• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP KADAR GULA DARAH PADAA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH TEKNIK RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP KADAR GULA DARAH PADAA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL SKRIPSI"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP KADAR GULA DARAH

PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Keperawatan

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

i

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP KADAR GULA DARAH PADA

PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI

BANTUL SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Keperawatan STIKES A. Yani Yogyakarta

Disusun oleh :

TIKA YULIANI 3208032

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA

2012

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI OTOT PROGRESIF PADA

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Keperawatan

(2)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

(3)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

iii

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya tulis yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, Agustus 2012

(4)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes

Mellitus Tipe 2 di RSUD Panembahan Senopati Bantul”.

Karya Tulis Ilmiah ini dapat diselesaikan atas bimbingan, arahan dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, dan pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya kepada:

1. dr. Edi Purwoko, Sp.B, selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.

2. Dwi Susanti, S.Kep., Ns, selaku Ketua Program Studi Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.

3. Paulus Subiyanto, S.Kp., M.Kep., Sp.KMB, selaku Penguji Usulan Penelitian yang telah memberikan masukan, saran yang berguna bagi penulis.

4. Wenny Savitri, S.Kep.,Ns., MNS, selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, saran dan pendapat yang berguna.

5. Masta Hutasoit, S.Kep., Ns, selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, saran dan pendapat yang berguna.

6. Orang tua, adik, dan semua keluarga yang memberikan limpahan cinta, doa serta semangat.

7. Semua teman-teman mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani khususnya mahasiswa keperawatan angkatan 2008 yang telah membantu dan memotivasi terselesainya Karya Tulis Ilmiah ini.

Semoga Allah SWT senantisa melimpahkan kebaikan kepada semuanya, sebagai imbalan atas segala bantuannya. Akhirnya besar harapan penulis semoga penelitian ini berguna bagi semua.

Yogyakarta, 2012 Penulis

(5)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

vii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ... i HALAMAN PENGESAHAN... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL... ix DAFTAR BAGAN... ... x DAFTAR LAMPIRAN ……… xi INTISARI ………. xii ABSTRACT... xiii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 3 C. Tujuan Penelitian ... 4 D. Manfaat Penelitian ... 4 E. Keaslian Penelitian... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 7

A. Diabetes Mellitus ... 7

B. Teknik Relaksasi Otot Progresif ... 20

C. Kerangka Teori... 25

D. Kerangka Konsep... 26

E. Hipotesis Penelitian………. 26

BAB III METODE PENELITIAN ... 27

A. Rancangan Penelitian... 27

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 27

C. Populasi dan Sampel ... 27

D. Variabel Penelitian... 29

E. Definisi Operasional... 29

F. Alat dan Metode Pengumpulan Data ... 31

G. Metode Pengolahan dan Analisa Data ... 35

H. Etika Penelitian... 36

I. Pelaksanaan Penelitian... 36

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 38

A. Hasil Penelitian ... 38

B. Pembahasan ... 42

(6)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

viii BAB V PENUTUP... 46 A. Simpulan ... 46 B. Saran ... 46 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

(7)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

ix

DAFTAR TABEL

Hal

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian... 29 Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden... 39 Tabel 4.2 Gambaran Kadar Gula Darah... 40 Tabel 4.3 Gambaran Responden yang Mengalami Peningkatan Kadar

Gula Darah... 40 Tabel 4.5 Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kadar

(8)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

x

DAFTAR BAGAN

Hal

Bagan 1 Kerangka teori... 25

Bagan 2 Kerangka konsep... 26

Bagan 3 pelaksanaan hari ke 1 ... 32

Bagan 4 Pelaksanaan hari ke 2... 32

Bagan 5 Pelaksanaan hari ke 3...……….. 33

Bagan 6 Pelaksanaan hari ke 4………... 34

(9)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Jadwal Penelitian Lampiran 2. Surat Ijin Penelitian

Lampiran 3. Surat Permohonan Menjadi Responden Lampiran 4. Inform Consent

Lampiran 5. Prosedur Teknik Relaksasi Otot Progresif Lampiran 6. Hasil Observasi

Lampiran 7. Hasil Olah Data SPSS 16 Lampiran 8. Lembar Konsultasi

(10)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

xii

INTISARI

Latar Belakang: Diabetes Mellitus merupakan salah satu penyakit degeneratif

yang sering tidak terindentifikasi sampai komplikasi muncul. Kita ketahui pula bahwa penyakit DM merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan, sehingga perlu penanganan yang terus menerus untuk mengontrol hiperglikemi agar tidak terjadi komplikasi. Salah satu faktor terjadinya hiperglikemia pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 adalah stres. Stres dapat menyebabkan kadar gula darah seseorang meningkat, ini di sebabkan oleh pengeluaran epinefrin. Salah satu bentuk cara meredakan ketegangan emosional yang cukup mudah dilakukan adalah relaksasi otot progresif, selain mudah dan praktis untuk dilakukan, teknik relaksasi otot progresif dapat dilakukan kapan saja.

Tujuan Penelitian: Diketahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap

kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2.

Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan

rancangan penelitian quasi eksperiment. Jumlah sampel yang digunakan 12 responden, dengan metode sampel berpasangan yaitu 12 responden sebagai kelompok intervensi dan kelompok kontrol dari RSUD Panembahan Senopati Bantul. Teknik pengambilan sampel sendiri dengan teknik Purposive Sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariabel dan analisis bivariabel menggunakan Paired sample T-test dengan tingkat kemaknaan p<0,05.

Hasil: Penurunan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 dengan

intervensi teknik relaksasi otot progresif lebih tinggi (p=0,000) dibanding saat pengobatan tanpa intervensi teknik relaksasi otot progresif (p=0,003)

Kesimpulan: Teknik relaksasi otot progresif dapat menurunkan kadar gula darah

pada pasien DM tipe 2, terlihat dari perbedaan penurunan kadar gula darah antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi.

(11)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

xiii

ABSTRACT

Background: Diabetes Mellitus is a degenerative disease that is often not

identified until complications arise. It is also known that DM is a chronic disease that can’t be cured, so it needs continuous treatment to control hyperglycemia in order to avoid the complications. One of the occurrence of hyperglycemia in patients who have Diabetes Mellitus Type 2 is stress. Stress can cause a person's blood sugar levels rise. This is caused by spending epinephrine. One way to relieve the emotional strain is quite easy, by doing progressive muscle relaxation, but easy and practical thing to do, progressive muscle relaxation techniques can

be done anytime.

Objective: To know the effect of progressive muscle relaxation techniques on

blood sugar in patients who have Diabetes Mellitus Type 2.

Method: The study is a quantitative study with quasi-experiment research design.

For the sample, it used 12 respondents, the method of paired sample of 12 respondents as the intervention group and control group in RSUD Panembahan Senopati Bantul. The sampling technique is purposive sampling technique. Analysis of the data that is used is the analysis of univariabel and analysis bivariabel that used Paired sample t-tests with p <0.05.

Result: Decreasing in blood sugar levels in patients who have Diabetes Mellitus

Type 2 with the intervention (mean= 2,44) is higher than when there is no intervention progressive muscle relaxation technique (mean= 1,97).

Conclusion: Progressive muscle relaxation technique can make blood sugar

levels become lower in diabetic patients type 2. It can be seen from the difference in reduction of blood sugar levels between the control and intervention groups.

(12)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif, yaitu

penyakit akibat fungsi atau struktur dari jaringan atau organ tubuh yang secara progresif menurun dari waktu ke waktu karena usia atau gaya hidup. Diabetes

Mellitus Tipe 2 sifatnya bukan bawaan dari lahir tetapi disebabkan oleh faktor

gaya hidup dan makanan yang dikonsumsi setiap hari serta faktor degenaratif, sehingga pada umumnya penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 adalah mereka yang berumur lebih dari 30 tahun. Selain itu, Diabetes Mellitus tipe 2 sering tidak didiagnosis sampai komplikasi muncul (Foreman, Elliott & Smith, 2011).

Menurut survey WHO/ World Health Organization tahun 2011, hampir 346 juta orang di dunia menderita penyakit Diabetes Mellitus. Indonesia menempati urutan keempat kasus Diabetes Mellitus dengan prevalensi 8,4% dari total penduduk Indonesia. Jumlah pasien Diabetes Mellitus meningkat dari tahun ketahun. Menurut Wakil Direktur Bidang Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panembahan Senopati Bantul, penyakit diabetes mellitus menempati urutan ke tiga setelah penyakit hipertensi dan penyakit tulang belakang. Adapun jumlah pasien DM pada bulan Agustus 2011 mencapai 618 orang penderita, September 2011 mencapai 581 penderita, dan pertengahan Oktober 2011 mencapai 284 (ANTARA, 17 Oktober 2011). Pada pasien rawat inap sendiri, tercatat pada rekapan data pada bulan Januari 2012 sebanyak 54 pasien DM, pada bulan Februari 2012 sebanyak 50 pasien DM (Data RSUD Panembahan Senopati Bantul, yang diambil pada tanggal 2 April 2012).

Diabetes Melitus merupakan salah satu dari beberapa penyakit yang

memperlihatkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data dari Dinkes propinsi DIY 2010 yang dilihat pada bulan Februari 2012, Diabetes Mellitus tipe 2 menempati urutan keempat dari sepuluh besar penyakit tidak menular yang di rawat inap di rumah sakit kabupaten/kota yang berada di DIY, dengan jumlah penderita 807 orang. Sedangkan untuk rawat jalan DM

(13)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

2

secara keseluruhan menempati urutan keenam terbanyak kunjungan rawat jalan pasien Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) Gakin di Puskesmas di tahun 2008 yaitu sebanyak 9258 orang (survey Aksesbilitas JPK Gakin DIY. 2008 dalam profil kesehatan Dinkes Provinsi DIY tahun 2010).

Salah satu faktor terjadinya hiperglikemia pada pasien DM tipe 2 adalah stres. Stres dapat menyebabkan kadar gula darah seseorang meningkat, ini disebabkan oleh pengeluaran epinefrin. Epinefrin menghambat sekresi insulin, memacu pelepasan glukagon, mengaktivasi pemecahan glikogen dan mengganggu kerja insulin pada jaringan target sehingga produksi gula hati meningkat dan kapasitas mengatur beban gula eksogen terganggu (Foster, 2008 dalam Isselbacber, Braunwald, Wilson, Martin, Fauci & Kasper, 2008). Penanganan DM di rumah sakit yang ada selama ini masih sebagian besar berfokus pada pengobatan konvensional yang telah diprogramkan oleh dokter, belum memperhatikan penanganan stress pasien, sedangkan faktor psikologis sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan pasien. Apabila stres yang dialami penderita diabetes dibiarkan saja, dengan kadar gula darah tetap tinggi dan tidak dikelola dengan baik, ditakutkan komplikasi akut (ketoasidosis diabetes/KAD, asidosis laktat, koma hiperosmolar hiperglikemik non ketotik) sampai komplikasi kronik (retinopati, nefropati, jantung koroner) dapat terjadi (Sudoyo, Setiyohadi, Alwi, Simadibrata, & Setiati, 2006). Sehingga dengan itu perlu penanganan secara holistik pada pasien DM.

Banyak cara yang dapat digunakan dalam penanganan stres diantaranya teknik relaksasi nafas dalam, teknik relaksasi otot progresif, terapi musik, terapi respon emosi-rasional, yoga, dan pendekatan agamis (Wade & Tavns, 2007). Berbagai teknik tersebut merupakan suatu upaya meredakan ketegangan emosional sehingga individu dapat berpikir lebih rasional. Dengan demikian produksi gula hati dapat terkontrol dengan baik, dengan begitu gula darah dapat stabil normal. Salah satu bentuk cara meredakan ketegangan emosional yang cukup mudah dilakukan adalah relaksasi otot progresif (Suyamto, Prabandari & Machira, 2009). Teknik ini memaksa individu untuk berkonsentrasi pada ketegangan ototnya dan kemudian melatihnya untuk relaks. Orang yang stres,

(14)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

3

secara emosional tegang dan mengalami ketegangan otot. Teknik ini berusaha meredakan ketegangan otot dengan harapan bahwa ketegangan emosionalpun berkurang, maka dari itu teknik relaksasi otot progresif ini dapat digunakan untuk mendampingi teknik konvensional yang biasa diberikan.

Menurut studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 7 Februari 2012 di RSUD Panembahan Senopati Bantul, rumah sakit ini belum menggunakan teknik nonfarmakologi dalam menangani pasien DM tipe 2 pada pasien rawat inapnya, hanya menggunakan teknik konvensional tanpa ada intervensi nonfarmakologi. Menurut hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 20 April 2012, obat yang digunakan di RSUD Panembahan Senopati Bantul menggunakan 2 jenis, yaitu dengan insulin dan obat oral. Pengobatan pada pasien rawat inap dengan insulin kurang lebih 75%, namun dosis untuk setiap pasien berbeda-beda tergantung derajat keparahan atau tingginya gula darah pada pasien, sedangkan pengobatan pasien rawat inap dengan obat oral sekitar 25%, dosis sudah dari pabrik. Dilihat dari jumlah pasien DM dari tahun ke tahun di RS ini yang meningkat, intervensi nonfarmakologi teknik relaksasi otot progresif perlu dipertimbangkan. Selain mudah dan praktis dilakukan, relaksasi otot progresif dapat digunakan untuk terapi sehari-hari yang digunakan penderita DM. Kita ketahui pula bahwa penyakit DM merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan, sehingga perlu penanganan yang terus menerus untuk mengontrol hiperglikemi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis tertarik melakukan penelitian untuk melihat pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap penurunan gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di RSUD Panembahan Senopati Bantul, maka rumusan masalahnya adalah ”Apakah ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di RSUD Panembahan Senopati Bantul? ”

(15)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

4

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2.

2. Tujuan Khusus:

a. Untuk mengetahui kadar gula darah pada saat pengobatan tidak didampingi dengan intervensi teknik relaksasi otot progresif.

b. Untuk mengetahui kadar gula darah pada saat pengobatan didampingi dengan intervensi teknik relaksasi otot progresif.

c. Untuk membandingkan kadar gula darah antara pengobatan dengan tidak didampingi intervensi relaksasi otot progresif dan pengobatan dengan didampingi intervensi teknik relaksasi otot progresif pada orang yang sama.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Mengetahui cara pengontrolan gula darah dengan teknik nonfarmakologi dengan merelaksasi otot, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan perawat dan dapat digunakan sebagai terapi komplementer atau terapi pendamping dari farmakologi.

2. Manfaat Praktis

a. Untuk mengevaluasi efek dari penggunaan relaksasi otot progresif untuk penurunan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di RSUD Panembahan Senopati Bantul.

b. Penelitian ini diharapkan dapat dipraktekkan di rumah sakit sebagai pendamping penanganan konvensional dan dapat pula dipraktekkan di rumah untuk tetap menjaga kadar gula darah pasien Diabetes Mellitus tipe 2 tetap stabil serta meningkatkan kualitas hidup pasien.

(16)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

5

E. Keaslian Penelitian

1. Kuswandi, Sitorus, Gayatri. (2008), pada jurnal yang berjudul: “Pengaruh Relaksasi Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Sebuah Rumah Sakit Di Tasikmalaya”, mereka melakukan intervensi relaksasi pada pasien Diabetes Mellitus guna menurunkan kadar gula darah, pada penelitian tersebut tidak disebutkan jenis relaksasi apa yang digunakan, namun setelah dilihat dari cara melakukan relaksasi, diketahui relaksasi tersebut relaksasi otot. Relaksasi otot dilakukan pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 selama 7 hari, sehari dilakukan dua kali. Hasil penelitian itu menunjukan ada pengaruh relaksasi terhadap penurunan gula darah yang signifikan.

Penelitian tersebut mempunyai kesamaan dengan penelitian yang dilakukan, yaitu memberikan teknik relaksasi otot progresif pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 yang dilakukan dua kali sehari. Perbedaan terletak pada lama waktu pemberian intervensi. Pada penelitian ini, intervensi dilakukan selama 7 hari, sedangkan pada penelitian yang telah dilakukan ini, intervensi diberikan selama 2 hari, sehari dilakukan 2 kali dengan waktu 10 sampai 15 menit. Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian tersebut 100 pasien di Tasikmalaya dengan 50 kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Sedangkan pada penelitian yang telah dilakukan ini, sampel yang akan digunakan sejumlah 15 sampel dengan 2 hari tanpa perlakuan dan 2 hari dengan perlakuan intervensi relaksasi otot progresif. Pada penelitian ini digunakan sampel independen, sedangkan penelitian yang dilakukan menggunakan sampel berapasangan.

2. Suyamto, Prabandari, Machira. (2009). Pada jurnal yang berjudul “Pengaruh Relaksasi otot dalam Menurunkan Skor Kecemasan T-TMAS Mahasiswa Menjelang Ujian Akhir Program di Akademi Keperawatan Notokusumo Yogyakarta”. Berdasar hasil penelitian dalam jurnal tersebut diketahui hasil terdapat perbedaan kecemasan antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, saat pre kelompok perlakuan dan kelompok kecemasan tinggi, tetapi

(17)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

6

saat post kelompok perlakuan kecemasan lebih rendah dan kelompok kontrol kecemasan tetap tinggi.

Persamaan dengan penelitian ini, intervensi sama-sama menggunakan relaksasi otot, namun perbedaannya penelitian tersebut dilakukan pada kelompok mahasiswa yang akan menghadapi ujian guna menurunkan kecemasan pada mahasiswa, sedangkan pada penelitian yang telah dilakukan oleh penulis dilakukan pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 guna menurunkan kadar gula darah. Pada penelitian tersebut menggunakan instrument Tes

Taylor Manifest Anxietas Scale (Tes TMAS) untuk mengukur tingkat

kecemasan, sedangkan pada penelitian ini menggunakan Glukometer untuk mengukur kadar gula darah.

3. McGinnis, McGrady, Cox, Kimber. (2005). Sebuah artikel yang bejudul “Biofeedback-Assisted Relaxation in Type 2 Diabetes” menyebutkan biofeedback dan relaksasi pada pasien DM tipe 2 efektif digunakan untuk menurunkan kadar gula darah, didapatkan hasil yang signifikan pada penelitian tersebut.

Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah menggunakan relaksasi untuk menurunkan gula darah pada pasien DM tipe 2. Namun, dalam artikel tersebut tidak menyebutkan jenis relaksasi apa yang digunakan, sedangkan pada penelitian ini menggunakan teknik relaksasi otot progresif. Pada penelitian tersebut digunakan biofeedback untuk mendampingi relaksasi yang diajarkan, sedangkan pada penelitian ini hanya menggunakan teknik relaksasi otot progresif saja. Penelitian tersebut dilakukan selama tiga bulan dengan 10 sesi dari biofeedback (electromyograph dan termal) dan relaksasi atau 3 sesi pendidikan. Pada penelitian ini menggunakan sampel berpasangan, intervensi relaksasi otot progresif dilakukan selama 2 hari berturut-turut.

(18)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

38

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

RSUD Panembahan Senopati Bantul merupakan Rumah Sakit daerah yang berada di kabupaten Bantul, letaknya tepat ditengah kota Bantul yang dekat dengat pusat Bantul. RSUD Panembahan Senopati Bantul terletak di Jalan Wahidin Sudiro Husodo Bantul. Sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Jetis, sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Bambanglipuro, sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Pandak dan sebelah utara berbatasan dengan kecamatan Sewon. RSUD Panembahan Senopati Bantul adalah Rumah Sakit bertipe B.

Pelayanan spesialis yang diselenggarakan di RSUD Panembahan Senopati meliputi penyakit dalam, bedah, anak, obsgyn, syaraf, jiwa, THT, mata, kulit dan kelamin, umum, IGD 24 jam. Ruang rawat yang ada di RSUD Panembahan Senopati Bantul meliputi: Alamanda 1 dengan jumlah tempat tidur 27, Alamanda 2 dengan jumlah tempat tidur 18, Anggrek dengan jumlah tempat tidur 31, Bakung dengan jumlah tempat tidur 31, Cempaka dengan jumlah tempat tidur 22, Edelweis dengan jumlah tempat tidur 2, Flamboyan dengan jumlah tempat tidur 23, ICU dengan jumlah tempat tidur 5, Mawar 1 dengan jumlah tempat tidur 11, Mawar 2 dengan jumlah tempat tidur 11, Melati dengan jumlah tempat tidur 35, Nusa Indah 1 dengan jumlah tempat tidu 9, Nusa Indah 2 dengan jumlah tempat tidur 21, Perinatal dengan jumlah tempat tidur 40, Wijaya Kusuma dengan jumlah tempat tidur 3. Tempat tidur pasien yang berada di RSUD ini keseluruhan berjumlah 289 tempat tidur.

Penelitian dilakukan pada 3 bangsal penyakit dalam (Bangsal Flamboyan, Bangsal Bakung dan Bangsal Cempaka), Bangsal Flamboyan dengan 6 responden, Bangsal Bakung dengan 4 responden dan Bangsal Cempaka sendiri dengan 2 responden. Tenaga perawat dimasing-masing bangsal kurang lebih 15 tenaga perawat. Perawat tersebut bekerja dengan 3 shift, shift pagi sekitar 5

(19)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

39

tenaga perawat, shift siang 4 orang tenaga perawat dan malam 3 orang tenaga perawat.

2. Analisis Hasil Penelitian

Subjek penelitian adalah pasien Diabetes Mellitus tipe 2 dengan obat oral yang berjumlah 12 orang. Semua pasien mendapat perlakuan relaksasi otot progresif, dengan dua hari tanpa perlakuan dan dua hari dengan perlakuan.

a. Analisis univariabel.

Hasil analisis univariabel bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik dari subjek penelitian sehingga kumpulan data tersebut berubah menjadi informasi yang berguna.

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden

No Variabel Responden Total

(n=12) (n=12) n (%) (%) 1 Usia 20-39 tahun 40-59 tahun 60 tahun 0 11 1 0 91,7 8,3 100 2 3 Jenis Kelamin Wanita Laki-Laki Dosis Obat 1-0-0 1-0,5-0 1-1-0 10 2 8 1 3 83,3 16,7 66,7 8,3 25 100 100 Sumber: data primer dan data sekunder, 2012

Jenis obat: Glimipirid dan Glibenclamid

Dari tabel 4.1 ditemukan bahwa dari total responden sejumlah 12, tidak ada responden yang berada kategori usia 20-39 tahun, 11 responden (91,7%) berada pada kategori usia 40-59 tahun dan 1 responden (8,3%) berusia 60 tahun. Jenis kelamin dari jumlah total responden, ditemukan jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki yaitu sebesar 83,3% (10 responden), sedangkan jumlah laki-laki sebesar 16,7% (2 responden). Jenis obat yang digunakan mayoritas Glimipirid, 2 responden yang menggunakan

(20)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

40

Glibenclamid. Dosis obat sehari satu kali (1-0-0) saat pagi hari 8 responden (66,7%), dosis obat sehari dua kali dengan 1 tablet pagi hari dan setengah tablet pada siang hari (1-0,5-0) ada 1 responden (8,3%) dan dua tablet dalam sehari (1-1-0) ada 3 responden (25%).

Tabel 4.2. Gambaran Kadar Gula Darah

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

KGD pre1 12 180 339 263,67 51,92

KGD pre2 12 149 318 240,83 51,49

KGD post1 12 126 298 227,75 54,24

KGD post2 12 103 273 192,17 54,46

Sumber: data primer, 2012 Keterangan:

KGD (pre) H1 : kadar gula darah pagi sebelum makan hari pertama tanpa teknik relaksasiotot progresif

KGD (pre) H2 : kadar gula darah pagi sebelum makan hari kedua tanpa teknik relaksasi otot progresif

KGD (post) H : kadar gula darah pagi sebelum makan hari berikutnya dengan teknik relaksasi otot progresif

KGD (post) H2 : kadar gula darah pagi sebelum makan hari berikutnya dengan teknik relaksasi otot progresif

Dari tabel 4.2. ditemukan bahwa kadar gula darah (KGD) pada hari kedua didapatkan nilai terendah 180 mg/dL dan nilai kadar gula darah tertinggi 339 mg/dL dengan nilai rata-rata 263,67. Kadar gula darah pada hari ketiga didapatkan nilai kadar gula darah terendah 149 mg/dL dan nilai kadar gula darah tertinggi 318 mg/dL dengan nilai rata-rata 240,83. Kadar gula darah pada hari kedua didapatkan nilai terendah 126 mg/dL dan nilai tertinggi 298 mg/dL dengan nilai rata-rata 227,75. Kadar gula darah pada hari kedua didapatkan nilai terendah 103 mg/dL dan nilai tertinggi 273 mg/dL dengan nilai rata-rata 192,17.

Tabel 4.3. Gambaran responden yang mengalami peningkatan kadar gula darah.

No. responden

Pre H2 Post H1 Post H2 Komplikasi Jenis kelamin

3 10 - Perempuan

9 28 Hipertensi Perempuan

12 18 13 Hipertensi Perempuan

(21)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

41

Dari tabel 4.3. Dari 12 responden terdapat 3 responden yang mengalami kenaikan kadar gula darah darah, 1 responden dengan nomor responden nomor 3 mengalami kenaikan gula darah sebesar 10 mg/dL sebelum diberikan teknik relaksasi otot progresif dan 2 responden yaitu responden nomor 9 dan 12 mengalami kenaikan kadar gula darah setelah diberikan teknik relaksasi otot progresif dengan penyakit lain hipertensi. Adapun jenis kelamin yang mengalami kenaikan adalah perempuan.

b. Analisis bivariabel.

Analisis ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas yaitu kadar gula darah antara pengobatan dengan yang tidak didampingi intervensi relaksasi otot progresif dan pengobatan dengan yang didampingi intervensi teknik relaksasi otot progresif pada orang yang sama.

Uji statistik yang digunakan adalah paired sample t test untuk melihat perbandingan kadar gula darah antara pengobatan yang didampingi dengan teknik relaksasi otot progresif dengan pengobatan yang tidak didampingi dengan teknik relaksasi otot progresif. Tingkat kemaknaan menggunakan p value <0,05 dengan kepercayaan 95%.

Tabel 4.5. Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kadar Gula Darah

N0 Variabel n Mean SD p value

12

1 Preintervensi 22,83 20,63 0,003

2 Postintervensi 35,58 23,81 0,000

Sumber: data primer, 2012

Dari tabel 4.5 dari tabel menunjukkan rata-rata kadar gula darah (KGD) sebelum diberikan teknik relaksasi otot progresif pada pre intervensi adalah 22,83 mg/dL, dengam nilai p= 0,003 (α=0,05). Rata-rata KGD setelah diberikan teknik relaksasi otot progresif adalah 35,58 mg/dL dengan nilai p=0,000 (α=0,05).

(22)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

42

B. Pembahasan

Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap kadar gula darah pada pasien DM tipe 2 dengan melihat hasil pengukuran kadar gula darah pada setiap pagi sebelum makan (jam 05.00). Pasien dipantau KGD setiap hari, data yang diperoleh pada hari kedua dan ketiga merupakan data kelompok kontrol karena pada hari tersebut responden tidak mendapat intervensi relaksasi otot progresif. Data yang diperoleh pada hari keempat dan kelima sebagai data kelompok intervensi karena pada hari ketiga dan keempat dilakukan teknik relaksasi ototprogresif pada jam 14.00 dan 19.00.

Berdasarkan hasil analisis univariabel, ditemukan jumlah responden perempuan lebih banyak dari responden laki-laki, hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Boyn dan Nihart (1998) dalam Kuswandi, Sitorus dan Gayatri (2008), bahwa resiko penyakit DM tipe 2 cenderung lebih banyak dialami oleh kaum perempuan, karena kaum perempuan lebih banyak merasakan stres yang dapat mendukung terjadinya peningkatan kadar gula darah. Hal ini juga dapat dilihat pada tabel 4.3, bahwa dari 3 responden yang mengalami peningkatan kadar gula darah, keseluruhannya merupakan perempuan. Dalam penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Antonucci, Tamir dan Dubnoff (1980), dalam Rini (2004), yang dikutip oleh Suwandi, Sitorus dan Gayatri (2008), yang menyatakan kaum perempuan lebih banyak terkena penyakit DM tipe 2 terutama menjelang usia 40 tahunan. Penelitian Siswaningsih (2006), dalam Siswandi, Sitorus dan Gayatri (2008) juga menunjukkan kaum perempuan lebih banyak daripada kaum laki-laki, kelompok perempuan pada penelitian tersebut sekitar 90% dan kurang dari 20% adalah responden laki-laki.

Jumlah responden terbanyak berada pada rentang usia 40 tahun hingga 59 tahun, pada usia pertengahan individu memiliki resiko penyakit Diabetes Mellitus tipe 2, terlebih bila ditunjang dengan kondisi stres (Timby, Scherer & Smith, 1999 dalam Kuswandi, Sitorus, Gayatri, 2008). Usia termuda pada responden yang didapat adalah usia 40 tahun dan yang tertua usia 60 tahun, hal ini juga selaras

(23)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

43

dengan Foreman, Elliott dan Smith (2011), yang mengemukakan bahwa penderita

Diabetes Mellitus pada umumnya berusia lebih dari 30 tahun. Semakin

bertambahnya usia, semakin menurun fungsi organ-organ dalam tubuh, termasuk pankreas. Semakin bertambah usia, dimungkinkan terjadi penurunan fungsi pankreas secara progresif. Sehingga produksi insulin menurun yang menyebabkan penurunan kemampuan dalam menghantarkan gula darah dari darah ke dalam sel dan akhirnya terjadi peningkatan kadar gula darah (Subiyanto, 2011). Pada usia pertengahan, banyak terjadi permasalahan hidup yang terjadi, ini dapat memicu timbulnya stres (Sudoyo, Setyohadi, Alwi, Simadibrata & Setiati, 2009).

Keseluruhan responden, saat ditanya mengenai diit yang diberikan oleh Rumah Sakit, keseluruhan memakan diit yang diberikan, namun tidak selalu dihabiskan. Tidak semua diit pasien dapat diobservasi oleh peneliti, ini dikarenakan sebagian besar responden saat setelah makan, keluarga pasien menaruh piring keluar ruangan, sehingga tidak dapat diobservasi.

Ada 3 responden yang mengalami kenaikan kadar gula darah, 2 diantaranya mengalami kenaikan kadar gula darah setelah melakukan teknik relaksasi otot progresif, namun demikian kedua responden tersebut ada faktor pengganggu yang memungkinkan terjadinya kenaikan kadar gula darah yaitu hipertensi. Hal ini sesuai dengan Tandra (2008), yang menyebutkan bahwa tingginya kadar gula darah salah satunya dipengaruhi oleh stes, baik stres fisik dan stres psikoligik (cemas). Kenaikan kadar gula darah pada responden dengan hipertensi ini juga dimungkinkan pula oleh penggunaan obat antihipertensi (Carlise, 2005 dalam Ernawati, 2008). Selain dari kedua responden tersebut, ada 1 responden yang mengalami kenaikan kadar gula darah sebelum dilakukan teknik relaksasi otot progresif, yaitu responden nomer 3 pada hari ketiga. Kemungkinan ini terjadi karena stres yang dialami saat masuk rumah sakit, karena tidak ada individu yang menginginkan ataupun senang masuk rumah sakit. Hal ini didapat dari pernyataan beberapa pasien saat diberikan penjelasan mengenai manfaat teknik relaksasi otot progresif. Hal ini selaras dengan Asmadi, 2008, yang menyatakan bahwa hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi setiap individu.

(24)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

44

Berdasarkan hasil analisis bivariabel dengan menggunakan uji statistik paired

sample t test, rata-rata kadar gula darah (KGD) sebelum maupun sesudah

diberikan teknik relaksasi otot progresif didapatkan nilai p lebih kecil dari α=0,05. Pada saat pre intervensi Namun demikian, rata-rata penurunan kadar gula darah post intervensi menunjukkan lebih besar pada saat pengobatan didampingi dengan teknik relaksasi otot progresif dibanding dengan pengobatan tanpa didampingi teknik relaksasi otot progresif. Dari tabel dapat dilihat bahwa pemberian teknik relaksasi otot progresif dapat menurunkan kadar gula darah lebih besar dibanding dengan pengobatan tanpa didampingi teknik relaksasi otot progresif. Hasil ini mendukung hasil penelitian Kuswandi, Sitorus dan Gayatri, (2008) yang menunjukkan bahwa relaksasi dapat menurunkan kadar gula darah lebih besar daripada yang tidak mendapat perlakuan relaksasi yang dilakukan pada pasien DM tipe 2 di RS Tasikmalaya dan penelititan Subiyanto (2011), yang menunjukkan penurunan kadar gula darah lebih besar pada pasien DM tipe 2 yang mendapat terapi hipnorelaksasi dibanding yang tidak mendapat terapi hipnorelaksasi. Pada kedua penelitian tersebut, jenis obat yang didapat pasien adalah insulin dan juga obat oral, pada penelitian yang dilakukan ini hanya dengan obat oral saja, dan hasilnya juga dapat menurunkan kadar gula darah, meskipun tanpa didampingi teknik relaksasi otot progresif juga mengalami penurunan, namun penurunan lebih besar dari pada saat pengobatan tidak didampingi teknik relaksasi otot progresif.

C. Keterbatasan Penelitian

1. Kelemahan Penelitian

a. Peneliti memberikan teknik relaksasi otot progresif kepada pasien DM tipe 2 tanpa menggunakan asisten, sehingga apabila dalam sehari ada lebih dari dua pasien, waktu pemberian teknik relaksasi otot tidak dapat pada waktu yang sama. Sehingga dengan adanya perbedaan waktu pemberian intervensi dikhawatirkan mempengaruhi homogenitas hasil yang didapatkan.

(25)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

45

b. Mayoritas responden berada pada bangsal kelas 3 yang setiap kamar berisi 3-4 pasien, sehingga pelaksanaan pemberian teknik relaksasi otot progresif pada saat jam 19.00 tidak dapat pada ruangan yang redup karena takut mengganggu pasien lain yang tidak dijadikan responden.

c. Peneliti tidak memantau dan mencatat secara detail mengenai seberapa banyak diit yang dimakan oleh responden sehingga tidak dapat diketahui apakah dampak terhadap kadar gula darah sebelum makan pagi ketika diit tidak dihabiskan ataupun dihabiskan.

(26)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

46 BAB V PENUTUP A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa: Ada penurunan kadar gula darah pada pengobatan hari pertama rawat inap yang tidak didampingi teknik relaksasi otot progresif. Penurunan kadar gula darah saat pengobatan didampingi teknik relaksasi otot progresif menunjukkan penurunan yang lebih besar. Terjadi penurunan kadar gula darah yang lebih besar pada pasien DM tipe 2 setelah diberikan teknik relaksasi otot progresif dibandingkan pengobatan yang tidak didampingi teknik relaksasi otot progresif. Teknik relaksasi otot progresif dapat menurunkan kadar gula darah dengan lebih efektif pada pasien DM tipe 2 jika dibandingkan pengobatan tanpa teknik relaksasi otot progresif.

B. Saran

Berdasarkan hasil, pembahasan dan kesimpulan penelitian tentang pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien

Diabetes Mellitus tipe 2, beberapa saran yang diajukan sebagai bahan

pertimbangan adalah:

1. Bagi petugas kesehatan agar memberikan penyuluhan mengenai relaksasi otot progresif, sehingga klien dapat mengetahui terapi pendamping yang dapat dilakukan bersamaan pengobatan pada biasanya.

2. Penyuluhan mengenai teknik relaksasi otot progresif diharapkan diberikan pula pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 yang juga menjalani rawat jalan, sehingga dapat dilakukan dirumah, dan kalaupun pasien tersebut harus dirawat inap, pasien tersebut sudah tahu mengenai terapi pendamping yang dapat dilakukan.

3. Bagi peneliti berikutnya agar waktu pemberian teknik relaksasi otot progresif diberikan dalam waktu yang sama pada setiap responden, sehingga memperbesar tingkat homogenitas. Peneliti dapat merekam

(27)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

47

suaranya yang sesuai dengan prosedur untuk diberikan kepada responden, sehingga ketika lebih dari satu responden, responden yang lain juga dapat melakukan teknik relaksasi otot progresif pada waktu yang sama tanpa didampingi agar memperbesar tingkat homogenitas hasil.

4. Selama pemberian teknik relaksasi otot progresif, responden berada pada lingkungan yang mendukung untuk dilakukan teknik relaksasi otot progresif diantaranya pencahayaan yang redup dan suasana yang tenang. Peneliti dapat menggunakan penutup mata sebagai alat pembantu mengurangi pencahayaan ruangan.

(28)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

DAFTAR PUSTAKA

Adriaanse, MC. (2008). The Hoorn Study: Diabetes-Related Symptom Distress in Association With Glucose Metabolism and Comorbidity. Diabetes Care. Vol.31; pp : 2268-2270

Agoes, A., Agoes, A. & Agoes, A. (2005). Diabetes. Jakarta: EGC.

Alimul, A.H. (2012). Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika.

Altman, G.B. (2009). Fundamental & Advance Nursing Skills, third edition. USA: Cengage.

American Diabetes Association, Diagnosa & Classification of Diabetes Mellitus, Clinical Practice Recommendation 2005. Diabetes Care 28:2145-2149, 2005.

Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC.

Beck, M.E. (2011). ILMU GIZI DAN DIET: Hubungannya dengan Penyakit

penyakit untuk Perawat dan Dokter. Yogyakarta: Andi Offset.

Brunner, L.S., Suddarth, D.S. & Smeltzer, S.C.O. (2008). Textbook of Medical

Surgical Nursing. Philadelphia: Lippincot Williams &Wilkins.

DiNardo, M.M. (2009). Mind-Body Therapies in Diabetes Management. Diabetes

Spectrum, Volume 22, No. 1, hal 30-34.

Dochterman, J.M. & Bulechek, G.M. (2004). Nursing Intreventions Classification

(NIC) fourth edition. USA: Mosby.

Foreman, E.I., Elliott, C.H. & Smith, L.L. (2011). Overcoming Anxiety For

Dummies. England: John Wiley.

Greenberg, R. (2009). 50 Mith that can Ruin Your Life : and the 50 Diabetes

Truths that can save it. Cambridge: Da Capo Press.

Isselbacber, Braunwald, Wilson, Martin, Fauci & Kasper. (2008). Harrison:

Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Volume 3. Jakarta: EGC.

Kee, J.Y. & Hayes, E.R. (1996). Farmakologi: Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC

Kottler, J. & Chen, D. (2008). Stress Management and Prevention: Applications

(29)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

Kuswandi, A., Sitorus, R.. & Gayatri, D. (2008). Pengaruh Relaksasi Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Disebuah Rumah Sakit Di Tasikmalaya Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 12, No. 2, hal 108-114.

LeRoith, D., Taylor, S.I. & Olefsky, J.M. (2004). Diabetes Mellitus: a

Fundamental and Clinical Text, 3rd edition. USA: Wolter KluwerHealth.

Marlene. (2011). Diabetes. USA: Wolter Kluwer Health.

McGinnis, R.A., McGrady, A. & Cox, S.A. (2005). Biofeedback-Assisted Relaxation in Type 2 Diabetes. Original Article. Diabetes Care, Vol.28, no.9.

Mubin, A.H. (2001). Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam: diagnosis & terapi. Jakarta: EGC.

Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Nursalam. (2011). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Dalam Ilmu

Keperawatan edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

Paulus, S. (2011). Pengaruh Hipnorelaksasi Terhadap Penurunan Tingkat Stres

dan Kadar Glukosa Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2. Thesis:

Rachmadi, A. (2008). Kadar Gula Darah Dan Kadar Hormon Testosteron Pada

Pria Penderita Diabetes Melitus: Hubungannya Dengan Disfungsi Seksual Dan Perbedaannya Dengan Yang Tidak Mengalami Disfungsi Seksual. Thesis: Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro

Semarang.

Sloane, E. (2003). Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC.

Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M.K. & Setiati, S. (2009).

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid III, edisi V. Jakarta: Interna

Publishing.

_________________. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III, edisi IV. Jakarta: Interna Publishing.

Sugiyono. (2010). Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta. Suryono, E. (2010). Diabetes Sahabatku, Jakarta: Salemba Medika.

Sustrani, L., Alam, S. & Hadibroto, I. (2006). Diabetes. Jakarta: Vitahealth. Suyamto., Prabandari, Y.S. & Machira, C.R. (2009). Pengaruh Relaksasi Otot

(30)

STIKES JENDERAL A. YANI YOGYAKARTA

PERPUSTAKAAN

Ujian Akhir Program Diakademi Keperawatan Notokusumo Yogyakarta.

Berita Kedokteran Masyarakat, Volume 25, No. 3, hal 142-149.

Tandra, H. (2008). Diabetes: Tanya Jawab Lengkap dengan Ahlinya. Jakarta: Gramedia.

Wade, C. & Tavns, C. (2007). Psikologi, edisi 9, jilid 2. Jakarta: Erlangga. Watson, R. (1997). Anatomi & Fisiologi untuk Perawat, edisi 10. Jakarta: EGC.

Gambar

Tabel 4.1.  Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden No          Variabel Responden Total
Tabel 4.2. Gambaran Kadar Gula Darah
Tabel 4.5. Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kadar Gula Darah

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 2 kasus (5,3%) penggunaan obat antihipertensi pada pasien dewasa di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 2 kasus (5,3%) penggunaan obat antihipertensi pada pasien dewasa di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul yang tidak

Hasil penelitian ini merekomendasikan untuk dilakukan skrining tentang depresi pada pasien DM dan melibatkan keluarga merupakan hal yang penting dalam pemberian

Hal ini membuktikan bahwa pasien hemodialisis yang menunjukkan kesiapan pernapasan dari awal sudah baik, pasien tersebut akan lebih adaptif terhadap proses

pengobatan sendiri menggunaan obat herbal pada gula darah pasien DM Tipe 2.. Metode Penelitian: Jenis penelitian ini observational analitik dengan

Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai penggunaan obat antihipertensi pada pasien diabetes melitus tipe 2

Sedangkan pada subyek II (Ny. M) mengatakan bekerja sebagai pedagang, sehingga aktivitas klien banyak duduk. Aktivitas fisik berdampak terhadap aksi insulin pada orang

Hal ini membuktikan bahwa pasien hemodialisis yang menunjukkan kesiapan pernapasan dari awal sudah baik, pasien tersebut akan lebih adaptif terhadap proses