BAB I
PENDAH ULUAN
1. Latar Belakang
Laut Cina Selatan m erupa kan sengketa laut yang m enjadi priorita s utam a negara -negara dikawasa n Asia Tenggara dan Association of South East Asia Na tions (ASE AN) saat ini. Sengketa ini dianggap sangat m engancam stabilitas kem anan, politik, da n ekonom i kawasan dan konse kuensi ekonom i m enjadi yang utam a dim ana potensi sum ber da ya alam dan keberlangsungan transportasi perdaga ngan dilaut ini m enjadi fokus ke pentingan ne gara -negara sengketa.1 Pada kenyataannya, kepentinga n negara-negara sengke ta yaitu Cina, Filipina, Vietnam , Brunei Darussalam , dan M alaysia telah m em bawa konflik ini pada kem ungkinan perang terbuka, wa laupun upaya penyelesaia n sengketa m elalui dialog konstruktif dan perja njia n dam ai telah diupayakan m elalui jalur m ultilateral.2
Pada dasarnya, upaya penyelesaian se ngke ta, khususnya pada leve l regiona l m elalui ASEAN, tela h dilaksana kan se jak tahun 1992. ASEAN Declaration on South China Sea1992 m enjadi dokum en dan resolusi pertam a yang disahkan ole h negara -negara ASEAN tepa tnya pada tanggal 22 Juli 1992 dalam upaya penye lesaian sengketa laut regional ini .3 Hingga saat ini, suda h ada dua deklarasi dibawa h otoritas ASEAN dan beberapa kali pertem ua n tingkat kem enterian dan presiden se jak tahun 1992 dilaksana kan untuk m encapai kese pakatan antara negara sengketa, khususnya dalam m enyam akan basis hukum yaitu U nite d Nations Convention on the Law of the Sea dalam m elihat penentuan batas w ilayah kedaulaan di Laut Cina Selatan . Nam un, sengketa Laut Cina Selatan ini tidak kunjung m em berikan progres atau perkem bangan yang signifikan dan ha l ini m enja dika n Laut Cina Selatan se bagai sengketa a ntar negara dikawasan Asia tenggara yang paling lam a proses penyeles a iannya. Dalam hal ini ne gara-negara sengketa, term asuk Filipina m enunggu segala kesepa katan khususnya yang m am pu m em berikan keuntungan bagi pe nentua n kedaula tan laut ya ng atas klaim m asing-m asing.
1
R.A. Cossa, Security Implications of Conflict in the South China Sea: Exploring Potential Triggers of Conflict , A Pacific Forum CSIS Special Report, Honolulu, 1998, p. 7.
2
R.A. Cossa, Security Implications of Conflict in the South China Sea: Exploring Potential Triggers of Conflict , A Pacific Forum CSIS Special Report, Honolulu, 1998, p. 7.
3
ASEAN Declaration on South China Sea, ASEAN Economic Bulletin Vol. 9 No. 2, November 1992, p. 240 -241.
Signifikansi deklarasi dan pertem uan berkaitan dengan seng keta La ut Cina Selatan dibawah ASE AN m enjadi fokus utam a Filipina saat ini dalam rangka m eraih kedua latan atas Scarborough Schoal dan W est Philippines Sea. Pasalnya, upaya negara-negara ASEAN dianggap tidak m enekan kuatnya kepentingan negara -negara sengeke ta. Apalagi, resolusi ASEAN da lam bentuk deklarasi tersebut pada tahun 1992 dan 2002 bersifat tidak m engikat (non-legally binding), sehingga tidak m em berikan tekananan aka n kepatuhan negara sengketa terhadap ke sepakatan perdam aian ini. Presiden Filipina Be nigno S. Aquino III, pada pertem uan ke-20 ASEAN Sum m it 2012 di Kam boja, m enyatakan bahwa ASEA N perlu m em berikan perkem banga n nya ta dan signifikan dalam sengketa ini, khususnya dapat m enetapkan sebuah dokum en yang bersifat m engikat sem acam Code of Conduct.4 Hal ini diperlukan untuk m engkonstruksi m ekanism e atau ketentuan dalam penye lesaian sengketa dan se gregasi wilayah sengketa dan tida k berse ngke ta. Dengan kata lain, Filipina m enuntut ASEAN untuk m am pu m enentukan kedaulatan dan integritas wilayah dalam rangka m em proteksi keam anan nasiona lnya, walaupun faktanya m asih terdapat am biguitas dan perbedaan dalam penggunaan basis fundam ental penentuan w ilayah se ngketa terse but.5
Ironinya, draft communiqué yang m enjadi landasan Code of Conduct terka it sengketa Laut Cina Sela tan ini tidak berhasil ditetapka n ketika negara -negara ASEA N tidak m encapai konse nsus saat pertem uan AS EAN M inisterial M eeting 2012 di Phnom Penh, Kam boja .6 Kegagalan ini m enjadi sejarah terburuk AS EAN, dim ana untuk pertam a ka linya sejak 1967 negara-negara ASEAN tida k m encapai konse nsus. Apalagi, hal ini berkaitan de ngan penentua n m asa depan keam anan regional A sia Tenggara atas sengketa Laut Cina Selatan tersebut. M enurunnya kreditibila s ASEAN akibat tidak tercapainya konsensus ini, terindika si disebabkan ole h adanya pengaruh kuat Cina terhada p Kam boja sebaga i Chair ASEAN pada saat itu.7
Pada dasarnya, pengaruh Cina dalam sengketa di Laut Cina Selatan sanga tlah besar sejak negara ini m endeklarasikan klaim ata s gugusan pulau dan peraian Spra tly dan Paracel
4President Aquino’s Statement on the Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea, The
Official Gazzete of The Republic of Philippines (online), 4 April 2012,
<http://www.gov.ph/2012/0 4/04/p residentaquinosstate menton thedecla rationo nthe conducto fpa rtiesin -the-south-china -sea-april-4-201 2/>, diakses 20 September 2014.
5
DaojiongZha, Alternatives: Global, Local, Po litical, Vol. 26 No. 1, Sage Publication Inc, 2001, p. 22.
6
NirmalGhosh, ASEAN Forum Fails to Reach Accord , The Jakarta Post (online), 14 Juli 2012,
<http://www.thejakartapost.com/news/2012/07/14/asean -forum -fails-reach-accord.html>, diakses 20 September 2014.
7
NirmalGhosh, ASEAN Forum Fails to Reach Accord , The Jakarta Post (online), 14 Juli 2012,
<http://www.thejakartapost.com/news/2012/07/14/asean -forum -fails-reach-accord.html>, diakses 20 September 2014.
pada tahun 1911.8 Perkem bangan dan kem ajuan ekonom i Cina ini, m endorongnya m enjadi sem akin percaya diri untuk m enunjukkan kekuatanya agar dapat berhasil m encapai kepentingannya di La ut Cina Selatan. Tidak tanggung-tanggung, Cina sangat berani da lam m elakukan be berapa aktivitas yang dipertim ba ngkan sebaga i aksi provokatif m isa lnya m elakukan agresi di M isc hief Reef pada tahun 19959 dan m erusak ship survey di Reed Bank pada tahun 2011.10 Kegiatan provokatif yang dilakukan Cina ini, secara keras ditentang oleh negara-negara ASEAN khususnya Filipina sebaga i salah sa tu negara sengketa yang m enjadi korban tindakan provokatif dan ilegal ole h Cina ini.11 Tidak hanya itu, pada akhirnya Cina dianggap tidak m engharga i sekum pulan kesepakata n perdam aiannya dengan ne gara -negara ASEAN dalam ASEAN China Declaration on Conduct of Parties in South China Sea 2002 yang dita ndatangani pada ASEAN Sum m it ke -8, N ovem ber 2002 di Phnom Penh, Kam boja.12
M eningka tnya kekuatan Cina ini, ternyata m em berikan ancam an terhadap ASEAN dan negara-negara sengketa yang saling berkonflik kepentingan denga n Cina di Laut Cina Selatan. Seperti yang dijelaskan sebelum nya, bahwa Cina tela h berani m elakuka n agresi atau serangan secara langsung terhadap ne gara sengke ta lainnya. M elihat secara konstitusional, perilaku C ina tela h m elanggar ke sepakatan da m ai m ultila teral antara Cina de ngan ne gara-negara ASEAN da lam beberapa deklarasi terkait sengketa Laut Cina Sela tan dia tas. Nam un disisi lain, hal ini m enjadi sebuah konsekuensi tidak m engikatnya perja njia n atau deklarasi sebelum nya. W alaupun begitu, Filipina dan ne gara sengketa lainnya m engutuk aksi provokatif Cina ini. Pada akhirnya, secara tega s Filipina m erespon ini de ngan m engem bangkan strategi baru da lam kebijaka n keam anan nasionalnya.
Sebagai negara yang sudah terikat terha dap perja njia n pertahana n dengan Am erika Serikat, Filip ina m erasa perlu untuk m enghim pun ke kuatan ya ng lebih be sar m elalui perjanjia n-perjanjian keam anan lain sekaligus m em inta bantua n keam anan dengan Am erika Serikat. Mutual De fense T reaty a ntara Filipina dan Am erika Serikat yang ditandatangani kedua negara pada tahun 1951, m enjadi dasar dari terbentuknya penguatan a liansi keam anan
8
Rodolfo C. Severino, ASEAN and the South China Sea, Vol. 6 No. 2, 2010, p. 37-47.
9
JojoM alig, China’s Invasion Is Armed Aggression, abs-cbsnres.com (online), 6 Juni 2014, < http://www.abs-cbnnews.com/focus/06/06/14/carpio -chinas-invasion-armed-agg ression>, diakses 28 September 2014.
10
Bonnie S. Glasser, Tensions Flare in the South China Sea, Center For Strategic and International Studies, 30 Juni 2011, p. 3.
11
Gregory B. Polling, M anila Begins Legal Proceedings over South China Sea Claims, Center for Strategic and Internatio nal Studies (online), 24 Januari 2013, < http://csis.org/publication/man ila -begins -legal-p roceedings-over-south-ch ina-sea-claims>, diaksespada 20 September 2014.
12
yang sala h satunya difokuskan pada sengketa di Laut Cina Selatan . Pada awalnya, Am erika Serikat tidak m em berikan respon positif terhadap perm intaan Filipina untuk m em berikan dukungan nya dalam upaya Filipina m enghadapi ancam an Cina. Pada tahun 1995, AS belum bersedia dalam m em bantu Filipina .13 Hal ini dianggap AS sebagai sebuah pem etaan kerjasam a diluar dari M utual Defense Treaty 1951 ba hwa Am erika Serikat bersedia dan berkewajiba n untuk m em berikan sega la bantuan keam anan untuk m enjaga wilayah kedaulata n Filipina. M enurut AS, Laut Cina Se latan belum m enja di keputusan wilayah Filipina. Kebijakan AS ini akhirnya berba lik arah ketika Cina m elakukan se buah aksi provokatif dan asertif di Laut Cina Selatan, berupa Impiccable Incident pada tahun 2009.14
Pada akhirnya, 16 Novem ber 2011, M enteri L uar Negeri A lbert de l Rosario dan Clinton se bagai perwakila n dari Am erika Serikat m enandatangani De klarasi M anila se bagai strategi baru aliansi keam anan kedua ne gara dan seka ligus m em peringati 60 tahun M DT 1951.15 M elalui Deklarasai M anila, AS m em berikan bantuan m iliter secara langsun g untuk m eningka tkan kapa bilitas m iliter Filipina se perti adanya joint m ilitary exercise, penem patan kapal perang AS dipangkalan m iliter Filipina, dan m em beli dan m enyewa kapal dan pesawat perang AS. Kegiatan m iliter ini dilakukan Filipina dalam rangka m erespon agresi Cina pada tahun 2011 dan m em persiapkan agresi dan aksi provokatif Cina dim asa depan yang dapat m erugikan Filipina ata s wilayah kedulatannya di Laut Cina Selatan. Da lam perkem bangannya, pada tahun 2014, Filipina dan AS m enandata ngani Enhanced De fense Cooperation Agreement seba gai persetujua n kerjasam a yang le bih kom perhensif antara kedua negara16.
Dinam ika politik internasional dalam sengke ta di Laut Cina Selatan m enjadi se buah studi kasus yang sa ngat m enarik untuk m elihat ke bija kan lu ar negeri Filipina dalam m erespon kebija kan Cina terkait w ilayah se ngketa. Sem akin m eningkatnya kekuatan Cina, m endorong Filipina dan beberapa negara sengketa untuk m erancang sebuah strategi keam anan da lam rangka m em pertahankan klaim dan kepentingan nasion a lnya. Kebijakan dan stra tegi keam anan Filipina dalam Sengketa di Laut Cina Selatan, khususnya m elalui alia nsi keam anan
13
Ralf Emmers, The US Rebalancing Strategy: Impact on the South China Sea , National Security College, p. 42.
14
Ralf Emmers, The US Rebalancing Strategy: Impact on the South China Sea , National Security College, p. 42.
15
Thomas Lum, TheRepbulic of The Philippines and The US Interests , Congressional Research Service, 5 April 2012, p. 27.
16
Carl Thayer, Analyzing the US-Philippines Enhanced Defense Cooperation Agreement, The Diplomact (online), < http://thed iplomat.com/2 014/05/analyzing -the -us-philippines-enhanced-de fense-cooperatio n-agreement/> , diakses 19 Oktober 2014.
dengan AS akan m enjadi fokus utam a m akalah ini. Secara lebih rinci, m akalah ini juga akan m engulas baga im ana kebijakan ini m enjadi pilihan da lam m erespon ancam an Cina tersebut di Laut Cina Selatan. Terdapa t pula beberapa fakta m enarik dan perspektif berbeda yang akan dibahas dan dia nalisis da lam m akalah ini. O leh karena itu, penulis berharap pene litian da lam m akalah ini akan m em berika n pandangan baru terhada p diskursus se ngketa Laut Cina Selatan, khususnya kebijakan keam anan Filipina dan form ulasi pe nguata n aliansi keam anannya dengan Am erika Serika t.
2. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan uraian latar be lakang di ata s, penulis m enga jukan pertanyaan yaitu:
“Mengapa penguatan aliansi keam anan dengan Amerika Serikat menjadi pilihan kebijakan Filipina dalam sengketa di Laut Cina Selatan?”
3. Landasan K onseptual
Untuk m enjawab pertanyaan pene tilian ya ng diajukan, penulis akan m enggunakan satu konsep dan satu teori yang sa ling berkaita n yaitu konsep external balanc ing dari teori balance of power dan juga perkem bangan teori ini da lam teori balance of threat. Perkem bangan teori ini akan m enjadi pem baha san teori yang m enarik dim ana perspektif neorealis m enunjukkan ada nya perubahan asum si terha dap upaya balancing suatu ne gara terhadap negara la in. Pada dasarnya didalam teori neorealism e yang ditulis Kenneth W altz dalam Theory of International P olitic s 1979, W altz m enyadari bahwa sistem atau struktur politik sangat berpengaruh terhada p kebijakan negara dan hubungan antar negara da lam hubungan internasional.17 Hal ini m asih sejalan denga n pem ikiran realism e kla sik bahwa sebuah kebijaka n luar negeri tidak dipengaruhi oleh ne gara tetapi dipengaruhi oleh sistem internasional.18 Sistem yang anarki dim ana tidak ada otoritas pusat akan m enim bulkan rasa saling tida k percaya dan ketidakpa stia n antar negara. Hal ini m endorong negara untuk bersifat ofensif atau defensif, khususnya dilihat dari kapabilitas dan kekuatan m iliternya. Selain itu, m elihat struktur ini, negara juga aka n didorong untuk m am pu m erespon se buah preponderance power atau kekuatan ya ng bersifat hegem on, dengan cara balancing atau bandwagoning.
17
Kenneth W altz, Theory of International Politics , McGraw Hill Inc, New York, p. 88.
18
Disisi lain, dalam perkem bangan perspektif neorealis tersebut, Stephen M . W a lt berasum si ba hwa akan lebih ba ik jika negara m elakukan balancing terhadap suatu ancam an dibandingkan dengan m elakuka n balancing terhadap suatu ke kuatan ata u power.19 Pandangan W alt yang berbeda terhadap W a ltz da lam balance of power m enunjukka n bahwa upaya balancing terhadap ancam an akan m em berikan hasil yang signifikan diba ndingka n dengan m elawan power atau kekuata n negara lain.
K onsep External Balancing dan Teori Balance of Threat
Balancing m erupakan sebuah kebijakan aliansi terhadap suatu atau sekelom pok negara yang bertujuan untuk m erespon ancam an yang diberikan ole h ne gara lain.20 Suatu negara akan m em bentuk him punan kekuatan ata u aliansi untuk m enghindari adanya dom ina si negara dan m elindungi dirinya dari ancam an negara tersebut. Balanc ing m erupakan se buah konse p dida lam teori Balance of Power yang m em iliki landasa n kuat atas pem ikiran realism e. Kenneth W altz m erupakan ahli teori dalam studi hubungan internasiona l yang m engem ukakan pola aksi atau cara negara dalam m erespon negara lain pada konteks pencapaian kepentingan nasional suatu negara atau sekum pulan negara. Dalam buku Theory of International P olitic s, W altz m enjelaskan sebuah teori Balance of Power dim ana terdapat dua asum si utam a.21
Pertama, negara m erupa kan suatu aktor ya ng bersifat uniter didalam politik internasional dim ana dalam titik m inim al negara akan berusaha untuk m elindungi kekuatannya, sedangkan dalam titik m aksim al negara akan berusaha m elakukan dom ina si dalam sistem internasional. Kedua, negara akan selalu m enggunakan pendekatan yang rasional dida sarkan pada kem am puan a tau sum ber daya yang dim iliki. Oleh karena itu, da lam m em bentuk strategi ini negara aka n berkem ungkinan m enjalankan salah satu dari dua upaya yaitu upaya interna l dan upaya eksternal. Sec ara internal, negara akan berupaya untuk m eningka tkan kekuatan ekonom inya dan m em perkuat kem am puan dan kapasitas m iliternya. Sedangkan dalam upa ya eskternal, negara akan m enem puh jalur alia nsi dengan ne gara lainnya dalam rangka m eningkatkan kekuatannya dan kekuatan ke lom pok atau aliansinya
19
Stephen M . Walt, The Origins of Alliances, Cornell University Press, London, 1985, p. 5.
20
Stephen M . Walt, Alliance of Formation and the Balance of W orld Power , International Security Vol. 9, No. 4, 1985, p. 5.
21
sehingga dengan m udah m encegah dan m elem ahkan potensi ke kuatan negara lain yang dianggap ancam an atau lawan.22
Dalam perkem bangannya, teori balance of power diform ulasikan kem bali oleh Stephen M . W alt m elalui tulisannya Alliance Formation and the B alance of the Balance of World Power yang dim ua t dalam jurnal Interna tional Security pa da tahun 1985. Pada dasarnya, W alt berasum si bahwa sua tu negara sebaiknya tidak m elakukan upaya balancingatau bandwagoning dengan ha nya denga n dasar adanya ketakutan atas sem akin besarnya kekuatan negara la in, tetapi perlu untuk m engkonsiderasi bahwa suatu negara perlu m elakukan a liansi untuk m enja ga keam anan na sionalnya dari negara atau koalisi negara lain yang m em iliki kem am puan besar yang bisa secara signifikan m em berikan a ncam an terhadap negara lain.23Dalam teori ini, W alt m enunjukkan bahwa negara m elakukan upaya balanc ing m aupun bandwagoning adala h respon terhadap a danya ancam an dari ne gara lainnya yang pada akhirnya diperlukan beberapa kriteria a tau situa si dim ana sua tu negara bisa m engkonsiderasi negara lain sebagai ancam an jika suatu negara m erasakan besarnya kekuatan m elalui kapabilitas suatu negara secara kuantitatif, m isalnya sua tu negara yang dianggap seba gai ancam an adala h negara yang m e m iliki populasi penduduk ya ng be sar, kekuatan ekonom i yang stabil, ataupun ka pabilita s m iliter yang sem akin m eningkat. Selain itu, kede katan jarak geografis suatu negara juga bisa m enjadi indika tor adanya sum ber ancam an terhadap negara lainnya dalam satu w ilayah berdekatan, sehingga negara m enganggap ancam an terbesarnya adalah negara yang berde katan secara geografis de ngan negaranya.24 Dua kriteria utam a lainnya a dalah ada nya kapa bilitas dan sika p atau tindakan yang diindikasi bersifat ofensif.
Secara lebih rinci, berikut ada lah ana lisis W alt terka it denga n em pat (4) kriteria sebagai sum ber ancam an yang dapa t dilihat dari suatu ne gara yang m enentukan kebijakan balancing atau bandwagoning sua tu negara, yaitu:
a. Aggregate Power
Him puna n kekuatan suatu negara m erupaka n sum ber utam a da lam m elihat perilaku negara yang diindikasi m em berikan ancam an terhadap negara lain. Negara yang m em iliki sekum pulan kekuatan seperti kekuatan ekonom i dan perdaganga n, kem ajuan teknologi dan
22
Kenneth W altz, Theory of International Politics , McGraw Hill Inc, New York, 1979, p. 118.
23
Stephen M . Walt, The Origins of Alliances, Cornell University Press, London, 1985, p. 5.
24
Stephen M . Walt, Alliance of Formation and the Balance of W orld Power , International Security Vol. 9, No. 4, 1985, p. 9.
industri, kepadatan populasi, dan kekuatan m iliter, adalah negara yang sebagian besar m enunjukkan ancam an terhadap negara lainnya dengan m enggunakan kapabilitas terse but .25
b. Proxim ate Power
M enurut W alt, wilaya h atau jarak jauh dan de katnya suatu negara dengan ne gara lain ternyata m am pu m enentukan ancam an. Negara lain yang berjarak lebih deka t dengan suatu negara m em iliki pote nsi yang lebih be sar untuk m em berikan ancam an dibandingkan m ereka yang berjarak lebih jauh dari negara tersebut.26
c. Offensive Power
Berkaitan dengan kriteria atau sum ber ancam an diliha t dariaggre gate power, secara lebih spesifik W a lt m enunjukkan bahwa negara yang m em iliki kapabilitas tools atau perangkat yang bersifat ofensif seperti angkatan m iliter dan perle ngkapa n persenjetaan, akan m em iliki kem ungkinan untuk m em icu ke tegangan antar negara m aupun aliansi.27Dibandingkan dengan negara yang tidak m em punyai kapa bilitas, negara dengan kekuatan ofensif terbukti lebih berani dan m em iliki kepercayaan diri untuk bersifat arogan dengan m em berikan ancam an terhadap negara lainnya.
d. Offensive Intentions
Offensive power yang dim iliki negara akan m enim bulkan hasrat suatu negara untuk m enyerang negara lain. Seperti yang telah disebutka n pada poin sebelum nya, bahwa kekuatan atau kabalitas perangka t ofensif adalah m odal untuk m em berikan ancam an. Ol eh karena itu, hasilnya adalah sikap negara m enjadi le bih agresif dan m engesam pingkan international order sehingga terindikasi berupaya m em berikan ancam an dan m enganggu keam anan nasional negara lainnya.28 Hal ini didasari pula oleh adanya rasa atau niat unt uk m encapai kepe ntingan suatu negara da n agresivitas m enjadi langkah untuk m em berikan kem unduran kekuatan negara lain. Pada akhirnya, m elalui sikap ini, terdapat banyak negara ya ng dicontohkan oleh W alt yang m engam bil kebijakan balancing terhadap negara-negara yang bersifat ofensif ini.
25
Stephen M . Walt, Alliance of Formation and the Balance of W orld Power , International Security Vol. 9, No. 4, 1985, p. 9.
26
Stephen M . Walt, Alliance of Formation and the Balan ce of W orld Power, International Security Vol. 9, No. 4, 1985, p. 10.
27
Stephen M . Walt, Alliance of Formation and the Balance of W orld Power , International Security Vol. 9, No. 4, 1985, p. 9. 11.
28
Stephen M . Walt, Alliance of Formation and the Balance of W orld Power, International Security Vol. 9, No. 4, 1985, p. 12.
M em pertim bangakan perkem bangan konsep dan teori ini, pe nulis aka n m enjadikan external balanc ing dalam balance of thre at se bagai konsep utam a yang aka n m encoba m enjawab pertanyaan penelitia n yang telah diajukan dalam m akalah pene litian ini. Konsep ini a kan difokuska n pada upaya balanc ing Filipina terha dap Cina berupa adanya penguatan aliansi keam anan Filipina dengan Am erika Serikat. M elalui konsep external balancing ini, penulis a kan m enunjukkan dan m em buktikan bahwa kebijakan aliansi keam anan Filipina terhadap Am erika Serikat di Laut Cina Selatan adalah sesungguhnya sebagai upaya external balancing yang dikerangkai oleh beberapa alasan dan difokuska n pada beberapa variabel khususnya adanya bantuan atau kerjasam a , serta sifat kebijaka n untuk m encegah adanya kekuatan besar atau hegem oni yang m em beri ancam an dikawasan.
Selain itu, konsep dan teori ini akan m em berika n alterna tif untuk m enjawab bahwa negara dengan ke kuatan kecil juga m em iliki kem ungkina n untuk m ela kukan balancing dengan beberapa asum si yang akan diba hasa dalam pene litian ini. Hal ini aka n difokuskan pada analisis em pat sum ber utam a ancam an yang dikem ukakan oleh W alt diatas.
4. Argumentasi Utama
Dalam m enganalisis studi kasus kebijakan external balancing Filipina terhadap Cina m elalui a liansi keam anan dengan Am erika Serikat dalam sengke ta di Laut Cina Selatan, penulis aka n m em berikan hipotesis atau argum entasi utam a secara garis besar terhadap rum usan m asalah dalam penelitian ini. Terdapat dua (2) argum en dalam m enjawab rum usan m asalah tersebut.
Pertama, Filipina m em ilih kebijaka n keam anan dengan m elakukan aliansi dengan Am erika Serikat karena Filipina ingin berupa ya untuk m ela kukan balanc ing denga n cara eksternal terhadap ancam an Cina. Bagi Filipina, Cina adala h ancam an. Hal ini da pat dilihat dari em pat (4) sum ber ancam an yakni aggregate power, proxim ate power, offensive power, offensive intentions, dim ana keem patnya dapat dia nalisis dari konte ks kebijakan da n posisi Cina di Laut Cina Selata n. Ketika suatu negara dia nggap sebaga i ancam an sesuai de ngan kriteria diatas, m aka negara tersebut dia nggap m em iliki kem ungkinan untuk m elakukan upaya balancing tersebut.Oleh karena itu, a liansi keam anan ini dih arapkan dapat m engurangi ancam an dan m enekan dom inasi Cina sebagai predom inance power, serta akhirnya akan m encapai kepentingan nasional Filipina atas kedula tan wilayah di La ut Cina Selatan.
Kedua, Filipina m enganggap AS sebaga i long-standing partner dalam m enjaga keam anan Filipina itu sendiri. AS m am pu m enjam in peningkatan kekua tan m iliter Filipina di Laut Cina Selatan. Ha l ini dipengaruhi oleh latar be lakang sejarah yang kuat dim ana keduanya sebaga i aliansi keam anan khususnya se jak dita ndatanganinya M utual Defense Treaty pada 1951. Aliansi keam anan yang lebih advance dapat dic ipta kan dengan landasan perjanjia n keam anan tersebut. Bantual eksterna l dari AS inila h yang da pat m em perkuat kekuatan Filipina dalam upa ya balancing nya terha dap Cina di La ut Cina Selatan. Selain itu, perubahan arah kebijaka n AS terhadap Laut Cina Selata n se jak tahun 1999 dan pasca peristiwa Im peccable pada tahun 2009, m endorong F ilipina untuk dengan m udah m engajak AS dalam m em perkuat aliansi keam anannya.
5. M etode Penelitian
Penelitia n ini didasarkan pada m etode pengum pulan data denga n studi pustaka dan m etode analisa dengan kualitatif. Dengan ini pe nulis akan m enjalanka n studi literatur berupa buku-buku, jurnal ya ng m enguak fakta dan sejarah. Penulis juga aka n m enyediakan data -data statistik terutam a terkait offensive power berupa m ilitary expenditure da n kapabilitas m iliter Filipina da n Am erika Serikat da lam aliansi keam a nannya dalam m elakukan kebijakan penguata n aliansi keam anan dengan AS da lam sengketa di Laut Cina Selatan. M etode-m etode penelitian ini akan digunakan untuk etode-m enguetode-m pulkan da n etode-m engolah data -data tersebut sehingga m em bentuk argum en ya ng baik da n valid.
6. Sistematika Penulisan
Dalam m akalah ini, penulis akan m em bagi m enjadi lim a bab utam a yaitu bab pertam a akan m enjelaskan tentang la tar belaka ng, perta nyaan pe nelitian, landasa n konseptual, argum en utam a, m etode penelitia n, dan sistem atika penulisan. Didalam bab kedua, pe nulis akan m em aparkan tenta ng perkem bangan sengketa Laut Cina Se latan khususnya terka it dengan perkem banga n kekuatan Cina dan terga nggunya kepentingan Filipina di Laut Cina Selatan . Bab ketiga akan m em berikan analisis terkait aliansi keam anan Filipina de ngan Am erika Serikat se bagai upaya balancing terhadap C ina dan a lasan dibalik pem ilihan AS sebagai alia nsi keam anan terse but. Bab keem pat, secara lebih rinci akan m em bahas beberapa kebija kan Filipina sebelum nya yang dia nggap tida k signifikan da n m em pengaruhi penguatan aliansi keam anan AS -Filipina. Pada a khirnya, bab kelim a akan m enyim pulkan sem ua ulasan pada bab-bab sebelum nya.