.J;ERHADAP
/1/ ~ ,..
/
RUU USUL INISIA131F
I.,._.).
TENTANG
~ )
PEMBENTUKAN PROPINSI BANTEN
- /
ANG ARSIP DAN MUSE M
Tanggal14 Pebruari 2000
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
PENJELASAN PENGUSUL TERHADAP.
RUU USUL INISIATIF TENTANG PEMBENTUKAN PROPINSI BANTEN
PADA RAPAT PARIPURNA DPR-RI Tanggal14 Pebruari 2000 -
J ~
Yang tefh()nnat §.audara Ketua Rapat Pari puma DPR RI, Yang terhormat Para Pimpinan Fraksi-fraksi Dewan, Para Anggota Dewan yang kami rrmliakan,
Hadirin yang berbahagia.
Assalamualaikum Wr. Wb.
I
T~rlebih dahulu, sebagai insan· yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan' Yang Maha Esa, kami mengajak hadirin I unhlf selalu memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah meli!llpahkan rahmat, Jiioayah dan inayah-Nya kepada kita sekalian, sellingga kita dapat menghaairi-Rapat Pari puma ·Dewan hari ini dalam keadaan sehat wal' afiat.
'
-
- - - - - - - - ---
J l)'-~elanjutnya, kamj 1atas nama 52 (lima puluh dua) anggota PengusuJ,;-menyampaikan ucapan terima · kasih dan penghargaan yang setinggi-tiQgginya kepada--Pfmpinan dan Fraksi-Fraksi Dewan "-yang telah memberikan kesempatan kepada , kami untuk memberikan penjelasan mengenai· RW-lJ.siiTinisiatif tentang Pembentukan Prop.Jnsi Banten, yang telah katt1i · sampaikan kepada Pimpinan Dewan pada tanggal 25 Januari
2000, dan dlumumkan tentan.SJ m~fldm}J'a RUU ul lniaiatifteraebut kepada seluruh :i\nggota E>ewan dalam rapat Paripnma E>ewan tan:gga 27 Januari 2000.
Dalam kaitan ini, maka untuk memenuhi ketentuan Pasal 125 ayat (5) Peraturan Tata Tertib Dewan, pada tanggal 11 Pebruari 2000, dalam Rapat Badan Musyawarah DPR, kami telah memberikan penjelasan mengenai alasan diajukannya RUU Usul Inisiatif tentang Pembentukan Propinsi Banten, yang pada intinya Badan Musyawarah Dewan telah menyetujui untuk diteruskan pada Rapat Paripurna Dewan hari ini.
Saudara Ketua dan hadirin yang berbahagia,
Pada kesempatan ini pula kami menghaturkan ucapan terima kasih kepada Anggota Badan Musyawarah Dewan yang telah memberikan saran dan pendapatnya dalam kesempumaan dan kelancaran pembahasan RUU Usul lnisiatif ini. Rapat Badan Musyawarah telah menyarankan, agar dalam pengajuan RUU Usul Inisiatif tersebut lebih ditekankan kepada Pembentukan Propinsi Banten, sedangkan Pembentukan Kota Serang agar disampaikan dalam kesempatan tersendiri. Atas saran dan pendapat Badan Musyawarah Dewan ini, maka RUU Usul Inisiatif yang telah kami sampaikan terdahulu, kini telah kami sempumakan. Dan dalam kesempatan penjelasan ini pula kami lamp1rRan -penyempumaan materi RUU Usul Inisiatif tentang Pembentukan Propinsi Banten dimaksud .
.,
'
-
Penj elasan yang akan kami sampaikan pada kesempatan ini, sesungguhnya tidak berbeda jauh dengan penj_elasan ,..yang telah kami sampaikah dalam Rapat Badan Musyawarah tanggal ll Pebruari 2000 yang lalu. Hanya ad-a beberap~ penyempumaan. Khususnya, meQg-enai materi yang akan dif!tur dalam RUU Usul Inisiatif tersebu~-dengan1 maksud memberikan gambaran secara jelas dan transparan kepada pia Anggota
Dewan yang terhormat.
r -
r 11 1( Beberapa pertimbangan yang mendasari diajukannya RUU Uspl Inisiatif tentang Pembentukan Propinsi Banten ini ...-meliputi latar belakang pemikiran, pertimbangan historis, yuridis, dan potensi d
1aerah.
'I
1. Latar Belalqang Pemikiran.
~
Ranc~an Undang-Undang tentang pembentukan Propinsi merupakan landasan konstitJsional -pembentukan-Wilayah eks Karesidenan Banten menjaoi seb:uah Propill"si Banten sebagai pemcl<:ara~ dari wilayah Propinsi J awa B,arat. Adalah sebuah keharusan bagi DPR RI untuk menyikapi dan mer_ealisasikan segera,_manakala muncul tuntutan masyarakat~g-makin
kuat dis)unpaikan se;ara konstitusional keQada Dewan.
- - - ' I / -
_..._;__T_untutan masyarakat di wilayah eks Karesioonan Bant.en yang meliputi Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabu):faten 'Fan-g-erang, K:atamatl a ~a g-erarrg ~ · <Jtmnaaya Cilegon, sungguh-sungguh amat truat nasrat dan ~einginannya untuk segera mewujudkan · cita-citanya bagi masa depan kehidupannya dalam sebuah Propinsi Banten, yang tentu saja dilakukan melalui cara-cara demokratis dan legal· konstitusional. Hal ini dapat dilihat dari aspirasi dan dukungan Dewan Perwakilan Rakyat Daetah TK. II se-wilayah eks Karesidenan Banten yang tercermin dari Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
TK.II
3
sewilayah eks Karesidenan Banten. Keputusan DPRD TK. II se-wilayah eks Karesidenan Banten tersebut merupakan aplikasi konstitusional dari aspirasi dan keinginan kuat masyarakat se-wilayah eks Karesidenan Banten yang menuntut peningkatan status daerah eks. Karesidenan Banten menjadi l>ropinsi Banten. Dukungan DPRD TK. II se-wilayah Banten ini diperkuat lagi dengan rekomendasi dari Pemerintah Daerah Tingkat II masing-masing yang merupakan tindak lanjut dari hasrat kuat berbagai komponen dan lapisan masyarakat Banten yang menghendaki peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan serta masa depan yang lebih baik melalui wujud .Ptopinsi Banten dalam wadah J Negara Kesatuan Republik Indonesia.
. Tuntutan ini makin wajar ditindak lanjuti, manakala melihat Banten kini atas aasa nilai-nilai historis, geografis, spsiologis, kondisi sosial ekonotni, kultural, pertumbuhan dan perkembangan penduduk di wilayatfeks-Karesidenan Banten yang telah bertahuri-tahim menginginkan adanya peningicatan status eks-Karesidenan Banten menjadi'-Propinsi Banten.
"-
' . ·;;,. Kebutuhan untuk meningkatkan harkat dan martab~t" ke arah
kehidupan yang lebih baik telah semakin disadari secaia meluas oleh n{asyarakat Banten. Keprihatirtan terhadap banyaknya permasalhltan yang dirasakan masyarakat Banten, seperti peningkatan kesejahteraan di~bidang
ekonomi, sosial, budaya, dan rendahnya kemampuari masyarakat Banten dalam nienyerap dan berpartisipasi dalam proses pengambilan1 kepatusan politik, baik f<?rmal maupun nonfonnal, tahap demi tahap telah mampu dipenuhi, mesl{ipun belum merata ·keseluruh pelosok, wilayah eks
Karesidenan B,anten. ,..
: Keinginan _masyara:kat- Banten untuk mewujud~an Banten menjadt sebuah Propinsi, oukan muncul seketiRa. Se~anjang sejarah Indone,sia merdeka, aspirasi itu bisa dikatakan selalu melekat pada masyuakat Banteny.-meskipun pemu~cuiannya ke permukaan- !imbul tenggelam sejalan dengan konoisi dan situasi yang berkembang. Sejarah mencatat, perjuangan mereka telah dimulai sejak tahun 1953, tiga tahun sete ah- JaWa"'Barat resmi menjadi ~alah satu Propinsia i pulrul Jawa.
Bahkan tu tutan ini muncul kembali eHuluh tahun keflll<!ian. Yaitu, ketika ~ JJ t963, beoe.rapa oko Banten ~ang mewakjll kalangan eksekutif, legislatif, dan partai politik, bertempat di Pendopo Kabupaten Serang rhencetuskan gagasan tentang peningkatan status wilayah eks Karesidenan Banten menjadi Propinsi Banten.
Gagasan tersebut mendapat sambutan luas dari rakyat, bahkan telah sempat berlangsung sebuah rapat akbar di Alun-alun Serang.
Gagasan .. yang telah tum huh menj adi gerakan tersebut memang sempat
"disimpan" dahulu, mengingat pada waktu itu mulai terjadi krisis politik yang didalangi oleh PKI.
Tidak hanya itu, pada awal Orde Baru, yakni pada tahun 1967, tuntutan pembentukan Propinsi Banten kembali mencuat. Satuan-satuan kerja, baik di Jakarta, Bandung, maupun di wilayah Banten sendiri telah terbentuk, yang tugasnya merealisasikan gagasan pembentukan Propinsi Banten. Pada tahun itu juga, telah sempat berlangsung Dengar Pendapat antara sebuah Tim dari DPRD-GR Jawa Barat dengan tokoh-tokoh Parpol dan Ormas se wilayah Banten di Serang.
Perjuangan sebenarnya nyaris membuahkan hasil, ketika pada tahun I 970 beberapa Anggota DPR-GR mengajukan Usul Inisiatif RUU tentang Pembentukan PropinsLBanten. Sementara Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat, telah sepenuhnya meAyerahkan kebijakan politiknya dalam hal pemb~nttikan Propinsi Bant~ kepada Pemerintah Pusat, dan tak kalah pentingnya, ke_pada rakyat Banten senoiri.
r Akan tetapi sekali lagi disayangkan, >akibat dafi perkembangan politik pada waktu itu, rakyat Banten harus menerima realita bahwa hasrafuya untuk bisa segera bernaung di bawah Propinsi Bafiten, masih har\lls tertunda. Hal ini oleh karena masa bakti keanggotaan DPR-GR kala
itu menjelang berakhir, ~ehingga usulan ini tidak dapat cli~amplaikan oleh pep.gusul pada Sidang Paripuma DPR-GR. Di pihak lain, ~eahggotaan
JiPR-Rl hasil Pemilu 1971 tak mampu mengagendakan kembali RUU Usul Inisiatif Pembentukan Propinsi Banten tersebut, meskipun dapat dihasilkan kesepakatan, bahwa tuntutan Propinsi Banten,-men\pal(an hak raJcyat secara penuh yang belum dapat direalisasikan oleh :Uemerintah
Pusat. 1
)
Perjuangan masyarakat Banten ini muncul kembali 1tatkala berlangsungnya masa persidangan keanggotaan DPR-RI,.-Masa Bhakti 1997-1999. Dan Rini, seluruh_aspira_si _l!l~arakat Ban ten tersebut telah tertuang~elalui KeputliSalil)PRD Tingkat Ilse:.wilayah eks karesidenan Banten Y.,ang meliputi empat Kabupaten dan dua Kotamadya. Aspirasi ini secara formal telah disampaikan kepada Presiden KH. Abdurrachman Wahld,\tatkala beliau--berkunjung ke""
s;ang
dan Pandeglang-pada pertengahan _bulan Januari 2000. Bahkan aspirasi inipun telahdisampaikan~oteh seluruh pimpinan DPRD II se-wilayah~ek-s-Karesidenan
Banten dan tokoh-tokoh masyarakatnya keJ?ada J?im inan DPR RI pada
tanggal2S }ajluati 2(}00.
I . E M
Dengan mengemukakan sebagian fakta-fakta sejarah tersebut, jelas kiranya, bahwa aspirasi pembentukan Propinsi Banten yang begitu kuat akhir-akhir ini bukan sekedar bagian dari euforia kebebasan yang didorong oleh gerakan reformasi tempo hari.
Hanya saja, apakah dengan demikian, keinginan, gagasan, dan tuntutan pembentukan propinsi Banten ini hanya didasarkan pada aspek- aspek kukltural, historis, atau ikatan-ikatan primordial?
5
Betapapun memang sangat disadari, ikatan-ikatan seperti itu memiliki arti penting bagi pembentukan suatu wilayah teritorial, apakah itu Kabupaten, Propinsi, atau Negara sekalipun. Namun, yang lebih penting lagi adalah argumen-argumen rasional dalam rangka mempercepat usaha pencapaian kemakmutan rakyat, yang kaitannya dengan upaya pembentukan Propinsi Banten ini. Sejumlah argumen rasional selalu mendasari setiap keinginan untuk menjadikan Banten sebagai Propinsi. Mengingat, area Jawa Barat sekarang ini begitu luas, maka sangat sulit mengharapkan manajemen Pemerintahan Daerah yang efektif, dalam arti perhatian yang merata bagi semua daerah. Dalam hal ini sangat diyakini, bahwa ketertinggalan yang dialami oleh beberapa daerah~TingRat IH di wilayah eks Karesidenan Banten, sebagian adalah akibat dafi hal itu.
.
, -
··. · Pembentukan Propinsi Banten dalam konteks ini, bisa dikataka9 mendekatkan birokrasi Pemerintah_, _Daerah.J Tingkat I bagi
masyar~at Banten, yang semula berada di BandunS, pindah ke wilayah Banteri sendiri. Melalui pemindahan birokrasi, dipastikan' akan terjadi efisiensi dalam hal biaya birokrasi untuk pembangl}Ilan daerah dan masyarakat Banten. Dan yang terpenting lagi adalah, deng~ terbentuknya Banten sebagai Propinsi, akan muncul dinamika baru dik~langan masyarakat Banten yang merupakan hasil interaksi intendif antara 1pihak eksekutif dan legislatif pada tataran Daerah Tingkat I dengan masyarakat setempaJ.
2. Pertimbangan Historis
Seja@}l telah mencatat, bahwa Banten telah memiliki masa kejayaannya paoa abad ke 16 dan 17 dibawah kekuasaan Sultan Maulana Hasanuddin dan Sultan Ageng Tirtayasa, yang mampu mengembangkan citra Banten sebagai sebuah Keraj-aan~rslam, dan usat--Perdagangan 1 Nusantara.
Sehingga pada saat itu, bukan saja Banten mampu menjadi daya tarik para Pedagang Luar Negeri, tetapi j_!!Sa Masyarakat Banten telah berhasil rnen-ctptakan mata uarrg -sendiri dan mertempatkan duta besamya di Inggris .. Kewiba~an ini merup$an asset bangsa yang dapat berfungsi menumbuhkan-kesadaran--akan potensi, kearifan dan daya juang bangsa.
Ini berarti, masyarakat Banten telah ~tumbuh menjadi warga bangsa yang memilik!i sejumlali eid outla~a yan khas. Giri-eiri buaaY,a masyarakat Banten It oerlCemoang oari warisan-wansan oudaya masa sejarah yang berhasil berkembang melalui proses akulturasi.
3. Pertirilbangan geografls dan demografls.
Wilayah eks Karesiden Banten yang luasnya berjumlah 863.657 Ha, memiliki jumlah penduduk kurang lebih 9.608.713 jiwa, yang tersebar di 4 Kabupten (Serang, Pandeglang, Lebak, Tangerang) serta 2 Kota (Tangerang dan Cilegon). Dari potensi daerah yang dimiliki dan tengah berkembang, Banten menjadi daerah migrasi dan tujuan kerja.
Bahkan diperkirakan pada tahun 2004 mendatang jumlah usia produktif angkatan kerja di wilayah eks Karesidenan Banten mencapai kurang lebih 5.145.705 jiwa berdasarkan kelompok usia produktif(antara usia 15
sampai 60 tahun). ~ -
4. Pertimbangan PotensrDaerah
'f -
· · · Bel5erApa poJensi daerah yang dimiliki wilayah eks Karesidenan Bantenjsecara se_P-intas dapat dilihat antara lain : ,...
a. Kabupaten Serang.
Daer~h yang terletak di bagian ujung barat Pulau Ja\va ini ~erupakan
' pintu~ gerbang yang menghubungkan Pulau Jawa ;de11gan1 Pulau ( Sumatera. Daerah in.i berkembang menjadi sentra jasa ~erdagangan
dan perekonomian serta pusat kegiatan pemerintahan wilayah eks
Karesidenan Banten. r ,_
Menuruf struktur Tata Ruang Wilayah, Kabupaten Serang merupakan andalan utama Banten Bagian Barat dengan Rencana Pengembangan Pelabuhan Bojonegara sebagai pelabuhan altematif terbesar 1Setelah Pelabuhan Tanjung Priok, serta lapangan terbang G(j)fda Gikande di
kawasan Serang Timur. 1
Kini, Kabupaten- hri---niemihki oaerah.._ tujuanJ wisata berupa peninggalan sejarah dan budaya lffias, '-Yisat~ pantai Anyer, yang dapat meningkatkan devisa di sektor pariwisata yang telah
"" -b-erkembang p~sat;-daii bahK n telah dijadikan tujuan wi·sata kedua
setelah Pulau Bali. -- .... 1 7
Selain i1u,-Kabupaten ini juga memiliki industri-k_a u lapjs. yang
"'
merupakan salah satu terbesar di J awa Barat. Di sisi lain, pembang1:111an industri berat, meneagah, da keci serta kerajinan rakya , I;aik di l{a asan Serang Barat maupun Serilt'ig lfimur akan mempercepat tercapainya struktur ekonomi yang berimbang.
Sementara itu, pengembangan tempat pelelangan ikan (TPI) yang menempati pelabuhan Banten Lama di Karanghantu, Kecamatan Kaseinen, terus ditingkatkan dalam upaya mengangkat tambang- tambang laut yang perlu dieksploitasi guna menambah pendapatan daerah dari sektor Eksplorasi laut dan Perikanan.
7
b. Kabupaten Pandeglang.
Sesuai Tata Ruang Wilayab, Kabupaten ini memiliki sektor unggulan pertanian laban basab dan laban kering, yang didukung dengan pengembangan industri, seperti halnya produksi emping yang di ekspor ke manca negara, disamping telab berkembang dengan pesat sektor pariwisata Carita, Cagar Alam berupa butan lindung Ujung Kulon, kesenian Debus, dan wisata pantai Selatan yang cukup membanggakan.
c. Kabupaten Lebak.
( -
Di Kabupaten ini telab berkem·bang sektor pariwisata alam, bahari, agro wisata, dan nudaya, yang sangatl berpoterfsi tmtuk dikembangkan sebagai pariwisata andalan yang dapat menunjang perolehan devisa daerah, seperti Wisata Pantai Selatan, Pesta Laut; dan kehidupan
tradi~ional Baduy. , - 1
Di sisi Ilin, Kabupaten ini telah mengemban~an potensi pertambangan dan bahan galian yang cukup menjanjikan bagi pendapatan daerah, misalnya tambang emas, tembaga, batu gamping marmerf bahan semen, batu apung, pasir, dan sebagainya. L ....
d. I Kabupaten Tangerang.
,...__ ' ---
' Kabupaten ini, telab berkembang menjadi kawasan industri dan pennukiman, disamping meningkatnya usaha perikanan "tambakl" dan
pertanian. ,..
Daerah ini memiliki lapangan terbang Curug sebagai pusat penoidikan dan peh,ttiban para calon penerbang, serta lapangan terbang milik Pertamina yang terlet~Pondok Ca1Je, 'Ciputat.
---- -
e. Kota Tangera;;. , /
BK
""-Kota ini berada- pada jalur ekonomr Pantura yang dekll oengan
fasilitas distribusi perclagangan internasional dan pasar domestik yang telah · menjadi perhatian banyak investor di bidang industri, oleb karena kawasan ini memiliki Bandara Intemasional Soekamo-Hatta.
. DA I DA M EUM ·
f. Kota Cilegon.
Kota ini telah menjadi kawasan industri berat, oleh karena pengembangan Industri Krakatau Steel, Pusat Tenaga Listrik Sura:laya, yang ditopang dengan peilgembangan pelabuhan peti kemas Ciwandan Cigading dan pelabuban penyeberangan Merak.
:-:;·.·
5. Pertim bangan yuridis.
Pasal18 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa:
"Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk 'susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara, hak-hak asal-usul dalam daerah yang bersifat. istimewa."
Selanjutnya Pasal 4, Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 6 ayat (2) dan·ayat (4), Pasal 10 ayat (l) dan ayat (2) Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah~ p;erah, nienyebutkan :
,
v-'"'%';:;~~ Pasa/4
(1) Da/am rangka pelaksanaan as as Desentralisasi dibehtuk dan disusun Dadrah Propinsi, Daerah Kabupaten, dan Daerah Kota yang
(
berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan asp!rasi masyarakat.
(2) Dae~ah-daer~~ seb~~aima~a dimaksud p~da aya~
(1h
m~ing, masmg berdzrz sendzrz dan tzdak mempunyaz hubungan hzerarki satu
\
( sama lain.
Pasa/5
(1) Daerah qibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi, potensi Daerah, sosial-budaya, sosial-po/itik, jumlah pe duduk, /uas Daerah, dan pertimbangan lain yang memungkinkan terse/enggaranya Otdnomi Daerah. '
(2) Peinbentukan, nat!!f!1_batas1dan-ibukota sel?_agaimana dim~ksud pada ayat (JJ ditetapkan dengan Undang-undang -
(1) D~e ah benven(Jlng mengelala sum.ber drzya nffio~al ~an& tersedia. di wz/aya'hnya iJan befltanggungJaWab.. meme/rnaPa ke/estarzan lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2) Kewenangan Daerah di wilayah /aut, seqagaimana dimaksud dalam Pasa/3, me/iputi:
a. eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan /aut sebatas wilayah /aut tersebut;
b. Pengaturan kepentingan administratif; 1 c. Pengaturan tata ruang;
':J
d. Penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah atau dilimpahkan kewenangannya o/eh Pemerintah; dan e. Bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara.
Sementara itu, adanya Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, K~bupaten Tangerang, Kota Cilegon, dan Kota Tangerang, yang menyatakan Persetujuan dan Dukungannya terhadap pemhentukan Propinsi Banten, sehagai realisasi aspirasi masyarakat yang disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
6. Materi RUU
Rancangan Unoang-undang Usurlnisiatif tentang Pemhentukan Propinsi Banten, terdiri dari 6 ( enam) Bah dan-28 ~dua puluh delapan)
pasal, heserta penjelasannya. ·
Bah I, tentang Ketentuan Umum, yang mengatur mengenai definisi dati peristilahan yang terdapat dalam diktum 1 Undang-undang, dengap tetap mengacu kepada Undang-undang Nomor ~2 .J~~mn 1999
tentang Pemerintahan Daerah. 1
Bah II mengenai Pemhentukan, Batas Wilayah, dan Ihukota, yang secara rinci disebutkan Daerah Kabupaten, Kota, Keeamatan yang menjad.i wilayah dan hatas-hatas wilayah serta ihukota Kahupaten dan Kota dari wilayah Propinsi Banten.
Bah HI, mengatur mengenai Kewenangan Daefah.
Bah IV, mengen~i Pemerintahan Daerah~ /
B ah V, tentang Ketentuan Feralilian, yang mengatur mengenai pengisian dan penetapan keanggotaan DPRD I Propinsi Banten.
": \ " . Sedan~kan Bah ..YI hefisi Ketentllan Penutup.
1
l /7. Keslmpulan. ; ) (_ ---...,_/ " '
- ---
Dari uraian kami tersebut, dapat disimpulkan sehagai herikut :
I M
1. Kondisi perkemhahgan wilayah eks Karesidenan Banten telah mendukung dan mendorong laju pertumhuhan dan peningkatan volume yang secara efisien dan efektif menuntut adanya penyelenggaraan pemerintahan dan pemhangunan dalam wadah Propinsi Banten.
2. Kondisi tersebut memberikan manfaat dan merupakan salah satu faktor dominan penentu dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, menuntut pemberian otonomi dan kewenangan yang lebih luas, nyata, dan bertanggungjawab kepada daerah yang dilaksanakan sesuai prinsip demokrasi dengan memperhatikan keanekaragaman daerah secara proporsional.
3. Perkembangan demokrasi dan reformasi dewasa ini memberikan peluang bagi terrealisasinya tuntutan masyarakat untuk.
mengembangkan potensi daerah dengan pemberian otonomi, sesuai semangat yang terkandung dalam Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang P.emerintah Daerah ' an Undaiig-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Daerah. ,..J
Sidang De\¥an yang kami muliakan,
I , Atas dasar itulah mak~ sebanyak 52 (lima puluh duJ) A!nggota DPR-RI dari berbagai unsur Fraksi telah mengajukan kepada Pimpinan DPR-RI mengenai RUU Usul Inisiatif tentang Pembentukan Propinsi Ban en, guna menjadi materi bahasan dan dapat diputuskan"aalam Masa Persidangan III DPR-RI tahun ini. Dengan demikian, keinginan dan nasrat kuat dari selunih komponen masyarakat di wilayah eks Karesidenan Banten ini benar~benar dapat disahuti dan direalisasikan sec~ paripurna oleh
Dewan yang terhormat. . r ) ''
, Bemikianl~_penjelasan kami- berkenaan dengan -~iajukannya
RUU Usul Inisiatiftentang Pembentukan Propinsi Banten. Selanjutnya kami sangat merrgharapkan masukan dan tanggapan Fraksi-Fraksi guna penyempumaan RUU Usul~ Inisiatif im, sehingga prakarsa darL52-orang Anggota Dewan yang mengajukan Rt:JU Usul Inisiatif tersebut dapat disetujui menjadi Usu1 Inisiatif Dewan, dan secepatnya diproses sesuai mekanisme-sebagafmana di~tu~ da am Prraturan Tata Tertib Dewan:- ..
Wabilahit taufiq wal hidayah, wassalammu'alaikum Wr. Wb.
Jakarta, 14 Pebruari2000 a.n. Pengusu1,
/
Drs. H. Mohamad Aly Yahya Anggota DPR-RI No. A-311