• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SDN 3 GUNTUNG PAYUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SDN 3 GUNTUNG PAYUNG"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

DI SDN 3 GUNTUNG PAYUNG

Maria Ulfah

Pendidikan Profesi Guru, IAIN Palangka Raya Email : [email protected]

ABSTRAK

Pembelajaran Problem based Learning (PBL) adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara belajar kritis dan keterampilan pemecahan konteks, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Dengan pendekatan PBL proses pembelajaran di harapkan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa untuk memecahkan materi pembelajaran, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan model Problem Based Learning di SDN 3 Guntung payung. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK). PTK di laksanakan sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan yang muncul di dalam kelas. Metode ini di lakukan empat tahap yaitu, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Data yang di peroleh di olah dengan menggunakan rumus yang sesuai dengan kriteria aktivitas yang telah di tentukan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dengan menerapkan model problem based learning pada siklus I dengan nilai rata-rata 69,37. Pada siklus II dengan nilai rata-rata 87,50. Berdasarkan hasil analisis data dapat di simpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning sangat cocok di gunakan pada pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 3 Guntung Payung kota Banjarbaru

Kata Kunci : Problem Based Learning, meningkatkan hasil belajar

(2)

PENDAHULUAN

Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian kegiatan guru dan siswa atas dasar hubngan timbal balik yang berlangsung secara eduktif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti yang luas, tidak sekedar hubungan antara guru dan siswa, tetapi berinteraksi eduktif. Hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan pemahaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar. (Majid, 2013)

Dalam proses belajar mengajar terjadi interaksi antara berbagai komponen yaitu guru, siswa, tujuan, bahan, alat, metode dan lain-lain. Masing- masing komponen saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Siswa adalah komponen yang paling utama dalam kegiatan belajar-mengajar, karena yang harus mencapai tujuan penting dalam pembelajaran adalah siswa yang belajar. Maka pemahaman terhadap siswa adalah penting bagi guru agara dapat menciptakan situasi yang tepat serta memberi pengaruh yang optimal bagi siswa untuk dapat belajar dan mendapatkan hasil yang maksimal. (Usman, 2011). Hasil belajar pada dasarnya adalah suatu kemampuan yang berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai akibat dari Latihan atau pengalaman yang di peroleh. (Sam's, 2010)

Guru harus merancang pembelajaran yang menunjang dalam tercapai tujuan pembelajaran, indikator ketercapaian itu dapat dilihat dari hasil belajar siswa.Model pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus di kerjakan guru dan siswa agar tujuaan pembelajaran dapat di capai secara efektif dan efisien. Model pembelajaran dapat dapat di jadikan pola pilihan, artinya guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. (Rusman, 2012) Salah satu model pembelajaran yang dapat mengembangkan keterampilan abad 21 melalui belajar mandiri yaitu model pembelajaran problem based learning (PBL).

Problem Based Learning merupakan suatu model pengajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik. Masalah autentik dapat di artikan sebagai suatu masalah yang sering di temukan siswa dalam kehidupan sehari-hari. (Arends, 2007). Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga peserta didik dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah. ( Amir, 2009)

(3)

Menurut Nurhayati Abbas “ PBL merupakan suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran.

Menurut (Nata 2011) menyatakan bahwa Problem Based Learning adalah model pembelajaran yang bertumpu pada kreatifitas, inisiatif, inovasi dan motivasi bagi para siswa sehingga siswa akan memiliki keterampilan dan memecahkan masalah.

Beberapa ciri-ciri utama yang perlu ada di dalam pembelajaran berbasis masalah seperti berikut: Pembelajaran berpusat atau bermula dengan masalah.

Masalah yang di gunakan merupakan masalah dunia sebenarnya yang mungkin akan di hadapi oleh siswa di masa depan. Pengetahuan yang di harapkan di capai oleh siswa semasa proses pembelajaran di susun berdasarkan masalah.

(Sastrawati, 2011). Masalah yang di sajikan dapat memotivasi siswa untuk belajar, siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran, kolaborasi kerja, siswa memiliki berbagai keterampilan, pengalaman, dan berbagai konsep. Sehingga siswa terlatih untuk berpikir kritis dan berpikir tingkat tinggi. (Sukmawati, 2021) Berdasarkan hasil observasi awal yang di lakukan penulis di SDN 3 Guntung Payung, saat proses pembelajaran berlangsung pada materi puasa Ramadhan guru menggunakan metode pembelajaran ceramah dan pemberian tugas yang biasa di sebut metode konvensional. Terungkap masih banyak siswa yang kurang memperhatikan penjelasan guru ketika proses penjelasan. Siswa cenderung pasif ketika proses pembelajaran berlangsung, siswa mengantuk dan bosan saat guru menjelaskan materi, yang berakibat pada hasil belajar belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang di harapkan yaitu 70 ke atas, 50% siswa hasil ulangannya masih di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Di dapat data hasil belajar siswa menunjukkan bahwa hanya 54% siswa yang tuntas pada tahun ajaran 2020/2021 dan 56% pada tahun ajaran 2021/2022.

Berdasarkan kondisi tersebut peserta didik membutuhkan inovasi model pembelajaran baru untuk merangsang daya tarik siswa untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan agama Islam. Maka digunakan model pembelajaran Problem Based Learning. Problem based learning merupakan suatu model pengajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik.

Masalah autentik dapat diartikan sebagai suatu masalah yang sering ditemukan siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan latar belakang yang telah di kemukakan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul :

(4)

“ Penerapan Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Di SDN 3 Guntung Payung.

METODOLOGI PENELITIAN

Rancangan penelitian yang di gunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang di lakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. Metode penelitian ini mengacu pada tahap-tahap Penelitian tindakan kelas (PTK). PTK di lakukan oleh guru yang mempunyai masalah di dalam kelasnya. (Arikunto, 2007).

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis data secara kualitatif yaitu dengan observasi atau pengamatan proses pembelajaran yang berlangsung dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Sedangkan analisis data secata kuantitatif yaitu dengan melakukan pre-test dan post-tes untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar siswa.

Penelitian ini di laksanakan di SDN 3 Guntung Payung Kecamatan landasan Ulin Kota Banjarbaru pada semester Ganjil Tahun Pelajaran 2022/2023.

PTK ini di laksanakan melalui 2 siklus untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam melalui penerapan model Problem Based Learning. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 3 Guntung Payung Kota Banjarbaru dengan jumlah siswa sebanyak 16 orang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan.

Dalam memperoleh data yang memadai dan akurat, maka di tentukan beberapa Teknik. Teknik pengumpulan data yang di lakukan penulis yaitu tes, dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa yang berupa butir soal. Observasi, di gunakan untuk mengumpulkan data implementasi model pembelajaran problem based learning dan aktifitas siswa selama proses pembelajaran. Dokumentasi, di gunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar kondisi awal siswa yaitu berupa daftar nilai/laporan penilaian, pengolahan dan anlisis hasil belajar siswa.

Model PTK yang di gunakan dalam penelitian ini adalah model Kurt Lewin. Siklus model tersebut di awali dengan perencanaan (plan), tindakan (act) dan pengamatan (observe), kemudian refleksi (reflect).

1. Perencanaan

Dalam tahapan ini, peneliti membuat perencanaan yaitu kegiatan yang di lakukan pada tahap awal proses pembelajaran, berupa menyiapkan tema yang akan di ajarkan, menentukan jumlah siklus yang akan di lakukan, menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), media

(5)

pembelajaran dan menggunakan model Problem based Learning (PBL), pada saat pelajaran berlangsung, membuat lembar kerja siswa, lembar tes dan lembar observasi siswa. Membuat instrument pengamatan aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

Membuat instrumen respon siswa terhadap kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning (PBL) serta daftar pertanyaan wawancara dengan guru kelas.

2. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan kelas yang di lakukan adalah guru mengajar tema yang telah di rencanakan dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning sesuai denagn Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pelaksanaan tindakan dilaksanakan dengan dua siklus, setiap siklus terdiri dari satu kali pertemuan.

Setelah selesai memberikan tindakan pada siklus pertama peneliti mengadakan tes untuk mengetahui sejauh mana hasil dari tindakan pada siklus pertama, demikian seterusnya sampai siklus terakhir.

3. Observasi

Pada tahap ini, peneliti berbarengan dengan observer melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung dengan mengacu pada lembar observasi guru dan siswa. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan, bakat, minat serta tanggung jawab siswa dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan model problem based learning (PBL).

4. Refleksi

Tahap ini di lakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan tujuan peneliti yaitu dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning (PBL). Para pengamat memberi masukan dan perubahan- perubahan yang di perlukan untuk siklus berikutnya. Peneliti mencatat semua masukan dari pengamat untuk melakukan tindakan yang sesuai pada siklus berikutnya. Hingga tindakan di rasakan telah mencapai hasil yang maksimal.

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian yang telah peneliti lakukan pada siswa kelas V di SDN 3 Guntung Payung dengan jumlah siswa sebanyak 16 orang di temukan bahwa penerapan model pembelajaran problem based learning dalam pelaksanaan pembelajaran terdiri dari beberapa langkah, di antaranya :

1. Guru mempersiapkan ruangan kelas dengan mengatur tempat duduk siswa dan posisi media.

(6)

2. Guru mempersiapkan alat media seperti laptop, proyektor, layar dan lain-lain.

3. Guru menyiapkan media visual yang akan di tampilkan sesuai dengan tema yang di ajarkan danmemastikan media tersebut sesuai dengan pembelajaran yang di gunakan.

4. Guru memastikan posisi duduk siswa nyaman dalam menyimak, agar siswa tidak rebut dan dapat menyimak dengan baik.

5. Guru mengajak siswa untuk mengamati gambar yang di tampilkan.

6. Membimbing siswa menemukan informasi dan berdiskusiberdasarkan Permasalahan yang ditemukan.

Dalam pelaksanaan pembelajaran setiap pertemuan menggunakan model pembelajaran problem based learning, pada siklus I kegiatan yang di lakukan berupa mengamati tayangan video, berdiskusi dan bertanya jawab dan mempresentasikan hasil diskusi kelompok yang telah di lakukan. Pada siklus II pertemuan pertama setelah mengamati tayangan video, siswa mencari informasi untuk memecahkan permasalahan yang di temukan, mencatat hasil diskusi, kemudian mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas. Evaluasi pembelajaran pada penelitian ini di laksanakan dengan cara melakukan observasi untuk memberikan penilaian dari aktivitas siswa dan aktivitas guru dalam proses pembelajaran. Hasil angket respon siswa dan wawancara dengan guru kelas V. Evaluasi dari aktivitas siswa dan aktivitas guru dalam penelitian ini di lakukan pada tiap pertemuan saat proses pembelajaran berlangsung. Hasil observasi aktivitas siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II.

Hal ini dapat di lihat dari persentasi keaktivan pada silus I sebesar 62%

sedangkan pada siklus II di peroleh hasil 79%. Dengan menerapkan model problem based learning (PBL) pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, membuat siswa lebih aktif dalam belajar. Sedangkan guru hanya memberikan arahan dan mengawasi mereka dalam bekerjasama menyelesaikan tugas yang di berikan. Aktivitas guru juga mengalami peningkatan dari siklus I dan siklus II. Hal ini dapat di lihat dari nilai rata-rata pada siklus I yaitu aktivitas guru berada pada persentasi 69% ini dalam kategori baik, sedangkan pada siklus II aktivitas guru mengalami peningkatan menjadi 81% dalam kategori sangat baik. Guru melakukan perbaikan terhadap proses pembelajaran sehingga aktivitasnya semakin meningkat. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam belajar khususnya, maka penulis mengadakn tes. Tes di lakukan setiap akhir pertemuan. Adapun tujuan pemberian tes ini adalah untuk mengetahui sejauh mana materi yang dapat di kuasai siswa setelah pembelajaran selesai.

Hasil belajar siswa pada siklus I adalah dengan rata-rata dengan persentasi yang tuntas adalah 56,25 % yaitu 9 orang siswa yang tuntas dan 43,75% yang tidak tuntas yaitu ada 6 orang siswa. Melihat data dari siklus I maka penulis melakukan refleksi dan perbaikan sehingga di siklus II sudah mengalami

(7)

kenaikan hasil belajar siswa, sebagaimana terdapat pada grafik peningkatan hasil belajar siswa sebagai berikut.

Hasil belajar pada siklus II mengalami peningkatan yaitu dengan rata-rata 87,50 dengan persentasi yang tuntas adalah 87,5 % yaitu 14 siswa, yang tidak tuntas ada 12,5% atau ada 2 orang siswa. Setelah di lakukan evaluasi di akhir pembelajaran pada siklus II, hasilnya sudah memenuhi harapan yang di inginkan oleh peneliti, untuk itu penelitian ini sudah selesai.

Berdasarkan pembahasan di atas menunjukkan bahwa proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi PAI khususnya materi bulan ramadhan yang indah di kelas V SDN 3 Guntung Payung Banjarbaru.

KESIMPULAN

Problem Based Learning merupakan suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dengan demikian Problem Based Learning menjadi salah satu model pembelajaran yang dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik dalam upaya penyelesaian masalah serta memperoleh pengetahuan.

Berdasarkan hasil penelitian dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut 1. Aktifitas Guru dan aktivitas siswa dalam menerapkan model problem based

learning (PBL) pada materi Bulan Ramadhan Yang Indah di SDN 3 Guntung Payung Banjarbaru Tahun 2022/2023 yaitu aktivitas guru pada siklus I tergolong baik dan pada siklus II tergolong sangat baik. Untuk aktivitas siswa pada siklus I kategori aktif dan pada siklus II kategori sangat aktif.

2. Peningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan problem based learning (PBL) pada materi Bulan ramadhan Yang Indah di kelas V SDN 3 Guntung Payung Banjarbaru mengalami kenaikan hasil, hal ini dapat di lihat pada siklus I dari 16 siswa yang tuntas sebanyak 9 siswa ( 56,25%) dan yang belum tuntas sebanyak 8 siswa (43,75%), sedangkan pada siklus II, siswa yang tuntas sebanyak 14 siswa (87,5 %) dan yang belum tuntas sebanyak 2 siswa ( 12,5%). Jadi setelah di adakan siklus II, hasil belajar mengalami peningkatan.

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Usman, Moh. Uzer. Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2011

Tim Redaksi Fokus Media. Undang-Undang Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bandung: Fokus Media, 2013

Majid, Abdul . Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Bandung : PT.

Remaja Rosda Karya, 2006

Rusman. Model-Model Pembelajaran, Jakarta: Rajawali Pers, 2012

Syaodih, Nana dan Erliana syaodih. Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi, Bandung : Refika Aditama, 2012

Sastrawati, Eka . Problem Based Learning Strategi Metakognesi dan Keterampilan Berfikir Tingkat Tinggi Siswa, Jambi, 2011

Ghany, Junaidi. Penelitian Tindakan Kelas, Malang : UIN Malang Press, 2008

Sudjana, Nana. Penilaian Proses Belajar Mengajar, Bandung : PT.Remaja Rosda Karya, 2006

Susanto, Ahmad. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah dasar,Jakarta Prenada Media, 2016

Model Pembelajaran Berbasis Masalah Standar Penilaian dan Buku Pelajaran Sosial SD, SMP dari www.dikdasdki.go.id/download/Standar buku/doc Abbas, Nurhayati. Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Instuction) dalam Pembelajaran Matematika di SMU,dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan , Jakarta, 2004

Sudarman. ”Problem Based Learning suatu model pembelajaran untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah”

jurnal Pendidikan inovatif, 2019

Arends, I. Richard “ Learning To Teacher/ belajar Untuk Mengajar”

Pustaka belajar, Yogyakarta,2007

Tianto. “ Model Pembelajaran terpadu Konsep, Strategi, d n Implementasi Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)” Jakarta, Bumi Aksara, 2010

Dimyati, Mudjiono “ Belajar dan Pembelajaran” Jakarta : Rineka Cipta, 2009 Sudijono, Anas “ Pengantar Evaluasi Pendidikan” Yogyakata, Rajawali Pers1995

Sam’s,Rosman.Hartini “ Model Penelitian Tindakan Kelas” Yogyakarta, Teras 2010

Shoimin, Aris “Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013”

Yogyakarta, Ar-Ruzz Media, 2014

Sanjaya, Wina “ Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan” Jakarta, Prenada media, 2016

(9)

Tanzeh, Ahmad “ Metodologi Penelitian Praktis” Yogyakarta, Teras, 2011 Sugiyono. “ Metode Penelitian Kombinasi” Bandung, Alfabeta, 2011

Syah, Muhibbin “ Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru”

Bandung, Remaja Rosdakarya, 2008.

Sukmawati, R. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Kelas II SDN Wonorejo 01.

Glosains : Jurnal Sains Global Indonesia, 2(2), https://doi/10.21009/pbe.3- 1.9

Referensi

Dokumen terkait

Pada akhir PLPG dilakukan uji kompetensi yang meliputi uji tulis dan uji kinerja (ujian praktik). Ujian tulis bertujuan untuk mengungkap kompetensi profesional dan

Kemudian terkait dengan analisis aspek gramatika Bahasa Inggris, beberapa buku penunjang Gram- mar Bahasa Inggris yang digunakan yaitu A Comprehensive Grammar of

Based on results and discussion, then the conclusion of the results of this study is (1) The ability of students' mathematical abstraction using the discursive

Contoh indikator soal: Disajikan sebuah pernyataan masalah dengan dua atau lebih strategi untuk menyelesaikan masalah, siswa dapat.. memilih satu strategi yang tepat

Jika sekarang massa balok diwakilkan pada 2 titik masing-masing dengan massa ‘m’ dan ‘2m’ seperti pada gambar di bawah ini, dan kemudian ditempatkan 2 mesin pada kedua

Bagi Wajib Pajak yang mengisi menggunakan mesin ketik, NPWP harus ditulis di dalam kotak-kotak sedangkan nama dan alamat Wajib Pajak dapat ditulis dengan mengabaikan kotak-kotak

adalah benar-benar karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku

bahwa: Bbisnis penjualan pulsa adalah salah satu bisnis yang tidak memerlukan modal yang cukup besar, karena perputaran uang yang cepat menyebabkan order pulsa