Journal of Midwifery Information (JoMI)
Pengurus Cabang Ikatan Bidan Indonesia Kota Tasikmalaya
ISSN: 2747-0148 (Printed); 2747-0822 (Online)
Journal Homepage: http://https://jurnal.ibikotatasikmalaya.or.id/index.php/jomi
HUBUNGAN INISIASI MENYUSUI DINI (IMD) DENGAN KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU YANG MEMILIKI BAYI USIA 7-12 BULAN DI PUSKESMAS TANJUNGSARI KABUPATEN SUMEDANG TAHUN 2020
Fadila Qurrota A’yun1, Yati Budiarti2, Endang Astiriyani3
1,2,3 Politeknik Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya
*Corresponding author: [email protected]
Info Artikel
Abstract Keywords:
Early Initiation of Breastfeeding, Success of Exclusive Breastfeeding
Neonatal Mortality Rate (NMR) and Infant Mortality Rate (IMR) are one of several success indicator for giving Public Health Service in a Country . The purpose of this research are to find out the Correlation Beetween Early Breastfeeding Initiation (IMD) With The Success of giving Exclusive Breastfeeding for Mothers Who Have Babies Aged 7-12 Months at Tanjungsari Public Health Center Sumedang Regency in 2020. The type of research used by researchers is retrospective by using Cross Sectional design. Researchers set 62 person according with the criteria for inclusion and exclusion as the Sample of this research. The results of this research are Most of respondents doing IMD as much 40 person or 64.52% and whodoesn't doing IMD as much 22 people or 35.48%. Majority of newborn baby have an IMD in the first hour after birth.
Exclusive Breastfeeding given from 62 respondents had a total average of 17.82 or 89.1% and successful as much 37 person or 59.68%, while the unsuccessful as much 25 person or 40.32%. The highest value is 100% that from 62 person there are several person who was 100% successful in giving exclusive Breastfeeding, meanwhile the lowest value is 20%. The success rate of exclusive breastfeeding is 100%, if below from that value will not Having success. The success was achieved by 37 mothers in Tanjungsari Public Health Center, Sumedang Regency in 2020. The chi square test obtained a significance value of 0.000. Based on this value because the value of p < 0.05 can concluded that "There was a Correlation Beetween Early Breastfeeding Initiation (IMD) With The Success of giving Exclusive Breastfeeding for Mothers Who Have Babies Aged 7-12 Months at Tanjungsari Public Health Center Sumedang Regency in 2020
Kata kunci:
Inisiasi Menyusu Dini, Keberhasilan ASI Eksklusif
Abstrak
Angka Kematian Neonatal (AKN) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator keberhasilan layanan kesehatan di suatu Negara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Dengan Keberhasilan Pemberian Asi Eksklusif Pada Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 7-12 Bulan Di Puskesmas Tanjungsari Kabupaten Sumedang Tahun 2020.
Jenis penelitian yang akan digunakan oleh peneliti yaitu retrospektif dengan menggunakan desain Cross Sectional. Peneliti menetapkan besar sampel sebanyak 62 orang yang sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian Sebagian besar responden melakukan IMD sebanyak 40 orang atau 64,52% dan yang tidak melakukan IMD sebesar 22 orang atau 35,48%.
Kebanyakan bayi baru lahir melakukan IMD pada satu jam pertama setelah lahir. Pemberian ASI Eksklusif dari 62 responden memiliki total rata-rata 17,82 atau 89,1% dan yang berhasil sebanyak 37 orang atau 59,68%, sedangkan yang tidak berhasil sebanyak 25 orang atau 40,32%. Nilai tertinggi adalah sebesar 100% dimana dari 62 orang ada yang berhasil 100% dalam memberikan ASI Ekslusif, sedangkan nilai terendah sebesar 20%. Angka keberhasilan ASI ekslusif berada pada angka 100%, jika di bawah maka tidak tercapai keberhasilannya.
Keberhasilan dicapai oleh 37 orang ibu di Puskesmas Tanjungsari Kabupaten Sumedang Tahun 2020. Uji chi square didapatkan nilai signifikansi 0.000.
Berdasarkan nilai tersebut karena nilai p < 0.05 dapat diambil kesimpulan bahwa “Ada Hubungan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Dengan Keberhasilan Pemberian Asi Eksklusif Pada Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 7-12 bulan di Puskesmas Tanjungsari Kabupaten Sumedang Tahun 2020”..
PENDAHULUAN
Angka Kematian Neonatal (AKN) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator keberhasilan layanan kesehatan di suatu Negara. Dari hasil Kebijakan dan Rencana Aksi Program Kesehatan Masyarakat dalam Renstra tahun 2020 angka kematian bayi di Indonesia mencapai 24 per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian neonatal sebesar 15 per 1000 kelahiran hidup(1). Angka tersebut belum mencapai target yang telah ditetapkan dalam Renstra tahun 2020- 2024 yaitu 16 per 1000 kelahiran hidup(1). Selain itu PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) juga sudah merumuskan kerangka kerja baru yaitu Sustainable Development Goals (SDGs) dengan target menurunkan Angka Kematian Neonatal (AKN) yaitu 12 per 1000 kelahiran hidup yang akan berlaku di tahun 2030(2). Dengan demikian angka kematian neonatal di Indonesia masih jauh dari target terbaru sehingga perlu adanya upaya untuk menekan AKB di Indonesia.
Kematian bayi dan balita paling banyak disebabkan karena kekurangan nutrisi yaitu sebesar 58%, menyusui yang tidak optimal (tidak ASI eksklusif) menyumbang 45%. Kematian 30.000 anak di Indonesia setiap tahunnya dapat dicegah dengan cara memberikan makanan terbaik yaitu pemberian Air Susu Ibu (ASI)(3). Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dapat mengurangi hingga 13% angka kematian balita karena menyusui merupakan salah satu investasi terbaik untuk kelangsungan hidup dan meningkatkan kesehatan, perkembangan social, serta ekonomi individu(4). Kandungan antibodi dalam ASI mampu menginduksi sistem imun tubuh sehingga anak yang diberi ASI eksklusif tidak mudah sakit dan mengurangi morbiditas infeksi sistem pencernaan dan diare(6). Anak yang diberikan ASI eksklusif memiliki resiko lebih rendah terkena infeksi gastrointestinal dibanding anak yang hanya mendapat ASI selama 3-4 bulan. Selain itu anak yang mendapatkan ASI eksklusif juga tidak mudah terkena infeksi saluran pernapasan atas (ISPA)(7).
Menurut Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019, bayi yang mendapat ASI eksklusif yaitu sebesar 67,74%. Angka tersebut sudah melampaui target Renstra 2019 yaitu 50%. Untuk Provinsi Jawa Barat mencapai 63,53%(8), sedangkan untuk Kabupaten Sumedang mencapai 60%(14).
Namun, dalam pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun
2020-2024 dan juga Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan tahun 2020-2024 menetapkan target pencapaian ASI eksklusif sebesar 80%(5). Dapat dikatakan cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia belum mencapain target yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh gencarnya pemasaran susu formula, belum tersedianya ruang laktasi dan dukungan tempat kerja, terbatasnya tenaga konselor ASI, kurangnya dukungan tenaga kesehatan dalam menerapkan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM)(9). UNICEF (United Nations Children’s Fund) dan WHO (World Health Organization) membuat rekomendasi pada ibu untuk menyusui eksklusif selama 6 bulan kepada bayinya. Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu upaya yang dilakukan dalam memecahkan masalah terkait pencapaian cakupan ASI eksklusif di Indonesia (10). Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemberian ASI eksklusif diantaranya yaitu usia, paritas, jenis persalinan, dukungan suami, pengetahuan, pekerjaan, pendidikan dan yang lainnya(54).
Berdasarkan penelitian Fikawati dan Syafiq faktor pemungkin yang kuat dalam keberhasilan ibu memberikan ASI eksklusif yaitu Inisiasi Menyusui Dini (IMD)(11). IMD merupakan program yang dikeluarkan oleh WHO dan UNICEF pada tahun 2007 sebagai tindakan “penyelamatan kehidupan”, karena dengan IMD angka kematian bayi usia 28 hari dapat di kurangi sebanyak 22%
dan angka kematian balita sebanyak 8,8%(9). IMD merupakan proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan tanpa dimandikan terlebih dahulu, seluruh badan bayi dikeringkan kecuali telapak tangannya, bayi diletakkan tengkurap di dada ibu dengan kontak langsung antara kulit bayi dan kulit ibu setidaknya selama satu jam sampai dengan bayi berhasil meraih puting ibu untuk menyusu langsung sesuai kebutuhannya atau lamanya menyusu saat IMD ditentukan oleh bayi.
Menurut hasi penelitian Rahayu,dkk menunjukkan bahwa ibu yang melakukan IMD akan berhasil memberikan ASI eksklusif. Namun, pada kenyataannya masih ada ibu yang gagal memberikan ASI eksklusif walaupun telah melakukan IMD(12).
Berdasarkan data dari Kemenkes tahun 2017, cakupan IMD di Indonesia sebesar 57,90%
meningkat dibandingkan tahun 2016 yaitu 51,80%. Namun, meski meningkat angka tersebut masih jauh dari target WHO yaitu sebesar 90%(55). Berdasarkan data Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2017, cakupan IMD di Jawa Barat yaitu sebesar 58%. Kabupaten Sumedang merupakan salah satu kabupaten dengan cakupan IMD yang masih rendah(13). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang tahun 2020, cakupan IMD di Kabupaten Sumedang yaitu sebesar 75,64% sedangkan Puskesmas Tanjungsari yaitu sebesar 69,81%. Selain itu, masih sedikitnya ibu yang memberikan ASI Eksklusif sebanyak 60%(14).
Beberapa temuan diatas peneliti berasumsi bahwa terdapat keterkaitan antara pelaksanaan IMD dengan keberhasilan ASI eksklusif, sehingga hal tersebut menarik peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dengan Keberhasilan ASI Eksklusif Pada Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 7-12 Bulan di Puskesmas Tanjungsari Tahun 2020”.
METODE
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu retrospektif, merupakan suatu penelitian berupa pengamatan terhadap peristiwa-peristiwa yang telah terjadi yang bertujuan untuk mencari faktor yang berhubungan dengan penyebab. Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor- faktor risiko dengan
efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach)(42). Penelitian ini, mempelajari hubungan antara IMD dengan keberhasilan ASI eksklusif melalui pendekatan, observasi atau pengumpulan data yang dilakukan dalam waktu bersamaan.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari atas subjek/objek yang mempunyai kuantitas dan kareakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya(43). Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai bayi usia 7 – 12 bulan yang berada di wilayah kerja Pukesmas Tanjungsari Kabupaten Sumedang Tahun 2020 yaitu sebanyak 162 orang.
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan teknik non random sampling / non probability sampling dengan menggunakan metode purposive sampling. Dalam non random sampling ini tidak semua individu dalam populasi diberi peluang yang sama untuk ditugaskan menjadi anggota sampel. Dan pengambilan sampel secara purposive sampling adalah cara cara penarikan sampel yang dilakukan dengan memilih subjek berdasarkan karakteristik tertentu yang dianggap mempunyai hubungan dengan karakteristik populasi yang sudah diketahui sebelumnya(46). Dalam penelitian ini peneliti menetapkan besar sampel sebanyak 62 orang yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Dengan Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 7-12 Bulan Di Puskesmas Tanjungsari Kabupaten Sumedang Tahun 2020. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 62 orang yang melakukan IMD dan tidak IMD.
Melalui uji univariat dan bivariat yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitasnya melalui bantuan SPSS. 26. Penelitian ini dilakukan menggunakan kuesioner penelitian dengan jumlah soal ASI Ekslusif sebanyak 20 pernyataan dan pelaksanaan IMD sengan satu soal.
Di bawah ini merupakan kriteria penilaian yang akan di analisis menurut penilaian Arikunto, adalah sebagai berikut.
Tabel 1 Kategori Penilaian Arikunto
Dimensi Baik Cukup Kurang
>76% 60 - 75% < 60%
Gambaran IMD Pada Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 7-12 Bulan di Puskesmas Tanjungsari
Inisiasi Menyusui Dini (IMD) merupakan proses bayi menyusu segera setelah lahir dengan kontak langsung antara kulit ibu dan bayi, dimana bayi dibiarkan mencari putting susu ibu sendiri tanpa disodorkan langsung ke puting susu ibu setidaknya selama 1 jam atau lebih. Adapun distribusi lengkap mengenai gambaran IMD pada ibu yang memiliki bayi usia 7-12 Bulan di Puskesmas Tanjungsari berdasarkan hasil dipaparkan pada tabel berikut:
Tabel 2 Distribusi Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 7-12 Bulan Berdasarkan Pelaksanaan IMD di Puskesmas Tanjungsari
Pelaksanaan IMD Total Jumlah Responden Persentase
IMD 40 62 64,52%
Tidak IMD 22 62 35,48%
Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa sebagian besar responden melakukan IMD sebanyak 40 orang atau 64,52% dan yang tidak melakukan IMD sebanyak 22 orang atau 35,48%.
Gambaran ASI Eksklusif Pada Ibu Yang Memiliki Bayi 7-12 Bulan Di Puskesmas Tanjungsari Pemberian ASI yang diberikan dari hari pertama kelahiran sampai usia 6 bulan tanpa tambahan makanan dan minuman apapun. Kandungan antibodi dalam ASI mampu menginduksi sistem imun tubuh sehingga anak yang diberi ASI eksklusif tidak mudah sakit dan mengurangi morbiditas infeksi sistem pencernaan dan diare.
Keberhasilan ASI Eksklusif dapat dijelaskan pada tabel di bawah ini:
Tabel 3 Distribusi Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 7-12 Bulan Berdasarkan Keberhasilan ASI Eksklusif Di Puskesmas Tanjungsari
Jumlah Responden Persentase
Berhasil 37 62 59,68%
Tidak Berhasil 25 62 40,32%
62 100%
Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa yang berhasil memberikan ASI eksklusif sebanyak 37 orang atau 59,68% dan yang tidak berhasil asi eksklusif sebanyak 25 orang atau 40,32%.
Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Namun apabila dikaitkan dengan IMD, tidak semua yang melakukan IMD berhasil ASI Ekslusif karena masih banyak faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhinya.
Di bawah ini merupakan distribusi frekuensi kategori penilaian dari Hasil Keberhasilan ASI Eksklusif Pada Ibu Yang Memiliki Bayi 7-12 Bulan Di Puskesmas Tanjungsari.
Tabel 4Distribusi Frekuensi Keberhasilan ASI Eksklusif Pada Ibu Yang Memiliki Bayi 7-12 Bulan Di Puskesmas Tanjungsari
Kategori Kriteria Frekuensi Presentase (%)
Baik > 76% 53 85,48
Cukup 60 - 75% 3 4,84
Kurang < 60% 6 9,68
Total 62 100
Total Rata-rata 17,82 89,1
Diketahui bahwa tingkat keberhasilan yang memiliki kriteria > 76% dengan kategori baik sebanyak 53 orang atau 85,48%, sedangkan kriteria 60 - 75% dengan kategori cukup sebanyak 3
orang atau 4,84% dan kriteria < 60% dengan kategori kurang sebanyak 6 orang atau 9,68%, sehingga dapat diambil nilai rata-rata sebesar 17,82 atau 89,1%.
Hubungan IMD Dengan Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif
Analisa bivariat dilakukan untuk melihat ada tidaknya Hubungan IMD Terhadap Keberhasilan ASI Eksklusif. Setelah melakukan penelitian mengenai Hubungan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Dengan Keberhasilan Asi Eksklusif Pada Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 7-12 bulan di Puskesmas Tanjungsari Kabupaten Sumedang Tahun 2020 memiliki perbedaan yang signifikan/bermakna.
Tabel 5 Hubungan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Dengan Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Tanjungsari
ASI Eksklusif
Total P-Value Korelasi Tidak
Berhasil
%
Berhasil
%
IMD Tidak 21 84 1 3 22
0,000 0,644
Ya 4 16 36 97 40
Total 25 100 37 100 62
Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa dari yang tidak melakukan IMD sebanyak 22 orang ada yang tidak berhasil ASI Ekslusif sebanyak 21 orang dan berhasil ASI Eksklusif 1 orang, sedangkan dari yang melakukan IMD ada yang berhasil ASI Eksklusif sebanyak 36 orang dan tidak berhasil asi eksklusif sebanyak 4 orang.
Berdasarkan hasil analisa data dengan uji chi square didapatkan nilai signifikansi 0.000 dengan nilai koefisien kontingensi korelasi sebesar 0,644. Berdasarkan nilai tersebut karena nilai p value < 0.05 dapat diambil kesimpulan bahwa “Ada Hubungan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Dengan Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 7-12 bulan di Puskesmas Tanjungsari Kabupaten Sumedang Tahun 2020” dan memiliki besar hubungan cukup kuat.
PEMBAHASAN
Inisiasi Menyusui Dini (IMD)
IMD merupakan proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, dimana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri (tidak dituntun ke puting susu). Dua puluh empat jam pertama setelah ibu melahirkan adalah saat yang sangat penting untuk keberhasilan menyusui selanjutnya. Pada jam-jam pertama setelah melahirkan dikeluarkan hormon oksitosin yang bertanggung jawab terhadap produksi ASI. IMD dapat dilakukan dalam semua jenis kelahiran normal maupun dengan bantuan vakum atau operasi(9).
Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden melakukan IMD sebanyak 40 orang atau 64,62% dan yang tidak melakukan IMD sebanyak 22 orang atau 35,48%. Isapan bayi sangat penting dalam meningkatkan kadar hormon prolaktin, yaitu hormon yang merangsang kelenjar susu untuk memproduksi ASI. Isapan itu akan meningkatkan produksi susu 2 kali lipat.
Rangsangan ini harus segera dilakukan karena jika terlalu lama dibiarkan, bayi akan kehilangan kemampuan ini(18). Oleh karena itu, inisiasi menyusui dini akan lebih bermanfaat untuk keberlanjutan pemberian ASI eksklusif dibandingkan tidak inisiasi menyusui dini. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang mengatakan bahwa IMD pada satu jam pertama dapat meningkatkan potensi keberhasilan secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI sampai berumur 2 tahun(62).
Ada banyak sekali faktor yang dapat menghambat pelaksanaan IMD yaitu kurangnya kepedulian terhadap pentingnya IMD, kurangnya konseling oleh tenaga kesehatan tentang praktik IMD, masih kuatnya kepercayaan keluarga bahwa ibu memerlukan istirahat yang cukup setelah melahirkan dan menyusui sulit dilakukan, adanya kepercayaan masyarakat yang menyatakan bahwa kolostrum yang keluar pada hari pertama tidak baik untuk bayi, adanya kepercayaan masyarakat yang tidak mengizinkan ibu untuk menyusui dini sebelum payudaranya dibersihkan sehingga faktor-faktor tersebut mengakibatkan cakupan IMD masih rendah(18).
Hal tersebut didukung dengan data dari Kemenkes tahun 2017, cakupan IMD di Indonesia sebesar 57,90% meningkat dibandingkan tahun 2016 yaitu 51,80%. Namun, meski meningkat angka tersebut masih jauh dari target WHO yaitu sebesar 90%(55). Berdasarkan data Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2017, cakupan IMD di Jawa Barat yaitu sebesar 58%. Kabupaten Sumedang merupakan salah satu kabupaten dengan cakupan IMD yang masih rendah(13). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang tahun 2020, cakupan IMD di Kabupaten Sumedang yaitu sebesar 75,64% sedangkan Puskesmas Tanjungsari yaitu sebesar 69,81%.
ASI Eksklusif
Pemberian ASI yang diberikan dari hari pertama kelahiran sampai usia 6 bulan tanpa tambahan makanan dan minuman apapun. Kandungan antibodi dalam ASI mampu menginduksi sistem imun tubuh sehingga anak yang diberi ASI eksklusif tidak mudah sakit dan mengurangi morbiditas infeksi sistem pencernaan dan diare. Sistem pencernaan bayi dibawah usia 6 bulan belum mampu menyerap makanan atau minuman selain ASI. Akibatnya walaupun bayi menelan makanan yang diberikan kepadanya selain ASI, tetapi tidak ada zat-zat yang mampu diserap oleh tubuhnya(32).
Menyusui secara eksklusif merupakan cara pemberian makan bayi yang alamiah. Namun, seringkali ibu-ibu kurang mendapatkan informasi yang salah tentang manfaat ASI eksklusif tentang bagaimana cara menyusui yang benar dari apa yang harus dilakukan bila timbul kesukaran dalam menyusui bayinya(31).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah responden yang memberikan asi eksklusif kepada bayinya sebanyak 37 orang (59,68%), sedangkan yang tidak berhasil asi eksklusif adalah sebanyak 25 orang (40,32%) dengan memiliki total rata-rata sebesar 17,82 atau 89,1%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memberikan ASI eksklusif kepada bayinya tanpa tambahan makanan atau minuman apapun hingga bayi berusia 6 bulan.
Keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada bayi dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal diantaranya pendidikan, pengetahuan, usia, pekerjaan, keadaan fisik, paritas, sedangkan faktor eksternal diantaranya yaitu dukungan suami, dukungan tenaga kesehatan dan IMD(33).. Ketidakberhasilan ASI eksklusif saat ini diperkirakan karena masih
adanya ibu-ibu yang tidak melakukan IMD sehingga berpengaruh terhadap cakupan asi eksklusif.
Hal tersebut dapat dilihat dari Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019 cakupan bayi yang mendapat ASI eksklusif yaitu sebesar 67,74%, angka tersebut belum melampaui target Renstra tahun 2020-2024 yaitu sebesar 80%.
Berdasarkan hasil penelitian Kadir, praktik IMD merupakan salah satu penyebab keberhasilan ASI eksklusif. Inisiasi menyusui dini yang terunda terbukti terkait dengan durasi menyusui yang singkat(59). IMD pada satu jam pertama dapat meningkatkan potensi keberhasilan secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI sampai berumur 2 tahun(62).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Shaliha Anindita (2019) ibu yang memberikan ASI eksklusif mayoritas ibu yang tidak bekerja 46,5%. Ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif mayoritas ibu yang bekerja sebesar 74,8%. Dan disimpulkan bahwa ada hubungan antara pekerjaan terhadap praktik pemberian ASI eksklusif. Ibu bekerja yang memberikan ASI eksklusif dimungkinkan karena pekerjaan ibu diperkirakan dapat mempengaruhi pengetahuan dan kesempatan ibu yang bekerja di luar rumah memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai informasi, termasuk mendapatkan informasi tentang pemberian ASI eksklusif, komitmen yang tinggi untuk memberikan ASI eksklusif, pengetahuan yang baik tentang ASI eksklusif, serta faktor dukungan keluarga.
Tingkat pendidikan ibu adalah salah satu faktor yang berpengaruh terhadap ketidakberhasilan ASI eksklusif. Tingkat pendidikan mempengaruhi kemampuan ibu dalam menerima dan memahami setiap informasi yang diperoleh. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi akan semakin baik dalam menerima dan memahami setiap informasi tentang ASI Eksklusif. Hasil penelitian Hartini (2014) menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antar tingkat pendidikan ibu dengan keberhasilan ASI Eksklusif pada bayi yang menunjukkan bahwa dari 100% responden ibu menyusui, masih terdapat 41,6% responden ibu ibu yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah sehingga sulit dalam menerima informasi tentang ASI eksklusif(58).
Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap ketidakberhasilan ASI eksklusif. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui seseorang yang dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya. Hasil penelitian Juliastuti (2011) menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antar pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI eksklusif kepada bayi, semakin tinggi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif semakin baik pemberian ASI eksklusif pada bayi(62).
Hasil penelitian Abdullah, M.Tahir, dkk (2013) menujukkan bahwa kesehatan fisik ibu dapat mempengaruhi keputusan ibu untuk menyusui bayinya dan ada peningkatan untuk tidak menyusui secara eksklusif. Hasil penelitian Sopiyani (2014) menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antar dukungan social suami dengan motivasi ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Ibu yang memiliki dukungan dan perhatian yang tinggi dari suaminya memiliki motivasi yang tinggi dalam memberikan ASI eksklusif.
Penelitian di Siak dalam Azriani (2014) juga menujukkan bahwa ibu yang mendapat dukungan petugas kesehatan mempunyai peluang 5,6 kali menyusui secara eksklusif dibandingkan denga ibu yang tidak mendapat dukungan tenaga kesehatan. Hasil penelitian Garudiwai (2014) menujukkan bahwa semua partisipan yang dilakukan IMD merasa senang,
nyaman, dan termotivasi untuk memberikan ASI kepada bayinya(60). Ketidakberhasilan ASI eksklusif saat ini perkirakan karena masih adanya ibu ibu yang tidak melakukan IMD.
Berdasarkan data diatas maka dapat disimpulkan bahwa keberhasilan asi eksklusif dapat dipengaruhi oleh banyak faktor internal dan eksternal diantaranya yaitu pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, usia, dukungan keluarga, IMD, keadaan fisik ibu dan faktor lainnya.
Hubungan IMD dengan Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara IMD dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Hal ini dibuktikan berdasarkan Uji Bivariat chi square didapatkan nilai signifikansi 0.000. Berdasarkan nilai tersebut karena nilai p < 0.05 dapat diambil kesimpulan bahwa
“Ada Hubungan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Dengan Keberhasilan Pemberian Asi Eksklusif Pada Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 7-12 bulan di Puskesmas Tanjungsari Kabupaten Sumedang Tahun 2020”. Penelitian ini didukung oleh banyak penelitian lainnya yang telah dilakukan dengan hasil yang sama.
Sebanyak 40 responeden (64,52%) dalam penelitian ini melakukan IMD segera setelah lahir, sedangkan sisanya 22 responden (35,48%) tidak melakukan IMD. Dari 40 responden yang melakukan IMD ada sebanyak 36 orang (58,068%) berhasil asi eksklusif, dan 4 orang (6,452%) tidak berhasil asi eksklusif.
Dari 22 responden yang tidak melakukan imd ada yang berhasil asi eksklusif hanya 1 orang (1,61%), sedangkan yang tidak berhasil asi eksklusif sebanyak 21 orang (33,86%). Hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian sesuai dengan teori dan dari hasil penelitian yang telah ada sebelumnya. Berdasarkan telaah terhadap kuesioner, kegagalan responden yang melakukan IMD namun gagal dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayinya , di alami oleh responden nomor 7, 58, 60, 61.
Keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada bayi dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal diantaranya pendidikan, pengetahuan, usia, pekerjaan, keadaan fisik, paritas, sedangkan faktor eksternal diantaranya yaitu dukungan suami, dukungan tenaga kesehatan dan IMD(33)..
Berdasarkan hasil penelitian Kadir, praktik IMD merupakan salah satu penyebab keberhasilan ASI eksklusif. Inisiasi menyusui dini yang terunda terbukti terkait dengan durasi menyusui yang singkat(59). IMD pada satu jam pertama dapat meningkatkan potensi keberhasilan secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI sampai berumur 2 tahun(62).
IMD dapat meningkatkan angka pemberian asi eksklusif secara signifikan, sama seperti hasil penelitian serupa yang telah dilakukan sebelumnya oleh Jessica (2018) dengan judul Hubungan IMD dan pemberian ASI eksklusif di RSUD Wangaya Kota Denpasar dengan hasil penelitian menyatakan bahwa Pelaksanaan IMD mempunyai hubungan yang signifikan dengan pemberian ASI eksklusif (p value=0,04), ibu yang melaksanakan IMD memiliki peluang 5 kali lebih besar untuk memberikan ASI eksklusif. Selain itu juga penelitian yang dilakukan oleh Sofia (2018) dengan judul Hubungan IMD dengan Pemberian ASI Eksklusif pada bayi menyatakan bahwa nilai p = 0,001. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara variabel IMD dengan pemberian ASI eksklusif (p < 0,05). Nilai OR 9,17 (95% CT) menunjukkan bahwa responden yang tidak diberikan
IMD 9,17 kali lebih beresiko tidak mendapatkan asi eksklusif dibandingkan dengan responden yang dilakukan IMD.
SIMPULAN
Setelah penulis melakukan penelitian mengenai Hubungan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Dengan Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 7-12 Bulan Di Puskesmas Tanjungsari Kabupaten Sumedang Tahun 2020 melalui pengujian univariat dan bivariat. Sampai akhir kegiatan maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa:
1. Sebagian besar responden melakukan IMD sebanyak 40 orang atau 64,52% dan yang tidak melakukan IMD sebesar 22 orang atau 35,48%. Kebanyakan bayi baru lahir melakukan IMD satu jam pertama setelah lahir.
2. Pemberian ASI Eksklusif dari 62 responden memiliki total rata-rata sebesar 17,82 atau 89,1%.
Nilai tertinggi adalah sebesar 100% dimana dari 62 orang ada yang berhasil 100% dalam memberikan ASI Eksklusif, sedangkan nilai terendah sebesar 20%. Angka keberhasilan ASI ekslusif berada pada angka 100%, jika <100% maka tidak tercapai keberhasilannya.
Keberhasilan dicapai oleh 36 orang ibu di Puskesmas Tanjungsari Kabupaten Sumedang Tahun 2020.
3. Uji chi square didapatkan nilai signifikansi 0.000. Berdasarkan nilai tersebut karena nilai p <
0.05 dapat diambil kesimpulan bahwa “Ada Hubungan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Dengan Keberhasilan Pemberian Asi Eksklusif Pada Ibu Yang Memiliki Bayi Usia 7-12 bulan di Puskesmas Tanjungsari Kabupaten Sumedang Tahun 2020”.
DAFTAR PUSTAKA
1. Arah Kebijakan dan Rencana Aksi Program Kesehatan Masyarakat Tahun 2020-2024
2. WHO.Sustainable Development Global solutions Network (SDGs). Jakarta: United Nation;
2015.
3. Fatimah, Soto.2017.Hubungan Kralterikstik dan Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Turi tahun 2017. Diakses melalui http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/1574/. Pada tanggal 10 November 2020 pukul 12.00 WIB 4. Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.2019.Berikan ASI
untuk Tumbuh Kembang Optimal.
5. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024 dan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan tahun 2020-2024
6. Setjaningsih, r. (2012). Asi: petunjuk untuk tenaga kesehatan. Jakarta:EGC.
7. Hartinah dan Dewi ( 2016) “Hubungan Kepatuhan Pemberian Air Susu Ibu Dengan Kejadian Diare pada Anak Usia 1-2 Tahun di Puskesmas Dinoyo,” Nursing News, 1(2). Tersedia pada:
https://publikasi.unitri.ac.id/index.php/fikes/article/view/426/344 (Diakses: Oktober 2020).
8. Kementerian Kesehatan RI. (2020). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2020
9. Kemenkes. (2014). Profil kesehatan indonesia tahun 2013. Jakarta Kementrian Kesehatan RI 10. Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian ASI Eksklusif
11. Fikawati, S. & Ahmad, S. (2009). Penyebab Keberhasilan dan Kegagalan praktik Pemberian ASI Eksklusif. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Fakultas Kesehatan Masyaraka Universitas Indonesia. 4(3): 120-131.
12. Rahayu, RD., Kuswati., Kurniawati, A. (2012). Keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Lama Pemberian ASI. Kementrian Kesehatan Politeknik Surakarta Jurusan Kebidanan.
13. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. 2017. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2017.
Diakses melalui
http://diskes.jabarprov.go.id/dmdocuments/01b3018430a412a520e2b4a4b9d9864f.pdf pada tanggal 10 Oktober 2020.
14. Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang. 2020. Laporan Tahunan Cakupan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) Kabupaten Sumedang tahun 2020.
15. Siswosuharjo, S. & Firtria, C. (2010). Panduan super lengkap hamil sehat. Jakarta: Penebar Plus.
16. UNICEF.(2014).Breastfeeding.(http://www.unicef.org/nutrition/index_24824.html dikutip pada 10 Oktober 2020 pukul 11:00 WIB)
17. Martini. (2012). Hubungan inisiasi menyusu dini dengan tinggi fundus uteri ibu postpartum hari ke-tujuh di wilayah kerja puskesmas kotabumi II lampung utara. Tesis Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
18. Aprillia,Y. (2010). Hipnostetri: rileks, nyaman dan aman saat hamil & melahirkan. Jakarta:
GagasMedia.
19. Aritonang, I., dan E. Priharsiwi. 2006. Busung Lapar, Potret Buram Anak Indonesia Di Era Otonomi Daerah. Media Pressindo : Yogyakarta
20. Roesli, U. (2012). Panduan Inisiasi Menyusui Dini plus ASI eksklusif.Jakarta: Pustaka Bunda.
21. UNICEF Indonesia. (2015). Paket konseling: pemberian makan bayi dan anak. Booklet Pesan Utama.
22. Roesli, U. (2009). Mengenal ASI Ekslusif. Seri 1. Jakarta: Puspa Swara.
23. Queensland Maternity and Neonatal Clinical Guidelines Program. (2010). Breastfeeding initiation. MN10.19-V2-R15.
24. Manuaba, I.G.G. (2015). Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan. Jakarta : EGC.
25. Anisa Karnadi (2014) Makanan Pendamping ASI: MPASI Bergizi SeimbangWHO / UNICEF/Makanan. On line https : // Dunia Sehat. Net/2014 (5 Oktober 2020).
26. Kementerian Kesehatan RI. Buku Panduan Kader Posyandu Menuju Keluarga Sadar Gizi Jakarta: Kemenkes RI; 2011.
27. Arifah, I.N. (2009). Perbedaan Waktu Keberhasilan Inisiasi Menyusui Dini antara Persalinan Normal dengan Caesar di Ruang An Nisa RSI Sultan Agung Semarang. Skripsi Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
28. Desmawati. (2010). Perbedaan waktu pengeluaran ASI ibu post sectio caesarea dengan post partum normal. Jurnal Bina Widya Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. 22(1):
11-6
29. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 450/MENKES/SK/IV/2004 tentang pemberian air susu ibu (ASI) secara eklusif pada bayi di Indonesia. Menteri Kesehatan ditetapkan di Jakarta pada tanggal 7 April 2004
30. Juliastuti, R. (2011). Hubungan tingkat pengetahuan, status pekerjaan dan pelaksanaan inisiasi menyusu dini dengan pemberian ASI eksklusif. Tesis Program Studi Magister Kedokteran Keluarga Universitas Selebas Maret.
31. Budiasih, K.S. (2008). Handbook ibu menyusui. Bandung: Hayati Qualiti.
32. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS).(2013).Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementrian Kesehatan RI.
(http://www.litbang.depkes.go.id/sites/download/rkd2013/Laporan Riskesdas 013.PDF dikutip pada 10 Oktober 2020 pukul 11:04 WIB)
33. Purwanti, H.S. (2004). Konsep Penerapan ASI Eksklusif: Buku Saku untuk Bidan. Jakarta:
EGC.
34. Sherwood,L.(2011).Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Ed.6.Jakarta :EGC.
35. Manuaba, Manuaba,C & Manuaba, F. (2007). Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC.
36. UNICEF. (2010). The UNICEF UK Baby Friendly Initiative Orientation to Breastfeeding for General Practitioners. Orientation handbook
37. Arvin, B.K. (2007). Nelson ilmu kesehatan anak edisi 15 volume 3.Jakarta: EGC.
38. Jannah, Nurul. (2012). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Kehamilan.Yogyakarta: ANDY 39. Bahiyatun. (2009). Buku ajar asuhan kebidanan nifas normal. Jakarta:EGC
40. Hegar, Badriul, dkk. 2008. Bedah ASI Kajian dari Berbagai Sudut Pandang Ilmiah. Jakarta:
Ikatan Dokter Anak Indonesia Balai Penerbit FKUI pp
41. Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
42. Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Metode Penelitian Kesehatan.Jakarta: Rineka Cipta 43. Eriyanto. (2007). Teknik sampling analisi opini publik. Yogyakarta: LkiS
44. Dinartiana, A. & Ni Luh, S. (2011). Hubungan pelaksanaan inisiasi menyusu dini dengan keberhasilan pemberian ASI Ekslusif pada ibu yang mempunyai bayi usia 7-12 bulan di kota semarang. Vol.1 No.2. Jurnal Dinamika Kebidanan.
45. Nursalam. (2008). Konsep dan penerapan metodelogi penelitian ilmu keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika
46. Masturoh, Imas dan Nauri Anggita. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan.
47. Riyanto slamet dan aglis andhita H.(2020).Riyanto, Slamet dan Aglis Andhita H. 2020. Metode Riset Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: CV Budi Utama
48. Arikunto, S. (2013). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Aritonang, I. & Priharsiwi, E.
(2006). Busung lapar. Yogyakarta: Media Pressindo.
49. A Muri Yusuf. (2017). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitan. Gabungan.
Jakarta: Prenadamedia Group
50. Notoatmodjo, Soekidjo. (2012). Metode Penelitian Kesehatan.Jakarta: Rineka Cipta
51. Sukardi. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Tindakan Kelas : Implementasi dan Pengembangannya. Jakarta : PT Bumi Aksara.
52. Hendri, Jhon. (2009). Riset Pemasaran. Merancang Kuesioner. Universitas Gunadarma.
53. Riyanto,A.(2011).Aplikasi metodelogi penelitian kesehatan. Yogyakarta: nuha medika.
54. Lumbantoruan, Mestika. 2018. Hubungan Karakteristik Ibu Menyusui Dengan Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi Di Desa Bangun Rejo Dusun 1 Kecamatan Tanjung Morawa Tahun 2018.
Diakses melalui http://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/6/article/view/634 pada tanggal 9 Oktober 2020 pukul 13.00 WIB.
55. PUSDATIN.Analisis Lansia di Indonesia. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI; 2017.
56. Arifiati, Nurce 2017. Analisis Faktor yang mempengaruhi pemberian ASI Ekslusif pada bayi di kelurahan warnasari kecamatan citangkil kota cilegon. Diakses melalui http://eprints.uad.ac.id/5411/1/18.%20ANALISIS%20%20FAKTOR%20%20YANG%20%20M EMPENGARUHI%20PEMBERIAN%20%20ASI%20EKSLUSIF%20PADA%20BAYI%20DI%20K ELURAHAN%20WARNASARI%20KECAMATAN%20CITANGKIL%20KOTA%20CILEGON.
pdf pada tanggal 15 Oktober 2020 pukul 17.00 WIB.
57. Shaliha Anindita M. 2019. Hubungan karaktertistik ibu, pengertahuan, dukungan suami dan dukungan keluarga terhadap ASI ekslusif di wilayah kerja puskesmas purwodadi 1
Kabupaten Grobogan. Diakses melalui
http://eprints.ums.ac.id/70721/12/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf pada tanggal 15 Oktober 2020 pukul 13.20 WIB.
58. Hartini, Susi, (2014). Hubungan tingkat pendidikan Ibu dengan keberhasilan ASI Eksklusif pada bayi umur 6 – 12 bulan di Puskesmas Kasihan II Yogyakarta. Naskah Publikasi DIV Bidan Pendidik. Stikes Aisyiah Yogyakarta.
59. Kadir, A. Nurhira, (2014). Menelusuri Akar Masalah Rendahnya Presentase Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia. Jurnal Al Hikmah. Vol. XV. Nomor 1/2014. http://journal.uin- alauddin.ac.id/index.php/al_hikmah/article/view/393/pdf_11
60. Garudiwati, D. Baik (2014). Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Perilaku Pemberian ASI pada Ibu Post PartU PKU Muhamadiyah Yogyakarta. Naskah Publikasi. Skripsi. DIV Bidan
Pendidik STIKES Aisyiah Yogyakarta.
http://opac.unisayogya.ac.id/915/1/Naskah%20Publikasi%20BAIK%20DYSA%20GARUDIW ATI.pdf
61. Abdullah,M.Tahir, (2013). Kondisi Fisik, Pengetahuan, Pendidikan, Pekerjaan ibu dan Lama Pemberian ASI secara Penuh. Jurnal Kesehatan Masyrakat Nasional. Vol. 6. No.5 , Desember 2013.
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=269517&val=7113&title=Kondisi%20Fi sik,%20Pengetahuan,%20Pendidikan,%20Pekerjaan%20Ibu,%20dan%20Lama%20Pemberian%
20ASI%20Secara%20Penuh
62. Juliastuti, Rany (2011). Hubungan Tingkat Pengetahuan, Status Pekerjaan Ibu, dan Pelaksanaan IMD dengan Pemberian ASI Eksklusif. Naskah Publikasi. Thesis. Magister Kesehatan. Program Studi Magister Kedokteran Keluarga. PPS. Universitas Sebelas Maret Surakarta. https://eprints.uns.ac.id/5255/1/208091011201110151.pdf
63. Rachmaniah, Nova, (2014). Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang ASI dengan Tindakan ASi Ekskulsif. Naskah Publikasi. Sarjana Kedokteran. FK. Universitas Surakarta.
http://eprints.ums.ac.id/29462/12/NASKAH_PUBLIKASI.pdf
64. Pertiwi, Handayani,Sri (2012). Faktor Faktor yang mempengaruhi Proses Laktasi Ibu denga Bayi Usia 0 – 6 bulan di Desa Cibeusi kecamatan Jatinangor. Bandung : FIK. UNPAD
65. Sopiyani, Lia, (2014). Hubungan Antara Dukungan Sosial (Suami) dengan Motivasi Memberikan ASI Eksklusif pada Ibu Ibu di Kabupaten Klaten. Naskah Publikasi. Skripsi Sarjana Psikologi. Fakultas Psikologi Unversitas Muhamadiyah Surakarta.
http://eprints.ums.ac.id/30744/11/02._naskah_publikasi.pdf
66. Azriani, Devi & Wasnidar, (2014). Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif. Jurnal Helath
Quality Vol. 4. No.2 Mei 2014 ,Hal.77 – 141
http://www.poltekkesjakarta1.ac.id/file/dokumen/28Ok1%20Kebidanan%20Devi,%20wasni dar77-82_Keberhasilan%20Pemberian%20Asi%20Eksklusif.pdf
67. Damanik, Y. Riris, dkk (2015). Hambatan Kinerja Konselor Menyusui dalam Meningkatkan Cakupan Pemberia ASI Eksklusif di Kota Kupang. Indonesian Journal of Human Nutrition, Juni 2015, Vol.2 No.1 : 1 -10
68. Afriyani, Rahmalia, dkk. 2015. Pengaruh pemberian ASI Ekslusif di BPM Maimunah
Palembang. Diakses melalui
https://www.researchgate.net/publication/334745185_Pengaruh_Pemberian_ASI_Eksklusif_
di_BPM_Maimunah_Palembang/fulltext/5d3f16af92851cd04690c4ee/Pengaruh-Pemberian- ASI-Eksklusif-di-BPM-Maimunah-Palembang.pdf pada tanggal 15 Oktober 2020 pukul 19.30 WIB