• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORITIS. Istilah bullying berasal dari kata bull (bahasa inggris), yaitu banteng

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN TEORITIS. Istilah bullying berasal dari kata bull (bahasa inggris), yaitu banteng"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

15

BAB II

KAJIAN TEORITIS

A. Tinjauan Teoritis Tentang Bullying

1. Pengertian Bullying Verbal

Istilah bullying berasal dari kata bull (bahasa inggris), yaitu “banteng” yang suka menanduk. Adapun pihak pelaku bullying disebut bully.1

Menurut Ken Rigby bullying adalah sebuah hasrat untuk menyakiti, dimana hasrat ini diperlihatkan kedalam aksi yang menyebabkan seseorang menderita.Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasannya berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang.2

Professor Dan Olweus pada tahun 1993 telah mendefinisikan bullying yang mengandung tiga unsur mendasar perilaku bullying, yaitu:

1. Bersifat menyerang (agresif) dan negatif. 2. Dilakukan secara berulang kali.

3. Adanya ketidakseimbangan kekuatan antara pihak yang terlibat.

Istilah lain dari bullying adalah mengintimidasi orang lain artinya seseorang tersebut melakukan perbuatan secara berulang ulang terhadap seseorang atau kelompok orang yang takut kepada si pelaku bullying.Pelaku bullying secara sengaja bermaksud menyakiti seseorang secara fisik, emosi, atau sosial.3

1Yayasan Semai Jiwa Amini, Bullying mengatasi kekerasan disekolah dan lingkungan sekitar

anak, (Jakarta: PT Grasindo, 2008), hlm 2

2 Ponny Retno Astuti, Meredam Bullying: 3 Cara Efektif Menanggulangi Kekrasan Pada Anak,

(Jakarta: PT Gramedia Widiasarana, 2008), hlm 3

3Les Person, Bullied Teacher Bullied Student Guru Dan Siswa Yang Terintimidasi, (Jakarta: PT

(2)

16

Bullying adalah bentuk-bentuk perilaku kekerasan dimana terjadi

pemaksaaan secara psikologis maupun fisik terhadap seseorang atau sekelompok orang. Pelaku bullying atau yang biasa disebut bully bisa dari seseorang, bisa juga sekelompok orang, dan ia atau mereka mempersepsikan dirinya memiliki power (kekuasaan) untuk melakukan apa saja terhadap korbannya. Korban juga mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang lemah tak berdaya, dan selalu merasa terancam oleh bully.4

Adapun bullying verbal sendiri adalah jenis bullying yang juga kasat mata namun tidak terjadi sentuhan fisik secara langsung.Contohnya menebarkan gossip, menertawakan (menyoraki), berkata kotor pada korban dan sebagainya.

Berdasarkan definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa bullying adalah perilaku agresif dan negatif seseorang atau sekelompok orang secara berulang kali yang menyalah gunakan ketidak seimbangan kekuatan dengan tujuan untuk menyakiti targetnya (korban) secara mental atau secara fisik.

2. Bentuk- Bentuk Bullying

Pada dasarnya jenis dan wujud bullying terdapat beberapa jenis namun, praktik-praktik bullying dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori: bullying fisik, bullying non-fisik (verbal dan non verbal) dan bullying mental (psikologis).5 a. Bullying fisik

Bullying fisik adalah jenis bullying yang kasat mata, artinya yang kelihatan mata antara si pelaku bullying dan korban terjadi sentuhan fisik secara langsung. Contoh contoh dari bullying fisik antara lain: memukul, melempar

4

Jurnal Pengalaman Intervensi dari Beberapa Kasus Bullying, (Djuwita, 2005 : 8).

5

(3)

17

dengan barang, mendorong memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain.

Bullying ini biasanya terjadi ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung pada saat guru mengadakan ulangan. Dimana pelaku bullying biasannya melakukan hal semacam ini kepada korban apabila ia tidak memberi jawaban dari soal soal yang diberikan maka bullying semacam ini akan tetap berlanjut sampai kegiatan belajar mengajar selesai, karena sang pelaku kurang puas dengan perilaku yang dilakukan oleh sang korban.

b. Bullying non – fisik

Bullying non-fisik adalah jenis bullying yang juga kasat mata namun tidak terjadi sentuhan fisik secara langsung. Bullying non-fisik terbagi menjadi dua, yaitu: 1. Bullying verbal contohnya: menebarkan gossip, menertawakan (menyoraki),

berkata kotor pada korban, mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name calling), merendahkan

(put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, dan memaki.

2. Bullying non-verbal contohnya: gerakan (tangan kaki, atau anggota badan lain) kasar atau mengancam.

Bullying semacam ini biasannya terjadi ketika kegiatan belajar mengajar

berlangsung pada saat pelaku bullying tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru atau melakukan hal hal lain yang melanggar kelas sehingga mendorong pelaku untuk melakukan hal hal seperti: menebar gosip, mengancam dan

(4)

18

sebagainya. Bullying ini biasanya akan tetap berkelanjut ketika sang korban benar benar melakukan hal hal yang dilarang oleh pelaku.

c. Bullying mental (psikologis)

Bullying mental merupakan jenis bullying yang paling berbahaya karena tidak tertangkap mata atau telinga jika tidak waspada mendeteksinya.Karena praktek bullying ini terjadi secara diam-diam dan diluar pemantauan kita.Contohnya mempermalukan, mengucilkan, mentertawakan dan sebagainya.

Bullying semacam ini biasanya terjadi ketika proses belajar mengajar

berlangsung pada saat korban tidak bisa menjawab soal yang diajukan oleh guru atau dikarenakan korban mempunyai cacat fisik maupun mental. Sehingga korban ditertawakan bahkan kadang kadang dikucilkan oleh pelaku bullying.

3. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Bullying.

Sebagaimana telah dikemukakan diatas bahwa bullying merupakan suatu bagian dari tindakan agresi yang dilakukan berulangkali oleh seseorang/anak yang lebih kuat terhadap anak yang lebih lemah. Maka dalam hal ini bullying berarti siswa yang gemar melakukan suatu kegiatan berupa gangguan terhadap siswa lain.

Adapun faktor faktor yang menyebabkan bullying adalah sebagai berikut6 a. Lingkungan sekolah yang kurang baik

6

Ponny Retno Astuti, Meredam Bullying: 3 Cara Efektif Menanggulangi Kekrasan Pada Anak, (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana, 2008), hlm 51-55

(5)

19

Salah satu faktor yang menentukan jumlah pelaku intimidasi antara siswa adalah budaya sekolah itu sendiri. Kunci utama dalam budaya sekolah adalah kadar komitmen antara para staff untuk melakukan sesuatu mengenai intimidasi.7

Sekolah yang mudah terdapat kasus bullying pada umumnya berada dalam situasi sebagai berikut:

1. Sekolah dengan cirri perilaku diskrimatif dikalangan guru dan siswa 2. Kurangnya pengawasan dan bimbingan etika dari para guru dan satpam. 3. Sekolah dengan kesenjangan besar antara siswa yang kaya dan miskin. 4. Adanya kedisiplinan yang sangat kaku atau lemah.

5. Bimbingan yang tidak layak dan peraturan yang tidak konsisten. b. Senioritas Yang Tidak Pernah Diselesaikan.

Pada dasarnya lingkungan sekolah merupakan satu faktor yang turut mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.Sekolah sangat berperan dalam meningkatkan pola pikir anak karena disekolah mereka dapat belajar bermacam macam ilmu pengetahuan.8

Namun apabila sekolahan tidak pernah menyelesaikan persoalan senioritas yang bersikap sewenang wenangnya terhadap adik kelas seperti adanya pemaksaan dalam pemilihan ketua osis, tindakan sewenang wenang pada saat penerimaan siswa baru, dan lain lainnya.Hal inilah yang mengakibatkan munculnya bullying.

c. Guru Memberikan Contoh Yang Kurang Baik Kepada Siswa.

7

Les parson, bullied teacher… hlm 108

8

(6)

20

Pada dasarnya seorang guru itu mendidik dan menanamkan nilai nilai yang terkandung pada berbagai pengetahuan yang dibarengi dengan contoh contoh teladan serta sikap sikap yang baik.Guru juga dapat memberikan nasiat nasihat yang baik, memotivasi siwa sebagai inspirasi dan pembimbing dan pengembangan sikap dan tingkah laku siswa.9Karena bagaimanapun itu guru sebagai suri tauladan bagi siswa.

Sebaliknya, apabila guru menanamkan sikap dan tingkah laku yang kurang baik seperti member hukuman yang berat, guru berkata kotor “goblok” karena siswa tidak mengerjakan tugas dan sebagainya maka siswa akan meniru tindakan guru tersebut. Hal ini akan menyebabkan siswa melakukan tindakan bullying (mengintimidasi) siswa lain.

d. Ketidakharmonisan Di Rumah

Selain faktor lingkungan, masalah senioritas, serta guru yang memberi contoh yang kurang baik, ketidakharmonisan dirumah juga mempengaruhi timbulnya anak untuk bersikap bullying. Ketidakharmonisan dirumah bisa berupa kurangnya komunikasi antara anak dan orang tua, perceraian orang tua, masalah ekonomi, sikap otoriter orang tua terhadap anak yang terkesan dalam jiwa anak sebagai persepsi dasar. Sebagai kelanjutannya ialah anak akan tumbuh dan berkembang sebagai anak yang otoriter dan kepala keras. Bahkan bisa jadi anak itu akan menjadi pelaku bullying. Karena keluarga adalah faktor utama dalam membentuk karakter anak, Dalam hal ini orang tua juga perlu mempertimbangkan bahwa setiap siswa merupakan seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan

(7)

21

keluarga. Sehingga pada dasarnya pola asuh orang tua sangatlah dominan dalam membentuk karakter anak. Dalam kasus bullying hal yang seharusnya tidak dilakukan adalah melakukan bullying itu sendiri dalam keluarga termasuk kepada pasangan maupun anak karena seorang anak berpotensi menjadi bullied (pelaku

bullying) karena pola asuh yang salah oleh orang tua.

e. Karakter anak (memiliki sifar agresif dan pendendam atau iri hati)

Karakter anak sebagai pelaku bullying pada umumnya adalah anak yang selalu berperilaku:

1. Agresif, baik secara fisikal maupun verbal. Anak yang ingin popular, anak yan sering membuat atau selalu mencari kesalahan orang lain dengan memusuhi umumnya. anak yang berperilaku agresif ini telah menggunakan kemampuannya untuk mengunggkapkan ketidaksetujuannya pada kondisi tertentu korban, misalnya perbedaan ras, fisik, agama.

2. Pendendam. Anak pendendam atau iri hati sulit diidentifikasi perilakunya karena dia belum tentu agresif. Perilakunya juga tidak terlihat secara fisik dan mental.

4. Dampak Negatif Kekerasan Bullying Di Sekolah.

Ali As’ad Wathifah dalam penelitianya yang sangat luas, mengenai segala bentuk tindakan kekerasan yang kerap kali terjadi dalam proses pendidikan, baik itu sekolah ataupun dirumah, akan memiliki dampak buruk yang sangat besar bagi perkembangan akhlak dan tingkah laku anak. Beliau mengatakan “sikap semena-mena dalam mendidik sangat berbahaya dan mengancam proses pendidikan. kemuncullanya melahirkan sikap kebencian, kemarahan, keras hati, susah diatur,

(8)

22

malu, takut, merasa bersalah, merasa kurang, hilang rasa percaya diri, suka diremehkan, dan larut dalam perasaan bersalah.”.10

Perilaku bullying, merupakan tindak kekerasan yang bisa menimbulkan kerugian pada korban, baik dalam hal fisik maupun psikis. Carlise menguraikan efek pengalaman menjadi korban bullying yang terjadi pada siswa yaitu:

a. Psikologis, Perasaan kesepian, malu, timbul perkara untuk balas dendam, cemas, mudah merasa tertekan, tidak percaya diri, kesulitan membaur dengan kelompok, dan sebagainya.11

b. Dampak Psikologis juga meliputi rasa takut, rasa tidak aman, dendam, dan menurunya semangat belajar siswa, daya konsentrasi, kreatifitas, hilang inisiatif, daya tahan (mental), menurunya rasa percaya diri, stress, depresi, dan sebagainya. Dan dalam jangka panjang bisa berakibat pada penurunan prestasi dan perubahan perilaku siswa.

c. Fisik, mengakibatkan organ-organ tubuh siswa mengalami kerusakan, seperti memar, luka-luka, dan sebagainya.

Secara spesifik, Rigby membagi dampak psikologis korban bullying menjadi empat kategori, yaitu:

1. Memiliki kesejahteraan psikologis yang rendah. pada ketegori ini kesadaran mental korban menjadi lemah, namun kodisi ini tidak terlalu berbahaya.

10

Muhammad Nabil Khazim, Mendidik Anak Tanpa Kekerasan, (Pustaka Al-Kautsar, 2010), cet ke-1, hlm. 156

11

Hoasel waluyo Erlan, Gambaran Percieved Long tern Effect dari Bullying pada Individu Dewasa yang pernah menjadi korban, hlm. 114

(9)

23

Perasaan tidak bahagia muncul pada diri korban, selain juga perasaan mudah marah, sensitif, serta harga dirinya yang rendah.

2. Memiliki pandangan dan kemampuan sosial yang rendah. korban yang berada pada kategori ini seringkali menarik diri dari pergaulan, dan sebaliknya lebih suka mengisolasi diri dari dan cenderung untuk membolos sekolah.

3. Psychological distress, pada kategori ini korban memiliki tingkat kecemasan yang sangat tinggi. Korban merasa depresi dan memiliki dorongan untuk melakukan tindakan bunuh diri.

4. Dampak negatif secara fisik, misalnya luka-luka akibat serangan fisik, serta penyakit lainnya seperti sakit kepala, deman, flu dan batuk.12

Jadi Dalam jangka panjang, korban bullying dapat menderita karena masalah emosional, dan perilaku Bullying dapat menimbulkan perasaan tidak aman, terisolasi, perasaanharga diri yang rendah, depresi atau menderita stress yang dapat berakhir denganbunuh diri.

12 Irwan Indera Putra, Hubungan Antara Perlikau Bullying dengan Permasalahan Penyesuaian

(10)

24

5. Model Model Pencegahan Bullying

Adapun model model pencegahan bullying antara lain: model transteori, jaringan pendukung serta program sahabat.13

a. Model transteori

Model transteori merupakan salah satu metode penyadaran bahaya bullying yang bersifat ajakan mudah difahami, bertahap namun relative cepat dan aman, bagi orang tua, guru, maupun siswa (korban maupun pelaku).

Dalam setiap tahapannya selalu muncul rasa keingintahuan hasrat dan upaya yang lebih besar untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Setiap peserta akan mendapat kepuasan setiap kali ia menyadari atau disadarkan akan bahaya bullying. Dalam hal ini, para peserta akan menyediakan diri atau bertanya untuk melakukan persiapan selanjutnya dari setiap tahap yang dilaluinya.

b. Jaringan Pendukung

Jaringan pendukung adalah suatu program untuk melakukan upaya komunikasi antara pihak sekolah dengan komunitasnya. Dalam upaya pencegahan bullying, jaringan pendukung perlu dilakukan terlebih dahulu, yaitu dengan menggalang berkumpulnya seluruh komunitas sekolah untuk disatukan pemahaman dan keterlibatan mereka secara bersama mengenai bullying.

c. Program SAHABAT (kasih SAying dan persatuan, HArmonis, BAik

budi dan Tanggung jawab).

Program sahabat adalah suatu program psikologi sosial untuk menanggulangi kenakalan siswa yang menitikberatkan pada organisasi jaringan

13

(11)

25

dengan menggunakan unsure unsure filosofi: kasih saying, harmonis, baik budi dan persatuan. Program ini melibatkan semua pihak yang ada di sekolah, termasuk didalamnya orang tua, guru, staff, siswa dan komunitas sekolah.

Kasih sayang yang merupakan sendi dasar program SAHABAT bisa diwujudkan dalam bentuk perbuatan, pikiran dan semangat yang dilakukan dengan kesadaran serta dapat ditujukan untuk siapapun. Namun jika konsep kasih sayang ditekankan pada hubungan personal individu, maka konsep ini menimbulkan ketidak adilan atau kebiadaban pada orang lain. Untuk itu dalam program sahabat kerteria kasih sayang ditekankan pada kasih sayang sesame yang tidak bersifat membedakab atau bersifat adil untuk tujuan moral yang disetujui oleh semua pihak.

Unsure kedua pada program SAHABAT adalah harmoni.Harmoni berarti memahami prinsip hidup bersama dengan damai, toleran, tenang saling menghargai, adil dan saling berbagi.

Unsur ketiga pada program SAHABAT adalah Baik budi.Baik budi ini memiliki makna untuk menekankan kelurusan hati. Makna yang merefleksikan konsep ini antara lain adalah nilai untuk melakukan perbuatan luhur, member dengan tulus, berbuat jujur, rendah hati menerima apa adanya dan bersikap adil.

Sedang tanggung jawab merupakan poin terakhir pada program sahabat merefleksikan makna dimana seseorang atau kelompok melakukan sesuatu dengan sebaik baiknya sesuai tugasnya, membantu orang lain ketika mereka membutuhkan bantuan, menjaga, merawat diri sendiri atau barang, menjaga orang

(12)

26

lain yang membutuhkan, bersikap adil dan membantu menciptakan dunia yang lebih baik.

B. Tinjauan Teoritis Tentang Prestasi Belajar.

Pada dasarnya anak-anak Negara maju di Indonesia itu memiliki kesamaan tentang tujuan pendidikan yaitu memiliki hasrat belajar yang tinggi, apat bekerja, dan beriman bersama orang lain, menghargai nilai sosial kemanusiaan dan menghargai perbedaan perbedaan pendapat secara tulus. Perbedaan bukan terletak pada Negara maju dan berkembang melainkan terletak pada tingkat kedewasaan dalam proses belajar mengajar serta dalam prestasi belajar mengajar.

1. Pengertian prestasi belajar.

Istilah prestasi belajar terdiri dari dua suku kata yaitu: prestasi dan belajar. Antara kata prestasi dan belajar mempunyai arti yangberbeda. Oleh karena itu, sebelum pengertian prestasi belajar, ada baiknya pembahasan ini diarahkan pada masing-masing permasalahan terlebih dahuluuntuk mendapatkan pemahaman lebih jauh mengenai makna kata prestasi danbelajar. Istilah prestasi dalam kamus ilmiah popular didefinisikan sebagai hasil yang telah dicapai.14

Di bawah ini akandikemukakan beberapa pengertian prestasi menurut para ahli.

Menurut Mas’ud Hasan Abdul Dahar bahwa prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.

(13)

27

Muray dalam Beck (1990 : 290) mendefinisikan prestasi adalah “To

overcome obstacle, to exercise power, to strive to do something difficult as well and as quickly as possible” “Kebutuhan untuk prestasi adalah mengatasi

hambatan, melatih kekuatan, berusaha melakukan sesuatu yang sulit dengan baik dan secepat mungkin”.15

Sedangkan pengertian belajar Menurut noehi nasution menyimpulkan bahwa dalam arti luas belajar adalah suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil adri terbentuknya respons utama, dengan syarat bahwa perubahan tingkah laku itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh adanya perubahan sementara karena suatu hal.16

Adapun menurut James O Whittaker dalam bukunya, merumuskan bahwa Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihanatau pengalaman. 17

Sedangkan secara kuantitatif belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak banyaknya.Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai oleh siswa.18

Berdasarkan hal tersebut dapat penulis ambil sebuah kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu yang relatif menetap (permanent) sebagai hasil atau akibat dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif, afektif dan psikomotorik.

15

Muray dalam Beck 1990 : hlm 290

16 Ibid…., hlm 242

17Syaiful Bahri Djamarah, psikologi belajar,(Jakarta: Rineka Cipta, 2011), hlm12 18 Ibid……,hlm 243

(14)

28

Adapun menurut muhibbin syah yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah “taraf keberhasilan murid atau santri dalam mempelajari materi pelajaran disekolah atau pondok pesantren yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai jumlah materi pelajaran tertentu”.19

Setelah menelusuri uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dan kemudian akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka atau pernyataan.20

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat memberikan kepuasan emosional, dan dapat diukur dengan alat atau tes tertentu.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar.

Prestasi belajar disekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi dapat meramalkan kesuksesan prestasi belajar.Namun demikian, pada beberaa kasus, IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin kesuksesan seseorang dalam belajar dan hidup bermasyarakat.

IQ bukanlah satu-satunya faktor penentu kesuksesan prestasi belajar seseorang. Ada “faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dan

19Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan,(Jakarta: PT Remaja Rosdakarya, 2007) 20Ade Sanjaya, Prestasi Belajar (Bandung: 7 Maret 2011)

(15)

29

mengklasifikasikannya menjadi dua bagian, yaitu: 1.) faktor intern dan 2.) faktor ekstern. 21

1. Faktor intern, yakni faktor-faktor yang berasal dari dalm diri seseorang yang dapat memengaruhi prestasi belajarnya. Diantara faktor-faktor internal yang dapat memengaruhi prestasi belajar seseorang antara lain kecedersan/ intelegensi, bakat, minat dan motivasi. 22

a. kecerdasan/inteligen Kecerdasan/ intelegensi

Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya.Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar.

Slameto (1995:56) mengatakan bahwa “tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah.”23

21

Rohmalina Wahab, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015), hlm 248

22

Syaiful bahri djamarah, psikologi belajar (Jakarta: Rineka cipta 2011), hlm 191

23

(16)

30

1. Bakat

Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Ungkapan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto bahwa “bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupan-kesanggupan. Dari pendapat di atas jelaslah bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorangsangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama belajat keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik. Apalagi seorang guru atau orang tua memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka akan merusak keinginan anak tersebut.

2. Minat

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikandan mengenai beberapa kegiatan.Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang.Dengan ini jelaslah bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan.Bahkan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar.Untuk menambah minat seorang siswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan dapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri. Minat belajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang mempunyai minat yang

(17)

31

tinggi terhadap sesuatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya.

3. Motivasi

Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar sorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar. Dalam perkembangannya motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu (a) Motivasi instrinsik dan (b) Motivasi ekstrinsik.Motivasi instrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang yang atas dasarnya kesadaran sendiri untuk melakukan sesuatu pekerjaan belajar.Sedangkan motivasi ekstrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang datangnya dari luar diri seseorang siswa yang menyebabkan siswa tersebut melakukan kegiatan belajar.Dalam memberikan motivasi seorang guru harus berusah dengan segala kemampuan yang ada untuk mengarahkan perhatian siswa kepada sasaran tertentu. Dengan adanya dorongan ini dalam diri siswa akan timbul inisiatif dengan alasan mengapa ia menekuni pelajaran. Untuk membangkitkan motivasi kepada mereka, supaya dapat melakukan kegiatan belajar dengan kehendak sendiri dan belajar secara aktif.

2. Faktor Ekstern, yaitu faktor-faktor yang dapat memengaruhi belajar seseorang yang sifatnya berasal dari luar diri seseorang tersebut. Yang termasuk faktor-faktor ini antara lain:

(18)

32

a. Keadaan lingkungan keluarga.

Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan.Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama.Keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.

Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar. Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga.Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan.Peralihan pendidikan informal ke lembaga lembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana orang tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak di rumah. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak dapat belajar dengan tekun.Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar.

(19)

33

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan mempengaruhi hasil-hasil belajarnya.

c. Keadaan lingkungan masyarakat

Di samping orang tua, lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswadalm proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitarsangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu berada. Dengan demikian dapat dikatakan lingkungan membentuk kepribadian anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan lingkungannya. Oleh karena itu, apabila seorang siswa bertempat tinggal di suatu lingkungan temannya yang rajin belajar maka kemungkinan besar hal tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya, sehingga ia akan turut belajar sebagaimana temannya.

Kedua uraian pendapat diatas yang dapat memengaruhi proses dan prestasi belajar seseorang. Masih banyak faktor-faktor yang belum terkofer didalamnya..oleh karena itu untuk melengkapi kedua pendapat tersebut, penulis sajikan pandangan muhhibbin syah mengenai hal tersebut. Menurut beliau,

(20)

34

faktor yang memengaruhi proses dan hasil belajar peserta didik disekolah, secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga bagian. Antara lain:

1. Faktor internal (faktor dari dalam peserta didik ), yakni keadaan/kondisi jasmani atau rohani peserta didik. Yang termasuk faktor-faktor internal antara lain adalah:

a. Faktor fisiologis

Keadaan fisikyang tepat dan kuat akan menguntungkan dan memberikan hasil belajar yang baik, tetapi keadaan fiisik yang kurang baik akan berpengaruh pada siswa dalam keadaan belajarnya.

b. Faktor psikologis

Yang termasuk dalam faktor-faktor psikologis yang memengaruhi prestasi belajar antara lain:

- Inteligensi, faktor ini berkaitan dengan Intelligence Quotient (IQ) seseorang.

- Perhatian, perhatian yang terarah dengan baik akan menghasilkan pemahaman dan kemampuan yang mantap.

- Minat, kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.

- Motivasi, merupakan kedaan internal organism yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu.

- Bakat, kemampuan potensial yang dimiliki oleh seseorang untuk mencapai keberhasilan dimasa yang akan datang. 24

(21)

35

2. Faktor ekstenal (faktor dari luar peserta didik), yakni kondisi lingkungan sekitar peserta didik, adapun yang termasuk faktor-faktor ini antara lain

a. Faktor sosial yang terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat

b. Faktor nonsosial, yang meliputi letak dan keadaan sekolah, tempat tinggal keluarga, alat-alat dan sumber belajar. Keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor tersebut dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar peserta didik disekolah.

3. Faktor pendekatan belajar (Approach to learning), yakni jenis upaya belajar peserta didik yang meliputi strategi dan metode yang digunakan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajarn.

3. Jenis dan indikator Prestasi Belajar.

Menurut ahmad Prestasi belajar pada dasarnya adalah hasil akhir yang diharapkan dapat dicapai setelah sesorang belajar. Menurut Ahmad bentuk perubahan tingkah laku yang diharapkan itu merupakan suatu target atau tujuan pembelajaran yang meliputi tiga aspek, yaitu: 1.) tahu/mengetahui (knowing), 2.) melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing) dan 3.) melaksanakan yang ia ketahui itu secara rutin dan konsekuen (being). 25

Adapun menurut banjamin S. Bloom, sebagimana yang telah dikutip oleh Abu Muhammad Ibnu Abdullah bahwa hasil belajar diklasifikasikan kedalam tiga

(22)

36

ranah yaitu: 1) ranah kognitif (cognitive domain), 2.) ranah afektif (affective domain), dan 3.) ranah psikomotorik (psychomotor domain).26

Bertolak dari kedua pendapat tersebut diatas, penulis lebih cenderung kepada pendapat Benjamin S. Bloom, kecenderungan ini didasarkan pada alasan bahwa ketiga ranah yang diajukan lebih terukur, dalam artian bahwa untuk megetahui prestasi belajar yang dimaksudkan mudah dan dapat dilaksanakan, khususnya pada pembelajaran yang bersifat formal. Sedangkan ketiga aspek tujuan pembelajaran yang diajukan oleh Ahmad Tafsir sangat sulit untuk diukur.

Berdasarkan hal tersebut, maka penulis berkesimpulan bahwa jenis prestasi belajar itu meliputi tiga ranah atau aspek, yaitu: 1) ranah kognitif (cognitive domain), 2.) ranah afektif (affective domain), dan 3.) ranah psikomotorik (psychomotor domain). Untuk menggungkap hasil belajar/prestasi belajar pada ketiga ranah tersebutdiatas diperlukan patokan-patokan atau indikator-indikator sebagai petunjuk bahwa seseorang telah berhasil meraih prestasi pada tingkat tertentu dari ketiga ranah tersebut. Dalam hal ini Muhhibbin Syah mengemukakan bahwa kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa sebagaimana yang terurai diatas adalah mengetahui garis-garis besar indikator dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.Untuk mengungkap hasil belajar atau prestasi belajar pada ketiga ranah tersebut di atas diperlukan patokan-patokan atau indikator - indikator sebagai penunjuk bahwa siswa - siswi telah berhasil meraih prestasi belajar yang hendak diukur.

(23)

37

Dan agar lebih mudah dalam memahami hubungan antara jenis- jenis belajar dengan indikator-indikatornya, berikut ini penulis sajikan sebuah tabel yang berisi jenis, indikator, dan cara evaluasi prestasi.

Tabel 2.1

Ranah/Jenis prestasi Indikator Cara evaluasi

A. Ranah kognitif 1. Pengamatan 1. Dapat menunjukkan 2. Dapat membandingkan 3. Dapat menghubungkan 1. Tes lisan. 2. Tes tertulis. 3. Observasi

2. Ingatan 1. Dapat menyebutkan

2. Dapat menunjukkan kembali

1. Tes lisan 2. Tes tertulis 3. Observasi 3. pemahaman 1. Dapat menjelaskan

2. Dapat mendefinisikan dengan lisan sendiri

1. Tes lisan 2. Tes tertulis 4. aplikasi/penerapan 1. Dapat memberikan contoh

2. Dapat menggunakan secara tepat 1. Tes lisan 2. Tes tertulis 3. Observasi 5. analisis (pemeriksaan dan pemilahan secara teliti) 1. Dapat menguraikan 2. Dapat menklasifikasikan/memilah-milah. 1. Tes lisan 2.Pemberian tugas 6. Sintesis (membuat paduan baru dan utuh )

1. Dapat menghubungkan materi-materi sehingga menjadi kesatuan baru.

2. Dapat menyimpulkan

3. Dapat mengeneralisasikan (membuat prinsip umum)

1. Tes tertulis 2. Pemberian

tugas

B. Ranah Afektif 1. Penerimaan

1. Menunjukkan sikap menerima. 2. Menunjukkan sikap menolak

1. Tes tertulis 2. Tes skala sikap 3. Observasi 2. Sambutan 1. Kesediaan berpartisipasi

2. Kesediaan memanfaatkan

1. Tes skala sikap 2. Pemberian

tugas 3. Observasi

3. Apresiasi 1. Menganggap penting dan

bermanfaat.

2. Menganggap penting dan harmonis. 3. Mengagumi 1. Tes skala penilaian sikap 2. Pemberian tugas. 3. Observasi 4. internalisasi 1. mengaku dan menyakini

2. mengingkari

1. Tes skala sikap 2. Pemberian

(24)

38

(yang menyatakan sikap dan tugas proyektif) (yang menyatakan perkiraan dan ramalan)

5. Karakterisasi 1. Melembagakan atau

meniadakan

2. Menjelmakan dalam pribadi dan perilaku sehari-hari

1. Pemberian tugas ekspresif dan proyektif 2. Observasi C. Ranah psikomotorik 1. Ketrampilan bergerak dan bertindak 1. Kecakapan mengkoordinasikan gerak mata, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya

1. Observasi 2. Tes tindakan 2. Kecakapan ekspresi verbal dan non-verbal 1. Kefasihan melafalkan/mengucapkan. 2. Kecakapan membuat mimic

dan gerakan jasmani.

1. Tes lisan 2. Observasi 3. Tes tindakan

C. Pengaruh Bullying Verbal Terhadap Prestasi Belajar

Pada umumnya, keluarga ingin agar anaknya tumbuh dan berkembang menjadi orang yang menjujung tinggi akhlak dan moral sehari harinya. Adapun Dampak Perilaku bullying Menurut Vivie akibat dari tindakan bullying ini tidak dapat dikatakan main-main. perilaku tersebut mengganggu perkembangan sosial dan emosional anak mulai dari yang ringan, sedang hingga yang serius dan mampu berakibat pada kematian Yakni: 27

1. Prestasi belajar/ prestasi akademiknya menurun. 2. Phobia sekolah.

3. Gelisah, sulit tidur. 4. Gangguan makan.

27

(25)

39

5. Menyendiri, mengucilkan diri. 6. Sensitive, lekas marah.

7. Agresif , bersikap kasar pada orang lain (contoh : pada kakak atau adik bahkan orang tua).

8. Depresi.

9. Hasrat bunuh diri (Data dari Jepang dinyatakan bahwa 10% korban bullying mencoba bunuh diri).

Menurut berbagai sumber bahwasannya bullying berdampak menurunkan tes kecerdasan dan kemampuan analisis siswa yang menjadi korban, bahkan sampai berusaha bunuh diri.Bullying juga berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai-nilai akademik dan tindakan bunuh diri.28Pelaku bullying berpotensi tumbuh sebagai pelaku kriminal dibanding yang tidak melakukan bullying.Tindakan ini juga masih menjadi masalah tersembunyi yang tidak disadari oleh para pendidik dan orang tua murid.bullying adalah masalah kesehatan publik yang perlu mendapatkan perhatian karena orang-orang yang menjadi korban bullying kemungkinan akan menderita depresi dan kurang percaya diri. Penelitian-penelitian juga menunjukkan bahwa siswa yang menjadi korban bullying akan mengalami kesulitan dalam bergaul. Merasa takut datang ke sekolah sehingga absensi anak tinggi dan ketinggalan pelajaran, mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam mengikuti pelajaran, dan kesehatan mental maupun fisik jangka pendek maupun panjang akan terpengaruh.

(26)

40

Sedangkan menurut Bangu (2007: 2), anak korban bullying sering menampakkan sikap: mengurung diri atau menjadi school phobia, minta pindah sekolah, konsentrasi berkurang, prestasi belajar menurun, suka membawa barang-barang tertentu (sesuai yang di minta si pelaku bullying). Anak jadi penakut, gelisah, tidak bersemangat, menjadi pendiam, mudah sensitif, menyendiri, menjadi kasar dan dendam, mudah cemas, mimpi buruk, melakukan perilaku bullying kembali terhadap orang lain.

Dian Ratna Sawitri (dalam Bullying_Waspadalah.pdf) Bullying dapat mengakibatkan korban merasa cemas, mengalami gangguan tidur, sedih berkepanjangan, menyalahkan diri sendiri, depresi, bahkan bunuh diri. Terkait dengan aktivitas sekolah, korban dapat pula sering absen,terisolasi secara sosial, prestasinya menurun, atau mengalami drop-out. Beberapa penelitian pun menunjukkan bahwa korban bullying pada 4 tahun berikutnya berpotensi menjadi pelaku. Sedangkan pada para pelaku bullying, mereka beresiko tinggi terlibat kenakalan dan tindakan kriminal serta berpotensi mengalami hambatan penyesuaian diri dan sosial. Tidak hanya sampai di situ, bullying juga meresahkan para orang tua dan masyarakat dan ketika terjadi di sekolah, tingkat kepercayaan mereka pada institusi pendidikan menjadi menurun.

D. Hipotesis Penelitian.

Hipotesis adalah satu jawaban yang bersifat sementara terhadap permaslahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul.29

29

Suharsimi Arikunto, prosedur penelitian suatu pendekatan praktis, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996) hlm..67

(27)

41

Menurut Sutrisno Hadi, hipotesisi adalah dugaan yang mungkin benar atau salah, dia akan ditolak jika salah, dan akan diterima jika fakta faktanya membenarkannya. 30

Alam hal ini penulis menggunakan dua hipotesa, yaitu:

1. Hipotesa Kerja (Ha) yang berbunyi sebagai berikut: Ada pengaruh antaraBullyingverbal dengan Prestasi Belajar Siswa SMP Khadijah Surabaya.

2. Hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi sebagai berikut: Tidak ada pengaruh antara antaraBullyingverbal dengan Prestasi Belajar Siswa SMP Khadijah Surabaya.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan Prestasi Belajar Akuntansi merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa dengan kegiatan belajar secara efektif di

Berdasarkan pengertian belajar menurut para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh manusia sebagai

Berdasarkan pendapat dan uraian di atas dapat diungkapkan bahwa dalam kegiatan proses perencanaan terdapat tiga kegiatan yang tidak mungkin dipisahkan yaitu (1)

Dari pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah suatu hasil belajar yang dicapai dalam aktivitas untuk mendapat suatu kepandaian atau sebuah

Sehingga berdasarkan uraian di atas tentang prestasi belajar dan pengertian matematika maka yang dimaksud prestasi belajar matematika adalah hasil yang telah dicapai

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa novel merupakan sebuah karya yang lahir dari imajinasi seorang pengarang yang mampu menggambarkan berbagai macam

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa melalui pembelajaran kooperatif dengan model pembelajaran berbasis Discovery Learning.. suasana belajar terasa lebih

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa adalah pengukuran dan penilaian hasil usaha belajar siswa dalam kurun waktu tertentu yang