1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Universitas Kristen Petra

Teks penuh

(1)

1

Universitas Kristen Petra

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada zaman modern ini, beban gempa sudah bukan merupakan hal yang asing lagi dalam dunia konstruksi bangunan. Perencanaan bangunan saat ini wajib didesain tahan gempa, khususnya di Indonesia. Hal ini dikarenakan posisi geologis Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik, sehingga menyebabkan Indonesia menjadi daerah rawan gempa. Gempa sendiri sebenarnya terjadi karena adanya pelepasan energi secara tiba-tiba pada permukaan bumi yang menciptakan gelombang seismik. Pelepasan energi sesaat inilah yang berdampak ke bangunan- bangunan di daerah sekitar gempa, yang akhirnya menyebabkan struktur bangunan tersebut rusak.

Standar perencanaan bangunan tahan gempa di Indonesia diatur dalam SNI 1726:2012 tentang tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung, di mana SNI 1726:2012 mengacu pada ASCE/SEI 7-10.

Dalam ASCE/SEI 7-10 disebutkan bahwa untuk mendesain struktur bangunan rangka tahan gempa dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu sistem tunggal (single system) dan sistem ganda (dual system). Sistem tunggal itu sendiri terdiri dari dua macam, yaitu sistem rangka pemikul momen (moment-resisting frame system) dan sistem rangka gedung (building frame system). Berhubung pada penelitian kali ini akan dilakukan pengecekan terhadap bresing, maka sistem tunggal yang digunakan adalah sistem rangka gedung. Pada sistem rangka gedung, sistem struktur dengan rangka ruang yang lengkap memikul beban gravitasi, sedangkan beban lateral yang diakibatkan oleh gempa dipikul oleh dinding geser atau rangka bresing. Sedangkan berdasarkan SNI 1726:2012 pasal 7.2.5.1, untuk sistem ganda, rangka pemikul momen harus mampu menahan paling sedikit 25 persen gaya gempa desain.

Berdasarkan SNI 7860:2015, sistem rangka gedung atau sistem rangka terbreis dibagi menjadi empat jenis, yaitu Rangka Terbreis Konsentris Biasa (RTKB), Rangka Terbreis Konsentris Khusus (RTKK), Rangka Terbreis Eksentris (RTE), dan Rangka Terbreis Penahan Tekuk. Sedangkan sistem penahan momen

(2)

2

Universitas Kristen Petra

juga dibedakan menjadi beberapa macam apabila mengacu pada SNI 7860:2015, yaitu Rangka Momen Biasa (RMB), Rangka Momen Menengah (RMM), Rangka Momen Khusus (RMK), dan Rangka Momen Rangka Batang Khusus (RMRBK).

Pada penelitian kali ini, untuk sistem tunggal (ST) akan digunakan sistem Rangka Terbreis Eksentris (RTE) dan untuk sistem ganda (SG) akan digunakan gabungan antara sistem Rangka Terbreis Eksentris (RTE) dan Rangka Momen Khusus (RMK).

Sebelum ini, penelitian mengenai bangunan dengan bresing eksentris sudah pernah beberapa kali dilakukan. Namun, penelitian-penelitian sebelumnya lebih fokus ke metode desain sistem tunggal untuk low rise building (6 dan 12 lantai) dan sistem ganda. Penelitian yang dilakukan oleh Wijaya dan Nico (2016) membandingkan antara dua skenario sistem ganda dan satu skenario sistem tunggal pada low rise building. Sementara itu, penelitian Gunawan dan Kurniawan (2016) serta Mulia dan Edwin (2017) fokus ke sistem ganda pada mid rise building (12 dan 20 lantai).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Wijaya dan Nico (2016), telah diketahui bahwa untuk sistem ganda berdasarkan SNI 1726:2012, sistem rangka pemikul momen harus mampu menahan paling sedikit 25 persen gaya gempa desain. Oleh karena itu, Wijaya dan Nico (2016) melakukan penelitian terhadap low rise building, yaitu 6 dan 12 lantai, dengan sistem RTE yang dibandingkan dengan menggunakan tiga skenario yang berbeda. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui skenario mana yang menghasilkan performa bangunan terbaik apabila ditinjau dari dua arah, yaitu x dan y. Skenario pertama (S1) adalah skenario desain bangunan dengan distribusi base shear harus mencapai 25% dari total base shear.

Skenario kedua (S2) adalah skenario desain bangunan dengan mengalikan gaya gempa yang terjadi dengan faktor skala. Dalam mendesain bangunan dengan S2, bila distribusi base shear dari awal desain bangunan melebihi 25% dari total base shear, maka harus dilakukan desain ulang. Skenario ketiga (S3) adalah skenario desain bangunan dengan menetapkan arah x dan y sebagai sistem tunggal, yaitu sistem RTE.

Wijaya dan Nico (2016) menyimpulkan dari hasil penelitian mereka bahwa S1 dan S2 memiliki performa yang tidak jauh berbeda, tetapi presentase berat

(3)

3

Universitas Kristen Petra

bangunannya lebih ringan S2 daripada S1. Sedangkan performa bangunan S3 dinilai paling buruk dibandingkan dengan dua metode lainnya. Oleh karena itu, Gunawan dan Kurniawan (2016) serta Mulia dan Edwin (2017) meneliti lebih lanjut mengenai dua skenario sistem ganda, yaitu S1 dan S2, pada bangunan yang lebih tinggi (mid rise building).

Penelitian Gunawan dan Kurniawan (2016) direncanakan dengan menggunakan tiga tipe mid rise building, yaitu dua bangunan 12 lantai dan satu bangunan 20 lantai, dengan sistem Rangka Terbreis Eksentris (RTE) bentuk V terbalik yang masing-masing akan didesain menggunakan kedua skenario yang telah disebutkan sebelumnya. Berikut merupakan denah-denah bangunan yang digunakan oleh Gunawan dan Kurniawan (2016), dapat dilihat pada Gambar 1.1, Gambar 1.2, dan Gambar 1.3, beserta penjelasan mengenai penamaan bangunan pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1. Makna Penggunaan Kode

Kode Makna

31J12 Bangunan dengan 3 bentang, 1 RTE, berlokasi di Jayapura, 12 lantai 52J12 Bangunan dengan 5 bentang, 2 RTE, berlokasi di Jayapura, 12 lantai 52J20 Bangunan dengan 5 bentang, 2 RTE, berlokasi di Jayapura, 20 lantai S1 Skenario 1 (pemeriksaan performa bangunan terhadap kekakuan) S2 Skenario 2 (pemeriksaan performa bangunan terhadap kekuatan)

(4)

4

Universitas Kristen Petra

Gambar 1.1. Denah Bangunan 31J12

Gambar 1.2. Denah Bangunan 52J12 dan 52J20

(5)

5

Universitas Kristen Petra

Gambar 1.3. Tampak Samping Bangunan

Sama seperti penelitian sebelumnya, penelitian Mulia dan Edwin (2017) juga direncanakan dengan menggunakan tiga tipe mid rise building, yaitu dua bangunan 12 lantai dan satu bangunan 20 lantai, dengan sistem Rangka Terbreis Eksentris (RTE). Namun, ketiga tipe bangunan tersebut memiliki bentuk bresing diagonal yang masing-masing akan didesain menggunakan dua skenario yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu skenario 1 (S1) dan skenario 2 (S2). Berikut merupakan denah-denah bangunan yang digunakan oleh Mulia dan Edwin (2017), dapat dilihat pada Gambar 1.4, Gambar 1.5, Gambar 1.6, dan Gambar 1.7, beserta penjelasan mengenai penamaan bangunan pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2. Makna Penggunaan Kode

Kode Makna

31J12 Bangunan dengan 3 bentang, 1 RTE, berlokasi di Jayapura, 12 lantai 52J12 Bangunan dengan 5 bentang, 2 RTE, berlokasi di Jayapura, 12 lantai 53J20 Bangunan dengan 5 bentang, 3 RTE, berlokasi di Jayapura, 20 lantai

S1 Skenario 1 (pemeriksaan performa bangunan terhadap kekakuan) S2 Skenario 2 (pemeriksaan performa bangunan terhadap kekuatan)

(6)

6

Universitas Kristen Petra

Gambar 1.4. Denah bangunan 31J12

Gambar 1.5. Denah bangunan 52J12

(7)

7

Universitas Kristen Petra

Gambar 1.6. Denah bangunan 53J20

Gambar 1.7. Tampak Samping Bangunan

(8)

8

Universitas Kristen Petra

Hasil penelitian Gunawan dan Kurniawan (2016) serta Mulia dan Edwin (2017) menunjukkan bahwa perencanaan bangunan dengan S2 menghasilkan bangunan yang lebih ringan berhubung profil yang digunakan pada S2 lebih kecil dibandingkan dengan S1, sehingga metode S2 dinyatakan lebih ekonomis. Selain itu, hasil penelitian juga menyatakan bahwa performa bangunan yang dihasilkan dengan S2 lebih buruk dibandingkan bangunan dengan S1 bila ditinjau dari displacement maksimum yang terjadi, tetapi perbedaan performa yang dihasilkan tidak terlalu signifikan karena berat bangunan tidak jauh berbeda. Kedua skenario tersebut juga menghasilkan bangunan dengan tingkat kerusakan yang sama. Pada kedua penelitian tersebut sebenarnya terjadi kerusakan pada elemen link, tetapi apabila ditinjau dari drift ratio maksimum, seluruh bangunan masih termasuk dalam batas aman.

Perencanaan struktur bangunan tahan gempa dengan bresing eksentris dengan menggunakan sistem ganda telah diperoleh suatu kesimpulan pada low rise building (6 dan 12 lantai) dan mid rise building (12 dan 20 lantai). Namun, desain bangunan dengan bresing eksentris dengan menggunakan sistem tunggal (sistem rangka gedung) baru diperoleh kesimpulan pada low rise building saja dan ditinjau dengan menggunakan software ETABS. Oleh karena itu, pada penelitian kali ini akan dilakukan perencanaan bangunan dengan bresing eksentris berbentuk V terbalik dan berbentuk diagonal yang ditinjau menggunakan sistem tunggal dan sistem ganda pada mid rise building (12 dan 18 lantai). Mengacu pada dua penelitian yang telah disebutkan sebelumnya, untuk sistem tunggal (ST) akan ditinjau menggunakan sistem Rangka Terbreis Eksentris (RTE) dan untuk sistem ganda (SG) akan ditinjau menggunakan gabungan antara sistem Rangka Terbreis Eksentris (RTE) dan sistem Rangka Momen Khusus (RMK). Mengacu pada penelitian sebelumnya, maka pada penelitian kali hanya akan digunakan Skenario 1 (S1) untuk SG.

Bangunan yang akan diteliti tidak sama persis dengan bangunan dari penelitian Gunawan dan Kurniawan (2016) serta Mulia dan Edwin (2017), yaitu 12 dan 20 lantai karena berdasarkan SNI 1726:2012 Tabel 9 terdapat batasan tinggi bangunan untuk kategori desain seismik D dan E, yaitu 48 m atau 12 lantai (tinggi antar lantai 4 m). Namun, mengacu pada SNI 1726:2012 pasal 7.2.5.4, batasan

(9)

9

Universitas Kristen Petra

ketinggian tersebut boleh ditingkatkan sampai 72 m atau 18 lantai apabila struktur mempunyai sistem penahan gaya gempa berupa rangka baja dengan bresing eksentris, serta memenuhi dua syarat. Kedua syarat yang dimaksud adalah struktur tidak boleh mempunyai ketidakberaturan torsi berlebihan dan pada rangka baja dengan bresing eksentris salah satu bidangnya tidak boleh menahan lebih dari 60 persen gaya gempa total dalam setiap arah, dengan mengabaikan torsi tak terduga.

Jadi, pada penelitian ini akan digunakan delapan tipe bangunan yang berbeda, yaitu empat bangunan dengan sistem tunggal (ST) dan empat bangunan dengan sistem ganda (SG), di mana masing-masing sistem terdiri dari dua macam bentuk bresing dan dua ketinggian lantai yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk menyelidiki sistem desain mana, antara ST dan SG, yang mampu menghasilkan performa bangunan yang lebih baik pada mid rise building dengan bresing eksentris. Selain itu, juga akan diteliti dengan menggunakan dua bentuk bresing eksentris untuk mengetahui bentuk bresing manakah yang lebih efektif.

1.2. Rumusan Masalah

Berikut merupakan beberapa permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini, yaitu antara lain:

 Antara sistem ganda dan sistem rangka gedung, sistem manakah yang mampu menghasilkan performa terbaik pada bangunan dengan bresing eksentris bentuk V terbalik pada mid-rise building (12 & 18 lantai)?

 Antara sistem ganda dan sistem rangka gedung, sistem manakah yang mampu menghasilkan performa terbaik pada bangunan dengan bresing eksentris bentuk diagonal pada mid-rise building (12 & 18 lantai)?

 Bresing bentuk manakah, antara bentuk V terbalik dan bentuk diagonal, yang mampu menghasilkan performa gedung terbaik pada mid-rise building (12 &

18 lantai)?

(10)

10

Universitas Kristen Petra

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memeriksa beberapa hal sebagai berikut:

 Mengetahui sistem mana antara sistem ganda dan sistem rangka gedung yang mampu menghasilkan performa terbaik pada bangunan dengan bresing eksentris bentuk V terbalik pada mid-rise building (12 & 18 lantai).

 Mengetahui sistem mana antara sistem ganda dan sistem rangka gedung yang mampu menghasilkan performa terbaik pada bangunan dengan bresing eksentris bentuk diagonal pada mid-rise building (12 & 18 lantai).

 Mengetahui bentuk bresing, antara bentuk V terbalik dan bentuk diagonal, yang paling efektif dalam menghasilkan performa gedung terbaik pada pada mid-rise building (12 & 18 lantai).

1.4. Ruang Lingkup

Penelitian ini dibatasi pada beberapa aspek agar ruang lingkupnya tidak terlalu luas dan dapat terfokus. Aspek-aspek ruang lingkup penelitian tersebut adalah:

 Bangunan terdiri dari dua jenis yaitu 31J12 dan 52J18

 Perhitungan dilakukan dengan dua buah skenario yaitu skenario Sistem Tunggal (ST) dan skenario Sistem Ganda (SG)

 Skenario Sistem Ganda (SG) yang digunakan adalah base shear RMK harus mencapai minimal 25% dari total base shear

 Bangunan terdiri dari dua tipe bresing, yaitu bresing bentuk V terbalik dan diagonal

 Fungsi bangunan untuk perkantoran

 Bangunan berlokasi di Kota Jayapura dengan asumsi tanah kelas situs SE

 Tinggi antar lantai tipikal 4 m

 Plat lantai menggunakan plat beton tebal 12 cm dan plat atap menggunakan plat beton tebal 10 cm

 Bentang antar portal 6 m untuk alasan efisiensi profil baja

 Mutu baja yang digunakan adalah A36 (BJ 37) dan A992 (BJ 55)

(11)

11

Universitas Kristen Petra

 Perencanaan baja dilakukan menggunakan DBFK (Desain Faktor Beban dan Ketahanan) atau LRFD (Load and Resistance Factor Design)

 Perhitungan gempa menggunakan metode respons spektrum dan analisis kinerja bangunan menggunakan nonlinear time history analysis.

 Profil yang digunakan berdasarkan Tabel Profil Konstruksi Baja (Gunawan, 1988) dengan tanda “WF” atau “W” dan berdasarkan JFE Steel – Wide Flange Shapes dengan tanda “J”

 Program analisa struktur yang digunakan adalah CSI SAP2000 v18

 Peraturan beban yang digunakan berdasarkan Standar Konstruksi Bangunan Indonesia (1987) dan SNI 1727:2013

 Peraturan baja yang digunakan berdasarkan SNI 1729:2002, SNI 1729:2015, dan AISC 360-10

 Peraturan gempa yang digunakan berdasarkan SNI 1726:2012

 Peraturan baja gempa yang digunakan berdasarkan SNI 7860:2015 dan AISC 341-10

Denah bangunan yang akan digunakan disamakan dengan dua penelitian sebelumnya, yaitu 12 lantai 3 bentang dengan 1 bentang bresing dan 18 lantai 5 bentang dengan 2 bentang bresing. Denah bangunan yang terbreis diagonal dan bangunan yang terbreis V terbalik juga disamakan. Berikut adalah penjelasan penamaan bangunan yang digunakan seperti terlihat pada Tabel 1.3. Denah-denah bangunan yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 1.8 dan Gambar 1.9 untuk bangunan terbreis diagonal, sedangkan denah-denah bangunan terbreis V terbalik terlihat pada Gambar 1.10 dan Gambar 1.11. Tampak samping bangunan terbreis diagonal yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 1.12, sedangkan tampak samping bangunan terbreis V terbalik yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 1.13. Pada Gambar 1.14 terdapat Respons Spektrum Gempa Rencana Kota Jayapura.

(12)

12

Universitas Kristen Petra

Tabel 1.3. Penjelasan Kode Bangunan yang Digunakan

No Kode Penjelasan Kode

1 31J12 Bangunan dengan 3 bentang, 1 RTE, terletak di Jayapura, 12 lantai 2 52J18 Bangunan dengan 5 bentang, 2 RTE, terletak di Jayapura, 18 lantai 3 D Bangunan terbreis eksentris berbentuk diagonal

4 V Bangunan terbreis eksentris berbentuk V terbalik 5 ST Skenario Sistem Tunggal (RTE)

6 SG Skenario Sistem Ganda (RTE dan RMK)

Gambar 1.8. Denah Bangunan 31J12 – D

(13)

13

Universitas Kristen Petra

Gambar 1.9. Denah Bangunan 52J18 – D

Gambar 1.10. Denah Bangunan 31J12 – V Terbalik

(14)

14

Universitas Kristen Petra

Gambar 1.9. Denah Bangunan 52J18 – V Terbalik

(15)

15

Universitas Kristen Petra

Gambar 1.12. Tampak Samping Bangunan Terbreis Diagonal

Gambar 1.13. Tampak Samping Bangunan Terbreis V Terbalik

(16)

16

Universitas Kristen Petra

Gambar 1.14. Respons Spektrum Gempa Rencana Kota Jayapura

1.5. Metodologi Penelitian

Secara garis besar untuk penelitian ini terdapat dua skenario yang akan diteliti dan terdapat dua tipe bangunan mid rise building, yaitu bangunan 12 lantai dan 18 lantai. Masing-masing tipe bangunan tersebut dibedakan menjadi dua bentuk bresing, yaitu bresing bentuk V terbalik dan bentuk diagonal yang akan dijadikan sebagai objek penelitian. Keempat bangunan ini akan didesain menggunakan dua skenario, yaitu skenario Sistem Tunggal (ST) yang menggunakan sistem Rangka Terbreis Eksentris (RTE) dan skenario Sistem Ganda (SG) yang menggunakan sistem gabungan antara sistem Rangka Terbreis Eksentris (RTE) dan sistem Rangka Momen Khusus (RMK).

Penelitian dengan skenario Sistem Tunggal (ST) dimulai dengan preliminary design terhadap kedua tipe bangunan dari masing-masing bentuk bresing dan kemudian dengan menggunakan bantuan program CSI SAP2000 v18, dilakukan pemodelan struktur bangunan secara tiga dimensi. Langkah berikutnya adalah menentukan pembebanan yang terjadi terhadap struktur, antara lain beban mati, beban hidup, dan beban gempa. Setelah pemodelan dan pembebanan struktur dilakukan, dilanjutkan dengan pemeriksaan terhadap base shear pada joint reaction. Bangunan didesain sedemikian rupa sehingga gaya akibat gempa semaksimal mungkin dipikul oleh bresing eksentris saja. Setelah itu dilanjutkan dengan capacity design sesuai dengan ketentuan RTE. Kemudian dilakukan

(17)

17

Universitas Kristen Petra

pemeriksaan terhadap persyaratan drift bangunan dan persyaratan 85% static equivalent base shear. Apabila syarat-syarat yang telah ditentukan telah terpenuhi, maka penelitian dilanjutkan dengan analisis kinerja bangunan dengan nonlinear time history analysis. Namun, apabila syarat-syarat tersebut di atas ada yang belum terpenuhi, maka bangunan harus didesain ulang sampai memenuhi semua persyaratan yang ada.

Sama seperti skenario ST, penelitian dengan skenario Sistem Ganda (SG) juga diawali dengan preliminary design, disusul dengan pemodelan struktur dengan bantuan program CSI SAP2000 v18, serta pembebanan yang terjadi. Kemudian, penelitian dilanjutkan dengan pemeriksaan terhadap base shear yang terjadi.

Apabila presentase base shear yang terjadi pada RMK kurang dari 25%, maka perlu dilakukan desain kembali sampai presentase base shear yang terjadi pada RMK dapat mencapai 25%. Setelah syarat presentase base shear RMK berhasil mencapai 25%, penelitian dilanjutkan dengan capacity design sesuai dengan ketentuan RTE dan RMK. Selanjutnya, seperti skenario ST, dilakukan pemeriksaan terhadap persyaratan drift bangunan dan persyaratan 85% static equivalent base shear.

Semua syarat-syarat tersebut harus dipenuhi terlebih dahulu, baru dapat melanjutkan penelitian ke analisis kinerja bangunan dengan nonlinear time history analysis.

Ringkasan metodologi penelitian untuk sistem tunggal dan sistem ganda akan disajikan dalam bentuk flowchart seperti pada Gambar 1.15 dan Gambar 1.16 berikut.

(18)

18

Universitas Kristen Petra

Gambar 1.15. Flowchart Metodologi Penelitian Sistem Tunggal (ST) Start

Preliminary Design

Pemodelan 3D dengan SAP2000

Pembebanan

Capacity Design

Pengecekan drift

Nonlinear Time History Analysis

Kesimpulan

Finish

(19)

19

Universitas Kristen Petra

Gambar 1.16. Flowchart Metodologi Penelitian Sistem Ganda (SG) Start

Preliminary Design

Pemodelan 3D dengan SAP2000

Pembebanan

Pemeriksaan terhadap SG (Base Shear RMK ≥ 25%)

Capacity Design

Pengecekan drift

Nonlinear Time History Analysis

Kesimpulan

Finish

(20)

20

Universitas Kristen Petra

1.6. Sistematika Penulisan

Penulisan dalam penelitian ini akan dibagi menjadi lima bab, berikut adalah penjelasan isi dari masing-masing bab:

 Bab 1: Pendahuluan

Dalam bab ini akan dijelaskan tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, ruang lingkup penelitian, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.

 Bab 2: Landasan Teori

Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep perhitungan sistem Rangka Terbreis Eksentris (RTE), capacity design, modeling struktur dengan Program SAP2000 v18, dan juga mengenai nonlinear time history analysis.

 Bab 3: Prosedur Perencanaan

Bab ini akan menjelaskan mengenai informasi umum perencanaan, contoh perhitungan RTE, dan juga penjelasan perhitungan nonlinear time history analysis dengan Program SAP2000 v18.

 Bab 4: Hasil dan Analisis

Bagian ini akan menyajikan hasil perhitungan dan desain bangunan, serta pembahasan hasil.

 Bab 5: Kesimpulan Penelitian

Bagian ini berisikan tentang kesimpulan dari hasil penelitian.

Figur

Tabel 1.1. Makna Penggunaan Kode

Tabel 1.1.

Makna Penggunaan Kode p.3
Gambar 1.1. Denah Bangunan 31J12

Gambar 1.1.

Denah Bangunan 31J12 p.4
Gambar 1.3. Tampak Samping Bangunan

Gambar 1.3.

Tampak Samping Bangunan p.5
Tabel 1.2. Makna Penggunaan Kode

Tabel 1.2.

Makna Penggunaan Kode p.5
Gambar 1.4. Denah bangunan 31J12

Gambar 1.4.

Denah bangunan 31J12 p.6
Gambar 1.5. Denah bangunan 52J12

Gambar 1.5.

Denah bangunan 52J12 p.6
Gambar 1.7. Tampak Samping Bangunan

Gambar 1.7.

Tampak Samping Bangunan p.7
Gambar 1.6. Denah bangunan 53J20

Gambar 1.6.

Denah bangunan 53J20 p.7
Tabel 1.3. Penjelasan Kode Bangunan yang Digunakan

Tabel 1.3.

Penjelasan Kode Bangunan yang Digunakan p.12
Gambar 1.8. Denah Bangunan 31J12 – D

Gambar 1.8.

Denah Bangunan 31J12 – D p.12
Gambar 1.9. Denah Bangunan 52J18 – D

Gambar 1.9.

Denah Bangunan 52J18 – D p.13
Gambar 1.10. Denah Bangunan 31J12 – V Terbalik

Gambar 1.10.

Denah Bangunan 31J12 – V Terbalik p.13
Gambar 1.9. Denah Bangunan 52J18 – V Terbalik

Gambar 1.9.

Denah Bangunan 52J18 – V Terbalik p.14
Gambar 1.12. Tampak Samping Bangunan Terbreis Diagonal

Gambar 1.12.

Tampak Samping Bangunan Terbreis Diagonal p.15
Gambar 1.14. Respons Spektrum Gempa Rencana Kota Jayapura

Gambar 1.14.

Respons Spektrum Gempa Rencana Kota Jayapura p.16
Gambar 1.15.  Flowchart Metodologi Penelitian Sistem Tunggal (ST) Start

Gambar 1.15.

Flowchart Metodologi Penelitian Sistem Tunggal (ST) Start p.18
Gambar 1.16.  Flowchart Metodologi Penelitian Sistem Ganda (SG) Start

Gambar 1.16.

Flowchart Metodologi Penelitian Sistem Ganda (SG) Start p.19

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :