• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Daun murbei

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Daun murbei"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

42 TINJAUAN PUSTAKA

Murbei (Morus sp.)

Murbei termasuk genus Morus dari famili Moraceae. Berdasarkan morfologi bunga genus Morus dipilah-pilah menjadi 24 jenis yang kemudian ditambah dengan lima jenis lagi. Menurut Sunanto (1997) murbei berasal dari Cina yang mempunyai klasifikasi sebagai berikut :

Divisio : Spermatophyta Sub-divisio : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Urticalis Famili : Moreceae Genus : Morus Spesies : Morus sp

Tanaman murbei merupakan spesies yang tahan pangkasan dan mudah bertunas kembali sehingga dapat ditanam bersamaan dengan tanaman lain sebagai tanaman pagar, tanaman penguat teras ataupun tanaman tumpang sari. Di daerah tropik murbei dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi (Sutarno dan Atmowidjojo, 2000). Tanaman ini dapat tumbuh pada lokasi dengan variasi suhu, pH tanah, dan ketinggian dari permukaan laut yang sangat besar. Oleh karena itu, tanaman ini mudah dikembangkan untuk kebutuhan lain, seperti sebagai sumber pakan ternak. Tanaman murbei juga sangat baik digunakan untuk mencegah erosi. Suhu rata-rata untuk tanaman murbei berkisar antara 21 °C – 25 °C (Atmosoedarjo et al., 2000), dengan kelembaban udara rata-rata 60% - 90%, curah hujan rata-rata tahunan 2000 mm – 3000 mm dan intensitas penyinaran matahari penuh (Samsijah dan Andadari, 1992). Bentuk daun tanaman murbei dapat dilihat pada Gambar 1.

(2)

43 Tanaman murbei berbentuk perdu atau pohon yang tingginya sampai 10 m. Tanaman murbei mempunyai kulit batang abu-abu, percabangan banyak, dan yang muda berbulu halus. Daun murbei berbentuk bundar telur-lonjong, berselang-seling, mudah gugur, pangkal berbentuk jantung, permukaan daunnya gundul atau berbulu pada tulang daun, dan tepi bergigi. Dalam satu pohon terdapat bunga jantan, betina dan bunga sempurna yang terpisah, perbungaan bulir dan keluar di ketiak daun cabang pendek (Sutarno dan Atmowidjojo, 2000).

Katsumata (1964) menjelaskan bahwa di Indonesia dikenal beberapa spesies murbei yang potensial untuk pakan ulat sutera atau sumber bahan baku pakan ayam, antara lain Morus cathayana, Morus multicaulis, Morus nigra, Morus australis, dan Morus alba. Komposisi nutrien dari lima jenis daun murbei dapat dilihat pada Tabel 1. Daun murbei memiliki palatabilitas yang cukup tinggi, dapat digunakan sebagai pakan hewan herbivora dan monogastrik serta bahan obat-obatan, selain itu daun murbei tidak teridentifikasi adanya kandungan senyawa antinutrisi.

Tabel 1. Komposisi Nutrien Lima Jenis Daun Murbei Komposisi Nutrien Jenis Murbei Morus Alba Morus Nigra Morus multicaulis Morus cathayana Morus australis Air (%) 84,28 83,17 77,11 79,55 83,89 Protein Kasar (%) 20,15 20,06 15,51 18,53 19,44 Serat Kasar (%) 13,27 16,19 12,55 12,89 12,82 Lemak Kasar (%) 3,62 3,63 3,64 3,69 4,10 Abu (%) 10,58 10,77 14,46 14,84 10,63 Karbohidrat (%) 39,20 35,94 42,84 38,43 41,80 Kalsium (%) 2,79 3,02 10,97 11,62 2,43 Fosfor (%) 0,44 0,31 0,30 0,36 0,45 Sumber : Samsijah (1992)

Potensi produksi daun murbei mencapai 22 ton BK/ha/tahun. Potensi produksi tersebut lebih tinggi dibanding dengan leguminosa lain seperti gamal (Gliricidia sepium) dengan potensi produksi sebesar 7-9 ton BK/ha/tahun (Horne et al., 1994) dan lamtoro mini (Desmanthus virgatus) dengan potensi produksi sebesar 7-8 ton BK/ha/tahun (Suyadi et al., 1989). Luas areal tanaman murbei di Indonesia pada tahun 2004 mencapai 9.492,45 Ha (Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, 2005). Luasan tersebut dapat memproduksi daun murbei sebanyak 208.833,9

(3)

44 ton BK/tahun. Meskipun produksi daun murbei cukup tinggi, fokus pemanfaatan tanaman ini hanya untuk pakan ulat sutera.

Kandungan protein kasar daun murbei sebesar 20,4% (Machii et al. 2000), merupakan salah satu indikator kualitas daun murbei yang baik. Boschini (2002) menyatakan bahwa kandungan protein kasar daun murbei (22-23%) lebih tinggi dibandingkan hijauan lainnya seperti rumput raja (8,2%), star grass (8,9%), alfalfa (17%), rumput gajah (9%). Sedangkan bila dibandingkan dengan legum Leucaena yang mengandung protein kasar sebesar 21,5% (Yulistiani, 2008) maka jika dilihat dari kadar protein, murbei dapat digunakan sebagai pengganti legum. Pada daun murbei juga teridentifikasi adanya kandungan asam askorbat, karoten, vitamin B1, asam folat, provitamin D, mineral Mg, P, K, Ca, Al, Fe dan Si. Protein daun murbei meliputi globulin, prolamin, dan albumin, sedangkan asam-asam aminonya meliputi alanin, valin, leusin, lisin, asam aspartat, glisin, arginin, asam glutamat, fenilalanin, prolin, oksiprolin, tirosin, sistein, serta sistin (Katsumata, 1975).

Ekastuti (1996) menyatakan bahwa kandungan mineral antara Morus alba, Morus cathayana, dan Morus multicaulis tidak jauh berbeda seperti yang terlihat pada Tabel 2. Umumnya kandungan kalsium daun muda lebih rendah daripada daun tua, sedangkan kandungan pospor daun muda relatif lebih besar daripada daun tua. Kandungan asam amino pada daun tua dan muda mirip dengan jumlah glutamat, aspartat, leusin, dan treonin terbanyak.

Tabel 2. Perbandingan Komposisi Nutrien Daun Murbei Muda dan Tua Jenis Daun Kadar Air

(%) PK (%) LK (%) SK (%) BETN (%) Abu (%) Energi (kal/g) Morus alba  Daun muda  Daun tua 69,89 69,50 22,59 22,10 4,10 6,09 10,21 10,57 53,26 46,81 9,83 14,43 4522 4241 Morus cathayana  Daun muda  Daun tua 73,69 70,78 19,09 16,39 3,71 5,46 8,45 16,80 59,53 47,61 9,22 14,08 4408 4248 Morus multicaulis  Daun muda  Daun tua 74,64 75,13 21,99 19,66 3,70 5,09 12,56 16,86 51,85 44,32 9,9 14,05 4519 3541 Sumber : Ekastuti (1996)

Ket : PK = Protein Kasar, LK = Lemak Kasar, SK =Serat Kasar, BETN = Bahan Ekstrak Tanpa N. Kecuali kadar air semua variabel dinyatakan dalam bahan kering

(4)

45 Hock dan Elstner (2005) menyatakan bahwa daun murbei mengandung senyawa aktif yang dapat menghambat aktivitas α-glukosidase dalam usus halus secara kompetitif sehingga pemecahan ikatan glikosida substrat (karbohidrat) menjadi monosakarida lebih lambat, senyawa aktif tersebut adalah deoxynojirimycins (DNJ). Senyawa deoxynojirimycins (DNJ) merupakan kumpulan stereokimia dari monosakarida yang memiliki potensi menghambat ceramid glukosyltransferase dan (α, β) glukosidase secara spesifik (Mellor, 2002). Senyawa ini ditemukan terdapat pada tanaman murbei sebanyak 0,24% (Oku et al., 2006) dan diketahui dapat menekan kadar glukosa darah, sehingga dapat mencegah diabetes (Kimura et al., 2004). Senyawa DNJ bekerja secara spesifik dalam menghambat proses glikogenesis, dalam memecah oligosakarida (Gross et al., 1983). Kemudian Breitmeier (1997) menambahkan bahwa senyawa DNJ mampu menghambat hidrolisis oligosakarida menjadi monomer-monomernya.

Jerami Padi

Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak ruminansia, cukup tersedia dan diduga akan selalu meningkat ketersediaannya. Hal ini memungkinkan, sehubungan dengan kemajuan teknologi pertanian yang memberikan kesempatan pada petani untuk menanam padi sepanjang tahun sehingga produksi padi meningkat, selaras dengan itu produksi jerami padi juga meningkat. Data produksi jerami padi di Indonesia menunjukkan potensi cukup besar yaitu 60.135.501 ton bahan kering (BPS, 2004). Penggunaan jerami padi sebagai pakan mempunyai keterbatasan karena nilai protein dan nilai cernanya rendah, selain itu juga kurang palatabel. Menurut Sutardi (1980), jerami padi sebagai makanan ternak hanya berperan sebagai bulk dan menggantikan tidak lebih dari 25% kebutuhan ternak akan rumput.

Jerami padi mempunyai nilai nutrisi yang rendah karena daya cernanya hanya sekitar 35-40 % dengan nilai kecernaan bahan kering (KCBK) 20,97% dan kecernaan bahan organik (KCBO) 20,1% (Selly, 1994). Rendahnya kecernaan bahan kering jerami padi disebabkan oleh tingginya kadar serat kasar seperti terlihat pada Tabel 3. Selain itu, jerami padi juga mengandung silika yang tinggi dimana terikat dengan gugus organik. Pertambahan satu persen silika dalam pakan hijauan akan

(5)

46 menurunkan KCBO sebanyak satu persen dan KCBK sebanyak empat persen (Cherney, 2000).

Tabel 3. Komposisi Nutrien Jerami Padi

Komponen Selly (1994) Doyle et al.

(1986) Laconi (1992) Bahan kering (%) 89,41 100 100 Bahan organik (%) 78,96 - 78,27 Abu (%) - - 21,73 Serat kasar (%) - 28,79 30,80 Lignin (%) 3,35 4-8 3,53 Hemiselulosa (%) - 21-29 - Selulosa (%) - 35-49 - Silika (%) 18,32 - 18,32 Protein kasar (%) 7,72 2,2-9,5 6,63

Menurut Suminar (2005) jerami padi dalam keadaan segar relatif lebih hijau, mempunyai kadar air, palatabilitas dan kecernaan lebih tinggi dibandingkan dengan yang sudah kering dan bertumpuk. Upaya peningkatan nilai pakan jerami padi sebagai pakan ternak antara lain dengan penambahan pakan konsentrat, penambahan sumber protein yang berupa tanaman leguminosa dan atau dengan perlakuan biologis, fisik maupun kimia (Musofie et al., 1982 dan Musofie, 1984). Daryanti et al. (2002) melaporkan, penggemukan sapi peranakan ongole yang memperoleh ransum dasar jerami padi teramoniasi dengan tambahan konsentrat 4 kg/ekor/hari, menghasilkan pertambahan bobot badan ternak sebesar 717 g/ekor/hari.

Sapi Peranakan Ongole (PO)

Sapi peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu bangsa sapi yang banyak dipelihara peternak kecil di pulau Jawa. Sapi ini berasal dari persilangan antara bangsa sapi Jawa maupun Madura (sapi lokal) dengan bangsa sapi Ongole (India). Postur tubuh maupun bobot tubuh sapi Peranakan Ongole lebih kecil dibandingkan sapi Ongole. Warna bulunya yang bervariasi tetapi pada umumnya berwarna putih atau putih keabu-abuan, mempunyai perawakan yang besar, bergumba pada punuknya dan mempunyai gelambir yang menjulur sepanjang garis bawah leher, dada sampai ke pusar (Siregar, 2006).

(6)

47 Tabel 4. Populasi Sapi Bali, Madura, Ongole, dan Peranakan Ongole

Jenis Sapi Jumlah (ekor) Persentase (%)

Bali 2.632.125 26,92

Madura 1.131.375 11,57

Ongole 260.094 2,66

Peranakan Ongole 773.165 8,17

Lainnya (asal import) 4.979.830 50,68

Sumber: Soeprapto (2006)

Sapi Peranakan Ongole termasuk tipe sapi pekerja yang baik, tenaganya kuat, tahan lapar dan haus, serta dapat menyesuaikan dengan pakan yang sederhana (Sosroamidjojo dan Soeradji, 1986). Berdasarkan hal tersebut maka sapi Peranakan Ongole sangat cocok untuk dikembangbiakan sebagai ternak pedaging lokal guna memenuhi kebutuhan daging di Indonesia.

Pertambahan bobot badan harian sangat tergantung dari jenis sapi. Untuk sapi Peranakan Ongole mempunyai pertambahan bobot badan harian sebesar 0,4-0,8 kg, sapi Bali sebesar 0,35-0,5 kg dan sapi Brahman sebesar 0,91-1,36 kg (Aziz, 1993). Data tersebut menunjukan bahwa sapi Peranakan Ongole mempunyai laju pertumbuhan yang cukup tinggi dibandingkan ternak sapi lokal lain. Gonzales et al. dalam Sanchez (2002) melaporkan hasil penelitiannya menggunakan sapi potong yang diberikan daun murbei 2,8 % dari BB dan dengan pakan basal rumput gajah menghasilkan pertambahan bobot badan harian sebesar 0,95 kg/ekor.

Konsumsi Pakan

Konsumsi adalah jumlah pakan yang dimakan oleh ternak atau sekelompok ternak selama periode tertentu dan ternak tersebut mempunyai akses bebas pada pakan dan tempat makan. Menurut Parakkasi (1999) konsumsi pakan merupakan faktor esensial untuk menentukan kebutuhan hidup pokok dan produksi. Dengan mengetahui tingkat konsumsi pakan maka dapat ditentukan jumlah zat makanan dalam ransum untuk memenuhi hidup pokok dan produksi.

Konsumsi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal, faktor eksternal dan lingkungan. Faktor internal berasal dari dalam ternak itu sendiri, faktor eksternal berasal dari pakan sedangkan faktor lingkungan berhubungan dengan

(7)

48 lingkungan sekitar dimana ternak tersebut hidup. Konsumsi pakan dipengaruhi oleh palatabilitas, sedangkan palatabilitas pakan tergantung pada bau, rasa, tekstur dan temperatur pakan yang diberikan (Church dan Pond, 1988). Parakkasi (1999) menyatakan bahwa konsumsi ditentukan oleh ; (1) berat atau besar badan, (2) jenis makanan (bahan makanan yang berdaya cerna tinggi), (3) umur dan kondisi ternak, (4) kadar energi dari bahan makanan, (5) stress dan (6) sex atau jenis kelamin.

Sapi yang sehat memerlukan sejumlah pakan yang cukup dan berkualitas, baik dari segi kondisi pakan maupun imbangan nutrisi yang dikandung. Menurut Akoso (1996) pakan yang diberikan kepada ternak harus mengandung unsur-unsur nutrien, yaitu air, karbohidrat, protein, lemak, mineral dan vitamin. Khusus pada sapi perlu adanya ketersediaan serat kasar yang cukup. Selanjutnya Oviedo dalam Sanchez (2002) melaporkan hasil penelitiannya, konsumsi pakan sapi perah yang ditambahkan daun murbei sebesar 1 % dari BB ke dalam pakannya yaitu 4,4 kg/ekor/hari.

Pertambahan Bobot Badan

Pertambahan bobot badan merupakan salah satu peubah yang dapat digunakan untuk menilai kualitas pakan ternak. Pertambahan bobot badan yang diperoleh dari percobaan pada ternak merupakan hasil zat-zat makanan yang dikonsumsi. Dari data pertambahan bobot badan akan dapat diketahui nilai suatu pakan bagi suatu ternak (Church dan Pond, 1988).

Menurut McDonald et al. (2002) pertumbuhan ternak ditandai dengan peningkatan ukuran, bobot, dan adanya perkembangan. Pengukuran bobot badan berguna untuk penentuan tingkat konsumsi, efisiensi pakan dan harga (Parakkasi, 1999). Laju pertumbuhan adalah rataan pertambahan bobot persatuan waktu. Laju pertumbuhan secara nyata dikaitkan dengan bertambahnya bobot hidup dan ukuran tubuh sebagai refleksi dari kecukupan konsumsi pakan untuk metabolisme tubuh. Pakan yang tidak cukup akan memperlambat pertambahan bobot hidup dan memperkecil efisiensi penggunaan ransum (Lebas et al., 1986). Benavides dalam Sanchez (2002) melaporkan hasil penelitiannya, pertambahan bobot badan harian domba yang diberikan daun murbei dengan level 0; 0,5; 1; 1,5 % dari BB berturut turut adalah 60, 75, 85, 101 gram/ekor.

(8)

49 Efisiensi Pakan

Efisiensi pakan adalah perbandingan antara pertambahan bobot badan yang dihasilkan dengan jumlah pakan yang dikonsumsi. Card and Nesheim (1972) menyatakan bahwa nilai efisiensi penggunaan pakan menunjukkan banyaknya pertambahan bobot badan yang dihasilkan dari satu kilogram pakan. Efisiensi pakan merupakan kebalikan dari konversi pakan, semakin tinggi nilai efisiensi pakan maka jumlah pakan yang diperlukan untuk menghasilkan satu kilogram daging semakin sedikit. Lemak dan energi dalam ransum dapat memperbaiki efisiensi pakan karena semakin tinggi kadar lemak dan energi dalam ransum menyebabkan ternak mengkonsumsi pakan lebih sedikit tetapi menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi.

Parakkasi (1999) menyatakan bahwa penambahan protein dalam ransum dapat meningkatkan pertambahan bobot badan sedangkan pertambahan serat kasar dalam ransum akan menurunkan bobot badan. Efisiensi pakan dapat ditingkatkan dengan menambahkan lemak pada ransum tetapi akan berakibat penurunan konsumsi pakan. Penambahan lemak dalam ransum dapat meningkatkan efisiensi karena lemak dalam ransum tersebut akan dideposisi dalam tubuh sehingga akan meningkatkan bobot badan. Dalam penelitian Liu et al. (1998) mendapatkan nilai efisiensi pakan sebesar 0,1 menggunakan ternak domba yang ditambahkan daun murbei 60 gram dan biji bunga matahari 75 gram dalam pakannya.

Nilai Ekonomi Pakan

Nilai ekonomi pakan perlakuan yang diukur adalah analisis pendapatan yang dihitung berdasarkan Income Over Feed Cost (IOFC). Analisis ekonomi sangat penting karena tujuan akhir beternak adalah untuk mencapai keuntungan. IOFC merupakan pendapatan dari hasil pemeliharaan setelah dikurangi biaya pakan selama proses pemeliharaan.

Analisis ekonomi sangat penting untuk memberikan bantuan dalam mengukur kinerja kegiatan usahanya apakah memberikan keuntungan yang memadai atau sebaliknya (Bambang, 1992). Ada dua faktor yang mempengaruhi atau yang memegang peranan penting dalam perhitungan IOFC :

1. Pertambahan bobot badan selama penelitian 2. Harga pakan

(9)

50 Pertambahan bobot badan yang tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan yang terbesar karena dipengaruhi juga oleh harga dan konsumsi pakan, sehingga sangat penting untuk mencari kesesuaian antara harga pakan dengan pertambahan bobot badan sehingga diperoleh pendapatan yang maksimal.

R-C ratio

Salah satu cara untuk menghitung nilai efisiensi usaha adalah dengan metode “Revenue Cost Ratio” (R-C ratio). Sebagai mana yang dikatakan oleh James dan Stoneberg (1974) nilai R-C ratio diperoleh dari perbandingan antara nilai kotor (penerimaan) dan biaya (pengeluaran). Bila nilai efisiensi usahanya lebih dari satu dikatakan usaha tersebut efisien atau menguntungkan, tetapi bila nilai efisiensi usahanya kurang dari satu berarti usaha tersebut kurang menguntungkan atau merugikan. Mubyarto (1979) mengemukakan bahwa apabila hasil bersih usaha tani besar berarti mencerminkan ratio yang baik dari nilai hasil dan biaya. Semakin tinggi nilai ini berarti semakin efisien.

Gambar

Tabel 1. Komposisi Nutrien Lima Jenis Daun Murbei  Komposisi  Nutrien  Jenis Murbei  Morus  Alba  Morus Nigra  Morus  multicaulis  Morus  cathayana  Morus  australis  Air (%)  84,28  83,17  77,11  79,55  83,89  Protein Kasar (%)  20,15  20,06  15,51  18,53
Tabel 2. Perbandingan Komposisi Nutrien Daun Murbei Muda dan Tua  Jenis Daun  Kadar Air
Tabel 3. Komposisi Nutrien Jerami Padi

Referensi

Dokumen terkait

Dari uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian pada perusahan perbankan yang go publik di Indonesia dengan mengambil judul ”Pengaruh Kecukupan

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengkaji efektifitas aplikasi Beauveria bassiana dalam menekan populasi wereng batang coklat maupun walang sangit pada tanaman

d. Ilmu politik atau ilmu pemerintahan atau tentang dunia yang juga disebut Arthasastra. 3.2 KEDUDUKAN UPAWEDA DALAM WEDA.. Sesuai dengan arti dan tujuannya serta apa

Manual Book ini berisi penanganan dari issue yang berpotensi menjadi krisis kedepan yang akan terjadi di perusahaan sesuai dengan analisis yang telah dilakukan dan cara

Secara keseluruhannya, responden mengamalkan ciri-ciri khusus kreatif untuk menyelesaikan masalah mereka cipta yang dihadapi oleh mereka berdasarkan purata peratus bersetuju

Efisiensi penyisihan tertinggi dalam menurunkan kadar logam Fe yaitu 80,31% pada massa adsorben 2,5 gram dengan waktu kontak 30 menit. Kapasitas adsorpsi terhadap

Ayo, ikuti pelajaran ini, insya Allah kalian akan mengetahui dan dapat mempraktikkan cara membersihkan diri dan bersuci yang baik dan benar.. Ahmad selalu melakukan wu«u , karena

Dengan rumusan masalah yang ada, serta dari beberapa penelusuran peneliti lakukan dari sumber-sumber primer dan sekunder, dapat membuktikan bahwa 1) Majels Ta’lim berdiri pada