• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSES PERADILAN STATUS TANAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROSES PERADILAN STATUS TANAH"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

36

A. Peminjaman Tanah Tahun 1965

Berawal dari babad alas Blora hingga pembangunan rumah Bupati/rumah Kabupaten yang dilakukan oleh Raden Tumenggung Jayeng Tirtonoto saat menjabat sebagai bupati, awalnya rumah Kabupaten masih terbuat dari kayu jati sampai berjalannya waktu rumah tersebut mengalami perbaikan demi perbaikan yang dilakukan oleh keturunan beliau yang menjabat menjadi bupati dan

menggunakan biaya pribadi.1 Hingga pada tahun 1886-1912 bangunan tersebut

direnovasi oleh keturunan beliau Raden Mas Tjokronegoro III dengan menggunakan biaya pribadi. Pada 3 Agustus 1891 saat dilakukan renovasi pembangunan rumah Kabupaten oleh Tjokronegoro III dilakukan upacara peletakan batu pertama yang dijadikan catatan sejarah dan dihadiri oleh jajaran pemerintahan saat itu, peletakan batu pertama saat itu dilakukan oleh putra beliau

yang masih berusia 8 tahun bernama RM Soejoed Koesoemaningrat.2

Dengan adanya peletakan batu pertama yang dihadiri dan disaksikan masyarakat dan pejabat kala itu berisikan bahwa rumah Kabupaten telah direnovasi dengan biaya pribadi dari Tjokronegoro III dan diresmikan oleh putra

sulung.3 Semenjak Bupati Blora tidak dijabat oleh Tjokronegoro III (1912) tahta

1

Riwayat Dibukanya Tanah dan Dibangunnya Rumah Bupati Blora , Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumningrat, Arsip Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat Blora 12 Oktober 2011.

2

Peletakan Batu pertama pendopo Kabupaten Blora tanggal 3 Agustus 1891 oleh RM Soedjoed Kusumaningrat, Koleksi RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip Besluit van Gubernur 24 Juni 1891 No. 22.

3 Ibid

(2)

Bupati yang seharusnya dijalankan oleh RM Soejoed Koesoemaningrat atau setelah dewasa yang lebih dikenal di Blora dengan nama Ndoro Sumo tidak ingin menjadi Bupati dikarenakan suatu hal dan tidak ingin bekerjasama dengan pemerintah kolonial saat itu, sehingga kedudukan Bupati kala itu diserahkan

kepada RM Said Abdulkadir Jaelani atau yang akrab disapa Kanjeng Said.4

Sejak itu tahta Bupati Blora tidak lagi diduduki oleh keturunan dari RT Jayeng Tirtonoto secara berurutan melalui garis keturunan putra lajer dan Kanjeng Said juga diluar garis keturunan RT Jayeng Tirtonoto, meski demikian dalam perijinan menggunakan rumah Kabupaten Kanjeng Said tetap meminta ijin dari

Ndoro Sumo selaku pemilik sah tanah tersebut.5 Setelah berkeluarga Ndoro Sumo

tinggal di sebelah timur rumah Kabupaten yang hingga saat ini ditempati oleh RA

Manik Habsari dan keluarga.6 Setelah Kanjeng Said berhenti menjadi bupati,

jabatan tersebut digantikan oleh Adipati Cakraningrat yang merupakan anak ke-3 dari Tjokronegoro III meski sebagai keturunan RT Jayeng Tirtonoto tetap dalam menggunakan rumah Kabupaten meminta ijin kepada Ndoro Sumo. Setelah ndoro Sumo meninggal pada tahun 1950-an perijinan tentang peminjaman tanah alun-alun, rumah bupati dan magersari diserahkan kepada putra lajer beliau bernama

RM Tejonoto Kusumaningrat.7

4

Wahyu Rizkiawan, “Rr Widyasintha Himayanthi (2): Ungkap Kesaksian Tokoh Blora Mengusir Belanda”, Jawa Pos Radar Bojonegoro, 22 Februari 2016, hlm 34.

5

Wawancara dengan RA Manik Surastri tanggal 13 Januari 2016. 6

Wahyu Rizkiawan, “Rr Widyasintha Himayanthi (2),loc.cit. 7

Riwayat Dibukanya Tanah dan Dibangunnya Rumah Bupati Blora , Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumningrat, Arsip Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat Blora 12 Oktober 2011.

(3)

1. Peminjaman Tanah oleh Pihak Pemerintah/ Instansi

Mulai 1965 masyarakat yang hendak mengadakan acara di alun-alun Blora, bupati terpilih yang menempati rumah Kabupaten/rumah bupati, maupun masyarakat yang meminta ijin bertempat tinggal di magersari yang letaknya persis di sebelah utara rumah pendopo Blora mulai menggunakan surat peminjaman atau permohonan ijin menggunaan tanah yang ditujukan kepada RM Tejonoto Kusumaningrat.

a. Permohonan Peminjaman Kecamatan Kota Blora

Pada 27 Juni 1965 Kecamatan Blora mengirim permohonan peminjaman tanah yang terletak disebelah timur pohon beringin (sebelah timur rumah bupati/ pendopo) kepada RM Tejonoto Kusumaningrat yang akan digunakan untuk pembibitan tanaman-tanaman sebagai program yang telah diharapkan oleh pemerintah. RM Tejonoto memberi ijin kepada pihak Kacamatan Blora secara lisan yang mengatakan ia mengijinkan tanah yang dimaksud untuk dilakukan

program benbibitan.8

b. Permohonan Peminjaman oleh Baproda (Badan Produksi Daerah)

Masih di tahun yang sama Pada 12 Agustus 1965 Ketua Baproda Kecamatan Blora mengirim surat dengan no. Agr.T.10/1129 kepada RM Tejonoto Kusumaningrat perihal pemakaian tanah sebelah barat Kantor Kecamatan Blora (tanah yang dimaksud sekarang terletak di dalam wilayah pendopo sebelah barat), dalam surat tersebut disebutkan bahwa Baproda akan mengadakan percobaan

8

Peminjaman Tanah oleh Dinas Kota Blora 27 Juni 196, Koleksi Keluaraga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip Pemerintah Daerah Kota Blora pgg.24/4.69.

(4)

penanaman bibit murbei sehingga meminta ijin kepada RM tejonoto

Kusumaningrat untuk menggunakan tanah tersebut.9 Penanaman bibit murbei

diharapkan dapat memberi manfaat pada masyarakat daerah sekitar. Pada 19 Agustus 1965 surat yang dikirim oleh Baproda mendapat jawaban dari RM Tejonoto Kusumaningrat yang menyatakan bahwa beliau setuju dengan peminjaman tanah disebalah barat Kantor Kecamatan Blora yang akan digunakan untuk percobaan penanaman bibit murbai, dengan syarat untuk keperluan

penduduk selama jangka waktu peminjaman yang ditentukan.10

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya tahun 1965 terdapat dua surat peminjaman dari pihak pemerintahan terkait penggunaan tanah di area rumah Bupati Blora yang meliputi wilayah Magersari. Hal ini memang sudah dilakukan pada masa Ndoro Sumo sebab tanah tersebut merupakan milik RT Jayeng Trtonoto dan diwariskan secara turun-temurun melalui garis ketururan lajer seperti yang sudah dijelaskan pada pembahsan sebelumnnya. Bahkan meski itu Pemeritah Daerah jika akan menggunakan lahan tersebut tetap harus membuat perijinan secara tertulis kepada pewaris.

2. Peminjaman Tanah oleh Perseorangan

Selain dari pihak instansi yang menggunakan lahan magersari juga terdapat beberapa pegawai Pemerintahan Daerah Blora dan masyarakat umum, namun tetap dengan seijin RM Tejonoto Kusumaningrat. Pertama pada 3 Februari 1968 RM Tejonoto Kusumaningrat memberikan ijin pinjaman tanah kepada

9

Pemakaian Tanah Sebelah Barat Kantor Kecamatan Blora 12 Agustus1965, Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip Badan Produksi Kota Blora Agr.T.10/ 1129.

10 Ibid.

(5)

Soemali selaku Perakit Tata Praja Tingkat I Kantor Kecamatan Kota Blora karena belum memiliki tanah pribadi dan ingin meminjam tanah milik RM Tejonoto

yang terletak di Magersari desa Kunden dengan luas ± (panjang 20 m,

lebar 11 meter) dengan jangka waktu peminjaman ± 5 tahun dengan catatan apabila terdapat perubahan jangka peminjaman dan luas tanah segera melakukan

konfirmasi.11 Selanjutnya di tahun 1966 RM Tejonoto menerima surat

permohonan menempati tanah dari salah satu warga bernama Ngadiran, dalam surat tersebut ia ingin meminjam sajeblokan tanah (satu jengkal tanah) dengan ukuran 17m x 7m yang terletak di depan pohon beringin, karena ia beranggapan

agak kurang pantas apabila menempati lokasi di belakang pohon beringin.12

Tidak hanya masyarakat umum yang belum memiliki tanah yang meminta ijin peminjaman, namun juga para pegawai Pemerintahan yang belum memiliki lahan. Tanggal 23 Maret 1968 dari lurah desa Kunden mengirim surat permohonan meminjam tanah di Magersari yang terletak di halaman depan tepatnya di bagian depan pohon beringin, dalam surat tersebut lurah Kunden mengatakan bahwa ia sudah memiiliki rumah namun belum memiliki tanah sehingga ia ingin meminjam tanah milik RM Tejonoto tersebut dalam jangka

waktu yang ditentukan.13

Pada 29 September 1972 RM Tejonoto Kusumaningrat telah menerima surat dari Sarimin yang mengatakan bahwa ada seorang perempuan berusia 50

11

Surat Pernyataan Peminjaman Tanah Soemali 1968, Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip Pengadilan Negeri Blora P.VIII

12 Ibid 13

Surat Peminjaman Tanah Kepala Desa Kunden, Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat 23 Maret 1968.

(6)

tahun dengan pekerjaan sebagai buruh desa Kunden (Magersari) bernama B Gainah, pada surat ini B Gainah meminta bantuan kepada bapak Sarimin untuk mengirimkan surat, apabila diberikan ijin oleh RM Tejonoto untuk menempati B Gainah mengucapkan terimakasih dan mendirikan bangunan di seberang tanah Magersari dengan ukuran rumah 2m x 8m, namun apabila tanah tersebut hendak digunakan oleh RM Tejonoto pengirim menyatakan bahwa B Gainah akan segera

pindah dari tempat tersebut .14 B Gainah saat itu dibantu Sarimin dalam penulisan

surat yang ditujukan oleh RM Tejonoto Kusumaningrat sebab ia buta aksara15 dan

pada kala itu di Kabupaten Blora terdapat banyak masyarakat yang mengalami buta aksara.

Empat tahun setelah perjanjian antara RM Tejonoto dengan Soemali tepatnya di tahun 1972 salah satu warga yang bertempat tinggal di Magersari bernama M. Bun Nyamin mengatakan awalnya ia telah mendapat persetujuan dari Soemali dan mendapat ijin dari RM Tejonoto untuk menempati tanah yang sebelumnya sudah disetujuan dalam perjanjian antara Soemali dan RM Tejonoto

pada 3 Februari 1968.16 Kemudian pada Februari 1972 M. Bun Nyamin membuat

surat pernyataan, dalam surat tersebut dikatakan bahwa tanah Magersari yang dahulu ditempati Soemali telah dibeli oleh Bun Nyamin dengan kesepakatan kedua belah pihak dan ditempati sejak tanggal 2 Juli 1970. Jika dilihat dalam

14

Surat PeminjamanKepala Desa Kunden Atas Nama B Gainah, Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat 29 September 1972

15

Buta aksara merupakan istilah bagi masyarakat yang tidak bisa membaca dan menulis, kala itu masih banyak buruh di Kabupaten Blora yang mengalami buta aksara.

16

Turunan Surat Pernyataan Bapak Bunyamin dan Soemali 1972, Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat.

(7)

kasus ini terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak dalam menempati tanah

magersari dengan persetujuan dari RM Tejonoto Kusumaningrat. 17

Pada 4 Februari 1972 Kecamatan Kota Blora mengirim surat ijin mendirikan bangunan di atas tanah Magersari, dalam surat tersebut berisikan mengenai permintaan ijin penduduk yang tinggal Magersari dan telah mendirikan

bangunan kepada RM Tejonoto.18 Diketahui bahwa ada tiga pihak dalam surat

tersebut. Pihak pertama bapak M. Bun Nyamin selaku penerus tempat tinggal Soemali menyatakan akan bertempat tinggal di tanah tersebut (Magersari) atas persetujuan dari RM Tejonoto pada perjanjian sebelumnya, sedangkan pihak kedua bernama Salekun dan pihak ketiga bernama Maji mengatakan bahwa saat mereka mendirikan bangunan di tanah Magersari telah mendapat persetujuan dan bertemu langsung dengan RM Tejonoto, selanjutnya ada pula Suwito Gini yang rumahnya akan segera dipindahkan dalam waktu dekat ini karena kontrak perjanjian yang sudah habis namun masih menunggu biaya untuk pemindahan

rumah tersebut .19 Dalam hal ini terlihat bahwa baik itu pendudukan perorangan

maupun instansi yang ingin mendirikan bangunan maupun meminjam tanah terletak di magersari mereka tetap mempercayai dan meyakini bahwa tanah tersebut merupakan milik Ndoro Sumo karena pihak agraria juga belum menunjukan bukti-bukti bahwa tanah yang disengketakan tersebut menjadi hak milik Pemerintah.

17

Ibid. 18

Mendirikan Rumah di atas Lahan Sengketa 1972, Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip Kecamatan Kota Blora No. Agr. T. 4/46/72.

19 Ibid.

(8)

Dari beberapa surat permohonan ijin penggunaan tanah untuk kepentingan pertanian di sekitar rumah bupati, surat ijin meminjam tanah untuk para pegawai pemerintahan yang belum memiliki rumah surat ijin pendirian bangunan di atas lahan sengketa di wilayah Magersari dapat disimpulkan bahwa masih adanya bukti penguasaan tanah oleh keturunan ke-7 dari RT Jayeng Tirtonoto yaitu RM Tejonoto Kusumaningrat dan kepemilikan tersebut juga telah diakui oleh warga

sekitar maupun pemerintah.20

B. Awal Sengketa 1. Awal Muncul Status Lahan Sengketa

a. Ancaman Penggunaan Lahan dari Pemerintah

Pada 19 Maret 1966 RM Tejonoto Kusumaningrat pertama kali mendapat surat ancaman dari kantor Kecamatan Blora, dengan surat No. Agr. 18/388/Uipu mengenai status tanah bekas Kabupaten Blora. Pihak Kecamatan mengataan bahwa pada tanggal 17 Maret 1966 Kecamatan Blora mendapatkan surat dari Kepala Agraria Blora dengan nomor surat: K.a.d 140/Agr./16/68 untuk memberi tahukan kepada orang yang merasa memiliki tanah Magersari (RM Tejonoto

Kusumaningrat) dan memberitahukan bahwa tanah tersebut adalah milik negara.21

Dalam surat itu juga dikatakan agar yang merasa memiliki tanah tersebut untuk menghentikan segala tindakan maupun pembangunan rumah di atas tanah tersebut dalam bentuk apapun karena tidak mendapatkan ijin dari pihak berwajib dan apabila tindakan tersebut terus dilakukan maka dapat dikatakan tindakan yang melanggar hukum dan dapat dikenakan sanksi tegas sesuai peraturan yang ada di

20

Wawancara dengan RA Manik Surastri tanggal 13 Februari 2016 21

Salinan Surat Status Tanah Bekas Kabupaten Blora, Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip No. Agr. 18/388/Uipu.

(9)

negara. Tembusan surat ini ditujukan kepada Bupati Blora (R. Sukirno), Dan-Dim

0721 Blora, serta Kepala Agraria Blora.22

Dengan adanya surat ancaman dari Agraria maka status tanah alun-alun,

rumah Pendopo Kabupaten Blora dan magersari saat itu menjadi lahan sengketa,23

namun meski berstatus lahan sengketa tetap masyarakat Blora maupun yang bertempat tinggal di Magersari mengatakan bahwa tanah tersebut adalah milik Ndoro Sumo dan penduduk tetap menaruh hormat serta kepercayaan pada RM Tejonoto selaku keturunan Ndoro Sumo dan pemilik tanah, sebab setelah pihak Agraria mengirim surat ancaman peringatan mereka tidak memberikan bukti yang kongkrit bahwa tanah tersebut merupakan tanah milik negara seperti yang telah disebutkan. Pihak RM Tejonoto memiliki bukti-bukti tertulis dan saksi bahwa tanah tersebut adalah milik leluhur secara turun-temurun. Hal ini juga dipercaya oleh masyarakat dan dibuktikan dengan tetap adanya beberapa surat permohonan baik untuk peminjaman tanah maupun ijin membangun rumah di tanah tanah magersari dan area Pendopo Blora seperti yang telah dijelaskan sebelumnya,

meski tanah tersebut sedang dalam status bersengketa dengan pihak Pemerintah.24

b. Bukti yang Tidak Dapat Ditunjukan Pemerintah

Setelah di tahun 1966 RM Tejonoto mendapat surat ancaman dari Camat Kota Blora melalui Kepada Desa Kunden dengan surat no K.a.d./140/ Agr/ 16/ 168 mengenai ancaman penggunaan dan pemanfaatan lahan milik Pemerintah tanpa seijin pihak terkait dan apabila yang bersangkutan terus melanjutkan

22 Ibid. 23

Wawancara dengan RA Manik Surastri tanggal 13 Februari 2016. 24

(10)

penggunaan lahan tersebut, pihak Kecamatan akan membawa kasus ini melalui

jalur hukum karena dianggap perilaku kriminal.25 Dengan adanya ancaman

tersebut lantas tidak membuat pihak RM Tejonoto menjadi takut ataupun mundur sebab memang benar jika tanah tersebut adalah milik leluhur beliau yang diwariskan secara turun-temurun didukung RM Tejonoto memiliki bukti yang kuat untuk kasus ini. Tanggal 21 April 1967 RM Tejonoto mengupayakan penyelesaian lahan dengan status sengketa ini ke jalur hukum melalui Pengadilan

Negeri Blora.26

Hasil Pengadilan Negeri Blora mengatakan bahwa tuntutan dari penggugat (RM Tejonoto Kusumaningrat) tidak dapat diterima. Pihak Pengadilan Negeri Blora tidak meberikan alasan secara detail mengenai penolakan tersebut dan penggugat diperbolehkan apabila hendak mengajukan banding ke Pengadilan

Tinggi Semarang.27 Pihak Pemerintah tidak dapat menunjukan bukti jika tanah

alun-alun, rumah Pendopo Blora dan Magersari merupakan tanah milik Negara, namun pengajuan berkas dari RM Tejonoto Kusumaningrat ditolak oleh Pengadilan Negeri tanpa adanya penjelasan secara pasti, namun hal itu dimungkinkan terjadi sebab permasalahan ini menyangkut nominal ganti rugi yang cukup tinggi menggunakan anggaran negara sehingga Pengadilan Negeri

25

Salinan Surat Status Tanah Bekas Kabupaten Blora, Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip No. Agr. 18/388/Uipu.

26

Surat Permohonan Penyelesaian Tanah Kabupaten Blora 2011, Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat Blora.

27

Surat Keputusan Kasasi Perkara RM Tejonoto Kusumaningrat, Koleksi

Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip Mahkamah Agung Republik Indonesia No.1257 K/ Sip/ 1980.

(11)

Blora merasa kasus ini perlu diselesaikan ketingkat Pengadilan yang lebih tinggi.28

2. Penawaran Ganti Rugi dari DPRD

Tahun 1973 seorang anggota DPRD berkunjung ke kediaman RM Tejonoto dengan maksud membahas masalah alun-alun, pendopo dan magersari secara lisan dari perwakilan DPRD ingin membantu dengan jalan damai mengenai sengketa tanah yang terjadi antara Pemerintah Daerah dengan RM Tejonoto dan pihak DPRD melakukan pengkajian bahwa tanah tersebut memang tanah milik

leluhur dari RM Tejonoto.29 Pengkajian yang dilakukan DPRD saat itu melihat

dari bukti-bukti peminjaman tanah dan pengakuan warga sekitar magesari bahwa tanah tersebut tanah RM Tejonoto, sedangkan sertifikat tanah ada setelah surat keputusan dari Kepala Direktorat Landreform tertanggal Jakarta, 2 Mei 1970 No

JDL/Keu/46/40/70.30 Meski kala itu sertifikat belum ada namun RM Tejonoto

memiliki bukti-bukti yang kuat bahwa tanah tersebut adalah milik beliau sehingga dengan berbagai pertimbangan kala itu pihak DPRD Blora bersedia memberikan

ganti rugi pemakaian tanah yang selama ini Pemerintah gunakan.31

Pihak DPRD mengatakan bersedia memberikan ganti rugi dan RM Tejonoto mengatakan bahwa mengenai ganti rugi agar mengirim surat secara tertulis kepada anak tertua beliau yang ada di Jakarta sebagai perwakilan dari

28

Wawancara dengan RNgt Ratnasari Puspitarini tanggal 21 April 2016. 29

Wawancara dengan RA Manik Surastri tanggal 13 Februari 2016. 30

J.C. Kaunang, Kumpulan Peraturan Agraria 1970 1980, Jakarta, PT.

Panca Putra Dewa. 1981, hlm 1.

31

Penyelesaian Status Tanah Bekas Kabupaten, Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumaningta, Arsip Dewan Perwakilan Daerah Kota Blora No. 295/ D1/Dpr/73.

(12)

keturunan RM Tejonoto dan akhirnya pihak DPRD bersedia mengirim

pemberitahun secara tertulis kepada putri pertama RM Tejonoto.32 Masih di tahun

yang sama pada 22 Agustus 1973 anak tertua dari RM Tejonoto Kusumaningrat yang bernama RA Pudyastuti Husodo Protokusumo mendapat surat dari DPRD Blora dengan no. 295/D1/Dpr/73 mengenai tanah bekas Kabupaten dan surat tersebut ditanda tangani oleh ketua DPRD Blora (Sutarjo Citrorejo). Terdapat beberapa pokok permasalah yang disamaikan dalam surat ini, yang pertama alasan para wakil rakyat ikut mencampuri dalam urusan sengketa tersebut karena:

a. Kebutuhan Pemerintah daerah akan tanah-tanah sangat penting untuk kepentingan pembangunan daerah yang bersifat mendesak.

b. Wewenang atau sudah menjadi hak Pemerintah dalam menentukan tanah untuk pelaksanaan pembangunan yang sifatnya pasti untuk kepentingan umum.

c. Mengindahkan hak-hak rakyat, selama hak itu tidak bertentangan dengan pengabdian negara untuk kepentingan umum.

d. Mengusahakan ganti rugi yang wajar.

Dalam hal ini para wakil rakyat sudah melakukan berbagai pertimbangan bahwa dengan adanya sengeta ini tidak akan menggangu jalannya pembangunan yang ada di wilayah Pemerintahan Blora bahkan apabila kasus ini dibawa ke tingkat pengadilan sekalipun, pihak Pengadilan tidak akan membiarkan pembangunan Negara terhenti hanya karena kepentingan perorangan oleh sebab

itu pihak DPRD ingin menyelesaikan masalah ini secara damai. 33

Dengan melakukan berbagai pertimbangan dan diskusi dikalangan para anggota Dewan maka terbentuk hasil kesepakatan bersama mengenai ganti rugi

32

Wawancara dengan RA Manik Surastri tanggal 13 Februari 2016. 33

Penyelesaian Status Tanah Bekas Kabupaten, Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumaningta, Arsip Dewan Perwakilan Daerah Kota Blora No. 295/ D1/Dpr/73.

(13)

tanah bekas kabupaten. Pertama ditetapkan ganti rugi hanya senilai Rp 400.000,00 , kemudian upaya ganti rugi tersebut ditolak oleh RM Tedonoto Kusumaningrat karena nominal yang dirasa tidak wajar dan terlalu murah untuk tanah di pusat

kota dan tepat terletak di 0 km Kota Blora.34 Pertemuan kedua pihak DPRD

mulai menaikan ganti rugi sejumlah Rp 600.000,00 , namun nominal tersebut ditolak oleh RM Tejonoto karena masih dianggap tidak sebanding dan masih tidak wajar dengan nomimal itu. Pertemuan ketiga pihak DPR menaikan nominal ganti rugi lagi menjadi Rp 1.000.000,00 meliputi tanah bekas kabupaten, alun-alun dan magersari dan ganti rugi ini adalah penwaran terakhir dan nominal maksimal yang ditawarkan oleh pihak DPRD apabila ganti rugi dengan nominal tersebut mendapat persetujuan maka akan segera dilakukan proses ganti rugi antara pihak

Pemerintah dan perorangan.35

Mendapat nominal harga maksimal penawaran harga tanah bekas kabupaten dari pihak DPRD sebesar Rp 1.000.000 kala itu, pihak keluarga RM Tejonoto merasa keberatan dengan nominal yang ditawarkan karena nominal tersebut terlalu rendah untuk tanah yang tercatat seluas ±4 hektar dan tanah tersebut berada di pusat pemerintahan Kabupaten Blora atau bisa juga dikatakan

titik 0 km Blora serta harga tersebut dibawah harga pasaran tanah kala itu.36

Dengan penawaran dengan jumlah nominal maksimal diatas maka pihak keluarga RM Tejonoto menyatakan tawaran ganti rugi pihak DPRD “Ditolak” dan memilih membawa kasus ke tingkat Pengadilan yang memang sudah berlangsung selama beberapa tahun ini.

34 Ibid. 35 Ibid. 36

(14)

C. Proses Peradilan 1975-1983

Terdapat keanehan bila dilihat Pengadilan Negeri Blora menolak dengan menyarankan mengajukan kasus ke tingkat banding, namun pihak DPRD malah

memberi tawaran ganti rugi lahan seluas ±4 hektar 37. Namun Penawaran yang

ditawarkan jauh dibawah harga tanah saat itu dengan tanah yang cukup luas terletak di 0 km Kota Blora dan hanya ditawar Rp 1.000.000,00. Sehingga keluarga memutuskan untuk terus melanjutkan kasus ini ke Pengadilan yang memang sudah diajukan dan berjalan.

1. Peradilan Tingkat Banding

Keputusan pihak keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat dengan menolak tawaran ganti rugi dari DPRD, dengan adanya hal tersesbut pihak keluarga memutuskan untuk mengajukan kasus ke Pengadilan. Berawal dari surat ancaman dari Agraria yang dialamatkan kepada Camat Blora dan diteruskan kepada RM Tejonoto tanggal 21 April 1967, pihak keluarga sudah memutuskan untuk

membawa perkara ke ranah hukum.38 Setelah membawa kasus sengketa ke tingkat

Pengadilan, pihak keluarga mnerima hasil keputusan tingkat Pengadilan Negeri tanggal 28 Juni 1969 dan banding di Pengadilan Tinggi pada tanggal 19 Juni 1975 menyakatan bahwa gugatan RM Tejonoto “Ditolak”. Pada 24 Maret 1977 RM

Tejonoto Kusumaningrat meninggal dunia di usia 68 tahun39 sehingga kasus yang

37 1 hektar = 10.000

38

Surat Permohonan Penyelesaian Tanah Kabupaten Blora 2011, Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat.

39

Rr. Widyasintha Himayanthi, Silsilah Keturunan R.T. Djayeng Tirtonoto Bupati Blora 1762-1782 (Diambil dari Keturunan Prabu Brawidjaya V, Blora 2014).

(15)

telah masuk ke pihak Pengadilan diteruskan oleh istri beliau bernama Ny.

Anjardari dibantu anak pertama RA. Pudyastuti yang kala itu berusia 20-an.40

Setelah adanya penolakan dari Pengadilan Negeri dan saat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi juga mendapati penolakan, maka pada 2 Januari

1979 dilakukan upaya terakhir dengan mengajukan perkasara ke tingkat kasasi .41

Kasasi merupakan pembatalan atas keputusan Pengadilan-pengadilan yang lain yang dilakukan pada tingkat peradilan terakhir dan menetapkan perbuatan Pengadilan-pengadilan lain dan para hakim yang bertentangan dengan hukum, kecuali keputusan Pengadilan dalam perkara pidana yang mengandung pembebasan terdakwa dari segala tuduhan.42

Dalam Pasal 16 UU No. 1 Tahun 1950, Pasal 244 UU No. 8 Tahun 1981 dan UU No. 14 Tahun 1985 . UU No. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. Kasasi lebih tepat diartikan "naik banding" ketimbang "banding". Bila Anda tidak puas dengan vonis dari Pengadilan Negeri,Anda bisa mengajukan kasasi ke Pengadilan Tinggi. Bila masih tidak puas dengan vonis dari Pengadilan Tinggi,dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Mahkamah Agung bisa dikatakan sebagai badan terakhir bagi kita utk memperoleh keadilan.43

2. Peradilan Tingkat Kasasi

Pada tahun 1980 pihak keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat menerima hasil dari surat yang sudah diajukan ke tingkat kasasi dari Mahkamah Agung dan berisikan penjelasan dari Mahkamah Agung mengenai penjatuhan keputusan

40

Wawancara dengan RA Manik Surastri tanggal 13 Februari 2016 41

Surat Permohonan Penyelesaian Tanah Kabupaten Blora 2011, Koleksi Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat.

42

Leden Marpaung, Perumusan Memori Kasasi dan Peninjauan Kembali

Perkara Pidana, 2004, Jakarta: Sinar Grafika, hlm. 1.

43 Ibid.

(16)

dalam perkara RM Tejonoto Kusumaningrat (Penggugat44 untuk kasus dahulu, Penggugat-Pembanding) melawan:

I. Bupati Daerah Blora, di Blora

II. Kepala Agraria Daerah Blora, di Blora

III. Asisten Wedana Kota Blora, mereka para tergugat dalam kasasi

terdahulu Tergugat I, II dan III sebagai para tergugat45 atau

terbanding. 46

a. Bahan Pertimbangan Mahkamah Agung

Setelah melakukan berbagai pertimbangan dari surat-surat yang terlah diajukan oleh penggugat kepada pihak tergugat di hadapan Pengadilan Negeri Blora dapat ditarik beberapa hal pokok yang menjadi penekanan, diantaranya:

1. Bahwa penggugat adalah pemilik dari sebidang tanah yang luas, letak beserta batas-batas tanah telah disebutkan dalam surat gugatan bahwa

tanah tersebut ditaksir dengan harga Rp 1.000.000,00 (Satu juta rupiah).

2. Bahwa tanah tersebut menjadi hak milik penggugat berdasarkan turun-temurun dari RT Jayeng Tirtonoto berdasarkan garis keturunan lajer secara bertahun-tahun hingga saat ini dan tanah dalam pengawasan serta pengelolaan penggugat.

44

Penggugat adalah orang atau badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara (Pasal 53 ayat 1 Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004).

45

Istilah Tergugat adalah Badan atau Pejabat TUN(Tata Usaha Negara)

yang mengeluarkan Keputusan berdasarkan wewenang yang ada padanya atau yang dilimpahkan kepadanya, yang diguguat oleh orang atau badan hukum perdata (Pasal 1 butir 6 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986).

46

Surat Keputusan Kasasi Perkara RM Tejonoto Kusumaningrat, Koleksi

Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip Mahkamah Agung Republik Indonesia No.1257 K/ Sip/ 1980.

(17)

3. Bahwa tanah tersebut sejak tahun 1965 sudah menjadi milik Negara yang berada di bawah penguasaan Bupati Blora bersama Instansi Agraria Blora.

4. Bahwa penggugat telah meminta secara damai kepada tergugat supaya tanah tersebut dikembalikan kepada penggugat selaku pemilik tanah, namun hal tersebut tidak berhasil maka setelah mengajukan kasus ke Pengadilan Negeri kemudian naik ke tingkat banding hingga akhirnya naik menjadi tingkat kasasi.47

Dari beberapa pokok permasalahan yang menjadi penekanan oleh Mahkamah Agung di atas, Penggugat (RM TejonotoKusumaningrat) menuntut kepada Pengadilan Negeri Blora agar memberikan keputusan sebagai berikut:

1. Menerangkan bahwa Penggugat adalah satu-satunya ahli waris lajer

dari Raden Tumenggung Jayeng Tirtonoto.

2. Menerangka bahwa tanah yang dalam sengketa tersebut adalah tanah

peninggalan Raden Tumenggung Jayeng Tirtonoto.

3. Menghukum para Tergugat untuk mengosongkan dan meninggalkan tanah tersebut dan mengembalikan atau menyerahkan tanah tersebut

kepada Penggugat.

4. Menghukum Tergugat untuk membayar segala kasus perkara ini.48

Menanggapi hasil tuntutan pihak keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat di atas, pihak Pengadilan Negeri Blora telah mengambil keputusan pada tanggal 28

47

Ibid. 48

(18)

Juni 1969 dengan No. Dp/ 1967/Pdt.Bla. yang isinya mengatakan beberapa hal sebagai berikut:

1. Mengabulkan sebagian gugatan dari pihak Penggugat.

2. Menerangkan menurut hukum bahwa saudara Penggugat merupakan

keterunan lajer dari Raden Tumenggung Jayeng Tirtonoto.

3. Menghukum penggugat untuk membayar biaya perkara ini yang

terhitung hingga hari ini sebesar Rp 131,00 (Seratus tiga puluh satu rupiah).49

Namun hasil keputusan dari Pengadilan Negeri Blora tidak mendapat persetujuan atau dengan kata lain dibatalkan oleh pihak Pengadilan Negeri Semarang dalam tingkat banding sesuai surat putusan Pengadilan Negeri

Semarang pada 19 Juni 1975 dengan no. 323/1969/R1t/Pr.Smg.50 yang isinya

adalah:

1. Menerima permohonan pemeriksa dalam tingkat banding dari Penggugat

(RM Tejonoto Kusumaningrat) .

2. Membatalkan sebagian keputusan Pengadilan Negeri Blora tertanggal 28

Juni 1969 pada surat putusan No. Dp/ 1967/Pdt.Bla. bahwa yang

dimohonkan bandingkan tersebut hanya sekedar mengenai ahli waris kepemilikan lahan sengketa dan menguatkan putusan Pengadilan Negeri bahwa selebihnya Pengadilan Daerah yang mengadili sendiri.

3. Menolak gugatan yang diajukan oleh Penggugat/ Pembanding secara

keseluruhan. 49 Ibid. 50 Ibid.

(19)

4. Menghukum Penggugat Pembanding untuk membayar biaya perkara dalam tingkat peradilan banding yang telah ditetapkan dengan harga

banding saat ini sejumlah Rp. 218,00 (Dua ratus delapan belas rupiah) .

5. Memerintahkan pengiriman salinan resmi dari surat keputusan yang

tertulis ini beserta surat keputusan berkas perkara yang bersangkutan

kepada Pengadilan Negeri Blora.51

Sesudah keputusan terakhir dari Pengadilan Negeri Semarang ini disampaikan dan diberitahukan kepada kedua belah pihak pada tanggal 30 Desember 1975, kemudian disampaikan kepada Penggugat/ Pembanding untuk mengajukan permohonan untuk pemeriksaan berkas kasasi secara lisan pada

tanggal 2 Januari 1979 dan yang telah tercantum dalam surat teranggar No.

1/1979 yang telah dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri Blora, permohonan yang telah disiapkan kemudian disusul dengan memori alasan-alasan yang diterima oleh Kepaniteraan Pengadilan Negeri Blora pada tanggal 27 Maret 1976.52

Setelah peradilan kasasi melakukan pertimbangan berdasarkan pasal 40 Undang-Undang Nomor 14 tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman yang telah diberbarui dari peraturan perundang-undangan yang sebelumnya terdapat pada Undang-Undang Nomor 19 tahun 1964 tentang Penguasaan Kehakiman (yang lama) dan hukum Acara Kasasi yang dimaksud dalam Undang-Undang Pasal 49 ayat (4) tahun 1965 sampai saat itu belum ada. Mahkamah Agung merasa perlu untuk menegaskan Hukum Adat Kasasi yang harus dipergunakan. Mengenai hal ini berdasarkan pasal 40 Undang-Undang Nomor 14 tahun 1970, maka pasal 70 Undang-Undang Nomor 13 tahun 1965 dapat ditafsirkan dengan sedemikian rupa. Dikarenakan peraturan perundang-undangan yang sebelumnya memiliki tafsir makna yang bisa diartikan lebih dari satu makna sehingga yang dinyatakan tidak diberlakukan lagi Undang-Undang Nomor 1 tahun 1950 itu tidak isi secara keseluruhan, melainkan hanya hal-hal

51 Ibid. 52

(20)

yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 tahun 1965 kecuali apabila

bertentangan dengan Undang-Undang sebelumnya.53

b. Monopoli Berkas Kasus di Pengadilan

Setelah melakukan pertimbangan bahwa alasan-alasan permohonan pengajuan kasasi (memori/ risalah kasasi) telah diterima oleh kepaniteraan Pengadilan Negeri Blora pada tanggal 27 Maret 1976, sedangkan permohonan kasasi baru diterima oleh pihak Mahamah Agung pada 2 Januari 1979 dari pihak Pengadilan Negeri Blora.54 Dengan adanya hal tersebut penerimaan berkas yang diterima telah melampaui tenggang batas waktu yang telah ditentukan dalam pasal 115 ayat 1 Undang-Undang Mahkamah Agung Indonesia, maka dari itu permohonan kasasi tersebut dinyatakan tidak dapat diterima karena keterlambatan.55

Jika dilihat dan dipelajari dengan teliti dari beberapa uraian panjang Mahkamah Agung kita dapat mengetahui bahwa pada awal pihak keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat mengajukan kasus ke Pengadilan Negeri Blora pada 21 April 1967, pihak Pengadilan menangani kasus ini secara serius bahkan hingga akhirnya membawa kasus ini ke Peradilan Mahkamah Agung meski kasus ini memakan waktu bertahun-tahun . Saat kasus ini masuk dalam persidangan pihak keluarga mengharapkan keadilan dari Pemerintah mengenai kasus tersebut, namun ada beberapa gugatan dari keluarga Penggugat yang ditolak tanpa adanya

53

Ibid 54

Surat Keputusan Kasasi Perkara RM Tejonoto Kusumaningrat, Koleksi

Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip Mahkamah Agung Republik Indonesia No.1257 K/ Sip/ 1980.

55 Ibid.

(21)

penjelasan secara logis dan mendetail pada Pengadilan di tingkat banding.56 Salah satu hal yang ganjil dalam peradilan tingkat banding itu adalah saat Pengadilan tingkat banding hanya menyetujui tuntutan dari penggugat yang meminta pengakuan bahwa penggugat sebagai turun lajer Raden Tumenggung Jayeng

Tirtonoto.57 Permohonan lain yang diajukan seperti mengembalikan tanah kepada

pemilik asli dinyatakan ditolak tanpa adanya alasan yang jelas.

Jika dilihat dari sejarah dan berkas-berkas yang diajukan pihak keluarga Penggugat sudah jelas bahwa tanah tersebut adalah tanah turun-temurun sejak masa Raden Tumenggung Jayeng Tirtonoto yang ditempati keturunan beliau secara turun-temurun,58 namun ada beberapa kemungkinan menurut pihak keluarga RM Tejonoto mengapa gugatan mengenai pengembalian tanah kepada pemilik asli atau pembayaran ganti rugi dengan biaya yang sesuai ditolak dikarenakan tanah tersebut sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Blora saat itu disana terdapat bangunan berupa alun-alun, pendopo Kabupaten blora yang menjadi kediaman Bupati Blora, masjid agung di timur alun-alun dan semua itu biasa sebagai lambang tata ruang kota59 sehinga masalah tersebut harus diselesaikan Peradilan tingkat Kasasi.

56

Ibid. 57

Wawancara dengan RNgt Ratnasari Puspitarini tanggal 21 April 2016. 58

Surat Keputusan Kasasi Perkara RM Tejonoto Kusumaningrat, Koleksi

Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip Mahkamah Agung Republik Indonesia No.1257 K/ Sip/ 1980.

59

Hadi Sabari Yunus, Struktur Tata Ruang Kota, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), hlm. 25.

(22)

Gambar 1. Alun-Alun Kota Blora 1960-an

Sumber: Arsip foto keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat

Gambar 2. Alun-alun Kota Blora Tahun 2011 Sumber :Dokumentasi Pribadi Penulis

(23)

Gambar 3. Pendopo Kota Blora 2011 yang terletak disebelah utara alun-alun Kota Blora.

Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis

Dari tahun ke tahun alun-alun dan rumah pendopo Kabupaten Blora mengalami perubahan dari struktur pembangunan dan fasilitas Daerah. Menurut pihak Pengadilan Negeri Blora saat ditemui mengatakan bahwa kasus tersebut tidak bisa hanya diselesai di tingkat Pengadilan Kabupaten atau daerah karena kasus ini apabila dimenangkan oleh pihak keluarga, maka ganti rugi tetap harus dilakukan dan dengan menggunakan uang milik Negara yang tidak sedikit jumlahnya dan harus di selesaikan ke Peradilan tingkat Mahkamah Agung/ Peradilan Kasasi.60

Pada 27 Maret 1976 RM Tejonoto Kusumaningrat menyerahkan berkas gugatan yang akan diajukan ke tingkat kasasi kepada Pengadilan Negeri Blora,61 sesuai yang telah dijadwalkan oleh pengadilan tingkat kasasi bahwa batas akhir penyerahan berkas kepada Mahkamah Agung adalah 14 hari setelah adanya

60

Wawancara dengan RNgt Ratnasari Puspitarini tanggal 21 April 2016. 61

Surat Keputusan Kasasi Perkara RM Tejonoto Kusumaningrat, Koleksi

Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip Mahkamah Agung Republik Indonesia No.1257 K/ Sip/ 1980.

(24)

pengumpulan berkas kasasi kepada Pengadilan.62 Sedangkan Mahkamah Agung dalam surat no. 1257 K/ Sip/ 1980 mengatakan berkas pengajuan kasasi diterima oleh pihaknya pada 2 Januari 1983. Tentu dari adanya kasus tersebut terdapat unsur ganjil dalam keterlambatan pihak Pengadilan mengajukan berkas kasasi.63

c. Hasil Akhir Pengadilan Kasasi

Dengan adanya keterlambatan memasukan berkas kasasi dengan berkas yang sudah dimasukan tersebut ditahan oleh pihak Pengadilan Negeri Blora, tentunya kasus ini sudah dinyata ditutup oleh pihak Mahkamah Agung karena tidak sesuai dengan peradilan yang telah dijadwalkan. Dengan kata lain berkas gugatan pihak keluarga RM Tejonoto dinyatakan tidak dapat diterima oleh peradilan kasasi sesuai yang tercantum dalam Undang-Undang Mahkamah Agung pasal 115 ayat 1 dengan memperhatikan pasal 40 Undang-Undang no.14 tahun 1970, Undang-Undang No. 13 tahun 1965 dan Undang-Undang No.1 tahun 1950.64 Dengan berpedoman pada 4 Undang-Undang di atas, Mahkamah Agung memutuskan gugatan saudara RM Tejonoto Kusumaningrat tidak dapat diterima dikarenakan keterlambatan berkas kasasi sehingga menghukum penggugat kasasi

62

Leden Marpaung, Perumusan Memori Kasasi dan Peninjauan Kembali

Perkara Pidana, 2004, Jakarta: Sinar Grafika, hlm. 3.

63

Surat Permohonan Penyelesaian Tanah Kabupaten Blora, Koleksi RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip RM Tejonoto Kusumaningrat Blora 12 Okrober 2011.

64

Surat Keputusan Kasasi Perkara RM Tejonoto Kusumaningrat, Koleksi

Keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat, Arsip Mahkamah Agung Republik Indonesia No.1257 K/ Sip/ 1980.

(25)

dengan membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini senilai Rp 2.500,00 (Dua ribu lima ratus rupiah).65

Demikian hasil putusan dalam rapat permusyawaratsn Mahkamah Agung pada Kamis, 28 April 1983 dengan Joko Sugianto(Ketua Hakim) yang telah ditunjuk oleh Mahkamah Agung , Syahrir(Ketua Sidang) dan Siti Tanajul Tarki Sudaryono(Hakim Anggota).66 Selanjutnya sidang terbuka akan dilaksanakan pada tanggal 29 April 1983 oleh Ketua Sidang yang telah disebutkan dengan dihadiri oleh Syahrir danSiti Tanajul Tarki Sudaryono. serta para Hakim-Hakim Anggota dan Faisal Nassar (panitera-pengganti) dan persidangan terbuka tidak dihadiri oleh kedua belah pihak (Penggugat dan Tergugat) 67.

Panitera Pengganti mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut:

1. membantu Majelis Hakim Agung dalam pencatatan jalannya persidangan;

2. melakukan pencatatan berkas perkara yang diterima dari Panitera Muda Tim;

3. mengetik konsep putusan hasil musyawarah Majelis yang akan diucapkan ;

4. menyampaikan putusan yang telah selesai diketik untuk diteliti dan diperiksa atau koreksi oleh Hakim Agung pembaca pertama;

65 Ibid. 66 Ibid. 67 Ibid.

(26)

5. melaksanakan minutasi atau penyelesaian perkara yang telah diputus Majelis Hakim Agung pada Tim.68

Setelah proses Peradilan tingkat kasasi tersebut berlangsung dan selesai maka pihak keluarga RM Tejonoto Kusumaningrat membayarkan denda yang sudah tertera dan diputuskan.69 Proses pembayaran dan administrasi pengadilan telah diselesaikan sepenuhnya oleh keturunanRM Tejonoto Kusumaningrat sehingga berkas-berkas yang masuk ke Mahkamah Agung dikirim kembali ke Pangadilan Negeri Blora. Saat keturunan RM Tejonoto hendak mengambil berkas tersebut, pihak Pengadilan berdalih bahwa dokumen tersebut bersifat rahasia dan sudah masuk kedalam arsip Pengadilan Blora. Padahal kala itu bukti yang diserahkan merupakan bukti-bukti asli dan bukan fotocopy.70 Sejak saat itu pula pihak keluarga memutuskan untuk menutup kasus ini.

68

http://kepaniteraanmahkamahagung.go.id/profile-kepaniteraan/tugas-dan-wewenang/tupoksi-panitera-pengganti (diakses pada 8 Maret 2016) .

69

Wawancara dengan RA Manik Surastri tanggal 13 Februari 2016. 70

Gambar

Gambar 2. Alun-alun Kota Blora Tahun 2011  Sumber :Dokumentasi Pribadi Penulis
Gambar 3.  Pendopo Kota Blora 2011 yang terletak disebelah utara alun-alun   Kota Blora

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kepemilikan hak atas tanah adalah kepunyaan penggugat dan tergugat, proses jual beli tanah dilakukan oleh penggugat dan

Konflik yang terjadi di Nogosari bermula ketika terjadi perubahan kepemilikan tanah dari pemilik yang lama yaitu petani– petani penggarap yang secara turun temurun mereka

Hak milik atas tanah adalah hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah, dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6 ( Pasal 20 ayat (1)

Hak milik atas tanah adalah hak turun-temurun, terkuat, dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah, dengan mengingat ketentuan Pasal 6 ( Pasal 20 ayat (1) UUPA)..

2 Bunyi selengkapnya Pasal 20 UUPA adalah, ayat (1) : hak milik adalah hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah dengan mengingat

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa Masyarakat Suku Anak Dalam memandang bahwa fakta penguasaan dan kepemilikan hak atas tanah didasarkan pada sejarah

Rumah adat Minangkabau disebut dengan Rumah Gadang, yang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku tersebut secara turun temurun. Rumah adat ini

Hasil penelitian menunjukkan bahwa status kepemilikan hak atas tanah adalah kepunyaan penggugat dan tergugat, proses jual beli tanah dilakukan oleh penggugat dan