EKSITENSI PENDIDIDIKAN ISLAM TERANCAM GLOBALISASI Muhammad Abdul Salam
Email: [email protected] Institut Agama Islam Al-Ghurabaa Jakarta
ABSTRACT
Prophet Muhammad Shollahu alaihi wasallam, Allah was delegated to his followers to build up the ethic, morals and a good character. The scientific of education, such as: Plato, Aristoteles and the others had said that the important of education have to be done by the nation.
Modernization of Islamic education as the multidimentional that complex.
The education as human’s needs as the key to open the modernization. The modernization of Islamic education at perspective’s cultural development and the global’s civilization. The development of sciences and technology with telecommunication and information technology with digital culture.
The Islamic education have a strategic’s role in developing the quality of human power development. In globalization era needed a good muslim generation’s profile who have an excellent in iman, science and good deed.
Therefore, to face the nation and the state’s life who never determinant, so we need the Islamic education values have to relevant by developing the national’s education.
Key words: Pendidikan Islam, Eksistensi, Generasi yang Unggul, Kebijakan, globalisasi
PENDAHULUAN
S
ebuah Negara dikatakan maju, jika pengelolaan pendidikannya lebih bermutu. Melalui pendidikan Negara dapat membangun moralitas berbangsa, yaitu Negara yang adil dan berbudi. Titik awal pembangunan bangsa tiada lain masalah etika bangsa.Rasulullah Muhammad SAW diutus oleh Allah adalah membangun etika, moral dan akhlak terpuji. Para penganut optimisme pendidikan seperti Plato, Aristoteles dan lainnya memandang pentingnya Negara menyelenggarakan pendidikan. Kini dan akan datang, globalisasi telah mempengaruhi perkembangan sosial budaya masyarakat. Masyarakat muslim tidak dapat menghindarkan diri dari proses globalisasi yang tengah berlangsung. Apabila kita ingin survive dan berjaya dan tetap eksis di tengah perkembangan ini, maka mau tidak mau harus ikut berlaga dan berkompetisi.
Pada era ini, hegemoni ekonomi, sains dan teknologi terus mencengkarama sekuat-kuatnya termasuk mengusupkan nilai kebarat- baratan (westernisasi). Menurut Azra (2002:45) proses globalisasi ekonomi Indonesia nampaknya merupakan konsekuensi atau implikasi yang tidak terelakkan dari proses pembangunan nasional. Pembangunan itu bertujuan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya yakni makmur dan sejahtera lahir dan bathin, material dan spiritual.
Perubahan dan dinamika pembangunan itu juga mengarah pada modernisasi pendidikan Islam. Perubahan terbaru yang berkaitan langsung dengan pendidikan Islam misalnya Peraturan Menteri Agama RI No. 33 Tahun 2016 (Tertanggal 9/8/2016) tentang gelar akademik perguruan tinggi pada bab I Pasal (1) “Gelar akademik bersifat akomodatif terhadap perkembangan ilmu”. Perubahan gelar akademik Perguruan Tinggi Keagamaan ini menghilangkan term “Islam” yang menjadi pembeda antara lembaga pendidikan Umum dan Pendidikan Islam.
Sesungguh ciri pembeda tersebut idealnya harus tetap dipertahankan
agar pendidikan umum dan pendidikan Islam terlihat jelas. Adanya kebijakan pemerintah (via Kementerian Agama) lain berkaitan pendidikan Islam misalnya perubahan IAIN menjadi Universitas Islam Negeri dan lainnya. Ini merefleksikan perkembangan pendidikan Islam yang ditilik dari proses pengambilan keputusan yang mencerminkan pembaharuan pendidikan Islam Indonesia.
Modernisasi Pendidikan Islam sebagai proses mutidimensional yang kompleks. Pendidikan menjadi kebutuhan manusia yang menjadi kunci pembuka modernisasi. Menurut Azra (1996) dalam Kata Pengantar
“Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam” karangan Marwan Saridjo mengambarkan pada awal perkembangan adopsi gagasan modernisasi pendidikan Islam setidaknya terdapat kecenderungan pokok dalam eksperimentasi organisasi-organisasi Islam. Pertama, adopsi sistem dan lembaga pendidikan modern secara hampir menyeluruh. Titik tolak modernisasi pendidikan Islam adalah sistem dan kelembagaan pendidikan modern (Belanda), bukan sistem dan lembaga pendidikan Islam tradisional. Kedua, sistem dan kelembagaan pesantren yang dalam banyak hal telah dimodernisasi dan disesuaikan dengan tuntutan pembangunan. Modernisasi pesantren ini dimulai sejak tahun 1970-an telah banyak mengubah sistem dan kelembagaan pendidikan pesantren.
Modernisasi pendidikan Islam dalam perspektif perkembangan kebudayaan dan peradaban dunia global. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dengan perkembangan teknologi telekomunikasi dan informasi dengan budaya digital. Game online telah melanda dunia yang tak terbatas pada ruang dan waktu. Permainan dapat diakses oleh anak-anak lewat gawai (gadget) maupun dengan datang langsung ke warung internet (warnet). Game online menyimpan muatan yang membahayakan per-tumbuhan anak, seperti: aksi kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan gambar, pornografi, juga lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).
Paradigma pendidikan Islam sebagai tuntutan zaman yang terus berubah. Perang opini kian gencar bersamaan kian kuatnya
pengaruh globalisasi yang mendorong munculnya kejadian paradoksal, model-model pemikiran lama dan linear terasa tidak mampu lagi merespon tantangan zaman, seperti terungkapnya dalam semangat postmodernisme. Menurut Mastuhu (1999:4) bahwa: kita perlu menela’ah ulang tiga aliran pendidikan yang dianggap sudah final sebagai grand teori dalam pendidikan yaitu: nativisme, empirisme dan konvergensi. Keberatan utama dalam teori ini adalah pandangan tentang manusia yang terlalu antroposentris. Sementara ajaran Islam, manusia difahami sebagai mahluk yang teosentris. Pandangan manusia sebagai mahluk antroposentris, hanya salah satu aspek dari demensi filsafat pendidikan Islam itu sendiri.
Asumsi dasar saya bahwa modernisasi dan westernisasi pendidikan Islam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dinamisasi pendidikan Islam itu sendiri. Kemajuan IPTEK membawa implikasi positif dan negatif. Sisi positif IPTEK adalah memberikan kemudahan, hidup lebih aman dan nyaman. Sisi negatifnya akan menghasilkan krisis makna hidup. IPTEK sangat boleh jadi memperbudak manusia dan terjadi kesenjangan sosial-budaya. Di sisi lainnya, menjadi peluang memperkokoh eksploitasi sesama manusia dan eksploitasi manusia terhadap alam.
Ambisi lembaga pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sangat besar nafsunya, kemampuan kurang.
Lembaga pendidikan baik Umum maupun Islam yang dikelola pemerintah sangat wah – mewah, semua kebutuhan dibantu, sementara lembaga pendidikan yang dikelola swasta “kurang terurus” malah dibiarkan merana. Yang memiliki capital (modal) pasti lebih baik, sementara yang minim modal “hidup segan mati tak mau”. Saat ini, banyak lembaga pendidikan swasta yang mati lantaran kesulitan sumberdaya baik manusia maupun sumber lainnya. Apalagi sekarang, banyak aturan ideal yang justru melemahkan posisi lembaga pendidikan swasta. Untuk itu, lembaga pendidikan Islam harus tetap esksis menjaga eksistensi di era globalisasi. Tulisan ini memfokuskan pada bagaimana menjaga Eksistensi
Pendidikan Islam di era Globalisasi.
KAJIAN PUSTAKA
Eksistensi berasal dari Bahasa Latin “Existere” artinya muncul, ada, timbul, memiliki keberadaan aktual. Eksistensi adalah keadaan yang hidup atau menjadi nyata. Kata pendidikan adalah usaha membantu manusia menjadi manusia. Ada dua kata yang penting yaitu “membantu”
dan “manusia”. Manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia.
Seseorang dikatakan telah menjadi manusia bila telah memiliki nilai (sifat) kemanusiaan. Tujuan mendidik adalah memanusiakan manusia. Ada tiga syarat untuk disebut manusia. Pertama, memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri; Kedua; cinta tanah air; dan Ketiga, berpengetahuan (Tafsir, 2006:33).
Pendidikan merupakan usaha mempengaruhi orang lain, karena pada hakekatnya pendidikan sebagai usaha yang berlangsung seumur hidup. Pendidikan sebagai usaha menolong orang lain agar ia mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Pendidikan merupakan usaha dan kegiatan untuk dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran, memberikan contoh, melatih ketrampil-an berbuat, memberi motivasi dan menciptakan sosial yang mendukung pelaksanaan ide pembentukan pribadi muslim itu.
Zuhairini, et.al (1963:27) secara terminologis: Pendidikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadian sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat dan kebudayaan. Istilah lain pendidikan juga artinya menanamkan tabi’at yang baik agar anak mempunyai sifat yang baik dan kepribadian yang utama. Sementara Marimba (1989:19) bahwa pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Menurut Ki Hajar Dewantara dalam Zahara Idris (1986:49) bahwa mendidik adalah segala kekuatan kodrat yang ada pada anak didik agar mereka sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Menurut
Yusuf al-Qardhawi dalam Azra (2002:5) bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya; rohani dan jasmaninya;
akhlak dan ketrampilannya. Karena itu, pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyaipkan untuk meng-hadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.
Kata “globalisasi” berasal dari kata global artinya universal (umum). Soyomukti (2008:42) Globalisasi adalah arus utama yang membawa dampak mahahebat terhadap ruang waktu yang mengalami percepatan atau terjadinya. Menurut bahasa Antony Giddens disebut time space distanziation. Globalisasi sebagai proses terkait dengan globalution yaitu paduan dari kata globalization dan evolution.
Globalisasi adalah hasil perubahan (evolusi) dari hubungan masyarakat yang membawa kesadaran baru tentang hubungan/interaksi antarumat manusia. Evolusi pemikiran ke arah kematangan dan kemajuan yang mendorong produktivitas dan kreativitas ditimpakan pada pendidikan.
Dari beberapa pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa eksistensi pendidikan Islam di era globalisasi dalam tulisan ini adalah keberadaan dari usaha sadar orang dewasa untuk menyiapkan peserta didik muslim dalam menghadapi masa depannya yang lebih baik di era yang menglobal atau mendunia. Pendidikan Islam dijadikan sebagai proses pembelajaran yang baik untuk menaburkan benih-benih budaya dan per-adaban manusia yang hidup berdasarkan nilai-nilai atau visi keagamaan (Islam) yang berkembang dan dikembangkan dalam masyarakat.
HASIL DAN DISKUSI
Pendidikan Islam memiliki peran yang strategis dalam peningkatan kualitas SDM (sumberdaya manusia). Pendidikan menjadi media yang baik untuk menyiapkan SDM yang berkualitas iman, ilmu dan amal sholeh. Di samping itu, untuk melahirkan manusia yang memiliki
kualitas moral, karakter dan penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama.
Bersamaan itu, tuntutan proses postmodernisasi pendidikan Islam terus digelorakan. Menurut Akbat S. Ahmad dalam Mastuhu (1999:6-7) bahwa term postmodernisme tidak pernah memberikan kejelasan, malah menjadi patokan dasar pemahaman. Ciri-ciri postmodernisme, antara lain: Pertama, dalam memahami istilah postmodernisme, berarti mengasumsikan hilangnya kepercayaan pada proyek-proyek modernitas, semangat pluralisme, skeptisme, ortodoksi tradisional dan penolakan terhadap pandangan bahwa dunia adalah totalitas universal; Kedua, porsmodernisme dipacu oleh era media globalisasi: menghibur, mendidik, mengajar dan sekaligus menyesatkan dan berjalan terus menerus tanpa henti; Ketiga, postmodernisme berkaitan dengan masalah-masalah kebangkitan kembali etno-religius atau fundamentalisme; Keempat, dalam postmodernisme ada klaim yang amat kuat dan tidak putus dari awal sejarah peradaban manusia sampai zaman kapan pun. Kelima, interaksi antar mereka mempertajam konsep bentuk kehidupan yang paling mustahil dan musykil sekaligus. Bahkan kehidupan yang paling kontroversial dapat dialami dalam waktu yang sama: antara keshalehan dan keseronoan, kelembutan dan kekerasan, masjid dan mall, dan lainnya. Keenam, dalam post-modernisme ada pelaku-pelaku demokrasi yang berusaha menyebarluas-kan ide-ide;
Ketujuh, pengajaran wacana dan eksistensi secara berlebih-lebihan atau pencampuran berbagai citra secara berlebihan yang ditampilkan secara berlebihan; Kedelapan, dalam postmodernisme, para ahli sering terperangkap dalam belantara jargon, konsep dan istilah yang rumit dan kabur.
Tantangan pendidikan Islam di era globalisasi ini terkadang adanya orientasi pendidikan Islam yang keliru. Tiga indikator kekeliruan itu khususnya di Perguruan Islam, antara lain: Pertama, Pendidikan agama saat ini lebih berorientasi pada belajar tentang ilmu agama. Karena itu, tidak aneh kalau di negeri ini lebih sering kita saksikan seseorang lebih
banyak mengetahui nilai-nilai ajaran agama, tapi perilakuknya tidak mencermin-kan nilai-nilai ajaran yang diketahuinya. Kedua, tidak memiliki strategi penyusunan dan pemilihan materi-materi pendidikan agama sehingga sering tidak ditemukan hal-hal yang prinsipil yang seharusnya lebih awal, malah dilewatkan. Ketiga, kurangnya penjelasan yang luas dan mendalam serta kurangnya penguasaan semantik dan genetik atas istilah-istilah kunci yang pokok dalam ajaran agama, sehingga sering ditemukan penjelasan yang sangat jauh dan berbeda dari makna spirit dan konteksnya (Hidayat, et. al. 2000:vi-vii).
Orientasi pendidikan Islam perlu dilakukan adanya pendekatan yang ilmiah dan multidisipliner. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan aspek berikut: (1) Membebaskan diri kita dari hegemoni makna atas sejarah masa lalu kaum Muslimin. Ini tidak berarti aspek sejarah Islam ditolak, tetapi bagaimana mensikapi sejarah secara kritis dan apresiatif karena sejarah tetap merupakan salah satu sumber pengetahuan yang harus dikuasai dan terus digali; (2) Membaca dan memahami ayat-ayat al- Qur’an serta menggali konteks social-historis yang melatarbelakanginya dengan mempertimbangkan gejala cultural, politis dan antropologis;
(3) Menganalisa setiap ayat al-Qur’an yang hendak dijadikan pedoman dalam bertindak dengan menangkap dimensi etisnya, jangan aspek legal-formalnya.
Pendidikan Islam agama yang sangat luas, selalu membicarakan tentang kehendak dan kekuasaan Allah yang luasnya seluas alam semesta ini, yang melintasi sejarah masa depan. Untuk itu, pendidikan Islam tidak terkooptasi pada pemikiran yang sempit. Kondisi umat Islam sekarang ini dihegemoni Barat melalui proses globalisasi. Postmodernisasi pendidikan Islam menuntut adanya kesanggupan pengelola dan pelaksana lembaga pendidikan Islam yang lebih profesional.
Proses swastanisasi pendidikan ini sebagai konspirasi global yang berdampak negatif pada Perguruan Tinggi Swasta (Islam). Tidak sedikit lembaga tersebut sulit mempertahankan eksistensinya. Hal ini, disebabkan karena adanya aturan-aturan yang mengikat. Aturan tersebut
sejatinya untuk memperbaiki perguruan tinggi yang professional tetapi ini malah menghancurkan idealisme khususnya perguruan Islam.
Misalnya, terbitnya Peraturan Meteri Agama RI tentang gelar akademik, S.Pd.I (Sajrana Pendidikan Islam) menjadi S.Pd (Sarjana Pendidikan), M.Pd.I (Magister Pendidikan Islam) menjadi Magister Pendidikan (M.Pd.), dan lainnya. Menurut Penulis bahwa hilangnya term Islam, bagi mahasiswa justru bangga, karena sejajar dengan tamatan Fakultas Pendidikan yang ada di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung; Universitas Negeri Makassar (UNM), dan lainnya. Ini patut dicurigai, para Islam phobia terus berusaha untuk melakukan pembusukan terhadap Islam. Jangan-jangan nanti lembaga pendidikan yang mencantumkan term “Islam” harus bersiap- siap menanggalkan itu semua. Ini musibah besar bangsa Indonesia.
Padahal agama (Islam) adalah rahmatan lil alamien. Allah berfirman Qs.
At-Tahrim [66]:6 artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; … “.
Padahal Allah berjanji bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa niscaya Allah akan membukakan pintu rahmah dari langit dan bumi. Namun mereka mendustakan, maka Allah turunkan azab akibat perbuatan mereka sendiri (Qs. Al-Araf:94). Janji Allah itu pasti, Allah tidak akan mendustai janjinya, justru manusia mendustai janji Allah.
Untuk itu, pendidikan umum dan pendidikan agama Islam sama- sama terikat nilai-nilai universal. Oleh karena itu, pendidikan umum dan pendidikan Islam harus diintegrasikan, bukan hanya baik buruknya manusia, tetapi baik dan buruk itu harus memiliki standar ukuran nilai ketuhanan. Nilai-nilai yang ditentukan Al-Qur’an dan sunnah.
Menurut Sederadjat (2011:19-20) bahwa: “Konsep-konsep pendidikan Islam sebagai-mana konsep PAI sebagai pembeda (al-Furqan) yang menjadi orientasi, pendekatan, metode, dan strategi, karena yang dituju sesungguhnya bukan transfer of knowledge, tetapi bagaimana membangun pribadi yang memancarkan cahaya imani yang diwujudkan
dalam amal yang ilmiah berakhlakul karimah, menyebarkan rahmatan lilalamien.
Di era globalisasi ini membutuhkan profil generasi muslim yang unggul iman, ilmu dan amal sholeh (Qs. Al-Mujadillah:11) tidak dapat dipungkiri adanya. Untuk itu, menghadapi kehidupan berbangsa dan bernegara yang tak menentu ini, membutuhkan butir-butir nilai pendidik- an Islam yang harus relevan dalam membangun pendidikan nasional.
Hal ini, sangat diperlukan mengingat mobilitas dan dinamika globalisasi semakin sulit dideteksi, diprediksi dan diantisipasi dengan pancaindera (Mastuhu, 2007:71-79).
Pendidikan Islam diharapkan mampu memperkuat iman dan ketaqwaan seseorang peserta didik. Seorang anak muslim dapat memperkuat imannya terhadap agama Islam. Salah satu cara untuk memperbaiki akhlak dan moral bangsa, tentu dapat meningkatkan dan mengoptimalkan daya guna dan hasil guna pendidikan Islam.
Pilar pendidikan Islam harus diperkuat. Pilar Pertama adalah Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama untuk menanamkan nilai keagamaan kepada anak-anak kita. Keluarga menjadi pilar penyangga utama mengajarkan tentang kebaikan hati, kasih sayang, pemaaf dan lainnya. Keluarga sebagai pranata sosial terkecil dalam menyusun kerangka pembangunan generasi penentu maju mundurnya bangsa. Membangun bangsa yang kuat tak dapat dipisahkan dari suatu sistem yang komprehensif dan menyeluruh, yaitu agama (Islam). Pilar Kedua, adalah sekolah. Sekolah yang bermutu dapat melahirkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa, mandiri, kreatif, inovatif dalam melanjutkan dan menyempurnakan pembangunan. Sekolah sebagai proses pembudayaan yang berpedoman pada kebudayaan bangsa.
Kurikulum yang ditetapkan untuk mewariskan kepada generasi “warisan kebudayaan umum” dalam masyarakat. Pada masyarakat yang majemuk, sekolah dapat mengembangkan kurikulum multikultural dengan sub- budaya, kepercaya-an, agama, adat istiadat, kebiasaan dan lainnya.
Pilar Ketiga adalah masyarakat. Masyarakat dijadikan agen sosial yang
dijadikan media sosialisasi nilai-nilai yang diperoleh melalui keluarga dan sekolah. Tokoh masyarakat, tokoh agama, dan para pemimpin informal lainnya harus dapat mengarahkan kehidupan sosial kemasyarakatan yang kondusif.
Upaya perbaikan pendidikan Islam tampaknya perlu reformulasi kurikulum pendidikan agama harus dilakukan di era globalisasi. Sejatinya ini harus dilakukan untuk menumbuhkan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan untuk mencerdaskan anak bangsa sebagaimana amanah UUD 1945. Pendidikan Islam dapat dijadikan pembangkit semangat memper- tahankan eksistensinya dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia, yang tertuang dalam tujuan pendidikan nasional tercapai. Kekuatan pendidikan Islam kian terreduksi sehingga terjadi degradasi kewibawaan pendidikan Islam khususnya pendidikan formal. Oleh karena itu, Negara perlu mereformulasi secara kritis melalui tela’ah kritis, kajian yang komprehensif dan menyeluruh berkaitan dengan visi, misi, tujuan, dan program pendidikan agama (Islam).
Pangkal kemerosotan moral dan degradasi nilai keagamaan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan bermula dari minimnya pendidikan Islam baik dari waktu maupun esensi kurikulumnya. Pada prinsipnya konsep dasar pendidikan Islam harus bersifat fungsional nilai- nilai ilahiyah dalam kehidupan manusia. Tujuan pendidikan agama adalah terbinanya manusia yang berkesadaran hidup menurut Allah SWT, sehingga sikap dan perilaku dalam hidupnya yang berpedoman pada Al-Qur’an dan sunnah. Materinya mengacu pada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup manusia. Oleh karena itu, menjaga eksistensi pendidikan Islam, diperlukan adanya pengenalan, pemahaman dan penerapan kandungan Qur’an dan sunnah.
Kepribadian orang muslim yang teguh dan taat di era globalisasi sangat penting. Tuntutan perubahan sebagai implikasi pengaruh langsung dari globalisasi yaitu persaingan ekonomi (lewat MEA, WTO, AFTA dan lainnya), sosial budaya dan Informasi. Tidak dapat disangkal bahwa perkembangan dan kemajuan tersebut harus diantisipasi dengan
memberikan penguatan pendidikan agama, moral dan budi pekerti.
Pendidikan Islam sebagai perisai dalam masyarakat. Pendidikan Islam menjaga pertahanan di tengah derasnya arus dekadensi moral dan wibawa ummat. Tokoh agama, pemuka masyarakat dan pemimpin non formal lainnya kurang mampu menjadi teladan yang baik dalam masyarakat. Untuk mewujudkan makna pendidikan Islam yang fungsional tentu saja diperlukan dukungan semua pihak untuk bersama- sama mencari solusi yang tepat mengurangi dampak negatif globalisasi.
Ciri-ciri berkembangnya globalisasi di dunia, antara lain: (1) adanya perubahan dalam ruang dan waktu. Perkembangan teknologi kebudayaan seperti handphone, televisi satelit, dan internet sebagai media komunikasi global terjadi sangat cepatnya, melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda. (2) Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung akibat pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO). (3) Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). (4) Meningkatnya masalah bersama, misalnya bidang lingkungan hidup, kerusakan moral, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.Transformasi telah mengantar kita pada globalisme, sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia itu satu. Saya, anda, mereka dan kita semua sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan pada hal sama, perubahan, ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi.
Globalisasi sebagai suatu zaman transformasi social.
Menurut Mastuhu (2007:50-52) bahwa corak kerja globalisasi, antara lain: Pertama, politik pintu tertutup ke politik terbuka; Kedua, dari model manajerial top down di mana petunjuk, instruksi dan bimbingan datang dari atas ke manajerial button-up, di mana semua informasi dan kebijakan diputuskan dari bawah. Model manajerial button-up akan mampu mengembangkan beragam partisipasi rakyat. Ketiga, model mengelola unit kerja secara rigrous (dengan kerja keras dan teliti) ke leniency (dengan kemurahan hari). Keempat, organisasi kerja dalam era globalisasi bergerak dari organisasi atau kantor sebagai lembaga tempat kerja
mencari uang dan aman, ke tempat kerja sebagai organisasi pembelajaran dan mengembang-kan karier. Kelima, di kalangan kelompok intelektual muda, telah terjadi perubahan sikap dan perilaku kerja.
Dari etos kerja tersebut, bahwa era globalisasi menuntut perspektif yang berpacu pada mutu dan semangat keterbukaan dan kebebasan.
Bersamaan dengan itu, Saya sebagai salah seorang Pendiri Asosiasi Dosen Dan Guru Indonesia (ADGI) dan pimpinan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta mengharapkan pendidikan agama diperkuat untuk melahirkan SDM yang berkualitas dalam misi keummatan. Menurut Saridjo (2011:356) bahwa:
“Pendidikan agama (Islam) merupakan usaha untuk memperkuat iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut peserta didik dengan memperhatikan toleransi untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan umat beragama dan masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional”.
Untuk itu, kegiatan yang dikolaborasikan oleh PEMDA Lombok Tengah, Fakulti Pendidikan Malaysia dan DPW ADGI NTB merupakan kolaborasi yang baik untuk menjaga eksistensi pendidikan agama di era globalisasi. Semoga nilai-nilai pendidikan agama dapat menjadi penguatan nilai teologis, nilai etis, nilai sosial dan nilai teleologik sehingga pendidikan Islam mampu melahirkan manusia yang berkualitas iman, ilmu dan ihsan. Wallahu a’lam bishawab.
KESIMPULAN
Indonesia sejak era orde lama sampai orde reformasi menuntut adanya revitalisasi terhadap sistem dan metodologi pembelajaran pada lembaga pendidikan agama dan lembaga pendidikan umum. Lembaga pendidikan idealnya secara terus menjaga eksistensi pendidikan agama di era globalisasi.
Masalahnya saat ini, di mana lembaga pendidikan Islam berusaha mengatasi kelemahan-kelemahan dan anomali dalam sistem pendidikan nasional kita.
Hasil pendidikan selama ini, telah menghasilkan para ilmuan, cendekiawan yang banyak, tetapi miskin moral dan akhlak terpuji. Mereka seolah rabun ayam untuk membedakan mana yang baik dan mana buruk. Mereka pun tidak mampu membedakan yang hak dan bathil. Hal ini, memunculkan berbagai tindakan yang a-susila, a-moral, tidak berbudi sehingga melahirkan perilaku korup, kemaksiatan, dan penyimpangan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi (1996), Kata Pengantar dalam Marwan Saridjo, Bungan Rampai Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Amissco
Azra, Azymardi (2002), Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menujua Milenium Baru, Ciputat: Logos Wacana Ilmu
Idrus, Ali, 2009, Manajemen Pendidikan Global Visi, Aksi dan Adaptasi, Jakarta: Gaung Persada
Hidayat, Kamaruddin, et. al. (2000), Islam Untuk Disiplin Ilmu Pendidikan Buku Daras PAI Pada Perguruan Tinggi Umum, Jakarta: Depertemen Agama RI Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Direktorat Pembinaan PTAI Bagian Proyek Pembinaan Pendidikan Agama Langgulung, Hasan (2004), Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa
Psikologis Filsafat dan Pendidikan, Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru Mastuhu, M. (1999), Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, Ciputat:
Logos Wacana Islmu
Mastuhu, M (2007), Sistem Pendidikan Nasional Visioner, Ciputat: Lentera Hati
Saridjo, Marwan (2011), Pendidikan Islam Dari Masa Ke Masa Tinjauan Kebijakan Publik Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia, Edisi Revis, Jakarta: Yayasan Ngali Aksara dan Al-Manar Press
Soyomukti, Nurani, 2008, Pendidikan Berperspektif Globalisasi, Jogyakarta: Ar-Ruzz Media
Suderadjat, Hari (2011), Pendidikan Akhlak Mulia (Reorganisasi PAI Berbasis Kompetensi Bertema Ibadah), Bandung:Sekar Gambir Asri Tafsir, Ahmad (2006), Filsafat Pendidikan Islam Integrasi Jasmani, Rohani
dan Kalbu Memanusiakan Manusia, Bandung: Rosda
Zuhairini, H. et. al. (1983), Metodik Khusus Pendidikan Agama, Surabaya- Indonesia: Usaha Nasional