konflik kepentingan dalam perusahaan. Maraya & Yendrawati (2016) menyatakan bahwa dengan adanya pemisahan antara pemilik dengan manajemen perusahaan dapat menimbulkan masalah, antara lain adanya kemungkinan manajer melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan keinginan/kepentingan principal. Karena manajer lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pihak principal serta rendahnya pengawasan pihak principal dalam mengawasi semua kegiatan manajer.

Teori agensi ini muncul ketika ada sebuah hubungan kerja antara satu orang

atau lebih (principal) memberi wewenang dan bekerja sama dengan orang lain

(3)

(agen) untuk menerima wewenang dan menjalankan perusahaannya. Manajer (agen) mempunyai kewajiban untuk melaporkan dan memberi informasi kepada pemilik (principal), dikarenakan seorang manajer (agen) lebih mengetahui keadaan perusahaan dibanding pemilik perusahaan (principal). Namun terkadang manajer tidak melaporkan keadaan perusahaan sesuai dengan keadaan perusahaan yang sebenarnya (Ardyansyah, 2014).

Perbedaan kepentingan antara principle dan agent dapat mempengaruhi berbagai hal yang berkaitan dengan kinerja perusahaan, yaitu konflik keagenan yang memicu beban-beban yang seharusnya tidak perlu terjadi apabila perusahaan dikelola oleh pemilik dan masalah kebijakan perusahaan mengenai pajak perusahaan. Sistem perpajakkan di Indonesia yang menggunakan self assessment system memberikan wewenang kepada perusahaan untuk menghitung dan melaporkan pajaknya sendiri. Penggunaan sistem ini dapat memberikan kesempatan bagi agent untuk memanipulasi pendapatan kena pajak menjadi lebih rendah sehingga beban pajak yang ditanggung perusahaan semakin kecil. Hal ini dilakukan pihak agent karena adanya asimetris informasi dengan pihak principle sehingga agent dapat mengambil keuntungan tersendiri diluar kesepakatan kerjasama dengan principle karena adanya manajemen pajak yang dilakukan agent (Nugraha & Meiranto, 2015).

Hubungan dari adanya teori keagenan dengan perilaku tax avoidance yaitu,

pada teori keagenan terdapat manajer (agen) yang mengelola perusahaan dimana

disini seorang manajer menginginkan laba yang tinggi namun pembayran pajak

lebih rendah. Sedangkan pemegang saham (principal) menghindari perilaku tax

(4)

avoidance karena perilaku ini dapat menimbulkan risiko bagi perusahaan, yaitu perusahaan akan kehilangan reputasi perusahaannya yang nantinya akan berakibat buruk bagi keberlangsungan usaha (Lorena, 2020).

2. Pengertian pajak

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Pasal 1 Ayat 1 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan menjelaskan pajak adalah penerimaan negara dari wajib pajak yang memiliki sifat memaksa berdasarkan undang-undang dan digunakan untuk keperluan negara demi kesejahteraan rakyat, namun imbalannya tidak dapat dirasakan secara langsung.

Soemitro (1990) menyatakan bahwa pajak merupakan iuran kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapatkan jasa timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

Resmi (2011) juga menjelaskan bahwa pajak memiliki dua fungsi utama yaitu fungsi penerimaan dan mengatur. Penerimaan berarti pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran pemerintah, misalnya dimasukkan sebagai penerimaan dalam negeri didalam APBN.

Sedangkan mengatur berarti pajak sebagai alat ukur untuk mengukur atau melaksanakan kebijakan bidang sosial dan ekonomi.

3. Karakteristik Perusahaan

Karakteristik perusahaan merupakan ciri khas atau sifat yang melekat pada

suatu entitas usaha.

(5)

1) Leverage

Leverage adalah rasio kinerja keuangan yang menunjukkan besarnya jumlah utang di perusahaan (Nugraha & Meiranto, 2015). Lanis &

Richardson (2012) menambahkan bahwa leverage merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang dapat dilihat dari total utang dan total aset. Leverage menunjukkan sumber dana perusahaan yang berfokus pada utang atau liabilitas. Sumber pendanaan dari utang akan memunculkan beban bunga dan akan mengurangi dasar pengenaan pajak yaitu laba (Jati et al., 2019).

2) Profitabilitas

Ardyansyah (2014) mendefinisikan profitabilitas sebagai suatu kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari aktivitas bisnisnya.

Profitabilitas terdiri dari beberapa rasio, salah satunya yaitu return on assets (ROA) (Maharani & Suardana, 2014). Selain itu, ROA dapat menunjukkan kemampuan perusahaan memperoleh keuntungannya dari penggunaan aset perusahaan (Nugraha & Meiranto, 2015). Menurut Lestari & Sugiharto (2007), ROA merupakan pengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari penggunaan aktiva. Semakin tinggi nilai dari ROA, berarti semakin tinggi nilai dari laba bersih perusahaan dan semakin tinggi profitabilitasnya.

4. Corporate Social Responsibility (CSR)

Di Indonesia konsep CSR diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 40 Tahun 2007 Pasal 66 Ayat (2) tentang Perseroan Terbatas, yang

menyatakan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR) adalah komitmen

(6)

perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan yang berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.

Suharto (2006) menyatakan bahwa CSR adalah operasi bisnis yang berkomitmen tidak hanya untuk meningkatkan keuntungan perusahaan secara finansial, melainkan pula untuk membangun sosial-ekonomi kawasan secara holistik, melembaga dan berkelanjutan. Dari definisi tersebut, dapat kita lihat bahwa salah satu aspek yang dalam pelaksanaan CSR adalah komitmen berkelanjutan dalam menyejahterakan komunitas lokal masyarakat sekitar.

Berdasarkan beberapa definisi Corporate Social Responsibility (CSR), dapat disimpulkan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan bentuk pertanggungjawaban perusahaan kepada stakeholder secara sosial dan lingkungan dalam hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas operasional perusahaan (P. Y. Sari, 2018).

Konsep CSR berfokus pada triple bottom line yakni economic prosperity,

environmental quality, dan social justice. Perusahaan dapat terus melanjutkan

kegiatan usahanya dengan mengimplementasikan konsep triple bottom line ke

dalam tiga aspek, yaitu keuntungan (profit), terlibat pada pemenuhan kesejahteraan

masyarakat (people) dan menjaga kelestarian lingkungan (planet). Sustainability

report perusahaan memberikan gambaran yang seimbang dan wajar terhadap

kinerja keberlanjutan dari organisasi atau perusahaan pelapor, termasuk kontribusi

(7)

positif dan negatif yang telah mereka lakukan dalam periode tertentu (Nuraini, 2014).

Menurut Suharto (2009) secara konseptual CSR merupakan kepedulian perusahaan yang didasari tiga prinsip dasar yang dikenal dengan istilah triple bottom line (3P) yang terdiri dari :

a. Profit. Perusahaan harus tetap berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi yang memungkinkan untuk terus berorientasi dan berkembang.

b. People. Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia. Beberapa perusahaan mengembangkan program CSR seperti pemberian beasiswa bagi pelajar sekitar perusahaan, pendirian sarana Pendidikan dan kesehatan, penguatan kapasitas ekonomi lokal, dll.

c. Planet. Perusahaan peduli terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan keragaman hayati. Beberapa program CSR yang berpijak pada prinsip ini biasanya berupa penghijauan lingkungan hidup, penyediaan sarana air bersih, perbaikan permukiman, pengembangan pariwisata (Ekoturisme).

Pengungkapan CSR dalam laporan tahunan atau dalam sustainability report merupakan laporan aktivitas tanggungjawab sosial yang telah dilakukan perusahaan baik berkaitan dengan perhatian masalah dampak sosial maupun lingkungan.

Laporan tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan laporan tahunan yang

dipertanggungjawabkan direksi di depan sidang Rapat Umum Pemegang Saham

(RUPS). Laporan ini berisi laporan program-program sosial dan lingkungan

perseroan yang telah dilaksanakan selama tahun buku terakhir (Hadi, 2011:206)

(8)

Prinsip-prinsip CSR yang menjadi dasar bagi pelaksanaan atau menjadi informasi dalam pembuatan keputusan dan kegiatan CSR menurut Crowther David (2008) ada tiga pilar, yaitu :

a. Suistanability, berkaitan dengan bagaimana perusahaan dalam melakukan aktivitas tetap memperhitungkan keberlanjutan sumber daya di masa depan.

b. Accountability, merupakan upaya perusahaan untuk terbuka dan bertanggungjawab atas aktivitas yang telah dilakukan. Akuntabilitas dibutuhkan, ketika aktivitas perusahaan memengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan eksternal.

c. Transparency, merupakan satu hal yang sangat penting bagi pihak eksternal, berperan untuk mengurangi asimetri informasi, kesalahpahaman, khususnya informasi dan pertanggungjawaban dari lingkungan.

Pengungkapan CSR oleh perusahaan pada umumnya berpedoman pada Global Reporting Intiative (GRI). Menurut GRI indikator kinerja dibagi menjadi tiga komponen utama, yaitu ekonomi, lingkungan hidup dan sosial. Selain dampak lingkungan, dalam GRI juga terdapat dampak ekonomi yang berhubungan dengan kepentingan stakeholder dan dampak sosial yang mencakup ketenagakerjaan dan hak asasi manusia (Sahla dan Aliyah, 2016).

Pada tanggal 8 Juni 2017, Global Reporting Indonesia (GRI) meluncurkan

GRI Standards di Indonesia. Penggunaan GRI Standards mungkin tidak akan

berdampak signifikan bagi perusahaan yang telah membuat laporan keberlanjutan

(9)

berbasiskan GRI G4. Secara umum, keduanya tidak jauh berbeda. Hanya ada 2 indikator spesifik yang “discontinued” dan total 42 yang direvisi. Selebihnya mengalami perubahan minor atau perubahan klasifikasi indikator (Pusaka, 2017).

GRI Standards mengusung perubahan signifikan dalam hal struktur dokumen dan penggunaan bahasa. Pertama, GRI Standards menggunakan skema dokumen modular dengan total 36 modul. Dengan demikian, setiap modul dapat ditambah, dikurangi atau diubah kapan saja sesuai dengan dinamika aspek keberlanjutan.

Kedua, GRI Standards mengubah penggunaan kata dan gaya bahasa agar lebih mudah dimengerti oleh para pemangku kepentingan (Pusaka, 2017).

Dalam hal struktur penulisan, GRI Standards dengan jelas membedakan klausul yang harus dipenuhi dan yang direkomendasikan. Hal ini akan memudahkan penyusunan laporan keberlanjutan untuk menentukan prioritas penulisan data dan informasi pada hal-hal “requirements” terlebih dahulu (Pusaka, 2017).

5. Tax Avoidance

Menurut Butje & Tjondro (2014) tax avoidance adalah alat untuk melakukan tax saving dengan mengalihkan sumber daya yang seharusnya diberikan untuk negara kepada para pemegang saham agar nilai after tax perusahaan meningkat.

Tax avoidance merupakan salah satu cara untuk menghindari pajak secara legal yang tidak melanggar peraturan perpajakan. Dan dapat dikatakan persoalan yang rumit dan unik karena disatu sisi diperbolehkan, tetapi tidak diinginkan (Maharani

& Suardana, 2014). Menurut komite urusan fiskal dari Organisasi For Economic

(10)

Cooperation And Development (OECD) menyebutkan ada tiga karakter tindakan tax avoidance atau penghindaran pajak, dalam (Suandy, 2006) :

a. Adanya unsur artificial arrangement, dimana berbagai pengaturan seolah- olah terdapat didalamnya padahal tidak, dan ini dilakukan karena ketiadaan faktor pajak.

b. Skema semacam ini seringkali memanfaatkan loopholes (celah) dari undang-undang atau menerapkan ketentuan-ketentuan legal untuk berbagai tujuan, yang berlawanan dari isi undang-undang sebenarnya.

c. Kerahasiaan, dalam hal ini biasanya konsultan yang ditunjuk perusahaan untuk mengurus pajak perusahaan tersebut menunjukkan cara penghindaran pajak yang dilakukannya dengan syarat wajib pajak harus menjaga kerahasiaannya sedalam mungkin

Menurut Hoque, Bhuiyan, & Ahmad (2011) diungkapkan beberapa cara perusahaan melakukan penghindaran pajak, yaitu:

1) Menampakkan laba dari aktivitas operasional sebagai laba dari modal sehingga mengurangi laba bersih dan utang pajak perusahaan tersebut.

2) Mengakui pembelanjaan modal sebagai pembelanjaan operasional, dan membebankan yang sama terhadap laba bersih sehingga mengurangi utang pajak perusahaan

3) Membebankan biaya personal sebagai biaya bisnis sehingga mengurangi laba bersih.

4) Membebankan depresiasi produksi yang berlebihan di bawah nilai penutupan

peralatan sehingga mengurangi laba kena pajak.

(11)

5) Mencatat pembuangan yang berlebihan dari bahan baku dalam industri manufaktur sehingga mengurangi laba kena pajak.

Tindakan tax avoidance dapat diukur dengan berbagai proksi. Proksi yang pertama adalah Effective Tax Rates (ETR). ETR digunakan untuk mengukur dampak perubahan kebijakan perpajakan atas beban pajak perusahaan. Rendahnya ETR juga menjadi indikator pertanda dari tindakan tax avoidance yang dilakukan perusahaan. Tujuan pengukuran ETR adalah untuk mengetahui beban pajak yang dibayarkan dalam tahun berjalan. Cara menghitung ETR sebagai berikut:

𝑬𝑻𝑹 = 𝒃𝒆𝒃𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒋𝒂𝒌

𝒍𝒂𝒃𝒂 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒑𝒂𝒋𝒂𝒌

Proksi kedua adalah Cash Effective Tax Rate (CETR). CETR diharapkan mampu mengidentifikasikan keagresifan perencanaan pajak perusahaan yang dilakukan dengan menggunakan perbedaan tetap maupun perbedaan temporer (Chen et al., 2010 dalam Prakosa, 2014). CETR dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

𝑪𝑬𝑻𝑹 = 𝒑𝒆𝒎𝒃𝒂𝒚𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒋𝒂𝒌 𝒍𝒂𝒃𝒂 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒑𝒂𝒋𝒂𝒌

Proksi ketiga menggunakan Book Tax Different (BTD). BTD adalah proksi

yang menggambarkan selisih antara laba akuntansi dengan laba fiskal, perusahaan

akan berusaha melaporkan laba akuntansi tinggi untuk kepentingan pemegang

saham, namun melakukan strategi agar laba kena pajak rendah. Sehingga BTD

dapat menggambarkan strategi penghindaran pajak jangka panjang dan jangka

pendek (Rego dan Wilson, 2008). BTD dapat dihitung dengan rumus sebagai

berikut:

(12)

𝑩𝑻𝑫 = 𝒍𝒂𝒃𝒂 𝒂𝒌𝒖𝒏𝒕𝒂𝒏𝒔𝒊 − 𝒍𝒂𝒃𝒂 𝒇𝒊𝒔𝒌𝒂𝒍 𝒕𝒐𝒕𝒂𝒍 𝒂𝒔𝒆𝒕

Proksi keempat adalah Book Tax Gap (BTG). Menurut Siswianti (2015) pengukuran tax avoidance dilakukan dengan transformasi data 35 mentah menjadi data yang merupakan nilai logaritma natural (Ln) dari data perhitungan BTG setiap perusahaan itu sendiri. BTG dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

𝑩𝑻𝑮 = 𝑳𝒏 (𝒍𝒂𝒃𝒂 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒑𝒂𝒋𝒂𝒌 − 𝒑𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒔𝒊𝒍𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒏𝒂 𝒑𝒂𝒋𝒂𝒌)

C. Pengembangan Hipotesis

1. Hubungan leverage dan tax avoidance

Teori agensi menurut Jensen & Meckling (1976) merupakan perspektif yang secara jelas menggambarkan masalah yang timbul dengan adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian terhadap perusahaan, yaitu terdapatnya konflik kepentingan dalam perusahaan. Pada penelitian ini principle nya adalah dirjen pajak sebagai pemungut pajak yang mengharapkan pemasukan pajak semaksimal mungkin sedangkan pihak agen yaitu manajemen perusahaan mengharapkan pajak dapat ditekan serendah mungkin untuk memaksimalkan laba perusahaan. Konflik tersebut yang mendorong perusahaan untuk melakukan tax avoidance. Tax avoidance merupakan tindakan yang legal karena memanfaatkan celah-celah pada undang-undang perpajakan.

Banyak strategi yang dapat diterapkan perusahaan untuk melakukan tax

avoidance salah satunya dengan memanfaatkan pendanaan eksternal yaitu utang

yang digambarkan dengan leverage. Menurut Kurniasih & Sari (2013) semakin

tinggi nilai leverage, berarti semakin tinggi jumlah pendanaan dari utang pihak

(13)

eksternal yang digunakan perusahaan dan semakin tinggi pula beban bunga yang timbul dari utang tersebut. beban bunga yang semakin tinggi akan memberikan pengaruh berkurangnya beban pajak perusahaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Wardani & Purwaningrum (2018) yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap tax avoidance. Pada Marfirah & Syam BZ (2016) juga menunjukkan hasil leverage berpengaruh negatif terhadap tax avoidance. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi leverage akan menyebabkan menurunnya tingkat tax avoidance.

Berdasarkan penjelasaan tersebut ditarik hipotesis sebagai berikut:

H

1

: Leverage berpengaruh terhadap tax avoidance 2. Hubungan profitabilitas dan tax avoidance

Profitabilitas perusahaan adalah kemampuan suatu perusahaan untuk

memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan, total aset, maupun modal

sendiri. Semakin besar atau tinggi tingkat profitabilitas maka kemampuan

perusahaan dalam memperoleh keuntungan semakin baik. Rosa & Setiawan (2016)

menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas tinggi maka

semakin tinggi pula tingkat tax avoidance suatu perusahaan yang disebabkan

karena perusahaan dengan laba yang besar akan lebih leluasa untuk memanfaatkan

celah (loopholes) terhadap pengelolaan beban pajaknya. Rosa & Setiawan (2016)

menyebutkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap tax avoidance yang

artinya jika semakin tinggi profitabilitas maka semakin tinggi pula tingkat tax

avoidance suatu perusahaan.

(14)

Berdasarkan penjelasan tersebut ditarik hipotesis sebagai berikut:

H

2

: Profitabilitas berpengaruh terhadap tax avoidance 3. Hubungan CSR dan tax avoidance

CSR merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan kepada semua stakeholder. Dan CSR merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada stakeholder melalui pemerintah. Dengan demikian, perusahaan yang terlibat tax avoidance adalah perusahaan yang tidak bertanggung jawab sosial (Lanis & Richardson, 2012). Sehingga keputusan perusahaan untuk mengurangi tingkat pajaknya atau melakukan penghindaran pajak dipengaruhi oleh sikapnya terhadap CSR.

Hoi et al., (2013) dalam Yoehana (2013) menyatakan bahwa perusahaan dengan kegiatan CSR yang tidak bertanggung jawab memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk terlibat dalam kegiatan tax avoidance. Dengan melakukan kegiatan CSR maka akan menimbulkan beban-beban yang secara langsung akan mengurangi laba, yang berakibat kecilnya beban pajak yang dibayarkan perusahaan. Untuk menghindari beban pajak yang tinggi perusahaan memanfaatkan aktivitas CSR untuk meminimalkan pajak

.

.

Peneliti Budhi & Dharma (2017) menyatakan adanya pengaruh positif antara CSR terhadap tax avoidance, dimana semakin tinggi tingkat CSR (perusahaan melakukan pengungkapan item kegiatan sosial) maka semakin tinggi tindakan tax avoidance yang dilakukan perusahaan.

Berdasarkan penjelasaan tersebut ditarik hipotesis sebagai berikut:

H

3

: CSR berpengaruh terhadap tax avoidance

(15)

D. Kerangka Pemikiran

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh leverage, profitabilitas, corporate social resposcibility (CSR) terhadap penghindaran pajak. Dalam penelitian ini dapat digambarkan bagaimana hubungan antara variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). Variabel independen dalam penelitian ini adalah leverage (X1), profitabilitas (X2), corporate social resposcibility (CSR) (X3).

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah penghindaran pajak. Berikut merupakan gambaran kerangka berpikir dalam penelitian ini:

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Leverage (X1)

Profitabilitas (X2)

CSR (X3)

Tax Avoidance (Y)

Referensi

Dokumen terkait

If you click Search in the Search window with the descriptions shown in Figure 6.15, all PDF files in the designated folder with the words “Purchase Order” in the Title field

Berikut ini adalah hasil akurasi dari pengujian terhadap sistem deteksi dan identifikasi plat nomor menggunakan PCA dan KNN. Pada pengujian ini, software

Pemahaman akan terbentuk apabila proses komunikasi yang terjadi efektif, dimana adanya proses komunikasi aktif antara Dinas Kehutanan dan Kelompok Tani Sungai Tuo dan Kelompok Tani

Saluang memiliki panjang kurang lebih 70 cm dengan ukuran bambu yang kecil, memiliki 4 giriak (lobang nada) yang terdapat di punggung bambu dan 1 girak (lobang

Bank syariah sebagai financial intermediary institutions tidak hanya berusaha memaksimalkan expected utility pemegang sahamnya, tapi juga memerhatikan expected utility

Dan biasanya apabila manusia mengalami masalah pada bahagian otak ini, contohnya mengalami masalah nyanyuk, bahagian pertama yang akan terkena.. kesannya ialah bahagian Parietal

Kegiatan-kegiatan pengembangan usaha yang dilakukan adalah membuat spanduk baru, membuat program diskon, membuat program ganti-rugi kepada pelanggan apabila ada pakaian yang

Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun perencanaan bisnis penyedia layanan oleh-oleh “Flower” dengan sistem paket, dilihat dari aspek pemasaran, aspek sumber daya