• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. ANALISA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1. Restoran McDonald’s

McDonald’s Corporation merupakan perusahaan restoran cepat saji hamburger terbesar di dunia, dengan melayani sekitar 68 juta konsumen setiap hari di 119 negara, dengan kurang lebih 36.000 gerai. Berpusat di Amerika Serikat, perusahaan memulai usaha pada tahun 1940 sebagai restoran barbeque yang dipimpin oleh Richard dan Maurice McDonald. Di tahun 1948, mereka me- reorganisasi usahanya sebagai stand hamburger dengan menggunakan prinsip lini produksi. Pebisnis Ray Kroc bergabung dengan perusahaan sebagai agen waralaba pada tahun 1955. Kemudian Ray Kroc membeli rantai usaha dari McDonald bersaudara dan mengawasi pertumbuhan di seluruh dunia.

Restoran cepat saji McDonald’s dioperasikan secara waralaba, afiliasi, dan secara korporasi. Pendapatan restoran McDonald’s berasal dari sewa, royalti, dan biaya yang dibayarkan oleh waralaba, serta penjualan di restoran yang dioperasikan perusahaan. Pada tahun 2012, perusahaan memiliki pendapatan tahunan sebesar 2,75 miliar Dollar Amerika. Menurut BBC, laporan pada tahun 2012, McDonald’s adalah perusahaan terbesar ke dua di dunia milik pribadi dengan 1,9 juta karyawan, dimana 1,5 juta diantaranya bekerja untuk waralaba.

Restoran McDonald’s menjual hamburger, cheeseburger, ayam, kentang goreng, menu sarapan, minuman ringan, milkshake, serta makanan penutup.

Menanggapi perubahan selera konsumen, perusahaan telah menambahkan menu seperti salad, ikan, smoothie buah, serta menjadikan usaha lebih mudah dijangkau dengan layanan drive through dan delivery service.

Gerai McDonald’s Indonesia pertama berada di Sarinah Thamrin, Jakarta pada tahun 1991, sedangkan restoran McDonald’s di Surabaya yang pertama kali berada di Plaza Surabaya pada tahun 1993. Seiring dengan berjalannya waktu banyak restoran McDonald’s yang kembali dibuka di Surabaya. Hingga saat ini ada total 14 gerai restoran McDonald’s yang berlokasi di Surabaya, dan yang terbaru berlokasi di Manyar Surabaya yang juga merupakan gerai ke 146 yang berada di Indonesia.

(2)

Dalam penelitian Wijaya (2005) sebanyak 133 orang menyatakan bahwa mereka biasanya makan bersama dengan teman atau pacar untuk makan di restoran cepat saji, sedangkan sebanyak 28 orang makan bersama keluarga di restoran cepat saji. Lalu berhubungan dengan restoran mana yang paling sering dikunjungi oleh mahasiswa adalah McDonlad’s yaitu sebesar 50,3%. Faktor yang paling mempengaruhi mahasiswa untuk mengunjungi restoran cepat saji berturut – turut adalah (1) kualitas makanan enak sebesar 38,4%, (2) pelayanan cepat sebesar 20,9%, (3) harga terjangkau sebesar 16,4%, (4) lokasi restoran yang strategis sebanyak 13%, dan (5) kenyamanan restoran sebesar 7,3%. Hal ini sesuai dengan konsep restoran cepat saji dimana restoran jenis ini memang mengutamakan kecepatan dalam melayani pelanggan mereka.

4.2. Uji Validitas dan Reliabilitas 4.2.1. Uji Validitas

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan uji validitas sebanyak 30 responden untuk mengetahui apakah pernyataan yang digunakan mampu menjadi tolak ukur penelitian. Hasil uji validitas sebagai berikut :

Tabel 4.1. Uji Validitas Analisa Faktor yang Mendorong Konsumen dalam Memilih Restoran McDonald's di Surabaya

No. Pernyataan Nilai r-

hitung

Nilai r-

tabel Kesimpulan

1.

Saya membeli produk McDonald’s karena sudah terbiasa dengan menu yang

disediakan

0,653 0,361 Valid

2.

Saya membeli produk McDonald’s karena lokasi restoran dekat dengan tempat tinggal atau kantor

0,679 0,361 Valid 3. Saya membeli produk McDonald’s untuk

konsumsi pribadi saya 0,655 0,361 Valid

4.

Saya membeli produk McDonald’s karena rekomendasi dari teman atau word of mouth (WOM)

0,705 0,361 Valid

5.

Saya membeli produk McDonald’s karena keluarga saya mempercayai rasa dan kualitasnya yang baik

0,803 0,361 Valid

6.

Saya membeli produk McDonald’s karena fasilitas yang diberikan (free wi-fi dan nonton bareng

0,703 0,361 Valid

(3)

Tabel 4.1. Uji Validitas Analisa Faktor yang Mendorong Konsumen dalam Memilih Restoran McDonald's di Surabaya (sambungan)

7. Saya membeli produk McDonald’s karena

saya hobi makan makanan cepat saji 0,804 0,361 Valid 8.

Saya membeli produk McDonald’s karena mudah dikonsumsi dan banyak menyajikan variasi menu

0,732 0,361 Valid 9. Saya membeli produk McDonald’s karena

harga yang relatif terjangkau 0,772 0,361 Valid 10.

Saya membeli produk McDonald’s karena sesuai dengan gaya hidup saya yang praktis

0,724 0,361 Valid

11.

Saya membeli produk McDonald’s karena sudah memiliki merk atau brand image yang terkenal

0,841 0,361 Valid

12.

Saya membeli produk McDonald’s karena ingin memuaskan rasa penasaran saya akan promosi yang ditawarkan

0,780 0,361 Valid

13.

Saya membeli produk McDonald’s karena rasanya lebih enak daripada restoran cepat saji yang lain

0,845 0,361 Valid

14.

Saya membeli produk McDonald’s karena sudah mengetahui bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi

0,880 0,361 Valid

15.

Saya membeli produk McDonald’s karena saya sudah mempercayai kualitas makanan yang disajikan

0,849 0,361 Valid

Rata - rata 0,7616 0,361 Valid

Tabel 4.1. menunjukkan bahwa semua pernyataan dalam kuesioner valid karena r – hitung pada semua pernyataan bernilai positif dan lebih besar dari r – tabel. Peneliti menggunakan semua pernyataan untuk dapat melakukan penelitian lebih lanjut.

4.2.2. Uji Reliabilitas

Tabel 4.2. Uji Reliabilitas Analisa Faktor Mendorong Konsumen dalam Memilih Restoran McDonald's di Surabaya

Cronbach’s Alpha Keterangan

0,947 Reliable

Kuesioner dapat dikatakan reliable apabila memiliki nilai Cronbach’s Alpha di atas 0,6. Hasil uji reliabilitas pada tabel 4.2. menunjukkan bahwa nilai Cronbach’s Alpha 0,947, sehingga variabel dapat dikatakan reliable.

(4)

4.3. Deskripsi Profil Responden

Peneliti menyebarkan 250 kuesioner di tempat – tempat umum Wilayah Surabaya, seperti misalnya Atom di Surabaya Utara, CiTo (City of Tomorrow) dan Royal Plaza di Surabaya Selatan, Galaxy Mall dan Food Festival di Surabaya Timur, PTC (Pakuwon Trade Center) dan Ciputra World di Surabaya Barat, serta Tunjungan Plaza dan Grand City Mall di Surabaya Pusat pada tanggal 2 – 7 Juni 2015. Peneliti membagikan kuesioner secara langsung kepada responden melalui media elektronik. Kuesioner yang disebar sebanyak 250 kuesioner dan disebar di seluruh Wilayah Surabaya semuanya kembali dan valid. Berikut ini rekapitulasi profil demografi responden berdasarkan :

1. Jenis Kelamin

Tabel 4.3. Klasifikasi Jenis Kelamin Responden

Jenis Kelamin Frekuensi Prosentase

Pria 132 52,8%

Wanita 118 47,2%

Total 250 100%

Berdasarkan tabel 4.3. diketahui jumlah responden yang berjenis kelamin pria sebanyak 132 orang (52,8%) dan yang berjenis kelamin wanita sebanyak 118 orang (47,2%).

2. Usia

Tabel 4.4. Klasifikasi Usia Responden

Usia Frekuensi Prosentase

15 – 25 tahun 57 22,8%

26 – 35 tahun 46 18,4%

36 – 45 tahun 54 21,6%

46 – 55 tahun 46 18,4%

56 – 65 tahun 26 10,4%

> 65 tahun 21 8,4%

Total 250 100%

Berdasarkan tabel 4.4. diketahui jumlah responden yang berusia 15 – 25 tahun sebanyak 57 orang (22,8%), responden yang berusia 26 – 35 tahun sebanyak 46 orang (18,4%), responden yang berusia 36 – 45 tahun sebanyak 54 orang (21,6%), responden yang berusia 46 – 55 tahun sebanyak 46 orang

(5)

(18,4%), responden yang berusia 56 – 65 tahun sebanyak 26 orang (10,4%), dan responden yang berusia lebih dari 65 tahun sebanyak 21 orang (8,4%).

3. Pendidikan

Tabel 4.5. Klasifikasi Pendidikan Responden

Pendidikan Frekuensi Prosentase

SMP 33 13,2%

SMA 54 21,6%

D1/D2/D3 43 17,2%

S1/S2/S3 120 48%

Total 250 100%

Berdasarkan tabel 4.5. diketahui bahwa jumlah responden yang berpendidikan SMP dan sederajat sebanyak 33 orang (13,2%), responden yang berpendidikan SMA dan sederajat sebanyak 54 orang (21,6%), responden yang berpendidikan Diploma sebanyak 43 orang (17,2%), dan responden yang berpendidikan Sarjana sebanyak 120 orang (48%).

4. Status Pernikahan

Tabel 4.6. Klasifikasi Status Pernikahan Responden

Status Pernikahan Frekuensi Prosentase

Belum Menikah 95 38%

Menikah 138 55,2%

Bercerai 17 6,8%

Total 250 100%

Berdasarkan tabel 4.6. diketahui bahwa jumlah responden yang belum menikah sebanyak 95 orang (38%), responden yang sudah atau telah menikah sebanyak 138 orang (55,2%), dan responden yang sudah atau telah bercerai sebanyak 17 orang (6,8%).

5. Pekerjaan

Tabel 4.7. Klasifikasi Pekerjaan Responden

Pekerjaan Frekuensi Prosentase

Wiraswasta 43 17,2%

Profesional 41 16,4%

Pegawai Swasta 86 34,4%

Pegawai Negeri 6 2,4%

(6)

Tabel 4.7. Klasifikasi Pekerjaan Responden (sambungan)

Pelajar/Mahasiswa 30 12%

Ibu Rumah Tangga 44 17,6%

Lainnya - -

Total 250 100%

Berdasarkan tabel 4.7. diketahui bahwa jumlah responden yang berprofesi sebagai wiraswasta sebanyak 43 orang (17,2%), responden yang berprofesi sebagai profesional sebanyak 41 orang (16,4%), responden yang berprofesi sebagai pegawai swasta sebanyak 86 orang (34,4%), responden yang berprofesi sebagai pegawai negeri sebanyak 6 orang (2,4%), responden yang berprofesi sebagai pelajar atau mahasiswa sebanyak 30 orang (12%), dan responden yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga sebanyak 44 orang (17,6%).

6. Pendapatan

Tabel 4.8. Klasifikasi Pendapatan Responden

Pendapatan Frekuensi Prosentase

< Rp 2.500.000 36 14,4%

Rp 2.500.000 – Rp 3.499.999 27 10,8%

Rp 3.500.000 – Rp 4.499.999 43 17,2%

Rp 4.500.000 – Rp 5.499.000 52 20,8%

≥ Rp 5.500.000 92 36,8%

Total 250 100%

Berdasarkan tabel 4.8. diketahui bahwa jumlah responden yang memiliki pendapatan kurang dari Rp 2.500.000 sebanyak 36 orang (14,4%), responden yang memiliki pendapatan Rp 2.500.000 – Rp 3.499.999 sebanyak 27 orang (10,8%), responden yang memiliki pendapatan Rp 3.500.000 – Rp 4.499.999 sebanyak 43 orang (17,2%), responden yang memiliki pendapatan Rp 4.500.000 – Rp 5.499.999 sebanyak 52 orang (20,8%), dan responden yang memiliki pendapatan sama dengan atau lebih dari Rp 5.500.000 sebanyak 92 orang (36,8%).

7. Ukuran Keluarga

Tabel 4.9. Klasifikasi Ukuran Keluarga Responden

Ukuran Keluarga Frekuensi Prosentase

1 – 2 orang 37 14,8%

(7)

Tabel 4.9. Klasifikasi Ukuran Keluarga Responden (sambungan)

3 – 4 orang 154 61,6%

≥ 5 orang 59 23,6%

Total 250 100%

Berdasarkan tabel 4.9. diketahui bahwa jumlah responden yang memiliki ukuran keluarga 1 – 2 orang sebanyak 37 orang (14,8%), responden yang memiliki ukuran keluarga 3 – 4 orang sebanyak 154 orang (61,6%), dan responden yang memiliki ukuran keluarga sama dengan atau lebih dari 5 orang sebanyak 59 orang (23,6%).

8. Orang yang Menemani

Tabel 4.10. Klasifikasi Orang yang Menemani Responden

Orang yang Menemani Frekuensi Prosentase

Sendiri 11 4,4%

Keluarga 135 54%

Teman/Pacar 78 31,2%

Rekan/Relasi Bisnis 26 10,4%

Total 250 100%

Berdasarkan tabel 4.10. diketahui bahwa jumlah responden yang makan sendiri sebanyak 11 orang (4,4%), responden yang makan bersama keluarga sebanyak 135 orang (54%), responden yang makan bersama teman atau pacar sebanyak 78 orang (31,2%), responden yang makan bersama rekan atau relasi bisnis sebanyak 26 orang (10,4%).

9. Jumlah orang yang Menemani

Tabel 4.11. Klasifikasi Jumlah Orang yang Menemani Responden Jumlah yang Menemani Frekuensi Prosentase

1 – 2 orang 64 25,6%

3 – 5 orang 155 62%

> 5 orang 31 12,4%

Total 250 100%

Berdasarkan tabel 4.11. diketahui bahwa jumlah responden yang ditemani oleh 1 – 2 orang sebanyak 64 orang (25,6%), responden yang ditemani oleh 3 – 5

(8)

orang sebanyak 155 orang (62%), dan responden yang ditemani oleh lebih dari 5 orang sebanyak 31 orang (12,4%).

10. Alasan memilih McDonald’s

Tabel 4.12. Klasifikasi Alasan Memilih McDonald’s di Surabaya

Alasan Memilih Frekuensi Prosentase

Makan bersama keluarga 84 33,6%

Makan bersama teman 44 17,6%

Mencari menu khas 56 22,4%

Meeting 19 7,6%

Mengerjakan tugas 13 5,2%

Merayakan Pesta 17 6,8%

Lainnya 17 6,8%

Total 250 100%

Berdasarkan tabel 4.12. diketahui bahwa jumlah responden yang alasan memilih McDonald’s sebagai tempat untuk makan bersama keluarga sebanyak 84 orang (33,6%), responden yang alasan memilih McDonald’s sebagai tempat untuk makan bersama teman sebanyak 44 orang (17,6%), responden yang alasan memilih McDonald’s sebagai tempat untuk menu khas sebanyak 56 orang (22,4%), responden yang alasan memilih McDonald’s sebagai tempat untuk meeting sebanyak 19 orang (7,6%), responden yang alasan memilih McDonald’s sebagai tempat untuk mengerjakan tugas sebanyak 13 orang (5,2%), responden yang alasan memilih McDonald’s sebagai tempat untuk merayakan pesta sebanyak 17 orang (6,8%), dan responden yang memilih McDonald’s dengan alasan lainnya sebanyak 17 orang (6,8%).

4.4. Analisa Mean

Analisa mean digunakan untuk mengetahui nilai mean faktor yang mendorong konsumen dalam memilih restoran McDonald’s di Surabaya. Dari hasil analisa mean dapat diketahui seberapa besar pernyataan tersebut mendorong konsumen untuk memilih restoran McDonald’s di Surabaya. Hal tersebut dapat dilihat dengan interval :

 sangat rendah (1 – 1,8)

 rendah (1,81 – 2,7)

 cukup (2,71 – 3,6)

 tinggi (3,61 – 4,5)

 sangat tinggi (4,51 - 5)

(9)

Tabel 4.13. Nilai Mean dan Standar Deviasi

No. Pernyataan Total

Mean Mean Standar Deviasi

Ketera ngan

1.

Saya membeli produk McDonald’s karena sudah terbiasa dengan menu yang disediakan

3,1873

3,356 0,86734 Cukup

2.

Saya membeli produk McDonald’s karena lokasi restoran dekat dengan tempat tinggal atau kantor

3,628 0,94933 Tinggi 3. Saya membeli produk McDonald’s

untuk konsumsi pribadi saya 3,588 0,97058 Cukup 4.

Saya membeli produk McDonald’s karena rekomendasi dari teman atau word of mouth (WOM)

2,54 0,99819 Rendah

5.

Saya membeli produk McDonald’s karena keluarga saya mempercayai rasa dan kualitasnya yang baik

3,084 0,91668 Cukup

6.

Saya membeli produk McDonald’s karena fasilitas yang diberikan (free wi-fi dan nonton bareng

2,928 1,35727 Cukup

7.

Saya membeli produk McDonald’s karena saya hobi makan makanan cepat saji

3,1351

3,292 0,91328 Cukup

8.

Saya membeli produk McDonald’s karena mudah dikonsumsi dan banyak menyajikan variasi menu

2,64 1,06345 Rendah 9. Saya membeli produk McDonald’s

karena harga yang relatif terjangkau 3,724 0,97345 Tinggi 10.

Saya membeli produk McDonald’s karena sesuai dengan gaya hidup saya yang praktis

2,288 0,97615 Rendah

11.

Saya membeli produk McDonald’s karena sudah memiliki merk atau brand image yang terkenal

3,224 0,87687 Cukup

12.

Saya membeli produk McDonald’s karena ingin memuaskan rasa penasaran saya akan promosi yang ditawarkan

2,924 1,09683 Cukup

13.

Saya membeli produk McDonald’s karena rasanya lebih enak daripada restoran cepat saji yang lain

3,54 1,06816 Cukup

14.

Saya membeli produk McDonald’s karena sudah mengetahui bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi

2,932 0,90479 Cukup

15.

Saya membeli produk McDonald’s karena saya sudah mempercayai kualitas makanan yang disajikan

3,652 0,99138 Tinggi

(10)

Berdasarkan tabel 4.13. menunjukkan bahwa dari 15 pernyataan dapat dikelompokan menjadi 2 faktor. Pernyataan 1 sampai 6 merupakan faktor eksternal dimana dalam preferensi konsumen lebih mengutamakan nilai – nilai yang diciptakan oleh restoran McDonald’s sehingga menjadi alasan konsumen dalam memilih restoran McDonald’s. Pernyataan 7 sampai 15 merupakan faktor internal, dimana pernyataan mengarah pada kesukaan/harapan konsumen pada umumnya, serta faktor yang muncul dalam diri seseorang yang mendorong untuk memilih restoran McDonald’s.

4.5. Analisa Faktor 4.5.1. Analisa Deskriptif

Analisa deskriptif merupakan prosedur awal yang perlu dilakukan dalam analisa faktor. Analisa ini dapat memberikan gambaran mengenai data yang dimiliki. Dalam analisa deskriptif dilakukan dua macam tes, yaitu KMO &

Barlett’s Test dan Anti Image Matrice. Tahap – tahap dalam analisa sebagai berikut :

1. Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) dan Barlettt’s Test

Tabel 4.14. Hasil perhitungan KMO dan Barlett’s Test KMO and Bartlett's Test

Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. 0,93 Bartlett's Test of Sphericity

Approx. Chi-Square 2,141E3

Df 105

Sig. ,000

Tabel 4.14 menunjukan besarnya Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) dan Barlett’s Test. Uji KMO yang nilainya antara 0 – 1 digunakan untuk memperoleh kesimpulan mengenai kelayakan uji analisa faktor. Apabila nilai KMO tinggi (berkisar 0,5 – 1) berarti analisa faktor layak untuk dilakukan dan sebaliknya jika nilai KMO rendah (di bawah 0,5) maka analisa faktor tidak layak untuk dilakukan. Dari hasil perhitungan KMO didapatkan nilai sebesar 0,93 sehingga proses analisa faktor layak untuk dilakukan.

Analisa Barlett’s Test of Sphericity digunakan untuk menunjukkan korelasi anta variabel secara keseluruhan. Dari data tabel di atas nilai Barlett’s

(11)

Test dengan tingkat signifikan 0,000 menunjukan bahwa tidak ada korelasi antar variabel sehingga analisa faktor dapat dilakukan.

2. Anti Image Matrice

Anti Image Matrice digunakan untuk melihat setiap variabel mana saja yang layak untuk digunakan sebagai analisa faktor. Berikut adalah tabel Anti Image Matrices.

Tabel 4.15. Hasil perhitungan Anti Image Matrice

No. Pernyataan Nilai

MSA 1. Saya membeli produk McDonald’s karena sudah terbiasa dengan

menu yang disediakan 0,929

2. Saya membeli produk McDonald’s karena lokasi restoran dekat

dengan tempat tinggal atau kantor 0,919

3. Saya membeli produk McDonald’s untuk konsumsi pribadi saya 0,925 4. Saya membeli produk McDonald’s karena rekomendasi dari teman

atau word of mouth (WOM) 0,948

5. Saya membeli produk McDonald’s karena keluarga saya mempercayai

rasa dan kualitasnya yang baik 0,934

6. Saya membeli produk McDonald’s karena fasilitas yang diberikan

(free wi-fi dan nonton bareng) 0,943

7. Saya membeli produk McDonald’s karena saya hobi makan makanan

cepat saji 0,952

8. Saya membeli produk McDonald’s karena mudah dikonsumsi dan

banyak menyajikan variasi menu 0,901

9. Saya membeli produk McDonald’s karena harga yang relatif

terjangkau 0,924

10. Saya membeli produk McDonald’s karena sesuai dengan gaya hidup

saya yang praktis 0,933

11. Saya membeli produk McDonald’s karena sudah memiliki merk atau

brand image yang terkenal 0,927

12. Saya membeli produk McDonald’s karena ingin memuaskan rasa

penasaran saya akan promosi yang ditawarkan 0,955 13. Saya membeli produk McDonald’s karena rasanya lebih enak daripada

restoran cepat saji yang lain 0,925

14. Saya membeli produk McDonald’s karena sudah mengetahui bahan

yang digunakan aman untuk dikonsumsi 0,920

15. Saya membeli produk McDonald’s karena banyak menyajikan variasi

menu yang berbeda 0,905

Tabel 4.15. menunjukkan besaran MSA (Measure of Sampling Adequancy) pada setiap variabel. Angka MSA (Measure of Sampling Adequancy) diperoleh dari Anti Image Matrices (Anti Image Correlation), khususnya pada angka korelasi yang bertanda ª (arah diagonal dari kiri atas ke kanan bawah). Suatu

(12)

variabel dapat dikatakan layak untuk dianalisa jika nilai MSA lebih besar dari 0,5.

Pada tabel di atas menunjukkan dari 15 variabel yang diteliti, nilai MSA semua variabel di atas 0,5 sehinga semua variabel dalam penelitian layak untuk dilakukan analisa faktor.

4.5.2. Ekstraksi

Ekstraksi merupakan metode untuk mereduksi data dari beberapa variabel menjadi beberapa faktor yang lebih sedikit. Melalui ekstraksi akan menghasilkan communalities, total variance, component matrix, rotated component matrix, dan component transformation matrix.

1. Communalities

Tabel 4.16. Hasil Communalities

No. Pernyataan Inisial Ekstraksi

1. Saya membeli produk McDonald’s karena sudah

terbiasa dengan menu yang disediakan 1,0 0,638 2. Saya membeli produk McDonald’s karena lokasi

restoran dekat dengan tempat tinggal atau kantor 1,0 0,606 3. Saya membeli produk McDonald’s untuk konsumsi

pribadi saya 1,0 0,405

4. Saya membeli produk McDonald’s karena rekomendasi

dari teman atau word of mouth (WOM) 1,0 0,53 5. Saya membeli produk McDonald’s karena keluarga

saya mempercayai rasa dan kualitasnya yang baik 1,0 0,544 6. Saya membeli produk McDonald’s karena fasilitas

yang diberikan (free wi-fi dan nonton bareng 1,0 0,557 7. Saya membeli produk McDonald’s karena saya hobi

makan makanan cepat saji 1,0 0,629

8. Saya membeli produk McDonald’s karena mudah

dikonsumsi dan banyak menyajikan variasi menu 1,0 0,708 9. Saya membeli produk McDonald’s karena harga yang

relatif terjangkau 1,0 0,484

10. Saya membeli produk McDonald’s karena sesuai

dengan gaya hidup saya yang praktis 1,0 0,62 11. Saya membeli produk McDonald’s karena sudah

memiliki merk atau brand image yang terkenal 1,0 0,645 12.

Saya membeli produk McDonald’s karena ingin memuaskan rasa penasaran saya akan promosi yang ditawarkan

1,0 0,534 13. Saya membeli produk McDonald’s karena rasanya

lebih enak daripada restoran cepat saji yang lain 1,0 0,695 14.

Saya membeli produk McDonald’s karena sudah mengetahui bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi

1,0 0,701 15. Saya membeli produk McDonald’s karena saya sudah

mempercayai kualitas makanan yang disajikan 1,0 0,664

(13)

Communalities digunakan untuk mengetahui seberapa erat hubungan pernyataan dengan faktor – faktor yang terbentuk. Semakin besar nilai communalities (lebih besar dari 0 atau mendekati 1) maka semakin erat hubungan variabel dengan faktor yang terbentuk.

2. Total Variance Explained

Tabel 4.17. Total Variance Explained

Com pone nt

Initial Eigenvalues Extraction Sums of Squared Loadings

Total % of Variance

Cumulative

% Total % of

Variance

Cumulative

%

1 7,505 50,035 50,035 7,505 50,035 50,035

2 1,498 9,986 60,021 1,498 9,986 60,021

3 0,852 5,68 65,701

4 0,768 5,123 70,824

5 0,676 4,507 75,331

6 0,583 3,885 79,216

7 0,502 3,35 82,566

8 0,47 3,135 85,701

9 0,398 2,654 88,356

10 0,366 2,438 90,794 11 0,342 2,282 93,076 12 0,302 2,015 95,091 13 0,274 1,827 96,919 14 0,253 1,689 98,608

15 0,209 1,392 100

Tabel 4.17. menunjukkan terdapat 2 faktor yang mendorong konsumen dalam memilih restoran McDonald’s di Surabaya, karena nilai eigenvalues di atas 1. Faktor yang memiliki nilai eigenvalues di atas 1 dipertahankan di dalam faktor, sedangkan yang memiliki nilai eigenvalues di bawah 1 tidak digunakan dalam menghitung jumlah faktor yang terbentuk. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa untuk 15 pernyataan terbentuk 2 faktor.

3. Component Matrix

Tabel 4.18. Component Matrixª Component

1 2

VAR01 0,694 -0,448

VAR02 0,636 -0,45

(14)

Tabel 4.18. Component Matrixª (sambungan)

VAR03 0,498 0,397

VAR04 0,712 -0,151

VAR05 0,728 0,117

VAR06 0,689 -0,288

VAR07 0,793 -0,013

VAR08 0,715 -0,444

VAR09 0,645 0,259

VAR10 0,748 -0,246

VAR11 0,779 0,194

VAR12 0,729 0,038

VAR13 0,736 0,391

VAR14 0,809 0,216

VAR15 0,64 0,505

Tabel 4.18. terdapat 2 faktor yang terbentuk, juga memuat koefisien faktor loading yang menjelaskan korelasi antar variabel dengan faktornya sehingga setiap pernyataan dapat digolongkan ke dalam faktor – faktor yang terbentuk.

Semakin besar nilai koefisien faktor loading maka semakin besar atau semakin kuat hubungan antara variabel dengan faktornya. Untuk mempertajam perbedaan faktor loading dan lebih memastikan penempatan setiap variabel ke dalam faktor maka perlu dilakukan metode rotasi.

4. Rotated Component Matrix

Tabel 4.19. Rotated Component Matrixª Component

1 2

VAR1 0,809

VAR2 0,768

VAR3 0,632

VAR4 0,612

VAR5 0,596

VAR6 0,691

VAR7 0,572

VAR8 0,82

VAR9 0,638

VAR10 0,704

VAR11 0,687

VAR12 0,54

VAR13 0,796

VAR14 0,723

VAR15 0,809

(15)

Tabel 4.19. menunjukkan koefisien faktor loading setiap variabel. Proses penentuan variabel mana yang akan masuk ke faktor tertentu dilakukan melalui perbandingan besarnya korelasi atau besarnya nilai faktor loading pada setiap baris. Dari 15 variabel yang diteliti, dapat direduksi menjadi 2 faktor.

Tabel 4.20. Pengelompokkan Pernyataan ke dalam Faktor

Pernyataan

Koefisien Faktor Loading

Komponen 1 (Faktor

Gaya Hidup)

Saya membeli produk McDonald’s karena sudah terbiasa

dengan menu yang disediakan 0,809

Saya membeli produk McDonald’s karena lokasi rcestoran

dekat dengan rumah atau tempat tinggal 0,768 Saya membeli produk McDonald’s karena rekomendasi

dari teman atau word of mouth (WOM) 0,612 Saya membeli produk McDonald’s karena fasilitas yang

diberikan (free wi-fi dan nonton bareng) 0,691 Saya membeli produk McDonald’s karena hobi makan

makanan cepat saji 0,572

Saya membeli produk McDonald’s karena mudah

dikonsumsi dan banyak menyajikan variasi menu 0,82 Saya membeli produk McDonald’s karena sesuai dengan

gaya hidup saya yang praktis 0,702

Komponen 2 (Faktor Emosional)

Saya membeli produk McDonald’s untuk konsumsi

pribadi saya 0,632

Saya membeli produk McDonald’s karena keluarga saya

mempercayai rasa dan kualitasnya yang baik 0,596 Saya membeli produk McDonald’s karena harga yang

relatif terjangkau 0,638

Saya membeli produk McDonald’s karena sudah memiliki

merk atau brand image yang terkenal 0,687 Saya membeli produk McDonald’s karena ingin

memuaskan rasa penasaran sya akan promosi yang ditawarkan

0,54 Saya membeli produk McDonald’s karena rasanya lebih

enak daripada restoran cepat saji yang lain 0,796 Saya membeli produk McDonald’s karena sudah

mengetahui bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi berbeda lain

0,723 Saya membeli produk McDonald’s karena saya sudah

mempercayai kualitas makanan yang disajikan 0,809

(16)

Tabel 4.20. menunjukkan pengelompokan pernyataan ke dalam faktor.

Komponen pertama dapat disebut dengan faktor gaya hidup atau life-style factor, karena dari pengelompokan pernyataan terdapat pernyataan yang berhubungan dengan gaya hidup, sebagai contoh adanya gaya hidup yang praktis, adanya free wi-fi, dimana masyarakat sekarang datang ke sebuah restoran tidak hanya untuk mencari menu khas dari restoran itu sendiri, tetapi juga untuk mencari wi-fi, selain itu karena sudah terbiasa dengan menu yang disajikan, serta adanya hobi makan makanan cepat saji yang merupakan perubahan pola gaya hidup masyarakat sekarang ini. Komponen kedua dapat disebut dengan faktor emosional atau emotional factor, karena terdapat pernyataan yang berhubungan dengan emosional seseorang, misalnya karena keluarga dan konsumen mempercayai kualitas makanan yang disajikan, selain itu karena memiliki merk atau brand image, dimana merk atau brand image tersebut sudah tertanan di dalam pribadi konsumen, sehingga mendorong konsumen untuk memilih restoran McDonald’s di Surabaya. Pernyataan karena ingin memuaskan rasa penasaran akan promosi yang ditawarkan dan harga yang relatif terjangkau juga dapat mempengaruhi emosional seseorang.

5. Component Transformation Matrix

Tabel 4.21. Component Transformation Matrix Component Transformation Matrix

Component 1 2

1 0,71 0,704

2 -0,704 0,71

Baik faktor gaya hidup maupun faktor emosional memiliki korelasi sebesar 0,71 yang artinya cukup kuat karena 0,71 > 0,5. Dengan demikian faktor gaya hidup maupun faktor emosional dapat dikatakan tepat untuk merangkum 15 variabel independen.

4.6. Open – Ended Question

Dari kuesioner yang telah disebarkan kepada 250 responden, ada 90 orang yang menuliskan kritik dan sarannya. Dan rekapitulasi kritik dan sarannya sebagai berikut :

(17)

1. Ada ayam yang belum matang, dan juga masih berdarah.

2. Kentang tidak renyah atau lembek.

3. Menu paket anak-anak diperbanyak variasinya.

4. Kamar mandi kotor dan berbau.

5. Karyawan McDonald’s tidak ramah dan berbincang sendiri.

6. Ada tulang di nugget ayamnya.

7. Perbanyak paket keluarga.

8. Paket delivery service datangnya lama dan ada produk yang tertinggal.

9. Air wastafel terlalu kecil.

10. Paket drive through saos tertinggal.

11. Fasilitas wifi tidak terhubung.

4.7. Pembahasan

Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang mendorong konsumen dalam memilih restoran McDonald’s yaitu faktor eksternal dan faktor internal.

Pada hasil penelitian, kuesioner yang digunakan sudah valid dan reliabel, sesuai dengan hasil penelitian yang ditunjukkan pada Tabel 4.1. - Tabel 4.2. Dengan demikian, maka peneliti dapat melakukan penelitian selanjutnya.

Berdasarkan penelitian mengenai deskripsi profil responden pada Tabel 4.3., didapatkan konsumen pria sebanyak 52,8% dan 47,2% wanita. Dengan hasil ini, menunjukan bahwa jumlah rasio konsumen didominasi oleh pelanggan pria.

Menurut hasil yang didapat oleh peneliti pada Tabel 4.4. setelah melakukan penelitian, konsumen McDonald’s rata-rata berusia 15 – 25 tahun dengan mayoritas anak muda. Hasil dari klasifikasi usia ini sesuai dengan pernyataan Kotler dan Amstrong (2006) yang menyatakan bahwa pemilihan rasa makanan, pakaian, perabotan dan rekreasi biasanya berhubungan dengan usia. Pembelian juga dibentuk oleh tahapan dalam hidup. Produsen biasanya mengembangkan produk dan rencana pemasaran yang sesuai dengan tahapan hidup. Pada Tabel 4.5.

menunjukkan pendidikan terakhir konsumen, mayoritas konsumen berpendidikan setara S1/S2/S3 sebanyak 48%. Status pernikahan konsumen dapat dilihat dari Tabel 4.6. kebanyakan konsumen sudah menikah dengan persentase 55,2%.

Apabila dilihat dari pekerjaan seperti pada Tabel 4.7., maka konsumen yang

(18)

memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta memiliki persentase yang cukup besar yaitu 34,4% di ikuti dengan ibu rumah tangga sebesar 17,6% dan wiraswasta sebanyak 17,2%. Sedangkan dari segi pendapatan dapat dilihat dari Tabel 4.8., pendapatan dengan mayoritas terbanyak adalah dengan pendapatan sebesar lebih dari Rp 5.500.000 sebanyak 36,8%. Ukuran keluarga konsumen yang mengunjungi McDonald’s dapat dilihat pada Tabel 4.9., ukuran keluarga paling besar didominasi oleh sebanyak 3 – 4 orang yang tinggal dalam satu rumah sebanyak 61,6%. Untuk klasifikasi orang yang menemani konsumen dapat dilihat di Tabel 4.10., konsumen kebanyakan ditemani oleh keluarga yaitu sebanyak 54%

dan diikuti oleh teman atau pacar yaitu sebanyak 31,2%. Pada Tabel 4.11.

menunjukkan jumlah orang yang menemani konsumen pada saat makan di McDonald’s, posisi teratas jumlah orang yang menemani konsumen adalah 3 – 5 orang dengan persentase sebanyak 62%. Tabel 4.12. menunjukkan alasan – alasan konsumen memilih McDonald’s. Alasan yang mendapatkan persentase tertinggi adalah makan bersama keluarga dengan persentase sebesar 33,6% yang sesuai dengan pernyataan Kotler dan Amstrong (2006) dimana keluarga adalah konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Anggota keluarga dengan kuat dapat mempengaruhi perilaku pembelian. Banyak konsumen tertarik untuk mempengaruhi suami, istri, dan anak – anak dalam pembelian berbagai macam produk dan jasa, diikuti dengan mencari menu khas sebesar 22,4%, dan makan bersama teman dengan 17,6%.

Kemudian dari hasil mean yang tertera pada Tabel 4.13. menunjukkan bahwa dalam faktor eksternal, pernyataan “lokasi restoran dekat dengan tempat tinggal atau kantor” memiliki nilai cukup tinggi, yaitu sebesar 3,628, dikarenakan penyebaran McDonald’s di Surabaya sudah menyebar ke segala wilayah yang berada di Surabaya sehingga konsumen menjadikan lokasi sebagai prioritas utama. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Walker dan Lundberg (2005), yang menyatakan bahwa penetapan strategi pada bisnis restoran harus dapat menyesuaikan lokasi, menu, suasana, dan pengaturan dengan karakteristik dan keinginan pengunjung, dimana dalam hasil ini, lokasi berperan penting.

Sedangkan pernyataan orang yang membeli McDonald’s karena “rekomendasi dari teman atau word of mouth (WOM)” mendapat nilai terendah sebesar 2,54, hal

(19)

ini dikarenakan brand McDonald’s sudah dikenal sehingga konsumen memilih McDonald’s bukan karena rekomendasi dari orang lain, melainkan karena konsumen sudah tahu dan yakin akan produk dan kualitas McDonald’s.

Sedangkan dalam faktor internal, pernyataan “harga yang relatif terjangkau”

mendapat nilai tertinggi yaitu 3,724, dikarenakan konsumen lebih memilih restoran dengan harga yang relatif terjangkau, selain itu porsi yang disajikan cukup besar sehingga konsumen merasa harga yang ditawarkan sesuai dengan porsi yang disajikan. Pernyataan tersebut sesuai dengan teori dari Kotler dan Amstrong (2006), dimana situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pemilihan produk yang akan dibeli. Jika indikator ekonomi mengalami kemunduran, produsen mengambil langkah untuk mendesain ulang, mengubah posisi dan memperbaharui harga jualnya. Nilai terendah terdapat pada pernyataan orang yang membeli McDonald’s karena “sesuai dengan gaya hidup yang praktis” sebesar 2,288, dikarenakan terjadinya pergeseran paradigma konsumen lebih mencari makanan yang sehat dari pada yang instan karena sudah banyak isu- isu yang memberitakan akan adanya bahan kimia yang terkandung dalam makanan instan atau cepat saji.

Dari Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) dan Barlettt’s Test yang ada pada Tabel 4.14., menunjukkan hasil bahwa uji KMO yang nilainya antara 0 – 1 digunakan untuk memperoleh kesimpulan mengenai kelayakan uji analisa faktor. Apabila nilai KMO tinggi (berkisar 0,5 – 1) berarti analisa faktor layak untuk dilakukan dan sebaliknya jika nilai KMO rendah (di bawah 0,5) maka analisa faktor tidak layak untuk dilakukan. Dari hasil perhitungan KMO didapatkan nilai sebesar 0,93, sehingga proses analisa faktor layak untuk dilakukan. Dari data tabel 4.14. nilai Barlett’s Test dengan tingkat signifikan 0,000 menunjukan bahwa tidak ada korelasi antar variabel sehingga analisa faktor dapat dilakukan.

Selain itu, hasil dari Anti Image Matrice yang dapat dilihat pada Tabel 4.15., menunjukkan bahwa besaran MSA (Measure of Sampling Adequancy) pada setiap variabel. Angka MSA (Measure of Sampling Adequancy) diperoleh dari angka korelasi yang bertanda ª (arah diagonal dari kiri atas ke kanan bawah).

Suatu variabel dapat dikatakan layak untuk dianalisa jika nilai MSA lebih besar

(20)

dari 0,5. Pada tabel 4.15. menunjukkan bahwa dari 15 variabel yang diteliti, nilai MSA di atas 0,5 sehinga layak untuk dilakukan analisa faktor.

Kemudian pada Tabel 4.16. yang menunukkan hasil dari communalities yang digunakan untuk mengetahui seberapa erat hubungan pernyataan dengan faktor – faktor yang terbentuk. Semakin besar nilai communalities (lebih besar dari 0 atau mendekati 1) maka semakin erat hubungan variabel dengan faktor yang terbentuk. Pada tabel 4.16. diketahui bahwa seluruh pernyataan memiliki hubungan dengan faktor – faktor yang terbentuk namun keeratan hubungannya bervariasi. Dari seluruh pernyataan, pernyataan yang memiliki hubungan paling erat dengan faktor – faktor yang terbentuk adalah “mudah dikonsumsi dan banyak menyajikan variasi menu” dengan nilai communalities sebesar 0,708 sedangkan pernyataan yang hubungan keeratannya paling rendah adalah “untuk konsumsi pribadi saya” dengan nilai communalities sebesar 0,405.

Lalu pada Tabel 4.17., terdapat hasil dari Total Variance Explained, berdasarkan hasil yang diperoleh dari kuesioner, menunjukkan terdapat 2 faktor yang mendorong konsumen dalam memilih restoran McDonald’s di Surabaya karena nilai eigenvalues di atas 1. Faktor yang memiliki nilai eigenvalues di atas 1 dipertahankan di dalam faktor. Nilai Eigen di bawah 1 tidak digunakan dalam menghitung jumlah faktor yang terbentuk. Dari tabel 4.17. dapat dilihat bahwa untuk 15 pernyataan hanya 2 faktor saja yang terbentuk, karena nilai eigenvalues yang berada di atas 1 hanya terdapat pada 2 faktor yang terbentuk, yang dapat dilihat pada lampiran 11. Faktor pertama memiliki nilai varians sebesar 50,035%

mengindikasikan bahwa faktor pertama memberikan kontribusi sebesar 50,035%

terhadap faktor – faktor yang mendorong konsumen dalam memilih restoran McDonald’s di Surabaya. Faktor kedua memiliki nilai varians sebesar 9,986%

mengindikasikan bahwa faktor kedua memberikan kontribusi sebesar 9,986%

terhadap faktor – faktor yang mendorong konsumen dalam memilih restoran McDonald’s di Surabaya.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari kuesioner, dapat dilihat pada Tabel 4.18. menunjukkan hasil tentang Component Matrixa, dimana terdapat 2 faktor yang terbentuk. Dalam tabel juga memuat koefisien faktor loading yang menjelaskan korelasi antar variabel dengan faktornya sehingga setiap pernyataan

(21)

dapat digolongkan ke dalam faktor – faktor yang terbentuk. Semakin besar nilai koefisien faktor loading maka semakin besar atau semakin kuat hubungan antara variabel dengan faktornya. Untuk mempertajam perbedaan faktor loading setiap variabel serta untuk lebih memastikan penempatan masing – masing variabel ke dalam faktor maka perlu dilakukan metode rotasi.

Lalu pada Tabel 4.19., menjabarkan tentang koefisien faktor loading setiap variabel. Proses penentuan variabel mana yang akan masuk ke faktor tertentu dilakukan melalui perbandingan besarnya korelasi atau besarnya nilai faktor loading pada setiap baris. Nilai faktor loading yang dapat mewakili faktor – faktor lainnya. 15 variabel yang diteliti, dapat direduksi menjadi 2 faktor. Penempatan pernyataan – pernyataan ke dalam faktor adalah dengan mengambil nilai koefisien faktor loading yang lebih besar dari 0,5. Lalu dengan penempatan tersebut, terbentuk 2 komponen, komponen pertama adalah :

1. Saya membeli produk McDonald’s karena sudah terbiasa dengan menu yang disediakan.

2. Saya membeli produk McDonald’s karena lokasi restoran dekat dengan tempat tinggal atau kantor.

3. Saya membeli produk McDonald’s karena rekomendasi dari teman atau word of mouth (WOM).

4. Saya membeli produk McDonald’s karena fasilitas yang diberikan (free wi-fi) dan nonton bareng.

5. Saya membeli produk McDonald’s karena saya hobi makan makanan cepat saji.

6. Saya membeli produk McDonald’s karena mudah dikonsumsi dan banyak menyajikan variasi menu.

7. Saya membeli produk McDonald’s karena sesuai dengan gaya hidup saya yang praktis.

Komponen kedua adalah :

1. Saya membeli produk McDonald’s untuk konsumsi pribadi saya.

2. Saya membeli produk McDonald’s karena keluarga saya mempercayai rasa dan kualitasnya yang baik.

3. Saya membeli produk McDonald’s karena harga yang relatif terjangkau.

(22)

4. Saya membeli produk McDonald’s karena sudah memiliki merk atau brand image yang terkenal.

5. Saya membeli produk McDonald’s karena ingin memuaskan rasa penasaran saya akan promosi yang ditawarkan.

6. Saya membeli produk McDonald’s karena rasanya lebih enak daripada restoran cepat saji yang lain.

7. Saya membeli produk McDonald’s karena sudah mengetahui bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi.

8. Saya membeli produk McDonald’s karena banyak menyajikan variasi menu yang berbeda.

Tabel 4.22. Nilai Mean Faktor Baru

Pernyataan Total

Mean Mean Ketera ngan

Faktor Gaya Hidup

Saya membeli produk McDonald’s karena sudah terbiasa dengan menu yang disediakan

2,9531

3,356 Cukup Saya membeli produk McDonald’s karena

lokasi restoran dekat dengan tempat tinggal atau kantor

3,628 Tinggi Saya membeli produk McDonald’s karena

rekomendasi dari teman atau word of mouth (WOM)

2,54 Rendah Saya membeli produk McDonald’s karena

fasilitas yang diberikan (free wi-fi) dan nonton bareng

2,928 Cukup Saya membeli produk McDonald’s karena

saya hobi makan makanan cepat saji 3,292 Cukup Saya membeli produk McDonald’s karena

mudah dikonsumsi dan banyak menyajikan variasi menu

2,64 Rendah Saya membeli produk McDonald’s karena

sesuai dengan gaya hidup saya yang praktis 2,288 Rendah

Faktor Emosio nal

Saya membeli produk McDonald’s untuk konsumsi pribadi saya

3,3335

3,588 Cukup Saya membeli produk McDonald’s karena

keluarga saya mempercayai rasa dan kualitasnya yang baik

3,084 Cukup Saya membeli produk McDonald’s karena

harga yang relatif terjangkau 3,724 Tinggi Saya membeli produk McDonald’s karena

sudah memiliki merk atau brand image yang terkenal

3,224 Cukup

(23)

Tabel 4.22. Nilai Mean Faktor Baru (sambungan)

Faktor Emosio nal

Saya membeli produk McDonald’s karena ingin memuaskan rasa penasaran saya akan promosi yang ditawarkan

2,924 Cukup Saya membeli produk McDonald’s karena

rasanya lebih enak daripada restoran cepat saji yang lain

3,54 Cukup Saya membeli produk McDonald’s karena

sudah mengetahui bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi

2,932 Cukup Saya membeli produk McDonald’s karena

saya sudah mempercayai kualitas makanan yang disajikan

3,652 Tinggi

Faktor gaya hidup memiliki nilai mean tinggi pada pernyataan ”lokasi restoran dekat dengan tempat tinggal atau kantor”. Hal ini dapat diartikan bahwa gaya hidup konsumen McDonald’s di Surabaya sangat bergantung pada lokasi suatu restoran, sebab semakin mudah seseorang untuk menjangkau suatu restoran, maka semakin sering seseorang untuk berkunjung kembali ke restoran tersebut, sehingga akan semakin terbiasa dengan menu – menu yang ada dan akan mengubah kebiasaan seseorang, serta dengan didorong oleh fasilitas – fasilitas yang memadai seperti wi-fi dan nonton bareng, maka seseorang akan semakin hobi untuk makan dan berkunjung. Sedangkan faktor emosional memiliki nilai mean tinggi pada pernyataan “harga yang relatif terjangkau” dan “sudah mempercayai kualitas yang ada”. Hal ini dapat diartikan bahwa harga dan kepercayaan kualitas dapat mendorong emosi seseorang untuk membeli atau mengkonsumsi sesuatu. Semakin harga yang ditawarkan sesuai dengan ekspektasi kualitas yang diinginkan seseorang, serta dengan porsi yang sesuai, maka hal tersebut sangat mendorong emosi seseorang untuk mengkonsumsi sesuatu. Selain itu, adanya kepercayaan dari keluarga atas kualitas yang diberikan, restoran yang sudah memiliki nama yang terkenal, adanya ketertarikan atas promosi yang ditawarkan, dan pengetahuan yang cukup atas bahan yang digunakan juga dapat mendorong emosi seseorang dalam mengkonsumsi sesuatu. Dari dua faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa faktor emosional lebih mendorong konsumen dalam memilih restoran McDonald’s di Surabaya, hal ini dikarenakan brand McDonald’s sudah dikenal sehingga konsumen memilih McDonald’s bukan

(24)

karena rekomendasi dari orang lain, melainkan karena konsumen sudah tahu dan yakin akan produk dan kualitas McDonald’s.

Pada Tabel 4.21. menunjukkan tentang Component Transformation Matrix. hasil korelasi faktor gaya hidup maupun faktor emosional memiliki korelasi sebesar 0,71 yang artinya cukup kuat karena 0,71 > 0,5. Dengan demikian faktor gaya hidup maupun faktor emosional dapat dikatakan tepat untuk merangkum 15 variabel independen..

Berdasarkan open – ended question dapat dilihat bahwa banyak yang memberikan kritik, baik mengenai kualitas produk, fasilitas, maupun layanan yang diberikan oleh restoran McDonald’s di Surabaya. Kritik mengenai kualitas produk misalnya ayam yang belum matang dan masih berdarah, kentang tidak renyah, dan ada tulang pada nugget ayam. Sebaiknya pihak McDonald’s lebih memperhatikan pengolahan produknya pada saat persiapan dan pengolahan, dengan lebih memperhatikan suhu atau temperature minyak yang akan digunakan untuk menggoreng produknya. Selain itu, juga memastikan bahwa makanan yang akan disajikan kepada konsumen sudah layak untuk diberikan, dengan cara mengikuti standar menu yang sudah ada, sehingga dapat menjadi panduan kepada restoran agar makanan dapat dinilai layak untuk dikonsumsi. Selanjutnya, ada kritik mengenai kamar mandi yang bau dan kotor, air wastafel yang terlalu kecil, dan wi-fi yang tidak dapat terhubung. Seharusnya pihak McDonald’s lebih melakukan maintenance atau pemeliharan terhadap fasilitas yang diberikan kepada konsumen. Selain itu ada kritik mengenai layanan delivery service dan drive through yang lama dan produk yang tertinggal. Sebaiknya pihak McDonald’s di Surabaya melakukan dua kali pengecekan (double check) sebelum mengantarkan atau memberikan paket pesanan konsumen. Untuk kritik mengenai karyawan McDonald’s di Surabaya yang tidak ramah dan berbincang sendiri saat bekerja, sebaiknya manajemen McDonald’s lebih memperhatikan dan mengingatkan karyawannya agar lebih ramah dalam melayani konsumen dan tidak terlalu banyak berbincang sendiri. Selain itu adanya saran mengenai penambahan variasi menu untuk anak – anak dan paket keluarga. Hal ini patut untuk dipertimbangkan oleh manajemen McDonald’s, mengingat banyak konsumen yang menuliskan saran seperti ini.

Gambar

Tabel 4.1. Uji Validitas Analisa Faktor yang Mendorong Konsumen   dalam Memilih Restoran McDonald's di Surabaya
Tabel 4.1. Uji Validitas Analisa Faktor yang Mendorong Konsumen   dalam Memilih Restoran McDonald's di Surabaya (sambungan)
Tabel 4.3. Klasifikasi Jenis Kelamin Responden
Tabel 4.7. Klasifikasi Pekerjaan Responden
+7

Referensi

Dokumen terkait

Simpulan penelitian pengembangan ini adalah (1) Dihasilkan modul pembelajaran fisika dengan strategi inkuiri terbimbing pada materi fluida statis yang tervalidasi; (2)

skor penilaian yang diperoleh dengan menggunakan tafsiran Suyanto dan Sartinem (2009: 227). Pengkonversian skor menjadi pernyataan penilaian ini da- pat dilihat

Keputusan pengukuran kepekatan aktiviti tiga radionuklid daripada empat kategori makanan dapat dibandingkan dengan nilai keputusan yang diperoleh oleh penyelidik lain (di dalam

Hasil analisis Chi-Square menunjukkan hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan tingkat kecemasan primigravida pada trimester ketiga dalam

Penelitian ini merupakan penelitian survey yang bersifat Survey Analitik dengan pendekatan Cross Sectional survey, dimana variabel bebas dan terikat diteliti pada saat

Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan analisis deskriftif dan regresi yang dilakukan untuk melihat pengaruh inflasi dan suku bunga terhadap Indeks Harga Saham Gabungan

Sebagaimana disebutkan dalam jurnal dimaksud, beberapa penulis berpendapat bahwa risiko yang ditimbulkan ke sistem keuangan oleh bank-bank syariah berbeda dalam

Vaginitis karena kandida selalu disertai oleh vulvovaginitis. Hal ini disebabkan terjadi kontak langsung dari sekret-sekret vagina yang mengalami infeksi sehingga daerah