DAFTAR ISI
AGRI-TEK: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Eksakta
Volume 17 Nomor 1 Maret 2016
ISSN : 1411-5336
PENGARUH BERBAGAI MACAM PANJANG STEK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT ANGGUR (Vitis vinivera L.)
Tri Kurniastuti
1 - 7
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUI PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP BUDIDAYA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) (Studi Kasus di Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun)
Ratna Mustika Wardhani Edy Prasetiyo
8 - 18
VOLUME POHON BERDIRI PETAK 3a, RPH SALAM. BKPH LAWU UTARA. KPH LAWU DS
Aris Sulistiono & Ahadiati Rohmatiah
19 - 33
EKSPLORASI DAN IDENTIFIKASI PLASMA NUTFAH TANAMAN UWI (Dioscorea sp) DI KABUPATEN PONOROGO.
Muhamad Fahrur Hidayat & Djoko Setyo Martono
34 - 40
ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN KENTANG (Solanum tuberosum L.) DI KABUPATEN MAGETAN
Indah Rekyani Puspitawati & Ratna Mustika Wardhani
41 - 52
PENDUGAAN MODEL VOLUME POHON BERDIRI TANAMAN JATI (Tectona grandis L.f) UMUR 10 TAHUN (Studi Lahan Jati Universitas Merdeka Madiun)
Mochammad Dwi Arief Putra & Martin Lukito
53 - 63
UJI PENGGUNAAN MACAM PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP HASIL KEDELAI Jajuk Herawati, & Indarwati
AGRI-TEK: Jurnal Ilmu Pertanian, Kehutanan dan Agroteknologi Volume 17 Nomor 1 Maret 2016; ISSN : 1411-5336
PENDAHULUAN
Anggur adalah jenis buah-buahan asli sub tropis yang telah beradaptasi pada iklim tropis di Indonesia dan khususnya di Jawa Timur. Anggur merupakan komoditas unggulan daerah yang pada era otonomi memegang peranan strategis. Kebijakan otonomi daerah memungkinkan Pemerintah Daerah (Pemda) dapat lebih leluasa mengatur bagi kebutuhan, potensi dan keunggulan daerahnya termasuk upaya untuk meningkatkan pendapatan penduduknya ( Krismawati, dan Sugiono, 2012).
Tanaman Anggur merupakan tanaman buah merambat dalam bentuk semak
milik keluarga Vitaceae. Buah ini biasanya digunakan untuk membuat jus anggur, jelly, anggur, minyak biji anggur dankismis, atau dimakan langsung. Buah ini juga mengandung banyak senyawa yang dikenal sebagai polifenol dan resveratrol aktif dalam berbagai metabolisme, dan mampu mencegah pembentukan sel kanker dan penyakit lainnya (Cahyono, 2010).
Tanaman anggur dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif, tetapi umum-nya dilakukan secara vegetatif karena biji yang dihasilkan sedikit, sulit tumbuh, dan sering terjadi segregasi. Secara vegetatif, tanaman anggur dapat diperbanyak melalui batang. Salah satu perbanyakan tanaman
PENGARUH BERBAGAI MACAM PANJANG STEK TERHADAP
PERTUMBUHAN BIBIT ANGGUR (Vitis vinivera L.)
Tri Kurniastuti
Staf Pengajar di Fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi Universitas Islam Balitar Blitar Email : [email protected]
Abstract
This study aims to determine the length of the cuttings are best for growing grape seeds. This research was conducted at the experimental station of Agriculture Faculty of Islamic University Balitar Blitar in September 2015 to November 2015. This study used a randomized block design (RAK) with seven treatments, the cuttings are terdidi length of A = 10 cm, B = 12.5 cm , C = 15 cm, D = 17.5 cm, D = 17.5 cm, 20 cm E = F = G = 22.5 cm and 25 cm and 3 replicates, obtained 21 experimental unit. Data analysis was performed using F test showed significant differences If then tested further by using Duncan’s test at 5% level. The results showed that the length of cuttings significantly affect the percentage of cuttings grow, the time appears buds, percentage of cuttings sprouted buds shoot length, number and length of root cuttings of wine. The growth of seedlings cuttings of the best wines on the length of cuttings 20 cm at the variable percentage of cuttings grow, sprout cuttings percentage, shoot length and root length.
Keywords:
Tri Kurniastuti
anggur yaitu dengan metode stek. Metode stek merupakan metode pengembangan tanaman yang dilakukan dengan mengambil bagian dari tanaman tersebut terutama batang. Perbanyakan stek tanaman anggur ada dua macam, yaitu stek batang dan stek mata. Pengembangan tanaman dengan metode stek memerlukan bahan stek untuk batang bawah dan batang atas dalam jumlah yang cukup dan teknologi perbanyakan yang efisien. Batang tanaman anggur berupa ruas-ruas yang tiap ruas-ruasnya terdapat calon mata tunas yang selanjutnya akan terus tumbuh membentuk cabang baru. Bahan stek batang yaitu berupa batang atau cabang dengan tiga mata tunas. Sedangkan bahan untuk stek mata berupa batang atau cabang dengan satu mata tunas (Yuniastuti, 2004).
Kendala dalam pengembangan stek anggur adalah kurang tersedianya jumlah bibit yang bermutu pada saat tanam, biaya transportasi mahal, dan bibit anggur sulit untuk didapatkan. Bahan tanam (bibit) yang umum digunakan yaitu stek batang dengan panjang sekitar ± 20 cm dengan jumlah mata tunas 3 mata. Jika satu batang tanaman anggur dengan ukuran 1-2 m digunakan untuk bibit, hanya akan diperoleh 5-10 stek. Sehingga akan memerlukan bahan tanam yang banyak untuk pengembangan anggur (Yuniastuti, 2004).
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah penghematan penggunaan bahan stek dengan memperpendek ukuran atau mengurangi jumlah mata tunas. Namun penghematan stek tersebut harus tetap mampu menghasilkan pertumbuhan yang baik dan produksi yang tinggi. Maka dari permasalahan tersebut dicoba pengembangan stek anggur melalui penghematan bahan stek.
Hasil penelitian Hayati, E dkk (2007) dilaporkan bahwa jumlah mata tunas berpengaruh terhadap jumlah daun per stek,
panjang tunas dan jumlah daun per tunas tanaman tanaman jarak pagar. Jumlah mata tunas 12 merupakan perlakuan terbaik pada perttumbuhan setek tanaman jarak pagar.
Hasil penelitian Sparta A, dkk (2012) dilaporkan bahwa waktu muncul tunas, jumlah tunas, panjang tunas dan panjang akar pada stek buah naga dipengaruhi secara nyata oleh panjang stek. Pertumbuhan stek yang terbaik pada stek buah naga di atas 20 cm.
RUMUSAN MASALAH
Berapa panjang setek terbaik untuk pertumbuhan bibit anggur ?
TUJUAN
Penelitian ini bertujuan untuk menge-tahui panjang setek yang terbaik untuk pertumbuhan bibit anggur.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Islam Balitar Blitar pada bulan September 2015 sampai bulan November 2015. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan setek anggur varietas Bali, media tanam berupa tanah, pasir, pupuk kandang dan sekam serta alat-alat lain yang membantu pelaksanaan penelitian.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan yaitu panjang setek yang terdidi dari A = 10 cm, B = 12,5 cm, C = 15 cm, D = 17,5 cm, D = 17,5 cm, E= 20 cm F = 22,5 cm dan G = 25 cm dan 3 ulangan, diperoleh 21 satuan percobaan.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji F. Apabila menunjukkan perbedaan nyata maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Duncan’s pada taraf 5%.
Peubah yang diamatai adalah persentase stek tumbuh (%) , waktu muncul tunas
Volume 17 Nomor 1 Maret 2016,AGRI-TEK 3 Pengaruh Berbagai Macam Panjang Stek (hari) , prosentase stek bertunas (%) jumlah
tunas (buah), panjang tunas (cm), Panjang akar (cm). Pengamatan dilakukan pada saat tanaman berumur 2,4,6 dan 8 minggu setelah tanam (MST) kecuali pengamatan waktu muncul tunas dilakukan setiap hari.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Persentase Setek Tumbuh
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa panjang setek berpengaruh nyata terhadap persentase setek tumbuh. Hasil uji Duncan’s taraf 5 % , diperlihatkan pada tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh panjang stek terhadap persentase stek tumbuh bibit anggur 8
MST.
Perlakuan stek tumbuhPersentase A ( panjang setek 10 cm) 75,24 a B ( panjang setek 12,5 cm) 77,94 a C ( panjang setek 15 cm) 82,14 ab D ( panjang setek 17,5 cm) 88,25 b E ( panjang setek 20 cm) 89,61 b F ( panjang setek 22,5 cm) 83,58 ab G ( panjang setek 25 cm) 84,90 ab Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji jarak berganda Duncan’s taraf 5%
Dari tabel 1 ditunjukkan bahwa persentase stek tumbuh berkisar 75,24 % - 89,25%, hal ini menunjukkan bahwa persentase tumbuh stek sudah baik walaupun belum maksimal karena dari ke tujuh perlakuan tersebut persentase stek tumbuh belum ada yang 100 % yang tumbuh. Beberapa stek yang tidak tumbuh karena terjadi kematian seluruh stek batang, hal tersebut menyebabkan tidak tersedianya karbohidrat yang cukup selama inisiasi tunas baru dan akar primordia. Hal ini diduga ketersediaan karbohidrat dari bahan stek batang maksimal hanya dapat bertahan hingga sekitar 8 MST karena setelah 8 MST tidak ada lagi bahan
stek batang yang bertahan hidup sebelum terbentuknya tunas baru.
Dari hasi uji Duncan’s taraf 5% ditunjukkan bahwa persentase stek tumbuh tertinggi terdapat pada perlakuan E ( panjang stek 20 cm) yaitu sebesar 89,61 % namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan D (panjang stek 17,5 cm) dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan C (panjang stek 17,5 cm) dan F (panjang stek 22,5 cm) dan G (panjang stek 25 cm). Hal ini menunjukkan bahwa pada panjang stek kisaran 15 cm hingga 25 cm sama baiknya dalam persentase stek tumbuh jika dibandingkan dengan panjang stek 10 cm. Hal ini diduga panjang stek berkaitan dengan cadangan makanan yang terdapat pada stek, semakin panjang ukuran stek maka cadangan makanan yang terdapat pada stek lebih banyak dibandingkan dengan stek yang lebih pendek. Cadangan makanan ini selanjutnya digunakan untuk pertumbuhan bibit. Harjadi (1996) menyatakan bahwa pembelahan sel pada titik tumbuh batang tergantung pada ketersediaan karbohidrat. Karbohidrat yang tinggi dan nitrogen yang cukup akan membentuk akar dan tunas ( Hartmann dan Kester, 1978).
Waktu Muncul Tunas
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa panjang stek berpengaruh nyata terhadap waktu muncul tunas bibit sek anggur. Hasil uji Duncan’s taraf 5 % ditunjukkan pada tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh panjang stek terhadap waktu muncul tunas setek bibit anggur 8
MST.
Perlakuan Waktu Muncul Tunas A ( panjang setek 10 cm) 49,57 e
B ( panjang setek 12,5 cm) 43,66 d C ( panjang setek 15 cm) 34,33 b D ( panjang setek 17,5 cm) 40,52 cd E ( panjang setek 20 cm) 31,67 ab
Tri Kurniastuti
Perlakuan Waktu Muncul Tunas F ( panjang setek 22,5 cm) 26,32 a
G ( panjang setek 25 cm) 28,67 a
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji jarak berganda Duncan’s taraf 5%
Dari tabel 2 ditunjukkan bahwa waktu muncul tunas yang paling cepat adalah perlakuan F (panjang tunas 22,5 cm) yaitu pada hari ke 26,32 , namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan E ( panjang setek 20 cm), F ( panjang setek 22,5 cm) dan G ( panjang setek 25 cm). Waktu muncul tunas paling lambat pada perlakuan A ( panjang setek 10 cm), yaitu hari ke 49,57. Waktu muncul tunas yang lambat diduga berkaitan dengan ukuran stek yang pendek, karena dengan ukuran stek yang pendek maka jumlah tunas sedikit, sedangkan di dalam tunas terdapat karbohidrat dan hormon yang berfungsi untuk pembelahan sel. Jika karbohidrat sedikit maka energi yang dihasilkan juga sedikit sehingga pembelahan sel menjadi lambat. Harjadi, SS (1996) menyatakan bahwa persediaan karbohidrat yang cukup akan menyebabkan terjadinya pembelahan sel pada titik tumbuh batang dan ujung-ujung akar.
Persentase Stek Bertunas
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa panjang stek berpengaruh nyata terhadap persentase setek bertunas bibit anggur. Hasil uji Duncan’s taraf 5 % ditunjukkan pada tabel 2. Tabel 3. Pengaruh panjang setek terhadap
persentase setek bertunas bibit anggur 8 MST.
Perlakuan setek bertunaspersentase A ( panjang setek 10 cm) 52,31 a B ( panjang setek 12,5 cm) 79,67 bc C ( panjang setek 15 cm) 82,21 bc D ( panjang setek 17,5 cm) 80.95 bc E ( panjang setek 20 cm) 92,03c F ( panjang setek 22,5 cm) 86,76 bc G ( panjang setek 25 cm) 87,66 bc
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji jarak berganda Duncan’s taraf 5%
Hasil uji Duncan’s taraf 5 % menunjukkan persentase setek bertunas terendah diperoleh pada perlakuan bahwa perlakuan A ( panjang setek 10 cm) yaitu sebesar 52, 31 % dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Persentase setek bertunas menunjukkan hasil rata-rata terbaik pada perlakuan
E( panjang setek 20 cm) yaitu sebesar 92,3 %. Hal ini diduga karena pada panjang stek 10 cm mempunyai cadangan makanan yang lebih sedikit dibandingkan perlakuan lainnya sehingga mempengaruhi jumlah tunas yang terbentuk karena stek yang pendek cadangan makanannya lebih sedikit.
Dari tabel 3 ditunjukkan hasil rata-rata terbaik pada perlakuan E (panjang setek 20 cm) yaitu sebesar 92,3 %. Pada stek dengan ukuran yang lebih panjang menunjukkan hasil persentasi yang lebih baik karena diduga cadangan makanannya cukup untuk membentuk tunas baru. Pertumbuhan tunas sangat tergantung pada cadangan makanan, karena tunas belum tanaman belum mampu menyediakan makanan melalui fotosintesis, sehingga pertumbuhannya sangat tergantung pada ketersediaan cadangan makanan.
Sutopo (1992) rnenyatakan, bahwa pertumbuhan awal suatu tanaman sangat dipengaruhi oleh cadangan makanan yang terdapat pada bahan tanamnya. Pada saat akar belum berfungsi sebagai penyerap unsur hara, cadangan makanan ini yang akan dirombak menjadi bahan yang dapat
Volume 17 Nomor 1 Maret 2016,AGRI-TEK 5 Pengaruh Berbagai Macam Panjang Stek diserap oleh tanaman untuk menunjang
pertumbuhan tanaman. Jumlah Tunas
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa panjang stek berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas bibit anggur. Hasil uji Duncan’s taraf 5 % ditunjukkan pada tabel 4.
Tabel 4. Pengaruh panjang setek terhadap jumlah tunas setek bibit anggur 8 MST.
Perlakuan jumlah tunas A ( panjang setek 10 cm) 6,90 a B ( panjang setek 12,5 cm) 10,07 a C ( panjang setek 15 cm) 14,23 b D ( panjang setek 17,5 cm) 14,27 b E ( panjang setek 20 cm) 14,78 b F ( panjang setek 22,5 cm) 16,70 b G ( panjang setek 25 cm) 17,14 b
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji jarak berganda Duncan’s taraf 5%
Hasil uji Duncan’s taraf 5 % menunjukkan jumlah tunas terendah diperoleh pada perlakuan A ( panjang setek 10 cm) yaitu sebesar 6,90 namun tidak berbeda nyata denga perlakuan B ( panjang setek 12,5 cm) dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Jumlah tunas tertinggi pada perlakuan G ( panjang setek 25 cm) yaitu sebesar 17,14 buah namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan C,D E dan F. Jumlah tunas dipengaruhi oleh panjang stek yang digunakan, dari table 4 ditunjukkan bahwa jumlah tunas lebih banyak pada panjang stek 15-25 cm. Hal ini diduga karena terjadi perbedaan cadangan makanan yang tersimpan dalam setiap perlakuan. Stek berukuran lebih panjang mempunyai jumlah mata tunas yang lebih lebih banyak hal ini mengakibatkan jumlah cadangan makanan, yang lebih besar sehingga berpengaruh pada pertumbuhan bibit dan sebaliknya. Stek yang lebih
pendek diduga kehilangan cadangan bahan makanan akan lebih cepat sehingga daya tumbuh pada stek yang pendek akan lebih kecil dan jumlah tunas yang tumbuh pada stek akan lebih sedikit. Sudomo et al. (2007) mengatakan bahwa ukuran jumlah mata tunas yang berbeda mempunyai cadangan makanan dan kandungan hormon yang berbeda pula.
Panjang Tunas
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa panjang stek berpengaruh nyata terhadap panjang tunas bibit anggur. Hasil uji Duncan’s taraf 5 % ditunjukkan pada tabel 5.
Tabel 5. Pengaruh panjang setek terhadap panjang tunas setek bibit anggur 8 MST.
Perlakuan panjang tunas A ( panjang setek 10 cm) 0, 47 a B ( panjang setek 12,5 cm) 0,63 a C ( panjang setek 15 cm) 1,94 b D ( panjang setek 17,5 cm) 1,56 b E ( panjang setek 20 cm) 1,90 b F ( panjang setek 22,5 cm) 1,61 b G ( panjang setek 25 cm) 1,87 b
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji jarak berganda Duncan’s taraf 5%
Hasil uji Duncan’s taraf 5 % menunjukkan panjang tunas terendah diperoleh pada perlakuan A ( panjang setek 10 cm) yaitu sebesar 0, 47 cm , tidak berbeda nyata dengan perlakuan B namun berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Panjang tunas terbesar pada perlakuan E ( panjang setek 20 cm) yaitu sebesar 1,90 cm namun tidak berbeda dengan perlakuan C, D,E, F dan G. Perlakuan panjang stek 15 cm- 25 cm mempunyai panjang tunas yang lebih panjang dibandingkan dengan panjang stek di bawah 15 cm, hal ini diduga terkait dengan perbedaan cadangan makanan yang tersimpan pada
Tri Kurniastuti
masing-masing stek, dimana stek yang lebih panjang mempunyai tunas lebih banyak sehingga cadangan makanan juga lebih besar. Cadangan makanan merupakan energy yang nantinya digunakan untuk pembelahan sel sehingga dapat menambah ukuran tunas pada bibit anggur.
Harmann et al. (2002) Panjang stek terkait dengan tersedianya bahan cadangan makanan. Semakin panjang stek semakin besar kesediaan bahan makanannya dan sebaliknya. Potensi cadangan makanan yang dimiliki masing-masing stek akan menentukan pertumbuhan dan perkem-bangan bibit. Jenis tanaman yang berbeda mempunyai panjang stek yang baik yang berbeda pula. Hasil penelitian Mardani (2005) ditunjukkan bahwa semakin banyak jumlah ruas setek, dapat memacu pertumbuhan tunas dan akar. Penggunaan bahan setek dengan 4 ruas pada tanaman nilam merupakan bahan stek yang baik untuk pertumbuhan tanaman nilam.
Panjang Akar
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa panjang stek berpengaruh nyata terhadap panjang tunas bibit anggur. Hasil uji Duncan’s’s taraf 5% ditunjukkan pada tabel 5.
Tabel 6. Pengaruh panjang setek terhadap panjang akar setek bibit anggur 8 MST.
Perlakuan panjang akar A ( panjang setek 10 cm) 8,26 a
B ( panjang setek 12,5 cm) 12,21ab C ( panjang setek 15 cm) 16,85 b D ( panjang setek 17,5 cm) 17,36 b E ( panjang setek 20 cm) 18,41ab F ( panjang setek 22,5 cm) 12,79 ab G ( panjang setek 25 cm) 12,15 ab
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji jarak berganda Duncan’s taraf 5%
Hasil uji Duncan’s’s taraf 5%menunjukkan bahwa perlakuan E ( panjang setek 20 cm) menunjukkan hasil rata-rata panjang akar terbaik yaitu sebesar 18,41 cm meskipun tidak berbeda nyata dengan perlakuan B,C,D,F dan G. Panjang akar terendah pada perlakuan A (panjang stek 10 cm) dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal ini diduga karena dalam proses awal penyetekan, kemampuan hidup batang stek hanya tergantung pada jumlah cadangan makanan yang terkandung dalam batang sebelum stek muncul akar. Ukuran stek yang lebih panjang berkontribusi pada panjang akar. Harjadi (1996) menyatakan bahwa fase vegetatif merupakan fase penggunaan jumlah karbohidrat di dalam bahan stek. Selain itu disebabkan adanya perbedaan kandungan karbohidrat dan nitrogen yang terdapat dalam stek batang yang lebih panjang lebih tinggi dibanding dengan stek yang pendek. Menurut Waluyo (2010 besarnya nilai rasio karbohidrat dan nitrogen mempengaruhi stek dalam pertumbuhan akar dan tunas. Karbohidrat tersebut dibutuhkan oleh tanaman untuk mendukung terjadinya proses penting di dalam tanaman, diantaranya pembelahan sel, perpanjangan sel, dan pemanjangan akar.
Menurut Hartmann et al. (2002) terkait dengan panjang bahan stek terdapat pengaruh kontribusi perbedaan akumulasi karbohidrat pada bagian bawah stek dan jumlahnya akan optimal untuk pembentukan akar pada stek yang panjang dibandingkan stek yang pendek. Semakin panjang stek batang, maka semakin baik pertumbuhan akar pada masing-masing tanaman tersebut. Faktor fisik seperti panjang stek dan diameter stek merupakan hal yang berpengaruh terhadap kemampuan bahan stek membentuk akar.
Volume 17 Nomor 1 Maret 2016,AGRI-TEK 7 Pengaruh Berbagai Macam Panjang Stek Menurut Harjadi (1996)) fase vegetatif
merupakan fase penggunaan jumlah karbohidrat di dalam bahan stek. Karbohidrat tersebut dibutuhkan oleh tanaman untuk mendukung terjadinya proses penting di dalam tanaman, diantaranya pembelahan sel, perpanjangan sel, dan pemanjangan akar. Selain kandungan karbohidrat diduga karena dengan ukuran stek yang panjang maka jumlah tunas yang mengandung hormone lebih banyak. Kusumo (2004) menyatakan bahwa perakaran yang tumbuh pada stek disebabkan oleh dorongan auksin yang berasal dari tunas dan daun. Tunas yang sehat pada batang merupakan sumber auksin dan merupakan faktor penting dalam perakaran. Sudomo et al. (2007) menyatakan bahwa daya pembentukan akar pada suatu jenis tanaman bila distek antara lain dipengaruhi oleh kandungan karbohidrat serta keseimbangan hormon dalam bahan stek. Tunas yang sedang aktif tumbuh membentuk banyak hormon yang mempengaruhi pembentukan akar pada stek.
KESIMPULAN
Panjang stek berpengaruh nyata terhadap persentase stek tumbuh, waktu muncul tunas, prosentase stek bertunas jumlah tunas panjang tunas dan panjang akar stek anggur. Pertumbuhan stek bibit anggur terbaik pada ukuran panjang stek 20 cm pada peubah persentase stek tumbuh , persentase stek bertunas, panjang tunas dan panjang akar.
DAFTAR PUSTAKA
Cahyono, B. 2010. Cara Sukses Berkebun Anggur Lokal dan Impor. Pustaka Mina. Jakarta.124
Hayati, E dkk. 2007. Pengaruh Jumlah Mata Tunas dan Komposisi Media Tanam terhadap Pertumbuhan Stek Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Syah Kuala
Banda Aceh.
Harjadi, SS. 1989. Dasar-dasar Hortikultura. Departemen Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian IPB Bogor. 506 hal.
Hartmann, H.T and D.E Kester 1978.. Plant Propagation. Principle and practices. Hall of India. New Delhi. p. 702.
Hartmann, et al. 2002. Plant Propagation. Principle and practices. 7th edition. Prentice Hall International Inc. New York. p. 770 .
Krismawati, A dan Sugiono. 2012. Kajian Penerapan Teknologi Usahatani Anggur di Kota Probolinggo. Seminar Nasional Kedaulatan Pangan dan Energi. Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo. Madura. Kusumo, S. 2004. Zat Pengatur Tumbuh. CV.
Yasaguna. Jakarta. Hal 37-54.
Mardani, D. Y. 2005. Pengaruh jumlah ruas dan komposisi media tanam terhadap pertumbuhan bibit setek nilam (Pogostemon cablin Benth). Skripsi (tidak dipublikasikan). Fakultas Pertanian Institut Pertanian (INTAN), Yogyakarta. Nurcahyo, Eko, M. 2006. Anggur Dalam Pot.
Penebar Swadaya. Jakarta.108 hal.
Sudomo, A. dkk. 2007. Pengaruh Jumlah Mata Tunas Terhadap Kemampuan Hidup Dan Pertumbuhan Stek Empat Jenis Hibrid Murbei. Balai Besar Penelitian Teknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.
Sutopo, L. 1992. Teknologi Benih. PT Raja Grafindo Persada Jakarta. Pp 237.
Yuniastuti. 2004. Perbanyakan Anggur. Penebar Semangat. Jakarta
PENDAHULUAN
Indonesia mempunyai potensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia, apabila berbagai masalah utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi, agribisnis kakao dikembangkan dan dikelola secara baik. Indonesia masih memiliki lahan potensial yang cukup besar untuk mengembangkan kakao, yaitu lebih dari 6,2 juta ha terutama di Papua, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Maluku (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2005).
Di wilayah Jawa Timur bagian barat terdapat pula perkebunan kakao rakyat. Perkebunan kakao tersebar di wilayah kabupaten Madiun, Ponorogo, Kediri, Magetan dan Pacitan. Potensi desa segulung kecamatan dagangan adalah areal untuk tanaman kakao seluas 298 ha dengan hasil produksi 655,6 ton per tahun. Dengan topografi wilayah ± 750 diatas permukaan laut, tekstur tanah remah sampai menggumpal, struktur tanah lempung sampai lempung berpasir dan tipe jenis tanah latosol (Laporan Monografi Kec. Dagangan, 2010) merupakan lokasi yang
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUI PERSEPSI MASYARAKAT
TERHADAP BUDIDAYA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.)
(Studi Kasus di Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun)
Ratna Mustika Wardhani 1) , Edy Prasetiyo 2)
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Merdeka Madiun Alumni Fakultas Pertanian Universitas Merdeka Madiun
Email : [email protected] Abstract :
Cocoa is the economic mainstay of the plantation crop farmers in the area of Madiun Country, but the production and productivity of cocoa is still relatively low. Farming is still traditionally run like without the application of fertilizers, pest control (OPT) is not optimal and maximum maintenance such as pruning yet implemented. Therefore cocoa unable to give a maximum contribution to the income of the people in the district of Madiun. This study aims to determine the factors that affect the public perception for the cultivation of cocoa. The research was conducted in the village of the District Merchandise roll of Madiun. While research method implemented is descriptive research method and analysis method used is the method of Multiple Linear Regression analyst. The results of the study can be summarized as follows that the negative factors that influence public perception for the cultivation of cocoa is education (x1), the number of dependents (x2), age of the cocoa plant (x3), while the positive effect on public perception of aquaculture cocoa crop is the total land area (x4).
Keywords:
Volume 17 Nomor 1 Maret 2016,AGRI-TEK 9 Faktor-faktor yang Mempengarui Persepsi Masyarakat sesuai untuk budidaya kakao. Potensi suatu
wilayah adalah kemampuan dari kondisi suatu wilayah dalam melaksanakan rangkaian aspek dalam kegiatan di komoditas kakao, mulai dari hulu sampai hilir.
Walaupun tanaman perkebunan seperti kakao menjadi andalan ekonomi petani di wilayah penelitian, namun produksi dan produktivitas kakao masih tergolong rendah. Hal ini dikarenakan petani masih menjalankan usahatani kakao secara tradisional seperti tanpa pemberian pupuk, pengendalian organisme penganggu tanaman (OPT) belum optimal dan pemeliharaan seperti pemangkasan belum maksimal dilaksanakan. Di lain pihak teknologi usahatani kakao sudah banyak dihasilkan, namun penyebaran ke tingkat petani atau pengguna belum optimal. Pertumbuhan harga kakao dipasaran yang semakin meningkat, namun demikian belum mendorong masyarakat untuk membudidayakannya secara signifikan, Oleh karena itu perlu adanya kajian tentang faktor-faktor yang mendorong masyarakat untuk berbudidaya kakao, mengingat potensi untuk tanaman kakao cukup tinggi.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Masyarakat terhadap budidaya tanaman kakao ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional (Rakhmat 2005). Krech dalam Rakhmat (2005) menyebutnya faktor fungsional dan faktor struktural.
Selain faktor-faktor kebutuhan di atas, Leavitt (1978) juga menyatakan bahwa cara individu melihat dunia berasal dari kelompoknya serta keanggotaannya dalam masyarakat, artinya terdapat pengaruh lingkungan terhadap cara individu melihat dunia yang dapat dikatakan sebagai tekanan-tekanan sosial.
Berdasarkan beberapa teori di atas dapat diketahui bahwa kebutuhan individu merupakan salah satu faktor penting yang
dapat mempengaruhi persepsi individu tersebut terhadap suatu obyek. Berkaitan dengan penelitian ini maka faktor personal atau faktor internal yang berhubungan dengan persepsi masyarakat terhadap potensi komoditas kakao, yaitu: umur, pendidikan, jumlah aggota keluarga, jumlah tanaman kakao, jumlah produksi kakao, umur tanaman kakao, luas lahan total dan luas lahan kakao.
Yuwono (2006) mengatakan bahwa umur merupakan karakteristik individu yang menggambarkan pengalaman dalam diri individu tersebut. Pada umumnya semakin tua seorang petani semakin sulit menerima suatu perubahan atau dengan kata lain sudah puas dengan kondisi yang dicapai. Hal ini sangat berkaitan dengan umur tanaman kakao, dimana umur tanaman menentukan tingkat produksi dari tanaman itu sendiri, tanaman kakao pada usia 10-15 tahun dalah umur produksi maksimal. Semakin tua umur tanaman akan mempengaruhi tingkat produksi tanaman, apabila umur kakao masih muda, maka tanaman kakao belum berproduksi.
Salah satu faktor yang dapat mengubah pola pikir dan daya nalar petani adalah pendidikan. Pada umumnya semakin tinggi pendidikan akan semakin rasional pola pikir dan daya nalarnya. Pendidikan sebagai suatu proses yang berpengaruh pada pembentukan sikap (termasuk persepsi), dikarenakan pendidikan meletakkan dasar pengetahuan dan konsep moral dalam diri individu. Pendidikan baik formal maupun non formal adalah sebagai sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Pada umum-nya warga yang berpendidikan lebih baik akan mudah dan lebih mampu ber komunikasi dengan baik (Azahari 1988).
Jumlah anggota keluarga adalah banyak-nya anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak, dan anggota keluarga lain
Ratna Mustika Wardhani & Edy Prasetiyo yang hidup dari pengelolaan sumberdaya yang sama. Jumlah anggota keluarga pada umumnya akan mempengaruhi pengeluaran rumah tangga yaitu bahwa pendapatan perkapita dan pengeluaran pangan akan menurun bila ada peningkatan jumlah anggota keluarga. Jumlah anggota keluarga adalah banyaknya anggota keluarga inti responden.
Jumlah anggota keluarga dibagi menjadi tiga kategori yaitu keluarga kecil, keluarga sedang dan keluarga besar. Keluarga kecil adalah keluarga dengan jumlah anggota keluarga kurang atau sama dengan empat orang. Keluarga sedang adalah keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga antara lima sampai tujuh orang dan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga lebih atau sama dengan delapan orang (Hurlock 1980).
Hubungan Karakteristik petani dan persepsi petani terhadap budidaya tanaman Kakao (Theobroma cocoa) dalam hal pelaksanaan kegiatan, tinggi rendahnya tingkat persepsi sesorang atau kelompok akan mendasari atau mempengaruhi tingkat peran serta dalam kegiatan. Persepsi yang baika terhadap sebuah program merupakan dasar dukungan dan motivasi positif untuk berperan serta, begitu pula sebaliknya persepsi yang buruk terhadap sebuah program merupakan penghambat bagi seseorang atau kelompok orang untuk berperan serta dalam pelaksanaan kegiatan (Susiatik 1998).
Meskipun seseorang atau beberapa orang berada dalam tempat yang sama, mengalami kejadian yang sama serta mengalami stimulan yang sama, kemungkinan terjadi peneriamaan, penafsiran yang berbeda terhadap obyek atau peristiwa yang mereka alami. Persepsi seperti juga sensasi yang dikatakan Rakhmat (2004) ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. Faktor-faktor personal yang secara langsung mempengaruhi persepsi adalah: (1)
pengalaman, yang tidak selalu diperoleh lewat belajar formal, (2) motivasi, (3) kepribadian.
Razak, A. (2006) menjabarkan bahwa alasan petani mengadobsi inovasi disebabkan oleh faktor situasi yaitu situasi dimana mereka mendapatkan dirinya sendiri dalam proses difusi inovasi, yang termasuk faktor ini diantaranya status kepemilikan tanah, prestise masyarakat, sumber-sumber informasi yang digunakan dan tingkat kehidupan.
Hubungan karakteristik petani dengan persepsinya terhadap potensi komoditas kakao pada suatu wilayah diuraikan dibawah ini :
1) Umur
Umur petani akan mempengaruhi kemampuan fisik dan respon terhadap hal-hal yang baru dalam menjalankan usaha taninya. Menurut Indrawijaya (2000), petani yang berusia lanjut akan sulit untuk diberikan pengertian-pengertian yang dapat mengubah cara berfikir cara kerja dan cara hidup. Umur petani akan mempengaruhi kemampuan fisik dan respon terhadap hal-hal baru dalam menjalankan usaha taninya. Hal ini sangat berkaitan dengan umur tanaman kakao, dimana umur tanaman menentukan tingkat produksi dari tanaman itu sendiri, tanaman kakao pada usia 10-15 tahun dalah umur produksi maksimal. Semakin tua umur tanaman akan mempengaruhi tingkat produksi tanaman, apabila umur kakao masih muda, maka tanaman kakao belum berproduksi.
2) Tingkat Pendidikan
Mardikanto (1993) menerangkan pen-didikan merupakan proses imbal balik dari setiap pribadi manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam, teman dan alam semesata. Pendidikan dapat diperoleh melalui pendidikan formal maupun non formal. Tingkat pendidikan petani baik formal
Volume 17 Nomor 1 Maret 2016,AGRI-TEK 11 Faktor-faktor yang Mempengarui Persepsi Masyarakat maupun non formal akan mempengaruhi cara
berfikir yang diterapkan pada usahanya yaitu dalam rasionalisasi usaha dan kemampuan memanfaatkan setiap kesempatan yang 3. Luas Kepemilikan Lahan
Menurut Rahardjo (1999) pemilikan lahan yang sempit cenderung pada sistem pertanian intensif, seperti pada lahan di Jawa pada umumnya. Sedang pada lahan yang luas cenderung ekstensif. Selain lahan memiliki fungsi produksi, lahan (tanah) juga untuk jaminan sebagai modal usaha pertanian. Sebagai sumber ekonomi bagi masyarakat desa khususnya petani, luas lahan dan kondisi lahan sangat menentukan produksi dan pendapatan rumah tangga petani (Mardikanto, 1993).
Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan diatas penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui faktor-faktor yang mem-pengaruhi persepsi masyarakat terhadap budidaya tanaman kakao.
METODE PENELITIAN
Penentuan Lokasi Penelitian
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (purposive sampling) yakni di desa Segulung kecamatan dagangan kabupaten madiun dengan pertimbangan berdasarkan hasil data dari badan pusat staistik (BPS) tahun 2010 produksi kakao terbesar di kabupaten Madiun terletak di kecamatan Dagangan dan desa Segulung merupakan desa dengan jumlah populasi tanaman kakao terbesar.
Metode Pengambilan Sampel
Sampel Penelitian
Pengambilan sampel dalam penelitian ini diawali dengan penentuan lokasi daerah penelitian dilakukan secara sengaja (purposive
sampling). Selanjutnya dari desa yang terpilih diambil sampel responden secara acak (random sampling) untuk memastikan bahwa segmen dari populasi dapat terwakili dalam sampel, sebanyak 10 persen dari populasi yang ada. Mengingat populasi petani lebih dari seratus orang, maka dilakukan sampling dengan prosedur pengambilannya merujuk prosedur yang dikemukakan oleh Arikunto (1998), apabila populasi lebih dari seratus orang, dapat diambil sampel sebanyak antara 10-25 % dan apabila populasi sama atau kurang dari seratus orang harus diambil semua. Berdasarkan pertimbangan tersebut, dalam penelitian ini dari 1340 kepala keluarga yang tersebar dalam 6 dusun, ditetapkan sampel penelitian setiap dusun 10 orang sehingga jumlah sampel penelitian 60 orang. Cara Pengumpulan Data
a. Teknik Wawancara
Wawancara adalah tanya jawab antara peneliti dengan petani untuk memperoleh data-data yang diperlukan berdasarkan jawaban jawaban langsung dari petani. b. Teknik Pencatatan
Pencatatan adalah cara memperoleh data dengan mencatat data dari berbagai instansi atau dinas atau lembaga dari tingkat kabupaten ataupun provinsi sampai tingkat desa yang didasarkan atas laporan serta catatan yang ada, dan hasilnya merupakan data sekunder. c. Teknik Observasi
Observasi adalah cara pengumpulan data tanpa mengajukan pertanyaan-pertanyaan tetapi dengan jalan meng -amati obyek yang diteliti. Observasi di sini bertujuan mencocokkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan keadaan sebenarnya dan dapat dipergunakan untuk melengkapi data yang ada.
Ratna Mustika Wardhani & Edy Prasetiyo Sumber data
a. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari responden atau petani. Alat bantu yang digunakan adalah kuisioner atau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
b. Data sekunder yaitu data terdokumentasi yang relevan yang dapat diperoleh dari berbagai sumber yang dipercaya dan dapat dipertanggung jawabkan mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat desa.
Metode analisa
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu metode yang mengarah pada pengungkapan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada. Penelitian deskriptif perlu menciptakan konsep-konsep ilmiah, sekaligus berfungsi dalam mengadakan suatu spesifikasi mengenai gejala-gejala fisik maupun sosial yang dipersoalkan. Hasil penelitiannya memberikan gambarkan objek yang diteliti (Moh. Pabunda, 2006). Data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan, dianalisa dan selanjutnya disimpulkan. Jenis analisa yang dilakukan adalah:
1. Analisis deskriptif
Analisis deskriptif adalah metode statistika yang digunakan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan data yang telah dikumpulkan menjadi sebuah informasi (Suharyadi dan Purwanto, 2008). Analisis deskriptif di lakukan untuk mengetahui karakteristik petani meliputi umur, pendidikan, status lahan, luas lahan total, jumlah anggota keluarga, jumlah tanaman kakao, luas lahan kakao dan umur tanaman kakao.
2. Uji Validitas
Validitas didefinisikan sebagai sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu
alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu instrumen yang dimaksud untuk mengukur suatu variabel persepsi masyarakat terhadap potensi komoditas kakao dan kemudian menghasilkan informasi mengenai persepsi masyarakat, dikatakan sebagi alat ukur tersebut memiliki validitas yang tinggi. Uji validitas di gunakan sebagai instrumen yang mengukur data (Suliyatno, 2005).
3. Analisis regresi Liner Berganda
Analisis regresi merupakan studi dalam menjelaskan dan mengevaluasi hubungan antara suatu peubah bebas (independent variable) dengan satu peubah tak bebas (dependent variable) dengan tujuan untuk mengestimasi dan atau meramalkan nilai peubah tak bebas didasarkan pada nilai peubah bebas yang diketahui (Widarjono, 2005). Untuk menyatakan kuat tidaknya hubungan linier antara peubah penjelas dan peubah bebas dapat diukur dari koefisisen korelasi ( coefficient correlation) atau R, dan untuk melihat besarnya sumbangan (pengaruh) dari peubah bebas terhadap perubahan peubah tak bebas dapat dilihat dari koefisien determinasi (coefficient of determination) atau R2.
4. Pengujian Hipotesis
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap budidaya tanaman kakao digunakan analisis regresi berganda dengan formulasi sebagai berikut (Sugiyono, 2002).
Y= a+bX1+cX2+∑...n Dimana :
• Y = Persepsi Masyarakat (∑ tanaman kakao)
• a = konstanta • b = koefisien regresi
Volume 17 Nomor 1 Maret 2016,AGRI-TEK 13 Faktor-faktor yang Mempengarui Persepsi Masyarakat • X1 = Pendidikan
• X2 = Jumlah tanggungan Keluarga • X3 = umur tanaman kakao
• X4 = Luas lahan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
Dari hasil penelitian dapat diketahui karakteristik responden sebagai berikut :
Karakteristik petani yang diamati dalam penelitian ini adalah karakteristik internal dan karakteristik eksternal yang meliputi:
1). Umur 2). Pendidikan 3). Luas lahan 4). Status Lahan
5). Tanggungan Keluarga
Tabel 1. Karakteristik petani kakao di desa Segulung tahun 2013 No Karakteristik Ka tegor i Respon den (n) Persen (%)
1 Umur Muda (28 - 50 tahun) 30 50 Tua (51 - 80 tahun) 30 50 100 2 Pendidikan SD 43 71,7 SLTP 11 18,3 SLTA 4 6,7 > SLTA 2 3,3 100 3 Luas Lahan < 15000 m² 49 81,7 ≥ 15000 m² 11 18,3 100
4 Status Lahan Sewa 2 3,3
Sendiri 58 96,7 100 5 Tanggungan keluarga 1 - 4 orang 36 60 > 4 orang 24 40 100 6 Umur tanaman kakao 5 tahun 2 3,3
10 tahun 5 8,4
15 tahun 20 33,3 ≥ 20 tahun 33 55
100 Keterangan: n = 60
Sumber : Data Rekapitulasi tingkat Desa/ Kelurahan Desa Segulung, 2012
Umur
Tabel 1 menunjukkan umur petani sebagai sampel penelitian mengenai persepsi petani terhadapa potensi komoditas kakao berkisar antara 28- 50 tahun termasuk dalam kategori muda (50%) dan (50%) berkategori tua. Secara umum tabel 1 menunjukkan pengambilan sampel mengenai persepsi petani terhadap potensi komoditas kakao terbagi rata. Dimana semakin muda usia petani biasanya mempunyai semangat untuk ingin tahu apa yang belum mereka ketahui. Petani yang berumur tua biasanya mempunyai pengalaman yang lebih lama dalam budidaya pertanian, sulit menerima inovasi baru dan persepsi yang diberikan berdasar pengalaman.
Pendidikan
Tingkat pendidikan petani 71,7% ber-pendidikan SD, petani memiliki tingkat pendidikan yang rendah yang menye-babkan pada analisa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat untuk budidaya tanaman kakao berpengaruh negatif. 18,3% SLTP. 6,7% SLTA dan 3,3% berpendidikan SLTA dan tingkatan diatasnya. Latar belakang pendidikan responden yang 100% menyelesaikan pendidikan merupakan
Ratna Mustika Wardhani & Edy Prasetiyo modal mereka terhadap adopsi inovasi. Tingkat pendidikan responden tersebut akan mempengaruhi persepsi mereka terhadap adopsi inovasi. Seperti yang diungkapkan Moh.Pabunda (2006) menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan formal, akan semakin tinggi pula kemampuanya untuk menerima, menyaring dan menerapkan inovasi yang diperkenalkan kepadanya. Luas Lahan
Rata-rata luas lahan yang digarap untuk usahatani dan perkebunan kakao rakyat adalah 0,763519 ha, dengan kisaran paling sempit 0,1333 ha dan terluas 3 ha. Pada umumnya petani memiliki luas lahan sempit (81,7%) dan selebihnya memiliki lahan yang luas (18,7%). Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa petani yang menggarap lahan yang luas umumnya mempunyai status sosial ekonomi yang lebih baik dan lebih banyak dapat memanfaatkan lahan untuk peningkatan produksi. Budidaya kakao yang dilaksanakan di wilayah penelitian sudah sesuai dengan teknis budidaya kakao, hanya umur tanaman yang sudah tua dan peremajaan tanaman yang sulit dilaksanakan. Petani yang menjaga kualitas tanaman agar tetap bagus menyatakan bahwa tanaman kakao adalah tanaman yang sangat menguntungkan karena berbuah sepanjang tahun tanpa mengenal musim.
Status Kepemilikan Lahan
Status lahan yang digarap sebagian besar (96,7%) adalah pemilik, sisanya sebanyak (3,3%) adalah lahan sewaan. Faktor ini dapat menjadi salah satu pendukung, dikarenakan status lahan milik sendiri akan menimbulkan efek ketenangan dan dapat digunakan sebagai sarana menambah modal atau jaminan modal usaha untuk peningkatan produksi. Status lahan yang digarap mayoritas adalah pemilik menjadikan petani memperoleh pendapatan tetap dari hasil lahan garapan, walaupun besarnya pendapatan tidak tentu.
Jumlah Tanggungan Keluarga
Sebagian besar petani (60%) memiliki tanggungan keluarga tergolong kategori kecil (1-4 orang), (40%) petani memiliki keluarga lebih dari 4 orang dalam satu rumah. 60 % petani memiliki tanggungan keluarga antara 1-4 orang, dimana dari keseluruhan keluarga menjadi tanggung jawab kepala keluarga. Tanggungan keluarga mendorong kepala keluarga untuk melaksanakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini nampak nyata pada hasil analisa yang menyatakan bahwa semakin besar tanggungan keluarga berpengaruh negatif terhadap persepsi masyarakat yang dinyatakan oleh jumlah tanaman kakao. Semakin besar tanggungan keluarga akan mempengaruhi petani untuk melaksanakan kegiatan budidaya yang lebih mempunyai nilai ekonomi tinggi. Pada intinya, persepsi masyarakat terhadap budidaya tanaman kakao akan semakin menurun dengan jumlah tanggungan keluarga yang meningkat. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satu diantaranya adalah harga kakao yang fluktuatif. Besar kecilnya keluarga akan mempengaruhi petani dalam mempertimbangkan keputusan dalam menjalankan usaha taninya. Seperti diungkapkan oleh Soekartawi (1988) bahwa anggota keluarga sering dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk menerima suatu adopsi inovasi. Selain mempengaruhi hal diatas, jumlah tanggungan keluarga akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan keluarga. Hal tersebut berkaitan dengan tingkat pendapatan petani dari hasil di bidang pertanian. Semakin kecil jumlah tangungan keluarga dan jumlah pendapatan keluarga semakin besar maka tingkat kesejahteraan keluarga akan semakin meningkat. Sebaliknya semakin besar tanggungan keluarga dengan pendapatan yang kecil atau besar maka tingkat kesejahteraan keluarga akan kurang.
Volume 17 Nomor 1 Maret 2016,AGRI-TEK 15 Faktor-faktor yang Mempengarui Persepsi Masyarakat Pada intinya tingkat kesejahteraan petani
ditentukan oleh besarnya pendapatan terhadap jumlah tanggungan keluarga.
Tabel.2 Statistik Deskriptif
Sampel Rata-rata Simpangan baku Persepsi_ masyarakat (Y) 60 260.83 255.703 Pendidikan (X1) 60 1.42 .766 Tanggungan_ keluarga (X2) 60 4.22 1.439 Umur_Tan_ Kakao (X3) 60 17.22 4.113 Luas_Lahan (X4) 60 7658.98 8221.840 Valid N (listwise) 60
Tabel 2 dapat dideskripsikan dari masing-masing variabel. Rata-rata persepsi masyarakat yang di tentukan oleh jumlah kepemilikan tanaman kakao adalah 260,83 dengan simpangan baku 255,703, tingkat pendidikan rata-rata 1,42 dimaksudkan tingkat
pendidikan mayoritas antara tamat SD dan SLTP dengan simpangan baku 0,766, jumlah tanggungan keluarga rata-rata 4,22 (diatas standar keluarga kecil) dengan simpangan baku 1,439, umur tanaman kakao rata-rata 17,22 tahun (dalam usia yang diatas usia puncak produktif) dengan simpangan baku 4,113 dan luas lahan kakao yang dimiliki rata-rata 2552,68 atau ¼ ha dengan simpangan baku 2740,567. Tidak terdapat data yang hilang (missing), dapat dilihat pada tabel 1 data yang dianalisis adalah 60.
Tabel 3 Uji Validitas
Koefisien Korelasi Signifikan KK N
Y 1.000 . 60
X1 .091 .489 60
X2 .141 .282 60
X3 -.207 .112 60
X4 .527” .000 60
Tabel 3 dapat dilihat besarnya korelasi antara X4 dan Y adalah 0,527. Nilai probabilitas sig. (2-tailed) adalah 0,000(<0,05), berarti kuisioner yang digunakan reliabel sehingga alat siap untuk digunakan pada penelitian. Tabel 4. Hasil Analisa Regresi
Y X1 X2 X3 X4
Spearman’s rho Y Koefisien korelasi 1.000 .091 .141 -.207 .527**
Signifikansi KK . .489 .282 .112 .000 Jumlah sampel 60 60 60 60 60 X1 Koefisien korelasi .091 1.000 .025 .094 .202 Signifikansi KK .489 . .848 .474 .122 Jumlah sampel 60 60 60 60 60 X2 Koefisien korelasi .141 .025 1.000 .198 .119 Signifikansi KK .282 .848 . .130 .365 Jumlah sampel 60 60 60 60 60 X3 Koefisien korelasi -.207 .094 .198 1.000 -.132 Signifikansi KK .112 .474 .130 . .315 Jumlah sampel 60 60 60 60 60 X4 Koefisien korelasi .527** .202 .119 -.132 1.000 Signifikansi KK .000 .122 .365 .315 . Jumlah sampel 60 60 60 60 60 **. Singnifikan korelasi 0,01
Ratna Mustika Wardhani & Edy Prasetiyo Besar hubungan antar variabel Y dan X1 = 0,091, Y dan X2 = 0,141, Y dan X3 = -0,207 dan Y dan X4 = 0,527. Tingkat signifikansi koefisien korelasi dari output menghasilkan angka 0,489, 0,282, 0,112 dan 0,000 maka korelasi yang nyata terjadi hanya untuk variabel X4.
Model Variabel Variabel yang dikeluarkan Metode
1 X1, X2,
X3, X4 . Enter
2 . X2 Backward
3 . X1 Backward
4 . X3 Backward
a. semua variabel model enter pada no 1, pada no 2, 3, 4 digunakan metode backward
b. variabel terikat: PERSEPSI_MASYARAKAT
Dengan metode backward dapat dideteksi bahwa variabel jumlah tnggungan keluarga, pendidikan dan umur tanaman kakao tidak mempunyai pengaruh terhadap persepsi masyarakat, sehingga X1, X2 dan X3 dikeluarkan dari analisis
Model Summary Model Koefisien Korelasi Koefisien Deter-minasi Adjusted R Square Standar eror 1 .250a .062 -.006 256.438 2 .245b .060 .009 254.496 3 .238c .057 .023 252.683 4 .217d .047 .031 251.752 a. variabel analisis : X1,X2,X3,X4 b. variabel analisis :X2,X3,X4 c. variabel analisis :X3,X4 d. variabel analisis : X4 SIDIK RAGAM
Model Derajat bebas Mean Square F hitung Signifikan F tabel
1 Regresi 4 60205.081 .916 .462a 2,54 Residual 55 65760.691 Total 59 2 Regression 3 76876.840 1.187 .323b 2,77 Residual 56 64768.354 Total 59 3 Regression 2 109135.075 1.709 .190c 3,16 Residual 57 63848.915 Total 59 4 Regression 1 181678.655 2.867 .096d 4, 01 Residual 58 63378.960 Total 59
Pada baris pertama, kedua dan ketiga kolom tabel 4 analisa regresi pada model summary saat variabel X1, X2, X3 belum dikeluarkan, Koefisien determinasi sebesar -0,006, 0,009 dan 0,023. Baris ke empat model baru setelah variabel tanggungan keluarga, pendidikan dan umur tanaman dikeluarkan dari hasil analisis dan menghasilkan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,031 yang menunjukkan hubungan variabel yang
berpengaruh nyata. Semakin tinggi R² akan semakin baik bagi model regresi. Koefisien determinasi sebesar 0,031 berarti variasi persepsi masyarakat dapat diterangkan 31% oleh faktor luas lahan. Sedangkan sisanya sebesar 69% di pengaruhi oleh faktor lain selain 4 faktor yang diajukan.
Pada tabel 4 hasil Anova dapat dilihat nilai F hitung pada baris satu 0,916, F tabel 0,05
Volume 17 Nomor 1 Maret 2016,AGRI-TEK 17 Faktor-faktor yang Mempengarui Persepsi Masyarakat (4:55) adalah 2,54, F hitung pada baris dua
1,187, F tabel 0,05 (3:56) adalah 2,77, F hitung pada baris tiga 1,709, F tabel 0,05 (2:57) adalah 3,16, F hitung pada baris lima 2,867, F tabel 0,05 (1:58) adalah 4, 01 oleh karena F hitung lebih kecil dari F tabel maka hipotesa yang diajukan di tolak. Dengan tabel coeficients dilakukan uji t untuk menguji signifikansi koefisien regresi dari setiap variabel independent. Hipotesis =
Ho : Koefisien regresi non signifikan Ha : Koefisien regresi signifikan Jika propabilitas > 0,05 Ho diterima Jika propabilitas < 0,05 Ho ditolak
Dari keempat variabel hanya variabel luas lahan kakao yang memiliki propabilitas lebih kecil dari 0,05 maka variabel X4 berpengaruh nyata atau signifikan dan variabel X1, X2 dan X3 tidak berpengaruh nyata atau non signifikan. Maka Ho diterima, dan dinyatakan koefisien regresi tidak signifikan.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Karakteristik responden adalah 50%
kategori muda dan 50% kategori tua, dengan 100% responden menyelesaikan pendidikan formal yaitu 71,7% tamat SD, 18,3 tamat SLTP, 6,7% tamat SLTA dan 3,3 tamat pendidikan diatas SLTA. Rata-rata kepemilikan lahan 0,763519 ha dengan mayoritas status kepemilikan lahan sendiri dan jumlah tanggungan keluarga antara 1- 4 orang.
2. Dari hasil analisa diperoleh persamaan: Y=368,909-19,400X2-9,305-5, 479X3 + 0,021X4
Dimana faktor-faktor yang diajukan berpengaruh terhadap Y, baik pengaruh positif maupun negatif.
3. Variabel- variabel yang dikeluarkan dari persamaan di atas adalah tingkat
pendidikan (X1), jumlah tanggungan keluarga (X2) dan umur tanaman kakao (X3). Sehingga persamaan diatas dapat diuraikan bahwa koefisien regresi X4 = 0,021, artinya dengan menambahkan luas lahan sebesar 0,21 akan menambah jumlah tanaman sebesar 1 tanaman 4. Variabel luas lahan total yang dimiliki
responden mempunyai pengaruh terhadap persepsi masyarakat, dimana apabila luas lahan bertambah sebesar 0,020 m² akan mempengaruhi persepsi masyarakat sebesar 1.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 2008. Prospek dan Arah Pengem-bangan Agribisnis Kakao Final, Kompas, hlm. 4
Anonimous, 2010. Profil desa Segulung Kecamatan Dagangan kabupaten Madiun. Arikunto, S. 1998 Prosedur Penelitian , PT.
Rineka Cipta. Jakarta
Arifin, Bustanul., 2001. Spektrum Kebijakan Pertanian Indonesia. Erlangga, Jakarta, hlm. 77
Azahari J.1998 Komunikasi Massa dan Pem-bangunan Pedesaan di Negara-negara Dunia Ketiga . Suatu Pengantar. Gramedia Jakarta.
Moh Pabunda,Tika,2006 Budaya Organisasi dan peningkatan Kinerja Perusahaan. Jakarta. Bumi Aksara.
Hurlock, Elizabeth B. 1980 “Psikolgi Perkembangan” Erlangga , Jakarta.
Indrawijaya, I.2000, Perilaku Organisasi, Sinar Baru Algensindo, Bandung
Mardikanto T, 1993 Penyuluh Pembangunan Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta
Rakhmat, 2005 , Psikologi Komunikasi, Remaja Rosda Karya, Edisi Revisi, Bandung.
Ratna Mustika Wardhani & Edy Prasetiyo Rahardjo,1999 Pengantar Sosiologi Pedesaan
dan Pertanian. Gajah Mada University Press.
Razak, A. 2006 Pembinaan dan Pengembangan Desa Kakao. Skripsi S1 Universitas Sumatra Utara.
Soekartawi,1988 Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian , Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
Sugiyono,2002 Metode Penelitian Bisnis PT Gramedia Pustaka Utama . Jakarta
Suharyadi dan Purwanto, 2008 Statistika Untuk Ekonomi dan Keuangan Modern, Salemba Empat: Jakarta.
Susiatik, Titik , 1998 “Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Kegiatan Pembangunan Desa Hutan Terpadu (PMDHT). Di Desa Mojorejo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Dati II, Grobogan Jawa Tengan” Tesis Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Widarjono, Agus, 2005 Ekonometrika Teori dan Aplikasinya , Edisi Pertama Yogyakarta : Ekonisia.
Yuwono, S, 2006 Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Pembangunan Hutan Rakyat Pola kemitraan di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatra Selatan (tesis) Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.
AGRI-TEK: Jurnal Ilmu Pertanian, Kehutanan dan Agroteknologi Volume 17 Nomor 1 Maret 2016; ISSN : 1411-5336
VOLUME POHON BERDIRI PETAK 3a, RPH SALAM.
BKPH LAWU UTARA. KPH LAWU DS
Aris Sulistiono 1), Ahadiati Rohmatiah 2)
1) Alumni D3 Manajemen Hutan Universitas Merdeka Madiun, 2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Merdeka Madiun
Abstract
Wood is still an important product in forest management activities, therefore the tree volume estimation, measurement of the dimensions of the tree must be done carefully in order to obtain an accurate estimate of the volume of trees that are approaching the estimated volume of the actual volume value. Quality allegations tree volume depends on several factors, including: the level of accuracy desired, tree characteristics, measurement methods, tools used, the current state of the tree dimensional measurement and volume equation used. Estimation of the volume of standing trees research is done in pine plantations (Pinus Jung et de Vriese), in plot 3 a RPH Salam, BKPH North Lawu, KPH Lawu DS, Class VIII KU Forest planting year 1971. Selection of forest class (KU) VIII in this study caused the average grade woods RPH Salam entry into VIII KU and KU logging targets became possible when the time has been unproductive in producing. sap. From the research, the calculation of total sample volume manually tree stand at 171.92 m3 or an average of 2,097 m3 / tree with a minimum volume of 0562 m3 and a maximum of 6.773 m3. Based on the criteria of R2, RSS and SE then elected volume prediction model is Model quadratic equation Y = -1.157 + 2.606 + 15.056 dbh dbh2 .. R2 = 0.996, RSS = 0.1078, SEE = 0107. In calculating the volume using quadratic models shows that the total volume of 82 samples obtained tree volume amounted to 171.87 m3 models or an average of 2,096 m3 / tree. The minimum volume of 0,550 m3 and a maximum of 6.473 m3. Based on t test. test found that t value of 0.053 while t table at 82-1 df = 81 5% (α = 0.05) of 1.615, t (<) is smaller than t table so there is no difference sigifikan / evident between calculations manual volume with the volume calculation using a quadratic models.
Keywords:
Tree volume, dbh, tree height, form factor, taper function, importance sampling, centroid sampling.
PENDAHULUAN
Salah satu cara penaksiran volume batang pohon yang dirasakan cukup praktis adalah dengan menggunakan tabel volume. Tabel volume adalah sebuah tabel yang digunakan untuk menentukan volume kayu pohon
berdiri berdasarkan dimensi-dimensi penentu volume (biasanya diameter setinggi dada, tinggi pohon, dan/atau angka bentuk), yang dibuat dengan menggunakan persamaan volume batang melalui analisis regresi. Untuk penyusunan persamaan volume
Aris Sulistiono & Ahadiati Rohmatiah
menggunakan persamaan regresi tersebut diperlukan data dimensi pohon contoh yang disebut dengan pohon model. Pohon model diambil dari populasi dengan memperhatikan keterwakilan dalam hal sebaran lokasi dan keragaman dimensi pohon dalam populasi tersebut. Loetsch, Zohrer dan Haller (1973) menyarankan bahwa jumlah pohon model berkisar 50-100 pohon atau lebih. Pohon model yang dipilih adalah pohon-pohon yang memiliki performansi bagus, sehat dan tumbuh normal. Untuk mendapatkan data pohon model (terutama tinggi pohon dan diameter perseksi) pada pohon berdiri sangatlah sulit, kecuali pengukuran dilakukan pada pohon rebah saat sedang ada penebangan. Sengaja menebang 50-100 pohon contoh dengan kondisi pohon yang baik padahal belum saatnya menebang dirasakan sayang. Kalaupun dikaitkan dengan kegiatan penjarangan, penjarangan pada umumnya dilakukan dengan menebang pohon-pohon yang performansinya kurang bagus.
Dewasa ini studi mengenai potensi hutan (Volume) menjadi penting. Salah satunya adalah studi mengenai potensi tegakan, Salah satu faktor yang menentukan dalam menganalisa potensi hutan adalah dengan metode pengukuran. Ada dua metode yang biasa digunakan untuk menduga potensi tegakan hutan yaitu pertama dengan cara pengukuran tidak langsung dengan cara konversi potensi tegakan dengan menggunakan satu parameter saja (diameter setinggi dada). Metode ini paling banyak di gunakan dengan cara mengunakan model regresi dari berbagai model pertumbuhan yang ada. Dan kedua dengan pengukuran langsung dengan cara menggunakan alat atau metode tertentu. Biasanya dilakukan dengan cara mengukur keliling pohon, tinggi dan menggunakan faktor koreksi (fp) pada batang.
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Pada hutan kelas Perusahaan Pinus hasil Getah merupakan andalan utama (produk Primer) sedangkan hasil kayunya sebagai produk sekunder setelah tidak lagi produktif menghasilkan getah. Tabel Volume Lokal kayu Pinus tidak tersedia akan tetapi TVL untuk produksi Getah masuk dalam buku RPKH. Tanaman Pinus yang digunakan dalam pendugaan table volume lokal masuk Kelas Umur (KU) VIII. Pemilihan kelas hutan (KU) VIII dalam penelitian ini disebabkan rata-rata kelas hutan di RPH Salam masuk KU VIII dan di mungkinkan menjadi KU target tebangan bila nantinya sudah tidak produkstif dalam menghasilkan getah.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Dapat mengukur dan menghitung volume tegakan berdiri
2. Menghasilkan prediksi volume pohon berdiri jenis Pinus Merkusii mendekati kenyataan lapangan sebagai dasar dalam perencanaan produksi hasil hutan berupa kayu secara berkelanjutan.
3. Mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil pengukuran antara pengukuran volume secara manual dengan peng-ukuran volume menggunakan model Inventore hutan merupakan prosedur untuk memperoleh informasi tentang kuantitas dan kualitas sumber daya hutan dan karakteristik areal pada pohon-pohon tumbuh. Apabila hutan yang diinventarisasi cukup luas, cara pengukuran 100% akan terlalu banyak memerlukan waktu, tenaga, dan biaya; maka diperlukan sampling. Pada umumnya sampling dalam inventore hutan hanya dianggap sebagai cara penempatan sampel untuk pengukuran volume kayu di lapangan (Simon, 2007).
Volume 17 Nomor 1 Maret 2016,AGRI-TEK 21 Volume Pohon Berdiri Petak 3a, RPH Salam. Parameter pohon yang mempunyai arti
penting dalam pengumpulan data tentang potensi hutan untuk keperluan pengelolaan, parameter pohon tersebut antara lain adalah diameter batang, tinggi pohon, tinggi batang pokok (tinggi batang bebas cabang), diameter tajuk, dan volume. Simon (2007)
Diameter pohon setinggi dada lazim digunakan dalam pelaksanaan pengukuran diameter pohon yang juga berpengaruh baik terhadap perhitungan luas bidang dasar (lbds) dan volume tegakan, pada umumnya diameter setinggi dada (dbh) diukur pada ketinggian 1,3 m dari permukaan tanah (Simon, 2007). Selanjutnya dikatakan tinggi pohon diperlukan untuk menaksir volume dan riap, secara khusus tinggi pohon dapat dihubungkan dengan umur tegakan untuk menentukan kelas kesuburan tanah (bonita).
Beberapa macam tipe tinggi pohon yang diukur dalam inventarisasi hutan, antara lain adalah tinggi total, tinggi batang bebas cabang, tinggi batang komersial, dan tinggi tunggak. Setelah diameter, tinggi pohon merupakan parameter lain yang mempunyai arti penting dalam penaksiran hasil hutan. Bersama diamater, tinggi pohon diperlukan untuk menaksir volume dan riap beberapa macam tinggi pohon (Simon. 2007)
Faktor bentuk (f ) diperlukan sebagai penghubung antara volume suatu silinder dengan volume batang atau pohon. Dalam perhitungan nilai faktor bentuk dapat berbeda-beda tergantung pada diameter mana yang dipakai sebagai dasar untuk menentukan diameter silindrisnya. Untuk sebagian besar pohon tropis, bila belum tersedia tabel faktor bentuk, pada umumnya dapat digunakan faktor bentuk sama dengan 0,7 (Banyard, 1973 dalam Simon, 2007). Bentuk batang berkaitan dengan perubahan diameter batang karena perubahan tinggi pengukuran. Karena perbedaan diameter pada berbagai macam ketinggian ini, maka secara umum ada tiga
macam bentuk batang, yaitu pada pangkal, berbentuk neloid. pada bagian tengah, berbentuk silinder atau poraboid, dan pada ujung pohon bentuk konus.
Pengukuran Diameter
Muhdin (2012) menyatakan diameter adalah sebuah dimensi dasar dari sebuah lingkaran. Diameter batang didefinisikan sebagai panjang garis antara dua buah titik pada lingkaran di sekeliling batang yang melalui titik pusat (sumbu) batang. Diameter batang adalah dimensi pohon yang paling mudah diperoleh/diukur terutama pada pohon bagian bawah. Tetapi oleh karena bentuk batang yang pada umumnya semakin mengecil ke ujung atas (taper), maka dari sebuah pohon akan dapat diperoleh tak hingga banyaknya nilai diameter batang sesuai banyaknya titik dari pangkal batang hingga ke ujung batang. Oleh karena itulah perlu ditetapkan letak pengukuran diameter batang yang akan menjadi ciri karakteristik sebuah pohon. Atas dasar itu ditetapkanlah diameter setinggi dada atau dbh (diameter at breast height) sebagai standar pengukuran diameter batang. Sekurangnya ada tiga alasan mengapa diameter diukur pada ketinggian setinggi dada: (1) alasan kepraktisan dan kenyamanan saat mengukur, yaitu pengukuran mudah dilakukan tanpa harus membungkuk atau berjingkat; (2) pada kebanyakan jenis pohon ketinggian setinggi dada bebas dari pengaruh banir; (3) dbh pada umumnya memiliki hubungan yang cukup erat dengan peubah-peubah (dimensi) pohon lainnya.
Selain mudah diperoleh/diukur, dbh juga merupakan dimensi pohon yang akurasi datanya paling mudah dikontrol. Oleh karena itulah dbh lebih sering digunakan sebagai pengubah penduga dimensi-dimensi pohon lainnya.
Aris Sulistiono & Ahadiati Rohmatiah
Selain untuk keperluan pendugaan dimensi pohon lainnya, diameter setinggi dada (dbh) biasanya diukur sebagai dasar untuk keperluan perhitungan lebih lanjut, misalnya untuk menentukan luas bidang dasar, dan volume. Luas bidang dasar pohon (B = lbds) adalah luas penampang lintang batang, sehingga dapat dinyatakan sebagai : B = ¼π D² ; di mana D = dbh. Selanjutnya perkalian antara luas bidang dasar pohon dengan tinggi (T) pohonnya kemudian dikalikan lagi dengan nilai faktor bentuk (f), maka akan diperoleh volume (V) batang pohon tersebut, yang dapat diformulasikan sebagai : V = B.T.f. Dari hasil penelitian dengan menggunakan empat jenis pohon (red maple, yellow poplar, red oak dan white oak) di West Virginia, USA, Wiant (1988) menunjukkan bahwa untuk keempat jenis pohon tersebut, ternyata dbh bukanlah merupakan ukuran diameter terbaik di dalam menduga dimensi volume. Hal itu ditunjukkan oleh besarnya koefisien determinasi tertinggi hubungan antara diameter dengan volume diperoleh pada saat diameter pada bagian batang yang lebih tinggi dibanding dbh. Hasil penelitian tersebut, tampaknya mengilhami pengembangan metode perhitungan / pendugaan volume pohon baik pohon berdiri maupun yang sudah ditebang (rebah), dari yang semula selalu tetap menggunakan dbh sebagai salah satu dimensi dasarnya menjadi diameter bagian lain yang letaknya pada batang bervariasi sesuai karakteristik dari masing-masing batang atau pohon tersebut. Hal ini akan di bahas lebih lanjut pada bagian tentang volume.
Menurut Simon (2007) pengukuran diameter pohon pada prinsipnya adalah mengasumsikan bahwa keliling pohon merupakan lingkaran dan pengukuran dapat dilakukan pada tempat-tempat tetap pada ketinggian pohon. Untuk menyatakan hal itu kemudian orang menentukan patokan tempat pengukuran diameter, yang lazim
disebut diameter setinggi dada (dbh) atau kira-kira 1,3 m dari permukaan tanah.
Lebih lanjut simon (2008) menyatakan bahwa pengukuran diameter batang setinggi dada karena di samping mudah dalam pelaksanaannya, juga berpengaruh baik terhadap perhitungan luas bidang dasar dan volume tegakan.
Menurut Pambudhi (2008), Untuk mengetahui volume diperlukan pengukur-pengukur pohon yang lain, yaitu diameter, tinggi dan bentuk pohon. Dari ke tiga pengukur ini, diameter dianggap yang ter-penting, antara lain karena :
1. Mudah diukur dan sudah terbukti ber-hubungan dengan tinggi, bentuk, volume.
2. Diameter dapat digunakan untuk men-duga variabel lain, misalnya banyaknya daun untuk pakan ternak, banyaknya karet yang dihasilkan, volume tajuk dan lain-lain.
3. Disitribusi diameter; sebuah distribusi yang menggambarkan banyaknya pohon dalam kelas-kelas diameter, merupakan salah satu hasil inventarisasi yang penting, khususnya untuk hutan tanaman.
Penggunaan kata “diameter “ sebenarnya sudah mengandung pengertian bahwa lingkar batang pohon diasumsikan berbentuk lingkaran. Dalam kenyataannya, lingkar pohon bisa mempunyai berbagai bentuk dan ini akan mengakibatkan kesalahan pendugaan volume.
Diameter pohon adalah garis lurus dari sebuah titik di lingkar batang, yang melalui titik pusat batang sampai ke titik perpotongan lingkar batang yang lain. Posisi pengukuran diameter yang menjadi acuan adalah pada ketinggian 1,3 m dari atas tanah. Diameter ini disebut dengan diameter setinggi dada atau diameter acuan dan dilambangkan dengan d1.3. Ketinggian ini diambil dengan asumsi
Volume 17 Nomor 1 Maret 2016,AGRI-TEK 23 Volume Pohon Berdiri Petak 3a, RPH Salam. bahwa pada tinggi 1,3 m dari tanah pengaruh
perbesaran batang bagian bawah tidak lagi berpengaruh.
Banyak alat yang digunakan untuk meng-ukur diameter. Beberapa diantaranya yang terpenting untuk mengukur diameter pohon adalah: pita ukur, caliper, garpu ukur, biltmore stick, wheeler pentaprism dan relaskop. Ke empat alat ukur diameter yang pertama, digunakan untuk pengukuran diameter yang dapat dijangkau, sedang wheeler pentaprism dan relaskop digunakan untuk mengukur diameter-diameter atas. Untuk mengukur diameter anakan, biasanya digunakan orang mikrocaliper (Pambudhi, 2008).
Setelah diameter, tinggi pohon merupakan parameter lain yang mempunyai arti penting dalam penaksiran hasil hutan. Bersama dengan diameter, tinggi pohon diperlukan untuk menaksir volume dan riap (simon, 2007). Muhdin (2012) menjelaskan tinggi pohon adalah salah satu dimensi yang harus diketahui untuk menghitung nilai volume pohon. Selain itu, peninggi yang didefinisikan sebagai rata-rata 100 pohon tertinggi yang tersebar merata dalam areal 1 hektar, dikaitkan dengan umur tegakan jenis pohon tertentu adalah merupakan komponen informasi yang diperlukan untuk menentukan indeks tempat tumbuh atau kualitas tempat tumbuh (bonita) yang mencerminkan produktivitas lahan dalam memberikan hasil (potensi tegakan).
Pengukuran tinggi pohon pada umumnya menggunakan salah satu atau kombinasi dari dua prinsip berikut :
1. Prinsip geometri atau prinsip segitiga sebangun
2. Prinsip trigonometri atau prinsip peng-ukuran sudut.
Terdapat hubungan yang erat antara dbh dengan tinggi pohon, maka secara fungsional tinggi pohon dapat juga diduga oleh dbh. Cara
ini dirasa lebih mudah dan praktis dibanding harus mengukur langsung tinggi pohon.
volume pohon adalah besarnya massa kayu sebatang pohon hingga tinggi batang tertentu dan diameter tertentu. Volume pohon merupakan ukuran tiga dimensi(L3) dan tinggi pohon berdimensi satu (L1), serta faktor bentuk pohon. Volume pohon umumnya dinyatakan dalam bentuk satuan kubik (Muhdin, 2012).
Volume pohon dapat diduga dalam keadaan berdiri atau rebah, tentu saja pengukuran pada pohon rebah dianggap lebih teliti daripada pengukuran pada pohon berdiri. Untuk menentukan volumenya, batang pohon dibagi menjadi seksi-seksi yang pendek, kemudian seksi pendek ini dianggap mempunyai bentuk geometrik yang sempurna. Panjang seksi yang digunakan bisa absolut, bisa relatif. Untuk panjang absolut, panjang seksinya bisa sama atau berbeda. Untuk pengukuran bentuk pohon, maka panjang seksi yang digunakan harus panjang relatif (Pambudhi, 2008).
Cara penentuan volume pohon yang paling praktis adalah dengan menggunakan tabel volume pohon. Tabel volume pohon adalah suatu tabel yang berisi nilai-nilai dugaan volume pohon pada ukuran diameter atau diameter dan tinggi pohon tertentu. Berdasarkan peubah penduga yang digunakan, tabel volume pohon dibedakan menjadi : tabel volume lokal, tabel volume baku dan tabel volume dengan kelas bentuk. Tabel volume lokal atau dikenal juga dengan istilah tariff volume adalah tabel volume dengan menggunakan dbh sebagai penduganya. Tabel volume baku adalah tabel volume dengan menggunakan dbh dan tinggi pohon sebagai peubah penduganya. Tabel volume dengan kelas bentuk adalah semacam tabel volume baku yang dibuat untuk setiap kelas bentuk batang.
Aris Sulistiono & Ahadiati Rohmatiah
Tabel volume dibuat berdasarkan persamaan volume yang disusun dengan persamaan regresi. Persamaan regresi terbaik biasanya dipilih dari berbagai macam persamaan yang dicobakan terhadap data yang dimiliki. Dari sekian banyak persamaan regresi yang dapat dicoba, persamaan : V = aDb (di mana : V = volume pohon ; D = dbh ; a, b = konstanta), adalah persamaan regresi yang paling banyak digunakan. Selain alasan kesederhanaan model dan kepraktisan karena hanya menggunakan dbh sebagai peubah penduga, juga model tersebut adalah model yang secara matematis memiliki kerangka pemikiran (landasan teoritis) yang jelas. Persamaan V = aDb dikenal juga sebagai persamaan Berkhout (Loetsch, Zohrer dan Haller, 1973
Asumsi yang mendasari berlakunya tabel volume lokal pada sebuah areal hutan (tegakan) adalah bahwa pohon-pohon yang memiliki ukuran diameter sama maka akan memiliki tinggi dan angka bentuk batang yang sama pula sehingga dengan demikian akan memiliki volume pohon yang sama pula. Sedangkan asumsi yang melandasi berlakunya tabel volume baku adalah bahwa pohon-pohon yang memiliki dbh dan tinggi pohon yang sama maka akan memiliki angka bentuk batang yang sama pula, sehingga akan memiliki volume pohon yang sama juga (Muhdin,2012)
Motode allometri adalah metode pengukuran pertumbuhan tanaman yang dinyatakan dalam bentuk hubungan eksponensial atau logaritmik antara organ tanaman yang terjadi secara harmonis dengan perubahan yang proporsional (Whittaker, dkk., 1975). dalam Lukito (2010)
Persamaan allometrik berguna untuk menduga potensi biomassa atau kandungan karbon pada suatu tegakan hutan, sehingga jumlah CO2 yang terserap dapat diketahui. Dalam pelaksanaannya, pohon-pohon sampel
yang akan digunakan dalam pelaksanaan pengukuran biomassa ditebang (destructive sampling) dan dilakukan pengukuran secara intensif pada bagian-bagian organ pohon seperti akar, batang, cabang/ranting dan daun. Biomassa akar, batang, cabang/ranting dan daun atau dimensi lainnya berfungsi sebagai variabel bergantung (dependent variable) dan dapat dihubungkan dengan variabel bebas (independent variable), seperti diamater batang pohon (Whittaker, et al. 1975) dalam Lukito (2010)
Hubungan antara setiap variabel ber-gantung dengan variabel bebas tersebut akan membentuk sebuah persamaan dalam sumbu XY, dengan variabel bebas akan diletakkan pada sumbu X dan bergantung pada sumbu Y. Secara umum, bentuk persamaan allometrik dituliskan sebagai berikut (Purwanto dan Shiba, 2005): dalam Lukito (2010)
Y = aXb Dimana:
Y : Variabel bergantung (berupa volume) a,b: Konstanta
X : Variabel bebas (berupa diameter dan tinggi pohon.
Dari persamaan tersebut terlihat bahwa allometri dapat digunakan untuk meng-hubungkan diameter batang dan tinggi pohon dengan variabel yang lain seperti volume kayu.
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penlitian ini adalah sebagai berikut :
1. Menambah pengetahuan dan penga-laman tentang bagaimana menghitung volume tegakan berdiri dengan membuat model
2. Memberikan informasi mengenai volume lokal tanaman pinus merkusii di RPH Salam BKPH Lawu Utara KPH Lawu Ds khususnya untuk tanaman KU VIII