Potensi dan Peluang Investasi
Kabupaten Batanghari
Tahun 2019
DINAS PENANAMAN MODAL DAN PTSP
KABUPATEN BATANGHARI
POTENSI DAN PELUANG INVESTASI
Sub Sektor Peternakan
Kabupaten Batanghari
2019
DINAS PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU
(Investment and One Stop Service Agency)
Jalan. Jenderal Sudirman No. 1 Muara Bulian
Kabupaten Batang Hari Propinsi Jambi 36613
(0743) 2258
(0743) 2258
[email protected]
Assalamualikum Wr. Wb
Kabupaten Batanghari terletak diantara 3 kabupaten yaitu kabupaten Tebo, Sarolangun dan Muara Jambi dan berbatasan langsung dengan propinsi Sumatera Selatan. Jalur darat kabupaten Batanghari selalu ramai dilalui oleh kendaraan karena semua kendaraan dari kabupaten Bungo, Tebo, Kerinci, Sarolangun dan propinsi tetangga (Sumatera Selatan dan Sumatera Barat) menuju ibukota propinsi Jambi maupun yang akan kembali dari ibukota propinsi Jambi harus melewati Kabupaten Batanghari. Kabupaten ini juga di lalui oleh dua sungai besar yaitu sungai Batanghari dan Sungai Tembesi.
Letaknya yang strategis menyebabkan kabupaten Batanghari memiliki prospek investasi yang sangat kompetitif. Buku peluang investasi Sub Sektor Peternakan di Kabupaten Batanghari ini merupakan buku yang memuat informasi mengenai prospek peluang investasi penggemukan kambing Rambon dan Sapi Bali yang diperlukan investor dalam mempersiapkan rencana investasinya di bidang peternakan
Kita menjamin bahwa setiap investor yang akan menanamkan modalnya di kabupaten Batanghari tidak akan menemukan kesulitan yang berarti “Berinvestasi di Batanghari Aman, Mudah, Untung”.
Kami tunggu investasinya dan kami fasilitasi demi kemajuan usaha anda dan kemakmuran rakyat Batang Hari.
Assalamualaikum Wr. Wb,
Investasi merupakan salah satu instrumen yang sangat penting dalam pembangunan karena mempunyai keterkaitan yang sangat penting dalam perekonomian. Kabupaten Batanghari yang sedang giat-giatnya membangun pada saat ini juga memerlukan investasi baik dari dalam maupun dari luar daerah.
Kabupaten Batanghari terus menerus berusaha menggali potensi daerah yang dapat dikembangkan dan ditawarkan kepada investor. Berbagai hal telah dilakukan pemerintah kabupaten Batanghari untuk menggaet investor agar mau menanamkan modalnya di Batanghari diantaranya dengan memberikan kemudahan-kemudahan dalam perizinan, memberikan informasi yang cukup untuk para investor yang berminat, dan melakukan serangkaian promosi diberbagai tempat. Perkembangan realisasi nvestasi di kabupaten Batanghari dari tahun ketahun menunjukan peningkatan yang sangat bagus, realisasi investasinya di tahun 2018 meningkat 8,84 % dari tahun 2017 yaitu sebesar 4,166 triliyun
Kami menyambut baik setiap investor yang akan menanamkan modalnya di Kabupaten Batanghari. Kami dengan senang hati akan membantu anda para investor dalam berinvestasi di Kabupaten Batanghari demi kemajuan usaha anda dan kemakmuran rakyat Batang Hari.
10 Potensi dan Peluang Investasi Sub Sektor Peternakan
DAFTAR ISI
Pengantar
6,7
Ringasan eksekutif
9
Gambaran Umum Peternakan di Kabupaten Batanghari
12
Peluang Investasi Industri Peternakan
15
Usaha Penggemukan Kambing Rambon
16
Usaha Penggemukan Sapi Bali
31
RINGKASAN EXECUTIVE
Kabupaten Batang Hari merupakan salah satu Kabupaten diantara 10 Kabupaten yang terdapat di Provinsi Jambi. Kabupaten ini dilalui dua sungai besar yaitu Sungai Batang Hari dan Sungai Tembesi. Secara geografis, Luas wilayah Kabupaten Batang Hari adalah 5.804,83 Km2 eqivalen dengan 580.483 Ha terdiri dari delapan kecamatan,
dan 124 desa/Kelurahan. Kabupaten Batang Hari memiliki sumberdaya alam yang melimpah. Secara umum sarana dan prasarana di Kabupaten Batang Hari dalam kondisi baik. Peningkatan sarana dan prasarana terus dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Batang Hari guna mendukung kegiatan ekonomi di wilayahnya. Letak wilayah Kabupaten Batang Hari yang relatif dekat dengan sarana pelabuhan untuk tujuan ekspor, baik pelabuhan Talang Duku maupun untuk jangka panjang ke Pelabuhan Samudra di Tanjung Jabung Timur. Demikian juga jarak ke pelabuhan udara (± 68 km dari pusat Ibu Kota Muara Bulian).
Salah satu Peluang investasi yang ditawarkan oleh Kabupaten Batanghari kepada investor adalah investasi dibidang peternakan, yaitu penggemukan kambing Rambon dan Sapi Bali. Ditawarkannya bidang peternakan ini kepada investor karena bidang peternakan ini merupakan komoditi unggulan Kabupaten Batanghari sebagai penyumbang PDRB terbesar kedua di sektor pertanian setelah perkebunan, tersedianya pakan ternak yang melimpah dan murah karena adanya perkebunan kelapa sawit dan karet yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak
berkualitas, masih tersedianya lahan peternakan yang luas dan murah dan tenaga kerja yang memadai karena masyarakat kabupaten Batanghari sudah terbiasa dengan peternakan. Dikabupaten Batanghari juga sudah tersedia pasar ternak untuk memudahkan pemasaran ternak dan Balai Pembibitan Ternak (BPT).
Lokasi usaha yang ditawarkan untuk penggemukan ternak kambing Rambon adalah kecamatan Bajubang tepatnya desa Panerokan, karena merupakan sentra ternak kambing di Kabupaten Batanghari. Kebutuhan Investasi penggemukan kambing Rambon untuk jangka waktu usaha 5 (lima) tahun untuk usaha skala kecil (50 ekor/periode) dengan jumlah produksi 750 ekor adalah sebesar Rp. 133.664.004,- dengan nilai Net Present Value (NPV) > 0 (Rp 162.257.70),
Internal Rate Of Return (IRR) sekitar 61,87 % lebih besar dari suku bunga
12% pertahun, NET B/C > 1 Yaitu 2,6, Gross B/C 1,1, Profitability ratio (PR) 3,03 dan BEP 493 ekor. Sedangkan investasi penggemukan untuk usaha skala besar (500 ekor/periode) adalah sebesar Rp 1.355.926.705,- dengan nilai Net Present Value (NPV) > 0 (Rp 1.401.677.355), Internal Rate Of Return (IRR) sekitar 76,48 % lebih besar dari suku bunga 12% pertahun, NET B/C > 1 Yaitu 3,3 Gross B/C 1,1, Profitability ratio (PR) 4,58 dan BEP 5.274 ekor.
Lokasi usaha yang ditawarkan untuk penggemukan ternak sapi Bali adalah kecamatan Muara Bulian dan Pemayung. Kebutuhan Investasi penggemukan sapi Bali untuk jangka waktu usaha 5 (lima) tahun untuk usaha skala kecil (18 ekor/periode) dengan jumlah produksi 180
ekor adalah sebesar Rp. 285.451.406,- dengan nilai Net Present Value (NPV) > 0 (Rp 107.360.225), Internal Rate Of Return (IRR) sekitar 29.45 % lebih besar dari suku bunga 12% pertahun, NET B/C > 1 Yaitu 1,5, Gross B/C 1,1, Profitability ratio (PR) 1,88 dan BEP 115 ekor. Sedangkan investasi penggemukan untuk usaha skala besar (500 ekor/periode) adalah sebesar Rp 7.913.980.142,- dengan nilai Net Present Value (NPV) > 0 (Rp 107.360.225), Internal Rate Of Return (IRR) sekitar 33,65 % lebih besar dari suku bunga 12% pertahun, NET B/C > 1 Yaitu 1,6, Gross B/C 1,1, Profitability
Gambaran Umum Peternakan di Kabupaten Batanghari Peternakan sangat berpotensi untuk dikembangkan di Kabupaten Batanghari dan merupakan sektor unggulan. Peternakan menyumbang sebesar 8,11 persen dari PDRB untuk kategori pertanian nomor dua setelah perkebunan.
Bidang peternakan masuk kedalam arah kebijakan pengembangan penanaman modal pada RUPM Kabupaten Batanghari sebagai salah sektor uggulan kabupaten Batanghari yang menjadi fokus untuk dikembangkan kedepannya. Sasaran penanaman modal bidang peternakan pada dokumen RUPM Kabupaten Batanghari adalah swasembada daging yang berkelanjutan melalui upaya peningkatan populasi dan produksi peternakan serta pengolahan produk peternakan, dengan arah kebijakannya adalah
1. Peningkatan produksi peternakan 2. Integrasi sapi-sawit 3. Pencegahan dan penanggulanan penyakit menular 4. Peningkatan pemasaran hasil peternakan
5. Pengembangan pakan ternak untuk mendukung peningkatan produksi ternak besar dan kecil
6. Industri pengolahan hasil ternak 7. Industri pakan ternak
8. Industri pembibitan
9. Peningkatan penelitian dan promosi untuk investasi ternak dan produk pengolahan hasil ternak
10. Menumbuh kembangkan riset teknologi komoditas unggulan yang mampu meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan rantai nilai.
11. Pengembangan pola kemitaraan agribisnis komoditi peternakan yang menguntungkan rakyat.
Tabel 5.5. Populasi Ternak di Kabupaten Batanghari 2015-2018 (ekor) No Jenis Ternak Tahun 2015 2016 2017 2018 1 Sapi 7.631 7.983 6.442 7.536 2 Kerbau 7.354 7.564 7.807 9.832 3 Kambing 20.648 22.642 8.628 6.615 4 Domba 12.095 13.264 660 2.559 5 Ayam Broiler 4.532.776 4.614.866 261.000 261.039 6 Ayam Buras 1.419.640 1.585.565 132.870 401.611
Suasana Pasar ternak Muara Bulian Kab. Batanghari
PELUANG INVESTASI PETERNAKAN
Investasi bidang peternakan di Kabupaten Batang Hari ini sangat berpeluang yang didukung dengan kemudahan proses perizinan secara on line melalui OSS ataupun seri Bulian. Pemerintah Kabupaten Batang Hari telah membentuk Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) sebagai salah satu bentuk komitmen pemerintah daerah untuk mempermudah pelayanan bagi para investor luar dan dalam negeri yang ingin menanamkan modalnya di Kabupaten Batanghari.
Meningkatnya permintaan akan komiditi daging sebagai kebutuhaan protein hewani di pasar nasional dan internasional seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, serta masih rendahnya
Produksi daging dalam negeri, merupakan tantangan dan peluang bagi pihak investor yang berinvestasi di bidang peternakan.
1. Usaha Penggemukan Kambing Rambon
Lokasi untuk ternak kambing Rambon adalah kecamatan Bajubang tepatnya desa Panerokan, karena merupakan sentra ternak kambing di Kabupaten Batanghari. Penggemukan ternak kambing ini merupakan prospek yang sangat bagus
Indonesia. Sebenarnya jenis kambing ini ada dan terbentuk karena kebiasaan masyarakat yang mengawinkan kambing betina jawa
Kambing Rambon merupakan jenis kambing hasil persilangan antara
kambing jawa
dengan kambing PE. Hal ini dilakukan untuk membentuk jenis kambing PE yang lebih tahan terhadap penyakit dan pakan di
dengan kambing pejantan PE.Hal ini disebabkan karena untuk mendapatkan kambing Jamnapari sangatlah sulit di Indonesia, dan jika memang ada maka harga kambing asli Jamnapari sangatlah mahal dibandingkan kambing PE. Berikut ini merupakan ciri-ciri kambing rambon:
Memiliki badan yang lebih lebar dari kambing PE
Memiliki produksi susu yang lebih rendah dari kambing PE Memiliki ketahanan terhadap penyakit yang lebih tinggi dari
kambing PE
Lebih konsumtif terhadap pakan dibanding kambing PE Memilki bentuk muka yang sedikit lebih cembung
Untuk dikembangkan. Kambing yang digemukkan adalah kambing jantan berumur sekitar 8 bulan karena pada usia ini sangat efektif untuk meningkatkan bobot badannya dengan maksimal penggemukan selama 4 (empat) bulan
2.1.1. Analisis Ekonomi
Analisis ini lebih difokuskan kepada penggemukan kambing Rambon untuk skala kecil dengan jumlah 50 ekor perperiode penggemukan dan skala besar dengan jumlah 500 ekor perperiode penggemukan. Dalam analisis finansial ini menggunakan asumsi sebagai berikut, dimana analisis sensivitas terhadap perubahan ekonomi yang berdampak buruk terhadap keberlanjutan proyek dilakukan untuk mengantisipasi keadaan dimasa mendatang.
Penggemukan kambing Rambon ini direncanakan 3 kali dalam setahun. Rencana produksi penggemukan kambing Rambon yang ditawarkan adalah selama 5 tahun.
1.1.1.1. Biaya Investasi
Biaya investasi yang dibutuhkan untuk penggemukan kambing dengan usaha skala kecil (50 ekor/periode) adalah sebesar Rp. 133.664.004,- sedangkan investasi penggemukan untuk usaha skala besar (500 ekor/periode) adalah sebesar Rp 1.356.926.705,- yang terdiri dari modal sendiri maupun
pinjaman bank. Biaya investasi ini digunakan untuk biaya operasional dan non operasional seperti transportasi, bibit kambing, listrik dan air, vitamin dan obatan-obatan dan pakan tambahan, gaji karyawan, sewa lahan, kandang dan peralatan kandang.
Tabel 6.1. Proyeksi biaya Investasi Penggemukan Kambing Rambon No Uraian
Skala Kecil (50 ekor/periode) Skala Besar (500 ekor/periode) Sat.
Harga
Satuan Biaya Sat. Satuan Harga Biaya
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) A Biaya Tetap 1. Gaji Karyawan : - Pekerja ( /periode) 2 2.423.889 19.391.112 20 2.423.889 193.911.120 - Lembur Pekerja ( /periode) 2 196.153 6.276.892 20 196.153 62.768.913 - Satpam ( /periode) 0 0 0 3 2.423.889 29.086.668 2. Kandang + Peralatan Kandang 1 27.356.000 27.356.000 5 273.560.000 27.356.000 3. Sewa Lahan (/tahun) 1 3.000.000 15.000.000 1 15.000.000 15.000.000 B Biaya Tidak Tetap
1. Transportasi
/periode 50 10.000 500.000 500 10.000 500.000.000 2. Bibit kambing
(ekor)/periode 50 1.500.000 75.000.000 500 1.500.000 750.000.000 3. Listrik dan air
(/tahun) 1 600.000 600.000 1 3.600.000 3.600.000 4. Vitamin dan
obat-obatan/periode 50 14.000 700.000 500 2.100.000 21.000.000 5. Pakan tambahan
(/periode) 50 540 3.240.000 500 540 32.400.000
a. Tenaga Kerja
Penggemukan ternak kambing ini dapat lakukan dengan modal yang kecil maupun besar, perorangan ataupun korporasi. Jumlah tenaga kerja yang terlibat langsung untuk penggemukan ternak kambing Rambon dengan usaha skala kecil (50 ekor/periode) adalah 2 (dua) orang, upah sesuai UMR ditambah dengan uang lembur jika bekerja di hari libur. Total biaya tenaga kerja yang dibutuhkan berserta perkiraan lemburnya adalah Rp. 25.668.004,-. Per periode penggemukan. Sedangkan jumlah tenaga kerja untuk usaha skala besar (500 ekor/periode) membutuhkan tenaga kerja 20 (dua puluh) orang ditambah 3 (tiga) orang untuk satpam. Total biaya tenaga kerja yang dibutuhkan berserta perkiraan uang lembur adalah Rp. 285.766.701,-. Per periode penggemukan. Pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja meliputi membersihkan kandang, mencari rumput dan memberi makan ternak kambing dengan waktu kerja 7 (tujuh) jam sehari.
b. Kandang dan Peralatannya
Kandang kambing berbentuk panggung beratap seng dengan panjang kandang yang dibutuhkan untuk 50 ekor ternak kambing adalah 25 meter dengan lebar 6 meter dan tinggi 2 meter. Total biaya yang butuhkan adalah Rp. 22.445.000,- sudah termasuk
upah tukang Sedangkan biaya kandang untuk usaha skala besar (500 ekor/periode) adalah Rp. 224.450.000,-. Nilai umur ekonomis kandang adalah 5 (lima) tahun. Peralatan kandang yang dbutuhkan adalah gerobak dorong, ember, selang air, gerobak dorong, sapu, cangkul arit, dan sekop dan diperkirakan menghabiskan biaya sebesar Rp. 5.000.000,- selama 5 tahun.
c. Sewa Lahan
Sewa lahan untuk penggemukan ternak kambing di kabupaten Batanghari sangat murah, biasanya di sewa per panen. Satu kali panen Rp. 1.000.000,- dengan luas sampai dengan satu hektar.
d. Bibit Kambing
Kambing yang digemukan adalah kambing jantan dengan umur 8 bulan. Harga bibit kambing di kisaran harga Rp. 1.500.000,-.
e. Pakan Tambahan
Ternak memerlukan nutrisi untuk pertumbuhan dan menambah bobot badannya. Penambahan pakan tambahan berupa konsentrat kepada kambing bertujuan untuk meningkatkan nilai pakan dan meningkatkan konsumsi serta daya cernak ternak. Pakan tambahan yang diberikan berkisaran 1 % dari bobot badan. Total biaya yang dikeluarkan untuk pakan tambahan bagi usaha kecil (50 ekor/periode) adalah sebesar Rp. 3.240.000,- perperiode penggemukan dan untuk usaha skala besar (500 ekor/periode) adalah sebesar Rp. 32.400.000,- per periode penggemukan.
f. Listrik, air, vitamin dan obat-obatan.
Total biaya listrik dan air untuk satu tahun diperkirakan Rp. 600.000,-. Dan total biaya untuk vitamin, obat-obatan dan kunjungan paramedik sekitar Rp. 2.100.000,-
1.1.1.2. Proyeksi Hasil Usaha
Tabel 2. menggambarkan proyeksi hasil usaha penggemukan kambing rambon usaha skala kecil dan usaha skala besar.
Tabel 2. Proyeksi Hasil Usaha Penggemukan Kambing Rambon
No. Uraian
Nilai Produksi
Untuk Nilai Produksi Untuk Skala Kecil (50 ekor/periode) Skala Besar (500 ekor/periode) (Rp) (Rp)) 1 Proyeksi Pendapatan : Produksi/periode 50 500
Harga Jual (Rp / Perekor) 2.600.000 2.600.000 Hasil Penjualan 2.154.996.188 21.549.961.875 Total Pendapatan 2.154.996.188 21.549.961.875 2 Proyeksi Biaya :
Operasional 1.733.881.874 17.626.857.249
Pajak 3.753.032 29.101.741
Penerimaan Kotor (gross
Benefit) 2.157.731.788 21.577.317.875 Biaya Investasi Awal 133.664.004 1.357.926.705 Penerimaan Bersih (Net
Benefit)
272.886.174 2.275.145.684
Berdasarkan tabel 2. terlihat bahwa proses penggemukan selama 5 (lima) tahun untuk usaha skala kecil diperoleh penerimaan bersih sebesar Rp. 273.886.174 dan untuk usaha skala besar penerimaan bersihnya sebesar Rp. 2.275.145.684,-
1.1.1.3. Analysis Profitability Finansial
Analisis ini digunakan untuk mengetahui kelayakan investasi dengan ukuran-ukuran seperti NPV, IRR, NET B/C, Gross B/C, PR dan BEP. Nilai-nilai kelayakan usaha penggemukan ternak kambing rambon dapat dilihat pada tabel 3. berikut ini.
Tabel 3. Kriteria Kelayakan Investasi Penggemukan Kambing Rambon
No Analisis Nilai Justifikasi
1 Nilai Investasi :
a. Skala Kecil (50 Ekor/Periode) 133.664.004 b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 1.355.926.705 2 NPV :
a. Skala Kecil (50 Ekor/Periode) Rp. 162.257.790 Layak ; NPV > 0 b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 1.401.677.355 Rp. Layak ; NPV > 0 3 Internal Rate Of Return (IRR) :
a. Skala Kecil (50 Ekor/Periode) 61,87% Layak; IRR> tingkat suku bunga 12 % b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 76.48% Layak; IRR> tingkat suku bunga 12 % 4 NET B/C :
a. Skala Kecil (50 Ekor/Periode) 2,6 Layak; NET B/C > 1 b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 3,3 Layak; NET B/C > 1 5 GROSS B/C :
a. Skala Kecil (50 Ekor/Periode) 1,1 Layak; GROSS B/C > 1 b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 1,1 Layak; GROSS B/C > 1 6 PR (Profitability Ratio) :
a. Skala Kecil (50 Ekor/Periode) 3,03 Layak; PR > 1 b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 4,58 Layak; PR > 1 7 BEP (Break Event Point) :
a. Skala Kecil (50 Ekor/Periode) 493 Ekor b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 5 .274 Ekor
a. Net Present Value (NPV)
Net Presen Value (NPV) adalah kriteria yang banyak digunakan dalam mengukur apakah suatu proyek feasible atau tidak. NPV dari suatu proyek merupakan nilai sekarang dari selisih benefit dengan cost pada discount factor (DF) tertentu, jika nila NPV lebih besar dari 0 (nol) maka proyek tersebut menguntungkan dan layak untuk diusahakan. Berdasarkan perhitungan pada Tabel 6.3 berdasarkan discount factor (DF) 12 % terlihat bahwa NPV untuk usaha penggemukan kambing rambon skala kecil adalah Rp. 162.257.790,- dan untuk usaha skala besar Rp. 1.401677.355,-, artinya kedua usaha tersebut mempunyai NPV > 0. Ini berarti kedua usaha tersebut layak untuk diusahakan.
b. Profitability Ratio (PR)
PR merupakan suatu rasio perbandingan antara selisih benefit dengan biaya operasi dan pemeliharaan dibanding dengan jumlah investasi, jika nilai PR besar dari 1 maka proyek tersebut layak (feasible) jika kurang dari 1 tidak layak dan jika sama dengan 1 berarti proyek tersebut dalam keadaan break event point.
Berdasarkan tabel tersebut diatas terlihat bahwa nilai PR untuk usaha penggemukan kambing rambon skala kecil adalah 3,1 dan usaha skala besar 4,5, kedua nilai besar dari 1, ini berarti bahwa kedua usaha tersebut layak untuk diusahakan.
c. Internal Rate Of Return (IRR)
IRR adalah suatu kriteria investasi untuk menyatakan persentase keuntungan dari suatu proyek tiap-tiap tahun dan juga merupakan alat ukur kemampuan proyek dalam mengembalikan bunga pinjaman. IRR sebenarnya menunjukan DF dimana NPV sama dengan 0. Dari hasil analisa pada tabel 6.3. diperoleh nilai 61,87% untuk usaha skala kecil dan 76,48 % untuk usaha skala besar. Maka kedua proyek tersebut menguntungkan dan layak untuk diusahakan karena kedua nilai IRR tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan suku bunga pasar.
d. Net Benefict Cost Ratio (NET B/C)
NET B/C merupakan perbandingan antara total cash in flow dengan total cash out flow. NET B/C ini menunjukan gambaran berapa kali lipat benefict akan diperoleh dari cost yang dikeluarkan. Berdasarkan hasil analisa usaha, nilai NET B/C untuk usaha skala kecil 2,6 yang artinya benefict yang diperoleh 2,6 kali lipat dari cost yang dikeluarkan. Sedangkan untuk usaha skala besar, nilai NET B/C adalah 3,3 ini berarti beneficy yang diperoleh 3,3 kali lipat dari cost yang dikeluarkan.
e. Gross B/C
Gross B/C merupakan perbandingan antara benefict kotor yang telah di discount dengan cost secara keseluruhan yang telah di discount. Jika Gross B/C nilai besar dari 1 maka proyek tersebut layak untuk diusahakan, jika kecil dari 1 tidak layak dan jika sama dengan 1 berarti proyek tersebut dalam keadaan BEP. Hasil analisa menunjukan bahwa nilai grosss B/C untuk usaha skala kecil dan skala besar adalah 1,1 ini berarti proyek tersebut layak untuk diusahakan.
f. Break Event Point (BEP)
BEP adalah titik pulang pokok, dimana biaya yang dikeluarkan sama dengan jumlah pendapatan yang diterima. BEP berguna untuk menentukan jumlah penjualan yang harus dicapai agar memperoleh laba yang direncanakan. Dari hasil perhitungan analisis kelayakan usaha terlihat bahwa BEP untuk usaha penggemukan kambing skala kecil tercapai pada penjualan 493 Ekor kambing dari rencana produksi sebanyak 750 ekor selama 5 tahun dan BEP untuk usaha penggemukan kambing rambon skala besar tercapai pada penjualan 5.302 Ekor kambing dari rencana produksi sebanyak 7.500 ekor. Di bawah ini adalah gambar grafik BEP usaha penggemukan ternak kambing skala kecil dan besar.
Gambar 2. Analisis BEP Usaha Penggemukan Kambing Rambon Skala Kecil (50 ekor/periode)
Sumber : Analisis Data 2019
Rp0 Rp500,000,000 Rp1,000,000,000 Rp1,500,000,000 Rp2,000,000,000 Rp2,500,000,000 0 150 300 450 600 750
Analisis BEP Usaha Penggemukan Kambing Rambon
Skala Kecil (50 ekor/periode
)
Total Cost Sales
BEP (unit) 493 BEP (Rupiah) Rp1.280.867.709
Gambar 6.3. Analisis BEP Usaha Penggemukan Kambing Rambon Skala Besar (500 ekor/periode)
Sumber : Analisis Data 2019 Rp0 Rp5,000,000,000 Rp10,000,000,000 Rp15,000,000,000 Rp20,000,000,000 Rp25,000,000,000 0 1500 3000 4500 6000 7500
Analisis BEP Usaha Penggemukan Kambing Rambon
Skala Besar (500 ekor /periode)
Total Cost Sales
BEP (unit) 5.274 BEP (Rupiah) Rp13.712.670.944
2. Usaha Penggemukan Sapi Bali
Penggemukan ternak sapi Bali ini dapat lakukan dengan modal yang kecil maupun besar, perorangan ataupun korporasi. Penggemukan Sapi adalah pemeliharaan sapi dewasa yang kurus untuk ditingkatakan berat
badannya melalui
pembesaran daging dalam waktu relatif singkat sekitar 6 bulan.
Permintaan pasar terhadap daging sapi yang terus meningkat menjadi peluang untuk usaha penggemukan sapi potong terutama jenis sapi Bali. Apalagi di hari khusus seperti Hari Lebaran dan hari-hari libur lainnya. Bahkan, di setiap menjelang Idul Qurban, permintaan daging sapi Bali akan meningkat secara signifikan
Dipilihnya Sapi Bali untuk usaha penggemukan karena sapi Bali ini merupakan jenis sapi lokal yang paling banyak di ternakan. Sapi Bali mudah dirawat dan mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi, memiliki tekstur daging yang lembut dan rendah lemak.
Ciri-ciri sapi Bali adalah tubuhnya yang berwarna merah sedangkan dari bagian kaki sampai ke lutut bawah dan pantatnya berwarna putih. Punggungnya bergaris warna hitam. Semakin bertambah umur dan semakin bertambah dewasa maka warna tubuhnya akan semakin gelap. Usaha penggemukan sapi Bali di Kabupaten Batanghari memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan, dan lokasi yang dapat di jadikan usaha penggemukan sapi Bali adalah kecamatan Pemayung dan Muara Bulian.
2.1.1. Analisis Ekonomi
Analisis ini lebih difokuskan kepada usaha penggemukan Sapi Bali berskala kecil dengan jumlah 18 ekor perperiode penggemukan dan usaha skala besar dengan jumlah 500 ekor perperiode penggemukan. Sapi Bali untuk penggemukan adalah sapi bali berjenis kelamin jantan dengan bobot awal 200 kg dan berumur 1,5 tahun.
Dalam analisis finansial ini menggunakan asumsi sebagai berikut, dimana analisis terhadap perubahan
ekonomi yang
berdampak buruk terhadap keberlanjutan proyek dilakukan untuk mengantisipasi keadaan dimasa mendatang dilakukan Penggemukan Sapi Bali ini direncanakan 2 kali dalam setahun dengan lama penggemukan 6 bulan. Rencana produksi penggemukan ditawarkan adalah selama 5 tahun.
1. Biaya Investasi
Biaya investasi yang dibutuhkan untuk penggemukan Sapi Bali dengan usaha skala kecil (18 ekor/periode) adalah sebesar Rp. 285.451.406,- sedangkan investasi penggemukan untuk usaha skala besar (500 ekor/periode) adalah sebesar Rp 7.915.230.142,- yang terdiri dari modal sendiri maupun pinjaman bank. Biaya investasi ini digunakan untuk biaya operasional dan non operasional seperti transportasi, bibit kambing, listrik dan air, vitamin dan obatan-obatan dan pakan tambahan, gaji karyawan, sewa lahan,
kandang dan peralatan kandang. Tabel berikut ini adalah gambaran proyeksi investasi penggemukan sapi bali.
Tabel 4. Proyeksi biaya Investasi Penggemukan Sapi Bali
No Uraian Skala Kecil (18 ekor/periode) Skala Besar (500 ekor/periode) Sat Satuan Harga Biaya Sat. Satuan Harga Biaya A Biaya Tetap 1. Gaji Karyawan : - Pekerja (/periode) 2 2.423.889 29.086.668 500 2.423.889 727.166.700 - Lembur Pekerja (/periode) 2 196.153 9.415.338 500 196.153 235.383.440 - Satpam 0 0 0 3 2.423.889 43.630.002 2. Biaya kandang + peralatannya 1 27.356.000 27.356.000 1 683.900.000 683.900.000 3. Kendaraan roda 4 - - - 1 150.000.000 150.000.000 3. Mesin Pencacah pelepah sawit - - - 1 20.000.000 20.000.000 4. Sewa Lahan (/tahun) 1 3.000.000 3.000.000 1 10.000.000 10.000.000 B Biaya Tidak Tetap
1. Transportasi
(/periode) 18 12.500 450.000 500 10.000 5.000.000 2. Bibit Sapi Bali
(ekor/periode) 18 11.500.000 414.000.000 500 11.500.000 2.250.000.000 3. Listrik dan air
(/tahun) 1 450.000 450.000 1 9.000.000 9.000.000 4. Vitamin dan obat-obatan 18 38.800 698.400 500 38.800 19.400.000 5. Pakan tambahan (/periode) 18 3.000 9.720.000 500 3.000 270.000.000
a. Tenaga Kerja
Jumlah tenaga kerja yang terlibat langsung untuk penggemukan dengan usaha skala kecil (18 ekor/periode) adalah 2 (dua) orang, upah sesuai UMR ditambah dengan uang lembur jika bekerja di hari libur. Total biaya tenaga kerja yang dibutuhkan berserta perkiraan lemburnya adalah Rp. 38.502.006,- perperiode,-. Sedangkan jumlah tenaga keja untuk usaha skala besar (500 ekor/periode) membutuhkan tenaga kerja 50 (lima puluh) orang ditambah 3 (tiga) orang untuk satpam. Total biaya tenaga kerja yang dibutuhkan berserta perkiraan uang lembur dan satpam adalah Rp. 1.006.180.142,-/periode. Pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja meliputi membersihkan kandang, mencari rumput dan memberi makan ternak dengan waktu kerja 7 (tujuh) jam sehari.
b. Kandang dan Peralatannya, kendaraan dan alat pencacah pelepah sawit
Kandang sapi beratap seng dengan panjang kandang yang dibutuhkan untuk 18 ekor ternak adalah 37,5 meter, lebar 7,5 m dan tinggi 2,5 meter. Total biaya yang butuhkan adalah Rp. 27.356.000,- sudah termasuk upah tukang. Sedangkan biaya kandang untuk usaha skala besar (500 ekor/periode) adalah Rp. 683.900.000,-. Nilai umur ekonomis kandang adalah 5 (lima) tahun. Peralatan kandang
yang dbutuhkan adalah gerobak dorong, ember, selang air, sapu, cangkul arit, dan sekop. Kandang untuk sapi penggemukan di desain
untuk membatasi pergerakan sapi, sapi bergerak hanya untuk berdiri makan dan tidur.
Penggemukan sapi skala besar di keluarkan biaya untuk pembelian kendaraan roda empat, sehingga dapat menghemat biaya transportasi sebesar Rp. 150.000.000,- dan juga dikeluarkan biaya untuk pembelian alat pencacah pelepah sawit sebesar Rp, 20.000.000,- sehingga dapat menghemat tenaga kerja dalam pencarian pakan hijauan, yang tadinya satu orang mengurus 8 (delapan) sapi menjadi 1 orang dapat mengurus 10 sapi, dan tidak menutup kemungkinan dapat menghemat uang lembur.
c. Sewa Lahan
Luas lahan yang dibutuhkan untuk usaha penggemukan ternak sapi Bali skala kecil adalah ± 300 m2 dengan sewa lahan perperiode
panen sekitar Rp. 1.500.000,-, dan untuk penggemukan skala besar membutuhkan luas lahan sekitar 3.500 m2 dengan biaya sewa lahan
perperiode sekitar Rp. 5.000.000,-. dengan luas sampai dengan satu hektar.
d. Bibit Sapi Bali
Sapi yang digemukan adalah sapi jantan dengan umur 18 bulan. Harga bibit sapi jantan untuk penggemukan di kisaran harga Rp. 11.500.000,-.
e. Pakan Tambahan
Ternak memerlukan nutrisi untuk pertumbuhan dan menambah bobot badannya. Penambahan pakan tambahan berupa konsentrat kepada ternak sapi bertujuan untuk meningkatkan nilai pakan dan meningkatkan konsumsi serta daya cernak ternak. Pakan tambahan yang diberikan berkisaran 1 - 2 % dari bobot badan. Total biaya yang dikeluarkan untuk pakan tambahan bagi usaha kecil (18 ekor/periode) adalah sebesar Rp. 9.720.000,-/periode dan untuk usaha skala besar (500 ekor/periode) adalah sebesar Rp. 270.000.000,- / periode.
f. Listrik, air, vitamin dan obat-obatan.
Total biaya listrik dan air selama untuk usaha skala kecil diperkirakan Rp. 450.000,-/tahun, dan total biaya vitamin, obat-obatan dan kunjungan paramedik sekitar Rp. 698.400,-/periode. Biaya listrik dan air untuk usaha skala besarnya sekitar Rp. 9.000.000,-/tahun, biaya obat-obatan, vitamin dan kunjungan paramedik sekitar Rp. 19.400.000,-/periode)
2. Proyeksi Hasil Usaha
Tabel 5 menggambarkan proyeksi hasil usaha penggemukan kambing rambon usaha skala kecil dan usaha skala besar.
Tabel 5. Proyeksi Hasil Usaha Penggemukan Sapi Bali selama 5 Tahun
No. Uraian
Nilai Produksi Untuk Nilai Produksi Untuk Skala Kecil (18
ekor/periode) Skala Besar (500 ekor/periode) (Rp) (Rp)) 1 Proyeksi Pendapatan : Produksi ( 5 tahun) 180 5.000 Harga Jual (Rp / Perekor) 17.000.000 17.000.000 Hasil Penjualan 3.381.686.325 93.935.731.250 Total Pendapatan 3.381.686.325 93.935.731.250 2 Proyeksi Biaya : Operasional 2.823.905.469 77.386.733.161 Pajak 4.564.878 138.602.908 Penerimaan Kotor (gross Benefit) 3.384.421.925 21.577.317.875 Biaya Investasi 285.451.406 7.913.980.142 Penerimaan Bersih (Net
Benefit) 241.471.523 7.807.707.720 Sumber: Hasil Analisis 2019
Berdasarkan tabel 5 terlihat bahwa usaha penggemukan sapi Bali selama 5 (lima) tahun untuk usaha skala kecil diperoleh penerimaan bersih sebesar Rp. 241.471.523,- dan untuk usaha skala besar penerimaan bersihnya sebesar Rp. 7.807.707.720,-
3. Analysis Profitability Finansial
Analisis ini digunakan untuk mengetahui kelayakan investasi dengan ukuran-ukuran seperti NPV, IRR, NET B/C, Gross B/C, PR dan BEP. Nilai-nilai
kelayakan usaha penggemukan ternak sapi Bali ini dapat dilihat pada tabel berikut ini
Tabel 6. Kriteria Kelayakan Investasi Penggemukan Sapi Bali
No Analisis Nilai Justifikasi
1 Nilai Investasi
a. Skala Kecil (18 Ekor/Periode) 285.451.406 b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 7.913.980.142 2 NPV
a. Skala Kecil (18 Ekor/Periode) 107.360.255 Layak ; NPV > 0 b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 3.754.212.691 Layak ; NPV > 0
3 IRR
a. Skala Kecil (18 Ekor/Periode) 29,45% Layak; IRR> tingkat suku bunga 12 % b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 33,65% Layak; IRR> tingkat suku bunga 12 %
4 NET B/C
a. Skala Kecil (18 Ekor/Periode) 1,5 Layak; NET B/C > 1 b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 1,6 Layak; NET B/C > 1
5 GROSS B/C
a. Skala Kecil (18 Ekor/Periode) 1,1 Layak; GROSS B/C > 1 b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 1,1 Layak; GROSS B/C > 1 6 PR (Profitability Ratio)
a. Skala Kecil (18 Ekor/Periode) 1,88 Layak; PR > 1 b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 1,99 Layak; PR > 1 7 BEP (Break Event Point)
a. Skala Kecil (18 Ekor/Periode) 115 b. Skala Besar (500 Ekor/Periode) 2.903
a. Net Present Value (NPV)
Net Presen Value (NPV) adalah kriteria yang banyak digunakan dalam mengukur apakah suatu proyek feasible atau tidak. NPV dari suatu proyek merupakan nilai sekarang dari selisih benefit dengan cost pada discount factor (DF) tertentu, jika nila NPV lebih besar dari 0 (nol) maka proyek tersebut menguntungkan dan layak untuk diusahakan. Berdasarkan perhitungan pada Tabel 6.6. berdasarkan discount factor (DF) 12 % terlihat bahwa NPV untuk usaha penggemukan sapi Bali skala kecil adalah Rp. 107.360.255,- dan untuk usaha skala besar Rp. 3.754.212.691,-, artinya kedua usaha tersebut mempunyai NPV > 0. Ini berarti kedua usaha tersebut layak untuk diusahakan.
b. Profitability Ratio (PR)
PR merupakan suatu rasio perbandingan antara selisih benefit dengan biaya operasi dan pemeliharaan dibanding dengan jumlah investasi, jika nilai PR besar dari 1 maka proyek tersebut layak (feasible) jika kurang dari 1 tidak layak dan jika sama dengan 1 berarti proyek tersebut dalam keadaan break event point.
Berdasarkan tabel tersebut diatas terlihat bahwa nilai PR untuk usaha penggemukan sapi Bali skala kecil adalah 1,88 dan usaha skala besar 1,99, kedua nilai besar dari 1, ini berarti bahwa kedua usaha tersebut layak untuk diusahakan.
c. Internal Rate Of Return (IRR)
IRR adalah suatu kriteria investasi untuk menyatakan persentase keuntungan dari suatu proyek tiap-tiap tahun dan juga merupakan alat ukur kemampuan proyek dalam mengembalikan bunga pinjaman. IRR sebenarnya menunjukan DF dimana NPV sama dengan 0. Dari hasil analisa pada tabel 6 diperoleh nilai 29,45% untuk usaha skala kecil dan 33,65 % untuk usaha skala besar. Maka kedua proyek tersebut menguntungkan dan layak untuk diusahakan karena kedua nilai IRR tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan suku bunga pasar.
d. Net Benefict Cost Ratio (NET B/C)
NET B/C merupakan perbandingan antara total cash in flow dengan total cash out flow. NET B/C ini menunjukan gambaran berapa kali lipat benefict akan diperoleh dari cost yang dikeluarkan. Berdasarkan hasil analisa usaha, nilai NET B/C untuk usaha skala kecil 1,5 yang artinya benefict yang diperoleh 1,5 kali
lipat dari cost yang dikeluarkan. Sedangkan untuk usaha skala besar, nilai NET B/C adalah 1,6 ini berarti beneficy yang diperoleh 1,6 kali lipat dari cost yang dikeluarkan.
e. Gross B/C
Gross B/C merupakan perbandingan antara benefict kotor yang telah di discount dengan cost secara keseluruhan yang telah di discount. Jika Gross B/C nilai besar dari 1 maka proyek tersebut layak untuk diusahakan, jika kecil dari 1 tidak layak dan jika sama dengan 1 berarti proyek tersebut dalam keadaan BEP. Hasil analisa menunjukan bahwa nilai grosss B/C untuk usaha skala kecil dan skala besar adalah 1,1 ini berarti proyek tersebut layak untuk diusahakan.
f. Break Event Point (BEP)
BEP adalah titik pulang pokok, dimana biaya yang dikeluarkan sama dengan jumlah pendapatan yang diterima. BEP berguna untuk menentukan jumlah penjualan yang harus dicapai agar memperoleh laba yang direncanakan. Dari hasil perhitungan analisis kelayakan usaha terlihat bahwa BEP untuk usaha penggemukan sapi Bali skala kecil tercapai pada penjualan 115 Ekor kambing dari rencana produksi sebanyak 180 ekor selama 5 tahun dan BEP untuk usaha penggemukan skala besarnya tercapai pada
penjualan 2.903 Ekor dari rencana produksi sebanyak 5.000 ekor selama 5 tahun. Di bawah ini adalah gambar grafik BEP usaha penggemukan ternak kambing skala kecil dan besar.
Gambar 5. Grafik Analisis BEP Penggemukan Sapi Bali Skala Kecil (18 ekor/periode)
Sumber : Analisis Data 2019
Rp0 Rp500,000,000 Rp1,000,000,000 Rp1,500,000,000 Rp2,000,000,000 Rp2,500,000,000 Rp3,000,000,000 Rp3,500,000,000 0 36 72 108 144 180
Analisis BEP Usaha Penggemukan Sapi Bali
Skala Kecil (18 ekor/periode)
Total Cost Sales
BEP (unit) 115 BEP (Rupiah) Rp1.948.184.816
Gambar 6.6. Grafik Analisis BEP Penggemukan Sapi Bali Skala Kecil (500 ekor/periode)
Sumber : Analisis Data 2019 Rp0 Rp10,000,000,000 Rp20,000,000,000 Rp30,000,000,000 Rp40,000,000,000 Rp50,000,000,000 Rp60,000,000,000 Rp70,000,000,000 Rp80,000,000,000 Rp90,000,000,000 0 1000 2000 3000 4000 5000
Analisis BEP Usaha PEnggemukan Sapi Bali
Skala Besar (500 ekor/periode)
Total Cost Sales
BEP (unit) 2.903 BEP (Rupiah) Rp49.349.546.595
B A B V KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha nilai NPV, PR, IRR, NET B/C, Gross B/C, dan BEP, maka dapat disimpulkan bahwa usaha penggemukan kambing Rambon dan Sapi Bali baik skala usaha kecil maupun besar layak untuk di usahakan di kabupaten Batanghari. Semakin banyak ternak yang diusahakan maka akan semakin besar keuntungan yang diperoleh.
Catatan : _______________________________________________________________________ _______________________________________________________________________ _______________________________________________________________________ _______________________________________________________________________ _______________________________________________________________________ _______________________________________________________________________ _______________________________________________________________________ _______________________________________________________________________ _______________________________________________________________________ _______________________________________________________________________ _______________________________________________________________________ _______________________________________________________________________ _______________________________________________________________________