• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKILAS BERBURU BAWANG MERAH DI PULAU SAMOSIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SEKILAS BERBURU BAWANG MERAH DI PULAU SAMOSIR"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Kondisi Geografis, Iklim, dan Sosio Ekonomis Kabupaten Samosir terletak di Provinsi Sumatera Utara, yaitu di Pulau Samosir di tengah Danau Toba dan sebagian wilayahnya berada di daratan Sumatera Utara. Secara Geografis Kabupaten Samosir terletak pada 2o 24 - 2o 25 Lintang Utara dan 98o 21‘ - 99o 55‘ BT. Secara Administratif Wilayah Kabupaten Samosir diapit oleh tujuh kabupaten, yaitu di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun, di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir, di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Barat.

Mata pencaharian sebagian penduduk Kabupaten Samosir adalah di bidang pertanian. Samosir merupakan daerah pertanian yang sangat mengandalkan curah hujan untuk keberhasilan pertaniannya. Rerata curah hujan yang terjadi di Kabupaten Samosir pada tahun 2003 berdasarkan hasil pengamatan dari tujuh stasiun pengamatan adalah sebesar 177 mm/bulan dengan jumlah hari hujan sebanyak 11 hari.Temperatur Kabupaten

Samosir berkisar antara 17oC–29oC dengan kelembaban udara rata-rata 85% dan tergolong beriklim tropis. Curah hujan tertinggi terjadi bulan November dengan rata-rata 440 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 15 hari. Curah hujan terendah terjadi pada bulan Juni s/d Agustus berkisar dari 31 s/d 56 mm per bulan, dengan hari hujan 5 s/d 7 hari.

Umumnya wilayah Samosir merupakan wilayah dataran tinggi, dengan ketinggian 700 – 1.700 m dpl. dengan topografi dan kontur tanah berbukit dan bergelombang. Kabupaten Samosir memiliki 10 buah sungai yang keseluruhannya bermuara ke Danau Toba. Sebagian dari sungai tersebut telah dimanfaatkan untuk mengairi lahan sawah. Luas lahan produktif di Kabupaten Samosir (2002) mencapai 69.798 ha, terdiri atas lahan sawah 7.247 ha (10,4%), dan lahan kering 62.551 ha (89,6%). Lahan kering yang dikelola hanya 14.110 ha (22,56%) dan sisanya merupakan lahan tidur seluas 48.441 ha atau 77,44% (Dinas Pertanian Kabupaten Samosir 2013).

Samosir dapat dicapai melalui perjalanan darat ataupun penyeberangan menggunakan feri dari dataran Sumatra ke Samosir. Feri juga berfungsi sebagai alat angkut perdagangan, yang

SEKILAS BERBURU BAWANG

MERAH DI PULAU SAMOSIR

(2)

melalui pelabuhan kecil dengan menggunakan perahu atau transportasi lainnya yang lebih kecil. Sistem Budidaya Bawang merah

Pertanian yang banyak diusahakan oleh petani di Kabupaten Samosir berupa tanaman palawija dan hortikultura. Tanaman palawija yang mendominasi pertanian adalah tanaman padi sawah seluas 2.246 ha, disusul oleh tanaman jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, dan kedelai dengan luas lahan yang diusahakan yaitu berturut-turut 663, 49; 66; 111; 93; 49, dan 1 ha. Tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan terutama tanaman kentang seluas 710 ha, sedangkan bawang merah merupakan tanaman hortikultura yang paling sedikit diusahakan petani Samosir yaitu hanya 43 ha. Tanaman sayuran lainnya yaitu cabe besar, cabe rawit, kubis dan tomat.

Tanaman bawang merah banyak ditanam di Kecamatan Simanindo dan Sianjur Mula-Mula dengan luas tanam 10-15 ha. Selain di dua kecamatan tersebut, bawang merah ditanam juga di Kecamatan Sitio-tio, Onan Runggu, Harian, Nainggolan, Palipi dan Pangururan dengan luas tanam antara 1–8 ha. Data dari Dinas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan Kabupaten Samosir sampai dengan bulan April 2013 dari luas panen

55 ha menghasilkan bawang merah sebanyak 345 ton. Dengan demikian produktivitas bawang merah yang dapat dicapai masih rendah yaitu rata-rata 6,27 t/ha dibandingkan dengan rata-rata nasional sekitar 9,7 t/ha.

Di Pulau Samosir, bawang merah khususnya diusahakan pada bulan Februari dan bulan Agustus yaitu pada saat akhir musim hujan dan awal musim hujan karena pengairan untuk pertanaman lebih mengandalkan pada turunnya air hujan. Sebenarnya sumber air tersedia melimpah dari Danau Toba, apalagi penanaman bawang merah dilakukan di pinggiran sekitar danau tersebut. Masalahnya untuk menaikkan air dari danau ke pertanaman harus menggunakan pompa yang belum tersedia untuk para petani. Tidak tersedianya infrastruktur pertanian tersebut menjadi salah satu kendala pengembangan pertanian di daerah tersebut, khususnya bawang merah, yang memerlukan air untuk pertumbuhan dan pembentukan umbinya.

Tahun 2013 di Kabupaten Samosir ada program pengembangan kawasan bawang merah yang meliputi 40 Desa dari 8 Kecamatan. Menurut petani setempat, bawang merah sudah lama dikembangkan di Kabupaten Samosir. Sekitar 25-30 tahun yang lalu, bibit bawang merah dari Pulau Jawa (Brebes) pernah dikembangkan di Samosir. Gambar 1. Keragaan dan keragaman umbi dari 11 bawang merah lokal Samosir var. Setapak yang berhasil dikumpulkan dari petani dan pengumpul bawang merah di Samosir

(3)

Kemungkinan varietas tersebut adalah Bima Brebes. Saat ini yang ditanam petani Samosir, ada varietas Sumenep, Philipine dan Setapak. Varietas Setapak merupakan varietas bawang merah asli Samosir. Varietas bawang merah asli Samosir atau Setapak yang berhasil dikumpulkan dari 11 petani ternyata mempunyai karakteristik yang beragam (Gambar 1). Oleh karenanya perlu diidentifikasi lebih lanjut untuk mengetahui varietas Samosir yang sebenarnya.

Teknik budidaya di tingkat petani cukup beragam, baik penggunaan pupuk maupun teknik lainnya. Bawang merah ditanam pada bedengan dengan lebar 150 cm dan ketinggian sekitar 20 cm. Lapisan olah tanah sangat tipis karena tanah di sekitar danau Toba berbatu-batu dengan bagian atasnya merupakan tanah berpasir. Hal ini menjadi kendala karena bedengan kurang tinggi, sehingga pada musim hujan perakaran bawang terendam air yang bisa menyebabkan akar busuk dan tanaman mati. Karena tanah bagian dalam berbatu-batu, sehingga menjadi tempat bersarang binatang kaki seribu yang banyak menyerang akar dan tanaman bawang merah. Umumnya petani menggunakan jarak tanam 15 x 15 cm dan dalam satu bedengan ada 11 barisan bawang merah (Gambar 2a). Tanaman jagung lokal dipergunakan sebagai tanaman sela sebagai pelindung dari sinar matahari yang terik (Gambar 2b). Pupuk yang digunakan ada yang menggunakan pupuk organik seperti pupuk hijau (Gambar 2c) dan anorganik, ada yang hanya pupuk organik saja atau pupuk anorganik saja, namun ada juga yang tidak memberikan pupuk sama sekali. Ada petani yang sudah menggunakan kompos berasal dari campuran kotoran sapi, tanaman tithonia dan tanaman lainnya yang

dijadikan bokashi dengan EM4 dan pupuk NPK dan KCl. Masalah yang paling banyak terjadi di lapangan adalah tanaman bawang merah umur 2 – 4 minggu mati bisa sampai dengan 100% sehingga tidak dapat dipanen. Cirinya daun kuning dan rebah serta umbi busuk di pertanaman. Pada penyimpanan, umbi yang baru dipanen tidak bisa disimpan lama karena sekitar umur 2 minggu, umbi menjadi keropos. Rantai Pasok Bawang Merah di Samosir

Bawang merah dipasarkan dalam bentuk umbi segar sebagai bawang merah konsumsi maupun benih. Pengumpulan informasi mengenai rantai pasok bawang merah dilakukan dengan wawancara terhadap petani di desa, dengan didampingi penyuluh setempat. Wawancara dilakukan langsung dengan petani yang bekerja di rumah, mengunjungi petani yang menyimpan persediaan benih bawang merah di rumahnya, di kedai minum pada siang hari, di rumahnya pada sore hari, ataupun di pasar dimana mereka menjual hasil panennya.

Untuk pemasaran bawang merah segar atau konsumsi, petani biasanya menjual hasil panennya sendiri ke pasar lokal yang biasa diadakan setiap Rabu pagi, atau menjual ke pengumpul yang kemudian dibawa ke Medan. Hal ini terjadi tergantung dari ketersediaan bawang merah di pasaran. Bila persediaan bawang merah sedang langka, petani terkadang tidak menjualnya, akan tetapi langsung dijadikan benih. Namun demikian, bila harga sangat menguntungkan, mereka akhirnya menjual juga hasil panenannya. Jenis-jenis bawang merah yang dipasarkan adalah jenis bawang merah goreng (Sumenep), Bima Brebes, Lokal Samosir, dan Batu Ijo.

Gambar 2. Cara budi daya bawang merah di Samosir (a), tanaman jagung sebagai tanaman sela (b) dan tanaman pupuk hijau yang dipergunakan sebagai salah satu pupuk organik (c)

(4)

Pada umumnya pemasaran bawang merah di

Samosir mengikuti pola sebagai berikut: mengikat bawang merah kering daun, kemudian menggantungkannya di kolong rumah tradisional

Petani Pengumpul lokal Samosir Pasar lokal Samosir

Pengumpul Medan Pasar Medan Pasar antarprovinsi/pulau

Untuk pengadaan benih, biasanya petani mendapatkannya dari pedagang benih di Medan, dari petani Samosir lainnya, atau menggunakan benih dari bawang merah konsumsi. Seperti halnya pada tahun 2013, penyediaan benih sangat terbatas dan sulit ditemukan, sehingga akhirnya umbi konsumsi dijadikan sebagai benih. Pada waktu itu petani banyak mengalami kegagalan dalam mebenihkan bawang merah. Untuk mebenihkan bawang merah, petani biasanya

yang mendapat sinar matahari (Gambar 3a, atau di dalam rumah (Gambar 3b), maupun di atap rumah (Gambar 3c). Banyaknya umbi yang busuk di tempat penyimpanan menyebabkan petani kehilangan hasil umbi yang banyak ketika proses pengeringan (Gambar 3d), sehingga banyak yang terbuang (Gambar 3e).

Pada umumnya skema perbenihan di Samosir adalah sebagai berikut:

Gambar 3. Petani menyimpan benih bawang merah dengan cara menggantung ikatan bawang merah kering di kolong rumah tradisional yang terkena sinar matahari (a), di dalam rumah (b), di atap rumah (c). Penyakit busuk umbi menyebabkan kehilangan hasil atau umbi yang akan dibenihkan selama pengeringan (d) dan penyimpanan (e)

a b c

d e

Umbi konsumsi Pasar Medan Pasar lokal Samosir (Penangkar benih)

Umbi Benih Umbi konsumsi Umbi benih

Benih Umbi benih

Umbi konsumsi Benih

(5)

Sangat menarik untuk dikaji pemasaran bawang merah di Samosir yang terjadi di pasar lokal setiap hari Rabu pagi. Pasar ini terletak di tepi Danau Toba di mana produk pertanian dapat mencapai pasar ini dengan melalui transportasi darat, maupun transportasi air (melalui Danau Toba). Pasar ini memasarkan kebutuhan pokok dan sayuran yang mulai beroperasi dari jam 6 pagi. Produk sayuran lokal mulai ditata dan dipasarkan lebih awal (Gambar 4a), yang kemudian sekitar jam 7 pagi bawang merah sampai di pasar dengan menggunakan transportasi darat dari Medan atau dari penghasil bawang merah atau petani dari kabupaten yang berdekatan dengan Samosir. Bawang merah diburu oleh para Inang pedagang yang langsung berebut untuk mendapatkan bawang merah, kemudian ditimbang petugas penimbang, dan transaksi pertama dilaksanakan antara

pemegang pertama yang berhasil menimbang bawang merah dengan pembawa bawang merah. Demikian juga terjadi dengan bawang merah yang dibawa melalui transportasi air. Harga bawang merah tergantung dari kualitas bawang dan jenis bawang, serta ramainya pedagang yang mencari bawang merah yang ditandai dengan banyaknya peminat yang berebut akan membeli. Setelah selesai bertransaksi, mereka langsung menjajakan bawang merah yang diperoleh untuk transaksi selanjutnya, dan hal ini berlangsung sampai siang, dimana transaksi dapat dilakukan beberapa kali, sampai akhirnya para pedagang bawang merah tersebut menjual produknya secara eceran untuk konsumen atau pedagang eceran lainnya, bahkan mereka bersaing untuk mendapatkan bawang merah lainnya dengan para pengumpul, terutama bawang merah lokal Samosir untuk kemudian dibawa ke Medan.

Gambar 4. Pasar lokal Samosir yang berlangsung setiap hari Rabu pagi berdekatan dengan pelabuhan transportasi air memasarkan kebutuhan pokok terutama hasil per-tanian. Sayuran mulai dipasarkan dari mulai jam 6 pagi (a), dan bawang merah datang melalui transportasi darat atau air mulai jam 7 pagi dan transaksi bermula dari transaksi pertama sampai beberapa kali transaksi (b – c) yang akhirnya sampai ke konsumen atau pedagang pengecer lainnya (d)

a

d

(6)

PENUTUP

Melihat letak geografis Samosir yang strategis dengan dukungan infrastruktur transportasi yang memungkinkan pemasaran hasil melalui transportasi darat dan air, serta bawang merah varietas asli Samosir yang suatu waktu pernah berjaya dalam meningkatkan pendapatan daerah, maka potensi tersebut dapat dikaji dan dikembangkan kembali (Ibrahim 2013). Peluang pemasaran yang masih terbuka baik pemasaran lokal, antarprovinsi maupun antarpulau memungkinkan kembali untuk meningkatkan produktivitas bawang merah. Hal ini tentunya harus didukung oleh perhatian pemerintah pusat dan daerah serta jaringan penyuluh yang memadai.

Potensi dan peluang tersebut dapat tercapai dengan pengelolaan yang terintegrasi antara penduduk yang berwawasan lingkungan (Gilmour & Ghazali 2012), teknologi yang diperkenalkan (East West Seed Indonesia 2006) dan peningkatan produktivitas lahan secara berkesinambungan (Sinambela 2011). Selain itu juga perlu adanya perbaikan sistem irigasi, sistem perbenihan bawang merah, dan pengenalan varietas bawang merah yang beradaptasi baik dengan produk yang bersaing di pasar lokal, domestik maupun regional.

PUSTAKA

1. East West Seed Indonesia 2006, Perbaikan produksi bawang merah dan pengembangan Sumber daya Air di P. Samosir, Project Brief Information, pp. 9.

2. Gilmour, D & Ghazali, B 2012, Restoring the

ecosystem functions of the Lake Toba catchment area through community development and local capacity building for forest and land rehabilita-tion, Report of Ex-post evaluarehabilita-tion, pp. 14.

3. Ibrahim, H 2013, Bawang merah Samosir perlu dibudidayakan kembali, Harian Medan Bisnis 7 Mei 2013.

4. Ibrahim, H 2013, Farming in the Toba Batak

heartland: two case studies on Samosir Island, North Sumatra, Indonesia, <Http://repository.usu.

ac.id/handle/123456789/30108>.

5. Sinambela, P 2011, Analisis perubahan tutupan lahan Kabupaten Toba, Samosir.

6. Wikipedia 2013, Samosir.

Hidayat, IM1), Rosliani, R1),

Simatupang, S2) dan Simarmata, R2)

1)Balai Penelitian Tanaman Sayuran Jl. Tangkuban Parahu no 517, Lembang 2)Balai Pengkajian Teknologi

Pertanian Sumatera Utara Jl. Jend. AH Nasution No. 1B

Gambar

Gambar 1.  Keragaan dan keragaman umbi dari 11 bawang merah lokal Samosir var. Setapak  yang berhasil dikumpulkan dari petani dan pengumpul bawang merah di Samosir
Gambar 2.  Cara budi daya bawang merah di Samosir (a), tanaman jagung sebagai tanaman  sela (b) dan tanaman pupuk hijau yang dipergunakan sebagai salah satu pupuk  organik (c)
Gambar 3.  Petani  menyimpan  benih  bawang  merah  dengan  cara  menggantung  ikatan  bawang merah kering di kolong rumah tradisional yang terkena sinar matahari  (a), di dalam rumah (b), di atap rumah (c)
Gambar 4.  Pasar lokal Samosir yang berlangsung setiap hari Rabu pagi berdekatan dengan  pelabuhan transportasi air memasarkan kebutuhan pokok terutama hasil  per-tanian

Referensi

Dokumen terkait

[r]

In addition in each subject the subject, will be seen to conflict dynamics and Changes, order, relationship, as well as the definition of groups and individuals

sheep marketing in Gombe metropolis; Meat consumption still remains the major source of proteins; as shown by positive market margins; heavy and sustained investment

Rencana kegiatan yang akan dilakukan PT Herfinta Farm and Plantation diwaktu yang akan datang adalah PT Herfinta Farm and Plantation akan berkerja sama dengan perusahaan lain

It means the higher compensation given by company to its employees will increase employee satisfaction.. Employee Satisfaction mediates the effect of Compensation on

Dana untuk merealisasikan ekspansi tersebut dari alokasi belanja modal perseroan tahun 2018 yang sebesar Rp 3,5 triliun.. Saat ini perseroan telah memiliki 1.000 gerai apotek

contin numeric Pengeluaran bukan makanan untuk kelompok perumahan dan fasilitas rumah tangga selama sebulan yang lalu.. V277 r18_k4 Pengeluaran bukan makanan untuk kelompok aneka

The objectives of this papers are to conduct S-wave estimation by mean Biot-Gassman substitution method for running simultaneous AVO inversion of pre-stack seismic data in