• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Efektivitas Kepemimpinan Terhadap Terjadinya Burnout pada PT. X

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengaruh Efektivitas Kepemimpinan Terhadap Terjadinya Burnout pada PT. X"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Efektivitas Kepemimpinan Terhadap

Terjadinya Burnout pada PT. X

Adhisa Cassandra, Johannes A.A. Rumeser

Binus University, [email protected]

Abstrak

The research purpose is to know how much the effect of leadership effectiveness to the

occurence of burnout in some PT. which is PT. X. Research methods applied were

quantitative methods, also used a IBM statistic 22 and non – experimental methods

applied. Analysis was done using the linear regression which was counted of leadership

effectiveness, and 3 dimensions of burnout. It is conclued that leadership effectiveness

has an effect to the occurence to the three dimensions of burnout, emotional exhaustion

for 27,1%. Depersonalization for 22,2%. Reduced personal accomplishment 24,2%.

(AC)

Keywords: the effect, leadership effectiveness, burnout

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh dari

efektivitas kepemimpinan terhadap terjadinya burnout pada suatu PT. yaitu PT. X.

Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Dengan menggunakan bantuan

IBM statistik 22 dan bersifat non-eksperimen. Analisis penelitian ini menggunakan

regresi linear yang diujikan pada dimensi efektivitas kepemimpinan dengan 3 dimensi

dari burnout yaitu depersonalisasi, keletihan emosional, dan penurunan pencapaian

diri. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah dari dimensi efektivitas

kepemimpinan dengan dimensi keletihan emosional sebanyak 27,1%, depersonalisasi

sebanyak 22,2%. Dan Reduced personal accomplishment sebesar 24,2%. (AC)

(2)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

PT. X adalah perusahaan swasta yang pada awalnya bergerak di bidang jasa konsultan yang dipersiapkan secara profesional serta bergerak di bidang jasa, ekspedisi, pertambangan dan management dari sisi kualitas kelembagaan, sumber daya manusia, maupun produk ataupun layanan yang disediakan, dengan mengedepankan pada kepuasan pelanggan. Berdiri sejak tahun 1985, PT. X dari waktu ke waktu selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada semua mitra usahanya, didukung oleh perangkat, sarana serta sumber daya manusia yang profesional dan berpengalaman di bidang konsultan.

Fenomena yang akan penulis gunakan sebagai landasan penelitian ini adalah, terdapatnya fakta mengenai adanya beberapa karyawan pada PT. X yang berdiskusi dan bercerita kepada penulis mengenai bagaimana para pemimpin bertindak atau berperilaku terhadap para karyawan dalam PT. X tersebut. Para karyawan PT. X mengatakan bahwa mereka sering merasa tidak bersemangat, letih, merasa bahwa mereka diperlakukan bukan selayaknya karyawan, dan merasa kehidupan mereka kosong, dan tidak berarti. Ciri-ciri tersebut setelah peneliti telaah lebih lanjut, merajuk kepada ciri-ciri terjadinya burnout menurut teori dari Maslach & Jackson (1981) (dalam Purba, Yulianto, & Widyanti, 2007). Penulis mendapatkan fakta ini karena penulis pernah menjadi karyawan di PT. tersebut.

Terdapat 3 faktor yang dapat menyebabkan terjadinya burnout di dalam organisasi, satu hal yang memiliki kontribusi besar terhadap timbulnya burnout, yaitu efektivitas kepemimpinan (Maslach & Goldberg, 1998). Kepemimpinan merupakan fenomena yang terdapat dalam setiap komunitas, karena dimana manusia berinteraksi maka disana timbul fenomena kepemimpinan, mulai dari interaksi dalam kelompok yang paling primitif sampai ke yang paling maju, mulai dari

kelompok yang paling terkecil sampai ke organisasi yang paling besar. Faktor kepemimpinan dalam suatu organisasi menjadi sangat penting. Individu atau anggota organisasi memiliki dinamika yang tinggi dalam aktivitasnya (Maslach & Goldberg, 1998).

Tahun 1996, Maslach dkk. mengembangkan Maslach Burnout Inventory menjadi Maslach Burnout Inventory-Educators Survey. Dalam survey ini mengukur 3 dimensi yaitu, yang pertama adalah emotional exhaustion atau keletihan emosional. Dimana dimensi ini mengukur perasaan emosional yang berkepanjangan dan merasa capai hanya dengan satu pekerjaan. Yang kedua adalah depersonalization, yaitu mengukur bagaimana seseorang menjadi mengabaikan dan menjaga jarang dengan orang lain, atau pada suatu pelayanan tertentu, ataupun suatu instruksi. Yang ketiga adalah reduced personal accomplishment yaitu mengukur perasaan akan kompetensi dan pencapaian dalam satu pekerjaan (Maslach dalam Purba dkk., 2007).

Suatu organisasi akan berhasil atau bahkan gagal sebagian besar ditentukan oleh faktor kepemimpinan (Kusriyah, 2014). Seperti yang dikatakan oleh Sutiman (2012) bahwa salah satu

(3)

masalah yang paling populer dewasa ini adalah kepemimpinan. Trimo (1984) mengatakan bahwa keberadaan pemimpin yang efektif dan dinamis dalam struktur organisasi sangat membantu dan sangat strategis. Karena dengan adanya komitmen yang tinggi dari seorang pemimpin untuk meningkatkan kualitas para bawahannya. Pemimpin yang efektif dan dinamis akan mampu mengendalikan, mengarahkan, dan memotivasi bawahannya kearah tercapainya kinerja karyawan, seperti yang diharapkan pemimpin dalam mencapai sesuatu. Pemahaman dari Rumeser (2013) mengenai konsep kepemimpinan yang efektif, akan penulis gunakan sebagai landasan penelitian ini. Dasar konsep ini adalah perilaku-perilaku pemimpin yang mendukung terciptanya kinerja tim / organisasi. Perilaku-perilaku tersebut adalah pertama adalah kepemimpinan sebagai People / manusiawi. Sejauh mana seorang pemimpin memperlakukan anggota tim secara manusiawi. Kedua adalah Delegation / delegasi. Sejauh mana seorang pemimpin mendelegasikan tanggung jawab dan keputusan kepada para anggota tim. Ketiga adalah Atmosphere / atmosfir. Sejauh mana seorang pemimpin menciptakan atmosfer guna tercipta kerjasama antar anggota tim dalam suatu organisasi. Terakhir yaitu keempat adalah Feedback / umpan balik. Sejauh mana seorang pemimpin

memberikan umpan balik kepada anggota tim. Agar anggota tim mampu mengetahui yang mana yang baik, yang mana yang tidak baik. Mana yang tidak dilakukan dan mana yang harus dilakukan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan penjabaran latar belakang yang tersebut di atas, maka ada sejumlah pertanyaan penelitian yang dapat diajukan:

Apakah efektivitas kepemimpinan berpengaruh terhadap terjadinya burnout di dimensi depersonalisasi pada PT.X?

Apakah efektivitas kepemimpinan berpengaruh terhadap terjadinya burnout di dimensi keletihan emosional pada PT.X?

Apakah efektivitas kepemimpinan berpengaruh terhadap terjadinya burnout di dimensi reduced personal accomplishment / penurunan pencapaian diri pada PT.X?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara efektivitas kepemimpinan terhadap terjadinya burnout di dalam 3 dimensi burnout menurut Maslach dan Jackson (1981) pada PT. X.

METODE PENELITIAN

2.1 Karakteristik Subjek Penelitian

Karakteristik sampel dari penelitian ini yaitu staff / karyawan PT. X. Untuk ke akuratan pengukuran maka penulis menggunakan apa yang telah dialami masing-masing individu kurang lebih selama dua tahun terakhir masa kerja. Tidak termasuk outsource, security dan para pemimpin.

(4)

2.2 Teknik Sampling

Populasi dari penelitian ini adalah PT. X yang berjumlah 167 orang. 150 orang adalah karyawan / staff dari PT. X, kemudian terdapat 5 orang pemimpin yaitu direktur utama, direktur IT, direktur SDM, manager IT, dan manager SDM. Lalu 8 orang sebagai Office Boy & girl (outsource) dan 2 orang bertugas dibagian foto copy (outsource) dan 2 orang security. Sedangkan sampel penelitian berjumlah 150 orang. Karena 5 pemimpin, dan 12 outsource tidak termasuk sebagai staff PT. X.

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling. Yang dimaksud dengan non probability sampling adalah proses pemilihan sampel yang tidak memberikan peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Metode non probability sampling yang digunakan adalah purposive sampling dimana peneliti akan mengambil sampel yang terfokus pada karakteristik tertentu sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian (Arikunto, 2002). Setelah mereview data yang didapatkan dalam kuesioner penelitian, penulis mendapatkan responden sebesar 135 orang yang layak untuk dibawa ketahap selanjutnya yaitu untuk uji asumsi dasar sampai uji regresi.

2.3 Desain Penelitian

Desain penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan ini menekankan analisis data berupa angka yang kemudian diolah menggunakan metode statistic (Sugiyono, 2012). Desain penelitian ini adalah non-eksperimental karena tidak ada variabel yang dimanipulasi.

2.4 Alat Ukur Penelitian

Efektivitas Kepemimpinan

Instrumen Efektivitas Kepemimpinan yang akan digunakan dari Rumeser (2013), terdiri dari 4 (empat) dimensi yaitu orientasi pekerja sebagai manusia (being oriented toward employee as people), pendelegasian tanggung jawab untuk memutuskan (delegating

responsibility for desicions), suasana kerja tim (creating atmosphere of teamwork and cooperation) dan memberi umpan balik. Masing-masing indikator terdiri dari 4 kriteria, jadi total didapat 16 item.

(5)

Tabel 3.1 Alat Ukur Efektivtas Kepemimpinan

No Dimensi Item Jumlah Item

1 Kepemimpinan – People 1, 5, 9, 13 4

2 Kepemimpinan – Delegasi 2, 6, 10, 14 4

3 Kepemimpinan – Atmosfir 3, 7, 11, 15 4

4 Kepemimpinann – Umpan balik 4, 8, 12, 16 4

Total Item 16

Burnout

Instrumen Burnout yang akan digunakan dibuat oleh Maslach dkk. pada tahun 1996 yang dinamakan Maslach Burnout Inventory-Educators Survey (MBI-ES). Dalam instrumen ini terdapat tiga sub skala, yaitu Emotional Exhaustion (EE), Depersonalization (DP), dan Reduced Personal Acomplishment (PA). Instrumen MBI-ES terdiri dari 22 item, sembilan pertanyaan untuk kelelahan emosional (emotional exhaustion), lima pertanyaan untuk depersonalisasi (depersonalization), dan delapan pertanyaan untuk penurunan pencapaian prestasi diri (reduced personal acomplishment) (dalam Purba dkk, 2007). Responden penelitian dikehendaki mengidentifikasi apakah item merupakan apa yang dirasakannya, kemudian responden diminta untuk memberi respons atas skala peringkat empat poin, yaitu dari sangat sering (4) ke “tidak pernah” (1).

Tabel 3.2 Alat Ukur Burnout

No Skala/Sub Skala Item Jumlah

1 Depersonalisasi 5, 10, 11, 15, 22 5

2 Keletihan emosional 1,2,3,6,8,13,14,16,20 9

3 Perasaan tidak mampu 4,7,9,12,17,18,19,21 8

Total Item 22

2.5 Validitas Efektivitas Kepemimpinan dan Burnout

Hasil validitas yang diujikan kepada 135 responden terhadap alat ukur efektivitas kepemimpinan pada ke 4 dimensi sebanyak 16 item ini secara keseluruhan menunjukkan korelasi butir item yang berkisar antara 0,371 sampai dengan 0,682 dari nilai validitas efektivitas

kepemimpinan yang didapatkan. Menurut Field (2005), sebuah item dapat dikatakan valid apabila nilai korelasi butir item diatas 0,25.

(6)

Untuk hasil validitas field study yang diujikan kepada 135 responden terhadap alat ukur burnout MBI-ES pada ke 3 dimensi sebanyak 22 item ini secara keseluruhan menunjukkan korelasi butir item yang berkisar antara 0,250 sampai dengan 0,721. Dari nilai validitas yang didapatkan, hanya terdapat 2 item yang dihapus, hal tersebut dilakukan agar mendapatkan nilai yang valid.

Tabel 3.3 Keterangan Item Burnout

No Dimensi Item sebelum dihilangkan Item sesudah

dihilangkan 1 Depersonalisasi 5, 10, 11, 15, 22 10, 15, 22

2 Keletihan Emosional 1, 2, 3, 6, 8, 13, 14, 16,20 1, 2, 3, 6, 8, 13, 14, 16,20

3

Perasaan Tidak Mampu 4, 7, 9, 12, 17, 18, 19,21 4, 7, 9, 12, 17, 18, 19,21

TOTAL 22 20

2.6 Reliabilitas Efektivitas Kepemimpinan dan Burnout

Dalam penelitian ini, pengujian reliabilitas pada kedua alat ukur dilakukan dengan internal consistency. Menurut Gravetter dan Forzano (2012), internal consistency adalah menganalisa apakah butir item sebuah tes memiliki konsistensi yang cukup baik. Untuk menghitung koefisien reliabilitas, analisa statistik yang peneliti gunakan adalah cronbach’s alpha. Reliabilitas menurut Sarwono (2006) adalah konsistensi dan stabilitas nilai hasil skala pengukuran tertentu. Jika reliabilitas suatu alat ukur tinggi, maka alat ukur tersebut dapat dikatakan baik dan akurat. Koefisien ketetapan alat ukur menunjukkan tingkat konsistensi jawaban partisipan, nilai koefisien α berkisar antara 0 sampai 1. Semakin tinggi nilai koefisiennya, maka semakin tinggi pula kereliabelan alat ukur tersebut (Gregory, 2004).

Tabel 3.4 Tabel Keterangan Reliabilitas

Sumber: Indria, K., & Nindyati, A.D. (2007). Kajian konformitas dan kreativitas affective remaja, Jurnal Provitae, 3(1), 97.

Koefisien Reliabilitas Interpretasi

0,00 – 0,19 Nilai reliabilitas sangat rendah

0,20 – 0, 39 Nilai reliabilitas rendah

0,40 – 0,69 Nilai reliabilitas sedang

0,70 – 0,89 Nilai reliabilitas tinggi

(7)

Tabel 3.5 Reliabilitas Efektivitas Kepemimpinan

Tabel diatas menjelaskan bahwa reliabilitas efektivitas kepemimpinan dengan responden sebesar 135 orang, mendapatkan reliabilitas sebesar 0,832.

Tabel 3.6 Reliabilitas Burnout

Hasil Tabel diatas menjelaskan bahwa reliabilitas burnout dengan responden yang sebesar 135 orang, mendapatkan reliabilitas sebesar 0,867.

2.7 Teknik Pengolahan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner merupakan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2002). Dalam penelitian ini, kuesioner digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai efektivitas kepemimpinan dan terjadinya burnout. Butir-butir pernyataan dibuat berdasarkan teori efektivitas kepemimpinan (Rumeser, 2013) dan Maslach Burnout Inventory-Educators Survey (MBI-ES) 1996 (dalam Purba dkk., 2007).

Langkah pertama dalam mengolah data adalah dengan menjumlah seluruh skor dari respon jawaban partisipan pada setiap alat ukur. Pengolahan data ini kemudian dilakukan dengan

menggunakan software SPSS (Statistical Package for Social Science). Kemudian penulis melakukan uji normalitas. Yang dimaksud dengan uji normalitas adalah kenormalan distribusi sebuah data,

Case Processing Summary

N %

Cases Valid 135 100,0

Excludeda 0 ,0

Total 135 100,0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items ,832 16

Case Processing Summary

N %

Cases Valid 135 100,0

Excludeda 0 ,0

Total 135 100,0

a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items ,867 20

(8)

apakah data tersebut berdistribusi normal atau tidak (Sugiyono, 2012). Setelah melakukan uji normalitas, hasil yang didapat adalah data berdistribusi normal. Signifikansi dari setiap alat ukur sebesar 0,00 dimana signifikansi < 0,05 yang dimana artinya jika signifikansi dibawah 0,05 maka data dapat dinyatakan berdistribusi tidak normal (Priyatno, 2013). Setelah mendapatkan hasil dari uji normalitas, untuk menjawab pertanyaan penelitian skripsi ini, yaitu menggunakan uji regresi linear untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara efektivitas kepemimpinan terhadap ke tiga dimensi dari burnout.

Sebelum mengambil uji regresi linear, penulis melakukan uji multikolinearitas, uji heterokohedatisitas, dan uji autokorelasi terlebih dahulu. Dikarenakan penelitian ini adalah penelitian regresi sederhana, dengan 1 iv dan 1 dv, maka uji multikolinearitas, uji

heterokohedatisitas, dan uji autokorelasi tidak perlu dilakukan, karena ketiga uji tesebut lebih digunakan pada analisis regresi berganda (Priyatno, 2013). Semua uji tersebut dilakukan dibantu dengan software dari IBM SPSS Statistics 22.

Hasil dan Pembahasan

3.1 Uji normalitas

Tujuan melakukan uji normalitas adalah untuk melihat tingkat kenormalan sebuah data yaitu apakah data yang dimiliki berdistribusi normal atau tidak normal. Priyatno (2013), menjelaskan bahwa kriteria pengujian dengan menggunakan metode One-Sample Kolomogorov-Smirnov adalah sebagai berikut:

• Jika signifikansi < 0.05, maka dinyatakan data tidak berdistribusi normal • Jika signifikansi > 0.05, maka dinyatakan data berdistribusi normal

Tabel 1.1 Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Efektivitas Kepemimpinan Terhadap Dimensi Depersonalisasi

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Predicted Value

N 135

Normal Parametersa,b Mean 9,4888889

Std. Deviation

,37532205

Most Extreme Differences Absolute ,075

Positive ,075

Negative -,053

Test Statistic ,075

(9)

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

Tabel 1.2 Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Efektivitas Kepemimpinan Terhadap Dimensi Keletihan Emosional

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Predicted Value

N 135

Normal Parametersa,b Mean 9,4888889

Std. Deviation ,37532205 Most Extreme Differences Absolute ,075 Positive ,075 Negative -,053 Test Statistic ,075

Asymp. Sig. (2-tailed) ,058c

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

Tabel 1.3 Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Efektivitas Kepemimpinan Terhadap Dimensi personal accomplishment

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Predicted Value

N 135

Normal Parametersa,b Mean 9,4888889

Std. Deviation ,37532205 Most Extreme Differences Absolute ,075 Positive ,075 Negative -,053 Test Statistic ,075

Asymp. Sig. (2-tailed) ,058c

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

(10)

Dari tabel uji normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov efektivitas kepemimpinan terhadap dimensi personal accomplishment diperoleh efektivitas kepemimpinan yaitu pada dimensi depersonalisasi, keletihan emosional, dan personal accomplishment dari burnout yaitu sebesar 0,058 (> 0,05) sehingga dapat dinyatakan bahwa data berdistribusi normal.

3.2 Analisis Efektivitas Kepemimpinan dengan Dimensi Burnout

Tabel 1.4 Hasil Analisis Uji Regresi Linear Efektivitas Kepemimpinan dengan Dimensi Depersonalisasi

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized

Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 8,373 1,042 8,031 ,000 L ,252 ,122 ,269 2,061 ,041 a. Dependent Variable: DE

Untuk mengetahui pengaruh efektivitas kepemimpinan terhadap dimensi burnout depersonalisasi, pengujian dilakukan dengan uji t. Kriteria pengujiannya, yaitu:

• Jika –t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel maka Ho diterima

• Jika –t hitung < -t tabel atau t hitung > t tabel maka Ho ditolak.

Berdasarkan hasil pada tabel di atas, diperoleh t hitung sebesar 2.061. t-tabel pada tabel statistik dengan signifikansi 0.05/1= 0.05 dan derajat kebebasan df = n-1 atau 135-1 = 134, maka diperoleh

t-tabel sebesar 1.656. Nilai t-hitung > t-t-tabel yaitu 2.061>1.656, jadi Ho ditolak.

3.2.1 Nilai Regresi

Tabel 1.5 Nilai Regresi efektivitas kepemimpinan terhadap depersonalisasi

Model Summaryb Mod el R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,222a ,049 ,020 1,675 1,947 a. Predictors: (Constant), L4, L3, L2, L1 b. Dependent Variable: DE

(11)

Dari tabel analisa uji regresi linear diatas, menunjukkan bahwa efektivitas

kepemimpinan terhadap dimensi depersonalisasi mendapatkan hasil dengan R 0,222. Dapat diartikan bahwa efektivitas kepemimpinan mempunyai pengaruh sebesar 22,2% terhadap dimensi burnout yaitu depersonalisasi.

3.3 Uji Regresi efektivitas kepemimpinan dengan keletihan emosional

Tabel 1.6 Hasil Analisis Uji Regresi Linear Efektivitas Kepemimpinan dengan Dimensi Keletihan Emosional

3.3.1 Nilai Regresi

Tabel 1.7 Nilai Regresi Efektivitas Kepemimpinan terhadap Keletihan Emosional

Model Summaryb Mod el R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,271a ,074 ,045 3,890 1,846 a. Predictors: (Constant), L4, L3, L2, L1 b. Dependent Variable: KE

Dari tabel analisa uji regresi linear diatas, menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan terhadap dimensi keletihan emosional mendapatkan hasil dengan R 0,271. Dapat diartikan bahwa efektivitas kepemimpinan mempunyai pengaruh sebesar 27,1% terhadap dimensi burnout yaitu keletihan emosional. Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 21,178 2,421 8,748 ,000 L ,350 ,281 ,193 1,246 ,215 a. Dependent Variable: KE

(12)

3.4 Uji Regresi Efektivitas Kepemimpinan terhadap Penurunan Pencapaian Diri

Tabel 1.8 Hasil Analisis Uji Regresi Linear Efektivitas Kepemimpinan

dengan Dimensi Reduced Personal Accomplishment / penurunan pencapaian diri

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 20,118 2,302 8,739 ,000 L1 ,321 ,267 ,188 1,203 ,231 a. Dependent Variable: PA 3.4.1 Nilai Regresi

Tabel 1.9 Nilai Regresi Efektvitas Kepemimpinan Terhadap Penurunan Pencapaian Diri

Model Summaryb Mod el R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,242a ,058 ,029 3,699 1,823 a. Predictors: (Constant), L4, L3, L2, L1 b. Dependent Variable: PA

Dari tabel analisa uji regresi linear diatas, menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan terhadap dimensi reduced personal accomplishment mendapatkan hasil dengan R 0,242. Dapat diartikan bahwa efektivitas kepemimpinan mempunyai pengaruh sebesar 24,2% terhadap dimensi burnout yaitu reduced personal accomplishment.

SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Dari hasil uji olah data dengan teknik korelasi dan uji regresi, maka kesimpulan perolehan hasil penelitian terdapat tujuan yang ingin dicapai, yaitu ingin mengetahui apakah terdapat pengaruh antara efektivitas kepemimpinan terhadap burnout di ketiga dimensi nya pada PT.X. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 135 karyawan. Berdasarkan hasil pengambilan dan pengolahan data, diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruhyang antara efektvitas kepemimpinan terhadap burnout.

(13)

Dimana hasil nilai nilai R Square atau koefisien determinasi (KD) yang menunjukkan seberapa bagus model regresi yang dibentuk oleh interaksi variabel bebas dan variabel terikat sebesar 22,2% pada dimensi deperosnalisasi, 27,1% pada dimensi keletihan emosional, dan 24,2% pada dimensi penurunan pencapaian diri. Artinya, efektvitas kepemimpinan memiliki pengaruh terhadap burnout. Hasil yang didapat ini merupakan hasil perhitungan dengan software IBM SPSS Statistics 20.

4.2 Saran

Saran bagi para atau setiap pemimpin diharapkan tetap memperlakukan anggotanya secara manusiawi, tetap mendelegasikan tugas dan tanggung jawab pada anggotanya, serta mampu menciptakan suasana kerja yang baik, dan selalu memberikan umpan balik pada anggotanya atas kinerja mereka. Sehingga diharapkan juga para anggota ataupun karyawan pada PT. X mampu menghasilkan hasil kerja yang baik, serta anggota atau karyawan puas dengan setiap hasil dari pekerjanya, anggota ataupun karyawan juga mendapat pembelajaran yang banyak selama kerja di perusahaan atau organisasi tersebut. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan PT. X mendapatkan suatu kemajuan dan dapat merancang sebuah pelatihan kepemimpinan yang efektif atau training kepemimpinan yang efektif bagi para pemimpin yang sudah ada atau para calon pemimpin dikemudian hari, agar dapat menjadi lebih baik dalam menjalankan sebuah organisasi, termasuk belajar menjadi pemimpin yang efektif, guna memperbaiki kinerja karyawan untuk organisasi dan kesejahteraan karyawan, sehingga keletihan emosional yang dialami karyawan dapat berkurang. Sekiranya dengan penelitian ini PT. X dapat mencegah lebih banyak terjadinya burnout pada karyawan PT. X.

DAFTAR PUSTAKA

A

itken, L. R., Groth-Marnat, G. (2006). Psychological Testing and Assessment 12th Edition. Pearson Education: USA

Arikunto, S. (2002). Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Field, A. (2005). Discovering Statistics Using SPSS. 2nd ed. London: Sage publications Gravetter, F.J. & Forzano, L.B. (2012). Research Methods for the Behavioral Sciences 4th

International Edition. Cengage Learning.

Gregory, R. J. (2004). Psychological Testing. 3rd Ed. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Maslach, C. & Jackson, S. E. (1981). The Measurement of Experienced Burnout. Journal of

Occupational Behavior, 2, 99-113

Maslach, C., Jackson, S. E., & Leiter, M. P. (1996). Maslach Burnout Inventory. (3rd ed.). Palo Alto, CA: Consulting Psychologists Press

Maslach, C., & Goldberg, J. (1998). Prevention of Burnout: New Perspectives. Applied and preventative psychology, 7, 63-74.

Kusriyah, S., (2014). Pengaruh Efektivitas Kepemimpinan Dalam Organisasi. Jakarta. Priyatno, D. (2013). Mandiri Belajar Analisis Data Dengan SPSS. Yogyakarta: Mediakom.

(14)

Purba, J., Yulianto, A. & Widyanti, E. (2007). Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Burnout pada Guru. Jurnal Psikologi, 5, 1, 80-81.

Rumeser, J.A.A., (2013). Pengaruh Mental Model Terhadap Efektivitas Kerja Tim Pada Awak Kokpit Penerbangan Komersial. Disertasi tidak diterbitkan. Depok: Universitas Indonesia. Sarwono, J. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R & D. Bandung: CV Alfabeta. Sukardi. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Sinar Grafika Offset

Sutiman, A. H. (2012). Peranan Kepemimpinan dalam Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi Kerja dalam Lingkungan Organisasi. 2, 2.

Trimo, S. (1984). Analisis Kepemimpinan. Bandung: Angkasa

RIWAYAT PENULIS

Adhisa Cassandra, lahir di kota Jakarta pada 10 Juni 1993. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang Psikologi pada tahun 2015.

Gambar

Tabel 3.1 Alat Ukur Efektivtas Kepemimpinan
Tabel 3.3 Keterangan Item Burnout
Tabel diatas menjelaskan bahwa reliabilitas efektivitas kepemimpinan dengan  responden sebesar 135 orang, mendapatkan reliabilitas sebesar 0,832
Tabel 1.1 Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Efektivitas Kepemimpinan Terhadap  Dimensi Depersonalisasi
+5

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Kasali (2001, pp148-150), segmentasi harus didasarkan oleh pengetahuan yang mendalam tentang pasar, yaitu melalui riset. Tetapi riset membutuhkan waktu, ketrampilan dan

Namun bukan berarti semakin kecil ukuran bahan akan menghasilkan rendemen yang semakin tinggi, justru ukuran yang terlalu kecil akan menurunkan randemen minyak

14/22/PBI/2012 tentang Pemberian Kredit atau Pembiayaan oleh Bank Umum dan Bantuan Teknis dalam rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang disertai ketentuan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air irigasi dengan suplesi sumur pompa air tanah dangkal di wilayah tengah dan hilir dapat memenuhi kebutuhan air saat ini

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa profesionalisme guru adalah kemampuan, keahlian dan ketrampilan khusus dalam bidang keguruan yang memiliki kompetensi

Pada penelitian di Wetland Park Cisurupan ini akan dibatasi membahas aspek-aspek yang berhubungan dengan unsur alam saja, yaitu aspek Nature infrastructure, dengan

Dalam struktur model yang berlapis ini, setiap lapis protokol akan melaksanakan bagian-bagian dari keseluruhan fungsi yang diperlukan dalam komunikasi data.. Setiap lapis

Koefisien parameter dan persen signifikansi kelarutan sodium lignosulfonat disajikan dalam Tabel4. Konsentrasi sodium bisulfit berpengaruh positif dengan persen