• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asas Asas Pengelolaan Keuangan Negara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Asas Asas Pengelolaan Keuangan Negara"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Asas – Asas Pengelolaan Keuangan Negara

Tidak ada penegasan dalam UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, dan UU No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yang secara eksplisit mencantumkan asas-asas keuangan negara.

Asas-asas tersebut muncul di dalam penjelasan kedua UU tersebut. Secara konsep merupakan paradigma baru dalam sistem dan pengelolaan keuangan Negara berdasarkan Pasal 3 ayat (1) UU No. 17 Tahun 2003, yang menegaskan:

“Keuangan negara dikelola secara tertib, taat pada peraturan dan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektip, transparan, dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan”.

Munculnya asas-asas pengelolaan keuangan negara dalam UU No. 17 tahun 2003, dan UU No. 1 tahun 2004, merupakan upaya reformasi konsep dari sistem pengelolaan yang bersifat sentralistik dan tidak transparan kepada konsep yang lebih mengedepankan transparansi, dengan pendekatan anggaran yang berbasis kinerja, Artinya anggaran negara/daerah harus betul-betul diarahkan sesuai kebutuhan yang ada, dengan alokasi sesuai peruntukannya, layak berdasarkan kepatutan publik, guna terwujudnya kesejahteraan masyarakat.

Contoh sentralistik : (seperti adanya dana non budgeter, dan dana taktis, yang pengelolaannya kurang dapat dipertanggung-jawabkan secara publik, dalam konsep APBN/APBD masa pemerintahan Orde Baru),.

(2)

tahun 1999, tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas dari KKN, yaitu :

1. Asas Kepastian hukum;

2. Asas tertib penyelenggaraan Negara; 3. Asas Kepentingan Umum;

4. Asas Keterbukaan; 5. Asas Proporsionalisme; 6. Asas Profesionalitas; dan 7. Asas akuntabilitas

Bila dikolerasikan antara konsep asas umum penyelengaraan pemerintahan dengan UU No. 17 tahun 2003, merupakan asas baru sebagai pencerminan “best practices” (penerapan kaidah-kaidah yang baik).1

Dapat disimpulkan : terdiri dari asas umum, dan asas khusus, selain asas lama yang akhirnya dijadikan asas Undang-undang Perbendaharaan Negara yang akan diuraikan kemudian.

Adapun asas-asas pengelolaan keuangan negara terdiri dari asas-asas umum dan asas-asas khusus.

1. Asas-asas umum keuangan Negara.

Asas-asas umum keuangan negara teridiri dari :

a. Asas akuntabilitas yang berorientasi pada hasil, b. asas profesionalitas,

c. asas proporsionalitas, d. asas transparansi, dan

e. pemeriksaan keuangan oleh badan pengawas yang bebas dan

mandiri.

(3)

a. Asas akuntabilitas

Asas akuntabilitas mengarahkan pertanggung jawaban perencanaan, dan pelaksanaan penggunaan anggaran negara/daerah terhadap kinerja yang berorientasi pada hasil, guna kepentingan publik sebagai komunitas yang berhak menerima pelayanan dan memperoleh laporan pertanggung jawaban melalui lembaga perwakilan (DPR/DPRD). Artinya tidak perlu lagi terjadi perencanaan dan penggunaan anggaran yang hanya untuk selera kekuasaan, tetapi setiap sen rupiah yang tercantum dalam nota anggaran hasilnya se-optimal mungkin harus bermuara kepada kesejahteraan masyarakat.

Sedangkan menurut LANRI (1999),

akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggung jawaban.2

Akuntabilitas secara langsung berkaitan erat dengan kepentingan umum/publik, yang berkaitan dengan umum, yaitu masyarakat/kelompok masyarakat,

dan umum dalam arti lembaga adalah negara/pemerintah,

sehingga akuntabilitas selalu diikuti oleh kata “publik” menjadi “akuntabilitas publik”, Berkaitan pemerintahan, akuntabilitas publik adalah akuntabilitas dari organisasi pemerintahan, sehingga dalam implementasinya akuntabilitas publik mempunyai tiga arah, yaitu :3

i. vertikal ke atas, yakni kepada pejabat yang berwenang;

ii. vertikal ke bawah, yakni kepada masyarakat luas sebagai pemilik saham;

iii. horizontal, yakni kepada sejawat dalam rangka pertanggung jawaban profesional;

Kaitannya dengan aspek pertanggung jawaban, ruang lingkup akuntabilitas publik meliputi :

semua tindakan dari seorang/organisasi pemerintah/pimpinan kolektif dalam menggunakan kewenangan, dana, serta fasilitas publik untuk mencapai tujuan organisasi yang ditugaskan kepadanya..4

2 Sadu Swastiono, “Kapita Selekta Penyelenggaraan Pemerintah Daerah”, Fakos Media, Bandung, Cetakan ke

tiga, 2003, hlm 55

(4)

b. Asas profesionalitas,

Asas profesionalitas memberikan arahan bahwa penggunaan anggaran yang berorientasi hasil, maka pengendalian kinerja dan evaluasinya mengarahkan perencanaan, dan penggunaan anggaran untuk tidak terjadi tumpang tindih atau duplikasi program kerja antara satu departemen dengan departemen lainnya, atau dengan daerah.

Artinya satu departemen tidak perlu melakukan penggarapan yang hasilnya diperkirakan akan sama. Kalaupun ada program kerja yang saifatnya sama harus saling menunjang.

Di sini perlu dilakukan integrasi sistem akuntabilitas kinerja dalam penyusunan anggaran antar departemen/perangkat daerah;

c. Proporsionalitas,

Asas proporsionalitas mengandung dua makna, yaitu :

i. Kengarahkan perubahan klasifikasi anggaran dan pengelompokan transaksi pemerintah secara objektif, sesuai dengan standar akuntansi sektor publik yang berlaku secara internasional, konsistensi dalam penggunaan standar akuntansi sektor publik, penyajian nota anggaran yang mudah dipahami, guna meningkatkan kredibilitas statistik keuangan pemerintah;

ii. Mendorong perencanaan dan penggunaan anggaran secara realistis sesuai dengan kegiatan pemerintah dan kebutuhan program secara nyata, dengan kebutuhan publik.

d. Asas Transparansi

Asas transparansi dalam Pengelolaan keuangan negara tidak berarti ketelanjangan, melainkan keterbukaan, yakni adanya sebuah sistem yang memungkinkan terselenggaranya komunikasi internal dan eksternal dari korporasi.5

Secara idealis perumusan kebijakan yang menjadi tanggung jawab pemerintah sebagai pihak internal, semaksimal mungkin harus melalui

5 Riant D Nugroho, “Kebijakan Publik, Formulasi Implementasi dan Evaluasi”, Elex Media Komputindo,

(5)

proses pendekatan “das sein” yang berkembang dalam masyarakat (pihak ekstern), sebagai objek yang akan menerima langsung dampak dari kebijakan tersebut.

e. Pemeriksaan keuangan oleh Badan yang Bebas dan Mandiri

Asas ini merupakan pelaksanaan asas akuntabilitas penyelenggaraan keuangan negara yang dalam pelaksanaannya harus dilakukan pemeriksaan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri, yaitu berjalannya fungsi pemeriksaan pengelolaan keuangan negara/daerah oleh BPK secara profesional dan independen.

Fungsi pemeriksaan harus bebas dari pengaruh atau intervensi dari siapapun dan pihak manapun, sehigga menghasilkan audit yang transparan dan adil.

2. Asas-asas khusus keuangan negara

Asas-asas khusus keuangan negara terdiri atas asas tertib, asas taat kepada aturan dan UU, asas ekonomis efektif – efisien, asas bertanggung jawab, asas keadilan dan kepatutan.

a. Asas tertib,

Tertib secara gramatikal berarti teratur, atau menurut aturannya6, dengan demikian asas tertib dalam pengelolaan

keuangan negara adalah prinsip-prinsip yang harus dilaksanakan dalam mengelola kekayaan negara sesuai dengan kaidah-kaidah standar akuntansi pemerintah, serta peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

b. Asas taat kepada aturan dan UU.

Asas ini merupakan asas pengarah dan koridor dalam melakukan pengelolaan keuangan negara, mana yang dapat dilakukan dan mana yang tidak

(6)

bisa dilaksanakan, seperti dilarang mengeluarkan anggaran yang tidak tersedia dalam nota anggaran, atau tidak mencukupi dalam nota anggaran, dan kewajiban menyusun laporan pertanggungjawaban bagi pejabat pelaksana dengana baik dan benar.

c. Asas ekonomis, efektip – efisien

Pengelolaan keuangan negara harus memenuhi prinsip ekonomis, efektip-efisien, dengan maksud sebagai tolok ukur yang harus dilakukan pada akhir masa pengelolaan (misal evaluasi APBN/APBD), apakah hasil dari seluruh program yang tertuang dalam nota APBN/APBD tersebut dapat mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan dan tepat sasaran ? Sehingga dapat mendorong dan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan dan kegiatan ekonomi lokal, regional dan nasional. Asas ini perlu dilaksanakan sebagai upaya untuk menekan praktek-praktek pemborosan anggaran melalui berbagai bentuk “mark up”, sebagaimana sering ditemui dalam berbagai kasus proyek – proyek pemerintah. Hal ini merupakan sarana kontrol dalam melaksanakan suatu anggaran tahun berjalan sehingga tidak terjadi penyimpangan.

d. bertanggungjawab.

Bentuk pengelolaan keuangan negara/daerah yang tersusun melalui APBN/APBD, harus berlandaskan kepada cita ideal etika dan moral publik, sesuai dengan kaidah-kaidah atau nilai – nilai yang terkandung dalam Pancasila.

e. Asas keadilan dan kepatutan.

(7)

sudah adil, namun demikian apabila kebijakan itu ditarik kepada lingkup publik dan segala konstelasinya, belum tentu patut atau layak bahwa kebijakan tersebut ditetapkan. Contohnya kasus “kaveling gate” DPRD Prov. Jawa Barat, “dana mobilisasi” anggota DPRD di Jawa Tengah, dana purna bakti anggota DPRD di beberapa daerah. Artinya contoh-contoh kebijakan tersebut, dapat dikatakan adil dalam perspektif legislatif dan eksekutif, tetapi tidak memenuhi asas kepatutan dan keadilan bila dilihat dari perspektif publik, dimana disatu sisi rakyat secara ekonomi sedang berada dalam kesulitan, sedangkan di sisi lain pengeluaran anggaran dengan nilai cukup besar yang dialokasikan hanya untuk memenuhi beberapa gelintir wakil rakyat. Kenyataan tersebut sungguh sangat menyakitkan keadilan mayasarakat umum, karena tidak mencerminkan rasa kepekaan, kepedulian dan nilai-nilai keadilan. Praktek demikian sangat jauh dan telah keluar dari asas akuntabilitas, proporsional, dan profesional, padahal kebutuhan publik masih banyak, baik kebutuhan pokok, maupun sarana dan prasarana umum. Contohnya rehabilitasi gedung-gedung sekolah, jalan, anak putus sekolah, persoalan pengangguran, dan lain - lain. Jadi antara keadilan dan kepatutan dalam tataran kebijakan publik harus dilihat dari berbagai sudut pandang, apakah adil kalau wakil rakyat bergelimangan fasilitas sementara rakyat hanya menonton dan hidup masih dalam kondisi serba kekurangan, sehingga tidak memperoleh bagian yang layak dari kebijakan tersebut.

Asas–asas keuangan negara di atas sesungguhnya merupakan implementasi dari penerapan asas–asas “good governance”, yang menurut UNDP mempunyai karakteristik sebagai berikut :7

7 UNDP dalam Sadu Swastiono, “Kapita Selekta Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah”, Fokus Media

Bandung, Cetakan Ketiga, 2003, hlm 33 – 36, maksud dari kesemabilan konsep tersebut adalah 1) Participation (partisipasi) : rakyat sebagai pemilik kedaulatan mempunyai hak dan kewajiban untuk mengambil bagian dalam proses bernegara, berpemerintahan dan bermasyarakat, yang dapat dilakukan secara langsung ( misalnya

dalam bentuk Pemilu, tambahan penulis ), maupun melalui institusi intermediasi seperti

(8)

1. Participation (partisipasi) :

2. Rule of Law (Penegakkan hukum);

3. Transparancy (Transparansi);

4. Responsiveness (Daya tanggap);

5. Consensus orientation ( berorientasi kepada konsensus );

6. Equity (keadilan);

7. Effectiveness and efficiency ( kefektifan dan efisiensi);

8. Accountability (akuntabilitas);

9. Stategic vision (visi strategi).

Bandung, 30 Oktober 2017 Penulis,

Dra. Hj. Nia Kania Winayanti, S.H.,M.H.

Referensi

Dokumen terkait

Satu hal yang cukup menarik dengan digunakannya protokol TCP/IP adalah kemungkinan untuk menyambungkan beberapa jaringan komputer yang menggunakan media komunikasi

Intinya, tekankan pada informasi yang bisa menunjukkan Anda orang yang tepat untuk posisi ini. Informasi

Silase adalah pakan dari limbah pertanian atau dari hijauan makanan ternak yang diawetkan dengan cara fermentasi anaerob dalam kondisi kadar air tinggi (40-80%)

Hasil analisis data menunjukkan bahwa varietas berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga jantan, umur berbunga betina, umur panen, jumlah biji per

However, for some enterprises, it just isn’t practical (or possible, even) to embed a server or container in the release artifact, so it has to be combined with the release

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara motivasi kerja, kepemimpinan, dan budaya organisasi secara bersama-sama dengan

Dengan adanya Perancangan Pusat Batik dan Kerajinan Khas Jawa Timur di Surabaya ini, diharapkan dapat menampilkan ciri khas dari kerajinan yang ada di Jawa Timur

Hasil Pengujian Validitas Akuntabilitas Kinerja, Kejelasan Sasaran Anggaran, Budaya Organisasi Dan Sistem Pelaporan memperlihatkan nilai Pearson Correlation yang