IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
THINK PAIR AND SHARE (TPS) PADA DIKLAT PENILAIAN
ANGKA KREDIT GURU MADRASAH KEMENAG KABUPATEN
INDRAGIRI HILIR
Enidar
Balai Diklat Keagamaan Padang [email protected]
Diterima: 10 Maret 2020 | Disetujui: 27 April 2020 | Dipublikasikan: 30 Juni 2020
Abstrak
Penelitian ini dimaksudkan untuk Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share dalam Pelatihan Penilaian Angka Kredit Guru di Kementerian Agama Tembilahan Indragiri Hilir. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif yang dikembangkan dengan instrument pengamatan langsung.Subjek penelitian adalah peserta pelatihan Guru Penilaian Angka Kredit.Peserta terdiri dari 30 orang, yang berasal dari Guru Madrasah Ibtidaiyah, Guru Madrasah Tsanawiyah dan Guru Madrasah Aliayah Kantor Kementrian Agama Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir. Berdasarkan hasil pengamatan, menunjukan bahwa dengan menggunakan Thing Pair Share model terlihat hampir semua peserta aktif dan mereka memiliki motivasi yang tinggi dalam proses pembelajaran. Peserta pelatihan dapat mengembangkan ide-ide mereka dan membagikan pengetahuan mereka kepada kelompok lain di kelas.
Kata Kunci: Think Pair Share, Pendekatan Saintifik, Motivasi Abstract
This study was intended to an implementation of Cooperative Learning Model-Think Pair Share inTraining of the Assesment of Teachers Credit Score (Penilaian Angka Kredit /PAK Guru) at Ministry of Religion Tembilahan Indragiri Hilir. This study is catagorised qualitative research which is developed by direct observation design. The subject of the research was the trainees of PAK Teachers. They were 30 participants from primary school (Madrasah Ibtidaiyah Teachers, junior high school (Madrasah Tsanawiyah Teachers) and senior high school teachers (Madrasah Aliayah Teachers) in Tembilahan Regency. The result of the study showed that think pair share technique through scientific approach was very good, because almost all participants were active and they have high motivation in learning process.The trainees can develope their ideas and share their knowledge to other pairs or other groups in class.
Keywords: Think Pair Share, Scientific Approach, Motivation
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Salah satu upaya peningkatan kualitas dan usaha dalam mencapai tujuanpendidikan yang telah dilakukan pemerintah adalahmelakukanperbaikan dan pembaharuan terhadap kurikulum, diantaranya adalah padaproses pembelajaran. Proses pembelajaran seperti halnya yang tertuang dalam permendikbud Nomor 22 tahun 2016 dengan menggunakan pendekatan saintifik (scientific approach) yang terdiri dari lima tahap yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan data,
menganalisis, dan
mengkomunikasikan.Melalui
pendekatan saintifik dengan penerapan model-model pembelajaranpeserta didik/siswa dapat mengetahui dan memahami berbagai materi pada setiap
mata pelajaran atau mata
pelatihan.Tentu saja dalam hal inidengan menggunakan model-model pembelajaran diharapkan dapat mendorong peserta didik/siswa untuk mencari tahu, dan bukan hanya diberi tahu untuk menggali dan menerapkan
serta mengembangkan ilmu
pengetahuan yang telah mereka dapat. Beberapa modelpembelajarandapat diimplementasikandalam kegiatan belajar mengajar di sekolah/madrasah, perguruan tinggi maupun di lembaga pendidikan dan pelatihan. Namun
masing-masing model
pembelajarantersebut memiliki kelebihan dan kekurangan.Kekurangan suatu model dapat ditutupi oleh model pembelajaran yang lain, sehingga pendidik dapat menggunakan beberapa model mengajar dalam melakukan proses belajar mengajar, Kasimmudin (2014).
Memilih suatu model pembelajaran perlu mempertimbangkan materi yang disampaikan, tujuan pembelajaran, waktu yang tersedia, danjumlahpeserta serta hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar.Karena modelpembelajaran mempunyai peran strategis dalam upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar (Miftahul, 2013).
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didikuntuk lebih aktif dengan kelompoknya.Namun, yang perlu diketahui bahwa penerapan model pembelajaran yang digunakan harus bersinergi dengan pendekatan saintifik. Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) dianggap dapatmemberikan ruang belajar sesuai
dengan tuntutan dari
pendekatansaintifikyang diterapkan
dalam pembelajaran. Model
pembelajaran kooperatif tipe think pair share memiliki keunggulan dalam hal optimalisasi partisipasi peserta didik, yaitu memberi kesempatan lebih banyak kepada setiap peserta didik untuk memahami dan lebih termotivasi sehingga dapat menunjukkan meningkatnya prestasi belajar.Dalam metode kooperatif tipe think pair share ini, pembelajaran dilakukan dengan terlebih dahulu memberikan masalah kepada peserta didik yang harus dipecahkan secara individual (Think) kemudian pendidik/guru membagi peserta didik/siswa secara berpasangan (2 orang/in pair). Dalam kelompok tersebut, setiap peserta saling membagi hasil buah pikirnya ke setiap anggota kelompoknya (Share) dan pada kelompok lainnya.
Berdasarkan diuraikan di atas, maka hal ini menarik untuk dibahas, penulis
mencoba mengimplementasikan model pembelajaran think pair share dalam upaya mengoptimalkan keterlibatan
pesertadiklatdalam proses
pembelajaran,sehinggadapat
mempengaruhi motivasi belajar dan
meningkatkan pengetahuan
mereka.Dalam hal ini penulistertarik membahas model pembelajaran kooperatif tipe think pair and share dalam sebuah artikel yang berjudul “Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada Diklat Penilaian Angka Kredit Guru Madrasah Kemenag Kabupaten Indragiri Hilir”.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan yang menjadi bahan kajian dalam penelitian ini adalah: 1. Apakah pengertian Model
Pembelajaran Cooperative ?
2. Apakah pengertian Think Pair and Share ?
3. Bagaimana sintaks pembelajaran kooperatif think pair andshare ? 4. Apakah kelebihan dan kekurangan
model pembelajaran think pair and share ?
5. Apa saja manfaat model pembelajaran thinkpairandshare ? 3. Tujuan Penelitian
1. Untuk memberikan informasi tentang pengertian Model Pembelajaran Cooperative.
2. Untuk memberikan informasi tentang pengertian Think Pair and Share. 3. Untuk memberikan informasi tentang
langkah-langkah model
pembelajaran kooperative tipe Think Pairand Share.
4. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan model pembelajaran think pairand share.
5. Untuk mengetahui manfaat model pembelajaran thinkpair and share. METODE PENELITIAN
a. Cooperative Learning Model
Cooperative Learning berasal dari kata cooperate yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersamasama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok/tim. Istilah cooperative learning dalam bahasa Indonesia dikenal dengan pembelajaran kooperatif. Cooperative Learning adalah suatu model pembelajaran yang saat ini banyak digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar-mengajar yang berpusat pada peserta (student oriented) terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan peserta didik, yang tidak dapat bekerja samadengan orang lain, peserta yang agresif dan tidak peduli dengan orang lain (Wibowo, 2011: 13). Tidak semua belajar kelompok dapat dianggap sebagai metode pembelajaran kooperatif (cooperative learning), untuk mencapai hasil yang maksimal, maka ada lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif dapat diterapkan, yaitui:
1) Saling ketergantungan positif (positive interdependence).
2) Tanggung jawab perseorangan (personal responsibility).
3) Interaksi promotif (face to face promotive interaction).
4) Komunikasi antar anggota (interpersonal skill).
5) Pemrosesan kelompok (group processing).
Selanjutnya, Arends (2007) juga menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai paling sedikit tiga tujuan penting, yaitu: prestasi akademik, toleransi dan penerimaan terhadap keanekaragaman, serta pengembangan keterampilan sosial.
Menurut Slavin (2005), metode pembelajaran kooperatif dibagi dalam dua pendekatan struktural, yaitu: numbered heads together dan think-pair-share. Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah peserta didik bekerja dalam kelompok untuk menuntaskan materi belajarnya.Kelompok dibentuk dari peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.Bilamanamungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda. Sedangkan pengertian model kooperatif tipe think pair and share akan dijelaskan sebagai berikut.
b. Think Pair and Share (TPS)
Think Pair Share/TPS merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang dalam bentuk diskusi berpasangan, sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir, keterampilan berkomunikasi peseta didik, serta mendorong partisipasi mereka dalam belajar (Marlina, 2014) Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan model pembelajaran kooperatif yang menempatkan peserta didik secara berpasangan (2 orang) untuk menyelesaikan tugas-tugas akademik melalui tiga tahap, yakni: Think (berpikir), Pair (berpasangan), dan Share (berbagi). Salah satu keutamaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Shareadalah menumbuhkan keterlibatan dan keikutsertaan peserta
didik dengan memberikan
kesempatanterbuka pada semua peserta
didik untuk berbicara dan mengutarakan gagasannya sendiri dan memotivasi peserta didik untuk terlibat percakapan antar peserta lainnya (Marlina, 2014: 87). Pendapat lain yang disampaikan oleh Trianto, (2014) yang menayatakan bahwa pengertian Think Pair Share (TPS) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang di rancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Strategi TPS ini pertama kali dikembangkan oleh Frang Lyman dan koleganya dalam penelitiannya di Universitas Maryland yang menyatakan bahwa TPS merupakan cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Metode TPS berarti memberikan waktu pada siswa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan atau permasalahan yang akan diberikan oleh pendidik/guru. Peserta didik/siswa saling membantu dalam menyelesaikan masalah tersebut dengan kemampuan yang dimilikinya.Setelah itu dijabarkan atau menjelaskan hasil pemikiran atau
gagasan mereka di ruang
kelas(Miftahul,2015:132).
Selanjutnya, Slavin (2005)juga menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe think- pair-share merupakan salah satu model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Model pembelajaran ini memberibanyak waktu kepada peserta untuk memikirkan materi yang sedang dipelajari dan bertukar pikiran dengan peserta lain sebelum ide mereka dikemukakan di depan kelas. Senada dengan itu, Lie (2003), memberikan argumen bahwa “Model pembelajaran think- pair-sharememberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap peserta untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka
kepada orang lain daripada model klasikal yang memungkinkan hanya satu peserta yang maju dan membagikan hasil diskusi di depan kelas”. Interaksi antar peserta di sekitar tugas-tugas yang diberikan lebih besar karena berpasangan sebanyak dua orang, penguasaan peserta terhadap konsep-konsep yang sulit lebih tinggi dan lebih memotivasi peserta didik dalam belajar sehingga hasil belajar dapat meningkat.
Senada dengan pendapat di atas Trianto (2014: 129-130), think pair and share (TPS) atau berpikir berpasangan dan berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi peserta didik. Strategi think pair shareini berkembang dari penelitian belajar kooperatif dan waktu tunggu. Pertama kali dikembangkan oleh Frang Lyman dan koleganya di Universitas Maryland sesuai yang dikutip Arends, menyatakan bahwa Think Pair Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam think pair sharedapat memberi siswa waktu berpikir, untuk merespons dan saling membantu. Pendidk/Guru memperkirakan hanya melengkapi penyajian singkat atau siswa membaca tugas, atau situasi yang menjadi tanda tanya. Pendidk/guru
menginginkan siswa dapat
mempertimbangkan lebih banyak apa yang telah dijelaskan dan dialaminya. Guru memilih menggunakan think pair shareuntuk membandingkan tanya jawab kelompok keseluruhan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share(TPS)
merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok dalam pembelajaran secara keseluruhan. Pada dasarnya belajar berkelompok adalah kunci dari think pair and shere, dimana kelompok belajar terdiri kelompok kecil kecil yang terdiri dari 2 orang. Masing masing pasangan harus diberi pengertian bahwa orang yang memberi atau menyampai (share) ilmu pengetahuan kepada orang lainjustru akan lebih memperkaya orang dirinya sendiri.
Pembelajaran think-pair-share merupakan salah satu model pembelajaran yang memberi waktu bagi siswa untuk dapat berpikir secara individu maupun berpasangan. Dalam hal ini, model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share dapat digunakan sebagai ganti dari tanya jawab untuk peserta seluruh kelas. Karena sintaks dari model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share memberikan waktu yang banyak untuk berfikir, merespon, dan saling membantu dalam belajar untuk meningkatkan kinerja peserta dalam tugas-tugas akademik. Prestasi akademik diusahakan dengan bekerja sama, saling membantu, dan semua kelompok mendapatkan keberhasilan disamping keterampilan kerja sama dan sosial. Model pembelajaran ini memiliki prosedur yang secara eksplisit memberikan peserta didik waktu yang lebih banyak untuk berpikir, menjawab dan saling membantu.
1. Sintaks Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair and Share
Ada 3 tahap pembelajaran TPS yang harus dilakukan oleh guru think (berpikir), pair (berpasangan), dan share (berbagi). Guru memberikan batasan
waku agar siswa dapat belajar berfikir dan bertindak secara cepat dan tepat (Trianto, 2014).
Tahap 1 : Berpikir (Think)
Pada tahap think,peserta didik/siswa diminta untuk berpikir secara mandiri mengenai pertanyaan atau masalah yang diajukan. Pada tahap ini, siswa sebaiknya menuliskan jawaban mereka, hal ini karena guru tidak dapat memantau semua jawaban siswa satu per satu sehingga dengan catatan siswa tersebut, guru dapat memantau semua jawaban dan selanjutnya akan dapat dilakukan perbaikan atau pelurusan atas konsep-konsep maupun pemikiran yang masih salah. Dengan adanya tahap ini, maka guru dapat mengurangi masalah dari adanya siswa yang mengobrol karena pada tahap think ini mereka akan bekerja sendiri untuk dapat menyelesaikan masalah. Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, meminta siswa memikirkan jawaban dari permasalahan yang diajukan secara mandiri.
Tahap 2 : Berpasangan (Pair)
Pada tahap ini guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dengan teman disampingnya, misalnya teman sebangkunya. Ini dilakukan agar siswa yang bersangkutan dapat bertukar informasi satu sama lain dan saling melengkapi ide-ide jawaban yang belum terpikirkan pada tahap Think.Pada tahap ini bahwa ada dua orang siswa untuk setiap pasangan. Langkah ini dapat berkembang dengan menerima pasangan lain untuk membentuk kelompok berempat dengan tujuan memperkaya pemikiran mereka sebelum berbagi dengan kelompok lain yang lebih besar, misalnya kelas. Namun dengan pertimbangan tertentu, terkadang kelompok yang besar akan
bersifat kurang efektif karena akan mengurangi ruang dan kesempatan bagi tiap individu untuk berpikir dan mengungkapkan idenya. Guru mengarahkan siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah dipikirkan dengan teman sebangku. Tahap 3 : Berbagi (Share)
Pada tahap ini setiap pasangan atau kelompok kemudian berbagi hasil pemikiran, ide, dan jawaban mereka dengan pasangan atau kelompok lain atau bisa ke kelompok yang lebih besar yaitu kelas. Langkah ini merupakan penyempurnaan langkah-langkah sebelumnya, dalam artian bahwa langkah ini menolong agar semua kelompok berakhir titik yang sama yaitu jawaban yang paling benar. Pasangan atau kelompok yang pemikirannya masih kurang sempurna atau yang belum menyelesaikan permasalahannya diharapkan menjadi lebih memahami pemecahan masalah yang diberikan berdasarkan penjelasan kelompok lain
yang berkesempatan untuk
mengungkapkan pemikirannya. Atau jika waktu memungkinkan, dapat juga memberi kesempatan pada semua
kelompok untuk maju dan
menyampaikan hasil diskusinya bersama pasangannya.Trianto
(2014),menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran think pair and shere ini siswa berbagi pengetahuan yang diperoleh dari hasil diskusi di depan kelas dan pada kesempatan ini pula, guru dapat meluruskan dan mengoreksi serta memberikan penguatan atas jawaban peserta didik/siswa di akhir pembelajaran.
Trianto (2014) juga menjelaskan bahwa, sebelum pendidik/guru menerapkan ketiga tahap di atas, guru terlebih dahulu memberikan penjelasan materi yang akan dibahas oleh siswa
baik secara individu maupun berpasangan. Jika hal ini tidak dilaksanakan, kemungkinan akan membuat siswa kebingungan mengenai materi yang hendak di bahas. Berikut adalah langkah – langkah dari ke tiga tahapan di atas:
1) Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin di capai. 2) Siswa diberikan satu permasalahan
yang berkaitan dengan pokok bahasan yang telah dijelas kanoleh guru, untuk kemudian dipikirkan pemecahannya secara individu. 3) Siswa membentuk pasangan dengan
teman sebangku atau yang lain dan mengutarakan hasil pemikiran masing–masing. Dalam langkah ini siswa harus mencari titik temu dari pemikiran masing–masing.
4) Siswa mempresentasikan hasil diskusi bersama pasangan di depan kelas. 5) Berawal dari kegiatan tersebut, guru
mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum di ungkapkan oleh siswa.
6) Penutup, guru dan siswa memberi kesimpulan.
Pendapat lain yang ungkapkan oleh Imas (2013), menyebutkanbahwa think pair share adalah suatu teknik sederhana yang memiliki beberapa kebihan. Think pair share dapat meningkatkan kemampuan peserta dalam mengingat suatu informasi dengan tiga tahapan, yaitu:
Tahap pertama penggabungan pendekatan saintifik dengan model pembelajaran Think Pair Share merangsang perkembangan kognitif peserta didik adalah pada tahap Think. Tahap Think memberikan kesempatan kepada peserta didik berupa waktu untuk berpikir secara individu. Selain itu, pada tahap Think juga membantu
peserta untuk memusatkan
pemikirannya pada pelajaran karena mereka dituntut untuk menyelesaikan tugas secara individu yang nantinya akan melaporkan hasil pemikirannya kepada peserta lain yang menjadi pasangannya. Tahap ini dapat melatih peserta didik untuk membangun pemahamannya sendiri dari pengetahuan awal yang telah diperoleh. Implikasinya adalah peserta didik akan semakin memahami konsep dan pengetahuan yang ada sesuai dengan tingkatan kognitifnya sehingga motivasi dan hasil belajar kognitif yang dicapai oleh peserta semakin maksimal.
Tahapan selanjutnya setelah peserta didik menyelesaikan tugas secara individu pada tahap Think, peserta didik akan melaporkan hasil pemikirannya pada teman pasangan (Pair) dan kemudian menyampaikannya pada teman sekelas (Share). Serangkaian tahap ini menenkankan aspek kerjasama antar peserta, sehingga akan membuat mereka mampu menguasai materi secara lebih baik. Slavin (2005) menjelaskan bahwa dengan adanya komunikasi antar peserta didik akan membangkitkan hubungan sosial antar mereka, melatih komunikasi melalui diskusi. Interaksi sosial dengan anggota kelompok akan memacu terbentuknya ide dan memperkaya perkembangan mental peserta didk. Unsur sosial
tercermin dari kemampuan
berkomunikasi peserta didik melalui diskusi dengan teman pasangannya. Selain itu peserta didik yang lain akan merespon terhadap pendapat yang telah disampaikan oleh temannya. Kegiatan-kegiatan tersebut akan sangat membantu peserta dalam memahami materi secara lebih baik yang akan berdampak pada peningkatan hasil belajar kognitif para peserta.Hal tersebut
sejalan dengan pendapat (Isjoni, 2010) yang pernyataan bahwa melalui model pembelajaran think pair share speserta
didik dapat mengembangkan
kecakapan hidup sosial mereka. Dalam think pair share mereka akan merasakan ketergantungan positif karena mereka belajar dari satu sama lain dan memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi karena seyogyanya tidak boleh ada diantara mereka yang mencoba mendominasi.
Selanjutnya, Imas (2013)
menyatakan bahwa tahapan
pembelajaran model pembelajaran think-pair-share adalah sebagai berikut: 1. Think (berpikir)
Pendidik/pemateri mengajukan suatu pertanyaan yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta peserta didik menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri.
2. Pair (berpasangan)
Pendidik/pemateri meminta peserta didik untuk berpasangan dan berdiskusi dengan peserta didik lain untuk menyatukan jawaban yang sudah mereka peroleh. Secara normal pemateri memberi waktu tidak lebih dari 5 atau 7 menit untuk berpasangan.
3. Share (berbagi)
Langkah terakhir pendidik/pemateri meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan /kelas yang telah mereka bicarakan.Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai sekitar sebagian. Dalam hal ini dapat dilakukan hal – hal sebagai berikut : 1) Semua peserta didik menyampaikan
ide atau gagasannya secara lisan atau tulis pada saat yang sama.
2) Para peserta didik memberikan pertanyaan dan peserta didik lainnya menanggapinya.
3) Semua peserta didik memberikan jawabannya dengan cara berdiri kemudian duduk kembali. Dan setiap peserta didik yang memberikan jawaban yang sama dengan peserta didik yang menulis di papan tulis ikut duduk. Proses ini dilanjutkan sampai semua peserta didik mengikutinya. 4) Setiap peserta didik berbagi jawaban
dengan dengan kelompok yang lain. 4.2 Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Think Pair and Share Dalam setiap stategi, metode, maupun model pembelajaran, tidak akan ada sesuatu hal yang sempurna dan dapat digunakan dalam setiap pembelajaran. Setiap jenis pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya.Sesuai dengan karakteristik model Think Pair And Share, peserta didik dibimbing secara mandiri, berpasangan, dan saling berbagi untuk menyelesaikan permasalahan. Model ini selain diharapkan dapat menjembatani dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar juga mempunyai dampak lain yang sangat bermanfaat bagi peserta didik. Beberapa akibat yang dapat ditimbulkan dari model ini adalah peserta didik dapat berkomunikasi secara langsung oleh individu lain yang dapat saling memberi informasi dan bertukar pikiran serta mampu berlatih untuk mempertahankan pendapatnya jika pendapat itu layak untuk dipertahankan.
Menurut Lie, (2008:19) dalam ungkapannya menyatakan bahwa kelebihan model pembelajaran kooperatif think-pair-share sebagai berikut: (a) memungkinkan peserta didik untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru,
serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan; (b) peserta didik akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah; (c) peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang; (d) peserta didik memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusinya dengan seluruh peserta didik sehingga ide yang ada menyebar; (e) memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau peserta didik dalam proses pembelajaran. Think pair share dapat meningkatkan kemampuan peserta dalam mengingat suatu informasi. Seorang peserta belajar dari pesera lain dan saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, dapat diperbaiki rasa percaya diri dan semua peserta diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas.
Kelebihan lain dari Think Pair and Share adalah: 1) Meningkatkan daya pikir siswa. 2) Menyediakan waktu berpikir untuk meningkatkan kualitas respons siswa. 3) Siswa menjadi lebih aktif dalam berpikir mengenai konsep dalam mata pelajaran. 4) Siswa lebih memahami tentang konsep topik pelajaran selama diskusi. 5) Siswa dapat belajar dari siswa lain. 6) Setiap siswa dalam kelompoknya mempunyai kesempatan untuk berbagi atau menyampaikan idenya.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kelebihan Think Pair And Share dalam proses kegiatan belajar mengajar tidak bergantung pada pemateri/pengajar. Dengan demikian, peserta didik dirangsang untuk lebih
aktif sehingga diharapkan dapat
menumbuhkan kepercayaan
kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari beberapa sumber, dan dapat saling dan bertukar informasi antar peserta, dan memiliki banyak waktu untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain, selanjutnya peserta didik memiliki kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata sendiri secara verbal dan membandingkan dengan ide-ide mereka dengan orang lain di kelasnya.
Disamping memiliki kelebihan, model pembelajaran kooperatif tipeThink- Pair- Share juga memiliki kelemahan, adapun kelemahan model pembelajaran Think- Pair- Share adalah sangat sulit diterapkan di sekolah yang rata-rata kemampuan peserta didiknya rendah dan waktu yang terbatas, dengan jumlah kelompok belajar yang banyak (Marlina,2014). Sedangkan menurut Lie (2008), kekurangan dari kelompok berpasangan (kelompok yang terdiri dari 2 orang peserta didik) adalah: (1) banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor; (2) lebih sedikit ide yang muncul; dan (3) tidak ada penengah jika terjadi perselisihan ide dalam kelompok, kecuali pegajar/ pemateri yang memberikan solusi. Membutuhkan koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktifitas. Peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran yang berharga, untuk itu pendidik/pemateri harus membuat perencanaan yang seksama sehingga dapat meminimalkan jumlah waktu yang terbuang, serta membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruang kelas. 4.3. Manfaat Model Pembelajaran Think
Manfaat Think Pair Share antara lain adalah: 1) memungkinkan siswa untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain, 2) mengoptimalkan partisipasi siswa dan 3) memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Kemampuan yang umumnya dibutuhkan dalam strategi ini adalah berbagi informasi, bertanya, meringkas gagasan orang lain, dan menganalisis. Struktur model pembelajaran think-pair-share dapat melatih peserta didik untuk berpikir cermat sebelum menyatakan pendapatnya serta dapat melatih keterampilan sosial peserta didik, keterampilan berbagi, keterampilan partisipasi, komunikasi, dan keterampilan berkelompok membangun sebuah tim. Dalam upaya untuk mengubah pola interaksi dalam strategi pembelajaran di kelas dan mengatasi rendahnya prestasi akademik serta mengubah paradigma pembelajaran yang berpusat pada pendidik/pengajar menjadi berpusat pada peserta, maka model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share dapat menjadi alternatif solusi pembelajaran tersebut.
Para peserta didik menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain ketika mereka terlibat dalam kegiatan Think-Pair-Share. Dalam kegiatan diskusi peserta lebih banyak mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya.Para peserta didik dapat mengingat secara lebih lama seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik.Seiring dengan
kegiatan tersebut para
pengajar/pendidik juga mungkin mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan
Think-Pair-Share. Pendidik dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban peserta didik, mengamati reaksi peserta didik, dan mengajukan pertanyaaan tingkat tinggi.
TEMUAN DAN PEMBAHASAN 1. Temuan
Berdasarkan hasil pengamatan /observasi langsung (direct observation) model pembelajaran think pair share ternyata berpengaruh terhadap motivasi dan pengetahuan peserta diklat PAK Guru Madrasah di lingkungan Kantor Kementrian Agama Indragiri Hilir. Pada tahap think, dengan pendekatan saintifik dan model pembelajaran Think Pair Share dapatmerangsang perkembangan kognitif pesertadiklat.karena, pada tahap Think memberikan kesempatan kepada peserta berupa waktu untuk berpikir secara individu. Selain itu, pada tahap Think juga membantu peserta untuk memusatkan pemikirannya pada mata pelajaran/mata diklat, karena peserta dituntut untuk menyelesaikan tugas secara individu yang nantinya akanmeng-ekspose atau melaporkan hasil pemikirannya kepada peserta lain yang menjadi pasangannya. Tahap ini dapat melatih peserta untuk membangun pemahamannya sendiri dari pengetahuan awal yang telah diperoleh. Implikasinya adalah pesertaakan semakin memahami konsep dan pengetahuan yang ada sesuai dengan tingkatan kognitifnya sehingga motivasi dan hasil belajar kognitif yang dicapai oleh peserta semakin maksimal. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Isjoni, (2010) menyebutkan bahwa think pair share adalah suatu teknik sederhana dengan keuntungan besar. Think pair share dapat
meningkatkan kemampuan peserta dalam mengingat suatu informasi.
Tahapan selanjutnya adalah pair, peserta yang bekerja dalam kelompoknya hanya berharap pada hasil diskusi kelompoknya saja, sehingga tidak semua peserta memahami materi pembelajaran. Dengan adanya masalah seperti ini, maka pemateri meminta peserta dari pasangan/kelompok lain untuk mengumpulkan hasil pemikiran individunya dan tidak boleh sama dengan teman kelompoknya. Dengan tindakan ini, maka peseretaakan berusaha untuk memikirkan solusi dari masalah yang diberikan dan semua peserta akan memahami materi pembelajaran. Setelah peserta menyelesaikan tugas secara individu pada tahap pair, pesertaakan melaporkan hasil pendapatnya pada teman pasangan mereka (Pair) dan kemudian menyampaikannya pada teman sekelas (Share).
Pada tahap share, semua kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas namuntindakan ini mengambil banyak waktukarena jawaban yang dipaparkanhampir sama dengan kelompok yang lainnya. Untuk mengatasi hal ini, maka pemateri hanya meminta satu atau dua kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya dan menanyakan kepada kelompok lain apakah jawaban yang dipaparkan sama atau memiliki jawaban yang berbeda. Dalam tahap ini juga masalah kedua yang ada yaitu peserta belum berani
mengangkat tangan untuk
mengemukakan pendapat di depan kelas. Dengan masalah ini, pemateri mengatasinya dengan menunjuk peserta lain melalui permainan paper white answere untuk berpendapat di depan kelas. Dengan tindakan tersebut, peserta lebih berani untuk
mengemukakan pendapatnya dan dengan diminta untuk berpendapat di depan kelas maka peserta juga merasa lebih dihargai ide dan gagasan atau pendapatnya.
2. Pembahasan
Serangkaian tahap ini menekankan aspek kerjasama antar peserta, sehingga akan membuat peserta mampu menguasai materi secara lebih baik. Slavin (2005) menjelaskan bahwa dengan adanya komunikasi antar peserta melalaui kegiatan shareakan membangkitkan hubungan sosial antar peserta diklatdengan melatih komunikasi melalui diskusi. Interaksi sosial antar peserta memacu peserta terbentuknya ide dan memperkaya
perkembangan mental dan
pengetahuan mereka. Karena, unsur sosial tercermin dari kemampuan berkomunikasi peserta melalui diskusi dengan teman pasangannya. Selain itu peserta yang lain akanmemberi tanggapan/respon terhadap pendapat yang telah disampaikan oleh anggota kelompok lainnya. Kegiatan-kegiatan ini sangat membantu peserta dalam memahami materi secara lebih baik
yang akan berdampak pada
peningkatan hasil belajar kognitif peserta diklat.
Penjelasan tersebut sesuai dengan pernyataan Lie (2003) yang menyatakan bahwa melalui model pembelajaran think pair share peserta dapat mengembangkan kecakapan hidup sosial mereka. Dalam think pair share
mereka akan merasakan
ketergantungan positif karena mereka belajar dari satu sama lain dan memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi karena seyogyanya tidak boleh ada peserta yang mencoba mendominasi. Maka dalam hal ini, dapat
disimpulkan bahwa model think pair and share dapat meningkatkan kemampuan pesertauntuk memahami suatu informasi atau materi yang disajikan. Karena, seorang peserta akan belajar dari peserta lain yang saling menyampaikan idenya mereka untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, dapat menimbulkan rasa percaya diri, dan semua peserta diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas.
PENUTUP 1. Simpulan
Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan dapat diambil suatu kesimpulan, yaitu: (i) belajar dengan mengunakan model pembelajaran think-pair-share dengan pendekatan saintifik menunjukkan bahwakemapuan belajar peserta diklat penilaian angka kredit guru lebih termotivasi dan kreatif dalam meningkat pengetahuan dan keterampilan mereka pada materi mekanisme dan prosedur penilaian angka kredit guru, (ii)Kegiatan model pembelajaran Think-Pair-Share dapat mengembangkan pemikiran peserta diklat secara individu karena adanya proses berpikir (think), sehingga kualitas jawaban juga dapat meningkat. Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan karena banyak peserta yang terlihat antusias saat proses belajar mengajar berlangsung. Dengan
menggunakan model pembelajran kooperatif learning tipe think-pair-share, sebelum berdiskusi secara kelompok, peserta berupaya berpikir terlebih dahulu, kemudian didiskusikan dengan pasangannya sehingga peserta didik telah mempunyai bahan untuk dibawa dalam diskusi kelompok. Dengan demikian peserta akan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran serta dapat meningkatkan motivasi dan pengetahuannya.
2. Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan, maka dapat diajukan saran sebagai berikut: guru sebaiknya memilih alternatif pembelajaran misalnya dengan penerapan model pembelajaran think pair share dipadu dengan pendekatan saintifik. Caranya adalah dengan memberikan informasi pada guru mengenali model model pembelajaran, supaya proses pembelajarannya tidak membosankan, misalkan dengan mengadakan pelatihan, seminar dan lain sebagainya.Bagi peneliti atau penulis berikutnya artikel ini bisa sebagai referensi untuk melakukan penulisan karya tulis ilmiah atau penelitian lanjutan yang masih memiliki relevansi.Dalam pembelajaran dengan model kooperatif tipe think pair and share diupayakan agar kelompok–kelompok belajar terdiri dari peserta didik yang memiliki kemampuan akademik yang berfariasi.
DAFTAR PUSTAKA
Arends, Richard I. 2007. Belajar Untuk Mengajar. Terjemahan oleh Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Dahlan, M. D. Prof. Dr. 1990. “Model – Model Mengajar” . Bandung: CV. Diponegoro Isjoni. 2010. Cooperative Learning: Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta. Imas Kurniasih, Berlin Sani. 2013. Sukses Mengimplementasikan Kurikulum 2013, KataPena,
Kasimmudin,Penggunaan Model Pengajaran Kooperatif Tipe Thik Pair Share (TPS) Untuk Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Fisika Peserta Didik Kelas XI IPA 2 SMA Negeri 9 Makasar, (Junal Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Makasar,Vol 4,2017)
Lie, Anita. 2008. Cooperative learning Mempraktekan cooperative learning di ruang-ruang kelas. Jakarta: Gramedia Widiasana Indonesia.
Marlina, dkk. 2014. Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-
Share (TPS) untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Disposisi Matematis Siswa di SMA Negeri 1 Bireuen. (Jurnal Didaktik Matematika. Vol. 1 no. 1, April 2014)
Miftahul Huda. 2013. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Slavin, Robert E. 2005.Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media. _______.2015. Cooperative Learning “Metode, Teknik, Struktur Dan Model Penerapan”,Yogyakarta
: Pustaka Pelajar.
Trianto Ibnu Badar Al-Tabany, 2014. Mendesain Model Pembelajaran, Jakarta: Prenadamedia Group.
Wibowo, Sigit.2011. Perbandingan Hasil Belajar Biologi dengan Menggunakan Metode Pembelajaran Cooperative Learning tipe Group Investigation (GI) dan Think Pair Share (TPS).(Skripsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta).