commit to user
13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Perkawinan merupakan suatu kejadian yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Dalam sebuah perkawinan, setiap pasangan mendambakan kehadiran anak. Kehadirannya akan dapat mempererat hubungan antara suami isteri yang bersangkutan. Pada prinsipnya perkawinan merupakan suatu akad, untuk menghalalkan hubungan serta membatasi hak dan kewajiban, tolong menolong antara pria dengan wanita yang antara keduanya bukan muhrim. Apabila ditinjau dari segi hukum, jelas bahwa pernikahan adalah suatu akad yang suci dan luhur antar pria dengan wanita, menjadi sebab sahnya sebagai suami isteri dan dihalalkannya hubungan seksual.
Ikatan perkawinan merupakan unsur pokok dalam pembentukan keluarga harmonis dan penuh rasa cinta kasih, maka dalam pelaksanaan perkawinan tersebut, diperlukan norma hukum yang mengaturnya. Penerapan norma hukum dalam pelaksanaan perkawinan terutama diperlukan dalam rangka mengatur hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga, guna membentuk rumah tangga bahagia dan sejahtera.
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pengertian perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Mengenai sahnya perkawinan terdapat pada Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yaitu Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Hal ini berarti bahwa jika suatu perkawinan telah memenuhi syarat dan rukun nikah atau ijab kabul telah dilaksanakan (bagi umat Islam) atau pendeta/pastur telah melaksanakan pemberkatan atau ritual lainnya, maka perkawinan tersebut sudah dianggap
commit to user
14
sah menurut agama dan kepercayaan masyarakat. Akan tetapi perkawinan semacam ini belum dianggap sah oleh Negara jika belum dicatatkan pada petugas yang berwenang. Hal ini sesuai sesuai dengan ketentuan Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengenai pencatatan perkawinan, yaitu tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Sebuah perkawinan akan melahirkan segi hukum antara lain hak dan kewajiban bagi pasangan mempelai, hak dan kewajiban dalam harta perkawinan, hubungan hukum keluarga, kedudukan anak, hukum perwalian dan banyak lagi segi lain yang akan timbul sendiri dari sebuah kelangsungan perkawinan (Eddo Febriansyah, 2015:2).
Berlakunya peraturan yang jelas, pada kenyataannya dalam masyarakat sering terjadi perkawinan yang tidak sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Masyarakat tersebut beranggapan bahwa cukup melakukan pernikahan sesuai dengan hukum agama saja perkawinan tersebut sudah dianggap sah (perkawinan semacam ini biasa dikenal dengan nikah siri atau perkawinan di bawah tangan). Dasar terbentuknya sebuah keluarga adalah perkawinan. Dari pengertian perkawinan tersebut di atas, jelaslah bahwa perkawinan merupakan lembaga suci dan berkekuatan hukum. Dengan adanya perkawinan akan memberi kejelasan status dan kedudukan anak yang dilahirkan. Anak yang dilahirkan dari sebuah perkawinan merupakan anak sah yang memiliki hubungan perdata dengan bapak dan ibunya.
Penjelasan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tercantum tujuan perkawinan yaitu untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal. Ini berarti bahwa perkawinan dilangsungkan bukan untuk sementara atau jangka waktu tertentu yang direncanakan, akan tetapi untuk seumur hidup atau selama-lamanya, dan tidak boleh diputus begitu saja. Karena itu tidak diperkenankan perkawinan yang hanya dilangsungkan untuk sementara saja seperti kawin kontrak. Pemutusan
commit to user
15
perkawinan dengan perceraian hanya dapat diperbolehkan dalam keadaan yang sangat terpaksa(Riduan Syahrani, 2010:62).
Keberadaan anak dalam keluarga merupakan sesuatu yang sangat berarti. Anak memiliki arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Anak merupakan penyambung keturunan, sebagai investasi masa depan, dan anak merupakan harapan untuk menjadi sandaran di kala usia lanjut. Ia dianggap sebagai modal untuk meningkatkan peringkat hidup sehingga dapat mengontrol status sosial orang tua.
Banyak sekali hal-hal yang dapat mengakibatkan nasab seorang anak tidak jelas, permasalahan yang muncul di tengah-tengah masyarakat adalah seks bebas yang banyak terjadi pada pergaulan anak muda pada zaman globalisasi ini. Bermula dari adat pacaran yang sudah menjerumus pada pergaulan bebas sampai berakibat hamil di luar nikah. Perkawinan siri yang banyak dilakukan, dengan alasan pelaku menghindari dosa berzina.
Perkawinan siri secara agama memang sah, karena sudah memenuhi rukun nikah. Akan tetapi dalam hukum Indonesia perkawinan yang tidak dicatatkan di KUA dan Catatan Sipil bagi Non Muslim tidak diakui keberadaanya. Hal ini sebenarnya juga menimbulkan efek terhadap perkembangan anak yang dilahirkannya kelak.
Anak dalam pemaknaan yang umum mendapat perhatian tidak saja dalam bidang ilmu pengetahuan (the body of knowledge), tetapi dapat ditelaah dari sisi pandang sentaralistis (berorientasi) kehidupan. Agama, hukum, dan sosiologi menjadikan pengertian anak semakin rasional dan aktual dalam lingkungan sosial. Anak diletakkan dalam advokasi dan hukum perlindungan anak. Anak menjadi objek dan subyek yang menjadi proses legitimasi, generalisasi dalam sistematika dari sistem hukum positif yang mengatur tentang anak (D.Y. Witanto, 2012:3).
Pada saat seseorang dilahirkan maka pada saat itulah kedudukan hukumnya akan dimulai dan akan berakhir pada saat ia meninggal dunia.
Sedangkan peristiwa kelahiran sampai kematian seseorang akan membawa
commit to user
16
akibat-akibat hukum ,tidak hanya terhadap diri sendiri tetapi juga untuk orang lain yang berkepentingan.
Seorang anak dapat dikatakan sah memiliki hubungan nasab dengan ayahnya jika terlahir dari perkawinan yang sah. Sebaliknya anak yang lahir di luar perkawinan yang sah tidak dapat disebut sebagai anak sah, biasa disebut dengan anak zina atau anak di luar perkawinan yang sah (Amiur Nurudin dan Azhari Akmal Taligan, 2004:277).
Faktor esensial yang menjadi perhatian di dalam sistem hukum nasional dan perlu mendapat susunan secara substansional sebagai berikut (Maulana Hasan, 2000:1) :
1. Status anak atau eksistensi anak.
2. Sistem hukum positif yang mengatur tentang anak.
Anak luar kawin timbul disebabkan anak tersebut dilahirkan dari seorang wanita, kelahiran anak tersebut diketahui dan dikehendaki oleh salah satu atau ibu bapaknya, hanya saja salah satu atau kedua orang tuanya itu masih terikat dengan perkawinan lain. Dan juga anak yang dilahirkan dari perkawinan yang tidak dicatatkan di Kantor Catatan Sipil dan/atau Kantor Urusan Agama. Terjadinya kelahiran seorang anak yang tanpa didahului oleh suatu ikatan perkawinan akan memberi status kepada si anak yang dilahirkan sebagai anak luar kawin (D.Y. Witanto, 2012:147-148).
Mengingat perkembangan masyarakat di Indonesia dewasa ini semakin banyak anggapan bahwa hubungan seks di luar ikatan perkawinan sah, tidaklah merupakan suatu masalah yang luar biasa, sehingga seringkali terjadi kelahiran seorang anak di luar suatu ikatan perkawinan sah. Anak yang lahir di luar suatu ikatan perkawinan sah disebut anak luar kawin. Dalam kehidupan sehari-hari anak luar kawin seringkali mendapat sebutan sebagai anak haram, yaitu anak yang tak menentu siapa bapaknya. Artinya anak yang lahir tersebut hanya mempunyai status serta hubungan biologis dan yuridis dengan ibu kandungnya saja, tidak mempunyai hubungan yuridis dengan seorang ayah.
Hal ini disebabkan oleh tidak jelasnya siapa yang menjadi ayah dari anak luar kawin tersebut (Dirga Insanu, 2013:87-88).
commit to user
17
Hak keperdataan anak di luar kawin tersebut menimbulkan pengaruh besar dan luas terhadap sang anak, oleh karena tidak mendapatkan perlindungan hukum, seperti pemeliharaan dan kesejahteraan anak, termasuk hak anak untuk mewaris. Status anak di luar kawin tersebut akan menjadi beban bagi ibunya dan keluarga ibunya, dan status hukum anak juga tidak terjangkau oleh hukum seperti dalam penentuan keabsahan anak seperti status akta kelahiran anak. Padahal, di dalam kelahiran anak di luar kawin sang anak tidak berdosa sama sekali melainkan perbuatan hubungan antara kedua orangtuanya yang menyebabkan kelahirannya ke muka bumi ini (Isyana, 2012:44).
Permasalahan status hukum anak di luar kawin dapat diatasi secara hukum melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010, tanggal 13 Februari 2012, bahwa anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya (Isyana, 2012:46).
Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut di nilai sebagai tonggak (landmark) hukum, tetapi di sisi lain dipandang sebagai bentuk legalisasi perzinahan. Bagi kalangan pemuka agama yang umumnya digolongkan kaum konservatif, putusan Mah
bersejarah yang membawa implikasi hukum luas dan kompleks terhadap sejumlah peraturan Perundang-undangan konvensional dan pemikiran konservatif (Isyana, 2012:46). Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut banyak merujuk pada ketentuan dan prinsip-prinsip HAM yang berintikan antara lain prinsip keadilan, prinsip non-diskriminasi, dan prinsip kesetaraan/persamaan.
Berkaitan dengan perkawinan yang tidak sah, masih belum jelas mengenai kedudukan anak yang dilahirkan tersebut. Hal ini tentunya akan menimbulkan suatu permasalahan-permasalahan mengenai kedudukan hukum
commit to user
18
dan hak-hak anak yang dihasilkan dari perkawinan yang tidak sah tersebut.
Menurut berita harian merdeka.com pada tanggal 26 Desember 2012, dalam sensus yang dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka), 25 persen masyarakat di Indonesia melakukan kawin siri dan nikah secara adat pada tahun 2012.
Artinya pernikahan ini tidak tercatat di negara. Sensus ini dilakukan di 111 desa dari 17 provinsi. Ada beberapa provinsi yang angka nikah sirinya di atas 50 persen. Di NTT 78 persen, Banten 65 persen, dan NTB 54 persen.
Sementara hasil penelitian dari Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama di sembilan kabupaten di Indonesia, banyak orang melakukan nikah siri dan perkawinan di bawah umur karena stigma masyarakat akan status perawan tua.
Dari sembilan kabupaten itu di antaranya, Jawa Timur, Jawa Barat, NTB, Kalimantan Selatan dan Yogyakarta. Anak perempuan-perempuan mereka segera dikawinkan di bawah umur yang kemudian tidak bisa dicatat negara karena tidak bisa memenuhi syarat. Padahal, dampak nikah siri dan kawin di bawah umur sangat banyak. Seperti secara hukum dalam hal ini status hukum anak yang lahir dari perkawinan tersebut tentu dipertanyakan.
Berdasarkan banyaknya kasus perkawinan yang tidak sah di Indonesia sehingga menghasilkan anak luar kawin, penulis tertarik dan ingin melakukan sebuah penelitian tentang masalah ini secara mendalam, terutama tentang bagaimana pengaturan kedudukan hukum anak luar kawin di indonesia dan akibat hukum terhadap status anak luar kawin menurut hukum di Indonesia.
Tinjauan Yuridis Kedudukan Status Hukum Anak Luar Kawin Menurut
commit to user
19 B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dalam penyusunan penulisan hukum ini permasalahan yang akan dikaji yaitu :
1. Bagaimana pengaturan kedudukan hukum anak luar kawin di Indonesia ? 2. Apakah akibat hukum terhadap status anak luar kawin menurut hukum di
Indonesia ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, tujuan penulisan hukum ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Objektif
Tujuan obyektif merupakan tujuan penulisan dilihat dari tujuan umum yang mendasari dalam melakukan penulisan hukum. Tujuan obyektif dari penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui pengaturan kedudukan hukum anak luar kawin di Indonesia.
b. Untuk mengetahui akibat hukum terhadap status anak luar kawin menurut hukum di Indonesia.
2. Tujuan Subjektif
Tujuan subyektif merupakan tujuan penulisan dilihat dari tujuan pribadi yang mendasari penulis dalam melakukan penulisan. Tujuan subyektif penulis dalam penulisan hukum ini adalah:
a. Untuk memenuhi persyaratan akademis guna memperoleh gelar Strata 1 (Sarjana) dalam bidang Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
b. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan, mengembangkan serta memperdalam pemahaman khususnya di bidang Hukum Perdata.
c. Untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh agar dapat memberikan manfaat bagi penulis.
commit to user
20
D. Manfaat Penelitian
Suatu penulisan sangat diharapkan adanya manfaat dan kegunaan yang dapat diperoleh dari sebuah penulisan hukum, khususnya bagi ilmu pengetahuan pada bidang penulisan tersebut karena suatu penulisan hukum akan mempunyai nilai apabila penulisan tersebut memberikan manfaat bagi banyak pihak. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penulis hukum ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil dari penulisan hukum (skripsi) ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pengembangan Ilmu Hukum pada umumnya dan Hukum Perdata pada khususnya.
b. Hasil penulisan hukum (skripsi ini dapat menambah dan memperkaya bahan referensi di bidang karya ilmiah serta dapat menjadi bahan masukan dan acuan bagi penulisan-penulisan sejenis di masa yang akan datang.
c. Hasil penulisan hukum (skripsi ini dapat menyumbangkan pemecahan- pemecahan atas permasalahan yang dikaji.
2. Manfaat Praktis
a. Menjadi sebuah wahana guna mengembangkan penalaran, membentuk pola pikir ilmiah sekaligus untuk mengetahui kemampuan penulis dalam menerapkan ilmu yang di peroleh.
b. Untuk memberikan jawaban atas kasus ataupun pertanyaan yang di teliti.
c. Memberikan pendalaman, pengetahuan, dan pengalaman yang baru mengenai permasalahan hukum yang dikaji, sehingga dapat berguna bagi penulis maupun orang lain di kemudian hari.
d. Sebagai praktek dan teori penulisan dalam bidang hukum dan juga sebagai praktek dalam pembuatan karya ilmiah dengan suatu metode penelitian ilmiah.
commit to user
21
E. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah jalan yang dilakukan berupa serangkaian kegiatan ilmiah yang dilakukan secara metodologis, sistematis dan konsisten untuk memperoleh bahan hukum yang lengkap dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sehingga tujuan penelitian dapat tercapai. Penelitian hukum merupakan suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2006: 35).
Adapun metode penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian dalam penelitian hukum ini adalah penelitian hukum normatif atau doktrinal. Terry Hutchinson sebagaimana dikutip Peter Mahmud Marzuki mendefinisikan bahwa penelitian hukum doktrinal adalah sebagai berikut (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 32):
doctrinal research : research which provides a systematic exposition of the rules goverming a particular legal category, analysis the relationship between rules, explain areas of difficulty and, perhaps, predicts future development
Penelitian doktrinal adalah penelitian yang menyediakan eksposisi sistematis peraturan yang mengatur kategori hukum tertentu, analisis hubungan antara aturan, menjelaskan daerah kesulitan dan, mencoba memprediksi perkembangan masa depan.
2. Sifat Penelitian
Sifat penelitian dalam hal ini adalah preskriptif dan terapan. Ilmu hukum mempunyai karakteristik sebagai ilmu yang bersifat preskriptif dan terapan. Sifat penelitian preskriptif, yaitu mempelajari tujuan hukum, nilai- nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum dan norma- norma hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2006: 22).
commit to user
22
Penelitian ini bersifat preskriptif karena dimaksudkan untuk menjawab isu hukum yang diangkat dengan argumentasi, teori, atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 35).
3. Pendekatan Penelitian
Penelitian hukum terdapat beberapa pendekatan. Dengan pendekatan tersebut, penulis bisa mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang diteliti. Adapun macam pendekatan dalam penelitian hukum adalah sebagai berikut (Peter Mahmud Marzuki, 2005: 93):
a. Pendekatan Perundang-undangan (statute approach);
b. Pendekatan Kasus (case approach);
c. Pendekatan Historis (historical approach);
d. Pendekatan Perbandingan (comparative approach); dan e. Pendekatan Konseptual (conseptual approach).
Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian maka metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan Perundang- undangan (statute approach), yaitu Pendekatan undang-undang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani). Pendekatan perundang- undangan dalam penelitian hukum normatif memiliki kegunaan baik secara praktis maupun akademis. Dalam hal ini, metode pendekatan dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis tentang kedudukan hukum anak luar kawin.
commit to user
23 4. Jenis Sumber Bahan Hukum
Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif. Sumber penelitian ini adalah didapat dari data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.
a. Bahan Hukum Primer
1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
3) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
4) Instruksi Presiden (Inpres) Tanggal 10 Juni 1991 Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam (KHI);
5) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak;
6) Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010;
7) Kompilasi Hukum Islam;
8) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013, Perubahan atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan;
9) Hukum Adat.
b. Bahan Hukum Sekunder
1) Literatur-literatur yang berkaitan dengan perkawinan;
2) Jurnal dan artikel tentang perkawinan.
3) Kamus;
4) Ensiklopedia.
5. Teknik Pengumpulan Data Hukum
Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan bahan hukum studi kepustakaan. Studi kepustakaan yakni studi tentang sumber-sumber yang digunakan dalam penelitian sejenis dokumen yang digunakan untuk
commit to user
24
mencari data-data mengenai hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, majalah, dan hal-hal lain yang menunjang penelitian.
Dalam pengertian lain sering disebut dengan penelitian kepustakaan (library research) dengan pustaka utamanya adalah peraturan Perundang- undangan.
6. Teknik Analisis Bahan Hukum
Teknik analisis bahan hukum yang dipergunakan adalah analisis bahan hukum yang bersifat deduksi dengan metode Silogisme. Artinya bahwa analisis bahan hukum ini mengutamakan pemikiran secara logika sehingga akan menemukan sebab dan akibat yang akan terjadi.
Menurut Philipus M. Hadjon sebagaimana dikutip oleh Peter Mahmud Marzuki, metode deduksi sebagaimana silogisme yang diajarkan oleh Aristoteles, penggunaan metode deduksi berpangkal dari pengajuan premis mayor (pernyataan bersifat umum). Kemudian diajukan premis minor (bersifat khusus). Dari kedua premis itu kemudian ditarik suatu kesimpulan(Peter Mahmud Marzuki, 2005: 47).
Setelah semua bahan hukum terkumpul, akan diolah dan dianalisa dengan menghubungkan antara teori dengan hasil penelitian, selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode interpretasi restriktif, yaitu suatu metode penafsiran yang memberikan batas-batas jelas dalam memaknai suatu frase yang terdapat dalam Pasal maupun dalam penjelasan Perundang-undangan dan bahan hukum terkait. Bahan hukum primer, sekunder dan tersier dianalisis dengan menggunakan instrument teori untuk membahas dan menjawab permasalahan, yang kemudian diharapkan memperoleh kejelasan dari permasalahan mengenai kedudukan dan status hukum anak yang lahir darianak luar kawin menurut ketentuan hukum di Indonesia.
commit to user
25
F. Sistematika Penulisan Hukum/Skripsi
Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai sistematika penulisan hukum yang sesuai dengan aturan dalam penulisan hukum serta untuk mempermudah pemahaman mengenai seluruh isi penulisan hukum ini, maka peneliti menjabarkan dalam bentuk sistematika penulisan hukum yang terdiri dari 4 (empat) bab. Tiap-tiap bab terbagi dalam sub-sub bagian yang dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman mengenai seluruh isi penulisan hukum ini. Adapun sistematika penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini penulis memberikan gambaran penulisan hukum tentang Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan Hukum.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini penulis memberikan landasan teori atau memberikan penjelasan secara teoritik, yang bersumber pada bahan hukum yang penulis gunakan dan doktrin ilmu hukum yang dianut secara universal, mengenai persoalan yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang penulis teliti. Landasan teori tersebut meliputi, tinjauan umum tentang Perkawinan, tinjauan umum tentang Anak, tinjauan umum Kedudukan Anak, dalam bab ini juga disertai kerangka pemikiran.
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis menguraikan pembahasan dan hasil perolehan dari penelitian yang dilakukan. Berpijak dari rumusan masalah yang ada, yaitu pengaturan kedudukan hukum anak luar kawin di indonesia dan akibat hukum terhadap status anak luar kawin menurut hukum di Indonesia.
BAB IV PENUTUP
commit to user
26
Pada bab ini penulis mengemukakan simpulan dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya serta memberikan saran terkait dengan permasalahan yang diteliti.
DAFTAR PUSTAKA