• Tidak ada hasil yang ditemukan

SNKA Seminar Hasil Penelitian 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SNKA Seminar Hasil Penelitian 2021"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

8

TINGKAT ANSIETAS SISWA KELAS XII MENUJU KELULUSAN PADA ERA NEW NORMAL DI SMK “X” PEKANBARU RIAU

Thalia Ramadhani1, Saniya2, Putri Wulandini S3

1Rumah Sehat Islamic Nurse, 23Program Studi Diploma Keperawatan Universitas Abdurrab, Email : [email protected]

Abstrak

Kecemasan adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui Gambaran Tingkat Kecemasan Siswa Kelas XII Menuju Kelulusan Pada Era New Normal di SMK “X” Pekanbaru. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif. Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode cluster sampling pada siswa kelas XII SMK “X” Pekanbaru dengan jumlah 173 siswa. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian ini didapatkan distribusi berdasarkan tingkat kecemasan yang terbanyak adalah responden yang memiliki tingkat normal dengan jumlah 100 siswa (58%), kecemasan ringan dengan jumlah 64 siswa (37%) dan kecemasan sedang dengan jumlah 9 siswa (5%). Dari penelitian ini didapatkan bahwa responden berdasarkan tingkat kecemasan yang terbanyak adalah normal. Saran peneliti dari penelitian ini diharapkan agar siswa dapat lebih menyadari dan mengantisipasi tingkat kecemasan yang terjadi pada diri siswa menuju kelulusan di era new normal.

Kata kunci : Ansietas, New Normal, Siswa

PENDAHULUAN

Negara kita saat ini sedang menghadapi pandemi virus COVID-19 ini dan juga saat ini pemerintah menerapkan kebijakan new normal yang implikasinya berpengaruh terhadap sektor pendidikan sehingga peserta didik diminta untuk belajar di rumah demi menghindari terpaparnya COVID -19. Tenaga pendidik dan peserta didik diharuskan melakukan pembelajaran secara online atau daring sehingga tidak ada tatap muka di kelas seperti biasanya. Tentu kejadian seperti ini menuntut peserta didik dan juga tenaga pendidik harus belajar dan melakukan pembelajaran secara online atau daring atau jarak jauh tetapi dengan ketercapaian dan tujuan pendidikan yang tetap berkualitas dan bermutu (Syaharuddin, 2020).

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita mengungkapkan new normal kehidupan yang akan dijalankan seperti biasa ditambah dengan protokoler kesehatan. Memasuki era new normal, individu diharapkan telah mampu menguasai dan terbiasa akan berbagai hal. Penyesuaian terhadap adanya perubahan interaksi sosial, pekerjaan dan lini pendidikan menjadikan kemampuan adaptasi siswa perlu untuk dimaksimalkan (Nur & Nanda, 2020).

Penyesuaian dalam lini pendidikan pada siswa dalam menghadapi kelulusan menyebabkan suatu respon kecemasan. Menurut Mary dkk (2014), kecemasan yang timbul ketika menghadapi ujian akan mempengaruhi performa mahasiswa yaitu mereka dengan tingkat kecemasan yang lebih

(2)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

9 rendah memberikan performa yang lebih baik dibanding mereka yang mengalami kecemasan sedang dan tinggi (Wardhana dkk, 2015).

Kecemasan (ansietas) adalah istilah yang sangat akrab dengan kehidupan schari-sehari yang menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai berbagai keluhan fisik.

Keadaan tersebut dapat terjadi atau menyertai kondisi situasi kehidupan dan berbagai kesehatan (Dalami, 2010). Hal ini sejalan dengan pernyataan Costelle dala Kohli dan Gupta (2013) yang menyebutkan bahwa kecemasan merupakan salah satu penyimpangan psikologis paling umum yang dialami siswa sekolah dan remaja di seluruh dunia.

Salah satu penyebab kecemasan di antaranya pada saat menjelang Ujian Akhir Nasional siswa sibuk mempersiapkan diri terkadang mengalami rasa cemas yang berlebihan.

Kecemasan tersebut timbul karena mereka merasa takut dan terlalu memikirkan hasil ujiannya kelak, padahal mereka belum berusaha schingga kecemasan ini harus diatasi agar tidak berpengaruh buruk terhadap perkembangan mental. Kecemasan ini dapat memecah belah pemikiran seseorang, membagi dua pikiran seseorang menjadi niat yang baik dan buruk terkadang seseorang merasa pesimis karena kecemasan, sekalipun seseorang yang sesungguhnya mempunyai otak yang cerdas dan kenyataan ini telah dibuktikan dengan nilai-nilai ujian sekolah yang dicapainya dalam pelajaran, tetapi saat ia mengikuti Ujian Akhir Nasional ternyata ia mengalami kegagalan hal ini dapat mengakibatkan goncangan mental yang dialaminya, inilah bukti kecemasan schingga kecemasan ini harus diatași agar tidak berpengaruh buruk.

Mendekati Ujian Nasional (UN) ribuan siswa

disejumlah daerah di Indonesia, dihinggapi rasa cemas dan takut tidak lulus UN, sejumlah siswa menangis, bahkan pingsan karena mereka khawatir tidak lulus UN. Siswa sebenarmya tidak perlu menangis, jika mereka rajin belajar dan berusaha maksimal, apalagi pemerintah sudah menyiapkan ujian susulan untuk seluruh mulai dari SD, SMP, SMA, SMK, MA dan sekolah setingkatnya.

tingkatan (Catatan Kompas dalam hara-kiri 2012).

Kecemasan dengan intensitas yang wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi, tetapi apabila intensitasnya sangat kuat dan bersifat negatif justru akan malah menimbulkan kerugian dan dapat menggangu terhadap keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan (Ratna

& Haryanto, 2011). Kecemasan yang terjadi dalam lingkungan sekolah khususnya pada remaja tidak bisa lepas dari masalah-masalah yang dialaminya selama proses pembelajaran, dimana banyak siswa yang merasa cemas ketika dihadapkan pada suatu permasalahan yang menyulitkan mereka untuk berfikir. Kecemasan tidak selalu berdasar atas kenyataan, tetapi dapat juga hanya berdasarkan imajinasi individu. Kecemasan yang tidak rasional ini biasanya disebabkan oleh ketakutan individu akan ketidakmampuan diri sendiri (Falah &

Maisaroh, 2011).

Salah satu isu yang marak diperbincangkan adalah kekhawatiran tentang kemungkinan banyaknya siswa yang tidak lulus. Bagi siswa sendiri, adanya UN sebagai penentu kelulusan siswa dalam suatu jenjang pendidikan formal, menjadikan beban yang luar biasa besar bagi siswa, bahkan perasaan ini mungkin saja dirasakan sejak siswa menempati kelas akhir dari suatu jenjang. Astuti dan Purwanto (2014)

(3)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

10 menyatakan bagi siswa ujian nasional merupakan penentu kelulusan pendidikan formal, sehingga menjadikan beban tersendiri yang membuat pikiran menjadi resah. Keresahan tersebut bisa menjadi beban dan membuat para siswa merasa takut, tertekan, dan depresi menghadapi UN dan sangat tidak menutup kemungkinan berdampak pada gangguan psikologis jika nantinya gagal atau tidak lulus. Kecemasan merupakan fenomena umum yang merupakan penyebab universal kinerja akademis yang buruk pada siswa. (Kahan &

Donelly dalam Dawood, dkk, 2016) .

Berdasarkan latar belakang di atas peneliti ingin meneliti lebih lanjut mengenai tingkat ansietas pada siswa kelas XII menuju kelulusan pada era new normal di SMK “X” Pekanbaru.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 307 responden dan sampel penelitian sebanyak 173 responden dengan menggunakan teknik pengambilan sampel cluster sampling.

HASIL PENELITIAN

Tabel 1

Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)

1 Perempuan 60 35

2 Laki-Laki 113 65

Total 173 100

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa distribusi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

menunjukkan bahwa sebahagian besar responden adalah laki-laki yaitu 113 siswa (65%) dan perempuan 60 siswa (35%)

Tabel 2

Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Jurusan

No Jurusan Jumlah siswa Sampel tiap kelas

Persentase (%)

1 MM 35 20 12

2 DPIB 61 34 20

3 TAV 60 34 20

4 TBSM 30 17 10

5 TITL 30 17 10

6 BKP 22 12 7

7 GP 33 19 11

8 TKJ 36 20 12

Total 307 173 11

Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa distribusi karakteristik responden berdasarkan jurusan menunjukkan bahwa jurusan terbanyak adalah DPIB yang berjumlah 34 siswa (20%) dan TAV yang juga berjumlah 34 siswa (20%)

Tabel 3

Distribusi Berdasarkan Tingkat Kecemasan No Tingkat

Kecemasan

Frekuensi Persentase (%)

1 Normal 100 58

2 Ringan 64 37

3 Sedang 9 5

Total 173 100

Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa distribusi berdasarkan tingkat kecemasan menunjukkan bahwa tingkat kecemasan terbanyak adalah normal yang berjumlah 100 siswa (58%)

(4)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

11

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan distribusi berdasarkan tingkat kecemasan yang terbanyak adalah responden yang memiliki tingkat normal dengan jumlah 100 siswa (58%), kecemasan ringan dengan jumlah 64 siswa (37%) dan Kecemasan sedang dengan jumlah 9 siswa (5%). Kecemasan adalah suatu reaksi fisik dan psikis terhadap setiap tuntutan yang menyebabkan ketegangan dan mengganggu stabilitas kehidupan sehari- hari, kecemasan adalah reaksi/respon tubuh terhadap stressor (tekanan mental/beban kehidupan (Priyoto. 2014).

Banyak faktor yang mempengaruhi kecemasan. Menurut Hawari (2013), mekanisme terjadinya cemas yaitu psiko- neuro-imunologi atau psiko- neuro- endokrinologi, akan tetapi tidak semua orang yang mengalami stresor psikososial akan mengalami gangguan cemas. Hal ini tergantung pada struktur perkembangan kepribadian diri seseorang tersebut yaitu usia, tingkat pendidikan, pengalaman, jenis kelamin, dukungan sosial dari keluarga, teman dan masyarakat (Hidayah, 2016).

Kecemasan diawali dari adanya situasi yang mengancam sebagai suatu stimulus yang berbahaya (stressor). Pada tingkatan tertentu kecemasan dapat menjadikan seseorang lebih waspada (aware) terhadap suatu ancaman, karena jika ancaman tersebut dinilai tidak membahayakan, maka seseorang tidak akan melakukan pertahanan diri (self defence)(Sadock dkk, 2010). Sehubungan

dengan menghadapi pandemi Covid-19 ini, kecemasan perlu dikelola dengan baik sehingga tetap memberikan awareness namun tidak sampai menimbulkan kepanikan yang berlebihan atau sampai pada gangguan kesehatan kejiwaan yang lebih buruk.

Kecemasan dapat timbul dengan intensitas yang berbeda-beda, tingkatan ini terbagi menjadi kecemasan ringan, sedang, berat hingga menimbulkan kepanikan dari individu itu sendiri, terkadang dapat menimbulkan halangan untuk melakukan suatu pekerjaan (Suprajitno, 2012). Pada studi mengenai masalah psikologis yang dialami mahasiswa, Kumaraswamy (2012), menemukan bahwa 26% subjek mengalami distress psikologis dan 31% subjek mengalami kecemasan serta depresi. Kecemasan. depresi, dan stress adalah hal yang umum terjadi pada mahasiswa.

Menurut Mary dkk (2014), kecemasan yang timbul ketika menghadapi ujian akan mempengaruhi performa mahasiswa yaitu mereki dengan tingkat kecemasan yang lebih rendah memberikan performa yang lebih baik dibanding mereka yang mengalami kecemasan sedang dan tinggi (Wardhana dkk, 2015). Salah satu faktor kelulusan siswa yang ditentukan ujian nasional menjadikan ujian nasional sebagai sesuatu yang menakutkan (Agustiar, 2010). Banyaknya tekanan dari berbagai pihak membuat kecemasan siswa semakin meningkat.

Siswa-siswa dengan tingkat kecemasan yang tinggi tidak berprestasi sebaik siswa- siswa dengan tingkat kecemasan yang rendah pada beberapa jenis tugas, yaitu tugas-tugas

(5)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

12 yang ditandai dengan tantangan, kesulitan,

penilaian prestasi dan batasan waktu,sehingga berpengaruh terhadap kelulusan nantinya.

(Sarason dkk., 2011 dalam Kristanto, Sumarjono, dan Setyorini, 2014).

Kecemasan dengan intensitas yang wajar dapat dianggap memiliki nilai positif sebagai motivasi, tetapi apabila intensitasnya sangat kuat dan bersifat negatif justru akan malah menimbulkan kerugian dan dapat menggangu terhadap keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan (Ratna dan Haryanto, 2011).

Siswa yang memiliki efikasi diri yang rendah akan memiliki kecemasan tinggi, hal ini dikarenakan tidak adanya keyakinan atas kemampuannya sehingga mereka tidak merasa percaya diri, tidak yakin akan kemampuannya, tidak mempunyai target nilai dalam ujian nasional tersebut dan tidak yakin akan kemampuan yang dia miliki (Rini, 2013).

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan tingkat kecemasan pada siswa menuju kelulusan di SMK “X” Pekanbaru yang terbanyak adalah normal yaitu sebanyak 100 siswa (58%).

DAFTAR PUSTAKA

Anak, Agung U.C & Nicholas Simarta. (2013).

Hubungan Antara Motivasi Belajar Dan Motivasi Pada Siswa Kelas VI Menjelang Ujian Nasional. Jurnal Psikologi Vol.1 No.1

Anwar, Q. (2007). Manajemen Stress. Jakarta:

P.T.AI. Mawardi Prima

Beauty, S., dan Arif, W. (2011). Hubungan antara Peran Dosen Pembimbing dengan Kecemasan Mahasiswa Keperawatan Dalam Menghadapi Tugas Akhir Skripsi di Fakultas Ilmu Kesehatan UMS. Jurnal Universitas Muhammadiyah Surakarta Vol. 04 No.4. publikasiilmiah.ums.ac.id Casmi, Rina Anggraeni, Dona Yanuar Agus

Santoso. (2017). Level Kecemasan Siswa Menjelang Ujian Nasional. Jurnal Keperawatan Vol .5 No.1.

Dalami, E. (2010). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: CV. Trans Info Media.

Deshinta,Vibriyanti. (2020). Kesehatan Mental Masyarakat: Mengelola Kecemasan Ditengah Pandemi Covid-19. Jurnal Kependudukan Indonesia Vol.1

Frinda Imartous, S. (2017). Pengaruh Tingkat Kecemasan Siswa Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X Ips 2 SMA 12 Surabaya. E- Jurnal Pendidikan Vol 5 No 3

Hawari, D. (2013). Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta: Balai Penebit FK UI Hayat, A. (2014). Kecemasan dan Metode

Pengendaliannya. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Antasari Banjarmasin.

Khazanah: Vol. XII. No. 01

Iskandar. (2010). Metodologi Penelitian Pendidikan Dan Sosial (Kuantitatif Dan Kualitatif). Jakarta: Gaung Persada Press Jarnawi. (2020). Mengelola Cemas Di Tengah

Pandemi Corona. Jurnal At-Taujih vol.3 no.1

Kadek, Sunatra & Bimoe Agoes Prakoso. (2020).

Mereduksi Kecemasan Akademik Siswa

(6)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

13 Pada Saat Pandemi Covid-19. Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia Vol.6 No.2

Laila,Faida, N.S. (2013). Faktor-Faktor Penyebab Kecemasan Siswa Dalam Menghadapi Ujian Nasional. Jurnal Bimbingan Konseling Vol.25

Lindia, Fitria & Ifdil. (2020). Kecemasan Remaja Pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan Indonesia Vol.6 No.1

Maya, Pangastuti. (2014). Efektivitas Pelatihan Berfikir Positif Untuk Mengurangi Kecemasan Dalam Menghadapi Ujian Nasional. Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No.1

Nina, Mardiana, (2017). Peranan Guru Bimbingan Dan Konseling Dalam Upaya Mengurangi Tingkat Kecemasan Siswa Menghadapi Ujian Nasional. SOSIO E-KONS Vol.2 No.9 Notoatmodjo. (2010). Metodologi Penelitian

Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Nurhalimah (2016) Keperawatan Jiwa. Jakarta Selatan : Kemenkes RI

Nursalam. (2011). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian ilmu Keperawatan:

Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Riyanto, A. (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.

Saskia, Rosita dkk . (2020) Buku Saku Dukungan Psikososial Bagi Guru Dan Mahasiswa Tangguh Dimasa Pandemi Covid-19.

Tangerang Selatan: Wahana Misi.

Stuart. (2012). Buku Saku Keperawatan Jiwa.

Jakarta: EGC Suprajitno. (2012). Asuhan

Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC Yusuf, A. H., Rizky F. PK, Hanik E. N. (2015).

Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa.

Jakarta: Salemba Medika

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Penerapan Breast

a) Review laporan akhir dilakukan oleh organisasi pelaksana pusat, organisasi pelaksana provinsi, dan organisasi pelaksana kabupaten/kota. b) Pelaksanaan kegiatan evaluasi

 Hemat Rp 150,000 di tanggal 10 – 11 Desember menggunakan Kartu PermataDebit Plus berlogo VISA dengan minimum transaksi Rp 2,000,000 dan memasukan kode promo PMTDBFAB untuk

Informasi tentang kekayaan flora tumbuhan paku di Oehala masih sangat kurang, hal ini disebabkan masih banyak tumbuhan paku yang belum diketahui, baik jenis

Selain itu, pada pasien dengan nilai Hb kurang dari 14 g/dl menunjukkan sebuah peningkatan insidensi Candida albicans dan Staphylococcus aureus ketika dibandingkan

Sebuah pelajaran penting yang dapat dipetik dari buku ini adalah untuk lebih bertindak arif dan hati-hati dalam menilai atau memberikan stitmen tentang Pendidikan

A.. Mengulek adalah salah satu kegiatan yang berat dilakukan. Meskipun terjadi peningkatan angka penderita arthritis dan CTS, hingga saat ini belum ada pengembangan

Kode etik  merupakan aturan2 susila, atau sikap akhlak yg ditetapkan bersama dan diaati bersama oleh para anggota, yg. tergabung dalam