• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Pemasaran Tepung Umbi Talas (Studi Kasus: Kelompok Wanita Tani Melati, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Strategi Pemasaran Tepung Umbi Talas (Studi Kasus: Kelompok Wanita Tani Melati, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat)"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI PEMASARAN TEPUNG UMBI TALAS (Studi Kasus:

Kelompok Wanita Tani Melati, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan

Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat)

HERLINA DWI OKTIYANI

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Strategi Pemasaran Tepung Umbi Talas (Studi Kasus: Kelompok Wanita Tani Melati, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2015

Herlina Dwi Oktiyani

(4)

ABSTRAK

HERLINA DWI OKTIYANI. Strategi Pemasaran Tepung Umbi Talas (Studi Kasus: Kelompok Wanita Tani Melati, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat). Dibimbing oleh JUNIAR ATMAKUSUMA.

KWT Melati merupakan kelompok wanita tani yang masih aktif memproduksi tepung umbi talas di Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor lingkungan eksternal dan internal yang mempengaruhi strategi pemasaran pada KWT Melati, merumuskan alternatif strategi pemasaran bagi KWT Melati yang sesuai dengan kondisi lingkungan eksternal dan internal pemasaran, serta menentukan prioritas strategi pemasaran pada KWT Melati. Penelitian ini menggunakan matriks EFE, matriks IFE, matriks SWOT, dan QSPM. Pada matriks EFE akan diperoleh peluang dan ancaman utama dari lingkungan eksternal KWT Melati. Pada matriks IFE, akan diperoleh kekuatan dan kelemahan utama dari lingkungan internal KWT Melati. Matriks SWOT menghasilkan delapan alternatif strategi yang dapat diterapkan pada KWT Melati. Berdasarkan QSPM, alternatif terbaik yang dapat diterapkan pada KWT Melati adalah meningkatkan kegiatan promosi agar tepung umbi talas dapat lebih dikenal masyarakat sehingga akan meningkatkan penjualan.

Kata kunci: Lingkungan eksternal dan internal, matriks EFE, matriks IFE, matriks SWOT, QSPM

ABSTRACT

HERLINA DWI OKTIYANI. Marketing Strategy of Taro Tuber Flours (Case Study: Melati Women Farmers Group, Pamoyanan Village, District of South Bogor, City of Bogor, West Java). Supervised by JUNIAR ATMAKUSUMA.

KWT Melati is a women-farmers group who still actively producing taro tuber flours in Bogor. This research aims to identify the external and internal environment factors that affect the marketing strategies in KWT Melati and to formulate alternative marketing strategies for KWT Melati in accordance with the conditions of the external and internal marketing environment, and to determine priority marketing strategy in KWT Melati. This research used EFE matrix, IFE matrix, SWOT matrix, and QSPM. The EFE matrix, will generated the main opportunity and threat of KWT Melati in the external environment. The IFE matrix, will generated the main strength and weakness of KWT Melati in the internal environment. The SWOT matrix, generated eight alternative strategies that can be applied in KWT Melati. Based on the QSPM, the best alternative that can be applied to KWT Melati is to improve the promotional activities to gain the

taro tuber flours’ popularity to the public in order to improve the sales.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Agribisnis

STRATEGI PEMASARAN TEPUNG UMBI TALAS (Studi Kasus:

Kelompok Wanita Tani Melati, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan

Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat)

HERLINA DWI OKTIYANI

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)
(7)
(8)
(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Januari sampai Februari 2015 ini ialah strategi pemasaran, dengan judul Strategi Pemasaran Tepung Umbi Talas (Studi Kasus: Kelompok Wanita Tani Melati, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat).

Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Ir Juniar Atmakusuma, MS selaku pembimbing, Ibu Ir Narni Farmayanti, MSc selaku penguji utama, dan Bapak Dr Ir Joko Purwono, MS selaku penguji komisi pendidikan. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Ibu Kokom dan Bapak Edi beserta anggota Kelompok Wanita Tani Melati, Bapak Imam dan Ibu Irma beserta staf Kantor Ketahanan Pangan Kota Bogor, yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juni 2015

(10)
(11)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI vii

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR ix

DAFTAR LAMPIRAN ix

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Rumusan Masalah 4

Tujuan Penelitian 5

Manfaat Penelitian 6

Ruang Lingkup Penelitian 6

TINJAUAN PUSTAKA 6

Talas 6

Tepung Umbi Talas 7

Tinjauan Penelitian Terdahulu 7

KERANGKA PEMIKIRAN 13

Kerangka Pemikiran Teoritis 13

Strategi 13

Pemasaran 13

Strategi Pemasaran 14

Perumusan Strategi 15

Audit Eksternal Lingkungan Pemasaran 16

Audit Internal Lingkungan Pemasaran 20

Matriks EFE dan IFE 22

Matriks SWOT 23

QSPM 23

Kerangka Pemikiran Operasional 24

METODE PENELITIAN 26

Lokasi dan Waktu Penelitian 26

Jenis dan Sumber Data 26

(12)

Metode Pengolahan dan Analisis Data 26

GAMBARAN UMUM KWT MELATI 31

Sejarah KWT Melati 31

Potensi Usaha KWT Melati 31

Struktur Organisasi KWT Melati 32

Kegiatan Operasional KWT Melati 32

HASIL DAN PEMBAHASAN 35

Identifikasi Lingkungan Eksternal dan Internal Pemasaran KWT Melati 35 Identifikasi Faktor Kunci Peluang, Ancaman, Kekuatan, dan Kelemahan

Pemasaran Tepung Umbi Talas KWT Melati 44

Perumusan Strategi 51

SIMPULAN DAN SARAN 57

Simpulan 57

Saran 58

DAFTAR PUSTAKA 59

LAMPIRAN 62

(13)

DAFTAR TABEL

1 Data produksi talas di Bogor tahun 2010-2013 2

2 Produksi dan permintaan tepung umbi talas KWT Melati bulan

Januari-Desember 2014 (dalam kilogram) 3

3 Perbandingan komposisi tepung umbi talas dengan tepung beras 7

4 Matriks external factor evaluation (EFE) 27

5 Matriks internal factor evaluation (IFE) 28

6 Matriks strengths, weaknesses, opportunities, threats (SWOT) 29 7 Quantitative strategic planning matrix (QSPM) 30 8 Hasil analisis matriks external factor evaluation (EFE) 52 9 Hasil analisis matriks internal factor evaluation (IFE) 53

DAFTAR GAMBAR

1 Kerangka analitis perumusan strategi 16

2 Kerangka pemikiran operasional 25

3 Struktur organisasi KWT Melati 32

DAFTAR LAMPIRAN

1 Identitas responden 62

2 Kuesioner penelitian 63

3 Penentuan bobot 64

4 Penentuan bobot faktor utama eksternal dan internal KWT Melati 65

5 Penentuan peringkat 66

6 Penentuan peringkat faktor utama eksternal dan internal KWT Melati 67

7 Kuesioner strategi terpilih dengan QSPM 68

8 QSPM 69

9 Hasil pengisian kuesioner pembobotan faktor utama eksternal KWT Melati (Berdasarkan rataan dari responden 1, 2, 3, 4) 70 10 Hasil pengisian kuesioner pembobotan faktor utama internal KWT

Melati (Berdasarkan rataan dari responden 1, 2, 3, 4) 71 11 Hasil pengisian kuesioner peringkat faktor utama eksternal KWT

(14)

12 Hasil pengisian kuesioner peringkat faktor utama internal KWT Melati (Berdasarkan rataan dari responden 1, 2, 3, 4) 73

13 Hasil analisis matriks EFE 74

14 Hasil analisis matriks IFE 75

15 Hasil analisis matriks SWOT 76

16 Hasil analisis QSPM 77

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan perekonomian di Indonesia. Hal ini dibuktikan dari kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Berdasarkan data BPS, struktur perekonomian Indonesia menurut lapangan usaha tahun 2014 didominasi oleh tiga lapangan usaha utama. Lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan merupakan salah satu lapangan usaha yang mendominasi struktur perekonomian tersebut. Pada struktur perekonomian, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan (13.38 persen) menempati urutan kedua setelah industri pengolahan (21.02 persen).

Sektor pertanian terdiri dari pertanian tanaman pangan, tanaman perkebunan, dan tanaman hortikultura. Tanaman pangan merupakan salah satu subsektor pertanian yang terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Subsektor tanaman pangan mempunyai arti yang strategis dalam perekonomian nasional. Arti strategis tersebut meliputi sumber kebutuhan paling pokok bagi kehidupan nasional terutama bahan pangan dan menopang kehidupan lebih dari 60 persen pelaku usaha pertanian di Indonesia. Keberhasilan pembangunan tanaman pangan akan berdampak langsung terhadap ketahanan dan pertahanan nasional serta perekonomian nasional.1

Tanaman pangan merupakan jenis tanaman yang mengandung karbohidrat dan protein. Tanaman pangan terdiri dari beragam jenis yaitu serealia (padi, gandum, dan sorghum), biji-bijian (kacang tanah, kedelai, dan kacang hijau), umbi-umbian (ubi jalar, talas, singkong, kentang, dan ganyong) dan tanaman jenis lainnya (sukun dan sagu). Tanaman pangan tersebar hampir merata di wilayah Indonesia dengan sentra tanaman yang berbeda-beda di wilayah tertentu. Hal ini disebabkan oleh kondisi kesesuaian lahan dan budaya masyarakat dalam mengembangkan jenis tanaman pangan tersebut.

Talas termasuk jenis tanaman pangan penghasil karbohidrat yang memiliki peranan strategis yaitu sebagai sumber bahan pangan, bahan baku industri dan juga untuk pakan ternak. Sebagai sumber karbohidrat, talas memiliki manfaat yang besar untuk bahan makanan utama. Tanaman talas juga memiliki potensi yang besar dan nilai ekonomi yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh hampir seluruh bagian dari tanaman talas dapat diolah menjadi suatu produk yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Umbi dan pelepah daunnya dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan, obat dan pembungkus. Daun, sisa umbi, dan kulit umbi dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan secara langsung atau setelah difermentasi.

Umbi talas merupakan bahan pangan yang memiliki nilai gizi yang cukup baik. Umbi talas memiliki keunggulan yang meliputi rendah lemak, bebas gluten,

1

(16)

2

serta mudah dicerna. Kemudahannya untuk dicerna ini dikarenakan pati yang dimiliki oleh talas memiliki ukuran yang kecil. Selain itu, kandungan patinya juga cukup tinggi, yaitu 70-80 gram berat talas kering.

Indonesia merupakan negara produsen talas. Talas yang dikenal di Indonesia adalah talas dengan spesies Colocasia esculenta dan spesies Colocasia gigantia. Tanaman talas terdiri dari banyak jenis yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Jenis tanaman talas dapat dibedakan berdasarkan morfologinya yang dilihat pada ukuran, warna umbi daun, pelepah daun, umur panen, ukuran pucuk, rasa gatal, dan komposisi kimia yang terkandung di dalam umbinya. Ragam jenis talas yang dapat tumbuh di beberapa daerah di Indonesia antara lain talas bogor, talas sutera, talas bentul, talas ketan, talas belitung/kimpul, dan satoimo/talas jepang. Jumlah produksi talas di Indonesia belum tercatat secara tingkat nasional. Bogor merupakan sentra produksi talas di Indonesia.2 Talas juga telah lama dikenal orang terutama umbi talas bogor yang merupakan buah tangan khas kota hujan tersebut. Produksi talas di Bogor pada tahun 2010-2013 cenderung mengalami peningkatan. Produksi talas dari tahun 2010-2013 dapat dilihat pada Tabel 1.

Berdasarkan Tabel 1, produksi talas tertinggi terjadi di tahun 2012 yaitu sebesar 3 232.65 ton. Peningkatan produksi talas terbesar terjadi pada tahun 2011 yaitu 1 740.6 ton atau 181.9 persen. Pada tahun 2013, produksi talas mengalami penurunan produksi sebesar 872.7 ton atau 27.0 persen. Penurunan produksi tersebut disebabkan oleh menurunnya jumlah lahan yang dapat digunakan untuk budidaya talas.

Pada pemanfaatan bahan pangan, talas mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai olahan dalam bentuk setengah jadi yaitu tepung umbi talas dan olahan siap konsumsi yaitu umbi talas rebus dan goreng. Bagian talas yang digunakan untuk pembuatan tepung adalah bagian umbi talas. Tepung umbi talas merupakan salah satu alternatif produk setengah jadi yang dapat disimpan lebih lama, mudah dicampur dengan bahan yang lain, kaya akan zat gizi, serta lebih cepat dimasak. Selain itu, tepung umbi talas juga dapat dijadikan sebagai alternatif substitusi tepung gandum, tepung terigu, tepung beras atau tepung lainnya.

2

[Kemendag]. Kementerian Perdagangan. Marketing Brief: Ubi Kayu, Ubi Jalar dan Talas.

[Internet] [diunduh 2015 April 28]. Tersedia pada

http://djpen.kemendag.go.id/app_frontend/admin/docs/researchcorner/1041376299137.pdf

Tabel 1 Data produksi talas di Bogor tahun 2010-2013 Tahun Target Realisasi Produksi

(ton)

Perubahan produksi (ton)

Perubahan produksi (%)

2010 177 165 957.00 - -

2011 169 89 2 697.60 1740.6 181.9

2012 169 115 3 232.65 535.1 19.8

2013 121 118 2 360.00 -872.7 -27.0

(17)

3 Tepung umbi talas termasuk salah satu produk olahan talas yang berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan baku industri pangan berbasis tepung. Sebagian besar pemanfaatan tepung umbi talas digunakan untuk produk olahan makanan siap konsumsi seperti kerupuk, cake, kue, dodol talas, tape talas, enyek-enyek talas, dan cheese stick.

Potensi tepung umbi talas tersebut dimanfaatkan oleh salah satu kelompok wanita tani yang ada di Kota Bogor, yaitu kelompok wanita tani (KWT) Melati. KWT Melati telah menjalankan produksi pengolahan tepung umbi talas sejak tahun 2006. Jenis talas yang digunakan oleh KWT Melati adalah jenis talas belitung/kimpul (Xanthosoma violaceum Schott) atau dikenal dengan nama blue taro. Talas jenis ini memiliki umbi berbentuk silinder sampai agak bulat dan memiliki internode atau ruas dengan munculnya beberapa bakal tunas. Jumlah umbi anak atau kimpul dapat mencapai 10 buah atau lebih dengan panjang sekitar 12-25 cm. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan dengan jenis talas yang lainnya. Diameter umbi talas belitung sekitar 12-25 cm dengan bobot antara 300- 1000 gram. Tanaman talas belitung dapat mulai dipanen secara sekaligus mulai umur 4-5 bulan atau dapat dipanen bertahap setiap 3-4 bulan sekali dengan potensi hasil panen mencapai 7.5-37 ton/hektar. Umur panen talas belitung lebih cepat dibandingkan jenis talas yang lain dan potensi hasil panen tersebut juga lebih tinggi dibandingkan jenis talas lainnya. Keunggulan umbi talas belitung yang lain adalah serat yang terkandung di dalam umbi lebih sedikit dibandingkan jenis talas yang lain.

Produksi rata-rata tepung umbi talas KWT Melati adalah 400 kilogram per bulan sedangkan untuk permintaan tepung umbi talas selalu berfluktuasi setiap bulan. Jumlah produksi dan permintaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Produksi dan permintaan tepung umbi talas KWT Melati bulan Januari-Desember 2014 (dalam kilogram)

Bulan Produksi Permintaan Selisih produksi dan Perubahan permintaan permintaan

Januari 400 255 145 -

Februari 400 490 -90 235

Maret 400 190 210 -300

April 400 560 -160 370

Mei 400 420 -20 -140

Juni 400 545 -145 125

Juli 400 270 130 -275

Agustus 400 200 200 -70

September 400 315 85 115

Oktober 400 270 130 -45

November 400 270 130 0

Desember 400 295 105 25

(18)

4

Berdasarkan Tabel 2, jumlah produksi tepung umbi talas KWT Melati masih lebih tinggi dibandingkan permintaan dari produsen pengguna tepung umbi talas dan konsumen akhir. Namun pada bulan Februari, April, Mei, Juni permintaan tepung umbi talas lebih tinggi dibandingkan produksi dari KWT Melati. Pada saat permintaan lebih tinggi dibandingkan produksi, KWT Melati mengeluarkan tepung umbi talas dari produksi bulan sebelumnya untuk memenuhi permintaan tersebut. Pada bulan Januari, Maret, Juli, Agustus, September, Oktober, November dan Desember, jumlah tepung umbi talas yang diproduksi lebih tinggi dibandingkan permintaan sehingga terjadi penumpukan tepung umbi talas yang diproduksi. Kondisi ini sangat merugikan pihak KWT Melati mengingat tepung umbi talas memiliki jangka waktu simpan hanya enam bulan. Oleh karena itu diperlukan adanya strategi pemasaran yang tepat agar tepung umbi talas tersebut tidak menumpuk. Berdasarkan Tabel 2, permintaan tepung umbi talas mengalami fluktuasi setiap bulan. Pada bulan Februari, April, Juni, September, dan Desember permintaan tepung umbi talas meningkat. Peningkatan terbesar terjadi pada bulan April yaitu sebesar 370 kilogram. Pada bulan Maret, Mei, Juli, Agustus, dan Oktober permintaan tepung umbi talas menurun. Penurunan terbesar terjadi pada bulan Maret yaitu sebesar 300 kilogram. Penurunan permintaan tersebut disebabkan oleh beralihnya pelanggan tepung umbi talas KWT Melati kepada produsen pendatang baru.

Kondisi persaingan pasar yang semakin kompetitif tersebut menuntut KWT Melati untuk melakukan strategi pemasaran yang tepat. Strategi pemasaran bertujuan agar produk KWT Melati mampu meningkatkan permintaan tepung umbi talas sehingga tidak ada penumpukan tepung umbi talas yang diproduksi. Oleh karena itu KWT Melati perlu untuk melakukan peninjauan ulang pada strategi pemasaran yang telah dijalankan selama ini dan juga menyusun strategi pemasaran yang tepat.

Rumusan Masalah

(19)

5 Kendala lain yang dihadapi oleh KWT Melati adalah terkait kemasan. Pada pengemasan tepung umbi talas perlu dilakukan adanya perbaikan, karena kemasan saat ini menggunakan plastik dan pelabelan yang kurang lengkap sesuai peraturan pemerintah. Adanya perbaikan pada kemasan dan label tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai jual yang lebih tinggi pada tepung umbi talas. Menurut Kotler dan Armstrong (2009), kemasan yang inovatif dapat memberikan keuntungan kepada perusahaan melebihi pesaingnya dan mendorong penjualan. Oleh karena itu KWT Melati perlu untuk memperbaiki kemasan produk agar lebih menarik dan inovatif serta melengkapi label sesuai dengan peraturan pemerintah. Pada kegiatan promosi, KWT Melati telah melakukan promosi melalui pameran dan internet. Saat ini promosi di internet belum dilakukan melalui website sendiri tetapi dengan memasang iklan di website forum jual beli. Hal ini disebabkan oleh KWT Melati baru berencana akan membuat website sendiri.

Untuk menghadapi kendala-kendala tersebut, maka diperlukan adanya peninjauan kembali pada strategi pemasaran yang telah dijalankan oleh KWT Melati. Hal ini bertujuan untuk mengevaluasi strategi pemasaran yang telah dijalankan oleh KWT Melati. Selain melakukan peninjauan pada strategi pemasaran, KWT Melati juga perlu merumuskan strategi pemasaran yang tepat agar dapat meningkatkan pemasaran tepung umbi talas. Perumusan strategi pemasaran yang tepat sebaiknya mempertimbangkan kondisi lingkungan eksternal dan internal dari KWT Melati agar alternatif strategi yang dihasilkan juga tepat.

Berdasarkan uraian kendala tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Faktor lingkungan eksternal dan internal apa saja yang mempengaruhi strategi pemasaran pada KWT Melati?

2. Bagaimana perumusan alternatif strategi pemasaran tepung umbi talas KWT Melati yang sesuai dengan kondisi lingkungan eksternal dan internal pemasaran KWT Melati saat ini?

3. Bagaimana prioritas strategi pemasaran pada KWT Melati?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi faktor lingkungan eksternal dan internal yang mempengaruhi strategi pemasaran pada KWT Melati.

2. Merumuskan alternatif strategi pemasaran bagi KWT Melati yang sesuai dengan kondisi lingkungan eksternal dan internal pemasaran.

(20)

6

Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:

1. Bagi KWT Melati hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk membantu pihak KWT Melati dalam membuat strategi pemasaran yang tepat.

2. Bagi penulis, hasil penelitian ini berguna dalam mengaplikasikan konsep strategi pemasaran dan cara mengidentifikasi faktor lingkungan eksternal dan internal yang mempengaruhi strategi pemasaran serta dapat merumuskan alternatif strategi pemasaran.

3. Bagi pembaca, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi dan menjadi bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian mengenai strategi pemasaran tepung umbi talas KWT Melati difokuskan sampai pada tahap perumusan strategi pemasaran. Ruang lingkup dalam penelitian ini yaitu menganalisis pemasaran pada tepung umbi talas KWT Melati. Langkah awal yang dilakukan yaitu mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi KWT Melati. Selanjutnya mengidentifikasi lingkungan eksternal dan internal pemasaran KWT Melati. Hasil identifikasi lingkungan eksternal akan dievaluasi dengan menggunakan matriks EFE (External Factor Evaluation) dan hasil identifikasi lingkungan internal akan dievaluasi dengan menggunakan matriks IFE (Internal Factor Evaluation). Hasil analisis faktor eksternal dan internal tersebut akan dicocokan menggunakan matriks SWOT untuk menentukan strategi pemasaran KWT Melati. Selanjutnya penentuan prioritas strategi pemasaran menggunakan QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix).

TINJAUAN PUSTAKA

Talas

(21)

7 Talas memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena dari umbinya dapat dijadikan olahan keripik, dodol, pasta, cheese stick, enyek-enyek dan tepung. Daun talas dapat dijadikan pakan ternak, sayur/buntil, dan obat tradisional. Pelepah daun dapat dijadikan pakan ternak dan obat tradisional. Batang talas juga dapat dijadikan pakan ternak dan sayur serta akar talas dapat dijadikan sebagai obat tradisional (Sutardi et al. 2013).

Tepung Umbi Talas

Tepung umbi talas merupakan jenis tepung yang dihasilkan dari umbi talas melalui proses penggilingan. Tepung umbi talas berpotensi untuk digunakan sebagai bahan pembuatan pangan olahan baru ataupun pengganti tepung konvensional. Selain itu tepung umbi talas juga dapat digunakan sebagai pengental pada pembuatan sup ataupun pangan olahan lainnya. Tepung umbi talas sangat potensial untuk mempertahankan flavor (rasa). Tepung umbi talas mengandung komposisi kadar air, protein, abu, serat kasar, dan amilopektin yang lebih tinggi dibandingkan dengan tepung beras. Perbandingan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.

Tinjauan Penelitian Terdahulu

Untuk merumuskan strategi pemasaran yang tepat, maka diperlukan adanya analisis terhadap lingkungan pemasaran. Hal ini bertujuan agar mengetahui kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi pada kegiatan pemasaran. Lingkungan pemasaran dibagi menjadi dua yaitu lingkungan eksternal dan lingkungan internal. Lingkungan eksternal menganalisis mengenai peluang dan ancaman. Lingkungan internal menganalisis mengenai kekuatan dan kelemahan.

Tabel 3 Perbandingan komposisi tepung umbi talas dengan tepung beras Komponen (gram/100 gram) Tepung umbi talas Tepung beras

1. Kadar air 10.20 9.06

2. Protein 12.25 10.50

3. Lemak 0.50 1.01

4. Abu 4.15 0.78

5. Serat kasar 0.75 0.20

6. Karbohidrat total 72.15 78.45

7. Pati 67.42 67.42

- Amilosa 2.25 9.32

- Amilopektin 65.17 58.10

(22)

8

Untuk menganalisis kondisi tersebut maka digunakan alat bantu analisis yaitu matriks EFE (External Factor Evaluation) dan matriks IFE (Internal Factor Evaluation). Setelah menganalisis lingkungan eksternal dan internal pemasaran, kemudian dicocokan menggunakan matriks SWOT. Pada penentuan prioritas, alat bantu yang digunakan adalah QSPM.

Pada penelitian Suhartini (2012), dari hasil analisis lingkungan eksternal diperoleh faktor-faktor yang menjadi peluang dalam pemasaran yaitu inovasi-inovasi dalam hal cara memasarkan, tidak adanya kendala dalam hal penagihan piutang, tidak adanya kendala dalam hal pembayaran hutang kepada kreditur, perluasan jalur pemasaran, dan mendapat kesempatan dari banyak rekan kerja dalam hal mempromosikan produk. Faktor peluang utama tertinggi yang mempengaruhi pemasaran pada penelitian Suhartini adalah mendapat kesempatan dari banyak rekan kerja dalam hal mempromosikan produk dengan skor sebesar 0.38. Faktor peluang tersebut berbeda dengan hasil penelitian Kurniawan (2011). Faktor yang menjadi peluang pada penelitian Kurniawan yaitu pendirian waralaba pengolahan ikan, pemerintah mencanangkan Gerakan Makan Ikan Nasional, peningkatan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi masyarakat, dan perkembangan teknologi dan informasi. Faktor peluang utama tertinggi pada penelitian Kurniawan adalah pada perkembangan teknologi dan informasi dengan skor 0.3591.

Pada penelitian Purnama (2009), yang menjadi faktor peluang antara lain adalah ketersediaan bahan baku, perkembangan teknologi, dukungan Pemda setempat, dan gaya hidup. Berdasarkan faktor peluang tersebut, ketersediaan bahan baku menjadi faktor peluang utama dengan skor tertinggi yaitu 0.4864. Sementara menurut Sari (2008), faktor yang dapat menjadi peluang antara lain laju pertumbuhan penduduk, teknologi informasi semakin berkembang, trend konsumsi minuman sari buah, dukungan pemerintah terhadap usaha UMKM, dan pelanggan yang loyal. Faktor peluang pelanggan yang loyal menjadi faktor peluang utama dengan skor tertinggi yaitu 0.454. Hasil penelitian Risman (2009) menyebutkan bahwa yang menjadi faktor peluang antara lain adalah pangsa pasar yoghurt yang masih luas, perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih sehat, kebijakan pemerintah tentang produk susu dan turunannya, respon positif dari lingkungan sosial di luar perusahaan, loyalitas konsumen, dan penurunan harga BBM. Pada penelitian Risman yang menjadi faktor peluang utama dengan skor tertinggi 0.379 adalah pangsa pasar yoghurt yang masih luas. Sementara pada penelitian Yenni (2007) yang menjadi faktor peluang adalah topografi Desa Cikarawang cocok untuk pengembangan komoditas ubi jalar, tersedianya tenaga kerja, peningkatan jumlah penduduk dan kecenderungan perubahan pola konsumsi masyarakat untuk mengkonsumsi makanan sehat, tepung ubi jalar dapat mensubstitusi tepung terigu, perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin modern, peluang kerjasama dengan pemerintah dan atau pihak lain, serta adanya peluang pasar tepung ubi jalar di wilayah Bogor. Faktor peluang perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin modern menjadi faktor peluang utama dengan skor tertinggi yaitu 0.394.

(23)

9 meningkat, dan semakin banyak berdirinya usaha yang sejenis. Pada penelitian tersebut faktor ancaman utama adalah harga bahan baku meningkat dengan skor tertinggi 0.36. Hasil penelitian Suhartini berbeda dengan penelitian Kurniawan (2011) karena dalam penelitian Kurniawan yang menjadi faktor ancaman adalah laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bogor yang melambat, tingkat inflasi yang fluktuatif, kenaikan harga bahan baku, persaingan antar perusahaan sejenis, hambatan masuk industri pengolahan ikan rendah, dan pembeli memiliki kekuatan dalam memilih produk olahan ikan. Pada penelitian ini faktor persaingan antar perusahaan sejenis menjadi faktor ancaman utama yang memiliki skor tertinggi yaitu 0.3788.

Berdasarkan penelitian Purnama (2009), faktor ancaman mencakup menurunnya daya beli masyarakat, naiknya harga kebutuhan pokok, biaya energi yang meningkat, tingkat persaingan industri, dan adanya produk substitusi. Dari faktor ancaman tersebut adanya produk substitusi menjadi ancaman utama dengan skor tertinggi yaitu 0.2120. Pada penelitian Risman (2009), yang menjadi faktor ancaman antara lain adalah persaingan industri yoghurt yang kompetititf, krisis ekonomi global, isu produk yoghurt bermelamin, dan peningkatan harga bahan baku pembuatan yoghurt. Menurut Risman dalam penelitiannya, isu produk yoghurt bermelamin merupakan ancaman utama yang tinggi dengan skor 0.168. Sementara menurut Sari (2008) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa yang menjadi faktor ancaman adalah kondisi politik, ekonomi, dan keamanan nasional kurang mendukung, biaya input produksi tinggi, persaingan dengan perusahaan sejenis, akses modal terbatas, dan adanya produk substitusi. Pada penelitian tersebut diperoleh faktor ancaman utama yaitu akses modal terbatas dengan skor tertinggi sebesar 0.270. Menurut Yenni (2007), faktor ancaman dalam lingkungan pemasaran adalah tepung ubi jalar belum dikenal oleh masyarakat, harga tepung substitusi lebih murah dibandingkan harga tepung ubi jalar, dan laju inflasi terus meningkat. Dari ketiga ancaman tersebut laju inflasi terus meningkat merupakan ancaman utama yang mempengaruhi lingkungan pemasaran dengan skor tertinggi sebesar 0.231.

(24)

10

baku cukup terjamin. Memiliki banyak varian produk merupakan kekuatan utama dalam lingkungan pemasaran dengan skor tertinggi yaitu 0.4141.

Pada penelitian Purnama (2009) faktor-faktor yang menjadi kekuatan mencakup kualitas produk, lokasi produksi, kapasitas produksi, kemampuan bermitra dengan stakeholder, dan variasi produk. Dari faktor-faktor kekuatan tersebut variasi produk menjadi faktor kekuatan utama yang memiliki skor tertinggi yaitu 0.4600. Menurut Risman (2009), faktor-faktor kekuatan lingkungan internal pemasaran antara lain adalah kualitas produk yang baik dan memiliki sertifikat halal, tenaga kerja produksi profesional, hubungan manajer dan karyawan terjalin dengan baik, tenaga kerja berasal dari lingkungan perusahaan,

delivery service programme, dan harga jual produk relatif lebih murah jika dibandingkan dengan produk yoghurt lainnya. Dari faktor-faktor kekuatan tersebut diperoleh faktor kekuatan utama yang memiliki skor tertinggi yaitu kualitas produk yang baik dan memiliki sertifikat halal dengan skor 0.295. Sementara menurut penelitian Sari (2008), faktor-faktor yang menjadi kekuatan adalah produk berkualitas dan memiliki sertifikat halal, lingkungan kerja yang kondusif, tenaga kerja yang terampil, akses bahan baku yang kuat, dan menggunakan tenaga kerja dari daerah setempat. Produk berkualitas dan memiliki sertifikat halal merupakan kekuatan utama dari penelitian Sari dengan skor tertinggi yaitu 0.441. Menurut Yenny (2007), faktor–faktor kekuatan mencakup kelompok tani sangat terbuka kepada pihak luar, adanya keinginan dan motivasi yang kuat dari anggota kelompok tani untuk mendirikan usaha tepung ubi jalar, anggota kelompok tani adalah petani ubi jalar yang berpengalaman, kelompok tani sudah mempunyai struktur organisasi yang jelas, dan kelompok tani mempunyai hubungan yang baik dengan para petani dan penjual ubi jalar di luar desa Cikarawang. Faktor kekuatan adanya keinginan dan motivasi yang kuat dari anggota kelompok tani untuk mendirikan usaha tepung ubi jalar merupakan faktor kekuatan yang memiliki skor tertinggi yaitu 0.459.

Pada lingkungan internal tidak hanya menganalisis kekuatan yang dapat mempengaruhi lingkungan pemasaran, tetapi juga menganalisis kelemahan yang dapat mempengaruhi lingkungan pemasaran. Menurut penelitian Suhartini (2012), faktor kelemahan lingkungan pemasaran adalah sumber daya manusia yang dimiliki dibidang tertentu kurang, skill yang dimiliki karyawan masih kurang dalam melakukan pekerjaan dibidang tertentu, penggunaan dana investasi di perusahaan belum efisien, realisasi biaya operasional lebih besar daripada anggaran yang direncanakan, sering terjadi kesalahan dalam proses produksi, dan jarangnya promosi yang di lakukan oleh perusahaan. Pada penelitian Suhartini (2012) faktor kelemahan yang memiliki skor tertingi adalah sumber daya manusia yang dimiliki dibidang tertentu kurang dengan skor 0.23. Sementara menurut Kurniawan (2011) yang menjadi faktor kelemahan adalah belum memiliki perencanaan pemasaran secara tertulis, pembagian tugas tidak terkoordinasi dengan baik, pembayaran dengan sistem retur, pemasaran secara pasif, perusahaan belum menentukan target pasar, perusahaan belum mempunyai cold storage, dan tingkat keluar masuk karyawan tinggi. Dari semua faktor-faktor tersebut pembayaran dengan sistem retur merupakan kekuatan yang memiliki nilai skor tertinggi yaitu 0.1944.

(25)

11 dan saluran distribusi. Kemasan produk merupakan kelemahan dengan skor tertinggi yaitu 0.2052. Sementara menurut hasil penelitian Risman (2009) yang menjadi kelemahan pada lingkungan pemasaran adalah kurangnya diversifikasi produk dan kemasan tidak menarik, permodalan terbatas, sistem akunting dan pembukuan kurang baik, lokasi dan tempat produksi kurang strategis, serta kegiatan promosi kurang efektif. Pada penelitian Risman kelemahan yang memiliki skor tertinggi adalah kurangnya diversifikasi produk dan kemasan tidak menarik dengan skor 0.195. Pada penelitian Sari (2008), kelemahan lingkungan pemasaran antara lain adalah pengelolaan manajemen usaha buruk, pencatatan keuangan tidak sistematis, kegiatan promosi penjualan kurang efektif, lokasi dan tempat produksi kurang strategis, harga jual produk kurang bersaing, dan permodalan terbatas. Permodalan terbatas merupakan kelemahan dengan skor tertinggi pada penelitian Sari yaitu 0.160. Sedangkan menurut Yenni (2007) faktor yang menjadi kelemahan mencakup modal kelompok terbatas, kurangnya regenerasi anggota kelompok tani, tingkat pengetahuan anggota kelompok rendah, dan jenis varietas ubi jalar yang ditanam oleh anggota kelompok beraneka ragam. Dari faktor-faktor kelemahan tersebut faktor jenis varietas ubi jalar yang ditanam oleh anggota kelompok beraneka ragam merupakan kelemahan dengan skor tertinggi yaitu 0.342.

(26)

12

positif bagi usaha, melakukan diversifikasi produk dan melakukan perencanaan pemasaran serta pengelolaan manajemen usaha yang professional.

Hasil penelitian Risman (2009) hampir sama dengan Sari (2008) yaitu mempertahankan kualitas produk untuk menarik pelanggan. Risman (2009) juga menyebutkan dalam hasil penelitiannya bahwa alternatif strategi yang dapat dilakukan antara lain adalah menjalankan kerjasama dengan investor untuk perolehan modal, menambah jaringan distribusi melalui kerjasama dengan agen-agen baru, melakukan riset pemasaran, mempertahankan harga jual produk yang murah, dan melakukan promosi produk yang lebih gencar dan efektif. Strategi dari hasil penelitian Yenni (2007) antara lain memperkenalkan dan menawarkan tepung ubi jalar ke pasar baru, menjalin kerjasama seluruh anggota kelompok tani dan para petani dan penjual ubi jalar di luar kelompok tani untuk persediaan bahan baku, menjalin kerjasama teknis (pendampingan dan pelatihan) dan nonteknis (bantuan modal) dengan pemerintah dan atau pihak lain, melakukan penyeragaman jenis varietas ubi jalar yang ditanam, melakukan kegiatan promosi yang intensif dan efisien untuk menciptakan product awareness dan product trial, masyarakat juga dapat memperoleh informasi tambahan mengenai produk, dan menarik anggota keluarga atau warga desa yang lebih muda untuk bergabung dalam kelompok tani.

Pada tahap akhir perumusan strategi, alat bantu analisis yang digunakan adalah QSPM. Dalam penelitiannya, Kurniawan (2011) menyebutkan bahwa hasil QSPM secara berurutan adalah meningkatkan kegiatan promosi, menetapkan target pasar dalam penjualan produk, menetapkan jalur utama distribusi produk, menggunakan sistem teknologi data base terkomputerisasi dalam pemasaran produk, menerapkan kebijakan harga yang bersaing dengan harga pesaing, rekrutmen tenaga penjual sendiri, menyediakan pemesanan produk secara on line. Untuk prioritas strategi pemasaran terbaik pada penelitian Kurniawan adalah meningkatkan kegiatan promosi dengan STAS rata-rata tertinggi sebesar 5.1432. Pada penelitian Purnama (2009), hasil QSPM secara berurutan yaitu memperbaiki tampilan produk melalui perbaikan kemasan, membuka peluang kerjasama dengan pihak lain terkait dengan pendistribusian produk, mencari informasi pasar dengan penggunaan teknologi informasi, peningkatan promosi penjualan atau penyebaran informasi produk, meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pemasaran produk, dan berusaha mempertahankan produk. Berdasarkan urutan hasil QSPM tersebut diperoleh prioritas utama pada penelitian Purnama adalah memperbaiki tampilan produk melalui perbaikan kemasan dengan STAS 7.628.

(27)

13 mempertahankan hubungan kerjasama dan pelayanan untuk membentuk citra positif bagi KWT Turi. Prioritas utama dari hasil QSPM adalah mempertahankan kualitas dan keunggulan produk untuk menarik pelanggan dengan STAS 5.991. Pada penelitian Yenni (2007), hasil QSPM secara berurutan yaitu strategi promosi yang intensif dan efisien, menjalin kerjasama dengan pemerintah dan atau pihak lain, integrasi ke belakang, dan perluasan pasar. Strategi promosi yang intensif dan efisien merupakan prioritas utama pada penelitian Yenni dengan skor tertinggi yaitu 7.023.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran Teoritis

Kerangka pemikiran teoritis merupakan kerangka yang didalamnya menjelaskan mengenai teori yang relevan dengan topik penelitian. Berikut adalah penjelasan teori yang relevan dengan topik penelitian yang berjudul Strategi Pemasaran Tepung Umbi Talas (Studi Kasus: Kelompok Wanita Tani Melati, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat).

Strategi

Menurut David (2009), strategi adalah sarana dengan tujuan jangka panjang hendak dicapai. Strategi adalah aksi potensial yang membutuhkan keputusan manajemen puncak dan sumber daya perusahaan dalam jumlah yang besar. Tunggal (2009) menyatakan bahwa strategi merupakan faktor terpenting dalam proses perencanaan. Strategi merupakan suatu cara untuk memperoleh hasil yang diinginkan berdasarkan kondisi dan struktur yang berlaku. Strategi dilakukan secara sadar dan aktif, sehingga hasil dari strategi tersebut dapat diprakirakan pada saat pelaksanaan strategi. Menurut Rangkuti (2008), strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Umar (2008) menyatakan bahwa strategi berasal dari

bahasa Yunani kuno yang berarti “seni berperang”. Suatu strategi mempunyai

dasar-dasar atau skema untuk mencapai sasaran yang dituju.

Pemasaran

(28)

14

Menurut Rangkuti (2008), pemasaran adalah suatu proses kegiatan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, budaya, politik, ekonomi, dan manajerial. Tjiptono (2008) menyatakan bahwa pemasaran merupakan fungsi yang memiliki kendali yang terbatas terhadap lingkungan eksternal. Oleh karena itu pemasaran memainkan peranan penting dalam pengembangan strategi. Assauri (2004) menyatakan bahwa pemasaran sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.

Strategi Pemasaran

Menurut Adisaputro (2010), strategi pemasaran adalah cara yang ditempuh perusahaan untuk merealisasikan misi, tujuan, sasaran yang telah ditentukan dengan cara menjaga dan mengupayakan adanya keserasian antara berbagai tujuan yang ingin dicapai, kemampuan yang dimiliki serta peluang dan ancaman yang dihadapi di pasar produknya.

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), strategi pemasaran (marketing strategy) adalah logika pemasaran dimana perusahaan berharap untuk menciptakan nilai pelanggan dan mencapai hubungan yang menguntungkan. Perusahaan memutuskan pelanggan mana yang akan dilayaninya (segmentasi dan penetapan target) dan bagaimana cara perusahaan melayaninya (diferensiasi dan

postioning). Untuk dapat berhasil dalam pasar yang kompetitif, maka perusahaan harus mampu memusatkan perhatian pada pelanggan, namun perusahaan juga tidak dapat melayani semua konsumen pasar tertentu dengan baik, setidaknya tidak semua konsumen dengan cara yang sama. Sebagian besar perusahaan berada dalam posisi untuk melayani beberapa segmen dengan lebih baik daripada segmen lainnya. Oleh karena itu, masing-masing perusahaan harus membagi keseluruhan pasar, memilih segmen terbaik yang melibatkan segmentasi pasar, penetapan

target pasar, diferensiasi, dan “positioning” pasar.

Segmentasi merupakan proses pembagian pasar menjadi kelompok pembeli berbeda yang mempunyai kebutuhan, karakteristik, atau perilaku berbeda yang mungkin memerlukan produk atau program pemasaran terpisah. Penetapan target pasar (marketing strategy) melibatkan evaluasi setiap daya tarik segmen pasar dan memilih satu atau lebih segmen yang akan dimasuki. Positioning adalah pengaturan suatu produk untuk menduduki tempat yang jelas, berbeda, dan diinginkan, relatif terhadap produk pesaing dalam pikiran konsumen sasaran.

Dipandu oleh strategi pemasaran, perusahaan merancang bauran pemasaran terintegrasi yang terdiri dari beberapa faktor dibawah kendalinya yaitu produk (product), harga (price), saluran distribusi (place), dan promosi (promotion). Bauran pemasaran (marketing mix) adalah kumpulan alat pemasaran taktis terkendali yang dipadukan untuk menghasilkan respons yang diinginkannya di pasar sasaran.

Tjiptono (2008) menyatakan bahwa pada dasarnya strategi pemasaran memberikan arah dalam kaitannya dengan variabel-variabel seperti segmentasi pasar, identifikasi pasar sasaran, positioning, elemen bauran pemasaran, dan biaya bauran pemasaran. Strategi pemasaran merupakan bagian integral dari strategi bisnis yang memberikan arah pada semua fungsi manajemen suatu organisasi.

(29)

15 panduan tentang kegiatan yang akan dijalankan untuk dapat tercapainya tujuan pemasaran suatu perusahaan. Dengan kata lain, strategi pemasaran adalah serangkaian tujuan dan sasaran, kebijakan dan aturan yang memberi arah kepada usaha-usaha pemasaran perusahaan dari waktu ke waktu, pada masing-masing tingkatan dan acuan serta alokasinya, terutama sebagai tanggapan perusahaan dalam menghadapi lingkungan dan keadaan persaingan yang selalu berubah.

Perumusan Strategi

Menurut David (2009), teknik-teknik perumusan strategi yang penting dapat diintegrasikan ke dalam kerangka pengambilan keputusan ada tiga tahap. Alat yang ditampilkan dalam kerangka ini bisa diterapkan untuk semua ukuran dan jenis organisasi serta dapat membantu para penyusun strategi mengidentifikasi, mengevaluasi dan memilih strategi. Tahap 1 dalam kerangka perumusan strategi terdiri atas matriks evaluasi faktor eksternal (external factor evaluation–EFE), matriks evaluasi faktor internal (internal factor evaluation–IFE), dan matriks profil kompetitif (competitive profile matrix– CPM). Tahap 1, tahap input (input stage), berisi informasi input dasar yang dibutuhkan untuk merumuskan strategi. Tahap 2, tahap pencocokan (matching stage), berfokus pada penciptaan strategi alternatif yang masuk akal dengan memperhatikan faktor-faktor eksternal dan internal utama. Teknik tahap 2 meliputi matriks kekuatan-kelemahan-peluang-ancaman (strengths-weaknesses-opportunities-threats–SWOT), matriks posisi strategis dan evaluasi tindakan (strategic position and action evaluation–SPACE),

(30)

16

Audit Eksternal Lingkungan Pemasaran

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), lingkungan pemasaran terdiri atas lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro pemasaran terdiri dari, pemasok, perantara pemasaran, pelanggan, pesaing, masyarakat. Lingkungan makro pemasaran terdiri dari lingkungan demografis, lingkungan ekonomi, lingkungan alam, lingkungan teknologi, lingkungan politik, dan lingkungan budaya.

1. Lingkungan Mikro Pemasaran

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), lingkungan mikro terdiri dari pelaku yang dekat dengan perusahaan dan mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk melayani pelanggannya yaitu perusahaan, pemasok, perantara, pemasaran, pasar pelanggan, pesaing, dan masyarakat. Lingkungan mikro pemasaran yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu:

a) Pemasok

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), pemasok membentuk hubungan penting dalam keseluruhan sistem penghantar nilai perusahaan. Mereka menyediakan sumberdaya yang diperlukan oleh perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasanya. Masalah pemasok sangat mempengaruhi pemasaran. Manajer pemasaran harus mengawasi ketersediaan pasokan, seperti kelangkaan atau penundaan pasokan, pemogokan kerja, dan kejadian-kejadian lain yang dapat merugikan penjualan dalam jangka pendek dan merusak kepuasan pelanggan dalam jangka panjang. Manajer pemasaran juga memantau tren harga dari bahan baku utama mereka. Peningkatan biaya pasokan bisa mendorong peningkatan harga dan akhirnya dapat merusak volume penjualan perusahaan. Saat ini sebagian besar

Sumber: David (2009)

Gambar 1 Kerangka analitis perumusan strategi TAHAP 1: TAHAP INPUT (INPUT STAGE)

Matriks Evaluasi Faktor Matriks Profil Kompetitif Matriks Evaluasi Eksternal ( External Factor (Competitive Profile Faktor Internal (Internal Evaluation-EFE) Matrix-CPM) Factor Evaluation-IFE)

TAHAP 2: TAHAP PENCOCOKAN (MATCHING STAGE)

Matriks Matriks Evaluasi Matriks Boston Matriks Internal- Matriks Kekuatan- Tindakan dan Consulting Group Eksternal (IE) Strategi Besar Kelemahan- Posisi Strategi (BCG) (Grand Strategy)

Peluang- (Strategic Position

Ancaman and Action

(Strengths- Evaluation-SPACE)

Weaknesess- Opportunities- Threats-SWOT)

TAHAP 3: TAHAP KEPUTUSAN (DECISION STAGE)

(31)

17 pemasar memperlakukan pemasok mereka sebagai mitra dalam menciptakan dan menghantarkan nilai pelanggan.

b) Perantara Pemasaran

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), perantara pemasaran merupakan organisasi yang membantu perusahaan mempromosikan, menjual, dan mendistribusikan barang-barangnya ke pembeli akhir. Perantara pemasaran meliputi penjual perantara, perusahaan distribusi fisik, agen, jasa pemasaran, dan perantara keuangan. Penjual perantara adalah perusahaan saluran ditribusi yang membantu perusahaan menemukan pelanggan atau melakukan penjualan untuk mereka. Penjual perantara meliputi pedagang grosir dan pengecer, yang membeli dan menjual kembali barang dagangan. Perusahaan distribusi fisik membantu perusahaan menyimpan dan memindahkan barang-barangnya dari titik asalnya ke tempat tujuan. Agen jasa pemasaran adalah firma riset pemasaran, agen periklanan, perusahaan media, dan firma konsultan pemasaran yang membantu perusahaan menetapkan target dan mempromosikan produknya pada pasar yang tepat. Perantara keuangan meliputi bank, perusahaan kredit, perusahaan asuransi, dan bisnis lain yang membantu membiayai transaksi atau menjamin terhadap risiko yang berhubungan dengan pembelian dan penjualan barang. c) Pelanggan

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), perusahan harus mempelajari lima jenis pasar pelanggan secara lebih dekat. Pasar konsumen terdiri dari perorangan dan keluarga yang membeli barang dan jasa untuk konsumsi pribadi. Pasar bisnis membeli barang dan jasa untuk pemrosesan lebih lanjut atau untuk digunakan dalam proses produksi mereka. Pasar penjual sementara membeli barang dan jasa untuk dijual kembali demi mendapatkan laba. Pasar pemerintah terdiri dari badan-badan pemerintah yang membeli barang dan jasa untuk menghasilkan pelayanan umum atau menyalurkan barang dan jasa ke pihak lain yang membutuhkan mereka. Pasar internasional terdiri dari para pembeli di negara lain, termasuk konsumen, produsen, penjual perantara, dan pemerintah.

d) Pesaing

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), konsep pemasaran menyatakan bahwa agar berhasil, perusahaan harus menyediakan nilai dan kepuasan pelanggan yang lebih besar daripada pesaingnya. Oleh karena itu, pemasar harus melakukan lebih dari sekadar menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen pasar sasaran. Mereka juga harus meraih manfaat strategis dengan menempatkan penawaran mereka secara kuat menghadapi penawaran pesaing dalam pikiran konsumen. Tidak ada satu strategi pemasaran kompetitif yang paling baik bagi semua perusahaan. Masing-masing perusahaan harus mempertimbangkan ukuran dan posisi industrinya sendiri dibandingkan dengan ukuran dan posisi industri pesaingnya.

(32)

18

industri tertentu dapat dipandang sebagai perpaduan dari lima kekuatan, yaitu:

(a) Persaingan Antarperusahaan Saingan

Persaingan antarperusahaan saingan biasanya merupakan yang paling hebat dari lima kekuatan kompetitif. Strategi yang dijalankan oleh sebuah perusahaan dapat berhasil hanya sejauh ia menghasilkan keunggulan kompetitif atas strategi yang dijalankan perusahaan pesaing. Intensitas persaingan antarperusahaan saingan cenderung meningkat ketika jumlah pesaing bertambah, ketika pesaing lebih setara dalam hal ukuran dan kapabilitas, ketika permintaan akan produk industri itu menurun, dan ketika potongan harga menjadi lazim.

(b) Potensi Masuknya Pesaing Baru

Hambatan bagi masuknya perusahaan baru dapat mencakup kebutuhan untuk mencapai skala ekonomi secara cepat, kebutuhan untuk menguasai teknologi dan trik-trik praktis, kurangnya pengalaman, loyalitas konsumen yang kuat, preferensi merek yang kuat, persyaratan modal yang besar, kurangnya saluran distribusi yang memadai, kebijakan regulatif pemerintah, kurangnya akses ke bahan mentah, kepemilikan paten, lokasi yang kurang menguntungkan, serangan balik dari perusahaan yang diam-diam berkubu, dan potensi penyaringan pasar. Terlepas dari banyaknya hambatan bagi masuknya perusahaan baru tersebut, perusahaan baru kadang masuk ke industri dengan produk berkualitas lebih tinggi, harga lebih rendah, dan sumber daya pemasaran yang substansial. Oleh karenanya, tugas penyusun strategi adalah mengidentifikasi perusahaan-perusahaan baru yang berpotensi masuk ke pasar, memonitor strategi perusahaan saingan baru, menyerang balik jika diperlukan, dan memanfaatkan kekuatan peluang yang ada.

(c) Potensi Pengembangan Produk Pengganti

Di banyak industri, perusahaan berkompetisi ketat dengan produsen produk-produk pengganti di industri lain. Tekanan kompetitif yang meningkat dari produk pengganti bertambah ketika harga relatif produk pengganti tersebut turun dan manakala biaya peralihan konsumen juga turun. Kekuatan kompetitif produk pesaing bisa diukur dengan penelitian terhadap pangsa pasar yang berhasil diraih produk itu, dan juga dari rencana perusahaan tersebut untuk meningkatkan kapasitas produksi dan penetrasi pasar.

(d) Daya Tawar Pemasok

(33)

19 (e) Daya Tawar Konsumen

Daya tawar konsumen dapat menjadi kekuatan terpenting yang mempengaruhi keunggulan kompetitif. Konsumen memiliki daya tawar yang semakin besar dalam kondisi-kondisi berikut: (1) jika mereka dapat dengan mudah dan murah beralih ke merek atau pengganti pesaing; (2) jika mereka menduduki tempat yang sangat penting bagi penjual; (3) jika penjual menghadapi masalah menurunnya permintaan konsumen; (4) jika mereka memegang informasi tentang produk, harga, dan biaya penjual; (5) jika mereka memegang kendali mengenai apa dan kapan mereka bisa membeli produk.

2. Lingkungan Makro Pemasaran

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), lingkungan makro pemasaran merupakan kekuatan sosial yang lebih besar yang mempengaruhi lingkungan mikro. Lingkunga makro pemasaran terdiri dari kekuatan demografis, ekonomi, alam, teknologi, politik, dan budaya. Lingkungan makro pemasaran yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:

a) Lingkungan Demografis

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), demografi adalah studi kependudukan manusia menyangkut ukuran, kepadatan, lokasi, usia, jenis kelamin, ras, lapangan kerja, dan data statistik lain. Lingkungan demografis menjadi minat utama pemasar karena lingkungan demografis menyangkut masyarakat, dan masyarakat membentuk pasar. Perubahan dalam lingkungan demografis dunia mempunyai implikasi besar bagi bisnis. b) Lingkungan Ekonomi

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), lingkungan ekonomi terdiri dari faktor-faktor yang mempengaruhi daya beli dan pola pengeluaran konsumen. Suatu bangsa mempunyai tingkat dan distribusi pendapatan yang sangat beragam. Pemasar harus memberikan perhatian penuh terhadap tren-tren utama dan pola pengeluaran konsumen, baik lintas maupun di dalam pasar dunia mereka. Menurut David (2009), faktor ekonomi memiliki dampak langsung terhadap daya tarik potensial dari beragam strategi.

c) Lingkungan Teknologi

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), lingkungan teknologi adalah kekuatan paling dramatis yang membentuk nasib kita saat ini. Lingkungan teknologi merupakan kekuatan yang menciptakan teknologi, menciptakan produk, dan peluang pasar yang baru. Menurut David (2009), perubahan dan penemuan teknologi yang revolusioner memiliki dampak yang dramatis terhadap organisasi. Kekuatan teknologi merepresentasikan peluang dan ancaman besar yang harus dipertimbangkan dalam perumusan strategi. Kemajuan teknologi bisa secara dramatis mempengaruhi produk, jasa, pasar, pemasok, distributor, pesaing, konsumen, proses produksi, praktik pemasaran, dan posisi kompetitif organisasi. Kemajuan teknologi bisa menciptakan keunggulan kompetitif baru yang lebih baik daripada keunggulan kompetitif yang ada.

d) Lingkungan Politik

(34)

20

Menurut David (2009), kesalingtergantungan global yang semakin meningkat di kalangan ekonomi, pasar, pemerintah, dan organisasi memaksa perusahaan untuk mempertimbangkan dampak potensial dari variabel-variabel politik dalam perumusan dan penerapan strategi kompetitif mereka.

Audit Internal Lingkungan Pemasaran

Menurut David (2009), lingkungan internal pemasaran dapat dianalisis menggunakan tujuh fungsi pemasaran pokok, yaitu (1) analisis konsumen, (2) penjualan produk/jasa, (3) perencanaan produk dan jasa, (4) penetapan harga, (5) distribusi, (6) riset pemasaran, dan (7) analisis peluang. Pada penelitian ini lingkungan internal pemasaran yang akan dibahas mencakup:

a) Analisis Konsumen

Menurut David (2009), analisis konsumen merupakan pengamatan dan kebutuhan, hasrat, dan keinginan konsumen yang melibatkan pengadaan survei konsumen, penganalisisan informasi konsumen, pengevaluasian strategi pemosisian pasar, pengembangan profil konsumen, dan penentuan strategi pemasaran segmentasi pasar yang optimal. Menurut Kotler dan Armstrong (2008), proses menganalisis konsumen atau pelanggan dapat dilakukan dengan cara:

(a) Segmentasi pasar

Segmentasi pasar yaitu membagi pasar menjadi kelompok-kelompok kecil dengan kebutuhan, karakteristik, atau perilaku berbeda yang mungkin memerlukan produk atau bauran pemasaran tersendiri. Pasar terdiri dari pembeli, dan pembeli berbeda dalam berbagai cara. Pembeli bisa mempunyai perbedaan keinginan, sumber daya lokasi, sikap pembelian, dan praktek pembelian. Melalui segmentasi pasar, perusahaan membagi pasar yang besar dan heterogen menjadi segmen yang lebih kecil yang dapat dicapai secara lebih efisien dan efektif dengan produk dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan unik mereka.

(b) Penetapan target pasar

Penetapan target pasar merupakan proses mengevaluasi daya tarik masing-masing segmen pasar dan memilih satu atau lebih segmen untuk dimasuki. Pasar sasaran terdiri dari sejumlah pembeli yang berbagi kebutuhan dan karakteristik sama yang akan dilayani perusahaan.

(c) Positioning

Positioning merupakan pengaturan produk untuk menduduki tempat yang jelas, berbeda, dan diinginkan dibandingkan produk pesaing dalam pikiran konsumen sasaran. Posisi produk adalah cara produk didefinisikan oleh konsumen terhadap atribut penting, tempat dimana produk berada dalam pikiran konsumen dibandingkan produk pesaing. b) Penjualan Produk/Jasa

(35)

21 Armstrong (2008), analisis dalam penjualan produk atau jasa dapat dilakukan dengan mengevaluasi bauran promosi yang mencakup:

(a) Periklanan merupakan semua bentuk terbayar presentasi, nonpribadi dan promosi ide, barang atau jasa dengan sponsor tertentu.

(b) Promosi penjualan adalah berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong pembelian atau penjualan produk atau jasa.

(c) Hubungan masyarakat yaitu membangun masyarakat baik dengan berbagai kalangan untuk mendapatkan publisitas yang diinginkan, membangun citra perusahaan yang baik dan menangani atau menghadapi rumor, berita, dan kejadian yang tidak menyenangkan. (d) Penjualan personal merupakan presentasi pribadi oleh wiraniaga

perusahaan untuk tujuan menghasilkan penjualan dan membangun hubungan pelanggan.

(e) Pemasaran langsung adalah hubungan langsung dengan konsumen individual yang ditargetkan secara cermat untuk memperoleh respons segera dan membangun hubungan pelanggan yang langgeng dengan penggunaan surat langsung, telepon, televisi respons langsung, email, internet, dan sarana lain untuk berkomunikasi secara langsung dengan konsumen tertentu.

c) Perencanaan Produk dan Jasa

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), produk diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar agar menarik perhatian, akuisisi, penggunaan atau konsumsi yang dapat memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan. Jasa adalah bentuk produk yang terdiri dari aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual dan pada dasarnya tak berwujud serta tidak menghasilkan kepemilikan akan sesuatu.

Menurut David (2009), perencanaan produk dan jasa meliputi berbagai aktivitas seperti, uji pemasaran, pemosisian produk dan merek, pemanfaatan garansi, pengemasan, penentuan pilihan produk, fitur produk, gaya produk, dan kualitas produk, penghapusan produk lama, dan penyediaan layanan konsumen. Perencanaan produk dan jasa terutama penting jika sebuah perusahaan melakukan pengembangan atau diversifikasi produk.

d) Penetapan harga

Menurut Kotler dan Armstrong (2008), harga adalah jumlah yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa. Harga juga dapat diartikan sebagai sejumlah uang yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang ditukarkan para pelanggan untuk memperoleh manfaat dari memiliki atau menggunakan suatu produk atau jasa. Pada saat yang bersamaan, penetapan harga adalah permasalahan nomor satu yang dihadapi banyak eksekutif pemasaran, dan banyak perusahaan tidak menangani penetapan harga dengan baik. Untuk menetapkan harga dapat menggunakan metode sebagai berikut:

(a) Penetapan harga berdasarkan nilai yaitu menetapkan harga berdasarkan persepsi nilai dari pembeli, bukan dari biaya penjual. (b) Penetapan harga dengan nilai yang baik yaitu menawarkan kombinasi

(36)

22

(c) Penetapan harga dengan nilai tambah yaitu melekatkan fitur dan layanan nilai tambah untuk membedakan penawaran perusahaan dan untuk mendukung penetapan harga yang lebih tinggi.

(d) Penetapan harga berdasarkan biaya yaitu penetapan harga berdasarkan biaya produksi, distribusi, dan penjualan produk beserta tingkat pengembalian yang wajar sebagai imbalan bagi usaha dan risiko.

(e) Penetapan harga berdasarkan biaya plus yaitu menambahkan mark-up

standar pada biaya produk.

(f) Penetapan harga berdasarkan titik impas (penetapan harga berdasarkan sasaran keuntungan) yaitu menetapkan harga agar dapat mengembalikan biaya dari pembuatan dan pemasaran suatu produk atau menetapkan harga untuk mengejar suatu sasaran keuntungan. Menurut David (2009), lima pemangku kepentingan yang mempengaruhi keputusan penetapan harga, yaitu konsumen, pemerintah, pemasok, distributor, dan pesaing. Para penyusun strategi harus melihat harga baik dari perspektif jangka pendek maupun jangka panjang, karena pesaing dapat menyalin perubahan harga dengan relatif mudah.

e) Distribusi atau Tempat

Menurut David (2009), distribusi mencakup penggudangan, saluran-saluran distribusi, cakupan distribusi, lokasi tempat ritel, wilayah penjualan, tingkat dan lokasi persediaan, kurir transportasi, penjualan grosir, dan ritel. Distribusi menjadi sangat penting tatkala sebuah perusahaan berusaha menerapkan strategi pengembangan pasar atau integrasi ke depan. Menurut Kotler dan Armstrong (2008), tempat meliputi kegiatan perusahaan yang membuat produk tersedia bagi pelanggan sasaran.

f) Riset Pemasaran

Menurut David (2009), riset pemasaran adalah pengumpulan, pencatatan, penganalisisan data yang sistematis mengenai berbagai persoalan yang terkait dengan pemasaran barang dan jasa. Riset pemasaran dapat mengungkap kekuatan dan kelemahan yang penting, dan periset pemasaran menggunakan berbagai skala, instrumen, prosedur, konsep, dan teknik pengumpulan data.

Matriks EFE dan IFE

Menurut David (2009), matriks evaluasi faktor eksternal (external factor evaluation-EFE Matrix) memungkinkan para penyusun strategi untuk merangkum dan mengevaluasi informasi ekonomi, sosial, budaya, demografi, lingkungan, politik, pemerintah, hukum, teknologi, dan persaingan. Menurut Umar (2008), matriks EFE digunakan untuk mengevaluasi faktor-faktor eksternal perusahaan.

(37)

23 Matriks SWOT

Menurut Rangkuti (2008), matriks SWOT dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Menurut David (2009), matriks kekuatan-kelemahan-peluang-ancaman (s trengths-weaknesses-oppurtunities-threats-SWOT) adalah sebuah alat pencocokan yang penting yang membantu para manajer mengembangkan empat jenis strategi: SO (kekuatan-peluang), WO (kekuatan-peluang), ST (kekuatan-ancaman), WT (kelemahan-ancaman).

a) Strategi SO (SO Strategies) adalah strategi yang memanfaatkan kekuatan internal perusahaan untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal. Secara umum, organisasi akan menjalankan strategi WO, ST, atau WT untuk mencapai situasi dimana mereka dapat melaksanakan Strategi SO. b) Strategi WO (WO Strategies) adalah strategi yang bertujuan untuk

memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil keuntungan dari peluang eksternal.

c) Strategi ST (ST Strategies) adalah strategi yang menggunakan kekuatan sebuah perusahaan untuk menghindari atau mengurangi pengaruh dampak ancaman eksternal.

d) Strategi WT (WT Strategies) merupakan taktik defensif yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman eksternal.

QSPM

(38)

24

Kerangka Pemikiran Operasional

Kerangka pemikiran operasional merupakan kerangka yang digunakan sebagai landasan pada kegiatan yang akan dilakukan di dalam penelitian. Kerangka pemikiran dibuat dari kegiatan yang telah dilakukan oleh KWT Melati dalam merencanakan strategi pemasaran. Untuk membuat rencana strategi pemasaran maka perlu mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi KWT Melati untuk menganalisis perumusan strategi bisnis yang tepat.

KWT Melati merupakan kelompok wanita tani yang melakukan usaha pengolahan tepung umbi talas. KWT Melati memproduksi tepung umbi talas rata-rata sebanyak 400 kilogram per bulan. Namun jumlah yang diproduksi KWT Melati tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan permintaan sehingga tidak jarang produksi dalam satu bulan tersebut menumpuk. Kondisi tersebut sangat merugikan pihak KWT Melati mengingat tepung umbi talas memiliki jangka waktu simpan hanya enam bulan sehingga diperlukan upaya agar tepung umbi talas tidak menumpuk dan dapat segera terserap pasar. Selain adanya selisih tepung umbi talas yang diproduksi dengan permintaan, KWT Melati juga menghadapi permintaan tepung umbi talas yang mengalami fluktuasi setiap bulan. Fluktuasi yang dihadapi oleh KWT Melati cenderung menurun, hal ini disebabkan beralihnya pelanggan KWT Melati ke produsen pendatang baru.

Pada kemasan yang digunakan untuk tepung umbi talas perlu dilakukan adanya perbaikan, karena kemasan saat ini menggunakan plastik dan pelabelan yang kurang lengkap sesuai peraturan pemerintah. Adanya perbaikan pada kemasan dan label, diharapkan mampu meningkatkan nilai jual yang lebih tinggi pada tepung umbi talas. Pada kegiatan promosi, KWT Melati telah melakukan promosi melalui pameran dan internet. Saat ini promosi di internet belum dilakukan melalui website sendiri tetapi dengan memasang iklan di website forum jual beli. Hal ini disebabkan oleh KWT Melati baru berencana akan membuat

website sendiri.

Untuk menghadapi kendala-kendala tersebut, maka KWT Melati perlu melakukan peninjauan kembali pada strategi pemasaran yang telah dijalankan. Hal ini bertujuan untuk mengevaluasi strategi pemasaran yang telah dijalankan oleh KWT Melati. Selain melakukan peninjauan pada strategi pemasaran, KWT Melati juga perlu merumuskan strategi pemasaran yang tepat agar dapat meningkatkan pemasaran tepung umbi talas. Perumusan strategi pemasaran yang tepat sebaiknya mempertimbangkan kondisi lingkungan eksternal dan internal dari KWT Melati agar alternatif strategi yang dihasilkan juga tepat.

(39)

25 ST (strength-threat), dan strategi WT (weakness-threat). Keputusan perumusan strategi merupakan tahap akhir dalam proses merumuskan strategi. Pada perumusan strategi, alat analisis yang digunakan adalah QSPM. Kerangka pemikiran operasional tersebut disajikan pada Gambar 2:

Gambar 2 Kerangka pemikiran operasional

Alternatif strategi pemasaran (Matriks SWOT) Analisis Strategi Pemasaran

Prioritas strategi ( QSPM)

Rekomendasi prioritas strategi pemasaran KWT Melati

Matriks EFE Matriks IFE

Lingkungan eksternal: - Lingkungan Mikro 1. Pemasok

2. Perantara pemasaran 3. Pelanggan

4. Pesaing

- Lingkungan Makro 1. Lingkungan demografis 2. Lingkungan ekonomi 3. Lingkungan teknologi 4. Lingkungan politik

Lingkungan internal 1. Analisis konsumen 2. Penjualan produk/jasa 3. Perencanaan produk dan jasa 4. Penetapan harga

5. Distribusi atau tempat 6. Riset pemasaran

Lingkungan Eksternal Pemasaran Lingkungan Internal Pemasaran KWT Melati

Masalah KWT Melati:

1. Produksi tepung umbi talas lebih tinggi dibandingkan permintaan. 2. Fluktuasi permintaan yang cenderung menurun

3. Perlu adanya perbaikan kemasan dan label yang kurang lengkap sesuai peraturan pemerintah.

(40)

26

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian mengenai strategi pemasaran tepung umbi talas dilakukan pada KWT Melati, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa KWT Melati merupakan satu-satunya kelompok wanita tani yang kontinyu dalam melakukan produksi pengolahan tepung umbi talas di Kota Bogor. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Februari 2015.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari jenis data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari dua sumber yaitu internal dan eksternal. Data primer internal meliputi profil KWT Melati, kegiatan produksi serta kegiatan pemasaran dari tepung umbi talas. Data primer eksternal bersumber dari observasi langsung, wawancara dan pengisian kuesioner yang diajukan kepada responden. Data sekunder diperoleh dari literatur yang berkaitan dengan topik penelitian yaitu dari internet, buku dan penelitian terdahulu.

Metode Penentuan Responden

Metode yang digunakan untuk menentukan responden dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling yaitu dengan memilih responden secara sengaja. Responden dalam penelitian ini terdiri dari dua pihak yaitu responden internal meliputi ketua KWT Melati, bagian produksi dan pemasaran. Pemilihan responden berdasarkan pada pengetahuan mengenai kondisi KWT Melati, strategi yang diterapkan dan memiliki wewenang mengenai data-data yang diperlukan dalam penelitian. Untuk responden eksternal meliputi Kepala Seksi Penganekaragaman dan Keamanan Pangan Kantor Ketahanan Pangan Kota Bogor dan penyuluh yang mendampingi KWT Melati. Pemilihan responden berdasarkan pada pengetahuan yang mendalam dibidang pengolahan tepung yang berasal dari tanaman pangan dan kondisi pemasaran pada KWT Melati.

Metode Pengolahan dan Analisis Data

Gambar

GAMBARAN UMUM KWT MELATI
Tabel 2  Produksi dan permintaan tepung umbi talas KWT Melati bulan
Tabel 3  Perbandingan komposisi tepung umbi talas dengan tepung beras
Gambar 1  Kerangka analitis perumusan strategi
+5

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yang diperoleh bahwa penggunaan larutan MoL daun sirih merah 3% melalui kontak makanan kepik hitam dengan cara perendaman malai padi selama 2 hari menunjukkan

Untuk mengetahui sistem penyimpanan obat di Gudang Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Naibonat yang meliputi pengaturan tata ruang, cara penyimpanan obat,

pemahaman konsep materi IPS siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi antara siswa yang diajarkan mnggunakan model pembelajaran tipe TGT dengan tipe Problem Posing. 3)

Inilah yang mendasari peneliti untuk melakukan penelitian pengujian tentang uji daya hambar antioksidan dari ekstrak etanol, ekstrak n-heksan dari fraksi etil asetat dari

Untuk pengoperasian Kapal Pukat cincin / Purse seiner mengacu pada peraturan Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep.06/Men/2010tentangalat

Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah teknik analisis yang digunakan yaitu menggunakan analisis regresi berganda, sedangkan perbedaannya

Karena itu, Zakaria berharap agar keadaan dirinya yang lemah (usia tua) tidak mempengaruhi kualitas anaknya kelak. Hal ini menjadi lebih menyakinkan bila dikaitkan dengan

Setelah dilakukan pengujian kuat geser pada model sampel tanpa dan yang diberi cerucuk dengan variasi spasi yang berbeda- beda, maka diperoleh hasil kuat geser