• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pemasaran dan Manajemen Pemasaran 2.1.1 Pengertian Pemasaran

Didalam setiap usaha bisnis, pemasaran memegang peran yang cukup penting bagi kelangsungan usaha bisnis yang bersangkutan. Sebuah usaha bisnis dengan hasil produk yang biasa saja bisa menjadi sukses hanya karena strategi pemasaran perusahaan terkait yang cukup handal, sebaliknya sebuah usaha bisnis dengan produk yang cukup berkualitas pun tidak akan mengalami penjualan yang maksimal jika tidak dilakukan upaya pemasaran yang baik terhadap para konsumen.

Definisi pemasaran menurut Kotler dan Amstrong (2014:27) dalam Principles of Marketing adalah sebagai berikut: “Pemasaran adalah proses dimana perusahaan menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan, dengan tujuan menangkap nilai dari pelanggan sebagai imbalannya.”

Sedangkan menurut American Marketing Association (AMA) yang dikutip oleh Kotler dan Keller dalam buku “Manajemen Pemasaran” (2012:5): “Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku kepentingannya”.

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai pemasaran diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasaran merupakan upaya untuk mempromosikan, menginformasikan dan menawarkan kepada konsumen mengenai sebuah produk usaha atau layanan jasa yang dikelola oleh sebuah perushaan sebagai upaya untuk meningkatkan penjualan produk atau layanan jasa tersebut.

(2)

2.2 Kualitas Produk

2.2.1 Pengertian Kualitas Produk

Pengertian kualitas produk memiliki inti pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan yang bertujuan untuk mengimbangi harapan pelanggan. Menurut Kotler dan Keller (2016), kualitas produk adalah kemampuan suatu barang untuk memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari apa yang diinginkan pelanggan. Menurut Kotler dan Armstrong (2014), kualitas produk adalah kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal ini termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk, juga atribut produk lainnya. Sedangkan menurut Mowen (2011), kualitas produk merupakan proses evaluasi secara keseluruhan kepada pelanggan atas perbaikan kinerja suatu produk.

Dalam mengelola hubungan yang baik antara penyedia produk dengan konsumen, kualitas produk memiliki peran yang sangat penting dimana kualitas produk memiliki suatu ketertarikan bagi konsumen dalam mengelola hubungan yang baik dengan perusahaan penyedia produk. Adanya hubungan timbal balik antara perusahaan dengan konsumen akan memberikan peluang untuk mengetahui dan memahami apa yang menjadi kebutuhan dan harapan yang ada pada persepsi konsumen. Maka, perusahaan penyedia produk dapat memberikan pelayanan serta kinerja yang baik untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan mencapai kepuasan konsumen melalui cara memaksimalkan pengalaman yang menyenangkan dan meminimalisir pengalaman yang kurang menyenangkan konsumen dalam mengkonsumsi produk. Apabila kinerja dari suatu produk yang diterima atau dirasakan sesuai dengan harapan konsumen, maka kualitas produk yang diterima atau dirasakan sesuai dengan harapan konsumen. Kualitas produk dipersepsikan sebagai kualitas ideal, namun sebaliknya jika kinerja dari suatu produk yang diterima atau dirasakan lebih rendah dari yang diharapkan oleh konsumen maka kualitas produk dipersepsikan rendah.

Berdasarkan definisi-definisi dari kualitas produk yang telah dikemukakan oleh para ahli di atas maka peneliti ingin mengambil kesimpulan terkait masalah

(3)

yang akan diteliti, yaitu kualitas produk adalah suatu proses evaluasi secara keseluruhan atas segala bentuk kinerja dari Yamaha Vixion dalam memperagakan fungsinya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan.

2.2.2 Dimensi Kualitas Produk

Ada beberapa pendapat mengenai dimensi kualitas produk, antara lain menurut Kotler (2016), kualitas produk dapat dimasukkan ke dalam sembilan dimensi, yaitu :

1. Bentuk

Produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainnya berdasarkan bentuk, ukuran, atau struktur fisik produk.

2. Ciri-ciri produk

Karakteristik sekunder atau pelengkap yang berguna untuk menambah fungsi dasar yang berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan pengembangannya. 3. Kinerja

Berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut. 4. Ketepatan atau kesesuaian

Berkaitan dengan tingkat kesesuaian dengan spesifikasi yang ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan. Kesesuaian merefleksikan derajat ketepatan antara karakteristik desain produk dengan karakteristik kualitas standar yang telah ditetapkan.

5. Daya Tahan

Berkaitan dengan berapa lama suatu produk dapat digunakan tanpa menimbulkan masalah pada saat penggunaan.

6. Keandalan

Berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang berhasil menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam periode waktu tertentu dan dalam kondisi tertentu pula.

(4)

Berkaitan dengan kemudahan perbaikan atas produk jika rusak. Idealnya produk akan mudah diperbaiki sendiri oleh pengguna jika rusak.

8. Gaya

Penampilan produk dan kesan konsumen terhadap produk. 9. Desain

Keseluruhan keistimewaan produk yang akan mempengaruhi penampilan dan fungsi produk terhadap keinginan konsumen.

Menurut Gaspersz dalam Alma (2011) dimensi-dimensi kualitas produk terdiri dari:

1. Kinerja

Karakteristik operasi pokok dari produk inti. 2. Ciri-ciri

Karakteristik sekunder atau pelengkap dari produk. 3. Kehandalan

Kemungkinan produk akan mengalami kerusakan atau gagal pakai. 4. Kesesuaian Dengan Spesifikasi

Sejauhmana karakteristik desain dan operasi produk memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya.

5. Daya tahan

Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan. 6. Kemudahan Perbaikan

Meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi, dan penanganan keluhan yang memuaskan dari produk.

7. Estetika

Daya tarik produk terhadap panca indera.

Sedangkan menurut Mowen dan Minor dalam Dinawan (2010) memberikan beberapa dimensi dari kualitas produk. Adapun dimensi kualitas produk adalah :

1. Kinerja

(5)

2. Reliabilitas atau Keandalan

Reliabilitas adalah konsistensi kinerja produk. Bebas dari kerusakan atau tidak berfungsi.

3. Daya Tahan

Rentang kehidupan produk / umur pemakaian produk. 4. Keamanan

Produk yang tidak aman merupakan produk yang mempunyai kualitas yang kurang / rendah.

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai dimensi dari kualitas produk, peneliti mengambil empat dimensi kualitas produk menurut Kotler (2016) yaitu bentuk, kinerja, daya tahan, dan keandalan. Selain itu, penulis juga mengambil satu dimensi kualitas produk menurut Gaspersz dalam Alma (2011) yaitu estetika. Kemudian satu dimensi lainnya adalah dimensi menurut Mowen dan Minor dalam Dinawan (2010) yaitu keamanan.

Bentuk yang ditawarkan oleh Yamaha Vixion meliputi ukuran body Yamaha Vixion secara keseluruhan, bentuk dari dashboard stang Yamaha Vixion, bentuk dari stang Yamaha Vixion, bentuk dari lampu depan dan belakang Yamaha Vixion, bentuk dari fairing Yamaha Vixion, dan bentuk dari jok Yamaha Vixion. Selanjutnya adalah kinerja yang ditawarkan oleh Yamaha Vixion meliputi sistem mesin yang digunakan, posisi tuas rem yang diterapkan, sistem transmisi yang diterapkan, dan sistem pengereman yang diterapkan. Kemudian daya tahan meliputi seberapa lama Yamaha Vixion tersebut dapat dipakai oleh penggunanya tanpa terdapat masalah yang muncul. Sedangkan dimensi yang keempat adalah keandalan yaitu seberapa besar kemungkinan Yamaha Vixion tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik setiap kali penggunanya ingin memakainya. Dimensi kelima adalah estetika yaitu sejauh mana pengguna tertarik pada Yamaha Vixion dengan melihat langsung produk Yamaha Vixion, mendengar suara mesin dari Yamaha Vixion, dan merasakan langsung fisik dari Yamaha Vixion tersebut. Kemudian dimensi terakhir adalah keamanan yaitu seberapa besar tingkat keamanan dari produk Yamaha Vixion tersebut sehingga memberikan kepercayaan pada penggunanya baik dari sistem pengereman, kemungkinan

(6)

kecelakaan apabila pengguna sedang menggunakan Yamaha Vixion pada situasi dan kondisi tertentu.

2.3 Nilai Pelanggan

2.3.1 Pengertian Nilai Pelanggan

Nilai pelanggan merupakan salah satu hal yang penting dalam memberikan persepsi pada konsumen terhadap suatu produk. Menurut Best dalam Sumarwan (2010), nilai pelanggan merupakan benefit yang diperoleh pelanggan dikurangi biaya pembelian. Berdasarkan konsep ini, nilai pelanggan bersumber dari benefit ekonomi, benefit pelanggan, dan benefit emosional. Benefit ekonomi bersumber dari keunggulan harga dan biaya selain harga pembelian seperti biaya akuisisi, penggunaan kepemilikan, pemeliharaan, dan perbaikan serta biaya pembuangan. Benefit pelanggan bersumber dari penampilan produk, layanan dan reputasi. Benefit emosional adalah keunggulan produk dalam memenuhi kebutuhan emosional pelanggan yang terkait dengan kebutuhan psikologis, tipe-tipe kepribadian pelanggan, dan nilai personal pelanggan. Menurut Kotler dan Amstrong (2014), nilai pelanggan adalah perbandingan pelanggan antara semua keuntungan dan semua biaya yang harus dikeluarkan untuk menerima penawaran yang diberikan. Sedangkan Menurut Kotler dan Keller (2016) Nilai pelanggan adalah selisih antara nilai pelanggan total dan biaya pelanggan total. Nilai pelanggan total adalah sekumpulan manfaat yang diharapkan oleh pelanggan dari produk atau jasa tersebut. Biaya pelanggan total adalah sekumpulan biaya yang diharapkan oleh konsumen yang dikeluarkan oleh konsumen untuk mengevaluasi mendapatkan, menggunakan dan membuang produk atau jasa.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai pelanggan merupakan perbandingan antara manfaat yang diterima dengan biaya yang harus keluarkan oleh konsumen dalam proses pengkonsumsian suatu produk. Berdasarkan definisi-definisi menurut para ahli mengenai nilai pelanggan maka peneliti ingin mengambil kesimpulan terkait masalah yang akan diteliti, adalah perbandingan antara manfaat yang diterima meliputi manfaat dari Yamaha Vixion itu sendiri,

(7)

pelayanan yang diberikan pada saat pembelian ataupun pasca-pembelian, ketersediaan atau kesiapan karyawan dalam memberikan pelayanan, dan citra dari Yamaha Vixion dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen meliputi harga Yamaha Vixion, waktu yang dihabiskan oleh konsumen, tenaga yang dikeluarkan oleh konsumen dan psikologi konsumen untuk menerima penawaran dan mendapatkan Yamaha Vixion.

Suatu merek dikatakan paling unggul apabila dapat memberikan nilai manfaat diantara merek-merek lainnya yang dimana nantinya akan menduduki posisi pertama dalam benak konsumen dan merupakan merek yang paling mudah diingat oleh konsumen. Hal ini sangat menguntungkan karena apabila konsumen akan melakukan pembelian, merek yang paling mudah diingat yang pertama kali akan dipertimbangkan untuk dipilih. Dalam upaya untuk memberikan nilai manfaat pada produk Yamaha Vixion terdapat pendekatan-pendekatan yang bertujuan untuk dapat menciptakan nilai pelanggan. Menurut Best dalam Sumarwan (2010), bahwa nilai pelanggan dapat diciptakan melalui beberapa pendekatan, yaitu:

1. Biaya daur hidup dan penciptaan nilai

Bagi nilai ekonomi superior, pelanggan harus memperoleh keuntungan ekonomi diatas daur hidup pengguna. Terdapat enam sumber utama biaya siklus hidup yang menciptakan nilai yaitu harga yang dibayarkan, biaya penggunaan, biaya pemeliharaan, biaya kepemilikan, serta biaya pembuangan.

2. Harga kinerja dan penciptaan nilai

Walaupun nilai ekonomis menyediakan dasar yang kuat untuk menciptakan nilai pelanggan berdasarkan biaya tetapi terdapat aspek-aspek kinerja produk yang lebih sulit dihitung dalam pembiayaan total pembelian. Kinerja dapat juga meliputi fitur-fitur dan fungsi-fungsi produk yang tidak menghemat uang tetapi meningkatkan pemakaian sehingga menciptakan nilai pelanggan. 3. Manfaat yang dipersepsikan dan penciptaan nilai

Nilai relatif kinerja harga dan nilai ekonomi memberikan ukuran yang terbaik mengenai nilai pelanggan tetapi evaluasi pelanggan terhadap produk sering

(8)

melampaui ukuran kinerja harga dan ekonomis. Persepsi pelanggan tentang kualitas layanan, reputasi merek, dan biaya-biaya lain selain harga juga mempengaruhi nilai pelanggan. Setelah diketahui persepsi manfaat dan persepsi biaya secara keseluruhan maka selisihnya merupakan nilai pelanggan yang dipersepsikan.

4. Manfaat pelanggan

Sebelum dapat menentukan keseluruhan nilai pelanggan yang diciptakan, perlu ditentukan biaya-biaya pembelian yang dipersepsikan. Posisi daya saing perusahaan terkait dengan pelayanan yang dipersepsikan lebih tinggi dari pada kompetitor yang pada gilirannya akan meningkatkan total biaya pembelian yang dipersepsikan. Apabila persepsi mengenai total biaya pembelian dan total manfaat telah diperoleh maka perusahaan dapat mengevaluasi tingkat nilai yang tercipta untuk pelanggan.

5. Manfaat emosional dan penciptaan nilai

Setiap manusia mempunyai kebutuhan fisik dan psikologis. Setelah kebutuhan fisik terpenuhi maka manusia memerlukan kebutuhan psikologi seperti hubungan yang hangat, afiliasi, status, pengakuan, dihormati, kegembiraan, semangat, dan pemenuhan diri. Kebutuhan psikologis dapat dilayani dengan membeli produk yang menawarkan serangkaian benefit emosional yang konsisten dengan kebutuhan itu karena banyak produk memiliki personalitas dengan makna psikologis.

2.3.2 Dimensi Nilai Pelanggan

Ada beberapa pendapat mengenai dimensi nilai pelanggan antara lain menurut Kotler dan Keller (2016) nilai pelanggan dibentuk oleh dua unsur utama yaitu nilai pelanggan total dan biaya pelanggan total.

1. Nilai pelanggan total

Nilai pelanggan total adalah keseluruhan nilai moneter yang diterima konsumen dari sekumpulan kegunaan yang mereka harapkan dari sebuah penawaran. Nilai pelanggan total secara umum terdiri dari empat bagian, yaitu:

(9)

a. Nilai produk

Nilai yang ditawarkan perusahaan kepada konsumen seperti produk-produk yang lengkap dan berkualitas.

b. Nilai pelayanan

Nilai yang diberikan perusahaan yang berkaitan dengan pelayanan yang diberikan kepada konsumen, seperti kemudahan dalam pelayanan.

c. Personil atau karyawan

Nilai yang diberikan perusahaan kepada konsumen dengan memiliki personil yang menguasai tugas, ramah, sigap dan cara berkomunikasi yang baik.

d. Citra

Nilai yang diberikan perusahaan kepada konsumen yang berkaitan dengan citra perusahaan tersebut dimata para konsumennya secara khusus dan masyarakat secara umum.

2. Biaya pelanggan total

Biaya pelanggan sendiri terbagi menjadi empat bagian, yang terdiri dari:

a. Biaya moneter

Sesuatu yang dikerluarkan konsumen dalam bentuk moneter. b. Biaya waktu

Waktu yang dikeluarkan konsumen dalam mencari barang-barang kebutuhan.

c. Biaya energi

Tenaga yang dikeluarkan konsumen dalam mencari barang-barang kebutuhan.

d. Biaya psikis

Biaya yang berkaitan dengan psikologis.

PERVAL (Perceived Value Scale) merupakan suatu pengukuran dari nilai yang diterima konsumen pada suatu produk. Proses keputusan konsumen dapat dilakukan dengan penciptaan nilai yang diterima pelanggan dan merupakan selisih

(10)

antara evaluasi calon pelanggan atas semua manfaat serta semua biaya dari produk yang ditawarkan.

Menurut Kotler (2016) dapat dilihat dalam persamaan berikut :

Dimana :

V = Nilai pelanggan

B = Manfaat yang dirasakan (Produk, Pelayanan, Karyawan, dan Citra Perusahaan)

C = Biaya (Biaya Moneter, Waktu, Energi, dan Psikologi)

Sedangkan menurut Buttle (2007), nilai pelanggan dapat diukur dari sisi biaya sebagai berikut :

1. Uang (harga yang ditawarkan), harga disini dapat berupa harga yang tertera atau tidak tertera. Mungkin ada biaya tambahan kartu kredit, beban bunga untuk pembayaran yang diperpanjang, atau biaya garansi. Mungkin juga ada diskon yang diberikan untuk pelanggan khusus, pembayaran awal, atau pembelian dalam jumlah banyak.

2. Biaya pencarian, proses ketika pelanggan mencari solusi dan membandingkan beberapa pilihan. Proses seperti itu dapat memakan waktu lama. Biaya transaksi biasanya lebih rendah ketika biaya pencarian dihilangkan dan proses pembelian telah menjadi rutinitas.

Biaya fisik, proses pembelian bisa menjadi pengalaman yang melelahkan. Biaya fisik begitu mahal untuk beberapa pelanggan sehingga mereka menunda pembeliannya sampai saat yang lebih baik, bahkan pelanggan lainnya membatalkan pembelian seluruhnya. Resiko juga menjadi pertimbangan dalam menghitung biaya fisik. Resiko memiliki berbagai bentuk seperti kinerja, fisik, keuangan, sosial, dan psikologis.

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai dimensi dari nilai pelanggan, peneliti mengambil delapan dimensi dari Kotler dan Keller (2016) yaitu nilai

(11)

produk, nilai pelayanan, personil atau karyawan, citra, biaya moneter, biaya waktu, biaya energi, dan biaya psikis.

Nilai produk merupakan manfaat-manfaat yang diterima konsumen dalam menggunakan Yamaha Vixion. Kemudian nilai pelayanan meliputi kemudahan konsumen mendapatkan pelayanan yang baik pada saat mencari produk dari Yamaha Vixion, pada saat memilih untuk membeli produk dari Yamaha Vixion, dan pada saat konsumen mengalami kendala dalam menggunakan produk dari Yamaha Vixion. Dimensi selanjutnya adalah personil atau karyawan yang mampu menguasai tugas yang diberikan perusahaan untuk memberikan kesan positif pada benak konsumen, keramah-tamahan karyawan pada saat berhadapan dengan konsumen, kesigapan karyawan dalam menanggapi kebutuhan atau permasalahan yang dialami oleh konsumen, serta cara karyawan berkomunikasi dengan konsumen apabila konsumen ingin berinteraksi. Dimensi yang ke empat adalah citra yang melekat pada produk Yamaha Vixion dan mampu memberikan nilai kebanggaan ataupun kepuasan dalam menggunakan produk dari Yamaha Vixion di mata penggunanya ataupun di mata masyarakat umum. Dimensi ke lima adalah biaya moneter atau sejumlah uang yang harus dibayarkan konsumen untuk menikmati produk dari Yamaha Vixion baik pada saat sebelum memiliki hingga proses penggunaan. Kemudian dimensi ke enam adalah biaya waktu yaitu waktu yang dimiliki oleh konsumen namun harus dihabiskan untuk mencari produk dari Yamaha Vixion yang diinginkan hingga terpilihnya suatu jenis Yamaha Vixion, dalam proses pembelian, dan dalam penggunaan Yamaha Vixion itu sendiri. Kemudian biaya energi yaitu tenaga yang dihabiskan oleh konsumen dalam proses mencari produk dari Yamaha Vixion yang tepat, dalam proses pembelian, dan dalam penggunaan Yamaha Vixion itu sendiri. Dimensi terakhir adalah biaya psikis yaitu meliputi ketenangan konsumen dalam memilih suatu produk Yamaha Vixion, kecenderungan konsumen menghindari resiko yang dapat merugikan yang melekat pada produk dari Yamaha Vixion, dan resiko munculnya penyesalan telah menggunakan Yamaha Vixion di masa yang akan datang.

(12)

2.4.1 Pengertian Minat

Menurut Gunarso (2005) dalam jurnal Sarjono (2013) mengartikan bahwa minat “adalah sesuatu yang pribadi dan berhubungan dengan sikap, individu yang berminat terhadap suatu obyek akan mempunyai keuatan atau dorongan untuk melakukan serangkaian tingkah laku untuk mendekati atau mendapatkan objek tersebut”. Sedangkan menurut Chaplin (2005), dalam jurnal Sarjono (2013) “minat merupakan suatu sikap yang kekal, mengikut sertakan perhatian individu dalam memilih obyek yang dirasakan menarik bagi dirinya dan minat juga merupakan suatu keadaan dari motivasi yang mengarahkan tingkah laku pada tujuan tertentu”.

2.4.2 Pengertian Minat Beli

Menurut Kinnear dan Taylor (1995), dalam jurnal Sarjono (2013) “minat beli adalah tahap kecenderungan responden untuk bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksasnakan. Terdapat perbedaan antara pembelian aktual dan minat pembelian. Bila pembelian aktual adalah pembelian yang benar-benar dilakukan oleh konsumen, maka minat pembelian adalah niat untuk melakukan pembelian pada kesempatan mendatang”.

Menurut Kotler dan Keller (2003) dalam jurnal Saidani dan Arifin (2012) bahwa “minat beli konsumen adalah sebuah perilaku konsumen dimana konsumen mempunyai keinginan dalam membeli atau memilih suatu produk, berdasarkan pengalaman dalam memilih, menggunakan dan mengkonsumsi atau bahkan menginginkan suatu produk.

Sedangkan menurut Rossiter dan Percy dalam Kumala (2012) mengemukakan bahwa minat beli merupakan instruksi diri konsumen untuk melakukan pembelian atas suatu produk, melakukan perencanaan, mengambil tindakan-tindakan yang relevan seperti mengusulkan, dan akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan pembelian.

(13)

2.4.3 Indikator Minat Beli

Menurut Ferdinand (2002:129), dalam jurnal Endro Arifin dan Achmad Fachrodji (2015) disebutkan bahwa minat beli dapat di identifikasi melalui indikator-indikator sebagai berikut:

a. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli produk. b. Minat refrensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk

kepada orang lain.

c. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki prefrensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk prefrensinya.

d. Minat eksploratif, minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.

2.4.4 Dimensi Minat Beli

Menurut Band (1991), dalam jurnal Abdillah Mundir (2012) disebutkan dimensi-dimensi yang membentuk minat beli adalah sebagai berikut:

a. Pencarian informasi lanjut.

Pencarian informasi lanjut diwujudkan dengan upaya konsumen untuk mendapatkan informasi secara lebih lengkap tentang produk tertentu lewat membaca brosur, membaca informasi produk di internet atau memperhatikan iklan di siaran televisi dan kunjungan ke outlet produk tersebut.

b. Kemauan untuk memahami produk

Kemauan memahami produk dimaksudkan sebagai sikap positif yang ditunjukkan oleh konsumen apabila diperkenalkan pada sebuah produk terbaru.

c. Keinginan untuk mencoba produk.

Keinginan untuk mencoba produk dapat ditunjukkan dengan upaya konsumen mempergunakan produk dengan cara meminjam pada pihak lain.

(14)

d. Kunjungan ke ritel.

Kunjungan ke ritel ditentukan dengan kesediaan konsumen untuk mengunjungi baik untuk mencari informasi maupun mencoba produk.

Berdasarkan definisi-definisi yang dikemukakan para ahli di atas peneliti mengambil kesimpulan bahwa minat beli adalah suatu perencanaan dari konsumen sebelum membeli produk yang dimana minat beli itu muncul dari pengalaman dalam memilih suatu produk yang dimana nantinya akan muncul tindakan yang relevan mengusulkan, dan akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan pembelian.

Pengenalan masalah adalah tahap dimana pengguna Yamaha new Vixion merasakan timbulnya ketidakpuasan terhadap Yamaha Vixion yang digunakan dan mulai menyadari ingin menggunakan Yamaha old Vixion. Pencarian informasi adalah tahap pengguna Yamaha new Vixion menggali segala hal mengenai Yamaha old Vixion. Kemudian penilaian alternatif adalah proses pengguna Yamaha new Vixion mempertimbangkan dan mengevaluasi atas informasi yang telah didapatkan. Selanjutnya adalah muncul adanya minat beli dimana pengguna Yamaha new Vixion memilih untuk membeli Yamaha old Vixion atau tetap menggunakan Yamaha new Vixion berdasarkan pertimbangan sebelumnya.

2.5 Hubungan Antar Variabel

2.5.1 Hubungan antara kualitas produk terhadap minat beli

Kualitas Produk memiliki pengaruh terhadap minat beli konsumen baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini dapat diketahui dari adanya penelitian terdahulu tentang kedua variabel tersebut dan menemukan hasil bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel kualitas produk terhadap minat beli konsumen. Hal ini memberikan arti bahwa semakin tinggi kualitas produk yang ditawarkan oleh perusahaan, maka kecenderungan konsumen untuk memilih produk tersebut akan semakin tinggi. Menurut Kotler dan Keller (2016), kualitas

(15)

produk adalah kemampuan suatu barang untuk memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari apa yang diinginkan pelanggan.

Penelitian yang dilakukan oleh Indrayani (2013) memperlihatkan bahwa variabel kualitas produk memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap minat beli produk handphone Samsung Galaxy di Kota Denpasar. Penelitian yang dilakukan oleh Budiningtyas dkk. (2010) yang menyimpulkan bahwa kualitas produk adalah salah satu dari berbagai faktor yang mempengaruhi minat beli. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mohd Fazli Mohd Sam and Md Nor Hayati Tahir (2010) dengan judul “Website Quality And Consumer Online Purchase Intention Of Air Ticket”, bertujuan untuk menguji pengaruh dari kualitas terhadap minat konsumen untuk membeli tiket secara online. Hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwa kualitas produk berpengaruh terhadap minat beli konsumen. Berdasarkan teori dan uraian tersebut, maka dapat ditarik sebuah hipotesis sebagai berikut:

H1: kualitas produk berpengaruh positif terhadap minat beli. 2.5.2 Hubungan antara nilai pelanggan terhadap minat beli

Variabel nilai pelanggan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen pada suatu produk. Hal ini memberikan arti bahwa nilai pelanggan yang semakin tinggi akan mendorong konsumen dalam memilih produk tersebut untuk dikonsumsi.

Menurut Kotler dan Keller (2016) Nilai pelanggan adalah selisih antara nilai pelanggan total dan biaya pelanggan total. Nilai pelanggan total adalah sekumpulan manfaat yang diharapkan oleh pelanggan dari produk atau jasa tersebut. Biaya pelanggan total adalah sekumpulan biaya yang diharapkan oleh konsumen yang dikeluarkan oleh konsumen untuk mengevaluasi mendapatkan, menggunakan dan membuang produk atau jasa.

Penelitian yang dilakukan oleh Chieh Yang et al., (2012) yaitu “assessing how service quality, airline image and customer value affect the intentions of passengers regarding low cost carriers.” Studi ini meneiliti tentang bagaimana kualitas pelayanan, citra perusahaan penerbangan, dan nilai pelanggan

(16)

mempengaruhi niat penumpang menggunakan penerbangan low cost carrier. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa nilai pelanggan memiliki pengaruh yang positif terhadap minat menggunakan penerbangan low cost carrier. Penelitian lainnya juga dilakukan oleh Fariman (2014) yang berjudul “a mediation of perceived customer value between purchase intention and perceived benefit/perceived sacrifice for online book shopping in iran.” Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli dengan nilai pelanggan sebagai variabel mediasi pada pelayanan buku secara online. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai pelanggan berpengaruh secara signifikan terhadap minat beli. Dengan demikian hipotesis yang diajukan:

H4: Nilai pelanggan berpengaruh positif terhadap minat beli

2.5.3 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Variabel Hasil & Kesimpulan 1. Lucky Indrawan Pengaruh Citra Perusahaan dan Nilai Pelanggan terhadap loyalitas Jasa PT. Suparco - X1 = Citra perusahaan - X2 = Nilai Pelanggan - Y1 = Loyalitas Pengguna Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel citra perusahaan X1 Dan nilai pelanggan X2 mempengaruhi loyalitas pelanggan, PT. Suparco Indonesia sebesar 97,03% dan dikatakan kedua variabel tersebut

(17)

signifikan 2. Aldaan Faikar Annafik, Mudji Rahardjo Analisi Pengaruh Kualitas Produk, Harga, Dan Daya Tarik Iklan Terhadap Minat Beli Sepeda Motor Yamaha. - X1 = Kualitas Produk - X2 = Harga - X3 = Daya Tarik iklan - Y1 = Minat Beli Berdasarkan analisis secara parsial, ternyata hasil penelitian membuktikan bahwa semua variabel independen (kualitas produk, harga dan daya tarik iklan) mempunyai pengaruh positif terhadap variabel dependen yaitu minat beli sepeda motor Yamaha. Berdasarkan pengujian secara simultan, ternyata hasil penelitian membuktikan bahwa semua variabel independen (kualitas produk, harga dan daya tarik iklan) secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen yaitu minat beli. Hasil pengujian regresi berganda

(18)

menunjukkan bahwa semua variabel independen (kualitas produk, harga dan daya tarik iklan) berpengaruh positif terhadap minat beli. Pengaruh positif terbesar terhadap minat beli sepeda motor Yamaha adalah pada variabel kualitas dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,388, kemudian diikuti oleh variabel harga dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,364, dan yang terendah adalah variabel daya tarik iklan dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,205. 3. Bachtiyar Fanani Pengaruh Persepsi Harga Dan Kualitas Produk Terhadap - X1 = Persepsi harga - X2 = Kualitas produk - Y1 = Minat beli Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda

menunjukkan bahwa variabel persepsi harga memiliki nilai

(19)

Minat Beli Konsumen Produk Smartphone Samsung koefisien regresi sebesar 0,305 dan variabel kualitas produk memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,532 terhadap minat beli konsumen. Dengan kata lain, semakin bertambah persepsi konsumen akan harga, maka akan meningkatkan minat beli sebesar 0,305 dengan syarat variabel lain konstan. begitu pula dengan variabel kualitas produk, semakin ditingkatkan kualitas akan produk

maka akan

meningkatkan minat beli sebesar 0,532 dengan syarat varaibel lain konstan. 4. Lusia Oktaviani, Sutopo Analisi Pengaruh Brand Image (Citra Merek), Kualitas - X1 = Brand Image - X2 = Kualitas Produk - X3 = Harga - Y1 = Minat Beli Hasil pengujian Hipotesis 2 menunjukkan bahwa nilai thitung pada variabel

(20)

Produk, Dan Harga Terhadap Minat Beli Produk Mie Instan Supermi adalah sebesar 3,557 dengan tingkat signifikansi 0,001. Karena

nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima.

Kesimpulannya adalah variabel Kualitas Produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap Minat beli konsumen. Hal ini berarti Hipotesis 2 diterima.

2.6 Kerangka Pemikiran

Didalam penelitian ini perkembangan industri otomotif yang terus berkembang membuat pelaku usaha memanfaatkan peluang bisnis ini. Salah satu industri otomotif terbesar yaitu Yamaha, didalamnya para perusahaan saling bersaing untuk mendapatkan profit di industri otomotif ini. Lebih spesifiknya ke produk motor sport, yang dimana sudah jadi kebutuhan untuk berkendara dan bergaya serta melakukan semua kegiatan, entah itu kegiatan sehari-hari atau kegiatan lainnya.

Kerangka penelitian dimaksudkan untuk menggambarkan paradigma penelitian sebagai jawaban atas masalah penelitian. Dalam kerangka pemikiran tersebut terdapat dua variabel independen yaitu Kualitas Produk dan Nilai

(21)

Pelanggan yang mempengaruhi variabel dependen yaitu Minat Beli untuk menggunakan kembali Yamaha old Vixion.

Kualitas produk adalah segala bentuk aktivitas yang dilakukan berhubungan dengan evaluasi secara keseluruhan atas segala bentuk kinerja dari Yamaha new Vixion dalam menjelaskan fungsinya yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Kualitas produk memiliki enam dimensi diantaranya bentuk, kinerja, daya tahan, keandalan, estetika, dan keamanan pada produk dari Yamaha tersebut. Bentuk yang ditawarkan oleh produk yang ditawarkan Yamaha meliputi ukuran body Yamaha Vixion secara keseluruhan, bentuk dari dashboard stang Yamaha Vixion, bentuk dari stang Yamaha Vixion, bentuk dari lampu depan dan belakang Yamaha Vixion, bentuk dari fairing Yamaha Vixion, dan bentuk dari jok Yamaha Vixion. Selanjutnya adalah kinerja yang ditawarkan oleh Yamaha Vixion meliputi sistem mesin yang digunakan, posisi tuas rem yang diterapkan, sistem transmisi yang diterapkan, dan sistem pengereman yang diterapkan. Kemudian daya tahan meliputi seberapa lama Yamaha Vixion tersebut dapat dipakai oleh penggunanya tanpa terdapat masalah yang muncul. Sedangkan dimensi yang keempat adalah keandalan yaitu seberapa besar kemungkinan Yamaha Vixion tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik setiap kali penggunanya ingin memakainya. Dimensi kelima adalah estetika yaitu sejauh mana pengguna tertarik pada Yamaha Vixion dengan melihat langsung produk Yamaha Vixion, mendengar suara mesin dari Yamaha Vixion, dan merasakan langsung fisik dari Yamaha Vixion tersebut. Kemudian dimensi terakhir adalah keamanan yaitu seberapa besar tingkat keamanan dari produk Yamaha Vixion tersebut sehingga memberikan kepercayaan pada penggunanya baik dari sistem pengereman, kemungkinan kecelakaan apabila pengguna sedang menggunakan Yamaha Vixion pada situasi dan kondisi tertentu.

Nilai pelanggan merupakan perbandingan antara manfaat yang diterima dari produk dari Yamaha itu sendiri dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen untuk menerima penawaran dan mendapatkan produk Yamaha Vixion. Nilai pelanggan memiliki delapan dimensi yaitu nilai produk, nilai pelayanan,

(22)

personil atau karyawan, citra, biaya moneter, biaya waktu, biaya energi, dan biaya psikis. Nilai produk merupakan manfaat-manfaat yang diterima konsumen dalam menggunakan Yamaha Vixion. Kemudian nilai pelayanan meliputi kemudahan konsumen mendapatkan pelayanan yang baik pada saat mencari produk dari Yamaha Vixion, pada saat memilih untuk membeli produk dari Yamaha Vixion, dan pada saat konsumen mengalami kendala dalam menggunakan produk dari Yamaha Vixion. Dimensi selanjutnya adalah personil atau karyawan yang mampu menguasai tugas yang diberikan perusahaan untuk memberikan kesan positif pada benak konsumen, keramah-tamahan karyawan pada saat berhadapan dengan konsumen, kesigapan karyawan dalam menanggapi kebutuhan atau permasalahan yang dialami oleh konsumen, serta cara karyawan berkomunikasi dengan konsumen apabila konsumen ingin berinteraksi. Dimensi yang ke empat adalah citra yang melekat pada produk Yamaha Vixion dan mampu memberikan nilai kebanggaan ataupun kepuasan dalam menggunakan produk dari Yamaha Vixion di mata penggunanya ataupun di mata masyarakat umum. Dimensi ke lima adalah biaya moneter atau sejumlah uang yang harus dibayarkan konsumen untuk menikmati produk dari Yamaha Vixion baik pada saat sebelum memiliki hingga proses penggunaan. Kemudian dimensi ke enam adalah biaya waktu yaitu waktu yang dimiliki oleh konsumen namun harus dihabiskan untuk mencari produk dari Yamaha Vixion yang diinginkan hingga terpilihnya suatu jenis Yamaha Vixion, dalam proses pembelian, dan dalam penggunaan Yamaha Vixion itu sendiri. Kemudian biaya energi yaitu tenaga yang dihabiskan oleh konsumen dalam proses mencari produk dari Yamaha Vixion yang tepat, dalam proses pembelian, dan dalam penggunaan Yamaha Vixion itu sendiri. Dimensi terakhir adalah biaya psikis yaitu meliputi ketenangan konsumen dalam memilih suatu produk Yamaha Vixion, kecenderungan konsumen menghindari resiko yang dapat merugikan yang melekat pada produk dari Yamaha Vixion, dan resiko munculnya penyesalan telah menggunakan Yamaha Vixion di masa yang akan datang.

Minat Beli adalah Pengenalan masalah pada tahap dimana pengguna Yamaha new Vixion merasakan timbulnya ketidakpuasan terhadap Yamaha Vixion yang digunakan dan mulai menyadari ingin menggunakan Yamaha old

(23)

Vixion. Pencarian informasi adalah tahap pengguna Yamaha new Vixion menggali segala hal mengenai Yamaha old Vixion. Kemudian penilaian alternatif adalah proses pengguna Yamaha new Vixion mempertimbangkan dan mengevaluasi atas informasi yang telah didapatkan. Selanjutnya adalah muncul adanya minat beli dimana pengguna Yamaha new Vixion memilih untuk membeli Yamaha old Vixion atau tetap menggunakan Yamaha new Vixion berdasarkan pertimbangan sebelumnya..

Berdasarkan penjelasan diatas bahwa kualitas produk dan nilai pelanggan dapat menjadi faktor yang mempengaruhi minat untuk mempertimbangkan pembelian kembali Yamaha old Vixion dengan kualitas produk dan nilai pelanggan yang terdapat pada Yamaha old Vixion. Maka dpaat disusun kerangka pemikiran sebagai berikut :

(24)

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

2.6.1 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kernagka penelitian diatas, maka dapat diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:

Hoa: Tidak terdapat pengaruh Kualitas Produk dan Nilai Pelanggan terhadap Minat Beli Yamaha Old Vixion secara Parsial.

H1a: Terdapat pengaruh Kualitas Produk dan Nilai Pelanggan terhadap Minat Beli Yamaha Old Vixion secara Parsial.

Hob: Tidak terdapat pengaruh Kualitas Produk dan Nilai Pelanggan terhadap Minat Beli Yamaha Old Vixion secara Simultan.

Minat Beli (Y)

 Pencarian informasi lanjut.

 Kemauan untuk memahami produk

 Keinginan untuk mencoba produk  Kunjungan ke ritel Kualitas Produk (X1)  Bentuk  Kinerja  Daya Tahan  Keandalan  Estetika  Keamanan Nilai Pelanggan (X2)  Nilai Produk  Nilai Pelayanan  Personil atau Karyawan  Citra  Biaya Moneter  Biaya Waktu  Biaya Energi  Biaya Psikis

(25)

H1b: Terdapat pengaruh Kualitas Produk dan Nilai Pelanggan terhadap Minat Beli Yamaha Old Vixion secara Simultan.

Hoc: Tidak terdapat pengaruh Kualitas Produk dan Nilai Pelanggan terhadap Minat Beli Yamaha New Vixion secara Parsial.

H1c: Terdapat pengaruh Kualitas Produk dan Nilai Pelanggan terhadap Minat Beli Yamaha New Vixion secara Parsial.

Hod: Tidak terdapat pengaruh Kualitas Produk dan Nilai Pelanggan terhadap Minat Beli Yamaha New Vixion secara Simultan.

H1d: Terdapat pengaruh Kualitas Produk dan Nilai Pelanggan terhadap Minat Beli Yamaha New Vixion secara Simultan.

Hoe: Tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan pada Nilai Pelanggan terhadap Kualitas Produk Yamaha Old Vixion dan Yamaha New Vixion.

H1e: Terdapat perbedaan persepsi yang signifikan pada Nilai Pelanggan terhadap Kualitas Produk Yamaha Old Vixion dan Yamaha New Vixion.

Gambar

Tabel 2.1  Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

Terhadap Return Saham, Analisa Komparasi Perbandingan Bank Pada Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 3&4 Dan BUKU 1&2 Di Indonesia ”. 1.2

Sebagai pengantar untuk memahami wajah Gereja Indonesia yang gembira dan berbelaskasih di masa lampau, kini dan esok, berikut uraian singkat untuk mengenal Anjuran Apostolik dan

Hasilnya menunjukkan bahwa ada beberapa problematika yang dihadapi perpustakaan perguruan tinggi Islam di Indonesia yaitu bahwa perpustakaan perguruan tinggi Islam tidak hanya

Nilai pemakaian kelompok A indeks kritis lebih tinggi (83.1%) bila diband- ingkan dengan kelompok A analisis ABC (79.1%) karena jumlah jenis bahan baku untuk memenuhi persediaan

Desain output pada sistem informasi pendaftaran pasien rawat jalan di RSU Bina Sejahtera Medan adalah dalam bentuk tabel yang berupa laporan per hari dan laporan per bulan serta

Frekuensi makan tujuh jenis makanan lainnya yang diuji secara univariate tidak menunjukan adanya perbedaan persentase kadar UIC berlebih yang signifikan secara

Dari uraian di atas maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa servis bawah adalah suatu gerakan bagian dari teknik dasar bolavoli yang pada dasarnya gerakannya mudah dilakukan dan

untuk pembuatan lapisan tipis dari bahan padat yang mempunyai titik leleh tinggi harus dengan teknik sputtering yaitu dengan cara bahan padat yang akan dilapiskan ditembak