BAB I PENDAHULUAN. menopause sekitar 30,3 juta jiwa dengan usia rata-rata 49 tahun yang mengalami

Teks penuh

(1)

1

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Menopause merupakan fase akhir proses biologis dari siklus menstruasi karena ovarium mengalami penurunan produksi hormon esterogen (Susanti, 2014).

Rata-rata usia wanita menopause berkisar dari 40 sampai 65 tahun (Khatoon, et al.

2018). Menopause bukanlah suatu penyakit melainkan keadaan normal yang akan dialami semua wanita. Meski menopause merupakan keadaan normal, namun ternyata tidak semua perempuan dapat menerima hal ini dengan baik (Amalina & Kinanthi, 2017).

Diperkirakan 1,2 miliar wanita di seluruh dunia akan mengalami menopause pada 2030 (Moskhi, et al. 2017). Penduduk Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 262,6 juta jiwa dengan jumlah wanita yang hidup dalam usia menopause sekitar 30,3 juta jiwa dengan usia rata-rata 49 tahun yang mengalami menopause (Depkes RI, 2005; Muniroh & Mahmudah, 2013). Wanita akan mengalami banyak perubahan sebelum memasuki masa menopause (pramenopause), perubahan tersebut merupakan masalah yang menyebabkan keluhan dan kecemasan pada wanita (Sasrawita, 2017).

Data dari Dinas Kesehatan Kota Malang tahun 2018, di Jawa Timur total

wanita usia 40 − 49 tahun sebanyak 2.997.36 dan wanita usia 50 − 59 tahun sebanyak

2.584.193. Sedangkan di kota malang total wanita usia 40 − 49 tahun sebanyak 60.649

dan wanita usia 50 − 59 tahun 53.577. Data proyeksi tahun 2019 di kota Malang

populasi wanita usia 30 sampai 50 tahun paling tinggi berada di daerah kelurahan

Bandungrejosari dengan total 4.882, kelurahan Pandanwangi sebanyak 4.503,

kelurahan Kotalama dengan total 4.442. Populasi wanita usia lebih dari 60 tahun

(2)

paling tinggi berada di daerah Kelurahan Bandungrejosari dengan total 1.910 Kelurahan Pandanwangi sebanyak 1.762, dan Kelurahan Kotalama 1.738.

Masalah pada menopause meliputi hot flushes (rasa panas dari dada hingga wajah), night sweet (berkeringat di malam hari), dryness vaginal (kekeringan vagina), penurunan daya ingat, insomnia, depresi, fatique (mudah lelah), penurunan libido, drypareunia (rasa sakit ketika berhubungan seksual) dan incontinence urinary (sering buang air kecil), (Proverawati, 2010; Sasrawita, 2017). Masalah seksual yang paling sering dilaporkan oleh wanita menopause adalah hilangnya libido dan dispareunia.

Meskipun 52% wanita menopause alami dan 27% wanita pramenopause melaporkan hasrat seksual yang rendah, hanya 10% hingga 15% wanita yang tertekan oleh masalah seksual mereka. Juga, hingga 50% wanita melaporkan ketidaknyamanan vagina dalam 3 tahun setelah menopause. Wanita usia 45 – 64 tahun memiliki prevalensi kesulitan tertinggi pada Skala Kesulitan Seksual Wanita, dengan 14,8%

prevalensi secara keseluruhan, 12,3% untuk hasrat seksual, 7,5% untuk gairah, dan 5,7% untuk orgasme, tetapi hanya 33% wanita mencari perawatan formal. Tingkat disfungsi seksual wanita pascamenopause ditemukan paling tinggi di Asia, Amerika Latin, dan Eropa (SOGC, 2014).

Berdasarkan hasil penelitian, dari 151 orang wanita menopause didapatkan

53% mengeluh gangguan disfungsi seksual, dan 47% merasa tidak terganggu, dengan

keluhan tertinggi pada 70% gairah, 70% lubrikasi, dan 62% hasrat/keinginan

(Eftekhar et al, 2016). Hasil penelitian lain menyampaikan masalah disfungsi seksual

pada wanita menopause adalah 48,6% keluhan hasrat, 75,7% gairah, 73% lubrikasi,

73% keluhan orgasme, 70,3% keluhan kepuasan, dan 70,3% mengeluh rasa sakit

(Hurrahmi et al, 2017).

(3)

psikologis yang memengaruhi seksualitas. Disfungsi seksual wanita selama menopause memengaruhi kualitas hidup dan hubungan pribadi mereka secara negatif. Kekhawatiran utama wanita pada masa menopause adalah dampak negatif dari disfungsi seksual pada kepuasan pernikahan. Wanita menopause percaya bahwa penurunan aktivitas seksual mereka bertanggung jawab atas konflik dan ketidakpuasan dalam pernikahan. Wanita-wanita ini khawatir tentang keretakan keluarga mereka akibat dari disfungsi seksual mereka. Mereka pikir disfungsi seksual mereka selama masa menopause mungkin akan menyebabkan suami mereka menikah kembali (Jafarbegloo et al, 2017).

Menurut Atrian et al (2018) kekhawatiran wanita menopause akibat disfungsi seksual adalah menyebabkan perpisahan atau perceraian, dan depresi sehingga menciptakan ketegangan dalam keluarga. Keadaan tersebut dapat disebabkan oleh masalah mental dan psikologis, yang juga berkontribusi terhadap timbulnya masalah tersebut. Keluhan pada disfungsi seksual dapat dikurangi ketika wanita memiliki keinginan atau motivasi untuk melakukan tindakan dalam mengurangi gejala tersebut.

Tindakan mengurangi gejala disfungsi seksual dapat dilakukan melalui kegiatan relaksasi seperti yoga atau hipnotis, melakukan modifikasi gaya hidup, atau menggunakan lubrikasi vagina (SOGC, 2014). Keinginan atau motivasi dalam melakukan perubahan atau suatu tindakan yang ditujukan untuk menyelesaikan suatu permasalahan merupakan self-efficacy tinggi, yang terbentuk karena rasa percaya terhadap diri sendiri dalam menyelesaikan permasalahan.

Self-efficacy memainkan peran penting dalam memfasilitasi penyesuaian

psikologis, menangani masalah psikologis, meningkatkan kesehatan fisik, dan

mengubah strategi perilaku. Dengan demikian, self-efficacy seksual sangat penting

(4)

dalam kehidupan fungsi seksual. Self-Efficacy merupakan penilaian individu pada dirinya sendiri mengenai kemampuan dan tindakan dirinya untuk melakukan suatu tugas atau kegiatan (Bandura, 1994; Shahbo et al., 2016). Data self-efficacy dalam sebuah penelitian disampaikan bahwa wanita dengan self-efficacy yang lebih tinggi (50,35%) melakukan perubahan dengan melakukan olahraga untuk memiliki gaya hidup sehat.

Salah satu cara terbaik untuk mengatasi kecemasan saat menopause adalah dengan berbagi dan membicarakannya dengan orang disekelilingnya, karena dengan menceritakannya akan membuat orang tersebut lebih mudah dalam menerima menopause (Reitz, 2002; Muntiah & Ni’amah, 2013).

Peneliti melakukan studi pendahuluan di Puskesmas Janti yang dilaksanakan pada tanggal 1 April 2019. Studi pendahuluan dilakukan kepada 10 wanita menopause yang sesuai dengan kriteria penelitian, hasil yang didapatkan adalah tingkat self-efficacy pada wanita menopause 60% memiliki tingkat self-efficacy yang rendah, sedangkan 40% lainnya memiliki self-efficacy yang cukup tinggi. Pada studi pendahuluan terkait fungsi seksual dari 10 wanita diperoleh hasil adanya gangguan fungsi seksual sebanyak 70%, sedangkan fungsi seksual normal sebanyak 30% . Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang "Hubungan Self Efficacy Fungsi Seksual Dengan Gangguan Fungsi Seksual Pada Masa Menopause".

1.2 Rumusan Masalah

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah ada hubungan antara

self-efficacy fungsi seksual dengan gangguan fungsi seksual pada masa menopause.

(5)

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui adanya hubungan antara self-efficacy fungsi seksual dengan gangguan fungsi seksual pada masa menopause.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi self-efficacy fungsi seksual.

2. Mengidentifikasi gangguan fungsi seksual pada masa menopause.

3. Menganalisis hubungan antara self-efficacy fungsi seksual dengan gangguan fungsi seksual pada masa menopause.

1.4 Manfaat Penulisan 1.4.1 Manfaat Teoritis

Meningkatkan self-efficacy dan penerimaan diri terhadap menopause sebagai bagian dari proses reproduksi yang dilalui setiap wanita. Berdasarkan pengamatan terhadap self-efficacy pada wanita menopause hal ini dapat meningkatkan motivasi wanita untuk melakukan adaptasi dengan proses menopause.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan secara umum oleh wanita-wanita yang khususnya pada masa menopause untuk menggali sumber dukungan dan kegiatan yang dapat meningkatkan self-efficacy.

2. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh perawat dalam penyuluhan- penyuluhan serta mengedukasi dan memotivasi wanita untuk meningkatkan self-efficacy pada masa menopause.

3. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber pengetahuan dan dapat

digunakan sebagai sumber referensi untuk penelitian selanjutnya.

(6)

1.5 Keaslian Penelitian

1. Berdasarkan penelitian oleh Moshki, et al (2017) dengan judul "The Effectiveness of A Group Based Educational Program on The Self-Efficacy and Self-Acceptance of Menopausal Women: A Randomized Controlled Trial". Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas pelatihan pendidikan berbasis kelompok pada Self efficacy dan penerimaan diri wanita menopause Iran menggunakan model precede-proceed. Penelitian ini dilakukan pada 80 wanita menopause dalam rentang usia 47-55 tahun yang berada di timur laut Iran. Peserta dibagi secara acak menjadi kelompok uji (n = 40) dan kelompok kontrol (n = 40). Hasil penelitian ini menemukan bahwa merancang dan menerapkan pelatihan pendidikan berbasis kelompok sesuai dengan model precede-proceed dapat secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan kinerja kelompok uji dengan memperhatikan self efficacy dan penerimaan diri. Yang membedakan dengan penelitian yang saya lakukan adalah pada penelitian ini wanita menopause diberikan pendidikan berbasis kelompok dengan metode precede-proceed untuk menilai self-efficacy dan penerimaan diri terhadap menopause tanpa menilai fungsi seksualnya.

2. Berdasarkan penelitian Hurrahmi et al (2017) dengan judul "Profile of Sexual Function Using Female Sexual Function Index (FSFI) in Postmenopausal Women in Geriatric Clinic, Dr Soetomo Hospital, Surabaya" bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran fungsi seksual pada wanita setelah menopause serta menjelaskan faktor disfungsi seksual berdasarkan 6 domain seksual. Penelitian ini menggunakan kuisioner Female Sexual Function Index dalam mengumpulkan data. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode survey.

Sampel dalam penelitian ini sebanyak 90 orang wanita pasca menopause di

(7)

peneliti. Penilaian hasil pada fungsi seksual didapatkan 78.4% wanita pasca menopause mengalami disfungsi seksual. Yang membedakan dengan penelitian yang saya lakukan adalah pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran fungsi seksual pada wanita pasca menopause.

3. Dari hasil penelitian Eftekhar et al (2016) dengan judul “Female Sexual Function During the Menopausal Transition in a Group of Iranian Women”. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi masalah seksual pada wanita Iran dan hubungan disfungsi seksual dengan gejala menopause. Responden dalam penelitian ini adalah 151 wanita dengan rentang usia 40 sampai 60 tahun.

Responden dievaluasi mengenai fungsi seksual mereka dalam domain hasrat, gairah, pelumasan, orgasme, kepuasan dan rasa sakit dengan kuesioner indeks fungsi seksual wanita (FSFI). Skala peringkat Menopause (MRS) dikembangkan untuk diagnosis dan kuantifikasi gejala klimakterik. Frekuensi total disfungsi seksual adalah 53%, ada hubungan antara keparahan gejala somatik dan urogenital dengan disfungsi seksual (masing-masing p = 0,03, p

= 0,00). Yang membedakan dengan penelitian yang saya lakukan adalah pada

penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevelensi masalah seksual dan

disfungsi seksual pada wanita menopause.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :