• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA. 5 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. TINJAUAN PUSTAKA. 5 Universitas Kristen Petra"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

5 2.1. Landasan Teori

2.1.1. Dividen Saham

Perusahaan memanfaatkan saham dividen sebagai cara untuk memberikan imbalan kepada para pemegang saham tanpa menggunakan uang tunai, pada umumnya perusahaan membutuhkan uang tunai untuk membiayai pertumbuhan perusahaan yang cepat maka perusahaan dapat memanfaatkan dana yang disediakan untuk pembayaran dividen. Sedangkan para pemegang saham dapat diberi dividen saham, selama pemegang saham memahami bahwa perusahaan menginvestasikan kembali aliran kas yang diperoleh dari laba untuk memaksimalisasi laba yang akan datang maka harga pasar saham tidak berubah tetapi jika laba perusahaan yang seharusnya dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen tunai dibayarkan oleh perusahaan untuk melunasi hutang-hutang yang jatuh tempo maka tindakan tersebut dapat menurunkan harga pasar saham.

Dividen saham menurut Sundjaja (2001, p.234) adalah pembayaran dividen atau keuntungan kepada pemegang saham dalam bentuk saham sebagai pengganti dividen tunai. Dividen saham menurut sudut pandang pemegang saham yang menerima dividen saham yang sebenarnya tidak memberikan nilai tambah dari dividen tersebut, tetapi setelah dividen saham dibagikan, maka nilai per lembar saham akan menurun. Sehingga sebenarnya pendapatan total pemegang saham tidak berubah.

Menurut Baridwan (1992, p.434), dividen yang dibagikan kepada

pemegang saham perusahaan akan sebanding dengan jumlah lembar saham

yang dimiliki, biasanya dividen dibagikan dengan interval waktu yang tetap

tetapi kadang-kadang perusahaan mengadakan pembagian dividen tambahan

diantara interval waktu yang telah ada. Apabila dividen yang dibagikan

berbentuk selain uang tunai maka akan dicatat dengan istilah yang sesuai.

(2)

2.1.2. Kebijakan Dividen

Kebijakan dividen berhubungan dengan masalah penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham. Pada dasarnya, laba yang diperoleh perusahaan dapat dibagikan seluruhnya dalam bentuk dividen atau ditahan untuk diinvestasikan kembali.

Dividen tunai merupakan sumber aliran kas bagi pemegang saham dan memberikan informasi tentang kinerja perusahaan saat ini dan yang akan datang, dividen tunai yang diharapkan oleh pemilik dan investor akan menentukan nilai saham perusahaan. Keputusan dividen dapat mempengaruhi secara signifikan kebutuhan pembiayaan eksternal perusahaan. Dengan kata lain jika perusahaan membutuhkan pembiayaan, maka semakin besar dividen tunai yang dibayarkan, semakin besar pula jumlah pembiayaan yang harus diperoleh dari pihak eksternal melalui pinjaman atau melalui penjualan saham biasa.

Menurut Sundjaja (2001, p.227) kebijakan dividen yang diputuskan oleh perusahaan harus diterima oleh para pemegang saham, investor lebih senang perusahaan menahan keuntungannya untuk diinvestasikan kembali daripada keuntungan dibayarkan dalam bentuk dividen.

Sedangkan menurut Abdul Halim (2003, p.92), kebijakan dividen saham dapat dilakukan apabila terdapat kesempatan investasi yang menjanjikan hasil pengembalian yang lebih besar daripada pengembalian yang disyaratkan oleh para pemegang saham. Oleh karena itu diperlukan informasi yang benar kepada pemegang saham tentang adanya kesempatan investasi yang menguntungkan di masa mendatang. Kebijakan dividen saham tidak dibenarkan apabila dividen saham tersebut digunakan untuk mengatasi kesulitan keuangan perusahaan.

2.1.3. Teori-Teori Dividen

Teori – teori mengenai dividen adalah sebagai berikut:

a. Teori Irrelevansi Dividen

Teori residu dividen menyatakan jika perusahaan tidak dapat memperoleh

pengembalian dari investasi yang melebihi biaya modal (WMCC) maka

(3)

laba harus dibagikan dengan membayar dividen kepada pemegang saham.

Pandangan ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Merton H. Miller dan Franco Modigliani yang biasa disebut teori “M dan M” dalam Sundjaja (2001, p.229) menunjukkan bahwa dalam dunia yang sempurna (ada kepastian, tidak ada pajak, tidak ada biaya transaksi, dan tidak ada pasar lain yang sempurna) maka nilai dari perusahaan tidak dipengaruhi oleh distribusi dividen, nilai perusahaan ditentukan oleh kemampuan menghasilkan laba dan resiko dari aktiva (Investasi).

b. Teori Relevansi Dividen

Myron J. Gordon dan John Lintner menyatakan bahwa ada hubungan langsung antara kebijakan dividen dan nilai pasar suatu saham. Dasar pemikirannya adalah jika pembayaran dividen yang dilakukan saat ini dapat mengurangi ketidakpastian investor, sebaliknya jika dividen dikurangi atau tidak dibayarkan maka tingkat ketidakpastian investor akan meningkat dan menyebabkan penurunan nilai saham perusahaan. (required rate of return). (Sundjaja, 2001, p.230)

c. Teori bird-in-the-hand theory

Menurut teori bird-in-the-hand theory (Copeland, 1992, p.553) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara nilai sebuah perusahaan dengan jumlah dividen yang dibayarkan, keputusan dividen tidak dapat mengubah present value dari sejumlah dana tunai yang diterima oleh para pemegang saham.

2.1.4. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

Menurut Brigham (2001, p.89-90), faktor - faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen dapat dikelompokkan menjadi empat kategori besar yaitu:

• Kendala atas pembagian dividen Kendala-kendala tersebut meliputi:

a. Kontrak Utang

Besarnya utang yang dimiliki oleh sebuah perusahaan biasanya

membatasi pembagian dividen dari laba yang dihasilkan. Biasanya

utang yang dimiliki oleh sebuah perusahaan juga seringkali

(4)

memberikan sinyal bahwa tidak ada dividen yang dapat dibagikan kecuali kalau rasio lancar, rasio kemampuan membayar bunga dan rasio-rasio pengaman lainnya melebihi batas minimum yang ditetapkan.

b. Pembatasan saham preferen

Dividen saham biasa tidak dapat dibayarkan jika perusahaan belum membayarkan dividen kepada para pemegang saham preferen.

c. Ketidakcukupan laba

Pembayaran dividen tidak boleh melebihi laba yang ditahan pada pos neraca. Tanpa peraturan tersebut suatu perusahaan yang sedang mengalami kesulitan keuangan mungkin membagikan sebagian besar aktivanya kepada pemegang saham dan membiarkan para kreditornya terlantar.

d. Ketersediaan kas

Dividen tunai dapat dibagikan hanya dengan uang kas. Jadi kekurangan dana kas yang tersedia di Bank dapat membatasi pembagian dividen akan tetapi hal itu bisa diatasi bila perusahaan memperoleh pinjaman.

• Peluang Investasi

Peluang Investasi tersebut meliputi:

a. Letak dari daftar IOS. Apabila daftar IOS tinggi (proyek memiliki internal rate yang lebih tinggi), maka hal ini akan cenderung menghasilkan target rasio pembayaran dividen yang rendah.

b. Kemungkinan untuk mempercepat atau menunda proyek, ini akan memungkinkan perusahaan untuk lebih konsisten dengan kebijakan dividen yang stabil.

• Sumber-sumber modal lainnya

Sumber-sumber modal lainnya ini meliputi:

a. Biaya penjualan saham baru, Bila ingin membiayai sejumlah investasi

tertentu, perusahaan dapat memperoleh ekuitas dengan menahan laba atau

dengan menjual saham biasa yang baru.

(5)

b. Kemampuan untuk mensubstitusi ekuitas dengan uang, suatu perusahaan dapat membiayai sejumlah investasi tertentu baik dengan utang ataupun ekuitas.

• Efek Kebijakan Dividen

Faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen : (a) keinginan pemegang saham untuk mendapatkan penghasilan sekarang dibanding penghasilan yang akan datang, (b) tingkat risiko dari dividen dibanding keuntungan modal, (c) manfaat pajak dari keuntungan modal dibanding dividen dan (d) informasi atau isyarat yang terkandung dalam dividen.

Sedangkan menurut Sundjaja (2001, p.230), faktor - faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen ada 2 yaitu berdasarkan peraturan hukum dan berdasarkan faktor keuangan dan ekonomi. Faktor - faktor berdasarkan peraturan hukum adalah:

a. Peraturan mengenai laba bersih menyatakan bahwa dana untuk pembayaran dividen dapat diperoleh dari laba yang terdahulu maupun laba yang diperoleh periode sekarang.

b. Peraturan mengenai tindakan yang merugikan modal.

Sebagai upaya untuk melindungi kepentingan para kreditur, pembayaran dividen tidak boleh didanai dari dana investasi melainkan harus diambil dari sebagian laba yang diperoleh perusahaan.

c. Peraturan mengenai tak mampu bayar.

Perusahaan boleh tidak membayar dividen jika perusahaan mengalami kebangkrutan.

Faktor-faktor yang kedua berdasarkan keuangan dan ekonomi adalah sebagai berikut:

a. Perlunya membayar kembali pinjaman. Jika perusahaan telah membuat pinjaman untuk memperluas usahanya atau untuk pembiayaan lainnya.

b. Keterbatasan karena kontrak pinjaman, kondisi ini menyangkut

pinjaman jangka panjang yang seringkali membatasi kemampuan

perusahaan untuk membayar dividen tunai.

(6)

c. Tingkat penjualan aktiva, semakin cepat pertumbuhan perusahaan semakin besar kebutuhannnya untuk membiayai pengembangan aktiva perusahaan.

d. Tingkat keuntungan, laba dapat dibagikan kepada pemegang saham atau tetap ditahan di perusahaan untuk digunakan kembali.

e. Stabilitas keuntungan, Perusahaan yang keuntungannya relatif teratur seringkali dapat memperkirakan bagaimana keuntungan dikemudian hari.

f. Pasar Modal. Perusahaan besar yang sudah mantap, dengan profitabilitas yang tinggi dan keuntungan yang teratur dengan mudah dapat masuk ke pasar modal atau memperoleh sumber dana dari pihak luar untuk pembiayaan operasional perusahaannya.

g. Kontrol, Kebijakan ini dijalankan atas pertimbangan bahwa menambah modal dengan menjual saham biasa akan mengurangi kontrol atas perusahaan oleh golongan pemegang saham yang kini sedang berkuasa.

h. Keputusan kebijakan dividen, Hampir semua perusahaan ingin mempertahankan dividen per saham pada tingkat yang konstan.

Menurut Riyanto (1995, p.267-268), faktor-faktor yang mempengaruhi Kebijakan Dividen suatu perusahaan adalah sebagai berikut:

a. Posisi Likuiditas Perusahaan, Posisi likuiditas dari suatu perusahaan merupakan faktor yang penting yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan untuk menetapkan besarnya dividen yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham.

b. Kebutuhan dana untuk membayar utang, Apabila suatu perusahaan akan memperoleh utang baru dengan cara menjual obligasi baru untuk membiayai perluasan perusahaan, sebelum keputusan tersebut dibuat perusahaan harus sudah merencanakan bagaimana caranya untuk membayar kembali utang tersebut.

c. Tingkat pertumbuhan perusahaan, Makin cepat tingkat pertumbuhan

suatu perusahaan makin besar pula kebutuhan dana yang diperlukan

untuk membiayai pertumbuhan perusahaan tersebut. Makin besar

(7)

kebutuhan dana untuk membiayai pertumbuhan maka perusahaan akan cenderung untuk menahan labanya daripada membayarnya dalam bentuk dividen kepada pemegang saham.

d. Pengawasan terhadap perusahaan, Pengawasan tersebut sangat penting karena perusahaan yang mempunyai kebijakan hanya membiayai ekspansinya dengan dana yang berasal dari sumber intern saja, hal tersebut akan melemahkan pengawasan dari pemegang saham di dalam perusahaan.

2.1.5. Jenis-Jenis Kebijakan Dividen

Menurut Riyanto (1995, p.269), jenis-Jenis kebijakan dividen yang dilakukan oleh perusahaan ada 4 antara lain:

a. Kebijakan dividen yang stabil.

b. Kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen plus jumlah ekstra tertentu.

c. Kebijakan dividen dengan penetapan dividen payout ratio yang konstan.

d. Kebijakan dividen yang fleksibel.

Sedangkan menurut Sundjaja (2001, p.232) kebijakan dividen harus diformulasikan untuk dua dasar tujuan dengan memperhatikan maksimalisasi kekayaan dari pemilik perusahaan dan pembiayaan yang cukup. Kedua tujuan tersebut saling berhubungan dan harus memenuhi faktor hukum, perjanjian, intern, pertumbuhan, hubungan dengan pasar yang membatasi alternatif kebijakan.

Adapun jenis kebijakan dividen menurut Sundjaja (2001, p.232-234) ada tiga yaitu kebijakan dividen rasio pembayaran konstan (constant-payout- ratio dividend policy), kebijakan dividen yang teratur (regular dividend policy) dan kebijakan dividen rendah yang teratur dan ditambah ekstra (low- regular-and-extra dividend policy).

Dari kedua tujuan tersebut saling berhubungan dan harus memenuhi

faktor hukum, perjanjian, intern, pertumbuhan dengan pemilik, hubungan

dengan pasar yang membatasi alternatif kebijakan.

(8)

Sedangkan menurut Sundjaja (2001, p.232-234), ada tiga jenis kebijakan dividen yaitu:

• Kebijakan dividen rasio pembayaran konstan (constant-payout-ratio dividend policy)

Rasio pembayaran dividen (dividend payaout ratio) merupakan persentase dari setiap rupiah laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk tunai dihitung dengan membagi dividen kas per lembar dengan laba per lembar saham.

Kebijakan dividen yang didasarkan pembayaran dividen dalam persentase tertentu dari pendapatan yang dibayarkan kepada pemegang saham pada setiap periode pembagian dividen. Dengan kebijakan tersebut jika laba perusahaan turun atau rugi pada suatu periode tertentu maka dividen menjadi rendah atau tidak ada, karena dividen merupakan indikasi dari kondisi perusahaan yang akan datang.

• Kebijakan dividen yang teratur (regular dividend policy)

Kebijakan dividen yang teratur (regular dividend policy) merupakan kebijakan dividen yang didasarkan atas pembayaran dividen dengan rupiah yang tetap dalam setiap periode. Seringkali kebijakan dividen teratur digunakan dengan memakai target rasio pembayaran dividen (target dividend-payout ratio) yaitu kebijakan dimana perusahaan mencoba membayar dividen dalam persentase tertentu.

• Kebijakan dividen rendah yang teratur dan ditambah ekstra (low-regular- and-extra dividend policy)

Kebijakan dividen rendah yang teratur dan ditambah ekstra (low-regular-

and-extra dividen policy) merupakan kebijakan dividen yang didasarkan

pada pembayaran dividen dalam jumlah yang relatif kecil namun

dibagikan secara teratur dengan penambahan dividen secara langsung jika

laba yang diperoleh perusahaan pada periode tertentu lebih tinggi dari

normal, perusahaan berpeluang untuk membayar tambahan dividen

tersebut (dividen ekstra). Perusahaan yang membayar dividen lebih rendah

tetapi teratur pada setiap periode maka perusahaan tersebut memberi

investor pendapatan stabil yang dibutuhkan untuk membangun

(9)

kepercayaan pada perusahaan dan extra dividen diberikan sebagai pembagian hasil pada saat perusahaan dalam kondisi keuangan yang baik.

Dividen ekstra tidak boleh diberikan secara teratur karena tidak akan memberi dampak yang berarti dan penggunaan target rasio pembayaran dividen dalam bentuk persentase tertentu terhadap laba lebih dianjurkan.

2.1.6. Agency Cost (Biaya Keagenan)

Pemberian dividen awal bisa mengurangi biaya agen (perantara) karena deviden tersebut mengurangi Free Cash Flow yang tersedia bagi para manajer. Di lain pihak, penghapusan dividen dapat meningkatkan biaya agen karena akan memperbesar Free Cash Flow perusahaan. Hal tersebut disebabkan karena perusahaan yang mengalami masalah keuangan dan memiliki kinerja keuangan yang lemah dapat dipastikan akan menghapus dividen dengan harapan akan memperbesar laba ditahan. (Sabur Mollah, 2000, p.8).

Menurut Brigham et.al dalam Jesica (2002), agency cost (biaya keagenan) merupakan biaya yang meliputi semua biaya untuk monitoring tindakan manajer, mencegah tingkah laku manajer yang tidak dikehendaki, dan opportunity costs akibat pembatasan yang dilakukan pemegang saham terhadap tindakan manajer.

Menurut Jensen (1986) dalam Sabur Mollah (2000, p.8) yang menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki penambahan kas pada NPV positif, maka akan lebih baik bagi manajer untuk mengembalikan net cash inflow kepada pemegang saham dalam bentuk dividen untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham.

Selain itu ia juga berpendapat bahwa keberadaan free cash flow dapat memicu manajemen dalam menjalankan operasional perusahaan, sementara itu Lang dan Lizenberger (1989) dalam Sabur Mollah (2000, p.8) menyebutkan bahwa bentuk hipotesis tentang free cash flow yang lebih luas lagi adalah hipotesis overinvestment atau investasi yang berlebihan. Jenis hipotesis ini memprediksi bahwa tingkat pengembalian rata-rata sebagai akibat dari pengumuman perubahan dividen adalah lebih besar untuk perusahaan yang memiliki investasi berlebih dibandingkan dengan perusahaan yang hanya memaksimalkan nilai perusahaan.

Hal ini menunjukkan bahwa ukuran dividen yang diumumkan merupakan

sebuah peningkatan fungsi dari aliran kas yang diharapkan. Bar-Yosef dan

(10)

Huffman (1986) dalam Sabur Mollah (2000, p.8) mengamati adanya kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat aliran kas yang diharapkan maka semakin rendah kepemilikan pihak manajerial terhadap aliran kas dividen.

Lang dan Litzenberger (1989) dalam Sabur Mollah (2000, p.8) tersebut melakukan penelitian ulang atas pengumuman dividen untuk menentukan apakah free cash flow memiliki kekuatan untuk menjelaskan dan memberi informasi.

Pada akhirnya mereka sampai pada kesimpulan bahwa aliran kas bebas memiliki kekuatan untuk memberikan informasi.

Menurut Jensen dan Meckling dalam Wahidahwati (2002, p.1-16), Ada

beberapa alternatif untuk mengurangi agency cost yaitu, pertama dengan

meningkatkan kepemilikan saham perusahaan oleh manajemen dan selain itu

manajer merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil dan juga

apabila ada kerugian yang timbul sebagai konsekuensi dari pengambilan

keputusan yang salah, kepemilikan ini akan mensejajarkan kepentingan

manajemen dengan pemegang saham, dengan demikian maka kepemilikan saham

oleh manajemen merupakan insentif bagi para manajer untuk meningkatkan

kinerja perusahaan dan manajer akan menggunakan hutang secara optimal

sehingga akan meminimumkan biaya keagenan. Kedua, apabila peningkatan

dividend payout ratio, akan mengakibatkan tidak tersedia cukup banyak free cash

flow sehingga manajemen terpaksa mencari pendanaan dari luar untuk membiayai

pembayaran dividen. Ketiga, meningkatkan pendanaan dengan hutang karena

dengan peningkatan hutang akan menurunkan besarnya konflik antara pemegang

saham dengan manajemen disamping itu utang juga akan menurunkan excess cash

flow yang ada dalam perusahaan sehingga menurunkan kemungkinan pemborosan

yang dilakukan oleh manajemen. Pada agency theory yang disebut prinsipal

adalah pemegang saham dan yang dimaksud agen adalah manajemen yang

mengelola perusahaan, dalam manajemen keuangan tujuan utama perusahaan

adalah memaksimumkan kemakmuran pemegang saham, untuk itu maka manajer

yang diangkat oleh pemegang saham harus bertindak untuk kepentingan

pemegang saham tetapi ternyata sering ada konflik antara manajemen dan

pemegang saham, konflik ini disebabkan karena adanya perbedaan kepentingan

antara manajer dan pemegang saham. Manajemen perusahaan mempunyai

(11)

kecenderungan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan sumber keuangan yang diperoleh bukan dari dalam perusaahan sendiri, perilaku ini biasa disebut sebagai keterbatasan rasional dan manajer cenderung tidak menyukai resiko. Agency problem akan terjadi bila proporsi kepemilikan manajer atas saham perusahaan kurang dari 100 % sehingga manajer cenderung bertindak untuk mengejar kepentingan dirinya dan sudah tidak berdasar maksimalisasi nilai perusahaan dalam pengambilan keputusan pendanaan. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari pemisahan fungsi pengelola dengan fungsi kepemilikan, manajemen tidak menanggung resiko atas kesalahan dalam mengambil keputusan, resiko tersebut sepenuhnya ditanggung oleh pemegang saham. Oleh karena itu manajemen cenderung melakukan pengeluaran yang bersifat konsumtif dan tidak produktif untuk kepentingan pribadinya seperti peningkatan gaji dan status.

2.1.6.1. Insider Ownership (Kepemilikan Orang Dalam)

Menurut teori keagenan (Akhige dan Madura dalam Sabur Mollah, 2000,

p.8) menyebutkan bahwa perusahaan membayar dividen dalam jumlah yang lebih

tinggi sebagai sarana untuk mengendalikan dan mengikat pihak manajemen yang

memiliki saham biasa dalam prosentase yang lebih rendah atau dengan kata lain

jumlah saham biasa yang lebih banyak dimiliki oleh publik dapat mengurangi

biaya keagenan (perantara). Hal ini diasumsikan bahwa jika prosentase saham

biasa lebih banyak dimiliki oleh pihak manajemen, maka pengaruh dari pihak

publik akan lebih kecil. Manajemen biasanya cenderung untuk meningkatkan

keuntungan mereka sendiri (misalnya dengan jalan meningkatkan gaji direktur,

meningkatkan gaji dan bonus karyawan, dan lain-lain) dibandingkan dengan

membayarkan dividen. Rasio saham yang dipegang oleh pihak manajemen ini

diperhitungkan sebagai perkiraan atas kepemilikan orang dalam untuk

meningkatkan biaya keagenan yang nantinya akan meningkatkan konflik antara

manajer dengan pemegang saham. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk

kasus seperti ini disusun hipotesis yang menunjukkan adanya hubungan negatif

antara kepemilikan ”orang dalam” dengan dividend payout ratio karena semakin

rendah tingkat kepemilikan ”orang dalam” maka akan memicu permasalahan

(12)

keagenan menjadi meningkat, dengan demikian pembayaran dividend juga makin rendah.

2.1.6.2. Dispersion of Ownership (Penyebaran Kepemilikan)

Dalam Sabur Mollah (2000, p.8) keagenan menekankan bahwa pada kepemilikan saham yang lebih banyak memiliki bargaining power yang lebih kuat dan lebih memiliki pengaruh pada manajemen. Dalam kondisi seperti ini pembayaran dividend lebih banyak untuk mengontrol pengaruh kepemilikan yang menyebar dan .mengurangi biaya keagenan. Jumlah pemegang saham biasanya digunakan sebagai variabel yang mewakili penyebaran kepemilikan saham. Variabel ini berkaitan dengan biaya keagenan yang cenderung meningkat sejalan dengan terjadinya konflik antara manajer dengan pemegang saham.

Berdasar hal ini disusun hipotesis tentang adanya hubungan negatif antara jumlah pemegang saham biasa dengan deviden pay-out ratio karena jumlah pemegang saham yang meningkat akan membuat permasalahan keagenan juga akan meningkat. Dengan demikian perlu dilakukan peningkatan tindakan pengawasan; dengan cara memberikan dividend dengan harapan bisa mengurangi permasalahan yang timbul.

2.1.6.3. Free cash flow (Aliran Kas Bebas)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Jensen et.al. (1986) dalam Sabur

Mollah (2000, p.9), tentang aliran kas bebas adalah bahwa perusahaan yang

memiliki peluang pertumbuhan lebih tinggi akan memiliki aliran kas bebas yang

lebih rendah. Dengan semikian, hal ini mengharuskan pembayaran dividend yang

lebih rendah untuk mengurangi biaya keagenan atas aliran kas bebas. Hasil

penelitian Jensen terkait didukung oleh Rozeff (1982), Jensen et.al. (1992), dan

Smith dan Wash (1999). Ratio free cash flow terhadap aktiva total diperhitungkan

sebagai perkiraan atas aliran kas bebas untuk memperkirakan biaya keagenan

yang meningkatkan free cash flow. Hal ini menunjukkan adanya hipotesis yang

mengindikasikan adanya hubungan positif antara free cash flow dengan dividend

pay out ratio karena perusahaan yang memiliki free cash flow lebih banyak

(13)

cenderung memberikan dividen dalam jumlah yang lebih besar, hal ini akan mengurangi biaya keagenan

2.1.6.4. Collaterizable assets (Aktiva yang Diagunkan)

Ratio atas aktiva tetap bersih terhadap aktiva total diperhitungkan sebagai perkiraan atas aktiva yang bisa diagunkan untuk meningkatkan biaya keagenan.

Hipotesis yang diajukan Titman and Wessels, (1988) dalam Sabur Mollah (2000, p.9) mengindikasikan adanya hubungan positif antara aktiva yang bisa diagunkan dengan dividend pay-out ratio karena perusahaan yang memiliki lebih banyak asset yang bisa diagunkan akan memiliki permasalahan yang lebih sedikit atas biaya keagenan yang terjadi antara pemegang saham dan pemegang obligasi yang selanjutnya akan memicu peningkatan pembayaran dividen.

2.1.6.5. Assets Turnover (Perputaran Aktiva)

Rasio yang memperlihatkan efisiensi aktiva perusahaan dalam menghasilkan pendapatan. Rasio perputaran aktiva juga dapat dihitung untuk aktiva khusus seperti rasio penjualan terhadap kas dan penjualan terhadap persediaan. Rasio yang lebih tinggi mencerminkan kemampuan perusahaan yang menguntungkan dengan mempekerjakan aktiva secara efektif. Rasio ini digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan aktiva oleh manajemen. Semakin tinggi rasio ini maka semakin produktif aktiva tersebut digunakan untuk menciptakan nilai bagi pemegang saham.

2.1.7. Hubungan Variabel Bebas Terhadap Variabel Terikat

2.1.7.1. Hubungan Antara Insider Ownership (Kepemilikan Orang Dalam) Terhadap Dividend Payout Ratio (DPR)

Variabel insider ownership mempunyai hubungan yang negatif terhadap dividend payout ratio, karena semakin banyak saham yang dimiliki oleh insider ownership, maka pihak menajemen cenderung menahan pembayaran dividen.

Sebagai gantinya pihak manajemen akan berusaha meningkatkan keuntungan bagi

mereka sendiri berupa kenaikan gaji direksi, gaji dan bonus karyawan dan

sebagainya. Dengan kata lain semakin sedikit saham yang dimiliki oleh insider

(14)

ownership atau semakin banyak saham yang dimiliki outsider ownership maka masalah keagenan akan meningkat (Sabur Mollah, 2000, p.10)

2.1.7.2. Hubungan Antara Dispersion of Ownership (Penyebaran Kepemilikan) Terhadap Dividend Payout Ratio (DPR)

Variabel Dispersion of Ownership mempunyai hubungan yang negatif terhadap Dividend Payout Ratio, karena semakin banyak jumlah pemegang saham biasa masalah keagenan antara manajer dan pemegang saham akan meningkat pula. Pengawasan terhadap kinerja perusahaan yang semakin bertambah ini dapat dikurangi dengan pembagian dividen. Dispersion of Ownership diukur dengan menggunakan variance. Nilai variance yang kecil menunjukkan data kepemilikan saham semakin homogen atau tidak terkonsentrasi pada satu atau beberapa pemegang saham saja, sebaliknya nilai variance yang besar menunjukkan data kepemilikan saham semakin heterogen atau terkonsentrasi pada satu atau beberapa pemegang saham saja. (Sabur Mollah, 2000, p.10)

2.1.7.3. Hubungan Antara Free Cash Flow (Aliran Kas Bebas) Terhadap Dividend Payout Ratio (DPR)

Free cash flow mempunyai hubungan yang positif terhadap Dividend Payout Ratio dengan anggapan bahwa semakin banyak Free cash flow yang dimiliki perusahaan maka dividen yang dibayarkan juga semakin tinggi. (Sabur Mollah, 2000,p. 11)

2.1.7.4. Hubungan Antara Collaterizable Assets (Aktiva yang Diagunkan) Terhadap Dividend Payout Ratio (DPR)

Collaterizable Assets mempunyai hubungan yang positif terhadap

Dividend Payout Ratio (DPR) dengan anggapan bahwa perusahaan yang memiliki

aktiva tetap yang lebih banyak dijaminkan akan mengurangi masalah keagenan

antara pemegang saham dan pemegang obligasi dengan tingkat pembayaran

dividen yang lebih tinggi.

(15)

2.1.7.5. Hubungan Antara Assets Turnover (Perputaran Aktiva) Terhadap Dividend Payout Ratio (DPR)

Pemilik institusional umumnya berfungsi sebagai pihak yang memonitor perusahaan. Menurut penelitian yang dilakukan Barclay dan Holderness (1991) memberikan bukti empiris bahwa terdapat peningkatan turnover manajemen dan gains akibat pembelian saham oleh pihak luar.

Perusahaan dengan kepemilikan institusional yang besar mengindikasikan kemampuannya untuk memonitor manajemen. Semakin besar kepemilikan institusional akan dapat mencegah pemborosan yang dilakukan pihak manajemen.

2.2. Kerangka Pikir

Agency Cost merupakan biaya yang timbul akibat konflik antara manajer dan pemegang saham karena adanya perbedaan keinginan, upaya untuk meminimalisasi biaya tersebut adalah dengan melakukan kebijakan dividen sehingga Agency Cost secara langsung berpengaruh terhadap kebijakan dividen.

(Keown dalam Jurnal Widya Manajemen dan Akuntansi, 2002, p.180-190).

Semakin besar jumlah insider ownership maka akan semakin kecil konflik kepentingan antara pemegang saham dan pihak manajemen, ini disebabkan karena keduanya bertindak dengan lebih hati-hati dalam menanggung konsekuensi yang mungkin timbul. Sehingga dengan semakin kecil konflik maka akan meningkatkan peluang pembagian dividen perusahaan kepada pemegang saham (Jurnal Widya Manajemen dan Akuntansi, 2002, p.180-190).

Dalam Sabur Mollah (2000, p.8), kebijakan dividen yang lebih besar dapat mengontrol pengaruh kepemilikan yang menyebar (Dispersion of Ownership) sehingga dapat mengurangi biaya keagenan. Jumlah pemegang saham biasa diperhitungkan sebagai perkiraan atas penyebaran kepemilikan atas biaya keagenan terhadap peningkatan terjadinya konflik antara manajer dengan pemegang saham.

Perusahaan yang memiliki peluang pertumbuhan lebih tinggi akan

memiliki aliran kas bebas (Free cash flow) yang lebih rendah, hal ini

(16)

mengharuskan pembayaran dividen yang lebih rendah untuk mengurangi biaya keagenan atas aliran kas bebas tersebut (Sabur Mollah, 2000, p.8)

Perusahaan yang memiliki lebih banyak asset yang bisa diagunkan (Collaterizable assets) akan memiliki permasalahan yang lebih sedikit atas biaya keagenan yang terjadi antara pemegang saham dan pemegang obligasi yang akan memicu peningkatan pembayaran dividen Sabur Mollah (2000, p.9)

Dividend pay- out ratio (Y) Insider

ownership (X

1

)

Collaterizable assets (X

4

)

Free Cash Flow (X

3

) Dispersion of ownership (X

2

)

Regresi Linier Berganda

Assets turnover (X

5

)

2.3. Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah dan landasan teori dapat disusun hipotesis penelitian sebagai berikut:

a. Diduga secara serempak faktor Agency Cost yang meliputi : Insider ownership, Dispersion of ownership, Free Cash Flow, Collaterizable assets, Assets turnover terhadap Dividend pay-out ratio (DPR).

b. Diduga secara parsial faktor Agency Cost yang meliputi : Insider ownership,

Dispersion of ownership, Free Cash Flow, Collaterizable assets, Assets

turnover terhadap Dividend pay-out ratio (DPR).

Referensi

Dokumen terkait

Keberadaan Kantor Diklatda Kabupaten Jembrana yang statusnya belum terakreditasi, selama ini dalam penyelenggaraan Diklat-Diklat masih bekerja sama dengan pihak-pihak

mengauskultras bisisng usus pasien , menimbang berat badan setiap 3 hari sekali atau sesuia dengan indikasi, memerikan lingkungan yang menyenangkan pada waktu makan,

Algoritma Pengujian Perceptron, adalah tahap pengujian data uji yang dilakukan menggunakan metode perceptron untuk memproses data dengan bobot optimal yang

Faktor daya (cos φ) beban jalur BHC Faktor daya pada jalur BHC saat pengukuran sempat mengalami penurunan sampai di bawah 0,85 dalam waktu singkat, hal ini dikarenakan

Wicaksono, (2015), berjudul”Hubungan faktor predisposing (tingkat pengetahuan, pendidikan, sikap, pekerjaan) kader dengan keaktifan kader pada kegiatan posyandu di desa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar intensitas penerangan lampu dari berbagai bentuk stand lampu dan besar perbedaan intensitas penerangan lampu dengan

TERHADAP NILAI PERUSAHAAN Profitabilitas dalam penelitian ini menggunakan indikator ROA, jika indikator tersebut dihubungkan dengan indikator yang memberikan kontribusi

Dalam penggunaannya, teknik kelompok nominal (NGT) dapat digunakan pada tahapan identifikasi, analisis, dan evaluasi risiko – terutama untuk proses pengambilan keputusan