EVALUASI STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP) DI MTs YAPDI DALAM PEMENUHAN HAK ANAK DI BIDANG PENDIDIKAN SKRIPSI

124  Download (0)

Teks penuh

(1)

EVALUASI STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP) DI MTs YAPDI DALAM PEMENUHAN HAK ANAK DI BIDANG PENDIDIKAN

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sosial

Universitas Sumatera Utara

Oleh:

Ema Noreza Elhany 140902091

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)

EVALUASI STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP) DI MTs YAPDI DALAM PEMENUHAN HAK ANAK DI BIDANG PENDIDIKAN

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sosial

Universitas Sumatera Utara

Oleh:

Ema Noreza Elhany 140902091

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(3)

EVALUASI STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP) DI MTs YAPDI DALAM PEMENUHAN HAK ANAK DI BIDANG PENDIDIKAN

ABSTRAK

Menyadari akan pentingnya perlindungan terhadap anak, termasuk anak yatim piatu, pemerintah dan swasta berusaha melindungi anak-anak itu dengan cara membangun panti asuhan. Salah satu pihak swasta yang membangun panti yaitu Yayasan Pembangun Didikan Islam Indonesia. Yayasan ini berfokus pada pemenuhan hak anak di bidang pendidikan, yaitu dengan mendirikan sekolah formal di lingkungan panti asuhan yang ditujukan pada anak asuh dan masyarakat di sekitar yayasan. Dikarenakan sekolah ini sekolah formal, maka ada peraturan yang harus ditaati. Setiap satuan pendidikan dan penyelenggara pendidikan harus mengikuti penjaminan mutu pendidikan yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Terdapat 8 standar yang harus dipenuhi oleh setiap sekolah. Standar tersebut yaitu: Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Pengelolaan, Standar Sarana dan Prasaran, serta Standar Pembiayaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan di MTs YAPDI dalam Pemenuhan Hak Anak di Bidang Pendidikan. Informan kunci dalam penelitian ini adalah sekretaris Yayasan Pembangun Didikan Islam Indonesia, kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah, dan 2 orang guru yang mengajar, informan utama yaitu 3 orang anak panti yang sekolah di MTs yayasan ini, dan informan tambahan ibu kantin yang tinggal di lingkungan yayasan.

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh di lapangan kemudian dianalisis secara kualitatif untuk menghasilkan suatu kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemenuhan Standar Nasional Pendidikan di MTs Yayasan Pembangun Didikan Islam Indonesia dapat dikatakan berhasil terpenuhi sesuai ketentuan yang berlaku. Hanya ada 3 standar yang kurang terpenuhi, yaitu guru-guru yang belum tersertifikasi, media belajar yang masih menggunakan Lembar Kerja Siswa, dan fasilitas yang kurang memadai.

Kata Kunci: Evaluasi, Standar Nasional Pendidikan, Pendidikan Formal, Pemenuhan Hak Anak, Anak Yatim Piatu

(4)

EVALUATION OF NATIONAL EDUCATION STANDARDS IN MTs YAPDI IN FULFILLING CHILDREN’S RIGHTS IN EDUCATION

ABSTRACT

Aware of the importance of protecting children, including orphans, the government and private sector are trying to protect the children by building orphanages. One of private sector who built the orphanage is Pembangun Didikan Islam Indonesia Foundation. This foundation focuses on fulfilling children’s rights in education that is establishing a formal school in an orphanage environment aimed at foster children and the community around the foundation.

Because this school is a formal school, there are rules that must be obeyed. Each education unit and education provider must follow the education quality assurance that refers to national education standards. That standard is competency standards for graduates, content standards, process standards, assessment standards, teacher and education staff standards, facilities and infrastructure standard, management standards, and financing standards. This study aims to determine how the implementation of national education standards in MTs YAPDI in fulfilling children’s rights in education. Key informants in this study were the secretary of the foundation, the headmaster of MTs YAPDI, and 2 teachers who taught, the main informants were 3 orphans who went to school in this MTs, and additional informant was traders who live in the foundation. Data collection techniques carried out with literature study, observation, interviews, and documentation. The data obtained in the field are the analyzed qualitatively to produce a conclusion.

The results of this study indicate that the fulfillment of national education standards in MTs YAPDI can be said to be successfully fulfilled according to applicable regulations. There are only 3 standards that are still not fulfilled, that are teachers who have not been certified, learning media that still use student worksheets, and inadequate facilities.

Keyword: Evaluation, National Education Standards, Formal Education, Fulfillment of Children’s Rights, Orphans

(5)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur hanya bagi Tuhan Yang Maha Kuasa, oleh karena anugerah-Nya yang melimpah, kemurahan dan kasih sayang yang besar akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Selama melakukan penelitian dan penulisan skripsi ini, penulis menerima bantuan moril dan materi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih sedalam–dalamnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.HUM, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Agus Suriadi, S.Sos, M.Si, selaku Ketua Departemen Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

4. Ibu Hairani Siregar, S.Sos, M.SP, selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Bang Fajar Utama Ritonga, S.Sos, M.SP dan Kak Malida Putri, S.Sos, M.Kesos, selaku Dosen penguji, terima kasih atas saran, kritik, teladan yang diberikan dan arahan yang diberikan selama pengerjaan skripsi ini.

6. Seluruh dosen dan pegawai Departemen Kesejahteraan Sosial yang telah memberikan banyak ilmu dan bantuan dalam hal perkuliahan kepada penulis.

7. Untuk Ayah dan Mamak, Pauji Ahmad dan Devi Chaliza, yang selalu memberikan dukungan, kasih sayang, nasihat, dan doa yang memberi penguatan kepada penulis dalam menjalani proses pengerjaan skripsi ini.

(6)

8. Untuk adik-adik yang penulis sayangi, Rani, Aini, Maira, dan Ikram, yang selalu penulis rindukan.

9. Untuk Om miko dan Bunda Linda, yang terus mengingatkan penulis agar segera menyelesaikan skripsi ini. Selain itu, memberikan dukungan, masukan, dan tidak lupa meminjamkan laptop dalam mengerjakan skripsi ini.

10. Untuk keluarga Besar Hasyim Bahari, yang memberikan doa, nasihat dan dukungannya kepada penulis.

11. Untuk seluruh informan di Yayasan Pembangun Didikan Islam Indonesia yang bersedia menyediakan waktu dan informasi untuk keperluan skripsi ini.

12. Untuk teman-teman Ukmi As-Siyasah Fisip USU, Dinda, Delvin, Dwi, Sari, Devi, Ela, Rizki Mardiyah, Citra, Dita, Leni, Pija, kak Faridah, Irwansyah dan teman-teman yang lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang terus memberikan doa dan dukungannya kepada penulis.

13. Untuk teman-teman di grup Para Pencari Wisuda, Niko, Rimita, Risma, Agus, Feri, Wawan, Louis, Andre, Anhar, Darma, Tody, dan teman-teman yang lain, terima kasih sudah mendukung, memberikan doa, dan membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.

14. Untuk teman-teman seperjuangan Program Studi Kesejahteraan Sosial 2014, 2015, dan adik-adik stambuk lain, Yuli, Vany, Adrian, Sarah, Emi, Via, Ririn, Ulfa, Chandra, Ferry, Widya, Mutia, Fitri, David Sianturi, Hervan, Bosky, Elsa, Restu, Salida, Wandy dan teman-teman lain yang membantu dan mendukung penulis menyelesaikan skripsi ini.

15. Untuk teman-teman Taekwondo USU, Sabeum John, Sabeum Yudha, Handy, Kevin, Pasha, Qolbi, Doni, Gary, Fathan, Hanifah, Namira, Una,

(7)

Willy, Yudha, Hersi, Tania, Mauriza, Amanda, dan teman-teman yang lain, yang selalu penulis rindukan untuk latihan bersama lagi.

16. Untuk Romeo dan Kak Dewi yang membantu penulis didetik-detik terakhir pengerjaan skripsi ini, tanpa kalian penulisan skripsi ini pasti masih berantakan.

17. Untuk BTS (Bangtan Boys) yang melalui mereka penulis bisa melewati masa-masa tersulit penulis, terima kasih sudah menginspirasi dan memberikan dampak positif kepada diri penulis. Finally, I can love myself by loving yourself.

18. Kepada semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan namanya satu persatu atas dukungan, kerja sama, dan doa yang telah diberikan, penulis ucapkan terima kasih.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memerlukan kritik dan saran yang bersifat membangun. Penulis juga berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada seluruh pembaca. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikah rahmatnya kepada kita semua.

Medan, Oktober 2019 Penulis

Ema Noreza Elhany

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

1.3.1 Tujuan Peneitian... 8

1.3.2 Manfaat Penelitian ... 8

1.4 Sistematika Penulisan... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teoritis ... 11

2.1.1 Evaluasi ... 11

2.1.1.1 Pengertian Evaluasi ... 11

2.1.1.2 Fungsi Evaluasi ... 12

2.1.2 Kemiskinan ... 13

2.1.2.1 Pengertian Kemiskinan ... 13

2.1.2.2 Ciri–Ciri Kemiskinan ... 14

2.1.3 Anak ... 15

2.1.3.1 Pengertian Anak ... 15

2.1.3.2 Pengertian Anak Yatim Piatu ... 16

2.1.3.3 Hak Anak ... 17

2.1.4 Program Pendidikan ... 17

2.1.4.1 Pengertian Program ... 17

2.1.4.2 Pengertian Pendidikan ... 18

2.1.4.3 Indikator Mutu Pendidikan ... 20

2.1.4.4 Pendidikan Formal YAPDI ... 23

2.1.5 Panti Asuhan ... 23

2.1.6 Kesejahteraan Sosial ... 25

2.1.6.1 Pengertian Kesejahteraan Sosial ... 25

2.1.6.2 Tujuan Kesejahteraan Sosial ... 27

2.1.6.3 Fungsi Kesejahteraan Sosial ... 27

2.1.7 Pelayanan Sosial... 28

2.1.7.1 Pengertian Pelayanan Sosial ... 28

2.2 Penelitian Yang Relevan ... 29

(9)

2.3 Kerangka Pemikiran ... 32

2.4 Definisi Konsep ... 34

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 36

3.2 Lokasi Penelitian ... 36

3.3 Informan Penelitian ... 37

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 38

3.4.1 Data Primer ... 38

3.4.2 Data Sekunder ... 39

3.5 Teknik Analisis Data ... 39

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Geografis Lokasi Penelitian ... 41

4.2 Sejarah Perkembangan Lokasi Penelitian ... 41

4.3 Profil Lokasi Penelitian ... 43

4.4 Visi, Misi, dan Tujuan Lokasi Penelitian ... 44

4.5 Struktur Organisasi Lokasi Penelitian ... 45

4.6 Kondisi Umum Tentang Klien ... 46

4.7 Kondisi Umum Tentang Petugas ... 47

4.8 Keadaan Sarana dan Prasarana Lokasi Penelitian ... 50

BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 54

5.1.1 Wawancara ... 54

5.1.1.1 Informan Kunci ... 54

5.1.1.2 Informan Utama ... 67

5.1.1.3 Informan Tambahan ... 75

5.1.2 Observasi ... 76

5.2 Pembahasan Hasil Penelitian ... 77

5.3 Keterbatasan Penelitian ... 89

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ... 90

6.2 Saran ... 92 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Jumlah Anak Berdasarkan Jenis Kelamin ... 46

Tabel 4.2 Jumlah Anak Panti Berdasarkan Kelas ... 46

Tabel 5.1 Struktur Organisasi MTs YAPDI ... 59

Tabel 5.2 Daftar Nama Guru dan Mata Pelajannya ... 60

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Data Sekolah di YAPDI ... 42 Gambar 4.2 Struktur Organisasi YAPDI ... 45 Gambar 4.3 Daftar Nama-Nama Anak Panti Asuhan ... 47

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Dokumentasi / Foto ... 96

2. Surat Pengajuan Judul Skripsi ... 105

3. Surat Izin Penelitian ... 106

4. Surat Balasan Izin Penelitian ... 107

5. Daftar Hadir Seminar Proposal ... 108

6. Pedoman Wawancara ... 109

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa sebagai titipan yang diberikan kepada orang tua, selain itu anak merupakan generasi penerus bangsa, yang bertanggung jawab atas eksistensi bangsa ini di masa yang akan datang.

Sebagai Negara yang bijak maka selayaknya hal tersebut dijadikan sebuah peringatan kepada bangsa ini, agar senantiasa menjaga generasi mudanya dari segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Pembinaan terhadap generasi muda harus selalu dilaksanakan dengan sebaik–baiknya demi kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental serta perkembangan sosialnya.

Memelihara kelangsungan hidup anak adalah tanggung jawab orang tua yang tidak boleh diabaikan. Anak wajib dilindungi agar mereka tidak menjadi korban tindakan siapa saja (individu atau kelompok, organisasi swasta maupun pemerintahan) baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai salah satu unsur yang harus ada di dalam Negara hukum dan demokrasi, perlindungan terhadap hak–hak asasi manusia termasuk di dalamnya perlindungan terhadap anak yang kita harapkan sebagai penentu masa depan bangsa Indonesia dan sebagai generasi penerus harus mendapatkan pengaturan yang jelas.

Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan kebutuhan mendasar umat manusia. Hak asasi merupakan hak natural dan merupakan pemberian langsung dari Tuhan. HAM tidak diberikan oleh peraturan, rezim, undang–undang, atau siapapun juga. Oleh karena itu, tidak seorangpun bisa mengambil atau

(14)

meniadakannya. Artidjo Alkostar menyatakan bahwa nilai–nilai HAM adalah kebebasan, kesetaraan, otonomi dan keamanan. Lebih dari itu, nilai dari HAM adalah martabat manusia (Zaidan, 2015: 256).

Menurut Undang–Undang Perlindungaan Anak nomor 35 tahun 2014 menyebutkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. Anak sebagai tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita–cita perjuangan bangsa memiliki peran strategis, ciri, dan sifat khusus sehingga wajib dilindungi dari segala bentuk perlakuan tidak manusiawi yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia (Anung, 2017).

Namun, kenyataannya masih banyak permasalahan sosial pada ruang lingkup anak. Salah satunya yaitu permasalahan anak–anak yatim piatu yang terlantar. Anak yatim piatu terlantar merupakan salah satu permasalahan sosial anak yang sampai saat ini masih belum bisa terpecahkan. Seorang anak dikatakan terlantar bukan sekedar karena ia sudah tidak lagi memiliki salah satu orang tua atau kedua orang tuanya. Tetapi, terlantar di sini juga dalam pengertian ketika hak–hak anak untuk tumbuh kembang secara wajar, untuk memperoleh pendidikan yang layak, dan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai, tidak terpenuhi karena kelalaian, ketidakmengertian orang tua, ketidakmampuan atau kesenjangan. Menurut Bagong Suyanto, meski kemiskinan bukan satu–satunya penyebab anak diterlantarkan dan tidak selalu pula keluarga miskin akan menelantarkan anaknya. Tetapi, bagaimana pun harus diakui bahwa tekanan kemiskinan dan kerentanan ekonomi keluarga akan menyebabkan

(15)

kemampuan mereka memberikan fasilitas dan memenuhi hak–hak anaknya sangat terbatas (Epida, 2014: 2).

Salah satu hak anak yang harus dilindungi adalah hak atas pendidikan.

Pendidikan merupakan investasi masa depan bagi seseorang atau suatu bangsa yang akan meraih kehidupan yang lebih sejahtera. Dengan pendidikan yang baik maka suatu bangsa akan menuju suatu perubahan tatanan kehidupan yang rapi dan tertib untuk mencapai peradaban modern. Oleh karena itu, diperlukan pendidikan yang berkualitas atau bermutu. Tercapainya pendidikan yang berkualitas menjadi tanggung jawab pemerintah bersama masyarakat.

Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberi warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan (sekolah). Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma–norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa (nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan dan pendidikan formal diajarkan secara terprogram dengan tujuan untuk membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara (Sunarto, 2008: 132).

Di dalam manajemen pendidikan kita harus melihat seberapa jauh kekuasaan pembuatan kebijaksanaan pendidikan itu tersentralisasi atau terdesentralisasi. Demikian juga kita harus mengamati seberapa jauh masyarakat

(16)

terlibat dan ikut berperan dalam proses pengelolaan pendidikan. Berperannya masyarakat dalam pendidikan berarti memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengontrol pelaksanaan pendidikan. Dengan pengontrolan ini pendidikan tidak akan dikebiri prosesnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (Uno, 2012: 3).

Penyelenggaraan pendidikan diatur dalam Standar Nasional Pendidikan agar mutu sekolah terkendali. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 menjelaskan Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (Purnomo, 2016: 2).

Namun, pernyataan itu tidak sejalan dengan kenyataan yang ada.

Berdasarkan hasil data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus kekerasan anak dalam pendidikan pada tahun 2018 cukup meningkat. KPAI mencatat, kekerasan fisik dan bullying merupakan kasus yang paling banyak terjadi. Sepanjang tahun 2018, dari total 445 kasus bidang pendidikan sebanyak 51,20 persen atau 228 kasus terdiri dari kekerasan fisik dan kekerasan seksual yang sering dilakukan oleh pendidik, kepala sekolah dan juga peserta didik. Kasus cyberbully di kalangan siswa juga meningkat, terakhir telah mencapai 206 kasus.

Selanjutnya, kasus tawuran pelajar mencapai 144 kasus atau 32,35 persen, dan 73 kasus atau 16,50 persen merupakan kasus anak yang menjadi korban kebijakan (Intan, 2018).

Pada dasarnya perubahan perilaku yang dapat ditunjukkan oleh peserta didik dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimiliki oleh seorang guru. Atau dengan perkataan lain, guru mempunyai pengaruh

(17)

terhadap perubahan perilaku peserta didik. Untuk itulah guru harus dapat menjadi contoh (suri teladan) bagi peserta didik, karena pada dasarnya guru adalah representasi dari sekelompok orang pada suatu komunitas atau masyarakat yang diharapkan dapat menjadi teladan, yang dapat ditiru (Uno, 2012: 17).

Pendidikan adalah suatu kegiatan yang produktif. Maka, keberhasilan dari proses pendidikan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah pendidik atau guru. Sebab, guru adalah figur manusia yang memegang peranan penting dalam kegiatan proses belajar mengajar. Guru merupakan orang yang bertanggung jawab dalam mencetak generasi muda, khususnya murid dan siswa yang professional. Aktivitas belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, dengan guru sebagai pemegang peranan utama (Baharuddin, 2016: 197-198).

Menurut Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sumatera Barat, Ema Yohana, ada sejumlah penyebab terjadinya tindak kekerasan di sekolah, khususnya kekerasan seksual yang tak terlepas dari masalah kemiskinan.

Ia juga mengungkapkan ada satu kasus kekerasan, di mana anak merupakan bagian dari keluarga yang tinggal dengan keluarga di rumah sangat sederhana, kondisi tekanan di rumah bisa mempengaruhi pikiran anak untuk melakukan kekerasan di luar rumah. Sementara itu, anggota DPD RI lainnya asal Bengkulu, Ena Haryani menjelaskan salah satu kasus kekerasan anak yang pernah terjadi pada anak berusia 14 tahun asal Bengkulu berinisial YY merupakan sebuah masalah yang multikompleks. Menurutnya, DPD RI mencoba mendalami bahwa tindak kekerasan terjadi karena persoalan kemiskinan, orang tua yang harus

(18)

bekerja jauh dari rumah dan kurang membimbing anak, dan infrastruktur jalan yang tidak ramah bagi anak sekolah (Susanti, 2016).

Selain itu, di samping membutuhkan tenaga pengajar yang berkompeten, pendidikan juga membutuhkan sarana penunjang yang berkualitas. Sayangnya, menurut laporan terbaru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), sampai tahun 2018 Indonesia masih banyak mengalami kekurangan. Dalam laporan Kilasan Kinerja 2018 Kemdikbud, disebutkan bahwa mayoritas (Sekolah Menengah Atas) SMA dan (Sekolah Menengah Kejuruan) SMK belum punya laboratorium IPA. Laporan itu juga mencatat bahwa dari sekitar 1,7 juta ruang kelas di seluruh Indonesia, sekitar 1,2 juta atau 69 persen di antaranya tergolong rusak. Menurut data Kemdikbud tahun 2018, ada sekitar 1 juta ruang kelas untuk kegiatan belajar-mengajar (Sekolah Dasar) SD di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, ruang kelas yang kondisinya tergolong baik hanya sekitar 280 juta.

Sekitar 600 ribu ruang kelas lain tergolong rusak ringan, 81 ribu rusak sedang, dan 107 ribu rusak berat. Artinya, dari seluruh ruang kelas SD di Indonesia sekitar 74 persennya tergolong rusak. Selain ruang kelas SD, ruang kelas SMP juga banyak mengalami kerusakan. Sebanyak 193 ribu ruang kelas SMP rusak ringan, 26 ribu rusak sedang, dan 31 ribu rusak berat. Kalau dilihat secara keseluruhan, sekitar 70 persen ruang kelas SMP di Indonesia berada dalam kondisi rusak.

Keadaan tersebut tentunya akan membuat kegiatan belajar-mengajar menjadi terganggu (Ahdiat, 2019).

Terbatasnya alat pendidikan/fasilitas pendidikan merupakan masalah yang harus diatasi oleh pihak yang berwenang, yaitu pemerintah. Sebab, alat pendidikan yang disediakan oleh pemerintah tergantung pada keadaan dan

(19)

kemajuan dari pada Negara tersebut. Semakin maju suatu Negara, maka peralatan atau fasilitas untuk memajukan pendidikan berjalan dengan baik pula (Baharuddin, 2016: 205).

Dengan banyaknya anak yatim piatu yang terlantar, pemerintah berupaya mengeluarkan undang–undang untuk melindungi anak–anak tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan dengan mendirikan panti asuhan. Banyak pihak non- pemerintah yang membangun panti asuhan dalam upaya membantu menangani hal tersebut. Saat ini sebanyak 315 ribu lebih anak–anak dirawat dan diasuh di rumah panti asuhan. Jumlah panti asuhan anak di seluruh Indonesia yang teregistrasi Kementerian Sosial mencapai 5.540 lokasi (Varia, 2018).

Salah satu pihak non-pemerintah yang mendirikan panti asuhan yaitu Yayasan Pembangun Didikan Islam Indonesia yang aktif dalam upaya perlindungan hak–hak anak. Yayasan Pembangun Didikan Islam Indonesia merupakan yayasan yang berfokus pada pengasuhan anak yatim dan menyelenggarakan pendidikan formal. Sekolah formal yang didirikan yaitu Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Sekolah ini didirikan bertujuan untuk memenuhi hak anak atas pendidikan, khususnya anak panti yang tinggal di lingkungan yayasan ini. Berdasarkan penjelasan latar belakang permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “EVALUASI STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP) DI MTs YAPDI DALAM PEMENUHAN HAK ANAK DI BIDANG PENDIDIKAN”.

(20)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan di MTs YAPDI dalam Pemenuhan Hak Anak di Bidang pendidikan?”

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan di MTs YAPDI dalam Pemenuhan Hak Anak di Bidang Pendidikan.

1.3.2 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan digunakan sebagai referensi dalam rangka:

1. Secara akademis, penelitian ini dapat berkontribusi sebagai kajian dan bacaan dikalangan mahasiswa Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial untuk memperkaya referensi dalam rangka pengembangan konsep, teori dan ilmu pengetahuan.

2. Secara teoritis, dapat menambah wawasan masyarakat Indonesia khususnya Kota Medan tentang pemenuhan hak anak–anak yatim piatu dalam hal pendidikan di lingkungan panti asuhan.

3. Secara praktis, dapat digunakan sebagai masukan, pertimbangan, serta sebagai bahan evaluasi bagi Yayasan Pembangun Didikan Islam Indonesia.

(21)

1.4 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan diperlukan untuk mempermudah pembaca dalam rangka mengetahui dan memahami penelitian. Sistematika penulisan secara garis besar akan dipaparkan dalam enam bab utama sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah 2. Rumusan Masalah

3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 4. Sistematika Penulisan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Landasan Teoritis

2. Penelitian Yang Relevan 3. Kerangka Pemikiran 4. Defenisi Konsep

BAB III METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian

2. Lokasi Penelitian 3. Informan Penelitian 4. Teknik Pengumpulan Data 5. Teknik Analisis Data

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 1. Letak Geografis Lokasi Penelitian

2. Sejarah Perkembangan Lokasi Penelitian 3. Profil Lokasi Penelitian

4. Visi, Misi, dan Tujuan Lokasi Penelitian 5. Struktur Organisasi Lokasi Penelitian 6. Kondisi Umum Tentang Klien

7. Kondisi Umum Tentang Petugas

8. Keadaan Sarana dan Prasarana Lokasi Penelitian

(22)

BAB V HASIL PENELITIAN 1. Deskripsi Data Hasil Penelitian 2. Pembahasan Hasil Penelitian 3. Keterbatasan Penelitian

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan

2. Saran

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Evaluasi

2.1.1.1 Pengertian Evaluasi

Evaluasi adalah suatu upaya untuk mengukur secara objektif terhadap pencapaian hasil yang telah dirancang dari suatu aktifitas atau program yang telah dilaksanakan sebelumnya, yang mana hasil penilaian yang dilakukan menjadi umpan balik bagi aktifitas perencanaan baru yang akan dilakukan berkenaan dengan aktivitas yang sama di masa depan (Yusuf, dalam Febrianita, 2018: 12).

Evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan (Suchman, dalam Febrianita, 2018: 12).

Evaluasi adalah kegiatan mencari sesuatu yang berharga tentang sesuatu;

dalam mencari sesuatu tersebut, termasuk mencari informasi yang bermanfaat dalam menilai keberadaan suatu program, produksi, prosedur, serta alternatif strategi yang diajukan untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan (Worthen dan Sanders, dalam Febrianita, 2018: 12).

Menurut beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menetukan alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan (Arikunto, dalam Febrianita, 2018: 12-13).

(24)

2.1.1.2 Fungsi Evaluasi

Evaluasi memainkan sejumlah fungsi utama dalam analisis kebijakan, yaitu:

1. Evaluasi memberikan informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai kinerja kebijakan, yaitu seberapa jauh kebutuhan, nilai dan kesempatan telah dapat dicapai melalui tindakan publik. Dalam hal ini evaluasi mengungkapkan seberapa jauh tujuan tertentu dan target tertentu.

2. Evaluasi memberikan sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari pemilihan tujuan dan target. Nilai juga dikritik dengan menanyakan secara sistematis kepantasan tujuan dan target dalam hubungannya dengan masalah yang dituju. Dalam menanyakan kepantasan tujuan dan sasaran, analisis dapat menguji alternatif sumber nilai maupun landasan mereka dalam berbagai bentuk rasionalitas.

3. Evaluasi memberi sumbangan pada aplikasi metode-metode analisis kebijakan lainnya, termasuk perumusan masalah dan rekomendasi.

Informasi tentang tidak memadainya kinerja kebijakan dapat memberi sumbangan pada perumusan ulang masalah kebijakan. Evaluasi dapat pula menyumbang pada definisi alternatif kebijakan yang baru atau revisi kebijakan dengan menunjukkan bahwa alternatif kebijakan yang diunggulkan sebelumnya perlu dihapus dan diganti dengan yang lain (Dunn, dalam Febrianita, 2018: 13).

(25)

2.1.2 Kemiskinan

2.1.2.1 Pengertian Kemiskinan

Kemiskinan adalah gejala penurunan kemampuan seseorang atau sekelompok orang atau wilayah sehingga mempengaruhi daya dukung hidup seseorang atau sekelompok orang tersebut, dimana pada suatu titik waktu secara nyata mereka tidak mampu mencapai kehidupan yang layak (Mencher, dalam Siagian, 2012: 5)

Kemiskinan adalah suatu tingkat kehidupan yang berada di bawah standard kebutuhan hidup minimum agar manusia dapat bertahan hidup (Castells, dalam Siagian, 2012: 10-11).

Adapun standard kebutuhan minimum yang dimaksud pada umumnya ditetapkan berdasarkan kebutuhan pokok pangan. Kemiskinan sebagai suatu kondisi terjadinya kekurangan pada taraf hidup manusia baik fisik atau sosial sebagai akibat tidak tercapainya kehidupan yang layak karena penghasilannya tidak mencapai 1,00 dolar AS perhari (World Bank, dalam Siagian, 2012: 25).

Jika ditinjau dari standard kebutuhan hidup yang layak atau pemenuhan kebutuhan pokok, maka kemiskinan adalah suatu kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan–kebutuhan pokok atau kebutuhan–kebutuhan dasar yang disebabkan kekurangan barang–barang dan pelayanan–pelayanan yang dibutuhkan dalam upaya memenuhi standard hidup yang layak (Siagian, 2012: 25).

Kemiskinan merupakan suatu kondisi ketidakmampuan dalam memenuhi hak–hak dasar dalam rangka mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat (Bappenas, dalam Siagian, 2012: 27).

(26)

Kemiskinan identik dengan suatu penyakit. Oleh karena itu, langkah pertama penanggulangan masalah kemiskinan adalah memahami kemiskinan sebagai suatu masalah. Untuk memahami masalah kemiskinan, kita perlu memandang kemiskinan itu dari dua aspek, yakni kemiskinan sebagai suatu kondisi dan kemiskinan sebagai suatu proses. Sebagai suatu kondisi, kemiskinan adalah suatu fakta dimana seseorang atau sekelompok orang hidup di bawah atau lebih rendah dari kondisi hidup layak sebagai manusia disebabkan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara sebagai suatu proses, kemiskinan merupakan proses menurunnya daya dukung terhadap hidup seseorang atau sekelompok orang sehingga pada gilirannya dia atau kelompok tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak pula mampu mencapai taraf kehidupan yang dianggap layak sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia (Siagian, 2012: 2-3).

2.1.2.2 Ciri–ciri Kemiskinan

Suatu studi menunjukkan adanya 5 ciri–ciri kemiskinan, yakni:

a. Mereka yang hidup di bawah kemiskinan pada umumnya tidak memiliki faktor produksi sendiri, seperti tanah yang cukup luas, modal yang memadai, ataupun keterampilan yang memadai untuk melakukan suatu aktivitas ekonomi sesuai dengan mata pencahariannya.

b. Mereka pada umumnya tidak mempunyai kemungkinan atau peluang untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri.

c. Tingkat pendidikan pada umumnya rendah, misalnya tidak sampai tamat SD, atau hanya tamat SD. Kondisi seperti ini akan berpengaruh terhadap wawasan mereka.

(27)

d. Pada umumnya mereka masuk ke dalam kelompok penduduk dengan kategori setengah menganggur.

e. Banyak di antara mereka yang hidup di kota masih berusia muda, tetapi tidak memiliki keterampilan atau pendidikan yang memadai (Siagian, 2012: 20-23).

2.1.3 Anak

2.1.3.1 Pengertian Anak

Anak menurut bahasa adalah keturunan kedua sebagai hasil antara hubungan pria dan wanita. Menurut Undang–Undang Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas Undang–Undang Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 1 Ayat 1 tentang Perlindungan Anak menjelaskan bahwa Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak–anak yang masih di dalam kandungan. Selain itu, dikatakan bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang di dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak–haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Sementara itu, mengacu pada Konvensi PBB tentang Hak Anak, mendefinisikan anak berarti setiap manusia di bawah umur 18 tahun, kecuali menurut undang–undang yang berlaku pada anak, kedewasaan dicapai lebih awal (Lutfiyah, 2016: 13).

Dalam masyarakat yang sudah mempunyai hukum tertulis diterapkan batasan umur yaitu 16 tahun atau 18 tahun ataupun usia tertentu yang menurut

(28)

perhitungan pada usia itulah si anak bukan lagi termasuk termasuk atau golongan anak tetapi sudah dewasa (Siregar, dalam Mizan, 2017: 23).

Selama di tubuhnya masih berjalan proses pertumbuhan dan perkembangan, anak itu masih menjadi anak dan baru menjadi dewasa bila proses perkembangan dan pertumbuhan itu selesai, jadi batas umur anak–anak adalah sama dengan permulaan menjadi dewasa, yaitu 18 tahun untuk wanita dan 21 tahun untuk laki – laki (Sugiri, dalam Mizan, 2017: 23).

2.1.3.2 Pengertian Anak Yatim Piatu

Secara bahasa yatim berasal dari bahasa Arab yang artinya sedih, atau bermakna sendiri. Adapun istilah syara’ yang dimaksud dengan anak yatim yaitu anak yang ditinggal mati ayahnya pada saat masih lemah dan kecil, dalam arti belum baligh (dewasa) serta belum mampu berusaha. Batas akhir seorang anak disebut yatim adalah ketika anak tersebut telah sampai dewasa. Dewasa di sini ketika berumur 21 tahun. Senada dengan pendapat Sri Suhadjati yang mendefinisikan bahwa anak yatim adalah anak yang ditinggal ayahnya meninggal dunia selagi dia belum mencapai umur baligh (Khasanah, 2013: 17)

Dalam Buku Besar Bahasa Indonesia, yatim adalah tidak beribu atau berayah (karena ditinggal mati). Sedangkan anak yatim dalam pengertian bahasa hukum syariat adalah mereka yang kehilangan bapak, termasuk mereka yang ditinggal pergi oleh bapaknya tanpa meninggalkan apapun yang mencukupi kebutuhan nafkahnya, dan mereka yang bapaknya dibatasi kebebasan pribadinya oleh hukum yang menyebabkan mereka kehilangan sumber penghidupan pada masa hukuman ini (Khasanah, 2013: 18).

(29)

Selain itu, menurut istilah, anak yatim adalah anak di bawah umur yang kehilangan ayahnya, yang bertanggung jawab atas kehidupan dan pendidikannya.

Yatim adalah anak–anak yang tidak berdosa yang ditakdirkan dengan hikmah ilahiyah yang ditinggal mati oleh orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.

Namun tidak hanya itu, tetapi anak terlantar dan juga anak yang tidak diketahui orang tuanya juga disebut yatim (Al-Iraqi, dalam Husaina: 32).

Yatim adalah anak laki–laki/perempuan yang ditinggal meninggal oleh ayahnya sebelum akil baligh (dewasa). Dan apabila ditinggal meninggal oleh ayah dan ibunya maka disebut yatim piatu (Al-Hafidz, dalam Husaina, 2017: 33).

2.1.3.3 Hak Anak

Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, negara, pemeritah dan pemerintah daerah. Setiap anak memiliki hak dasar yang patut untuk dilindungi dan dijunjung tinggi, memberi perlindungan terhadap hak–hak anak maka sama saja telah memenuhi kesejahteraan anak. Salah satu hak anak dalam UU Nomor 35 Tahun 2014 perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yaitu:

Pasal 9 Ayat 1: Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasanya sesuai dengan minat dan bakatnya.

2.1.4 Program Pendidikan 2.1.4.1 Pengertian Program

Program merupakan suatu sistem berupa rangkaian kegiatan yang dilakukan bukan hanya satu kali tetapi berkesinambungan. Program adalah cara

(30)

tersendiri dan khusus yang dirancang demi pencapaian suatu tujuan tertentu.

Dengan adannya suatu program, maka segala rancangan akan lebih teratur dan lebih mudah untuk dilaksanakan. Program adalah unsur pertama yang harus ada demi berlangsungnya aktivitas yang teratur, karena dalam program telah dirangkum berbagai aspek seperti:

1. Adannya tujuan yang ingin dicapai.

2. Adannya berbagai kebijakan yang diambil dalam upaya pencapaian tujuan.

3. Adanya prinsip – prinsip dan metode – metode yang harus dijadikan acuan dengan prosedur yang harus dilewati.

4. Adannya pemikiran atau rancangan tentang anggaran yang diperlukan.

5. Adannya strategi yang harus diterapkan dalam pelaksanaan aktivitas (dalam Asror, 2018: 24).

2.1.4.2 Pengertian Pendidikan

Dilihat dari aspek bahasa, pendidikan berasal dari kata didik yang berarti pemeliharaan, yakni memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan). Dalam bahasa Arab, kata pendidikan disebut tarbiyah, masdar dari kata kerja rabba yu rabbi-tarbiyatan, yang artinya mendidik, mengasuh. Berdasarkan istilah, terdapat banyak pengertian tentang pendidikan. Pendidikan adalah suatu aktivitas yang mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup (Zuhairini, dalam Idi, 2011: 194).

Pendidikan adalah usaha yang dijalankan seorang atau sekelompok orang untuk memengaruhi seseorang atau sekelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mempunyai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental (Sudirman, dalam Idi, 2011: 194).

(31)

Pendidikan merupakan bimbingan atau pimpinan secara sadar pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian utama (Marimba, dalam Idi, 2011: 195).

Pendidikan merupakan mendidik akhlak dan jiwa mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka dalam kehidupan yang suci, ikhlas, dan jujur (Al-Abrasyi, dalam Idi, 2011: 195).

Menurut Undang–Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang–Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai–nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar

(32)

pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

2.1.4.3 Indikator Mutu Pendidikan

Mutu pendidikan dasar dan menengah adalah tingkat kesesuaian antara penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah dengan Standar Nasional Pendidikan (NSP) di sekolah. Mutu pendidikan di sekolah cenderung tidak ada peningkatan tanpa diiringi dengan penjaminan mutu pendidikan oleh sekolah.

Penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah sendiri merupakan mekanisme yang sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk memastikan bahwa seluruh proses penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan standar mutu dan aturan yang ditetapkan. Penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah merupakan kesatuan unsur yang terdiri atas organisasi, kebijakan, dan proses terpadu yang mengatur segala kegiatan untuk meningkatkan mutu secara sistematis, terencana, dan berkelanjutan. Selain itu, bertujuan memastikan pemenuhan standar pada satuan pendidikan secara sistemik, holistik, dan berkelanjutan, sehingga tumbuh dan berkembang budaya mutu pada satuan pendidikan secara mandiri, dan berfungsi sebagai pengendali penyelenggaraan pendidikan oleh satuan pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu (lpmpsumut, 2019).

(33)

Penjaminan mutu pendidikan mengacu pada standar sesuai dengan peraturan yang berlaku. Acuan utama adalah Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang telah ditetapkan sebagai kriteria minimal yang harus dipenuhi oleh satuan pendidikan dan penyelenggara pendidikan. Standar Nasional Pendidikan terdiri atas: Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Pengelolaan, Standar Sarana dan Prasarana, dan Standar Pembiayaan. Kedelapan standar tersebut membentuk rangkaian input, proses, dan output. Standar Kompetensi Lulusan merupakan output dalam rangkaian tersebut dan akan terpenuhi apabila input terpenuhi sepenuhnya dan proses berjalan dengan baik (lpmpsumut, 2019).

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 20 tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan, terdapat 3 indikator standar kompetensi lulusan, yaitu: A. Lulusan memiliki kompetensi pada dimensi sikap.

B. Lulusan memiliki kompetensi pada dimensi pengetahuan. C. Lulusan memiliki kompetensi pada dimensi keterampilan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 21 tahun 2016 tentang Standar Isi, terdapat 3 indikator tentang standar isi mutu pendidikan, yaitu: A. Perangkat pembelanjaran sesuai rumusan kompetensi lulusan. B.

Kurikulum tingkat satuan pendidikan dikembangkan sesuai prosedur. C. Sekolah melaksanakan kurikulum sesuai ketentuan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses, terdapat 3 indikator standar proses yang terdiri dari:

A. Sekolah merencanakan proses pembelajaran sesuai ketentuan. B. Proses

(34)

pembelajaran dilaksanakan dengan tepat. C. Pengawasan dan penilaian otentik dilakukan dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan, terdapat 5 indikator standar penilaian.

Indikator tersebut terdiri dari: A. Aspek penilaian sesuai ranah kompetensi. B.

Teknik penilaian obyektif dan akuntabel. C. Penilaian pendidikan ditindaklanjuti.

D. Instrumen penilaian menyesuaikan aspek. E. Penilaian dilakukan mengikuti prosedur.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, terdapat 5 indikator tentang staff pengajar dan tenaga yang bekerja di sekolah. Indikator itu terdiri dari: A. Ketersediaan dan kompetensi guru sesuai ketentuan. B. Ketersediaan dan kompetensi kepala sekolah sesuai ketentuan. C. Ketersediaan dan kompetensi tenaga administrasi sesuai ketentuan. D. Ketersediaan dan kompetensi laboran sesuai ketentuan. E. Ketersediaan dan dan kompetensi pustakawan sesuai ketentuan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana Sekolah, terdapat 3 indikator tentang sarana dan prasarana sekolah, yaitu: A. Kapasitas daya tampung sekolah yang memadai.

B. Sekolah memiliki sarana dan prasarana pembelajaran yang lengkap dan layak.

C. Sekolah memiliki sarana dan prasarana pendukung yang lengkap dan layak.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan, terdapat 4 indikator standar pengelolaan pendidikan, yaitu: A. Sekolah melakukan

(35)

perencanaan pengelolaan. B. Program pengelolaan dilaksanakan sesuai ketentuan.

C. Kepala sekolah berkinerja baik dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya.

D. Sekolah mengelola sistem informasi manajemen.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 69 Tahun 2009 tentang Standar Biaya Instrumen Akreditasi oleh BAN S/M, terdapat 3 indikator mengenai standar pembiayaan, yaitu: A. Sekolah memberikan layanan subsidi silang. B. Beban operasional sekolah sesuai ketentuan. C. Sekolah melakukan pengelolaan dana dengan baik.

2.1.4.4 Pendidikan Formal Yayasan Pembangun Didikan Islam Indonesia (YAPDI)

Pendidikan formal yang diselenggarakan oleh Yayasan Pembangun Didikan Islam Indonesia (YAPDI) adalah suatu program yang diberikan untuk membantu anak yatim piatu dan fakir miskin dalam pemenuhan hak pendidikannya. Pendidikan formal yang dilaksanakan yaitu Taman Kanak–Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Selain pendidikan yang diberikan di atas, Yayasan Pembangun Didikan Islam Indonesia juga menyekolahkan anak–anak yatim piatu sampai tingkat perguruan tinggi, sesuai pilihan anak–anak tersebut.

2.1.5 Panti Asuhan

Panti asuhan adalah suatu lembaga usaha kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial pada anak telantar dengan melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak telantar, memberikan pelayanan pengganti orang tua/wali anak dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental dan sosial kepada anak asuh sehingga memperoleh

(36)

kesempatan yang luas, tepat dan memadai bagi pengembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian dari generasi penerus cita – cita bangsa dan sebagai insan yang akan turut serta aktif dalam bidang pembangunan nasional (Departemen Sosial, dalam Sarujin, 2014: 278).

Menurut Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia tentang Organisasi dan Tata Kerja Panti Sosial di Lingkungan Departemen Sosial tahun 2009 pada pasal 1 ayat (1), panti sosial merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Departemen Sosial yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, sehari – hari secara fungsional dibina oleh para Direktur terkait sesuai dengan bidang tugasnya.

Pada Pasal 2 disebutkan tugasnya yaitu melaksanakan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial agar mampu berperan aktif, berkehidupan dalam masyarakat, rujukan regional, pengkajian dan penyiapan standar pelayanan, pemberian informasi serta koordinasi dan kerjasama dengan instansi terkait sesuaidengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.

Pada Pasal 3 dijabarkan tentang fungsi panti sosial, yaitu: penyusunan rencana dan program, evaluasi dan laporan; pelaksanaan registrasi, observasi, identifikasi, diagnosa sosial dan perawatan; pelaksanaan pelayanan dan rehabilitasi sosial yang meliputi bimbingan mental, fisik dan keterampilan;

pelaksanaan resosialisasi, penyaluran dan bimbingan lanjut; pelaksanaan pemberian perlindungan sosial, advokasi sosial, informasi dan rujukan;

pelaksanaan urusan tata usaha; dan pusat model pelayanan rehabilitasi dan perlindungan sosial.

(37)

Panti sosial asuhan anak dalam penyelenggaraannya menjalankan fungsi pengasuhan pengganti orang tua, yang mana di dalamnya terdapat fungsi pemenuhan kebutuhan pendidikan anak. Dalam penyelenggaraannya sebagian besar anak asuh yang berada di panti asuhan merupakan anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, sehingga keinginan untuk melanjutkan pendidikanlah yang melatarbelakangi anak mengalami pengasuhan di panti asuhan. Dalam upaya memenuhi kebutuhan pendidikan anak, panti sosial asuhan anak memberikan pendidikan formal di sekolah, kursus keterampilan, serta memberikan bimbingan belajar dalam lingkungan panti. Disisi lain panti sosial asuhan anak juga bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan pokok anak yaitu kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Dengan demikian diharapkan dapat menunjang tumbuh dan kembang anak secara layak (Khoirunnisa, 2015: 73).

2.1.6 Kesejahteraan Sosial

2.1.6.1 Pengertian Kesejahteraan Sosial

Kesejahteraan sosial adalah sistem yang terorganisasi dari pelayanan–

pelayanan sosial dan institusi sosial yang dirancang untuk membantu individu–

individu dan kelompok–kelompok guna mencapai standar hidup dan kesehatan yang memadai dan relasi–relasi personal dan sosial sehingga memungkinkan mereka dapat mengembangkan kemampuan dan kesejahteraan sepenuhnya sehingga selaras dengan kebutuhan–kebutuhan keluarga dan masyarakat (Friedlander, dalam Asror, 2018: 27).

Istilah kesejahteraan sosial bukanlah hal baru, baik dalam wacana global maupun nasional. Persatuan Bangsa–Bangsa (PBB) misalnya, telah lama mengatur masalah ini sebagai salah satu bidang kegiatan masyarakat

(38)

internasional. PBB memberikan batasan kesejahteraan sosial sebagai kegiatan–

kegiatan terorganisasi yang bertujuan membantu individu atau masyarakat guna memenuhi kebutuhan–kebutuhan dasarnya dan meningkatkan kesejahteraan selaras dengan kepentingan keluarga dan masyarakat. Definisi ini menekankan bahwa kesejahteraan sosial adalah suatu institusi atau bidang kegiatan yang melibatkan aktivitas terorganisir yang diselenggarakan baik oleh lembaga–

lembaga pemerintah maupun swasta yang bertujuan untuk mencegah, mengatasi atau memberikan kontribusi terhadap pemecahan masalah sosial, dan peningkatan kualitas hidup individu, kelompok, dan masyarakat.

Secara umum, istilah kesejahteraan sosial sering diartikan sebagai kondisi sejahtera, yaitu suatu keadaan terpenuhinya segala bentuk kebutuhan hidup, khususnya yang bersifat mendasar seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan dan perawatan kesehatan. Pengertian seperti ini menempatkan kesejahteraan sosial sebagai tujuan akhir dari suatu kegiatan pembangunan.

Pengertian kesejahteraan sosial juga merujuk pada segenap aktivitas pengorganisasian dan pendistribusian pelayanan sosial bagi kelompok masyarakat, terutama kelompok yang kurang beruntuk baik yang bersifat formal maupun informal adalah contoh aktivitas kesejahteraan sosial (Epida, 2014: 24- 25).

Menurut Undang–Undang no. 11 Tahun 2009 pasal 1 tentang Kesejahteraan Sosial, kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga Negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.

Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan

(39)

berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga Negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial.

2.1.6.2 Tujuan Kesejahteraan Sosial

Menurut Undang–Undang no. 11 Tahun 2009 pasal 3 tentang Kesejahteraan Sosial, penyelenggaraan kesejahteraan sosial bertujuan:

1. Meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, dan kelangsungan hidup;

2. Memulihkan fungsi sosial dalam rangka mencapai kemandirian;

3. Meningkatkan ketahanan sosial masyarakat dalam mencegah dan menangani masalah kesejahteraan sosial;

4. Meningkatkan kemampuan, kepedulian dan tanggung jawab sosial dunia usaha dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan;

5. Meningkatkan kemampuan dan kepedulian masyarakat dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan; dan

6. Meningkatkan kualitas manajemen penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

2.1.6.3 Fungsi Kesejahteraan Sosial

Fungsi–fungsi kesejahteraan sosial bertujuan untuk menghilangkan tekanan–tekanan yang diakibatkan terjadinya perubahan–perubahan sosial ekonomi, menghindari terjadinya konsekuensi–konsekuensi sosial yang negatif akibat pembangunan serta menciptakan kondisi–kondisi yang mampu mendorong

(40)

peningkatan kesejahteraan masyarakat. Fungsi–fungsi kesejahteraan sosial tersebut antara lain:

1. Fungsi pencegahan, yaitu memperkuat individu, keluarga, dan masyarakat supaya terhindar dari masalah–masalah sosial baru. Dalam masyarakat transisi, upaya pencegahan ditekankan pada kegiatan–kegiatan untuk membantu menciptakan pola–pola baru dalam hubungan sosial serta lembaga–lembaga sosial baru.

2. Fungsi penyembuhan, yaitu menghilangkan kondisi–kondisi ketidakmampuan fisik, emosional, dan sosial agar dapat berfungsi kembali secara wajar dalam masyarakat.

3. Fungsi pengembangan, yaitu memberikan sumbangan langsung ataupun tidak langsung dalam proses pembangunan atau pengembangan tatanan dan sumber–sumber daya sosial dalam masyarakat.

4. Fungsi penunjang, yaitu kegiatan–kegiatan untuk membantu mencapai tujuan sektor atau bidang pelayanan kesejahteraan sosial yang lain (Friedlander dan Apte, dalam Asror, 2018: 28-29).

2.1.7 Pelayanan Sosial

2.1.7.1 Pengertian Pelayanan Sosial

Pelayanan sosial didefinisikan sebagai usaha kesejahteraan sosial yang mengarah pada terciptannya kondisi sosial dimana mereka kembali memiliki rasa harga diri dan kepercayaan diri sehingga mampu menjalankan fungsi sosial dalam keidupan masyarakat melalui usaha kesejahteraan sosial yang bersifat represif, rehabilitasi sosial dan bantuan sosial. Perlu dibedakan dua macam pelayanan sosial, yaitu: Pelayanan sosial dalam arti luas adalah pelayanan sosial yang

(41)

mencakup fungsi pengembangan termasuk pelayanan sosial dalam bidang pendidikan, kesehatan, perumahan, tenaga kerja dan sebagainya. Pelayanan sosial dalam arti sempit atau disebut juga pelayanan kesejahteraan sosial mencakup program pertolongan dan perlindungan kepada golongan yang tidak beruntung seperti pelayanan sosial bagi anak terlantar, keluarga miskin, cacat, tuna sosial dan sebagainya (Departemen Sosial, dalam Muhidin, 1984: 76-77).

2.2 Penelitian yang Relevan

Berdasarkan penelitian terdahulu atau penelitian yang relevan, dari penelitian Meytry Pangestika Asror pada tahun 2018 tentang “Pemenuhan Hak Anak Melalui Program Pendidikan yang Diselenggarakan Oleh Yayasan PKPA di Kelurahan Lalang Kecamatan Medan Sunggal”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemenuhan hak pendidikan bagi anak jalanan banyak mengalami kendala, di antaranya kurangnya kesadaran anak jalanan terhadap pendidikan, sehingga saat anak jalanan mendapatkan pelayanan akses pendidikan oleh Yayasan PKPA, banyak di antara mereka yang tidak menyelesaikan tanggung jawab terhadap pendidikan yang telah mereka peroleh. Selain itu, kurangnya partisipsi dan tanggung jawab orang tua terkait pendidikan anaknya. Lingkungan tempat tinggal mereka juga kurang mendukung terlaksananya pelayanan dan pendampingan yang Yayasan PKPA berikan.

Penelitian yang dilakukan Epida Sari pada tahun 2014 tentang “Pemenuhan Hak Anak Pemulung Melalui Program Pendidikan dan Kesehatan di Yayasan Tunas Mulia Kelurahan Sumur Batu Bantar Gebang Bekasi”. Hasil dari penelitian ini yaitu Yayasan Tunas Mulia melaksanakan pendidikan PAUD, Paket A (setara SD), dan Paket B (setara SMP). Yayasan juga memberikan beasiswa kepada

(42)

anak–anak yang ingin melanjutkan ke tingkat SMK dan perguruan tinggi. Dan sudah ada 5 orang anak yang masuk ke perguruan tinggi dengan biayanya ditanggung oleh Yayasan Tunas Mulia.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan Tatik Mei Widari pada tahun 2012 tentang “Pemenuhan Hak Pendidikan Anak Didik Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Anak”. Hasil dari penelitian ini yaitu bila dikaji secara yuridis hukum sangat mendukung mengenai jaminan hak pendidikan anak yang wajib diberikan oleh Negara ataupun masyarakat tanpa adanya diskriminasi, apakah itu dari segi ekonomi, gender bahkan ketika anak tersebut bermasalah dengan hukum dan harus tinggal di sebuah lembaga pemasyarakatan anak, meskipun ada beberapa hak mereka yang terbatasi karena adanya konsekuensi sanksi hukum. Namun demikian masih diperlukan koreksi terhadap substansi hukum yang belum memberikan batasan–batasan tertentu yang belum jelas mengenai masalah menyakut subyek dan obyek hukum mengenai hak pendidikan Anak Didik Lembaga Pemasyarakatan demi kesejahteraan anak itu sendiri. Dari segi implementasi di Lapas, pemenuhan hak pendidikan bagi anak didik pemasyarakatan sudah dilaksanakan oleh Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar meskipun dalam proses pelaksanaannya masih banyak hal–hal yang tetap harus diperbaiki dan dikembangkan. Adanya sekolah tingkat dasar dan menengah bahkan adanya program untuk mendaftarkan ujian persamaan yaitu yang dikenal kejar Paket C bagi Anak Didik yang umurnya setingkat anak usia SMA di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar merupakan suatu bukti bahwa lapas tersebut melaksanakan pemenuhan hak pendidikan Anak Didik sesuai dengan

(43)

program wajib 9 tahun di Lapas sesuai dengan Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional.

Penelitian yang dilakukan Siti Kholisotun Ni’mah tahun 2016 tentang

“Pemenuhan Hak Anak di Panti Asuhan Nurul Falah Jemur Wonosari Surabaya”.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pantu Asuhan Nurul Falah untuk memenuhi kebutuhan anak asuhnya akan pendidikan sangat bagus dan berkualitas. Segala keperluan fasilitas pendidikan diperhatikan dan dipenuhi secara maksimal. Panti asuhan Nurul Falah memiliki program pendidikan berupa sekolah formal yang dapat dipilih oleh anak asuh sesuai keinginan mereka dan juga pendidikan TPQ panti Nurul Falah ingin mencapai dan memenuhi kebutuhan anak akan pendidikan agama.

Penelitian yang dilakukan oleh Putri Rizca Ayu dan Fakhruddin pada tahun 2017 tentang “Pemenuhan Kebutuhan Belajar Anak Jalanan di Kota Semarang Melalui Program Pendidikan Non-formal”. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa anak jalanan di Semarang memiliki ragam kebutuhan belajar yang berbeda–beda. Pertama, ragam kebutuhan belajar anak jalanan di Taman Tugu Muda memiliki ragam kebutuhan belajar tentang mekanik motor dan kebutuhan belajar mengenai memasak. Kedua, ragam kebutuhan belajar anak jalanan di Simpang Lima tidak ada. Dan ketiga, ragam kebutuhan belajar anak jalanan di bawah naungan Yayasan Setara terpenuhi, karena adanya program kelompok belajar yang di dalamnya terdapat pemberian keterampilan sesuai dengan keinginan anak. Pemenuhan ragam kebutuhan belajar anak jalanan di Kota Semarang melalui program pendidikan non-formal, pemenuhannya ada dua yaitu:

(44)

pemenuhan kebutuhan belajar secara mandiri dan pemenuhan kebutuhan belajar melalui program yang terdapat di Yayasan Setara.

2.3 Kerangka Pemikiran

Anak yatim piatu adalah anak yang telah ditinggal mati oleh ayah dan ibunya. Bagi anak yatim piatu ini, pemerintah maupun swasta berupaya untuk menolong mereka dalam pemenuhan haknya. Mereka di tempatkan di panti asuhan yang dikelola oleh pemerintah atau swasta. Salah satu panti asuhan yang dikelola oleh swasta adalah panti asuhan Yayasan Pembangun Didikan Islam Indonesia. Panti asuhan ini berupaya menolong dan memenuhi hak–hak anak yatim piatu yang diasuhnya. Salah satu hak anak yang menjadi fokus mereka adalah hak pendidikan formal. Panti asuhan ini mendirikan sekolah formal bagi anak asuhnya, yang lokasi sekolah dan panti asuhannya berada di wilayah yang sama. Sekolah formal yang mereka dirikan yaitu Taman Kanak–Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat bagaimana pelaksanaan sekolah formal MTs yang dijalankan oleh yayasan tersebut.

Untuk melihat bagaimana pelaksanaan sekolah formal yang dijalankan oleh yayasan itu, peneliti membandingkannya dengan Standar Mutu Pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah. Penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah sendiri merupakan mekanisme yang sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk memastikan bahwa seluruh proses penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan standar mutu dan aturan yang ditetapkan.

Penjaminan mutu pendidikan mengacu pada standar sesuai dengan peraturan yang berlaku. Acuan utama adalah Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang telah

(45)

ditetapkan sebagai kriteria minimal yang harus dipenuhi oleh satuan pendidikan dan penyelenggara pendidikan. Standar Nasional Pendidikan terdiri atas: Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Pengelolaan, Standar Sarana dan Prasarana, dan Standar Pembiayaan. Dengan melakukan perbandingan tersebut, peneliti dapat melihat apakah pelaksanaan pendidikan di panti asuhan sudah sesuai atau belum dengan ketetapan yang dibuat pemerintah.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merumuskan kerangka pemikiran ke dalam bagan alur pikir sebagai berikut.

Bagan Alur Pikir

Anak Yatim Piatu

Pendidikan Formal:

1. Taman Kanak–Kanak (TK) 2. Sekolah Dasar (SD)

3. Madrasah Tsanawiyah (MTs)

Standar Nasional Pendidikan (SNP):

1. Standar Kompetensi Lulusan 2. Standar Isi

3. Standar Proses 4. Standar Penilaian

5. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

6. Standar Sarana dan Prasarana 7. Standar Pengelolaan

8. Standar Pembiayaan Yayasan Pembangun

Didikan Islam Indonesia (YAPDI)

MTs Sesuai/

Tidak Sesuai

(46)

2.4 Definisi Konsep

Konsep merupakan istilah khusus yang digunakan para ahli dalam upaya menggambarkan secara cermat fenomena sosial yang akan diteliti, untuk menghindari salah pengertian atas makna konsep–konsep yang akan dijadikan objek penelitian. Dengan kata lain, penulis berupaya membawa para pembaca bahwa hasil penelitian ini untuk memaknai konsep sesuai dengan yang diinginkan dan dimaksudkan oleh penulis. Jadi, definisi konsep adalah pengertian terbatas dari suatu konsep yang dianut dalam suatu penelitian. (Siagian, 2011: 138)

Untuk mengetahui pengertian mengenai konsep–konsep yang akan digunakan, maka peneliti membatasi konsep yang digunakan dalam penelitian sebagai berikut:

1. Evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menetukan alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan.

2. Indikator Mutu Pendidikan adalah tingkat kesesuaian antara penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) di sekolah. Indikator Mutu Pendidikan memiliki indikator dalam mengatur standar yang harus dimiliki sekolah dalam menerapkan organisasi sekolahnya, yaitu Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, dan Standar Pembiayaan.

(47)

3. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

4. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, negara, pemeritah dan pemerintah daerah.

5. Anak yatim piatu adalah seseorang yang tidak lagi memiliki ayah dan ibu.

(48)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian desktiptif adalah penelitian yang penelitian yang dilakukan dengan tujuan menggambarkan atau mendeskripsikan objek atau fenomena yang ingin diteliti. Termasuk di dalamnya bagaimana unsur–unsur yang ada dalam variabel penelitian itu berinteraksi satu sama lain dan ada pula produk interaksi yang berlangsung (Siagian, 2011: 52).

Penelitian deskriptif bersifat menggambarkan dan melukiskan sesuatu hal yang didapat dari lapangan dan kemudian menjelaskan dengan kata–kata. Melalui penelitian deskriptif ini, penulis ingin membuat gambaran tentang bagaimana pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan (SNP) di MTs YAPDI dalam pemenuhan hak anak di bidang pendidikan.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Yayasan Pembangun Didikan Islam Indonesia (YAPDI) yang berada di wilayah Padang Bulan, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara. Peneliti memilih lokasi tersebut karena Yayasan Pembangun Didikan Islam Indonesia ini memiliki sekolah formal milik yayasan tersebut sendiri, yang lokasi sekolah dan pantinya terdapat di wilayah yang sama.

Adapun sekolah yang tersedia mulai dari Taman Kanak–Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Selain itu, kelebihan yayasan ini adalah mereka juga menyekolahkan anak asuh sampai tingkat perguruan tinggi.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :