BAB II
LANDASAN TEORI A. Likuiditas
1. Pengertian Likuiditas
Likuiditas adalah suatu istilah yang dipakai untuk menunjukkan persediaan uang tunai dan aset lain yang dengan mudah dijadikan uang tunai atau aset lainnya, untuk memungkinkannya memenuhi kewajiban pembayaran dan komitmen keuangan lain pada saat yang tepat.1
Pengertian likuiditas bank adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajibannya, terutama kewajiban dana jangka pendek. Dari sudut aktiva, likuiditas adalah kemampuan untuk mengubah seluruh aset menjadi bentuk tunai (cash), sedangkan dari sudut pasiva, likuiditas adalah kemampuan bank memenuhi kebutuhan dana melalui peningkatan portofolio liabilitas.
Beberapa pakar perbankan memberikan pengertian likuiditas bank sebagai berikut:2
Joseph E Burns : Likuiditas bank berkaitan dengan kemampuan suatu bank untuk menghimpun sejumlah dana tertentu dengan biaya tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. Oliver G Wood Jr : Likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi semua penarikan dana oleh nasabah deposan, kewajiban yang telah jatuh tempo, dan memenuhi
1Alwi Syafarudin, Alat-alat Analis Dalam Pembiayaan, (Yogyakarta: Andi Offet, 2003),
h. 107
2Robert Tampubolon, Risk Manageme, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2004 ), Cet.
Ke-2, h. 69 - 70
permintaan kredit tanpa ada penundaan. William M Glavin : Likuiditas berarti memiliki sumber dana yang cukup tersedia untuk memenuhi semua kewajiban.
2. Fungsi Likuiditas
Likuiditas memiliki setidaknya empat fungsi utama bagi perusahaan yaitu:
a. Sebagai media untuk menjalankan aktivitas perbankan sehari-hari b. Sebagai antisipator dana – dana yang dibutuhkan secara tiba-tiba atau
pun mendesak
c. Sebagai pemuas nasabah yang ingin melakukan pinjaman ataupun penarikan dana
3. Komponen dalam Likuiditas
Menurut Engle dan Lange, Likuiditas memiliki tiga komponen dasar yaitu kerapatan, kedalaman, dan resiliensi. Ketiga komponen likuiditas ini saling berkaitan antara satu dengan lainnya untuk menjaga tingkat likuiditas dan kestabilan kondisi ekonomi sebuah organisasi ataupun perusahaan.
a. Kerapatan merupakan gap yang terjadi dalam harga yang disetujui dengan harga normal suatu barang.
b. Kedalaman merupakan jumlah ataupun volume produk yang dijual dan dibeli pada tingkat harga tertentu.
c. Resiliensi merupakan kecepatan perubahan harga menuju harga efisien setelah berlangsungnya penyimpangan ataupun ketidaktabilan harga.
4. Faktor-faktor yang Memengaruhi Likuiditas a. Faktor Eksternal
Faktor ekternal adalah berbagai hal yang terjadi di luar bank yang dapat mempengaruhi fund inflow.3 Sebagai contoh di Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia menunjukkan bahwa mereka sangat rasional dalam urusan bisnis walaupun menyadari nilai-nilai religius dalam transaksi keuangan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengharamkan bunga tetapi mereka tetap menyimpan uangnya di bank konvensional sepanjang lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan bank syariah.
Faktor eksternal yang memengaruhi kondisi likuiditas bank syariah sebagai berikut :
1) Karakteristik penabung 2) Kondisi ekonomi dan moneter 3) Persaingan antar lembaga keuangan
b. Faktor Internal
Faktor internal yang memengaruhi kondisi likuiditas bank syariah sebagai berikut :
a. Manajemen risiko likuiditas b. Pengelolaan likuiditas c. Perencanaan likuiditas
d. Strategi pengelolaan likuiditas
3 Muhamad, Manajemen Dana Bank Syariah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), Ed. Ke-1,
5. Rasio Likuiditas
a. Pengertian Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas bank merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat ditagih. Dengan kata lain, bank dapat membayar kembali pencairan dana para deposannya pada saat ditagih serta dapat mencukupi permintaan kredit yang telah diajukan.4 Rasio likuiditas dapat memberikan informasi tentang kondisi keuangan bank tersebut, apabila rasio yang ditujukan kecil maka kondisi keuangan bank dapat mengkhawatirkan karena dengan minimnya likuiditas yang dimiliki bank maka bank akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban pembayaran apabila nasabah melakukan penarikan uang. Namun sebaliknya, apabila kondisi likuiditas yang ditunjukan rasio terlalu besar maka tentu saja dapat dikatakan bahwa kondisi keuangan yang ada adalah over likuid karena dana yang seharusnya dapat diberdayakan belum atau mungkin tidak digunakan secara maksimal sehingga tidak ada penghasilan yang diperoleh.
b. Penghitungan rasio likuiditas
Rasio likuiditas berjutuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek, terdiri dari :5
4Kasmir, Analisis Laporan Keuangan, ( Jakarta: Rajawali Pers, 2015), Ed. 1, Cet.
Ke-8, h. 221
5 Arief Sugiono dan Edy Untung, Panduan Praktis Dasar Analisa Laporan Keuangan Pengetahuan Dasar bagi Mahasiswa dan Praktisi Perbankan,( Jakarta: Grasindo, 2008), h. 61 -63
1) Current Ratio
Rasio ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana aktiva lancar bank digunakan untuk melunasi hutang (kewajiban) lancar yang akan jatuh tempo/segera dibayar, current ratio biasa digunakan untuk mengukur solvensi jangka pendek.
Current Ratio = (Aktiva Lancar : Kewajiban Lancar) X 100% 2) Cash Ratio
Cash ratio adalah alat pengukuran likuiditas bank, yaitu suatu likuiditas minimum yang wajib dipelihara oleh setiap bank. Definisi dari Minimum Cash Ratio atau Minimum Reserve Requirement adalah perbandingan antara alat-alat likuid yang dikuasai bank dengan kewajiban yang segera dapat dibayar.
Cash Ratio = (Kas : Kewajiban Lancar) X 100%
6. Risiko Likuiditas
Risiko adalah potensi terjadinya suatu peristiwa (events) yang dapat menimbulkan kerugian. Risiko likuiditas adalah risiko terjadinya kerugian yang merupakan akibat dari adanya kesenjangan antara sumber pendanaan yang pada umumnya berjangka pendek dan aktiva yang pada umunya berjangka panjang.6 Sebagaimana bank-bank pada umumnya, bank syari’ah juga menghadapi risiko likuiditas sebagai berikut :
a. Turunnya kepercayaan nasabah terhadap sistem perbankan, khususnya perbankan syari’ah.
b. Turunnya kepercayaan nasabah pada bank syari’ah yang bersangkutan. c. Ketergantungan pada sekelompok deposan.
d. Dalam mudharabah kontrak, memungkinkan nasabah untuk menarik dananya kapan saja, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
e. Mismatching antara dana jangka pendek dengan pembiayaan jangka panjang.
f. Keterbatasan instrumen keuangan untuk solusi likuiditas.
g. Bagi hasil antara bank kurang menarik, karena finalsettlement-nya harus menunggu selesainya perhitungan cash basis pendapatan bank yang biasanya baru terlaksana pada akhir bulan.
Islamic Financial Service Board (IFSB) mendefinisikan risiko likuiditas adalah sebagai potensi kerugian yang dapat dialami oleh bank Islam karena ketidakmampuannya memenuhi liabilitasnya yang telah jatuh tempo atau ketidakmampuan bank Islam dalam mendanai peningkatan asetnya dengan biaya yang relatif murah dan tanpa adanya kerugian yang berarti yang diderita. Sementara itu, BI melalui PBI Nomor 13/23/PBI/2011 mendefinisikan risiko likuiditas seabagai risiko akibat ketidakmampuan bank memenuhi liabilitasnya yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/ atau aset likuid berkualitas tinggi yang dapat digunakan, tanpa mengganggu aktivitas dan keuangan bank.7
Dari kedua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa likuiditas bagi institusi perbankan lebih kompleks dibandingkan lembaga keuangan
7Imam wahyudi, et al, Manajemen Risiko Bank Islam, (Jakarta: Salemba Empat,2013),
lainnya. Likuiditas bagi bank mencakup dua hal, yakni kemampuan bank Islam untuk segera memenuhi liabilitas yang jatuh tempo dan kemampuan bank Islam untuk mendapatkan dana baru dengan biaya relatif murah. Liabilitas bank yang jatuh tempo adalah jumlah dana simpanan (giro, tabungan, deposito) yang akan ditarik kembali oleh nasabah. Sementara dana baru yang dimaksud adalah akses atau sumber pendanaan yang dapat diperoleh oleh bank Islam ketika bank Islam membutuhkan dana cepat, untuk mendanai aset atau untuk memenuhi liabilitas jangka pendek yang jatuh tempo.
7. Faktor Pendorong Terjadinya Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas perbankan merupakan akibat dari interaksi antara aset dan liabilitas yang bank Islam miliki. Sehingga permasalahan likuiditas pada bank Islam dapat terjadi jika beberapa kejadian berikut muncul :
a. Pada saat terjadi penarikan dana simpanan berjumlah besar, bank Islam tidak memiliki cukup dana dan sumber pendaaan cepat yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas tersebut.
b. Ketika bank Islam telah memiliki komitmen pembiayaan dalam jumlah besar yang belum terealisasi dengan debitur dan pada saat realisasi bank Islam tidak memiliki dana yang cukup.
c. Terjadi penarikan simpanan yang cukup dan bank Islam tidak memiliki aset yang dapat segera dicairkan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas nasabah.
d. Terjadi penurunan besar-besaran terhadap nilai aset yang bank miliki yang memicu ketidakpercayaan nasabah sehingga menarik dana simpanannya dari bank.
8. Manajemen Risiko Likuiditas
Manajmen risiko adalah serangkaian prosedur dan teknologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank.8
Besar kecilnya risiko likuiditas ditentukan antara lain :9
a. Kecermatan dalam perencanaan arus kas atau arus dana berdasarkan prediksi pembiayaan dan pertumbuhan dana termasuk mencermati tingkat fluktuasi dana.
b. Ketepatan dalam mengatur struktur dana termasuk kecukupan dana-dana non Profit Loss Sharing (PLS)
c. Kemampuan menciptakan akses ke pasar antar bank atau sumber dana lainnya. Apabila kesenjangan tersebut cukup besar maka akan menurunkan kemampuan bank untuk memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo.
Dalam mengantisipasi terjadinya risiko likuiditas, aktivitas manajemen risiko yang umumnya ditetapkan oleh bank antar lain :10 a. Melaksanakan monitoring secara harian atas besarnya penarikan dana
yang dilakukan oleh nasabah baik berupa penarikan melalui kliring maupun penarikan tunai.
8
Muhamad., loc.cit.,
9Ibid. 10Ibid., h. 165
b. Melaksanakan monitoring secara harian atas semua dana masuk baik melalui incoming transfer maupun setoran tunai nasabah.
c. Membuat analisis penarikan dana bersih terbesar yang pernah terjadi dan membandingkannya dengan penarikan dana bersih rata-rata saat ini. Dari analisis tersebut dapat diketahui tingkat ketahanan likuiditas bank.
d. Selanjutnya bank menetapkan secondary reserve untuk menjaga posisi likuiditas bank,antara lain menempatkan kelebihan dana dalam instrumen keuangan yang likuid.
e. Menetapkan kebijakan cash holding limit pada kantor-kantor cabang bank.
f. Melaksanakan fungsi ALCO (Asset-Liability Committee) untuk mengukur tingkat return dan likuiditas bank.
g. Mengatur struktur portofolio dana.
h. Mengadakan perjanjian credit line dengan lembaga keuangan lain.
B. Pengendalian Likuiditas
1. Pengertian Pengendalian Likuiditas
Pengendalian likuiditas bagi suatu bank mengacu pada kemampuan bank menyediakan dana dalam jumlah cukup, tepat waktu untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya terutama memenuhi ketentuan Bank Sentral atau pemerintah, terbinanya hubungan baik dengan bank koresponden gaar saldo seimbang, memnuhikebutuhan penarikan dana
oleh penabung, pemilik rekening giro maupun debitur dan membayar kewajiban jangka panjang yang telah jatuh tempo.11
Bank merupakan perusahaan karenanya persoalan likuiditas bagi bank adalah persoalan yang sangat penting dan berkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat, nasabah dan pemerintah. Bank harus selalu mengamati dan mengikuti dan terjun dalam usaha-usaha langsung agar posisi likuiditas ini terjaga setiap hari. Manajemen likuiditas bank diartikan sebagai suatu program pengendalian dari alat-alat likuid yang mudah ditunaikan yang berguna untuk memenuhi semua kewajiban bank yang segera harus dibayar. Manajemen likuiditas mengelola bagaimana bank dapat memenuhi baik kewajiban yang sekarang maupun kewajiban yang akan datang bila terjadi penarikan atau pelunasan asset liability yang sesuai perjanjian ataupun yang belum diperjanjikan (tidak terduga).
Pengendalian likuiditas bank dilakukan setiap hari berupa penjagaan agar semua alat-alat likuid yang dapat dikuasai oleh bank (uang tunai kas dan saldo giro) dapat dipergunakan untuk memenuhi munculnya tagihan dari nasabah atau masyarakat yang datang setiap saat atau sewaktu-waktu. Kewajiban bank yang muncul sewaktu-waktu itu adalah dana simpanan pemegang giro, pinjaman dari bank lain yang jatuh tempo atau kridit likuiditas yang jatuh tempo.
Dengan bentuk dan komposisi laporan posisi keuangan ideal seharusnya bank Islam lebih mudah dalam mengelola aset dan liabilitasnya
11Robert Tampubolon, Risk Manageme, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2004 ), Cet.
sehingga permasalahan mismatch antara aset dan liabilitas seharusnya tidak sebesar yang terjadi pada bank konvensional. Tabungan dan deposito mudhrabah dapat digunakan untuk mendanai aset pembiayaan berbasis utang (murabahah, salaam, istishna’, dan ijarah) sementara aset investasi berbasis akad penyertaan (mudhrabah atau musyarakah) dibiayai dengan akun investasi terikat yang juga menggunakan akad mudhrabah dan musyarakah.12
Dan untuk mengantisipasi penarikan nasabah yang memiliki giro, bank Islam dapat menggunakan kas dan setara kas dan aset pembiayaan yang jangka waktunya relative lebih pendek. Jika mekanisme dijalankan, maka bank Islam tidak saja dapat meminimalisasi mistmatch antara aset dan liabilitas, namun juga dapat memaksimalkan profil risk-return untuk setiap produknya. Portofolio aset tidak dipusatkan pada aset pembiyaan berbasis penyertaan sehingga return yang akan didapatkan pun menjadi optimal. Di sisi lain, risiko aset investasi berbasis penyertaan dapat ditekan seminimal mungkin karena didanai oleh akun investasi terikat yang juga berbasis penyertaan yang sudah berkomitmen untuk tidak menarik dananya sebelum jatuh tempo.13
Risiko pembiayaan dengan akad jual beli memang lebih rendah dibandingkan dengan pembiayaan berbasis penyertaan. Skema akad jual beli yang berimplikasi pada terjadinya akad pinjaman antara bank Islam dengan debitur memang sangat mirip dengan skema pinjaman bank
12Imam wahyudi, op.cit.,214 13Ibid., h. 215
konvensional. Sehingga, bank Islam merasa bahwa skema akad tersebut dinilai lebih kompetitif dan lebih mudah dipahami oleh para debitur dibandingkan skema akad lainnya. Selain itu, terdapat beberapa penyebab mengapa bank Islam memusatkan penyaluran DPK-nya pada pembiayaan akad jual beli.14
Pertama, tingginya risiko pada pembiayaan berbasis akad investasi atau penyertaan. Akad mudharabah dan musyarakah biasanya memiliki jangka waktu yang panjang dan memiliki ketidakpastian (tingkat imbal hasil dan pengembalian pokok pembiayaan) yang tinggi. Sementara pada akad jual beli seperti murabahah, jangka waktu yang diberikan relatif pendek dan besarnya imbal bagi hasil yang diterima bank sudah pasti karena besarnya margin (persentase terhadap pokok pembiayaan) telah tetap dan tak akan berubah. Kedua, akad mudharabah dan musyarakah membutuhkan adanya pengawasan yang cukup ketat dari bank Islam agar mudharib dan syarik menjalankan amanahnya sebagai pengelola usaha dengan baik sehingga menyebabkan biaya monitoring yang harus ditanggung bank Islam menjadi lebih besar.Ketiga, transparansi pada sektor perbankan masih sangat rendah, bahkan pada industri perbankan konvensional sekalipun. Nasabah yang menyimpan dananya di perbankan tidak pernah mengetahui berapa sebenarnya tingkat imbal hasil yang bank peroleh dari hasil penyaluran DPK kepada sektor riil. Terakhir, permasalahan transparansi tersebut menyebabkan sikap bank Islam
maupun nasabahnya (deposan) terhadap risiko (risk appetite) cenderung risk averse (menghindari risiko) sehingga alokasi penyaluran DPK hanya dipusatkan pada skema akad yang berisiko lebih rendah walaupun banyak kesempatan sektor riil yang menawarkan bagi hasil lebih besar jika akad berbasis penyertaan digunakan. Dengan demkian, pada praktiknya, komposisi aset dan liabilitas pada laporan posisi keuangan bank Islam menjadi tidak banyak berbeda dengan laporan posisi keuangan bank konvensional.15
2. Strategi pengendalian likuiditas
Di dalam memelihara likuiditas maka faktor ekstern harus diperhatikan dan diantisipasi. Harus disadari bahwa perbankan syariah adalah industri yang masih dalam tahap permulaan sehingga belum mampu menjadi pemimpin dalam industri perbankan khususnya Indonesia. Berdasarkan kenyataan tersebut maka di dalam isu likuiditas ini, di samping bersaing dengan sesama bank syariah, persaingan juga terjadi dengan bank konvensional yang sudah mapan. Untuk mengantisipasi dan mengatasi masalah likuiditas dikaitkan dengan upaya pengembangan bank syariah, tuntutan deposan, profesionalitas, tingkat profitabilitas dan kepatuhan terhadap sistem syari’ah, bank syariah harus melakukan hal-hal berikut ini:16
a. Menggiatkan pendidikan dan sosialisasi bank Islam khususnya menjelaskan tentang aspek-aspek ekonomi dan sistem nilai keislaman
15Ibid., h. 216-217
kepada masyarakat. Diharapkan dengan cara ini akan memberikan dampak positif berikut :
1) Deposan/investor baru akan datang mendepositkan dananya ke bank Islam.
2) Peningkatan dana baru yang masuk akan meningkatkan kemampuan ekspansi bisnis bank Islam dan suatu saat diharapkan mampu mewarnai industri perbankan.
3) Deposan tidak terpengaruh dengan return tinggi yang tidak halal yang ditawarkan oleh lembaga keuangan konvensional.
b. Terus memperbaiki dan meningkatkan kinerja bank syariah. Menawarkan return tinggi dan kompetitif adalah salah satu cara memelihara loyalitas segmen deposan rasional juga untuk menarik deposan baru.
c. Memperkuat koordinasi, komunikasi dan pengertian dengan deposan/investor dan partnet bisnis. Terkait dengan pendekatan syariah terhadap risiko likuiditas, proses mobilisasi dana dan proses penyaluran dana menyangkut tiga komponen penting, yaitu:
1) Tingkah laku masyarakat karena operasional bank syariah didasarkan pada amanah dan berbagi risiko dengan partner bisnis. 2) Harmonisasi asset dan liability.
3) Pengukuran dan monitoring dana.
d. Mengidentifikasi berapa banyak deposan rational yang dimiliki bank. Salah satu cara untuk mengidentifikasi rational deposan adalah dengan
mengamati berapa banyak dari mereka yang menarik dananya dan memindahkan ke bank konvensional ketika tingkat suku bunga dari bank konvensional lebih tinggi dari return yang dihasilkan oleh Bank Islam.
e. Membentuk satuan tugas atau tim khusus untuk memonitor, mengevaluasi dan mendeteksi kemungkinan terjadinya kesulitan likuiditas yang akan menimpa bank. Hal pertama yang harus dilakukan adalah meneliti aliran dana untuk mengantisipasi mismatch asset – likuiditas, menetapkan kebijakan internal mengenai ukuran default dari partner bisnis, mendesain strategi menghadapi masalah likuiditas sekaligus struktur birokrasi pengambilan keputusan di dalam memenuhi kebutuhan likuiditas yang mendesak.
f. Menyiapkan kas dan cadangan likuiditas untuk kondisi tertentu. Bank membutuhkan likuiditas untuk transaksi reguler maupun irreguler. g. Mendisain portofolio bank termasuk instrumen yang likuid. Likuid
instrument tersebut siap setiap saat untuk dicairkan kapanpun dibutuhkan. Alternatif lain adalah dengan mencari likuiditas dari pasar uang syariah atau di dalam keadaan yang sangat mendesak bank dapat memohon bantuan likuiditas dari bank sentral.
Bank syariah belum menjadi pemain utama di industri perbankan Indonesia oleh karena itu didalam menjalankan operasionalnya harus mencermati dinamika yang terjadi pada perbankan konvensional. Walaupun penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam, namun sikap di
dalam mengambil keputusan memilih lembaga untuk menabung/ berinvestasi lebih berorientasi pada return yang ditawarkan oleh lembaga keuangan. Kondisi perekonomian, dinamika perbankan konvensional dan keberpihakan masyarakat Islam terhadap bank syariah sangat mempengaruhi strategi pengelolaan likuiditas bank syariah.
Manajemen likuiditas di bank syariah atau Unit Usaha Syariah merupakan bagian dari aset dan liability management yang secara umum bertujuan untuk menjaga likuiditas suatu bank syariah atau Unit Usaha Syariah agar kegiatan operasional tetap berjalan dan kepercayaan masyarakat terjaga. Sumber kebutuhan likuiditas berasal dari kewajiban reserve yang ditetapkan oleh bank sentral, jenis dana yang dihimpun bank dan komitmen bank dalam pembiayaan atau investasi. Alat untuk memenuhi likuiditas adalah:
a. Primary reserve yang terdiri dari likuid (kas, giro pada bank sentral atau bank koresponden).
b. Secondary reserve yang terdiri dari instrument keuangan syariah. c. Asset sale (sekuritisasi aset)
Jika terjadi kekurangan likuiditas, maka bank syariah atau Unit Usaha Syariah perlu mengupayakan dana-dana dari Pasar Uang Antar Bank Syariah (PUAS) dan jika tidak mencukupi bank dapat mengajukan permohonan Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek Syariah (FPJPS) kepada bank Indonesia. Ruang lingkup dalam pengelolaan likuiditas adalah mengoptimalisasi penggunaan dana agar tidak terjadi idle fund
yang besar dan tidak terjebak dalam kesulitan likuiditas. Untuk itu estimasi kebutuhan dana likuiditas yang diperoleh melalui proyeksi arus kas menjadi sangat penting. Instrumen di Pasar Uang Antar Bank Syariah masih kurang.
3. Tujuan Pengendalian Likuiditas
Adapun tujuan pengendalian likuiditas adalah:17
a. Mencapai cadangan yang dibutuhkan yang telah ditetapkan oleh bank sentral karena kalau tidak dipenuhi akan terkena pinalti dari bank sentral.
b. Memperkecil dana yang menganggur karena kalau banyak dana yang menganggur akan mengurangi profitabilitas bank.
c. Mencapai likuiditas yang aman untuk menjaga proyeksi cashflow dalam kondisi yang sangat mendesak misalnya penarikan dana oleh nasabah, pengambilan pinjaman.
Dengan demikian ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengelola likuiditas, yaitu:
a. Posisi likuiditas harian/mingguan harus dapat dijaga sesuai dengan ketentuan bank sentral.
b. Memelihara alat likuiditas secukupnya agar bank selalu dapat melindungi kebutuhan kas keluar yang tidak terduga sebelumnya.
17 Bambang Djinarto, Banking asset liability management, (Jakarta: Gramedia Pustaka
c. Mengoperasikan kelebihan likuiditas secara efektif agar bank selalu dapat melindungi kebutuhan kas keluar yang tidak terduga sebelumnya.
Menentukan besarnya reserve yang diperlukan dalam primary reserve dan secondary reserve.
C. Pengendalian Likuiditas Pada Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah
Risiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa tertentu. Manajemen Risiko adalah serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan Risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha Bank. Risiko Likuiditas adalah Risiko akibat ketidakmampuan Bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat digunakan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Bank.
Kegiatan usaha bank senantiasa dihadapkan pada risiko-risiko yang berkaitan erat dengan fungsinya sebagai lembaga intermediasi keuangan. Perkembangan lingkungan eksternal dan internal perbankan syariah yang semakin pesat mengakibatkan risiko kegiatan usaha perbankan syariah semakin kompleks. Bank dituntut untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan melalui penerapan manajemen risiko yang sesuai dengan Prinsip Syariah. Prinsip-prinsip manajemen risiko yang diterapkan pada perbankan syariah di Indonesia diarahkan sejalan dengan aturan baku yang dikeluarkan oleh Islamic Financial Services Board (IFSB).
Penerapan manajemen risiko pada perbankan syariah disesuaikan dengan ukuran dan kompleksitas usaha serta kemampuan bank. OJK menetapkan aturan manajemen risiko ini sebagai standar minimal yang harus dipenuhi oleh BUS dan UUS sehingga perbankan syariah dapat mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi namun tetap dilakukan secara sehat, istiqomah, dan sesuai dengan Prinsip Syariah.
Manajemen Likuiditas bank adalah mengendalikan bagaimana bank dapat memenuhi baik kewajiban yang sekarang maupun kewajiban yang akan datang bila terjadi penarikan atau pelunasan asset liability yang sesuai perjanjian ataupun yang belum diperjanjikan (tidak terduga). Pengendalian likuiditas bank juga merupakan bagian dari pengendalian liabilitas (liability management). Melalui pengendalian likuiditas yang baik, bank dapat memberikan keyakinan pada para penyimpan dana bahwa mereka dapat mengambil dananya sewaktu-waktu atau pada saat jatuh tempo. Oleh karena itu, bank harus mempertahankan sejumlah alat likuid guna memastikan bahwa bank sewaktu-waktu dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Suatu bank syari’ah dikatakan likuid apabila:
1. Dapat memelihara GWM di Bank Indonesia sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2. Dapat memelihara Giro di Bank Koresponden. Giro di Bank Koresponden adalah rekening yang dipelihara di Bank Koresponden yang besarnya ditetapkan berdasarkan Saldo Minimum.
3. Dapat memelihara sejumlah kas secukupnya untuk memenuhi pengambilan uang tunai.
Dalam pengendalian dana, bank akan mengalami salah satu dari tiga hal di bawah ini:
1. Posisi seimbang (squere) dimana persedian dana sama dengan kebutuhan dana yang tersedia.
2. Posisi lebih (long) dimana persediaan dana lebih dari kebutuhan dana yang tersedia.
3. Posisi kurang (short) dimana persediaan dana kurang dari kebutuhan dana. Dalam kegiatan operasional, bank dapat mengalami kelebihan atau kekurangan likuiditas. Apabila terjadi kelebihan maka hal itu dianggap sebagai keuntungan bank. Sedangkan jika terjadi kekurangan likuiditas, maka bank memerlukan sarana untuk menutupi kekurangan tersebut.
Dalam perbankan pengukuran tingkat likuiditas dapat dilakukan menggunakan beberapa rasio, salah satunya dengan menggunakan Loan to Deposit Ratio (LDR) dengan rumus sebagai berikut :18
LDR= (Total Pembiayaan : Total Simpanan) X 100%
Loan to Deposit Ratio (LDR), rasio ini adalah yang mengukur perbandingan jumlah pembiayaan yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank,yang menggambarkan kemampuan bank dalammembayar kembali penarikan dana oleh deposan dengan mengandalkan pembiayaan yang diberikan sebagai sumber likuditasnya. Oleh karena itu, semakin tinggi
18 Muhammad dan Dwi Suwiknyo, Akuntansi Perbankan Syariah, (Yogyakarta: Trust
rasionya memberikan indikasi rendahnya kemampuan likuditas bank tersebut, hal ini sebagai akibat jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit menjadi semakin besar.19
Cara menghitung nilai pembiayaan : Untuk Rasio LDR sebesar 110% atau lebih maka nilai pembiayaan = 0, dan untuk Rasio LDR di bawah 110% nilai pembiayaan = 100.
Kesimpulannya, BI menetapkan rasio LDR sebesar 100% atau bila melebihi nilai pembiayaan 0 yang artinya likuiditas bank tersebut dinilai tidak sehat, dan untuk Rasio LDR dibawah 110% diberi nilai pembiayaan 100 yang artinya likuiditas bank tersebut dinilai sehat20
Menurut Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No 30/21/KEP/DIR Tanggal 30 April 1997, Tentang Tata Cara Kesehatan Bank, menjelaskan hasil penilaian Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah sebagai berikut :
1. Sehat = kecil sama dengan 94,7%
2. Cukup Sehat = kecil dari 94,7% sampai dengan kecil sama dengan 98,50% 3. Kurang Sehat = kecil dari 98,50% sampai kecil sama dengan 102,25% 4. Tidak Sehat = Besar dari 102,25%.
Pengendalian likuiditas dilakukan tidak saja untuk mengukur posisi likuiditas pada bank sedang berjalan, tetapi juga dipergunakan untuk memeriksa kebutuhan dana pada berbagai skenario jika terjadi kondisi yang berbeda. Pemberian pinjaman kepada nasabah, dalam hal jangka waktu pinjaman, juga tidak mutlak dalam kendali bank. Pinjaman juga dapat
19
Sugihartono dan Muliaman D. Hadad, BANK and Financial Institution Management
Conventional and Syar’i System, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 724 20Ibid.
menentukan apakah akan meminjam untuk jangka pendek atau panjang. Pinjaman mempunyai strategi sendiri untuk mengelola dananya. Sebagian besar dana pada bank diperoleh dengan membuat perjanjian dengan para nasabah, yakni dana tersebut dapat segera ditarik saat dibutuhkan oleh nasabah giro, tabungan, atau saat jatuh tempo deposito. Dengan demikian hubungan antara dana yang dihimpun dan dalam bentuk apa dana tersebut akan diinvestasikan sebaiknya saling terkait. Secara garis besar manajemen likuiditas terdiri dari dua bagian, yaitu; pertama, memperkirakan kebutuhan dana, yang berasal dari penghimpunan dana (deposit inflow) dan untuk penyaluran dana (fund out flow) dan berbagai komitmen pembiayaan (finance commitments).
Manajemen likuiditas di bank syariah atau Unit Usaha Syariah merupakan bagian dari asset dan liability management yang secara umum bertujuan untuk menjaga likuiditas suatu Bank Syariah atau unit Usaha Syariah agar kegiatan operasional tetap berjalan dan kepercayaan masyarakat terjaga.
Ruang lingkup dalam pengendalian likuiditas adalah mengoptimalisasi penggunaan dana agar tidak terjadi idle fund yang besar dan tidak terjebak dalam kesulitan likuiditas. Untuk itu estimasi kebutuhan dana likuiditas yang diperoleh melalui proyeksi arus kas menjadi sangat penting.
D. SOP Likuiditas BMT At-Taqwa Muhammadiyah Cabang Lubuk Buaya
1. Ratio likuiditas adalah suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan membayar segala kewajiban financial jangkla pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang masih tersedia atau kata lainnya dapat menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi utang (kewajiban) jangka pendek.
2. Likuiditas dihitung dengan menggunakan neraca tanggal transaksi setiap harinya. Rumus yang digunakan adalah Aktiva ( Kas + Simpanan Bank lain + Giro BRI Syariah) dibagi dengan Pasiva ( Dana Investasi) dan dikalikan dengan 100%.
3. Likuiditas dihitung setiap harinya, supaya diketahui besarnya likuiditas hari yang bersangkutan, sehingga pengembalian keputusan pencairan pembiayaan dapat dilaksanakan.
4. Likuiditas wajib dikontrol supaya tidak terjadi hal-hal yang berakibat pada ketidak sanggupan bayar pihak BMT ke nasabah.
5. Penilaian terhadaplikuiditas dilakukan sebagai berukut : 4. 10% s/d 19% Likuiditas berada pada kondisi minimal 5. 20% s/d 25% Likuiditas berada pada kondisi normal
6. Jika likuiditas masih berada dalam kondisi minimal, untuk sementara realisasi pembiyaan dihentikan dulu sampai likuiditas sudah kembali normal. Tapi karena ada hal yang mendesak terjadi ( nasabah lancar butuh pembiayaan yang sifatnya penting) maka dengan keputusan yang diambil oleh kepala cabang pembiayaan dapat direalisasikan.
7. Jika likuiditas normal, setiap permohonan pembiayaan yang sudah disetujui oleh pihak yang berwenang dapat dicairkan atau direalisasikan dengan tetap menjaga likuiditas berada pada kondisi normal.