• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN KONSUMSI PANGAN DAN STATUS GIZI ANAK JALANAN DI KOTA MEDAN TAHUN 2014 ABSTRACT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAMBARAN KONSUMSI PANGAN DAN STATUS GIZI ANAK JALANAN DI KOTA MEDAN TAHUN 2014 ABSTRACT"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

GAMBARAN KONSUMSI PANGAN DAN STATUS GIZI ANAK JALANAN DI KOTA MEDAN

TAHUN 2014

Adry Ridhwanah1, Zulhaida Lubis 2, Ernawati Nasution 3

1

Program Sarjana FKM USU Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat

2

Staf Pengajar FKM USU Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat

ABSTRACT

Street children are one of the groups in the community at risk of malnutrition. That is because the diet of street children are generally inadequate and irregular. The purpose of the study was to determine food consumption and nutritional status of street children in the city of Medan in 2014.

This research is a descriptive survey. Samples were street children as many as 78 people. The food consumption data types and frequencies were obtained using a food frequency form, while the adequacy of energy and protein was obtained using a 24-hour food recall. Using weighing scales underfoot, and height measurements using microtois. The data collected were analyzed descriptively and presented in the form of a frequency distribution table.

The result of this study showed that most street children have normal nutrition, but there are also who have thin nutritional problems. Malnutrition most aged 15-18 years (25.0%). By gender, nutritional status at most malnutrition men (19.1%). Job begging (25.0%) and income < Rp. 7,000 / day (9.1%) had more lean nutritional status. Most street children are sufficient levels of severe energy deficit levels have malnutrition (66.3%). While street children are normal levels of energy sufficiency, the majority of normal nutritional status (91.3%), and some even obese (8.7%). Malnutrition of street children are found in the protein sufficient levels of moderate deficit (28.6% lean), while street children with normal levels of protein adequacy (91.7%) and mild deficits (95.5%) had a majority of nutritional status normal.

It is suggested to for the Department of Social and Health Service provide the socialization of health services to street children so that they know and understand about health services and special government programs in health services.

Keywords: Food Consumption, Nutritional Status, Street Children PENDAHULUAN

Anak jalanan merupakan fenomena besar di Indonesia. Dibutuhkan upaya yang lebih besar dari pemerintah untuk memberikan rumah singgah kepada anak jalanan untuk mengatasi dan mengurangi banyaknya anak jalanan di Indonesia,

Sebagian besar anak jalanan tidak mendapatkan pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan, menjadi pengamen, dan lain sebagainya. Dan salah satu faktor mereka menjadi anak jalanan adalah karena kemiskinan. (Oktariana,2012).

Anak jalanan merupakan salah satu aset yang sangat berharga untuk menjadi

(2)

2 penerus Indonesia di masa yang akan datang. Sebagian besar hidup anak-anak tersebut ada di jalanan yang notabene merupakan kehidupan yang keras, sehingga tidak mengherankan jika mereka memiliki perilaku dan moral yang sedikit berbeda dari anak seusianya. ( Al affiat, 2012).

Anak membutuhkan asupan gizi yang seimbang dan aktivitas fisik yang cukup agar pertumbuhan dan tinggi badan yang optimal. anak jalanan seharusnya memiliki frekuensi pola makan yang baik dalam masa pertumbuhannya, yang meliputi makanan lengkap (full meal) dan makanan selingan (snack), Untuk membentuk generasi cerdas, banyak faktor yang harus diperhatikan, di antaranya status gizi dan kesehatan. (Hardinsyah, 2012).

Berbagai masalah kesehatan yang di jumpai dikalangan usia anak jalanan secara langsung dilihat dari keadaan zat gizi, karena zat gizi sangat dipengaruhi oleh kecukupan asupan makanan dan keadaan individu. Kedua faktor tersebut selain dipengaruhi oleh masalah ekonomi dan pelayanan kesehatan, juga dipengaruhi pola asuh anak yang tidak memadai. Adapun masalah yang timbul pada anak jalanan yaitu pola makan mereka yang kurang memadai dan tidak teratur.

Menurut profil kesejahteraan sosial anak, hasil Survei dan Pemetaan Sosial Anak jalanan yang dilakukan oleh Unika Atmajaya Jakarta di 12 Kota Besar di Indonesia, menyebutkan jumlah anak jalanan mencapai 39.861 anak. Dari sekitar hampir 40 ribu anak jalanan tersebut, 48 persen adalah anak anak yang baru turun kejalanan sejak tahun 1998 atau setelah terjadinya krisis.

(PKPA, 2002).

Berdasarkan Data Dinas Kesejahteraan dan Sosial Provinsi Sumatera Utara bahwa jumlah anak jalanan di Sumut tahun 2010 berjumlah 2267 jiwa, tahun 2011 berjumlah 2.099

jiwa dan tahun 2012 berjumlah 2948 jiwa. Sedangkan di Kota Medan tahun 2010 berjumlah 63 jiwa, tahun 2011 berjumlah 75 jiwa dan tahun 2012 berjumlah 663 jiwa. Sedangkan untuk tahun 2013 terdapat 350 jiwa, Setiap tahunnya mengalami penurunan dan peningkatan. Dari keseluruhan jumlah total penduduk kota Medan yaitu 2121053 jiwa (BPS Propvinsi Sumut tahun 2010, 2011, 2012 dan 2013).

Berdasarkan survei awal yang dilakukan oleh peneliti diwilayah kota Medan, diperoleh anak jalanan yang sudah putus sekolah, ada yang masih melanjutkan sekolahnya. Seharinya mereka mendapatkan uang ± 7.000-15000/harinya, terkadang juga mengalami penurunan dibawah 7.000/harinya. mereka mangkal disetiap pemberhentian lampu merah, ada yang mengemis, mengamen,berjualan, menjadi tukang semir sepatu. Pada saat mereka melakukan aktifitas di jalan makanan yang sering mereka konsumsi adalah bakwan, tahu isi, kerupuk demi mengisi perut mereka di jalan. Ada juga anak jalanan yang mengatakan tidak sarapan pagi, sementara hanya diwaktu siang hari baru mengisi perutnya dengan nasi bersama temannya. jika asupan zat gizi anak jalanan tidak teratur akan berdampak pada masalah kesehatan yaitu pada masalah status gizi.

Sesuai dengan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Gambaran Konsumsi Pangan dan Status Gizi Anak Jalanan Di Kota Medan Tahun 2014.

Tujuan penelitian adalah untuk menegetahui konsumsi pangan dan status gizi anak jalanan di kota medan tahun 2014.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah survei. Yang bersifat deskriptif, Sampel adalah anak jalanan sebanyak 78 orang.lokasi

(3)

3 penelitian dilaksanakan di kota medan, seperti disimpang Titi Kuning, Simpang juanda, Simpang sei Sikambing, Terminal Pinang Baris, Aksara, Bundaran SIB, Medan Plaza, dan Café harapan. Data konsumsi pangan yaitu jenis dan frekuensi makanan diperoleh menggunakan formulir food frequency, sedangkan kecukupan energi dan protein diperoleh menggunakan food recall 24 jam. Penimbangan berat badan menggunakan timbangan injak, dan pengukuran tinggi badan menggunakan microtois. Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Status Gizi Berdasarkan Karakteristik Anak Jalanan

a. Status Gizi Berdasarkan Umur Dari tabel silang diketahui bahwa anak jalan yang status gizi sangat kurus dan kurus ditemukan pada umur 8-11 tahun (19,0% kurus), umur 12-14 tahun (7,7% sangat kurus, dan 11,5% kurus) dan umur 15-18 tahun (3,6 sangat kurus, dan 25,0 kurus)

Tabel 1. Tabel Silang Antara Status Gizi Berdasarkan Umur Anak Jalanan

Umur

Status Gizi

n % Sangat

Kurus Kurus Normal Gemuk f % f % f % f %

5-7 tahun 0 0,0 0 0,0 3 100,0 0 0,0 3 100,0 8-11 tahun 0 0,0 4 19,0 16 76,2 1 4,8 21 100,0 12-14 tahun 2 7,7 3 11,5 20 76,9 1 3,8 26 100,0 15-18 tahun 1 3,6 7 25,0 20 71,4 0 0,0 28 100,0

Kelompok umur 12-14 tahun merupakan kelompok umur dimana remaja sedang dalam masa pubertas yang membuat sikap mereka kadang tidak menentu. Hal ini juga dapat berakibat mereka jadi lebih suka memilih-milih makanan atau makan tidak teratur. Sedangkan pada kelompok umur 5-7 tahun dan 8-11 tahun lebih banyak yang berstatus gizi normal, yang disebabkan

pada kelompok umur tersebut anak jalanan masih teratur makan dan diawasi orang tua.

Status gizi kurus dan kurus pada umur ≥ 12 tahun dikarenakan anak jalanan masih merupakan kelompok remaja, dimana kebutuhan gizi pada usia remaja lebih tinggi daripada usia anak. Remaja merupakan masa transisi dari usia anak menjadi dewasa. Masa transisi ini terjadi karena banyak perubahan yang terjadi pada diri remaja, seperti perubahan biologis, berupa pertumbuhan dan perkembangan fisik tubuh menjadi tubuh dewasa.

Kelompok umur usia remaja juga merupakan kelompok umur dimana remaja sedang dalam masa pubertas yang membuat sikap mereka kadang tidak menentu. Hal ini juga dapat berakibat mereka jadi lebih suka memilih-milih makanan atau makan tidak teratur. selain itu selama bekerja mereka lebih sering jajan dan ngemil.

b. Status Gizi Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan jenis kelamin, diketahui bahwa persentase status gizi sangat kurus paling banyak pada perempuan (10,0%), sedangkan persentase status gizi kurus paling banyak pada laki-laki (19,1%).

Tabel 2. Tabel Silang Antara Status Gizi Berdasarkan Jenis Kelamin Anak Jalanan di Jensi Kelamin Status Gizi n % Sangat

Kurus Kurus Normal Gemuk f % f % f % f %

Laki-Laki 2 2,9 13 19,1 51 75,0 2 2,9 68 100,0 Perempuan 1 10,0 1 10,0 8 80,0 0 0,0 10 100,0

Secara persentase menunjukkan bahwa anak jalanan laki-laki dan perempuan memiliki risiko status gizi sangat kurus atau kurus. Hal ini disebabkan karena remaja laki-laki

(4)

4

membutuhkan lebih banyak energi

dibandingkan remaja perempuan sehingga ketika mereka beraktivitas lebih banyak energi yang dikeluarkan.

Mardayanti (2008), mengatakan bahwa laki-laki lebih banyak yang mengalami gizi buruk daripada perempuan karena pada usia remaja perempuan lebih banyak menyimpan lemak dalam tubuhnya. Pada masa pubertas perempuan menyimpan lemak sebesar 14% dan bertambah menjadi 27% pada saat dewasa. Berbeda dengan laki-laki yang pada masa remaja justru hanya menyimpan lemak sebesar 11% saja dan akan terus seperti itu hingga dewasa.

c. Status Gizi Berdasarkan Pendidikan Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa status gizi kurus ditemukan pada semua tingkat pendidikan anak jalanan. Status gizi sangat kurus ditemukan pada pendidikan SD (13,3%) dan SLTP (5,9%), namun status gizi gemuk juga ditemukan pada tinggat pendidikan tersebut (6,7% SD, dan 5,9% SLTP).

Tabel 3. Tabel Silang Antara Status Gizi Berdasarkan Pendidikan Anak Jalanan

Pendidikan

Status Gizi

n % Sangat

Kurus Kurus Normal Gemuk f % f % f % f % Putus Sekolah 0 0,0 7 26,9 19 73,1 0 0,0 26 100,0 Belum Sekolah 0 0,0 1 100,0 0 0,0 0 0,0 1 100,0 SD 2 13,3 2 13,3 10 66,7 1 6,7 15 100,0 SLTP 1 5,9 2 11,8 13 76,5 1 5,9 17 100,0 SLTA 0 0,0 2 10,5 17 89,5 0 0,0 19 100,0

Apabila dikaitkan antara pendidikan dengan status gizi anak jalan, maka terlihat bahwa status gizi kurus ditemukan pada semua tingkat pendidikan anak jalanan. Terjadinya masalah tersebut dapat dikarenakan rendahnya pendidikan anak jalanan, sehingga menyebabkan kurangnya pengetahuan anak jalanan terutama tentang gizi, dan kemampuan untuk menerapkan informasi gizi dalam kehidupan sehari-hari. Hal senada juga disebutkan Depkes (2007), tinggi rendahnya pendidikan dan pengetahuan

tentang gizi erat kaitannya dengan keadaan gizi masyarakat.

Anak jalanan yang masih sekolah maupun putus sekolah memiliki tingkat pendidikan SMP. Anak jalanan berhenti sekolah dan memilih untuk mencari uang di jalan disebabkan oleh ketidakmampuan ekonomi. Selain faktor ekonomi, anak jalanan mengaku tidak mau melanjutkan sekolah karena usia anak jalanan sudah tua sehingga malu untuk kembali lagi ke sekolah dan malas untuk mengingat pelajaran. Banyak anak jalanan menolak untuk kembali lagi ke sekolah. Alasan utamanya adalah malu karena sudah merasa besar, sudah tidak mampu lagi mengikuti pelajaran sekolah, lebih senang bekerja dan ingin membantu atau meringankan beban orangtua.

d. Status Gizi Berdasarkan Pekerjaan Sebagian besar anak jalanan bekerja sebagai pengamen, namun status gizi sangat kurus ditemukan pada anak jalanan yang bekerja sebagai pedagang asongan (13,0%). Persentase status gizi kurus paling banyak ditemukan pada anak jalanan yang mengemis (25,0%). Sementara status gizi gemuk ditemukan pada anak jalanan yang bekerja sebagai pengamen (6,9%).

Tabel 4. Tabel Silang Antara Status Gizi Berdasarkan Pekerjaan Anak Jalanan

Pekerjaan

Status Gizi

n % Sangat

Kurus Kurus Normal Gemuk f % f % f % f %

Pdg. Asongan 3 13,0 3 13,0 17 73,9 0 0,0 23 100,0 Ngamen 0 0,0 5 17,2 22 75,9 2 6,9 29 100,0 Mengemis 0 0,0 4 25,0 12 75,0 0 0,0 16 100,0 Semir Sepatu 0 0,0 2 20,0 8 80,0 0 0,0 10 100,0

Aktivitas yang anak jalanan kerjakan di jalan membuat pola makan mereka menjadi tidak teratur dan banyaknya energi yang dikeluarkan daripada energi yang seharusnya masuk ke dalam tubuh. Anak jalanan menghabiskan waktunya di jalan tidak

(5)

5 hanya untuk bekerja, namun juga ada yang menghabiskan waktunya untuk hal lain karena tidak ingin pulang ke rumah cepat-cepat. Meskipun beberapa anak jalanan masih dapat membagi waktunya untuk makan dan beristirahat.

Survey yang dilakukan oleh Menteri Kesejahteraan Sosial dan Pusat Penelitian Universitas Atmajaya pada tahun 1999 dalam kaitannya dengan pemetaan terhadap anak jalanan di mana hasilnya mengungkapkan bahwa mayoritas anak jalanan (60%) telah menjalani kehidupannya sebagai anak jalanan selama lebih dari 2,5 tahun, 17,4% di antaranya telah hidup di jalanan kurang dari 2 tahun, 6,8% bahkan telah menjalani kehidupan di jalanan selama 6-9 tahun, dan 6,8% lainnya bahkan telah hidup di jalanan selama lebih dari 10 tahun.

e. Status Gizi Berdasarkan Penghasilan Semakin tinggi penghasilan anak anak jalanan, maka status gizinya juga semakin baik. Hal tersebut terlihat dari penghasilan anak jalanan ≤ Rp. 15.000 /hari yang memiliki status gizi sangat kurus, dimana persentase tertinggi pada penghasilan < Rp. 7.000 /hari (9,1%). Meskipun status gizi kurang ditemukan pada anak jalanan dengan penghasilan Rp. > 15.000 /hari, namun status gizi gemuk (4,8%) juga ditemukan pada penghasilan tersebut.

Tabel 5. Tabel Silang Antara Status Gizi Berdasarkan Penghasilan Anak Jalanan

Penghasilan

Status Gizi

n %

Sangat

Kurus Kurus Normal Gemuk

f % f % f % f %

< Rp. 7000 /hr 2 9,1 6 27,3 14 63,6 0 0,0 22 100,0 Rp. 7000–15.000 /hr 1 2,9 7 20,0 26 74,3 1 2,9 35 100,0 > 15.000 /hr 0 0,0 1 4,8 19 90,5 1 4,8 21 100,0

Penghasilan yang minim menyebabkan ketidakmampuan dalam membeli bahan makanan yang bergizi karena harganya tidak terjangkau dan

anak jalanan hanya mampu membeli makanan seadanya tanpa memperhatikan gizi yang terkandung pada makanan. Berdasarkan hasil wawancara di lapangan, beberapa pekerja anak sering mengkonsumsi jajanan pasar seperti roti, gorengan dan krupuk sebagai camilan sehari-hari.

Anak jalanan merupakan kelompok berisiko mengalami gangguan gizi. Anak jalanan merupakan kelompok berisiko dikarenakan kehidupan yang mereka jalani, apalagi pada usia remaja dimana mereka cenderung berperilaku berisiko seperti pola makan yang tidak sehat dan kurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan. Pola makan yang tidak sehat dan kurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan tersebut dipengaruhi oleh kemiskinan.

2. Pola Makan a. Frekuensi Makan

Data hasil penelitian mendapatkan bahwa pola konsumsi makanan anak jalanan berdasarkan konsumsi makanan pokok sudah cukup bervariasi, karena selain mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok, anak jalanan juga mengonsumsi biskuit, roti dan mie. Namun, dalam hal lauk-pauk sebagian besar anak jalanan mengonsumsi sumber protein dari pangan nabati, yaitu tempe (50,0%) dan tahu (59,0%) yang mereka konsumsi 4-5 kali /minggu. Pangan hewani yang dikonsumsi 4-5 kali /minggu adalah telur (43,6%) dan ikan (30,8%), sementara pangan hewani lainnya jarang mereka konsumsi, hal ini terlihat dari konsumsi pangan hewani anak jalanan mayoritas dengan frekuensi 1-3 kali /bulan, bahkan ada anak jalanan yang tidak pernah mengonsumsi pangan hewani, seperti ayam (62,8%), daging (78,2%), kepiting (89,7%), dan udang (53,8%).

(6)

6 Ternyata 10,3% responden mengonsumsi daun ubi setiap hari, dan 6,4% yang mengatakan mengkonsumsi kol setiap hari. Jenis sayuran lainnya, seperti: terong, bayam, kangkung, sawi hijau, wortel, dan kacang panjang jarang mereka konsumsi bahkan ada jalanan yang mengatakan tidak pernah mengonsumsi sayur dengan alasan tidak suka sayur. Sama juga dalam mengonsumsi buah-buahan, sebagian

besar anak jalanan jarang mengonsumsi buah.

Makanan jajanan yang dikonsumsi anak jalanan pada umumnya adalah gorengan, diantaranya pisang goreng (32,1%), tahu goreng (26,9%), tempe goreng (24,4%), dan bakwan (26,9%) yang mereka konsumsi hampir setiap hari (4-5 kali/minggu). Selain gorengan, anak jalanan juga sering mengonsumsi kerupuk. Hasil penelitian selengkapnya dapat dilihat dalam Tabel 6.

Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Frekuensi Makan Anak Jalanan

Nama Bahan Makanan Frekuensi Makan n % 1x /hr 4-5x /mggu 1-3x /mggu 1-3x /bln Tidak Pernah f % f % f % f % f % Makanan Pokok Nasi Biskuit Roti Mie 78 0 0 0 100,0 0,0 0,0 0,0 0 14 31 19 0,0 17,9 39,7 24,4 0 36 30 42 0,0 46,2 38,5 53,8 0 27 16 17 0,0 34,6 20,5 21,8 0 0 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 78 78 78 78 100,0 100,0 100,0 100,0 Lauk-hewani Telur Ayam Daging Kepiting Udang Ikan 0 0 0 0 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 34 0 0 0 0 24 43,6 0,0 0,0 0,0 0,0 30,8 27 14 0 0 9 29 34,6 17,9 0,0 0,0 11,5 37,2 17 15 17 8 36 25 21,8 19,2 21,8 10,3 46,2 32,1 0 49 61 70 42 0 0,0 62,8 78,2 89,7 53,8 0,0 78 78 78 78 78 78 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Lauk nabati Tahu Tempe 0 0 0,0 0,0 39 46 50,0 59,0 29 28 37,2 35,9 10 4 12,8 5,1 0 0 0,0 0,0 78 78 100,0 100,0 Sayur-sayuran Terong Bayam Kangkung Daun Ubi Sawi hijau Kol Sawi putih Wortel Kacang panjang 0 0 0 8 0 5 5 0 0 0,0 0,0 0,0 10,3 0,0 6,4 6,4 0,0 0,0 0 0 12 19 7 13 16 0 6 0,0 0,0 15,4 20,5 9,0 16,7 20,5 0,0 7,7 11 16 15 28 12 19 27 0 12 14,1 20,5 19,2 26,9 15,4 24,4 33,3 0,0 15,4 8 19 29 31 10 29 18 16 11 10,3 24,4 37,2 23,1 12,8 35,9 23,1 20,5 14,1 59 43 22 15 49 13 13 62 49 75,6 55,1 28,2 19,2 62,8 16,7 16,7 79,5 62,8 78 78 78 78 78 78 78 78 78 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Buah-buahan Mangga Rambutan Jambu Air Jeruk Pisang Pepaya Salak Semangka 0 0 0 0 0 0 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0 0 0 0 12 7 0 18 0,0 0,0 0,0 0,0 15,4 9,0 0,0 23,1 9 7 17 23 25 19 11 26 11,5 9,0 21,8 29,5 32,1 24,4 14,1 33,3 69 71 49 31 34 34 46 34 88,5 91,0 78,2 39,7 52,6 43,6 59,0 43,6 78 78 78 78 78 78 78 78 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Makanan Jajanan Pisang gorong 0 0 0,0 0,0 25 21 32,1 26,9 53 57 67,9 73,1 0 0 0,0 0,0 0 0 0,0 0,0 78 78 100,0 100,0

(7)

7 Tahu Goreng Tempe Goreng Bakwan Kerupuk 0 0 0 0,0 0,0 0,0 19 21 39 24,4 26,9 50,0 59 57 39 75,6 73,1 50,0 0 0 0 0,0 0,0 0,0 0 0 0 0,0 0,0 0,0 78 78 78 100,0 100,0 100,0

b. Status Gizi Berdasarkan Kecukupan Energi

Pada umumnya anak jalanan yang tingkat kecukupan energinya defisit tingkat berat memiliki status gizi kurus (66,3%). Hal tersebut berbeda dengan anak jalanan yang tingkat kecukupan energinya defisit tingat sedang dan ringan yang sebagian besar status gizinya normal. Sementara anak jalanan yang tingkat kecukupan energinya normal, maka mayoritas status gizinya normal (91,3%), dan bahkan ada yang gemuk (8,7%).

Tabel 7. Tabel Silang Antara Status Gizi Berdasarkan Kecukupan Energi Anak Jalanan Kecukupan Energi Status Gizi n % Sangat

Kurus Kurus Normal Gemuk f % f % f % f %

Normal 0 0,0 0 0,0 21 91,3 2 8,7 23 100,0 Defisit Ringan 0 0,0 6 20,0 24 80,0 0 0,0 30 100,0 Defisit Sedang 3 18,8 2 12,5 11 68,8 0 0,0 16 100,0 Defisit Berat 0 0,0 6 66,7 3 33,3 0 0,0 9 100,0

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata tingkat kecukupan energi anak jalanan adalah 1.896 kkal (89,5%). Pola konsumsi makanan anak jalanan berdasarkan konsumsi makanan pokok sudah cukup bervariasi, karena selain mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok, anak jalanan juga mengonsumsi biskuit, roti dan mie. Hasil senada juga diperoleh Nur’aini (2009), rata-rata konsumsi energi anak jalanan adalah 1640 Kal sedangkan rata-rata kecukupan energi anak jalanan adalah 1871 Kal. Jika rata konsumsi dibandingkan dengan rata-rata kecukupan maka diperoleh rata-rata-rata-rata Tingkat Kecukupan Gizi (TKG). Rata-rata tingkat kecukupan energi anak jalanan adalah 88 persen dan termasuk ke

dalam kategori defisit tingkat ringan. Rata-rata konsumsi protein anak jalanan adalah 38,7 gram sedangkan rata-rata angka kecukupan protein anak jalanan 46,3 gram.

Banyaknya anak jalanan yang kurus dikarenakan, masih banyak anak jalanan yang makan 2 kali sehari. Dari hasil juga diketahui bahwa pada umumnya anak jalanan sering tidak sarapan sebelum beraktifitas. Anak jalanan yang sarapan, beberapa diantaranya mengonsumsi pisang goreng, roti, dan bahkan ada yang hanya mengonsumsi beberapa potong lontong tanpa tambahan lainnya.

Hasil senada Pramesti dan Kurniajati (2012), di Kediri sebesar 33% anak jalanan masih kekurangan kebutuhan nutrisi dan 40% anak jalanan memiliki status gizi kurang. Demikian juga dengan Kultsum dan Katasurya (2010), di Semarang, prevalensi gizi kurang anak jalanan cukup tinggi yaitu sebesar 30% anak jalanan mengalami

underweight. Berbeda dengan Nur’aini (

2009), di Kota Bandung dimana 3,9% anak jalanan yang mengalami gizi kurang dan 96% anak jalanan justru berstatus gizi normal.

c. Status Gizi Berdasarkan Kecukupan Protein

Status gizi kurus dan kurus ditemukan pada anak jalanan yang tingkat kecukupan proteinnya defisit tingkat sedang (7,1% sangat kurus, dan 28,6% kurus) dan defisit tingkat berat (6,3% sangat kurus, dan 37,5% kurus). Sementara anak jalanan dengan tingkat kecukupan protein normal (91,7%) dan defisit tingkat ringan (95,5%) mayoritas memiliki status gizi normal.

(8)

8 Tabel 8. Tabel Silang Antara Kecukupan

Protein dengan Status Gizi Anak Jalanan Kecukupan Protein Status Gizi n % Sangat

Kurus Kurus Normal Gemuk f % f % f % f %

Normal 0 0,0 0 0,0 11 91,7 1 8,3 12 100,0 Defisit Ringan 0 0,0 0 0,0 21 95,5 1 4,5 22 100,0 Defisit Sedang 2 7,1 8 28,6 18 64,3 0 0,0 28 100,0 Defisit Berat 1 6,3 6 37,5 9 56,3 0 0,0 16 100,0

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata tingkat kecukupan protein anak jalanan adalah 43 gram (81,7%), dimana sebagian besar anak jalanan mengonsumsi sumber protein dari pangan nabati, yaitu tempe (50,0%) dan tahu (59,0%) yang mereka konsumsi 4-5 kali /minggu. Pangan hewani telur (43,6%) dan ikan (30,8%) yang sering dikonsumsi (4-5 kali /minggu), sementara pangan hewani lainnya jarang mereka konsumsi, hal ini terlihat dari konsumsi pangan hewani anak jalanan mayoritas dengan frekuensi 1-3 kali /bulan, bahkan ada anak jalanan yang tidak pernah mengonsumsi pangan hewani, seperti ayam (62,8%), daging (78,2%), kepiting (89,7%), dan udang (53,8%).

Sumber protein hewani yang paling sering dikonsumsi anak jalanan adalah telur, ikan asin, dan daging ayam. Pangan sumber hewani lain yaitu daging sapi dan kambing jarang dikonsumsi anak jalanan. Pangan sumber protein hewani diperoleh anak jalanan dengan membeli kecuali daging sapi dan kambing. Hampir seluruh anak jalanan memperoleh daging sapi dan kambing dari pemberian pada saat Hari Raya Idul Adha.

Survai status gizi terhadap anak jalanan di Jakarta, mendapatkan status gizi berdasarkan TB/U sebagai berikut; 20% gizi kurang dan tidak ada yang gizi buruk. Dari evaluasi diet, didapatkan 69% makan 3 kali sehari dan 29% makan 2 kali sehari. Nasi, sayur, tempe, tahu dan telur dikonsumsi hampir tiap hari dalam seminggu (4-7 hari) oleh sebagian besar

anak. Ikan segar dan buah hanya dikonsumsi 1-2 hari seminggu, dan sebanyak 72-82% dari mereka jarang mengkonsumsi daging dan susu (Handy & Soedjatmiko, 2004).

Hasil senada juga diperoleh Nur’aini (2009), rata-rata konsumsi protein anak jalanan adalah 38,7 gram sedangkan rata-rata angka kecukupan protein anak jalanan 46,3 gram. Rata-rata tingkat kecukupan protein anak jalanan adalah 84 persen dan termasuk ke dalam kategori defisit tingkat ringan. Menurut Sukandar (2007) frekuensi makan mempengaruhi jumlah asupan makanan bagi individu dimana hal tersebut akan berpengaruh terhadap tingkat kecukupan gizi.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa:

1. Paling banyak anak jalanan mempunyai gizi normal, tetapi ada juga yang mempunyai masalah gizi kurus. Gizi kurus paling banyak berumur 15-18 tahun (25,0%) dikarenakan anak jalanan masih merupakan kelompok remaja, sehingga kebutuhan gizi lebih tinggi daripada usia anak dibawah 15 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, status gizi kurus paling banyak pada laki-laki

(19,1%), disebabkan remaja laki-laki beraktivitas lebih banyak dan energi

yang dikeluarkan juga banyak.

Pekerjaan mengemis (25,0%) dan penghasilan < Rp. 7.000 /hari (9,1%) lebih banyak memiliki status gizi kurus, disebabkan aktivitas yang anak jalanan kerjakan di jalan membuat pola makan mereka menjadi tidak teratur, dan penghasilan yang minim menyebabkan ketidakmampuan dalam membeli bahan makanan yang bergizi.

(9)

9 2. Paling banyak anak jalanan yang

tingkat kecukupan energinya defisit tingkat berat memiliki status gizi kurus (66,3%), sementara anak jalanan yang tingkat kecukupan energinya normal, maka mayoritas status gizinya normal (91,3%), dan bahkan ada yang gemuk (8,7%). Status gizi kurus ditemukan pada anak jalanan yang tingkat kecukupan proteinnya defisit tingkat sedang (28,6% kurus), sementara anak jalanan dengan tingkat kecukupan protein normal (91,7%) dan defisit tingkat ringan (95,5%) mayoritas memiliki status gizi normal.

SARAN

1. Pemerintah melalui dinas sosial dapat

membuat suatu program

memberdayakan keluarga dari anak jalanan tersebut sehingga dengan diangkatnya ekonomi keluarga maka anak-anak tidak diperlukan lagi bekerja di jalanan.

2. Dinas Sosial memberikan pendidikan informal kepada anak jalanan terutama yang tidak bersekolah agar memiliki keterampilan khusus, seperti membuat kerajinan tangan.

DAFTAR PUSTAKA

Al affiat, 2012. Anak Jalanan Dan Eksklusi Sosial. Di akses tanggal 2 september 2013 dengan situs http://www.blogspot.com/2012/10 anak-jalanan.html.

Handy Fransisca & Soedjatmiko. 2004. Masalah Kesehatan dan Tumbuh Kembang Pekerja Anak Jalanan di Jakarta. Sari Pediatri, Vol. 5, No. 4, Maret 2004: 138 – 144.

Hardinsyah & Briawan, D. 1994. Penilaian Dan Perencanaan Konsumsi Pangan. Bogor : Pusat Antar Universitas IPB.

KEMENSOS, 2010. Panduan Umum Program Kesejahteraan Sosial Anak. Di akses pada tanggal 31 november 2013 dengan situs pdf kepmenos RI nomor 15 A/2010.dissos.jabarprov.go.id?ph. .

Nur’aini. 2009. Pola Aktifitas, Konsumsi Pangan, Status Gizi Dan Kesehatan Anak Jalanan Di Kota Bandung. Skripsi : Fakultas Ekologi Manusia IPB. Oktariana, R. 2012. Bimbingan

Pendidikan Anak Jalanan. http://www.blogspot.com/2013/03 /suatubimbingan-pendidikan-nak-jalanan.html. diakses pada tanggal 2 september 2013.

Gambar

Tabel 5. Tabel  Silang  Antara  Status  Gizi  Berdasarkan  Penghasilan  Anak  Jalanan
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Frekuensi Makan Anak Jalanan

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pola konsumsi pangan menurut susunan makanan, frekuensi makan, tingkat konsumsi energi dan protein serta status gizi

Berdasarkan pengamatan penulis sebagian besar supir angkot Rahayu Medan Ceria (RMC) trayek 104 memiliki pola konsumsi pangan yang salah yaitu waktu makan yang tidak teratur

Sebagian besar pengetahuan orang tua tentang pola makan pada anak dalam katagori cukup Sebagaian besar status gizi anak dalam katagori kurus Ada hubungan yang

Hubungan Pola Makan, Aktivitas Fisik, Sikap, dan Pengetahuan tentang Obesitas dengan Status Gizi Pegawai Negeri Sipil di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak dengan status gizi kurus sebagian besar mendapatkan asupan karbohidrat kurang yaitu 15 orang anak (21,42%), anak dengan status gizi

Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas gizi dari Puskesmas Kalijudan, dijelaskan bahwa penyebab status gizi kurang disebabkan oleh pola pemberian makan yang

Tidak adanya hubungan yang signifikan antara jenis pekerjaan dan durasi dengan ting- kat kecukupan gizi contoh karena sebagian be- sar contoh menghabiskan waktu di jalan sela-

Tidak adanya hubungan yang signifikan antara jenis pekerjaan dan durasi dengan ting- kat kecukupan gizi contoh karena sebagian be- sar contoh menghabiskan waktu di jalan sela-