• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRES PELAKSANAAN EITI DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROGRES PELAKSANAAN EITI DI INDONESIA"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRES PELAKSANAAN EITI DI INDONESIA

FGD Dana Bagi Hasil Jogjakarta, 7 Agustus 2017

Sekretariat EITI

(2)

Outline

• Pendahuluan

• Pelaksanaan EITI

• Dana Bagi Hasil

• Profil DBH 2010-2014

(3)

Pendahuluan

(4)

Pendahuluan

Extractives Industries Transparency Initiative (EITI) adalah Standar Global untuk mempromosikan keterbukaan dan akuntabilitas pengelolaan sumber daya alam (migas, pertambangan dan batubara)

Penerapan Standar EITI akan memperbaiki proses keterbukaan dan akuntabilitas publik dari perusahaan-perusahaan industri

ekstraktif dan pemerintahan negara EITI, yang akan memperbaiki tata kelola

Penerapan Standar merupakan salah satu indikator keterbukaan yang dapat memperbaiki iklim investasi dan dapat dipakai sebagai upaya menarik investor

Penerapan Standar disertai perbaikan tata kelola memungkinkan pemerintah dan masyarakat mendapatkan informasi-informasi yang lebih rinci tentang industri ekstraktif dan juga informasi- informasi yang sebelumnya sulit diperoleh (seperti informasi Beneficial Ownership)

(5)

Standard EITI 2016

1. Oversight by the multi-stakeholder group 2. Legal and institutional framework, including

allocation of contracts and licenses 3. Exploration and production

4. Revenue collection 5. Revenue allocations

6. Social and economic spending 7. Outcomes and impact

8. Compliance and deadlines for implementing countries

(6)

Hingga Tahun 2016, sebanyak 52 negara yang telah menjadi negara pelaksana EITI

(7)

Perkembangan EITI Indonesia

2007 2010 2013 2014 2015 2016 2017

Menkeu Sri Mulyani menyatakan

dukungannya kpd EITI

Indonesia mendapat status kandidat EITI

Indonesia menerbitkan

Laporan EITI kedua, yg mencakup data tahun 2010-2011

Status compliance Indonesia

ditangguhkan, menunggu laporan EITI thn 2012

Presiden SBY menandatangani Perpres 26/2010

Indonesia

menerbitkan laporan EITI pertama, mencakup

penerimaan thn 2009

Indonesia mendapat status compliance EITI country

Indonesia menerbitkan

Laporan EITI ketiga, mencakup thn 2012-2013

Indonesia mendapatkan kembali status compliance

Indonesia

menerbitkan Laporan EITI ke-empat mencakup thn 2014

(8)

Manfaat Pelaporan EITI

1. Transparansi dan Akuntabilitas pengelolaan industri ekstraktif

2. Memastikan penerimaan negara dari industri ekstraktif (proses rekonsiliasi) 3. Perbaikan tata kelola (governance) 4. Mendukung upaya keberlanjutan

pembangunan

(9)

Pelaksanaan EITI

(10)

Prinsip Pelaksanaan EITI

Prinsip Pelaksanaan EITI:

• Transparansi

• Akuntabilitas

Transparansi:

• Penerimaan negara

• Tata kelola

Akuntabilitas:

• Proses

• Output

• Rekomendasi

(11)
(12)

2009 2010 2011 2012 2013 2014 Minerba:

Jlh Prshn Wajib Lapor 72 193 193 108 108 119

Jlh Prshn Yg Lapor 72 53 83 76 99 75

Persentase

Migas:

Jlh Prshn Wajib Lapor 57 71 71 67 72 71

Jlh Prshn Yg Lapor 57 71 71 69 72 71

Persentase

Tingkat Partisipasi Perusahaan

(13)

Hasil Rekonsiliasi Minerba

43814

52567

67106

53647

43060 51168 3,47

0,13 0,20

-0,10

1,54

1,32

-0,50 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00

0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000

2009 2010 2011 2012 2013 2014

Hasil Rekonsiliasi Minerba

Nilai (milyar Rp) Gap(%)

(14)

Beberapa Isu dalam Laporan EITI

• Transparansi beberapa isu tatakelola antara lain:

koordinat wilayah kerja migas, informasi peserta tender, akses publik untuk informasi kadaster (minerba)

• Perbaikan sistim pelaporan pembayaran PNBP

• Standarisasi pengukuran dampak ekonomi, sosial dan lingkungan dari pengembangan industri ekstraktif

• Peningkatan partisipasi daerah dalam pelaksanaan EITI

• Peningkatan partisipasi perusahaan industri ekstraktif dalam pelaporan

Informasi terkait BO (beneficial ownership)

• Keterbukaan dokumen kontrak

(15)

Dana Bagi Hasil

(16)

Beberapa Isu Terkait DBH

 Prinsip DBH

Alokasi DBH SDA diatur berdasarkan prinsip origin

(derivative) dan prinsip realisasi. Kedua prinsip tersebut harus dipenuhi agar Pemerintah Daerah dapat menerima dana bagi hasil industri ekstraktif. Prinsip derivative berarti sebuah provinsi atau kabupaten/kota harus memiliki

aktivitas produksi migas yang dilakukan dalam batas wilayah dan/atau batas kewenangan pengelolaan SDA wilayah laut (dengan batas 12 kilometer dari garis pantai42), dimana

daerah penghasil akan mendapatkan porsi yang lebih besar.

Sementara prinsip realisasi berarti penerimaan telah diakui serta dicatat dalam Rekening Kas Umum Negara

(17)

Beberapa Isu Terkait DBH (2)

Tahap penetapan DBH SDA

Tahapan penetapan DBH SDA adalah sebagai berikut:

Menteri ESDM menetapkan daerah penghasil dan dasar penghitungan DBH SDA paling lambat 60 hari sebelum tahun anggaran bersangkutan dilaksanakan, setelah berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri dan disampaikan kepada Menteri

Keuangan.

Untuk sumber daya alam yang berada pada wilayah berbatasan atau berada pada lebih dari satu daerah, Menteri Dalam Negeri menetapkan daerah penghasil sumber daya alam berdasarkan pertimbangan Menteri ESDM terkait, paling lambat 60 hari setelah diterimanya usulan pertimbangan dari KementerianTeknis.

Ketetapan Menteri Dalam Negeri sebagaimana disebutkan dalam butir 2 di atas menjadi dasar penghitungan DBH SDA oleh Menteri ESDM.

Menteri Keuangan menetapkan perkiraan alokasi DBH SDA untuk masing-masing daerah paling lambat 30 hari setelah diterimanya ketetapan dari Menteri ESDM.

Perkiraan alokasi DBH SDA Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi untuk masing-masing daerah ditetapkan paling lambat 30 hari setelah menerima ketetapan dari Menteri ESDM sebagaimana dimaksud pada butir 1, perkiraan bagian pemerintah, dan perkiraan unsur-unsur pengurang lainnya

(18)

Beberapa Isu Terkait DBH (3)

Skema Dana Bagi Hasil untuk Industri Ekstraktif

(19)

Beberapa Isu Terkait DBH (4)

Alokasi khusus (earmarked) untuk program tertentu.

• Tambahan DBH migas sebesar 0,5% dialokasikan

khusus (earmarked) untuk dana pendidikan di daerah tersebut

• Dalam rangka pelaksanaan otonomi khusus

berdasarkan UU otonomi khusus, terdapat dua provinsi yang berstatus Daerah Otonomi Khusus, yaitu Provinsi Aceh, Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat yang mendapatkan persentase dana bagi hasil migas lebih tinggi dibandingkan daerah lain pada umumnya

(20)

Beberapa Isu Terkait DBH (5)

(21)

Beberapa Isu Terkait DBH (6)

(22)

Beberapa Isu Terkait DBH (7)

2 Metode akuntabilitas dan efisiensi pemakaian DBH Pemantauan dan evaluasi

Untuk DBH yang dialokasikan khusus untuk pendidikan dasar, PP No. 55 /2005, pasal 32 dan 34 mengatur mengenai ketentuan pemantauan dan pengawasan yang ditugaskan kepada Menteri Keuangan, yaitu :

Menteri Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi atas penggunaan anggaran pendidikan dasar yang berasal dari DBH Migas.

Apabila hasil pemantauan dan evaluasi mengindikasikan adanya

penyimpangan penggunaan anggaran untuk alokasi pendidikan dasar, Menteri Keuangan meminta aparat pengawasan fungsional untuk

melakukan pemeriksaan.

Hasil pemeriksaan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengalokasian DBH untuk tahun anggaran berikutnya.

(23)

Beberapa Isu Terkait DBH (8)

• Untuk DBH yang non-earmarked, Pemerintah Pusat

memperhatikan dana bagi hasil yang menganggur (idle) di daerah. Jika terdapat dana menganggur maka

Pemerintah Pusat tidak akan melakukan transfer dalam bentuk dana melainkan dalam bentuk Surat Utang

Negara (SUN) ke Pemerintah Daerah. Ketentuan ini berlaku jika dana menganggur

• tersebut berada di kas daerah selama 3 bulan ke depan dan jumlahnya di atas rata-rata nasional

(24)

Beberapa Isu Terkait DBH (9)

Transparansi dan akuntabilitas

Harga komoditas yang berfluktuasi dan penerimaan kas negara dari

industri ekstraktif yang tidak dapat direkonsiliasi akan menyulitkan publik dalam melakukan monitoring. Kondisi tersebut menyebabkan pentingnya Pemerintah Pusat untuk memberikan informasi yang transparan mengenai informasi rinci tentang kuantitas penerimaan dari industri ektraktif, beserta formula yang digunakan sehingga publik dapat melakukan pengawasan secara memadai.

Untuk menyederhanakan dasar perhitungan DBH, Kementerian Keuangan dalam arah kebijakan ke depan akan melakukan reformulasi

(menyederhanakan perhitungan) DBH dengan menggunakan prognosa pada akhir tahun, dan selisihnya dengan realisasi akan diperhitungkan pada tahun berikutnya

(25)

Profil Alokasi DBH 2010-2014

(26)

Profil DBH Migas

Riau

Sumatera Selatan Kalimantan Timur

Kepulauan Riau Kalimantan Utara

- 2.000.000.000.000 4.000.000.000.000 6.000.000.000.000 8.000.000.000.000 10.000.000.000.000 12.000.000.000.000 14.000.000.000.000 16.000.000.000.000 18.000.000.000.000

2010 2011 2012 2013 2014

DBH Migas 2010-2014

Aceh

Sumatera Utara Sumatera Barat Riau

Jambi

Sumatera Selatan Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah

(27)

Profil DBH Minerba

Kalimantan Selatan Kalimantan Timur

Papua

- - - -

Kalimantan Utara

- 1.000.000.000.000 2.000.000.000.000 3.000.000.000.000 4.000.000.000.000 5.000.000.000.000 6.000.000.000.000 7.000.000.000.000

2010 2011 2012 2013 2014

DBH Minerba 2010-2014

Aceh

Sumatera Utara Sumatera Barat Riau

Kepulauan Riau Jambi

Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI JAKARTA Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur

(28)

Pagu(Rp) Realisasi (Rp)

0 2E+12 4E+12 6E+12 8E+12 1E+13 1,2E+13 1,4E+13 1,6E+13

2011 2012 2013 2014

Realisasi DBH Minerba

Pagu(Rp) Realisasi (Rp)

(29)

Realisasi DBH

- 10.000.000.000 20.000.000.000 30.000.000.000 40.000.000.000 50.000.000.000 60.000.000.000 70.000.000.000

DBH Riau 2014

Alokasi DBH Realisasi

(30)

Realisasi DBH

- 500.000.000.000,00 1.000.000.000.000,00 1.500.000.000.000,00 2.000.000.000.000,00 2.500.000.000.000,00 3.000.000.000.000,00 3.500.000.000.000,00

DBH Kalsel 2014

Alokasi DBH Realisasi

(31)

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Judul-Judul koleksi buku pustaka langka yang dimiliki oleh Dinas Perpustakaan dan Kaersipan Kota Denpasar. Informasi Kearsipan dan penayangan

[r]

Pada umumnya perubahan nilai authoritycentrality pada pengujian skenario pembobotan ketiga ini juga cenderung menurun.Hanya beberapa user saja yang mengalami

Skim kredit tersebut kiranya dapat dimanfaatkan dengan kombinasi pemanfaatan sumber-sumber pembiayaan lain yang dapat dimanfaatkan adalah KKP, Kredit Taskin Agribisnis, Modal

Dari metode algoritma genetika ini akan terlihat perubahan nilai – nilai pada aliran daya yang terjadi, terutama pada nilai rugi – rugi yang dihasilkan, sehingga dapat

Peningkatan investasi pada kedua sektor tersebut berdampak signifikan dalam menggerakan roda perekonomian Selanjutnya, dilengkapi dengan hasil pengolahan data Tabel Input Output

Skripsi yang berjudul: Penerapan Kemampuan Komunikasi Matematis Melalui Model Pembelajaran Visual, Auditori dan Kinestetik (VAK) di kelas VII SMP Negeri 3 Kurau

Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga pada bulan September 2017 mengalami kenaikan nilai indeks sebesar 0.23 persen atau nilai indeks dari 118,94 pada Agustus 207