• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH RIZKY RINANDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI OLEH RIZKY RINANDA"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

PENGARUH STRUKTUR MODAL, UKURAN PERUSAHAAN, GROWTH, LIKUIDITAS DAN PROFITABILITAS TERHADAP

KUALITAS LABA PADA PERUSAHAAN PERBANKAN DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2017-2019

OLEH

RIZKY RINANDA 190522043

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021

(2)
(3)
(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS MEDAN

Telah diuji pada

Tanggal 06 Agustus 2021

TIM PENGUJI SKRIPSI

Ketua Penguji : Dra. Mutia Ismail, MM, Ak

Penguji : Dr. Abdillah Arif Nasution, SE., M.Si, Ak Pembanding : Drs. Rustam, M.Si., Ak.

(5)
(6)

PENGARUH STRUKTUR MODAL, UKURAN PERUSAHAAN, GROWTH, LIKUIDITAS DAN PROFITABILITAS TERHADAP

KUALITAS LABA PADA PERUSAHAAN PERBANKAN DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN

2017-2019

ABSTRAK

Pentingnya informasi laba secara tegas telah disebutkan dalam Statement of Financial Acoounting Concept (SFAC) No. 1 yang menyatakan bahwa selain untuk menilai kinerja manajemen, laba juga membantu mengestimasi kemampuan laba yang representative dan menaksir risiko investasi atau kredit. Informasi mengenai laba tidak hanya digunakan oleh manajemen atau pihak internal serta pemilik perusahaan, tetapi juga digunakan oleh kreditur dan investor untuk mengevaluasi kinerja manajemen, memperkirakan earnings power, dan untuk memprediksi laba dimasa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh struktur modal, ukuran perusahaan, growth, likuiditas dan profitabilitas terhadap kualitas laba.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian asosiatif (hubungan) kausal.

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2017-2019. Hasil penelitian menunjukkan menunjukkan bahwa Struktur Modal, Ukuran Perusahaan, Growth berpengaruh signifikan terhadap Kualitas Laba sedangkan Likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap Kualitas Labapada perusahaan Perbankanyang terdaftar di BEI periode 2017 – 2019.

Kata Kunci: Struktur Modal, Ukuran Perusahaan, Growth, Likuiditas, Profitabilitas, Kualitas Laba

(7)

THE INFLUENCE OF CAPITAL STRUCTURE, COMPANY SIZE, GROWTH, LIQUIDITY AND PROFITABILITY ON QUALITY

PROFIT IN BANKING COMPANIES ON THE INDONESIA STOCK EXCHANGE YEAR 2017-2019

ABSTRACT

The importance of earnings information has been explicitly stated in Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 1 which states that in addition to assessing management performance, earnings also help estimate representative earnings capabilities and assess investment or credit risk.

Information about earnings is not only used by management or internal parties as well as company owners, but is also used by creditors and investors to evaluate management performance, estimate earnings power, and to predict future earnings.

This study aims to determine the effect of capital structure, firm size, growth, liquidity and profitability on earnings quality.

This research uses causal associative (relationship) research. The population of this study is all banking companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2017-2019. The results of the study indicate that Capital Structure, Company Size, Growth have a significant effect on Earnings Quality while Liquidity has no significant effect on Earnings Quality in Banking companies listed on the IDX for the 2017-2019 period.

Keywords: Capital Structure, Firm Size, Growth, Liquidity, Profitability, Earnings Quality

(8)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah Senantiasa Panjatkan khadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya penulis telah menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan program pendidikan strata satu (S1) jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Dalam skripsi ini penulis mengambil judul “Pengaruh Struktur Modal, Ukuran Perusahaan, Growth, Likuiditas dan Profitabilitas Terhadap Kualitas Laba Pada Perusahaan Perbankan Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-2019”.

Selama melakukan penelitian dan penulisan skripsi ini, penulis banyak memperoleh doa, bimbingan, serta arahan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Fadli, SE, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Rina Br Bukit, SE, M.Si, Ph.D, Ak, CA selaku Ketua Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Mutia Ismail, MM, AK selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan serta meluangkan waktu dan pikiran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat waktu.

4. Bapak Dr. Abdillah Arif Nasution, SE., M.Si, Ak selaku Dosen Penguji dan Bapak Drs. Rustam, M.Si.,Ak. selaku Dosen Pembanding penulis yang telah

(9)

memberikan bimbingan baik masukan dan saran dalam penyusunan skripsi ini.

5. Teruntuk yang paling teristimewa kepada kedua orangtua saya Alm.

Ir.Zulkifli dan Ibunda tercinta Junaida. Yang telah memberikan segalanya kepada saya, dari kasih sayang, perhatian dan dorongan moral dan materi sehingga saya dapat menyelesaikan Pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

6. Buat Adik-adikku tersayang, Aldi Gusnanda, Fitra Ernanda, Fadli Arnanda dan Wafi Nugraha Syarif. Yang selalu mendukung saya dalam mengerjakan Skripsi ini.Terkhusus kepada Dinda Atika Yassina yang selalu mendukung dan memotivasi saya dalam mengerjakan Skripsi ini, Terimakasih.

Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi penulis selama masa perkuliahaan. Seluruh Pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, khususnya pada bagian akademik yang telah membantu dalam kegiatan administrasi penulis.

Seluruh teman-teman yang telah membantu dalam memberikan semangat dan dukungan dalam penyelesaian skripsi ini.

(10)

Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun ke arah yang lebih baik. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Medan, 2021 Penulis,

Rizky Rinanda NIM. 190522043

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

PERNYATAAN………. i

ABSTRAK……….. ii

ABSTRACK………... iii

KATA PENGANTAR………... iv

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL... x

DAFTAR GAMBAR... xi

DAFTAR LAMPIRAN………. xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 LatarBelakangPenelitian ... 1

1.2 PerumusanMasalah ... 13

1.3 TujuanPenelitian... 14

1.4 Manfaat Penelitian ... 15

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 16

2.1 Landasan Teori ... 16

2.1.1 Teori signalling ... 16

2.1.2 Kualitas Laba... 17

2.1.3 Struktur Modal ... 18

2.1.4 Ukuran Perusahaan... 20

2.1.5 Growth... 23

2.1.6 Likuiditas ... 24

(12)

2.1.7 Profitabilitas ... 26

2.2 Penelitian Terdahulu... 28

2.3 Kerangka Konseptual ... 30

2.4 Hipoesis Penelitian……….. 31

BAB III METODE PENELITIAN... 47

3.1 JenisPenelitian... 47

3.2 LokasidanWaktuPenelitian ... 47

3.3 Populasi danSampelPenelitian ... 47

3.4 Sumber Data Penelitian... 50

3.5 TeknikPengumpulan Data Penelitian... 50

3.6 Definisi Operasional Variabel Penelitian... 50

3.6.1 Variabel Bebas (Dependend Variable) ... 50

3.6.2 Variabel Terikat (Independend Variable)... 51

3.1 TeknikAnalisis Data Penelitian ... 52

3.7.1 Uji Statistik Deskripstif... 52

3.7.2 Uji Asumsi Klasik... 52

3.7.3 Analisis Regresi Linear Berganda ... 55

3.7.4 Uji Kelayakan Model ... 56

3.7.5 Uji t ... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 58

4.1 Gambaran Umum Perusahaan... 58

4.2 Hasil Penelitian ... 60

(13)

4.3 Pembahasan ... 70

4.1.1 Pengaruh Struktur Modal terhadap Kualitas Laba 70 4.1.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kualitas Laba ... 71

4.1.3 Pengaruh Growth terhadap Kualitas Laba... 72

4.1.4 Pengaruh Likuiditas terhadap Kualitas Laba... 72

4.1.5 Pengaruh Profitabilitas terhadap Kualitas Laba ... 73

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 75

5.1 Kesimpulan... 75

5.2 Saran ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 77

LAMPIRAN... 80

(14)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

1.1 Perusahaan Perbankan Yang Terkena Kasus Terkait Fenomena

Kualitas Laba di Indonesia ... 6

2.1 Daftar PenelitianTerdahulu ... 31

3.1 PemilihanSampelPenelitian ... 48

3.2 SampelPenelitian ... 49

3.3 Operasional Variabel dan Skala Pengukuran Variabel ... 51

4.1 Hasil Uji Statistik Deskriptif. ... 60

4.2 Hasil Uji Normalitas ... 62

4.3 Hasil Uji Multikolinaritas ... 63

4.4 Hasil Uji Autokorelasi ... 65

4.5 Hasil Uji Regresi Linear Berganda ... 66

4.6 Hasil Uji t ... 68

4.7 Hasil Uji F ... 69

4.8 Hasil Koefisien Determinasi ... 70

(15)

DAFTAR GAMBAR

No.Gambar Judul Halaman

2.1 Kerangka Konseptual ... 28 4.1 Hasil Grafik Scatterplot... 64

(16)

Daftar Lampiran

Lampiran Judul Halaman

1. Data SPSS ... ………….. 80

2. Hasil output SPSS ... ………….. 83

3. Scatterlot Dependent Variable Y ... 84

4. Dependent Variable Y ... 87

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Laporan keuangan merupakan alat untuk menyampaikan informasi keuangan mengenai tanggungjawab manajemen atas kinerjanya. Adanya tindakan manajemen yang melaporkan laba yang tidak menggambarkan kondisi perusahaan sebenarnya mengakibatkan laba yang dihasilkan menjadi diragukan kualitasnya.

Fenomena ini dapat merugikan banyak pihak pengguna laporan keuangan. Masing- masing pihak mempunyai kepentingan atas informasi yang disajikan pada laporan keuangan tersebut. Kualitas laba khususnya dan kualitas laporan pada umunya adalah penting karena tujuan kontrak dan pengambilan keputusan investasi.

Pentingnya informasi laba secara tegas telah disebutkan dalam Statement of Financial Acoounting Concept (SFAC) No. 1 yang menyatakan bahwa selain

untuk menilai kinerja manajemen, laba juga membantu mengestimasi kemampuan laba yang representative dan menaksir risiko investasi atau kredit. Informasi mengenai laba tidak hanya digunakan oleh manajemen atau pihak internal serta pemilik perusahaan, tetapi juga digunakan oleh kreditur dan investor untuk mengevaluasi kinerja manajemen, memperkirakan earnings power, dan untuk memprediksi laba dimasa yang akan datang. Dalam pengelolaan perusahaan, pemilik cenderung menunjuk agen (pihak manajemen) untuk menjalankan operasi perusahaan. Pihak manajemen sebagai pengelola perusahaan

(18)

lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (principal). Oleh karena itu, sebagai pengelola, manajer berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik. Akan tetapi informasi yang disampaikan terkadang tidak sesuai dengan kondisi perusahaan sebenarnya, hal ini dikenal sebagai asimetri informasi (information asymmetric). Pemikiran bahwa pihak manajemen dapat melakukan tindakan yang hanya memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri didasarkan pada suatu asumsi yang menyatakan bahwa setiap orang mempunyai perilaku yang mementingkan diri sendiri (self-interested behavior).

Dalam proses dasar akrual memungkinkan adanya perilaku manajemen dalam melakukan rekayasa laba atau earnings management guna menaikkan atau menurunkan angka akrual dalam laporan laba rugi. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) memberikan kelonggaran (flexibility principles) dalam memilih metode akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan. Dalam metode ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan nilai laba yang berbeda-beda di setiap perusahaan. Praktik seperti ini dapat memberikan dampak terhadap kualitas labayang dilaporkan. Laba sebagai bagian dari laporan keuangan, apabila tidak menyajikan fakta yang sebenarnya tentang kondisi ekonomis perusahaan, maka kualitasnya menurun karena dapat menyesatkan pihak pengguna laporan terutama pihak 3 eksternal. Jika laba seperti ini digunakan oleh investor untuk membentuk nilai pasar perusahaan, maka laba tidak dapat menjelaskan nilai pasar yang sebenarnya.

(19)

Infromasi laba diharapkan dapat menjadipedoman untuk pemegang saham dan juga pengguna lainnya. Laba digunakan oleh pihak eksternal sebagai indikator untuk mengukur kinerja operasional perusahaan. Manajer sebagai pihak internal perusahaan

lebih banyak memiliki informasi mengenai kondisi perusahaan di bandingkan pihak eksternal, hal ini yang menyebabkan adanya tindakan manajemen perusahaan untuk melaporkan laba yang tidak menggambarkan kondisi perusahaan yang sebenarnnya (manajemen laba) untuk kepentingan pribadi, misalnya untuk mendapatkan bonus (Paulina dan Rustiti, 2012). Ini dapat menyebabkan manajemen melakukan tindakanpraktek akuntansi yang berorientasi pada laba untuk mencapai kinerja pribadinya. Pentingnya informasi laba membuat sebagian pihak manajemen perusahaan memanipulasi informasi laba perusahaan yang sesungguhnya. Asimetri informasi akan timbul ketika manajer perusahaan lebih banyak mengetahui informasi informasi internal dan prospek perusahaan dimasa yang akan datang dibanding dengan pemegang saham dan stakeholder lainnya (Agusti dan Tyas, 2013). Asimetri informasi ini memungkinkan adanya konflik yang terjadi antara principal dan agen untuk saling mencoba memanfaatkan pihak lain untuk kepentingan pribadinya. Konflik keagenan menyebabkan terjadinya sifat manajemen yang melaporkan laba secara oportunis untuk memaksimalkan kepentingan pribadinya (Rachmawati dan Triatmoko, 2007). Apabila hal ini terjadi, maka akibatnya adalah rendahnya kualitas laba yang dihasilkan.Rendahnya kualitas laba dapat mengakibatkan para penggunanya membuat kesalahan dalam pengambilan keputusan. Laba yang tidak menunjukkan

(20)

informasi kinerja manajemen yang sebenarnya akan membuat pihak pengguna laporan menjadi tersesat.

Menurut Siallagan dan Machffoedz (2006) bagi sebuah perusahaan kualitas laba dari perusahaan sangatlah diperlukan. Kualitas laba adalah laba dalam laporan keuangan yang mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya.

Para investor, calon investor, para analisis keuangan dan para pengguna informasi keuangan lainnya harus mengetahui betul bagaimana kualitas laba yang sebenarnya.

Tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan. Rendahnya kualitas laba akan dapat membuat kesalahan pembuat keputusahan para pemakainya seperti investor dan kreditor, sehingga nilai perusahaan akan berkurang. Kualitas laba akan menjadi pusat perhatian bagi para pengguna laporan keuangan, kususnya bagi mereka yang mengharap kualitas laba yang tinggi.Perusahaan yang memiliki laba dengan kualitas baik adalah perusahaan yang memiliki laba secara berturut-turut dan stabil. Penman (2001), mengungkapkan bahwa laba yang berkualitas adalah laba yang dapat mencerminkan keberlanjutan laba (sustainnable eamings) dimasa depan yang ditentukan komponen akrual dan aliran kasnya.Perusahaan dengan kualitas laba yang tinggi akan melaporkanlabanya secara transparan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas laba perusahaan diantaranya struktur modal, ukuran perusahaan, pertumbuhan, likuiditas dan profitabilitas (Dira dan Astika, 2014).

Perbankan merupakan salah satu sektor ekonomi yang sangat penting peranannya dalam pembangunan ekonomi Indonesia dalam menghadapi era pasar bebas dan globalisasi, baik sebagai perantara antara sektor defisit dan sektor

(21)

surplus maupun sebagai agent of development yang dalam hal ini masih dibebankan kepada bank pemerintah. Alur perekonomian di dunia saat ini tumbuh dengan pesat hal ini sejalan pula dengan berkembangnya lembaga keuangan. Salah satu di antara lembaga-lembaga keuangan tersebut yang paling besar peranannya dalam perekonomian adalah lembaga keuangan bank yang lazimnya disebut Bank.

Menurut Kuncoro (2002:68) bank adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya adalah menghimpun dana dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat dalam bentuk kredit serta memberikan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang. Di negara seperti Indonesia, bank memegang peranan penting dalam pembangunan karena bukan hanya sebagai sumber pembiayaan untuk kredit investasi kecil, menengah, dan besar, tetapi juga mampu mempengaruhi siklus usaha dalam perekonomian secara keseluruhan. Dipilihnya perusahaan perbankan karena saham perusahaan perbankan merupakan salah satu saham yang diminati oleh para investor untuk berinvestasi, karena sektor tersebut memiliki potensi pertumbuhan dan menghasilkan laba ke depan yang cukup bagus seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini yang meningkat. Sektor perbankan merupakan salah satu sektor yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Tingkat pertumbuhan yang tinggi pada sektor perbankan Indonesia menunjukkan pertumbuhan ekonomi negara yang tinggi juga dan sebaliknya, apabila tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun maka hal tersebut akan sangat berpengaruh pada sektor perbankan Indonesia.

(22)

Bank yang sehat adalah bank yang dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik. Dengan kata lain, bank yang sehat adalah bank yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan masyarakat, dapat menjalankan fungsi intermediasi, dapat membantu kelancaran lalu lintas pembayaran serta dapat digunakan oleh pemerintah dalam melaksanakan berbagai kebijakannya, terutama kebijakan moneter. Krisis keuangan global tak hanya berdampak pada sektor riil, tapi juga sektor finansial, bahkan angka kerugian di sektor finansial lebih besar dari kerugian di sektor manufaktur. Keadaan sektor finansial makin memburuk ketika banyak perbankan mengalami keketatan likuiditas.

Tabel I.1

Perusahaan Perbankan Yang Terkena Kasus Terkait Fenomena Kualitas Laba di Indonesia

No Tahun Perusahaan Kasus

1 2009 Bank Century dan Bank IFI

Manipulasi dilakukan dengan memasukkan kredit macet sebagai kredit lancar,

sehingga manajemen tidak perlu melakukan pencadangan untuk kredit macetnya.

2 2009 Bank Mandiri Masalah dalam pemahaman mengenai pengaturan perpajakan

3 2004 Bank Global Indonesia

Melakukan manajemen laba melalui praktik income smoothing yang

mengakibatkan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) dibawah 8% naik menjadi 40% hanya dalam kurun waktu 5 bulan.

Penurunan kepercayaan kepada perbankan muncul akibat banyak kasus yang menimpa sejumlah bank seperti yang terjadi pada Bank Century dan Bank IFI. Hal inilah yang menyebabkan perbankan lebih berhati-hati sehingga

(23)

cenderung memilih untuk menjaga likuiditas lebih tinggi dari yang dibutuhkan dan memilih menaruh dana di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) daripada meminjamkan kepada bank lain yang kekurangan likuiditas atau melakukan ekspansi kredit ke nasabah. (Kementrian Sekretariat Negara RI, 5 Mei 2009).

Kasus lain yang terjadi dalam perusahaan perbankan di Indonesia, khususnya pada bank BUMN, adalah teridentifikasinya masalah dalam pemahaman mengenai pengaturan perpajakan. Badan Pemeriksa Keuangan yang memeriksa bank BUMN dan BPD, menemukan hanya satu (bank BUMN) yang mempunyai unit sendiri untuk mengurus perpajakan yaitu Bank Mandiri. Minimnya pengurusan pajak bank BUMN dan BPD, mengakibatkan sepanjang tahun 2009 ditemukan biaya sebesar Rp 760,57 miliar yang tidak seharusnya dikurangkan dalam penghitungan penghasilan kena pajak di tahun 2009. Ini mengakibatkan diharuskannya koreksi fiskal positif yang berpotensi menambah penerimaan negara Rp 193, 34 miliar.

(Inilah.com, 5 April 2011).

Fenomena yang berkaitan dengan kualitas laba terjadi pada PT Bank Global Internasional Tbk pada tahun 2004, perusahaan ini diduga melakukan manajemen laba melalui praktik income smoothing yang mengakibatkan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) dibawah 8% naik menjadi 40% hanya dalam kurun waktu 5 bulan. (https://suaramerdeka.com)

Laba terdiri dari komponen arus kas operasi dan accruals total (Healy, 1985).

Accruals total terdiri dari discretionary accruals yang merupakan pilihan manajer terhadap konservatisme akuntansi dan non discretionary accruals yang

(24)

menggambarkan pengaruh kondisi bisnis perusahaan. Kualitas laba yang diproksi dengan discretionary accruals menggambarkan bahwa semakin besar nilai discretionary accruals maka semakin besar pula praktik manajemen laba. Praktik manajemen laba yang besar mengindikasikan kualitas laba yang rendah. Informasi tentang laba perusahaan harus berkualitas untuk mendukung keputusan investasi yang berkualitas. Laporan keuangan yang berkualitas (dalam hal ini kualitas laba) diharapkan dapat membantu para investor dan calon investor untuk membuat keputusan.

Laba terdiri dari komponen arus kas operasi dan accruals total (Healy, 1985). Accruals total terdiri dari discretionary accruals yang merupakan pilihan manajer terhadap konservatisme akuntansi dan non discretionary accruals yang menggambarkan pengaruh kondisi bisnis perusahaan. Kualitas laba yang diproksi dengan discretionary accruals menggambarkan bahwa semakin besar nilai discretionary accruals maka semakin besar pula praktik manajemen laba. Praktik manajemen laba yang besar mengindikasikan kualitas laba yang rendah. Informasi tentang laba perusahaan harus berkualitas untuk mendukung keputusan investasi yang berkualitas. Laporan keuangan yang berkualitas (dalam hal ini kualitas laba) diharapkan dapat membantu para investor dan calon investor untuk membuat keputusan. Kualitas laba menjadi perhatian yang utama bagi para pengguna laporan keuangan untuk tujuan investasi dan untuk tujuan kontraktual. Jika informasi tentang laba tidak berkualitas, maka investor bisa melakukan investasi pada perusahaan yang labanya tinggi tapi kualitasnya rendah. Keputusan investasi atau keputusan kontrak yang didasarkan pada laba yang kurang berkualitas akan

(25)

memberikan sinyal yang kurang baik. Kecenderungan manajemen untuk memperlihatkan laba yang besar membuat para investor dan kreditor sering melakukan kesalahan dengan hanya melihat net income at face value dan mengabaikan kualitas laba atas laporan keuangan yang disajikan. Kurangnya kualitas informasi atas laba bisa terjadi karena kebohongan yang sengaja dilakukan oleh penyajinya untuk menyesatkan para pengguna laporan keuangan tersebut.

Sebuah studi komparatif internasional tentang manajemen laba di beberapa negara yang dilakukan oleh Utami (2005), menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling besar tingkat manajemen labanya. Rob (1998 dalam Setiawati, 2010) mendapatkan bukti adanya indikasi pengelolaan laba pada sektor jasa perbankan. Bertrand (2000 dalam Setiawati, 2010) juga menemukan bukti secara empiris bahwa bank di Swiss yang sedikit kurang atau mendekati ketentuan batasan kecukupan modal cenderung untuk meningkatkan rasio kecukupan modal (CAR) mereka agar memenuhi persyaratan dengan cara manajemen laba yang salah satunya adalah dengan merubah kualitas laba yang sebenarnya menjadi tidak akurat.

Merubah suatu kualitas laba perusahaan dilakukan oleh manajer dengan merekayasa laba perusahaannya menjadi lebih tinggi, rendah ataupun selalu sama selama beberapa periode dengan memanfaatkan fakta terkait kelemahan yang tidak bisa kita pungkiri, yaitu fleksibilitas dalam menyusun laporan keuangan.

Fleksibilitas dalam pelaporan keuangan merupakan hal penting, karena memungkinkan manajer untuk menggunakan pengukuran akuntansi yang paling mencerminkan operasi perusahaan, namun hal ini dapat digunakan untuk mendistorsikan kenyataan

(26)

operasi dengan menggunakan diskresi akuntansi yang dimiliki. Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, menambah bias dalam laporan keuangan, serta mengganggu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa (Setiawati dan Na’im, 2000 dalam Setiawati, 2010). Manajemen laba sebenarnya tidak menyalahi prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum, namun praktek ini dapat menurunkan kualitas laporan keuangan suatu perusahaan, sehingga merugikan pihak eksternal dan investor.

Debt to Equity Ratio (DER) dapat memberikan gambaran mengenai struktur

modal yang dimiliki oleh perusahaan sehingga dapat diketahui tingkat risiko tak terbayarkan suatu utang. Debt to Equity Ratio (DER) juga menunjukkan tingkat utang perusahaan. Perusahaan dengan hutang yang besar mempunyai biaya utang yang besar pula. Hal tersebut menjadi beban bagi perusahaan yang dapat menurunkan tingkat kepercayaan investor sehingga hal ini dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Struktur modal yang optimal diperlukan dalam mengelola perusahaan guna mendapatkan keuntungan yang maksimal sehingga dapat memaksimalkan nilai perusahaan. Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Mudjijah, dkk (2014) tentang dengan menggunakan uji model regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DER berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

Menurut Brigham dan Houston (2010) ukuran perusahaan adalah ukuran besar kecilnya sebuah perusahaan yang ditunjukkan atau dinilai oleh total asset, total penjualan, jumlah laba, beban pajak dan lain-lain. Ukuran perusahaan

(27)

menunjukkan aktiva perusahaan yang dimiliki perusahaan. Semakin besar ukuran perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa dijadikan jaminan untuk memperoleh hutang sehingga hutang akan meningkat (Gultom, dkk. 2013). Ukuran perusahaan dinilai dari total aset yang dimiliki perusahaan untuk kegiatan operasinya. Semakin besar perusahaan maka semakin besar pula dana yang dibutuhkan untuk kegiatan operasional perusahaan. Salah satu sumber dana perusahaan yaitu berasal dari pihak eksternal atau utang, hal ini akan mempengaruhi kewajiban perusahaan yang akan ditanggung semakin besar pula. Aset yang dijadikan jaminan untuk memperoleh hutang lebih besar nilainya daripada pengembalian aset yang diterima perusahaan. Sehingga hal tersebut menunjukkan kurang solvabilitasnya antara aset dan hutang pada perusahaan.

Growth menggambarkan prospek pertumbuhan perusahaan dari sisi internal

yakni aktivitas operasional yang digambar kan dari pertumbuhan penjualan.

Semakin tingginya prospek pertumbuhan internal membuat perusahaan akan menjadi perhatian bagi investor sehingga menimbulkan adanya kesempatan bagi perusahaan untuk mendapatkan adanya tambahan dana baru. Sedangkan semakin rendahnya tingkat pertumbuhan mengakibatkan menurunnya kepercayaan investor dengan anggapan buruknya kinerja manajemen perusahaan. Tingginya nilai growth, mengindikasikan adanya kesempatan bagi manajemen untuk melakukan tindakan manajemen laba, hal tersebut dilakukan melihat pengaruh growth bagi investor sangatlah besar. Dengan adanya manajemen laba tersebut akan membuat perubahan pada perolehan laba yang mengakibatkan penurunan pada tingkat kualitasnya.

(28)

Jika perusahaan tersebut memiliki nilai likuiditas yang tinggi akan mencerminkan kemampuan perusahaan yang tinggi untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Perusahaan yang memiliki nilai likuiditas yang baik akan dianggap memiliki kinerja yang baik oleh investor. Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek perusahaan tersebut. Perusahaan yang mempunyai cukup kemampuan untuk membayar hutang lancarnya disebut perusahaan yang likuid, sedangkan apabila perusahaan berada dalam keadaan tidak mempunyai kemampuan membayar hutang lancarnya disebut perusahaan yang likuid (Kasmir, 2012). Jadi, jangan sampai perusahaan terlalu likuid, artinya banyak modal yang tersimpan dalam bentuk kas, hal ini akan menimbulkan hilangnya kesempatan untuk memperoleh laba jika seandainya kas tersebut ditanamkan. Namun sebaliknya perusahaan juga tidak boleh menanamkan seluruh uang yang dimiliki dalam usaha, sehingga ketika diperlukan dana cair, perusahaan akan mengalami kesulitan.

Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas laba adalah besar kecilnya profitabilitas yang dihasilkan oleh perusahaan itu sendiri. Profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Dewi dan Suputra, 2019). Laba merupakan elemen dalam menciptakan nilai perusahaan karena penilaian prestasi perusahaan dapat dilihat dari kemampuan perusahaan menghasilkan laba, jika kemampuan perusahaan tersebut dalam menghasilkan laba meningkat maka harga saham juga akan meningkat.

Profitabilitas memiliki peran penting dalam perusahaan karena semakin baik pertumbuhan profitabilitas berarti prospek perusahaan di masa depan juga baik

(29)

artinya nilai perusahaan juga akan dinilai baik dimata investor dan akan meningkatkan daya tarik perusahaan (Dewi & Suputra, 2019).

Adapun penelitian yang dilakukan Subambang (2019) menyatakan bahwa struktur modal berpengaruh terhadap kualitas laba, sedangkan Dira dan Astika (2014) menyatakan bahwa struktur modal tidak berpengaruh terhadap kualitas laba.

Dira dan Astika (2014) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kualitas laba, sedangkan (Sukmawati, dkk 2014) menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidk berpengaruh terhadap kualitas laba.

Kemudian penelitian yang dilakukan Subambang (2019) menyatakan bahwa growth berpengaruh terhadap kualitas laba. Sedangkan (Laoli dan Verawaty, 2019) menyatakan bahwa growth tidak berpengaruh terhadap kualitas laba. (Ardianti, 2019) Dalam penelitiannya menyatakan bahwa likuiditas berpengaruh terhadap kualitas laba, sedangkan (Salma dan Riska, 2009) menyatakan bahwa likuiditas tidak berpengaruh terhadap kualitas laba. Adapun (Salma dan Riska, 2009) menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh terhadap kualitas laba, sedangkan (Sukmawati, dkk 2014) menyatakan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap kualitas laba. Dengan danya ketidakkonsistenan hasil penelitian terdahulu dan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berlatar belakang di atas sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Struktur Modal, Ukuran Perusahaan, Growth, Likuiditas dan Profitabilitas terhadap Kualitas Laba pada Perusahaan Perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019”.

1.2 PerumusanMasalah

(30)

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apakah struktur modal secara parsial berpengaruh terhadap kualitas laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017- 2019?

2. Apakah ukuran perusahaan secara parsial berpengaruh terhadap kualitas laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017- 2019?

3. Apakah growthsecara parsial berpengaruh terhadap kualitas laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019?

4. Apakah likuiditas secara parsial berpengaruh terhadap kualitas laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019?

5. Apakah profitabilitas secara parsial berpengaruh terhadap kualitas laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019?

6. Apakah struktur modal, ukuran perusahaan, growth, likuiditas dan profitabilitas secara simultan berpengaruh terhadap kualias laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019?

1.3 TujuanPenelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengaruh struktur modal terhadap kualitas laba pada

perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019.

2. Untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan terhadap kualitas laba

(31)

pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019.

3. Untuk mengetahui pengaruh growth terhadap kualitas laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019.

4. Untuk mengetahui pengaruh likuiditas terhadap kualitas laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019.

5. Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas terhadap kualitas laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019.

6. Untuk mengetahui pengaruh struktur modal, ukuran perusahaa, growth, likuiditas dan profitabilitas secara simultan berpengaruh terhadap kualias laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017- 2019

1.4 ManfaatPenelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, maka dalam penelitian ini,manfaat yang diharapkan adalah:

1. Bagi perusahaan

Agar menjadi masukan dalam menyajikan laporan keuangan dengan kualitas laba yang baik.

2. Bagipeneliti

Untuk menyelesaikan tugas akhir dalam pembuatan skripsi.

3. Bagi penelitilain

Sebagai referensi nantinya untuk melakukan penelitian lanjutan terkait kualitas laba.

(32)

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori Signalling

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Menurut Brigham dan Hauston (2011) isyarat atau signal adalah suatu tindakan yang diambil perusahaan untuk memberi petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan merupakan hal yang penting, karena pengaruhnya terhadap keputusan investasi pihak diluar perusahaan. Informasi tersebut penting bagi investor dan pelaku bisnis karena informasi pada hakekatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran, baik untuk keadaan masa lalu, saat ini maupun masa yang akan datang bagi kelangsungan hidup perusahaan dan bagaimana efeknya pada perusahaan. Signalling theory adalah teori yang menjelaskan bahwa jika perusahaan sedang memiliki kondisi yang baik, maka manajemen akandengan sengaja memberikan sinyal pada pasar atau pihak eksternal perusahaan melalui akun-akun dalam laporan keuangan. Hal ini dilakukanmanajemen dengan tujuan agar pihak eksternal dapat melihat pandangan manajemen mengenai prospek perusahaan yang positif di masa depan. Dalam teori ini, manajemen juga diasumsikan akan tetap melaporkan kondisi perusahaan secara jujur ketika perusahaan sedang tidak dalam kondisi yang baik, karena

(33)

manajemen berusaha menjaga kredibilitas perusahaan dipasar (Godfrey dkk, 2010). Dengan demikian, signalling theory memprediksi bahwa perusahaan akan melaporkan informasi mengenai kondisi perusahaan secara lebih terbuka dan wajar,termasuk informasi mengenai laba perusahaan.

2.1.2 Kualitas Laba

Pengguna laporan keuangan menggunakan informasi laba untuk membuat berbagai keputusan penting. Laba sebagai bagian dari laporan keuangan yang tidak menyajikan fakta yang sebenarnya tentang kondisi ekonomis perusahaan sehingga laba yang diharapkan dapat memberikan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan menjadi diragukan kualitasnya. Laba yang tidak menunjukkan informasi yang sebenarnya tentang kinerja manajemen dapat menyesatkan pihak pengguna laporan. Jika laba seperti ini digunakan oleh investor untuk membentuk nilai pasar perusahaan, maka laba tidak dapat menjelaskan nilai perusahaan yang sebenarnya (Rachmawati dan Triatmoko, 2007).

Menurut Wulansari (2013), kualitas laba merupakan kualitas informasi laba yang tersedia untuk publik yang mampu menunjukkan sejauh mana laba dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dan dapat digunakan investor untuk menilai perusahaan. Laba yang berkualitas adalah laba yang mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sebenarnya (Irawati, 2012). Menurut Wulansari (2013) untuk menjadi informasi yang berguna, laba sebagai bagian dari laporan keuangan harus berkualitas. Laba yang

(34)

berkualitas adalah laba yang dapat mencerminkan kelanjutan laba (sustainable earnings) dimasa depan, yang ditentukan oleh komponen akrual dan kas, serta

dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya (Wulansari, 2013).

Adapun menurut Warianto dan Rusiti (2013), laba yang berkualitas merupakan laba yang memiliki 3 karakteristik berikut ini :

1. Mampu mencerminkan kinerja operasi perusahaan saat ini dengan akurat, 2. Mampu memberikan indikator yang baik mengenai kinerja perusahaan di

masa depan,

3. Dapat menjadi ukuran yang baik untuk menilai kinerja perusahaan.

Terdapat beberapa proksi yang dapat digunakan dalam pengukuran kualitas laba antara lain persistensi laba, Discretionary Accruals, ketepatan waktu, dan Earnings Respons Coefficients (Afni dkk, 2014:6).

Pada penelitian ini, kualitas laba diproksi dengan rumus berikut ini :

2.1.3 Struktur Modal

Teori struktur modal bertujuan memberikan landasan berpikir untuk mengetahui struktur modal yang optimal. Suatu struktur modal dikatakan optimal apabila dengan tingkat risiko tertentu dapat memberikan nilai perusahaan yang maksimal. Tujuan utama perusahaan meningkatkan nilai

+3

CAR𝑖(−3,+3) = ARit

t=3

(35)

perusahaan melalui peningkatan pemilik atau pemegang saham. Sumber pendanaan di dalam perusahaan dibagi menjadi dua kategori, yaitu sumber pendanaan internal dan sumber pendanaan eksternal. Sumber pendanaan internal dapat diperoleh dari laba ditahan dan depresiasi aktiva tetap sedangkan sumber pendanaan eksternal dapat diperoleh dari para kreditur yang disebut dengan hutang.

Menurut Fahmi (2015:184) menyatakan bahwa struktur modal adalah gambaran dari bentuk proporsi finansial perusahaan yaitu antara modal yang dimiliki yang bersumber dari utang jangka panjang (long-term liabilities) dan modal sendiri (shareholders’ equity) yang menjadi sumber pembiayaan suatu perusahaan.

Penelitian inimenggunakan proksi Debt to Equity Ratio (DER) yaitu dengan membandingkan jumlah total ekuitas dengan total hutang. Debt to Equity Ratio (DER) digunakan untuk mencerminkan variabel struktur modal perusahaan.

Rasio ini menggambarkan seberapa besar modal perusahaan dibiayai dari biaya asing. Biaya asing disini adalah total hutang yang digunakan perusahaan sebagai biaya operasional perusahaan. Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio perbandingan antara jumlah total ekuitas dengan total hutang.

Sumber : Kasmir, 2012

𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑡𝑜 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = Total Utang Modal Pemegang Saham

(36)

DER dengan angka dibawah 1.00, mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki hutang yang lebih kecil dari ekuitas yang dimilikinya.

Investor harus jeli dalam melihat DER , jika total hutangnya lebih besar dari pada ekuitas, maka investor harus lihat lebih lanjut apakah hutang lancar atau hutang jangka panjang yang lebih besar (Kasmir, 2012). Jika jumlah hutang lancar lebih besar dari pada hutang jangka panjang, keadaan ini masih bisa diterima, karena besarnya hutang lancar sering disebabkan oleh hutang operasi yang bersifat jangka pendek. Jika hutang jangka panjang yang lebih besar, maka dikuatirkan perusahaan akan mengalami gangguan likuiditas dimasa yang akan datang. Selain itu laba perusahaan juga semakin tertekan akibat harus membiayai bunga pinjaman tersebut.

Beberapa perusahaan yang memiliki DER lebih dari satu, hal ini sangat menganggu pertumbuhan kinerja perusahaannya juga menganggu pertumbuhan harga sahamnya. Karena itu sebagian besar para investor menghindari perusahaan yang memiliki angka DER lebih dari 2.

2.1.4 Ukuran Perusahaan

Dalam skala usaha terdapat berbagai ukuran perusahaan yang berbeda, dari perusahaan kecil sampai dengan perusahaan besar perbedaan tersebut tergantung pada investasi yang ditanamkan. Apapun ukuran perusahaannya tujuan yang ingin dicapai tetap sama yaitu suatu perusahaan didirikan adalah untuk menghasilkan laba bagi pemiliknya. Ukuran

(37)

perusahaan adalah besar kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai equity, nilai penjualan atau nilai aktiva (Riyanto ; 2013).

Kriteria ukuran perusahaan terbagi menjadi 4 (empat) kategori menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 pasal 1 yaitu:

1. “Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.

2. Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini.

3. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undangundang ini.

4. Usaha besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari usaha menengah, yang meliputi usaha

(38)

nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia”.

Berikut kriteria ukuran perusahaan dilihat dari nilai kekayaan bersih dan hasil penjualan berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 pasal 6 (enam) adalah sebagai berikut:

1. Kriteria usaha mikro adalah sebagai berikut:

a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;

atau

b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

2. Kriteria usaha kecil adalah sebagai berikut:

a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;

atau

b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

3. Kriteria usaha menengah adalah sebagai berikut:

a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.10.000.000.000,00

(39)

(sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus ribu rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah)”.

Dalam pengukuran ukuran perusahaan dapat ditentukan dengan berbagai nilai seperti total aset, penjualan, modal, laba dan yang lainnya, nilai tersebut dapat menentukan besar kecilnya perusahaan. Menurut (Prasetyantoko ; 2008), pengukuran ukuran perusahaan yaitu besarnya aset total dapat menggambarkan ukuran perusahaan.

Sumber : Riyanto, 2013

2.1.5 Growth

Pertumbuhan laba adalah variabel yang menjelaskan prospek pertumbuhan perusahaan pada masa mendatang. Perusahaan yang memiliki kesempatan untuk tumbuh yang lebih besar mempunyai koefisien respon laba yang tinggi.

Kondisi ini menunjukkan semakin besar kesempatan perusahaan untuk bertumbuh maka semakin tinggi kesempatan perusahaan mendapatkan laba atau menambah laba pada masa mendatang. Dengan demikian semakin pesat pertumbuhan perusahaan maka laba yang dihasilkan perusahaan semakin berkualitas. Perusahaan yang memiliki pertumbuhan laba diharapkan akan memberikan profitabilitas yang tinggi

Ukuran Perusahaan = 𝐿𝑛 (𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡)

(40)

dimasa mendatang, dan diharapkan lebih persistensi sehingga Earning Response Coeficient (ERC) juga akan semakin tinggi.

Perbandingan yang tepat atas pendapatan dan biaya tergambar dalam laporan laba rugi. Penyajian laba melalui laporan tersebut merupakan fokus kinerja perusahaan yang penting. Kinerja perusahaan merupakan hasil dari serangkaian proses dengan mengorbankan berbagai sumber daya. Adapun salah satu parameter penilaian kinerja perusahaan tersebut adalah pertumbuhan laba. Pertumbuhan laba dihitung dengan cara mengurangkan laba periode sekarang dengan laba periode sebelumnya kemudian dibagi dengan laba pada periode sebelumnya. Adapun growth pada penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

2.1.6 Likuiditas

Likuiditas merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban atau membayar utang jangka pendeknya.

Dengan kata lain, rasio likuiditas adalah rasio yang dapat digunakan untuk mengukur sampai seberapa jauh tingkat kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya yang akan segera jatuh tempo. Jika perusahaan memiliki kemampuan untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya pada saat jatuh tempo maka perusahaan tersebut dikatakan sebagai perusahaan yang liquid. Sebaliknya, jika perusahaan tidak memiliki

(41)

kemampuan untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya pada saat jatuh tempo perusahaan tersebut dikatakan sebagai perusahaan yang tidak liquid.

Untuk dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang akan segera jatuh tempo, perusahaan harus memiliki tingkat ketersediaan jumlah kas yang baik atau aset lancar lainnya yang juga dapat dengan segera dikonversi atau diubah menjadi kas (Hery, 2015: 149).

Berikut adalah jenis-jenis rasio likuiditas yang digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek :

a) Rasio Lancar (Current Ratio)

Rasio lancar merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang segera jatuh tempo dengan menggunakan total aset lancar yang tersedia.

b) Rasio Sangat Lancar (Quick Ratio atau Acid Test Ratio)

Rasio sangat lancar atau rasio cepat merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang segera jatuh tempo dengan menggunakan aset sangat lancar.

c) Rasio Kas (Cash Ratio)

Rasio kas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas atau setara kas yang tersedia untuk membayar utang jangka pendek. Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam

(42)

melunasi kewajiban lancarnya yang akan segera jatuh tempo dengan menggunakan uang kas atau setara kas yang ada.

Namun, pada likuiditas pada penelitian menggunakan Current Ratio sebagai berikut :

2.1.7 Profitabilitas

Menurut Kasmir (2014) rasio profitabilitas yaitu rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Kamil dan Herusetya (2012) berpendapat bahwa tingkat profitabilitas yang semakin besar menunjukkan perusahaan mampu mendapatkan laba yang semakin besar, sehingga perusahaan mampu untuk meningkatkan aktivitas tanggung jawab sosial, serta mengungkapkan tanggung jawab sosialnya dalam laporan tahunan dengan lebih luas.

Keuntungan yang layak dibagikan kepada pemegang saham adalah keuntungan setelah bunga dan pajak. Semakin besar keuntungan yang diperoleh semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividennya. Para manajer tidak hanya mendapatkan dividen, tapi juga akan memperoleh usaha yang lebih besar dalam menentukan kebijakan perusahaan. Dengan demikian semakin besar dividen (dividend payout) akan semakin menghemat biaya modal, di sisi lain para manajer (insider) menjadi meningkat usaha bahkan bisa meningkatkan kepemilikannya akibat penerimaan dividen sebagai hasil keuntungan yang tinggi. Jadi,

(43)

profitabilitas menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam keputusan investasinya.

Beberapa jenis rasio profitabilitas yang sering digunakan untuk meninjau kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (Gitman dan Zutter, 2012:79-82) ialah:

a. Gross Profit Margin, rasio ini mengukur berapa besar persentase pendapatan bersih yang diperoleh oleh setiap penjualan.

b. Operating Profit Margin, rasio ini mengukur berapa besar persentase dari penjualan sebelum bunga dan pajak.

c. Net Profit Margin, rasio ini mengukur berapa besar persentase dari penjualan setelah bunga dan pajak.

d. Earning Per Share, rasio ini mengukur tingkat profitabilitas atau keuntungan dari tiap satuan lembar saham.

e. Return on Equity, rasio ini mengukur efektivitas kesuluruhan kinerja manajemen dalam mengelola aktiva perusahaan.

f. Return on Asset, rasio ini mengukur tingkat pengembalian modal sendiri atau investasi para pemegang saham biasa.

Return on Asset (ROA) merupakan salah satu rasio profitabilitas yang

menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. ROA menunjukkan kembalian atau laba perusahaan yang dihasilkan dari aktivitas perusahaan yang digunakan untuk menjalankan perusahaan. Semakin besar rasio ini maka profitabilitas perusahaan akan semakin baik. ROA merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aset

(44)

yang digunakan dalam perusahaan. ROA merupakan rasio antara laba bersih dengan keseluruhan aset untuk menghasilkan laba (Kasmir, 2014). Rasio ini menunjukkan berapa besar laba bersih yang diperoleh perusahaan diukur dari nilai asetnya. Analisis ROA atau sering diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai rentabilitas ekonomi, mengukur perkembangan perusahaan menghasilkan laba.

Sumber : Kasmir, 2014

2.2 Penelitian Terdahulu

Rangkaian penelitian terdahulu diringkas dalam table di bawah ini : Tabel 2.1

Daftar Penelitian Terdahulu No Peneliti

(Tahun)

Variabel Penelitian

Hasil Penelitian 1 Salma dan

Riska (2019)

X1 = Leverage X2 = Likuiditas X3 = Profitabilitas Y = Kualitas Laba

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio leverage dan rasio profitabilitas

berpengaruh terhadap kualitas laba, sedangkan likuiditas tidak berpengaruh terhadap kualitas laba perusahaan makanan dan minuman BEI.

2 Laoli dan Hermawaty (2019).

X1 = Profitabilitas X2 = Growth

Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas, leverage dan firm size berpengaruh

(45)

X3 = Leverage

X4 = Operating Cycle X5 = Prudence Y = Kualitas Laba Z = Firm Size

terhadap kualitas laba, sedangkan growth, operating cycle dan prudence terhadap kualitas laba.

3 Subambang (2019)

X1 = Pertumbuhan Laba

X2 = Struktur Modal Y = Kualitas Laba

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan laba dan struktur modal berpengaruh terhadap kualitas laba.

4 Ardianti (2018)

X1 = Alokasi Pajak antar Periode

X2 = Persistensi Laba X3 = Profitabilitas X4 = Likuiditas Y = Kualitas Laba

Hasil penelitian menunjukkan bahwa alokasi pajak dan persistensi laba tidak berpengaruh terhadap kualitas laba, sedangkan profitabilitas dan likuiditas berpengaruh terhadap kualitas laba.

5 Dira dan Astika (2014)

X1 = Struktur Modal X2 = Likuiditas X3 = Pertumbuhan Laba

X4 = Ukuran Perusahaan

Y = Kualitas Laba

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kualitas laba, sedangkan struktur modal, likuiditas dan pertumbuhan laba terhadap kualitas laba.

(46)

6 Sukmawati, Kusmuriyanto dan Agustina (2014).

X1 = Struktur Modal X2 = Ukuran

Perusahaan X3 = Likuiditas X4 = Profitabilitas Y = Kualitas Laba

Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur modal, leverage dan likuiditas berpengaruh terhadap kualitas laba, sedangkan ukuran perusahaan dan profitabilitas tidak berpengaruh terhadap kualitas laba.

2.3 Kerangka Konseptual

Menurut Sugiyono (2017:60) kerangka konseptual menjelaskan secara teoritis hubungan antar variabel yang akan diteliti, jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.

Adapun penelitian ini membahas pengaruh Struktur Modal, Ukuran Perusahaan, Growth, Likuiditas dan Profitabilitas terhadap Kualitas Laba, sehingga dapat digambarkan sebagai berikut :

(47)

H4 H3 H2

Kualitas Laba (Y)

Profitabilitas (X5)

H5

Likuiditas (X4) Growth

(X3)

Ukuran Perusahaan (X2)

H1

Struktur Modal (X1)

H6

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka konseptual maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

1. Pengaruh Struktur Modal terhadap Kualitas Laba

Struktur modal diukur dari tingkat leveragenya (Hossain et al., 2012).

Struktur modal yang diukur dengan leverage merupakan suatu variabel untuk mengetahui seberapa besar aset perusahaan dibiayai oleh hutang perusahaan (Irawati, 2012). Utang yang dimiliki perusahaan berhubungan dengan

(48)

tinggi hutang perusahaan, maka perusahaan tersebut akan semakin dinamis.

Investasi yang meningkat menunjukkan adanya prospek keuntungan di masa yang akan datang. Pihak manajemen akan lebih terpacu untuk meningkatkan kinerjanya agar hutang- hutang perusahaan dapat terpenuhi sehingga dampak positifnya adalah perusahaan akan lebih berkembang. Keputusan untuk menentukan struktur modal dapat dilihat dari harga sahamnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa struktur modal berpengaruh positif terhadap kualitas laba.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat diambil hipotesis sebagai berikut:

H1 : Struktur modal berpengaruh terhadap kualitas laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019.

2. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kualitas Laba

Ukuran perusahaan berhubungan dengan kualitas laba sebab semakin besar ukuran suatu perusahaan maka kelangsungan usaha perusahaan tersebut akan semakin tinggi dalam meningkatkan kinerja keuangan sehingga perusahaan tidak perlu melakukan praktek manipulasi laba. Ukuran perusahaan merupakan skala pengukuran dapat dikelompokkan menjadi skala kecil, menengah dan besar. Dasar pengukuran tersebut dilihat dari jumlah total aset perusahaan atau total penjualan. Perusahaan yang memiliki ukuran perusahaan yang besar akan mendorong adanya kualitas laba yang meningkat.Sehingga dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap kualitas laba.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat diambil hipotesis sebagai berikut:

(49)

H2 :Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap kualitas labapada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019.

3. Pengaruh Growth terhadap Kualitas Laba

Pertumbuhan laba dapat diketahui dengan mengukur market to book ratio.

Pertumbuhan laba suatu perusahaan biasanya diakibatkan oleh adanya laba kejutan yang diperoleh pada periode sekarang. Investor dapat merespon informasi laba kejutan tersebut sebagai suatu indikasi adanya intervensi dari pihak manajemen perusahaan terhadap laporan keuangan sehingga laba mengalami peningkatan. Oleh karena itu, laba yang dihasilkan perusahaan tidak mencerminkan keadaan perusahaan yang sesungguhnya.Sehingga dapat disimpulkan bahwa growth berpengaruh positif terhadap kualitas laba.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat diambil hipotesis sebagai berikut:

H3 : Growth berpengaruh terhadap kualitas laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019.

4. Pengaruh Likuiditas terhadap Kualitas Laba

Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban lancarnya yang akan segera jatuh tempo. Likuiditas yang tinggi menyebabkan perusahaan cenderung mengungkapkan informasi laba secara luas kepada pihak eksternal dan hal ini akan menggambarkan nilai yang baik bagi investor.

Semakin tinggi nilai likuiditas maka kualitas laba akan semakin tinggi.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa likuiditas berpengaruh positif terhadap kualitas laba.

(50)

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat diambil hipotesis sebagai berikut:

H4 : Likuiditas berpengaruh terhadap kualitas laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019.

5. Pengaruh Profitabilitas terhadap Kualitas Laba

Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam meghasilkan laba melalui asset. Tingkat profitabilitas dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan investasi. yang dimilikinya. Semakin tinggi tingkat profitabilitas perusahaan maka semakin baik signal bagi investor untuk tetap mempertahankan sahamnya pada perusahaan. Semakin tinggi profitabilitas perusahaan maka kualitas laba akan semakin kuat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap kualitas laba.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat diambil hipotesis sebagai berikut:

H5 : Profitabilitas berpengaruh terhadap kualitas laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019.

6. Pengaruh Struktur Modal, Ukuran Perusahaan, Growth, Likuiditas dan Profitabilitas terhadap Kualitas Laba

Berdasarkan keterangan di atas terdapat pengaruh struktur modal, ukuran perusahaan, growth, likuiditas dan profitabilitas terhadap kualitas laba, sehingga dapat diambil hipotesis sebagai berikut :

H6 : Struktur Modal, Ukuran Perusahaan, Growth, Likuiditas dan Profitabilitas berpengaruh terhadap kualitas laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019.

(51)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah suatu kegiatan yang menggunakan metode sistematis untuk memperoleh data yang meliputi pengumpulan data, pengelolaan data dan analisis data. Menurut Sugiyono (2017) yang dimaksud dengan metode penelitian adalah sebagai berikut metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian asosiatif (hubungan) kausal.

Menurut Sugiyono (2017) menyatakan hubungan kasual adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2020 sampai dengan selesai.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono ; 2017:80).

Sedangkan sampel adalah sebagian untuk saja dari seluruh jumlah populasi, yang diambil dari populasi, yang diambil dari populasi dengan cara sedemikian rupa

(52)

sehingga dapat dianggap mewakili seluruh anggota populasi (Soewadji ; 2012:132) .

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2017-2019. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposivesampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2017). Adapun kriteria sampel yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu :

1. Perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI untuk tahun 2017-2019.

2. Menyediakan laporan keuangan tahunan lengkap selama tahun 2017–

2019.

3. Memiliki data yang lengkap terkait dengan variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian.

Tabel 3. 1

Pemilihan Sampel Penelitian

No Kriteria Hasil

1 Perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI 42 2 Tidak menyediakan laporan tahunan lengkap (6) 3 Tidak memiliki data terkait variabel penelitian (2)

Total sampel 34

Sumber : www.idx.co.id (Data diolah Peneliti, 2020).

Berdasarkan kriteria diatas maka di dapat perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang dapat dijadikan sampel penelitian sebanyak 34 perusahaan selama 3 tahun pengamatan (34 x 3) = 102data amatan. Adapun daftar perusahaan yang dijadikan sampel adalah sebagai berikut penelitian.

(53)

Tabel 3. 2 Sampel Penelitian No Kode Nama Perushaan

1 AGRO PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk 2 AGRS PT Bank Agris Tbk

3 BABP PT Bank MNC Internasioan Tbk 4 BACA PT Bank Capital Indonesia Tbk 5 BBCA PT Bank Central Asia Tbk 6 BBKP PT Bank Bukopin Tbk

7 BBMD PT Bank Mestika Dharma Tbk

8 BBNI PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk 9 BBRI PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 10 BBTN PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk 11 BCIC PT Bank Jtrust Indonesia Tbk

12 BDMN PT Bank Danamon Indonesia Tbk

13 BEKS PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk 14 BINA PT Bank Ina Perdana Tbk

15 BJBR PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Tbk 16 BJTM PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk 17 BKSW Bank QNB Indonesia Tbk

18 BMAS PT Bank Maspion Indonesia 19 BMRI PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 20 BNBA PT Bank Bumi Arta Tbk

21 BNGA PT Bank CIMB Niaga Tbk 22 BNII PT Bank Maybank Indonesia Tbk 23 BNLI PT Bank Permata Tbk

24 BSIM PT Bank Sinarmas Tbk

25 BSWD PT Bank of India Indonesia Tbk

26 BTPN PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk 27 BVIC PT Bank Victoria Internasional Tbk

28 INPC PT Bank Artha Graha Internasional Tbk 29 MAYA PT Bank Mayapada Internasional Tbk 30 MCOR PT Bank China Construction Bank Indonesia 31 MEGA PT Bank Mega Tbk

32 NISP PT Bank OCBC NISP Tbk 33 NOBU PT Bank National Nobu Tbk 34 PNBN PT Bank Pan Indonesia Tbk

(54)

3.4 Sumber Data Penelitian

Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data (Sugiyono, 2017). Sumber data penelitian ini adalah data sekunder yang diambil dari publikasi yang dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia berupa laporan keuangan setiap perusahaan sampel tahun 2017 sampai dengan 2019.

3.5 Teknik Pengumpulan Data Penelitian

Teknik pengumpulan data penelitian ini dengan teknik dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan dan memanfaatkan data laporan tahunan perusahaan perbankan tahun 2017–2019 yang telah tersedia sebagai informasi. Data tersebut diperoleh dari situs yang dimiliki Bursa Efek Indonesia yaitu www.idx.co.id.

3.6 Definisi Operasional Variabel Penelitian

Menurut Sugiyono (2017), definisi operasional variabel adalah penentuan konstrak atau sifat yang akan dipelajari sehingga menjadi variabel yang dapat diukur.

3.6.1 Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel independen sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor, antecedent. Menurut Sugiyono (2017) :“Variabel bebas merupakan variabel

yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat).” Maka dalam penelitian ini variabel independen yang diteliti adalah Struktur Modal (X1), Ukuran Perusahaan (X2), Growth

(55)

(X3), Likuiditas (X4) dan Profitabilitas (X5) pada penelitian ini berpengaruh terhadap Kualitas Laba (Y).

3.6.2 Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel dependen sering disebut sebagai variabel output, kriteria, dan konsekuen. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2017). Maka dalam penelitian ini variabel dependen yang diteliti adalah adalah Kualitas Laba (Y).

Tabel 3. 3

Operasional Variabel dan Skala Pengukuran Variabel

No Variabel Definisi Variabel Indikator Skala 1 Kualitas

Laba

Kualitas laba adalah kualitas informasi laba yang tersedia untuk publik yang mampu menunjukkan sejauh mana laba dapat mempengaruhi pengambilan keputusan dan dapat digunakan investor untuk menilai perusahaan.

+3

CAR (−3,+3) = ARit

t=3

Rasio

2 Struktur

Modal

Struktur modal merupakan

perimbangan antara penggunaan modal pinjaman terdiri dari utang jangka pendek yang bersifat permanen, utang jangka panjang dengan modal sendiri yang terdiri dari saham preferen dan saham biasa. Dalam penelitian ini menggunakan DER.

DER = Total Utang Modal Pemegang Saham

Sumber :Kasmir, 2012

Rasio

3 Ukuran

Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah besar kecilnya perusahaan yang dapat diukur

Ukuran Perusaha = ( ) Sumber :Riyanto, 2012

Rasio

Referensi

Dokumen terkait

Apabila berdasarkan pada besaran nominal maka arus besar yang melewati sekunder transformator akan merusak peralatan serta setting slope yang tepat untuk relai

Keberhasilan Bank Syariah Mandiri dalam mengkonversi sistem perbankan dari konvensional ke sistem syariah inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengkaji lebih

Peningkatan pengeluaran pada laporan biaya lingkungan berdasarkan kategori dapat mengurangi permasalahan perusahaan diantaranya, jumlah karyawan yang mengalami

Pendiri Prison Fellowship dan The Chuck Colson Center for Christian Worldview Dalam Hidup yang Terancam, Joni and Friends menyajikan pandangan yang jujur akan isu-isu kultural

Dari hasil pengukuran denyut nadi, didapatkan rata-rata denyut nadi pada area pengecoran logam 126,8 denyut /menit dalam katagori beban kerja berat, sedangkan di bagian finishing

Asistensi Pengelolaan Aset Kabupaten Polewali Mandar dengan menggunakan aplikasi SIMDA BMD dalam rangka peningkatan opini dari WDP menuju WTP atas LKPD Provinsi

Sosial budaya masyarakat Bolango pada masa kerajaan terutama pra-Islam, terbagi ke dalam golongan stratifikasi sosial yakni Olongia (Raja-raja dan keturunannya),