multidimensi dan multisektor, seperti mengakibatkan pesatnya pertumbuhan wilayah perkotaan yang pada akhirnya berakibat pada peningkatan kebutuhan perumahan. Namun di lain pihak, peruntukan lahan untuk perumahan di wilayah perkotaan tidak mengalami penambahan, namun malah cenderung semakin berkurang, sehingga menyebabkan terjadinya aglomerasi, dan pada akhirnya akan berdampak pada timbulnya kawasan permukiman baru dan kota baru. Kondisi ini terjadi di kota-kota
besar seperti DKI Jakarta. Oleh karena itu di sekitar DKI Jakarta bermunculan
permukiman baru dan kota baru. Permukiman baru muncul di berbagai lokasi dengan jumlah yang cukup banyak, sedangkan kota baru yang ada di sekitar DKI Jakarta ada dua yakni Kota Baru Bumi Serpong Damai (BSD) dan Kota Baru Cibinong. Namun demikian dilihat dari morfologinya Kota Baru BSD mempunyai berbagai keunikan dan kelebihan dibanding Kota Baru Cibinong, sehingga Kota Baru BSD menarik untuk dikaji lebih jauh. Adapun salah satu cara untuk memotret kota baru ini dapat dilakukan dengan melihat kualitas lingkungannya yang dilihat dari kualitas air dan kualitas udara, melihat keberlanjutannya serta membuat model pengelolaan lingkungan di Kota Baru BSD.
5.1. Kualitas Lingkungan BSD
Pertumbuhan penduduk di perkotaan yang tinggi berakibat pada meningkatnya kebutuhan akan rumah dan kebutuhan untuk hidup layak serta pada tuntutan untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Akibatnya, kegiatan di dalam kota dan
pinggiran kota besar (kota satelit) menimbulkan berbagai implikasi negatif yang mendorong pada terjadinya penurunan kualitas lingkungan seperti terjadinya polusi udara dan air. Adapun kualitas udara dan kualitas air tersebut dapat dilihat pada Tabel 10 dan 11. Kondisi atmosfir di Kawasan Kota Baru BSD tercemar gas beracun CO, serta tercemar oleh SOx, NOx, ozon (O3) dan TSP. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan
mengingat udara merupakan kebutuhan semua mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia, adanya bahan pencemar tersebut akan mengakibatkan kondisi kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya yang melakukan pernafasan akan terganggu
mengakibatkan terjadinya hujan asam yang dapat mengakibatkan berbagai masalah muncul seperti terjadinya kerusakan bangunan, kerusakan ekosistem daratan dan kerusakan ekosistem perairan.
Tabel 10. Kualitas udara di BSD
Lokasi Parameter kualitas udara (µg/m
3) SO2 NO2 O3 CO TSP Pb Permukiman 23.45 1.12 20.4 295 25 < 1 Pertokoan 32.14 2.11 22.1 317 30 < 1 Industri 26.4 1.43 21.5 309 25 < 1 Baku mutu* 900 400 235 30.000 230 2 Keterangan: * = PP No.41 Thn. 1999
Tabel 11. Kualitas air di BSD
No Parameter Satuan Lokasi Perumahan luar Perumahan BSD Pertokoan Industri BM II* Fisika 1 suhu oC 26 26 27 28 dev. 3 Kimia 1 pH *) - 6.0 6.5 6.5 6.5 6 - 9 2 BOD5 mg/l 5.13 4.94 5.22 11.71 3 3 COD + mg/l 20.68 92.26 93.84 98.58 25 4 Nitrat-NO3-N mg/l 0.076 0.170 0.111 1.903 10 5 Total Fosfat (PO4-P) mg/l 0.034 0.090 0.052 0.140 0.2 6 Kadmium-Cd mg/l <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0.01 7 Deterjen mg/l 0.010 0.008 0.007 0.009 0.2 8 Timah Hitam- Pb mg/l <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 0.03 9 Air Raksa (Hg) mg/l 0.0005 0.0005 0.0006 0.0006 0.002 10 Arsen-As mg/l 0.0003 0.0003 0.0004 0.0004 1 11 Fenol mg/l 0.0009 0.0009 <0,0001 0.0009 0.001
BM II*= Baku Mutu Air kelas II
Berdasakan baku mutu menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Lampiran 1) memperlihatkan bahwa BOD dan COD baik yang berada di perumahan, pertokoan dan
industri semuanya sudah berada di bawah ambang batas nilai yang dipersyaratkan. Sedangkan parameter lainnya yakni nitrat-NO3-N, total fosfat (PO4-P), kadmium (Cd),
deterjen, timah hitam (Pb), air raksa (Hg), arsen (As) dan fenol yang ada dalam perairan sekitar lokasi penelitian semuanya berada di bawah baku mutu yang ditetapkan (Lampiran 1).
5.2. Analisis Keberlanjutan
Keberlanjutan pembangunan di kota baru ini merupakan hal yang menarik untuk dikaji, mengingat keberlanjutan kota baru dapat berpengaruh pada berbagai hal seperti pada peningkatan pembangunan fisik dan ekonomi. Walau dampak dari pembangunan ekonomi tersebut pada akhirnya akan semakin menarik para migran yang ingin mencari penghidupan yang lebih layak di perkotaan. Selain hal tersebut pembangunan fisik juga dapat berdampak negatif pada berbagai hal, terutama yang ada kaitannya dengan lingkungan. Bahkan tidak hanya itu akibat pembangunan fisik, malah dapat terbentuk lokasi-lokasi yang mungkin malah menjadi rawan terjadinya bencana, dapat mengganggu kestabilan lingkungan seperti menimbulkan masalah banjir, dsb.
Analisis keberlanjutan Kota Baru BSD ini dilakukan berdasarkan modifikasi dari metode Rapfish yang digunakan untuk menilai status keberlanjutan. Hasil analisis keberlanjutan Kota Baru BSD dinyatakan dalam indeks keberlanjutan Kota Baru BSD (ikb-KOBA). Adapun hasil dari analisis yang dinyatakan sebagai indeks keberlanjutan ini mencerminkan status keberlanjutan pada Kota Baru BSD berdasarkan kondisi eksisting. Nilai tersebut ditentukan dari pendapat pakar, dengan kisaran nilai antara 0 – 100 %. Kriteria tidak berkelanjutan atau buruk, jika nilai indeks terletak antara 0 – 24,99 %. Kriteria kurang berkelanjutan apabila nilai indeksnya terletak antara 25 – 49,99 %. Kriteria cukup berkelanjutan apabila nilai indeksnya terletak antara 50 – 74,99 %. Kriteria berkelanjutan atau baik, jika nilai indeksnya 75 – 100 % (Kavanagh, 2001).
Pada analisis keberlanjutan ini, yang dianalisis adalah dimensi ekologi,
ekonomi, sosial-budaya, teknologi, hukum dan kelembagaan. Pada analisis
keberlanjutan Kota Baru BSD, sifatnya multidimensi, karena menggabungkan seluruh atribut yang ada pada enam dimensi penentuan indeks keberlanjutan yaitu dimensi
ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, infrastruktur dan teknologi, serta hukum dan kelembagaan.
5.2.1. Dimensi Ekologi
Hasil analisis keberlanjutan dapat dilihat pada Gambar 14. Pada Gambar 14 terlihat bahwa nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi adalah 42,22 % (dengan skala sustainabilitas 0 – 100, dan nilai indeks < 50). Hal ini memperlihatkan bahwa berdasarkan kriteria Kavanagh (2001), maka status keberlanjutan untuk dimensi ekologi di Kota Baru BSD termasuk ke dalam kategori kurang berkelanjutan.
Gambar 14. Indeks keberlanjutan dimensi ekologi Kota Baru BSD
Gambar 14 memperlihatkan bahwa walaupun Kota Baru BSD masuk ke dalam kota baru yang relatif hijau dan relatif asri, namun aspek lingkungan masih harus mendapat perhatian yang lebih serius, sehingga harus dicari upaya-upaya agar dimensi
ekologi menjadi berkelanjutan. Adapun peran masing-masing aspek pada atribut
ekologi ini dianalisis dengan menggunakan analisis leverage yang bertujuan untuk melihat atribut yang sensitif dalam memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan dimensi ekologinya, hasil analisis leverage ini dapat dilihat pada Gambar 15.
Berdasarkan wawancara terhadap pakar, agar nilai indeks ini di masa yang akan datang dapat terus meningkat sampai mencapai status berkelanjutan, perlu perbaikan-perbaikan terhadap atribut-atribut yang sensitif berpengaruh terhadap nilai indeks
RAPPERUMTES Ordination Good Bad Up Down -60 -40 -20 0 20 40 60 -20 0 20 40 60 80 100 120 Status Permukiman 42,22 %
dimensi ekologi. Atribut-atribut yang diperkirakan dapat memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi ekologi di Kota Baru BSD ada lima dari sebelas atribut. Adapun ke sebelas atribut tersebut adalah: (1) keadaan perumahan, (2) ketersediaan instalasi pengolah limbah cair, (3) ketersediaan TPS sampah, (4) kondisi drainase, (5) ketersediaan RTH, (6) ketersediaan air bersih, (7) kondisi jalan Kota Baru
BSD, (8) pencemaran udara/emisi, (9) penggunaan lahan BSD, (10) manajemen
banjir/bencana dan (11) permasalahan transportasi. Untuk lebih jelasnya atribut-atribut dimensi ekologi dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 15. Peran masing-masing atribut dimensi ekologi yang dinyatakan dalam bentuk perubahan nilai root mean square (RMS)
Pada Gambar 15 terlihat adanya atribut-atribut sensitif yang dapat memberikan pengaruh besar terhadap nilai indek keberlanjutan dimensi ekologi (hasil analisis laverage). Berdasarkan hasil analisis laverage tersebut diperoleh lima atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi yaitu (1) ketersediaan air bersih, (2) manajemen banjir/bencana, (3) permasalahan transportasi, (4) pencemaran udara/emisi, dan (5) ketersediaan pengolah limbah cair. Hasil analisis laverage dapat dilihat pada Gambar 16.
Ketersediaan air bersih di Kota Baru BSD merupakan hal yang harus diutamakan, mengingat di kota baru terjadi alih fungsi lahan yang cukup drastis, dalam
Leverage of Attributes 0.78 3.01 0.39 1.55 0.99 4.94 2.17 3.21 1.47 3.55 3.36 0 1 2 3 4 5 6 Permasalahan transportasi Managemen Banjir/bencana Psnggnaan lahan BSD Pencemaran udara/emisi Kondisi jalan Kota baru BSD
Ketersediaan air bersih Ketersediaan RTH Kondisi drainase Ketersediaan TPS Sampah Ketersediaan instalasi pengolah limbah cair
Keadaan perumahan
Attribute
Root mean square Change % in Ordination when Selected Attribute Removed (on Status scale 0 to 100)
hal ini lahan yang tadinya terbuka, menjadi kawasan terbangun sehingga memungkinkan terjadinya run off air pada saat hujan, sehingga air yang masuk ke dalam tanah, untuk menjadi air tanah menjadi minimal, oleh karena itu maka air tanah yang umumnya relatif bersih akan menjadi masalah dilokasi ini. Selain air tanah, di Kota Baru BSD juga terdapat air sungai, namun kondisi air sungai dan air drainase di lokasi penelitian juga kurang menggembirakan mengingat di lokasi ini apabila dilihat dari bau dan warnanya, memberikan indikasi sudah tercemar berat, sehingga ketersediaan air bersih menjadi masalah di kota baru. Di lain pihak, kebutuhan air di Kota Baru akan cenderung semakin meningkat sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat, sehingga kelangkaan air bersih akan semakin meningkat. Oleh karena itu maka sumberdaya air harus dikelola, dipelihara, dimanfaatkan, dilindungi dan dijaga kelestariannya, untuk melakukan hal tersebut, agar semuanya dapat terlaksana dengan baik, maka hal yang lebih ideal adalah dengan cara memberikan peran kepada masyarakat dalam setiap tahapan pengelolaan sumberdaya air.
Atribut sensitif ke dua adalah harus memperhatikan manajemen banjir/bencana. Hal ini sangat mungkin terjadi, mengingat dari hasil survay terlihat bahwa wilayah di sekitar Kota Baru BSD relatif pemanfaatan ruangnya masih belum terkendali dengan baik, sehingga kondisi ini memungkinkan terjadinya bencana, seperti bencana banjir, sehingga apabila pengelolaan dan pemanfaatan ruang tidak terkendali akan dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan tersebut, yang pada akhirnya akan berdampak ke Kota Baru BSD. Oleh karena itu maka kesesuaian lahan di kota baru yang diperuntukan untuk berbagai kepentingan harus benar-benar memperhatikan dan mengimplementasikan Rencana Tata Ruang Wilayah, seperti yang tercantum pada Undang-undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Pada pasal 29 ayat(1) dijelaskan bahwa: ”Ruang terbuka hijau terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau privat” dan selanjutnya pada ayat (2) disebutkan bahwa: ”Proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota”. Pada ayat (3) disebutkan bahwa ruang terbuka hijau publik pada wilayah kota paling sedikit 20 % dari luas wilayah kota.
Atribut sensitif ketiga adalah permasalahan transportasi. Permasalahan
yakni di beberapa lokasi terjadi antrian kendaraan yang cukup panjang. Walau kendaraan-kendaraan berat sudah dialihkan ke pinggir kota, masalah transportasi di Kota Baru BSD ternyata masih menjadi masalah yang masih harus dipecahkan dengan baik, mengingat selain akan terjadi kemacetan, juga akan mengakibatkan terjadinya pencemaran dan terjadinya peningkatan GRK terutama NOx, SOxdan CO2.
Terjadinya pembakaran bahan bakar fosil (BBF) yang aktif pada kegiatan transportasi ini pada akhirnya akan menyumbang terjadinya pemanasan global, yang pada akhirnya berujung pada terjadinya perubahan iklim global, sehingga menimbulkan berbagai bencana. Selain menyumbang GRK, dari pembakaran BBF transportasi ini juga akan dihasilkan logam berat terutama timbal atau Pb (Volesky, 2000). Di lain pihak adanya pencemaran juga dapat berimplikasi terhadap berkurangnya pendapatan sebagai akibat adanya masalah kesehatan, sehingga akan dikeluarkan biaya ekstra untuk
menanggulanginya (Syahril et al. 2002). Berdasarkan hal tersebut, maka dengan
meningkatnya transportasi, bukan saja akan meningkatkan pembakaran BBF, namun logam berat Pb yang berasal dari pembakaran BBF tersebut juga akan memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan masyarakat.
Atribut sensitif keempat adalah pencemaran udara/emisi. Terjadinya
pencemaran atau emisi GRK di Kota Baru harus menjadi perhatian yang serius, mengingat di wilayah ini transportasi belum dapat dikelola secara baik, apalagi jika di lokasi tersebut terjadi kemacetan, sehingga pada akhirnya akan mengakibatkan terjadinya peningkatan GRK terutama NOx, SOx dan CO2. Selain adanya pencemaran
yang berasal dari Kota Baru, pencemaran udara ini juga ditambah dengan bahan pencemar dan emisi dari lokasi lain, terutama dari jaringan jalan yang berada di pinggiran Kota Baru BSD, mengingat kendaraan dari kota baru di alihkan ke pinggir kota, namun mengingat udara bersifat dinamis, maka udara yang berasal dari pinggiran kota tersebut, dengan adanya angin, pada akhirnya akan masuk ke dalam wilayah Kota Baru BSD.
Atribut sensitif kelima adalah ketersediaan pengolah limbah cair. Limbah cair pada dasarnya dapat dihasilkan dari berbagai kegiatan seperti dari pertokoan, industri, perhotelan, rumah sakit, permukiman, dsb. Namun sayangnya walaupun Kota Baru BSD adalah hunian hijau, namun limbah domestik yang ada di lokasi kajian mengindikasikan tidak pernah dilakukan pengelolaan, sehingga limbah cair domestik
akan masuk ke dalam sungai tanpa mengalami pengolahan terlebih dahulu. Kondisi yang sama juga terjadi pada limbah lain seperti limbah industri dan limbah perkotaan, limbah rumah sakit, dsb yang hampir semuanya langsung masuk ke dalam badan air tanpa mengalami pengolahan terlebih dahulu. Oleh karena itu maka ketersediaan instalasi pengolah limbah cair (IPAL) harus mendapat perhatian yang sangat serius.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka kemungkinan terjadinya kerentanan dan kerawanan ekologis di lokasi penelitian yang merupakan lokasi yang relatif asri menjadi tidak terhindarkan dalam pengembangan kawasan Kota Baru BSD. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan penataan daerah, baik di dalam kota baru itu sendiri, maupun di wilayah sekitar kawasan Kota Baru BSD secara terpadu, sesuai fungsi lahan.
5.2.2. Dimensi Ekonomi
Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan terhadap dimensi ekonomi
memperlihatkan bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi sebesar 53,17 (Gambar 16). Nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi ini lebih besar dibanding
nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi. Selain itu besarnya nilai indeks
keberlanjutan ekonomi lebih besar dari 50. Hal ini mengandung arti bahwa dimensi ekonomi pada pengelolaan kawasan Kota Baru BSD masuk pada kategori cukup
berkelanjutan (Kavanagh, 2001). Kondisi ini memperlihatkan bahwa pengelolaan
kawasan Kota Baru BSD lebih memberikan manfaat secara ekonomi dibanding aspek ekologi.
Indeks keberlanjutan pada dimensi ekonomi cukup berkelanjutan, namun demikian pada dimensi ekonomi juga masih terdapat berbagai kelemahan yang masih perlu diperbaiki, sehingga menjadi sangat berlanjut. Adapun perbaikan-perbaikan tersebut, idealnya harus dilakukan terhadap atribut-atribut yang sensitif berpengaruh terhadap nilai indeks dimensi ekonomi, sehingga nilai indeks ini dimasa yang akan datang dapat terus meningkat sampai mencapai status sangat berkelanjutan.
Adapun atribut-atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi ekonomi terdiri dari delapan atribut, yaitu: (1) peluang usaha, (2) kelayakan lingkungan usaha, (3) kemampuan daya beli masyarakat, (4) tingkat pengangguran, (5) kawasan industri, (6) tingkat pendapatan, (7) keberadaan pertokoan, dan (8) keberdaaan kawasan bisnis.
53.17 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120
Gambar 16. Indeks keberlanjutan dimensi ekonomi Kota Baru BSD
Besarnya nilai indeks keberlanjutan ekonomi dipengaruhi oleh atribut-atribut keberlanjutan seperti telah disebutkan di atas, namun demikian atribut-atribut tersebut memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap besarnya nilai indeks keberlanjutan. Dalam rangka melihat atribut-atribut yang lebih sensitif memberikan kontribusi terhadap nilai indek keberlanjutan ekonomi, dilakukan analisis laverage. Hasil analisis laverage diperoleh empat atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi yaitu (1) keberadaan kawasan bisnis, (2) tingkat pengangguran, (3) keberadaan kawasan industri, dan (4) keberadaan pertokoan kawasan. Hasil analisis laverage dapat dilihat seperti Gambar 17.
Atribut sensitif pertama adalah keberadaan kawasan bisnis. Pada kota baru, selain adanya zonasi perumahan masyarakat identik, juga harus terdapat kawasan bisnis, mengingat dengan tersedianya kawasan bisnis, maka di perumahan tersebut juga identik dengan relatif dapat terpenuhinya tuntutan-tuntutan dari penghuni perumahan tersebut untuk berusaha dan untuk mencari nafkah ke lokasi yang tidak terlalu jauh. Keberadaan kawasan bisnis yang strategis akan memudahkan masyarakat untuk mendapat barang-barang kebutuhannya, untuk menjual barang-barang-barang-barang yang diproduksinya atau untuk bertransaksi di berbagai bidang. Selain hal tersebut dengan adanya kawasan bisnis yang
berkembang di kota baru ini berarti ada tempat usaha yang baik, mudah ditemukan dan dijangkau, sehingga akan menarik baik bagi konsumen perumahan kota baru itu sendiri maupun untuk penghuni yang mata pencahariannya atau yang hobbinya berbisnis. Keberadaan kawasan bisnis di area kota baru yang relatif dekat dengan kawasan permukiman tentunya akan memberikan keuntungan bagi masyarakat setempat, namun juga keberadaan kawasan bisnis tersebut juga harus memperhatikan aspek lingkungan sekitar, sehingga kawasan kota baru tetap berkelanjutan walau dalam kondisi apapun.
Gambar 17. Peran masing-masing atribut dimensi ekonomi yang dinyatakan dalam bentuk perubahan nilai root mean square (RMS)
Atribut sensitif ke dua adalah tingkat pengangguran. Walaupun Kota Baru BSD adalah kota baru yang sudah modern dengan kondisi keberlanjutan yang masuk pada kategori cukup, namun ternyata juga tidak pernah terlepas dari masalah pengangguran. Berdasarkan wawancara dengan masyarakat setempat diketahui bahwa pada umumnya masyarakat yang ada di lokasi tersebut mempunyai pekerjaan tetap, namun demikian diantara masyarakat tersebut terutama yang berada di sekitar perumahan terencana cukup banyak yang tidak mempunyai pekerjaan tetap (pengangguran), sehingga dapat mengganggu ketentraman. Berdasarkan wawancara juga terungkap bahwa penganggur yang paling banyak terutama berasal dari masyarakat pendatang yang datang ke kota baru untuk mencari pekerjaan. Oleh karena itu maka terjadinya urbanisasi dari desa ke
Leverage of Attributes 0.44 0.66 0.48 1.81 1.19 0.31 1.48 2.57 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 Kawasan bisnis Keberadaan industri Tingkat pendapatan Pertokoan kawasan Tingkat pengangguran Kemampuan daya beli masy Kelayakan lingk usaha Peluang usaha
Attribute
Root mean square Change % in Ordination when Selected Attribute Removed (on Status scale 0 to 100)
kota merupakan salah satu aspek yang perlu diwaspadai mengingat urbanisasi seringkali meningkatkan jumlah penganggur, di lain pihak meningkatnya jumlah penganggur ini seringkali berdampak pada ketidak kondusifan di dalam kawasan.
Hingga saat ini pengangguran masih menjadi masalah besar di berbagai lokasi, bahkan di kota besar sekalipun, oleh karena itu maka harus dicari jalan keluar yang tepat, mengingat pengangguran dapat menjadi persoalan yang berakibat pada terganggunya stabilitas sosial, politik dan ekonomi. Oleh karenanya apabila masalah pengangguran tidak dapat terpecahkan, maka suatu saat akan sangat membahayakan
kelangsungan pemerintahan suatu negara, mengingat pengangguran akan
mengakibatkan timbulnya kerawanan sosial.
Atribut sensitif ke tiga adalah keberadaan kawasan industri. Pada dasarnya Kota Baru BSD merupakan kota baru mandiri, dalam arti masalah ekonomi dan sosial, berupaya untuk dipecahkan sendiri, termasuk di dalamnya masalah pengangguran. Dalam rangka menunjang Kota Baru BSD menjadi wilayah yang mandiri, maka selain harus terdapat kawasan bisnis. Hal yang juga sangat perlu ada adalah terdapatnya kawasan industri, mengingat kawasan industri merupakan kawasan yang dapat menggairahkan kondisi ekonomi kawasan, dapat meningkatkan PAD, dan PDRB serta akan membantu pemerintah untuk mengurangi pengangguran. Oleh karena itu maka kawasan industri mutlak harus ada di kota baru. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Miranti (2007) yang mengatakan bahwa industri ini merupakan sektor yang mampu menyerap tenaga kerja cukup besar. Pada 2006, industri ini memberikan kontribusi sebesar 11,7 % terhadap total ekspor nasional, 20,2 % terhadap surplus perdagangan nasional, dan 3,8 % terhadap pembentukan produk domestik bruto (PDB) nasional.
Selain hal tersebut di atas, keberadaan kawasan industri juga perlu mendapat perhatian yang cukup serius, mengingat di lokasi ini akan terjadi aktifitas antropogenik yang begitu tinggi, termasuk di dalamnya pembakaran BBF, pembuangan sampah dan pembuangan limbah cair. Hal ini akan menimbulkan masalah yang cukup serius karena menurut Abou et al. (2002) pada limbah industri ditemukan limbah B3 dengan jumlah umumnya lebih tinggi dibanding kegiatan lain. Namun demikan limbah B3 dari industri pada lokasi yang terkonsentrasi di kawasan industri (point source) seperti yang terjadi di Kota Baru BSD, relatif lebih mudah untuk dilakukan pengawasan dan penanganannya karena dapat dibuat IPAL komunal (Allenby, 1999).
Atribut sensitif ke empat adalah keberadaan pertokoan di kawasan kota baru. Di pertokoan banyak transaksi yang terjadi, dan di kawasan pertokoan pula peredaran uang sangat besar, sehingga pertokoan idealnya harus mengikuti pusat permukiman berada, begitu pula dengan kebalikannya. Hal ini terjadi karena masyarakat merupakan faktor penting dalam penentuan keberadaan pertokoan, mengingat keberadaan pertokoan disamping dapat memberi manfaat tapi juga dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat, terutama yang tinggal berdekatan dengan pertokoan pada khususnya. Oleh karena itu penerimaan masyarakat akan keberadaan pertokoan menjadi sangat penting untuk diperhatikan, mengingat bukan tidak mungkin di lokasi tersebut dapat terjadi konflik dengan masyarakat.
5.2.3. Dimensi Sosial dan Budaya
Pada penelitian ini didapatkan nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial-budaya sebesar 26,49 %. Nilai dimensi sosial budaya ini jauh di bawah nilai 50, sehingga termasuk ke dalam kategori kurang berkelanjutan (Kavanagh, 2001). Selain hal itu nilai dimensi sosial budaya ini juga berada di bawah indeks keberlanjutan dimensi ekologi maupun dimensi ekonomi. Hal ini memperlihatkan bahwa di kawasan kota baru terdapat indikasi bahwa adanya kegiatan yang mendekati gaya metropolitan di kota baru mengakibatkan relatif melunturnya aspek sosial budaya, yang terlihat dari tidak terdapat lagi budaya asli wilayah tersebut, sehingga budaya masyarakat setempat sudah luntur dan tidak didapati lagi di kawasan Kota Baru BSD. Selain itu masyarakat di Kota Baru BSD juga relatif lebih bersifat individual, sehingga perlu dilakukan berbagai hal untuk meningkatkan status nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial-budaya ini, terutama dalam hal perbaikan terhadap beberapa atribut yang sensitif yang akan mempengaruhi nilai indeks tersebut secara nyata. Untuk lebih jelasnya nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi sosial dan budaya dapat dilihat pada Gambar 18.
Adapun peran masing-masing aspek pada atribut sosial budaya ini dianalisis dengan menggunakan analisis leverage dapat dilihat pada Gambar 19. Pada Gambar 19 terlihat bahwa atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi sosial-budaya terdiri dari lima atribut, yaitu: (1) kepedulian, dan tanggung jawab masyarakat terhadap sumberdaya, (2) status kesehatan masyarakat, (3) pengaruh keberadaan BSD pada nilai sosial budaya lokal, (4) keragaman budaya dalam masyarakat dan (5) konflik dengan masyarakat lokal.
Gambar 18. Indeks keberlanjutan dimensi sosial dan budaya Kota Baru BSD Berdasarkan hasil analisis laverage diperoleh tiga atribut yang paling sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial-budaya yaitu (1) pengaruh keberadaan BSD pada nilai sosial budaya lokal, (2) keragaman budaya dalam masyarakat, dan (3) konflik dengan masyarakat lokal. Atribut-atribut tersebut perlu dikelola dan terus ditingkatkan dengan baik agar nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial-budaya ini meningkat di masa yang akan datang. Pengelolaan atribut dilakukan dengan cara meningkatkan peran setiap atribut yang memberikan dampak positif dan menekan setiap atribut yang dapat berdampak negatif terhadap indeks keberlanjutan dimensi sosial-budaya dalam pengembangan permukiman tepi sungai di Jakarta. Hasil analisis laverage dapat dilihat seperti Gambar 19.
Pada Gambar 19 terlihat bahwa atribut yang paling sensitif yang harus benar-benar diperhatikan adalah adanya pengaruh keberadaan Kota Baru BSD pada nilai sosial budaya lokal, keragaman budaya dalam masyarakat, dan konflik antara masyarakat yang tinggal di kawasan permukiman Kota Baru BSD dengan masyarakat lokal. Hal ini dapat dimengerti mengingat masyarakat yang tinggal di suatu kawasan perumahan perkotaan, seperti halnya di BSD pada umumnya terdiri dari beragam etnik, adat juga latar belakang yang berbeda-beda. Oleh karena itu maka keragaman tersebut
26,49 % RAPPERUMTES Ordination Down Up Bad Good -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Status Permukiman 26,49 %
harus menjadi modal dasar untuk melakukan pembangunan, mengingat apabila keragaman itu tidak dikelola dengan baik, pada umumnya akan memudahkan terjadinya konflik.
Gambar 19. Peran masing-masing atribut dimensi sosial dan budaya yang dinyatakan dalam bentuk perubahan nilai root mean square (RMS)
Dalam rangka menjaga agar tidak terjadi konflik, maka masyarakat yang mempunyai karakter multi-etnis dan multi-agama seperti yang terjadi di Kota Baru BSD harus selalu menggali wawasan kebangsaan, sehingga dapat menghindari adanya berbagai ketegangan dan dapat menghindarkan terjadinya konflik masyarakat. Konflik horisontal antar kelompok masyarakat tertentu di kawasan permukiman seharusnya bisa dihindari apabila ada rasa toleransi yang tinggi terhadap perbedaan yang ada.
Kondisi tersebut terjadi karena adanya toleransi antara etnis yang satu dengan etnis yang lain tidak pernah hadir dengan sendirinya. Dalam hal ini toleransi baru akan muncul jika dari lubuk hati masing-masing terdapat empati. Adapun yang dimaksud dengan empati di sini adalah hati nurani manusia untuk ikut serta merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain; seperti turut bergembira pada saat melihat orang lain bahagia, dan turut berduka apabila orang lain ada yang sedang mendapatkan masalah/musibah/kedukaan atau dengan kata lain empati merupakan rasa kepedulian terhadap sesama. Oleh karena itu maka apabila masing-masing anggota masyarakat
Leverage of Attributes 2.39 1.88 3.72 3.70 3.87 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 Kepedulian&tg.jawab Pada sumberdaya Status kesehatan masyarakat Keragaman budaya dlm masyarakat Konflik dengan Masyarakat lokal Keberadaan BSD pada sosial budaya
Attribute
Root mean square Change % in Ordination when Selected Attribute Removed (on Status scale 0 to 100)
memiliki rasa empati terhadap orang lain, maka akan terbangun rasa untuk saling menerima dan menghargai orang lain, sehingga nilai toleransi akan terbangun dengan baik.
Pada suatu kawasan permukiman yang terdapat di perkotaan, kemungkinan adanya keranekaragaman etnis sangat tinggi, mengingat masyarakat yang ada di kota baru berasal dari berbagai daerah, dengan adat istiadat dan bahkan mungkin agama yang beranekaragam. Oleh karena itu maka pada kawasan permukiman baru, seperti halnya
di Kota Baru BSD, potensi bahaya konflik selalu tinggi. Adapun konflik yang
mungkin muncul di kawasan kota baru antara lain adalah konflik ketenaga kerjaan, konflik agama, konflik budaya (adat istiadat dan kebiasaan), konflik pertanahan (walau awalnya lebih ke antara pengembang dan masyarakat lokal), konflik atas sumber daya alam, dsb. Satu jenis atau berbagai jenis konflik tersebutpada umumnya akan muncul ke permukaan dalam bentuk konflik antar etnis dan konflik antar agama. Adanya ketidak adilan baik dalam hal aspek sosial, budaya, maupun ekonomi seringkali menjadi lahan subur untuk terjadinya konflik. Oleh karena itu dalam satu kawasan permukiman di kota baru seperti BSD harus selalu dijaga agar masyarakat yang ada di dalamnya merasa diperlakukan adil, dan jangan sampai membiarkan terjadinya kepentingan dari luar yang sengaja memanaskan suasana dalam kawasan permukiman tersebut, sehingga akan meredam terjadinya konflik.
Kenyataan yang ada saat ini, baik di kota baru, maupun di seluruh peloksok perkotaan, cenderung terdapat kesenjangan yang diakibatkan oleh kebijakan pembangunan ekonomi yang kurang mendukung. Hal ini terjadi karena adanya perubahan yang sangat cepat, sementara kondisi budaya bangsa belum dapat
mengimbangi perubahan yang sangat cepat tersebut. Hal ini pada akhirnya
mengakibatkan krisis ekonomi merambah ke aspek-aspek lainnya, sehingga krisis ekonomi tersebut akhirnya berkembang menjadi krisis moral, krisis sosial, krisis politik, dan krisis multidimensional yang mengakibatkan terbentuknya konflik sosial, bahkan malah pada akhirnya mengakibatkan terjadinya disintegrasi bangsa. Oleh karena itu maka agar hal tersebut tidak sampai terjadi, maka hal yang harus benar-benar diperhatikan sedini mungkin adalah melakukan pengelolaan terhadap keragaman budaya yang ada pada suatu kawasan permukiman dan kota baru sebaik dan secermat mungkin.
Dalam rangka menciptakan terwujudnya masyarakat yang merasa diperlakukan adil dan damai serta terwujudnya masyarakat yang kondusif di kawasan kota baru dengan masyarakat sekitarnya, adalah harus memahami adanya ragam budaya atau multikulturalisme, yakni mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan. Oleh karena itu maka masyarakat harus dipandang sebagai pemilik sebuah kebudayaan, dan kebudayaan sendiri merupakan modal dasar pembangunan, sehingga adanya kebudayaan yang beranekaragam menjadi modal pembangunan yang sangat besar untuk memajukan
sebuah kota baru, bahkan bangsa dan negara. Selain hal tersebut pada konteks
keragaman budaya, multikulturalisme jangan diartikan sebagai konsep keanekaragaman secara suku bangsa atau kebudayaan suku bangsa, mengingat multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Oleh karena itu maka pemahaman multikulturalisme harus mengedepankan kesederajatan dan keadilan
dengan memperhatikan dan menekankan pada proses penegakan hukum,
memungkinkan terbukanya kesempatan untuk bekerja dan berusaha, mengedepankan HAM, mengakui hak budaya komunitas dan golongan minoritas, mengedepankan prinsip-prinsip etika dan moral, namun tetap menekankan pada mutu dan produktivitas.
5.2.4. Dimensi Infrastruktur dan Teknologi
Analisis terhadap keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi pada Kota Baru BSD menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi yang cukup tinggi, yakni sebesar 52,20 %. Nilai tersebut memperlihatkan bahwa keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi pada pengelolaan Kota Baru BSD masuk pada kategori cukup berkelanjutan (Kavanagh, 2001).
Adapun atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi infrastruktur dan teknologi terdiri dari tiga belas atribut, yaitu: (1) ketersediaan sarana dan prasarana penanganan bencana, (2) ketersediaan sarana dan prasarana pengolahan limbah domestik cair, (3) ketersediaan sarana dan prasarana pengolahan limbah industri cair, (4) ketersediaan sarana dan prasarana pengolahan limbah padat, (5) ketersediaan sarana dan prasarana monitoring kualitas perairan, (6) ketersediaan sarana dan prasarana monitoring kualitas udara, (7) ketersediaan sarana dan prasarana fasilitas sosial, (8) penggunaan sarana transportasi, (9) ketersediaan sarana dan prasarana menurunkan emisi GRK, (10) ketersediaan sarana
dan prasarana jalan yang efektif dan efisien, (11) akses masyarakat terhadap utilitas ekonomi, (12) ketersediaan sarana dan prasarana komuter, dan (13) ketersediaan sarana dan prasarana early warning system.
Gambar 20. Indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi Kota Baru BSD Adapun peran masing-masing aspek pada atribut infrastruktur dan teknologi ini dianalisis dengan menggunakan analisis leverage. Atribut-atribut yang lebih sensitif yang memberikan kontribusi terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi hasil analisis laverage ini diperoleh empat atribut yang paling sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi yaitu (1) ketersediaan sarana dan prasarana pengolahan limbah domestik cair, (2) ketersediaan sarana dan prasarana pengolahan limbah industri cair, (3) ketersediaan sarana dan prasarana jalan yang efektif dan efisien, dan (4) ketersediaan sarana dan prasarana
komuter. Dalam rangka meningkatkan keberlanjutan dimensi infrastruktur dan
teknologi, maka atribut-atribut tersebut perlu dikelola dengan baik agar nilai indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi ini meningkat untuk masa yang akan datang, dengan cara meningkatkan peran setiap atribut yang memberikan dampak positif dan menekan setiap atribut yang dapat berdampak negatif terhadap indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi. Hasil analisis laverage tersebut dapat dilihat seperti Gambar 21.
52,20 % RAPPERUMTES Ordination Down Up Bad Good -60 -40 -20 0 20 40 60 -20 0 20 40 60 80 100 120 Status Permukiman 52,20 %
Atribut yang paling penting dari dimensi infrastruktur dan teknologi adalah ketersediaan sarana dan prasarana pengolahan limbah domestik cair. Hal ini merupakan satu petunjuk bahwa dalam rangka melestarikan lingkungan Kota Baru BSD sarana pendukung seperti pengolahan limbah domestik cair di suatu kawasan kota baru tidak dapat diabaikan bahkan harus mendapatkan perhatian yang sangat serius, karena hampir setiap aktivitas masyarakat di permukiman akan menghasilkan limbah domestik cair. Selain itu dalam satu kawasan permukiman, jumlah rumah yang ada di dalamnya tidak mungkin jumlahnya sedikit, sehingga limbah domestik yang akan dihasilkan juga jumlahnya akan sangat banyak.
Gambar 21. Peran masing-masing atribut dimensi infrastruktur dan teknologi yang dinyatakan dalam bentuk perubahan nilai root mean square (RMS).
Menurut Sitepu (2009) pada limbah domestik ini tidak sekedar hanya terdapat limbah organik mudah urai (BOD), TSS, Minyak dan lemak, namun dapat mengakibatkan tercemarnya lingkungan adalah H2S, orthofosfat, ammonia, nitrit, DO,
BOD, COD, phenol dan detergen serta fecal coli. Selanjutnya disarankan agar dalam rangka menghindari terjadinya pencemaran akibat limbah domestik di kawasan perumahan yang dibutuhkan bukan hanya persepsi semata, namun perlu tindakan nyata untuk mewujudkan persepsi tersebut dalam berbagai aksi, seperti aksi melakukan
Leverage of Attributes 3.43 1.67 1.23 1.03 1.11 2.74 4.54 8.18 0.52 0.69 3.21 0.24 2.46 0 2 4 6 8 10
Sarana penurun emisi GRK Sarana pengolah limbah padat
Jalan yang efektif&efisien Akses terhadap utilitas ekonomi Penggunaan sarana transportasi Sarana monitoring kualitas air Sarana pengolah limbah industry cair Sarana Pengolah limbah domestic cair Sarana penanganan bencana
Sarana fasilitas sosial Ketersediaan sarana komuter Sarana early warning Sarana monitoring kualitas udarak
Attribute
Root mean square Change % in Ordination when Selected Attribute Removed (on Status scale 0 to 100)
pembangunan IPAL domestik, melakukan pengolahan limbah domestik cair yang efisien dan efektif sehingga dapat menurunkan bahan pencemar dalam limbah cair yang jenisnya semakin beragam. Oleh karena itu maka tersedianya sarana dan prasarana pengolahan limbah domestik cair yang memadai di suatu kawasan permukiman atau di kota baru tentunya bukan hanya akan menciptakan suasana yang nyaman bagi penghuninya, namun juga akan dapat menyelamatkan lingkungan dan menjaga kelestarian lingkungan secara makro.
Dalam kota baru selain harus tersedia sarana dan prasarana pengolahan limbah domestik cair, juga perlu disediakan sarana dan prasarana pengolahan limbah industri cair, mengingat di kota baru selain terdapat permukiman juga terdapat kawasan bisnis, yang di dalamnya terdapat kegiatan industri. Pada kawasan industri hal yang paling sering terjadi adalah sangat sulitnya menghilangkan limbah. Hal ini terjadi karena industri yang ada di kota baru pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya, belum menerapkan konsep produksi bersih, seperti yang diinginkan oleh masyarakat dunia yang tertuang pada Agenda 21 yang menganjurkan dilaksanakannya teknologi bersih, sehingga dapat mengurangi jumlah limbah dan memudahkan pembuangan limbah secara aman (Memahami KTT Bumi, 1992).
Limbah industri seringkali banyak disoroti oleh berbagai kalangan, karena limbah industri pada umumnya mengandung berbagai senyawa baik dalam bentuk padat, gas maupun cair yang mengandung senyawa organik dan anorganik yang umumnya termasuk ke dalam limbah yang di dalamnya mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) dengan jumlah yang seringkali melebihi batas yang ditentukan. Kondisi tersebut pada akhirnya akan mengakibatkan terjadinya pencemaran, sehingga akan menimbulkan terjadinya degradasi lingkungan.
Industri pada umumnya berpotensi untuk mencemari lingkungan. Oleh karena itu maka salah satu masalah yang perlu mendapat perhatian di kawasan industri yang ada di Kota Baru BSD adalah belum terdapatnya pengolah air buangan (limbah cair industri). Dalam pengolahan air buangan ini, berdasarkan pengamatan di lapang, ada indikasi bahwa perusahaan yang memiliki IPAL di lokasi penelitian relatif hampir tidak
ada. Hal ini disebabkan operasional IPAL dan pemeliharaannya membutuhkan
sangat mahal, sehingga menjadi kendala bukan hanya untuk kota baru, namun juga di kawasan industri lainnya yang tersebar di seluruh peloksok tanah air.
Kesadaran masyarakat industri dalam melakukan pengelolaan terhadap lingkungan, dalam hal ini terhadap limbah cair yang dihasilkannya juga pada umumnya masih minim. Bahkan tidak hanya itu masih ada beberapa perusahaan (secara umum terjadi di Indonesia) yang beranggapan bahwa program lingkungan dianggap sebagai penghalang oleh perusahaan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan. Kondisi ini terjadi karena pengetahuan dan kesadaran para pelaku industri yang relatif minim. Selain hal tersebut, khusus untuk perusahaan yang sudah melakukan program lingkungan, pada umumnya perusahaan tersebut juga sangat tertutup dalam hal
informasi kualitas air buangannya. Oleh karenanya, maka perusahaan-perusahaan
seringkali tidak mau memberikan informasi yang sebenarnya tentang kondisi kualitas limbah cairnya. Hal ini terjadi karena perusahaan-perusahaan seringkali relatif tidak melaksanakan pengelolaan terhadap lingkungan, atau kalaupun melakukan pengelolaan, maka pengelolaan yang dilakukan relatif tidak optimal, sehingga kualitas limbah cair yang dihasilkannya dan selanjutnya dibuang ke perairan masih relatif jelek.
Relatif tidak adanya IPAL di industri-industri Kota Baru BSD diduga karena tingginya biaya investasi dan biaya operasional IPAL. Pada saat ini sebenarnya sudah ada aturan (namun bersifat sukarela) untuk industri-industri yang mengekspor produknya ke berbagainegara. Dalam hal ini apabila industri tersebut melakukan ekspor produknya ke negara-negara Eropa. Negara Eropa umumnya sudah menerapkan agar perusahaan pengekspor ecolabelling sudah menerapkan ecolabelling, sehingga mulai dari input, proses dan out put tidak akan menghasilkan bahan pencemar dan tidak akan
merusak lingkungan. Oleh karena itu, maka berapapun mahalnya instalasi dan
operasionalnya, industri tersebut pada umumnya akan berupaya membangun IPAL dan melaksanakan produksi bersih, sehingga produknya dapat diekspor. Oleh karena itu, maka ada baiknya jika perusahaan-perusahaan yang berlokasi di Kota Baru BSD didorong agar melakukan ekspor ke negara-negara Eropa, sehingga perusahaan tersebut dituntut oleh konsumennya untuk melaksanakan program ecolabelling secara sukarela.
Atribut sensitif lain yang harus diperhatikan pada pengelolaan lingkungan di kota baru adalah ketersediaan sarana dan prasarana jalan yang efektif dan efisien, dan ketersediaan sarana dan prasarana komuter. Hal ini disebabkan keberadaan sarana
transportasi yang memadai dan sistem transportasi dan terutama infrastruktur jalan raya yang efektif dan efisien merupakan salah satu alat terpenting untuk mencapai standar kehidupan yang tinggi, tanpa menimbulkan pencemaran lingkungan. Oleh karenanya sangat wajar jika pada akhirnya membawa konsekuensi penggunaan teknologi baru yang lebih canggih, seperti interchanges, jalan-jalan layang (fly overs), jalan bebas hambatan (freeways), jalur kereta layang (elevated railways track). Adapun tanda-tanda lalu lintas yang terkoordinasi, dan sebagainya untuk menampung kecepatan yang lebih tinggi dan aliran (jumlah) lalu lintas yang lebih besar, terutama di daerah perkotaan, sehingga efektifitas tersebut tidak terlalu mengakibatkan terjadinya kemacetan lalu lintas dan pencemaran udara dan kebisingan.
Dalam rangka menciptakan jaringan jalan yang efektif dan efisien, maka harus dibuat perencanaan tata guna lahan atau perencanaan sistem transportasisedemikian rupa, sehingga dapat mencapai keseimbangan yang efisien antara potensi tata guna lahan dengan kemampuan transportasi. Selain hal tersebut dalam melakukan pengembangan teknologi di bidang transportasi juga hendaknya adalah teknologi prasarana transportasi berupa jaringan jalan, mengingat sistem transportasi yang berkembang semakin cepat menuntut perubahan tata jaringan jalan yang dapat menampung kebutuhan lalu lintas yang berkembang tersebut.
Transportasi juga memegang peran strategis untuk berfungsinya suatu metropolitan, yang di dalamnya bukan hanya metropolitan semata sebagai kota induk, namun juga terdapat kota di sekitarnya yang bersifat satelit, yang mandiri atau masih erat terkait dengan kota induknya. Adapun kota tersebut, tidak lain adalah kota baru. Jaringan transportasi penumpang untuk menghubungkan antara kawasan permukiman di kota baru dengan tempat kerja merupakan fungsi yang amat menentukan struktur transportasi antara kota induk dan kota satelitnya.
Tingginya peradaban masyarakat kota metropolitan yang didukung oleh tingginya pendapatan, pada umumnya akan mendorong meningkatnya penggunaan kendaraan
pribadi. Hal ini disebabkan penggunaan kendaraan pribadi merupakan cerminan
peningkatan taraf hidup seseorang, sekaligus memenuhi kebutuhan mobilitas yang tinggi di perkotaan. Pertumbuhan penggunaan kendaraan pribadi yang disatu sisi merupakan keberhasilan dari penyediaan sistem jaringan transportasi (jalan) dengan peningkatan kemakmuran dan mobilitas penduduk, disisi lain menimbulkan kerusakan
kualitas kehidupan karena terjadinya kemacetan, polusi udara dan polusi suara (Tamin, 2005). Oleh karena itu maka untuk menghindari pemakaian kendaraan pribadi yang berlebihan maka perlu diciptakan kendaraan pengangkut penumpang masal yang aman, nyaman dan cepat. Khusus untuk masyarakat Kota Baru BSD yang umumnya bekerja di kota utama atau di kota satelit lainnya, dalam rangka menjaga efisiensi dan efektitas serta untuk menghindari terjadinya pencemaran maka harustersedia sarana dan prasarana komuter, atau dengan kata lainperlu tersedia kendaraan yang dapat mengangkut penumpang yang jumlahnya banyak dan mobilitasnya tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Dardak (2006) yang mengatakan bahwa diperlukan jaringan transportasi massal (mass transit) yang beragam jenis dan kombinasinya dengan ongkos yang mampu dibayar oleh masyarakat dan tidak terlalu membebani anggaran daerah. Oleh karena itu maka kapasitas sistem jaringan transportasi komuter harus didesain sedemikian rupa untuk dapat menampung bangkitan lalu lintas dari sistem kegiatan sehingga tidak terjadi kemacetan.
5.2.5. Dimensi Hukum dan Kelembagaan
Hasil analisis terhadap dimensi hukum dan kelembagaan (Gambar 22) mendapatkan hasil bahwa nilai indeks keberlanjutan dimensi hukum dan kelembagaan adalah 59,95 % (Kavanagh, 2001). Hal ini menunjukkan bahwa status keberlanjutan untuk dimensi hukum dan kelembagaan adalah cukup berkelanjutan. Seperti pada dimensi lainnya, peran masing-masing aspek pada atribut hukum dan kelembagaan ini dianalisis dengan menggunakan analisis leverage seperti yang terlihat pada Gambar 23. Walaupun dimensi hukum dan kelembagaan sudah cukup berkelanjutan, maka perlu dilakukan lagi upaya agar dimensi hukum dan kelembagaan menjadi sangat berkelanjutan. Untuk itu perlu dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap atribut-atribut yang sensitif berpengaruh terhadap nilai indeks dimensi hukum dan kelembagaan sangat perlu dilakukan sehingga nilai indeks ini dimasa yang akan datang dapat terus meningkat sampai mencapai status berkelanjutan. Atribut-atribut yang dinilai oleh para pakar didasarkan pada kondisi eksisting wilayah.
Gambar 22. Indeks keberlanjutan dimensi hukum dan kelembagaan Kota Baru BSD
Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat
keberlanjutan pada dimensi hukum dan kelembagaan terdiri dari delapan atribut, yaitu: (1) tersedianya organisasi pengelola lingkungan, (2) keberadaan peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan di lingkup kawasan kota baru, (3) kompetensi pengelola kawasan kota baru, (4) sinkronisasi peraturan dengan pusat, (5) kelengkapan dokumen pengelolaan lingkungan, (6) intensitas pelanggaran hukum, (7) egosektoral dalam pengelolaan lingkungan, dan (8) konsistensi penegakan hukum.
Dalam rangka melihat atribut-atribut yang sensitif memberikan kontribusi terhadap nilai indek keberlanjutan dimensi hukum dan kelembagaan dilakukan analisis laverage. Berdasarkan hasil analisis laverage diperoleh enam atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi hukum dan kelembagaan yaitu (1) kompetensi pengelola kawasan kota baru, (2) egosektoral dalam pengelolaan lingkungan, (3) konsistensi penegakan hukum, (4) tersedianya organisasi pengelola lingkungan, (5) intensitas pelanggaran hukum, dan (6) sinkronisasi peraturan dengan
pusat. Atribut-atribut tersebut perlu dikelola dengan baik agar nilai indeks
RAPPERUMTES Ordination Down Up Bad Good -60 -40 -20 0 20 40 60 -20 0 20 40 60 80 100 120 Status Permukiman 59,95 %
keberlanjutan dimensi hukum dan kelembagaan ini meningkat untuk masa yang akan datang. Adapun hasil analisis laverage dapat dilihat lebih jelas pada Gambar 23.
Gambar 23. Peran masing-masing atribut dimensi hukum dan kelembagaan yang dinyatakan dalam bentuk perubahan nilai root mean square (RMS).
Pada dasarnya terdapat berbagai hal yang sangat penting untuk memelihara dan mempertahankan kelestarian lingkungan di kawasan kota baru, baik di kawasan permukimannya maupun di lokasi lain di kota baru. Adapun hal-hal yang sangat penting tersebut adalah kompetensi pengelola kawasan kota baru. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, mengingat keberhasilan pengelolaan lingkungan akan
sangat tergantung pada kompetensi pengelolanya. Pengelola yang kompeten di
bidangnya pada umumnya akan memahami apa yang harus dilakukan dalam melakukan pengelolaan lingkungan sekaligus akan mengetahui parameter kunci dan trik-trik implementasi pengelolaan lingkungan, sehingga pengelolaan dapat dilakukan dengan baik dan relatif akan berhasil dengan baik.
Pada pengelolaan lingkungan, termasuk di kota baru, seringkali egosektoral dalam pengelolaan lingkungan sangat kental terjadi terutama antara dinas-dinas di
kabupaten atau kota yang berkepentingan. Kondisi ini seringkali mengakibatkan
gagalnya pengelolaan lingkungan di satu wilayah. Selain adanya egosektoral, hal yang juga tidak kalah pentingnya adalah konsistensi penegakan hukum. Ada indikasi bahwa
Leverage of Attributes 4.02 1.45 1.51 4.24 3.61 4.82 4.68 4.48 0 1 2 3 4 5 6
Intensitas pelanggaran hukum Keberadaan peraturan pengelolaan SDA Kelengkapan dokumen pengelolaan lingkungan Organisasi pengelola lingkungan Sinkronisasi peraturan dgn pusat Kompetensi pengelola kota baru Egosektoral dalam pengelolaan lingkungan
Konsistensi penegakan hukum
Attribute
Root mean square Change % in Ordination when Selected Attribute Removed (on Status scale 0 to 100)
penegakan hukum di Indonesia belum berjalan dengan baik, sehingga kondisi ini mengakibatkan tidak menariknya masyarakat atau perusahaan untuk berpartisipasi melakukan pengelolaan lingkungan. Untuk itu maka hal ini harus menjadi perhatian yang cukup serius bukan hanya di lokasi penelitian namun untuk Indonesia secara keseluruhan.
Atribut sensitif yang harus diperhatikan agar dimensi hukum dan kelembagaan berlanjut dengan baik atau bahkan sangat baik adalah tersedianya organisasi pengelola lingkungan. Adanya kelembagaan ini secara tidak langsung juga akan membangun “wadah” jaringan kerjasama antara stakeholders yang berfungsi sebagai jaringan kerjasama dan koordinasi. Pihak yang membentuk wadah tersebut dapat terdiri dari beberapa unit seperti masyarakat, pengembang, pemerintah dan instansi terkait. Adapun prinsip organisasi tersebut adalah pelibatan stakeholders yang peduli dan berkepentingan terhadap kegiatan pengelolaan lingkungan kawasan, danketerlibatan stakeholder akan lebih bersifat terbuka, berdasarkan kesetaraan dan partisipasi, mekanisme negosiasi yang saling menguntungkan, berkeadilan, keputusan berdasarkan prinsip demokrasi.
Atribut sensitif yang harus diperhatikan agar dimensi hukum dan kelembagaan berlanjut dengan baik adalah masih tingginya intensitas pelanggaran hukum. Hal ini terjadi karena kompetensi pengelola kawasan kota baru, para penegak hukum serta pihak eksekutif dan legislatif yang relatif belum mempunyai kompetensi yang baik dalam melakukan pengelolaan lingkungan. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan relatif kurang dapat membedakan mana yang betul-betul benar dan mana yang sesungguhnya salah/keliru/kurang pas.
Atribut sensitif yang harus diperhatikan agar dimensi hukum dan kelembagaan berlanjut dengan baik adalah sinkronisasi peraturan dengan pusat. Dalam hal ini seringkali tata tertib dalam masyarakat dan di kawasan kotabaru dapat saja tidak sinkron, sehingga akan membuat kebingungan masyarakat bawah yang pada akhirnya berujung pada gagalnya pengelolaan lingkungan di kawasan kota baru.
5.2.6. Multidimensi
Hasil analisis Rap-KOBA multidimensi pengelolaan lingkungan kota baru yang keberlanjutan dilakukan berdasarkan kondisi eksisting, diperoleh nilai indeks keberlanjutan sebesar 46,75 % dan termasuk dalam status kurang berkelanjutan. Nilai
ini diperoleh berdasarkan penilaian 45 atribut dari lima dimensi keberlanjutan yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial-budaya, dan infrastruktur dan teknologi, serta hukum
dan kelembagaan. Hasil analisis multidimensi dengan Rap-KOBA mengenai
pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD memperlihatkan bahwa diantara kelima dimensi tersebut, dimensi yang mempunyai indeks keberlanjutan paling tinggi adalah dimensi hukum dan kelembagaan, diikuti dimensi ekonomi dan infrastruktur dan teknologi yang keduanya masuk pada kategori berkelanjutan. Hasil analisis memperlihatkan bahwa dimensi hukum dan kelembagaan, dimensi ekonomi dan infrastruktur serta dimensi teknologi dan ketiga dimensi tersebut masuk pada kategori cukup berkelanjutan. Namun dimensi ekologi masuk pada kategori belum berlanjut, serta dimensi sosial budaya masuk pada kategori buruk
Atribut-atribut yang sensitif memberikan kontribusi terhadap nilai indeks keberlanjutan multidimensi berdasarkan hasil analisis laverage masing-masing dimensi sebanyak 22 atribut. Atribut-atribut ini perlu dilakukan perbaikan ke depan untuk meningkatkan status keberlanjutan pengelolaan lingkungan di Kota Baru BSD. Perbaikan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas atribut yang mempunyai dampak positif terhadap peningkatan nilai indeks keberlanjutan dan menekan sekecil mungkin atribut yang berpeluang menimbulkan dampak negatif atau menurunkan nilai indeks keberlanjutan kawasan.
Hasil analisis dengan menggunakan Rap-KOBA (MDS) diperoleh nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi sebesar 42,22 % dengan status kurang berkelanjutan, dimensi ekonomi sebesar 53,17 % dengan status cukup berkelanjutan, dimensi sosial-budaya sebesar 26,49 % dengan status tidak berkelanjutan, dimensi infrastruktur dan teknologi sebesar 52,20 % dengan status cukup berkelanjutan, dan dimensi hukum dan kelembagaan sebesar 59,95 % dengan status cukup berkelanjutan. Atribut-atribut yang dinilai oleh para pakar tersebut didasarkan pada kondisi eksisting wilayah. Adapun nilai indeks lima dimensi keberlanjutan hasil analisis Rap-KOBA dapat dilihat pada Gambar 24.
Pada konsep pembangunan berkelanjutan harus mengintegrasikan setidaknya aspek ekologi, ekonomi, dan sosial. Konsep ini pada dasarnya telah disepakati secara global sejak diselenggarakannya United Nation Conference on The Human Environment di Stockholm tahun 1972, dengan harapan agar dapat memenuhi kebutuhan generasi
sekarang tanpa mengorbankan generasi yang akan datang untuk dapat memenuhi
kebutuhannya (WCED, 1987). Selain hal tersebut menurut Komisi Burtland,
pembangunan berkelanjutan bukanlah kondisi yang kaku mengenai keselarasan, tetapi lebih merupakan suatu proses perubahan agar eksploitasi sumberdaya, arah investasi, orientasi perkembangan teknologi, dan perubahan institusi dibuat konsisten dengan masa depan seperti halnya kebutuhan saat ini. Kaitan pernyataan tersebut di atas dengan nilai keberlanjutan pada setiap dimensi pada penelitian ini, bahwa semua nilai indeks keberlanjutan dari setiap dimensi tersebut tidak harus memiliki nilai yang sama besar.
Gambar 24. Indeks keberlanjutan multidimensi permukiman Kota Baru BSD Hal ini disebabkan kawasan Kota Baru BSD memiliki masalah yang berbeda-beda, sehingga prioritas dimensi apa yang lebih dominan untuk menjadi perhatian pun juga akan berbeda. Pada prinsipnya nilai indeks keberlanjutan gabungan dari kelima dimensi yang dilihat di sini masih berada pada kategori kurang berlanjut. Oleh karena itu maka dalam rangka meningkatkan keberlanjutan pada setiap dimensi harus benar-benar memperhatikan atribut-atribut sensitif terutama pada dimensi ekologi dan sosial budaya. Namun demikian pada dimensi lainnya pun tetap harus ditingkatkan status keberlanjutannya, dengan cara memperhatikan atribut-atribut sensitif yang dapat meningkatkan status keberlanjutan dari semua dimensi pada Rap-KOBA tersebut.
46,75 % RAPPERUMTES Ordination Down Up Bad Good -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120
Status Permukiman Multidimensi 46,75 %
Gambar 25. Diagram layang (kite diagram) nilai indeks keberlanjutan Kota Baru BSD
Hasil analisis Monte Carlo menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD pada taraf kepercayaan 95 %, memperlihatkan hasil yang tidak banyak mengalami perbedaan dengan hasil analisis Rap-KOBA (multidimensional scaling). Hal ini mengandung arti bahwa kesalahan dalam analisis dapat diperkecil baik dalam hal pemberian skoring setiap atribut, variasi pemberian skoring akibat terjadinya perbedaan opini relatif kecil, dan proses analisis data yang dilakukan secara berulang-ulang stabil, serta kesalahan dalam menginput data dan data hilang dapat dihindari. Perbedaan nilai indeks keberlanjutan analisis MDS dan Monte Carlo seperti pada Tabel 12.
Hasil analisis Rap-KOBA tersebut di atas, juga menunjukkan bahwa semua atribut yang dikaji terhadap status keberlanjutan pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD, cukup akurat, sehingga memberikan hasil analisis yang semakin baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini terbukti dari nilai stress yang hanya antara 13 sampai 14 % dan nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh antara 0,94 dan 0,97. Hal ini sesuai dengan pendapat Fisheries (1999), yang menyatakan bahwa hasil analisis cukup memadai apabila nilai stress lebih kecil dari ketetapan yang ada, yakni nilai 0,25 (25 %).
(42,22 %) (53,17%) (26,49 %) (52,20 %) (59,95 %) 200 40 60 80 100Ekologi Ekonomi
Sosial dan Budaya Infrastruktur dan Teknologi
Hukum dan Kelembagaan
(42,22 %)
(59,95 %)
(52,20 %) (26,49 %)
Tabel 12. Perbedaan nilai indeks keberlanjutan analisis Monte Carlo dengan analisis Rap-KOBA
Dimensi Keberlanjutan Nilai Indeks Keberlanjutan (%) Perbedaan
MDS Monte Carlo
Ekologi 42,22 42,29 0,07
Ekonomi 43,71 43,24 0,47
Sosial-Budaya 26,49 27,02 0,53
Infrastruktur dan Teknologi 52,20 46,46 5,74
Hukum dan Kelembagan 59,95 58,23 1,72
Multi-Dimensi 46,69 45,05 1,64
Nilai koefisien determinasi (R2) yang dihasilkan dari penelitian ini mendekati nilai 1,0. Berdasarkan kesepakatan terhadap nilai koefisien determinasi bahwa kualitas hasil analisis dikatakan semakin baik jika nilai koefisien determinasi semakin besar (mendekati 1). Hal ini memperlihatkan bahwa kualitas hasil analisis berdasarkan nilai R2-nya semakin baik. Dengan demikian berdasarkan dua parameter (nilai “stress” dan
R2) tersebut menunjukkan bahwa seluruh atribut yang digunakan pada analisis
keberlanjutan pengelolaan lingkungan kota baru di kawasan Kota Baru BSD, Kabupaten Tangerang Selatan masuk pada kategori yang relatif baik dalam menerangkan kelima dimensi pembangunan yang dianalisis. Adapun nilai stress dan koefisien determinasi seperti Tabel 13.
Tabel 13. Hasil analisis Rap-KOBA untuk nilai stress dan koefisien determinasi (R2)
Parameter Dimensi keberlanjutan
A B C D E F
Stress 0,14 0,13 0,13 0,14 0,13 0,13
R2 0,94 0,96 0,97 0,94 0,97 0,94
Iterasi 3 3 3 3 3 3
Keterangan : A = Dimensi Ekologi, B = Dimensi Ekonomi, C = Dimensi Sosial-Budaya, D = Dimensi Infrastruktur-Teknologi, E = Dimensi Hukum-Kelembagaan, dan F = Multidimensi
Pada penelitian ini selanjutnya dilakukan pengujian terhadap tingkat kepercayaan nilai indeks multidimensi serta pada setiap dimensi yang digunakan, dengan analisis Monte Carlo. Adapun yang dimaksud dengan analisis Monte Carlo
adalah analisis berbasis komputer yang dikembangkan pada tahun 1994 dengan menggunakan teknik random number dan didasarkan pada teori statistika, sehingga dari sini akan didapatkan dugaan peluang suatu solusi persamaan atau model matematis (EPA 1997). Pada penelitian ini penggunaan analisis Montecarlo dimaksudkan untuk melihat pengaruh kesalahan pembuatan skor pada setiap atribut pada setiap dimensi yang digunakan pada penelitian ini, terutama untuk melihat pengaruh kesalahan yang disebabkan oleh kesalahan prosedur atau pemahaman terhadap atribut, variasi pemberian skor karena perbedaan opini atau penilaian oleh peneliti yang berbeda, stabilitas proses analisis MDS, kesalahan memasukkan data atau ada data yang hilang (missing data), dan nilai “stress” yang terlalu tinggi. Adanya analisis Montecarlo ini, harapannya agar hasil akhir analisis keberlanjutan ini dapat mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi (Kanvanagh, 2001 serta Fauzi dan Anna, 2002).
Berdasarkan hasil analisis Monte Carlo (Tabel 14) terlihat bahwa nilai status indeks keberlanjutan pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD ada pada selang kepercayaan 95% dengan hasil antara analisis MDS dengan analisis Monte Carlo yang hampir mirip. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kesalahan dalam pembuatan skor setiap atribut dapat dikatakan relatif kecil; variasi pemberian skor akibat perbedaan opini juga relatif kecil. Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa proses analisis yang dilakukan pada penelitian ini mempunyai ulangan yang cukup dan relatif stabil pada setiap ulangan; serta dapat dikatakan terhindar dari kesalahan pemasukan data dan data yang hilang (Kanvanagh, 2001).
Tabel 14. Hasil analisis Monte Carlo pada selang kepercayaan 95%.
Status Indeks MDSHasil analisisMonte Carlo Perbedaan
Multidimensi 36,86 36,43 0,43 Ekologi 36,14 36,44 0,30 Ekonomi 53,18 52,74 0,44 Sosial-Budaya 40,42 41,38 0,96 Infrastruktur dan Teknologi 23,17 24,04 0,87 Hukum dan Kelembagaan 26,07 27.10 1,03
Perbedaan yang relatif kecil ini juga memperlihatkan bahwa hasil analisis keberlanjutan pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD dengan menggunakan metode
MDS memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi (Pitcher, 1999). Oleh karena itu maka hasil analisis ini dapat direkomendasikan untuk dijadikan salah satu alat evaluasi dalam menilai secara cepat (rapid appraisal) keberlanjutan dari sistem pengelolaan lingkungan kota baru di suatu wilayah/daerah.
5.2.7. Faktor Kunci Pengelolaan Kawasan
Pada proses pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD ini, semua atribut sensitive yang merupakan faktor pengungkit ini harus diperhatikan dengan seksama dan harus dilakukan berbagai upaya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan faktor pengungkit tersebut, sehingga status keberlanjutan dari setiap dimensi dapat ditingkatkan dan pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD menjadi berkelanjutan. Dalam arti dalam melakukan pembangunan kota baru ini secara ekonomi akan sangat menguntungkan, secara ekologi akan membuat lingkungan kawasan kota baru menjadi lestari, namun tetap berkeadilan dan memberikan kemakmuran dan tidak terdapat konflik pada masyarakat yang ada di dalamnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Munasinghe (1993) bahwa dalam pembangunan berkelanjutan, paling tidak harus menjabarkan konsep pembangunan berkelanjutan yakni secara ekonomi harus menguntungkan, berkeadilan,
namun tidak mengakibatkan rusaknya lingkungan. Untuk lebih jelasnya faktor
pengungkit setiap dimensi pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD dapat dilihat pada Tabel 15.
Secara operasional, seluruh faktor pengungkit tersebut memiliki keterkaitan dalam bentuk pengaruh dan ketergantungan antar faktor. Hal ini perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD secara berkelanjutan. Namun mengingat cukup banyak faktor pengungkit yang didapat, dan pasti ada yang lebih dominan yang akan menentukan keberlanjutan pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD, maka pada penelitian ini dilakukan analisis lanjutan dalam rangka menentukan faktor dominan penentu keberlanjutan pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD dengan menggunakan analisis prospektif. Untuk selanjutnya faktor dominan yang dihasilkan dari analisis prospektif tersebut digunakan sebagai basis dalam perumusan prioritas kebijakan dalam pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD.
Tabel 15 Faktor pengungkit setiap dimensi pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD
Dimensi Faktor pengungkit
Ekologi 1. ketersediaan air bersih
2. manajemen banjir/bencana 3. permasalahan transportasi 4. pencemaran udara/emisi
5. ketersediaan pengolah limbah cair
Ekonomi 6. keberadaan kawasan bisnis
7. tingkat pengangguran
8. keberadaan kawasan industri 9. keberadaan pertokoan kawasan
Sosial-budaya
10. pengaruh keberadaan BSD pada nilai sosial budaya lokal 11. keragaman budaya dalam masyarakat
12. konflik dengan masyarakat lokal Infrastruktur
dan Teknologi
13. ketersediaan sarana dan prasarana pengolahan limbah domestik cair
14. ketersediaan sarana dan prasarana pengolahan limbah industri cair
15. ketersediaan sarana dan prasarana jalan yang efektif dan efisien 16. ketersediaan sarana dan prasarana komuter
Hukum dan Kelembagaan
17. kompetensi pengelola kawasan kota baru 18. egosektoral dalam pengelolaan lingkungan 19. konsistensi penegakan hukum
20. tersedianya organisasi pengelola lingkungan 21. intensitas pelanggaran hukum
22. sinkronisasi peraturan dengan pusat
Pada penelitian ini penentuan faktor dominan didasarkan pada faktor pengungkit yang mempunyai pengaruh besar, namun tingkat ketergantungannya rendah. Hasil analisis prospektif yang dilakukan pada penelitian ini, diperoleh lima faktor kunci (faktor penentu) keberhasilan pengelolaan pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD yaitu faktor-faktor yang mempunyai pengaruh yang besar dengan tingkat ketergantungan yang kecil (Bourgeois dan Jesus, 2004). Adapun faktor-faktor kunci tersebut adalah (1) pencemaran udara/emisi, (2) ketersediaan pengolah limbah cair, (3) ketersediaan sarana dan prasarana komuter, (4) tersedianya organisasi pengelola
lingkungan, dan (5) ketersediaan sarana dan prasarana jalan yang efektif dan efisien. Untuk lebih jelasnya hasil analisis prospektif ini dapat dilihat pada Gambar 26. Mengingat ke lima faktor tersebut di atas merupakan faktor kunci keberhasilan pengelolaan lingkungan Kota Baru BSD, maka faktor-faktor tersebut perlu sangat diperhatikan dan ditindaklanjuti, seperti pada uraian di bawah ini.
Pencemaran Udara/Emisi
Kota metropolitan DKI Jakarta dengan kota satelitnya, seperti Kota Baru BSD merupakan kota-kota yang melaksanakan pembangunan ekonomi cukup pesat. Di lain pihak peningkatan pembangunan ekonomi tersebut selalu diikuti dengan meningkatnya kegiatan industri dan meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor. Peningkatan kedua hal tersebut, umumnya tidak hanya memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, namun juga menyebabkan menurunnya kualitas udara terutama di wilayah perkotaan, termasuk di dalamnya di Kota Baru BSD. Menurunnya kualitas udara wilayah perkotaan dari sektor transportasi dan industri ini, disebabkan tingginya pembakaran bahan bakar fosil (BBF). Bahkan menurut Lvovsky et al. (2000), dari sektor transportasi saja di wilayah kota baru dapat terjadi peningkatan penggunaan BBF hingga 53 persen. Tingginya penggunaan bahan bakar fosil (BBF) tersebut menyebabkan kontribusi sektor transportasi terhadap turunnya kualitas udara di berbagai kota besar di dunia yang rata-rata mencapai 70 persen atau lebih (Tietenberg , 2003).
Selain adanya peningkatan transportasi yang signifikan dari kegiatan di kota, di kota metropolitas dan kota satelitnya seringkali untuk mempercepat terjadinya pertumbuhan ekonomi, maka aktivitas industri atau aktivitas ekonomi lainnya juga semakin meningkat. Bahkan bukan hanya itu kawasan perkotaan (dan daerah manapun) pada umumnya selalu berupaya untuk mencari investor yang akan berinvestasi di bidang industri. Namun kenyataannya karena sarana dan prasarana di perkotaan cukup mendukung, maka kegiatan industri dan kegiatan ekonomi lainnya lebih terpusat di kota-kota besar dan kota satelitnya. Di lain pihak dampak dari terkonsentrasinya pembangunan ekonomi dan industri di perkotaan ini adalah tingginya arus urbanisasi. Tingginya urbanisasi di perkotaan juga seringkali tidak diimbangi dengan penyediaan sarana transportasi umum yang memadai menyebabkan meningkatnya penggunaan kendaraan yang berdampak pada meningkatnya kemacetan dan degradasi kualitas udara
(Panyacosit, 2000). Oleh karenanya maka kegiatan ekonomi dan industri yang terdapat di wilayah perkotaan dan kota satelitnya seperti Kota Baru BSD seringkali menanggung masalah tingginya pencemaran udara dan emisi gas rumah kaca (GRK).
Adapun jenis polutan yang diemisikan oleh kendaraan bermotor dan industri akibar dari pembakaran BBM sangat bergantung pada kondisi mesin industri, kondisi kendaraan dan kualitas bahan bakar yang digunakannya. Mesin yang menggunakan bahan bakar bensin sebagian berkontribusi terhadap gas buang Karbon monoksida (CO), Nitrogen oksida (NOx), dan Hidrokarbon (HC) serta logam berat timbal (Pb), sedangkan
mesin yang menggunakan bahan bakar solar mengemisikan debu/partikulat dan Sulfur dioksida (SO2) (Volesky, 1990). Dampak terparah dari menurunnya kualitas udara
adalah pada kesehatan masyarakat, baik secara sosial maupun ekonomi (Ostro, 1994; Small dan Kazimi, 1995; Lvovsky et al., 2000). Mengingat tingginya pembakaran BBF akibat tingginya kegiatan transportasi dan industri serta telah memberi dampak negatif pada lingkungan dan dampak negatif pada aspek sosial, terutama kesehatan, maka pencemaran udara dari emisi mesin kendaraan bermotor dan industri tersebut harus ditanggulangi sebaik mungkin baik maupun oleh pemerintah Kota Metropolitan DKI Jakarta, oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Tanggerang Selatan dan pengelola Kota Baru BSD maupun secara nasional, dengan berbagai kebijakan yang bertujuan untuk pengendalian pencemaran.
Ketersediaan Pengolah Limbah Cair.
Air merupakan sumber kehidupan sehingga tidak akan ada kehidupan yang tidak membutuhkan air. Namun seiring dengan laju pembangunan yang sangat pesat yang menghasilkan limbah cair dan di dalamnya terdapat berbagai bahan pencemar, telah mengakibatkan langkanya sumberdaya air yang kualitasnya baik. Idealnya bahwa walaupun air ada dalam jumlah yang tetap, namun kualitasnya telah menurun, sehingga terjadinya kelangkaan air yang sudah jadi masalah yang cukup serius. Di sisi lain, rendahnya kualitas air ini dapat membawa dampak negatif baik pada biota yang hidup di dalamnya, maupun untuk manusia yang mengkonsumsi biota tersebut.
Salah satu penyebab terjadinya penurunan kualitas air tersebut disebabkan oleh adanya limbah cair yang dihasilkan dari berbagai kegiatan antropogenik seperti dari kawasan permukiman, kegiatan perkotaan, industri, rumah sakit, rumah makan yang
umumnya tidak melakukan pengolahan terlebih dahulu, namun langsung membuangnya ke badan air seperti ke sungai. Oleh karena itu maka kualitas badan air seperti sungai, situ, kolam dan lain sebagainya di kota-kota besar berada jauh di bawah persyaratan yang diijinkan, yang dapat dilihat secara kasat mata berupa perubahan warna, tingkat kekeruhan air dan dari baunya, serta seringkali setelah dibuktikan di laboratorium, kualitas berbagai parameter kualitas air, menjadi buruk (di luar ambang batas yang sudah ditentukan) yang dikenal dengan istilah pencemaran.
Pencemaran air terjadi sebagai akibat adanya dampak negatif karena masuknya zat pencemar ke dalam suatu perairan, sehingga berpengaruh terhadap kehidupan biota, sumberdaya dan ekosistem peairan serta kesehatan manusia yang hidup di sekitar perairan tersebut (Sutamiharja 1978). Selanjutnya Sutamiharja (1978) menyatakan bahwa bahan pencemar atau zat pencemar menurut sumbernya terbagi menjadi dua yaitu yang berasal dari alam dan yang berasal dari kegiatan manusia. Pencemaran yang diakibatkan oleh kegiatan manusia diantaranya adalah pemanfaatan sumberdaya alam pada proses pertambangan, perindustrian dan pertanian. Dalam rangka mengetahui apakah suatu badan air sudah tercemar atau belum dan bagaimana tingkat pencemarannya, perlu diuji sifat-sifat air, dan disesuaikan dengan baku mutu air sesuai dengan kriterianya yang umumnya dilakukan baik secara langsung dilakukan pengukuran di lapangan maupun dengan cara terlebih dahulu dibawa ke laboratorium.
Di daerah perkotaan, tercemarnya sumberdaya air ini umumnya terjadi sebagai akibat adanya aktivitas pemenuhan kebutuhan manusia. Hal ini terjadi karena seringkali manusia hanya berorientasi pada proses produksi dan konsumsi saja. Dalam hal ini setelah selesai memproduksi atau mengkonsumsi suatu barang, pada umumnya manusia tidak peduli lagi dengan limbah yang dihasilkan dari aktivitas tersebut. Terjadinya pencemaran badan air di perkotaan ini umumnya terjadi karena manusia seringkali membuang limbahnya secara langsung ke dalam saluran air atau kalaupun mengalami pengolahan, maka pengolahan yang dilakukan umumnya hanya bersifat alakadarnya. Air tercemar ini selanjutnya akan mengalir ke dalam parit, untuk kemudian terbawa masuk ke dalam badan air (sungai maupun danau). Bahkan apabila turun hujan, bahan pencemar ini akan terbawa hingga ke laut.
Limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan antropogenik yang langsung dibuang ke dalam badan air tersebut seringkali mengakibatkan menjadi sangat tercemarnya