PENGEMBANGAN MODEL PERENCANAAN PRODUKSI DI PT UNITEX BOGOR
Oleh
DIAN PANCA PERMATA SARI F34101097
2006
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Dian Panca Permata Sari. F34101097. Pengembangan Model Perencanaan Produksi di PT Unitex, Bogor. Di Bawah Bimbingan Machfud. 2006.
RINGKASAN
Salah satu kendala yang menghambat kegiatan produksi di PT Unitex adalah terjadinya ketidakseimbangan lini produksi, karena kapasitas dari tiap-tiap bagian tidak sama besar. Keadaan seperti inilah yang sering mengakibatkan keterlambatan atau melewati batas waktu (due date) dalam memenuhi suatu pesanan. Permasalahan terbesar terdapat pada lini produksi penenunan (weaving).
Pada lini penenunan sering terjadi antrian pesanan yang menunggu giliran untuk dikerjakan. Masalah ini terjadi karena terlalu banyak order, sedangkan jumlah mesin yang ada terbatas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dikembangkan suatu model penjadwalan dengan menggunakan metode aturan prioritas urutan pengerjaan pesanan yang akan masuk pada mesin tenun
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari serta mengidentifikasi faktor- faktor yang menjadi permasalahan pada perencanaan produksi di PT Unitex dan membuat suatu pengembangan dari model penjadwalan yang telah ada dengan menggunakan teknik dan metode pengurutan (sequencing). Aturan pengurutan yang digunakan pada penjadwalan adalah SPT (Shortest Processing Time) dan EDD (Earliest Due Date). Penjadwalan produksi ini hanya dilakukan pada bagian produksi pentenunan (weaving). Model penjadwalan produksi dan perhitungan kebutuhan benang ini dikembangkan dalam paket program komputer UPPS.
Konfigurasi model paket program UPPS ini terdiri dari sistem manajemen basis model, dan sistem manajemen basis data. Sistem manajemen basis model ini dirancang dengan menggunakan Microsoft Visual Basic 6.0. Sistem manajemen basis data dirancang dengan meggunakan Microsoft access 2003 yang terdiri data pesanan, data jenis desain, data jenis produk, data jenis mesin, data jenis warna, data pelanggan serta data alokasi desain pada mesin tenun. Sedangkan sistem manajemen basis model terdiri dari dua model, yaitu model penjadwalan produksi pada bagian pentenunan (weaving) dan model perhitungan kebutuhan benang.
Kedua model tersebut tidak memiliki keterkaitan secara umum, karena untuk model perhitungan benang digunakan sebagai salah satu alat untuk memhitung banyaknya jumlah benang berdasarkan konstruksi dari tiap-tiap jenis produk.
Model penjadwalan produksi merupakan suatu model yang bertujuan untuk mendapatkan jadwal urutan produksi ketika produk atau pesanan masuk ke lini produksi penenunan (weaving) dengan membandingkan waktu alir rata-rata dan rata-rata keterlambatan serta jumlah pekerjaan yang terlambat dari kedua aturan yang dipakai, yaitu aturan SPT dan EDD.
Pesanan-pesanan yang ada dikelompokkan berdasarkan jenis mesin yang memprosesnya, selanjutnya pesanan tersebut akan dikelompokan kembali berdasarkan tanggal start date. Start date adalah tanggal dimana pesanan tersebut sudah siap untuk masuk ke mesin tenun, namun bukan berarti tanggal untuk mulai penjadwalan, karena harus tetap menunggu mesin selesai memproses pesanan sebelumnya. Berdasarkan start date, maka dapat dipilih kedua aturan pengurutan, yaitu SPT dan EDD.
Dapat diambil kesimpulan bahwa SPT merupakan aturan yang cukup baik untuk menyelesaikan masalah penjadwalan produksi paralel untuk mendapatkan waktu rata-rata penyelesaian produk atau MFT yang minimum (mean flow time ) dan untuk meminimumkan waktu rata-rata menunggu semua produk untuk dikerjakan. Sedangkan aturan EDD merupakan suatu aturan pengurutan untuk mendapatkan rata-rata keterlambatan yang minimum, minimasi kelambatan maksimum serta untuk mengurangi jumlah pekerjaan yang terlambat.
Dian Panca Permata Sari. F34101097. Production Planning Model Development at PT Unitex, Bogor. Supervised by Machfud. 2006.
ABSTRACT
One of the constraints that hinders production activity at PT Unitex is unbalance process line and capacity. This constraints has caused queue in process line, especially when the job entered the weaving line. To solve the problem, the company needs to develop scheduling alternatives to minimize the queue.
The objectives of this research were to identify factors that caused problems in production planning process at PT Unitex and to formulate scheduling alternatives in weaving process. The scheduling system implemented into a program package named UPPS (Unitex Production Planning System).
The system modeling of UPPS consisted of a model base management system and database management system. The model base management of UPPS was designed by using Visual Basic 6.0. Database management system was developed by using Microsoft Access 2003 which consisted of actual order, design type, colour type, machine type, product type, buyer data and design allocated in weaving machine. The model base management system consists of production scheduling model and yarn requirement planning model.
Production scheduling model was aimed to determine production schedule in weaving line based on due date. This model used job sequencing technique by two methods, such as Short Processing Time (SPT) method and Earliest due date (EDD). By these methods, mean flow time value and mean lateness value can be counted. Model yarn requirement planning was aimed to calculate the total yarn needed for one item. The model have function as tool to help production planning process in PT Unitex.
Production scheduling was conducted in each weaving machine type, such as AJL D machine, AJL H2 machine, AJL H4 machine, AJL Tsudakoma machine and ISL Baru machine. The different design types are conducted at each machine such as dobby, hira, poplin in AJL Dobby, stock in AJL H2, stock AJL H4, AJL Tsudakoma for strip design and ISL baru for check design type.
Order was grouped based on machine type and start date for each machine.
Start date is the date when order is ready to enter weaving process but doesn’t mean the date for order to be proceed, because it still has to wait for machine idle.
SPT sequencing rule used to minimize mean flow time.and to minimize mean number of jobs in the system. On the other hand, the EDD sequencing rule used to minimize mean tardiness and maximum tardiness and also to minimize total of tardy job.
PENGEMBANGAN MODEL PERENCANAAN PRODUKSI DI PT UNITEX BOGOR
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
Oleh
DIAN PANCA PERMATA SARI F34101097
2006
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
PENGEMBANGAN MODEL PERENCANAAN PRODUKSI DI PT UNITEX BOGOR
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
Oleh
DIAN PANCA PERMATA SARI F34101097
Dilahirkan pada tanggal 21 Januari 1984 Di Malang, Jawa Timur
Tanggal Lulus : 17 Februari 2006
Menyetujui, Bogor, Maret 2006
Dr. Ir. H. Machfud, MS
Dosen Pembimbing
BIODATA PENULIS
Penulis dilahirkan di Malang, Jawa Timur pada tanggal 21 Januari 1984. Penulis merupakan anak terakhir dari lima bersaudara dari keluarga Bapak Gatot Nugroho dan Ibu Heru Hariningsih. Riwayat pendidikan penulis dimulai dari Taman Kanak-kanak Dewi Kunthi, Tegal pada tahun 1988-1989. penulis menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri Sukamajubaru III pada tahun 1995, Sekolah Menengah Pertama Negeri I Cimanggis pada tahun 1998 dan Sekolah Menengah Umum Negeri II Depok pada tahun 2001. Pada tahun terakhir SMU, penulis mendapat kesempatan untuk mengikuti Ujian Seleksi Masuk IPB (USMI) dan pada tahun 2001 penulis diterima sebagai mahasiswa pada Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Pada bulan Juni hingga Agustus 2004, penulis melaksanakan Praktek Lapangan (PL) di PT Indomilk, Jakarta dengan topik ‘ Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan’. Penulis melakukan penelitian untuk tugas akhir di PT Unitex, Bogor pada bulan Juni hingga Agustus 2005, dan lulus pada bulan Februari 2006.
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini, Nama : Dian Panca Permata Sari NRP : F34101097
Jurusan : Teknologi Industri Pertanian Fakultas : Teknologi Pertanian
menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tugas akhir dengan judul :
‘Pengembangan Model Perencanaan Produksi di PT Unitex, Bogor’
adalah benar-benar karya saya sendiri, di bawah bimbingan Dr. Ir. Machfud, MS.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa tekanan dari siapapun.
Bogor, Maret 2006 Yang Membuat Pernyataan,
Dian Panca Permata Sari NRP. F34101097
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas karunia dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
” Pengembangan Model Perencanaan Produksi di PT Unitex Bogor”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor yang disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juli hingga September 2005.
Selama melaksanakan penelitian dan penyusunan skripsi ini, banyak pihak yang telah ikut membantu hingga laporan ini dapat terselesaikan. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terimakasih dan penghargaan kepada
1. Dr. Ir. Machfud, MS., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi.
2. Dr. Ir Hartisari Hardjomidjojo, DEA dan Ir. Aji Hermawan, MM selaku dosen penguji, atas segala saran dan masukan yang telah diberikan dalam penyempurnaan laporan ini.
3. Bapak Sapta selaku kepala bagian BKP dan seluruh staff serta karyawan PT Unitex Bogor yang telah memberikan bantuan dan pengarahan selama penulis melaksanakan penelitian.
4. Ibunda dan ayah beserta seluruh kakakku atas doa dan dorongannya selama penulis melaksanakan penelitian dan penyusunan skripsi .
5. Ayah,Ibu dan mas Affan atas dukungan dan bantuan serta dorongannya selama penulis melaksanakan penelitian dan penyusunan skripsi.
6. Anak-anak mamih (mamih, rahmi, winie, anne, qq joged, rizka, debby dan astrid) dan Westlife.
7. Teman-teman TIN 38 atas dorongan, doa, bantuan, kerjasama dan persahabatannya.
8. Semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi.
Kritik dan saran sangat diharapkan guna perbaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak yang membutuhkan.
Bogor, Februari 2006
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR... iii
DAFTAR ISI... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
I. PENDAHULUAN ... 1
A. LATAR BELAKANG ... 1
B. TUJUAN ... 3
C. RUANG LINGKUP... 3
D. MANFAAT DAN OUPUT PENELITIAN... 4
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 5
A. PERENCANAAN PRODUKSI... 5
B. PENJADWALAN PRODUKSI... 6
C. TEKNIK PENGURUTAN (SEQUENCING) ... 7
D. MODEL ... 9
E. VERIFIKASI MODEL ... 10
III. METODOLOGI PENELITIAN... 11
A. KERANGKA PEMIKIRAN ... 11
B. PENDEKATAN PENELITIAN... 14
C. TATA LAKSANA... 16
IV. PERENCANAAN PRODUKSI PT UNITEX... 18
A. PERENCANAAN PRODUKSI... 18
B. PROSES PRODUKSI ... 23
V. PEMODELAN SISTEM ... 26
A. ASUMSI MODEL ... 26
B. RANCANGAN MODEL... 26
C. KONFIGURASI MODEL ... 34
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN... 40
A. MODEL PENJADWALAN PRODUKSI... 40
B. MODEL PERHITUNGAN KEBUTUHAN BENANG... 52
C. IMPLIKASI MANAJERIAL... 52
VII. KESIMPULAN DAN SARAN... 54
A. KESIMPULAN... 54
B. SARAN ... 55
DAFTAR PUSTAKA ... 56
LAMPIRAN... 57
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Nilai Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil
(dalam Juta US$)... 1
Tabel 2. Standar Penyelesaian Proses Produksi (keadaan khusus)... 19
Tabel 3. Jenis dan Jumlah serta Alokasi Desain pada Mesin Tenun ... 41
Tabel 4. Kelompok Pesanan pada Mesin AJL D ... 42
Tabel 5. Penjadwalan pada mesin AJL D dengan aturan SPT periode 5/28/2005 ... 43
Tabel 6. Penjadwalan pada Mesin AJL D dengan aturan SPT periode 6/26/2005 ... 44
Tabel 7. Penjadwalan pada Mesin AJL D dengan aturan SPT periode 7/25/2005 ... 44
Tabel 8. Penjadwalan pada Mesin AJL D dengan aturan SPT periode 8/10/2005 ... 45
Tabel 9. Penjadwalan pada Mesin AJL D dengan aturan EDD periode 5/28/2005 ... 45
Tabel 10. Penjadwalan pada Mesin AJL D dengan aturan EDD periode 6/26/2005 ... 46
Tabel 11. Penjadwalan pada Mesin AJL D dengan aturan EDD periode 7/25/2005 ... 46
Tabel 12. Penjadwalan pada Mesin AJL D dengan aturan SPT periode 8/10/2005 ... 47
Tabel 13. Perhitungan MFT dan ML serta Jumlah Pekerjaan Terlambat Pada periode 5/28/2005... 47
Tabel 14. Perhitungan MFT dan ML serta Jumlah Pekerjaan Terlambat Pada periode 6/26/2005... 48
Tabel 15. Perhitungan MFT dan ML serta Jumlah Pekerjaan Terlambat Pada periode 7/25/2005... 49
Tabel 16. Perhitungan MFT dan ML serta Jumlah Pekerjaan Terlambat Pada periode 8/10/2005... 49
Tabel 17. Perhitungan MFT dan ML serta jumlah pekerjaan yang terlambat pada seluruh periode penjadwalan pada mesin AJL D ... 50
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Diagram Alir Kerangka Penelitian... 13
Gambar 2. Skema Tahapan Pendekatan Berencana... 15
Gambar 3. Proses Perencanaan, Pementauan dan Pengendalian Produksi di PT Unitex ... 22
Gambar 4. Proses Produksi Kain ... 25
Gambar 5. Penjadwalan Produksi dengan m-mesin Pararel ... 28
Gambar 6. Diagram Alir Deskriptif Model Penjadwalan Produksi ... 30
Gambar 7. Diagram Alir Deskriptif Model Perhitungan Kebutuhan Benang ... 31
Gambar 8. Tampilan Login Program UPPS... 34
Gambar 9. Tampilan Halaman Utama Program... 35
Gambar 10. Tampilan Inisialisasi Desain ... 35
Gambar 11. Tampilan Inisialisasi Warna... 36
Gambar 12. Tampilan Inisialisasi Mesin Tenun ... 36
Gambar 13. Tampilan Inisialisasi Produk... 36
Gambar 14. Tampilan Inisialisasi Alokasi Desain... 37
Gambar 15. Tampilan Inisialisasi Pesanan ... 37
Gambar 16. Tampilan Halaman Penentuan Jenis Mesin, Waktu Persiapan Dan Finishing... 38
Gambar 17. Tampilan Halaman Menu Penjadwalan Produksi ... 39
Gambar 18. Tampilan Halaman Menu Perhitungan Kebutuhan Benang ... 39
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Contoh Dokumen Instruction Letter ... 58
Lampiran 2. Contoh Dokumen Laporan Balance Capacity Order ... 59
Lampiran 3. Contoh Dokumen Bunkai Sekei... 60
Lampiran 4. Contoh Dokumen Order Celup Benang... 61
Lampiran 5. Contoh Dokumen Pengiriman Kain dari Bagian Dyeing ke Bagian Garansi Mutu ... 62
Lampiran 6. Contoh Dokumen Pengiriman Pesanan ... 63
Lampiran 7. Basis Data Desain dan Mesin ... 64
Lampiran 8. Basis Data Jenis Produk ... 65
Lampiran 9. Basis Data Pelanggan ... 66
Lampiran 10. Basis Data Pesanan... 67
Lampiran 11. Basis Data Alokasi Desain Pada Mesin Tenun ... 70
Lampiran 12. Hasil Penjadwalan Pada Kelompok Mesin AJL D... 71
Lampiran 13. Hasil Penjadwalan Pada Kelompok Mesin AJL H2... 76
Lampiran 14. Hasil Penjadwalan Pada Kelompok Mesin AJL H4... 80
Lampiran 15. Hasil Penjadwalan Pada Kelompok Mesin AJL TK ... 84
Lampiran 16. Hasil Penjadwalan Pada Kelompok Mesin ISL B ... 89
Lampiran 17. Data Konstruksi Benang... 93
Lampiran 18. Petunjuk Penggunaan Program UPPS ... 96
I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, ekonomi Indonesia telah mengalami transformasi yang ditandai dengan meningkatnya peranan sektor industri. Di sisi lain, dengan era globalisasi yang semakin tajam, dimana pasar internasional yang semakin terbuka seperti APEC, AFTA dan WTO menuntut agar sektor industri baik swasta maupun negeri dapat lebih berdayakan sehingga mampu memposisikan diri sebagai kekuatan ekonomi nasional.
Salah satu sektor industri yang dapat diposiskan sebagai kekuatan ekonomi di Indonesia adalah industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT).
Industri ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta kebutuhan pasar baik dalam negeri maupun luar negeri akan tekstil begitu besar, selain itu industri tekstil juga menduduki salah satu nilai ekspor terbesar. Nilai ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) selama kurun waktu 5 tahun terakhir sampai dengan bulan Mei 2005 dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Nilai Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil (dalam Juta US$) Tahun Nilai Ekspor TPT (Juta US$)
2000 8.204,90 2001 7.675,70 2002 6.889,60 2003 7.052,20 2004 7.647,40 2005 3.408,40 Sumber : BPS dan Depperin Mei 2005
Persaingan dunia usaha di era globalisasi ini telah memacu perusahaan untuk berproduksi secara efektif dan efisien, sehingga mampu memiliki daya saing dengan perusahaan lain. Kondisi demikian akan terlaksana jika industri mempunyai perencanaan yang mantap, terutama perencanaan produksi yang diiringi dengan pengendalian terhadap pelaksanaannya. Perencanaan produksi yang baik berusaha membuat produk dengan memanfaatkan berbagai input seperti bahan baku, mesin dan peralatan secara optimal sehingga efisiensi
perusahaan dapat berlangsung lama. Adanya berbagai gangguan produksi dapat menimbulkan ketidakefisienan perusahaan diantaranya antrian yang terjadi pada salah satu lini produksi yang secara langsung akan menghambat terpenuhinya target produksi.
Target produksi yang dibuat perusahaan akan terlaksana dengan baik apabila terdapat kelancaran arus produksi dari mulai pengadaan bahan baku sampai dengan pengiriman pesanan. Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh industri tekstil saat ini antara lain adalah kurang efektifnya penjadwalan sehingga terjadi keterlambatan dalam pemenuhan pesanan (order). Salah satu cara yang digunakan dalam penjadwalan adalah dengan menggunakan teknik pengurutan (sequencing). Pengurutan pekerjaan ini merupakan masalah yang cukup penting dalam industri tekstil, karena adanya banyak order sedangkan ketersediaan mesin terbatas.
Menurut Machfud (1999), teknik pengurutan (sequencing) bertujuan untuk meningkatkan pendayagunaan sumber daya produksi, yang juga berarti mengurangi jumlah waktu untuk menyelesaikan semua produk (makespan).
Selain itu berguna untuk mengurangi rata-rata waktu penyelesaian produk (flow time) dan juga mengurangi keterlambatan (tardiness) untuk produk yang mempunyai batas waktu akhir penyelesaian (due date).
Salah satu industri tekstil yang beroperasi di Indonesia adalah PT Unitex. Dalam upayanya untuk menjadi salah satu pelaku bisnis dan agar dapat menghadapi persaingan, PT Unitex perlu mempunyai keunggulan kompetitif dibandingkan pesaingnya, seperti penyelesaian order yang cepat, singkat serta hasil yang bermutu tinggi. Salah satu cara agar suatu perusahaan tersebut memiliki keunggulan kompetitif adalah dengan mempunyai suatu model penjadwalan yang baik dan terperinci. Salah satu teknik dan model yang tepat untuk menghasilkan jadwal adalah dengan menggunakan aturan pengurutan (sequencing).
Di PT Unitex pengurutan pekerjaan ini merupakan masalah yang cukup penting, karena terdapat banyak order yang akan masuk ke proses tenun, sedangkan ketersediaan mesin tenun sangat terbatas. Hal tersebut dapat mengganggu kelancaran produksi, karena dapat menimbulkan suatu antrian
dan juga keterlambatan dalam memenuhi pesanan. Apabila keadaan tersebut dibiarkan secara terus-menerus maka dapat menyebabkan kerugian pada pihak perusahaan, karena perusahaaan akan kalah bersaing dengan perusahaan tekstil lainnya sehingga diperlukan suatu pengembangan model yang tepat dalam masalah pengurutan pekerjaan (sequencing) untuk pesanan-pesanan yang akan masuk pada proses penenunan (weaving).
B. TUJUAN
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah :
1. Mempelajari serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi permasalahan pada perencanaan produksi di PT Unitex Bogor.
2. Mengembangkan model penjadwalan produksi dengan menggunakan teknik dan metode pengurutan (sequencing).
C. RUANG LINGKUP
Penelitian ini dilaksanakan pada industri tekstil PT Unitex Bogor. Ruang lingkup penelitian ini meliputi kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada bagian BKP (Biro Koordinasi Pusat) dan kegiatan–kegiatan pada proses produksi penenunan (weaving).
D. OUTPUT DAN MANFAAT PENELITIAN
Output dari penelitian ini adalah suatu model penjadwalan dengan metode pengurutan (sequencing) dan model perhitungan kebutuhan benang.
Teknik dan model pengurutan ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam menentukan urutan pesanan (order) yang akan masuk ke mesin tenun (weaving). Model perhitungan kebutuhan benang berguna sebagai alat bantu yang digunakan oleh pihak BKP untuk melakukan penghitungan kebutuhan benang secara cepat dan mudah.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk alternatif dalam perencanaan produksi khususnya masalah penjadwalan, sehingga dapat meningkatkan efektivitas operasi produksi pada perusahaan yang bersangkutan. Seperti mencoba untuk mengurangi waktu penyelesaian pekerjaan, jumlah pekerjaan yang terlambat dalam sistem dan keterlambatan kerja, sementara penggunaan fasilitas dapat dimaksimalkan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. PERENCANAAN PRODUKSI
Peningkatan daya saing industri salah satunya dapat dicapai melalui perencanaan produksi. Perencanaan produksi berhubungan dengan volume, ketepatan waktu penyelesaian, utilisasi kapasitas dan pemerataan beban.
Rencana produksi harus sejalan dengan rencana perusahaan. Ada beberapa tipe perencanaan produksi berdasarkan periode waktunya yaitu perencanaan jangka panjang, menengah dan pendek.
Menurut Murdick dan Ross (1990), perencanaan adalah suatu kegiatan memutuskan tentang apa yang perlu dilakukan, pelakunya, waktu pelaksanan dan metode pelaksanaannya. Struktur dari perencanaan menyeluruh dari sebuah organisasi harus diterapkan menjadi suatu himpunan terpadu dari sasaran organisasi. Tanpa adanya himpuanan terpadu ini para manajer dan pegawai mungkin akan mencari sasaran yang bertentangan tanpa menyadari hal tersebut. Perencanaan ini termasuk fungsi organisasional untuk mendapatkan kerangka kerja bagi aktivitas operasional dan pengambilan keputusan.
Perencanaan produksi merupakan salah satu fungsi manajemen. Pada perencanaan ditentukan usaha-usaha atau tindakan yang perlu diambil oleh pimpinan perusahaan dengan mempertimbangkan masalah-masalah yang mungkin timbul di masa yang akan datang (Assauri,1980).
Adapun maksud dan tujuan dari perencanaan produksi menurut Assauri (1980), adalah untuk :
1. Mengusahakan agar perusahaan atau pabrik dapat menggunakan barang dan modal seoptimal mungkin.
2. Mengusahakan agar pabrik dapat bekerja paada tingkat efisiensi dan efektivitas tinggi.
3. Dapat menguasai pasar dengan cara berproduksi dengan biaya rendah sehingga dihasilkan produk dengan harga yang rendah pula.
4. menjual produk dalam jumlah yang banyak
Perencanaan dibagi menjadi perencanaan usaha yang bersifat umum dan perencanaan produksi. Perencanaan usaha yang bersifat umum adalah perencanaan kegiatan yang dijalankan oleh setiap perusahaan, baik perusahaan besar maupun perusahaan kecil untuk mencapai tujuannya. Dalam perencanaan ini ditetapkan tujuan jangka panjang yang merupakan masa depan perusahaan, oleh karena itu perlu diperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan perusahaan di masa depan seperti situasi pasar, keperluan-keperluan pabrik serta trend ekonomi (Assauri, 1980).
Perencanaan produksi adalah perencanaan dan pengorganisasian sebelumnya mengenai orang-orang, bahan-bahan, mesin-mesin dan peralatan lain serta modal yang diperlukan untuk memproduksi barang-barang pada suatu periode tertentu dimasa depan sesuai dengan yang diramalkan (Assauri, 1980).
Ditinjau dari segi horison waktu, proses perencanaan produksi dapat digolongkan kedalam perencanaan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Perencanaan jangka pendek terdiri dari pengadaan bahan, penjadwalan, perintah produksi dan pengendalian. Selain itu output dari perencanaan jangka pendek berupa adanya jadwal produksi, penugasan (assignment), pengurutan atau proiritas (sequencing) dan juga perintah pengadaan (Machfud, 1999).
B. PENJADWALAN PRODUKSI
Dalam lingkup perencanaan dan pengendalian produksi, maka pengurutan dan penjadwalan merupakan bentuk dari perencanaan pada level operasional (day-to-day operation).
Penjadwalan produksi merupakan kegiatan perencanaan yang dilakukan dengan tepat untuk menghadapi permintaan pasar. Penjadwalan produksi memuat apa yang akan diproduksi, berapa banyak dan kapan akan diproduksi.
Penjadwalan digunakan sebagai dasar bagi perencanaan lainnya yang perludikoordinasi dengan cermat, seperti pengadaan bahan, rencana untuk mengangkat dan memberhentikan pekerja (Buffa, 1996).
Penjadwalan dapat diartikan sebagai penentuan susunan pekerjaan yang akan dilakukan, yang berhubungan dengan jumlah pekerjaan, waktu tiap unsur pekerjaan dimulai dan selesai serta tanggal penyerahan barang. Dalam sistem penjadwalan harus dapat ditentukan kegiatan, waktu pengiriman produk, ketepatan perencanaan dan realisasinya (Harsono, 1984).
Menurut Herjanto (1990), penjadwalan produksi adalah pengaturan waktu dari suatu kegiatan operasi produksi. Penjadwalan mencakup kegiatan- kegiatan mengalokasikan fasilitas, peralatan, bahan baku ataupun tenaga kerja bagi suatu kegiatan operasi dan menentukan urutan pelaksanaan kegiatan operasi produksi.
Penjadwalan operasi produksi merupakan penetapan waktu (timing) serta penggunaan sumber daya dalam kegiatan operasi produksi. Penetapan waktu berkenaan dengan masalah pengurutan atau sequencing dan penggunaan sumber daya untuk kegiatan operasi produksi berkenaan dengan masalah penugasan kerja (job assignment) atau pembebanan kerja pada fasilitas produksi (Machfud, 1999).
Penjadwalan merupakan rencana urutan kerja serta pengalokasian sumber daya baik waktu maupun fasilitas untuk setiap operasi yang harus diselesaikan. Penyusunan penjadwalan bertujuan untuk mengurangi keterlambatan kerja dan waktu proses, memaksimalkan kerja mesin dan tenaga kerja, mengurangi idle time dan jumlah produk yang tertahan dalam pusat kerja (Russel dan Taylor, 1995).
Menurut Machfud (1999), tujuan dari penjadwalan operasi produksi secara umum adalah untuk memperoleh suatu trade-off antara penggunaan pekerja, mesin atau peralatan dan fasilitas yang efisien dan meminimumkan waktu tunggu pelanggan, inventori dan waktu proses operasi.
C. TEKNIK PENGURUTAN (SEQUENCING)
Penjadwalan memberikan suatu dasar penugasan pekerjaan ke pusat pekerjaan. Pembebanan merupakan teknik pengendalian kapasitas yang menyoroti kelebihan muat dan kekurangan muat. Pengurutan mengkhususkan
pada pesanan dimana pekerjaan harus dilakukan dimasing-masing pusat pekerjaan (Render dan Heizer, 2001).
Menurut Baroto (2002), pengurutan pekerjaan merupakan problem yang cukup penting dalam analisis produksi. Problem yang dihadapi adalah karena banyaknya order sedangkan ketersediaan mesin terbatas. Tujuan dari pengurutan adalah untuk membuat prioritas pengerjaan dalam pemrosesan order-order yang masuk.
Menurut Machfud (1999), teknik pengurutan (sequencing) bertujuan untuk meningkatkan pendayagunaan sumber daya produksi, yang juga berarti mengurangi jumlah waktu untuk menyelesaikan semua produk (makespan).
Selain itu berguna untuk mengurangi rata-rata waktu penyelesaian produk (flow time) dan juga mengurangi keterlambatan (tardiness) untuk produk yang mempunyai batas waktu akhir penyelesaian (due date).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pelayanan (pengerjaan) suatu order, antara lain adalah jumlah order yang dijadwalkan, jumlah mesin yang tersedia, tipe manufaktur (flow shop atau job shop) dan yang terakhir adalah pola kedatangan pesanan (statik atau dinamik) (Baroto, 2002).
Dalam metode pengurutan diacukan selayaknya aturan prioritas untuk mengirimkan pekerjaan ke pusat pekerjaan. Aturan prioritas memberikan paduan untuk urut-urutan pekerjaan yang harus dilaksanakan. Aturan prioritas mencoba untuk mengurangi waktu penyelesaian, jumlah pekerjaan dalam sistem dan keterlambatan kerja sementara penggunaan fasilitas bisa maksimum (Render dan Heizer, 2001).
Menurut Render dan Heizer (2001), aturan prioritas untuk mengirimkan pekerjaan ke pusat pekerjaan terbagi menjadi empat macam, yaitu :
1. Pertama datang, pertama kali dilayani (first come, first serve), yaitu pekerjaan yang datang terlebih dahulu ke pusat kerja, maka akan diproses terlebih dahulu.
2. Waktu pemrosesan paling cepat atau SPT (Shortest Processing Time),pekerjaan yang membutuhkan waktu paling singkat dilaksanakan terlebih dahulu.
3. Pekerjaan yang jatuh temponya paling pendek atau EDD (Earliest Due Date), yaitu mendahulukan pekerjaan yang jatuh temponya paling pendek.
4. Waktu pemrosesan paling penjang atau LPT (Longest Processing Time), yaitu dahulukan pekerjaan yang waktu prosesnya paling panjang atau paling lama.
D. MODEL
Model adalah suatu representasi atau formalisasi dalam bahasa tertentu yang disepakati dari suatu sistem nyata. Adapun sistem nyata adalah sistem yang berlangsung dalam kehidupan. Dengan demikian, pemodelan adalah proses membangun atau membentuk sebuah model dari suatu sistem nyata dalam bahasa formal tertentu (Simatupang, 1996).
Simatupang (1996), menyatakan bahwa model adalah suatu representasi yang memadai dari suatu sistem. Model disebut memadai jika telah selesai dengan tujuan dalam pikiran analsisis. Pemodelan menyangkut kemampuan untuk menampilkan persoalan dan juga metodologi untuk menganalisis persoalan. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan pemodelan bukan dilihat dari besar dan rumitnya model, tapi kecukupan dalam menjawab permasalahan.
Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model adalah guna menemukan peubah-peubah apa yang penting dan tepat. Penemuan peubah tersebut sangat erat hubungannya dengan pengkajian hubungan-hubungan yang terdapat diantara peubah-peubah (Eriyatno, 1998).
Menurut Simatupang (1996), ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalam memodelkan suatu sistem, antara lain : (a) model harus mewakili (merepresentasikan) sistem nyatanya; dan (b) model merupakan penyederhanaan dari kompleksnya sistem, sehingga diperbolehkan adanya penyimpangan pada batas-batas tertentu.
Pemakaian komputer sebagai pengolah data dan penyimpan data tidak dapat diabaikan dalam melakukan pengembangan model. Pada tahap implementasi komputer, model abstrak diwujudkan dengan berbagai bentuk persamaan, diagram alir dan diagram blok. Hal terpenting disini adalah
memilih teknik dan bahasa komputer yang digunakan untuk implementasi model (Eriyatno, 1998).
Model matematika merupakan suatu alat pembantu yang digunakan untuk membantu menyelesaikan masalah (problem solving) di bidang manajemen. Pemecahan masalah dengan model matematika didapatkan melalui penggunaan program-program komputer (Winardi, 1989).
E. VERIFIKASI MODEL
Verifikasi dan validasi dilakukan setelah program komputer selesai dibuat. Verifikasi dan validasi adalah tahap dalam pemodelan untuk memeriksa diterima atau tidaknya suatu model sebelum model diterapkan.
Verifikasi adalah memeriksa sintesa sistem dengan logika dan analitik secara teoritik (Simatupang, 1996).
Menurut Eriyatno (1998), validasi model adalah suatu usaha untuk menyimpulkan apakah model sistem merupakan perwakilan yang sah dari realitas yang dikaji dimana dapat dihasilkan kesimpulan yang menyakinkan.
Apabila model merupakan suatu perwakilan dari sistem nyata yang telah ada (existing sistem) maka digunakan uji statistik untuk mengetahui kemampuan model model dalam mereproduksi perilaku terdahulu sistem.
Apabila model digunakan untuk merancang suatu sistem yang belum ada, maka teknik ststistik tidak dapat digunakan untuk melakukan validasi.
Validasi model hanya tergantung pada bermacam teori dan asumsi yang menentukan struktur dari format persamaan pada model serta nilai-nilai yang ditetapkan pada parameter model (Eriyatno, 1998).
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. KERANGKA PEMIKIRAN
Persaingan dunia usaha di era globalisasi ini telah memacu perusahaan untuk berproduksi secara efektif dan efisien, sehingga mampu memiliki daya saing dengan perusahaan lain. Kondisi demikian akan terlaksana jika industri mempunyai perencanaan yang mantap, terutama perencanaan produksi yang diiringi dengan pengendalian terhadap pelaksanaannya. Perencanaan produksi yang baik berusaha membuat produk dengan memanfaatkan berbagai input seperti bahan baku, mesin dan peralatan secara optimal sehingga efisiensi perusahaan dapat berlangsung lama. Adanya berbagai gangguan produksi dapat menimbulkan ketidakefisienan perusahaan diantaranya antrian yang terjadi pada salah satu lini produksi (lini produksi penenunan) akibat adanya ketidakseimbangan lintasan dan kapasitas, secara langsung akan menghambat terpenuhinya target produksi, yaitu penyelesaian dan pengiriman pesanan..
Target produksi yang dibuat perusahaan akan terlaksana dengan baik apabila terdapat kelancaran arus produksi dari mulai pengadaan bahan baku sampai dengan pengiriman pesanan. Beberapa permasalahan yang terdapat di PT Unitex adalah adanya ketidakseimbangan kapasitas tiap lini produksi serta terbatasnya ketersediaan mesin tenun, sehingga dapat menimbulkan antrian dan keterlambatan dalam menyelesaikan pesanan. Selain itu, adanya ketidakpastian waktu kedatangan pesanan, jumlah dan jenis produk yang dipesan menjadi juga menjadi masalah dalam melakukan penjadwalan produksi.
Pada penelitian kali ini akan dibuat suatu model penjadwalan produksi pada lini produksi yang bermasalah, dalam hal ini adalah bagian penenunan (weaving). Teknik dan metode yang digunakan dalam penjadwalan adalah dengan menggunakan suatu aturan pengurutan (sequencing). Pengurutan pekerjaan ini merupakan masalah yang cukup penting dalam industri tekstil, karena adanya banyak order sedangkan ketersediaan mesin terbatas. Dengan adanya model penjadwalan dengan teknik dan metode pengurutan, diharapkan
dapat mengurangi waktu alir rata-rata dari setiap mesin tenun yang beroperasi dan juga dapat mengurangi keterlambatan penyelesaian pesanan.
Model kebutuhan benang bertujuan untuk menghitung banyaknya jumlah benang yang diperlukan untuk membuat suatu produk pada tiap-tiap pesanan. Dengan model ini diharapkan dapat membantu dan mempermudah pihak BKP dalam menyediakan bahan baku untuk lebih memperlancar penjadwalan produksi.
Pengembangan model penjadwalan produksi dan perhitungan kebutuhan benang dilakukan dengan pendekatan berencana, dimana tujuan utamanya menguraikan masalah, mengembangkan dan menerapkan model-model kuantitatif untuk penyelesaian masalah yang spesifik. Adapun gambar diagram alir kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Solusi yang dihasilkan menggunakan pendekatan berencana berupa model penjadwalan produksi dengan teknik dan metode pengurutan atau penentuan prioritas (sequencing) pada mesin tenun.
Gambar 1. Diagram alir kerangka penelitian
B. PENDEKATAN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan berencana.
Tahapan berencana adalah suatu pendekatan yang diawali dengan melakukan identifikasi permasalahan dan dalam penyelesaiannya diakhiri dengan penyusunan suatu model. Menurut Thierauf dan Klekamp (1975), langkah- langkah dalam pendekatan berencana adalah seperti pada Gambar 2.
Tahapan pendekatan berencana terdiri dari 6 (enam) langkah, yaitu : 1. Observasi lapang dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang terjadi
secara nyata, seperti observasi terhadap fakta-fakta, opini dan gejala-gejala yang mengarah kepada permasalahan.
2. Definisi permasalahan yang sebenarnya ada di PT Unitex, yaitu adanya ketidakseimbangan lintasan serta kapasitas yang berbeda-beda pada tiap tahapan produksi, sehingga menimbulkan antrian. Antrian ini terjadi pada tahapan produksi penenunan (weaving), karena tahap inilah tahap yang membutuhkan waktu proses terpanjang.
3. Pengembangan alternatif melalui analisis data dan variabel keputusan serta kendala yang ada.
4. Pemilihan penyelesaian optimal melalui tahap analisa alternati-alternatif dengan bantuan komputer.
5. Verifikasi solusi optimum melalui tahap implementasi.
6. Membuat kendali yang tepat untuk mendeteksi perubahan yang mungkin terjadi, serta formulasi permasalahan yang mengandung umpan balik terhadap observasi awal.
Gambar 2. Skema tahapan pendekatan berencana (Thierauf dan klekamp 1975)
C. TATA LAKSANA
1. Kajian Pustaka dan Observasi Lapang
Kajian pustaka dilakukan untuk mempelajari sistem perencanaan produksi yang ada. Observasi lapang dilakukan dengan mengamati secara langsung kegiatan perencanaan produksi dan penjadwalan pada PT Unitex.
2. Identifikasi Masalah
Pada tahap ini ditentukan faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan, kendala-kendala terhadap penyelesaian masalah, serta asumsi-asumsi untuk menyelesaikan masalah yang sebenarnya.
Dalam hal ini permasalahan yang muncul adalah akibat dari ketidakseimbangan lintasan serta kapasitas yang berbeda-beda pada tiap tahapan produksi, sehingga menimbulkan antrian. Antrian ini terjadi pada tahapan produksi penenunan (weaving), karena tahap inilah tahap yang membutuhkan waktu proses terpanjang.
3. Pengumpulan Data
Pengambilan data dilakukan di PT Unitex pada bagian BKP (Biro Koordinasi Pusat). Pengambilan data dilakukan dengan observasi lapang yang meliputi pengamatan langsung dan wawancara dengan pihak yang terkait terhadap pelaksanaan perencanaan produksi. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari bagian BKP. Data yang dikumpulkan berupa data pesanan pada bulan Mei – Agustus 2005, data kapasitas mesin tenun, data jumlah dan jenis mesin tenun, data alokasi desain pada mesin tenun serta data konstruksi dari tiap-tiap jenis pesanan.
4. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan teknik dan model pengurutan pesanan (sequencing) dengan dua aturan, yaitu SPT dan EDD.
Data yang dijadikan masukan dalam model penjadwalan produksi adalah data pesanan, data jumlah dan jenis mesin tenun yang tersedia, data
kapasitas mesin tenun dan data alokasi desain pada mesin tenun. Data pesanan dan konstruksi produk juga digunakan sebagai masukan pada model perhitungan kebutuhan benang
5. Perancangan Model
Pada tahap ini dilakukan perancangan dan pengembangan model yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi dan selanjutnya model akan diterjemahkan ke dalam program komputer.
Model yang digunakan untuk penjadwalan produksi dengan menggunakan teknik urutan terdiri dari input dan output. Input utama berupa data pesanan (order) serta data hari penyelesaian (due date), jenis- jenis mesin tenun dan juga kapasitasnya. Output terdiri dari jadwal produksi dengan menggunakan aturan SPT dan EDD, pada tiap jadwal tersebut akan dihitung lamanya waktu penyelesaian rata-rata, keterlambatan rata-rata dan jumlah produk yang terlambat.
6. Implementasi dan Verifikasi
Pada tahap implementasi, hasil rancangan sistem diimplementasikan dalam suatu bentuk program komputer dengan menggunakan Visual Basic 6.0 sebagai perangkat lunak yang membantu pembuatan user interface (antar muka pengguna), Microsoft Access 2003 sebagai perangkat lunak untuk menyimpan basis data.
Model yang telah terbentuk dalam sistem yang dibuat dilakukan verifikasi untuk mengetahui apakah model tersebut cukup layak untuk digunakan dan dapat memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.
IV. PERENCANAAN PRODUKSI PT UNITEX
A. PERENCANAAN PRODUKSI
Proses perencanaan dan pengendalian produksi di PT Unitex dilakukan oleh suatu Badan atau Departemen khusus yang diberi nama dengan Biro Koordinasi Pusat (BKP). Tujuan dari BKP ini adalah untuk membuat suatu perencanaan produksi berdasarkan kapasitas mesin terpasang dan urutan kerja serta melakukan pemantauan dan pengendalian produksi sesuai dengan rencana jadwal. Ruang lingkupnya meliputi perencanaan, pemantauan dan pengendalian produksi yang menyangkut usaha untuk mengoptimalkan tingkat produktivitas efisiensi dan efektivitas proses produksi dalam kaitannya dengan jadwal, urutan kerja dan kapasitas mesin terpasang.
Perencanaan pada PT Unitex adalah penjadwalan proses produksi kain dengan mempertimbangkan semua faktor pendukung. Pemantauan disini adalah pendataan realisasi produksi. Sedangkan yang dimaksud dengan pengendalian adalah tindakan untuk menjaga agar realisasi semaksimal mungkin sesuai rencana serta menyiapkan revisi jadwal apabila jadwal pertama tidak berjalan maksimal.
BKP bertanggung jawab terhadap perencanaan, pemantauan dan pengendalian produksi, selain itu juga bertanggung jawab terhadap proses pengiriman barang hingga sampai ketangan konsumen dan terhadap jaminan mutu. Prosedur perencanaan produksi di PT Unitex adalah sebagai berikut :
1. Instruction Letter
Instruction letter adalah dokumen yang dibuat oleh bagian Marketing PT Unitex yang ditujukan kepada bagian BKP dan Teknik Produksi. Instruction letter berisi mengenai banyaknya order yang harus dibuat atau dipenuhi oleh perusahaan. Contoh dokumen instruction letter dapat dilihat pada Lampiran 1. Instruction letter yang masuk kebagian perencanaan pada dasarnya belum terdapat kesepakatan rencana pengiriman. Dalam hal ini tugas BKP-lah yang menentukan kapan rencana
pengiriman akan dilakukan berdasarkan dari ketersediaan kapasitas mesin tenun, yang kemudian dikonfirmasikan lagi ke bagian Marketing.. Standar waktu penyelesaian pesanan dapat dilihat pada Tabel 2. Dokumen yang memuat ketersediaan kapasitas mesin tenun disebut sebagai laporan Balance Capacity Order, dapat dilihat pada Lampiran 2.
Tabel 2. Standar Penyelesaian Proses Produksi (keadaan khusus)
No Proses Waktu (hari)
1 Terima order 1
2 Bunkai Sekei 3
3 Order benang 4
4 Cari warna 4
5 Order warna 1
6 Celup benang 7
7 Proses weaving 20
8 Proses dyeing dan finishing 4
9 Packing list 1
Jumlah 45
2. Permintaan Yarn Skin, Lab Dip serta Handloom
Lab Dip adalah contoh untuk kain polos. Yarn Skin merupakan contoh warna benang untuk kain corak dan Handloom adalah contoh warna untuk kain corak. Lab dip dan Handloom adalah sampel produk dalam bentuk kain, sedangkan yarn skin adalah sampel dalam bentuk warna.
Tujuan dari permintaan Lab dip, yarn skin dan Handloom adalah untuk mencocokkan warna antara pihak perusahaan dengan pihak pembeli.
Oleh karena itu jika order yang masuk membutuhkan sampel warna terlebih dahulu untuk disetujui oleh pihak pembeli, maka harus dibuat Lab Dip,Yarn Skin dan juga Handloom yang sesuai dengan yang diinginkan oleh pihak pembeli. Sedangkan untuk order yang tidak membutuhkan sampel warna terlebih dahulu, maka langsung bisa dilakukan proses produksi untuk order tersebut.
3. Penyusunan Urutan Kerja berdasarkan kapasitas Mesin Tenun
Proses produksi dimulai setelah bagian Marketing mengeluarkan perintah mulai proses, karena sudah terdapat kecocokan antara pesanan pelanggan dengan produk yang dibuat pada PT Unitex. Berdasarkan perintah dari bagian Marketing, BKP memulai perencanaan dengan menyusun urutan kerja tiap order berdasarkan pemakaian dan kapasitas mesin tenun. Hasil penyusunan urutan kerja tiap order per jenis mesin dengan mempertimbangkan kapasitas masing-masing mesin tenun akan dituangkan menjadi rencana jadwal umum produksi secara keseluruhan dan akan dikonfirmasikan kebagian Marketing.
Rencana urutan kerja berupa tanggal penyelesaian dari tiap-tiap tahapan produksi. Tahapan produksi tersebut terdiri dari bunkai sekei (bagian teknik produksi), order benang (spinning), cari warna pada (Lab Dip) kemudian order warna, order celup benang (bagian celup benang) , proses penenunan (dikendalikan pleh BKP sendiri), lalu proses Dyeing (bagian dyeing) dan Packing List (bagian garansi mutu). Untuk lebih jelasnya mengenai urutan produksi akan dijelaskan pada sub-bab proses produksi.
Dalam pembuatan rencana urutan kerja, bagian BKP bekerja sama dengan bagian-bagian lain yang terkait seperti bagian pemintalan benang (spinning), bagian celup benang, bagian penyempurnaan kain dan bagian garansi mutu. Bagian penenunan kain atau pembuatan kain mentah sepenuhnya dilakukan oleh pihak BKP, karena pada bagian tenun sering terdapat masalah sehingga diperlukan suatu perencanaan yang lebih matang. Perencanaan pada bagian tenun diperlukan, karena dalam membuat rencana jadwal produksi dan pengiriman produk selalu didasarkan pada ketersediaan dan kapasitas mesin tenun.
Permasalahan yang terjadi adalah adanya antrian pada saat order akan masuk ke bagian penenunan (weaving). Antrian ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan lini produksi dan kapasitas antar tahap produksi. Jumlah dan kapasitas mesin tenun yang terbatas menjadi kendala dalam melakukan penjadwalan.
4. Pemantauan Produksi Kain
Pada perencanaan yang satu ke perencanaan berikutnya dilakukan pemantauan produksi oleh kepala unit dan kepala bagian BKP dan apabila dibutuhkan perubahan maupun pengendalian, pengawas BKP akan memberikan revisi jadwal produksi kepada bagian terkait.
Pada proses ini yang dilakukan adalah melakukan pemantauan terhadap realisasi dari rencana jadwal produksi, mulai dari order benang sampai dengan penyerahan kain mentah dari bagian weaving ke bagian finishing atau packing list, dan produser ini diakhiri dengan melakukan pemantauan jalannya proses pengiriman barang sampai ke tangan pembeli.
5. Pengendalian Produksi
Pengendalian produksi bertujuan untuk menjaga agar realisasi semaksimal mungkin sesuai rencana jadwal serta menyiapkan revisi jadwal apabila jadwal pertama tidak berjalan maksimal.
Permintaan Handloom
Permintaan yarn skin ke bagian celup benang
Permintaan Lab Dip ke bagian celup kain
Penempatan order berdasarkan kapasitas mesin produksi serta perhitungan kapasitas (Balance Capacity)
Penyusunan rencana pengiriman
Konfirmasi rencana pengiriman ke bagian
pemasaran
Penyusunan jadwal urutan produksi
Pembuatan order celup benang
Pendataan dan permintaan realisasi
produksi
Pemantauan proses produksi sampai ke pengiriman
Pengendalian proses sesuai dengan rencanan pengiriman
Ya Ya
Tidak
Pembuatan order benang
Penjadwalan proses produksi kain mentah pada tahap
penenunan (weaving) Penerimaan Instruction Letters
Gambar 3. Proses perencanaan, pemantauan dan pengendalian produksi PT Unitex
B. PROSES PRODUKSI
Proses produksi adalah rangkaian operasi yang dilalui bahan baku (kapas dan polyester) baik secara fisik atau kimia untuk meningkatkan nilai tambah dan nilai jualnya. Prinsip utama dari perusahaan adalah membuat produk sesuai dengan pesanan (order).
Bahan baku yang digunakan oleh perusahaan adalah kapas (cotton) dan polyester. Biasanya dalam membuat suatu produk dibutuhkan bahan baku dalam campuran yang berbeda-beda, tergantung permintaan konsumen.
Sebagai contoh, biasanya di tulis komposisi CVC 55/45 yang berarti 55 % adalah cotton dan 45 % adalah polyester.
Proses produksi pada PT. Unitex dimulai dari adanya permintaan atau pesanan konsumen (order). Pesanan tersebut dicatat atau dimasukkan oleh bagian pemasaran sebagai instruction letter yang kemudian diberikan oleh bagian pabrik (factory). Pihak BKP yang nantinya akan bertanggungjawab membuat pesanan itu sejak dari bahan baku sampai pada barang jadi dan proses pengiriman.
Pembuatan suatu produk (kain) membutuhkan beberapa tahapan, dimana setiap tahapan terdiri dari sekelompok fasilitas. Fasilitas dapat berupa mesin, pekerja, departemen dan lini produksi.
Tahap pertama setelah diterimanya order, dilakukanlah proses yang disebut bunkai sekei. Bunkai sekei adalah proses untuk menentukan warna pesanan, jenis desain, jenis dan banyaknya benang yang dibutuhkan untuk memenuhi pesanan. Bunkai sekei dilakukan oleh bagian teknik produksi. Jadi apabila terjadi ketidaksesuaian antara hasil produksi dengan pesanan, seperti warna yang beda atau desain berbeda, maka bagian teknik produksi yang akan bertanggungjawab. Apabila ternyata sampel untuk warna belum ada, maka bagian BKP melakukan order warna pada bagian Lab Dip, namun jika sudah ada maka akan diteruskan ke proses selanjutnya. Contoh dokumen Bunkai sekei dapat dilihat pada Lampiran 3.
Selanjutnya adalah order benang pada bagian pemintalan (spinning), jumlah dan jenis benang diketahui dari hasil bunkai sekei. Setelah benang tersedia, proses berikutnya adalah melakukan order celup benang. Pihak yang
bertanggung jawab adalah antara bagian celup benang dan BKP. Dokumen order celup benang dapat dilihat pada Lampiran 4.
Setelah benang tersedia dan sudah dicelup, maka selanjutnya akan masuk kepada proses penenunan. Namun sebelum masuk ke proses penenunan terlebih dahulu dilakukan persiapan penenunan, terdiri dari proses warper, sizing dan reaching. Warper adalah proses penggulungan benang pada beam (tempat benang pada saat weaving), 1 beam terdapat 5000 benang. Sizing adalah proses pemberian kanji pada benang yang sudah digulung pada beam, tujuannya agar mempermudah memasukkan benang pada saat reaching.
Reaching adalah proses dimana tiap 1 helai benang dimasukkan kedalam tiap lubang jarum pada mesin tenun. Setelah semua tahap persiapan selesai, barulah order siap dikerjakan pada mesin tenun.Weaving (Penenunan) adalah tahapan yang memproses benang menjadi kain.
Setelah selesai di tenun akan dihasilkan kain mentah, selanjutnya masuk pada tahapan dyeing yaitu tahap dilakukannya pemolesan kain terhadap warna, penampilan dan pegangan (handling), yang berupa penghilangan kanji.
Bagian ini merupakan bagian pemrosesan kain yang terakhir mulai dari bahan baku kapas dan polyester sampai pada produk kain yang siap dipasarkan (finished goods). Setelah menjadi finished goods, maka kain akan masuk pada tahapan garansi mutu untuk diperiksa kesalahannya, kemudian akan masuk kepada packing list untuk siap dikirimkan. Dokumen pengiriman kain dari bagian Dyeing ke bagian garansi mutu dapat dilihat pada Lampiran 5.
Dokumen pengiriman pesanan dapat dilihat pada Lampiran 6. Diagram alir proses produksi kain dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Proses produksi kain di PT. Unitex
V. PEMODELAN SISTEM
A. ASUMSI MODEL
Dalam pengembangan model ini digunakan beberapa asumsi, yaitu 1. Ruang lingkup penjadwalan hanya sebatas lini produksi penenunan
(weaving), dimana penjadwalan dalam proses produksi sebelumnya tidak dijabarkan secara terperinci, hanya disebutkan lama waktu saja.
2. Model yang dirancang mengakomodir lama persiapan atau lama waktu penjadwalan sebelum proses tenun yang di masukan ke dalam model berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
3. Selama proses produksi berlangsung, mesin-mesin yang digunakan dalam kondisi baik, sehingga peluang terjadinya kerusakan pada mesin dapat diabaikan.
4. Mesin mempunyai waktu istirahat satu hari sebelum melakukan operasi selanjutnya.
5. Kapasitas mesin-mesin tenun adalah 120 m2 (1 tansu) per hari.
6. Pesanan-pesanan yang ada dikelompokkan berdasarkan jenis mesin, kemudian dikelompokkan lagi berdasarkan start date.
7. Start date adalah tanggal dimana pesanan telah siap untuk diproses kedalam mesin tenun (weaving).
B. RANCANGAN MODEL
Untuk membantu proses perencanaan produksi, dikembangkan suatu model penjadwalan dan model perhitungan kebutuhan benang. Model penjadwalan produksi digunakan untuk mempermudah pengambilan keputusan mengenai urutan prioritas pengerjaan pesanan (sequencing) yang yang harus dilaksanakan oleh bagian penenunan (weaving), sehingga dapat meminimalkan waktu alir rata-rata dan juga keterlambatan rata-rata pada tiap mesin.
Proses penenunan dapat dilaksanakan antara lain ditentukan oleh ketersediaan benang dengan jumlah yang sesuai kebutuhan produksi dan pada
waktu yang sesuai dengan jadwal urutan prioritas proses penenunan. Untuk itu dirancang model kebutuhan benang untuk setiap produk yang sudah ditetapkan jadwal proses pewarnaannya. Keluaran dari model ini disampaikan ke bagian celup benang yang mempersiapkan benang untuk proses penenunan.
Model perencanaan produksi dikemas dalam suatu paket program atau perangkat lunak yang dinamakan UPPS ( Unitex Production Planning System) untuk membantu proses perencanaan produksi di PT Unitex. Paket program UPSS ini dirancang dengan menggunakan bahasa pemrograman Visual Basic Version 6.0. untuk pengembangan model dan Microsoft Access 2003 sebagai pengolahan basis data.
UPPS memiliki 7 basis data utama dalam sistem, yaitu basis data jenis desain, basis data jenis dan jumlah mesin tenun, basis data jenis warna, basis data kode produk, basis data nama pelanggan, basis data pesanan dan basis data alokasi desain pada mesin tenun. Selain tujuh basis data, program UPPS memiliki dua basis model, yaitu model penjadwalan produksi dan model perhitungan kebutuhan benang. Kedua model yang terdapat pada paket program UPPS tidak memiliki keterkaitan satu sama lain.
1. Kerangka Model
a. Model Penjadwalan Produksi
Model penjadwalan produksi ini digunakan untuk menghasilkan suatu jadwal produksi berdasarkan rencana pengiriman (due date).
Dalam model penjadwalan ini, lebih ditekankan kepada prioritas urutan pengerjaan suatu pesanan yang akan masuk kedalam mesin tenun. Metode yang digunakan adalah metode pengurutan (sequencing).
Permasalahan pengurutan adalah menentukan order atau urutan operasi, proses atau pembuatan suatu kumpulan produk melalui satu atau beberapa fasilitas (mesin / orang) secara optimum (Machfud, 1999). Teknik pengurutan ini dilakukan pada n produk pada m mesin, seperti pada gambar dibawah ini.
M1
M2
(produk) M3
Gambar 5. Penjadwalan Produksi dengan m mesin paralel
Dalam metode pengurutan diacukan selayaknya aturan prioritas untuk mengirimkan pekerjaan ke pusat pekerjaan. Aturan prioritas memberikan paduan untuk urut-urutan pekerjaan yang harus dilaksanakan. Aturan prioritas mencoba untuk mengurangi waktu penyelesaian, jumlah pekerjaan dalam sistem dan keterlambatan kerja sementara penggunaan fasilitas bisa maksimum (Render dan Heizer, 2001).
Dalam teknik urutan ini digunakan dua macam aturan, yaitu : 1. Waktu pemrosesan paling cepat atau SPT (Shortest Processing
Time),pekerjaan yang membutuhkan waktu paling singkat dilaksanakan terlebih dahulu.
2. Pekerjaan yang jatuh temponya paling pendek atau EDD (Earliest Due Date), yaitu mendahulukan pekerjaan yang jatuh temponya paling pendek.
Menurut Machfud (1999), SPT (Shortest Processing Time), merupakan aturan yang cukup baik untuk menyelesaikan masalah penjadwalan produksi secara pararel, untuk mendapatkan :
1. Waktu rata-rata penyelesaian produk atau MFT yang minimum (mean flow time ), yang dirumuskan dengan :
‡”
=
=
n i
1 1
n P
Fs 1 (n – i + 1)
Fs = waktu alir rata-rata
Pi = waktu proses ( i = 1,2,..,n ) n = banyaknya pekerjaan atau pesanan
2. Meminimumkan waktu rata-rata menunggu semua produk untuk dikerjakan, dengan persamaan :
‡”
=
=
n s
2
n
uW 1
(Ci,u – Ci,u-1)Ci,u = waktu penyelesaian pekerjaan ke-i pada urutan ke-u Aturan EDD menyatakan bahwa dahulukan produk dengan due date terkecil. Tujuan aturan EDD adalah untuk meminimumkan jumlah produk yang selesainya melewati batas waktu dan meminimasi kelambatan maksimum atau meminimasi ukuran kelambatan maksimum suatu pekerjaan yang dirumuskan dengan
L ^u = 1/n x ∑ ( Fi - di ) Di = Batas akhir suatu produk ke-I harus selesai n = Jumlah pekerjaan
Kekurangan aturan ini adalah akan menambah keterlambatan rata-rata, karena selalu order yang jatuh temponya pendek didahulukan dan order yang jatuh temponya panjang menjadi menumpuk.
Untuk kedua aturan tersebut akan dihitung nilai kelambatan rata- rata (mean lateness, Ls), dirumuskan dengan :
‡”
==
n
1 1
s , i
s
L
n L 1
Hasil dari model penjadwalan produksi ini akan dijadikan suatu acuan untuk memperbaiki penjadwalan yang ada di PT Unitex, terutama untuk mengatasi masalah antrian pesanan yang akan masuk kedalam bagian tenun (weaving). Diagram alir deskriptif model penjadwalan produksi dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Diagram alir deskriptif model penjadwalan produksi
b. Model Perhitungan Kebutuhan Benang
Model perhitungan kebutuhan benang dimaksudkan untuk menghitung benang yang dibutuhkan untuk tiap-tiap order yang nantinya digunakan untuk order celup benang pada bagian celup benang, sehingga benang-benang yang dibutuhkan dalam proses produksi dapat tersedia. Diagram alir deskriptif model perhitungan kebutuhan benang dapat dilihat pada Gambar 7.
( ) up
(
Bt By)
120 m
HB = Jo × × +
Di mana HB = Hitung benang (dalam Bal) Jo = Jumlah order (dalam Meter)
Up = Kelebihan atau toleransi sebesar 1.20 Bt = Berat tate (dalam Lbs)
By = Berat Yoko (dalam Lbs
Mulai
Data jenis produk / item
Data konstruksi benang yang mencakup penyusun, ukuran berat jenis serta bobot)
Perencanaan Kebutuhan Benang
Selesai
Masukan kode produk dan jumlah pesanan ( m )
Hitung kebutuhan benang (Bal)
Gambar 7. Diagram alir deskriptif model perencanaan kebutuhan bahan
2. Struktur Basis Data
Model penjadwalan dan model perhitungan kebutuhan benang menggunakan masukan data sebagai berikut :
a. Basis Data Jenis Desain
Basis data desain ini berisi mengenai jenis desain yang diproduksi oleh PT. Unitex. Jenis desain ini berpengaruh kepada jenis mesin tenun yang digunakan. Jenis-jenis desain ini adalah model atau tipe anyaman yang akan masuk pada mesin tenun.
Sistem basis data jenis desain ini dirancang untuk memungkinkan pengguna melakukan kegiatan input (penambahan data) ataupun pengurangan data, sehingga dapat terus disesuaikan dengan keperluan perusahaan. Basis data jenis desain dapat dilihat pada Lampiran 7.
b. Basis Data Jenis Warna
Basis data jenis warna ini berisi mengenai jenis warna yang diproduksi oleh PT. Unitex. Jenis warna ini berpengaruh kepada proses pencelupan benang. Sistem basis data jenis warna ini dirancang untuk memungkinkan pengguna melakukan kegiatan input (penambahan data) ataupun pengurangan data, sehingga dapat terus disesuaikan dengan keperluan perusahaan.
c. Basis Data Jenis Produk
Basis data jenis produk ini berisi mengenai jenis produk yang diproduksi oleh PT. Unitex. Sistem basis data jenis produk ini dirancang untuk memungkinkan pengguna melakukan kegiatan input (penambahan data) ataupun pengurangan data, sehingga dapat terus disesuaikan dengan keperluan perusahaan. Basis data jenis produk dapat dilihat pada Lampiran 8.
d. Basis Data Jenis Mesin
Basis data jenis mesin ini berisi mengenai jenis mesin tenun yang terdapat di PT. Unitex. Sistem basis data jenis mesin ini dirancang untuk memungkinkan pengguna melakukan kegiatan input (penambahan data) ataupun pengurangan data, sehingga dapat terus disesuaikan dengan keperluan perusahaan. Basis data jenis mesin dapat dilihat pada Lampiran 7.
e. Basis Data Pelanggan
Basis data pelanggan merupakan data yang berisi mengenai nama-nama pembeli (buyer). Sistem basis data pelanggan ini dirancang untuk memungkinkan pengguna melakukan kegiatan input (penambahan data) ataupun pengurangan data, sehingga dapat terus disesuaikan dengan keperluan perusahaan. Basis data pelanggan dapat dilihat pada Lampiran 9.
f. Basis Data Pesanan
Basis data pesanan ini terdiri dari nomor kontrak (order), tanggal order, nama pelanggan(buyer), jenis produk, jenis desain, jenis warna dan jumlah pesan. Sistem basis data pesanan ini dirancang untuk memungkinkan pengguna melakukan kegiatan input (penambahan data) ataupun pengurangan data, sehingga dapat terus disesuaikan dengan keperluan perusahaan. Basis data pesanan dapat dilihat pada Lampiran 10.
g. Basis Data Konfigurasi Kapasitas dan Alokasi Mesin
Basis data konfigurasi kapasitas dan alokasi mesin ini berisi mengenai alokasi desain-desain pada mesin tenun beserta kapasitas dari tiap-tiap mesin tenun per hari. Basis data konfigurasi kapasitas dan alokasi mesin dapat dilihat pada Lampiran 11.
C. KONFIGURASI MODEL
Model perencanaan produksi dikemas dalam suatu paket program atau perangkat lunak yang dinamakan UPPS ( Unitex Production Planning System) untuk membantu proses perencanaan produksi di PT Unitex. UPPS ini berguna untuk membantu pihak BKP untuk melakukan penjadwalan yang lebih terperinci pada bagian atau lini produksi penenunan (weaving), dengan menggunakan teknik pengurutan atau prioritas pekerjaan (sequencing).
Keluaran dari program ini diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih optimal, seperti meminimalkan waktu keterlambatan suatu pesanan.
Apabila program UPPS dijalankan pertama kali, akan muncul splash screen yang memberikan informasi tentang nama paket program dan menu login yang meminta pengguna (user) untuk memasukkan kata kunci (password). Tampilan login pada program UPPS ditampilkan pada Gambar 8.
Gambar 8. Tampilan Login Program UPPS
Setelah pengguna memasukkan password pada menu login, akan ditampilkan halaman utama paket program UPPS. Pada halaman utama terlihat ada beberapa menu, yaitu : menu deskripsi desain, menu deskripsi warna, menu deskripsi produk, menu deskripsi mesin, menu dekripsi pelanggan (buyer), menu alokasi desain pada mesin tenun, inisialisasi order.
Selanjutnya terdapat dua model perhitungan yaitu, penjadwalan produksi dan perhitungan kebutuhan benang. Tampilan halaman utama paket program UPPS dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9 . Tampilan halaman utama 1. Basis Data
Basis data yang terdapat dalam paket program UPPS ini terdapat pada menu inisialisasi deskripsi desain, inisialisasi deskripsi warna, inisialisasi deskripsi produk, inisialisasi deskripsi mesin, inisialisasi deskripsi pelanggan, inisialisasi deskripsi data pesanan dan juga data mengenai alokasi desain pada mesin tenun.
Inisialisasi deskripsi desain berguna untuk melakukan penambahan, hapus dan edit terhadap jenis desain yang terdapat di PT. Unitex. Desain ini berupa macam-macam anyaman yang dapat dihasilkan oleh mesin tenun. Tampilan inisialisasi desain dapat dilihat pada Gambar 10.
Inisialisasi deskripsi warna berguna untuk melakukan penambahan, hapus dan edit terhadap jenis warna yang terdapat di PT. Unitex.
Inisialisasi deskripsi produk berguna untuk melakukan penambahan, hapus dan edit terhadap jenis produk atau item yang diproduksi oleh PT. Unitex.
Tampilan inisialisasi warna dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 10. Tampilan inisialisasi desain
Gambar 11. Tampilan inisialisasi warna
Inisialisasi deskripsi mesin berguna untuk melakukan penambahan, hapus dan edit terhadap jenis dan jumlah mesin tenun yang terdapat di PT.
Unitex. Selain itu menu ini dapat diketahui berapa kapasitas tiap mesin per hari (satuan m2). Tampilan inisialisasi mesin dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 12. Tampilan inisialisasi mesin tenun
Inisialisasi deskripsi produk berguna untuk melakukan penambahan, hapus dan edit terhadap kode produk yang terdapat di PT Unitex. Kode produk juga berarti jenis kain atau jenis produk. Tampilan inisialisasi produk dapat dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13. Tampilan inisialisasi mesin tenun
Alokasi desain digunakan untuk memasukkan jenis desain ke mesin- mesin-mesin tenun, karena tiap mesin tenun mengerjakan jenis desain yang berbeda-beda. Tampilan inisialisasi alokasi desain pada mesin tenun dapat dilihat pada Gambar 14.
Gambar 14. Tampilan inisialisasi alokasi desain
Inisialisasi order (order entry) berguna untuk memasukkan order atau jenis pesanan pelanggan. Pada menu ini berisi informasi mengenai nomor order, kode order, tanggal order, tanggal pengiriman (due date) dan tujuan order. Selain itu pada menu ini terdapat tampilan detail order seperti jenis produk, warna, desain dan juga jumlah pesan. Tampilan inisialisasi order dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 15. Tampilan inisialisasi pesanan
2. Basis Model
Dalam paket program UPPS terdapat dua macam model, yaitu model penjadwalan produksi dan model perhitungan kebutuhan bahan (benang).
Model penjadwalan digunakan untuk mendapatkan urutan terbaik dari
pesanan yang akan masuk ke mesin tenun. Sedangkan model perhitungan kebutuhan bahan digunakan untuk mendapatkan berapa banyak benang yang harus dipersiapkan dan dipesan pada departemen pembuat benang (spinning).
a. Model Penjadwalan Produksi
Sebelum melakukan penjadwalan, terlebih dahulu pengguna harus memasukkan jenis mesin pada tiap-tiap produk atau pesanan, tujuannya adalah agar penjadwalan lebih sistematis dan terperinci.
Selanjutnya pengguna juga harus memasukkan lama hari persiapan sebelum pesanan atau produk diproses atau masuk kebagian penenunan serta lamanya proses finishing. Tampilan mengenai penentuan mesin dan lama hari persiapan dapat dilihat pada Gambar 16.
Gambar 16. Tampilan halaman penentuan mesin, waktu persiapan dan finishing.
Model penjadwalan produksi ini menggunakan teknik dan metode pengurutan (sequencing) dengan dua aturan, yaitu SPT dan EDD. Pada menu penjadwalan produksi terdapat dua pilihan aturan pengurutan. Selain itu, dapat dilihat periode penjadwalan produksi yang berbeda-beda pada tiap-tiap jenis mesin. Tampilan menu penjadwalan produksi dapat dilihat pada Gambar 17.
Gambar 17. Tampilan halaman menu penjadwalan produksi
b. Model Perhitungan Benang
Model ini berisikan mengenai konstruksi dari tiap-tiap pesanan.
Data yang dimasukkan berupa jenis produk yang dipesan dan juga banyaknya jumlah pesan (satuan m). Selanjutnya untuk mengetahui banyaknya benang yang diperlukan, maka klik hitung. Selanjutnya akan didapat banyaknya benang yang dibutuhkan (dalam Bal). Benang yang diperlukan terdiri dari dua macam konstruksi, yaitu benang pakan (vertikal) dan benang lusi (horizontal). Contoh tampilan perhitungan kebutuhan benang dapat dilihat pada Gambar 18.
Gambar 18. Tampilan halaman menu perhitungan kebutuhan benang