BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN. 1. Efektivitas Pembelajaran Matematika

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Kajian Pustaka

1. Efektivitas Pembelajaran Matematika

Menurut Sabtanoe (dalam Hidayat, 2009:10) efektivitas adalah kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat dalam mencapai tujuan tertentu.Sementara, Handoko ( dalam Hidayat, 2009:10) mengemukakan bahwa efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Selanjutnya Said (dalam Hidayat, 2009:10) mengemukakan bahwa efektivitas berarti berusaha untuk dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan, sesuai pula dengan rencana, baik dalam penggunaan data, sarana, maupun waktunya atau berusaha melalui aktivitas tertentu baik secara fisik maupun non fisik untuk memperoleh hasil yang maksimal baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Menurut Popham ( dalam Evanis,2011:7), efektivitas proses pembelajaran seharusnya ditinjau dari hubungan guru tertentu yang mengajar kelompok siswa tertentu, di dalam situasi tertentu dalam usahanya mencapai tujuan-tujuan instruksional tertentu. Efektivitas proses pembelajaran berarti tingkat keberhasilan guru dalam mengajar kelompok

(2)

siswa tertentu dengan menggunakan metode tertentu untuk mencapai tujuan instruksional tertentu.

Ekosusilo (dalam Penjelajah, 2011:6) mengemukakan bahwa keefektifan merupakan suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana apa yang sudah direncanakan dapat tercapai. Semakin banyak rencana yang dapat dicapai,berarti semakin efektif pula kegiatan tersebut.

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa efektivitas akan tercapai apabila hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.Keefektifan pembelajaran yang dimaksud pada penelitian ini adalah keberhasilan pembelajaran matematika menjadikan siswa kelas X TSM 1 SMKT Somba Opu Kabupaten Gowa mencapai tujuan pembelajaran yang dapat dilihat dari ketuntasan belajar. Pembelajaran dikatakan efektif apabila mampu meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas X TSM 1 SMKT Somba Opu Kabupaten Gowa. Dengan kata lain untuk mengukur efektivitas adalah perbandingan antara rencana atau target yang telah ditentukan dengan hasil yang telah dicapai.

Adapun Indikator keefektifan pembelajaran (Hidayat, 2015:10) adalah sebagai berikut:

1. Ketuntasan Belajar

Ketuntasan belajar merupakan pencapaian taraf penguasaan minimal yang telah ditetapkan guru dalam tujuan pembelajaran setiap satuan pelajaran. Ketuntasan belajar dapat dilihat dari hasil belajar yang telah mencapai ketuntasan individual, yakni siswa telah memenuhi

(3)

kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan oleh SMKT Somba Opu Kabupaten Gowa.

Hasil belajar matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran setelah melalui tahapan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan problem posing, tingkat penguasaan siswa ini diukur dari nilai yang diperoleh siswa berdasarkan tes hasil belajar yang diberikan.

Seorang siswa dikatakan telah tuntas belajar jika hasil belajar siswa tersebut telah mencapai skor ≥ 75% atau nilai 75 dan tuntas secara klasikal jika terdapat ≥ 75% jumlah siswa yang telah mencapai skor ≥ 75.

2. Aktivitas Siswa

Menurut Sanjaya (dalam Kaisar, 2014:14) aktivitas adalah segala perbuatan yang sengaja dirancang oleh guru untuk menfasilitasi kegiatan belajar siswa seperti kegiatan diskusi, demostrasi, simulasi, melakukan percobaan, dan lain sebagainya.Aktivitas belajar matematika adalah proses komunikasi antara siswa dan guru dalam lingkungan kelas baik proses atau akibat dari hasil interaksi siswa dan guru atau siswa dengan siswa sehingga menghasilkan perubahan akademik, sikap, tingkah laku, dan keterampilan yang dapat diamati melalui perhatian siswa, kesungguhan siswa, kedisiplinan siswa, keterampilan siswa dalam bertanya/menjawab.

(4)

Siswa dalam pembelajaran bisa positif maupun negatif. Aktivitas siswa yang positif misalnya; mengajukan pendapat atau gagasan, mengerjakan tugas atau soal, komunikasi dengan guru secara aktif dalam pembelajaran dan komunikasi dengan sesama siswa sehingga dapat memecahkan suatu permasalahan yang sedang dihadapi, sedangkan aktivitas siswa yang negatif misalnya mengganggu sesama siswa pada saat proses belajar mengajar di kelas, melakukan kegiatan lain yang tidak sesuai dengan pelajaran yang sedang diajarkan oleh guru.

Aktifitas siswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah proses komunikasi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru yang menghasilkan perubahan tingkah laku selama proses pembelajaran dengan menerapkan pendekatan problem posing dengan setting kooperatif. Aktivitas siswa ini diukur dari hasil lembar observasi yang diberikan.

3. Respon Siswa.

Respon siswa adalah tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran menyangkut suasana kelas, minat mengikuti pembelajaran, berikut cara guru mengajar dan saran-saran yang membangun. Respon siswa digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan angket respon.

(5)

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa respon siswa pada penelitian ini adalah tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika melalui pendekatan problem posing dengan setting koperatif . Pendekatan pembelajaran yang baik dapat memberi respon posotif dari siswa setelah mereka mengikuti kegiatan pembelajaran.Angket respon siswa dirancang untuk mengetahui respon siswa terhadap pendekatan problem posing dengan setting kooperatif. Teknik yang digunakan untuk memperoleh data respon siswa setelah berahirnya pertemuan terakhir untuk diisi sesuai dengan petunjuk yang diberikan.

Keefektifan pembelajaran yang dimaksud pada penelitian ini adalah sejauh mana pembelajaran matematika berhasil menjadikan siswa mencapai tujuan pembelajaran dengan pendekatan problem posing dengan setting kooperatif yang dapat dilihat dari keterlaksanaan pembelajaran, ketuntasan belajar, aktivitas siswa, dan respon siswa. 2. Pembelajaran Matematika

Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya (Indrahayu, 2006:7). Hudojo ( dalam Indrahayu, 2006:7) mengemukakan bahwa seseorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri orang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan terjadinya suatu perubahan tingkah laku. Namun, tidak semua perubahan perilaku itu hasil belajar, demikian pula tidak semua pengalaman individu merupakan

(6)

proses belajar. Erman ( dalam Math edu, 2013:10) belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dan pengalama sedangkan Wina (dalam Math edu, 2013:10) mengemukakan bahwa belajar bukan hanya sekedar menghafal atau mengembangkan kemampuan intelektual, akan tetapi mengembangkan setiap aspek, baik kemampuan kognitif, sikap, emosi, kebiasaan dan lain sebagainya. Adapun ciri-ciri perubahan perilaku sebagai hasil belajar (Tohirin, 2011:81) yaitu: (1) perubahan yang disadari (2) perubahan yang bersifat kontinu dan fungsional (3) perubahan yang bersifat positif dan aktif (4) perubahan yang bersifat relatif permanen dan bukan bersifat kontemporer (5) hasil belajar ditandai dengan perubahan seluruh aspek pribadi, (6) belajar merupakan proses yang disengaja (7) belajar terjadi karena ada dorongan dan tujuan yang ingin dicapai, (8) belajar merupakan suatu bentuk pengalaman yang dibentuk secara sengaja, sistematis dan terarah.

Divesta and Thompson (dalam Suyono, Haryanto, 2012:13) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman. Selanjutnya, Gagne (dalam Indrahayu, 2006:8) memberikan dua definisi, yaitu:Pertamabelajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku. Kedua belajar adalah pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.

(7)

Dari berbagai pendapat tentang pengertian belajar diatas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang disengaja dan bertujuan sehingga memunculkan perubahan-perubahan tingkah laku dan aspek-aspek kepribadian pada orang yang belajar sebagai akibat interaksi dengan individu dan lingkungannya. Perubahan tingkah laku dari hasil belajar dapat diharapkan bersikap positif. Jadi, pada prinsipnya belajar itu menyangkut segala aspek organisasi dan tingkah laku pribadi seseorang. Dalam proses belajar ini membutuhkan kesiapan mental dan psikis. Proses ini merupakan suatu alat yang digunakan untuk menguasai matematika.

Dalam lingkup sekolah, aktivitas untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal disebut dengan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran adalah upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Pembelajaran menurut Sudjana (2000) yang dikutip Sugihartono, dkk merupakan setiap upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik yang dapat menyebabkan peserta didik melakukan kegiatan belajar.

Pembelajaran matematika pun merupakan salah satu kegiatan yang ada di sekolah. Salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah pembentukan dan peningkatan penalaran. Siswa dikondisikan sedemikian rupa sehingga dalam mempelajari matematika memungkinkan adanya pembentukan sifat dan berpikir kritis dan kreatif. Dengan demikian guru sebagai dinamisator dan fasilitator perlu memperhatikan daya imajinasi

(8)

dan rasa ingin tahu siswa. Hal tersebut perlu untuk dipupuk serta ditumbuhkembangkan. Siswa perlu dibiasakan untuk diberi kesempatan bertanya dan berpendapat, sehingga diharapkan proses pembelajaran matematika lebih bermakna.

Ruseffendi (dalam Indrahayu, 2006:9) mengemukakan bahwa matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Kemudian Reys,dkk (dalam Indrahayu, 2006:9) mengatakan bahwa matematika adalah telaah tentang pola dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat. Jadi matematika adalah suatu pola berpikir, suatu bahasa atau suatu alat untuk memperoleh pengetahuan dalam memahami permasalahan yang terjadi di alam.

Berdasarkan uraian diatas dapat dikemukakan bahwa belajar matematika pada hakekatnya adalah suatu proses untuk memperoleh pengetahuan dalam memahami arti dari struktur-struktur, hubungan-hubungan, simbol-simbol yang ada dalam materi pelajaran matematika sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku pada diri siswa.

3. Hasil Belajar Matematika

Hasil belajar adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha tertentu.Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar

(9)

dan mengajar. Dalam hal ini hasil belajar yang dicapai siswa dalam bidang studi tertentu setelah mengikuti proses belajar mengajar.

Menurut Bloom (dalam Suprijono, 2015:6) hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan, merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluasion (menilai). Domain afektif adalah receiving (sikap menerima), respoding (memberikan respon), valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain psikomotorik meliputi initiatory, pre-routine, dan rountinized. Psikomotor juga mencakup keteraampilan produktif, teknik, fisik, sosial manajerial dan intelektual. Sementara, menurut Lindgren (dalam Suprijono, 2015:7) hasil pembelajaran meliputi kecakapan, informasi, pengertian, dan sikap.

Hasil belajar matematika yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah tingkat keberhasilan siswa menguasai bahan pelajaran matematika setelah memperoleh pengalaman belajar matematika dalam suatu kurun waktu tertentu. Salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan siswa dalam usaha belajarnya adalah dengan menggunakan alat ukur. Alat ukur yang biasa digunakan adalah tes. Hasil pengukuran

(10)

dengan memakai tes merupakan indikator keberhasilan siswa yang dicapai dalam belajarnya.

4. Problem Posing

Problem posing merupakan istilah yang pertama kali dikembangkan oleh ahli pendidikan asal Brasil, Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed. Problem posing berasal dari istilah bahasa Inggris yang berarti pengajuan masalah.

Banyak para ahli merumuskan pengertian problem posing yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

 Menurut Suyanto (dalam Aips, 2008) menyebutkan bahwa problem posing merupakan istilah dalam bahasa Inggris, sebagai padanan katanya digunakan istilah "pembentukan soal" yaitu perumusan soal atau mengerjakan soal dari situasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika, atau setelah pemecahan masalah. Pembentukan atau pembuatan soal mencakup dua macam kegiatan yaitu pembentukan soal baru atau pembentukan soal dari situasi atau pengalaman sendiri dan pembentukan soal yang sudah ada.

 Menurut tim penelitian tindakan matematika (2003:2), problem posing diartikan sebagai membangun atau membentuk permasalahan. Pembelajaran dengan pendekatan problem posing ini pada intinya adalah meminta siswa untuk mengajukan soal atau masalah. Masalah yang diajukan dapat berdasarkan pada topik yang luas dan soal yang

(11)

sudah dikerjakan atau pada informasi tertentu yang diberikan oleh guru.

 Menurut Silver (1996), problem posing memiliki beberapa pengertian, yaitu (1) problem posing adalah pengajuan soal dari informasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika, atau setelah kegiatan penyelesaian, (2) Perumusan soal yang berkaitan dengan syarat–syarat pada soal yang telah diselesaikan dalam rangka menari alternatif penyelesaian atau alternatif soal yang masih relevan, (3) perumusan soal atau pembentukan soal dari suatu situasi yang tersedia.

 Suryanto (Upu, 2003:16) mengartikan kata problem sebagai masalah atau soal, sehingga pengajaran masalah matematika dipandang sebagai suatu tindakan merumuskan masalah atau soal dari situasi yang diberikan.

 Menurut Brown dan Walter (dalam Shidiq,2011:4) informasi atau situasi problem posing dapat berupa gambar, benda manipulatif, permainan, teorema atau konsep, alat peraga, soal, atau selesaian dari suatu soal. Selanjutnya Suryanto (dalam Shidiq,2011:4) menyatakan bahwa soal dapat dibentuk melalui soal-soal yang ada dalam buku.

 Stoyanova (dalam Shidiq,2011:4) mengklasifikasikan informasi atau situasi problem posing menjadi situasi problem posing yang bebas, semiterstuktur, dan terstruktur. Pada situasi problem posing yang bebas, siswa tidak diberikan suatu informasi yang harus ia patuhi, tetapi siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk membentuk soal sesuai

(12)

dengan apa yang ia kehendaki. Siswa dapat menggunakan fenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai acuan dalam pembentukan soal. Sedangkan dalam situasi problem posing yang semi terstruktur, siswa diberi situasi atau informasi yang terbuka. Kemudian siswa diminta untuk mencari atau menyelidiki situasi atau informasi tersebut dengan cara menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. Selain itu, siswa harus mengaitkan informasi itu dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika yang diketahuinya untuk membentuk soal. Pada situasi problem posing yang terstuktur, informasi atau situasinya berupa soal atau selesaian dari suatu soal (Shidiq,2011:5)

Menurut Silver (dalam Upu, 2003:17) bahwa dalam pustaka pendidikan matematika, pengajuan masalah matematika mempunyai 3 pengertian. Pertama, pengajuan masalah matematika sederhana atau perumusan ulang masalah yang telah diberikan dengan beberapa cara dalam rangka menyelesaikan masalah yang rumit. Kedua, pengajuan masalah adalah perumusan masalah matematika yang berkaitan dengan syarat-syarat pada masalah yang telah dipecahkan dalam rangka mencari alternatif pemecahan masalah yang relevan. Ketiga, pengajuan masalah adalah merumuskan atau mengajukan masalah dari situasi yang diberikan, baik diajukan sebelum, pada saat atau sesudah pemecahan masalah. Pengertian ketiga ini merupakan salah satu landasan yang digunakan oleh peneliti dalam mengembangkan pendekatan pengajuan masalah dalam pembelajaran matematika.

(13)

Pengajuan masalah matematika menurut Silver et.al. (dalam Upu,2003:18) dalam penelitiannya menemukan bahwa pengajuan masalah matematika merupakan suatu aktivitas dengan dua pengertian yang berbeda, yaitu : (1) Proses mengembangkan masalah matematika yang baru oleh siswa berdasarkan situasi yang ada dan (2) Proses memformulasikan kembali masalah matematika dengan kata-kata siswa sendiri berdasarkan situasi yang diberikan. Dengan demikian, masalah matematika yang diajukan siswa mengacu kepada situasi yang telah disiapkan guru.

Pengajuan masalah matematika menurut Brown dan Walter (dalam Upu,2003:19) terdiri atas dua aspek penting, yaitu accepting(menerima ) dan challenging(menantang). Accepting berkaitan dengan kemampuan siswa memahami situasi yang diberikan oleh guru atau situasi yang telah ditentukan. Sementara challenging berkaitan dengan sejauhmana siswa tertantang dari situasi yang telah diberikan sehingga melahirkan kemampuan untuk mengajukan masalah atau soal matematika.

Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat dikatakan bahwa pengajuan masalah matematika merupaka reaksi siswa terhadap situasi yang telah disediakan oleh guru. Reaksi tersebut berupa respon dalam bentuk pernyataan, pertanyaan matematika atau non matematika, terlepas dari apakah pertanyaan tersebut dapat dipecahkan atau tidak. Pertanyaan matematika tersebut mungkin berkaitan dengan situasi yang diberikan atau

(14)

merupakan pengembangan dari situasi lain. Dengan demikian, terdapat 3 unsur penting yang terkait dengan pembelajaran dengan pendekatan pengajuan masalah, yaitu (1) situasi masalah, (2) Pengajuan masalah dan (3) Pemecahan masalah (Upu, 2003).

5. Pendekatan Problem Posing.

Problem posing merupakan kegiatan penting dalam pembelajaran matematika. NCTM merekomendasikan agar dalam pembelajaran matematika, para siswa diberikan kesempatan untuk mengajukan soal sendiri . Silver dan Cai (Abdussakir,2009:7) juga menyarankan agar pembelajaran matematika lebih ditekankan pada kegiatan problem posing. Menurut Cars dalam Abdussakir, untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan dapat dilakukan dengan cara membiasakan siswa mengajukan soal. Sejalan dengan itu, Suparno ( dalam Abdussakir,2009:7) menyatakan bahwa mengungkapkan pertanyaan merupakan salah satu kegiatan yang dapat menantang siswa untuk lebih berpikir dan membangun pengetahuan mereka.

Menurut Killpatric (dalam Abdussakir,2009:7) , salah satu dasar kognitif yang ada dalam problem posing adalah asosiasi yaitu kecendrungan siswa menggunakan respon pertama sebagai pijakan untuk mengajukan soal kedua, ketiga, dan seterusnya.. Selanjutnya, menurut As’ari ( dalam Abdussakir,2009:7), dalam kegiatan problem posing, ketika terjadi proses asosiasi antara informasi baru dengan struktur kognitif yang

(15)

dimiliki seseorang, maka proses selanjutnya yang terjadi adalah proses asimilasi dan akomodasi.

Di samping itu, Brown dan Walter ( dalam Abdussakir,2009:8) yang menyatakan pembuatan soal dalam pembelajaran matematika melalui dua tahap kegiatan kognitif, yaitu accepting (menerima) dan challenging (menantang).Menerima terjadi ketika siswa membaca situasi atau informasi yang diberika guru dan menantang terjadi ketika siswa berusaha untuk mengajukan soal berdasarkan situasi atau informasi yang diberikan. Sehubungan dengan hal tersebut As’ari (dalam Abdussakir,2009:8), menegaskan bahwa proses kognitif menerima memungkinkan siswa untuk menempatkan suatu informasi pada suatu jaringan struktur kognitif sehingga struktur kognitif tersebut makin kaya, sementara proses kognitif menantang memungkinkan jaringan stuktur kognitif yang ada menjadi semakin kuat hubungannya. Dengan demikian pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing akan menambah kemampuan dan penguatan konsep dan prinsip matematika siswa.

Pendekatan problem posing merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dalam proses kegiatannya membangun struktur kognitif siswa.Proses ini dilakukan dengan cara mengaitkan skemata yang dimilikinya. Pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan problem posing merupakan suatu pendekatan yang efektif karena kegiatan problem posing itu sesuai dengan pola pikir matematis dalam arti

(16)

pengembangan matematika sering terjadi dari problem posing. Dalam problem posing, relasi yang dihidupkan bukanlah monolog, melainkan dialog. Dalam relasi ini, para siswa tidak diperlakukan sebagai obyek, dan guru tidak diakui sebagai satu-satunya subyek. Keduanya memiliki posisi yang sejajar. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator.

Pendekatan pengajuan masalah matematika ini berbeda dengan pendekatan lain. Jika dalam pendekatan lain guru secara dominan menyajikan masalah, soal atau pertanyaan matematika, maka pada pendekatan pengajuan masalah siswa hanya disiapkan situasi. selanjutnya, dari situasi tersebut siswa mengajukan masalah atau soal sesuai dengan tingkat kemampuan pemahaman mereka. Kemampuan pemahaman dalam hal ini meliputi kemampuan pemahaman matematika dasar, kemampuan semantik dan kemampuan sintaksis.

6. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran kelompok dengan jumlah peserta didik 2-5 orang dengan gagasan untuk saling memotivasi antara anggotanya untuk saling membantu agar tercapainya suatu tujuan pembelajaran yang maksimal.Berikut ini merupakan beberapa pengertian pembelajaran kooperatif (cooperative learning) menurut para ahli.

1. Depdiknas (Dedi,2013:5) “Pembelajaran Kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil

(17)

siswa yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar”.

2. Bern dan Erickson (dalam Dedi,2013:5) “Cooperative learning” (pembelajaran kooperatif) merupakan strategi pembelajaran yang mengorganisir pembelajaran dengan menggunakan kelompok belajar kecil di mana siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar”.

3. Suprijono,(2010:54) “Model pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru”.

4. Menurut Slavin (dalam Rusman, 2013:201) pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok.

5. Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Rusman, 2013:203).

Dalam sistem belajar kooperatif, siswa belajar bekerjasama dengan anggota lainnya.Dalam model ini siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar.Pembelajaran kooperatif dalam matematika akan dapat membantu siswa meningkat sikap positif siswa

(18)

dalam matematika. Para siswa secara individu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah matematika, sehingga akan mengurangi bahkan menghilangkan rasa cemas terhadap matematika (math anxiety) yang banyak dialami para siswa.

Dari beberapa pengertian menurut para ahli dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah cara belajar dalam bentuk kelompok-kelompok kecil yang saling bekerjasama dan diarahkan oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan”.

Ada beberapa hal yang perlu dipenuhi dalam pembelajaran kooperatif agar lebih menjamin para siswa bekerja secara kooperatif. Hal-hal tersebut meliputi:

1. Para Siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari suatu tim dan mempunyai tujuan bersama yang harus dicapai.

2. Para siswa yang tergabung dalam sebuah kelompok harus menyadari masalah yang mereka hadapi adalah masalah kelompok dan bahwa berhasil atau tidaknya kelompok itu akan menjadi tanggung jawab bersama oleh seluruh anggota kelompok itu.

3. Untuk mencapai hasil yang maksimum, para siswa yang tergabung dalam kelompok itu harus berbicara satu sama lain dengan mendiskusikan masalah yang dihadapinya. Artinya, para siswa yang tergabung dalam suatu kelompok harus menyadari bahwa setiap

(19)

pekerjaan siswa mempunyai akibat langsung pada keberhasilan kelompoknya.

Kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.

2) Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.

3) Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.

4) Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

Adapun Langkah-Langkah atau Fase-Fase Model Pembelajaran Kooperatif:

FASE TINGKAH LAKU GURU

FASE-1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar

FASE-2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan

FASE-3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien

FASE-4

Membimbing kelompok Bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka

(20)

Evaluasi tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

FASE-6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu dan kelompok

Sumber: Rusman (2013: 211)

7. Pedoman Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing Seperti halnya pendekatan lain, pendekatan problem posing juga mempunyai pedoman dalam pelaksanaannya. Pedoman itu berkaitan dengan guru dan siswa seperti yang dikemukakan oleh Suryanto (dalam Upu, 2003: 25-26) yang dalam hal ini meliputi:

a. Petunjuk Pembelajaran yang Berkaitan dengan Guru.

1) Guru hendaknya selalu memotivasi siswa untuk mengajukan atau memperluas masalah matematika yang ada pada buku paket matematika.

2) Guru hendaknya menyediakan beberapa situasi matematika yang berbeda-beda berupa informasi tertulis, benda manipulatif, gambar, atau yang lainnya.

3) Selanjutnya guru melatih siswa merumuskan dan mengajukan masalah, soal pertanyaan matematika berdasarkan situasi yang diberikan.

4) Guru dapat menawarkan masalah, soal atau pertanyaan matematika yang berbentuk open ended.

(21)

5) Guru memberikan contoh cara merumuskan dan mengajukan masalah matematika dengan beberapa tingkat kesukaran, yang berkaitan dengan isi matematika maupun kesulitan bahasanya.

6) Guru menyelenggarakan reciprocal teaching, yaitu pelajaran yang berbentuk dialog antara guru dan siswa mengenai materi pelajaran dengan cara menggilir siswa berperan sebagai guru.

b. Petunjuk Pembelajaran yang Berkaitan dengan Siswa

1) Siswa diberi motivasi untuk merumuskan dan mengajukan sebanyak-banyaknya masalah, soal, atau pertanyaan matematika berdasarkan situasi yang telah diberikan.

2) Siswa dibiasakan mengubah dan memvariasikan situasi yang diberikan menjadi masalah, soal atau pertanyaan matematika yang baru sebelum mereka menyelesaikannya.

3) Siswa dibiasakan untuk merumuskan dan mengajukan masalah, soal atau pertanyaan matematika serupa atau sejenis, setelah menyelesaikan masalah atau soal tersebut. 4) Siswa harus diberanikan untuk menyelesaikan masalah, soal

atau pertanyaan yang dirumuskan oleh temannya sendiri. 5) Siswa diberi motivasi untuk menyelesaikan masalah, soal

(22)

Adapun langkah-langkah problem posing terdiri dari beberapa tahap yaitu :

a. Tahap Pendahuluan.

Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan guru adalah memotivasi siswa, menjelaskan tujuan pembelajaran dan mengaitkan kembali materi-materi yang relevan, selain itu juga dapat mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah yang diberikan sebelumnya.

b. Tahap Pengembangan

Tahap ini merupakan tahap inti kegiatan pembelajaran, guru menyajikan konsep dan prinsip serta contoh-contoh kepada siswa. c. Tahap Penerapan

Tahap ini siswa diminta untuk menerapkan materi yang telah dipelajari pada materi yang lebih luas bentuk kegiatannya seperti mengerjakan soal-soal latihan untuk membuat tugas tertentu. d. Penutup

Guru bersama siswa membuat rangkuman pembelajaran. Rangkuman disusun berdasarkan aspek-aspek penting dari materi yang telah dipelajari.

8. Problem PosingSetting Kooperatif

Pengajuan masalah secara kooperatif merupakan salah satu cara untuk membangun kerjasama yang saling menguntungkan.

(23)

Dimyanti dan Mudjiono (dalam Upu, 2003:21) mengemukakan bahwa tujuan utama pembelajaran dengan cara kooperatif adalah:

1. Memberi kesempatan kepada siswa di dalam kelompok untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah secara rasional.

2. Mengembangkan sikap sosial dan semangat bergotong royong.

3. Mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar sehingga setiap anggota kelompok merasa bahwa dirinya adalah bagian dari kelompok yang bertanggung jawab.

Pirie dan Tom (dalam Upu, 2003:22) menyatakan bahwa pengajuan masalah matematika melalui kelompok dapat membantu siswa dalam memikirkan ide matematika secara lebih jauh antara sesama anggota di dalam kelompok. Dengan demikian, pengajuan masalah matematika secara berkelompok dapat menggali pengetahuan, alasan dan pandangan antara satu siswa dengan siswa yang lain terhadap ide matematika.

Bekerja sama dalam kelompok, tepat untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika. Hal ini disebabkan karena dalam belajar matematika siswa sering dihadapkan pada latihan pemecahan masalah matematika. Berkaitan dengan hal ini, salah satu keuntungan yang dapat diperoleh adalah memberikan dorongan kepada peserta didik agar dapat bekerja sama selama berlangsungnya proses pembelajaran.

(24)

Implikasi dari beberapa pandangan di atas adalah dengan bekerja sama antara dua orang siswa atau lebih dalam proses pengajuan dan pemecahan masalah matematika, maka dapat memicu dan memacu kreativitas dan saling melengkapi diantara mereka. Sebagai tambahan bahwa bekerja sama dalam kelompok siswa yang heterogen, dapat membantu mereka dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Keuntungan lain dengan bekerja sama dalam kelompok adalah adanya sharing idea. Apabila ada pertanyaan yang ingin diajukan, maka seyogyanya siswa dalam kelompok berupaya secara bersama-sama mendiskusikan masalah tersebut sebelum mengajukannya kepada guru.

Pembahasan dalam kaitannya dengan pengajuan masalah (problem posing) matematika secara berkelompok dalam penelitian ini mengacu kepada pengertian yang dikemukakan oleh Goos et al (dalam Upu, 2003:23), yaitu siswa bekerja sama dalam kelompok terhadap suatu masalah yang sama, dan tidak ada diantara mereka yang boleh mengerjakannya secara sendiri-sendiri.

Dalam mengajukan masalah, Silver dan Cai (dalam Upu, 2003:27) membagi dalam tiga bagian yaitu:

a. Pertanyaan matematika adalah pertanyaan yang mengandung masalah matematika dan mempunyai kaitan dengan informasi yang

(25)

ada pada situasi tersebut. Pertanyaan matematika terbagi dalam dua bagian yaitu:

1. Pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan

Suatu pertanyaan matematika dikatakan dapat diselesaikan jika memuat informasi yang cukup dari situasi yang ada untuk diselesaikan. Jenis pertanyaan ini dibedakan lagi menjadi dua bagian yaitu pertanyaan matematika yang memuat informasi baru dan pertanyaan matematika yang tidak memuat informasi baru.

2. Pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan

Pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan adalah pertanyaan yang tidak memuat informasi yang cukup dari situasi yang ada untuk diselesaikan. Pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan dapat juga berarti memiliki tujuan yang tidak sesuai dengan informasi yang ada.

b. Pertanyaan non matematika adalah pertanyaan yang tidak mengandung masalah matematika dan tidak mempunyai kaitan atau hubungan dengan situasi atau informasi yang diberikan.

c. Pernyataan adalah jenis respon dari siswa yang tidak mengandung kalimat pertanyaan yang mengarah pada matematika.

Berdasarkan tingkat kesukarannya, Silver dan Cai (1996:526), mengklasifikasikan respon siswa menjadi dua dua kelompok, yaitu: (1) tingkat kesukaran respon terkait dengan stuktur bahasa (sintaksis),

(26)

dan (2) tingkat kesukaran respon terkait dengan stuktur matematika (semantik). Tingkat kesukaran respon yang berkaitan dengan sintaksis dapat dilihat dari proposisi yang dikandungnya. Proposisi yang digunakan dibedakan menjadi tiga, yaitu proposisi penugasan (assignment), proposisi hubungan (relation), dan proposisi pengandaian (conditional). Proposisi penugasan adalah pertanyaan (soal) yang memuat tugas untuk dikerjakan. Proposisi hubungan adalah pertanyaan yang memuat tugas untuk membandingkan. Sedangkan proposisi pengandaian adalah pertanyaan yang menggunakan informasi tambahan

Sedangkan jenis kesukaran yang kedua berkaitan dengan struktur matematika atau semantik. Kesukaran jenis kedua tersebut dapat dianalisis dengan cara memperhatikan hubungan struktur semantik yang dapat dibedakan dalam lima kategori, yaitu mengubah (change), mengelompokkan (group), membandingkan (compare), menyatakan kembali (restate), dan menvariasikan (vary). Melalui struktur dan kategori semantik tersebut, maka masalah atau soal yang dirumuskan dan diajukan oleh siswa diklasifikasikan menurut banyaknya hubungan semantik.

B. Kerangka Pikir

Berdasarkan uraian dari latar belakang dan tinjauan pustaka di atas diperoleh bahwa efektivitas pembelajaran matematika siswa kelas

(27)

X TSM 1 SMKT Somba Opu Kabupaten Gowa masih rendah. Hal ini disebabkan karena pengelolaan kelas kurang memadai dan kurangnya pengajuan masalah dari guru maupun dari siswa penggunaan media dan ilustrasi serta pemberian contoh-contoh kongkrit terhadap siswa masih sangat kurang. Selain itu, siswa juga cepat bosan dan jenuh dalam menerima serta mengikuti proses belajar mengajar matematika, kebanyakan siswa hanya sebagai pendengar pasif dalam kelas. Sehingga guru sebagai sumber informasi satu-satunya. Oleh karena itu, agar efektivitas pembelajaran matematika dapat meningkat maka perlu adanya penanganan yang serius terhadap masalah tersebut. Salah satu alternatif pemecahan masalah yang dapat diterapkan adalah melalui pendekatan problem posing dengan setting kooperatif.

Dengan diterapkannya pendekatan problem posing dengan setting kooperatif sebagai alternatif pemecahan masalah maka diharapkan efektivitas pembelajaran matematika siswa pada kelas X TSM 1 SMKT Somba Opu Kabupaten Gowa dapat mengalami peningkatan.

(28)

Adapun bagan dari kerangka pikir yaitu sebagai berikut:

C. Hipotesis Penelitian

1. Hipotesis Mayor

Berdasarkan masalah, tinjauan pustaka serta kerangka pikir di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah“Pembelajaran Matematika efektif melalui Pendekatan problem posing setting kooperatifpada siswa kelas X TSM 1 SMKT Somba Opu Kabupaten Gowa

2. Hipotesis Minor

a) Hasil belajar matematika

Efektif Tidak Efektif

Pembelajaran Matematika

Ketuntasan Belajar siswa

Aktifitas Siswa Respon Siswa

Tercapai Aktif Positif

Analisis

Pendekatan Problem Posing dengan Setting Kooperatif

Aktivitas Siswa

(29)

1. Rata-rata skor hasil belajar matematika siswa kelas X TSM 1 SMKT Somba Opu Kabupaten Gowasetelah diterapkan pendekatan problem posing setting kooperatif ≥ 74,9 (KKM 75). Untuk keperluan pengujian secara statistik, maka dirumuskan hipotesis kerja sebagai berikut

H0 : µ ≤ 74,9, melawan H1 : µ > 74,9

Keterangan : µ = rata-rata skor hasil belajar matematika siswa

2. Ketuntasan belajar matematika siswa kelas X TSM 1 SMKT Somba Opu Kabupaten Gowasetelah diterapkan pendekatan problem posing setting kooperatif secara klasikal lebih besar dari 74,9%. Untuk keperluan pengujian secara statistik, maka dirumuskan hipotesis kerja sebagai berikut:

H0 : π ≤74,9, melawan H1 : π > 74,9

Keterangan: π = parameter ketuntasan klasikal

3. Rata-rata gain (peningkatan) ternormalisasi matematika siswa kelas X TSM 1 SMKT Somba Opu Kabupaten Gowasetelah diterapkan pendekatan problem posing setting kooperatif lebih besar dari 0,29. Untuk keperluan pengujian secara statistik, maka dirumuskan hipotesis kerja sebagai berikut

H0 : µg ≤ 0,29, melawan H1 : µg> 0,29

(30)

4. Aktivitas siswa kelasX TSM 1 SMKT Somba Opu Kabupaten Gowaselama mengikuti pembelajaran matematika melalui pendekatan problem posing setting kooperatif berada pada kategori baik, yaitu persentase jumlah siswa yang terlibataktif ≥ 75%.

5. Respons siswa kelas X TSM 1 SMKT Somba Opu Kabupaten Gowaterhadap pembelajaran matematika melaluipendekatan problem posing setting kooperatif positif, yaitu persentase siswa yang menjawab ya ≥ 75%.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :