ISBN: 978-602-7998-43-8
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL
AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN
EKONOMI PERDESAAN I
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
AGRIBISNIS DAN PENGEMBANGAN EKONOMI PERDESAAN I
Penanggung Jawab:
Ketua Program Studi Agribisnis Universitas Trunojoyo Madura
Editor:
Andrie Kisroh Sunyigono Ellys Fauziyah
Mardiyah Hayati
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA 2014
Katalog dalam Terbitan
Proceeding: Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan I
Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura, UTM Press 2014
viii + 396 hlm.; 17x24 cm
ISBN 978-602-7998-43-8
Editor: : Andrie Kisroh Sunyigono Ellys Fauziyah
Mardiyah Hayati
Layouter : Taufik R D A Nugroho
Cover design : Didik Purwanto
Penerbit : UTM Press
* Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO Box. 2 Kamal Bangkalan
Telp : 031-3013234 Fax : 031-3011506
KATA PENGANTAR KETUA PANITIA
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh Bismillahirrohmanirrohim
Segala puji kami panjatkan ke hadapan Illahi atas terselenggaranya Seminar Nasional “Agribisnis dan Pengembangan Ekonomi Perdesaan I” Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Trunojoyo Madura pada tanggal 21 Mei 2014. Seminar ini merupakan seminar yang diselenggarakan secara mandiri oleh Program Studi Agribisnis untuk pertama kalinya dan direncanakan dilakukan secara rutin tiap tahun. Tujuan diselenggarakannya seminar ini adalah untuk: 1) Memberikan rekomendasi kebijakan, langkah dan strategi dalam upaya pengembangan sektor agribisnis yang terkait erat dengan wilayah perdesaan, 2) Memberikan wadah untuk berbagi pengalaman dan tukar menukar ide bagi semua stakeholder terkait baik akademisi, pelaku bisnis dan pemerintah, 3) Menumbuhkan komitmen bersama dalam pengembangan sektor agribisnis yang bertitik tumpu pada wilayah perdesaan dalam upaya mencapai visi pembangunan pertanian. Selanjutnya, pada akhir seminar diharapkan tergalang sinergi untuk meningkatkan mutu dan dayaguna penelitian dan dapat menjadi masukan bagi berbagai pihak yang berwenang dalam pengambilan kebijakan.
Makalah kunci disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, MS selaku Guru Besar Universitas Brawijaya Malang, dan makalah utama oleh Dr.Ir. Agus Wahyudi, SE; MM (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu/BPWS), Andrie Kisroh Sunyigono, PhD selaku Pakar Ekonomi Pertanian Universitas Trunojoyo Madura dan. Dr. Sitti Aida Adha Taridala, SP, M.Si sebagai pemakalah terbaik dari Universitas Halu Uleo. Disamping itu terdapat makalah penunjang bersumber dari berbagai instansi/lembaga penelitian seperti BPTP antara lain dari Bogor dan Jawa Timur, Loka Penelitian Sapi Potong Pasuruan, serta Perguruan Tinggi dari berbagai wilayah seperti Jakarta, Gorontalo, Bandung, Tegal, Surabaya, Malang dan Madura. Topik-topik yang disajikan sangat bervariasi, secara garis besar terhimpun ke dalam 4 bidang yakni agribisnis, sosiologi, nilai tambah dan sosial ekonomi.
Terima kasih kepada semua pihak yang memberikan kontribusi utamanya PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).
Akhirnya selamat mengkaji makalah-makalah di prosiding ini. Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatu
Bangkalan, Juni 2014. Ketua Panitia,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR KETUA PANITIA ... iv DAFTAR ISI ... v
AGRIBISNIS
MANAJEMEN AGRIBISNIS DAN PERMASALAHANNYA ... 3 P. Julius F. Nagel
TANGGAPAN KONSUMEN TERHADAP ECO-LABEL PADA PRODUK PERTANIAN ... 14
Joko Mariyono
PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP STRATEGI BERSAING DAN KINERJA PERUSAHAAN ... 21
Hary Sastrya Wanto, Ruswiati Suryasaputra
PERANAN BAITUL MAAL WATTAMWIL UNTUK PENINGKATAN SEKTOR PERTANIAN ... 32
Renny Oktafia
PENINGKATAN MUTU BUAH APEL SEPANJANG RANTAI PASOK DARI PASCAPANEN SAMPAI DISPLAY SUPER MARKET ... 41
I Nyoman Sutapa, Jani Rahardjo, I Gede Agus Widyadana, Elbert Widjaja ANALISIS PENGEMBANGAN DESA WISATA BERBASIS POTENSI LOKAL KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG ... 57
Selamet Joko Utomo
RISIKO USAHA PETERNAKAN AYAM PETELUR UTAMA KECAMATAN GALIS KABUPATEN PAMEKASAN ... 68
Lilis Suryani, Aminah H.M Ariyani
KELAYAKAN EKONOMI USAHA GARAM RAKYAT DENGAN TEKNOLOGI MADURESSE BERISOLATOR ... 83
Makhfud Efendy, Ahmad Heryanto
STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI PLINTIR PISANG DI KECAMATAN ARJASA KEPULAUAN KANGEAN ... 107
Mu’awana, Taufik Rizal Dwi Adi Nugroho
SOSIOLOGI
RELASI AKTOR DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PRODUK TERRA (TERONG RAKYAT) ... 121
PERLUNYA KECUKUPAN BAHAN PANGAN DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN MASYARAKAT SECARA NASIONAL ... 133
Isbandi dan S.Rusdiana
RELASI SEGI TIGA SISTEM KREDIT DALAM MASYARAKAT PERDESAAN STUDI KASUS DI DESA MAJENANG, KECAMATAN KEDUNGPRING, KABUPATEN LAMONGAN, JAWA TIMUR ... 146
Indah Rusianti, Faridatus Sholihah, Arini Nila Sari
DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI PEMBANGUNAN AGROPOLITAN DI DESA NGRINGINREJO, KECAMATAN KALITIDU, KABUPATEN BOJONEGORO ... 159
Alifatul Khoiriyah, Santi Yuli Hartika, Yunny Noevita Sari, dan Ali Imron PEMANFAATAN PERAN MODAL SOSIAL PADA PEKERJA SEKTOR INFORMAL PEREMPUAN (Studi Pada Pedagang Kaki Lima Perempuan Di Kota Malang) ... 168
Ike Kusdyah Rachmawati
PROGRAM AKSI MEDIA KOMUNITAS PEDESAAN BAGI WARGA KEPULAUAN TIMUR MADURA SEBAGAI SARANA PENINGKATAN AKSES, KETERBUKAAN INFORMASI, DAN PEMBERDAYAAN PUBLIK ... 181
Surokim, Teguh Hidayatul Rachmad
MODEL PENGEMBANGAN KOMPETENSI PENYULUH PERTANIAN DI PROVINSI GORONTALO ... 194
Mohamad Ikbal Bahua
NILAI TAMBAH
PENERAPAN QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) UNTUK PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN WORTEL ... 213
Yurida Ekawati, Surya Wirawan Widiyanto
PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI BERBASIS JAGUNG DI KABUPATEN BANGKALAN ... 224
Weda Setyo Wibowo, Banun Diyah Probowati, Umi Purwandari
STRATEGI PENGUATAN POSISI TAWAR PETANI KENTANG MELALUI PENGUATAN KELEMBAGAAN ... 234
Ana Arifatus Sa’diyah dan Dyanasari
INOVASI TEKNOLOGI SAPI POTONG BERBASIS MANAJEMEN BUDIDAYA DAN REPRODUKSI MENUJU USAHATANI KOMERSIAL ... 250
POTENSI SAMPAH ORGANIK SEBAGAI PELUANG BISNIS PUPUK ORGANIK DAN PAKAN TERNAK ... 258
Jajuk Herawati, Yhogga Pratama Dhinata, Indarwati
UJI KELAYAKAN PENGOLAHAN SERBUK INSTAN BEBERAPA VARIETAS JAHE DALAM UPAYA MENINGKATKAN NILAI EKONOMI ... 270
Indarwati, Jajuk Herawati, Tatuk Tojibatus, Koesriwulandari
POTENSI CACING TANAH SEBAGAI PELUANG BISNIS ... 280 Yhogga Pratama Dhinata, Jajuk Herawati, Indarwati
PEMBUATAN DAGING TIRUAN MURNI (MEAT ANALOG) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK ... 290
Sri Hastuti
STRATEGI PERCEPATAN PENGEMBANGAN USAHATANI TEBU DI MADURA301
Miellyza Kusuma Putri, Mokh Rum
STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI SALAK DI KABUPATEN BANGKALAN ... 312
Iffan Maflahah
SOSIAL EKONOMI
PEMANFAATAN SUMBERDAYA PEKARANGAN MELALUI PROGRAM KRPL DI PUHJARAK, KEDIRI ... 331
Kuntoro Boga Andri dan Putu Bagus Daroini
PERSEPSI PETANI TERHADAP NILAI LAHAN SEBAGAI DASAR PENETAPAN LAHAN PERTANIAN PADI SAWAH BERKELANJUTAN ... 343
Mustika Tripatmasari, Firman Farid Muhsoni, Eko Murniyanto
PARTISIPASI ANGGOTA KOPERASI SERBA USAHA (KSU) TUNAS MAJU DI KECAMATAN SAMIGALUH, KABUPATEN KULONPROGO ... 351
Eni Istiyanti, Lestari Rahayu,Supriyadi
VEGETABLE CONSUMPTION PATTERN IN EAST JAVA AND BALI ... 367 Evy Latifah, Hanik A. Dewi, Putu B. Daroini, Kuntoro B. Andri,Joko Mariyono
ANALISIS DINAMIKA PERDAGANGAN BERAS DAN GANDUM DI INDONESIA ... 381
Tutik Setyawati
KERAGAAN HASIL BEBERAPA VARIETAS UNGGUL BARU KEDELAI DAN TINGKAT KEUNTUNGAN USAHATANI DI LOKASI PENDAMPINGAN SL-PTT KABUPATEN SAMPANG ... 389
STRATEGI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI SALAK DI KABUPATEN BANGKALAN
Iffan Maflahah
Prodi Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Pertanian, UTM Korespondensi:[email protected]
ABSTRAK
Tujuan Penelitian adalah menentukan strategi pengembangan agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan. Wilayah penelitian adalah dilakukan dengan purposive sampling yaitu Kabupaten Bangkalan dengan mempertimbangkan wilayah tersebut adalah daerah yang potensial tanaman salak dan terdapat agroindustri salak. Metode penelitian dengan menggunakan teknik purposive sampling terhadap produsen, industri, penjual dan konsumen. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan metode SWOT. Faktor kekuatan terdiri Ketersediaan bahan baku, Lembaga pembina, Kebijakan pemerintah, Kualitas produk, Sarana dan prasarana produksi dan Kemampuan modal usaha, sedangkanfaktorkelemahan adalahKeterampilan pelaku agroindustri, Pelaksanaan pembinaan, Koordinasi antarlembaga terkait. Manajemen usaha, Informasi pasar, Kemasan produk dan Pemilihan komoditas yang dihasilkan. FaktorpeluangadalahPeluang ekspor dijual kedaerah lain, Potensi pasar, Otonomi daerah, Ketersediaan keredit, Kesempatan bermitra, Pertumbuhan ekonomi, Ketersediaan teknologi dan Tingkat keuntungan usaha, sedangkan ancamanyaituTingkat inflasi, Produk sejenis dari daerah lain, Keadaan politik dan keamanan, Tingkat suku bunga, Fluktuasi harga dan Standarisasi produk/selera konsumen. Strategi pengembangan agroindustrisalak di Kabupaten Bangkalan melalui strategi Penetrasi pasar dan pengembangan agroindustri salak. Untuk melaksanakan strategi ini dilakukan melalui program revitalisasi agroindustri salak.
Kata Kunci:Agroindustri Salak, SWOT.
DEVELOPMENT STRATEGY OF SALACA AGROINDUSTRY IN BANGKALAN
ABSTRACT
The purpose of this research was to determine development strategy salak agroindustry in Bangkalan. This research was done in Bangkalan. The method of sample taking was the purposive sampling. Bangkalan regency has suitable area for salaca and there are salaca agroindustries. The methods of research were SWOT and descriptive analyze. Weakness factor consist availability of raw material, builder institution, government policy, product quality, production facilities, and the ability of venture capital. Futhermore threat factors are skill, implementation guides and coordination between agencies and concerned, business management, market information, product packaging and Selection of commodities produced. Opportunity factors are export opportunities, potential market, regional otonomy, avaibility credit, partnering opportunities, economic growth, availability of technology and business profit rate. While threat factors are inflation rate, similar product from other area, the political and security situation, rate interest, price fluctuation and standardization of product/consumer tastes. Development strategies of salaca agroindustry are market penetration strategy and development of salaca agroindustry. This strategy can be implemented with revitalization program of salaca agroindustry.
PENDAHULUAN
Pemerintah Kabupaten Bangkalan merupakan salah satu daerah yangstruktur perekonomiannya didominasi sektor pertanian. Sebagai bukti, pada tahun2012 sektor pertanian di Bangkalan memberikan kontribusi sebesar 35,64 persen terhadap produksi bruto (BPS, Kab Bangkalan 2013). Pada tingkat nasional Bangkalan dikenal sebagai salah satu wilayahsentra produksi salak. Salak bisa dikatakan sebagai buah khas Bangkalan.
Terdapat beberapa manfaat yang dapat diraih sekaligus dalam pengembangan tanaman salak antara lain: (1) Terhadap lingkungan, salak tumbuh di bawah naungan dan berakar serabut yang dapat memegang tanah dan menahan terpaan air, maka tanah akan lebih tertutup terhadap terpaan hujan, sehingga secara tidak langsung dapat mencegah terjadinya erosi. (2) Terhadap tenaga kerja, usaha budidaya salak dapat menciptakan lapangan kerja baru, yaitu pembuatan keranjang atau peti sebagai wadah pengepakan buah salak. Selain itu akan semakin mendorong berkembangnya sektor perdagangan dan transportasi di daerah produsen salak. (3) Terhadap sumber daya alam, penanaman salak dapat meningkatkan manfaat sumber daya alam, karena penggunaan lahan yang lebih optimal dan efisien, dimana salak tidak memerlukan lahan khusus, tetapi dapat ditanam sebagai tanaman sela diantara tanaman tahunan lainnya. (4) Terhadap perekonomian, dengan adanya penanaman salak, sumber penghasilan petani akan bertambah sehingga daya beli petani akan semakin meningkat.
Hal-hal yang mendukung Kabupaten Bangkalan sebagai sentra produksi buah salak antara lain: (1) Memiliki karakteristik agroklimat yang sesuai dengan karakteristik agroklimat yang dibutuhkan tanaman salak, (2) Memiliki misi untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan agroindustri.
Untuk dapat berperan-dalam perekonomian, maka produk salak harus dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar. Salah satu upaya yang dilakukan melalui peningkatan industrialisasi produk (agroindustri) dalam bentuk pascapanen terhadap produk salak secara umum.
Upaya pengembangan agroindustri salak tidak dapat dilepaskan dari peran agroindustri itu sendiri yakni menciptakan nilai tambah terhadap hasil salak, menarik tenaga kerja pertanian ke sektor industri, dan mendukung upaya pembangunan pertanian. Pengembangan agroindustri di Kabupaten Bangkalan selama ini diperlihatkan dengan kondisi yang belum begitu berkembang, sehingga peluang letak Kabupaten Bangkalan yang strategis tersebut tidak dapat memberikan dampak yang dapat menumbuhkembangkan agroindustri salak itu sendiri.
Selama ini pengembangan agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan banyak diwarnai oleh pengaruh birokrasi, yaitu dalam bentuk program –programyang diterapkan pada masyarakat hanya bersifat proyek sehingga munculpermasalahan-permasalahan di dalam pembangunan salak. Atas dasar hal tersebut, maka diperlukan suatu strategi pengembangan agroindustri salak agar dapat mendukung upaya pembangunan pertanian khususnya buah- buahan.
METODE PENELITIAN Sasaran Penelitian dan Teknik Sampling
Sasaran penelitian adalah pengumpulan data skunder yang menyangkut informasi mengenai sumber-sumber bahan baku agroindustri, untuk dilakukan penilaian bobot keriteria berdasarkan pertimbangan para ahli. Penentuan responden ahli dilakukan dengan metode purposivesampling sebanyak 10 orang. Begitu juga untuk penentuan kekuatan pengendali analisis SWOT dilakukan hal yang sama.
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data skunder dilakukan dengan telaah pustaka dan data yang diperoleh dari instansi atau dinas terkait Dinas Pertanian Peternakan, Kabupaten Bangkalan, Dinas Kehutanan Perkebunan dan Badan Pusat Statistik, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, serta DinasPerindustrian Perdagangan dan Investasi Kabupaten Bangkalan.
Metode Pengolahan dan Analisis Data
a. Metode Teknik Skoring
Teknik skoring digunakan untuk penentuan strategi agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan. Tahapan kegiatan yang dilakukan dalam teknik skoring adalah sebagai berikut:
1) Mengumpulkan semua alternatif.
2) Ditentukan kriteria-kriteria penting dalam pengambilan keputusan. 3) Dilakukan penilaian terhadap semua kriteria.
4) Dilakukan penilaian terhadap semua alternatif masing-masing kriteria. 5) Dihitung nilai dari tiap alternatif.
6) Memberikan jenjang kepada alternatif berdasarkan pada nilai masing-masing, mulai dari urutan nilai alternatif terbesar sampai yang terkecil.
Adapun kriteria-kriteria yang digunakan meliputi: (1) Ketersediaan lahan, (2) Produktivitas lahan, (3) Keterampilan petani, (4) Teknologi; (5) Potensi pasar, (6) Aksesibilitas, (7) Aspek kelembagaan, (8) Kebijakan pemerintah, (9) Kondisi lingkungan/alam, (10) Aspirasi/motivasi petani, (11) Kemudahan/ketersediaan peralatan.
Berdasarkan 11 kriteria tersebut kepada responden diminta untuk memberikan skor dari 1 sampai 4 (1 = tidak mendukung, 2 = kurang mendukung, 3 = mendukung, 4 = sangat mendukung). Lebih lanjut, dalam penilaian ini semua responden diasumsikan memiliki kemampuan yang sama dalam hal pemberian skoring.
b. Evaluasi Faktor Ekternal (EFE)
Langkah kerja dalam penentuan faktor eksternal dan pembobotan yaitu: membuat daftar peluang dan ancaman kemudian memberikan bobot pada tiap peluang dan ancaman, (dari tidak penting > 0,0 sampai dengan penting = 1,0) sehingga total bobot adalah 1, selanjutnya berikan rating 1–4 pada setiap peluang dan ancaman (1 = dibawah rata-rata, 2 = rata-rata, 3 = diatas rata-rata, 4 = sangat diatas rata -rata). Tahap
selanjutnya kalikan bobot dengan rating sehingga menghasilkan weight score, jumlahkan weight score untuk mendapatkan total weight score (David, 2002).
c. Evaluasi Faktor Internal (EFI)
Menurut David (2002), langkah penutup dalam melaksanakan audit manajemen strategis internal adalah membuat matriks Evaluasi Faktor Internal (EFI) seperti pada Tabel 4. Alat perumusan strategi ini meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama dalam berbagai bidang fungsional dari suatu usaha dan matriks ini juga memberikan dasar untuk menggali dan mengevaluasi hubungan diantara bidang-bidang ini. Penilaian intuitif diperlukan dalam mengembangkan matriks EFI. Matriks EFI dapat dikembangkan dalam 5 langkah sebagai berikut:
1) Tuliskan faktor-faktor sukses kritis, gunakan 10 sampai 20 faktor internal terpenting, termasuk kekuatan maupun kelemahan.
2) Berikan bobot dengan kisaran dari 0,0 (tidak penting) sampai 1,0 (terpenting) pada setiap faktor.
3) Berikan peringkat satu sampai empat setiap faktor untuk menunjukan apakah faktor itu mewakili kelemahan utama (peringkat = 1), kelemahan kecil (peringkat = 2), kekuatan kecil (peringkat = 3) dan kekuatan utama (peringkat = 4).
4) Kalikan setiap bobot faktor dengan peringkat untuk menentukan nilai yang dibobot untuk setiap variabel.
5) Jumlahkan nilai yang dibobot untuk setiap variabel untuk menentukan total nilai yang dibobot.
Berdasarkan analisis matriks faktor internal dan eksternal maka akan dapat diketahui peluang dan ancaman yang harus direspon paling besar, serta kekuatan yang akan dioptimalkan dan kelemahan yang akan dieliminir. Penentuan bobot setiap variabel internal dan eksternal dapat dilakukan dengan selang pembobotan mulai dari nilai 0,0 (tidak penting) sampai 1,0 (sangat penting). Total bobot yang diberikan harus sama dengan 1.
d. Matriks Internal dan Ekternal (IE)
Matriks IE didasarkan pada dua dimensi kunci total nilai EFI yang diberi robot pada sumbu x dan total nilai EFE yang diberi robot pada sumbu y. Pada sumbu x total nilai EFI yang diberi bobot dari 1 sampai 1,99 menunjukkan posisi internal yang lemah, nilai dari 2 sampai 2,99 menunjukkan posisi internal yang sedang, nilai dari 3 sampai 4 menunjukkan posisi internal yang kuat. Pada sumbu y total nilai EFE yang diberi bobot dari 1 sampai 1,99 menunjukkan posisi ekternal yang rendah, nilai dari 2 sampai 2,99 menunjukkan posisi ekternal yang sedang, nilai dari 3 sampai 4 menunjukkan posisi ekternal yang tinggi.
Gambar 1. Matriks Internal dan Eksternal
e. Analisis SWOT (Strengh-Weaknes-Opportunities-Threats)
Kegiatan selanjutnya adalah analisis Strengh-Weaknes-Opportunities- Threats (SWOT). Dalam matriks SWOT alternatif formula strategi dilakukandengan melakukan perbandingan berpasangan. Perbandingan berpasanganadalah suatu teknik membandingkan suatu komponen dengan komponenlain dalam suatu kategori yang sama. Matriks SWOT membantu dalam melakukan perbandingan berpasangan, antara kekuatan, peluang, kelemahan dan ancaman.
Selanjutnya David (2006) mengatakan berdasarkan matriks SWOT seperti Tabel 1, dapat dikembangkan beberapa alternatif strategi sebagaiberikut:
1. Strategi ST (Strength – Threatss), yaitu dengan menggunakan kekuatanyang ada untuk menghindari dan mengatasi ancaman dalam rangkapengembangan agroindustri salak.
2. Strategi SO (Strength–Opportunities), yaitu dengan menggunakan kekuatan yang ada untuk memanfaatkan peluang yang ada dalam rangka pengembangan agroindustri salak.
3. Strategi WO (Weaknesses–Opportunities), yaitu dengan menggunakan peluang dimiliki untuk mengatasi kelemahan dalam rangka pengambangan agroindustri salak.
4. Strategi WT (Weaknesses–Threatss), yaitu suatu upaya meminimumkan kelemahan dan menghindari ancaman dalam rangka pengembangan agroindustri salak
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Faktor-faktor Strategis Dalam Pengembangan Agroindustri Salak
Faktor-faktor strategis merupakan beberapa elemen yang diidentifikasi untukmenentukan dan mempengaruhi keberhasilan pengembangan agroindutri salak di Kabupaten Bangkalan. Untuk mengetahui faktor-faktor strategi apa saja yangmempengaruhi dan menentukan keberhasilan pengembangan agroindustri perdesaandi Kabupaten Bangkalan, maka digunakan analisis SWOT.
Analisis SWOT dalam menganalis is faktor-faktor lingkungan agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan terbagi dua yaitu, analisis internal yang terdiri darikekuatan dan kelemahan, dan analis is eksternal yang terdiri dari peluang danancaman. Faktor internal dan eksternal sebenarnya cukup banyak dalampengembangan agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan, dalam pembahasanini hanya ditentukan beberapa faktor saja yang sangat berpengaruh terhadappengembangan agroindustri salak.
Penentuan faktor internal dan eksternal ditentukan melalui studipustaka dan wawancara dengan dinas/intansi atau pejabat terkait. Setelahdiperoleh faktor-faktor strategis internal/eksternal, melalui kuesioner dimintapendapat reponden apakah faktor strategis tersebut termasuk sebagai faktorkekuatan dan kelemahan atau merupakan faktor ancaman dan peluang. Disamping faktor-faktor tersebut diatas, responden diberi peluang untuk menambahkan faktorstrategis yang mereka anggap mempunyai pengaruh pada pengembanganagroindustri salak di Kabupaten Bangkalan.
2. Faktor Internal
Berdasarkan hasil studi perpustakaan, wawancara dengan para instansi terkait serta dari hasil kuesioner telah diperoleh beberapa faktor strategis internal agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan. Faktor - faktor strategis internal tersebut adalah sebagai berikut:
a. Faktor Kekuatan.
Faktor kekuatan merupakan bagian dari faktor strategis internal, faktor tersebut dianggap sebagai kekuatan yang sangat mempengaruhi pengembangan komoditas agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan berbasis salak untuk dimanfaatkan seoptimal 006Dungkin dalam upaya pencapaian tujuan yang diharapkan, yang terdiri dari:
o Ketersediaan Bahan Baku.
Ketersediaan bahan baku dimaksud adalah luas panen dan produksi, merupakan hal yang sangat penting dalam pengembangan agroindustri salak dan juga merupakan motivasi bagi petani agroindustri untuk komoditas bahan salak. Dalam pengembangan agroindustri salak terdapat peningkatan luas panen pada tahun 2008sampai tahun 2013.
o Lembaga Pembina
Tersedianya lembaga pembina seperti Dinas Pertanian dan Peternakan; Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Perindustrian Perdagangan dan Investasi, Koperasi serta dinas/instansi terkait lainnya merupakan modal utama dalam usaha pengembangan agroindustri salak. Keberadaan lembaga pembina diharapkan menjadi fasilitator bagi pelaku usaha baik dibidang manajemen kualitas produksi serta pemasaran hasil salak. o Kebijakan Pemerintah
Salah satu kebijakan pemerintah Kabupaten Bangkalan, pengembangan sektor ekonomi kerakyatan dalam mendukung misi Kabupaten Bangkalan yaitu meningkatkan pendayagunaan sumber daya alam meliputi pertanian dalam arti luas (pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan kelautan) yang berorientasi kemakmuran rakyat. Dilihat dari Visi, pemerintah Kabupaten Bangkalan telahmenempatkan agribisnis sebagai salah satu program strategispembangunan wilayahnya. Pada masa otonomi daerah dan telahbanyak program-program yang dilaksanakan dalam rangka untukmendukung agribisnis dan agroindustri tersebut antara lain saranadan prasarana jalan, jembatan dan bahkan pelabuhan yang bertarafinternasional.
o Kualitas Produk
Kualitas produk yang dihasilkan oleh pelaku agroindustri salak saat ini cukup baik hal ini terlihat dari konsumsi masyarakat kelas menengah saat ini cenderung menyukai produk olahan salak yang bebas kimia atau bahan pengawet, hal ini dapat terwujud setelah terlaksananya pembinaan.
o Sarana dan Prasarana Produksi
Dalam memperlancar kegiatan agroindustri salak, sarana dan prasarana sangat penting, karena untuk mendapatkan sarana produksi pelaku agroindustri salak dapat membelinya di pasar kecamatan atau kabupaten sedangkan toko yang menyediakan sarana produksi tersebut lebih satu toko yang menjual kebutuhan agroindustri berupa pembungkus produk. Akses ke daerah atau ke lokasi usaha mudah dijangkau begitu juga dengan pengangkutan hasil terutama perbaikan atau peningkatan kualitas jalan. o Kemampuan Modal Usaha
Modal usaha agroindustri disamping dimiliki oleh pelaku usaha itu sendiri juga dibantu oleh pemerintah daerah melalui program ekonomi kerakyatan untuk pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) bantuan diperoleh dari Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan menengah serta dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
b. Kelemahan
Faktor kelemahan merupakan bagian dari faktor internal, faktortersebut dapat dianggap sebagai penghambat atau kendala dalampengembangan agroindustri perdesaan di Kabupaten Bangkalan. Faktor kelemahan harus dikendalikan secara baik karena akan menjadi penghambat dalam upaya pencapaian tujuan, faktor-faktor tersebut adalah:
o Keterampilan Pelaku Agroindustri
Kualitas sumber daya manusia adalah segalanya, apapun majunya peralatan yang digunakan dan besarnya modal yang dipakai jika tidak dikelola oleh ahli maka daya tersebut akan tidak terkelola dengan baik dan benar. Kualitas yang dimaksud adalah keterampilan manajerial dan keterampilan teknis.
o Pelaksanaan Pembinaan
Sekalipun lembaga pembina agroindustri di Kabupaten Bangkalan seperti Dinas Perindutrian Perdagangan dan Investasi, Dinas Koperasi dan UKM, serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa telah melakukan pembinaan namun seringnya pembinaan yang dilakukan tidak berkelanjutan dan bergantung pada pola proyek. o Koordinasi Antar Lembaga Terkait
Pelaksanaan pengembangan komoditas agroindustri salak tidak mungkin hanya dilakukan oleh Dinas Perindutrian Perdagangan dan Investasi Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Koprasi dan UKM, dan tidak kalah pentingnya keterlibatan lembaga penelitian, perbankan, perguruan tinggi, pihak swasta serta lembaga swadaya masyarakat untuk berkoordinasi sesuai dengan kewenangan yang ada dalam merealisasikan tugas dan fungsinya dengan baik.
o Manajemen Usaha
Manajemen usaha pelaku agroindustri perdesaan selama ini belum begitu baik, baik dalam bidang teknis maupun pemasaran dan juga belum mengadakan analisis yang mendalam sebelum melakukan bidang usaha. Demikian juga masalah disiplin serta ketekunan dalam melaksanakan kegiatan hal ini mengakibatkan perolehan hasil kurang optimal.
o Informasi Pasar
Dengan perkembangan alat komunikasi sekarang ini serta didukung oleh sarana dan prasarana informasi pasar saat ini langsung dapat dimanfaatkan oleh pelaku agroindustri salak ke pasar terdekat, seperti pasar-pasar desa, kecamatan, kota kabupaten dan kota-kota besar merupakan tempat transaksi belum dapat dimanfaatkan secara baik.
o Kemasan Produk
Untuk mendapatkan tanggapan dari para konsumen secara baik, kemasan produk mejadikan hal utama yang harus diperhatikan, karena kemasan produk merupakan daya tarik bagi para konsumen. Kemasan produk agroindustri salak masih sederhana seperti menggunakan pelastik biasa tanpa adanya modifikasi yang menarik buat pelanggan.
o Pemilihan Komoditas yang Dihasilkan
Pemilihan komoditas adalah sangat penting karena hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas hasil, maka nilai barang akan lebih tinggi dan keinginan konsumen
akan terpenuhi. Perbedaan kualitas pemilihan bukan saja menyebabkan adanya perbedaan kualitas, tetap menyebabkan perbedaan segmentasi pasar juga mempengaruhi harga barang itu sendiri.
3. Faktor eksternal
Berdasarkan hasil wawancara dengan para responden baik yangmenggunakan daftar pertanyaan (kuisioner) maupun masukan langsung dari pararesponden diperoleh beberapa faktor eksternal yang mempengaruhipengembangan agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan. Faktor-faktoryang dimaksud antara lain:
a. Peluang
Faktor peluang merupakan bagian dari faktor eksternal, faktor ini dapat dianggap sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan agroindustri salak. o Peluang Ekspor Dijual ke Daerah Lain
Produk agroindustri perdesaan di Kabupaten Bangkalan selain dijual pada pasar lokal bahkan juga dijual ke daerah lain seperti Surabaya, Jakarta dan lainnya. Untuk masa-masa yang akan datang peluang agroindustri perdesaan yang berbasis salak masih mempunyai prospek yang cukup baik mengingat kondisi geografis daerah sangat cocok untuk pengembangan salak.
o Potensi Pasar
Potensi pasar saat ini langsung dapat dimanfaatkan oleh pelaku agroindustri salak ke pasar terdekat, seperti pasar pasar desa, kecamatan, kota Kabupaten dan kota-kota besar seperti Surabaya. Dengan penjualan langsung tersebut maka pola tengkulak dapat dihindari dan potensi daya serap pasar dapat diketehui oleh pengusaha agroindustri salak.
o Otonomi Daerah
Dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, keputusan politik ini sangat besar artinya bagi pengembangan daerah, begitu juga dalam pengembangan agroindustri salak karena dengan diberlakukannya Undang-Undang tersebut berarti memberikan kebebasan bagi daerah untuk menentukan prioritas pembangunan sesuai dengan potensi yang dimiliki
o Ketersediaan Kredit
Ketersediaan kredit atau lembaga permodalan dapat dimanfaatkan dalam pengembangan komoditas agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan, karena pada saat ini terdapat beberapa lembaga permodalan seperti Bank Jatim, BRI, BNI, Bank Mandiri dan Koperasi Simpan Pinjam lainnya. yang sangat layak sebagai lembaga penyedia modal usaha bagi yang membutuhkan.
o Kesempatan Bermitra
Pola kemitraan merupakan bentuk yang harus dilaksanakan dalam menciptakan kesempatan dan peluang kerja sama antara pelaku agroindustri salak dengan pemerintah dan pihak swasta secara terpadu.
o Pertumbuhan Ekonomi
Peningkatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bangkalan diharapkan menjadi peluang pengembangan agroindustri salak.
o Ketersediaan Teknologi
Selama ini penerapan teknologi oleh pelaku agroindustri perdesaan masih banyak melihat dari penerapan oleh orang lain, dengan adanya pengembangan teknologi oleh pemerintah maka teknologi adalah salah satu hal yang cukup penting dan pemanfaatannya adalah suatu peluang dalam pengembangan agroindustri salak. o Tingkat Keuntungan Usaha
Keuntungan usaha oleh para pelaku agroindustri salak merupakan prioritas utama dalam agroindustri perdesaan. Hal ini didukung oleh dekatnya lokasi usaha dengan bahan baku, pengolahannya dengan menggunakan teknologi yang sangat sederhana (TTG) artinya biaya oprasional yang dikeluarkan tidak terlalu besar. a. Ancaman
Faktor ancaman adalah bagian dari faktor strategis eksternal yang dapat menghambat dan mengganggu pengembangan agroinstri salak di Kabupaten Bangkalan yang seharusnya mendapat perlakuan secara baik dalam upaya pencapaian tujuan yang diinginkan, terdiri dari:
o Tingkat Inflasi
Krisis ekonomi yang berkepanjangan tentunya berdampak pada sektor usaha agroindustri salak terutama berkaitan dengan harga sarana produksi seperti harga bahan baku, sehingga pelaku usaha kesulitan membeli bahan baku.
o Produk Sejenis Dari Daerah Lain
Sebagian daerah di Kabupaten Bangkalan merupakan penghasil utama agroindustri salak, juga dari daerah lain seperti Yogyakarta dan dari daerah Malang o Keadaan Politik dan Keamanan
Keadaan politik dan keamanan secara nasional maupun lokal belum menunjukkan kesetabilan dan ini sangat berpengaruh terhadap pengembangan agroindustri salak.
o Tingkat Suku Bunga
Tingkat suku bunga perkreditan yang berlaku pada perbankan saat ini masih cukup tinggi hal ini akan menimbulkan biaya tinggi terhadap produksi usaha agroindustri salak.
o Fluktuasi Harga
Produksi komoditas agroindustri sangat bergantung terhadap bahan baku, saat ini harga bahan baku agroindustri salak harganya sangat berfluktuasi sehingga mengakibatkan produksi tidak terjamin kontinuitas dan keseragaman mutu, untuk itu pada saat salah satu bahan baku terjadi kenaikan harga pelaku usaha agroindustri salak.
o Standarisasi Produk/Selera Konsumen
Tingkat pendapatan dan kesejahteraan masyarakat semekin meningkat, maka kebutuhan masyarakat terhadap suatu produk akan lebih selektif baik dari kualitas maupun kuantitas.
4. Evaluasi Faktor-faktor Strategis Dalam Pengembangan Agroindustri Salak
Dalam melakukan evaluasi terhadap faktor-faktor strategis yang berpengaruh terhadap pengembangan agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan menggunakan Evaluasi Faktor Internal (EFI) untuk Faktor Internal, dan Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) untuk Faktor ekstenal.
5. Evaluasi Faktor Internal
Faktor-faktor strategis internal yang mempengaruhi agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan. Setelah diperoleh pendapat dari responden sebanyak 7 orang untuk menentukan bobot dan rating maka hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. EFI Pengembangan Komoditas Agroindustri Perdesaan di Kabupaten Bangkalan
No
Faktor Strategis
Internal Bobot Rating Weight Score Kekuatan
1 Ketersediaan bahan baku 0.099 4 0.397
2 Lembaga pembina 0.082 3 0.245
3 Kebijakan pemerintah 0.092 3 0.277
4 Kualitas produk 0.099 3 0.298
5 Sarana dan prasarana 0.085 3 0.255 6 Kemampuan modal usaha 0.078 3 0.234
Jumlah 0.535 1.706
Kelemahan
1 Ketrampilan pelaku 0.067 1 0.067
2 Pelaksanaan pembinaan 0.067 2 0.135 3 Koordinasi antar lembaga 0.057 2 0.113
4 Managemen usaha 0.064 1 0.064 5 Informasi pasar 0.071 2 0.142 6 Kemasan produk 0.071 2 0.142 Pemilihan komoditas hasil 0.067 2 0.135 Jumlah 0.465 0.798 Total 1.000 2.504
Elemen -elemen faktor kekuatan secara umum masih mampu mengatasi elemen-elemen kelemahan jika dikelola dengan baik, serta mengedepankan unsur kekuatan yang ada pada fak tor strategi internal yang hanya dapat dilakukan dengan prinsip pendekatan manajemen.
6. Evaluasi Faktor Eksternal
Faktor-faktor strategis eksternal yang mempengaruhi agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan. Setelah diperoleh pendapat dari responden sebanyak 7 orang untuk menentukan bobot dan rating, maka penjumlahannya adalah 2.943 (eksternal).
Uraian EFE pengembangan agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 3. EFI Pengembangan Komoditas Agroindustri Perdesaan di Kabupaten Bangkalan
No
Faktor Strategis
Internal Bobot Rating Weight Score Peluang 1 Peluang ekport 0.064 3 0.191 2 Potensi pasar 0.081 3 0.242 3 Otonomi daerah 0.070 4 0.282 4 Ketersediaan kredit 0.060 3 0.181 5 Kesempatan bermitra 0.074 2 0.148 6 Pertumbuhan ekonomi 0.067 3 0.201 7 Ketersediaab teknologi 0.084 3 0.252 8 Tingkat keuntungan usaha 0.074 3 0.221 Jumlah 0.574 1.718 Ancaman 1 Tingkat inflasi 0.054 2 0.107
2 Produk sejenis derah lain 0.074 3 0.221 3 Keadaan politik dan
keamanan
0.070 3 0.211
4 Tingkat suku bunga 0.064 3 0.201
5 Fluktuasi harga 0.070 3 0.211 6 Standarisasi produk selera konsumen 0.091 3 0.272 Jumlah 0.426 0.225 Total 1.000 2.943
Total nilai peluang adalah 1,718, hal ini menunjukkan angka lebih besar bila dibandingkan dengan total nilai ancaman 0,225, sementara total nilai peluang dan ancaman sebesar 2,943 berarti terhadap peluang dan ancaman cukup tinggi. Peluang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan ancaman dapat dikendalikan dalam upaya pengembangan agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan.
7. Matriks Internal Eksternal
Analisis matrikss I-E digunakan untuk mencari strategi umum (grand strategy) dalam pengembangan agroindustri salak diKabupaten Bangkalan. Matriks IE didasarkan pada dua dimensi kunci yaitu skor total IFE pada sumbu-x dan skor total EFE pada sumbu-y. Berdasarkan perhitungan faktor-faktor strategis pengembangan agroindustri salakdi Kabupaten Bangkalan diperoleh total skor IFE sebesar 2,504 dan total skor EFE sebesar 2,943
Gambar 2. Matriks I-E untuk Pengembangan Agroindustri Salak di Kabupaten Bangkalan
Pada Gambar 2, posisi pengembangan agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan termasuk dalam divisi V dengan strategi umum penetrasi pasar dan peengembangan produk. Dalam posisi pertahankan dan pelihara strategi terbaik untuk dikelola adalah strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk. Strategi penetrasi pasar adalah berusaha meningkatkan pangsa pasar untuk produk atau jasa yang sudah ada di pasar melalui promosi yang intensif dan didukung oleh komunikasi yang lebih efektif, sedangkan strategi pengembangan produk adalah strategi yang mencari peningkatan penjualan dengan memperbaiki atau inovasi produk atau jasa yang sudah ada.
8. Strategi Pengembangan Agroindustri Salak
Strategi pengembangan agroindusri salak di Kabupaten Bangkalan diperoleh melalui analisis EFI dan EFE kedalam matriks SWOT. Tujuannya adalah untuk memperoleh alternatif strategi (S-O, W-O, S-T, W-T) dalam rangka pengembangan agroindustri salakdi Kabupaten Bangkalan. Matriks SWOT tersebut dapat dilihat pada Tabel 4
Tabel 4 Alternatif Strategi Pengembangan Agroindustri Salak di Kabupaten Bangkalan
Faktor Internal Kekuatan (S) Kelemahan (W)
1. Ketersediaan bahan baku 1. Ketrampilan pelaku
2. Lembaga pembina 2. Pelaksanaan pembinaan
3. Kebijakan pemerintah 3. Koordinasi antar lembaga
4. Kualitas produk 4. Managemen usaha
5. Sarana dan prasarana 5. Informasi pasar
6. Kemampuan modal usaha 6. Kemasan produk
Faktor Eksternal 7. Pemilihan komoditas hasil
Peluang (O) Stategi S-O Stategi W-O
1. Peluang ekport 1. Memperkuat struktur
agroindustri salak melalui pengembangan industri hulu yang memproduksi bahan baku yang
1. Pembinaan dan pengembangan usaha agroindustri salak terpadu (W1, W2, W4, W5, W6, W7 dan O1, O2, O3, O4, 2. Potensi pasar
3. Otonomi daerah 4. Ketersediaan kredit 5. Kesempatan bermitra
berkualitas (S1, S2, S3, S4, S5, S6 dan O1, O2, O3, O4, O7)
O5, O7, O8)
6. Pertumbuhan ekonomi 2. Melaksanakan kemitraan
antara industri
besar/menengah dalam
pengembangan agroindustri salak (S1, S2, S4, S5,S6 dan O1, O2, O5, O7)
2. Memperkuat jaringan informasi pasar guna memanfaatkan peluang perdagangan antar daerah (W2, W3, W5,W6, W7 dan O1, O2, O3, O4, O5, O6, O7)
3. Ketersediaan teknologi 4. Tingkat keuntungan usaha
Ancaman (T) Strategi S-T Strategi W-T
1. Tingkat inflasi 1. Penetrasi pasar dan
pengembangan produk agroindustri salak (S1, S2, S3, S4, dan T2, T5, T6) 1. Pemberdayaan kelembagaan pelaku agroindustri salak (W1, W2, W4, W7, dan T2, T6) 2. Produk sejenis derah lain
3. Keadaan politik dan keamanan
4. Tingkat suku bunga 2. Meningkatkan intensitas
pembinaan agroindustri salak melalui perluasan penguasaan faktor produksi dan pemberian pelatihan serta pemagangan guna meningkatkan kemampuan usaha (W1, W2, W3, dan T1, T2, T3, T4, T5, T6) 5. Fluktuasi harga
6. Standarisasi produk selera konsumen
a. Strategi S – O (Strength – Opportunities)
Strategi S – O berarti menggunakan kekuatan yang dimiliki dengan memafaatkan peluang yang ada diantaranya Dari hasil analisis yang dilakuka berupa (1) Memperkuat struktur agroindustri salak melalui pengembangan industri hulu yang memproduksi bahan baku yang berkualitas (2) Melaksanakankemitraan antara industri besar/menengah dalampengembangan agroindustri salak.
Bentuk kegiatan memperkuat struktur agroindustri salak melalui pengembangan industri hulu yang memproduksi bahan baku yang berkualitas telah dilakukan oleh pemerintah, melalui lembaga pembina dari dinas perdagangan dan perindustrian dengan ditetapkannya keputusan daerah yang tertuang didalam kebijakan pemerintah. Hal ini terkait dengan kualitas produk, membangun dan meningkatkan sarana dan prasarana produksi untuk menciptakan keterkaitan kegiatan mulai dari hulu sampai hilir serta memberikan modal usaha pengembangan ekonomi kerakyatan (PEK), peluang expor dijual ke daerah lain, potensi pasar, otonomi daerah, ketersediaan kredit, kesempatan bermitra, pertumbuhan ekonomi, ketersediaan teknologi dan tingkat keuntungan usaha, kegiatan pengembangan dari faktor-faktor strategis merupakan satu kesatuan sistem dari input proses sampai output.
b. Strategi S – T (Strength – Threats)
Strategi S – T berarti menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman yang ada dengan cara melakukan strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk agroindustri salak. Penetrasi pasar adalah mencari pangsa pasar yang lebih besar untuk produk agroindustri salak yang sudah ada atau mengembangkan yang baru. Hal ini dapat dilakukan karena tersedianya bahan baku
agroindustri salak, adanya lembaga pembina seperti Dinas Perindustrian Perdagangan dan Investasi, dan adanya dukungan kebijakan pemerintah serta kualitas produk yang baik.
c. Strategi W – O(Weakneseses - Opportunities)
Strategi W – O adalah untuk meminimalkan kelemahan yang ada dengan memanfaatkan peluang ada dengan cara melakukan strategi pengembangan dan pembinaan agroindustri salak secara terpadu dan memperkuat jaringan informasi pasar guna memanfaat peluang perdagangan antar daerah. Pembinaan terpadu dalam pengembangan agroindustri salak dalam rangka meminimalkan kelemahan keterampilan pelaku agroindustri yang terbatas serta koordinasi yang kurang terpadu dengan melakukan perbaikan menejemen usaha untuk menembus pangsa pasar dengan penguatan informasi pasar, memperbaiki kualitas produk melalui pemilihan komoditas yang akan dihasilkan.
d. Strategi W – T(Weakneseses - Threats)
Strategi W – T adalah untuk meminimalkan kelemahan yang dimiliki dalam menghadapi ancaman yang ada, dengan cara melakukan strategi pemberdayaan kelembagaan pelaku agroindustri salak dan meningkatkan intensitas agroindustri salak melalui perluasan penguasaan faktor produksi dan pemberian pelatihan serta pemagangan guna meningkatkan kemampuan usaha. Pemberdayaan kelembagaan dan meningkatkan intensitas pelaku usaha agroindustri salak diperlukan karena adanya ancaman masuknya produk dari daerah lain dan tuntutan konsumen terhadap mutu produk sehingga nantinya dengan adannya pembinaan dapat diharapkan produk lokal mampu bersaing.
PENUTUP
Berdasarkan analisis internal dan eksternal diperoleh faktor-faktor strategis yang mempengaruhi agroindustri sebagai berikut: (1). Faktor Internal terdiri dari kekuatan (Ketersediaan bahan baku, Lembaga pembina, Kebijakan pemerintah, Kualitas produk, Sarana dan prasarana produksi dan Kemampuan modal usaha) dan kelemahan (Keterampilan pelaku agroindustri, Pelaksanaan pembinaan, Koordinasi antarlembaga terkait. Manajemen usaha, Informasi pasar, Kemasan produk dan Pemilihan komoditas yang dihasilkan), (2). Faktor Eksternal terdiri dari peluang (Peluang ekspor dijual kedaerah lain, Potensi pasar, Otonomi daerah, Ketersediaan keredit, Kesempatan bermitra, Pertumbuhan ekonomi, Ketersediaan teknologi dan Tingkat keuntungan usaha) dan ancaman(Tingkat inflasi, Produk sejenis dari daerah lain, Keadaan politik dankeamanan, Tingkat suku bunga, Fluktuasi harga dan Standarisasiproduk/selera konsumen).Faktor internal yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan bahan baku,kualitas produk dan sarana dan prasarana produksi yang merupakankekuatan yang sangat menonjol dalam pengembangan agroindustri salak diKabupaten Bangkalan sementara hal-hal yang harus ditanggulangi adalahadanya kelemahan antara lain lemahnya keterampilan pelaku agroindustridan lemahnya pelaksanaan pembinaan serta rendahnya penampilan kemasan produk. Dalam Faktor eksternal yang perlu
diperhatikan adalah adanyapeluang Potensi pasar dan Ketersediaan teknologi sementara yang harusdiantisipasi adalah adanya ancaman Standarisasi produk/selera konsumen.
Berdasarkan analisis SWOT didapat strategi pengembangan agroindustri salak di Kabupaten Bangkalan melalui strategi Penetrasi pasar dan pengembangan agroindustri salak. Untuk melaksanakan strategi ini dilakukan melalui program revitalisasi agroindustri salak.
DAFTAR PUSTAKA
Alkadri, Muchdie. Suhandojo. Tiga Pilar Pembangunan Wilayah. Penerbit BPPT. Jakarta.
Bappeda Kabupaten Bangkalan, 2013. Program Pembangunan Daerah Kabupaten Bangkalan tahun 2008-20013, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bangkalan
Bappeda, 2012. Strategi Pembangunan Kabupaten Bangkalan, Kantor Bappeda Kabupaten Bangkalan
Daryanto, Arief, dan Tonny, Fredian 2003. Metodologi Kajian pembangunan Daerah, Proses Riset. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
David. F.R. 2006. Strategic Management. Manajemen Strategis. Konsep Edisi 10. Penerbit Salemba Empat. Jakarta.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan, 2005. Profil Industri Kecil dan Perdagangan di Kabupaten Bengkalis. Kerjasama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bengkalis dengan Badan Pusat Statistik Kabupaten Bengkalis. Bengkalis
Gumbira-Said, E. 2000. Prespektif Pengembangan Agribisnis, Program Studi MMA-IPB, Bogor.
Hunger, J. David dan Wheelen, J. David. 2001. Manajemen Strategis. Penerbit ANDI. Yokyakarta.
Jauck, R L dan Glueck, R.W 1988. Manajemen Strategis dan Kebijakan Perusahaan, Edisi Ketiga, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Ma arif, Syamsul dan Hendri Tanjung 2003, Teknik -Teknik Kuantitatif untuk Maanajemen Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Pearce II, John A. dan Richard B. Robinson. 1997. Manajemen Strategik: Formulasi, Implementasi dan Pengendalian. Terjemahan Agus Maulana, MSM. Bina Aksara. Jakarta.
Purnomo Hari Setiawan dan Zulkieflimansyah 1999. Manajemen Strategi Sebuah Konsep Pengantar, Penerbit Fakultas Ekonomi UI, Jakarta.
Rangkuti, Freddy. 2001. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Saragih, Bungaran. 1998. Agribisnis Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. PT. Surveyor Indonesia – Kerjasama dengan PSP IPB. Jakarta.
Soekartawi. 2001. Pengantar Agroindustri, Edisi Pertama, Penerbit PT Raja Grafindo persada Yakarta
Solahuddin, Soleh. 1998. Kebijaksanaan dan Strategi Pengembangan Agribisnis dan Agroindustri Sebagai Pemacu Pertumbuhan Ekonomi Nasional. Makalah Seminar. Departemen Pertanian.
Supranto.J, 2001, Statistik Teori dan Aplikasi. Edisi keenam. Jilid.2. Penerbit Erlangga. Jakarta
Undang Undang No. 22 Tahun 1999. Pemerintah Daerah. Penerbit Restu Agung. Jakarta