• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT KECAMATAN TAPOS MELALUI PROGRAM DEPOK SEJAHTERA BAZNAS KOTA DEPOK TAHUN 2018 SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT KECAMATAN TAPOS MELALUI PROGRAM DEPOK SEJAHTERA BAZNAS KOTA DEPOK TAHUN 2018 SKRIPSI"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

SEJAHTERA BAZNAS KOTA DEPOK TAHUN 2018 SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

Sosial (S. Sos)

Oleh:

Aulia Nur Isna Maulidya 11140530000076

JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH

KONSENTRASI ZAKAT INFAQ SHADAQOH WAKAF FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

SEJAHTERA BAZNAS KOTA DEPOK TAHUN 2018

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Disusun Oleh :

Aulia Nur Isna Maulidya NIM:11140530000076

Di Bawah Bimbingan:

Dr. Wahyu Prasetyawan, M.A. NIP. 196610171994031003

JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH

KONSENTRASI ZAKAT INFAQ SHADAQOH WAKAF FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(3)

Ketua Sidang Drs.Sugiharto,M.A. NIP. 196608062996031001 Sekretaris Sidang Abdul Hafiz,S.Sos,M.A - Penguji Drs.Muhammad Sungaidi,M.A. NIP. 196008031997031006 Penguji 2

Ahmad Munawaruzzaman,M.Si NIDN. 0415068504

Pembimbing

Dr. Wahyu Prasetyawan, M.A. NIP. 196610171994031003

Skripsi ini berjudul “PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT KECAMATAN TAPOS MELALUI

PROGRAM DEPOK SEJAHTERA BAZNAS KOTA

DEPOK TAHUN 2018” disusun oleh Aulia Nur Isna Maulidya (11140530000076) telah diujikan dalam siding Munaqasah Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat gelar sarjana (S.Sos) pada program studi Manajemen Dakwah.

(4)
(5)

i

Ekonomi Masyarakat Kecamatan Tapos Melalui Program

DepokSejahteraBaznasKotaDepokTahun2018.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Program Depok Sejahtera Baznas Kota Depok.

Tipe penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah tipe penelitian kualitatif. Dengan cara pengumpulan data yaitu melalui wawancara, dokumen dan arsip, serta observasi terhadap objek penelitian. Analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan cara mengklarisifikasi atau mengkategorikan data berdasarkan beberapa tema sesuai fokus penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program Depok Sejahtera, dilaksanakan dari menghimpun masyarakat, kemudian memberikan pelatihan untuk meningkatkan kualitas usaha para mustahik masyarakat daerah Tapos Kota Depok.

Dampaknya terhadap ekonomi masyarakat khususnya para mustahik Program Depok Sejahtera dapat memenuhi dan meningkatkan kebutuhan sehari-hari, selain itu juga menambah pengetahuan dan keterampilan masyarakat.

(6)

ii

KATAPENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat Iman, Islam dan Ihsan. Semoga nikmat tersebut selalu tersimpan dalam diri kita sebagai cerminan manusia yang bertaqwa. Shalawat serta salam tidak lupa kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, berserta keluarganya, sahabatnya, juga orang-orang yang selalu istiqomah berada di jalan-Nya.

Alhamdulillah dengan rahmat dan ridho Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kecamatan Tapos Melalui Program Depok Sejahtera Baznas Kota Depok”. Skripsi ini merupakan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Maka dari itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis Lc, MA. selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Suparto, M. Ed, Ph. D. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Syrif Hidayatullah Jakarta.

(7)

iii

3. Wakil Dekan I, Dr, Siti Napsiyah, MSW. Wakil Dekan II, Dr. Sihabuddin Noor, MA. Wakil Dekan III Drs. Cecep Castrawijaya, MA. Terimakasih atas segala pelayanan yang di berikan kepada penulis.

4. Drs. Sugiharto, MA. Selaku Ketua Program Studi dan selaku Dosen Pembimbing Akademik Manajemen Dakwah Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama menjadi mahasiswa.

5. Bapak Amirudin, M.Si. selaku Sekretaris Jurusan Manajemen Dakwah.

6. Bapak Dr. Wahyu Prasetyawan, M.A. selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah banyak meluangkan waktunya dalam membimbing penulis dari awal sampai akhir penelitian skripsi ini selesai.

7. Tim penguji ujian skripsi bapak Drs. Muhammad Sungaidi, M.A. dan bapak Ahmad Munawaruzzaman, M.Si. Penulis ucapkan banyak terimakasih yang telah membantu penulis dalam mengarahkan penulisan skripsi menjadi lebih baik lagi.

8. Seluruh Bapak/Ibu Dosen Program Studi Manajemen Dakwah yang telah memberikan pengajaran dan pembelajaran teori maupun pengalaman hidup yang luar biasa.

9. Pihak BAZNAZ Kota Depok dan KPU Busra yang telah memberikan izin dan membantu dalam proses penelitian di BAZNAZ Kota Depok..

(8)

iv

10. Untuk Kedua Orang tua, Ayahanda Akhmad Syafiq dan Ibunda Uswatun Khasanah beserta keluarga yang telah memberikan kasih sayang, doa dan semangat yang menjadi motivasi bagi penulis untuk dapat menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Untuk sahabat-sahabat penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, khususnya kepada saudara/saudari Nurhamni Mawaddah, Yeti Hidayanti, dan seluruh sahabat karib yang turut membantu dalam penulisan skripsi ini.

Akhirnya penulis menyadari keterbatasannya sebagai manusia biasa, mungkin mempunyai kekurangan atau kelemahan. Begitupun penulis dalam menyelesaikan skripsi ini masih banyak yang harus di perbaiki dan di perbaharui oleh karenanya kritik dan saran yang membangun senantiasa penulis harapkan untuk kelengkapan dan kesempurnaan skripsi ini. Penulis juga berharap, semoga karya ilmiah ini bisa bermanfaat bagi yang membaca. Aamiin.

Jakarta, 30 Juni 2021

Aulia Nur Isna Maulidya

(9)

v DAFTARISI ABSTRAK ... i KATAPENGANTAR ... ii DAFTARISI ... v BABI ... 1 A. Latar Belakang ... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

D. Metode Penelitian ... 10

E. Tinjauan Pustaka ... 12

F. Teknik Penulisan Skripsi ... 14

G. Sistematika Penulisan ... 14

BABII ... 17

A. Pemberdayaan ... 17

B. Ekonomi Masyarakat ... 28

C. Perencanaan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat ... 30

D. Zakat ... 42

BABIII ... 45

A. Profil Baznas Kota Depok ... 45

(10)

vi

C. Visi, Misi, dan Nilai ... 49

D. Nilai ... 50

E. Struktur Kepengurusan ... 49

F. Tujuan dan Sasaran ... 51

G. Program BAZNAS Kota Depok ... 52

H. Mitra BAZNAS Kota Depok ... 55

BABIV ... 60

A. Profil Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat 60 B. Komposisi Data Temuan ... 62

BABV ... 70

A. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat ... 70

B. Tantangan Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat ... 73 BABVI ... 85 A. Kesimpulan ... 84 B. Saran ... 85 DAFTARPUSTAKA ... 89 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 93

(11)

1

A. LatarBelakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan tersebut menjadi modal penting dalam pembangunan bangsa Indonesia. Potensi tersebut menjadi modal utama bangsa Indonesia untuk lepas landas menuju negara maju dan keluar dari zona kemiskinan.

Kemiskinan di Indonesia merupakan persoalan kompleks dan multidimensional berkaitan dengan aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya. Upaya untuk mengatasi persoalan kemiskinan merupakan prioritas utama dalam pengembangan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi pada kenyataannya, persoalan kemiskinan belum dapat diatasi sepenuhnya, oleh karena itu diperlukan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut tanpa mengabaikan pertumbuhan ekonomi.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,06 persen. Pada kuartal III 20 7 itu juga lebih tinggi dari pada periode kuartal I dan II 20 7 sebesar 5,0 persen. Pertumbuhan ekonomi 5,06 persen ini menggembirakan karena ini lebih tinggi dibandingkan kuartal I dan II sebesar 5,0 persen.1

1

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3 52727/ekonomi-ri-tumbuh-506-persen-pada-kuartal-iii-20 7 diaksespadatgl3Oktober20 8pukul 4: 5.

(12)

Penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam dapat membantu mengurangi tingkat kemiskinan yang ada dengan zakat. Islam adalah agama yang universal dan memiliki konsep yang sangat baik dikehidupan manusia. Salah satu aturannya Islam adalah rukun Islam yaitu syahadat, shalat, zakat puasa dan haji. Rukun Islam di golongkan menjadi dua golongan yaitu bersifat personal (syahadat, shalat, puasa, haji) dan bersifat sosial (zakat).

Rukun Islam yang bersifat kemasayarakatan hanya ada satu yaitu zakat. Peran strategi zakat dapat membantu menyeimbangkan nilai perekonomian masyarakat dan memiliki potensi sangat besar dalam mempersatukan umat manusia serta menunjukan kebersamaan dan kepeduliannya terhadap sesama.2

Zakat pada hakikatnya adalah pungutan harta yang diambil dari hartanya orang-orang yang sudah cukup nishabnya untuk dibagikan kepada para mustahik zakat.3 Zakat merupakan sumber biaya ekonomi Islam yang disyariatkan oleh Allah SWT untuk menjadi tonggak bagi kekuatan umat karena kemampuannya dalam menyelesaikan masalah ummat Islam pada saat ini. Menurut Mazhab Imam Hambali, zakat ialah hak yang wajib (dikeluarkan) dari harta yang khusus, untuk kelompok yang khusus adalah delapan kelompok yang diisyaratkan oleh Allah SWT dalam ayat Al-Qur‟an berikut:4

2SafwanIdris,GerakanZakatdalamPermeberdayaanEkonomiUmmat,

PT.CitraPutraBangsa,Cet ,h5 .

3

MuhammadZen,24HoursOfCotemporaryZakat:TanyaJawab SeputarKeseharianZakat,Ciputat:IMZ,20 0,Cet.Ke ,h70.

4YusufQardawi,HukumZakat,Jakarta:PT.MitraKerjayaIndonesia,20

(13)

اَمَّنِإ تاَقَدَّصلا ِءاَرَق فْلِل ِنيِكاَسَمْلاَو َنيِلِماَعْلاَو اَهْيَلَع ِةَفَّلَؤ مْلاَو ْم ه بى ل ق يِفَو ِباَقِّرلا َنيِمِراَغْلاَو يِفَو ِليِبَس َِّاللّ ِنْباَو ِليِبَّسلا ۖ ةَضيِرَف َنِم َِّاللّ ۖ َّاللَّو ميِلَع ميِكَح

“Sesungguhnyazakat-zakatitu,hanyalahuntuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untukmerekayuangsedangdalamperjalanan,sebagaisuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahuilagiMahaBijaksana.(Q.S.At-Taubah:60)

Pemanfaatan zakat selama ini ada empat kategori yaitu , Pertama, pendayagunaan yang bersifat konsumtif tradisional seperti zakat fitrah yang diberikan kepada dhuafa untuk dimanfaatkan secara langsung atau zakat harta yang diberikan ketika ada suatu bencana alam. Kedua, zakat konsumtif kreatif seperti beasiswa, pemberian alat-alat tulis dan lain-lain. Ketiga, zakat produktif kreatif seperti pemberian kambing, sapi, mesin jahit, alat-alat pertukangan dan sebagainya. Pemberian zakat dalam bentuk ini akan dapat mendorong orang menciptakan suatu usaha atau memberikan suatu lapangan kerja baru bagi dhuafa. Dan yang keempat,adalah zakat produktif kreatif seperti zakat profesi. Pendayagunaan zakat yang diwujudkan dalam bentuk modal yang dapat dipergunakan, baik untuk membangun proyek sosial maupun untuk membantu atau menambah modal seseorang pedagang atau pengusaha kecil. Dalam kategori ketiga dan keempat ini perlu di kembangkan karena pendayagunaan

(14)

zakat yang demikian mendekati hakikat zakat, baik yang terkandung dalam fungsinya sebagai ibadah maupun dalam kedudukannya sebagai dana masyarakat.5

Adapun pengembangan zakat bersifat produktif dengan cara dijadikan dana zakat sebagai bantuan modal usaha, untuk pemberdayaan ekonomi penerimanya, dan supaya kaum dhuafa dapat menjalankan atau membiayai kehidupannya secara konsisten. Dengan dana zakat tersebut kaum dhuafa akan mendapatkan penghasilan tetap, meningkatkan usaha, mengembangkan usaha serta mereka dapat menyisihkan penghasilannya untuk menabung.

Dana zakat untuk kegiatan produktif akan lebih optimal bila dilaksanakan Lembaga atau Badan Amil Zakat Karena LAZ/BAZ sebagai organisasi yang terpercaya untuk pengalokasian, pemberdayaan, dan pendistribusian dana zakat, tidak hanya memberikan zakat begitu saja melainkan mereka mendampingi, memberikan pengarahan serta pelatihan agar dana zakat tersebut benar-benar dijadikan modal kerja sehingga penerimaan zakat tersebut memperoleh pendapatan yang layak dan mandiri.6

Pemberdayaan menurut Parons yang dikutip oleh Suharto, adalah suatu proses dimana seseorang akan menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam berbagai pengontrolan dan mampu

5

Muhammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam: Zakat dan Wakaf,

Jakarta:UI-Press,Cet , 988,h62-63.

6PeduliUmat,MajalahBAZISDKIJakarta,EdisiDesember20 0,

(15)

memberikan pengaruh terhadap kejadian-kejadian, serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupannya.7

Sedangkan menurut Ginanjar Kartasasmita Pemberdayaan yaitu suatu upaya untuk membangun daya dengan cara mendorong, memotivasi, dan membangkit kesadaran akan potensi yang akan dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkan dengan memperkuat potensi yang dimiliki oleh masyarakat.8

Ekonomi masyarakat adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat dengan secara swadaya mengelolah sumber daya apa saja yang dapat dikuasai dan ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan kebutuhan keluarga.9

Dari beberapa untaian di atas dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat adalah upaya membangun daya dengan cara mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki. Mengidentifikasi kebutuhan, menggali dan memanfaatkan sumber daya yang ada supaya masyarakat mencapai kesejahteraan hidup.

Baznas adalah Badan Amil Zakat Nasional yang di bentuk oleh pemerintah nonstruktural yang bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial, atau kemasyarakatan umat Islam, dikukuhkan, dibina dan dilindungi oleh pemerintah. Pengertian tersebut dapat

7EdiSuharto,MembangunMasyarakatMemberdayakanRakyat,

Bandung:PT.RefikaAditama,2005,h58-59.

8

GinanjarKartasasmita,PembangunanUntukRakyat:Memadukan PertumbuhanDanPemerataan,Jakarta:PT.PustakaCidesindo, 996,h 45.

9Mubyarto,EkonomiRakyatdanProgramIDT,Yogyakarta:Aditya

(16)

ditemukan dalam UU No 23 tahun 20 sebagai perubahan dari UU No 38 tahun 999 tentang pengelolaan zakat.10 Berkenaan dengan hal Baznas Kota Depok melalui optimalisasi zakat, infaq dan sedekah memiliki program-program pemberdayaan yang bersifat produktif terpadu. Tujuan gerakan ini adalah membangkitkan partisipasi masyarakat untuk memberdayakan potensi diri dan lingkungan secara mandiri.

Melalui berbagai inovasi dan peningkatan layanan selama 2018 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) berhasil menghimpun dana zakat, infak dan sedekah mencapai Rp 55 miliar. Deputi Baznas, M. Arifin Purwakananta, mengatakan pencapaian penghimpunan dana zakat, infak sedekah (ZIS) tersebut meningkat sebesar 40% dari pencapaian tahun lalu. Peningkatan itu terlihat dari data penghimpunan 2018 yang naik menjadi Rp 55 miliar, sedangkan pada 2017, Baznas pusat mengelola dana ZIS dan Dana Sosial Keagamaan Liannya sebanyak Rp 111 miliar.

Menurutnya, pencapaian Baznas lebih tinggi dari rata-rata pencapaian zakat nasional pada 2018 yang diperoleh Baznas pusat, Baznas Provinsi, dan Baznas Kabupaten/Kota serta Lembaga Amil Zakat (LAZ) sebesar 20%. Adapun pencapaian pada tahun lalu, lanjutnya, yang berasal dari perolehan ZIS dan Dana Sosial Keagamaan lainnya (DSKL) tercatat sebanyak Rp5,12 triliun, dan pada 2017 meningkat menjadi Rp 6 triliun.

10http://pid.baznas.go.id/wp-content/peraturan/00

_Undang-Undang_Nomor_23_Tahun_20 _Tentang_Pengelolaan_Zakat_OK.pdf di aksespadatgl3Oktober20 8, 7:3 .

(17)

Dari data yang dihimpun hingga awal Desember, Baznas memperkirakan target zakat nasional

Dari hasil perolehan tersebut pastinya BAZNAS sudah menyentuh sangat banyak para Mustahik yang dibantu-baik secara financial maupun yang menerima manfaat seperti dalam pelatihan serta mendapatkan lapangan pekerjaan. Hal ini berarti kaum dhuafa tidak hanya sekedar meminta tetapi mampu untuk berkarya. Dan angka pengangguran otomatis menjadi berkurang, mengakibatkan pertumbuhan ekonomi meningkat.

Depok sejahtera adalah merupakan program BAZNAS Kota Depok dalam melakukan Pemberdayaan dari dana zakat yang telah dihimpun oleh BAZNAS Kota Depok. Pertama pembinaan dan pendampingan usaha, kedua bantuan modal usaha, ketiga bantuan sarana usaha, keempat bantuan kemandirian, kelima bantuan langsung ekonomi, kelima bantuan modal teknik.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai pemberdayaan. Maka penulis memberi judul: “PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT

KECAMATAN TAPOS MELALUI PROGRAM DEPOK

SEJAHTERABAZNASKOTADEPOK.”

B. PembatasandanPerumusanMasalah

1. PembatasanMasalah

Agar masalah dalam skripsi ini lebih terarah, maka dalam penulisan skripsi ini penulis membatasinya

(18)

pada: Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kecamatan Tapos Melalui Program Depok Sejahtera Baznas Kota Depok 2018.

2. PerumusanMasalah

Agar batasan pada perumusan masalah ini lebih terarah dan terfokus dalam penulisan ini maka dirumuskan dalam rangka menjawab permasalahan berikut :

a. Bagaimana bentuk-bentuk kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dilakukan oleh BAZNAS Kota Depok terhadap masyarakat Kecamatan Tapos? b. Bagaimana tantangan Baznas Kota Depok dalam

pemberdayaan ekonomi masyarakat?

c. Bagaimana dampak pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program Depok Sejahtera Baznas Kota Depok terhadap masyarakat Kecamatan Tapos?

C. TujuandanManfaatPenelitian

1. TujuanPenelitian

Tujuan yang diinginkan penulis dalam penelitian ini adalah:

a. Mendeskripsikan bentuk-bentuk kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dilakukan oleh BAZNAS Kota Depok.

b. Mengetahui tantangan Baznas Kota Depok dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.

(19)

c. Mengetahui dampak pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program Depok Sejahtera Baznas Kota Depok terhadap masyarakat Kecamatan Tapos.

2. ManfaatPenelitian a. Ilmu Pengetahuan

Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan pengetahuan ilmiah bagi akademisi tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat, sehingga mampu memberikan kontribusi yang positif terhadap penggunaan dana zakat yang baik dan benar.

b. Akademis

Penelitian ini diharapkan memberikan kajian yang menarik dan menambah wawasan khazanah keilmuan bagi para pembaca khususnya mahasiswa Manajemen Dakwah, serta dapat berguna bagi banyak pihak terutama sebagai tambahan referensi atau perbandingan bagi studi-studi yang akan datang. c. Praktisi

Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan wawasan yang baru dan memberikan motivasi bagi para praktisi terhadap Ilmu Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat , dan Ilmu Zakat,

d. Lembaga Terkait

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi BAZNAS Kota Depok secara

(20)

umum, dan menjadi bahan kajian serta team pelaksana yang mengenai masalah ini secara khusus, mampu mempertahankan atau memaksimalkan kinerja agar mendapatkan hasil yang optimal juga.

D. MetodePenelitian

1. JenisdanPendekatanPenelitian

Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif (kualitatif) yaitu penelitian yang menggambarkan data dan informasi di lapangan berdasarkan fakta yang diperoleh di lapangan secara mendalam.11 Dalam metode ini penelitian yang di maksud untuk membuat pecandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian.12 Pendekatan yang di gunakan adalah pendekatan empiris, yaitu subjek kajian dengan melakukan pengataman langsung kelapangan.

2. LokasidanWaktu

Penelitian ini bertempat di Baznaz kota Depok.

3. SumberData

Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:

a. Data Primer, wawancara langsung kepada bagian perencanaan dan pembiayaan ekonomi dan

11

SuharsimiArikunto,“ManagemenPenelitian”,Jakarta,PTRineka Cipta,Cet2, 993,Hal.309.

12SumadiSuryabiata,“MetodologiPenelitian”,Jakarta,PT

(21)

beberapa pihak yang berkompeten dalam penelitian ini.

b. Data Sekunder, sumber data pendukung dan pelengkapan data penelitian berupa buku, majalah, jurnal.

4. TeknikPengumpulanData

a. Wawancara

Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi. Tujuan wawancara adalah untuk memperoleh informasi data yang valid dan akurat dari pihak-pihak yang di jadikan sebagai informan. Dalam wawancara ini menggunakan alat wawancara berupa Interviewguide (panduan wawancara), Dengan Bapak Abdul Gofar, S.E,I Wakil Ketua II, Ibu Dr. Rida Hesti Ratnasari, M.Si selaku Wakil Ketua IV Baznas Kota Depok, dan Bapak Muklas, AMKL selaku Ketua KSU Syari‟ah Busra.

b. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan berarti melakukan penelusuran kepustakaan dan menelaahnya. Sumber berupa buku dan dokumen dari Baznaz kota Depok dan KPU Busra dan lain-lain.

c. Dokumentasi

Pengumpulan data-data sekunder mengenai lahan penelitian yang di dapatkan dan tertulis seperti arsip, dokumen resmi, dan sejenisnya yang diharapkan dapat mendukung analisis penelitian.

(22)

5. TeknikAnalisData

Data hasil penelitian yang telah di kumpulkan sepenuhnya di analisisi secara kualitatif. Analisis data dilakukan setiap saat pengumpulan data di lapangan secara berkesinambungan, diawali dengan proses klasifikasi data agar tercapai konsistensi di lapangan dengan langkah abstraksi-abstraksi teoritis terhadap informasi lapangan, dengan mempertimbangkan menghasilkan pernyataan yang sangat memungkinkan dianggap mendasar dan universal.

E. TinjauanPustaka

Dari beberapa skripsi yang penulis baca, banyak pendapat yang harus diperhatikan dan menjadi perbandingan selanjutnya. Adapun setelah penulis melakukan kajian keputusan penulis menemukan beberapa skripsi yang membahas skripsi tentang zakat, judul skripsi tersebut adalah:

1. Skripsi ditulis oleh Desi Nasruda Mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum jurusan Perbankan muamalat Universitas Ismal Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dengan judul skripsi “Pemberdayaan Ekonomi Umat Melalui Zakat (Studi Kasus Masyarakat Pasia Minang Kabau Perantauan)”. Skripsi ini menjelaskan tentang sejauh mana perhatian masyarakat pasia perantau terhadap orang miskin, dan dampak dari pengelolaan dana zakat yang dilakukan masyarakat pasia.

(23)

2. Skripsi berikutnya ditulis oleh Muslih Adi Saputro Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Ekonomi Syariah IAIN Surakarta dengan judul “Peran

Dana Zakat Produktif Terhadap Pemberdayaan

Ekonomi Mustahiq (Studi Kasus Yayasan Solo

Peduli)”. Skripsi ini menjelaskan tentang peran dana zakat produktif Yayasan Solo Peduli dalam upaya mempengaruhi perekonomian keluarga mustahiq di solo. Dan bagaimana faktor penghambat dan faktor pendukung dalam pelaksanaan kegiatan pemberdayaan zakat produktif yang di lakukan Yayasan Solo Peduli. 3. Skripsi berikutnya ditulis oleh Abdur Rohim

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Yogyakarta dengan judul “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata (Study di Desa Wisata Bejiharjo,

Kecamatan Karangmojo Kabupaten Gunungkidul,

DIY”. Skripsi ini menjelaskan tentang bentuk

pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan dari wisata yang ada di desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo Kabupaten Gunungkidul, DIY.

Persamaan dengan skripsi-skripsi diatas yang sudah diselesaikan oleh penulisnya, terdapat pada pembahasan yang berhubungan pemberdayaan zakat yang dilaksanakan oleh sebuah lembaga zakat.

(24)

Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh penulis berbeda dari penelitian sebelumnya. Penelitian kali ini menggambarkan bagaimana pemberdayaan zakat produktif di BAZNAS Kota Depok pada program Depok Sejahtera dan perbedaannya disini peneliti menganalisis pemberdayaan zakat pada BAZNAS Kota Depok melalui program Depok Sejahtera. Oleh karena itu materi pembahasannya berbeda, materi yang penulis bahas tentang:

“PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT

KECAMATAN TAPOS MELALUI PROGRAM DEPOK

SEJAHTERABAZNASKOTADEPOK”.

F. TeknikPenulisanSkripsi

Adapun metode penyusunan skripsi ini, penulis mengacu kepada Keputusan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor: 507 Tahun 2017 tentang “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2017”.

G. SistematikaPenulisan

Penulis mengklasifikasikan skripsi ini kedalam beberapa bab dengan sistematika penulis sebagai berikut:

BABI PENDAHULUAN

Dalam bab ini berisi latar belakang, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.

(25)

Dalam bab ini berisi tentang pengertian dan penjelasan dari Pemberdayaan Ekonomi di Baznaz kota Depok.

BABIII IDENTITAS LEMBAGA

Dalam bab ini berisi gambaran umum mengenai sejarah, visi-misi, produk, program, dan struktur perusahaan.

BABIV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN Dalam bab ini berisi tentang data-data yang di dapat selama penelitian.

BABV PEMBAHASAN

Bab ini berisi mengenai identifikasi dari

Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di

Baznaz kota Depok serta hasil penelitian yang di dapatkan.

BABVI PENUTUP

Berisi mengenai kesimpulan dari hasil pembahasan dan Analisa yang dilakukan. bab ini juga berisi saran yang bermanfaat untuk lembaga yang telah di teliti sesuai dengan hasil pembahasan dan analisa.

(26)
(27)

17 A. Pemberdayaan

1. SejarahPemberdayaan

Pemberdayaan adalah terjemahan dari empowerment, sedangkan memberdayakan adalah terjemahan dari empower. Menurut merriam Webster dan Oxford English Dictionary, kata empower mengandung dua pengertian, yaitu: (1) to give poweratau authoritytoatau memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain; (2) to give ability to atau enable atau usaha untuk memberi kemampuan atau keperdayaan.1

Istilah “Pemberdayaan” adalah terjemah dari istilah asing “Empowerment”. Secara leksikal, pemberdayaan berarti penguatan. Secara teknis, istilah pemberdayaan dapat disamakan atau setidaknya diserupakan dengan istilah pengembangan. Bahkan dalam dua istilah ini da lam batas-batas tertentu bersifat interchangeable atau dapat dipertukarkan.2

Pemberdayaan menurut Ginandjar yang dikutip dalam buku Hari Witono Suparlan, dkk yakni konsep ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Memberdayakan masyarakat

1Projono,O.SdanPranarka,A.M.W,Pemberdayan:Konsep,Kebijakan

danimplementasi,CSIS;Jakarta: 996,h200.

2NanihMachendrawaty,AgusAhmadSafei,PengembanganMasyarakat

(28)

adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi tidak mampu melepaskan diri dari kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat.3

Robinson menjelaskan bahwa pemberdayaan adalah suatu proses pribadi dan sosial; suatu pembebasan kemampuan pribadi, kompetensi, kreatifitas dan kebebasan bertindak. Sedangkan Ide mengemukakan bahwa pemberdayaan mengacu pada kata “empowerment,” yang berarti memberi daya, memberi ”power” (kuasa), kekuatan, kepada pihak yang kurang berdaya.

Dari penjelasan tentang pemberdayaan menurut para ahli yang di sebutkan sebelumnya bisa kita tarik kesimpulan bahwa pemberdayaan adalah sebuah bentuk kegiatan yang bertujuan untuk membebaskan diri sendiri dari ketergantungan mental maupun fisik. Bentuk kemandirian ini akan berdampak pada kesejahteraan secara umum untuk masyarakat dan khususnya untuk pribadi sendiri.

1) KonsepPemberdayaan

Konsep pemberdayaan lahir sebagai antitesis terhadap model pembangunan dan model industrialisasi yang kurang memihak pada rakyat mayoritas. Konsep ini dibangun dari kerangka logik

3HariWitonoSuparlan,dkk,PemberdayaanMasyarakatModulPara

(29)

sebagai berikut: (1) bahwa proses pemusatan kekuasan terbangun dari pemusatan penguasaan faktor produksi; (2) pemusatan kekuasaan faktor produksi akan melahirkan masyarakat pekerja dan masyarakat yang pengusaha pinggiran; (3) kekuasaan akan membangun bangunan atas atau sistem pengetahuan, sistem politik, sistem hukum, dan ideologi yang manipulatif untuk memperkuat dan legitimasi; dan (4) kooptasi sistem pengetahuan, sistem hukum, sistem politik, dan ideologi, secara sistematik akan menciptakan dua kelompok masyarakat, yaitu masyarakat berdaya dan masyarakat tunadaya.4 Akhirnya yang terjadi adalah dikotomi, yaitu masyarakatyangberkuasa

dan manusia yangdikuasai. Untuk membebaskan

situasi menguasai dan dikuasai, maka harus dilakukan pembebasan melalui proses pemberdayaan bagi yang dikuasai (empowermentof thepowerless).

Pengalaman empirik dan pengalaman historis dari format sosial ekonomi yang dikotomis ini telah melahirkan berbagai pandangan mengenai pemberdayaan. Pandangan pertama, pemberdayaan adalah penghancuran kekuasaan atau power to nobody. Pandangan ini didasari oleh

4Projono,O.SdanPranarka,A.M.W,Pemberdayan:Konsep,

(30)

keyakinan, bahwa kekuasaan telah menterasingkan dan menghancurkan manusia dari eksistensinya. Oleh sebab itu untuk mengembalikan eksistensi manusia dan menyelamatkan manusia dari keterasingan dan penindasan, maka kekuasaan harus dihapuskan. Pandangan kedua, pemberdayaan adalah pembagian kekuasaan kepada setiap orang (power to everybody). Pandangan ini didasarkan pada keyakinan, bahwa kekuasaan yang terpusat akan menimbulkan abuse dan cenderung mengalienasi hak normatif manusia yang tidak berkuasa atau yang dikuasi. Oleh sebab itu, kekuasaan harus didistribusikan ke semua orang, agar semua orang dapat mengaktualisasikan diri. Pandangan ketiga, pemberdayaan adalah penguatan kepada yang lemah tanpa menghancurkan yang kuat. Pandangan ini adalah pandangan yang paling moderat dari dua pandangan lainnya. Pandangan ini adalah antitesis dari pandangan power to nobody dan pandangan powertoeverybody. Menurut pandangan ini, Power to nobody adalah kemustahilan dan power to everybody adalah chaos dan anarki. Oleh sebab itu menurut pandangan ketiga, yang paling realistis adalah powertopowerless.5

5A.M.W.PranarkadanVidhyandikaMoeljarto,Pemberdayaan

(31)

Ketiga pandangan tersebut di atas, kalau dikaji secara seksama, ternyata berpengaruh cukup signifikan dalam konsep dan praksis pemberdayaan. Di lapangan, paling tidak ada 3 konsep pemberdayaan. Konsep pertama, pemberdayaan yang hanya berkutat di „daun‟ dan „ranting’ atau pemberdayaan konformis. Karena struktur sosial, struktur ekonomi, dan struktur ekonomi sudah dianggap given, maka pemberdayaan adalah usaha bagaimana masyarakat tunadaya harus menyesuaikan dengan yang sudah giventersebut. Bentuk aksi dari konsep ini merubah sikap mental masyarakat tunadaya dan pemberian santunan, seperti misalnya pemberian bantuan modal, pembangunan prasarana pendidikan, dan sejenisnya. Konsep ini sering disebut sebagai magicalparadigm.

Konsep kedua, pemberdayaan yang hanya

berkutat di „batang‟ atau pemberdayaan reformis. Artinya, secara umum tatanan sosial, ekonomi, politik dan budaya, sudah tidak ada masalah. Masalah ada pada kebijakan operasional. Oleh sebab itu, pemberdayaan gaya ini adalah mengubah dari top down menjadi bottom up, sambil mengembangkan sumberdaya manusianya, menguatkan kelembagaannya, dan sejenisnya. Jakarta, 996,h45-70.

(32)

Konsep ini sering disebut sebagai naïveparadigm.

Konsep ketiga, pemberdayaan yang hanya

berkutat di „akar‟ atau pemberdayaan struktural. Karena tidakberdayanya masyarakat disebabkan oleh struktur politik, ekonomi, dan sosial budaya, yang tidak memberi ruang bagi masyarakat lemah untuk berbagi kuasa dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya, maka stuktur itu yang harus ditinjau kembali. Artinya, pemberdayaan hanya dipahami sebagai perubahan tatanan yang sudah ada. Semua tatanan dianggap salah dan oleh karenanya harus dihancurkan, seperti misalnya memfasilitasi rakyat untuk melawan pemerintah, memprovokasi masyarakat miskin untuk melawan orang kaya dan atau pengusaha, dan sejenisnya. Singkat kata, konsep pemberdayaan masyarakat yang hanya berkutat pada akar adalah penggulingan the powerful. Konsep ketiga ini sering disebut sebagai critical paradigm. Oleh Pranarka dan Moelyarto (1996), karena kesalah-pahaman mengenai pemberdayaan ini, maka menimbulkan pandangan yang salah, seperti bahwa pemberdayaan adalah proses penghancuran kekuasaan, proses penghancuran negara, dan proses penghancuran pemerintah.

Tujuan utama pemberdayaan adalah memperkuat kekuasaan masyarakat khususnya

(33)

kelompok lemah yang memiliki ketidakberdayaan, baik karena kondisi internal (misalnya persepsi mereka sendiri), maupun karena eksternal (misalnya ditindas oleh struktur sosial yang tidak adil). Guna melengkapi pemahaman mengenai pemberdayaan selain konsep pemberdayaan perlu diketahui konsep mengenai kelompok lemah dan ketidakberdayaan yang dialaminya. Beberapa kelompok yang dapat dikategorikan sebagai kelompok lemah atau tidak berdaya meliputi: (1) kelompok lemah secara struktural, baik lemah secara kelas, gender maupun etnis; (2) kelompok lemah khusus, seperti manula, anak-anak dan remaja penyandang cacat, gay dan lesbian, masyarakat terasing; (3) kelompok lemah secara personal, yakin mereka yang mengalami masalah pribadi dan/atau keluarga.6

2) IndikatorPemberdayaan

Untuk mengetahui fokus dan tujuan pemberdayaan secara operasional, maka perlu diketahui berbagai indikator keberdayaan yang dapat menunujukkan seseorang itu berdaya atau tidak. Keberhasilan pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari keberdayaan yang menyangkut kemampuan ekonomi, mengakses manfaat kesejahteraa n, dan kemampuan

6EdiSuharto,MembangunMasyarakatMemberdayakanRakyat,h

(34)

kultural dan politis. Ketiga aspek dikaitkan dengan empat dimensi kekuasaan, yaitu: kekuasaan di dalam (power within), kekuasaan untuk (power to), kekuasaan atas (power over), dan kekuasaan dengan (powerwith).7

Tabel2. TabelIndikatorPemberdayaan

7EdiSuharto,MembangunMasyarakatMemberdayakanRakyat,h

63-66. Jenis Hubungan Kekuasaan Kemampuan Ekonomi Kemampuan Mengakses Manfaat Kesejahteraan Kemampuan Kultural dan Politisi Kekuasaan di dalam: Meningkatkan kesadaran dan keinginan untuk berubah  Evaluasi positif terhadap kontribusi ekonomi dirinya  Kenginan memiliki Kesempatan ekonomi yang setara  Keinginan memliki kesamaan hak  Kepercayaa n diri dan kebahagiaan Keinginan memilki kesejahteraa n yangsetara  Keinginan membuat keputusan mengenai diri dan  Asserteiveness dan otonomi  Keinginan untukmengha dapi Subordinasi gender termasuk tradisi budaya, diskriminasi hukum dan

(35)

terhadap

sumber yang ada pada rumah tangga dan masyarakat orang lain  Keinginan untuk mengontrol jumlah anak pengucilan politik  Keinginan terlibat dalam proses-proses budaya, hukum dan polit ik Kekuasaan untuk: Meningkatkan kemampuan individu untuk berubah; Meningkatkan kesempatan untuk memperoleh akses  Akses terhadap pelayanan keuangan mikro  Akses terhadap pendapatan  Akses terhadap asset-aset produktif dan kepemilikan rumah tangga  Akses terhadap p asar  Penurunan beban dalam pekerjaan domestik, termasuk  Keterampila n, termasuk kemelekan huruf  Status kesehatan dan gizi  Kesadran mengenai dan akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi  Ketersediaan pelayanan kesejahteraa  Mobilitas dan akses terhadap dunia diluar rumah  Pengetahuanme ngen ai proses hukum, politik dan kebudayaan  Kemampuan menghilangkan hambatan formal yang merintangi akses terhadap proses hukum, politik dan kebudayaan

(36)

perawatan anak n publik Kekuasaan atas: Perubahan pada hambatan- hambatan sumber dan kekuasaan pada tingkat rumah tangga, masyarakat dan makro; Kekuasaan atau tindakan individu untuk menghadapi hambatan- hambatan tersebut  Kontrol atas penggunaan pinjaman dan tabungan serta keuntungan yang dihasilkanny a  Kontrol atas pendapatan aktivitas produktif keluarga yang lainnya  Kontrol atas aset produktif dan kepemilikan keluarga  Kontrol atas ukuran kosumsi keluarga dan aspek bernilai lainnya dan pembuatan keputusan keluarga termasuk keputusan keluarga berencana  Aksi individu untuk mempertahan kan diri dan kekrasan keluarga dan masyarakat  Aksi individu dalam menghadapi dan mengubah persepsi budaya kapasitas dan hak wanita pada tingkat keluarga dan masyarakat  Keterlibatan individu dan pengambilan peran dalam proses budaya, hukum dan politik

(37)

 Tindakan individu menghadapi diskriminasi atas akses terhadap sumber dan pasar Kekuasaan dengan: Meningkatnya solidaritas atau tindakan bersama dengan orang lain untuk menghadapi hambatan- hambatan sumber dan kekuasaan pada tingkat rumah tangga,masyara kat dan makro

 Bertindak sebagai model peranan bagi  orang lain terutama dalampekerja an publik dan modern  mampu memberi gaji terhadap orang lain  Tindakan bersama  Penghargaan tinggi terhadap dan peningkatan pengeluaran untuk anggota keluarga  Tindakan bersama untuk meningkatka n kesejahteraan publik  Peningkatan jaringan untuk memperoleh dukungan pada saat krisis  Tindakan bersama untuk membela orang lain menghadapi perlakuan salah dalam keluarga dan masyarakat  Partisipasi dalam gerakan –

(38)

B. EkonomiMasyarakat

Ekonomi adalah aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa. Ekonomi secara umum atau secara khusus adalah aturan rumah tangga atau manajemen rumah tangga.8 Ekonomi juga dikatakan sebagai ilmu yang menerangkan cara-cara menghasilkan, mengedarkan, membagi serta memakai barang dan jasa dalam masyarakat sehingga kebutuhan materi masyarakat dapat terpenuhi sebaik-baiknya. Kegiatan ekonomi dalam

8DepartemenPendidikanNasional,KamusBesarBahasaIndonesia,

Jakarta:BalaiPustaka,200 ,h85. menghadapi diskriminasi pada akses terhadap sumber (termasuk hak atas tanah), pasar dan diskriminasi gender pada konteks ekonomi makro gerakan menghadapi subordinasi gender yang bersifat cultural, politis, huku pada tingkat masyarakat dan makro

(39)

masyarakat adalah mengatur urusan harta kekayaan baik yang menyangkut kepemilikkan, pengembangan maupun distribusi.9

Manusia hidup dalam suatu kelompok yang membentuk suatu sistem. Sistem secara sederhana dapat diartikan sebagai interaksi, kaitan, atau hubungan dari unsur-unsur yang lebih kecil membentuk satuan yang lebih besar dan komplek sifatnya. Dengan demikian sistem ekonomi adalah interaksi dari unit-unit yang kecil (para konsumen dan produsen) ke dalam unit ekonomi yang lebih besar disuatu wilayah tertentu.10

Dalam konteks permasalahan sederhana, ekonomi rakyat merupakan strategi “bertahan hidup” yang dikembangkan oleh penduduk masyarakat miskin, baik dikota maupun desa.11 Meningkatkan kesejahteraan, ekonomi merupakan kegiatan dalam pemberdayaan di masyarakat. Ekonomi dapat diartikan sebagai upaya dalam mengelola rumah tangga. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup melalui tiga kegiatan utama yaitu: produksi, distribusi, dan konsumsi. Pemenuhan hidup dengan kendala terbatasnya sumber daya, erat kaitannya dengan upaya meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan.12

9M.Sholahuddin,Asas-AsasEkonomiIslam,Jakarta:PT.Raja

GrafindoPersada,2007,h3.

10Deliarnov,PerkembanganPemikiranEkonomi,Jakarta:Rajawali

Pers,2009,h2.

11Mubyarto,EkonomiRakyatdanProgramIDT,Yogyakarta:Adtya

Media, 996,h4.

12GunawanSumodiningrat,MembangunPerekonomianRakyat,

(40)

Menurut pendapat lain, ekonomi masyarakat adalah segala kegiatan ekonomi dan upaya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (basic need) yaitu sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan satu upaya untuk meningkatkan kemampuan atau potensi masyarakat dalam kegiatan ekonomi guna memenuhi kebutuhan hidup serta meningkatkan kesejahteraan mereka dan dapat berpotensi dalam proses pembangunan nasional.13

Kesimpulan dari ekonomi masyarakat adalah ilmu tentang perilaku dan tindakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi dan atau distribusi. Semua itu di lakukan demi kelangsungan fenomena kehidupan yang akan terus berubah secara dinamis.

C. PemberdayaanEkonomiMasyarakat

Pemberdayaan ekonomi masyarakat adalah

pemberdayaan yang menguatkan kepemilikan faktor produksi, penguatan penguasaan distribusi dan pemasaran, penguatan masyarakat untuk mendapatkan gaji/upah yang memadai, dan penguatan masyarakat untuk memperoleh informasi, pengetahuan dan keterampilan, yang harus dilakukan secara multi aspek, baik dari aspek masyarakatnya sendiri, mapun aspek kebijakannya.

13

DanielSukalele,PemberdayaanMasyarakatMiskindiEra OtonomiDaerah,dalam wordpress.com/about/pemberdayaan-masyarakat-miskin-di-era-otonomi-daerahdiaksestgl2 November20 8.

(41)

a. Konsep Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

b. Konsep Pemberdayaan lahir sebagai antitesis terhadap model pembangunan dan model industrialisasi yang kurang memihak pada rakyat mayoritas. Konsep ini dibangun dari kerangka logik sebagai berikut:

a) Bahwa proses pemusatan kekuasan terbangun dari pemusatan penguasaan faktor produksi b) Pemusatan kekuasaan faktor produksi akan

melahirkan masyarakat pekerja dan masyarakat yang pengusaha pinggiran

c) Kekuasaan akan membangun bangunan atas atau sistem pengetahuan, sistem politik, sistem hukum, dan ideologi yang manipulatif untuk memperkuat dan legitimasi

d) Kooptasi sistem pengetahuan, sistem hukum, sistem politik, dan ideologi, secara sistematik akan menciptakan dua kelompok masyarakat, yaitu masyarakat berdaya dan masyarakat tunadaya. Akhirnya yang terjadi adalah dikotomi, yaitu masyarakat yang berkuasa dan manusia yang dikuasai. Untuk membebaskan situasi menguasai dan dikuasai, maka harus dilakukan pembebasan melalui proses pemberdayaan bagi yang dikuasai

(42)

(empowermentofthepowerless).14

1. Pola-PolaPemberdayaanEkonomiMasyarakat

Dalam upaya peningkatan taraf hidup masyarakat, pola pemberdayaan yang tepat sasaran sangat diperlukan, bentuk yang tepat adalah dengan memberikan kesempatan kepada kelompok miskin untuk merencanakan dan melaksanakan program pembangunan yang telah mereka tentukan. Disamping itu masyarakat juga diberikan kekuasaan untuk mengelola dananya sendiri, baik yang berasal dari pemerintah maupun pihak amil zakat, inilah yang membedakan antara partisipasi masyarakat dengan pemberdayaan masyarakat. Perlu difikirkan siapa sesungguhnya yang menjadi sasaran pemberdayaan masyarakat, sesungguhnya juga memiliki daya untuk membangun, dengan ini good governance yang telah dielu-elukan sebagai suatu pendekatan yang dipandang paling relevan, baik dalam tatanan pemerintahan secara luas maupun dalam menjalankan fungsi pembangunan. Good governance adalah tata pemerintahan yang baik merupakan suatu kondisi yang menjalin adanya proses kesejahteraan, kesamaan, kohesi dan keseimbangan peran, serta adanya saling mengontrol yang dilakukan komponen pemerintah, rakyat dan usahawan swasta.

14MardiYatmoHutomo,PemberdayaanMasyarakatdalamBidang

(43)

Ada dua upaya agar pemberdayaan ekonomi masyarakat bisa dijalankan, diantaranya pertama, mempersiapkan pribadi masyarakat menjadi wirausaha. Karena kiat Islam yang pertama dalam mengatasi masalah kemiskinan adalah dengan bekerja. Dengan memberikan bekal pelatihan, akan menjadi bekal yang amat penting ketika akan memasuki dunia kerja.15

Program pembinaan untuk menjadi seorang wiraswasta ini dapat dilakukan melalui beberapa tahap kegiatan, diantaranya :

a. Memberikan bantuan motivasi moril

Bentuk motivasi moril ini berupa penerangan tentang fungsi, hak dan kewajiban manusia dalam hidupnya yang pada intinya manusia diwajibkan beriman, beribadah, bekerja dan berikhtiar dengan sekuat tenaga sedangkan hasil akhir dikembalikan kepada Dzat yang Maha Pencipta. Bentuk-bentuk motivasi moril itu adalah :

1) Pelatihan Usaha

Melalui pelatihan ini setiap peserta diberikan pemahaman terhadap konsep-konsep kewirausahaan dengan segala macam seluk beluk permasalahan yang ada didalamnya. Tujuan pelatihan ini adalah untuk memberikan wawasan yang lebih menyeluruh dan aktual sehingga dapat

15MardiYatmoHutomo,PemberdayaanMasyarakatDalamBidang

(44)

menumbuhkan motivasi terhadap masyarakat disamping diharapkan memiliki pengetahuan taknik kewirausahaan dalam berbagai aspek.

Pelatihan sebaiknya diberikan lebih aktual, dengan mengujikan pengelolaan praktek hidup berwirausaha, baik oleh mereka yang memang bergelut di dunia usaha, atau contoh-contoh konkrit yang terjadi dalam praktek usaha. Melalui pelatihan semacam ini diharapkan dapat mencermati adanya kiat-kiat tertentu yang harus ia jalankan, sehingga dapat dihindari sekecil mungkin adanya kegagalan dalam pengembangan kegiatan wirausahanya.

2) Permodalan

Permodalan dalam bentuk uang merupakan salah satu faktor penting dalam dunia usaha, tetapi bukan yang terpenting untuk mendapatkan dukungan keuangan, baik perbankan manapun dana bantuan yang disalurkan melalui kemitraan usaha lainnya.

Penambahan modal dari lembaga keuangan, sebaiknya diberikan, bukan untuk modal awal, tetapi untuk modal pengembangan, setelah usaha itu dirintis dan menunjukkan prospeknya yang cukup baik, karena jika usaha itu belum menunjukkan perkembangan profit yang

(45)

baik, sering kali bank tidak akan memberikan pinjaman.

Bentuk pemberdayaan yang kedua, adalah dengan pendidikan. Kebodohan adalah pangkal dari kemiskinan, oleh karenanya untuk mengentaskan kemiskinan dalam jangka panjang adalah dari sektor pendidikan, karena kemiskinan ini kebanyakan sifatnya turun-menurun, dimana orang tuanya miskin sehingga tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya, dan hal ini akan menambah daftar angka kemiskinan kelak di kemudian hari.

Bentuk pemberdayaan di sektor pendidikan ini dapat disalurkan melalui dua cara, pertama pemberian beasiswa bagi anak yang kurang mampu, dengan diberikannya beasiswa otomatis mengurangi beban orang tua dan sekaligus meningkatkan kemauan belajar, kedua penyediaan sarana dan prasarana, proses penyalurannya adalah dengan menyediakan proses tempat belajar formal atau pun non formal, atau paling tidak dana yang di salurkan untuk pendidikan ini selain untuk beasiswa juga untuk pembenahan fasilitas sarana dan prasarana belajar, karena sangat tidak mungkin menciptakan seorang pelajar yang berkualitas dengan sarana yang minim.16

Dalam pemberdayaan ekonomi akan ada sebuah fenomena yang menggambarkan arti sebuah modal sosial

16MardiYatmoHutomo,PemberdayaanMasyarakatDalamBidang

(46)

atau social capital. Dimana modal sosial atau social capital itu didefinisikan oleh Pierre Bourdieu sebagai “sumber daya aktual dan potensi yang dimiliki oleh seseorang berasal dari jaringan sosial yang terlembagakan serta berlangsung terus menerus dalam bentuk pengakuan dan perkenalan timbal balik (atau dengan kata lain : keanggotaan dalam kelompok sosial) yang memberikan kepada anggotanya berbagai bentuk dukungan kolektif”.17

Modal sosial mempunyai sebuah konsep dalam buku Rahmat Rais. Mainstream ilmu sosial sebagai alat yang sistematis untuk menjelaskan dimana pertama kali diusung oleh James Colemen ( 988).18 Kemudian konsep tersebut semakin dipopulerkan oleh Putnam ( 993, 995, 999), Fukuyama ( 995) dan ilmuwan sosial lainnya dalam buku rahmat Rais pada akhir-akhir ini World Bank sebagai institusi keuangan internasional yang banyak menyalurkan bantuan ke negara dunia ketiga juga tertatik dengan kajian yang menggunakan konsep modal sosial.19

Dalam pengertian ini modal sosial menekankan pentingnya transformasi dari hubungan sosial yang sesaat dan rapuh, seperti pertetanggan, pertemanan, atau kekeluargaan, menjadi hubungan yang bersifat jjangka

17GeorgeRitzer,TeoriSosiologiModern,Jakarta:PrenadaMedia

Group,2007.

18

RahmatRais,ModalSosialSebagaiStrategiPengembangan Madrasah,LitbangdanDiklatDepartemenAgamaRI,2009,h 6.

19RahmatRais,ModalSosialSebagaiStrategiPengembangan

(47)

panjang yang diwarnai oleh perasaan kewajiban terhadap orang lain.

James Coleman dalam buku Rahmat Rais mendefinisikan modal sosial sebagai “sesuatu yang memiliki dua ciri, yaitu merupakan aspek dalam struktur sosial serta memfasilitasi tindakan dalam struktur sosial tersebut”. Dalam pengertian ini, bentuk-bentuk modal sosial berupa kewajiban dan harapan, potensi informasi, norma dan sanksi yang efektif, hubungan otoritas, serta organisasi sosial yang bisa digunakan secara tepat dan melarikan kontrak sosial.

Putnam ( 1993) dalam buku “Rahmat Rais mengkaji kehidupan politik di italia menemukan bahwa modal sosial merupakan unsur utama pembangunan masyarakat madani (civiccommunity). Modal sosial tersebut mengacu pada aspek-aspek utama organisasi sosial seperti trust kepercayaan), norma-norma (norm), dan jaringan-jaringan (networks) yang dapat meningkatkan efisiensi dalam suatu masyarakat melalui fasilitasi tindakan yang terkoordinasi. Menurut Putnam, kerjasama mudah terjadi di dalam suatu komunitas yang telah mewarisi sejumlah modal sosial yang substansial dalam bentuk aturan-aturan, pertukaran timbal balik dan jaringan antar warga.

Fukuyama ( 1995) dalam In Trust: the Social Capital Value and the Creation of Prosperity mengkaji bidang ekonomi menyatakan bahwa social capital yang berintikan

(48)

kepercayaan ( trust ) merupakan dimensi dari kehidupan yang sangat menentukan dalam menuju keberhasilan pembangunan ekonomi. Hal ini berbeda dengan modal material atau modal ekonomi, modal sosial justru semakin bertambah apabila semakin dikelola dan dipergunakan dengan baik. Penggunaan modal sosial meningkatkan efesiensi dalam pengelolaan suatu kegiatan pembangunan secara umum.20

Menurut Fukuyama, kepercayaan ( Trust ) muncul jika di masyarakat itu membagi nilai ( shared Values ) sebagai dasar dari kehidupan untuk menciptakan pengharapan umum dan kejujuran. Dengan kepercayaan, orang tidak akan mudah curiga yang sering menjadi penghambat dari kesuksesan suatu tujuan. Di samping itu, jaringan ( networks ) memiliki dampak yang sangat positif dalam usaha peningkatan kesejahteraan ekonomi dan mewujudkan tujuan bersama.

Dari pandangan di atas memberi pemahaman bahwa modal sosial ini berupa elemen pokok yang mencakup, antara lain :

a. Trust(saling percaya)

Elemen ini meliputi kejujuran, keadilan, toleran, keramahan dan saling menghormati.

20FukuyamaF,Trust:TheSocialVirtuesandCreationofProsperty,

dalamBukuRahmatRais,ModalSosialSebagaiStrategiPengembangan Madrasah,h 4.

(49)

Sebagaimana dijelaskan Fukuyama ( 1995), kepercayaan adalah harapan yang tumbuh di dalam sebuah masyarakat yang ditunjukkan oleh adanya perilaku jujur, teratur, dan kerjasama berdasarkan norma- norma yang dianut bersama. Fukuyama ( 1995) kemudian mencatat bahwa dalam masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi, aturan- aturan sosial cenderung bersifat positif; hubungan-hubungan juga bersifat kerjasama.21

b. Jaringan sosial (socialnetwork)

Elemen ini meliputi dengan pertukaran timbal balik, solidaritas dan kerja sama.22 Infrastruktur dinamis dan modal sosial berwujud jaringan jaringan kerjasama antar manusia . Jaringan tersebut memfasilitasi terjadinya komunikasi dan interaksi, memungkinkan tumbuhnya kepercayaan dan memperkuat kerjasama.

Masyarakat yang sehat cenderung memiliki jaringan-jaringan sosial yang kokoh. Orang mengetahui dan bertemu dengan orang lain. Mereka kemudian membangun inter-relasi yang kental, baik bersifat formal maupun informal.

21

http://kuntum2008.multiply.com/journal,diaksestgl 3Januari20 9.

22RahmatRais,ModalSosialSebagaiStrategiPengembangan

(50)

Putnam berargumen bahwa jaringan-jaringan sosial yang erat akan memperkuat perasaan kerjasama para anggotanya serta manfaat-manfaat dan partisipasinya itu.

c. Pranata (institutions)

Elemen ini yang meliputi nilai-nilai yang dimiliki bersama (share value), norma dan aturan-aturan. Norma terdiri dan pemahaman pemahaman, nilai-nilai, harapan-harapan dan tujuan-tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang. Norma-norma dibangun dan berkembang berdasarkan sejarah kerjasama di masa lalu dan diterapkan untuk mendukung iklim kerjasama.23

Berbagai pandangan tentang modal sosial itu bukan sesuatu yang bertentangan. Ada keterkaitan dan saling mengisi sebagai sebuah alat analisa penampakan modal sosial di masyarakat. Modal sosial bisa berwujud sebuah mekanisme yang mampu mengolah potensi menjadi sebuah kekuatan riil guna menunjang pengembangan masyarakat.

Sebenarnya modal sosial mempunyai fungsi sosial dalam perkembangan. Ada bermacam-macam dan berbeda-beda alasan secara individual, namun diduga ada kesamaannnya di seluruh dunia menurut pandangan

23EdiSuharto,ModalSosialdanKebijakanPublik,diaksestgl 3

(51)

masing-masing apa yang diharapkan modal sosial:24

a. Modal-Modal sosial dapat membantu dalam mempersiapkan masyarakat untuk suatu pekerjaan.

Masyarakat yang telah mempunyai kemampuan terhadap dirinya untuk melakukan pekerjaan sebagai mata pencaharian atau setidaknya mempunyai dasar untuk mencari nafkahnya. Makin tinggi keahlian yang dimiliki, makin besar harapannya memperoleh pekerjaan yang baik.

b. Modal-Modal sosial dapat membantu dalam memberikan keterampilan dasar.

Orang yang telah mempunyai kemampuan dasar pada dirinya itu adalah suatu bekal untuk lebih meningkatkan keterampilan yang dimilikinya.

c. Modal sosial dapat membantu dalam membuka kesempatan memperbaiki nasib.

Pemberdayaan masyarakat sering dipandang sebagai jalan pintas sosial. Melalui pemberdayaan dapat menggali kemampuan apa yang dimiliki masyarakat untuk memperbaiki nasib mereka.

d. Modal sosial dapat membantu dalam

24RahmatRais,ModalSosialSebagaiStrategiPengembangan

(52)

menyediakan tenaga perdagangan yang propesional.

e. Modal sosial dapat membantu dalam memecahkan masalah-masalah sosial.

f. Modal soisal dapat membantu dalam menstransmisi kebudayaan.

g. Modal sosial dapat membantu dalam membentuk manusia yang sosial.

h. Modal sosial dapat membantu dalam menstransformasi kebudayaan.

D. Zakat

Zakat berasal dari kata zaka yang berarti „suci, „baik‟, tumbuh‟ dan „berkembang‟ menurut terminology syariat (istilah), zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk diberikan dan dikeluarkan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula25. Kaitan antara makna bahasa dan istilah sangat erat sekali, yaitu bahwa setiap harta yang sudah sikeluarkan zakatnya akan menjadi suci, bersih, baik, tumbuh dan berkembang.26

Adapun persyaratan harta yang wajib dizakati itu antara lain sebagai berikut, pertama, al-milk at-tam yang berarti harta itu dikuasai secara penuh dan similiki secara sah, yang didapat dari suatu usaha, bekerja, warisan, atau pemberian yang sah

25

DidinHafidhuddin,ZakatdanPerekonomianModern,Jakarta: GemaInsaniPress,2002,h7.

26TengkuMuhammadHasbiAshShiddieqy,PedomanZakat,

(53)

dimungkinkan untuk digunakan, diambil manfaatnya, atau kemudian disimpan. Kedua, an-nama adalah harta yang berkembang jika diusahakan atau memiliki potensi untuk berkembang, misalnya harta perdagangan, deposito mudhorabah, peternakan, pertanian, usaha bersama, obligasi dan lain- sebagainya. Ketiga, telah mencapai nisab, harta itu telah mencapai ukuran dari harta yang sudah wajib untuk di zakatkan.

“dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang

berjunjung danyangtidak berjunjung,pohonkorma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yangbermacam-macam itu) biladia berbuah;dan janganlah kamuberlebih-lebihan. SesungguhnyaAllahtidakmenyukaiorang-orangyang lebih-lebihan”.

Istinbat hukum dari surat Al-An‟am ayat 4 , menurut pendapat Abu Hanifah, keharusan penuh senisab hanya diperlukan awal dan akhir tahun. Karenanya tidaklah gugur zakat jika terjadi kekurangan nisab di tengah –tengah tahun, apabila pada akhir tahun telah sempurna lagi. Inilah syarat yang harus terdapat pada harta yang wajib dizakati dan syarat ini tidak mengenai tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. Zakat tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan diharuskan kita mengelurkannya setelah dipetik dari batangnya.27

27TeungkuMuhammadHasbiAshShiddieqy,PedomanZakat,h

(54)
(55)

45

A. ProfilBaznasKotaDepok

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) merupakan badan resmi dan satu-satunya yang dibentuk oleh pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 8 Tahun 2001 yang memiliki tugas dan fungsi menghimpun dan menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) pada tingkat nasional. Lahirnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat semakin mengukuhkan peran BAZNAS sebagai lembaga yang berwenang melakukan pengelolaan zakat secara nasional. Dalam UU tersebut, BAZNAS dinyatakan sebagai lembaga pemerintah nonstruktural yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Agama.

Berawal dari adanya BAZNAS pusat, BAZNAS Kota Depok dibentuk berdasarkan Keputusan Dirjen Bimas Islam No: DJ.II/568 Tahun 2014 tentang Pembentukan BAZNAS Kabupaten/Kota se-Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 5 Juni 2014. Namun, sebelumnya sudah hadir praktek-praktek pengelolaan zakat yang melembaga di tengah masyarakat Kota Depok. Praktek tersebut nampak nyata menjelang Syawal dalam pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah oleh “amil” yang dibentuk oleh masyarakat atas dasar kesadaran iman dan semangat berislam. BAZNAS Kabupaten/Kota dibentuk oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian

(56)

Agama atas usul bupati atau wali kota setelah mendapat pertimbangan BAZNAS.

BAZNAS kabupten/kota bertanggung jawab kepada BAZNAS Provinsi dan pemerintah daerah kabupten/kota. Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor DJ.II/568 Tahun 2014 tentang Pembentukan Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten/Kota se Indonesia tertanggal 5 Juni 2014 menandai lahirnya BAZNAS Kota Depok sesuai amanat Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.

Peraturan BAZNAS Nomor 03 Tahun 2014 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Amil Zakat Nasional Provinsi dan Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten/Kota tertanggal 3 Oktober 2014 mendorong Pemerintah Kota Depok menyelenggarakan tahapan-tahapan pembentukan organisasi BAZNAS Kota Depok sesuai peraturan tersebut. Seperti yang di lansir oleh media online JPP bahwa zakat adalah sumber dana non-APBN yang bermanfaat untuk penanggulangan kemiskinan dan mengatasi kesenjangan sosial-ekonomi.

Dana zakat yang di kumpulkan oleh Baznas pusat dari beberapa sumber seperti Pegawai Negeri Sipil (melalui zakat payroll sistem), dan dari masyarakat sekitar yang membayarkan zakatnya ke Baznas. Dana Infak dan Sedekah yang diterima oleh baznas bersumber dari dana CSR perusahaan-perusahaan, masyarakat setempat dan dari bantuan pemerintah (kementrian-kementrian dan sebagainya). Dengan demikian, BAZNAS

(57)

bersama Pemerintah bertanggung jawab untuk mengawal pengelolaan zakat yang berasaskan: syariat Islam, amanah, kemanfaatan, keadilan, kepastian hukum, terintegrasi dan akuntabilitas.

B. LandasanPemikiran

Zakat adalah ibadah yang memiliki posisi yang sangat strategis baik dari aspek keagamaan, sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Peran strategis ini secara nyata dinyatakan di dalam Al-Qur‟an dan Hadits, serta terefleksikan dalam sejarah Islam.

Syariat zakat diturunkan kepada Rasulullah saw pada tahun kedua hijriyah. Pada masa itu, Rasulullah saw turun tangan dan mengangkat beberapa sahabat sebagai amil zakat yang bertugas menarik zakat dari para wajib zakat (muzzaki), mendatanya di Baitul Maal, dan menyalurkannya kepada orang-orang yang berhak menerima zakat (mustahik). Syariat zakat ini selanjutnya dipegang teguh oleh para Khulafa‟ur-Rasyidin. Bahkan, pada masa Abu Bakar ra., khalifah memerangi orang yang melaksanakan shalat tapi tidak mau menunaikan zakat.

Dalam kitab Bidayah wa Nihayah karya Imam Ibnu Katsir , pada masa Khalifah Mu‟awiyah ra., zakat dikelola dan dipergunakan oleh negara melalui Baitul Maal untuk mendanai kaum muslimin di wilayah perbatasan dengan Byzantium untuk membantu masyarakat miskin yang diiming-imingi harta untuk berpindah agama dan kewarganegaraan, menjaga stabilitas

(58)

perekonomian dan harga kebutuhan pokok penduduk, dan bahkan untuk mendanai satuan-satuan pasukan penjaga perbatasan.

Kondisi kontemporer hari ini, pengelolaan zakat terbagi menjadi tiga model. Model pertama, pengelolaan zakat diakui oleh negara yang diakomodasi dalam peraturan perundang-undangan dan bersifat wajib kepada penduduk muslim di negara ter-sebut. Kedua, pengelolaan zakat diakui oleh negara yang diatur dalam undang-undang, namun tidak bersifat wajib kepada penduduk muslim. Ketiga, pengelolaan zakat tidak diatur dalam tata perundang-undangan dan diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat.

Pengelolaan zakat pada model pertama merupakan kondisi ideal pengelolaan zakat sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw. Negara mengambil peran dalam pengelolaan zakat. Contoh ini tampak pada Arab Saudi dan Sudan, di mana zakat diatur secara resmi dan diwajibkan kepada penduduk muslim. Di Sudan, pengelolaan zakat mampu menutupi ketimpangan pendapatan bagi penduduk miskin di negara yang tengah mengalami embargo ekonomi tersebut. Sementara di Arab Saudi, penduduk miskin mendapat subsidi bulanan langsung kepada rekening pribadi dari kas negara. Alhasil, kesenjangan sosial dan angka kriminalitas cenderung rendah di kedua negara tersebut.

Belajar dari sejarah dan pengalaman beberapa negara tersebut, seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi bangsa Indonesia untuk menjadikan zakat sebagai sarana untuk

Gambar

Tabel 2.  Tabel Indikator Pemberdayaan
Tabel 4.  Komposisi Data Temuan
Tabel 4.2 Mustahik Yang Berhasil
Tabel 4.2 Mustahik Yang Tetap
+4

Referensi

Dokumen terkait

7 Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Made Dwi Vijayanti dan I Gusti Wayan Murjana Yasa (2016) yang berjudul “Pengaruh lama usaha dan modal terhadap

Šaponja 1999 poleg nekaterih zgoraj naštetih sodelavcev opredeli še nekaj osnovnih vrst, in sicer: policijskega sodelavca oseba, ki se uporablja za trenutne, enkratne operativne

Hasil analisis terhadap jumlah nematoda betina yang menempel di akar tanaman kentang aki- bat perlakuan FMA menunjukkan bahwa pemberian spora FMA pada dosis tertinggi (150

Dari uraian di atas, kita dapat mengambil sebuah kesimpulan terkait sisi positif dari teknologi pendidikan antara lain : (1)Teknologi mampu membantu manusia

Meskipun demikian sehubungan dengan peranan penegakkan disiplin yang diwujudkan dalam tugas-tugas Inspektorat Daerah dan Kantor Satuan Polisi Pamong Praja yang diberi kewenangan

Kandungan bahan kering susu kambing perah penelitian tidak menunjukkan pengaruh yang nyata akibat pemberian ketiga jenis ransum.. Kambing perah penelitian yang diberi

Keuntungan yang dapat diperoleh dari kontrak berbasis kinerja diantaranya pengalihan risiko yang besar kepada kontraktor, efi siensi biaya, mendorong inovasi dan kerja

kemudian dikemas dalam bentuk permainan yang menyenangkan. Permainan akan menambah semangat belajar siswa, karena dengan pembelajaran yang bervariasi anak