• Tidak ada hasil yang ditemukan

Juril AMIK MBP ISSN:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Juril AMIK MBP ISSN:"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Volume III No. 1 Februari 2015 71 ASPEK SAFETY SECARA HUKUM DALAM PEMBERIAN KREDIT MIKRO

PADA PT. BANK MANDIRI (PERSERO), TBK Hidayat Nasution

(Dosen Politeknik MBP Medan) ABSTRAK

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran yang strategis dalam struktur perekonomian nasional, termasuk dalam rangka mendukung pengendalian inflasi. Namun Bank sering mengalami masalah terkait dengan masalah legalitas perjanjian kredit dan pengikatan agunan. Debitur UMKM umumnya belum memahami tentang perlu adanya perjanjian kredit dan pengikatan agunan yang memenuhi ketentuan hukum yang berlaku. Debitur UMKM juga mengalami kesulitan dalam memenuhi ketentuan perkreditan yang harus dilakukan sesuai ketentuan perkreditan yang berlaku. Keywords : Perjanjian Kredit, Pengikatan Agunan, Pertanggungan Kredit dan

Agunan. A. Pengertian Kredit

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.10 Tahun 1998 tentang Perbankan, disebutkan bahwa “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.

Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/15/PBI/2012 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum, disebutkan bahwa “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga, termasuk:

1. Cerukan (Overdraft) yaitu: saldo negatif pada rekening giro nasabah, dan dibayar lunas pada akhir hari.

2. Pengambilalihan tagihan dalam rangka kegiatan anjak piutnag. 3. Pengambilalihan atau pembelian kredit dari pihak lain.

B. Perjanjian Kredit

Menurut Standar Prosedur Kredit Mikro PT. Bank Mandiri (Persero), disebutkan bahwa “Perjanjian Kredit adalah suatu perjanjian antara Bank dan debitur yang menetapkan ketentuan–ketentuan dan syarat-syarat khusus yang berlaku atas suatu kredit, termasuk setiap perubahan, penambahan dan/atau pembaharuannya berikut segala lampiran-lampirannya”.

(2)

Volume III No. 1 Februari 2015 72 Definisi lain mengatakan bahwa “Perjanjiaan Kredit merupakan perikatan pinjam meminjam uang secara tertulis antara bank (sebagai kreditur) dengan pihak lain (sebagai debitur/nasabah) yang mengatur hak dan kewajiban para pihak sebagai akibat adanya pinjam meminjam uang”.

Setiap Perjanjian Kredit harus dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh bank selaku kreditur (dalam hal ini pejabat-pejabat yang memiliki wewenang) dan nasabah selaku debitur sebelum pencairan kredit dilaksanakan.

Dengan penandatanganan Perjanjian Kredit, maka diperoleh bukti tertulis bahwa bank telah memberikan pinjaman sejumlah yang tertera pada Perjanjian Kredit tersebut kepada debitur yang telah menandatangani Akta Perjanjian Kredit, baik atas namanya sendiri ataupun atas nama perusahaan dan ketentuan yang mengikat mengenai hak dan kewajiban kedua belah pihak.

Perjanjian Kredit termasuk addendumnya harus dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh bank selaku kreditur dan debitur sendiri. PK merupakan perjanjian pokok yang akan diikuti dengan perjanjian lainnya yang bersifat accesoir (perjanjian ikutan). Perjanjian accesoir adalah perjanjian-perjanjian pengikatan jaminan/agunan meliputi: hak tanggungan, hipotik, fidusia, gadai, dan penjaminan hutang.

C. Jenis Perjanjian Kredit

Jenis Perjanjian Kredit ada dua macam yaitu: 1. Perjanjian Kredit yang bersifat dibawah tangan

Perjanjian Kredit yang bersifat dibawah tangan, secara aspek kekuatan hukumnya belum sama dengan ketetapan pengadilan. Sehingga, posisi Bank dalam hal ini, masih lemah secara hukum. Dalam hal performance dan kolektibilitas debitur mengalami penurunan (kolektibilitas 3, 4, dan 5), maka dalam rangka memperkuat posisi bank agar dilakukan pengikatan secara notarial terhadap seluruh dokumen perjanjian, baik perjanjian kredit maupun pengikatan agunannya.

2. Perjanjian Kredit yang bersifat Notarial.

Perjanjian Kredit yang bersifat notarial, artinya perjanjian yang dibuat oleh para pihak dihadapan Notaris/Pejabat Pembuat Akta. Perjanjian Kredit yang bersifat Notarial ini secara hukum memiliki kekuatan hukum yang sama dengan ketetapan pengadilan. Sehingga, posisi Bank dalam hal ini, telah kuat secara hukum. Dalam hal menggunakan jenis akta notarial, maka harus menggunakan notaris rekanan bank.

D. Perjanjian Kredit/Addendum Perjanjian Kredit

Pembuatan Perjanjian Kredit (PK) secara di bawah tangan dilakukan oleh bank, sedangkan pembuatan Perjanjian Kredit (PK) secara notarial dilakukan oleh Notaris. Dalam pembuatan Perjanjian Kredit (PK) harus memperhatikan ketentuan dan syarat yang ditetapkan dalam Nota Analisa Kredit (NAK).

Setiap adanya perubahan terhadap Perjanjian Kredit (PK) harus dituangkan kedalam suatu dokumen yang disebut Addendum Perjanjian Kredit (APK). Sebelum penandantanganan PK/Addendum PK, Business Unit berkewajiban meneliti kembali isi perjanjian tersebut.

(3)

Volume III No. 1 Februari 2015 73 Businss Unit adalah unit kerja yang melaksanakan fungsi marketing, relationship management berdasarkan target market yang telah ditetapkan dan melakukan analisa kredit.

Dan oleh karena itu, Business Unit bertanggung jawab terhadap isi/materi dari PK/Addendum PK yang dibuat dan membubuhkan paraf pada setiap halaman dan coretan PK/Addendum PK. Tatacara penyusunan PK dan Addendum PK mengacu pada SPO Perkreditan Credit Operation Retail.

E. Fungsi Perjanjian Kredit

Perjanjian Kredit memilki beberapa fungsi, antara lain:

1. Perjanjian kredit berfungsi sebagai perjanjian pokok, artinya perjanjian kredit merupakan sesuatu yang menentukan batal atau tidaknya perjanjian lain yang mengikutinya, misalnya perjanjian pengikatan jaminan.

2. Perjanjian kredit berfungsi sebagai alat bukti mengenai batasan-batasan hak dan kewajiban antara kreditur dan debitur.

3. Perjanjian kredit berfungsi sebagai alat untuk melakukan monitoring kredit.

F. Agunan Kredit

Menurut Undang-Undang No.10 Tahun 1998 tentang Perbankan menyebutkan bahwa “Agunan adalah jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah”.

Dan menurut Pasal 1131 KUHPerdata, “Agunan adalah segala barang bergerak dan tidak bergerak milik debitur, baik yang sudah ada maupun yang akan menjadi jaminan untuk perikatan-perikatan perorangan debitur tersebut”.

Sedangkan menurut Standar Prosedur Kredit Mikro PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, disebutkan bahwa “Agunan adalah hak dan kekuasaan atas benda berwujud dan/atau benda tidak berwujud yang diserahkan oleh debitur dan atau pihak ketiga sebagai pemilik agunan kepada bank guna menjamin pelunasaan hutang debitur, apabila kredit yang diterimanya tidak dapat dilunasi sesuai waktu yang disepakati dalam Perjanjian Kredit (PK) atau addendumnya”.

Agunan tersebut harus tetap ideal karena agunan mempunyai tugas melancarkan dan mengamankan pemberian kredit. Agunan tertentu yang diserahkan debitur kepada kreditur dimaksudkan sebagai tanggungan atas pinjaman atau fasilitas kredit yang diberikan kreditur kepada debitur sampai debitur melunasi hutangnya tersebut.

Apabila debitur wanprestasi, agunan tersebut akan dinilai dengan uang, untuk pelunasan seluruh atau sebagian dari pinjaman atau hutang debitur kepada krediturnya. Dengan kata lain, agunan berfungsi sebagai sarana atau jaminan atas pemenuhan kewajiban atau hutang debitur kepada kreditur sampai jatuh tempo perjanjian hutang-piutangnya tersebut.

(4)

Volume III No. 1 Februari 2015 74 Suatu barang yang dapat dijadikan sebagai agunan kredit harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Mempunyai nilai ekonomis dalam arti dapat dinilai dengan uang dan dijadikan uang.

2. Dapat dipindahtangankan kepemilikannya dari pemilik semula kepada pemilik lain (Marketable, Executeur Baar).

3. Mempunyai nilai yuridis, dalam arti dapat diikat secara sempurna berdasarkan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku sehingga kreditur memiliki hak yang didahulukan (preferen) terhadap hasil likuidasi barang tersebut.

G. Jenis-Jenis Agunan

Agunan dapat dikelompokkan berdasarkan jenis agunan dengan sebagai berikut: 1. Agunan berupa objek yang dibiayai

Fungsi agunan berupa objek yang dibiayai tersebut tidak hanya sebagai bukti penggunaan kredit, keseriusan atau kesungguhan calon debitur, tetapi juga sebagai faktor pengurang risiko kredit dikemudian hari jika fasilitas kredit yang diberikan tersebut mengalami macet/unpaid.

2. Agunan berupa Fixed Asset

Selain agunan itu merupakan objek yang dibiayai, maka untuk mengurangi risiko dikemudian hari, bank mengutamakan untuk memperoleh fixed asset sebagai agunan.

3. Agunan berupa barang dagangan.

Khusus untuk kredit modal kerja, maka yang menjadi agunan adalah objek yang dibiayai dengan dana dari kredit modal kerja tersebut, yaitu berupa persediaan barang dagangan dan piutang dagang. Namun, mengingat pada kenyataannya persediaan barang dagangan dan piutang dagang tersebut sangat sulit untuk dikontrol, maka untuk menjamin pelunasan, Bank akan meminta kepada debitur untuk menyerahkan agunan berupa fixed asset milik debitur yang bersifat marketable, mempunyai nilai ekonomis dan secured.

4. Jenis agunan kebendaan yang diterima Bank

Tidak semua benda diterima Bank untuk diagunkan, maka Bank menentukan jenis agunan kebendaan yang diterima yaitu sebagai berikut:

a. Benda Bergerak

1) Agunan tunai, berupa:

a) Deposito Berjangka Bank Mandiri

b) Tabungan Bank Mandiri (akan diatur dalam ketentuan produk). 2) Piutang dagang atau hak tagih dan hak atas pendapatan yang akan

diterima.

3) Persediaan barang (stock).

4) Kendaraan bermotor (apabila sebagai barang dagangan). 5) Hak sewa atas toko termasuk ruko (rumah toko)

b. Benda Tidak Bergerak

1) Tanah (Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan) yang perikatan agunan ini dilakukan dengan Hak Tanggungan. Apabila

(5)

Volume III No. 1 Februari 2015 75 yang menjadi agunan hanya bangunan yang didirikan di atas tanah tersebut maka perikatannya secara Fidusia.

2) Bangunan yang diikat secara fidusia, karena tidak dapat diikat Hak tanggungan.

3) Mesin-mesin dan inventaris kantor yang telah secara permanen terpasang/terinstalasi.

4) Kendaraan bermotor (bukan sebagai barang dagangan). 5) Hak Milik atas satuan rumah susun.

c. Guarantee

1) Personal Guarantee

Agunan perorangan (Personal Guarantee) adalah suatu perjanjian penanggungan hutang dimana pihak ketiga mengikatkan diri untuk memenuhi kewajiban debitur dalam hal debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya.

a) Perjanjian penanggungan hutang ini harus dinyatakan secara tegas didalam suatu perjanjian. Hal yang penting diperhatikan apabila bank menerima agunan pribadi (personal guarantee), adalah: Kewenangan dan kecakapan pemberi jaminan.

Pemberi jaminan telah cakap hukum, sudah berumur 21 tahun atau sudah menikah.

b) Bila sudah menikah maka harus ada persetujuan dari istri /suami (sepanjang tidak ada perjanjian pemisahan harta kekayaan).

2) Corporate Guarantee

Corporate Guarantee adalah jaminan yang diberikan oleh badan usaha yang berbadan hukum. Terhadap Corporate Guarantee ini harus diteliti dan yakini, hal-hal sebagai berikut:

a) Pengurus yang sah mewakili badan hukum tersebut sesuai anggaran dasar maupun akta pendirian atau perubahan akta pendirian yang terakhir dan masih berlaku.

b) Pemberian Corporate Guarantee telah memperoleh persetujuan tertulis melalui Berita Acara RUPS.

c) Performance dan bonafiditas badan hukum pemberi jaminan

dianalisa untuk memastikan apakah ia mampu atau tidak untuk membayar hutang debitur yang dijaminnya.

5. Agunan pihak ketiga

Yang dimaksud dengan agunan pihak ketiga adalah agunan yang dimiliki oleh pihak lain diluar debitur sebagai subjek hukum. Agunan pihak ketiga ini sebaiknya dihindari . Dan agunan pihak ketiga yang dapat diterima Bank adalah yang memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Pihak ketiga tersebut memiliki hubungan keluarga satu derajat (orang tua, suami/istri, kakak, adik), kepengurusan (direksi dan atau pemegang saham) atau termasuk group usaha debitur.

b. Pihak ketiga menyerahkan surat pernyataan yang berisi bahwa yang bersangkutan mengetahui/memahami segala risiko yang mungkin timbul

(6)

Volume III No. 1 Februari 2015 76 sebagai akibat dari assetnya diserahkan sebagai agunan kredit sampai kredit dinyatakan lunas.

c. Pihak ketiga ikut serta menandatangani perjanjian pengikatan agunan.

6. Agunan berupa tanah dan bangunan, yang hak kepemilikan tanahnya berbeda dengan hak atas bangunannya. Jika kepemilikan tanah dan bangunannya berbeda maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Ada perjanjian tertulis penggunaan tanah antara pemilik tanah dengan pemilik agunan.

b. Hak-hak dan kewajiban-kewajiban dari pemilk tanah dan pemilik bangunan yang terdapat pada perjanjian sebagai mana terdapat pada butir a di atas. c. Potensi risiko adanya perbedaan jangka waktu hak penggunaan tanah dan

bangunan dengan jangka waktu kreditnya.

d. Apabila bank akan menerima agunan dengan kepemilikan tanah dan bangunan yang berbeda, hal-hal tersebut di atas beserta mitigasinya (seperti : persetujuan pemilik tanah atau bangunan serta pihak-pihak yang menandatangani perjanjian pengikatan agunan) harus dituangkan dalam Nota Analisa dan diputus oleh pejabat pemegang kewenangan sesuai limit kewenangan.

H. Kecukupan Agunan

Besarnya coverage agunan berupa fixed asset yang dipersyaratkan untuk Kredit Mikro (limit s.d Rp. 100 juta) maupun kredit kepada BPR diatur dalam ketentuan masing-masing Kredit Program.

I. Dasar-Dasar Penetapan Penilaian Agunan

Agunan merupakan salah satu unsur dalam analisis kredit, oleh karena itu barang-barang yang diserahkan debitur kepada bank harus dinilai sebelum kredit diberikan dan hasil penilaian atas harga barang atau nilai pasar yang dapat diterima Bank harus dicantumkan dalam analisa kredit.

Credit Operation unit melakukan penilaian harga barang-barang tersebut karena harga yang dicantumkan oleh debitur tidak selalu menunjukkan harga yang sesungguhnya (harga pasar pada saat itu).

Secara umum dasar-dasar penilaian agunan mengacu kepada ketentuan tersendiri mengenai penilaian agunan yang dikeluarkan oleh credit operations group dan perubahan-perubahannya yang berlaku.

Secara umum penilaian agunan dilakukan sebagai berikut: 1. Persediaan (stock)

Yang dimaksud dengan agunan berupa persediaan (stock) adalah semua persediaan dari barang-barang yang merupakan obyek pembiayaan yang ada pada perusahaan tersebut. Jumlah yang akan dinilai dan diikat tergantung kepada keadaan perusahaan debitur.

2. Piutang Dagang

Piutang dagang adalah tagihan-tagihan yang timbul karena adanya penjualan secara kredit dan secara normal dapat diterima dalam jangka pendek.

3. Tanah dan bangunan

Tanah dan bangunan yang diterima sebagai agunan adalah bangunan yang berdiri di atas hak milik, Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usaha, Hak Pakai, dan Hak

(7)

Volume III No. 1 Februari 2015 77 Milik atas satuan rumah Susun yang diikat hak tanggungan, serta bangunan yang terletak di atas tanah dengan hak lainnya yang diikat secara fiducia.

4. Kendaraan bermotor

Kendaraan bermotor adalah angkutan darat yang mempergunakan motor sebagai tenaga penggeraknya dan yang dipergunakan baik untuk usaha maupun keperluan pribadi seperti motor dan mobil.

J. Pengikatan Agunan

Nilai pengikatan agunan minimal sebesar nilai agunan atau minimal 120% dari limit kredit yang diberikan. Dalam hal agunan fixed asset, maka dalam pengikatan agunan secara Hak Tanggungan dan Hipotik, bank diutamakan menjadi kreditur peringkat pertama. Dan dalam hal agunan berupa benda bergerak yang tidak memiliki tanda bukti kepemilikan yang diikat secara fidusia, maka Bank meminta invoice asli atas barang dimaksud dan dalam akte jaminan fidusia wajib memuat spesifikasi barang yang diagunkan secara lengkap dan jelas dan dalam akta pengikatan agunan, agar disebutkan bahwa yang diikat adalah barang agunan berikut seluruh hak klaim asuransinya. Khusus untuk Kredit Investasi, pengikatan agunan dilakukan sekaligus minimal sebesar limit kredit yang diberikan.

Mengacu pada Peraturan Menteri Negara Agraria No. 4 Tahun 1996 tentang Penetapan Batas Waktu Penggunaan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan untuk menjamin pelunasan kredit-kredit tertentu dan SK Direksi Bank Indonesia No.26/24/KEP/Dir tanggal 29 Mei 1993, Khususnya untuk kredit kepada usaha kecil: 1. Kredit Kepada Kopersi Unit Desa.

2. Kredit usaha Tani.

3. Kredit kepada koperasi primer untuk anggotanya. 4. Kredit kelayakan usaha.

Dengan Plafon kredit tidak melebihi Rp. 50 juta, dapat dilakukan pengikatan dengan menggunakan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggunagan (SKMHT).

Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggunagan (SKMHT) yang diberikan untuk menjamin pelunasan kredit dengan objek Hak Tanggungan berupa hak atas tanah yang pensertifikatannya sedang dalam pengurusan, berlaku sampai tiga bulan sejak tanggal dikeluarkannya sertifikat hak atas tanah yang menjadi objek hak tanggungan.

Khusus agunan benda bergerak untuk kredit mikro (limit s.d Rp.100 juta), dapat dilakukan mitigasi dengan cara menerima surat kuasa menjual dari debitur, memblokir pada instansi yang berwenang, dan menyimpan asli bukti kepemilikan agunan.

K. Pertanggungan Agunan

Perusahaan asuransi merupakan suatu lembaga yang sengaja dirancang dan dibentuk sebagai lembaga pengambil alih dan penerima risiko. Dengan demikian perusahaan asuransi pada dasarnya menawarkan jasa proteksi sebagai bentuk produknya

(8)

Volume III No. 1 Februari 2015 78 kepada masyarakat yang membutuhkan dan selanjutnya diharapkan akan menjadi pelanggannya.

Berdasarkan Pasal 246 KUHDagang disebutkan bahwa : “Asuransi adalah suatu perjanjian dimana penanggung dengan menikmati suatu premi mengikatkan dirinya terhadap tertanggung untuk membebaskannya dari kerugian karena kehilangan, kerusakan atau ketiadaan keuntungan yang diharapkan yang akan diderita olehnya karena suatu kejadian yang tidak pasti.”

Dengan demikian tujuan umum dari asuransi adalah untuk memperalihkan risiko dari pihak yang satu (tertanggung) kepada pihak yang lain (penanggung), yang berarti penanggung membayar ganti rugi kepada tertanggung jika terjadi kerugian, dan sebagai kontraprestasinya, tertanggung harus membayar premi kepada penanggung.

Untuk mengamankan terhadap barang-barang yang diagunkan dan untuk memperkecil risiko atas kredit yang diberikan, maka selama jangka waktu kredit, agunan yang insurable harus diasuransikan pada perusahaan asuransi rekanan PT. Bank Mandiri.

Untuk lebih menjamin kepentingan bank maka setiap penutupan asuransi di dalam polis asuransi dicantumkan/dilekatkan Banker’s Clause atas nama bank. Banker’s Clause adalah suatu klausula atau syarat khusus yang wajib tertulis dan terlekat pada polis atas harta benda atau benada yang pertanggungkan di bawah polis tersebut.

L. Jenis pertanggungan

Dalam hubungannya dengan usaha bank, secara umum jenis asuransi yang digunakan untuk menutup asuransi agunan nasabah adalah:

1. Jika jenis agunannya bangunan/gedung termasuk peralatan/perabot atau isinya maka jenis pertanggungannya adalah asuransi kebakaran.

2. Jika jenis agunan berupa barang persediaan atau barang dagangan, maka jenis pertanggungannya adalah asuransi kebakaran (deklarasi).

3. Dalam hal obyek agunan berlokasi di daerah pasar maka jenis pertanggungannya adalah konsorsium asuransi Kebakaran resiko khusus pasar.

4. Untuk agunan berupa kendaraan bermotor maka jenis pertanggungannya all risk atau total loss only.

5. Untuk agunan berupa barang-barang elektronik jenis pertanggungannya adalah electronic equipment insurance.

Jika perlu, untuk kepentingan bank jenis pertanggungan dapat diperluas sesuai kebutuhan misalnya asuransi kebanjiran, gempa, huru-hara, business interuption dan lain-lain. Khusus untuk kredit mikro (limit sampai dengan 100 juta), jenis pertanggungan diatur dalam ketentuan kredit program.

M. Pengawasan dan Laporan

Credit Operations Unit bersama-sama dengan unit kerja pengelola debitur harus selalu melakukan monitoring untuk memastikan bahwa seluruh agunan nasabah debitur yang insurable telah diasuransikan, polis asuransi dengan banker’s clause telah dikuasai bank, pembayaran premi telah dipenuhi oleh nasabah dengan tertib, jangka waktu

(9)

Volume III No. 1 Februari 2015 79 pertanggungan belum berakhir atau telah diajukan perpanjangannya dan peruntukan agunan sesuai dengan peruntukan yang tercantum dalam polis asuransi. Khusus kredit mikro (limit sampai dengan 100 juta), fungsi Credit Operations unit dilakukan oleh pejabat yang berwenang di unit mikro.

N. Prosedur Penilaian Agunan dan Penilaian Kembali Agunan

Prosedur penilaian dan penilaian kembali atas agunan mengacu pada ketentuan mengenai Penilaian Agunan yang diterbitkan oleh Credit Operation Unit dan perubahan-perubahannya yang berlaku.

Penilaian kembali barang agunan untuk kredit kategori performing loan (kolektibilitas 1 dan 2) dilakukan dua tahun sekali dan untuk kategori performing loan harus dilakukan penilaian ulang setiap satu kali satu tahun. Penilaian ulang dapat dilakukan pada saat perpanjangan, perubahan jumlah kredit, penggantian agunan atau restrukturisasi dan pembentukan penyisihan penghapusan aktiva (PPA). Apabila nilai agunan setelah penilaian kembali menjadi kurang dari ketentuan yang telah ditetapkan, maka bank harus meminta lagi tambahan aguan kepada debitur untuk menutupi kekurangan tersebut, atau meminta debitur membayar sebagian kewajibannya, sehingga minimum nilai agunan kembali mencukupi kecuali diputuskan lain oleh pejabat sesuai limit kewenangan.

O. Penilai Agunan

Ketentuan mengenai penilai agunan yang dilakukan secara internal oleh bank dilakukan sesuai ketentuan penilaian agunan yang diterbitkan oleh Credit Operations Unit dan perubahan-perubahannya yang berlaku.

Dalam hal penilaian agunan diakukan oleh penilai independen maka penilai internal wajib melakukan review dan hasil review tersebut bersifat final. Penilaian agunan oleh perusahaan penilai independen bukan rekanan bank yang dapat diterima. P. Pembahasan

Dalam pemberian kredit ini PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk. Micro Business Unit Katamso, Medan meminta agunan untuk meminimalkan risiko kredit. Tujuan Bank Mandiri dalam penguasaan agunan kredit adalah untuk memberikan hak dan kekuasaan kepada bank untuk menjamin pelunasaan dengan agunan apabila debitur cidera janji, menjamin agar debitur menjalankan usahanya dengan baik, serta memberi dorongan kepada debitur untuk memenuhi perjanjian kredit.

Tidak semua jenis benda yang dapat diterima bank sebagai agunan. Yang umum diterima bank sebagai jaminan adalah :

1. Jaminan perorangan

Jaminan perorangan (pribadi) adalah jaminan yang diberikan oleh pihak ketiga (guarantee) kepada orang lain (kreditur) yang menyatakan bahwa pihak ketiga menjamin pembayaran kembali suatu pinjaman sekiranya yang berutang (debitur) tidak mampu dalam memenuhi kewajiban-kewajiban finansialnya terhadap kreditur (bank). Dalam jaminan perorangan ini memiliki 3 pihak yang terlibat yaitu debitur (peminjam), kreditur (pemberi pinjaman), dan pihak ketiga yang menanggung apabila pihak debitur tidak bisa membayar hutang.

(10)

Volume III No. 1 Februari 2015 80 Hak kebendaan atau zakelijk recht adalah hak mutlak atas suatu benda dimana hak itu memberikan kekuasaan langsung atas sesuatu benda dan dapat dipertahankan terhadap siapapun.

Dan hak kebendaan ini ada beberapa macam, sebagai berikut:

a. Hak kebendaan yang dapat dinikmati seperti hak milik, bezit, hak memungut hasil, hak pakai dan hak mendiami.

b. Hak kebendaan yang memberikan jaminan seperti hak tanggungan, hipotik dan gadai.

Namun yang sering diterima PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, Mikro Business Unit Katamso Medan sebagai agunan adalah sebagai berikut:

a. Benda bergerak

1) agunan tunai berupa: a) Deposito Berjangka b) Tabungan Bank Mandiri 2) Piutang dagang atau hak tagih 3) Persediaan barang

4) Kendaraan bermotor (apabila sebagai barang dagangan) 5) Hak sewa atas toko termasuk ruko

b. Benda tidak bergerak 1) Tanah

2) Bangunan yang diikat secara fidusia, karena tidak dapat diikat Hak Tanggungan

3) Peralatan kantor 4) Kendaraan

5) Hak milik atas satuan rumah susun

Persyaratan kecukupan agunan berupa aktiva tetap telah ditetapkan untuk Kredit Mikro dan diatur dalam ketentuan kredit program. Nilai pengikatan agunan dalam menentukan limit pemberian kredit minimal sebesar nilai agunan namun ketentuan nilai pengikatan agunannya minimal 120% dari limit kredit yang diberikan.

Agunan merupakan salah satu unsur dalam analisis kredit oleh karena itu dilakukan dasar-dasar penetapan penilaian agunan. Dan secara umum dasar-dasar penilaian agunan mengacu kepada ketentuan tersendiri yang dikeluarkan oleh credit operations group.

Penilaian agunan secara umum dilakukan dengan cara:

1. Jika persediaan maka semua persediaan dari barang-barang yang merupakan obyek pembiayaan yang ada pada perusahaan tersebut.

2. Tanah dan bangunan yang diterima sebagai agunan adalah bangunan yang berdiri di atas Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usaha, Hak Pakai, dan Hak Milik atas satuan rumah susun yang diikat hak tanggungan.

3. Kendaraan bermotor angkutan darat yang mempergunakan motor sebagai tenaga penggeraknya dan yang dipergunakan baik untuk usaha maupun keperluan pribadi seperti motor dan mobil.

(11)

Volume III No. 1 Februari 2015 81 Setelah kredit berlangsung PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, Micro Business Unit Katamso Medan melakukan penilaian kembali atas agunan berdasarkan performing loan. Dan penilaian ulang ini dapat dilakukan pada saat perpanjangan, perubahan jumlah kredit, penggantian agunan.

Penilaian terhadap objek agunan ini dilakukan oleh pihak intern Bank Mandiri dan apabila dilakukan oleh independen perusahaan akan di review oleh Bank Mandiri dan menjadi final.

Setelah dilakukan penilaian agunan dan semua data agunan telah sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan maka dilakukan pengikatan agunan. Pengikatan agunan dengan menggunakan hak tanggungan jika tanah dan bangunan tersebut telah berdiri atas Hak Milik, Hak Guna Bangunan, dan Hak Guna Usaha dan bangunan yang terletak di atas tanah dengan hak lainnya yang diikat secara fiducia seperti rumah susun.

Namun jika hak atas tanah yang persertifikatannya sedang dalam pengurusan, maka pengikatan agunan dapat diikat dengan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) yang berlaku sampai 3 bulan sejak dikeluarkannya sertifikat hak atas tanah yang menjadi objek tanggungan.

Untuk agunan benda bergerak untuk kredit mikro dapat dilakukan dengan cara menerima surat kuasa menjual dari debitur, memblokir pada instansi yang berwenang, dan menyimpan asli bukti kepemilikan.

Setelah dilakukan pengikatan agunan tersebut untuk mengamankan agunan yang telah diserahkan kepada PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk. Micro Business Unit Katamso Medan maka semua agunan tersebut harus diasuransikan ke perusahaan asuransi. Agunan ini akan diasuransikan ke perusahaan asuransi rekanan Bank Mandiri. Dalam pengcoveran asuransi agunan ini ditentukan jenis agunan yang digunakan untuk setiap asuransi. Untuk jenis agunan berupa bangunan/gedung termasuk peralatan/perabot atau isinya maka jenis pertanggungannya adalah asuransi kebakaran, jika agunan tersebut berlokasi di daerah pasar maka jenis pertanggungannya adalah asuransi kebakaran dan untuk kendaraan bermotor jenis pertanggungannya all risk atau total loss only, sementara untuk barang-barang elektronik jenis pertanggungannya adalah electronic equipment insurance, untuk keperluan bank jenis pertanggungan dapat diperluas sesuai kebutuhan misalnya asuransi kebanjiran dan gempa.

Q. Kesimpulan

Berdasarkan adanya ketentuan yang berlaku yang berupa Standar Prosedur Kredit Mikro PT. Bank Mandiri (Persero) dan ketentuan-ketentuan lainnya yang berlaku, maka semua komponen staff dan manajemen PT. Bank Mandiri telah melaksanakan kegiatan pemberian kredit mikro dengan tetap mengutamakan aspek safety secara hukum.

DAFTAR PUSTAKA

Pemerintah Republik Indonesia, 1998, Undang-Undang Republik Indonesia No.10 Tahun 1998 tentang Perbankan, Jakarta.

(12)

Volume III No. 1 Februari 2015 82 Bank Indonesia, 2012, Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/15/PBI/2012 tentang

Penilaian Kualitas Aset Bank Umum, Jakarta.

PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk., 2014, Standar Prosedur Kredit Mikro PT. Bank Mandiri (Persero), Jakarta.

Pemerintah Republik Indonesia, _____, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHP), Jakarta.

Pemerintah Republik Indonesia, _____, Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), Jakarta.

Pemerintah Republik Indonesia, 1996, Peraturan Menteri Negara Agraria No. 4 Tahun 1996 tentang Penetapan Batas Waktu Penggunaan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan, Jakarta.

Bank Indonesia, 1993, Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.26/24/KEP/Dir tanggal 29 Mei 1993, tentang pemberian Kredit kepada Usaha Kecil, Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

memberikan perintah kepada mambang- mambang agar masuk ke dalam tubuh si pelaku bianggung, dan musik juga berfungsi sebagai pengiring / mengiringi pada saat si

ISPA adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat berlangsung sampai 14 hari, dimana secara klinis suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi di

Hasil penelitian sekarang bahwa hasil penelitian sekarang sejalan dengan penelitian yang sebelumnya, yaitu penerapan standar akuntansi pemerintah daerah berbasis

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat diperoleh suatu metode proses sterilisasi yang baik dan sesuai untuk sterilisasi sarung tangan reuse dan sebagai

 SPACE-FILL phrase menyababkan bila posisi-posisi fieldd data-item dilayar tidak di isi dengan data (langsung menekan enter) akan terisi blank pada layar tetapi field

Latar belakang penelitian analisis studi kasus krisis ketersedian air di musim kemarau dalam upaya untuk menanggulangi di masyarakat desa butuh kecamatan kras kabupaten

perangkat lunak yang dimaksud adalah sistem pakar untuk mendiagnosis kerusakan mesin die casting 350 ton yang di desain untuk memodelkan/mengemulasi kemampuan seorang pakar

(Hasil Wawancara dengan Tata, wawancara 11 November 2015, di Loby Fakultas Komunikasi Bisnis, Telkom University) Dari hasil wawancara tersebut terlihat bahwa di dalam